Anda di halaman 1dari 29

KEJANG PADA NEONATUS

M. Sholeh Kosim
Sub Bagian Perinatologi
FK Undip/RS.Dr.Kariadi
Semarang

Kejang
Mekanisme

dasar :

Merupakan

akibat dari loncatan muatan


listrik yang berlebihan pada otak

Masalah

pada neonatus ---menyebabkan kegawatan


Mempunyai dampak yang kurang baik
Dapat merupakan tanda atau gejala dari
1 masalah atau lebih

Insiden:

0.5% dari populasi neonatus

Etiologi
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Ensefalopati iskemik hipoksik = Hypoxic


Ischemic Encephalopathy (HIE)
Perdarahan Intrakranial
Metabolik
Infeksi
Gangguan perkembangan di otak
Kejang yang berhubungan dg obat
Faktor keluarga

A.

Ensefalopati Iskemik hipoksik

penyebab utama kejang pada neonatus

terjadi dalam waktu 72 jam pertama

biasanya terjadi selama periode intrapartum

dijumpai pada periode neonatal (60-65%).

dapat terjadi pada bayi cukup bulan maupun


bayi kurang bulan

B. Perdarahan intrakranial

Sulit untuk menentukan sebagai satu penyebab


Biasa nya berhubungan dengan penyebab yang
lain
1.
2.
3.

Perdarahan Sub arachnoid primer


Perdarahan periventrikular atau
intraventrikular
Perdarahan Sub dural

C. Metabolik
Hipoglikemia
Hipokalsemia /hipomagnesemia
Hiponatremia
Hipernatremia
Hiperammoniemia ---- asidosis
Inborn error of metabolism

D. Infeksi

Infeksi bakteri dan non bakteri


Terjadi pada 5-10% dari kejang pada neonatus
1. Infeksi akut :

Infeksi bakteri atau virus pada SSP dengan atau tanpa


keadaan sepsis

2. Infeksi kronik :
Infeksi intrauterin yang berlangsung lama :
toxoplasmosis, rubella,cytomegalovirus,
herpes and others (TORCH)

E. Gangguan perkembangan otak :


mungkin disertai dengan

dismorfi
hidrosephalus
mikrosefalus
dll

D. Kejang yang berhubungan dengan


:
1. Efek withdrawal
2. Kesalahan jalur pemeberian :
Anestesi lokal karena anastesi blok pada
ibu ------- masuk ke dalam sirkulasi fetal

Diagnosis/ Penilaian
A.

Riwayat prenatal,natal dan keluarga


Faktor risiko :
Episode hipoksik
Trauma persalinan
KPD ( Ketuban Pecah Dini)

Waktu timbulnya kejang


Mungkin

berhubungan dengan etiologi

B. Gambaran Klinik :
Sangat berbeda dg manifestasi pada
anak.
5 jenis utama :
1.
2.
3.
4.
5.

Subtle
Tonik
Klonik
Mioclonik
Jitterness

Subtle

50% kejang pada neonatus


Bayi Cukup bulan atau Bayi Kurang Bulan
Sering terjadi bersamaan dengan jenis kejang yang lain.
a.

Gerakan alis mendatar atau naik turun


(predominan pada Bayi Cukup Bulan)
b. Gerakan alis berulang
c. Gerakan mata berulang dengan fiksasi
bolamata (predominan pada bayi kurang
bulan)

Subtle (lanjutan)
d. Gerakan mulut dan pipi : menghisap,
mengeluarkan air liur yang berlebihan, gerakan
lidah
e. Gerakan ekstrimitas yang berulang : seperti
berenang, mengayuh sepeda, mengayuh dayung
f. Perubahan pernapasan : apnea
g. Ketidak stabilan vasomotor

Tonik
a.

Umum

Ditandai dengan fleksi atau ekstensi leher,


badan atau ekstrimitas atas
Biasanya disertai dengan ekstensi ekstrimitas
bawah
Lebih sering terjadi pada BBLR

b.

Fokal:

Gerakan

asimetris dan berulang pada tubuh


atau ekstrimitas

Mioklonik

A. Fokal :
Kontraksi

tunggal dan menetap dari otot fleksor


ekstrimitas atas
B. Multifokal :

c.

Gerakan yang tidak sinkron dan menetap


Melibatkan sebagian besar anggota tubuh

Umum :

Gerakan

fleksi tunggal atau lebih dari kepala


atau tubuh
sering dihubungkan dengan fleksi atau ekstensi
ekstremitas

Dijumpai selama periode tidur pada Bayi Cukup

Klonik
A.Fokal:

Gerakan terbatas pada satu atau kedua ekstrimitas


pada salah satu sisi tubuh
dapat diikuti atau tanpa gerakan wajah

gerakan lambat dan ritmik.

B. Multifokal:
Gerakan satu ekstremitas
Pindah ke ekstremitas lain
Sering dijumpai pad BBLR

Jitteriness vs Kejang

Jitteriness
tidak disertai dengan gerakan abnormal pada
mata
mudah terjadi akibat rangsangan
ditandai dengan gerakan seperti tremor
dapat dihentikan dengan menfleksikan
ekstremitas yang terlibat
tidak ada perubahan pada tanda vital dan
saturasi oksigen

Kejang
Disertai

dengan gerakan abnormal


pada mata
Tidak dipengaruhi oleh rangsangan
Ditandai dengan gerakan klonik
Dapat dihentikan dengan
memfleksikan ekstremitas yang terlibat
Sering disertai dengan perubahan
tanda vital dan saturasi oksigen

Pemeriksaan Fisik
1. Ukur lingkar kepala secara serial
2. Transiluminasi kepala
3. Funduskopi mata
4. Pemeriksaan neurologik
5. Pantau perubahan tanda vital
( jantung/paru )
6. Evaluasi atau nilai keadaan plasenta

Pemeriksaan penunjang
1.

Kadar Glukosa darah.


2. Laboratorium darah yang lain : Analisa
Gas Darah, Elektrolit , BUN , dll
3. Septic Work Up :
Pungsi

Lumbal

Kultur

4.

USG< CT< MRI Kepala (bila ada fasilitas )


5. Electroencephalogram (EEG)
6. Skrining obat

Pengelolaan

Medikamentosa
Terapi suportip
Konsultasi dg Sub Bagian Syaraf
Anak

Medikamentosa
Manajemen

awal
Potong kejang :

1. Fenobarbital
a.

Dosis awal 20/kg intravena


Diberikan pelan dalam 5 menit
b. Pantau depresi napas dan tekanan darah
c. Dosis rumat: 3-5 mg/kg/ hari dibagi dalam
2 dosis
d. Kadar terapeutik 15-45 ugm/ml diukur
satu jam sesudah terapi intravena atau 2-4
jam sesuadah terapi oral

2. Fenitoin (Dilantin):

Diberikan hanya bila tidak terjadi respons adekuat


dengan fenobarbital
a. Dosis awal 15-20 mg/kg IV pelan (status
epilepticus)
b. Bilas dengan larutah garam fisiologis sebelum
dan sesudah pemberian, karena sangat iritatip.
c. Pantau terjadinya bradikardia, aritmia dan
hipotensi selama pemberian
d. Dosis Rumat Maintenance : diberika IV : 5-8
mg/kg/hari dibagi 2 dosis ( oral tidak efektip)
e.Kadar terapeutik dalam darah ( Fenitoin bebas
dan terikat ) 12-20 mg/L or 1-2mg/L ( hanya Fenitoin
bebas )

3. Lorazepam (Ativan):
Biasanya

diberikan bila tidak ada


respons terhadap fenobarbital maupun
Fenitoin
a.

Dosis efektip : 0.05 mg/kg-0.10 mg/kg, iv


dapat ditambahkan 0.05mg/kg beberapa
menit kemudian
b. Dapat mencapai otak dengan cepat dan
menimbulkan efek antikonvulsan dalam
waktu kurang dari 5 menit
c. Pantau kemungkinan depresi pernapasan
dan hipotensi

Terapi Suportip
1. Pantuan ketat :
Pasang monitor dan oksimeter.
2. Pasang jalur intravena (IV)
Infus dektrosa (untuk hipoglikemia dan
Cairan rumat dan elektrolit )
3. Pengelolaan jalan napas dan terapi oksigen ,
bila diperlukan
4. Koreksi gangguan metabolik