0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
51 tayangan130 halaman

Pg32 Serikat Serigala Mer

Cerita ini mengikuti Sumbaga dan Nila Sari yang terlibat dalam hubungan romantis, sementara Sugrikala, sepupu Sumbaga, merasa dikhianati dan berusaha membalas dendam dengan bantuan guru jahatnya, Reski Jalatula. Sugrikala menjelma menjadi serigala siluman untuk memburu Sumbaga dan Nila Sari. Ketegangan meningkat saat Sumbaga bersiap menghadapi Sugrikala yang telah berubah menjadi makhluk buas demi melindungi Nila Sari.

Diunggah oleh

Songkolo Begadang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
51 tayangan130 halaman

Pg32 Serikat Serigala Mer

Cerita ini mengikuti Sumbaga dan Nila Sari yang terlibat dalam hubungan romantis, sementara Sugrikala, sepupu Sumbaga, merasa dikhianati dan berusaha membalas dendam dengan bantuan guru jahatnya, Reski Jalatula. Sugrikala menjelma menjadi serigala siluman untuk memburu Sumbaga dan Nila Sari. Ketegangan meningkat saat Sumbaga bersiap menghadapi Sugrikala yang telah berubah menjadi makhluk buas demi melindungi Nila Sari.

Diunggah oleh

Songkolo Begadang
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SERIKAT

SERIGALA MERAH
Oleh Firman Raharja

Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta

Penyunting : A. Suyudi
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dan penerbit

Firman Raharja
Serial Pendekar Gila
dalam episode:
Serikat Serigala Merah
128 hal ; 12 x 18 cm

https://www.facebook.com/
DuniaAbuKeisel
1
Sore itu di sebuah pondok yang letaknya
terpencil di luar Desa Kadipura di dekat sebuah
danau. Sepasang muda-mudi sedang bercinta. Da-
ri luar samar-samar terdengar suara tawa manja
seorang wanita. Seperti kegelian.
Benar, di dalam pondok yang mungil ter-
buat dari bilik dan beratapkan daun kelapa yang
dikeringkan, sepasang muda-mudi tengah asyik
bercumbu.
"Aku merasa gemetar, Kakang Sumbaga...,"
terdengar suara lembut dari mulut wanita. Ternya-
ta seorang gadis berparas cantik. Dia duduk di
pinggir balai-balai dalam rangkulan lelaki bernama
Sumbaga itu. Lelaki muda berwajah cukup tam-
pan.
Sumbaga tersenyum, melihat kekasihnya
yang gemetaran dengan wajah merah padam. Per-
lahan didekap tubuh kekasihnya lebih erat, mem-
buat wanita muda itu seakan tersengal untuk ber-
napas. Namun di hatinya merasa senang.
"Rasanya Kakang tak ingin lebih lama me-
nunggu, Nila Sari...," desah Sumbaga lirih di telin-
ga kekasihnya, sambil terus merangsang gadis
bernama Nila Sari. Sampai pada akhirnya, kini
berbalik Nila Sari yang lebih bersemangat. Dengan
sedikit manja diciumnya pipi Sumbaga, lalu terus
ke bibir lelaki muda itu. Darah Sumbaga seketika
berdesir hebat. Hatinya bergejolak bagai air men-
didih.
Sumbaga mencoba bertahan dari amukan
badai yang menerjang-nerjang di lubuk hatinya.
Namun ternyata badai itu lebih besar dan kuat
menghantam. Tak ayal lagi, gelombang nafsu yang
dilancarkan Nila Sari seketika menjebol benteng
hati Sumbaga. Sebenarnya Sumbaga tak ingin
berbuat lebih jauh. Karena lima hari lagi mereka
akan menikah. Namun apa boleh buat.
Sekejap saja keduanya dilanda badai birahi
yang luar biasa. Dan akhirnya terlelap dalam hen-
ing dan lenguhan-lenguhan panjang yang men-
dayu.
Tanpa diketahui oleh kedua insan yang su-
dah bermandi keringat itu, ada sepasang mata
tengah mengintip dari celah-celah bilik gubuk.
"Kurang ajar! Aku kalah selangkah lagi den-
gan si Monyet itu...!" sungut orang yang mengintip
jengkel. Namun geram, mukanya terbersit dendam
pada Sumbaga. Lelaki itu berpakaian serba kun-
ing, dengan ikat kepala layaknya orang-orang Su-
matera warna hitam. Namun kemudian berkelebat
pergi.
Sementara itu, dua insan yang ada di dalam
pondok telah terkulai lemas di atas balai-balai. Ni-
la Sari yang tubuhnya hanya ditutupi kain sebatas
dada, memeluk dada Sumbaga yang telentang. Ma-
ta pemuda itu menatap langit-langit pondok. Sea-
kan ada sesuatu yang tengah dipikirkan.
"Kenapa Kakang melamun...? Apa yang kau
pikirkan, Kakang Sumbaga?!" tanya Nila Sari den-
gan kening berkerut. Suaranya begitu lembut, mi-
rip desahan.
"Ooo.... Tidak apa-apa, Nila...," jawab Sum-
baga agak gugup. Lalu mencium kening Nila Sari
lembut.
"Kakang jangan membohongiku! Katakan,
biar aku merasa lega...," desak Nila Sari. Jari-
jarinya yang halus mempermainkan bulu-bulu da-
da Sumbaga.
Setelah berpikir beberapa saat, barulah
Sumbaga mulai menjelaskan.
"Kau benar, Nila!.... Aku harus mengatakan
hal ini padamu," kemudian Sumbaga menghela
napas sejenak. "Aku tengah memikirkan Sugrikala.
Dia pasti murka jika mengetahui hal ini...."
"Kenapa Kakang cemas...?"
"Hhh..., bagaimana tidak cemas, Nila. Su-
grikala kini telah menjadi hamba tokoh sesat yang
bernama Reski Jalatula. Seorang yang menganut
ilmu hitam dan sihir...! Dia Manusia Siluman Seri-
gala. Dan kini Sugrikala telah memiliki ilmu
'Rubah Wujud' itu...," jawab Sumbaga dengan sua-
ra agak serak.
"Jadi, Sugrikala juga menjadi serigala...?!"
tanya Nila Sari kaget dengan mata membelalak.
Jantungnya seketika berdetak lebih cepat. Ada pe-
rasaan tegang dan cemas di hatinya, mendengar
keterangan Sumbaga.
Nila Sari perlahan menggeliat dalam kea-
daan telentang. Matanya menatap langit-langit dari
daun kelapa. Mulai teringat di benaknya wajah
Sugrikala ketika pada suatu ketika menyatakan isi
hatinya pada Nila Sari.
"Aku sudah lama ingin mengutarakan isi
hatiku, Nila... Dan baru hari ini aku berani me-
nyampaikan padamu. Aku mencintaimu...," kata
Sugrikala pada waktu itu penuh perasaan.
Nila Sari tak menjawab, membuatnya se-
makin panasaran. Sugrikala berjanji akan menda-
patkan Nila Sari dengan cara apa pun. Dia tidak
mau kalah dengan Sumbaga saudara sepergu-
ruannya dulu.
"Kenapa kau melamun, Nila?" tanya Sum-
baga tiba-tiba, membuat Nila Sari tersentak kaget.
Sadar dari lamunannya. Meskipun gugup Nila Sari
mencoba untuk tersenyum. Lalu dimiringkan tu-
buhnya kembali, dan memeluk dada Sumbaga.
Sumbaga tahu kalau kekasihnya tengah
memikirkan sesuatu. Dia merasakan ada kecema-
san di hati Nila Sari. Namun lelaki muda itu tak
mau mendesak kekasihnya. Dia malah memeluk
erat-erat tubuh Nila Sari yang putih mulus itu,
sambil menciumi keningnya penuh kasih sayang.

***

"Bangsat! Aku harus bunuh si Sumbaga.


Akan kuminum darahnya demi menghapus keke-
cewaanku...! Dia telah mengkhianatiku. Dia sudah
berjanji akan melepaskan Nila Sari, dan akan
memberikannya padaku.... Tapi nyatanya dia
memperdayaiku. Kurang ajar!" gerutu lelaki muda
berpakaian serba kuning itu sambil terus melesat
ke arah hutan. Menerjang apa saja yang ada di de-
pannya. Tak mempedulikan semak-semak belukar
maupun pepohonan terus diterjangnya. Seakan-
akan hatinya tak sabar untuk segera sampai ke
tempat yang dituju.
Akhirnya lelaki muda itu sampai di suatu
tempat yang amat sunyi. Suatu tempat yang tidak
berapa luas, dikelilingi pohon beringin, dengan
akar-akarnya yang panjang terjuntai ke bawah.
Cukup sunyi dan seram tempat itu. Lelaki yang
dikenal dengan nama Sugrikala itu cepat melom-
pat ke atas sebongkah batu berbentuk lonjong, la-
lu duduk bersila.
Dilipat kedua tangannya mendekap dada.
Beberapa saat kemudian, setelah menghela napas
dalam, mulutnya bergumam lirih.
"Guru, tolonglah muridmu ini! Hatiku san-
gat terluka. Aku telah dikhianati oleh saudara se-
pupu ku.... Datanglah Guru, datang...!" suara Su-
grikala kemudian hilang. Dengan mata terpejam
mulutnya tampak berkomat-kamit, entah apa yang
diucapkan.
Cuaca sore yang semula cerah, tiba-tiba be-
rubah mendung. Angin berhembus kencang
menghantam tubuh Sugrikala. Namun sedikit pun
lelaki gagah berpakaian kuning itu tak bergerak.
Bersamaan dengan datangnya hembusan angin,
tubuh Sugrikala berasap. Sesaat kemudian mun-
cul sesosok bayangan dari bawah tanah. Gerakan-
nya yang halus dan begitu lembut tak menimbul-
kan suara. Bagai roh keluar dari jasad manusia
yang baru mati.
Dari mulai samar-samar bentuknya, perla-
han-lahan menjadi wujud yang nyata. Seorang le-
laki tua dengan muka garang, berambut hitam dan
panjang. Matanya bagai serigala menyorot merah
dan bengis. Tubuhnya terbungkus kain putih pan-
jang.
Sugrikala perlahan membuka mata. Setelah
menjura dan menyembah dia turun dari atas batu
tempat duduknya.
"Ampuni hamba. Guru...!" kata Sugrikala
sambil mencium kaki gurunya.
"Aku mendengar keluhanmu, Sugrikala.
Ada apa...?" tanya lelaki tua yang ternyata Reski
Jalatula. Manusia Siluman Serigala. Wajahnya
memang mirip serigala.
"Hamba ingin Guru dapat membantu untuk
membalas sakit hati hamba. Telah lama hamba
mendambakan Nila Sari, Guru...," tutur Sugrikala
memohon.
"Hm...! Aku mengerti. Kau adalah muridku
yang setia. Maka aku akan membantumu, Sugri-
kala. Bersiaplah...!"
Selesai berkata begitu, lelaki tua itu segera
menjamah kedua bahu Sugrikala. "Ilmu ini kutu-
runkan padamu mulai hari ini," ucap lelaki tua itu
dengan suara serak.
"Terima kasih. Guru...."
"Namun kau harus ingat, jika kau sudah
mendapatkan mereka. Bunuh lelaki itu dan da-
rahnya harus segera kau persembahkan untukku.
Mengerti...?!" ujar Reski Jalatula.
"Baik, Guru.... Akan hamba laksanakan,"
jawab Sugrikala mantap.
Kedua telapak tangan Reski Jalatula bera-
sap. Dan tubuh lelaki tua itu perlahan-lahan me-
masuki raga Sugrikala. Seketika badan Sugrikala
bergoyang kencang. Asap semakin tebal menyeli-
muti tubuh Sugrikala. Lalu....
"Hiiiaaa...! Auuung...!" terdengar teriakan
keras memecah keheningan hutan, disusul dengan
suara lolongan serigala.
Seketika tubuh Sugrikala menjelma menjadi
seekor serigala hitam yang besar. Sepasang ma-
tanya menyorot merah bagai api. Ketika menyerin-
gai nampak taringnya yang runcing tajam menge-
rikan. Lalu serigala siluman Sugrikala berkelebat
menerobos semak-semak hutan.

***

Namun ketika sampai di pondok tempat tadi


Sumbaga dan Nila Sari bercumbu rayu, telah ko-
song. Serigala siluman itu mengendus-endus men-
cari jejak kedua muda-mudi tadi.
"Grrr...!" serigala siluman itu menggereng
dan menyeringai. Seakan marah dan kesal, karena
orang yang dicari tak ada. Segera siluman serigala
itu berlari menuju jalan ke desa.
Ternyata benar, Sumbaga dan Nila Sari se-
dang berjalan menuju arah Desa Kadipura.
"Aku tak tenang jika belum membunuh dan
menghisap darah Sumbaga!" batin Sugrikala yang
telah menjelma serigala besar itu.
Matanya yang tajam memancarkan sinar
kemarahan yang buas dan mengerikan. Hari men-
jelang malam. Langit gelap terselimut mendung
tebal, membuat suasana terasa mencekam. Tak
lama serigala jadian itu berlari, seketika matanya
memandang ke depan dengan beringas. Tampak di
depannya agak jauh dua muda-mudi berlari-lari.
"Grrr...!" serigala siluman itu semakin
mempercepat larinya. Desiran angin dari larinya,
terasa bagaikan topan puting beliung, yang mam-
pu menggoyangkan pepohonan. Hal itu terasa oleh
Sumbaga yang seketika memalingkan muka ke be-
lakang. Sesaat Sumbaga tersentak kaget, darahnya
seketika mendesir. Sumbaga telah menduga kalau
serigala itu merupakan jelmaan Sugrikala.
"Hm, celaka! Rupanya dia telah mengejar ki-
ta. Aku harus menghadapinya. Mati atau pun hi-
dup aku terpaksa menghadapi serigala itu," gu-
mam hati Sumbaga.
"Nila Sari, kau menyingkirlah dulu!"
"Kenapa, Kakang?" tanya Nila Sari heran
dan mengerutkan kening. Kemudian menoleh ke
sana kemari, karena tak mengerti.
"Kau pergilah dulu! Bila aku tak menyusul-
mu, itu berarti aku telah mati di tangan Sugrika-
la...!"
Nila Sari terkesiap, tatkala melihat seekor
serigala hitam dan besar berlari kencang menuju
arah mereka. Mata serigala itu menyorotkan sinar
merah membara bagaikan bola api, menghunjam
mata Nila Sari.
"Menyingkirlah, Nila...!" seru Sumbaga lagi,
sambil menghentak Nila Sari dengan tangan ki-
rinya.
"Tapi, Kakang," Nila Sari bermaksud meno-
lak. Hatinya bimbang dan ragu untuk meninggal-
kan Sumbaga. Ia takut kalau-kalau serigala itu
akan mengoyak-ngoyak tubuh Sumbaga, calon su-
aminya itu.
"Aku katakan, menyingkirlah! Demi dirimu,
biarlah aku menghadapi iblis itu sendirian. Cepat
kau pergi dari sini, Nila.... Selamatkan dirimu dan
calon anak kita, Nila...!" perintah Sumbaga.
Mereka rupanya sudah sering melakukan
hubungan badan. Sehingga Sumbaga yakin ada
calon bayi anaknya, di perut Nila Sari yang lima
hari lagi bakal jadi istrinya.
Sesaat Nila Sari terdiam memandang lekat
pada Sumbaga. Ada kebimbangan dan kecemasan
membayang di wajahnya. Memahami perasaan
sang Kekasih, Sumbaga segera mengecup lembut
kening Nila Sari seraya berbisik, "Pergilah, jangan
sampai kita berdua mati konyol! Ingat, didik anak
kita! Ajarkan ilmu olah kanuragan, dari orang yang
berilmu tinggi. Aku yakin anak kita di rahimmu
laki-laki...."
"Ohhh...!"
Nila Sari hanya bisa bergumam pendek. Air
matanya tak bisa dibendung lagi. Menetes di pi-
pinya.
"Nah! Berangkatlah, cepat pergi! Aku hanya
berdoa, semoga Sugrikala tak akan mencelakai-
mu," ucap Sumbaga dengan suara berat.
Setelah menatap tajam wajah Sumbaga se-
saat, dengan hati berat dan bimbang Nila Sari be-
ranjak meninggalkan kekasihnya. Kini Sumbaga
berdiri tegak menanti kedatangan serigala siluman
jelmaan Sugrikala. Matanya dengan tajam menan-
tang sorot mata serigala jejadian itu. Mulutnya
terkunci rapat, sepertinya tak ingin mengucap kata
sepatah pun. Ketika serigala jejadian itu makin
mendekat, Sumbaga segera melangkah mengham-
pirinya.
"Sumbaga, hari ini tamatlah riwayatmu!"
suara Sugrikala terdengar dari mulut serigala itu.
"Kau telah mengkhianati janjimu, membohongiku!
Pengkhianat busuk, Sumbaga...!"
"Sugrikala, kau memang tak selayaknya
menjadi seorang ayah. Kau telah bersekutu den-
gan orang-orang jahat yang berilmu sesat. Aku tak
ingin Nila Sari menjadi korbanmu kelak. Ketahui-
lah, bahwa Nila Sari sudah digariskan untuk men-
jadi istriku...," bantah Sumbaga dengan suara lan-
tang dan tegas. Tak ada rasa takut sedikit pun.
Wajar saja, karena Sumbaga anak Tumenggung
Kartapati yang kini telah tiada. Mati dalam per-
tempuran melawan tokoh-tokoh sesat. Termasuk
Serikat Serigala Merah. Di situ termasuk guru Su-
grikala. Dan kini Sugrikala telah menjadi anggota
Serikat Serigala Merah itu!
"Hem...! Jangan banyak omong! Aku tak
akan tenang sebelum menghisap darahmu. Dan
bila perlu kekasihmu itu juga akan kuhisap da-
rahnya...! Hiaaa... grrr...!"
Rupanya kemarahan Sugrikala tak terben-
dung lagi. Sehingga tanpa banyak kata lagi, seriga-
la besar itu langsung melompat menyerang Sum-
baga.
Sebagai seorang putra Tumenggung Karta-
pati dari Kelompok Panca Leluhur Sakti, Sumbaga
tak memperlihatkan kegentaran. Jiwa dan darah
kependekaran memaksanya tersenyum. Bukan se-
nyum bahagia, melainkan senyuman yang seakan
membangkitkan dia dari ketidurannya.
Semenjak ayahnya meninggal, Sumbaga le-
bih banyak berdiam diri di rumah, seakan melu-
pakan dunia persilatan. Walaupun demikian, bu-
kan berarti pemuda itu kehilangan kependekaran-
nya. Ilmunya sebagai anak Ketua Panca Leluhur
Sakti tidak bisa dianggap ringan. Namun seperti
kata pepatah, rejeki, maut, jodoh, dan nasib bukan
manusia yang menentukannya. Seperti juga perta-
rungan Sumbaga melawan Sugrikala.
Kelicikan Sugrikala si Serigala Siluman itu
mengakibatkan Sumbaga jatuh ke jurang. Tubuh
Sumbaga melayang ke dasar jurang yang sangat
curam. Hal itu terjadi ketika dirinya menghindari
serangan Sugrikala yang secara tiba-tiba berubah
wujud. Jelas, tubuhnya akan hancur di dasar ju-
rang.
Sugrikala sejenak terkesima melihat mu-
suhnya yang hendak dihisap darahnya, tiba-tiba
tanpa dia duga melayang ke jurang. Sugrikala gag-
al untuk menghisap darah Sumbaga. Maka seba-
gai pelampiasan kemarahan, ditendangnya batu
besar yang seketika menggelinding jatuh ke ju-
rang.
Setelah sesaat terpaku di tempatnya, Sugri-
kala teringat dengan Nila Sari yang berlari mening-
galkan Sumbaga. Sugrikala segera memburu,
mencari wanita itu. Namun Sugrikala terheran-
heran, tak menemukan Nila Sari yang seakan
menghilang. Merasa tak percaya dengan kekece-
waannya, Sugrikala menghancurkan batu-batuan
yang menutupi tempat yang dianggap dapat dija-
dikan persembunyian itu.
Setelah tak mendapatkan hasil, Sugrikala
menggeram penuh kemarahan dan kekecewaan.
Suaranya melengking bagaikan lolongan seekor se-
rigala....
Bersamaan dengan itu mendadak angin ber-
tiup kencang di bawah langit yang gelap tertutup
mendung tebal. Bagai topan, angin mengamuk, in-
gin merobohkan apa saja. Namun Sugrikala tetap
berdiri dengan tegap memandang jauh ke depan.
Seakan ada yang dipandang, atau mungkin di be-
naknya masih mengharap Nila Sari. Yah Sugrikala
memang masih ingin mencari dan menguasai wa-
nita itu sampai kapan pun.
Hujan turun mengguyur tempat itu dengan
derasnya. Namun Sugrikala yang masih dalam ke-
kecewaan dan dendam, tak beranjak sedikit pun
dari tempatnya. Terus berdiri di tepi Jurang Jagal
Parang.

2
Waktu terus bergulir. Musim demi musim
telah terlewati. Dua puluh tahun kemudian di Le-
reng Gunung Semeru tampak seorang pemuda
bertubuh tegap dan dada berisi tampak tengah
berteriak-teriak. Tubuhnya melayang laksana bu-
rung elang. Dengan gerakan yang gesit sekali, pe-
muda itu mencelat ke udara, lalu menukik ke ba-
wah dengan lengkingan panjang.
Lengkingannya saja seakan mampu merun-
tuhkan bebatuan, apalagi pukulan dan tenaga da-
lam anak muda itu. Mungkin melebihi kekuatan
ratusan ekor kuda jantan.
"Hiaaa...!"
Srat! Srat! Srat...!
Jglar! Jglar! Jglarrr!
Tiga kali berturut-turut tangan pemuda itu
mengeluarkan larikan sinar pelangi, menghantam
bebatuan Gunung Semeru. Seketika bebatuan itu
runtuh menjadi puing-puing. Melihat hasil yang te-
lah dicapainya, pemuda berkulit kuning dan ram-
but panjang melewati bahu itu sesaat terpaku ter-
diam.
Dari kejauhan tampak dua orang datang
menghampiri pemuda itu dengan pandangan mata
kagum. Salah seorang dari mereka, seorang kakek
tua renta berpakaian serba putih. Jenggot panjang
dan rambut di kepalanya telah putih semua. Di si-
sinya berjalan melenggang seorang wanita seten-
gah baya. Namun bekas kecantikannya masih ter-
gambar jelas di wajahnya yang mulai kelihatan
menua itu.
"Hm...," lelaki tua itu manggut-manggut se-
raya bergumam pendek, "Anakmu itu akan menja-
di pendekar yang disegani, Nila Sari...," Tangannya
mengelus-elus jenggot yang panjang seraya mem-
perhatikan kesungguhan berlatih muridnya.
Nila Sari pun bangga melihat putranya. Ma-
tanya yang indah memandang penuh rasa kagum
pada sang Anak.
Melihat kedua orangtua itu datang, pemuda
yang tadinya berlatih, segera menghampiri mereka.
Setelah menjura penuh hormat dia segera bersu-
jud di kaki orang tua itu. "Ibu, Ki Wibisana, teri-
malah sembah Ananda!"
"Dengan doa, Kakek ucapkan semoga sejah-
tera untukmu!" jawab lelaki tua berjenggot yang
ternyata bernama Ki Wibisana, penuh kasih
sayang. "Pasopati, kau kini telah dewasa. Ilmumu
Kakek rasa telah cukup. Apa yang hendak kau la-
kukan setelah semuanya kau miliki, Cucuku?"
"Ah, Kakek. Aku belum memikirkan rencana
apa yang akan kulakukan. Ananda masih ingin
berbakti pada Kakek dan Ibu.... Bolehkah, Kek?"
"He he he...! Boleh, kenapa tidak. Kau ada-
lah cucuku," jawab Ki Wibisana setelah meman-
dang sesaat pada Nila Sari yang tersenyum men-
gangguk. "Tapi, Kakek rasa apa tidak sebaiknya
kau menambah ilmu dan pengalamanmu?"
Pasopati terdiam, memandang lekat-lekat
pada wajah ibunya yang masih tersenyum. Dalam
hatinya terbersit beberapa macam pertanyaan ma-
nakala memandangi wajah sang Ibu. Wajah ibunya
memang mirip dengan wajahnya. Tapi yang belum
Pasopati mengerti, siapakah ayahnya?
Yah, pertanyaan-pertanyaan itulah yang
sering muncul dalam lubuk hatinya. Sejak kecil ia
tidak mengetahui siapa ayahnya. Sejak kecil Paso-
pati dididik dan dibesarkan oleh ibunya dan ka-
keknya, Ki Wibisana.
Perlahan-lahan Pasopati bangkit dari jong-
koknya. Dihampiri sang Ibu yang masih tersenyum
bangga. Niatnya untuk bertanya tentang siapakah
ayahnya dan di mana sekarang, telah bulat.
"Maaf, Bu! Bolehkah saya bertanya?" suara
Pasopati begitu penuh perasaan.
Nila Sari tak langsung menjawab. Dipan-
danginya sesaat wajah Pasopati dengan seksama,
sambil mengerutkan kening. Seakan wanita seten-
gah baya itu merasakan sesuatu, di dalam perta-
nyaan putranya itu.
"Oh..., apa yang hendak kau tanyakan, Pa-
sopati?" tanya Nila Sari begitu lembut, sambil
membelai pipi putranya perlahan. Penuh kasih
sayang.
Pasopati kembali terdiam menundukkan
kepala, tak bisa menjawab dengan cepat Lalu
mengangkat kepala dan menatap wajah ibunya.
Sesaat kemudian, "Ibu, bolehkan aku tahu, siapa
ayahku sebenarnya? Di mana dia sekarang...?
Maaf, Bu. Aku selalu bertanya pada diri sendiri,
tentang siapa sebenarnya ayahku. Dapatkah Ibu
menjawabnya?"
Mendengar pertanyaan Pasopati, air mata
Nila Sari berlinang. Ia teringat kembali pada keka-
sihnya, Sumbaga yang entah hidup atau mati.
Bayangan wajah Sumbaga, sebenarnya tertempel
lekat pada wajah anaknya. Sehingga, jika Nila Sari
melihat wajah Pasopati, selalu saja teringat akan
Sumbaga, kekasihnya. Lelaki yang membuahkan
seorang anak lelaki. Kini anak itu telah dewasa
dan gagah seperti Sumbaga.
"Kenapa Ibu menangis...?"
Nila Sari tersentak dari lamunannya ketika
Pasopati mengusiknya. Sambil mengusap air mata
yang menetes di pipinya, Nila Sari akhirnya men-
jawab.
"Anakku, Pasopati.... Kalau kau ingin tahu
siapa ayahmu, Ibu akan memberitahukannya. Tapi
bila kau tanyakan di mana ayahmu, sungguh Ibu
tak tahu di mana dia sekarang. Entah hidup atau
mati...."
"Kenapa begitu, Bu...?" Pasopati tersentak
mendengar ucapan ibunya yang dirasa kurang da-
pat diterima. Ibunya selalu berusaha menutup-
nutupi apa yang sekiranya ingin Pasopati ketahui.
Sementara itu Ki Wibisana masih nampak
berdiam diri. Namun lelaki tua renta itu tampak-
nya juga sedang berpikir. Untuk kebaikan semua,
dia sengaja memberikan kesempatan pada Nila Sa-
ri untuk berbicara.
"Pasopati, ayahmu adalah seorang lelaki
yang gagah dan jujur. Kami saling mencintai dan
mengasihi. Namun ada seorang pemuda lain yang
juga masih saudara seperguruan ayahmu. Bahkan
masih sepupunya sendiri. Sugrikala namanya. Di-
alah yang menghancurkan kebahagiaan Ibu dan
ayahmu...," sesaat Nila Sari menghentikan ceri-
tanya. Kembali menghapus air mata yang kian
membasahi kedua pipinya.
"Lantas, bagaimana, Bu?" tanya Pasopati
sangat ingin tahu kelanjutan cerita itu. Sambil
memegang kedua tangan ibunya lembut.
"Sugrikala yang bersifat buruk, iri pada
ayahmu. Karena dia juga mendambakan Ibu. Se-
lanjutnya terjadi perkelahian antara mereka. Ibu
disuruh ayahmu untuk lari, menyelamatkan diri....
Selanjutnya Ibu tak tahu lagi. Apakah ayahmu
masih hidup atau sudah mati. Karena hingga saat
ini belum ada berita tentang ayahmu...," Nila Sari
menutup wajah dengan kedua telapak tangannya,
sambil terus menangis.
Pasopati menghela napas panjang, lalu me-
meluk ibunya penuh kasih sayang yang dalam.
Wajahnya sesaat tegang, penuh amarah dan den-
dam setelah mendengar cerita tentang sang Ayah.
Rasanya Pasopati ingin cepat dapat bertemu Su-
grikala untuk membalas dendamnya.
"Siapakah Sugrikala itu sebenarnya,
Kek...?" tanya Pasopati kemudian.
Ki Wibisana yang ditanya tampak hanya
menghela napas dalam-dalam. Lalu tersenyum. Di-
tariknya kembali napas sesaat, lalu dihembuskan-
nya perlahan, sepertinya ingin membuang segala
kepedihan cerita Nila Sari tadi. Dengan perlahan
tangannya memegang bahu Pasopati. Sementara
yang kiri memegang sebatang tombak berkepala
naga berwarna kebiruan.
"Sugrikala yang dikenal dengan Manusia
Serigala seorang berilmu tinggi. Dia bersekutu
dengan tokoh-tokoh sesat yang jahat. Serta memi-
liki guru yang berilmu sihir bernama Reski Jalatu-
la. Mereka manusia siluman yang sangat keji...,"
tutur Ki Wibisana.
"Maksud Kakek...?" tanya Pasopati ingin ta-
hu.
"Ayahmu yang disebut Pendekar Tapak Geni
dapat dikalahkan, Kakek pun mungkin tak mam-
pu mengalahkannya. Apalagi kau Pasopati...," kata
Ki Wibisana dengan suara berat.
Mendengar tutur Ki Wibisana, nampak wa-
jah Pasopati murung. Seakan kecewa dengan apa
yang selama ini dipelajari. Tiga belas tahun lebih
dia menekuni ilmu silat di lereng Gunung Semeru,
seakan masih merasa kecil setelah mendengar ce-
rita tentang manusia siluman yang membunuh
ayahnya.
"Jadi apa gunanya aku berlatih selama ini,
Kek...?! Percuma saja. Tapi aku bersumpah akan
membalasnya...! Akan kubunuh Sugrikala...!" kata
Pasopati kemudian dengan geram penuh dendam
yang membara.
"Tenang, Cucuku! Jangan dulu kau kecewa.
Aku belum tuntas mengatakannya," sahut Ki Wibi-
sana sambil menepuk-nepuk bahu Pasopati. "Bu-
kan aku mengecilkan hatimu. Itu kukatakan kare-
na aku sudah tua renta begini. Tapi bagimu,
mungkin dapat mengalahkannya. Apalagi Sugrika-
la saat ini tentunya juga sudah sebaya dengan
ibumu."
Ki Wibisana memberikan semangat pada
Pasopati. Dan benar, wajah pemuda itu sedikit
kembali cerah.
Sesaat keadaan hening, tak ada yang beru-
cap kata-kata. Seakan ketiga orang yang ada di si-
tu sedang larut dalam pikiran masing-masing.
"Pasopati...," tiba-tiba terdengar suara Ki
Wibisana penuh wibawa. "Kau akan mampu mem-
balas dan membunuh manusia seperti Sugrikala,
dengan Tombak Baruklinting ini. Tapi ingat, jan-
gan sembarangan kau menaruh tombak ini! Dan
jangan kau bawa ke tempat-tempat maksiat. Apa-
lagi berbuat mesum dengan wanita.... Itulah syarat
utama," tutur Ki Wibisana. Diserahkannya tombak
berkepala naga berwarna kebiruan itu kepada Pa-
sopati.
Pasopati menerimanya dengan hati gembira.
Setelah mencium tombak itu, kemudian menjura
pada Ki Wibisana.
"Terima kasih, Kek...," ucap Pasopati den-
gan nada senang.
Lalu Pasopati memeluk ibunya erat sekali,
seakan tak ingin melepasnya. Dengan penuh kasih
sayang.
"Pasopati...," kembali terdengar suara Ki
Wibisana.
"Ya, Kek...," sahut Pasopati singkat, lalu
berbalik sambil melepas pelukannya.
"Agar lebih aman, dan tak terjadi apa-apa.
Juga agar kau berhasil menuntut balas atas kema-
tian ayahmu, lebih baik kau cari seorang pendekar
yang telah kondang namanya di rimba persila-
tan...," ujar Ki Wibisana menyarankan.
"Apakah dengan Tombak Baruklinting, aku
tak bisa mengalahkan dan membunuh Sugrikala,
Kek...?" tanya Pasopati sambil mengerutkan ken-
ing dan sedikit heran dengan ucapan kakeknya.
"Bukan begitu. Kau sendiri pun bisa. Tapi
kau harus ingat, Cucuku. Sugrikala tidak sendiri.
Dia memiliki kelompok yang bernama Serikat Seri-
gala Merah. Mereka memiliki ilmu sihir dan silu-
man. Juga ibumu tentunya tak ingin kau menda-
pat celaka...," tutur Ki Wibisana lagi.
"Siapa pendekar itu, Kek...? Dan di mana
aku bisa menemuinya?" tanya Pasopati.
Ki Wibisana mengangguk-anggukkan kepala
sambil mengajak Pasopati berjalan, diiringi oleh Ni-
la Sari yang melangkah di belakang mereka. Sam-
bil berjalan menuju sebuah pondok tempat mereka
berteduh, Ki Wibisana berkata pada Pasopati,
"Pendekar muda itu tak tentu rimbanya, sebab dia
seorang pendekar pembela kebenaran dan keadi-
lan. Dia selalu berkelana sekehendak hatinya. Ka-
dang dia ada di Tanah Jawa Dwipa ini, kadang pu-
la dia ada di Pulau Andalas atau pulau lain. Mu-
dah-mudahan saat ini dia ada di Jawa Dwipa."
"Aku jadi tertarik dengan ceritamu, Kek.
Dan ingin segera bertemu dengan pendekar itu.
Aku juga ingin menimba ilmu darinya, Kek," kata
Pasopati penuh semangat.
"Itu bagus. Di samping kelak akan bertam-
bah pengalaman, kau juga dapat mengenal tokoh
persilatan aliran putih atau jahat lainnya, serta
mengetahui bagaimana suasana rimba persilatan,"
tutur Ki Wibisana lagi. Lelaki tua itu merasa cu-
cunya mempunyai watak pendekar. Hatinya san-
gat bangga. Mereka terus berjalan menuju pon-
doknya.
"Lantas, bagaimana aku bisa mengenal
pendekar kondang itu, Kek?" tanya Pasopati, tak
sabar ingin mendengar kelanjutan saran kakek-
nya.
"Mudah untuk mengenalnya. Pendekar mu-
da itu tingkahnya seperti orang kurang waras. Ya,
sesuai dengan tingkahnya, dia dijuluki Pendekar
Gila dari Goa Setan," jawab Ki Wibisana mantap.
"Pendekar Gila dari Goa Setan,..," ulang Pa-
sopati lirih sambil mengerutkan kening. "Nama
yang aneh dan langka...," gumamnya kemudian.
"Singo Edan gurunya, adalah saudara se-
perguruan Kakek. Jelasnya Singo Edem menjadi
adik seperguruanku. Jadi jangan kaget jika jurus-
jurus silat yang Kakek ajarkan padamu, sebagian
sama dengan jurus Pendekar Gila...," tutur Ki Wi-
bisana.
"Apa lagi ciri-cirinya Pendekar Gila itu,
Kek?" tanya Pasopati ingin tahu lebih jelas.
"Hm.... Dia memiliki sebuah suling pusaka.
Dan selalu diselipkan di pinggangnya. Itu saja.
Dan perlu kau ketahui juga nama asli pendekar
itu, Sena Manggala...," kata Ki Wibisana, lalu me-
nepuk-nepuk punggung cucunya. Mereka kini su-
dah sampai di depan pondok.
"Bagaimana, Bu...? Apakah Ibu mengizin-
kan aku berkelana?"
"Oh, dengan senang hati anakku. Ibu doa-
kan agar kau selamat, Nak. Ibu tak dapat mena-
hanmu lebih lama lagi di sini, karena kau sudah
dewasa. Dan sudah tahu semuanya. Apalagi ka-
kekmu telah merestuinya...," ucap Nila Sari sambil
mengusap pipi anaknya. Pasopati segera memeluk
ibunya dengan erat penuh kasih sayang.
"Percayalah, Bu! Aku akan dapat membalas
dendam atas perbuatan manusia keparat Sugrika-
la itu. Apa pun yang terjadi, akan kuhadapi...."
Sesaat mereka diam, hanya isak tangis yang
terdengar dari Nila Sari. Sementara Ki Wibisana
hanya mengusap-usap jenggotnya. Kemudian lela-
ki tua renta itu kembali berkata, "Cucuku... perlu
Kakek jelaskan sekali lagi. Tombak itu boleh kau
buka sarung kepala naganya, jika ingin kau per-
gunakan..."
"Maksud Kakek...?" tanya Pasopati dengan
kening berkerut.
"Jika kau sudah buka sarung atau tutup
kepala naga itu, berarti harus dipergunakan untuk
membunuh lawanmu. Kalau tidak, kau sendiri
akan celaka!" tutur Ki Wibisana menjelaskan.
Pasopati menghela napas panjang. Lalu me-
lirik ke ibunya. Nila Sari memandangi dengan se-
nyum hambar.
"Memang berat, Cucuku. Namun itu semua
syarat mutlak. Tergantung kau sendiri. Tapi aku
yakin kau bisa menerima syarat itu. Jangan cero-
boh dan cepat naik darah! Hadapi semuanya den-
gan tenang dan sabar. Kakek yakin kau akan jadi
pendekar yang tangguh...," kata Ki Wibisana lagi,
memberikan dorongan pada cucunya.
Mendengar itu Pasopati sangat terkejut ha-
tinya. Semangatnya meledak-ledak. Lalu kembali
memeluk ibunya. Wanita itu membalasnya dengan
penuh kasih sayang. Merasa bangga dan bercam-
pur cemas, karena tak lama lagi sang Putra akan
meninggalkannya. Mengembara untuk menuntut
balas atas kematian suaminya. Air matanya kem-
bali menetes ke pipi yang sudah keriput. Dipeluk-
nya erat-erat Pasopati.
"Oh, Hyang Widhi, lindungi anakku! Berilah
dia kekuatan, kesabaran untuk menghadapi segala
macam rintangan dan tantangan dalam pengem-
baraannya...! Aku tak ingin dia hilang atau mati
seperti ayahnya...," gumam Nila Sari dalam hati.
"Ibu, Ibu jangan menangis!" ucap Pasopati,
ketika melepas pelukannya dan menghapus air
mata ibunya. "Aku sudah dewasa Bu, aku bisa
menjaga diri. Percayalah, aku akan kembali den-
gan kemenangan. Dan aku akan dapat membunuh
Sugrikala si Manusia Siluman Serigala itu!" ucap
Pasopati dengan geram.
"Oh, anakku...," kembali Nila Sari memeluk
anaknya.
"Sudahlah, Nila Sari! Jangan kau lepas
anakmu dengan tangis! Ayo, hari sudah mulai ge-
lap, sebaiknya kita masuk ke pondok...!" ujar Ki
Wibisana sambil mengajak keduanya memasuki
pondok.
Mereka lalu melangkah menuju pintu pon-
dok dan masuk.
Udara semakin dingin, angin berhembus
sepoi-sepoi. Suasana di situ kembali sunyi dan se-
pi. Mentari telah menyusup di balik pepohonan
dan sebentar lagi malam pun tiba.

3
Pagi itu cukup cerah, secerah wajah Paso-
pati yang berjalan menuruni lereng Gunung Seme-
ru menuju ke arah utara, diiringi oleh pandangan
mata Ki Wibisana dan Nila Sari. Mata kedua
orangtua itu nampak berkaca-kaca hendak me-
nangis. Bagaimana tidak, dua puluh tahun mereka
saling menjalin keluarga, kini anak yang selama ini
dididik dan dirawat harus berpisah.
Langkah Pasopati nampak ringan, melom-
pati bebatuan dengan menggunakan ilmu merin-
gankan tubuh yang diajarkan kakeknya. Maka
pemuda itu berlari bagaikan seekor rusa, melesat
begitu cepat. Dari kejauhan yang tampak hanya
bayangan tubuhnya, berkelebatan di sela-sela pe-
pohonan.
Tubuh itu melompat, melayang dengan rin-
gan dan hinggap di atas sebongkah batu yang agak
tinggi. Sesaat Pasopati terhenti, memandangi tem-
pat tinggalnya. Tak terasa matanya berkaca-kaca
seperti hendak menangis. Ya, Pasopati seakan tak
mampu menahan rasa haru, bila ingat kembali ba-
gaimana Ibu dan kakeknya telah merawatnya se-
jak masih bayi, hingga sekarang. Betapa besar
pengorbanan dua orang tua itu, sangat tinggi dan
tak ternilai harganya.
Tengah Pasopati terdiam memaku sambil
memandang ke arah Gunung Semeru, tiba-tiba se-
sosok bayangan berkelebat dengan cepat berlari.
Sehabis bayangan seorang berlari melintas di ha-
dapannya, nampak bayangan lain pun melintas
pula ke arah yang sama.
Terkejut Pasopati tak habis pikir. Matanya
tajam memandang sekeliling tempat itu, dengan
kening berkerut.
"Hah...?! Sedang apa kedua orang itu?" gu-
mam Pasopati masih terpaku di tempatnya. Sete-
lah sejenak terdiam, tiba-tiba rasa ingin tahu men-
gajaknya untuk mengikuti kedua orang yang ten-
gah berlari saling kejar itu.
Pasopati pun melesat cepat mengikuti arah
kedua bayangan itu lari.
Bayangan yang berkelebat itu ternyata dua
orang manusia yang saling kejar. Mereka tak
menghiraukan Pasopati yang kini mengikuti di be-
lakangnya. Keduanya terus kejar-kejaran bagaikan
tak kenal lelah. Baru setelah berada di sebuah ta-
nah yang agak luas, kedua orang itu berhenti.
"Kau tak akan bisa lari sekarang, Taragalu!
Ayo, kita teruskan di sini!" suara bentakan itu ter-
dengar dari mulut lelaki berwajah beringas yang
tadi mengejar di belakang.
"He he he... aku bukan pengecut! Aku tak
akan lari, Barja. Ayo, teruskan pertarungan kita!
Buktikan... siapa di antara kita yang patut menjadi
wakil dari perguruan!" sahut Taragalu mengger-
takkan gigi-giginya.
"Ha ha ha! Bicaramu seperti orang paling
jago saja, Taragalu," tukas Barja sambil melinting
kumisnya yang tebal. Matanya menatap tajam ke
arah Taragalu.
"Jelas, Sobat! Seharusnya kau sadari, bah-
wa ilmumu masih rendah. Tak pantas untuk me-
wakili perguruan...!" sahut Taragalu dengan nada
mengejek.
"Kau memang sombong! Ilmumu pun aku
rasa belum ada apa-apanya. Yang penting seka-
rang jangan banyak mulut. Ayo, segera mulai per-
tarungan kita! Yang menang, itulah yang pantas
menjadi wakil perguruan...!" ucap Barja dengan
geram.
"Heaaa...!"
Tanpa menunggu jawaban dari Taragalu.
Barja dengan secepat kilat berkelebat menyerang.
Melihat hal itu, Taragalu yang tak mau begitu saja
dijatuhkan oleh adik seperguruannya, dengan se-
gera memapaki serangan Barja.
Tanpa ampun lagi, kedua kakak beradik se-
perguruan itu pun mental ke belakang. Namun
dengan cepat keduanya kembali bangkit, lalu den-
gan didahului pekikan keras, mereka kembali sal-
ing menyerang. Jurus-jurus mereka sama, sehing-
ga gerakan-gerakan yang dilakukan tak berbeda.
Pasopati yang mengintai pertarungan itu
hanya terbengong. Walau belum mengerti siapa
adanya, kedua orang yang bertarung, dia telah da-
pat mengetahui bahwa mereka satu perguruan.
"Orang-orang bodoh!" maki Pasopati dalam
hati, "Mengapa seperguruan harus saling berta-
rung?!"
Lama Pasopati mengintai pertarungan ke-
dua orang seperguruan itu. Ketika salah seorang
melompat ke belakang, Pasopati yang tak ingin
melihat dua orang seperguruan itu saling serang,
serta-merta melompat dari persembunyiannya.
"Hei...! Berhenti! Kalian orang-orang bodoh!
Untuk apa berkelahi dengan saudara sendiri...?!"
sambil mengeluarkan bentakan keras menggelegar
Pasopati menghentakkan tangan ke depan.
Kedua orang yang sedang bertarung itu ter-
sentak kaget, dan mental beberapa tombak ke be-
lakang, terdorong angin pukulan Pasopati yang
dahsyat. Mata kedua orang itu membelalak tak
percaya dan saling pandang. Lalu kembali mata
kedua orang itu memandang lekat pada Pasopati
yang telah berdiri menengahi mereka.
"Siapakah kau, Anak Muda?" tanya Taraga-
lu terheran-heran. Ia merasa bahwa yang ada di
hadapannya bukan anak muda sembarangan. Ter-
bukti angin hentakannya saja mampu membuat
orang terpental bagaikan dihantam angin puting
beliung. Tak kalah kagetnya Barja, ia juga merasa-
kan hawa lain saat pemuda yang berdiri di hada-
pannya membentak.
"Hem.... Siapa kau sebenarnya, Anak Mu-
da?!" tanya Barja dengan menyipitkan kedua ma-
tanya.
"Kenapa kau menghalangi pertarungan ka-
mi?" tanya Taragalu kemudian dengan pongah.
Pasopati menggeleng kepala perlahan, dan
tersenyum sinis.
"Aneh. Kalian orang-orang persilatan yang
telah berumur, mengapa masih seperti anak kecil
berebut makanan?! Memalukan sekali...," sahut
Pasopati tegas.
Kedua orang itu seketika terdiam menden-
gar ucapan Pasopati yang dirasa mengena di hati.
Keduanya perlahan bangkit, menghampiri Pasopati
yang masih berdiri tegak di tempatnya, dengan
memperhatikan Tombak Baruklinting yang ter-
genggam di tangan kanan.
"Kau sangat peka dan mempunyai pandan-
gan yang luas. Kalau boleh kami tahu, siapakah
kau?" tanya Taragalu untuk kesekian kalinya.
Pasopati mengerutkan kening. Matanya me-
natap kedua orang itu, sepertinya sedang menyeli-
dik. Sejenak anak muda itu berpikir seperti ragu
mengucapkan namanya.
"Namaku Taragalu...."
"Dan aku, Barja. Kami berasal dari Pergu-
ruan Batulawang Sakti. Kami bertarung untuk
menjadi wakil dari kerajaan dalam pertempuran
para tokoh persilatan di Candi Borobudur."
Mendengar ucapan Barja, seketika Pasopati
mengernyitkan keningnya. Ingatannya kini kemba-
li pada Sugrikala yang hendak dicarinya.
"Kalau aku mengikuti mereka, pasti aku
dapat menemui Sugrikala," gumam Pasopati dalam
hati lalu berkata pada kedua orang itu.
"Ternyata hanya itu masalahnya. Sebenar-
nya ada apakah sehingga tokoh persilatan menga-
dakan pertemuan?" tanya Pasopati menyelidik.
"Apakah kau belum tahu, Anak Muda?" Ta-
ragalu malah balik bertanya pada Pasopati.
"Belum. Aku baru saja turun dari gunung,"
jawab Pasopati jujur.
"Oh, apakah kau tidak membaca pengu-
muman yang disebar oleh pimpinan sekarang?"
tanya Braja menambahkan ucapan Taragalu.
Pasopati menggeleng kepala perlahan, sam-
bil mengerutkan kening.
"Siapa pimpinan yang kau sebutkan tadi...?"
tanya Pasopati balik bertanya.
"He he he... rupanya kau benar-benar tak
tahu, Anak Muda. Pimpinan itu bernama Prabu
Santika," jawab Taragalu.
Pasopati hanya mengangguk-anggukkan
kepala perlahan, sambil memegangi dagunya yang
ditumbuhi sedikit bulu halus.
Dirinya memang belum tahu apa-apa di du-
nia persilatan. Nama-nama tokoh persilatan pun
belum ada yang dikenal. Yang diketahuinya baru
beberapa nama, seperti Pendekar Gila, Sugrikala,
dan Sumbaga ayahnya.
"Kenapa kau diam dan melamun, Anak Mu-
da?" tanya Braja tiba-tiba. Membuat Pasopati ter-
sentak kaget. Lalu tersenyum dan bertanya.
"Untuk apa sebenarnya pertemuan itu,
hingga memanggil semua tokoh-tokoh persilatan?"
"Para tokoh persilatan di Jawa Dwipa ba-
gian tengah akan mengadakan pemilihan ketua
yang baru. Sudah menjadi kebiasaan, dua tahun
sekali adat pilihan pimpinan diadakan. Memilih
orang yang pantas menjadi ketua, untuk mengatur
para tokoh persilatan," tutur Taragalu, memberi-
kan keterangan pada Pasopati.
"Ya. Karena ketua lama sudah tak sanggup
lagi memegang tampuk pimpinan. Selain sudah
semakin tua, Prabu Santika ingin mengundurkan
diri dari rimba persilatan. Yang akhir-akhir ini mu-
lai kisruh," tambah Barja menjelaskan.
"Ooo...? Jadi kira-kira siapa yang akan men-
jadi ketua baru nanti, Sobat?" tanya Pasopati
hanya sekadar ingin tahu.
"Sulit kami untuk menerka. Tapi dengar-
dengar nama Sugrikala disebut-sebut sebagai
orang kuat untuk memangku jabatan ketua...," ja-
wab Taragalu dengan penuh semangat.
Tersentak kaget Pasopati, mendengar nama
Sugrikala disebut oleh Taragalu. Wajahnya yang
tadi nampak polos, kini berubah tegang dan me-
mancarkan amarah
Taragalu dan Barja yang sempat melihat pe-
rubahan wajah Pasopati, merasa heran. Keduanya
saling pandang, lalu menggeleng kepala perlahan
sambil mengangkat kedua bahu. Kemudian mena-
tap ke arah Pasopati yang masih tercenung, me-
mandang ke depan.
"Ada apa kiranya dengan dirimu, Anak Mu-
da...? Hm kalau boleh kami tahu, siapa nama
Anak Muda...?" tanya Taragalu dengan kalem.
Pasopati tersentak dari tercenungnya, lalu
tersenyum dan menghela napas panjang. Agak ga-
gap dia menjawab pertanyaan Taragalu.
"Oh, hem.... Kakekku memberi nama pada-
ku Pasopati. Dan kakekku semasa mudanya juga
orang persilatan yang menurut ibuku cukup dis-
egani. Aku bangga mempunyai Kakek seperti
dia...," tutur Pasopati kemudian.
"Siapa nama kakekmu itu...?" tanya Barja
tak begitu serius.
"Ki Wibisana. Kalian mengenalnya...?" jawab
Pasopati mantap.
"Ki Wibisana...?!" gumam Barja dan Taraga-
lu berbarengan mendengar nama yang disebut Pa-
sopati. "Aaah, rupanya aku kini tengah berhada-
pan dengan cucu Ki Wibisana. Maafkan atas ke-
lancangan kami."
Setelah berkata begitu, Taragalu dan Barja
membungkukkan badan menjura hormat. Dalam
hati mereka berucap, "Pantas kalau anak muda ini
memiliki ilmu tinggi."
"Eee... apa-apaan ini...?! Aku bukan raja
atau orang terkenal. Jangan kalian berlaku seperti
itu? Aku tak mau," kata Pasopati.
"Kami merasa senang, dapat berkenalan
dengan cucu Ki Wibisana. Beliau dahulu pernah
menjadi ketua persilatan tokoh-tokoh aliran lurus.
Dia seorang yang bijaksana dan berilmu tinggi...,"
ucap Taragalu tak mampu menyembunyikan rasa
kagumnya.
"Ya. Aku pun mendengar dari ibuku. Tapi
sekarang tak perlu dibicarakan lagi. Kalau kalian
tak keberatan, aku ingin ikut bersama kalian ke
pertemuan itu. Boleh...?!" kata Pasopati penuh ha-
rap.
"Oh, tentu. Tentu, Den. Tapi perjalanan kita
bisa sampai tiga atau empat hari," jawab Barja
dengan gembira.
"Ah, tidak apa. Aku memang ingin berkela-
na. Apalagi ditemani oleh kalian berdua," sahut
Pasopati. Lalu berpikir sejenak. "Tapi, aku minta
pada kalian berdua, jangan bawa-bawa nama ka-
kekku...," katanya kemudian sambil tersenyum
penuh persahabatan.
Taragalu dan Barja saling pandang, lalu
mengangguk sambil berkata, "Tentu kami setuju.
Biar kami sendiri yang tahu, siapa dirimu Pasopa-
ti...."
Lalu ketiganya melangkah pergi menuju ke
arah barat. Sebenarnya Pasopati bukan bermak-
sud mengikuti pertemuan tersebut. Niat di hatinya
hanya satu, mencari Sugrikala dan sebisanya me-
nuntut balas.
Ketiga orang itu terus melangkah menelusu-
ri jalan setapak dan bukit-bukit terjal dan terka-
dang persawahan serta hutan. Pasopati nampak
senang berjalan dengan kedua kenalan barunya
itu.

***

Sementara itu di suatu tempat, nampak


seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular, ber-
jalan seorang diri sambil menggaruk-garuk kepala.
Rambutnya yang agak ikal panjang pun diikat
dengan kulit ular. Tingkah lakunya lucu. Terka-
dang persis orang kurang waras. Tertawa-tawa
sendiri, atau cengar-cengir sambil menepuk pan-
tatnya.
Pemuda tampan dan gagah itu tampak sela-
lu ceria. Lalu tiba-tiba langkahnya terhenti. Kemu-
dian mencabut sebuah benda yang terselip di
pinggangnya. Ternyata sebuah suling berkepala
naga. Pemuda itu lalu meniupnya, memainkan se-
buah tembang yang terdengar mengalun indah
sambil kembali berjalan menelusuri jalanan seta-
pak berpasir.
Suara suling itu terus terdengar. Hingga tak
sadar kalau langkah kakinya sudah memasuki se-
buah desa. Dan ketika sadar pemuda itu segera
menghentikan tiupan sulingnya.
"Aha, rupanya aku sudah berjalan cukup
jauh. Desa apakah namanya ini? Baru kali ini aku
memasuki desa ini...," gumam pemuda itu dalam
hati. Lalu diselipkan kembali sulingnya di ping-
gang. "Hm.... Desa Progo!" gumamnya seraya
menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap tugu
gapura di mulut desa itu yang tercantum nama
desa tersebut. Sebuah desa yang cukup ramai.
Banyak pedagang yang datang dari berbagai wi-
layah meramaikan desa itu. Tampaknya desa ini
menjadi pusat penghasil rempah-rempah dan ber-
bagai kebutuhan pangan. Jadi banyak tengkulak
dan pedagang mampir di Desa Progo itu untuk
berbelanja dan bersantai-santai bagi yang banyak
duit. Mereka bisa menikmati surga dunia. Karena
di desa yang cukup luas itu, ada tempat maksiat
dan perjudian. Yang disengaja didirikan oleh
orang-orang tokoh sesat, dari suatu kelompok
yang ditakuti, Serikat Serigala Merah! Tampaknya
dari situlah gerombolan tersebut mendapatkan ha-
sil. Dari upeti dan keuntungan usahanya.
Namun penduduk dan lurah desa sampai
saat ini belum tahu siapa pimpinan rumah mak-
siat dan perjudian itu. Lagi pula Lurah Desa Progo
itu tak ada lagi kekuasaannya. Hanya nama saja.
Karena lurah yang berkuasa sekarang merupakan
hasil pilihan tokoh-tokoh sesat itu sendiri.
"He he he... nampaknya Desa Progo ini desa
yang paling ramai dan kaya akan hasil bumi.
Dan... cukup luas wilayahnya. Tak seperti desa
lainnya di Jawa Dwipa Tengah ini," gumam pemu-
da itu sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu ber-
jingkrak-jingkrak dan melangkah menuju pusat
keramaian. Di sana banyak orang bergerombol. Di
dekat sebuah bangunan besar seperti bekas ru-
mah Belanda tampak beberapa wanita duduk-
duduk di depan pintu masuk para tamu. Mereka
berpakaian dengan dandanan menyolok.
Pemuda itu terus melangkah mendekati
orang-orang yang bergerombol. Ternyata mereka
melihat orang yang sedang adu panco. Pemuda
yang bertingkah seperti orang sinting itu tak lain
Sena Manggala atau Pendekar Gila. Sena kemu-
dian menyusup di antara orang-orang yang sedang
menonton.
"Ayo, pertahankan Dogol! Jangan mau ka-
lah!" terdengar seman teman lelaki bernama Dogol,
yang sedang beradu panco. Adu kekuatan tangan!
"Sedikit lagi. Sumo...! Ayo jatuhkan, ce-
pat...!" seru yang lain memberi semangat kawan-
nya bernama Sumo, yang berbadan lebih kecil dari
lawannya. Namun otot-ototnya kuat.
Sedangkan yang bernama Dogol berbadan
besar, namun tak berotot. Pipinya mirip bapao. Dia
bertelanjang dada, hanya memakai rompi warna
hitam kumal. Tampangnya selalu ceria.
Pendekar Gila nampak senang melihat per-
tandingan panco itu. Dia tertawa-tawa sendiri
sambil menggaruk-garuk kepala.
Namun pada saat mereka sedang asyik ber-
gembira menonton panco, tiba-tiba....
"Tolooong...! Jangan, jangan paksa aku... to-
looong...!" terdengar teriakan seorang wanita me-
lewati tempat kerumunan penonton panco.
Wanita itu masih muda dan cukup cantik.
Sebagian pakaiannya sudah koyak-koyak. Di bela-
kangnya dua orang lelaki bertelanjang dada berpa-
kaian rompi merah dan berikat kepala merah pula
mengejarnya. Tak seorang pun di tempat itu yang
berani menolong si Wanita Malang.
Wanita muda itu jatuh, tersungkur ke ta-
nah. Dengan cepat kedua orang lelaki yang menge-
jar menangkapnya. Dan dengan kasar membawa
wanita itu menuju rumah maksiat.
Pendekar Gila segera melompat ke depan.
"Kenapa wanita itu, Pak? Apakah dia men-
curi atau...," tanya Sena pada seorang lelaki seten-
gah baya di depannya.
"Wanita itu menolak untuk dijual kepada
saudagar kaya dari Pulau Andalas. Sekutu pimpi-
nan pemilik rumah maksiat itu...," jawab lelaki se-
tengah baya pelan seperti berbisik, sambil menun-
juk rumah di belakang mereka.
"Hi hi hi... Lucu! Ini sudah kebangetan...,"
gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala dan
cengar-cengir.
Lelaki setengah baya itu merasa heran me-
lihat tingkah laku pemuda di sebelahnya. Kening-
nya berkerut tak mengerti maksud gumaman Se-
na.
Sementara itu kedua lelaki yang berwajah
kasar, yang salah satunya bermata juling, terus
menyeret wanita malang itu menuju rumah mak-
siat. Dan begitu hendak melewati Sena, tiba-tiba
kedua lelaki yang menyeret wanita muda itu ber-
henti. Sebab tiba-tiba Sena menghadangnya. Den-
gan tingkah laku seperti orang gila.
"Hei! Kau pemuda gila, minggir! Atau ku-
penggal kepalamu...!" bentak lelaki yang bermata
juling seraya mendorong tubuh Sena.
Namun herannya, tak sedikit pun tubuh
pemuda itu bergoyang. Bagaikan patung raksasa.
Lelaki bermata juling kaget. Matanya yang juling
terbelalak lebar, hingga berputar-putar. Lucu!
"Kurang ajar, rupanya kau ingin mam-
pus...!" kembali lelaki juling itu membentak seraya
mencabut golok dan menyabetkan ke arah kepala
Pendekar Gila. Namun dengan gerakan yang terke-
san lamban, Sena meliuk-liuk laksana menari. La-
lu menepukkan tangan kanannya ke pinggang le-
laki juling dengan gerakan lamban.
Plak! Plak!
"Ukh...!" lelaki juling itu memekik. Lalu tu-
buhnya terhuyung ke samping.
Melihat kawannya dipermalukan di depan
orang banyak, segera lelaki brewok yang masih
memegangi tangan wanita tadi langsung menye-
rang Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Kini kau harus mampus,
Anak Edan! Heaaat..!" teriak lelaki brewok yang
mata sebelah kirinya tertutup kain hitam.
Kembali Sena mengelak dengan mudah ke
samping kiri, lalu melancarkan serangan balik
yang cepat dan tepat. Mengenai kepala lelaki bre-
wok itu.
Puk!
"Aaakh...!"
Sama dengan lelaki juling tadi, lelaki bre-
wok itu jatuh tersungkur. Mencium tanah.
"Hi hi hi..., tikus-tikus ini lucu sekali! Ayo,
bangun...!" ejek Sena sambil cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala.
Orang-orang yang tadi bergerombol segera
bubar. Hanya si Dogol yang berbadan besar itu
masih di situ.
"Heh! Pemuda ini hebat benar. Aku suka
dengan anak muda ini. Aku akan berguru pa-
danya.... Tapi kenapa tingkahnya macam orang
gendeng...? Ah... tak apa. Yang penting nanti aku
akan bantu dia, kalau dia kalah...," gumam si Do-
gol sok jago. Dia sebenarnya orang yang baik dan
lugu. Sudah tak memiliki sanak saudara. Dirinya
hanya cari makan dengan menjual tenaga sebagai
kuli atau apa saja.
Sementara kedua antek-antek Serikat Seri-
gala Merah itu menyerang Pendekar Gila berbaren-
gan.
"Heaaat...!"
"Mampus kau, Bocah Edan!" bentak kedua-
nya sambil menebaskan golok ke arah kepala, ka-
ki, dan menusuk ke bagian dada Pendekar Gila.
Namun tanpa kesulitan Pendekar Gila pun
dapat mengelak. Dan malah dengan sebuah ten-
dangan keras tepat mengenal tengkuk si Brewok,
hingga memekik keras kesakitan. Lalu tubuhnya
yang besar roboh tak berkutik lagi.
Melihat temannya tak bangun, si Juling
tampak jelalatan ke sana kemari, membuat Sena
tertawa-tawa mengejek.
"Hi hi hi...! Kau mau seperti kawanmu. Nan-
ti matamu akan kubuat lebih juling lagi! Atau ku-
copot kedua matamu...!" ujar Pendekar Gila mena-
kut-nakuti.
Si Juling hidungnya kembang-kempis me-
nahan malu dan marah merasa dipermalukan di
depan orang banyak. Padahal sebelum ini kedua-
nya ditakuti penduduk Desa Progo itu.
Sementara wanita itu masih merangkak
hendak bangun. Si Dogol hendak menolongnya,
tapi agak ragu. Lelaki muda gendut itu hanya
menghela napas panjang.
Sena kemudian mendekati wanita muda itu,
lalu menolongnya bangun, "Jangan takut, Dik.
Ayo, kita pergi...!" ajak Sena sambil memapah wa-
nita itu. Si Juling yang melihat pemuda itu mem-
belakanginya, cepat mengambil kesempatan me-
nyerangnya dari belakang.
"Heaaat...!"
Plak! Plak!
"Aaa...!"
Rupanya Sena sudah tahu, dan memang
sengaja berbuat demikian. Maka tak ampun lagi,
pukulannya tepat bersarang di dada si Juling. Se-
ketika lelaki juling itu tak berkutik lagi. Dari mu-
lutnya keluar darah segar.
Orang-orang di dalam rumah maksiat ke-
luar. Nampak para pengunjungnya berhamburan
dari pintu depan. Dan disusul tiga orang lelaki
berpakaian sama, merah-merah dengan ikat kepa-
la merah dan bersenjatakan tombak bermata tiga.
Tampaknya sama Kembar.
Si Dogol yang melihat ketiga orang itu, sege-
ra mendekati Pendekar Gila.
"Den, sebaiknya pergi dari sini. Gawat...! Bi-
ar saya bawa wanita ini... saya akan sembunyi-
kan...," bisik Dogol pada Sena.
"Siapa kau?" tanya Sena.
"Aku hanya seorang yatim piatu. Aku ingin
ikut Aden...," jawab Dogol polos.
Sementara itu ketiga lelaki kembar yang
berwajah mirip serigala menyeringai, hingga mem-
perlihatkan gigi-giginya yang bertaring. Kuping
mereka yang panjang bergerak-gerak.
"Den, sebaiknya lari saja...!" kata Dogol ke-
takutan.
"Kau bawa wanita ini ke pinggir hutan sana!
Tunggu sampai aku datang!" pinta Pendekar Gila
pada lelaki bertubuh tambun itu. "Cepat lari! Biar
kuhadapi manusia buruk ini..., cepat!" perintah
Sena.
Dogol segera membopong wanita itu, dan la-
ri kencang sebisa-bisanya.
Ketiga orang bermuka mirip serigala itu,
mencoba mengejar Dogol. Mereka berlompatan di
udara. Namun Pendekar Gila mengetahui hal itu.
Tubuhnya segera melompat menghadang ketiga
orang bermuka kembar itu.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!"
Benturan terjadi, antara Pendekar Gila dan
ketiga orang bermuka serigala itu.
Brak!
Glarrr...!
Akibat benturan tangan mereka yang saling
pukul itu mengakibatkan ledakan dahsyat. Ketiga
orang bermuka serigala itu terpental ke bawah.
Pendekar Gila pun sama, terpental. Namun cepat
mendaratkan kakinya dengan tegap. Ketiga orang
mirip serigala itu tersentak kaget, melihat lawan-
nya tak goyah malah cengengesan dan menggaruk-
garuk kepala.
"Siapa pemuda edan ini sebenarnya? Il-
munya begitu tinggi. Tak ada seorang pun selama
ini bisa tahan pukulan kita. Kenapa pemuda edan
itu tahan...?!" tanya salah seorang dari mereka da-
lam hati.
"Kenapa kalian diam?! Ayo, maju sekaligus
tiga, jika ingin menangkapku! Tapi maaf, untuk
kali ini aku tak ingin meladeni orang macam ka-
lian. Lain waktu aku akan datang lagi...," ucap Se-
na, lalu segera melesat pergi.
Ketiga orang lawannya yang merasa diejek
segera melancarkan serangan jarak jauh. Mereka
berbarengan menghentakkan kedua tangan. Dari
telapak tangan mereka keluar beberapa larik sinar
merah bagai api. Meluncur ke arah tubuh Sena.
"Hop...!" Pendekar Gila melenting ke udara
mengelakkan serangan jarak jauh itu.
Jlegarrr...!
Akibatnya terjadi ledakan dahsyat meng-
hantam kedai dan rumah penduduk, hingga han-
cur dan terbakar.
Penduduk desa kalang kabut, berlarian
sambil berteriak ketakutan. Sementara itu Pende-
kar Gila sudah hilang entah ke mana.
"Kurang ajar! Kali ini kita mendapatkan la-
wan yang bukan saja berilmu tinggi. Tapi juga cer-
dik!" kata salah seorang dari ketiga orang kembar
itu. Merekalah yang dijuluki Tiga Kembar Bermuka
Serigala. Mereka merupakan sekutu Serikat Seri-
gala Merah.
"Benar, ini tak bisa dibiarkan begitu saja.
Kita harus melaporkan pada Ketua," sambut yang
lain.
"Benar, kalau tidak kita dipersalahkan. Apa-
lagi saudagar dari Pulau Andalas itu sudah mem-
bayar penuh, untuk dapat menikmati keperawa-
nan wanita itu," sahut yang satu lagi.
Sementara itu penduduk masih sibuk me-
madamkan api kedai dan rumah yang terbakar,
deh serangan Tiga Kembar Bermuka Serigala.

4
Dari kejauhan nampak berkelebat bayangan
berlari kencang menuju hutan. Larinya begitu ce-
pat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Ten-
tunya orang itu memiliki ilmu lari yang sangat he-
bat.
Sosok bayangan itu ternyata Pendekar Gila.
Larinya dihentikan ketika sampai di mulut hutan.
Matanya mengawasi sekeliling, mencari-cari seseo-
rang sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ke mana mereka...?! Kenapa aku memper-
cayai si Lelaki Gendut itu?!" gumam Pendekar Gila
lagi cengar-cengir.
Srek! Srek!
Tiba-tiba terdengar suara kaki dari balik
pepohonan dekat semak-semak. Sena segera
membalik, dan memandang ke arah suara tadi.
"Hai! Siapa kau, keluar!" bentaknya.
"Oh... ampun. Den...!" terdengar suara dari
balik semak.
Sena mengenal suara itu. "Apakah si Gen-
dut tadi? Kenapa dia...?!" gumam Sena. Lalu sege-
ra mendekati semak-semak, dan dilihatnya si Do-
gol nampak masih terengah-engah. Tubuhnya te-
lentang di semak-semak nampak kecapean.
"Kenapa kau! Mana wanita tadi...?" tanya
Sena dengan mengerutkan kening.
Dogol tak langsung menjawab, napasnya
masih ngos-ngosan. Lalu dengan berat mengang-
kat tangan kanannya, menunjuk ke satu arah.
Sena segera melesat ke tempat yang ditun-
juk si Dogol.
Ternyata wanita itu sedang terkulai pingsan
di tanah yang ditumbuhi rerumputan, dekat sun-
gai yang ada di pinggiran Hutan Rajasari.
Pendekar Gila merasa lega, lalu menghela
napas panjang sambil menggaruk-garuk kepala.
Kemudian kembali ke tempat si Dogol berada. Ter-
nyata lelaki bertubuh tambun itu masih telentang
keletihan. Perutnya yang gendut naik turun den-
gan cepat. Tertidur, dengan mulut menganga.
Pendekar Gila tertawa-tawa geli melihat Do-
gol tertidur, keletihan itu. Segera dia mengambil
batang rumput, kemudian mendekati Dogol. Diki-
liknya telinga dan lubang hidung si Dogol. Mem-
buat lelaki gendut itu kegelian dan terus menepis-
nepiskan tangannya ke telinga dan lubang hidung.
Sampai akhirnya Dogol terbangun dan ma-
rah. Namun begitu melihat pemuda yang dikenal-
nya, Dogol jadi tertawa renyah.
"He he he, Aden.... Saya kira orang jahat.
Maaf, Den...!" kata Dogol polos. Sambil mengusap-
usap perutnya yang buncit itu.
"Istirahatlah dulu, aku tadi cuma ingin
menggodamu," kata Sena ramah.
"Tidak, Den.... Sudah cukup saya istira-
hat...," sahut Dogol diiringi tawa, "Oh, ya. Apa
Aden sudah melihat wanita itu?" tanyanya kemu-
dian.
"Ya. Rupanya dia masih pingsan. Biarlah,
kita ngobrol saja dulu," kata Sena.
Sesaat keduanya diam. Dogol sepertinya in-
gin menanyakan sesuatu, namun ragu, belum be-
rani.
Kemudian Pendekar Gila yang lebih dulu
memulai membuka pembicaraan.
"Kau tahu siapa sebenarnya pimpinan
orang-orang terkutuk itu?" tanya Pendekar Gila.
"Sampai sekarang tak satu pun penduduk
yang mengetahui dengan jelas, siapa pemimpin
dan pemilik rumah maksiat itu...," jawab Dogol po-
los, sambil terus mengusap-usap perutnya yang
buncit.
"Nampaknya mereka memiliki kelompok
dan persekutuan yang kuat dan tentunya dari to-
koh-tokoh silat aliran hitam,..!" ujar Pendekar Gila.
"Ya. Tadi juga ada saudagar dari Pulau An-
dalas, yang katanya tokoh aliran hitam. Kabarnya
dia datang untuk bergabung dengan kelompok Se-
rikat Serigala Merah.... Dan saudagar itu, sebe-
narnya telah membeli keperawanan wanita tadi.
Maka tadi mereka sangat murka ketika Aden
menghalanginya. Untung Aden sanggup melawan-
nya. Saya jadi tertarik, ingin belajar dan menjadi
murid Aden...."
"Hi hi hi... kamu ini lucu! Aku bukan orang
terkenal atau pendekar. Aku hanya orang biasa,
seperti kamu," kata Sena lalu berpaling ke arah
belakang.
"Tapi saya yakin kalau Aden tentu seorang
pendekar. Karena Aden tadi dapat mengatasi Tiga
Kembar Bermuka Serigala. Padahal mereka sangat
kejam dan ditakuti di sini.... Terimalah saya men-
jadi murid, Aden! Atau paling tidak pengikut
Aden...," ujar Dogol penuh harap.
Melihat kepolosan dan kejujuran lelaki gen-
dut itu, Pendekar Gila nampak mulai menyu-
kainya. Namun dia tak memberikan jawaban apa
pun. Malah sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sudahlah jangan pikirkan dulu itu! Kau li-
hat dulu wanita tadi! Siapa tahu dia sudah si-
uman..."
Tanpa sengaja Dogol melihat benda yang
terselip di pinggang pemuda itu. Sebuah suling
berkepala naga.
"Hah?!" gumam Dogol dalam hati, "Aku per-
nah dengar tentang suling berkepala naga, dari ce-
rita ayahku sebelum dibunuh pengikut Serikat Se-
rigala Merah. Ya, ya aku ingat. Ayah bilang hanya
Pendekar Gila yang memiliki pusaka berupa Suling
Naga Sakti yang dapat melawan mereka...," lanjut
Dogol dalam hati. Seketika wajahnya jadi terse-
nyum gembira.
"Heh?! Ada apa kau ini, kenapa kau tiba-
tiba nampak segembira itu?" tanya Pendekar Gila
sambil menggaruk-garuk kepala.
"Oh... tidak, tidak ada apa-apa, Aden.... Biar
saya lihat wanita itu, dulu....," jawab Dogol yang
terus nampak gembira, lalu membungkuk dan me-
langkah pergi. Sena merasa heran, dan kembali
menggaruk-garuk kepala.
"Orang lucu si Gendut itu. Tertawa-tawa
sendiri. Ada apa dia? Nampaknya dia orang jujur.
Tapi akan ku coba kejujuran dan kesetiaannya
nanti," gumamnya dalam hati.
Dogol, sudah berada di tempat wanita muda
yang cantik itu berada. Ternyata wanita itu mulai
sadar, menggeliat lemah. Pakaiannya yang seba-
gian terkoyak, menyebabkan tubuhnya terlihat.
Dadanya yang montok sedikit tersembul. Juga
kainnya yang terkoyak, membuat sebagian pa-
hanya tersingkap. Namun Dogol yang melihat itu
cepat memalingkan kepala, lalu segera menutupi
bagian terbuka itu dengan pakaiannya.
Dari balik pohon sepasang mata mengama-
tinya, tanpa sepengetahuan Dogol.
"Kasihan kau wanita malang...," gumam
Dogol lirih, sambil menggaruk perutnya. Lalu
membalikkan badannya. Sementara wanita itu
mulai membuka matanya perlahan-lahan.
"Uhk...!" desah wanita itu sambil mengge-
liatkan tubuhnya. "Hah...?! Ohhh... di mana aku
ini... ahhh...!" pekik wanita itu ketika melihat Do-
gol berdiri membelakanginya. Wanita itu menutupi
bagian dadanya dengan pakaian Dogol, serta
menghimpit kedua kakinya. Ketakutan.
"Jangan takut, Dik... aku orang baik-baik...
tadi, tadi Adik pingsan... emmm...," kata Dogol ga-
gap. Mencoba menjelaskan.
"Siapa kau! Bagaimana aku bisa ada di si-
ni.... Kau tentu orang jahat...!" bentak wanita itu.
Bibirnya bergetar, menahan takut.
"Dia bukan orang jahat...!" terdengar suara
dari arah lain.
Wanita itu menoleh ke arah datangnya sua-
ra. Begitu juga Dogol. Dan ternyata pemuda ber-
pakaian kulit ular. Muncul dengan menggaruk-
garuk kepala. Dogol nampak gembira, lalu mende-
kati Sena seraya berkata.
"Di... dialah yang menolongmu. Kalau tidak,
kau akan menjadi santapan saudagar dari Pulau
Andalas itu...!" kata Dogol menjelaskan dengan ke-
polosannya.
"Saudagar dari Pulau Andalas...?" ulang
wanita itu lirih, sambil mengerutkan keningnya.
Lalu menoleh ke arah Pendekar Gila.
Pendekar Gila hanya tersenyum hambar,
sambil menggaruk-garuk kepalanya. Wajahnya
yang tampan dan gagah, membuat wanita yang
baru saja sadar dari pingsannya itu tersenyum
manis. Lalu bergerak sambil tetap menutupi da-
danya dengan rompi kumal milik Dogol, yang tadi.
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan
aku dari malapetaka itu," ucap wanita muda itu
agak lemah, "Kalau boleh tahu, siapakah nama-
mu? Biar aku lebih akrab memanggilmu...," ka-
tanya lagi.
"Apakah artinya sebuah nama bagimu...?"
sahut Pendekar Gila dengan cengar-cengir sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Untukku sangat berarti. Apalagi, kau orang
yang telah menyelamatkan diriku dari manusia-
manusia keparat, penjual wanita-wanita muda se-
pertiku ini. Agar nama itu kukenang selamanya...,"
kata wanita itu dengan suara renyah dan penuh
harap.
"Kalian ini aneh, memang. Tapi tak apalah,
aku tahu kalian bukan orang jahat. Namaku Sena
Manggala...," kata pemuda itu kemudian.
"Apakah Aden yang dijuluki Pendekar Gi-
la...?" celetuk Dogol memberanikan diri melontar-
kan dugaannya. Matanya melirik ke Suling Naga
Sakti yang terselip di pinggang Sena.
Sena tersentak kaget, matanya menatap ta-
jam wajah Dogol, lalu berpaling ke arah wanita itu.
Nampak kedua orang di depannya itu saling pan-
dang. Dogol menganggukkan kepala pada wanita
itu.
Pendekar Gila tak langsung menjawab. Ma-
lah cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Kalau begitu benar apa yang disebut lelaki
ini. Tuan adalah pendekar kondang itu...," kata
wanita itu tiba-tiba.
Pendekar Gila bertambah kaget mendengar
ucapan wanita itu.
"Ah, sudahlah, apakah kalian merasa yakin
aku ini orangnya. Tak usah dibesar-besarkan. Se-
baiknya, kalian cepat jelaskan apa sebenarnya
yang terjadi di Desa Progo saat ini," kata Sena pa-
da kedua orang itu.
"Panjang ceritanya Tuan Pendekar. Lebih
baik kita bicarakan nanti di...."
"Sebaiknya di rumah kakekku yang tinggal
di kaki Gunung Merapi. Bagaimana...?" kata wani-
ta yang cepat memotong ucapan Dogol.
Sena mengerutkan kening, menatap tajam
wanita itu lalu bertanya, "Aku belum mengenalmu,
siapa namamu...?"
"Panggil saja aku Sekar Melati!" jawab wani-
ta cantik itu.
Sena manggut-manggut, lalu memandang
ke arah Dogol yang nampak sangat gembira.
"Baiklah. Ayo, kita cepat pergi dari tempat
ini! Sebelum orang-orang durjana itu menemukan
kita," ajak Sena, lalu melangkah pergi. Diikuti Se-
kar Melati dan Dogol.

***

Sudah tiga hari perjalanan Pasopati, Tara-


galu, dan Barja. Kini mereka telah memasuki ka-
wasan Jawa Dwipa bagian tengah. Ketiganya terus
melangkah dan terkadang berlari untuk memper-
cepat perjalanan. Agar tepat waktu sampai di tem-
pat tujuan.
"Tak terasa, sudah tiga hari perjalanan kita.
Dan kita telah memasuki Jawa Dwipa bagian ten-
gah. Aku merasa lega. Tak ada hambatan dalam
perjalanan kita, Sobat," ucap Pasopati sambil me-
nyeka keringatnya. Kini mereka bertiga beristira-
hat di suatu tempat yang teduh.
"Besok pagi kita sudah sampai di tempat tu-
juan. Sebaiknya kita istirahat di sini sebentar.
Agar hilang rasa letih kita," kata Taragalu. Lalu dia
duduk, bersandar pada sebatang pohon. Demikian
juga dengan Barja.
Pasopati masih berdiri mengamati keadaan
sekeliling tempat itu, sambil terus mengipas-
ngipas dengan tangannya.
Tiba-tiba pandangan Pasopati terhenti keti-
ka melihat tiga orang penunggang kuda menuju ke
arah mereka. Pasopati dengan cepat menaruh
tombak pusakanya ke depan dada. Seraya membe-
ri tahu kedua temannya, "Hei bangun, ada orang
datang...!"
Segera Taragalu dan Barja berdiri, meman-
dang ke arah datangnya lelaki penunggang kuda
yang menuju ke arah mereka.
"Siapa mereka?" tanya Pasopati pada Barja
yang berdiri di sisi kirinya.
"Entahlah. Aku belum jelas...," jawab Barja.
Ketiga penunggang kuda hitam itu semakin
dekat. Dan....
"Celaka! Mereka Tiga Kembar Bermuka Se-
rigala!" celetuk Taragalu. Seketika dadanya berge-
tar keras, merasa tegang dan takut.
"Tenang, biar aku yang hadapi, jika mereka
kasar pada kita!" kata Pasopati tegas.
"Hei! Kalian sedang apa diam di sini?!" ben-
tak salah seorang dari mereka.
"Kami hanya sedang beristirahat seben-
tar...," jawab Pasopati ramah.
"Apa kalian melihat dua orang lelaki, satu
berbadan gendut, dan seorang wanita muda lewat
di sini...?" tanya salah seorang lagi.
"Tidak. Kami baru saja sampai di tempat
ini," jawab Pasopati lagi.
"Hm! Mau ke mana tujuan kalian?" tanya
yang lain.
Pasopati tak langsung menjawab, menoleh
ke arah Taragalu sejenak. Lalu kembali berpaling
ke penunggang kuda itu.
"Kami dari daerah timur, sana. Ingin me-
nyaksikan pemilihan ketua baru di Candi Borobu-
dur," jawab Pasopati tegas.
"He he he...! Jauh-jauh dari sana kau hanya
ingin menyaksikan pemilihan itu. Hebat. Mungkin
kau ada maksud lain?!" tanya orang yang berada
di tengah.
Tersentak kaget Pasopati mendengar perta-
nyaan itu. Seakan orang itu dapat menebak mak-
sudnya.
"Maksud apa...? Aku tak mengerti ucapan
Tuan?" sahut Pasopati mencoba menutupi kekage-
tannya.
"Bagus! Tapi ingat, jangan berulah macam-
macam di sana! Kalian akan mampus. Dan pesan-
ku. Pilihlah Sugrikala! Jika kau mau hidup sela-
mat dan bebas. Ha ha ha...!" kata orang yang ada
di sebelah kanan.
Lalu ketiganya segera memacu kuda mere-
ka, meninggalkan tempat itu.
"Bangsat...! Rupanya mereka sekutu Sugri-
kala pembunuh ayahku itu! Akan kuhabisi mere-
ka...!" kata Pasopati geram dalam hati. Matanya
menatap tajam kepergian Tiga Kembar Bermuka
Serigala itu.
"Kenapa kau, Pasopati...!" tanya Taragalu
tiba-tiba.
"Ohhh... tak apa-apa. Masih jauhkah Candi
Borobudur dari sini...?" sahut Pasopati balik ber-
tanya.
"Cukup lumayan. Besok pagi kita sudah
sampai," jawab Barja.
"Sebaiknya kita lebih mempercepat. Agar
tak terlambat. Lebih cepat akan lebih baik bagi-
ku...." Selesai berkata begitu, Pasopati segera me-
langkah pergi. Taragalu dan Barja hanya mengge-
leng-gelengkan kepala, lalu melangkah mengiku-
tinya.

***

Kembali pada Sena dan Dagol, serta Sekar


Melati. Mereka nampak masih dalam perjalanan
menuju kaki Gunung Merapi. Sena berjalan di de-
pan bersama Sekar Melati, sedangkan Dogol di be-
lakang mereka. Dogol sebentar-sebentar nampak
menoleh ke belakang, takut kalau-kalau ada yang
mengikutinya. Tangannya terus memegangi perut
yang buncit itu. Sepertinya takut jebol, karena ter-
guncang kuat, kalau dia berlari.
"Perut ini semestinya ditinggal di rumah.
Huh!" sungut Dogol sambil memegangi perutnya
yang seakan hendak jatuh merosot. Lucu keliha-
tannya. Terguncang-guncang ke kanan dan kiri ke-
tika Dogol mempercepat langkahnya.
"Aduh...!" tiba-tiba terdengar suara pekik
Dogol yang tersandung bebatuan, hingga kesaki-
tan. Dia meringis sambil memegangi kakinya.
Sena dan Sekar Melati menoleh, lalu meng-
hentikan langkahnya. Keduanya tertawa melihat
Dogol kesakitan terduduk di tanah, memegangi
dan memijit-mijit kakinya yang kena batu tadi.
"Katanya kau mau jadi pendekar.... Baru
kena batu saja sudah meringis seperti kuda," goda
Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk
kepala.
Sekar Melati hanya tertawa-tawa kecil. Lalu
mendekati Dogol dan mengulurkan tangan kanan-
nya. Dogol tersenyum senang, menyambut uluran
tangan gadis cantik itu. Dogol segera bangkit, ke-
mudian berjalan mendahului Sena dan Sekar Me-
lati sambil membusungkan dadanya. Agar perut-
nya yang buncit tak begitu kentara, dia mengem-
peskannya. Namun dia tak tahan lama. Kembali
perut itu melembung seperti semula. Sena terse-
nyum-senyum, sedangkan Sekar Melati geli meli-
hat perut Dogol, sambil menutupi mulutnya den-
gan tangan kiri.
Mereka terus berjalan menelusuri pinggiran
sungai. Sena dan Sekar Melati tak terasa letih ka-
rena selalu gembira, tertawa mendapat teman se-
perti Dogol yang lucu, polos, dan bicara apa
adanya.
Sinar matahari kini tak seterang tadi, sudah
condong ke arah barat. Mereka terus melangkah
menelusuri sungai yang berkelok-kelok, seakan
tanpa batas. "Airnya jernih, pasti nyaman jika
mandi di sungai itu," batin Sekar Melati, yang ber-
jalan di sebelah Sena. Matanya menatap terus ke
air yang jernih itu.
Namun Sekar Melati tak berani mengutara-
kan maksudnya, karena dia sangat segan dan
menghormati Pendekar Gila, pemuda yang tam-
pan, gagah, dan memiliki nama besar di rimba
persilatan ini. Sekar Melati hanya bisa membatin
dan menahan keinginannya.
Sena sebenarnya tahu, karena diam-diam
memperhatikan gerak-gerik Sekar Melati, yang se-
bentar-sebentar melihat ke air sungai itu. Namun
hatinya khawatir sesuatu akan terjadi pada wanita
itu.
"Rasanya aku ingin mandi di sungai itu. Un-
tuk menyegarkan badan. Tapi waktu dan keadaan
tak mengizinkan...," sindir Sena tiba-tiba. Mulut-
nya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Lalu melirik ke arah Sekar Melati. Sekar Melati
tersentak kaget, lalu tersenyum manis pada Sena.
"Benar-benar aneh. Bagaimana dia bisa
mengetahui keinginanku...? Aku sangat menga-
guminya. Alangkah bahagia dan damainya wanita
yang dicintai dan disayangi oleh pendekar ini...,"
kata Sekar Melati dalam hati.
Dogol tersenyum-senyum. Dia pun tahu ka-
lau Sena menyindir Sekar Melati. Dogol mencolek
Sena lalu mengedipkan sebelah matanya, sambil
menunjuk ke arah Sekar Melati. Sena hanya cen-
gengesan dan mengangguk-anggukkan kepala.

5
Di suatu tempat yang angker, tepatnya di
dalam hutan di sebuah rumah tua, yang terbuat
dari kayu. Sepertinya rumah yang senantiasa gelap
itu tak berpenghuni. Namun terdengar suara-
suara macam binatang buas dari dalam rumah itu.
Suara aneh itu ternyata berasal dari seorang lelaki
tua berwajah menyeramkan bagai iblis. Mulutnya
yang moncong mirip serigala. Jika menyeringai ter-
lihat taringnya yang runcing.
Di depannya duduk seorang lelaki setengah
baya, berpakaian serba merah, Hanya ikat ping-
gangnya yang hitam. Duduk bersila dengan kepala
tegap menatap lelaki tua yang berwajah nampak
bringas. Napas lelaki tua itu sesekali mendesah,
lalu kepalanya menggeleng lemah bagai ada sesua-
tu yang dirasakan. Wajahnya nampak merengut,
seperti ada sesuatu yang terpendam dalam pikiran
lelaki berwajah mirip serigala itu.
"Hem...! Kenapa tiba-tiba hatiku tak tenang
untuk berangkat ke Lembah Tidar?!" keluh lelaki
setengah baya berpakaian serba merah yang du-
duk bersila. Jenggot dan kumisnya yang tebal ber-
getar. "Apakah ini pertanda buruk?"
Lelaki setengah baya bermuka tebal dan di-
tumbuhi cambang bawuk serta kumis tebal itu,
kembali untuk sekian kalinya mendesah panjang.
Napasnya bagaikan memburu, liar seperti men-
cium sesuatu. Ketika matanya nampak merah ba-
gaikan memendam bara, tiba-tiba badannya berge-
tar kuat, bagai merasa kepanasan. Mendadak pula
keluar asap dari sekujur tubuhnya.
Lelaki tua berwajah serigala itu diam. Sedi-
kit pun tak menghiraukan muridnya yang tengah
dilanda kegalauan.
"Grrr...! Auuung...!"
Mendadak lelaki setengah baya berbaju ser-
ba merah menggereng lalu melolong keras. Dan
bersamaan suara lolongan lelaki setengah baya
berpakaian merah itu berubah wujud menjadi see-
kor serigala merah, besar, buas, dan menyeram-
kan.
Lelaki tua berwajah mirip serigala yang du-
duk di depannya tampak menyeringai. Terdengar
suaranya yang berat dan besar.
"Ada apa kau begitu gelisah, Sugrikala...?"
tanya lelaki tua yang tak lain Reski Jalatula. Den-
gan sinar matanya yang menyala dia menatap se-
rigala jelmaan Sugrikala, muridnya.
"Grrr...!" kembali serigala jejadian Sugrikala
menggeram.
"Apa kau mengalami kesusahan?" tanya
Reski Jalatula lagi.
"Ampun, Guru! Mengapa tiba-tiba hati
hamba gelisah?! Apakah Guru mengetahui sebab-
nya...?"
Manusia yang mukanya mirip serigala itu
sejenak kembali diam. Matanya tak berkedip me-
mandang Sugrikala. Yang telah menjelma jadi seri-
gala. Setelah menghela napas panjang, Reski Jala-
tula berkata menerangkan pada muridnya.
"Hem.... Grrrr.... Kau harus berhati-hati
menghadapi musuhmu kali ini. Dia memiliki senja-
ta pusaka yang ampuh...," tutur Reski Jalatula.
"Grrr... auuung...!" terdengar gerengan Su-
grikala yang sudah menjadi serigala. "Siapa mu-
suhku itu. Guru?" tanyanya kemudian.
Reski Jalatula menghela napas panjang. La-
lu mendengus-dengus dengan kepalanya ber-
goyang-goyang ke sana kemari, serta mengaung.
"Musuhmu kali ini, tak lain anak Sumbaga!"
kata Reski Jalatula menegaskan.
Tersentak kaget bukan main Sugrikala. Ke-
mudian mengaung dan menggereng keras seakan-
akan memperlihatkan kemarahannya. Dikibas-
kibas tangannya sambil menggetar-getarkan kepa-
la.
"Kau harus menghadapinya dengan wujud
manusia, Sugrikala. Dia memiliki tombak yang di-
beri nama Baruklinting. Yang dapat menghancur-
kan apa saja. Bahkan tombak yang berkepala naga
itu dapat menjadi naga hidup," tutur Reski Jalatu-
la.
"Aku tak takut. Guru. Tentunya Guru telah
memberikan penangkal untuk semua itu," kata
Sugrikala yang berupa seekor serigala merah dan
besar.
"Benar. Kau tak akan mati dengan pusaka
anak Sumbaga itu. Bila belum menemukan Sendi
Ilmu-mu. Manusia macam apa pun tak akan sang-
gup menghadapimu," tambah Reski Jalatula mem-
beri semangat muridnya.
Sugrikala mendengus-dengus dan ekornya
kembali bergerak-gerak ke sana kemari. Lalu me-
nyeringai. Taringnya yang runcing dan tajam men-
gerikan. Seakan serigala itu tertawa senang.
"Tapi...," gumam Reski Jalatula kemudian.
Dengan muka murung.
"Tapi apa, Guru?" tanya Sugrikala cemas,
karena melihat gurunya tiba-tiba murung.
"Tapi, ada satu pendekar yang sangat kon-
dang saat ini. Pendekar Gila, murid Singo Edan.
Dia berada di wilayah tengah ini sekarang...!"
Bagai disambar petir Sugrikala mendengar
nama Pendekar Gila. Seketika wujudnya kembali
berubah menjadi manusia lagi. Setelah terlebih
dahulu menggereng keras, seluruh badannya be-
rasap.
"Aaakh...! Kenapa masih ada orang yang ke-
saktiannya mengungguliku. Guru? Aku tidak mau
terima. Aku yang paling sakti di rimba persilatan
ini...!" suara Sugrikala yang murka itu keras dan
bergema. Seakan rumah itu hendak roboh oleh ge-
tarannya.
Reski Jalatula yang melihat muridnya tak
terkendalikan, segera menyemburkan air berwarna
kuning dari mulutnya, ke arah Sugrikala.
Sruats!
Muka Sugrikala tersiram semburan air. Dan
seketika lelaki yang memakai pakaian silat serba
merah itu diam bagai patung.
"Kau akan mudah dikalahkan, jika adatmu
tak dapat dihilangkan! Kalau kau tak mau menu-
rut, terserah...!"
Sugrikala tak berani menjawab. Kepalanya
tertunduk kaku dengan napas tersengal-sengal,
menahan kekesalan dan amarah.
"Perlu kau ketahui. Kalau Tombak Baruk-
linting mengenal tubuhmu saat berwujud serigala,
kau tak akan lagi bisa menjelma menjadi manusia
untuk selama-lamanya! Sekarang, cepat kau cari
anak Sumbaga itu, sebelum terlambat!" perintah
Reski Jalatula, mulai kesal pada muridnya. Lalu
tiba-tiba dia menghilang. Hanya asap tebal menge-
pul di tempatnya tadi.
Sugrikala mendengus, kecewa dengan sikap
gurunya. Ditendangnya apa saja yang ada di situ.
Brak! Brakkk!
"Apa pun yang terjadi aku tak takut. Akan
kucabik-cabik anak Sumbaga itu. Tapi bagaimana
aku bisa mengenalnya...?!" gumam Sugrikala sam-
bil mondar-mandir. Dengan muka merah, dia ber-
pikir keras. Lalu tertawa-tawa seraya melesat ke-
luar, melompati jendela. Persis seekor serigala. Se-
kejap dia telah menghilang.

***

Saat itu di pondok Sekar Melati, Pendekar


Gila dan Dogol sudah lama bicara dengan Ki Ra-
sakgumilar, kakek Sekar Melati. Mereka membica-
rakan Serikat Serigala Merah, yang akhir-akhir ini
membuat bingung dan cemas para tokoh persila-
tan aliran lurus.
"Firasatku mengatakan akan terjadi pem-
bunuhan dan pertempuran yang tak dapat dihin-
darkan, jika Serikat Serigala Merah tak cepat di-
musnahkan," tutur Ki Rasakgumilar. Sebentar dia
menghela napas. "Sayang, aku sudah tua dan
lumpuh. Tapi aku berharap padamu, Sena. Karena
aku yakin hanya kaulah yang dapat memusnah-
kan mereka. Tapi, ingat. Mereka penuh tipu mus-
lihat. Terutama Sugrikala yang dapat menjelma ja-
di serigala. Dan pandai menyamar..."
"Terima kasih atas nasihatmu, Ki," jawab
Sena sambil menganggukkan kepala.
Sementara itu Sekar Melati nampak wajah-
nya kurang ceria. Karena dia tahu Sena akan me-
ninggalkannya. Gadis cantik itu rupanya telah ja-
tuh hati pada Pendekar Gila.
Sena sempat melirik ke arah Sekar Melati
yang duduk di sebelah kiri kakeknya. Sekar Melati
pun saat itu juga sedang menatap Sena. Akibatnya
wanita itu tersenyum dan menunduk, dengan wa-
jah memerah.
Dogol yang duduk di sebelah Sena cen-
gengesan dan menahan tawa, melihat Sena yang
juga cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Ki Rasakgumilar kemudian kembali berucap
pada Sena, setelah memejamkan mata beberapa
saat.
"Sena. Kau harus cepat menyelamatkan
keadaan. Ada seorang pemuda. Murid saudara se-
perguruanku, juga saudara seperguruan gurumu,
Singo Edan yang membutuhkan bantuanmu. Dia
mempunyai urusan pribadi dengan Sugrikala, si
Manusia Siluman Serigala itu," tutur Ki Rasakgu-
milar.
"Kalau boleh tahu, siapa nama pemuda itu,
Ki?" tanya Sena ingin tahu, "Agar aku tak sulit me-
nemukannya."
"Hem...," Ki Rasakgumilar memejamkan ma-
ta lagi, setelah menghela napas dalam-dalam. Ke-
dua tangannya dilipat di depan dada.
Ki Rasakgumilar memang saudara sepergu-
ruan Singo Edan dan Ki Wibisana kakek Pasopati.
Ki Rasakgumilar yang paling tua di antara kedua
orang berilmu tinggi itu. Dirinya mempunyai ilmu
yang sama dengan Singo Edan dan Ki Wibisana.
Hanya saja sedikit kelebihan Ki Rasakgumilar. Da-
pat mengetahui kejadian yang akan datang dengan
tepat.
"Aku tak tahu nama pemuda itu. Tapi dia
memiliki senjata tombak berkepala naga. Tombak
Baruklinting," ucap Ki Rasakgumilar.
Sena menganggukkan kepala perlahan.
Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Kalau begitu izinkan saya meninggalkan
tempat ini, Ki...," pinta Sena sambil menjura.
"Ya. Tapi kau harus berjanji, Sena. Selesai
menunaikan tugasmu, cepat kembali kemari! Jika
cucu Wibisana itu hidup, bawa kemari!" pesan Ki
Rasakgumilar.
"Baik, Ki. Kami mohon restu," jawab Sena.
Sena bangkit berdiri. Sekar Melati cepat
berlari ke depan mendahului Sena yang akan ke-
luar. Sedangkan Ki Rasakgumilar hanya terse-
nyum-senyum melihat cucunya.
Sesampai di luar pondok, Sekar Melati yang
hatinya sedih, mencoba menahan Sena.
"Kakang Sena. Kalau saja aku seorang pen-
dekar wanita, rasanya ingin membantu Kakang.
Dan aku akan ikut Kakang ke mana saja pergi.
Tapi, aku hanya seorang wanita gunung yang tak
bisa berbuat apa-apa...," kata Sekar Melati dengan
nada memelas.
Sena menggaruk-garuk kepala, lalu dengan
lembut dipegangnya pundak Sekar Melati.
"Jangan kau putus asa! Kalau kau mau, be-
lajarlah pada kakekmu. Aku yakin, kau akan men-
jadi pendekar wanita yang disegani," hibur Sena.
"Benarkah itu, Kakang?" tanya Sekar Melati
penuh semangat.
"Ya," jawab Sena pendek.
"Aku akan senang kalau Kakang Sena nanti
juga mau mengajari ilmu silat padaku...."
Mendengar ucapan yang polos dan penuh
harap itu, Sena merasa iba melihat Sekar Melati
yang ternyata cucu teman seperguruan Singo
Edan.
"Aku tidak berjanji, tapi aku ingin kau mau
berdoa untuk keselamatanku dan Dogol...," kata
Sena. Lalu memeluk Sekar Melati sejenak, kemu-
dian melepaskannya lagi.
"Aku akan selalu berdoa untuk Kakang Se-
na. Aku tak ingin Kakang mendapat kesulitan,"
jawab Sekar Melati dengan suara lembut.
"Terima kasih. Sekarang izinkan aku pergi."
Selesai berkata begitu, Sena melangkah
meninggalkan halaman pondok itu. Dogol pun
mengikutinya, setelah memberi hormat pada Sekar
Melati.
Sekar Melati memandang kepergian Sena
dengan berbagai perasaan yang ada di benak dan
hatinya.

***

Tiga orang tengah berjalan menuju tempat


diadakannya pertemuan antar pendekar, seketika
menghentikan langkah. Mata mereka melihat
bayangan berkelebat cepat melintas agak jauh di
depan mereka.
Seorang pemuda dengan pakaian putih, ce-
lana biru tua dan ikat kepala kain batik kecoklatan
memberi isyarat pada kedua temannya agar diam.
Di tangan kanan pemuda itu tergenggam sebatang
tombak yang ujungnya tertutup kain hitam. Pan-
jangnya sedepa.
Kemudian bayangan itu berkelebat lagi
kembali melintas di depan mereka.
"Seperti seekor binatang...?!" gumam Paso-
pati ketika penglihatannya dipertajam.
"Ya, seekor binatang...," timpal Barja nam-
pak mulai ketakutan.
Sesaat tak terdengar lagi suara. Dan bina-
tang yang tadi dua kali melintas tak terlihat lagi.
Pasopati memberi isyarat agar tetap waspada. Ke-
mudian mereka kembali melangkah perlahan ke
arah tadi. Tombak di tangan kanan Pasopati dile-
takkan ke depan dada. Dia siap untuk menghadapi
lawan. Apa pun wujudnya.
"Kalau tadi memang seekor binatang. Apa-
kah binatang itu jelmaan Sugrikala?! Aku harus
waspada...," gumam Pasopati dalam hati.
Srek! Srek!
Pasopati dengan cepat menghentikan lang-
kah kakinya, diikuti kedua temannya. Pasopati
yang sudah merasakan sesuatu, cepat pula mem-
buka tutup tombaknya.
Kemudian diciumnya kepala Tombak Ba-
ruklinting yang berkepala naga, kebiruan dan me-
mancarkan sinar. Kedua temannya membelalak-
kan mata ketika melihat pancaran sinar dari kepa-
la tombak itu. Merasa aneh dan kagum.
"Apakah binatang itu seekor serigala
atau...?!" gumam Taragalu, sambil melebarkan ma-
tanya untuk mempertegas penglihatannya. Namun
binatang itu sudah tak kelihatan.
Tiba-tiba muncul seekor serigala warna me-
rah besar yang hampir seperti seekor sapi. Ma-
tanya memancarkan sinar merah. Menyeringai ga-
rang. Hingga gigi-giginya yang runcing terlihat
mengerikan.
"Hah?! Dialah serigala merah jelmaan Su-
grikala...!" seru Barja yang terkejut dan membela-
lakkan mata lebar.
Mendengar apa yang dikatakan Barja, Paso-
pati tersentak. Dia menghela napas dalam-dalam
dengan mata tetap memandang tajam ke arah se-
rigala yang menggereng, seperti menantang Paso-
pati.
"Grrr...!"
"Hei! Setan siluman terkutuk! Apa pun wu-
judmu saat ini, aku tak akan terkelabui olehmu!
Hari ini aku akan menuntut balas...!" seru Pasopa-
ti tak pakai basa-basi lagi. Lalu digerakkan tangan
kanannya yang memegang tombak. Gerakannya
begitu cepat sambil menarik kaki kanan ke bela-
kang.
"Grrr...! Ini rupanya anak Sumbaga itu. Dan
itukah senjata saktinya yang bernama Tombak Ba-
ruklinting...?!" gumam serigala siluman Sugrikala.
"Grrr...!"
Tanpa diduga oleh Pasopati dan kedua te-
mannya, serigala merah itu tiba-tiba menyerang
Pasopati. Ketiganya tersentak kaget dan cepat me-
lompat mundur. Pasopati melompat sambil me-
nangkis serangan serigala itu dengan tombaknya.
Wret!
Sret!
Rupanya Pasopati dengan gerakan cepat,
melakukan serangan balik yang tidak diduga oleh
serigala siluman itu. Hampir saja perut binatang
jejadian itu tertusuk ujung tombak berkepala na-
ga. Namun hanya bulunya yang terbawa oleh
ujung tombak Pasopati.
"Grrr...!"
Binatang siluman itu tampak kian marah.
Dengan cepat dan ganas kembali menyerang Paso-
pati.
"Manusia keparat! Kau harus mati di tan-
ganku, atas perbuatanmu pada ayahku...!" dengan
memaki marah, Pasopati memapaki serangan seri-
gala yang melompat akan menerkam kepalanya.
"Heaaa...!"
"Grrr...!"
Melihat Pasopati memapaki serangannya,
serigala siluman itu tampak terkejut. Kemudian
dengan cepat melompat ke belakang mengelakkan
tusukan tombak Pasopati yang sudah mengarah
ke dadanya.
Srak!
Serigala merah kemudian menghilang ke
arah semak-semak. Pasopati memburu sambil
menusuk-nusukan tombaknya.
"Iblis jahanam! Ke mana perginya serigala
siluman itu!" sungut Pasopati kesal. "Heiii, keluar-
lah kau iblis...! Tunjukkan wujud aslimu! Biar aku
lebih puas membunuhmu...!" teriak Pasopati ke-
ras, sambil mengangkat tombaknya ke atas kepala.
Sementara itu Barja dan Taragalu, hanya
bisa bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.
Kedua orang itu tak berani membantu Pasopati,
karena menyadari tak mungkin mampu. Dan juga
merasa yakin Pasopati akan bisa mengatasi seriga-
la siluman jelmaan Sugrikala itu. Tiba-tiba....
"Auuung...!"
Dari arah belakang, serigala siluman me-
nyerang Pasopati. Pasopati yang terpecah pikiran-
nya karena dilanda kemarahan, tersentak kaget.
Namun cepat dia bisa mengendalikannya. Pasopati
cepat menundukkan kepala, sambil menangkis se-
rangan serigala siluman itu dengan tangan kanan-
nya yang memegang tombak.
Crasss...!
"Aaauuung...!"
Serigala siluman melolong keras, karena
tangkisan Pasopati, ternyata juga merupakan se-
rangan yang cepat. Hingga bagian dada serigala si-
luman tergores.
Binatang jejadian itu tersungkur ke semak-
semak. Tubuhnya sesaat menggelepar-gelepar
sambil mengerang. Namun kemudian cepat berba-
lik. Matanya memancarkan sinar aneh, merah
membara. Tampaknya Sugrikala telah bertambah
marah.
"Kau tak akan mampu membunuhku, Anak
Muda! Akan kukurim nyawamu ke akherat..!" tiba-
tiba terdengar suara dari mulut serigala merah.
Dan bersamaan dengan itu wujudnya berubah.
Berbadan manusia, namun wajahnya tetap seriga-
la.
Pasopati terkejut. Karena tombak yang tadi
mengenai dan melukai tubuh serigala merah, ter-
nyata tak mempan untuk membunuh Sugrikala.
Karena Sugrikala memiliki ilmu kebal yang dina-
makan ilmu 'Sukma Sejati'.
"Edan! Tombak pusakaku tak mampu
membunuhnya!" gumam Pasopati dalam hati. Ma-
tanya membelalak heran, memandang Sugrikala
yang tertawa-tawa mengejeknya.
"Ha ha ha...! Kau akan kukirim ke akherat
seperti ayahmu, Anak Muda! Ha ha ha...! Kau kira
aku takut dengan tombak pusakamu itu?! Ha ha
ha.... Sekarang giliranmu untuk merasakan ini.
Heaaa....!"
Selesai bicara begitu, Sugrikala melancar-
kan serangan kilat dengan ganas ke arah Pasopati.
Terjadilah saling tangkis dan pukul. Kedua-
nya kemudian melesat cepat ke atas dan terjadi
pertarungan sejenak di udara.
Plak! Plak!
Blak! Blak!
Terjadi pukul-pukulan dan saling tendang.
Keduanya sama-sama terdorong ke belakang dan
jatuh ke tanah. Nampak Pasopati sedikit kaget, ka-
rena pukulan Sugrikala sempat mengenai da-
danya. Meskipun tidak begitu telak, tapi cukup
menimbulkan nyeri dan sakit di dadanya.
Belum juga hilang kekagetan Pasopati, Su-
grikala yang memiliki ilmu iblis dan ilmu silat yang
cukup tinggi, melancarkan sebuah pukulan men-
gandung racun. Pasopati tersentak kaget bukan
main.
"Celaka!" gumam Pasopati, sambil menge-
lakkan benda-benda tajam sebesar jarum dan
memancarkan sinar menyilaukan mata yang mele-
sat ke arahnya.
"Eit...!"
Wut!
Tras! Tras!
Jarum-jarum maut yang membentuk lari-
kan sinar itu runtuh, tersambar Tombak Baruk-
linting milik Pasopati. Sugrikala si Manusia Silu-
man Serigala menjadi murka dan kesal, melihat
serangannya dapat dimentahkan oleh lawannya.
Dengan beringas dan marah dia terus mencecar
Pasopati, yang masih belum sempurna kuda-
kudanya.
"Grrr...! Mampus kau sekarang, Bocah In-
gusan...!"
Dengan menggerang Sugrikala melancarkan
serangan dahsyat kembali. Namun karena dia ter-
lalu bernafsu ingin cepat menghabisi Pasopati, se-
rangannya yang semestinya berhasil, kembali gag-
al. Pasopati yang tenang justru sebaliknya dapat
menyarangkan pukulan tangan kirinya. Dengan
gerakan tipu, seakan hendak menusukkan tombak
yang digenggam di tangan kanan, dengan cepat
menghantam keras. Hingga Sugrikala si Manusia
Siluman Serigala memekik keras. Tubuhnya ter-
pental beberapa tombak ke belakang. Melihat hal
itu Pasopati, mengambil kesempatan untuk meng-
habisi riwayat Sugrikala.
"Sekarang saatnya aku dapat membunuh-
mu dan membalas dendam. Heaaat!" Pasopati
menggerakkan tombaknya ke atas, lalu ke samp-
ing. Kemudian melompat sambil mengangkat tom-
bak pusakanya untuk menghabisi Sugrikala....
Namun Sugrikala ternyata hanya terluka
sedikit. Dengan cepat dihentakkan kedua tangan-
nya. Seketika Pasopati yang telah di udara dan
menghujamkan tombaknya ke arah Sugrikala,
mendadak terhenti. Mengapung di udara. Lalu
dengan cepat pula Sugrikala menghantarkan pu-
kulan dahsyatnya ke arah Pasopati.
"Heaaa...!"
Dub! Plak!
"Aaa...!"
Itulah pukulan 'Samber Nyawa' yang dapat
membunuh lawan. Tubuh Pasopati terlempar jauh,
lalu terbanting ke tanah. Mulutnya mengeluarkan
darah segar. Mukanya seketika pucat.
"Ooo... benar kata Kakek... aku tak akan bi-
sa mengalahkannya. Hyang Widhi... selamatkan
aku! Aku belum mau mati... sebelum dapat mem-
bunuh manusia iblis keparat itu...," gumam Paso-
pati dengan napas sesak.
Pada saat itu Sugrikala si Manusia Siluman
Serigala sedang menghampirinya. Pasopati beru-
saha sekuat tenaga, untuk dapat menyelamatkan
diri. Karena dia sadar, tak akan mampu melawan
dengan tenaga seperti saat ini.
Pasopati segera melesat pergi. Sugrikala jadi
geram dan murka, karena tak menemukan Paso-
pati. Amarahnya dilampiaskan pada Barja dan Ta-
ragalu yang sejak tadi hanya menonton saja.
Melihat Sugrikala menghampiri mereka,
Barja dan Taragalu segera lari. Namun Sugrikala
yang sudah marah, tak memberikan kesempatan
kedua mangsanya kabur. Dengan cepat tubuhnya
melompat dan menghadang mereka. Lalu melan-
carkan pukulan mematikan ke dada Taragalu dan
Barja.
Buk! Buk!
"Aaakh...!"
Seketika Barja dan Taragalu terpekik keras.
Tubuh mereka terkapar tewas di tanah dengan da-
da robek, bagai tercabik-cabik. Sugrikala yang
bermuka serigala menyeringai puas.
"Gara-gara tombak pusaka pemuda bangsat
itu, mukaku tak dapat berubah menjadi wajah as-
liku. Inikah yang dikatakan oleh Guru padaku...?!
Kurang ajar! Aku harus mencari pemuda itu!" sun-
gut Sugrikala geram. Seakan menyesali dirinya
yang tidak sempat membunuh Pasopati. Kemudian
terdengar lolongannya yang panjang dan keras.
Seakan hendak memecah bumi.

6
Dari kejauhan terlihat dua orang lelaki,
yang satu tampan memakai rompi kulit ular dan
berambut ikal dengan gagah mengayunkan lang-
kah kakinya di Lembah Galilinga. Di sampingnya
seorang lelaki bertubuh tambun berjalan sambil
memegangi perutnya yang gendut. Sepertinya ta-
kut perut itu jebol karena guncangan. Kakinya
berjalan cepat mengikuti pemuda berpakaian rom-
pi kulit ular yang tak lain Pendekar Gila.
"Dogol! Cepat...! Kau ini macam perempuan
saja. Kapan sampainya, kalau jalanmu kaya' bebek
begitu...?" kata Pendekar Gila sambil menggaruk-
garuk kepala. Dipandanginya Dogol yang badan-
nya sudah bermandikan keringat.
"Aduuuh, Den... istirahatlah sebentar. Kaki
saya ini seperti mau copot. Dan... dan perut saya
mau jatuh... uhhh...!" keluh Dogol sambil meringis.
Lucu tampangnya, seperti babi yang mau kentut.
Pendekar Gila cengengesan dan menghenti-
kan langkah kakinya. Lalu kembali berkata, meng-
goda Dogol.
"Katanya kau mau jadi pendekar..., mau be-
lajar dan menurut padaku. Nah, sekarang turuti
perintahku! Kalau tidak aku bisa meninggalkan
kau di sini. Biar kau dimakan serigala atau bina-
tang buas lainnya."
"Hah?!" gumam Dogol sambil melongo.
"Jangan...! Jangan tinggalkan aku. Den! Baiklah,
aku mau jalan... uh!" sambil mengeluh Dogol ter-
paksa meneruskan langkah kakinya dengan muka
yang sudah dibasahi keringat. Karena menahan le-
tih yang tak terkira, mukanya jadi makin lucu. Pi-
pinya yang seperti bakpao sepertinya akan jatuh.
Pemuda berompi kulit ular itu tertawa-tawa
geli melihat Dogol. Akhirnya dia tak sampai hati
melihat Dogol.
"Baiklah... kali ini kau aku kasih istirahat.
Tapi setelah ini tak ada lagi berhenti untuk istira-
hat. Waktu kita sudah tak ada. Mengerti...?" kata
Pendekar Gila dengan cengengesan dan mengga-
ruk-garuk kepala.
"Ya, ya, ya. Den. Terima kasih...!" kata Dogol
dengan sangat gembira. Lalu dia berlari-lari men-
cari tempat teduh, di bawah pohon yang agak rin-
dang. Langsung sesampai di situ Dogol duduk ber-
sandar di batang pohon. Persis gajah bengkak,
mendengus, menghela napas panjang. Tangannya
mengipas-ngipas mengusir panas dengan kain ikat
kepala, lalu mengelap keringat di wajahnya.
Pendekar Gila masih menertawainya, lalu
melangkah mendekati Dogol. Ternyata, Dogol su-
dah tertidur. Mungkin karena angin sepoi-sepoi
dan rasa letihnya yang berat, membuat lelaki ber-
badan gendut besar itu, cepat tidur. Dan ngorok!
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepa-
la. Geli melihat ulah Dogol.
"Dasar kebo! Nempel di mana saja, molor...!
Hi hi hi...!" gumam Sena dengan diiringi tawa kecil.
Lalu menggaruk-garuk kepala, melihat ke sana
kemari, seperti mencari sesuatu.
Sementara itu Dogol sudah pulas dengan ti-
durnya. Ngoroknya bertambah keras. Air liur mele-
leh dari sudut bibirnya. Sena merasa tambah geli.
Sambil menggaruk-garuk kepala, Sena berpikir.
"He he he... biar aku kerjai si Gendut ini...,"
gumamnya lirih. Lalu mengeluarkan sesuatu dari
ikat pinggangnya. Sambil tertawa-tawa Sena, men-
dekati Dogol yang asyik molor sambil ngiler itu.
Dikilik telinga Dogol dengan bulu ayam mi-
liknya.
Dogol kegelian, kepalanya bergoyang-
goyang, menghindar sambil tangannya menepis.
Sena diam sejenak, lalu mengilik lubang hidung
Dogol. Dogol kegelian dan....
"Huaaajing...!"
Dogol bersin, keras. Sena tertawa senang.
Dan itu Sena lakukan berulang-ulang. Membuat
Dogol terus bersin dan menggosok-gosok hidung-
nya dengan jari telunjuknya. Namun matanya te-
tap memejam. Malah kini Dogol merebahkan ba-
dan di tanah yang ditumbuhi rerumputan. Makin
nyenyak tidurnya.
"Dasar kebo...! Tetap molor, ngorok kaya
babi...!" gerutu Sena sambil menggaruk-garuk ke-
pala.
Perut Dogol yang persis orang hamil sembi-
lan bulan naik turun. Pusarnya yang bodong
membuat Sena kembali tertawa geli melihatnya.
Kemudian Sena kembali mengilik telinga Dogol le-
bih gencar. Mendadak Dogol terbangun dan sambil
mengomel.
"Aden... mengganggu saja... uaaa...!" lalu
Dogol tidur lagi.
Sena akhirnya membiarkan Dogol tidur, lalu
ngeloyor pergi seraya berseru, "Baiklah kalau kau
lebih enak di sini. Selamat tidur...! Aku mau per-
gi...," lalu Sena cepat melesat dan sekejap sudah
tak nampak.
Dogol yang baru sadar, celingukan mencari
Sena yang sudah tidak ada.
"Hah...?! Den...! Aden.... Sena...?!" Dogol
mulai cemas dan ketakutan, "Celaka! Kenapa aku
ini tertidur tadi...! Huh...!" gumam Dogol kesal
sendiri. Perutnya bertambah bergoyang cepat, ka-
rena menahan takut. Tempat itu sunyi dan jauh
dari desa. "Mati aku...! Ke mana Aden Sena..., mati
aku...!" Dogol berteriak-teriak sambil mencari-cari
Sena ke sana kemari. Kemudian dia memberani-
kan diri untuk meninggalkan tempat itu.

***

Dogol terus melangkah, mencari Sena. Mu-


kanya sudah tidak karuan, karena menahan ta-
kut. Kini segala macam pikiran ada di benaknya.
"Gusti... lindungi saya yang bodoh ini dari
segala mara bahaya...! Mati aku...!" gumamnya te-
rus sepanjang jalan. Sena pun tak ditemuinya.
Tanpa terasa Dogol ternyata sudah cukup
jauh meninggalkan tempat tadi. Dan kini sampai
di suatu tempat yang semakin sepi dan menye-
ramkan. Asap mengepul menyelimuti tempat Dogol
berada. Tubuhnya terasa merinding. Bulu kuduk-
nya meremang. Dipegang sendiri tengkuknya den-
gan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya me-
nyeka keringat dingin di kening, dengan ikat kepa-
la yang dilepas sejak tadi.
"Uh! Tempat ini sepi kaya kuburan...!" gu-
mam Dogol dalam hati. Matanya melirik ke kiri
dan kanan. Seketika wajahnya pucat dengan tu-
buh gemetaran, begitu melihat sesosok tubuh ma-
nusia berjalan gontai ke arahnya. Tidak begitu je-
las, karena asap masih menyelimuti tempat itu.
Dogol yang penakut, semakin tidak karuan ha-
tinya. Ingin lari, tak bisa.
"Celaka...! Kali ini aku benar-benar mati...!
Itu pasti hantu! Aduh biyung...! Celaka waduuuh!"
kata Dogol dalam hati, ketakutan.
Kakinya tak bisa digerakkan, karena saking
takutnya. Dogol hanya bisa pasrah, ketika sosok
manusia yang berjalan gontai itu semakin dekat
dengannya. Dan....
Bruk..!
Tubuh sosok manusia itu tiba-tiba roboh,
begitu berada satu tombak di hadapan Dogol yang
tengah ketakutan.
"Ukh...!"
Dogol menutup muka dengan kedua telapak
tangannya. Tubuhnya semakin gemetaran. Lalu
mencoba sekuat tenaga untuk berlari sambil ber-
seru.
"Setaaan...!"
Namun begitu Dogol berbalik dan berlari, ti-
ba-tiba muncul seseorang menghadangnya.
"Huaaa...!" Dogol memekik lagi kaget. Menabrak
sosok lelaki yang menghadangnya. Perutnya yang
besar membentur tubuh lelaki muda yang meng-
hadangnya.
Pemuda yang menghadang Dogol tertawa-
tawa, "Ha ha ha... hi hi hi...! Mau kabur ke mana
kau...?!" terdengar suara dari orang di depannya.
Dogol mengenali suara itu. Seketika dia
mengerutkan kening dan menegaskan pandangan
matanya, seraya mendekati orang yang menerta-
wai. Begitu semakin jelas, siapa pemuda itu, Dogol
nyengir. Lalu menghela napas panjang.
"Aduuuh, Gusti! Aden telah membuat saya
kaya mau mampus!" ucap Dogol, setelah tahu ka-
lau itu Sena.
"Ada apa memangnya?" tanya Sena seakan
tak berbuat sesuatu pada Dogol.
Dogol mengusap-usap kepala, lalu perut-
nya.
"Den, ada mayat di sana..., ngeri! Hi hi hi...!"
Dogol menunjuk ke tempat sosok manusia
tertelungkup di tanah dengan keadaan terluka.
Sena segera melangkah mendekati orang
yang dikatakan Dogol tadi. Sena memeriksanya
sambil berjongkok. Dogol mengikuti dengan mimik
muka masih ketakutan. Jalannya mengendap-
endap.
"Masih hidup...," gumam Sena lirih, lalu
membalikkan tubuh lelaki muda yang di tangan
kanannya masih menggenggam sebatang tombak,
berkepala naga. Sena agak terkejut melihat tom-
bak dalam genggaman pemuda itu. Ditatapnya
pemuda yang hampir mati itu. "Mungkinkah pe-
muda ini yang disebutkan Ki Rasakgumilar...?"
tanya Sena dalam hati. Lalu Sena segera menggo-
tong tubuh pemuda itu ke tempat yang lebih aman
dan sepi. Dogol mengikuti di belakang.
Setelah membaringkan tubuh pemuda itu
Sena mulai memeriksa lebih seksama. Kemudian
mengobatinya. Di dada pemuda berpakaian putih
itu ada tanda hitam kebiruan, bekas pukulan dah-
syat.
Dengan mengerahkan tenaga dalamnya
Pendekar Gila terus berusaha menyembuhkan dan
menyelamatkan pemuda itu dari kematian. Karena
Sena tahu luka dalam yang dideritanya sangat
berbahaya.
Setelah beberapa lama, pemuda itu mulai
dapat menghela napas dengan sempurna. Bahkan
dapat menggerakkan tubuhnya perlahan. Sena
dan Dogol yang duduk bersila di dekat pemuda
yang masih telentang di hadapannya, menanti
dengan sabar.
"Ooo... ukh...!" sambil menggeliat pemuda
itu membuka mata. Mulutnya tersengal, seperti
hendak batuk.
Sena nampak tenang, lalu bangkit dari du-
duknya dan beranjak pergi sambil menggaruk-
garuk kepala. Dogol heran, tak berani bersuara
atau menegur Sena. Hanya melongo melihat ke-
pergian Sena.
"Jangan tinggalkan dia, tunggu sampai dia
siuman betul...!" ucap Sena pada Dogol.
Sementara pemuda berpakaian serba putih
itu mulai sadar. Matanya kini sudah mulai terbu-
ka, memandang sekeliling, lalu menoleh ke arah
Dogol yang duduk bersila menungguinya. Dogol
tertawa renyah, sambil mengusap-usap perutnya
yang gendut. Pemuda itu segera bangun, perlahan.
Merasa heran....
"He he he... tenang, Anak Muda! Kau telah
kuselamatkan he he he...!" kata Dogol mengaku-
aku kalau dia yang menyembuhkan pemuda itu.
Dengan menepuk dadanya.
"Ooo... kau...?" tanya pemuda itu masih ke-
lihatan lemas.
"Ya, aku... tenang, Anak Muda. Jangan gu-
sar atau takut! Tak ada orang yang akan menyaki-
timu lagi. Kalau saja ada akan kupelintir batang
lehernya. He he he...!" ucap Dogol meyakinkan.
Sambil menepuk-nepuk kembali dadanya lebih ke-
ras, hingga akhirnya dia terbatuk-batuk.
Pemuda yang baru sadar itu mengerutkan
kening, seperti kurang percaya dengan ucapan Do-
gol.
"Tapi... di mana aku saat ini. Tempat apa
ini, Sobat?" tanya si pemuda berpakaian putih in-
gin tahu, sambil menyapu sekeliling tempat yang
sunyi itu.
"Hah?!" terkejut Dogol ditanya begitu karena
dia tak tahu dan bodoh, membuat dia gelagapan.
"Oh, ini tempat orang-orang sakti seperti aku. Tak
ada orang lain yang berani memasuki tempat se-
seram ini...," jawab Dogol terus berbohong. Me-
nyombongkan diri. Dan sebentar-sebentar dia
memperagakan tangannya dengan jurus-jurus si-
lat. Hingga membuat pemuda itu mengerutkan
kening, sedikit mempercayai ucapan Dogol. Sebab
gerakan tangan Dogol seperti memang gerakan ju-
rus-jurus aneh dan menarik.
"Wah, Sobat tentunya memiliki ilmu olah
kanuragan yang hebat. Terima kasih atas perto-
longanmu terhadap diriku...," ucap pemuda itu
ramah.
Mendengar pujian dari pemuda yang masih
menggenggam tombak berkepala naga itu, Dogol
kini berdiri memperagakan jurus-jurus yang per-
nah dilihatnya dari Sena.
Pada saat itu muncul Sena membawa rem-
pah-rempah dan dedaunan untuk obat. Dogol se-
ketika menghentikan gerakan silatnya yang asal-
asalan itu. Lalu cepat membalikkan badan, malu.
Pemuda itu pun terkejut begitu melihat Sena yang
tiba-tiba muncul.
"Rupanya kau sudah mulai bertenaga, So-
bat...," kata Sena sambil berjongkok menaruh
rempah-rempah.
"Oh, siapakah kau...?" tanya pemuda itu
dengan wajah keheranan. Dan sesekali melihat ke
arah Dogol yang tak berani melihat mukanya.
Bahkan si Gendut membalikkan badan membela-
kangi mereka. Pemuda itu mulai mengerti kalau
penolongnya orang yang tengah membuat api, gu-
na menggodok dedaunan sebagai obat. Pemuda itu
tersenyum-senyum.
"Sobat, kau belum menjawab pertanyaanku,
siapakah kau. Kenapa menolongku...? Kukira aku
tadi sudah di neraka," kata pemuda itu dengan
suara serak, dan masih belum kuat betul tubuh-
nya. Lalu batuk-batuk.
Sena hanya menoleh sebentar, lalu kembali
sibuk mengaduk-aduk dedaunan yang dimasak di
dalam batok kelapa tua.
"Dogol... Tolong aduk terus dedaunan dalam
batok ini, sampai benar-benar warnanya beru-
bah...!" seru Sena kemudian pada Dogol.
Sena melangkah mendekati pemuda yang
nampak masih lemas. Menatap sejenak, seakan
menyelidiki. Lalu Sena kembali berkata sambil
menggaruk-garuk kepala dan cengar-cengir.
"Untung kau masih bisa bertahan. Orang
lain mungkin sudah mati. Aku yakin kau bukan
orang sembarangan. Lawanmu itu pasti orang
yang sangat tinggi ilmunya...."
Sena sebenarnya sudah mengetahui siapa
pemuda yang ditolongnya. Hanya saja dia tak se-
mudah itu menerima orang yang belum pernah di-
kenal.
"Apakah aku akan pulih seperti sediakala?"
tanya pemuda itu dengan mengerutkan kening,
tampak sedih.
"Ya. Asalkan kau nanti minum obat yang
kubuat itu sampai habis," sahut Sena sambil terus
menggaruk-garuk kepala. "Dan kalau boleh tahu
siapa lawanmu itu. Apa masalahnya hingga kau
bertarung dengannya?" tanyanya kemudian sambil
cengengesan. Dan seperti biasanya Sena berting-
kah seperti orang gila.
Pemuda itu mengerutkan kening, tengah
berusaha mengingat sesuatu. Dengan memegangi
kening dia terus memandangi tingkah Sena yang
baginya aneh.
"Oh, ya... Kakek Wibisana pernah berpesan,
aku harus menemui seorang pendekar.... Ya, pen-
dekar yang bertingkah aneh seperti orang gila.
Dengan julukan Pendekar Gila.... Apakah dia ini
orangnya...?" tanya pemuda itu dalam hati, sambil
masih menahan perih di dalam dadanya. Lalu ke-
tika dia akan menanyakan pada Sena yang sudah
mengangkat batok berisi obat dari dedaunan, tiba-
tiba tubuhnya roboh.
"Hah?!" Dogol kaget dan segera menghampi-
ri pemuda itu. "Aden... orang ini pingsan!"
"Ya, hanya sebentar. Angkat kepalanya! Aku
akan meminumkan ramuan ini segera. Agar cepat
pulih...."
Lalu Sena berjongkok meminumkan obat
ramuan itu sampai habis. Kemudian Dogol kemba-
li merebahkan kepala pemuda itu ke pangkuan-
nya.
"Apakah dia akan pulih kembali, Aden...?"
tanya Dogol yang ikut iba melihat keadaan pemu-
da itu.
Sena hanya menganggukkan kepala. Lalu
mengambil tombak yang terlepas dari genggaman
tangan kanan pemiliknya. Ujung tombak masih
terbungkus kain hitam. Setelah meniliti tombak
itu, sejenak Sena menoleh ke arah pemuda yang
masih belum sadar di pangkuan Dogol. Lalu kem-
bali melihat tombak dan tersenyum-senyum sam-
bil menggaruk-garuk kepala.
"Apakah orang ini musuh kita, Aden...?"
tanya Dogol yang selalu ingin tahu.
"Dia ternyata orang yang kita cari. Seperti
pesan Ki Rasakgumilar, kakeknya Sekar Melati.
Kasihan... aku sudah duga sebelumnya," tutur Se-
na pada Dogol.
Sementara pemuda itu mulai dapat mem-
buka matanya. Wajahnya nampak lebih sehat, tak
sepucat tadi. Matanya langsung membelalak, keti-
ka melihat Sena sedang menimang-nimang tombak
pusakanya. Dia segera bangun dari tidurnya dan
mendekati Sena.
"Jaga tombak ini baik-baik! Kau akan cela-
ka jika jatuh di tangan orang lain," kata Sena sebe-
lum pemuda itu coba menegurnya.
"Oh... terima kasih. Tapi bolehkah aku se-
kali lagi bertanya?"
"Apa yang ingin kau tanyakan...?" Sena ba-
lik bertanya dengan ramah.
"Apakah kau yang bernama Sena... hm...,"
berpikir sejenak pemuda itu. "Sena Manggala atau
Pendekar Gila itu?" lanjutnya penuh semangat
Dogol ingin membenarkan sambil berdiri,
namun cepat Sena memelototinya. Hingga Dogol
kembali bungkam. Dia hanya bisa cengar-cengir
serta mengusap-usap perutnya yang buncit.
"Kalau toh benar, aku orangnya, ada masa-
lah apa...?" tanya Sena menyelidik. Lalu mengga-
ruk-garuk kepala.
"Oh, sungguh beruntung aku dapat berte-
mu dengan Tuan Pendekar," kata pemuda itu lalu
menganggukkan kepala memberi hormat pada Se-
na.
"Eee... jangan kau berbuat macam itu. Aku
bukan gurumu atau raja. Aku hanya orang biasa
seperti dirimu...," kata Sena sambil mencegah pe-
muda itu membungkuk, menjura padanya, "Kalau
kau mau bersahabat denganku, jangan berbuat
seperti itu! Aku tak mau,"
"Oh, sungguh kau seorang pendekar sejati.
Ini sebuah pelajaran bagiku. Benar kata Kakek
dan guruku, bahwa kau adalah pendekar yang
disegani lawan ataupun kawan dan berilmu tinggi.
Maafkan aku! Namaku Pasopati. Cucu Ki Wibisa-
na..." tutur Pasopati memperkenalkan diri.
Sena malah tertawa-tawa dan menggaruk-
garuk kepala. Lalu manggut-manggut
"Jadi, kau yang bernama Pasopati, murid
dari cucu Ki Wibisana? Apakah tombak itu yang
disebut Tombak Baruklinting...?" tanya Sena pada
Pasopati.
"Ya, benar. Kakekku bilang, bahwa aku
akan bisa membunuh Sugrikala si Manusia Silu-
man Serigala itu, jika aku bertemu denganmu. Ka-
rena hanya kaulah yang dapat membunuh Sugri-
kala, yang telah membunuh ayahku...," tutur Pa-
sopati penuh semangat "Dan tombakku ini akan
lebih ampuh jika dipadukan dengan Suling Naga
Saktimu.... Untuk melawan Serikat Serigala Me-
rah. Menurut kakekku, Sugrikala ketua kelompok
sesat itu...."
Sena mengerutkan kening, dan melirik seje-
nak pada Suling Naga Sakti-nya yang terselip di
pinggang.
Sesaat keduanya berdiam diri. Sena meng-
garuk-garuk kepala dan cengengesan. Dogol me-
mandangi kedua pemuda di depannya sambil
mengusap-usap perut dan melongo menantikan
apa yang akan dilakukan atau ucapkan keduanya.
"Bagaimana kau bisa begitu cepat bertemu
dengan Sugrikala si Manusia Siluman Serigala
itu...?" tanya Sena membuka percakapan lagi.
"Aku pun tak menduga dan tak mengerti.
Bagaimana dia bisa mengetahui kalau aku sedang
mencarinya, untuk membalas dendam? Apakah
Kakang Sena tahu...?" tanya Pasopati setelah men-
jawab pertanyaan Sena.
"Aku pun heran, bagaimana dia bisa menge-
tahui. Tapi tak heran, karena dia memiliki Serikat
Serigala Merah yang kebanyakan anggotanya be-
rilmu siluman. Persis setan, roh jahat yang selalu
mengintai kita. Aku yakin dengan ilmu sesatnya
itulah gurunya Sugrikala dapat mengetahui sega-
lanya. Lalu disampaikan kepada Sugrikala...," tu-
tur Sena.
Pasopati mengangguk-anggukkan kepala.
Membenarkan ucapan Sena. "Lantas, bagaimana
cara untuk melawan dan meringkus manusia si-
luman itu, Kakang Sena...?!" tanya Pasopati.
Sena tak langsung menjawab. Dia hanya
cengar-cengir dan menggaruk-garuk kepala.
"Apakah tujuanmu juga akan ke pertemuan
para tokoh-tokoh persilatan di Candi Borobu-
dur...?" tanya Sena tiba-tiba.
"Hm... sebenarnya tidak. Tapi karena bebe-
rapa hari lalu aku bertemu dua orang bernama
Barja dan Taragalu. Mereka menceritakan, bahwa
di Candi Borobudur akan diadakan pertemuan
pemilihan ketua persilatan. Maka aku ikut dengan
mereka...."
"Lalu ke mana kedua temanmu itu?" tanya
Sena menyelidik.
"Tak tahu, karena waktu itu aku terluka
dan lari dalam pertarungan dengan Sugrikala. Ke-
tika dalam perjalanan.... Mungkin mereka telah
mati, dibunuh Sugrikala," jawab Pasopati dengan
suara lirih. Kemudian menghela napas panjang.
Sena menganggukkan kepala, mengerti.
"Kita tak perlu banyak bicara lagi. Sekarang
semuanya sudah jelas. Sebaiknya kita cepat ting-
galkan tempat ini. Ayo, kita harus cepat menuju
Candi Borobudur...!" ajak Sena, lalu melangkah
pergi, diikuti Pasopati yang berjalan di sisi Sena,
dan Dogol mengikuti mereka di belakang.

7
Dalam perjalanan menuju Candi Borobu-
dur, Sena, Pasopati, dan Dogol mendapat hamba-
tan lagi. Sepuluh orang yang semuanya hanya
memakai cawat dari kulit binatang menghadang di
jalan. Tubuh mereka ditumbuhi bulu-bulu merah.
Kesepuluh lelaki berwajah mirip serigala itu me-
nyeringai dengan sikap menantang.
"Aha, ada badut ingin berkenalan dengan
kita rupanya. Hi hi hi!" kata Sena dengan nada
mengejek, "Pasopati, kita harus cepat menghabisi
permainan kita dengan badut-badut hutan ini."
"Benar Kang Sena. Mari, kita layani mere-
ka!" jawab Pasopati dengan penuh semangat. Dan
segera dia bergerak ke kanan beberapa langkah,
menjauhi Sena.
Pada saat bersamaan, lima orang manusia
aneh bermuka serigala itu mengurung Pasopati.
Dan sisanya mengurung Sena.
"Hi hi hi...! Binatang jejadian ini harus di-
cincang lalu dipanggang!" seru Sena sambil meng-
garuk-garuk kepala.
"Grrr...!"
"Auuung...!"
Serentak kelima manusia bercawat menye-
rang Sena. Dan Pendekar Gila melenting ke udara
mengelak dari terkaman manusia-manusia aneh
itu. Lalu tanpa berlama-lama, Sena dengan cepat
balik menyerang mereka. Dilancarkannya pukulan
dahsyat, ketika kelima manusia-manusia aneh itu
kembali menyerangnya.
"Heaaat...!"
Srats!
Selarik sinar melesat dari kedua pukulan
Pendekar Gila. Dan....
Jglar!
"Aaauuung...!"
Kelima manusia berwajah serigala menge-
rang panjang, dan disusul robohnya tubuh mereka
yang hanya mengenakan cawat. Kelimanya meng-
gelepar-gelepar lalu kejang-kejang. Sesaat kemu-
dian semua diam tak berkutik lagi.
Sena menghela napas lega. Lalu melihat ke
arah Pasopati yang masih menghadapi kelima la-
wannya. Gerakan Pasopati lincah dan cepat dalam
memainkan senjata andalannya. Dan pada saat
yang tepat, Pasopati dapat memukul dua orang se-
kaligus, dengan Tombak Baruklinting. Seketika
kedua lawannya mengerang panjang dan terkapar
tewas. Namun tanpa setahu Pasopati, dari bela-
kang dua orang lawan melompat menerkamnya.
"Awas...!" seru Dogol yang bersembunyi di
balik pohon. Sementara Sena hanya memandangi
sambil cengengesan.
Mendengar itu dengan gerakan secepat ki-
lat, sambil berbalik Pasopati menghantamkan
tombaknya ke arah lawan yang ingin membokong
dari belakang. Dan seketika kedua manusia ber-
wajah serigala ambruk dan mati.
"Grrr...!"
Seorang lagi yang bertubuh paling besar
menggereng marah. Dengan buas dia menyerang
Pasopati. Pemuda yang memegang Tombak Baruk-
linting itu segera mengelak dengan melenting ke
udara. Ketika mendarat, manusia bercawat itu
kembali menyerangnya dengan lompatan seekor
serigala menerkam mangsa. Namun Pasopati su-
dah menduga sehingga dengan gerakan cepat di-
papaknya terkaman lawan. Ditusukkan tombak-
nya, tepat di leher manusia bermuka serigala.
Jrap!
"Aaauuung...!"
"Heaaa...!"
Pasopati mengangkat tombaknya yang ma-
sih menancap di leher lawan, lalu melemparkan-
nya jauh-jauh.
Wesss!
Tubuh manusia serigala itu melayang dan
terbanting keras di bebatuan. Tubuhnya hancur
berlumuran darah.
Pasopati menghela napas lega. Lalu menu-
tup ujung tombak berkepala naga dengan kain hi-
tam.
Dogol yang sejak tadi bersembunyi dan ge-
metaran, melangkah keluar mendekati Pasopati.
Lalu mengacungkan jempolnya.
"Edan! Hebat tombak pusakamu itu.... He
he he...! Memang manusia jahat itu harus diban-
tai! Ciat, ciat...!" seru Dogol, lalu berlagak dengan
jurus-jurus asal-asalannya.
Pendekar Gila tertawa-tawa dan mengga-
ruk-garuk kepala sambil menghampiri Pasopati
dan Dogol.
"Rupanya masih banyak lagi rintangan yang
harus kita hadapi," kata Sena setelah dekat mere-
ka.
Selesai berkata begitu, Sena kemudian se-
cara tiba-tiba menghentakkan kedua tangannya ke
satu arah.
"Heaaa...!"
Wut! Wut!
Serangkum angin bagai topan menderu
kencang. Itulah ajian 'Inti Bayu'. Yang mampu me-
nerbangkan batu sebesar gajah. Dan seketika dari
balik semak berterbangan tiga orang terangkat
oleh angin yang dilancarkan Pendekar Gila tadi.
"Wuaaa...!"
Pasopati dan Dogol membelalakkan mata,
merasa kagum bercampur kaget. Sebab Sena yang
tadi nampak cengengesan, tiba-tiba membuat ke-
jutan.
Tubuh ketiga orang berpakaian serba merah
darah melayang-layang di udara. Dan begitu akan
jatuh ke tanah. Kembali Pendekar Gila menghan-
tarkan pukulan dahsyat ke arah mereka.
"Heaaa...!"
Glar!
"Aaawww...!"
Seketika ketiga orang berpakaian serba me-
rah menjerit. Lalu tampak mulut mereka memun-
tahkan darah kental.
Ternyata mereka Tiga Kembar Bermuka Se-
rigala yang pernah bentrok dengan Pendekar Gila.
Ketika Pendekar Gila ingin menyelamatkan Sekar
Melati.
"Hah?!" Dogol kaget. "Mereka antek-antek
kelompok Serikat Serigala Merah...!" serunya, keti-
ka mengenali wajah-wajah mereka. Pasopati men-
gerutkan kening. Pendekar Gila hanya menggaruk-
garuk kepala. Pasopati mendekati ketiga mayat itu.
Diamatinya mereka sejenak.
"Hei.... Mereka juga pernah bertemuku, se-
belum aku bertemu dengan Sugrikala...," kata Pa-
sopati setelah mengamati mayat Tiga Kembar
Bermuka Serigala.
"Aneh, kenapa begitu mudah ketiganya ma-
ti. Padahal, yang kuketahui dan melihat dengan
mata kepala sendiri, Tiga Kembar Bermuka Seriga-
la sangat tangguh. Jago-jago dari hampir semua
penjuru yang datang ke Desa Progo tewas di tan-
gan mereka...," tutur Dogol sambil terheran-heran.
Lalu memandang ke arah Sena.
"Hi hi hi...!" Sena tertawa-tawa. "Dogol, uca-
panmu memang benar. Dan kalau memang benar,
tentunya aku pun tak semudah itu dapat melum-
puhkan mereka. Sekarang kau dekati dan buka
kedok mereka!" kata Sena kemudian.
"Hah?!" Dogol kembali kaget. Kali ini bukan
karena takut, melainkan merasa aneh. Dan tak
menduga kalau ketiga orang yang terkapar di ha-
dapannya itu palsu! Maka segera Dogol mendekati
dan dengan agak ragu dan takut, Dogol lalu mem-
buka kedok ketiga orang itu.
Benar. Ternyata mereka hanyalah peram-
pok-perampok kroco yang memanfaatkan situasi.
"Apakah kesepuluh penyerang tadi juga pal-
su, Kang Sena...?" tanya Pasopati ingin tahu.
"Tidak, mereka asli. Coba kau periksa. Ka-
lau kau merasa ragu!" jawab Sena. Lalu kembali
cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Pasopati yang ingin memastikan semuanya.
Segera melangkah memeriksa kesepuluh lawannya
tadi. Dan ternyata mereka asli: Manusia serigala!
Pasopati nampak mengerti dan puas.... Be-
gitu juga Dogol.

***

Sementara itu Sugrikala dan kelompoknya


sedang berunding untuk menangkap dan mele-
nyapkan Pasopati. Nampak para tokoh aliran sesat
berkumpul di rumah tua dalam hutan. Mereka
duduk bersila membuat lingkaran mengitari Su-
grikala sebagai ketua.
"Aku inginkan pemuda itu...! Hidup atau
mati. Kalian harus dapat menemukannya, sebelum
hari pertemuan pemilihan ketua di Candi Borobu-
dur. Kalau tidak, celaka! Pemuda itu bisa meng-
hancurkan rencana kita...!" kata Sugrikala penuh
nafsu amarah. Tangannya menggebrak melayang
ada di depannya. Seketika meja itu pecah. Yang
lain hanya diam tak bersuara.
"Kalian harus sadar. Wajahku kini tak bisa
lagi berubah seperti sediakala. Karena tombak sak-
ti itu sempat melukaiku! Jadi kalian harus dapat
merebut tombak pemuda itu. Agar wajahku dapat
berubah kembali seperti semula. Hhh.... Aku ha-
rus berhasil membunuh pemuda itu dengan tom-
baknya sendiri, lalu menghisap darahnya. Itulah
satu-satunya cara...!" tutur Sugrikala lagi dengan
suara lantang.
Sesaat suasana hening dan tegang. Hanya
suara angin malam yang mendesir kencang meng-
hembuskan hawa dingin. Hingga menambah se-
ramnya tempat itu.
"Sebaiknya, kau meminta bantuan Guru
Besar kita. Agar semuanya berjalan-lancar. Karena
dia serba tahu," terdengar suara dari salah seorang
anggota Serikat Serigala Merah, mengusulkan pa-
da Sugrikala.
"Tidak! Aku tidak ingin lagi meminta ban-
tuan si Tua Bangka itu! Biar semuanya aku hadapi
sendiri. Aku hanya minta bantuan pada kalian.
Apakah kalian keberatan... ?!" terdengar suara Su-
grikala keras.
"Tidak... tidak!" jawab semua yang ada di si-
tu.
Sugrikala nampak melotot garang, menatapi
semua anggotanya. Lalu menghela napas dalam-
dalam.
"Bagaimana kalau kita biarkan saja pemuda
itu sampai pertemuan pemilihan ketua nanti...?"
usul salah seorang yang berpakaian kulit buaya.
Berjanggut panjang, matanya seperti mata buaya.
"Kau bicara tidak pakai otak, Setabaya! Itu
sama saja mencelakakanku...! Bodoh!" bentak Su-
grikah, "Apakah kau tidak dengar kataku tadi?
Wajahku saat ini aneh! Bagaimana nanti mereka
bisa mendukungku! Kalau tahu akulah pimpinan
Serikat Serigala Merah, yang selalu membuat onar
dan memeras rakyat. Serta pemilik rumah-rumah
maksiat!" kata Sugrikala dengan marah.
Kembali suasana hening. Tak ada lagi yang
berbicara. Sepertinya mereka sedang mencari jalan
dan siasat.
Sementara di luar langit semakin gelap. Dan
malam semakin larut. Bulan pun mulai tertutup
awan. Hingga sinarnya tak lagi dapat menerangi
bumi. Malam semakin mencekam. Sunyi dan se-
pi....

***

Malam telah berganti dengan pagi. Cuaca


nampak tak begitu cerah. Sang Surya tertutupi
awan hitam. Mendung. Angin bertiup sangat ken-
cang.
Tiga orang lelaki, salah seorang berbadan
gendut. Menelusuri jalanan berbatu, di dekat se-
buah hutan. Tak ada sepatah kata pun dari mere-
ka. Hanya terlihat lelaki bertubuh gendut seperti
mendapat kesulitan, ketika harus melompati teb-
ing. Terpaksa kedua pemuda gagah yang bersa-
manya, membantu dengan mengangkat tubuh be-
sar dan gendut itu.
"Wah, kalau begini terus, kita akan mema-
kan waktu...," kata pemuda berpakaian kulit ular.
"Lantas bagaimana, Kang Sena?" tanya Pa-
sopati pada Sena.
Sena melirik ke arah Dogol yang ngos-
ngosan kecapean. Dia terduduk di tanah berbatu.
"Sebaiknya kita sama-sama menggotongnya.
Ayo...!" usul Sena kemudian.
Segera Sena berada di sebelah kanan Dogol,
Pasopati di sebelah kiri. Kedua tangan Dogol me-
rangkul Sena dan Pasopati. Lalu dengan menggu-
nakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh,
Sena dan Pasopati berlari cepat sambil memanggul
tubuh Dogol. Sepertinya kedua pemuda itu tak
mendapatkan kesulitan. Atau merasa berat. Kedu-
anya seperti membawa anak kecil saja. Dengan il-
mu lari 'Sapta Bayu' Sena bersama Pasopati me-
lompat dan berlari menelusuri jalanan yang ber-
macam-macam keadaannya.
Tak lama mereka sudah berada di puncak
sebuah bukit. Di tempat itu mereka bisa meman-
dang jelas dataran yang maha luas. Di kejauhan
Candi Borobudur nampak berdiri dikitari lembah
hijau yang permai.
Sena dan Pasopati menurunkan Dogol. Le-
laki muda berbadan gendut itu menghela napas
panjang. Lalu mengusap-usap perutnya yang bun-
cit. Mulutnya melongo, memandang ke bawah.
"Hi hi hi... ngeri...!" gumam Dogol, ketika
melihat ke bawah. Sambil bergidik.
Sena dan Pasopati hanya tersenyum melihat
Dogol.
"Kau seharusnya aku lempar ke bawah sa-
na," ujar Sena menggoda Dogol, seraya mau men-
dorong tubuh Dogol.
"Waduuuh...! Ampun, Den! Jangan..., saya
masih mau hidup! Belum kawin kok mau disuruh
mati. He he he...," jawab Dogol berseloroh.
Pasopati tertawa-tawa kecil mendengar uca-
pan Dogol yang polos dan lucu itu.
Mereka memang sedikit terhibur dengan
adanya si Gendut itu. Terutama Pasopati. Dia me-
rasa sangat gembira dapat berkenalan dengan Do-
gol dan Sena.
"Nampaknya keadaan di bawah aman dan
tenteram. Heh.... Tapi aku lebih senang di sini se-
bentar. Sambil beristirahat...," kata Sena tiba-tiba
sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aku pun sependapat, Kang Sena. Kita coba
mengatur siasat. Bagaimana caranya, agar kita ti-
dak selalu dibuntuti orang-orang mereka," tutur
Pasopati.
"Ya. Kau benar," sahut Sena sambil meme-
gang pundak Pasopati. Lalu kembali menggaruk-
garuk kepala.
Sementara itu Dogol, sudah mencari tempat
untuk istirahat. Di tempat yang teduh, dia me-
nyandarkan kepala dan tubuhnya pada batu besar
yang ada di bawah pohon rindang. Tak jauh dari
Sena dan Pasopati.
Tak berapa lama kemudian Dogol sudah
mendengkur, tertidur karena lelah. Seperti bi-
asanya orang berbadan gendut seperti Dogol paling
mudah tidur, di mana saja.
Sena dan Pasopati masih berunding. Kedu-
anya membicarakan rencana mereka dengan se-
rius. Namun Sena tetap sesekali cengengesan,
menggaruk-garuk kepala, dan bertingkah persis
orang sinting. Tapi Pasopati nampak senang dan
mengerti.
"Jalan satu-satunya untuk menghindari
mereka, hanya itulah cara kita. Apakah kau setu-
ju?" tanya Sena.
"Setuju sekali.... Tapi bagaimana dengan si
Dogol sahabat kita itu?" tanya Pasopati sambil
menoleh ke arah Dogol yang sudah lelap tidur dan
ngorok.
"Ah, gampang. Dia bisa dipercaya dan jujur.
Nanti kita atur...," jawab Sena sambil menggaruk-
garuk kepala.
Pasopati nampak lega, lalu keduanya berja-
bat tangan erat, menandakan bahwa mereka saling
percaya dan bersatu.
8
Sena Manggala atau Pendekar Gila telah
mengatur siasat dengan Pasopati. Sena berpencar
dengan Pasopati dan Dogol. Pasopati ditemani Do-
gol, yang secara diam-diam telah diberi aliran ilmu
silat Pendekar Gila, dengan jurus-jurus tertentu.
Untuk mendampingi Pasopati. Sedangkan Pende-
kar Gila bergerak sendiri, dengan mengambil jalan
pintas. Menggunakan perahu untuk memancing
orang-orang Sugrikala.
Pendekar Gila merasakan, kalau kelompok
Serikat Serigala Merah telah mengerahkan antek-
anteknya, untuk menangkap Pasopati dan dirinya.
Maka Pendekar Gila sengaja tak menggunakan pe-
nyamaran. Hanya Pasopati dan Dogol yang meng-
gunakan penyamaran.
Perahu yang membawa Sena menuju arah
Parangtritis nampak melaju dengan lancar. Tak
ada gangguan. Walaupun ombak mulai besar. Se-
na berdiri tegak di atas perahu yang berukuran
cukup besar itu. Dikemudikan oleh seorang lelaki
berbadan besar, telanjang dada.
Angin bertiup kencang menerpa wajah Sena
yang tampan. Rambutnya yang agak ikal gondrong
sebatas bahu tertiup angin laut yang kencang,
hingga sebagian menutupi wajahnya. Segera Sena
mengibaskan rambut itu. Dengan tingkahnya yang
khas, Sena cengengesan dan menggaruk-garuk
kepala. Matanya menatap tajam ke depan dan se-
luas samudera yang diarunginya.
Manakala perahu yang ditumpanginya telah
dekat dengan pantai Parangtritis, tiba-tiba terlihat
sebuah perahu yang lebih besar dari yang ditum-
pangi Sena, menghadang perahunya.
"Aha, rupanya ada perampok usil! Tapi aku
tahu mereka bukan perampok biasa.... Hi hi hi...!"
gumam Sena dalam hati. Dan terus menggaruk-
garuk kepalanya.
Di dalam perahu besar itu, ada sekitar dua
puluh orang bermuka garang dan bersenjatakan
parang serta tombak. Ada pula yang membawa
panah.
Ketika perahu itu semakin dekat, tiba-tiba
berpuluh-puluh anak panah meluncur ke arah
Pendekar Gila.
Pendekar Gila cepat mengelak ke samping
kiri dan kanan, atau merebahkan tubuhnya ke be-
lakang bahkan melenting ke atas sambil menang-
kis dengan kedua tangannya. Perahu itu semakin
dekat. Pendekar Gila melenting ke udara dan men-
darat di perahu perampok. Dan dengan cepat dia
menghajar mereka dengan tendangan kaki kanan
dan kirinya yang keras dan dahsyat. Mangaki-
batkan sebagian perampok memekik dan berjatu-
han ke laut
Sementara itu perahu yang ditumpangi Se-
na tadi tertubruk perahu besar itu, hingga terbalik.
Pengemudinya tenggelam, berusaha menyela-
matkan diri. Pendekar Gila segera melompat ke
laut menolong pemilik perahu itu.
Dengan gerakan cepat dia membawa pemi-
lik perahu ke darat. Tentu saja menggunakan ilmu
meringankan tubuh yang sangat tinggi dan me-
nakjubkan. Sepertinya tak menghiraukan ombak
yang besar. Tubuhnya melesat bagai terbang di
atas air laut, menuju daratan sambil membopong
pemilik perahu.
Sekejap Sena sudah berada di darat. Sete-
lah merebahkan tubuh pemilik perahu. Pendekar
Gila kembali ke laut, untuk menghajar para pe-
rampok
"Heaaa...!"
Sambil berteriak, Pendekar Gila melompat
ke arah lautan hendak mendarat ke perahu pe-
rampok itu. Namun sewaktu tubuhnya masih di
udara, sebuah tombak meluncur deras. Dan terli-
hat menancap di dada Pendekar Gila. Tubuh Pen-
dekar Gila jatuh ke laut.
"Aaakh...!"
Jbur!
Pimpinan perampok laut itu memeriksa se-
jenak, lalu tertawa-tawa kegirangan. Dirinya yakin
Pendekar Gila mampus ditelan lautan, setelah ter-
tancap tombak.
"Ha ha ha...! Ternyata kita mampu membu-
nuh Pendekar Gila itu! Ha ha ha.... Kalian lihat
sendiri bukan?! Ha ha ha... kini aku jadi pahla-
wan! Dan kita akan mendapat hadiah yang be-
saaarrr...!" pimpinan perampok yang berbadan be-
sar, dengan dada ditumbuhi bulu lebat itu terta-
wa-tawa.
"Ketua memang hebat! Ternyata Pendekar
Gila itu hanya besar nama saja. Ha ha ha...!" sahut
salah seorang anak buahnya.
Semuanya kemudian tertawa-tawa kegiran-
gan serta bersorak-sorai. Lalu pimpinan rampok
itu meminta arak pada anak buahnya. Seorang
anak buahnya memberinya. Langsung dengan ke-
sombongannya dia meneguk arak yang ada dalam
guci berukuran besar itu sampai habis. Lalu ter-
tawa-tawa lagi. Diikuti yang lain.
Namun dalam suasana gembira itu, tiba-
tiba perahu mereka terbalik. Seketika semua men-
jerit minta tolong. Ternyata Pendekar Gila yang
membalikkan perahu besar itu. Rupanya tombak
yang meluncur ke dada tadi dapat ditangkap den-
gan sempurna. Dan Pendekar Gila sengaja berbuat
begitu, agar dapat mengelabui mereka.
Pimpinan perampok berusaha menyela-
matkan diri. Dalam keadaan setengah mabok, tu-
buhnya terlempar ombak. Pendekar Gila segera
menjemputnya, dan menyeret ke darat.
Sementara yang lainnya sudah terbawa om-
bak entah ke mana. Kebanyakan mati tenggelam.
Sekejap Pendekar Gila sudah berada di da-
rat, di pinggir pantai Parangtritis, yang berpasir
itu. Dilemparkannya tubuh pimpinan rampok itu
ke pasir yang panas karena sinar matahari.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menyerang
dan akan membunuhku?!" bentak Pendekar Gila
pada pimpinan rampok yang masih sesak napas-
nya, karena hampir tenggelam ditelan ombak.
"Aku..., akuuu hanya menjalankan perin-
tah...," jawab pimpinan rampok yang sudah lemah
itu dengan suara serak dan tersendat-sendat.
"Siapa yang memerintahmu? Jawab...!" ben-
tak Sena lagi, sambil mengangkat kepala orang itu.
"Aku... aku tidak mengenalnya... seseorang
yang membayarku. Ukh...! Huk, huk...!" jawab ke-
pala rampok lagi lalu batuk-batuk.
Sena memeriksa celana orang itu, dan tan-
pa sengaja dia menemukan suatu tanda di dalam
ikat pinggang kepala rampok itu. Suatu lambang
dari Serikat Serigala Merah. Sena menarik napas
panjang dan kemudian menggaruk-garuk kepala.
"Sudah kuduga. Mereka orang-orang Sugri-
kala. Aku harus cepat menemui Pasopati, agar dia
lebih hati-hati...," gumam Sena dalam hati.
Baru saja Sena hendak meninggalkan tem-
pat itu, tiba-tiba...
Zing! Zing! Zing!
Tiga golok kecil yang memancarkan sinar,
melesat ke arah Pendekar Gila. Bagai anak panah,
menyerang kepala, dada, dan kaki Pendekar Gila!
Datangnya begitu tiba-tiba dan cepat. Hanya seo-
rang berilmu tinggi yang dapat menyelamatkan diri
dari serangan seperti ini. Pendekar Gila dengan
cepat berkelit ke kiri sambil berjumpalitan.
Datang lagi golok-golok yang lain, namun
dengan gesitnya Pendekar Gila dapat mengelakkan
semuanya. Kemudian meluncur pula golok yang
arahnya tak lurus. Golok itu melesat dengan
membuat lingkaran panjang! Itulah 'Golok Ter-
bang'. Namun Pendekar Gila yang memiliki kepan-
daian ilmu silat tingkat tinggi, dapat mengelak-
kannya. Dan bahkan dengan ujung jarinya me-
nyentil golok yang menyambar. Akibatnya golok-
golok itu kembali ke pemiliknya.
Zing! Zing! Zing!
Wut! Wut!
"Hah?!" pemilik golok-golok terbang itu ter-
sentak kaget. Dengan membelalak melompat
menghindar.
Jlep! Jlep! Jlep!
Golok-golok itu menancap di pohon dan be-
batuan. Begitu hebatnya kekuatan golok itu, batu
besar pun dapat tembus. Bagaimana kalau tubuh
manusia.
Orang yang memiliki golok itu menghenti-
kan serangannya. Pendekar Gila dengan tenang
menghadapi orang-orang yang mencelakakan di-
rinya. Mulutnya cengengesan dan menggaruk-
garuk kepala serta bertingkah seperti orang gila.
Berjingkrak-jingkrak sambil menepuk-nepuk pan-
tatnya.
"Hi hi hi... Lucu! Pengecut...! Kau tentu an-
tek-antek Serikat Serigala Merah. Mau apa
kau...?!" bentak Sena pada orang-orang yang ma-
sih menatap tajam tak berkedip kepadanya. Ma-
tanya bagai elang. Dengan pakaian berlengan pan-
jang warna biru tua bagian luar. Sedangkan pa-
kaian bagian dalam, warna hitam dan berikat
pinggang merah. Terselip beberapa golok kecil di
pinggangnya. Wajahnya tak garang, cukup tam-
pan. Hanya hidungnya yang mirip paruh betet itu
membuatnya kelihatan sedikit bengis.
"Ha ha ha...! Rupanya aku kini berhadapan
dengan pendekar yang kesohor di rimba persilatan.
Sudah lama aku menginginkan dapat bertemu,
dan bertarung denganmu Pendekar Gila!" ucap
orang berbaju biru dengan pengikat rambutnya
yang panjang melewati bahu.
"Hi hi hi...! Bagus kalau kau sudah menge-
nalku! Apa kau masih penasaran denganku...?!"
ujar Sena dengan santai sambil menggaruk-garuk
kepala.
"Aku memang penasaran denganmu. Sela-
ma ini tak ada seorang pun yang bisa mengelak
dari golok-golok terbangku. Apalagi untuk berkelit
dari dua atau tiga batang tombak terbangku. Tapi
kau cukup hebat, Anak Muda! Tapi kali ini kau tak
akan dapat lolos dari Setan Golok Terbang!
Heaaat...!"
Selesai berkata begitu, orang yang berjuluk
Setan Golok Terbang itu melancarkan serangan.
Sekaligus dia melemparkan lima batang golok ter-
bangnya ke arah Pendekar Gila.
Zing! Zing! Zing...!
"Heit...!"
Pendekar Gila kali ini nampak agak kewala-
han. Namun dia terus berkelit. Dan dua golok la-
wan dapat ditangkap dengan dua jari menjepit.
Sambil bersalto di udara. Tiga golok lainnya ham-
pir saja merobek pinggang Pendekar Gila, kalau
saja dia terlambat sekejap saja. Dan Pendekar Gila
yang sudah mulai tak bisa lama-lama lagi dengan
permainan itu segera melemparkan golok-golok
yang dapat ditangkapnya tadi.
"Heaaa...!"
Zing! Zing! Zing!
"Hah...?!" Setan Golok Terbang terbelalak
kaget, melihat golok-golok miliknya meluncur ce-
pat ke arahnya. Dengan cepat dia mencoba menge-
lak sambil mengibaskan tangannya dan melompat
ke samping. Namun Pendekar Gila yang melihat
itu, cepat melompat melancarkan serangan dengan
tendangan mautnya.
Bug! Bug! Bug!
"Aaa...!"
Setan Golok Terbang memekik panjang. Da-
danya terasa sesak karena tendangan maut Pen-
dekar Gila. Tubuhnya terhuyung-huyung ke bela-
kang. Dan memuntahkan darah segar dari mulut-
nya.
Pendekar Gila mengamati dengan cengar-
cengir lawannya yang kesakitan. Namun Setan Go-
lok Terbang tak mau begitu saja mengalah. Den-
gan gerakan cepat, tangannya kembali melempar-
kan dua golok terakhirnya ke arah Pendekar Gila.
"Heaaa...!"
Zing! Zing!
Pendekar Gila berkelit ke kiri sambil tangan
kanannya menangkap sebilah golok. Setan Golok
Terbang melompat, bermaksud menghajar Pende-
kar Gila dengan tendangan. Namun ketika Setan
Golok Terbang masih di udara, Pendekar Gila telah
melemparkan golok yang dapat dijepit dengan ke-
dua jarinya tadi. Golok itu pun menancap di leher
lawannya. Seketika lelaki tampan berpakaian biru
itu menjerit. Kemudian tubuhnya terbanting ke
pasir.
Bruk!
Setan Golok Terbang seketika tewas. Golok
masih menancap di batang lehernya. Pendekar Gi-
la menghela napas panjang. Nampak puas, melihat
lawannya terkapar tak bernyawa lagi.
"Aku terpaksa membunuhmu. Karena kau
akan membunuhku...," kata Sena sambil mengga-
ruk-garuk kepala.
Satu orang lagi dari kelompok Serikat Seri-
gala Merah telah mati di tangan Pendekar Gila. En-
tah masih berapa lagi yang harus dihadapi Pende-
kar Gila maupun Pasopati.
Sena kemudian melesat meninggalkan pan-
tai Parangtritis. Meninggalkan mayat Setan Golok
Terbang. Sebenarnya Sena lebih jauh jika melalui
laut. Namun itu dia lakukan agar sebagian orang-
orang Sugrikala tidak ikut serta membuntuti Pa-
sopati, jika penyamaran Pasopati dan Dogol dike-
tahui oleh mereka. Itu akan sangat berbahaya, ka-
rena anggota Serikat Serigala Merah, memiliki ilmu
yang rata-rata cukup tinggi.

***

Sementara itu Pasopati dan Dogol sudah be-


rada di daerah perbatasan kekuasaan Serikat Seri-
gala Merah. Pasopati sengaja berkunjung ke Desa
Muntilan yang letaknya tak begitu jauh dari Candi
Borobudur. Maksudnya menyelidiki, dan menung-
gu Sena. Seperti yang telah direncanakan.
Dengan menyamar sebagai penduduk desa,
Pasopati membawa sebuah karung, dipanggul. Se-
dangkan Dogol berdandan sebagai seorang wanita
yang sedang hamil besar. Istri Pasopati. Dogol
memakai kerudung. Dituntun Pasopati yang wa-
jahnya tertutup dengan caping lebar sudah kotor
dan sebagian rusak anyamannya, serta memakai
kumis palsu yang tebal.
Keduanya berjalan pelan di dekat sebuah
kedai. Lalu berhenti sejenak, pura-pura bertanya
pada warga desa itu.
"Pak, di mana rumah dukun beranak...?"
tanya Pasopati pada seorang lelaki setengah baya
yang baru keluar dari kedai minum.
"Wah..., jauh. Di sana, di balik bukit sa-
na...," jawab lelaki itu sambil menunjuk ke arah
bukit yang ada di sebelah selatan desa itu.
"Terima kasih, Pak...," kata Pasopati sambil
merunduk, "Oh, ya..., Pak. Pak, tunggu! Kalau ru-
mah besar itu, apakah rumah lurah...?" tanya Pa-
sopati lagi, sambil menunjuk ke arah rumah yang
di pintu masuk banyak lelaki dan wanita sedang
berdiri dan bercanda. Lalu ada dua orang berba-
dan besar berjaga-jaga dengan golok di pinggang.
"Ooo... itu. He he he...!" lelaki itu malah ter-
tawa, sambil menutup mulutnya.
"Kenapa, Pak. Kok tertawa? Ada apa...?"
tanya Pasopati berlagak heran.
Pada saat itu Dogol yang menyamar sebagai
wanita hamil, kakinya digigit semut rangrang.
"Waduhhh...!" Dogol terpaksa memekik den-
gan suara aslinya. Kontan saja lelaki setengah
baya itu kaget. Dan mencari-cari suara teriakan
seorang lelaki. Namun tak melihat siapa-siapa,
yang ada hanya dia, Pasopati, dan Dogol. Lelaki se-
tengah baya itu jadi heran.
Sebelum lelaki itu curiga, cepat Pasopati
memeluk Dogol sambil mengaduh.
"Aduuuh...!" teriak Pasopati.
"Kenapa, Sobat...?" tanya lelaki tua itu he-
ran.
"Kaki saya tiba-tiba terasa sakit, Pak...," ja-
wab Pasopati.
"Ooo.... Tapi tadi suara siapa, ya...?" tanya
lelaki itu masih heran.
"Mungkin lelaki itu, Pak...," jawab Pasopati
seraya menunjuk ke arah seorang lelaki tua, tak
jauh dari tempat mereka. Lelaki itu sedang dipijit
tengkuknya oleh seorang wanita, karena muntah-
muntah. Mungkin kebanyakan minum arak.
"Ooo... ya. Dia itu tukang mabok. Pasti si
Sikrok itu kebanyakan minum. Biar modar...," ka-
ta lelaki itu sambil memandangi Sikrok yang masih
dipijit wanita kedai yang menjadi gundiknya.
Sesaat mereka diam, hanya tertawa-tawa.
Lalu Pasopati kembali menanyakan rumah besar
di seberang jalan itu.
"Pak, jangan pergi dulu! Apakah itu rumah
lurah...?"
"Oh, ya aku lupa kasih tahu tadi. Itu rumah
wanita penghibur. Apakah kau mau masuk ke sa-
na?" tanya lelaki itu sambil senyum-senyum.
"Heh... istrimu sedang hamil tua begini, masa' mau
main-main sama wanita nakal... kasihan dia! He
he he...!"
Dogol yang kesal, tiba-tiba menendang kaki
lelaki itu.
Bug!
"Waduuuh...!" teriak lelaki setengah baya itu
kesakitan.
"Ada apa, Pak?!" tanya Pasopati.
"Kakiku... aduh...!" lalu lelaki itu dengan
terpincang-pincang pergi, sambil celingukan. Me-
rasa heran, dan bertanya dalam hati, siapa yang
menendang kakinya sekeras itu.
Dogol tertawa-tawa sendiri di balik keru-
dungnya. Pasopati tahu kalau itu perbuatan Dogol.
"Jangan ceroboh! Kalau nanti orang Serikat
Serigala Merah tahu kita bisa tertangkap. Ayo, kita
jalan...!" kata Pasopati berbisik.
Keduanya kembali berjalan perlahan. Mata
Pasopati dengan liar mengamati keadaan desa dari
balik capingnya.
Ketika keduanya sampai dekat ujung desa,
tiba-tiba dari arah depan muncul serombongan
orang-orang berkuda memasuki desa. Orang pal-
ing depan memakai kedok. Yang lainnya bermuka
garang. Memacu kuda mereka dengan kencang.
Pasopati dan Dogol hampir saja kena terjang kuda-
kuda mereka.
"Hah?! Sugrikala...?!" gumam Pasopati sam-
bil menghindar. Dia sempat mengenali pakaian
orang yang berkedok itu.
Karena dorongan kuat dari Pasopati tadi,
tubuh Dogol terhuyung, dan terjatuh. Kerudung-
nya terlepas. Hingga nampak jelas wajah lelakinya.
Namun dengan cepat Dogol mengambil kerudung
itu, dan memakainya lagi sambil merangkak.
"Sebal! Oh, nasib...! Mau jadi pendekar kok
susah banget. Akhirnya aku jadi wanita-
wanitaan..., gombal!" gerutu Dogol tak tahan me-
nahan kesal.
Dogol terus merangkak sambil memegangi
perutnya.
Pasopati masih berdiri, menatap serombon-
gan orang berkuda tadi.
"Rasanya aku sudah tak tahan untuk me-
nuntut balas.... Tapi aku harus menunggu Pende-
kar Gila. Aku tak akan ceroboh kali ini...," gumam
Pasopati dengan menahan geram.
Dogol, bersandar di dinding sebuah rumah
bilik. Pasopati menghampirinya.
"Ayo cepat kita meninggalkan tempat ini! Ki-
ta harus segera menemui Pendekar Gila...," kata
Pasopati, seraya menyeret Dogol.

9
Di sebuah bukit, tak jauh dari Candi Boro-
budur, nampak tiga orang sedang berdiri menatap
ke bawah. Seorang di antaranya berbadan gendut.
"Apa yang kau dapat dari penyamaranmu,
Pasopati?" tanya Sena.
"Tak banyak. Hanya saja, aku merasa agak
lega, tahu bahwa Sugrikala memang pimpinan Se-
rikat Serigala Merah. Dia pula yang memiliki ru-
mah-rumah maksiat dan perjudian. Hampir di se-
mua pelosok desa yang dianggapnya cocok untuk
mengeruk uang...," jawab Pasopati.
"Bagus, itu bisa kau beberkan dalam perte-
muan nanti. Kalau semuanya berjalan lancar. In-
gat, kita belum selesai sampai di sini. Kalian tetap
dalam penyamaran. Kita harus mendahului mere-
ka sampai di pertemuan itu...!" kata Sena kemu-
dian.
"Lantas apa langkah kita selanjutnya Kang
Sena...?" tanya Pasopati. "Aku sudah tak sabar lagi
ingin menuntut balas, atas kematian ayahku...."
Sena menepuk-nepuk bahu Pasopati, lalu
berkata, "Kau akan mendapat kesempatan itu. Ta-
pi ingat, jangan terlalu bernafsu. Nanti kau akan
celaka sendiri. Sugrikala sangat licik dan berilmu
tinggi. Aku tetap membantumu...."
"Terima kasih, Kang Sena...."
Sejenak Sena berpikir, sambil memegangi
kening, lalu menggaruk-garuk kepala.
"Bagaimana kalau nanti malam kita serang
mereka...?" tanya Pasopati membuka suara.
"Jangan! Kalau kita melakukan itu, mereka
pasti sudah tahu bahwa aku yang melakukan. Sa-
barlah... waktunya nanti akan tiba sendiri.... Ingat
pesan kakekmu...!" kata Sena menasihati Pasopati
yang sudah tak sabar itu.
"Apakah aku akan terus jadi wanita begini,
Den...?" tanya Dogol dengan wajah merengut sam-
bil menggaruk-garuk perutnya.
Sena tertawa, begitu juga Pasopati.
"Ya. Katanya kau mau jadi pendekar. Dan
sekarang kau untuk sementara jadi pendekar wa-
nita jejadian...," kata Sena berseloroh. Lalu terta-
wa.
Dogol hanya cengar-cengir dan terus men-
gusap-usap perutnya. Lalu mengeluarkan kantung
dari dalam bajunya. Mengambil isinya, yang ter-
nyata makanan. Singkong bakar.... Lalu mema-
kannya dengan lahap.

***

Di tempat lain saat itu ternyata terjadi per-


tarungan antara tokoh-tokoh aliran lurus dan ali-
ran sesat yang dipimpin Sugrikala.
Dengan kelicikan dan ilmu sesatnya, ba-
nyak sudah tokoh aliran lurus mati di tangan anak
buah Sugrikala.
"Habisi mereka semua!" perintah Sugrikala
yang berdiri atas batu. Masih memakai kedok un-
tuk menutupi wajahnya yang berupa serigala itu.
"Heaaa...!"
"Aaa...!"
"Mampus kau, Kakek Tua...!" seru Setabaya
yang menerkam tokoh aliran lurus Ki Bandura.
Di lain tempat, tak jauh dari situ, dua tokoh
lurus sedang bertarung dengan dua orang anggota
Serikat Serigala Merah. Pertarungan cukup seru.
Mereka menggunakan jurus-jurus maut dan ber-
bagai senjata pamungkas mereka.
Namun dengan ilmu sihirnya, serta serbuk
beracun yang dimiliki Sugrikala membunuh tokoh-
tokoh aliran lurus. Hal itu ternyata karena mereka
hendak ikut dalam pertemuan pemilihan ketua to-
koh persilatan.
Itulah kelicikan Sugrikala. Dirinya sangat
berhasrat dapat duduk sebagai ketua agar dapat
menguasai rimba persilatan. Dia tak mau para to-
koh aliran putih mengetahui siapa dirinya sebe-
narnya. Apalagi kini wajahnya tak lagi dapat kem-
bali menjadi manusia biasa, setelah tombak Paso-
pati telah melukai tubuhnya. Maka itu Sugrikala
terus melacak dan menyebar anak buahnya untuk
meringkus Pasopati. Sebelum hari pertemuan itu
tiba.
Namun nyatanya sampai sekarang Pasopati
belum ditemukan. Itulah yang membuat Sugrikala
dan pengikutnya menjadi murka, membabi buta,
membantai tokoh-tokoh persilatan. Tak pandang
bulu, baik dari golongan putih maupun hitam.
Semua ditumpas! Demi cita-citanya.
"Bagus! Hampir sepertiga dari tokoh-tokoh
aliran putih mampus! Sekarang tinggal anak itu
yang belum kita dapatkan. Waktu kita tinggal se-
hari lagi. Aku tak ingin gagal. Cepat, cari anak
itu...!" perintah Sugrikala dengan suara lantang.
Segera mereka berangkat.
Sugrikala yang masih berdiri dengan pon-
gahnya di atas batu, menengadah, lalu meren-
tangkan kedua tangannya ke atas dari tertawa-
tawa keras. Tawanya bagai mengguncangkan bu-
mi. Menggelegar.... Lalu tubuh Sugrikala seketika
lenyap. Hanya tinggal asap mengepul di tempat
Sugrikala tadi berdiri. Itulah ilmu ‘Tanpa Wujud
Siluman Iblis’.
Namun suara tawa itu masih terus terden-
gar, dan kemudian perlahan-lahan menghilang.
Tak terdengar lagi.
Dan beberapa saat kemudian, Sena, Paso-
pati, dan Dogol tiba di tempat itu. Alangkah terke-
jutnya mereka ketika melihat mayat-mayat berge-
limpangan di tanah. Darah membasahi tempat itu.
"Ya, Jagad Dewa Batara...!" seru Sena.
"Bangsat! Ini pasti perbuatan orang-orang
Serikat Serigala Merah! Aku harus cepat membu-
runya, Kang Sena!" kata Pasopati geram dan hen-
dak pergi.
"Tunggu...!" seru Sena. Lalu mendekati Pa-
sopati. "Aku tak bisa mencegahmu. Tapi ingat! Kau
harus hati-hati dan pancing mereka agar berpen-
car...! Aku akan mengikutimu dari jarak tertentu.
Pergilah...!" ujar Sena. Kemudian Pasopati meme-
luk Sena dan segera melesat pergi.
"Saya... bagaimana, Aden?" tanya Dogol
yang masih dengan pakaian wanita dan berkeru-
dung warna hijau.
"Hm.... Kau ikut denganku! Dan turuti se-
mua perintahku. Jangan pengecut, kalau kau in-
gin jadi orang persilatan yang tangguh!"
"Siap, Den! Sekarang saya sudah siap tem-
pur. Biar gendut-gendut begini, heaaat...!" sahut
Dogol lalu memperlihatkan jurus yang diajarkan
Sena. Sena hanya tersenyum-senyum.
"Ayo...!" ajak Sena. Lalu melesat pergi, di-
ikuti Dogol yang lari di belakangnya. Padahal Sena
hanya berjalan biasa. Apalagi kalau Sena menggu-
nakan lari 'Sapta Bayu'nya, Dogol tak akan mam-
pu mengejarnya.

***
Tiga Kembar Bermuka Serigala, bersama ke-
tiga orang kelompoknya menghentikan langkah.
Tiba-tiba mereka melihat dari arah depan nampak
berlari-lari lelaki bercaping, sambil memanggul se-
buah karung di pundaknya. Dia terjatuh-jatuh....
"Ooo.... Tuan... tolooong...! Ada pemuda gi-
la...," kata lelaki bercaping dengan nada ketaku-
tan. Meminta tolong pada Tiga Kembar Bermuka
Serigala sambil membungkuk-bungkuk, memberi
hormat.
"Kenapa kau dikejar orang gila itu...? Dan
dari mana asalmu...?" tanya salah seorang dari Ti-
ga Kembar Bermuka Serigala menyelidik.
"Saya... dari Desa Muntilan. Saya orang
miskin tak ada sanak saudara. Tolonglah saya
Tuan...!"
"Hem!" gumam mereka. "Minggir kamu!
Mungkin orang yang mengejarmu itu pemuda yang
kucari...."
Lelaki bercaping segera berjalan melewati
mereka, sambil merunduk-runduk.
Namun begitu dia melewati keenam orang
itu. Dengan cepat lelaki bercaping itu, menyerang
mereka dengan tombak di tangan kanannya.
"Heaaa...!"
Wut! Wut!
Cras! Cras!
"Wuaaa...!" jerit Bagaspati yang berjalan pal-
ing belakang. Punggungnya tertusuk tombak lelaki
bercaping itu.
Sementara yang lain kaget, dan berpencar,
sambil mengelak dari serangan gencar yang dila-
kukan lelaki bercaping.
Kelabakan juga orang-orang Serikat Serigala
Merah, mendapatkan serangan mendadak dari le-
laki bercaping.
"Akulah orang yang kalian cari itu...!" seru
lelaki bercaping yang tak lain Pasopati, sambil te-
rus mencecar lawan-lawannya. Itu adalah suatu
cara untuk menghadapi manusia-manusia licik
dan berilmu sihir. Agar mereka tak sempat meng-
gunakan ilmu andalannya.
Tusukan dan tebasan, serta tendangan kaki
Pasopati begitu dahsyat. Membuat kelima lawan-
nya terus terdesak. Apalagi Tombak Baruklinting
yang di tangan Pasopati sangat ampuh. Siapa
orangnya yang terkena tusukan tombak itu kulit-
nya akan membiru lalu mati!
"Rupanya kau pemuda keparat! Tak lama
lagi kau akan mampus!" seru Setabaya. Dia murka
melihat Bagaspati telah mati di tangan pemuda
yang dianggapnya penghalang bagi Serikat Serigala
Merah.
Pertarungan berjalan seru, namun lama-
kelamaan Pasopati mulai berbalik terdesak. Tiga
Kembar Bermuka Serigala mulai melancarkan ju-
rus-jurus mautnya yang sukar ditebak.
"Celaka! Bisa mati konyol aku. Kalau terus
melawan mereka dengan cara begini... Hup!"
Dengan cerdik, Pasopati melesat sesuai
dengan perintah Sena, untuk memancing agar me-
reka mengejarnya dan Sena menunggu di tempat
yang cukup baik, untuk menjebak.
"Bangsat! Jangan lari kau, Anak Muda...!
Kejar!" perintah Setabaya.
Mereka segera melesat bagai serigala-
serigala memburu mangsanya. Melompat bagaikan
terbang menerobos semak belukar. Juga melompa-
ti tebing dan bebatuan besar.

***

Pasopati sudah menunggu mereka di atas


pohon. Dia berdiri di cabang pohon dengan siap
menyerang lawan.
Srak! Srak!
Benar, di bawah pohon nampak Tiga Kem-
bar Bermuka Serigala berkelebat berbarengan
memburu. Disusul dua orang lainnya. Dari atas ti-
ba-tiba Pasopati melepas jalanya. Tepat mengu-
rung Setabaya dan Kalabendana.
"Mampus kau kali ini, Manusia-manusia
Busuk!" gumam Pasopati sambil melompat dan
menghunuskan tombak pusakanya. Dan....
Jlep! Jlep!
"Aaauuukkk...!"
Terdengar jeritan dari kedua orang berwajah
aneh itu. Seketika kulit tubuh mereka membiru,
kejang-kejang lalu nyawa mereka pun melayang.
Pasopati merasa lega.
"Sebagian dendamku telah terbalas. Kini
tinggal dedengkotnya!"
Lalu Pasopati meninggalkan kedua mayat
yang ada dalam jala itu, melesat memburu Tiga
Kembar Bermuka Serigala.
Ternyata Tiga Kembar Bermuka Serigala te-
lah bertempur dengan Pendekar Gila yang dibantu
Dogol. Suasana pertempuran tampak lucu. Si
Gendut yang berpakaian wanita berpura-pura ke-
takutan. Namun ketika ada kesempatan, mengha-
jar salah satu dari Tiga Kembar Bermuka Serigala.
"Hi hi hi...! Binatang-binatang siluman ini
perlu dicincang! Biar tidak mengotori rimba persi-
latan...!" ejek Pendekar Gila sambil mengelak den-
gan menggunakan jurus 'Si Gila Menari Menepuk
Lalat'.
Tubuh Pendekar Gila meliuk-liuk laksana
menari dengan sesekali tangannya menepuk. Te-
pukannya yang kelihatan lamban dan lemah ser-
ing mengejutkan lawan.
"Hiuh...!"
Plak! Plak!
"Ikh...!"
Tiga Kembar Bermuka Serigala terpekik ke-
tika dada mereka tahu-tahu terasa sakit dan se-
sak. Seorang lagi terhuyung mendekati Dogol yang
dengan cepat mengetuk kepalanya dengan keras.
Lalu Dogol bersembunyi. Hingga orang yang terpu-
kul itu makin kelengar. Dogol tertawa-tawa se-
nang. Namun tanpa setahu Dogol, di belakang su-
dah siap menerkamnya, seorang lagi yang sempat
melesat ke arah Dogol.
"Hah?!" Dogol kaget. Namun entah dari ma-
na keberaniannya itu tiba-tiba muncul. Dengan
cepat dia melancarkan pukulan yang mirip jurus
'Si Gila Membelah Mega'!
"Heaaa...!"
Deg! Deg!
"Aaakh...!" menjeritlah lelaki berwajah seri-
gala, terkena pukulan Dogol. Dengan cepat Dogol
lari dan bersembunyi.
Pasopati yang melihat hal itu tertawa-tawa.
Dan bergumam.
"Boleh juga Dogol. Dari mana dia dapat pu-
kulan hebat itu...?"
Sementara itu Pendekar Gila tengah meng-
hadapi seorang lagi dengan tertawa-tawa. Sambil
meliuk dia menepuk lawannya.
Setelah itu Pendekar Gila ingin segera men-
gakhiri pertarungan itu.
"Heaaa...!"
"Grrr...! Mampus kau, Orang Gila...! Grrr...!"
bentak lelaki berpakaian serba merah dan berwa-
jah serigala.
"Hits...! He he he...!"
Pendekar Gila menangkis pukulan lawan,
lalu disusul dengan sabetan kaki kanannya,
menghajar keras kaki lawan.
Krak!
"Aaakh...!"
Seketika kaki itu patah. Dan terdengar pe-
kikan panjang dari mulut lawan. Namun ketika
Pendekar Gila akan melancarkan pukulan maut-
nya, dari arah belakang dua orang berwajah seri-
gala menyerangnya. Pendekar Gila cepat mengelak.
Dan akibatnya, serangan itu mengenai temannya
sendiri. Hingga ambruk dan tak berkutik lagi.
Keduanya kaget, karena yang dihajar ter-
nyata saudara mereka. Dalam keadaan demikian,
tiba-tiba Pasopati yang sejak tadi hanya diam, me-
lompat dan menghajar orang-orang berwajah seri-
gala itu dengan tombaknya.
Jlep! Jlep!
"Aaakh...!"
Kembali terdengar pekikan keras dari kedua
manusia muka serigala. Tubuhnya membiru lalu
tak lama kemudian mati.
Sena terkejut dengan tindakan Pasopati itu.
Segera Sena mendekati.
"Kenapa kau lakukan itu...? Tindakan itu
bukan sikap seorang pendekar...! Kecuali dia akan
membunuh kita...!" ujar Sena karena tahu Pasopa-
ti bertindak membokong lawan. Suatu perbuatan
yang pantang bagi pendekar sejati.
"Maafkan aku. Tapi, maksudku... agar an-
tek-antek Sugrikala musnah. Dan tinggal aku dan
dia..," jawab Pasopati dengan suara parau.
Sena menggeleng-gelengkan kepala, sejenak
dia berpikir. Dan menggaruk-garuk kepala.
Sementara itu Dogol, mulai keluar dari per-
sembunyian sambil membuka baju samarannya.
Mendekati Sena dan Pasopati.
"Sekarang tugasku sebagai wanita palsu
sudah habis...!" seru Dogol, dengan cengengesan
dan mengusap-usap perutnya.
Segera Pasopati mengeluarkan dua keping
uang dan memberikan pada Dogol. Dogol meneri-
manya, seraya berkata, "Lumayan, nanti buat beli
makanan di sana...."
"Makan makan saja yang kau pikir. Nanti
perutmu meledak...!" kata Sena sambil menunjuk
perut Dogol yang saat itu sedang bergerak-gerak.
Dogol hanya nyengir kuda. Pasopati tersenyum.
"Kang Sena. Bagaimana rencana kita selan-
jutnya?" tanya Pasopati kemudian.
"Sesuai rencana semula. Kalau tidak ada
masalah lagi, kini saatnya kau menuntut balas
pada Sugrikala. Tapi apakah dia akan datang pada
pertemuan besok, dengan muka tertutup ke-
dok...?!"
"Entahlah," jawab Pasopati cemas.
"Apalagi, kalau dia sudah tahu bahwa ke-
lompoknya telah menemui ajal di tangan kita. Ten-
tunya saat ini Sugrikala telah merasakan hal itu....
Aka yakin," ujar Sena kemudian.
"Ya. Lalu bagaimana caranya agar dia mun-
cul pada pertemuan itu?" tanya Pasopati lagi.
"Sulit untuk memikirkan, karena Sugrikala
bukan orang bodoh. Apalagi, kini dia tahu kalau
kau sedang menuntut balas," kata Sena sambil
menggaruk-garuk kepala. "Oh, ya. Bukankah kau
bilang bahwa karena dia terluka oleh tombakmu,
hingga mukanya tak bisa lagi berubah seperti se-
diakala...?"
"Benar."
"Nah, tentunya dia sangat mengharap kau
hadir pada pertemuan itu. Dia pasti akan me-
nunggu mu. Kalau begitu rencana kita tetap berja-
lan. Tapi kali ini aku yang harus menyamar seba-
gai dirimu. Dan kau menyamar seperti tadi...,"
usul Sena.
"Rencana yang bagus. Tapi aku ingin den-
gan tombak ini aku membunuh Sugrikala. Agar
arwah ayahku merasa lega...."
"Jangan khawatir! Tunggu isyaratku...!"
"Tugasku...?!" tanya Dogol.
"Kau tetap akan menyamar sebagai wanita!"
ujar Sena sambil menepuk perut Dogol.
Mereka lalu tertawa-tawa. Dogol merengut
kesal, karena harus menjadi wanita lagi.

10
Suasana hari itu cukup cerah. Di tempat
pemilihan ketua pendekar untuk Jawa Dwipa
nampak riuh. Letaknya di dekat Candi Borobudur.
Candi yang terbesar dan termegah di selu-
ruh jagad nampak megah, sebagai latar belakang
arena pesta pemilihan.
Hampir semua tokoh telah hadir, dari se-
mua penjuru Jawa Dwipa. Mereka belum memu-
tuskan siapa ketua baru. Karena orang yang sela-
ma ini dianggap pantas, belum juga muncul.
"Saudara-saudara sekalian! Waktu kami
tunda beberapa saat, menunggu calon utama ke-
tua baru Sugrikala. Harap tenang dan bersabar!"
seru ketua lama Prabu Santika.
"Lebih baik pilih orang lain! Kami sudah la-
ma menunggu...!" usul salah seorang tokoh.
"Benar! Aku setuju.... Calon itu mungkin
tak pantas menduduki kursi ketua. Belum jadi ke-
tua saja sudah begini...!" sahut yang lain.
Suasana menjadi ribut. Dari sana sini ber-
sahutan mengajukan usulan-usulan.
Tiba-tiba terdengar dari luar arena tempat
pemilihan suara membentak yang dibarengi berke-
lebatnya sesosok orang memakai kedok!
"Hentikan!"
"Siapa kau?!" tanya ketua lama Prabu San-
tika. "Apakah kau tak mengenalku? Aku terpaksa
memakai kedok, dan terlambat, karena orang-
orangku terbunuh. Maafkan aku.... Aku Sugrika-
la!" kata orang itu.
"Kami tak mau melihat calon ketua baru
dengan kedok! Bukalah kedokmu! Biar kami dapat
mengenal wajahmu...," seru salah seorang berpa-
kaian serba putih, dengan ikat kepala menutupi
seluruh kepalanya, seperti sorban. Dialah Ki Raga-
kandaka. Dari Perguruan Kelabang Sakti, beraliran
putih.
"Baiklah, kalau kalian ingin mengenali wa-
jahku," jawab lelaki itu. Lalu segera membuka ke-
doknya. Dan....
"Hah...?! Kau...?!" gumam Prabu Santika
yang telah mengenali pemuda itu.
Suasana menjadi bertambah riuh. Keba-
nyakan mereka yang hadir sudah mengenal wajah
pemuda yang berdiri di atas panggung. Rambutnya
agak ikal, dengan wajah tampan. Dan tak henti-
hentinya cengengesan sambil menggaruk-garuk
kepala.
"Sena Manggala murid Singo Edan...!" gu-
mam hampir semua tokoh persilatan yang hadir.
"Sena...! Bagaimana kau sampai berbuat
demikian? Ada apa rupanya dengan pemilihan
ini?" tanya Prabu Santika heran.
"Panjang ceritanya.... Nanti juga kalian akan
mengetahuinya. Karena kebusukan tak akan lama
tersimpan...," jawab Sena sambil cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala.
Semua yang hadir jadi riuh saling bicara sa-
tu sama lain.
Di antara mereka nampak Pasopati dan Do-
gol yang menyamar sebagai orang biasa. Berdiri di
luar arena pemilihan. Namun tiba-tiba...
Zing! Zing! Zing!
Benda-benda tajam meluncur ke arah Sena
dan Prabu Santika. Dengan cepat Sena menubruk
Prabu Santika untuk menghindari serangan gelap
itu.
Suasana semakin ribut dan kacau! Menda-
dak muncul orang berkedok yang tak lain Sugrika-
la. Menggereng dan mengejar Sena yang melompat
sambil bersalto di udara. Gerakan Pendekar Gila
begitu cepat dan sukar diatasi oleh Sugrikala.
Deg! Deg!
Kaki kanan Pendekar Gila menghajar wajah
Sugrikala, hingga kedoknya terlepas. Semua orang
kaget. Sugrikala yang memiliki kepala serigala itu
terpental, ambruk menimpa sebagian orang yang
ada di tempat itu.
Brak...!
"Ukh...!"
"Hi hi hi...! Kalian semua sekarang menda-
pat jawabannya. Kenapa aku berbuat demikian.
Lihat orang yang selama ini kalian calonkan dan
disanjung. Tak lebih seorang manusia siluman se-
rigala. Dialah yang telah membuat onar dan me-
nindas rakyat. Membuka perjudian dan rumah
maksiat! Yang melanggar hukum...!" teriak lantang
seorang pemuda yang di tangan kanannya meme-
gang tombak pusaka.
"Bangsat! Rupanya kau bersekongkol den-
gan Pendekar Gila itu...!" bentak Sugrikala yang
sudah kehilangan muka. "Grrr...!"
"Ha ha ha...! Ayo, Siluman Jelek...! Hari ini
aku akan menuntut balas atas kematian ayah-
ku…!" seru Pasopati. Lalu melempar capingnya ke
arah Sugrikala.
Wut! Wut!
Caping yang dilempar Pasopati itu melayang
deras ke arah Sugrikala.
"Heaaa...!"
Sugrikala dengan mudah dapat mengelak.
Kemudian dengan cepat pula dia melakukan se-
rangan balik yang cukup dahsyat.
Zing! Zing! Zing!
Senjata rahasia meluncur deras ke arah Pa-
sopati dari tangan Sugrikala. Pasopati melenting
sambil menangkis dengan tombaknya.
Trang! Trang! Trang!
"Grrr...!"
Sugrikala membabi buta. Karena dia harus
merebut tombak itu dan menghisap darah Pasopa-
ti, agar dirinya bisa kembali seperti sediakala.
"Mampus kau! Aku kirim kau seperti ayah-
mu ke akherat...!" seru Sugrikala sambil terus
mencecar Pasopati.
Orang-orang tokoh persilatan tak mau
menghalangi atau membantu mereka. Mereka me-
nyadari, setelah mendengar penjelasan Pendekar
Gila tadi.
"Kalian semua harus mendukung putra
Sumbaga itu.,.! Sugrikala telah mengkhianati dan
membunuh ayah pemuda itu dua puluh tahun si-
lam," ujar Sena yang terus mengamati gerakan Su-
grikala.
Pertarungan Sugrikala dan Pasopati ber-
langsung semakin seru. Keduanya saling serang
dan beradu di udara. Namun setelah sekian jurus,
nampak Pasopati tampak mulai terdesak. Mem-
buat Sugrikala sempat melukai lengan kanan Pa-
sopati hingga tombak pusaka itu terlepas dari
genggamannya.
"Hah?!" pekik Pasopati kaget.
Cepat Pasopati bergulingan di tanah, untuk
mengambil Tombak Baruklinting. Namun rupanya
Sugrikala lebih cepat, karena dia dalam kedudu-
kan lebih menguntungkan.
Bug! Bug!
Kaki Sugrikala menendang muka Pasopati,
hingga tubuh pemuda itu terlempar jauh. Sugrika-
la yang melihat lawan terluka, cepat mengambil
tombaknya. Dengan cepat dilemparkan ke arah
Pasopati yang masih menahan sakit. Namun sebe-
lum tombak itu sampai pada sasarannya.
Wesss!
Sesosok bayangan berkelebat, menghadang
lajunya Tombak Baruklinting. Dan seketika mem-
balikkan tombak pusaka itu ke arah Sugrikala.
"Wut! Wut...!"
"Heh...?!"
Sugrikala terbelalak kaget.
Jlep!
Tombak Baruklinting menancap tepat di
dada Sugrikala. Sugrikala mengerang. Dan men-
cabut tombak itu. Sena tertegun sesaat.
"Edan! Setan ini benar-benar ampuh...!"
gumam Pendekar Gila dalam hati.
Pada saat itu pula Sugrikala berubah wujud
menjadi serigala raksasa. Semua orang yang ada di
situ terbelalak kaget. Kemudian bergerak mundur.
"Grrr...! Auuung...!"
Pendekar Gila yang melihat wujud itu,
hanya tersenyum lalu dia segera mengeluarkan
ajian 'Inti Brahma'. Seketika bola-bola api melun-
cur ke arah serigala siluman itu. Namun anehnya,
binatang siluman itu tak mempan. Pendekar Gila
mengerutkan kening.
Pada saat itu Pasopati sudah mulai kembali
pulih, dengan cepat dia mengambil kembali tom-
bak yang tergeletak di tanah. Lalu dengan cepat
dia berlari mendekati Pendekar Gila.
"Sekarang waktunya kita untuk mele-
nyapkan binatang terkutuk ini, Pasopati...," ujar
Sena.
Dengan cepat Pendekar Gila mencabut Sul-
ing Naga Sakti-nya. Kemudian dipadukan dengan
Tombak Baruklinting yang juga berkepala naga mi-
lik Pasopati. Seketika memancarlah sinar aneh,
menyilaukan semua orang. Termasuk serigala si-
luman Sugrikala itu.
"Grrr...! Kalian tak akan sanggup membu-
nuhku.... Grrr.... Auuung...!"
Serigala siluman menyerang kedua pende-
kar muda itu. Matanya mencorong tajam meman-
carkan sinar membara mengandung hawa maut.
Dengan tenang Sena dan Pasopati memapa-
ki serangan serigala besar berbulu merah itu.
"Heaaa...!"
Slat!
Glarrr!
Terdengar ledakan dahsyat. Bulu-bulu war-
na merah berterbangan di udara.
Tubuh Pasopati dan Pendekar Gila ter-
huyung ke belakang. Sedangkan tubuh Sugrikala
remuk. Terdengar suaranya mengerang keras
mengiringi perubahan wujudnya menjadi manusia.
Pasopati yang dendamnya telah membara, masih
belum puas melihat lawan sudah sekarat. Dia me-
lompat dengan cepat sambil mengangkat Tombak
Baruklinting. Dan menghujamkan ke tubuh Sugri-
kala.
Jlep! Jlep...!
"Aaawww...!" kembali Sugrikala mengerang
panjang. Tubuhnya menggelepar-gelepar. Namun
masih berusaha untuk bangun. Dia tak kuasa, ka-
rena ternyata akibat tusukan Pasopati tadi, selain
tubuh Sugrikala remuk, juga terbelah dua.
Ketika dia hendak bangkit, tubuhnya terle-
pas bagian perut ke atas dan bagian pinggang
sampai kaki terpisah. Erangannya bagai seekor se-
rigala hutan, melengking panjang. Menyakitkan te-
linga.
Semua yang menyaksikan kejadian itu ter-
bengong, merasa heran dan aneh. Dogol yang ber-
larian mendekati Sena dan Pasopati tersenyum-
senyum bangga.
Para tokoh yang hadir langsung berkeru-
mun, menyaksikan mayat Sugrikala si Manusia Si-
luman Serigala. Prabu Santika segera menghampi-
ri Pendekar Gila.
"Sena, kami sangat berterima kasih pada-
mu. Kalau tidak, bagaimana jadinya rimba persila-
tan di bumi Jawa Dwipa ini...," ucap Prabu Santi-
ka.
"Ah, jangan berterima kasih pada saya. Se-
mua ini sudah tugasku, untuk membela kebena-
ran. Kau harus berterima kasih pada pemuda ini,"
ucap Sena sambil memegang bahu Pasopati.
"Ya. aku sudah mendengar sebelumnya ten-
tang pemuda ini. Namun keadaanku sendiri dalam
cengkeraman Serikat Serigala Merah. Yang ternya-
ta dipimpin Sugrikala. Kami semua menganggap-
nya orang yang dermawan dan bijaksana. Aku be-
nar-benar bodoh!" tutur Prabu Santika.
"Sudahlah, Ki Prabu! Kini semuanya sudah
selesai. Dan usul kami, sebaiknya Ki Prabu Santi-
ka meneruskan jabatan ketua itu...," kata Sena, la-
lu menggaruk-garuk kepala.
"Tidak bisa. Aku telah melepaskannya. Dan
kini tetap harus mencari pengganti ketua baru. Se-
benarnya Ki Wibisana yang pantas, tapi beliau su-
dah tua dan tak ingin lagi muncul dalam rimba
persilatan...," kata Prabu Santika.
"Lalu siapa menurut Ki Prabu yang pantas
menjadi ketua...?"
"Entahlah...," jawab Prabu Santika.
Pada saat itu segerombolan para tokoh
menghampiri mereka. Dan Ki Ragakandaka dari
Perguruan Kera Sakti berucap, "Prabu Santika,
dan kau murid Kakang Singo Edan. Kami tadi te-
lah berunding. Dan telah mencapai persetujuan
semua, untuk mengangkat pemuda ini menjadi ke-
tua kami...," kata Ki Ragakandaka sambil mene-
puk bahu Pasopati.
Pasopati kaget. Lalu segera berucap ramah,
"Maaf...! Rasanya, saya tak pantas menjadi ketua.
Saya masih terlalu muda. Lebih baik pilihlah orang
lain..., sekali lagi maaf! Dan terima kasih atas per-
hatian semuanya pada saya...!" kata Pasopati den-
gan polos penuh rendah hati.
Sena tersenyum dan menggaruk-garuk ke-
pala.
"Apa yang dikatakan Pasopati benar. Se-
baiknya, untuk sementara Ki Prabu Santika tetap
menjabat sebagai ketua.... Bagaimana menurut
yang lain...?" usul Sena.
"Setujuuu...!" terdengar dari semua para to-
koh yang hadir menyetujuinya.
Prabu Santika tak bisa berbuat apa-apa.
Hanya manggut-manggut, "Kalau memang itu yang
saudara-saudara inginkan, saya mengucapkan te-
rima kasih. Tapi dengan syarat, saya minta dengan
sangat Pasopati mendampingiku, sebagai wakil.
Bagaimana...?" ujar Prabu Santika. "Karena aku
sebenarnya telah mengetahui, bahwa Pasopati ter-
nyata cucu Ki Wibisana."
Semua tokoh tersentak kaget, lalu terse-
nyum-senyum senang.
"Kalau begitu kami sangat setuju, karena
Kakang Wibisana adalah orang yang kami segani
dan bijaksana...," sahut Ki Ragakandaka, lalu dis-
ambut tepuk tangan yang lain.
Pasopati memeluk Sena erat. Sena pun
membalasnya, "Terima kasih, Kang Sena.... Aku
banyak berhutang budi padamu...."
"Jangan berkata begitu. Kau sudah seperti
adikku sendiri. Guru kita pun satu perguruan, jadi
kita juga saudara... he he he...!" sahut Sena berse-
loroh.
"Nah, aku ini apa.... Apakah Aden anggap
aku wanita jejadian...?" tanya Dogol yang merasa
iri. Bertingkah mirip anak kecil, mau nangis.
"Tidak... Kau tetap sahabat kami. Tapi ingat
jangan cengeng dan makan harus dikurangi. Kalau
kebanyakan diisi, perutmu akan meledak!" kata
Sena menggoda. Dogol hanya tertawa-tawa sambil
memegangi perutnya.... Semua nampak bahagia
dan gembira. Cuaca semakin terang menyinari
bumi, secerah wajah-wajah mereka.

SELESAI

Scan/E-Book: Abu Keisel


Juru Edit: Fujidenkikagawa

https://www.facebook.com/
DuniaAbuKeisel

Anda mungkin juga menyukai