Anda di halaman 1dari 34

Indian Dermatol Online J. 2016 Mar-Apr; 7(2): 7786.

doi: 10.4103/2229-5178.178099
PMCID: PMC4804599

Pembimbing : dr. Juliana, SpKK

Disusun oleh :
Regina Caecilia Setiawan 112015156
Yovita Indriana - 112015338
PENDAHULUAN

Dermatofit jamur yang menginvasi dan berkembang biak di
dalam jaringan keratin infeksi.
Dikelompokkan menjadi 3 :
Trichophyton ( kulit, rambut, dan kuku)
Epidermophyton (kulit dan kuku)
Microsporum (kulit dan rambut).
Berdasarkan cara penularan anthropophillic, zoophilic, dan
geophilic.
Berdasarkan lokasi tinea kapitis, tinea faciei, tinea barbae, tinea
corporis, tinea manus, tinea kruris, tinea pedis, dan tinea unguium.
Varian klinis lainnya tinea imbricata, tinea pseudoimbricata,
dan Majocchi granuloma.

Prevalensi dermatofitosis kulit meningkat di seluruh dunia
daerah tropis
Panduan tatalaksana tinea corporis dan cruris (American
Academy of Dermatology)
British Association of Dermatology dan di British Medical Journal
telah banyak berfokus pada tinea capitis dan tinea unguium.
Pembaharuan tinjauan Cochrane tentang penggunaan terapi
topikal pada tinea corporis, cruris, dan pedis, dan sedikit
pada terapi oral
PERUBAHAN EPIDEMIOLOGI

DERMATOFITOSIS
Dermatofit ditemui di seluruh dunia dan negara-negara
berkembang, terutama di negara tropis dan subtropis.
Faktor lain seperti meningkatnya urbanisasi termasuk penggunaan
alas kaki oklusif dan pakaian ketat prevalensi lebih tinggi.
Penelitian epidemiologi mengenai infeksi dermatofitik dari berbagai
daerah di India meningkatnya prevalensi dermatofitosis kulit
Chennai dan Rajasthan T. rubrum pada tinea corporis dan cruris.
Lucknow dan New Delhi T. mentagrophytes dan M. audouinii

PATOGENISIS
DERMATOFITOSIS
Defek/cacat spesifik pada imunitas
Tokelau T. concentricum bawaan dan adaptif.
Defensin beta 4 yang rendah
Mannans yang diproduksi oleh
DM, limfoma, immunocompromised,
T. rubrum penghambatan sindrom Cushing, usia tua


limfosit. Gg fs sel Th17 penurunan produksi
interleukin-17 (IL-17), IL-22 infeksi
persisten.

Agen Host

Lingkungan
Area tubuh yang rentan
intertriginosa (web space dan
selangkangan)
Daerah lembab dan suhu tinggi
Pakaian
Aktifitas sehari-hari
Pencernaan/ penghancuran
jaringan keratin

Merusak sel-sel epitel kulit


Menginisiasi nucleus attack

Inokulasi Penetrasi (protease, Stimulus


ke dalam serine-subtilisin, dan imunogenik
kulit host fungolysin) yang kuat

Faktor risiko
(Agen, host,
Respon imun
environment)
Imunologi dermatofitosis

Respon imun bawaan

Respon imun adaptif


- Respon imun humoral
- Respon imun yg dimediasi sel

Respon imun non spesifik


Respon imun bawaan
Dectin 1 Dectin 2

TNF- alpha TLR-2

IL-17 TLR-4

IL-16 Respon Imun


IL-10 Adaptif

Trichophytin IL-8 neutrophillic chemo-attractant


poten.
Respons imun adaptif
Tidak protektif.
Kadar IgE spesifik dan IgG4 yang tinggi
Imunitas dermatofitosis kronis pada tes IH untuk
Trichophyton.
humoral IL-4 yang diproduksi oleh sel Th2 IgG4
dan IgE.

Imunitas Dermatofitosis DTH.


Respon inflamasi akut DTH tinggi
dimediasi Infeksi kronis IH tinggi dan DTH rendah.

sel
Respons nonspesifik

Transferin tak jenuh inhibitor dermatofit dengan
mengikat hifanya.
Pityrosporum komensal membantu lipolisis dan
meningkatkan pool asam lemak yang tersedia untuk
menghambat pertumbuhan jamur.

DIAGNOSIS
DERMATOFITOSIS
Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan mikroskopik langsung:
Pemeriksaan spesimen kulit dengan
KOH 10-20%
Gambaran positif ditandai dengan
adanya filamen hifa refraktil,
panjang, halus, bergelombang,
bercabang, dan septa dengan atau
tanpa arthroconidiospore.
Hasil negatif palsu terlihat pada 15%
kasus.
Pewarnaan fluoresensi dengan
brightener optik (diaminostilbene)
metode paling sensitif (skuama
kulit,kuku dan rambut)
Kultur jamur :
Sabouraud dextrose agar (SDA, pepton
4%, glukosa 1%, agar, air) media


isolasi yang paling umum digunakan
Perkembangan koloni 7-14 hari.
SDA yang dimodifikasi ( + gentamicin,
chloramphenicol dan cycloheximide)
lebih selektif untuk dermatofit

Dermatophyte Test Medium alternatif


media isolasi yang mengandung indikator
pH phenol red.
Media ini diinkubasi 5-14 hari.
Dermatofita memanfaatkan protein
yang menghasilkan banyak ion
amonium dan lingkungan alkalin
kuning menjadi merah terang.
Uji kerentanan antijamur

Metode mikrodilusi:
Modifikasi Clinical and Laboratory Standards Institute M38-A2.
Konsentrasi akhir terbinafin dan itrakonazol yang digunakan adalah
0,06-32,0 g/ml dan untuk flukonazol, 0,13-6,4,0 g/ml.
Kultur dengan SDA 7 hari pada suhu 35C.
Normosaline sterile ditambahkan ke agar tsb kultur
diseka/diswab dengan aplikator Suspensi ini dipindahkan ke
tabung sentrifus steril, dan volumenya disesuaikan sampai 5 ml
dengan NaCl sterile.
Suspensi dihitung dg hemacytometer dan diencerkan dalam media
RPMI 1640 sampai konsentrasi yang diinginkan.
Piringan mikrodilusi diinkubasi pada suhu 35C dan dibaca setelah 4
hari inkubasi.
Konsentrasi inhibitor minimum konsentrasi dimana pertumbuhan
organisme akan terhambat sebesar 80% dibandingkan dengan
kontrol.
Penentuan Minimum Fungicidal Concentration (MFC):
MFC didefinisikan sebagai konsentrasi obat terendah
dimana tidak ada pertumbuhan jamur atau koloni yang
terlihat.
100 l aliquot dikeluarkan dari sumur uji yang tidak
menunjukkan pertumbuhan yang nyata (dapat terlihat)
pada akhir inkubasi dilapisi ke piringan SDA.
Piringan diinkubasi pada suhu 30C selama 7 hari.
Histopatologi
KOH sering negatif.
Granuloma Majocchi pemeriksaan
Pewarnaan khusus yang paling sering digunakan adalah
periodic acid-Schiff (PAS), Gomori methanamine silver,
Pewarnaan hematoxylin dan eosin.
Dermoskopi

Rambut comma, yang sedikit melengkung, batang rambut
patah, dan potongan corkscrew telah dijelaskan sebagai
penanda tinea kapitis.
Rambut rontok dan dystrophic juga terlihat.
PCR dan amplifikasi berbasis
asam nukleat

Uniplex PCR deteksi
dermatofit langsung dalam
sampel klinis.
Multiplex PCR deteksi
jamur pada dermatofit.
Reflectance confocal microscopy

Matrix-assisted laser desorption
ionization-time of flight mass
spectrometry (MALDI-TOF MS).
64 strain dermatofit, 24 jam.
Pencitraan in vivo epidermis dan
dermis dgn resolusi tingkat sel dan
dapat digunakan untuk mendeteksi
jamur pd kulit dan infeksi parasit.
Keuntungan non-invasif dan
(Friedman dkk) sensitivitas 100%
Pengobatan Dermatofitosis
Kutaneus

Non- farmakologis: hindari
kelembaban dan berbagi pakaian.
Terapi farmakologis: topikal dan
sistemik

Indikasi Antijamur

Sistemik Topikal
Tinea capitis
Tinea yang mengenai kuku Tinea cruris
Tinea yang Tinea corporis
melibatkan/mengenai lebih dari
satu wilayah tubuh secara Tinea pedis
bersamaan, misalnya tinea
cruris dan corporis, atau tinea
cruris dan tinea pedis.
Tinea corporis dimana lesinya
sangat luas.
Tinea pedis saat ada keterlibatan
yang luas dari telapak kaki,
tumit, atau dorsum kaki atau
bila ada blister/lepuh yang
berulang dan merepotkan.
Pembuktian Efektivitas
Topikal
Antijamur
Rotta dkk. Cochrane.
Meta-analisis => 14 menunjukkan bahwa
antijamur topikal pada 65 pengobatan individual
Random Control Trial (RCT) dengan terbinafine dan
=> butenafine dan naftifine efektif dengan
terbinafine lebih unggul sedikit efek samping
daripada clotrimazole.
Moriarty dkk.

mendapatkan alasan yang menyebebkan kegagalan
terapi, yaitu;
- ketidakpatuhan terhadap pengobatan
- infeksi ulang dari kontak dekat
- resistansi obat
- kesalahan diagnosa
- infeksi dengan jenis yang tidak biasa/jarang

Antijamur topikal

terbaru
Luliconazole : tinea pedis, tinea korporis, tinea kruris
Econazole nitrate topical foam: tinea pedis
Amphotericine B gel: efektif untuk antijamur
T.rubrum
kombinasi isoconazole topikal dan diflucotolone:
tinea korporis
Pembuktian Efektivitas
Antijamur
Oral
Terbinafine vs Itraconazole vs
Griseolfulvin Griseofulvin
Tinea korporis itraconazole (100
2 kelompok mg/hari) dan
menggunakan terapi griseofulvin (500
dengan dosis yang sama
(500mg/hari selama 6 mg/hari)
minggu) Itraconazole lebih
Tingkat kesembuhan unggul dalam
dengan terbinafine 87% penyembuhan
dan griseofulvin 73%
Antijamur Oral

Terapi Antijamur

Lainnya
macrocarpal C, suatu bahan aktif yang diperoleh
dari daun segar Eucalyptus globulus Labill dengan
aksi antijamur terhadap T. mentagrophytes dan T.
rubrum.
Situasi Khusus

Granuloma Majocchi
- Tricophyton rubrum
- Antijamur sistemik: terbinafine dosis 250
mg/hari selama 4-6 minggu, itraconazole 200
mg 2 kali sehari selama 1 minggu - 2 bulan
Tinea imbricate dan pseudoimbricata
- Trichophyton concentricum
- Kombinasi antijamur topikal (agen azole) dan
sistemik (terbinafine 250mg/hari)
Lanjutan..

Terapi antijamur pada imunosupresi dan
kehamilan
- Terbinafine 250mg/hari
Kesimpulan

Pengobatan dermatofitosis kulit semakin sulit, dan para ahli kulit telah
dipaksa untuk berpikir di luar kebijakan konvensional untuk melawan
ancaman ini.
Di antara berbagai pilihan, terbinafine topikal selama 4 minggu
nampaknya merupakan pengobatan pilihan untuk penyakit terbatas/lokal
(tinea corporis/cruris/pedis).
Untuk penyakit yang lebih luas, pilihannya kurang jelas. Terbinafine (250-
500 mg/hari selama 2-6 minggu) dan itraconazole (100-200 mg/hari
selama 2-4 minggu) tampaknya efektif.
Namun, dosis dan durasi pemberian yang tepat yang dapat
menghasilkan penyembuhan mikologi dan mencegah kekambuhan tetap
sulit dipahami.
Tinjauan ini juga menyoroti kesenjangan penelitian yang besar pada
tatalaksana dermatofitosis kulit yang perlu didorong agar dapat
memberikan pengobatan yang lebih baik dan efektif kepada pasien.
RCT yang lebih ketat dibutuhkan saat membandingkan berbagai terapi
antijamur oral untuk memberi gambaran yang jelas mengenai dosis dan
durasi terapi yang tepat.