Anda di halaman 1dari 9

HIPERSENSITIVITAS IV

DELAYED TYPE
HIPERSENSITIVITY
Hipersensitivitas Tipe IV
Reaksi tipe IV disebut juga reaksi
hipersensitivitas lambat, cell mediatif
immunity (CMI), Delayed Type
Hypersensitivity (DTH) atau reaksi
tuberkulin yang timbul lebih dari 24 jam
setelah tubuh terpajan dengan antigen.
Reaksi terjadi karena sel T yang sudah
disensitasi tersebut, sel T dengan reseptor
spesifik pada permukaannya akan
dirangsang oleh antigen yang sesuai dan
mengeluarkan zat disebut limfokin.
Limfosit yang terangsang mengalami
transformasi menjadi besar seperti limfoblas
yang mampu merusak sel target yang
mempunyai reseptor di permukaannya
sehingga dapat terjadi kerusakan jaringan.
Reaksi ini dimulai dengan sel T spesifik yang
tersensitisasi dan meliputi :
1) Hipersensitivitas tipe lambat (delayed
type hypersensitivity/DTH)
2) Sitoksisitas yang diperantarai sel T
1) Hipersensitivitas tipe lambat (delayed type
hypersensitivity/DTH)

Merupakan bentuk pokok dari respons


terhadap Mycobacterium tuberculosis, fung,
protozoa, dan parasit serta sensitivitas kulit
melalui kontak.
DTH juga berperan pada penolakan jaringan.
Dengan diperantarai oleh CD4+, sel T-helper
1 (Th1) mengeluarkan sitotoksik spesifik
setelah bertemu dengan antigen yang
berkaitan dengan major histocompatibility
complex (MHC) kelas 1.
Sitokin seperti IFN-, IL-2, TNF-
memperantarai terjadinya jejas terutama
dengan rekrutmen dan mengaktifkan monosit
dan makrofag yang tidak spesifik terhadap
antigen tertentu.
Terjadilah jejas khas yang cukup berarti.
Pada antigen persisten dan tidak didegradasi,
infiltrasi sel T dan makrofag yang bersifat dini
dan non-spesifik digantikan oleh sekumpulan
makrofag yang berubah menjadi sel epiteloid
dan membentuk granuloma fokal.
2. Sitoksisitas yang
diperantarai sel T
Terbentuknya CD8+ sel T sitotoksik (cytotoxic T
lymphocytes/CTL) merupakan pola pokok reaksi
terhadap infeksi virus dan sel tumor.
CTL berperan juga pada penolakan transplantasi.
CTL mengenal antigen terproses dalam kaitan
dengan MHC kelas I.
Penyakit yang ditimbulkan hipersensitivitas
selular cenderung terbatas kepada beberapa
organ saja dan biasanya tidak sistemik.
Pada penyakit virus hepatitis, virus sendiri tidak
sitopatik oleh respon CTL terhadap hepatosit
yang terinfeksi.
Sel CD8+ yang spesifik untuk
antigen atau sel autologus dapat
membunuh sel dengan langsung.
Pada banyak penyakit autoimun
yang terjadi melalui mekanisme
selular, biasanya ditemukan baik sel
CD4+ maupun CD8+ spesifik untuk
self-antigen dan kedua jenis sel
tersebut dapat menimbulkan
kerusakan.
Reaksi hipersensitif tipe IV merupakan T cell-
mediated, dan dapat dibagi lagi menjadi 3 grup,
yaitu:
kerusakan jaringan, yang disebabkan oleh
aktivasi makrofag olah sel Th1, yang
menyebabkan respons inflamasi;
kerusakan disebabkan oleh aktivasi sel Th2
renspons inflamasi dimana eosinofil
merupakan predominan;
kerusakan disebabkan langsung oleh sel T
(CTL).