Anda di halaman 1dari 45

SYAHRUN, S.

KEP, NS
 dikenal sejak zaman Babilonia dan
Mesir kuno (4800 SM) dengan
diketemukannya batu pada kandung
kemih mummi
 A kidney stone is a hard mass developed
from crystals that separate from the urine
within the urinary tract (urologyhealth.org)

 batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian


berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal
dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh
kaliks ginjal dan merupakan batu saluran
kemih yang paling sering terjadi (Purnomo,
2000)
 negara berkembang  BBB sedangkan
 di negara maju  batu ginjal dan ureter,
perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan
mobilitas aktivitas sehari-hari
 Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia
adalah 1-12 % penduduk menderita batu
saluran kemih.
 Kristauria yang abnormal : kristal sistin dan
struvit
 Sosio-ekonomi : negara – negara industri
 Diit : asam lemak, protein hewani, masukan
natrium >>
 Pekerjaan : dokter & pekerjaan kantoran
(white collar worker)
 Iklim
 Riwayat keluarga
 Obat - obatan
 Faktor intrinsik, meliputi:
◦ Herediter;
◦ Umur; sering pada usia 30-50 tahun
◦ Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3
kali lebih banyak dibanding pasien
wanita. (13% pria : 7 % wanita)
 Faktor ekstrinsik, meliputi:
◦ Geografi;
◦ Iklim dan temperatur
◦ Asupan air; kurangnya asupan air dan
tingginya kadar mineral kalsium
◦ Diet; diet tinggi purin, oksalat dan
kalsium
◦ Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai
pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas fisik
(sedentary life).
 Teori nukleasi: adanya inti batu atau sabuk
batu (nukleus)  Partikel-partikel dalam
larutan jenuh mengendap di nukleus 
batu. Inti  dapat berupa kristal atau benda
asing saluran kemih.

 Teori matriks: Matriks organik ;


serum/protein urine (albumin, globulin dan
mukoprotein) sebagai kerangka tempat
mengendapnya kristal-kristal batu.
 Penghambat kristalisasi: Urine normal
mengandung zat penghambat pembentuk
kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat,
mukoprotein dan beberapa peptida Jika
kadar salah satu berkurang  batu
 kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat,
magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn
dan sistin.

pencegahan kemungkinan timbulnya batu


residif
 Hiperkalsiuria: absorbsi >250-300
mg/24 jam  peningkatan absorbsi
kalsium di usus (hiperkalsiuria
absorbtif), gangguan kemampuan
reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal
(hiperkalsiuria renal) dan adanya
peningkatan resorpsi tulang
(hiperkalsiuria resoptif) seperti pada
hiperparatiridisme primer atau tumor
paratiroid.
 Hiperoksaluria: Ekskresi > 45 gr/24
jam, pasca pembedahan usus dan
konsumsi makanan kaya oksalat
seperti teh, kopi instan, soft drink,
kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran
hijau  bayam.
 Hiperurikosuria:>850 mg/24
jam. Asam urat  inti batu 
kalsium oksalat. bersumber dari
konsumsi makanan kaya purin
atau berasal dari metabolisme
endogen.
 Hipositraturia: di urine sitrat + kalsium =
kalsium sitrat  menghalangi ikatan kalsium
dengan oksalat atau fosfat. Keadaan
hipositraturia dapat terjadi pada penyakit
asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi
atau pemakaian diuretik golongan thiazide
dalam jangka waktu lama.
 Hipomagnesiuria: magnesium + oksalat =
magnesium oksalat  penghambat batu
kalsium  mencegah ikatan dengan kalsium
dengan oksalat
 Is batu infeksi  dipicu adanya isk.
 Kuman penyebab :
◦ golongan pemecah urea (urea splitter seperti:
Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas dan Stafilokokus)  menghasilkan
enzim urease & urine menjadi basa

Hidrolisis mg, amonium, fosfat


karbonat

amoniak MAP dan karbonat apatit


 meliputi 5-10% dari seluruh BSK
 banyak dialami oleh :
◦ penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein
dengan obat sitostatika dan urikosurik
(sulfinpirazone, thiazide dan salisilat).
◦ Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein
mempunyai peluang besar untuk mengalami
penyakit ini.
◦ Faktor mempengaruhi terbentuknya :urine terlalu
asam (pH kurang dari 6, volume urine kurang
dari 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria
Keluhan kolik renal/ureter :
 Terjadi obstruksi oleh batu
 Tiba – tiba, santai, penjalaran khas
(pinggang, genetalia, urgensi)
 Mual, muntah, ileus, diare, nyeri
kostovertebra

Gejala :
 Penderita sulit mencari posisi yg enak
 TD/nadi meningkat, kadang2 demam
 Nyeri tekan lumbal atau pd tempat batu
 Sedimen urine : lekosit, hematuria, kristal
pembentuk batu
 Kultur urine : pertumbuhan kuman pemecah
urea
 Faal ginjal : foto IVP, USG, kadar elektrolit,
 Terapi Medis
◦ Obsevasi (konsevatif) :
◦ Batu ureter < 4-5 mm
◦ Tidak ada obstruksi
◦ Tidak ada episode bakterimia atau urosepsis
◦ Kolik tdk mengganggu penderita
 Hidrasi dan deuritika
 Olah raga
 Obat pelarut : alkalinisasi & asidifikasi
 KP : analgetik (serangan kolik)
 Follow up teratur
 Terapi Medis dg Antibiotika, hanya bila :
◦ Ada tanda urosepsis atau bakterimia
◦ Akan dilakukan tindakan / instrumen pembedahan
◦ Sudah pasti bebas batu tetapi masih ada infeksi
 Indikasi tindakan segera / urgen :
◦ Ada bakterimia atau urosepsis
◦ Profesi tertentu tanpa melihat batu 
preventif :
 Pilot
 Pekerja / insinyur konstruksi
 Dokter spesialis bedah
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi)

 Diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada


tahun 1980.
 Memecah batu ginjal, batu ureter proksimal,
atau batu buli-buli tanpa invasif atau
pembiusan
 Batu  fragmen-fragmen
kecil  mudah dikeluarkan
melalui SK
 Endourologi

1. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) :


mengeluarkan batu  memasukkan alat
endoskopi sistem kaliks melalui insisi
kulit
2. Litotripsi : memecah batu dg alat pemecah
batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator
Ellik.
 Endourologi

3. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi :


alat ureteroskopi  memakai energi
tertentu  batu dipecah
4. Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu
ureter dengan menjaringnya dengan
keranjang Dormia.

5. Bedah Laparoskopi
Bedah terbuka :
 Pielolitotomi atau nefrolitotomi
 Ureterolitotomi
 Vesikolitotomi
 Uretrolitotomi
 Hindari dehidrasi dg minum cukup
 Diet rendah zat / komponen pembentuk batu
 Aktivitas harian yang cukup
 medikamentosa
 Aktivitas/istirahat
◦ Pekerjaan, lingkungan bersuhu tinggi, keterbatasan
aktivitas
 Sirkulasi
◦ Peningkatan TD, ndi (nyeri, obstruksi kalkulus),
kulit hangat dan kemerahan, pucat
 Eliminasi
◦ Riwayat ISK kronis, penurunan haluarahn urine,
distensi vesica urinaria, rasa terbakar, dorongan
berkemih, diare, oliguri, henaturi, piuria, perubahan
pola berkemih
 Makanan / cairan
◦ Mual, muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi
purin, kalsium oksalat/fosfat, intake cairan
inadekuat, distensi abdomen, penurunan bising
usus,
 Nyeri / kenyamanan
◦ Nyeri akut berat (tergantung lokasi batu), tidak
hilang dengan perubahan posisi atau tindakan lain,
melindungi, perilaku distraksi, nyeri tekan daerah
abdomen
 Keamanan
◦ Pengggunaan alkohol, demam, menggigil
 Nyeri (akut) b/d peradangan sekunder terhadap
iritasi batu, spasme otot polos dari saluran
enterik dan struktur peka terhadap refleks-
refleks renointestin, iskemia selular
 Perubahan pola eliminasi urine b/d stimulasi
batu di kandung kemih, iritasi ginjal / ureteral,
obstruksi mekanik, inflamasi
 Resiko tinggi terhadap kekurangan volume
cairan b/d mual.muntah sekunder akibat koli
renal / uretral,diuresis pasca obstruksi
 Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang
kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan /
mengingat, salah interpretasi informasi, tidak
mengenal sumber informasi
 Observasi nyeri (durasi, regio) dan tanda non
verbal
 Jelaskan penyebab nyeri
 Berikan lingkungan tenang, pijatan punggung
 Motivasi penggunaan napas panjang,
imajinasi, aktivitas terapeutik
 Kolaborasi obat narkotik, antispasmodik
 Berikan kompres hangat pada punggung
 Pertahankan patensi kateter bila digunakan
 Monitor masukan & haluaran serta
karakteristik urine
 Motivasi peningkatan pemasukan cairan bila
tdk ada kontra indikasi
 Monitor adanya distensi suorapubik,
penurunan pengeluaran urine, edema
periorbita
 Kolaborasi pemeriksaan BUN, kreatinin, kultur
urine dan sensitivitas
 Siapkan pasien / bantu untuk prosedur
endoskopi atau prosedur lainnya