Anda di halaman 1dari 41

Laporan Kasus

Otitis Eksterna Diffusa Aurikula Sinistra dan Rhinitis Alergi Intermitten


Ringan

Nama : Nur Asmalina Binti Azizan


Nim : 11.2015.456

Pembimbing:

Dr. Wiendyati S.R, Sp.THT-KL

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

RSUD Tarakan Jakarta Pusat

Periode 22 Agustus-24 September 2016

1
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Otitis eksterna adalah radang liang telinga bagian luar bersifat akut maupun kronis
disebabkan oleh bakteri dapat terlokalisir atau difus. Faktor penyebab timbulnya otitis
eksterna ini adalah kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor
ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel
skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk
melalui kulit, inflamasi dan menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada otitis eksterna akut
adalah pseudomonas (41 %), streptococus (22%), staphylococus aureus (15%) dan
bakteroides (11%).1 Istilah otitis eksterna akut meliputi adanya kondisi inflamasi kulit dari
liang telinga bagian luar. 2,3
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga
terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap pembentukan lokal otitis
eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi bakteri patogen yang paling umum
disebabkan oleh pseudomonas, staphylococus dan jamur.4
Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab dan jarang
pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna sangat komplek dan sejak
tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari penyakit ini seperti Branca
(1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan.
Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel
dari liang telinga luar merupakan faktor penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk
(1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat
menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun kronik.
Otitis eksterna akut difusa adalah penyakit yang terutama timbul pada musim panas
dan merupakan bentuk otitis eksterna yang paling umum. Terjadinya kelembaban yang
berlebihan karena berenang atau mandi menambah laserasi kulit liang telinga dan
menciptakan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan bakteri.

2
Maksud Penulis

Laporan ini dibuat untuk memperluas wawasan para pembaca mengenai Otitis
Eksterna Difusa dengan harapan pembaca dapat mengerti dan memahami seluk beluk dan
perjalanan penyakit ini berdarsakan teori dan membandingkannya dengan kasus yang
ditemukan di lapangan.

Tujuan Penulis

Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan
klinik bagian Ilmu Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) FK UKRIDA di RSUD
Tarakan.

3
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Telinga Luar

Gambar 1. Anatomi Telinga

Secara anatomi telinga luar dapat dibagi menjadi aurikula (pinna) dan liang telinga (canalis
acusticus eksternus/CAE). Telinga luar dipisahkan dengan telinga tengah oleh membran timpani.
Aurikula dan 1/3 lateral liang telinga tediri dari kartilago elastis yang secara embrional berasal
dari mesoderm dan sejumlah kecil jaringan subkutan yang ditutupi oleh kulit dan adneksanya.
Hanya lobulus pinna yang tidak memiliki kartilago dan terdapat lemak.
Telinga luar atau pinna merupakan gabungan dari kartilago yang dilapisi kulit. Bentuk
kartilago ini unik dan harus diusahakan untuk mempertahankan bangunan ini karena dapat
menjaga telinga luar dari trauma. Kulit pada permukaan luar daun telinga melekat erat pada
kartilago di bawahnya beserta jaringan ikat dari dermis yang padat membentuk perikondrium.
Sebaliknya, kulit permukaan belakang daun telinga mempunyai lapisan subkutan sejati.
Keadaan daun telinga serta posisi daun telinga yang terbuka merupakan penyebab timbulnya
sebagian besar masalah klinis yang mengenai daun telinga yaitu trauma, kontak langsung dengan
cuaca, dan infeksi.
Kanalis akustikus eksternus dapat dibagi menjadi 2 bagian. Bagian luar, 40% dari KAE
adalah bagian kartilaginosa dan terdapat lapisan tipis jaringan subkutan diantara kulit dan
kartilago. Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal dari bagian tulang, selain itu juga
mengandung folikel rambut yang banyaknya bervariasi tiap individu namun ikut membantu
menciptakan suatu sawar dalam liang telinga. Bagian dalam, 60% dari KAE, adalah bagian

4
osseus terutama dibentuk oleh timpanic ring dan terdapat jaringan lunak yang sangat tipis antara
kulit, periosteum dan tulang.
Anatomi bagian ini sangat unik karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dengan
kulit langsung terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini
sangat peka dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi.
Terdapat penyempitan pada petemuan bagian kartilaginosa dan bagian osseus kanalis akustikus
eksternus yang disebut isthmus. Panjang kanalis akustikus eksternus pada orang dewasa rata-rata
2,5 cm. Karena posisi membran timpani yang miring, maka bagian posterosuperior kanalis
akustikus eksternus lebih pendek 6 mm dari bagian anteroinferior. Kanalis akustikus eksternus
membentuk kurva seperti huruf S arah superior dan posterior dari lateral ke medial. Kanalis
akustikus eksternus juga mengarah ke hidung sehingga pada pemeriksaannya aurikula perlu
ditarik ke superior, lateral dan posterior untuk meluruskan kanalis akustikus eksternus.
Bagian lateral kanalis akustikus eksternus dibatasi oleh meatus. Bagian medial dibatasi oleh
membran timpani dan bagian squamosa tulang temporal yang menjadi barier yang baik terhadap
penyebaran infeksi bila membran tersebut utuh. Bila terjadi perforasi membran timpani, infeksi
dapat menyebar kembali dan terus menyebar dari telinga tengah ke kanalis akustikus eksternus.
Tympanic ring yang berbentuk seperti tapal kuda dan bagian squamosa tulang temporal
memisahkan kanalis akustikus eksternus dengan fossa cranial media, yang jarang terjadi
penyebaran infeksi secara langsung ke intracranial.
Batas posterior kanalis akustikus eksternus adalah kavum mastoid. Beberapa pembuluh darah
masuk ke kanalis akustikus eksternus, khususnya sepanjang sutura tympanomastoid. Infeksi dapat
menyebar secara hematogen melalui segmen mastoid ini. Dari posterior ke bagian kartilaginosa
kanalis akustikus eksternus terdapat jaringan ikat tebal mastoid yang dapat menyebabkan infeksi
sekunder. Batas superior kanalis akustikus eksternus adalah fossa infratemporal dan basis kranii
infeksi yang meluas sampai ke atap kanalis akustikus eksternus dapat meluas ke struktur ini.
Batas anteriornya adalah kelenjar parotis dan temporomandibular junction.
Pada kanalis akustikus eksternus terdapat tiga mekanisme pertahanan pelindung yaitu tragus
dan antitragus, kulit degan lapisan serumen, dan isthmus. Tragus dan antitragus membentuk barier
parsial terhadap benda asing makroskopik. Kulit pada bagian kartilaginosa memiliki banyak sel
rambut dan kelenjar apokrin seperti halnya kelenjar seruminosa. Ketiga struktur adeneksa ini
bersama-sama memberikan fungsi proteksi dan biasa disebut unit apopilosebaseous. Eksfoliasi
sel-sel epitel skuamosa ikut berperan dalam pembentukan materi sebagai lapisan pelindung
penolak air pada dinding kanalis ini. Gabungan berbagai bahan ini membentuk suasana asam
dengan pH 6, yang berfungsi mencegah infeksi. Migrasi sel epitel yang terlepas juga membentuk
suatu mekanisme pembersihan sendiri dari membran timpani ke arah luar.

5
Gambar 2. Unit Apopilosebaseus pada Kanalis Akustikus Eksternus

Kanalis akustikus eksternus yang normal memiliki struktur proteksi dan pembersihan sendiri.
Lapisan serumen berangsur-angsur berjalan pada salurannya yaitu setelah bagian isthmus ke
bagian lateral kanalis akustikus eksternus dan kemudian keluar dari telinga. Pembersihan kanalis
akustikus eksternus yang berlebihan, baik karena alat maupun sebagai suatu tindakan, dapat
mengganggu barier pelindung primer dan dapat memicu terjadinya infeksi. Variasi individu pada
anatomi kanalis akustikus eksternus dan konsistensi produksi serumen dapat menjadi predisposisi
terjadinya penumpukan serumen pada beberapa orang.

B. Definisi Otitis Eksterna


Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan oleh bakteri,
dapat terlokalisir atau difus. Faktor lain penyebab timbulnya otitis eksterna ini adalah
kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini
menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflamasi dan
menimbulkan eksudat.3,5

C. Etiologi
Otitis eksterna dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Pseudomonas
aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococcus, Streptococcus, dan beberapa bakteri gram
negatif. Serta dapat juga disebabkan oleh jamur seperti jamur golongan Aspergillus atau
Candida sp. Otitis eksterna difusa dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif
kronis 4,9.

6
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu : 6,7

- Derajat keasaman (pH)


pH pada liang telinga biasanya normal atau asam, pH asam berfungsi sebagai protektor
terhadap kuman. Bila terjadi perubahan pH menjadi basa maka akan mempermudah
terjadinya otitis eksterna yang disebabkan oleh karena proteksi terhadap infeksi menurun.
- Udara
Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman dan jamur untuk tumbuh.
- Trauma
Trauma ringan misalnya setelah mengorek telinga merupakan faktor predisposisi
terjadinya otitis eksterna.
- Berenang
Terutama jika berenang pada air yang tercemar. Perubahan warna kulit liang telinga dapat
terjadi setelah terkena air.
Di Amerika Serikat sekitar 98% otitis eksterna disebabkan aleh Pseudomonas aeruginosa.
Kasus sisanya mungkin disebabkan oleh Proteus vulgaris, Escherichia coli, S. aureus dan
jamur seperti Candida albicans, Aspergillus sp dan Mucor sp.6

D. Klasifikasi Otitis Eksterna Akut

Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel = Bisul)

Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi oleh kuman pada kulit disepertiga luar
liang telinga yang mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan
kelenjar serumen sehingga membentuk furunkel. Sering timbul pada seseorang yang
menderita diabetes. Kuman penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus atau
Staphylococcus albus.1,7

Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini
disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya,
sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul
spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga
gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga. Rasa sakit bila

7
daun telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat atau abses pada sepertiga luar
liang telinga.1,7

Beberapa furunkel mungkin bersatu membentuk karbunkel jika infeksi berlanjut tidak
diterapi, akan timbul selulitis dan mungkin limfadenitis regional. Furunkulosis sering
bersama-sama dengan Otitis Eksterna Difusa (OED). Pada kasus berat, edema dapat
menyebar ke sulkus post aurikular menyebabkan daun telinga terdorong ke depan.
Kesulitan mendiagnosa timbul apabila liang telinga bengkak keseluruhan yang
menghalangi pemeriksaan membrana timpani. Keadaan ini harus dibedakan dari
mastoiditis akuta, pembengkakan dan tenderness dapat menyebar ke daerah post
aurikula.4,7

Terapinya tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi
secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotic dalam bentuk
salep, seperti polymyxin B atau bacitracin, atau antiseptik (asam asetat 2-5% dalam
alkohol. Kalau dinding furunkelnya tebal, dilakukan insisi, kemudian dipasang salir
(drain) untuk mengalirkan nanahnya. Biasanya tidak diperlukan pemberian antibiotik
secara sistemik, hanya diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang.1

Otitis Eksterna Difus

Otitis eksterna difusa biasanya mengenai kulit liang telinga dua pertiga bagian dalam.
OED dikenal juga sebagai telinga cuaca panas (hot weather ear), telinga perenang
(swimmer ear), karena merupakan suatu problema umum dibagian otologi yang didapat
pada 520 % penderita yang berobat ke dokter di daerah-daerah tropis dan subtropis pada
musim panas. Otitis eksterna difusa merupakan komplek gejala peradangan yang terjadi
sewaktu cuaca panas dan lembab dan dapat dijumpai dalam bentuk ringan, sedang, berat
dan menahun.7

Diduga bahwa suhu yang tinggi, kelembaban yang tinggi dan kontaminasi kulit
(kolonisasi) dengan basil gram negatif merupakan tiga faktor terpenting yang menunjang
didalam hal patogenesis otitis eksterna difusa. Berdasarkan kepustakaan bahwa
peningkatan yang cepat dari insiden otitis eksterna terjadi apabila suhu menaik pada
lingkungan yang kelembaban relatif tinggi. 1,4,7

8
Tidak adanya serumen didalam liang telinga luar bisa merupakan suatu keadaan
predisposisi untuk terjadinya infeksi telinga. Telah dikemukakan bahwa serumen dari
telinga penyebab terjadinya lapisan asam yang bersifat anti bakteri yang dianggap
berguna untuk mempertahankan telinga yang sehat.4

Gejalanya sama dengan gejala otitis eksterna sirkumskripta. Kadang-kadang kita


temukan sekret yang berbau namun tidak bercampur lendir (musin). Lendir merupakan
sekret yang berasal dari kavum timpani dan kita temukan pada kasus otitis media. Rasa
sakit didalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak sedikit,
perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat,
serta berdenyut, pada suatu penelitian multisenter yang melibatkan 239 pasien yang
dilakukan oleh Cassisi dkk, rasa sakit yang hebat 20%, sedang 27%, ringan 36% dan
tidak ada rasa sakit 17%. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan,
keluhan ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa
agaknya tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan
kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum
dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan
rasa sakit yang hebat.8

Lagi pula, kulit dan tulang rawan sepertiga luar liang telinga bersambung dengan kulit
dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan
dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit
yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.1

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis
eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit
yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Rasa gatal yang hebat 9%, sedang 23%, ringan
35%, tidak didapat rasa gatal 33%. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa
penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu etitis eksterna
akuta. Pada otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.8

Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna akut.
Edema kulit liang telinga, sekret yang serousa atau purulen, penebalan kulit yang
progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan
menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen,

9
debris, dan obat-obatan yang digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang
mengakibatkan peredaman hantaran suara.8

Diagnosis otitis eksterna difusa ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik


dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan keluhan telinga terasa nyeri,
terasa penuh, pendengaran berkurang, dan gatal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kulit
liang telinga hiperemis, dan edema dengan batas yang tidak jelas, adanya sekret yang
berbau dan tidak mengandung musin.6

Pada pemeriksaaan histopatologi otitis eksterna difusa akut tampak adanya gambaran
hiperkeratosis epidermis, parakeratosis, akanthosis, erosi, spingiosis, hiperplasia stratum
korneum dan stratum germinativum, edema, hiperemis, infiltrasi leukosit, nekrosis,
nekrosis fokal diikuti penyembuhan fibroblastik pada dermis dan aparatus kelenjar
berkurang, aktifitas sekretoris kelenjar berkurang.8

Langkah pertama yang terpenting untuk terapi otitis eksterna difusa berupa
pembersihan secara cermat semua debris dan nanah di dalam liang telinga, yang mudah
dilakukan dengan menggunakan ujung penghisap yang kecil. Kemudian liang telinga
dimasukkan tampon yang mengandung antibiotik. Kadang-kadang diperlukan antibiotik
sistemik.1

Ingat bahwa antibiotik harus berkontak seluruhnya dengan kulit liang telinga secara
efektif. Bila terdapat saluran yang baik dengan membrana timpani, pasien disuruh
berbaring pada satu sisi tubuhnya, kemudian diteteskan antibiotika dan dipasang sumbat
kapas dalam telinga. Harus diberikan 4 atau 5 tetes ke dalam telinga setiap 4 jam untuk 48
jam pertama, setelah itu liang diperiksa kembali. Biasanya terjadi perbaikan dramatis.
Kemudian tetesan antibiotika harus diberikan 3 kali sehari selama 1 minggu. Kadang-
kadang terdapat pembengkakkan sedemikian rupa sehingga tetesan tersebut tidak dapat
masuk ke liang telinga. Pada keadaan ini, masukkan dengan hati-hati gumpalan kapas
tipis 5-7,5cm dan ditekan hati-hati ke dalam liang telinga deengan forsep bayonet atau
forsep buaya. Ujung dalam gumpalan ini harus sedikit mungkin ke membran timapani
dan ujung luarnya harus menonjol ke luar dari liang telinga. Dengan pasien pada salah
satu sisinya, gumpalan tersebut harus dibasahi dengan larutan antibiotika setiap 3-4 jam.
Setelah kapas tersebut dibasahi, pasang sumbatan kapas ke dalam telinga. Dua puluh
empat jam setelah itu kapas harus diangkat dan telinga dibersihkan, serta kemudian
dimasukkan gumpalan kapas yang lebih besar. Biasanya dalam waktu 48 jam, edema

10
akan mengurai sedemikian rupa sehingga tetesan antibiotika dapat langsung masuk ke
dalam telinga.1,8

Suatu antibiotika yang mengandung neomisin bersama polimiksin B sulfat


(cortisporin) atau kolistin (colymiysin) akan efektif untuk sekitar 99 % pasien. Bila
infeksi disebabkan oleh jamur, salep Nystatin (mycostatin) dapat dioleskan semuanya ke
kulit liang telinga dan dapat digunakan tetesan m-kresil asetat (creysylate) atau mertiolat
dalam air (1:1000). Harus dihindarkan masuknya air selama 2 minggu setelah infeksi
teratasi untuk mencegah rekurensi.8

Biasanya terapi yang tepat menyebabkan penurunan dramatis bagi nyeri dalam 34-48
jam. Untuk nyeri hebat yang biasanya menyertai otitis ekterna difusa dapat diberikan
kodein atau aspirin. Kadang-kada ada individu yang sangat rentan terhadap otitis
eksterna, pasien-pasien ini harus diinstruksikan untuk menghindari masuknya air, busa
sabun dan smprotan rambut ke dalam telinga. Mereka dapat membersihkan telinganya
dengan alkohol.8

Terapi topikal biasanya cukup efektif, tetapi bila dijumpai adenopathy dan gejala
toksisitas, antibiotika sistemik dibutuhkan. Penggunaan kortikosteroid diharapkan dapat
mengurangi proses inflamasi.7

Otomikosis
Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah
tersebut. Yang tersering ialah jamur aspergilus. Kadang-kadang ditemukan juga kandida
albikans atau jamur lain.
Gejalanya biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering
pula tanpa keluhan. Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan
asam asetat 2-5% dalam alkohol yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat
menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan juga obat anti-jamur (sebagai salep) yang
diberikan secara topikal. 6

11
E. Patofisiologi
Secara alami, sel-sel kulit yang mati, termasuk serumen, akan dibersihkan dan
dikeluarkan dari gendang telinga melalui liang telinga. Cotton bud dapat mengganggu
mekanisme pembersihan tersebut sehingga sel-sel kulit mati dan serumen akan menumpuk di
sekitar gendang telinga. Masalah ini juga diperberat oleh adanya susunan anatomis berupa
lekukan pada liang telinga.
Keadaan diatas dapat menimbulkan timbunan air yang masuk ke dalam liang telinga
ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah, lembab, hangat, dan gelap pada liang telinga
merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan jamur.
Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan berkurangnya lapisan
protektif yang menimbulkan edema epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal
yang memudahkan bakteri masuk melalui kulit, terjadi inflamasi dan cairan eksudat. Rasa
gatal memicu terjadinya iritasi, berikutnya infeksi lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya
menimbulkan rasa nyeri.
Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan rasa tidak
nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi dapat mengeluarkan cairan/nanah yang bisa
menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus eksterna) sehingga hantaran suara akan
terhalang dan terjadilah penurunan pendengaran.
Bakteri patogen yang sering menyebabkan otitis eksterna yaitu pseudomonas (41%),
streptococus (22%), staphylococus aureus (15%) dan bakteroides (11%). Infeksi pada liang
telinga luar dapat menyebar ke pinna, periaurikuler dan tulang temporal.
Otalgia pada otitis eksterna disebabkan :
- Kulit liang telinga luar beralaskan periostium & perikondrium bukan bantalan jaringan
lemak sehingga memudahkan cedera atau trauma. Selain itu, edema dermis akan menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat.

12
- Kulit dan tulang rawan pada 1/3 luar liang telinga luar bersambung dengan kulit dan
tulang rawan daun telinga sehingga gerakan sedikit saja pada daun telinga akan
dihantarkan ke kulit dan tulang rawan liang telinga luar sehingga mengakibatkan rasa
sakit yang hebat pada penderita otitis eksterna.

Gambar 3. Patofisiologi Otitis Eksterna

F. Gejala Klinis

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis eksterna
difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.1
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit yang
berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa penuh
dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta. Pada
otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.1
Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak sedikit,
perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat, serta
berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan ini juga sering
sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa agaknya tidak sebanding dengan derajat
peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar
langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar
liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang

13
sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan dari liang telinga luar
dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.1
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada keadaan akut dan kronik dari otitis eksterna. Edema
kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen, penebalan kulit yang progresif pada otitis
eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif.
Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan yang digunakan kedalam
telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.1
Selain gejala-gejala diatas otitis eksterna juga dapat memberikan gejala-gejala klinis
berikut:
-
Deskuamasi
- Tinnitus
-
Discharge dan otore. Cairan (discharge) yang mengalir dari liang telinga (otore).
Kadang - kadang pada otitis eksterna difus ditemukan sekret / cairan berwarna putih
atau kuning, atau nanah. Cairan tersebut berbau yang tidak menyenangkan. Tidak
bercampur dengan lendir (musin).
- Demam
-
Nyeri tekan pada tragus dan nyeri saat membuka mulut.
- Infiltrat dan abses (bisul). Keduanya tampak pada otitis eksterna sirkumskripta. Bisul
menyebabkan rasa sakit berat. Ketika pecah, darah dan nanah dalam jumlah kecil bisa
bocor dari telinga.
- Hiperemis dan udem (bengkak) pada liang telinga. Kulit liang telinga pada otitis
eksterna difus tampak hiperemis dan udem dengan batas yang tidak jelas. Bisa tidak
terjadi pembengkakan, pembengkakan ringan, atau pada kasus yang berat menjadi
bengkak yang benar-benar menutup liang telinga.3,7

G. Diagnosis
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan dengan gejala awal berupa gatal. Rasa
gatal berlanjut menjadi nyeri yang sangat dan terkadang tidak sesuai dengan kondisi
penyakitnya (mis, pada folikulitis atau otitis eksterna sirkumskripta). Nyeri terutama
ketika daun telinga ditarik, nyeri tekan tragus, dan ketika mengunyah makanan.
Rasa gatal dan nyeri disertai pula keluarnya sekret encer, bening sampai kental
purulen tergantung pada kuman atau jamur yang menginfeksi. Pada jamur biasanya akan
bermanifestasi sekret kental berwarna putih keabu-abuan dan berbau.

14
Pendengaran pasien bisa normal atau sedikit berkurang, tergantung pada besarnya
furunkel atau edema yang terjadi dan telah menyumbat pada liang telinga.
Didapatkan riwayat faktor predisposisi misalnya kebiasaan berenang pada pasien,
ataupun kebiasaan mengorek kuping dengan cotton bud bahkan menggunakan bulu ayam
yang merupakan media penyebaran infeksi.
Pemeriksaan Fisik pada pasien bisanya menunjukkan:
- Kulit MAE edema, hiperemi merata sampai ke membran timpani dengan liang MAE
penuh dengan sekret. Jika edema hebat, membran timpani dapat tidak tampak.
- Pada folikulitis akan didaptkan edema, hiperemi pada pars kartilagenous MAE.
- Nyeri tragus (+)
- Tidak adanya partikel jamur
- Adenopati reguler dan terkadang didapatkan nyeri tekan.4

H. Penatalaksanaan
Antibiotika yang mengandung neomisin bersama polimiksin B sulfat (cortisporin) atau
kolistin (colymiysin) akan efektif untuk sekitar 99 % pasien. Bila infeksi disebabkan oleh
jamur, salep Nystatin (mycostatin) dapat dioleskan semuanya ke kulit liang telinga dan
dapat digunakan tetesan m-kresil asetat (creysylate) atau mertiolat dalam air (1:1000).
Harus dihindarkan masuknya air selama 2 minggu setelah infeksi teratasi untuk mencegah
rekurensi.8
Biasanya terapi yang tepat menyebabkan penurunan dramatis bagi nyeri dalam 34-48 jam.
Untuk nyeri hebat yang biasanya menyertai otitis ekterna difusa dapat diberikan kodein
atau aspirin. Kadang-kadang ada individu yang sangat rentan terhadap otitis eksterna,
pasien-pasien ini harus diinstruksikan untuk menghindari masuknya air, busa sabun dan
semprotan rambut ke dalam telinga.
Terapi topikal biasanya cukup efektif, tetapi bila dijumpai adenopathy dan gejala
toksisitas, antibiotika sistemik dibutuhkan. Penggunaan kortikosteroid diharapkan dapat
mengurangi proses inflamasi.7

I. Komplikasi
- Perikondritis
- Selulitis
- Dermatitis aurikularis 4
15
J. Prognosis
Otitis eksterna adalah suatu kondisi yang dapat diobati biasanya sembuh dengan cepat
dengan pengobatan yang tepat. Paling sering, otitis ekserna dapat dengan mudah diobati
dengan tetes telinga antibiotik. Otitis eksterna kronis yang mungkin memerlukan
perawatan lebih intensif. Otitis eksterna biasanya tidak memiliki komplikasi jangka
panjang atau serius. 8

RHINITIS ALLERGI

Rhinitis berasal dari dua kata bahasa Greek rhin/rhino (hidung) dan itis (radang).
Demikian rhinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang selaput lendir (membran
mukosa) hidung.
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada
pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta
dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik
tersebut. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001
adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat
setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.1 Alergi adalah respons
jaringan yng berubah terhadap antigen spesifik atau allergen. Hipersensitivitas pejamu
bergantung pada dosis antigen, frekuensi paparan, polesan genetic dari individu tersebut, dan
kepekaan relative tubuh pejamu.1

Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus
(40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma dan toksin. Infeksi bakteri grup A Streptokokus
hemolitikus dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena bakteri ini
melepaskan toksin ekstraselular yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan katup
jantung, glomerulonephritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya
kompleks antigen-antibodi. Bakteri ini banyak menyerang anak usia sekolah, orang dewasa
dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan infeksi melalui secret hidung dan
ludah (droplet infection).1

Bentuk septum normal ialah lurus di tengah rogga hidung tetapi pada orang dewasa
biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di garis tengah. Deviasi septum nasi memang
merupakan masalah yang sering ditemukan di masyarakat. Kelainan ini ditandai dengan

16
bengkoknya lempeng kartilago septum, yaitu struktur yang memisahkan antara kedua nostril.
Deviasi septum biasanya disebabkan oleh trauma, walaupun terdapat beberapa kasus yang
merupakan bawaan sejak lahir dengan deviasi septum nasi. Kelainan ini dapat menyebabkan
terjadinya obstruksi nasal unilateral maupun bilateral, yang bermanifestasi sebagai gangguan
pernapasan melalui hidung, tidur mendengkur, sakit kepala, infeksi sinus rekuren, ataupun
perdarahan hidung yang rekuren.1

Anatomi Hidung Luar

Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Bentuk hidung luar seperti
piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge), 2) batang
hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (hip), 4) ala nasi, 5) kolumela, dan 6) lubang hidung
(nares anterior).1 Hidung terhubung dengan os frontale dan maksila melalui pangkal hidung
yang dibentuk os nasalia. Kulit pembungkus hidung tertambat erat pada dasar hidung dan
memiliki kelenjar sebasea, yang dapat mengalami hipertrofi pada keadaan rhinophyma.3
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : 1) tulang hidung (os nasal) , 2) prosesus
frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal ; sedangkan kerangka tulang rawan
terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1)
sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior
yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum.4

Gambar 1: Anatomi Kerangka Hidung.2

17
Anatomi Hidung Dalam

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang,
dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu
atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang
disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian
dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anteriror,
disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar
sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise.2

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior
dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan
tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis
os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum
(lamina kuadrangularis) dan kolumela.1

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada
bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding
lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang
mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.1

Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah
ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi ialah
konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema disebut juga
rudimenter.1

Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin
etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut
meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan
superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding
lateral rongga hidung. 1

18
Gambar 2: Dinding lateral kavum nasi.2

Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius
terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius
terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus
semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal,
sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang di
antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus
sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan
os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina
kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.1

Vaskularisasi hidung
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan posterior
yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a. karotis interna. Bagian bawah rongga hidung
mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya ialah ujung a. palatina
mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina
dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung
mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. fasialis. Pada bagian depan septum terdapat
anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmid anterior, a. labialis superior dan a.
palatine mayor, yang disebut pleksus kiesselbach (littles area). Pleksus kiesesselbach
letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber
epistaksis (perdarahan hidung), terutama pada anak. Vena-vena hidung mempunyai nama
yang sama dan brjalan berdampingan denga arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar
hidung bermuara ke v. oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena

19
dihidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya
penyeabaran infeksi sampai ke intrakranial.2

Persarafan Hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dan n. etmoidalis
anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris yang berasal dari n. oftalmikus (N V-1).
Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksilla melalui
ganglion sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini
menerima serabut saraf sensoris dari n. maksilla (N. V-2), serabut parasimpatis dan n.
petrosus superfisialis mayor dan serabut saraf simpatis dari n. petrosus profundus. Ganglion
sfenopalatina terletak di belakan dan sedikit di atas ujung posterior konka media. Fungsi
penghidu berasal dari n. olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrsa dari permukaan
bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa
olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.1

Fisiologi Hidung

Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi fisiologis
hidung dan sinus paranasal adalah:

1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik
lokal

2) fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir


udara untuk menampung stimulus penghidu

3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan
mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang

4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap
trauma dan pelindung panas

5) refleks nasal

20
Fungsi respirasi

Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem repirasi melalui nares anterior, lalu naik ke
atas stinggi konka media dan kemudian turun ke bawah kearah nasofaring. Aliran udara di
hidung ini benbentuk lingkungan atau arkus. Udara yang dihirup akan menglami humidifikasi
oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hamper jenuh oleh uap air, sehingga terjadi
sedikit penguapan udara inspirasi oleh palut lendir, sedangkan pada musim dingin akan
terjadi sebaliknya. Suhu udara yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37 derajat
celcius. Fungsi pengatur suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah
epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus, bakteri dan
jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh: a) rambut (vibrissae) pada
vesti bulum nasi, b) silis, c) palut lender. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lender
dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin.1

Fungsi penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indera penghidu dan pencecep dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila
menarik napas dengan kuat. Fungsi hidung untuk membantu indra pencecep adalah untuk
membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan, seperti perbedaan rasa
manis strawberi, jeruk, pisang atau coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal
dari cuka dan asam jawa.1

Fungsi fonetik
Resonasi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan bernyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonasi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau
(rinolalia). Hidung membantu pembentukkan konsonan nasal (m, n, ng), rongga mulut
tertutup dan hidung terbuka dan palatum mole turun untuk aliran udara.1

Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor reflex yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskular dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan reflex bersin dan
napas berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan
pankreas.1

21
Definisi
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada
pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta
dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik
tersebut. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001
adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat
setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.1
Alergi adalah respons jaringan yng berubah terhadap antigen spesifik atau allergen.
Hipersensitivitas pejamu bergantung pada dosis antigen, frekuensi paparan, polesan genetic
dari individu tersebut, dan kepekaan relative tubuh pejamu.5 Rhinitis alergika terjadi bila
suatu antigen terhadap seorang pasien telah mengalami sensitisasi, merangsang satu dari
enam reseptor neurokimia hidung: reseptor histamin H1, adrenoseptor-alfa, adrenoseptor-
beta2, kolinoseptor, reseptor histamin H2 dan reseptor iritan. Dari semua ini yang terpenting
adalah reseptor histamin H1, dimana bila terangsang oleh histamine akan meningkatkan
tahanan jalan napas hidung, menyebabkan bersin, gatal, dan rinore.7

Epidemiologi

Rhinitis alergi merupakan bentuk yang paling sering dari semua penyakit atopi,
diperkirakan mencapai prevalensi 5-22%.4 Rhinitis alergi telah menjadi problem kesehatan
global, mempengaruhi 10% sampai lebih dari 40% seluruh penduduk dunia. Rhinitis alergi
juga telah menjadi 1 dari 10 alasan utama pasien datang berobat ke dokter. Namun,
prevalensi ini bisa menjadi lebih tinggi, hal ini dikarenakan banyaknya pasien yang
mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter, maupun penderita yang tidak terhitung
pada survey resmi.2

Patofisiologi

Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/ reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase
yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang
berlangsung sejak kotak dengan allergen sampai 1 jam setelahnya dan Late Phase Allergic

22
Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak
6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.
Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit
yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen
yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk
fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek
peptide MHC kelas II (Major Histocompability Complex) yang kemudian dipresentasikan
pada sel T helper (Th 0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti Interleukin 1 (IL
1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. 1
Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL 4, IL 5 dan IL 13. IL 4 dan
IL 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B
menjadi aktif dan akan memproduksi Imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah akan
masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel
mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang
menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar
dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi
degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator
kimia yang sudah terbentuk (Preformed Mediators) terutama histamine. Selain histamine
juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien
D4 (LT D4), Leukotrien C4(LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan
berbagai sitokin. (IL 3, IL 4, IL 5, IL6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony
Stimulating Factor) dll. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC). 1
Selain histamine merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan
pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1
(ICAM 1). Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang
menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak
berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah
pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi
seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan
sitokin seperti IL3, IL4, IL5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-
CSF) dan ICAM 1 pada secret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif
hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti
Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic
Protein (MBP) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik
23
(alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau
yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembapan udara yang tinggi. 1

Mekanisme terjadinya nasal allergy syndrome pada rhnitis alergi


Nasal Allergy Syndrome terdiri dari sneezing, itching, obstruksi nasi dan rhinorrhea.
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan
rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Gatal pada hidung dan bersin-bersin mewakili
gejala karakteristik utama selain obstruksi hidung dan rhinorrhea pada rhinitis alergi. Mukosa
hidung diinervasi oleh saraf sensoris, simpatik dan parasimpatik. Transmisi sinyal saraf
sensoris menghasilkan sensasi gatal dan refleks motorik seperti bersin sedangkan refleks
parasimpatis dan simpatis mengatur sistem kelenjar dan vaskular. Histamine juga akan
menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas
kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat
vasodilatasi sinusoid.7
Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas:
1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya tungau
debu rumah (D. pteronyssinus, D. farinae, B. tropicalis), kecoa, serpihan epitel
kulit binatang (kucing, anjing), rerumputan (Bermuda grass) serta jamur
(Aspergillus, Alternaria).
2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu,
sapi, telur, coklat, ikan laut, udang kepiting dan kacang-kacangan.
3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin
dan sengatan lebah.
4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan kosmetik, perhiasan.1
Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran, sehingga memberi
gejala campuran, misalnya tungau debu rumah yang memberi gejala asma bronkial dan rinitis
alergi. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara garis besar
terdiri dari:
1. Respons primer:
Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat non spesifik dan
dapat berakhir sampai di sini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi
berlanjut menjadi respons sekunder.
2. Respons sekunder:
24
Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai 3 kemungkinan ialah sistem
imunitas selular atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi
pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada atau memang sudah ada defek dari sistem
imunologik, maka reaksi berlanjut menjadi respons tertier.
3. Respons tertier:
Reaksi imunologik yang terjadi ini tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini dapat bersifat
sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. 1

Klasifikasi Rhinitis Alergi


Dahulu rhinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu: 2
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis). Di Indonesia tidak dikenal rinitis
alergi musiman, hanya ada di negara yang mempunyai 4 musim. Alergen penyebabnya
spesifik, yaitu tepungsari (pollen) dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah
polinosis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah gejala pada
hidung dan mata (mata merah, gatal disertai lakrimasi).
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial). Gejala pada penyakit ini timbul intermitten atau
terus menerus, tanpa variasi musim, jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyebab yang
paling sering ialah alergen inhalan, terutama pada orang dewasa, dan alergen ingestan.
Alergen inhalan utama adalah alergen dalam rumah (indoor) dan alergen diluar rumah
(outdoor). Alergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya
disertai dengan gejala alergi yang lain, seperti urtikaria, gangguan pencernaan. Gangguan
fisiologik pada golongan perennial lebih ringan dibandingkan dengan golongan
musimantetapi karena lebih persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan. 2
Saat ini digunakan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO
Initiative ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu berdasarkan
sifat berlangsungnya dibagi menjadi:
1. Intermiten (kadang-kadang), yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang
dari 4 minggu.
2. Persisten/ menetap, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.1
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:
1. Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian,
bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.
2. Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di atas.1
25
Diagnosis
Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan: 1
1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena seringkali serangan tidak terjadi dihadapan
pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis saja. Gejala rinitis
alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin
merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak
dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses
membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin ini terutama merupakan gejala
pada RAFC dan kadang-kadang pada RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamine.
Karena itu perlu ditanyakan adanya riwayat atopi pada pasien. Gejala lain ialah keluar
ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang
kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Sering kali gejala
yang timbul tidak lengkap, terutama pada anak-anak. Kadang-kadang keluhan hidung
tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh
pasien. 1
2. Pemeriksaan Fisik
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid
disertai adanya secret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior
tampak hipertrofi. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia.
Gejala spesifik lain pada anak ialah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata
yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut
allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung
karena gatal, dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut allergic salute. Keadaan
menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang
di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease. Mulut sering
terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan
gangguan pertumbuhan gigi geligi (facies adenoid). Dinding posterior faring tampak
granuler dan edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal.
Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). 1
3. Pemeriksaan Penunjang
In vitro:
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula
pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test) seringkali menunjukkan
26
nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit,
misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronchial atau urtikaria.
Pemeriksaan ini berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil
dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Lebih bermakna adalah
pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST (Radio Imuno Sorbent Test) atau ELISA
(Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun
tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap.
Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi
inhalan. Jika basofil (>5sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika
ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.1
In Vivo:
Allergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan
atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET), SET
dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai
konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab
juga derajat tinggi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui. 1
Untuk alergi makanan, uji kulit yang akhir-akhir ini banyak dilakukan adalah
Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), namun sebagai baku emas
dapat dilakukan dengan diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test). 1
Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu 5 hari. Karena itu pada
Challenge Test, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang
selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan
setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang
dengan meniadakan suatu jenis makanan. 1

Penatalaksanaan
1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen
penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.
2. Medikamentosa
a. Antihistamin
Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamine H-1, yang
bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan
merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini

27
pertama pengobatan rhinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau
tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. 8,11
Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin
generasi 1 (klasik) dan generasi 2 (non-sedatif). Antihistamin generasi 1
bersifat lipofilik, sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai
efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Yang termasuk
kelompok ini antara lain adalah difenhidramin, klorfeniramin, prometasin,
siproheptadin, sedangkan yang dapat diberikan secara topical adalah azelastin.
Antihistamin generasi 2 bersifat lipofobik, sehingga sulit menembus sawar
darah otak. Bersifat selektif mengikat resptor H-1 perifer dan tidak
mempunyai efek antikolinergik, antiadrenergik dan pada efek pada SSP
minimal (non-sedatif). 8,11
Antihistamin diabsorpsi secara oral dengan cepat dan mudah serta
efektif untuk mengatasi gejala obstruksi hidung pada fase lambat.
Antihistamin non sedative dapat dibagi menjadi dua golongan menurut
keamananya. Kelompok pertama adalah astemisol dan terfenadin yang
mempunyai efek kardiotoksik. Toksisitas terhadap jantung tersebut disebabkan
repolarisasi jantung yang tertunda dan dapat menyebabkan aritmia ventrikel,
henti jantung dan bahkan kematia medadak (sudah ditarik dari peredaran).
Kelompok kedua adalah loratadin, setirisin, fexofenadin, desloratadin, dan
levosetirisin.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai
sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan
antihistamin atau topikal. Namun pemakaian secara topikal hanya boleh untuk
beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa.

Tabel 1. Efek samping sedasi dari antihistamin.7

28
b. Dekongestan
Golongan obat ini tersedia dalam bentuk topikal maupun sistemik.
Onset obat topikal jauh lebih cepat daripada preparat sistemik., namun dapat
menyebabkan rhinitis medikamentosa bila digunakan dalam jangka waktu
lama.
Obat dekongestan sistemik yang sering digunakan adalah
pseudoephedrine HCl dan Phenylpropanolamin HCl. Obat ini dapat
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Dosis obat ini 15 mg untuk
anak 2-5 tahun, 30 mg untuk anak 6-12 tahun, dan 60 mg untuk dewasa,
diberikan setiap 6 jam. Efek samping dari obat-obatan ini yang paling sering
adalah insomnia dan iritabilitas.
c. Antikolinergik
Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromide,
bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor
kolinergik pada permukaan sel efektor.
d. Kortikosteroid
Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung
akibat respon fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering
dipakai adalah kortikosteroid topikal (beklometason, budesonid, flunisolid,
flutikason, mometason, furoat dan triamsinolon). Kortikosteroid topikal
bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung, mencegah
pengeluaran protei n sitotoksik dari eosinofil, mengurangi aktifitas limfosit,
mencegah bocornya plasma. Hal ini menyebabkan epitel hidung tidak
hiperresponsif terhadap rangsangan allergen (bekerja pada respon cepat dan
lambat). Preparat sodium kromoglikat topikal bekerja menstabilkan mastosit
(mungkin menghambat ion kalsium) sehingga pelepasan mediator dihambat.
Pada respons fase lambat, obat ini juga menghambat proses inflamasi dengan
menghambat aktifasi sel netrofil, eosinofil dan monosit. Hasil terbaik dapat
dicapai bila diberikan sebagai profilaksis.
e. Lainnya
Pengobatan baru lainnya untuk riniris alergi adalah anti leukotrien
(zafirlukast/montelukast), anti IgE, DNA rekombinan.

29
Menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2006, membuktikan
bahwa pseudoephedrine dan montelukast memiliki efek yang serupa dalam
mengatasi gejala dan memperbaiki kualitas hidup pasien.

3. Operatif
Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior),
konkoplasti atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan bila
konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kaeuterisasi
memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.

4. Imunoterapi
Cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat
dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan
hasil yang memuaskan. Tujuan dari imunoterapi adalah pembentukkan IgG blocking
antibody dan penurunan IgE. Ada 2 metode imunoterapi yang umum dilakukan yaitu
intradermal dan sublingual.

30
Gambar 5. Alogaritma penatalaksanaan Rhinitis Alergi menurut WHO inititive ARIA.1

Komplikasi
Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah:
1. Polip hidung
Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor
penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung.
2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak.
3. Sinusitis paranasal.1

___________________________________________________________________________

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Y
Umur : 29 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jalan Biak Roxy, Jakarta Barat
Status pernikahan : sudah menikah, sedang hamil G3P2A0

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 7 September 2016. 9.30 WIB.
Keluhan Utama:
Pasien datang dengan keluhan rasa penuh di telinga kiri disertai dengan penurunan
pendengaran sejak 3 hari yang lalu.
Keluhan Tambahan:
Liang telinga kiri terasa gatal dan prosessus mastoid kanan hiperemis.
Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan telinga kiri terasa penuh sejak 3 hari yang
lalu. Pasien juga mengatakan bahwa telinganya terasa penuh dan gatal sehingga pasien sering

31
mengorek-ngorek teliganya menggunakan cotton bud dan jari. Selain itu, pasien mengeluh
nyeri apabila menyentuh prosesus mastoid di bagian telinga kirinya. Pasien tidak memiliki
riwayat trauma dan operasi pada telinga sebelumnya. Pasien mengatakan kadang-kadang
hidung tersumbat tetapi hilang timbul sekitar 1-2 kali dalam seminggu. Keluhan muncul
terutama pada pagi hari dan pada hari hujan. Keluhan tidak dipengaruhi posisi tubuh dan
tidak mengganggu kegiatan sehari-hari. Gejala dirasakan sudah sejak lama. Keluhan lain,
seperti demam, sakit kepala, rasa pusing berputar, nyeri di daerah wajah, trauma pada hidung,
gangguan penciuman dan pengecapan disangkal oleh pasien. Pasien sering kontrol ke dokter
untuk masalah jamur di telinga kirinya. Saat ini pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Pasien menyatakan telinga kanannya pernah keluar cairan bening yang encer sejak
sebulan yang lalu, namun pasien tidakm konsul ke dokter karena tidak dirasakan adanya
keluhan pada telinga. Pasien mengatakan tidak ada alergi seperti terhadap makanan maupun
obat-obatan.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Ibu dan kakak pasien mempunyai riwayat alergi.

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. STATUS LOKALIS
Telinga
Dextra Sinistra
Bentuk daun telinga Normotia Normotia
Kelainan Kongenital Mikrotia (-), anotia (-), Mikrotia (-), anotia (-),
atresia (-), fistula (-), bat ear atresia (-), fistula (-), bat ear
(-) (-)
Radang, Tumor Nyeri (-), Massa (-), Nyeri (-), Massa (-),
hiperemis (-), sekret (-), hiperemis (-), sekret (-),
edema (-) edema (-)
Nyeri tekan tragus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Penarikan daun telinga Nyeri (-) Nyeri (+)

32
Kelainan pre-, infra-, Massa (-), hiperemis (-), Massa (-), hiperemis (-),
retroaurikuler odem (-), nyeri (-), fistula (-) odem (-), nyeri (-), fistula (-)
Region Mastoid Massa (-), hiperemis (+), Massa (-), hiperemis (-),
odem (+), nyeri (+), abses (-) odem (-), nyeri (-), abses (-)
liang telinga Lapang, furunkel (-), jar. Sempit, furunkel (-), jar.
granulasi (-), serumen (-), granulasi (-), serumen (-),
edem (-), sekret (+), darah (- edem (+), sekret (-), darah (-
), hiperemis (-), kolesteatom ), hiperemis (+),kolesteatom
(-), laserasi (-) , hifa (-) (-), laserasi (+),hifa (+)
Membran Timpani Perforasi, reflex cahaya (-), Utuh, reflex cahaya (+),
bulging (-), perforasi (+), bulging (-), perforasi (-),
sekret (+), retraksi (-) sekret (-), retraksi (-)

Tes Penala
Kanan Kiri
Rinne Negatif Negatif
Weber Lateralisasi ke arah kiri (telinga sakit)
Swabach memanjang memanjang
Penala yang dipakai 512 Hz 512 Hz
Kesan : Tidak terdapat gangguan pendengaran

Hidung
Dextra Sinistra
Bentuk Normal, tidak deformitas Normal, tidak deformitas
Tanda peradangan Hiperemis (-), Odem (-), nyeri Hiperemis (-), Odem (-), nyeri
(-) (-)
Daerah sinus frontalis dan Hiperemis (-), Odem (-), nyeri Hiperemis (-), Odem (-), nyeri
maxillaris (-) (-)
Vestibulum Laserasi (-), massa (-), Laserasi (-), massa (-),
furunkel (-), sekret (-) furunkel (-), sekret (-)
Cavum Nasi Lapang, massa (-), sekret (+), Lapang, massa (-), sekret (+),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Konka inferior Hipertrofi (-), hiperemis (-), Hipertrofi (-), hiperemis (-),
livide (+) livide (+)

33
Meatus nasi inferior Terbuka, sekret (-) Terbuka, sekret (-)

Konka Medius Tidak terlihat Tidak terlihat

Meatus nasi medius Tidak terlihat Tidak terlihat


Septum nasi Deviasi (-), hematoma (-), Deviasi (-), hematoma (-),
abses (-) abses (-)

Rhinopharhinx
Koana : Sulit dinilai
Septum nasi posterior : Sulit dinilai
Muara tuba eustachius : Sulit dinilai
Tuba eustachius : Sulit dinilai
Torus tubarius : Sulit dinilai
Post nasal drip : Tidak ada (-)

Pemeriksaan Transluminasi
Sinus Frontas kanan, Kiri : tidak dilakukan
Sinus Maxilla kanan, Kiri : tidak dilakukan

Tenggorokan
Pharynx
Dinding pharynx : Hiperemis (+), Ulkus (-), mukosa tidak rata, granul (+)
Arcus : Hiperemis (+), simetris
Tonsil : T1-T1 tenang, hiperemis (-), kripta (-), detritus (-)
Uvula : Di tengah, bifida (-), simetris, tidak memanjang
Gigi : gigi berlubang (-), caries (-), gigi palsu (-)

Larynx
Epiglotis : Sulit dinilai
Plica aryepiglotis : Sulit dinilai
Arytenoidds : Sulit dinilai
Ventricular band : Sulit dinilai
Pita suara : Sulit dinilai
Rima glotidis : Sulit dinilai

34
Cincin trachea : Sulit dinilai
Sinus Piriformis : Sulit dinilai
Kelenjar limfe submandibula dan servical: tidak adanya pembesaran pada inspeksi dan
palpasi.

RESUME
Anamnesis
Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan rasa penuh pada aurikula sinistra dan
penurunan pendengaran pada kedua telinga sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga sering merasa
gatal sehingga pasien sering mengorek-ngorek teliganya menggunakan cotton bud dan jari
setelah mandi. Hidung pasien kadang kala tersumbat namun hilang timbul sekitar 1-2 kali
dalam seminggu. Keluhan muncul terutama pada pagi hari dan apabila cuaca dingin seperti
hari hujan. Gejala dirasakan sudah sejak lama. Sejak sebulan yang lalu, terdapat secret yang
bening dan encer keluar dari liang telinga kanan pasien, namun tidak dibawa berobat karena
tidak mempunyai keluhan. Pasien mengatakan ibu dan kakak pasien mempunyai riwayat
alergi. Saat ini. pasien tidak ada alergi seperti terhadap makanan maupun obat-obatan.

Pemeriksaan Fisik
Telinga
- Pada pemeriksaan menggunakan otoskop, didapatkan nyeri penarikan daun telinga,
liang telinga kiri sempit, tertutup dengan jamur, udem, hiperemis dan laserasi
- Pada telinga kanan, didapatkan liang telinganya lapang, terdapat sekret putih
kekuningan yang kental dan membrane timpaninya perforasi sentral.
- Pada pemeriksaan penala didapatkan gangguan tuli konduktif pada pendengaran
pasien.
Hidung

Konka inferior kanan dan kiri tampak, livid. Terdapat sekret pada cavum nasi kanan dan kiri

Tenggorok

Pada pemeriksaan faring dinding posterior tampak hiperemis dan tampak bergranul. Arcus
palatopharingeal juga hiperemis.

35
IV. DIAGNOSIS KERJA

1) Otitis Eksterna Difusa Auricula Sinistra


Dasar yang mendukung:

Anamnesis

Pasien datang dengan keluhan rasa penuh di telinga kiri sejak 3 hari yang lalu.
Telinga pasien juga terasa gatal.

Pemeriksaan fisik:

Terdapat nyeri tarik telinga, dan pemeriksaan otoskopi, liang telinga sempit, edema
dan hiperemis.

2) Rhinitis Alergi Intermitten Ringan


Dasar yang mendukung:

Anamnesis
- Riwayat bersin dan tersumbat di pagi hari yang hilang timbul 1-2 kali dalam seminggu.
- Keluhan diperberat apabila cuaca sejuk seperti hari hujan.
Pemeriksaan fisik:

- Kavum nasi terdapat sekret dan konka inferior livid

3) Otomikosis
Dasar yang mendukung:

Anamnesis:

- Telinga kiri pasien terasa penuh dan gatal.


Pemeriksaan Fisik:

- Terlihat lapisan berwarna putih susu yang menutup liang telinga pasien. Lapisan putih
tersebut berbentuk seperti rumput.

4) Otitis Media Supuratif Aktif tipe Aman


Dasar yang mendukung:

36
Anamnesis:

- Terdapat secret bening yang keluar dari telinga pasien sejak sebulan yang lalu.
- Fungsi pendengaran pada telinga pasien berkurang.
Pemeriksaan fisik:

- Perforasi membrane timpani secara sentral


- Terdapat secret kental supuratif pada liang telinga pasien

5) Faringitis kronik tipe hiperplastik


Dasar yang mendukung:

Anamnesis:

- Sering rasa mengganjal di tenggorok


- Sering mendehem untuk menghilangkan rasa mengganjal.
Pemeriksaan Fisik:

- Dinding posterior faring bergranular dan hiperemis


- Arcus palatopharyng hiperemis

V. DIAGNOSIS BANDING

1)Otitis Eksterna Sirkumskripta (furunkelosis)


Dasar yang mendukung:
Anamnesis
Gatal dan rasa penuh di telinga
Pemeriksaan fisik
nyeri tatik telinga, liang telinga sempit
Dasar yang tidak mendukung:
Pada liang 1/3 luar tidak terlihat bisul/ furunkel pada otoskopi

2)Rhinitis Vasomotor
Dasar yang mendukung:
Anamnesis:

- Hidung tersumbat di pagi hari.

37
Pemeriksaan fisik:

Terdapat sekret

Dasar yang tidak mendukung:


Tidak dipengaruhi perubahan posisi, hidung tersumbat bergantian.

VII. RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN


1. Skin test
2. Swab telinga untuk pemeriksaan mikroskopis KOH dan kultur.
3. Pemeriksaan Audiometri dan timpanometri

VIII. PENATALAKSANAAN
Otitis Eksterna
Medika mentosa
Membersihkan liang telinga
Pemasangan tampon yang megandung antibiotika ke liang telinga
Tetes telinga yang sering digunakan adalah polimiksin B, neomisin, hidrokortison,
kloramfenikol.
Non medikamentosa
Jangan mengorek telinga

Rhinitis Alergi
Medika mentosa :
Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara
peroral.Ada 2 jenis antihistamin yaitu:
Antihistamin generasi pertama, yang dapat menyebabkan gejala mengantuk pada
kebanyakan orang. Contoh obat antihistamin ini yaitu diphenhydramine dan
klorfenamin
Antihistamin generasi kedua, yang biasanya tidak menyebabkan gejala mengantuk
dan contoh obat antihistamin atau merk obat antihistamin ini termasuk loratadin dan
cetirizine

38
Non-medikamentosa :
Hindari paparan alergen
Menjaga higienitas hidung
Menjaga kesehatan tubuh

Otomikosis
Medika mentosa:
- Larutan asam asetat 2% dalam alkohol diteteskan ke liang telinga telinga.
- Obat anti jamur (ketokonozal, klotrimazol) topical bisa diberikan untuk ditetes ke telinga
pasien
Non-medika mentosa:
- Jangan mengorek telinga dengan cotton bud
- Elakkan telinga dari basah atau terkena air.

Omsk Aktif tipe Aman


Medika-mentosa:
- Obat cuci telinga H2O2 3% 3x5gtt selama 3 hari
- Antibiotic sistemik (amoksilin, cefixime) 3x1 tablet selama 5 hari
Non medika mentosa:
- Menjaga telinga supaya tetap kering.
- Menjaga hygiene telinga
- Tidak mengorek telinga

Faringin kronik tipe hiperplastik


Medika mentosa:
- Antibiotik amoksisilin 3x1 tablet selama 5 hari
- Lansoprazol untuk mengurangkan asam lambung 2x20mg selama 5 hari
Non medikamentosa:
- Terapi lokal: kaustik faring dengan memakai zat kimianitras argenti atau listrik (electro
cauter)
- Irigasi mukosa tenggorokan dengan larutan fisiologis NaCl untuk membersihkan mukosa oral
tenggorokan.

39
PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam
Ad sanationam: Dubia ad bonam
Ad fungtionam: Dubia ad bonam

PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik THT yang dilakukan pada pasien ini,
maka dapat ditegakan diagnosis kerja yaitu otitis eksterna difus dan rhinitis alergi intermitten
ringan. Hasil anamnesis yang mendukung adanya nyeri telinga, telinga terasa penuh dan
gatal. Disebabkan oleh kebiasaan mengorek telinga. Ditemukan juga gejala hidung tersumbat
dan bersin-bersin terutama pada pagi hari. Keluhan tersebut muncul terutama ketika terpapar
debu. Keluhan diperberat jika pasien terhirup bulu boneka atau debu.
Pada pemeriksaan fisik telinga, ditemukan liang telinga kanan sempit, hiperemis,
udem, laserasi, nyeri tekan tragus, dan nyeri penarikan daun telinga. Pada telinga kiri,
didapatkan liang telinga sempit, hiperemis, udem, laserasi, nyeri tekan tragus, dan nyeri
penarikan daun telinga. Faktor predisposisi pada pasien ini ialah mengorek telinga.

Dengan gejala yang mendukung tersebut maka penulis mengambil kesimpulan adanya
otitis eksterna difus dan rhinitis alergi intermitten ringan,
Penatalaksanaan medika mentosa yang diberikan pada pasien ini pemasangan tampon
antibiotika ke liang telinga dan pemberian obat tetes telinga cortisporin (polimiksin B,
neomisin, hidrokortison), Coli-Mycin S (kolistin, neomisin, hidrokortison). Pyocidin
(polomiksin B, hidrokortison), chloromycetin (kloramfenikol).

Pemberian pengobatan antihistamin. Antihistamin yang diberikan dalam hal ini adalah
antihistamin generasi kedua yang tidak menimbulkan efek sedatif seperti loratadin 10 mg
diberikan 1 kali sehari selama 5 hari dan dekongestan oral, seperti pseudoefedrin 60 mg 3x1
selama 3 hari.

Prognosis ad vitam adalah bonam karena tidak mengancam nyawa pasien. Ad


sanationam adalah dubia ad bonam karena bila pengobatan tidak adekuat dan kontak dengan
alergen tidak dihindari maka dapat berlanjut menjadi sinusitis. Ad functionam adalah dubia
ad bonam

40
KESIMPULAN

Otitis eksterna adalah radang pada liang telinga akut maupun kronis yang
disebabkan infeksi bakteri, virus dan jamur dengan gejala tekan tragus, nyeri penarikan
daun telinga, udem, hiperemis, rasa penuh di telinga dan gatal. Pencegahannya dengan tidak
melakukan pengorekan pada telinga.

Rinitis alergi adalah kelainan berupa inflamasi pada hidung dengan gejala
bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang
diperantarai oleh IgE. Pemeriksaan alergi dengan tes kulit terhadap berbagai allergen
mungkin dapat menunjang penegakan diagnosis rinitis alergi. Pengobatan rinitis alergi
bergantung pada tingkat keparahan penyakit. Namun yang terpenting adalah dengan
menghindari alergen pemicu.

41