Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS DATA

KEUANGAN
DAERAH
KOTA BATAM,
KEPULAUAN RIAU TAHUN
2012 - 2016

Gambaran Umum Wilayah Kota Batam


Kota Batam secara geografis mempunyai
letak yang sangat strategis, terletak di
jalur pelayaran dunia internasional.
Kota Batam terletak antara 00 25 29 10
15 00 Lintang Utara dan 1030 34 35
1040 26 04 Bujur Timur dengan total
wilayah darat dan wilayah laut seluas
3.990,00 Km2 dan berbatasan dengan
Sebelah
Malaysia

Utara

Singapura

dan

Sebelah Selatan: Kabupaten Lingga


Sebelah Barat : Kabupaten Karimun
dan Laut Internasional
Sebelah Timur : Kabupaten Bintan dan
Kota Tanjung Pinang

Piramida Penduduk Tahun 2010


Struktur Penduduk Kota Batam Menurut Kelompok Umur Tahun 2010

Jumlah penduduk terbanyak berada


pada usia 20 34 tahun dan
penduduk berusia 0 4 tahun.
Penduduk berusia di atas 34 tahun
jumlahnya terus menurun.
Tingkat kelahiran cukup tinggi karena
banyaknya jumlah penduduk berusia
balita dan pertumbuhan penduduk
terus terjadi.
Kota Batam memiliki jumlah
penduduk produktif yang tinggi,
sehingga tingkat ketergantungannya
rendah.

(910) 800
(1,030) 1,041

75 tahun +
70-74 tahun

(1,669) 1,864
(2,833) 3,457

65-69 tahun
60-64 tahun
55-59 tahun

(4,773)

50-54 tahun

(7,552)

6,070
10,062

(11,915)

45-49 tahun
40-44 tahun

41,054

(48,990)

30-34 tahun
25-29 tahun

(58,958)

20-24 tahun

(58,968)
(27,290)

10-14 tahun

(25,891)

0-4 tahun
(100,000)

53,477
58,400

15-19 tahun
5-9 tahun

Perempuan

28,440

(34,730)

35-39 tahun

Laki-Laki

16,865

(20,713)

48,335
24,293
25,636

(38,049)

41,556

(46,526)
(50,000)

49,873
50,000
100,000

TREND
APBD
Tren APBD Kota Batam selalu
meningkat pada setiap tahunnya,
dengan nilai pertambahan
pendapatan rata-rata 25% pada tiap
tahunnya.
Peningkatan pendapatan daerah juga
diiringi dengan peningkatan belanja
daerah yang mengakibatkan defisit
pada setiap tahun sehingga
pembiayaan netto juga ikut
bertambah.

Rp2,750,000,000,000.00
Rp2,500,000,000,000.00
Rp2,250,000,000,000.00
Rp2,000,000,000,000.00
Rp1,750,000,000,000.00
Rp1,500,000,000,000.00

Pendapatan

Rp1,250,000,000,000.00

Belanja

Rp1,000,000,000,000.00

Surplus/Defisit
Pendapatan Netto

Rp750,000,000,000.00
Rp500,000,000,000.00
Rp250,000,000,000.00
Rp2012
Rp(250,000,000,000.00)
Rp(500,000,000,000.00)

2013

2014

2015

Analisis Pendapatan Daerah

Rasio Pajak (Tax Ratio)

Rasio pajak di Kota Batam bernilai


sangat kecil. Hal ini mengindikasikan
bahwa kontribusi pajak dalam
pendapatan daerah sangat minim di
Kota Batam.
Dari angka ini, dapat disimpulkan
bahwa pelaku industry yang terdapat
di Kota Batam kurang patuh dalam
membayar pajak dan bahwa kinerja
perpajakannya kurang maksimal.

Analisis Pendapatan Daerah


Pajak per Kapita (Tax per Capita)

Diketahui bahwa nilai kontribusi


setiap penduduk pada pajak daerah
di Kota Batam semakin meningkat
setiap tahun.
Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan ekonomi di Kota Batam
dari tahun ke tahun sehingga
pendapatan masyarakat
meningkatan dan pajak yang
dibayarkan pun turut meningkat.

Analisis Pendapatan Daerah

Ruang Fiskal (Fiscal Scape)

Ruang fiskal Kota Batam mengalami


surplus karena memiliki nilai lebih dari
1.
Ruang fiscal Kota batam mengalami
fluktuasi dimana ruang Fiskal Kota
Batam pada tahun 2012 sebesar 44%
turun sebesar 5% di tahun 2013
menjadi 39%.
Pada tahun 2014 naik menjadi 44%
kembali dan turun pada tahun 2015
menjadi 40%, lalu pada tahun 2016
turun menjadi 36%.

Analisis Pendapatan Daerah


Rasio Ketergantungan Daerah
Pada tahun 2012 rasio PAD sebesar 27% dan
Dana Transfer sebesar 70%.
Pada tahun 2013 rasio PAD sebesar 31% dan
Dana Transfer sebesar 64%.
Pada tahun 2014 rasio PAD sebesar 33% dan
Dana Transfer sebesar 54%.
Pada tahun 2015 rasio PAD sebesar 38% dan
Dana Transfer sebesar 47%.
Pada tahun 2016 rasio PAD sebesar 37% dan
Dana Transfer sebesar 42%.
Kota Batam memiliki rasio ketergantungan
daerah yang tinggi, karena rasio PAD Kota
Batam lebih kecil daripada rasio Dana
Transfer.

Analisis Belanja Daerah

Total belanja daerah di Kota Batam dari


tahun
2012
hingga
tahun
2016
mengalami
peningkatan,
dimana
peningkatan belanja daerah tertinggi
terdapat pada tahun 2016 sebesar Rp
2.590.361.396.250,00.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Kota
Batam dari tahun ke tahun sedang
melakukan
banyak
pembangunan
sehingga menyebabkan peningkatan
anggaran
belanja
daerah
akibat
banyaknya dana yang dibutuhkan untuk
program-program
pembangunan
tersebut.

Grafik Perkembangan Total Belanja Daerah


Kota Batam Tahun 2012-2016

Analisis Belanja Daerah


Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja
Daerah

Selama jangka waktu lima terakhir, proporsi


belanja pegawai dan operasional mencapai
sekitar 50% dari Total Belanja Daerah.
Total Belanja Daerah yang didalamnya
terbagi menjadi Belanja Tidak Langsung dan
Belanja Langsung bila dilihat dari porsi
Belanja Pegawai, mengambil porsi yang
cukup besar dalam Total Belanja Daerah.
Belanja Daerah yang dialokasikan untuk
Belanja Pegawai berada di sekitar kisaran
50% dan mengalami penurunan sejak tahun
2014, namun mengalami peningkatan lagi
pada tahun 2016.

Grafik Perkembangan Rasio Belanja Pegawai terhadap Belanja


Daerah
Kota Batam Tahun 2012-2016

Analisis Belanja Daerah


Rasio Belanja Modal terhadap Total Belanja
Daerah

Kota Batam masih memberikan anggaran


untuk Belanja Modal dengan proporsi yang
kecil, yaitu tidak lebih dari 30%.
Dapat dilihat juga bahwa proporsi Belanja
Modal Kota Batam yang tertinggi adalah pada
tahun 2014, yaitu sebesar 29%.
Terjadi peningkatan total belanja modal dari
tahun 2012 hingga tahun 2014, namun sejak
tahun 2015 hingga tahun 2016 anggaran
belanja modal kembali mengalami
penurunan.
Secara berturut turut rasio belanja modal
terhadap total belanja daerah dari tahun
2012 2016 adalah 17%, 20%, 29%, 27%
dan 25%.

Analisis Belanja Daerah


Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk
Rp600,000.00

Seperti daerah-daerah lainnya Kota


Batam hanya mengalokasikan belanja
modalnya
dengan
kisaran
25%
dibandingkan dengan total belanja
daerah.
Setiap tahun (dari tahun 2010-2016)
nilai belanja daerah tiap penduduk
selalu meningkat hingga . mencapai
angka Rp 536.107,76.
Semakin besar nilainya, semakin besar
besar belanja yang dikeluarkan untuk
menyejahterakan satu orang penduduk
Kota Batam

Rp500,000.00

Rp400,000.00

Rp300,000.00

Belanja Modal per Kapita

Rp200,000.00

Rp100,000.00

Rp2012

2013

2014

2015

2016

Analisis Belanja Daerah


Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap Total Belanja
Daerah

Dalam jangka waktu 2012-2016 Kota


Batam selalu mengalokasikan dana
bantuan sosial dalam APBD.

Rp3,000,000,000,000.00
Rp2,500,000,000,000.00
Rp2,000,000,000,000.00

Namun dana belanja bantuan sosial


tersebut mengalami naik turun di setiap
tahunnya.
Secara bertutut-turut, rasio belanja
terhadap banuan sosial dari tahun 20122016 adalah 0,3%, 1,1 %, 0,2 %, dan
0,3%.

Rp1,500,000,000,000.00
Rp1,000,000,000,000.00
Rp500,000,000,000.00
Rp0.00

Belanja Daerah
Belanja Bantuan
Sosial

Analisis Surplus/Defisit dan Pembiayaan Daerah

Surflus/Defisit
Rasio rata-rata defisit terhadap
pendapatan dari grafik diatas selama
5 tahun adalah sebesar 6%.
Rasio defisit terbesar terjadi pada
tahun 2015 yaitu sebesar 9%.
Sedangkan rasio defisit terkecil adalah
berada pada tahun 2012 sebesar 1%.
Hal ini juga menunjukkan bahwa pada
tahun 2015 anggaran belanja Kota
Batam yang semakin besar tidak
dapat ditutupi dengan pembiayaan
daerah.

Analisis Surplus/Defisit dan Pembiayaan Daerah

Pembiayaan Daerah
Penerimaan pembiayaan Kota Batam
selama kurun waktu 2012-2016
didominasi oleh penerimaan yang
bersumber dari SiLPA tahun anggaran
sebelumnya.
Jumlah SiLPA yang paling tinggi terjadi
pada tahun 2015 dan yang terendah
terjadi pada tahun 2012.
Besarnya porsi SiLPA dalam
penerimaan pembiayaan APBD Kota
Batam selama periode 2012-2015
mengindikasikan bahwa adanya
penyerapan belanja pada tahun
anggaran sebelumnya kurang optimal,
sehingga terdapat sisa anggaran yang
terakumulasi dalam SiLPA.

Analisis Surplus/Defisit dan Pembiayaan Daerah


Pengeluaran Pembiayaan APBD Batam tahun
2012 - 2016

Pengeluaran pembiayaan pada


tahun 2012 terdiri atas 3 sektor
yaitu penyertaan modal investasi,
pembayaran pokok utang dan
pemberian pinjaman daerah dan
obligasi daerah

Analisis Surplus/Defisit dan Pembiayaan Daerah


Rasio SiLPA terhadap Belanja Kota Batam Tahun 2012 - 2016

Rata-rata rasio SiLPA terhadap belanja


APBD adalah 6%.
Rasio tertinggi berada pada tahun
2015 yaitu sebesar 8% dan yang
terendah berada pada tahun 2012
sebesar 1%.
Apabila terdapat nilai SiLPA yang
sangat besar, hal ini mengindikasikan
adanya
kekurangcermatan
dalam
penyusunan
anggaran
maupun
terdapat
kendala
dalam
pelaksanaannya,
sehingga
penyerapan
anggaran
belanja
berpotensi kurang optimal.

Analisis Surplus/Defisit dan Pembiayaan Daerah

Penerimaan Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman

Rata-rata rasio penerimaan pembiayaan


dari
pinjaman
daerah
terhadap
pendapatan daerah adalah 0,8%. Rasio
pada tahun 2012-2015 memiliki besaran
yang sama yaitu 1% sedangkan rasio
pada tahun 2016 adalah 0%.
Dari grafik disamping dapat diketahui
bahwa dalam kurun waktu 2012-2016,
Kota Batam belum pernah mencapai
batas
maksimal
pinjaman
sesuai
dengan
ketentuan
PMK
Nomor
125/PMK.07/2013 kapasitas fiskal yaitu
3,5% dari pendapatan daerah, sehingga
dapat dikatakan defisit masih dapat
dilalui oleh pinjaman daerah.

Analisis Proyeksi APBD Kota Batam tahun 2017-2020


Uraian APBD

Tahun 2017

Tahun 2018

Tahun 2019

Tahun 2020

Pendapatan

Rp 2,225,000,000,000

Rp 2,524,000,000,000

Rp 2,841,000,000,000

Rp 3,176,000,000,000

1. Pendapatan Asli

Rp 841,050,000,000

Rp 965,177,600,000

Rp 1,071,625,200,000

Rp 1,150,982,400,000

Daerah (PAD)
1. Dana

Rp 922,485,000,000

Rp 910,659,200,000

Rp 894,915,000,000

Rp 880,387,200,000

Perimbangan
1. Lain-lain

Rp 461,465,000,000

Rp 648,163,200,000

Rp 874,459,800,000

Rp 1,144,630,400,000

Sah
Belanja

Rp 2,450,000,000,000

Rp 2,728,000,000,000

Rp 3,002,000,000,000

Rp 3,272,000,000,000

1. Belanja Tidak

Rp 799,190,000,000

Rp 914,152,800,000

Rp 1,074,115,600,000

Rp 1,290,149,600,000

Langsung
1. Belanja Langsung

Rp 1,650,810,000,000

Rp 1,813,847,200,000

Rp 1,927,884,400,000

Rp 1,981,850,400,000

Surplus/Defisit

Rp (225,000,000,000)

Rp (204,000,000,000)

Rp (161,000,000,000)

Rp (96,000,000,000)

Pembiayaan

1. Penerimaan

Rp 170,000,000,000

Rp 160,000,000,000

Rp 130,000,000,000

Rp 80,000,000,000

Pembiayaan
1. Pengeluaran

Rp 7,000,000,000

Rp 4,880,000,000

Rp 2,920,000,000

Rp 1,120,000,000

Pembiayaan
Pembiayaan Netto

Rp 163,000,000,000

Rp 155,120,000,000

Rp 127,080,000,000

Rp 78,880,000,000

SILPA/SIKPA

- Rp 62,000,000,000

- Rp 48,880,000,000

- Rp 33,920,000,000

- Rp 17,120,000,000

Pendapatan yang

Penjelasan Proyeksi

Selama kurun waktu 2017-2020, APBD


Kota Batam menunjukkan bahwa nilai
belanja APBD lebih besar dari nilai
pendapatannya.
Hal ini menunjukkan bahwa selama kurun
4 tahun tersebut Kota Batam mengalami
keadaan defisit.
Kontribusi sektor pendapatan yang
terbesar adalah dana perimbangan,
sementara pada tahun 2020, kontribusi
yang terbesar adalah pendapatan asli
daerah dan lain-lain pendapatan yang sah
yaitu sebesar 36%.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun
2020, Kota Batam mampu meningkatkan
PAD yang didorong oleh adanya kebijakan
penguatan kewenangan perpajakan
daerah, pertumbuhan ekonomi, upaya

Nilai SILPA/SIKPA selama 4 tahun


memiliki nilai negatif.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
sisa kurang dalam perhitungan
anggaran tahun berkenaan.
Nilai SIKPA mengindikasikan bahwa
terdapat kekurangcermatan
pemerintah kota dalam penyusunan
anggaran maupun terdapat kendala
dalam pelaksanaanya, sehingga
penyerapan anggaran belanja
berpotensi kurang optimal.

Kontribusi sektor pajak dalam pendapatan APBD Kota Batam sangat minim, padahal
Kesimpulan
Kota Batam merupakan kota dengan potensi industri yang besar
Rasio ketergantungan Kota Batam terhadap pendapatan APBD sangat tinggi yang
ditunjukkan dengan rasio PAD Kota Batam lebih kecil daripada rasio Dana Transfer.
Belanja daerah dalam APBD yang dialokasikan untuk Belanja pegawai berada di kisaran
50%.
Selama kurun waktu 2012-2016, APBD Kota Batam mengalami defisit.
Nilai SILPA dalam kurun waktu 2012-2016 Kota Batam menunjukkan nilai Rp 0,- yang
artinya penerimaan pembiayaan dapat menutupi defisit anggaran yang terjadi di Kota
Batam.
Penerimaan pembiayaan APBD Kota Batam selama tahun 2012-2016 didominasi oleh
sisa pembiayaan dari tahun anggaran sebelumnya yang menunjukkan bahwa adanya
penyerapan belanja pada tahun anggaran sebelumnya kurang optimal, sehingga
terdapat sisa anggaran yang terakumulasi dalam SiLPA.
Adanya sisa kurang perhitungan anggaran atau SIKPA yang mengindikasikan bahwa
terdapat kekurangcermatan pemerintah kota dalam penyusunan anggaran

Rekomendasi

Pemerintah Kota Batam diharapkan


melakukan pengendalian pengeluaran
daerah untuk pembiayaan belanja khususnya
belanja pegawai sehingga dapat dialokasikan
untuk mendanai program pembangunan
daerah yang dapat mendukung pemenuhan
layanan publik.
Pemerintah Kota juga harus melakukan
pengendalian pengeluaran daerah untuk
alokasi pembiayaan belanja langsung karena
jumlah penduduk Kota Batam yang akan
cenderung meningkat setiap tahunnya,
sehingga kebutuhan pendanaan
pembangunan daerah juga harus
ditingkatkan.

SEKIAN
&
TERIMA
KASIH