0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan22 halaman

Laporan Pendahuluan Hiperbilirubin

Hiperbilirubinemia adalah kondisi peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang menyebabkan ikterus, terutama pada neonatus. Terdapat dua jenis ikterus, yaitu fisiologis dan patologis, dengan penyebab yang bervariasi seperti ketidakmatangan hati dan inkompatibilitas golongan darah. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi serius seperti kerusakan otak akibat bilirubin yang tinggi.

Diunggah oleh

herpanafriza9
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan22 halaman

Laporan Pendahuluan Hiperbilirubin

Hiperbilirubinemia adalah kondisi peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang menyebabkan ikterus, terutama pada neonatus. Terdapat dua jenis ikterus, yaitu fisiologis dan patologis, dengan penyebab yang bervariasi seperti ketidakmatangan hati dan inkompatibilitas golongan darah. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi serius seperti kerusakan otak akibat bilirubin yang tinggi.

Diunggah oleh

herpanafriza9
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP HIPERBILIRUBINEMIA

A. Konsep Dasar Hiperbilirubinemia


1. Definisi
Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan
mukosa karena adanya deposisi produk akhir katabolisme hem, yaitu bilirubin.
Secara klinis, ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin
serum lebih dari 5mg/dl (Maternity,2016)

Ikterus adalah warna kuning di kulit, konjungtiva, dan mukosa yang terjadi
karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Ikterus mulai tampak jika
kadar bilirubin dalam serum > 5mg/dl dan dimulai pada daerah wajah. Ikterus
perlu segera ditangani dengan tindakan yang seksama agar tidak masuk ke
dalam sel saraf dan tidak merusak otak. (Tando,2016).

Hiperbilirubinemia adalah berlebihnya akumulasi bilirubin dalam darah (level


normal 5 mg/dl pada bayi normal) yang mengakibatkan jaundice, warna
kuning yang terlihat jelas pada kulit, mukosa, sklera dan urine. Hiperbilirubin
adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan
sehingga menimbulkan jaundice pada neonatus. Hiperbilirubin adalah kondisi
dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu
dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai jaundice pada
sklera mata, kulit, membran mukosa dan cairan tubuh. Hiperbilirubin adalah
peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh
kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. Hiperbilirubinemia adalah
kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologis. (Ayu, 2016)
1

2. Klasifikasi
a. Ikterus fisiologis
Ikterus yang terjadi akibat ketidakmampuan hati bayi baru lahir belum
matur untuk menangani bilirubin yang merupakan produk hasil dari
penghancuran sel darah merah. Ikterus fisiologis muncul 48 sampai 72
jam setelah kelahiran. Ikterus fisiologis cukup sering terjadi terutama
pada bayi yang mengalami pelahiran sulit atau traumatik yang dapat
mengakibatkan kerusakan sel darah merah. (Rosdahl,2017).

Tanda-tandanya, yaitu sebagai berikut :


a. Timbul pada hari ke-2 dan ke-3.
b. Kadar bilirubin tidak >10mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5
mg% pada neonatus kurang bulan.
c. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak >5mg% per hari.
d. Kadar bilirubin langsung <1mg%.
e. Ikterus akan hilang pada 10 hari pertama.
f. Tidak mempunyai hubungan dengan patologis.

Penatalaksanaannya, yaitu sebagai berikut :


a. Lakukan perawatan seperti bayi baru lahir normal.
b. Beri ASI yang adekuat pada bayi.
c. Anjurkan ibu untuk mengonsumsi makanan bergizi tinggi protein dan
mineral.
d. Anjurkan agar bayi dijeur di bawah sinar matahari antara pukul 7-8 pagi
selama 30-60 menit dan bayi tidak menggunakan pakaian. Posisikan bayi
telentang kemudian telungkup sehingga seluruh kulit bayi terkena sinar
matahari. (Tando,2016)
2

b. Ikterus patologis
Ikterus yang terjadi akibat gangguan hemolitik adalah dimana kadar
konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai nilai yang melebihi batas
normal dan mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterik
Hiperbilirubin patologis terjadi pada 24 jam pertama pada bayi baru
lahir, karena patologis dimana kadar bilirubin dalam darah mencapai 12
mg% untuk cukup bulan, dan 15 mg% pada bayi kurang bulan
(Tando,2016)

3. Faktor Penyebab

Hiperbilirubin pada bayi baru lahir paling sering timbul karena fungsi hati masih
belum sempurna untuk membuang bilirubin dari aliran darah. Hiperbilirubin juga
bisa terjadi karena beberapa kondisi klinis, diantaranya adalah :
a. Ikterus fisiologis merupakan bentuk yang paling sering terjadi pada bayi
baru lahir :
1) Jenis bilirubin yang menyebabkan pewarnaan kuning pada ikterus
disebut bilirubin tidak tergonjugasi, merupakan jenis yang tidak
mudah dibuang dari tubuh bayi.
2) Hati bayi akan mengubah bilirubin ini menjadi bilirubin terkonjugasi
yang lebih mudah dibuang oleh tubuh.
3) Hati bayi baru lahir masih belum matang sehingga masih belum
mampu untuk melakukan pengubahan ini dengan baik sehingga akan
terjadi peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang ditandai sebagai
pewarnaan kuning pada kulit bayi.
4) Bila kuning tersebut murni disebabkan oleh faktor ini maka disebut
sebagai ikterus fisiologis.

b. Breastfeeding jaundice
1) Keadaan ini dapat terjadi pada bayi yang mendapat air susu ibu (ASI)
eksklusif.
3

2) Terjadi akibat kekurangan ASI yang biasanya timbul pada hari kedua
atau ketiga pada waktu ASI belum banyak dan biasanya tidak
memerlukan pengobatan.

c. Ikterus ASI (Breastmilk jaundice)


Pada sebagian bayi yang mendapat ASI eksklusif, dapat terjadi ikterus
yang berkepanjanga. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor tertentu
dalam ASI yang diduga meningkatkan absorbsi bilirubin di usus halus.
Bila tidak ditemukan faktor resiko lain, ibu tidak perlu khawatir, ASI tidak
perlu dihentikan, dan frekuensi ditambah.
Apabila keadaan umum bayi baik, aktif, minum kuat, tidak ada tata
laksana khusus meskipun ada peningkatan kadar bilirubin.
(Maternity,2016)

1) Ikterus ini berhubungan dengan pemberian ASI dari seorang ibu


tertentu dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang disusukannya
bergantung pada kemampuan bayi tersebut mengubah bilirubin indirek
2) Jarang mengancam jiwa dan timbul setelah 4-7 hari pertama dan

berlangsung lebih lama dari ikterus fisiologis yaitu 3-12 minggu.

d. Ikterus pada bayi baru lahir akan terjadi pada kasus ketidakcocokan
golongan darah (inkompatibilitas ABO) dan rhesus (inkompatibilitas
rhesus) ibu dan janin :
1) Tubuh ibu akan memproduksi antibodi yang akan menyerang sel darah
merah janin.
2) Kondisi tersebut akan menyebabkan pecahnya sel darah merah

sehingga akan meningkatkan pelepasan bilirubin dari sel darah merah.


4

e. Lebam pada kulit kepala bayi yang disebut dengan sefalhematom dapat
timbul dalam proses persalinan.
1) Lebam terjadi karena penumpukan darah beku dibawah kulit kepala
2) Secara alamiah tubuh akan menghancurkan bekuan ini sehingga

bilirubin juga akan keluar yang mungkin saja terlalu banyak untuk
dapat ditangani oleh hati sehingga timbul kuning.

f. Ibu yang menderita diabetes dapat mengakibatkan bayi menjadi kuning


(Maryunani,2017)

4. Patofisiologi
Bilirubin adalah produk pemecahan hemoglobin yang berasal dari
pengrusakan sel darah merah/RBCs rusak maka sirkulasi akan masuk ke
produk dimana hemoglobin pecah menjadi heme dan globin. Gloobin
(protein) digunakan kembali oleh tubuh sedangkan heme akan dirubah
menjadi bilirubin unkonjugata dan berkatan dengan albumin.

Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban


bilirubin pada streptococcus hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia,
memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber
lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Gangguan ambilan
bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh
anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia,
ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuroni transferase)
atau bayi menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal
atau sumbatan saluran empeduintra/ekstra hepatika. Pada derajat tertentu,
bilirubin ini akan bersifat toksik atau merusak jaringan otak.toksisitas ini
terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Sifat indirek ini yang
memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat
menembus sawar darah otak. Kelainan yang
5

terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Mudah
tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung
dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus
sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada
bayi terdapat keadaan imaturitas. Berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia,
hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau
infeksi. Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa
keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat
penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
(Ayu,2017)

Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan


kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z
berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang
memperlihatkan peningkatan kada Bilirubin adalah apabila ditemukan
gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi
misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan
bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh.toksisitas terutama ditemukan pada
Bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam
lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otas apabila
Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada
otak disebut kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf
pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek >20mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak
hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudah
melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan BBLR, hipoksia, dan
hipoglikemia. (Ayu,2017)
6

5. WOC (Web Of Caution)


7

6. Respon Tubuh Terhadap Perubahan Fisiologis


a. Gangguan pendengaran
Hiperbilirubinemia merupakan salahsatu penyebab gangguan
pendengaran. Hiperbilirubinemia pada gangguan fungsi pendengaran
merupakan efek neurotoksik dari konsentrasi bilirubin yang berbahaya.
Bilirubin masuk ke otak bila tidak terikat dengan albumin (tidak
terkonjugasi) dan bila ada kerusakan sawar darah otak. Bilirubin tidak
terkonjugasi yang masuk ke otak akan berikatan dengan fosfolipid dan
gangliosida pada permukaan membran plasma neuron. Ikatan ini akan
menyebabkan terbentuknya asam biliverdin dan kerusakan membran
tingkat subseluler. Kerusakan tersebut memberikan dampak terhadap
multisistem enzim dan menyebabkan kerusakan sel neuron di seluruh
tubuh termasuk sel pendengaran. Tanda yang dapat di observasi dari
gangguan pendengaran pada neonatus dengan hiperbilirubinemia seperti
tidak terganggu suara bising saat tidur dan tidak terkejut bila ada suara
yang keras.

b. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hati.
Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat, misalnya
; salisilat, sulfafurazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak
terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat
ke sel otak.

c. Gangguan fungsi Hati


Gangguan disebabkan oleh ketidakmatangan hati (imaturitas hepar),
kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hati, akibat
asidosis, hipoksia, infeksi, atau tidak terdapatnya enzim glukoronil
transferase yang berfungsi dalam mengkonjugasi bilirubin indirek.
8

d. Gangguan ekskresi
Terjadi intra atau ekstra hepatik. BAK mengalami perubahan warna gelap
pekat dan BAB lunak dan berwarna pucat seperti dempul. Gangguan ini
dapat terjadi akibat obstruksi dalam hati atau diluar hati. Kelainan diluar
hati biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Sumbatan / obstruksi
dalam hati biasanya akibat infeksi atau kerusakan hati oleh sebab lain.
Gangguan berupa pembentukan bilirubin yang berlebihan, defek
pengambilan dan konjugasi bilirubin menghasilkan peningkatan bilirubin
indirek. Penurunan ekskresi bilirubin akan menyebabkan peningkatan
kadar bilirubin direk atau disebut kolestasis, sedangkan jika
mekanismenya bersifat campuran, maka akan terjadi peningkatan bilirubin
direk maupun indirek.

e. Gangguan Neurologis
Hiperbilirubinemia dapat menimbulkan keracunan otak yang
menyebabkan kerusakan neuron permanen. Peran bilirubin indirek serum
(BIS) penting karena bersifat neurotoksik. Gomella menetapkan
hiperbilirubinemia indirek bila kadar BIS >12,9 mg/dL pada bayi aterm
dan >15 mg/dL pada bayi preterm. Secara umum seorang bayi dianggap
bermasalah bila kadar BIS>10 mg/dL. Secara invitro dan invivo, BIS
dalam konsentrasi tinggi dapat berdifusi melewati sawar darah otak.
Sawar darah otak mengatur masuknya bilirubin ke otak dan mencegah
difusi zat-zat tertentu dari pembuluh darah ke jaringan otak. Kerusakan
Sawar darah otak meningkatkan permeabilitas otak terhadap bilirubin
yang akan mengakibatkan resiko terjadinya kern ikterus. Kernikterus
merupakan sebuah gejala kerusakan otak parah yang dihasilkan dari
deposisis bilirubin indirek di sel otak.
Kernikterus ditandai dengan kelesuan atau sulit terjaga, menangis dengan
nada tinggi, reflek hisap hilang, kejang, penurunan kesadaran (Sidhartani,
Kamilah,Alifiani,dkk,2016)
9

7. Manifestasi Klinis

a. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa.
b. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik atau
infeksi.
c. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga, dan mencapai
puncak pada hari ke tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke
lima sampai hari ke tujuh yang biasanya merupakan jaundice fisiologis.
d. Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat, seperti
dempul.
e. Perut membuncit, pembesaran pada lien dan hati.
f. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar.
g. Letargik (lemas), kejang, tidak mau menghisap.
h. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental.
i. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot,
epistotonus, kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot.
j. Nafsu makan berkurang.
k. Reflek hisap hilang.
l. Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl (Ayu, 2016)

8. Klasifikasi Derajat Ikterik menurut Kramer


a. Derajat I : Daerah kepala dan leher, perkiraan kadar bilirubin
5,0 mg%
b. Derajat II : Sampai badan atas, perkiraan kadar bilirubin 9,0
mg%
c. Derajat III : Sampai badan bawah hingga tungkai, bilirubin
11,4 mg %
d. Derajat IV : Sampai aerah lengan, kaki bawah lutut, 12,4 mg %
e. Derajat V : Sampai daerah telapak tangan dan kaki, 16,0 mg %
(Maryunani,2017)
10

Gambar 2.1
Sumber : Surasmi,dkk.2003.Perawatan Bayi Risiko Tinggi.Jakarta : EGC
9. Komplikasi
a. Kernikterus.
b. Gangguan pendengaran dan penglihatan.
c. Asifiksia.
d. Hipotermi.
e. Hipoglikemi
f. Kerusakan neurologis, cerebral palsy, RM, hyperakif, bicara lambat,
tidak ada koordinasi otot, dan tangisan yang melengking.
g. Kematian (Crozier,2014)

10. Penatalaksanaan

a. Ikterus Fisiologis
Tindakan dan pengobatan untuk mengatasi masalah ikterus fisiologis
adalah dengan mengajarkan ibu dan keluarga cara menyinari bayi dengan
cahaya matahari. Berikut ini cara menyinari bayi dengan cahaya matahari.
1) Sinari bayi dengan cahaya matahari pagi jam 07.00 – 08.00 selama 2-
4 hari.
11

2) Atur posisi kepala bayi agar wajah tidak langsung menghadap ke

cahaya matahari

3) Lakukan penyinaran selama 30 menit, 15 menit bayi dalam posisi

telentang, 15 menit bayi dalam posisi telungkup.

4) Lakukan penyinaran pada kulit seluas mungkin dan bayi tidak

memakai pakaian (telanjang).

5) Lakukan asuhan perawatan dasar pada bayi muda.

6) Beri penjelasan ibu kapan sebaiknya bayi dibawa ke petugas

kesehatan (Wafi,2010).

7) Memberikan ASI yang adekuat.


Bilirubin juga bisa pecah apabila bayi banyak mengeluarkan
feses dan urin. Untuk itu bayi harus mendapatkan cukup ASI. Seperti
diketahui, ASI memiliki zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat
memperlancar buang air besar dan kecil. Pemberian ASI diberikan
minimal 8-12x / 24 jam.

Penatalaksanaan dilakukan jika kadar Bilirubin serum tidak melebihi


10mg/dl untuk neonatus cukup bulan dan 12mg/dl untuk neonatus
kurang bulan. Apabila kadar Bilirubin serum melebihi batas normal
maka penatalaksanaan berikutnya adalah Terapi sinar dan Terapi
transfusi.

b. Ikterus Patologis
1) Pertahankan agar kadar gula darah tetap stabil dan tidak turun.

2) Anjurkan ibu agar menjaga bayi tetap hangat.

3) Ambil sampel darah dari ibu sebanyak 2,5 ml, bila kekuningan

ditemukan pada dua hari kelahiran bayi.


12

4) Lakukan rujukan segera. (Wafi, 2010)

5) Terapi Sinar (PhotoTeraphy)

Merupakan tindakan dengan memberikan terapi melalui sinar yang

menggunakan lampu, dan lampu yang digunakan sebaiknya tidak lebih

dari 500 jam untuk menghindari turunnya energi yang dihasilkan oleh

lampu (Hidayat, 2012)

Untuk fototerapi, bayi diletakkan di dalam inkubator yang dilengkapi

dengan lampu fluoresensi khusus yang diletakkan di atas kepala. Bayi

dibiarkan telanjang, tetapi beberapa tenaga kesehatan mengizinkan

penggunaan popok selama penanganan. Mata diberi penutup protektif

yang melindungi dari sinar ultraviolet fototerapi diatas kepala.

(Rosdahl,2017)

6) Terapi Tranfusi (Transfusi Tukar)

Terapi ini dilakukan apabila kadar biliruin terus meningkat hingga

mencapai 20 mg/dl atau lebih setelah dilakukan fototerapi.

Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel

saraf otak. Efek inilah yang harus di waspadai karena anak bisa

mengalami gangguan perkembangan, misalnya keterbelakangan

mental, gangguan motorik dan bicara, serta gangguan penglihatan dan

pendengaran. Untuk itu darah bayi yang sudah teracuni akan dibuang

dan ditukar dengan darah lain. Efek samping yang bisa muncul adalah

masuknya kuman penyakit yang bersumber dari darah yang dimasukan

ke dalam tubuh bayi.


13

Meski demikian, terapi tranfusi terbilang lebih efektif untuk

menurunkan kadar bilirubin yang tinggi (Maryunani,2017)

Cara pelaksanaan transfusi tukar :

a) Anjurkan pasien untuk puasa 3-4 jam sebelum transfusi tukar.

b) Siapkan pasien di kmar khusus.

c) Pasang lampu pemanas dan arahkan kepada bayi.

d) Tidurkan pasien dalam keadaan terlentang dan buka pakaian pada

daerah perut.

e) Lakukan transfusi tukar sesuai dengan protap.

f) Lakukan observasi keadaan umum pasien, catat jumlah darah

yang keluar dan masuk.

g) Lakukan pengawasan adanya perdarahan pada tali pusat.

h) Periksa kadar hb dan bilirubin setiap 12 jam (Hidayat, 2012)


14

11. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan

a. Ikterik Neonatus b.d usia kurang dari 7 hari, keterlambatan


pengeluaran feses (mekonium), kesulitan transisi ke kehidupan
ekstra uterin, dan pola makan tidak ditetapkan dengan baik.
b. Risiko Gangguan integritas kulit/jaringan b.d. terapi radiasi,
kekurangan/kelebihan volume cairan, dan suhu lingkungan yang
ekstrem.
c. Risiko Hipovolemia b.d. kekurangan intake cairan, kehilangan
cairan secara aktif, dan kegagalan mekanisme regulasi.
d. Hipertermia b.d terpapar lingkungan panas, proses penyakit,
peningkatan laju metabolisme.
e. Menyusui Tidak Efektif b.d tidak rawat gabung, kurang terpapar
informasi tentang pentingnya menyusui, dan kurangnya dukungan
keluarga.
(SDKI, 2017)
15
12. Intervensi Keperawatan
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan

No DIAGNOSA LUARAN (SLKI) INTERVENSI (SIKI)


1. Ikterik Neonatus Setelah dilakukan Fototerapi Neonatus
tindakan keperawatan
Gejala dan diharapkan integritas kulit 1. Monitor ikterik pada
Tanda Mayor : sklera dan kulit bayi.
dan jaringan meningkat
a. Profil darah dengan kriteria hasil : 2. Monitor suhu dan
abnormal. tanda vital setiap 4
1. Elastisitas jam sekali.
b. Membran
mukosa meningkat. 3. Siapkan lampu
2. Kerusakan fototerapi dan
kuning.
c. Kulit kuning. jaringan menurun. inkubator atau kotak
d. Sklera bayi.
3. Kerusakan lapisan 4. Lepaskan pakaian
kuning. kulit menurun. bayi kecuali popok.
5. Berikan penutup
4. Kemerahan
mata.
menurun.
6. Ukur jarak antara
5. Pigmentasi lampu dan
abnormal permukaan kulit
bayi.
16

menurun. 7. Biarkan tubuh bayi


terpapar sinar
6. Tekstur membaik. fototerapi secara
berkelanjutan.
8. Gunakan linen
berwarna putih agar
memantulkan
cahaya sebanyak
mungkin.
9. Anjurkan ibu
menyusui sesering
mungkin.
10. Kolaborasi
pemeriksaan darah
vena bilirubin direk
dan indirek.

2. Risiko gangguan Setelah dilakukan Perawatan Integritas


integritas kulit tindakan keperawatan Kulit
diharapkan gangguan
1. Identifikasi
integritas kulit dan
penyebab gangguan
jaringan tidak terjadi
integritas kulit.
dengan kriteria hasil :
2. Ubah posisi bayi
1. Elastisitas tiap 2 jam.
meningkat 3. Gunakan produk
2. Hidrasi meningkat berbahan petrolium
3. Perfusi jaringan atau minyak pada
meningkat kulit kering.
4. Kemerahan 4. Hindari produk
menurun berbahan dasar
alkohol pada kulit
5. Pigmentasi kering.
abnormal 5. Anjurkan ibu untuk
menurun menggunakan
pelembab pada bayi
6. Jaringan parut
misalnya baby oil.
menurun
6. Anjurkan ibu untuk
7. Suhu kulit memberikan asupan
membaik nutrisi yang adekuat
(ASI).
8. Tekstur membaik.
17

3. Risiko Setelah dilakukan Manajemen


Hipovolemia tindakan keperawatan Hipovolemia
diharapkan status cairan
membaik dengan kriteria 1. Periksa tanda dan
gejala hipovolemia
hasil :
2. Monitor intake dan
1) Turgor kulit output cairan
meningkat 3. Hitung kebutuhan
2) Output urine cairan
meningkat 4. Berikan asupan ciran
3) Membran mukoa oral adekuat (ASI)
membaik 5. Kolaborasi
4) Berat badan membaik pemberian cairan
5) Oliguria membaik intravena
6) Intake cairan
membaik
7) Suhu tubuh membaik

4. Hipertermia. Setelah dilakukan Manajemen


tindakan keperawtan Hipertermia
Gejala dan diharapkan termoregulasi
Tanda Mayor : membaik dengan kriteria 1. Identifikasi
a. Suhu tubuh hasil : penyebab
diatas nilai hipertermia.
normal 1. Kulit merah 2. Monitor suhu tubuh
menurun 3-4 jam sekali
secara berkala.
2. Vasokonstriksi 3. Monitor kadar
Gejala dan
perifer menurun elektrolit.
Tanda Minor :
3. Takikardi 4. Monitor haluaran
a. Kulit merah. menurun urin.
b. Kejang. 4. Suhu tubuh 5. Basahi dan kipasi
c. Takikardi. membaik permukaan tubuh.
d. Takipnea. 5. Suhu kulit 6. Lakukan
e. Kulit terasa membaik pendinginan
hangat. 6. Pengisian kapiler eksternal misalnya
membaik dengan mematikan
lampu.
7. Anjurkan ibu untuk
memberikan minum
yang adekuat pada
bayi (ASI).
5. Menyusui Tidak Setelah dilakukan Edukasi Menyusui
Efektif tindakan keperawatan
diharapkan status 1. Identifikasi
kesiapan dan
menyusui membaik
kemampuan
Gejala dan dengan kriteria hasil : menerima
Tanda Mayor : 1. Perlekatan bayi informasi.
pada payudara ibu 2. Identifikasi tujuan
a. Kelelahan meningkat. atau keinginan
maternal. 2. Miksi bayi lebih menyusui.
b. Kecemasan dari 8 kali/24 jam. 3. Sediakan materi
maternal. 3. Berat badan bayi dan media
c. Bayi tidak meningkat. pendidikan
mampu 4. Suplai ASI kesehatan.
melekat pada adekuat 4. Berikan
payudara ibu. meningkat. kesempatan untuk
d. BAK bayi 5. Pancaran ASI bertanya.
kurang dari 8 meningkat. 5. Dukung ibu
kali dalam 24 6. Kepercayaan diri meningkatkan
jam. ibu meningkat. kepercayaan diri
7. Bayi tidur setelah dalam menyusui.
menyusu. 6. Libatkan sistem
8. Payudara ibu pendukung : suami,
kosong setelah keluarga, tenaga
Gejala dan menyusui. kesehatan, dan
Tanda Minor : 9. Intake bayi masyarakat.
a. Intake bayi meningkat. 7. Berikan konseling
tidak 10. Hisapan bayi menyusui.
adekuat. meningkat. 8. Jelaskan manfaat
b. Bayi 11. Kecemasan menyusui bagi ibu
menghisap maternal dan bayi.
tidak terus menurun. 9. Ajarkan 4 (empat)
menerus. posisi menyusui
c. Bayi dan perlekatan
menangis (lacth on) dengan
saat disusui. benar.
d. Menolak 10. Ajarkan perawatan
untuk payudara
menghisap. postpartum.

Sumber :SDKI, SIKI, SLKI


DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Niwang.(2016).Patologi dan Patofisiologi Kebidanan.Yogyakarta:Nuha


Medika

Maryunani,Anik dan Eka Puspita Sari.(2017).Asuhan Kegawatdaruratan


Maternal dan Neonatal.Jakarta:CV Trans Ino Media

Bernstein,Daniel dan Steven Shelov.(2016).Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:EGC

Maternity,Dainty,dkk.(2016).Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita, & Anak


Prasekolah. Jakarta:Penerbit ANDI

Tando,Naomy Marie.(2016).Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi & Anak


Balita.Jakarta:EGC

Rosdahl, Caroline Bunker dan Mary T Kowalski.(2017).Buku Ajar Keperawatan


Dasar Edisi 10.Jakarta:EGC

Luthfiyyah.(2017).Insiden Hiperbilirubinemia.Diakses dari :


http://repository.unimus.ac.id/1217/7/bab%20I.pdf

Grace dan Lina. (2019). Penggunaan Billy Blanket Pada Neonatus Dalam
Menurunkan Kadar Bilirubin. Faletehan Health Journal, 6 (3) (2019)
106-110. Diakses dari:
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id/index.php/FHJ/article/view/83/36

Ratih Dewi Puspitosari, Sumarno, & Budi Susatia. (2013). Pengaruh paparan sinar
matahari pagi terhadap penurunan tanda ikterus pada ikterus neonatorum
fisiologis. Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. XXII, No. 3, Desember
2006. Diakses dari :
https://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/view/308

Jayanti, Dwi Sinta. (2018). Pemberian Asi Eksklusif dan Terapi Sinar Matahari
Pagi untuk Pencegahan Ikterus Neonatorum pada Bayi usia 2-7 hari di
PBM Hariyati Sugihwaras Adimulyo,Kebumen. Karya Tulis Ilmiah
thesis. STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG. Diakses dari :
http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/955/1/SINTA%20DWI%20JAYANT
I%20NIM.%20B1501311%20%281%29.pdf

Republika.(2015).ASI Eksklusif Bantu Bayi Atasi Sakit Kuning. Diakses dari :


http://m.republika.co.id/amp/ntcrwx359

Anda mungkin juga menyukai