Anda di halaman 1dari 35

NUR AFNI C051171004

CINDY GLORIA MASIKU C051171005


NUR ASYIFA MURSALIM C051171028
RIDHA RAMADHANI C051171013
ROSNANI AMPO C051171301
FARADILLA PUTRI A ANCONG C051171518
HASBI ASSIDIQ C051171342

KELOMPOK 6
PENYAKIT ASMA,
STATUS ASMATIKUS,
ATELEKTASIS
1. Penyakit Asma
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten,
reversible di mana trakea dan bronki berespons dalam
secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma
dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas,
yang mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi. Tingkat
penyempitan jalan napas dapat berubah baik secara
spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari penyakit
paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses
reversibel.
Jenis-Jenis Asma
• Asma alergik disebabkan oleh alergen atau alergen-
alergen yang dikenal (misalkan serbuk sari,
binatang, makanan, dan jamur). Kebanyakan
alergen terdapat di udara dan musiman.
• Asma idiopatik atau nonalergik tidak berhubungan
dengan alergen spesifik. Faktor-faktor seperti
common cold, infeksi traktus respiraorius, latihan,
emosi, dan polutan lingkungan dapat mencetuskan
serangan
Etiologi
• Faktor Predisposisi
Genetik, dimana yang diturunkan adalah bakat
alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita penyakit alergi. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
Faktor Presipitasi
1. Alergen
ALERGEN

INHALAN INGESTAN

masuk melalui
saluran pernapasan
(ex: debu, bulu yang masuk melalui
binatang, mulut (ex: makanan
serbuk bunga, spora dan obat-obatan)
jamur, bakteri dan
polusi)
2. Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang
dingin sering mempengaruhi asma. Kadang-
kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau, musim
bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin
serbuk bungadandebu.
3. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi
pencetus serangan asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan asma yang
sudah ada. Karena jika stressnya belum
diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
4. Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan
sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja.
Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik
asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik
pada waktu libur atau cuti.
Patofisiologi
Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun
yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang
dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam
paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan
ikatan antigen dengan atibodi, menyebabkan pelepasan
produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamin,
bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi
yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam
jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan
napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan
membran mukosa, dan pembentukan mucus yang sangat
banyak.
Manifestasi Klinis
Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengi.
Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan
rasa sesak di dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat,
mengi, laborious. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang
disbanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk tegak dan
menggunakan setiap otot-otot aksesori pernapasan. Jalan napas
yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada awalnya
susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum, yang
terdiri atas sedikit mucus sedikit mengandung masa gelatinosa
bulat, kecil yang dibatukkan dengan susah payah. Tanda
selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia
hebat, dan gejala-gejala retensi karbon dioksida, termasuk
berkeringat, takikardia, dan pelebaran tekanan nadi.
Asuhan Keperawatan pada Pasien
dengan Penyakit Asma
• Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
• Gejala : Pada klien dengan Asma gejala yang dapat
ditimbulkan antara lain keletihan,kelelahan, malaise,
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari
karena sulit berafas, ketidakmampuan untuk tidur, perlu
tidur dalam posisi tinggi, dispnoe pada saat istirahat atau
respon terhadap aktivatas / latihan.

• Tanda : Tanda-tandanya antara lain keletahan, gelisah,


insomnia, kelemahan umum/kehilangan massa otot.
b.Sirkulasi

Gejala : Gejala yang ditimbulkan antara lain


pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda : Tanda-tandanya antara lain peningkatan
TD, peningakatan frekuensi jantung/takikardi
berat,disritmia,distensi vena leher,odema
dependan,tidak berhubungan dangan penyakit jantung,
bunnyi jantung redup (berkaitan dengan peningkatan
diameter AP dada), warna kulit/membran mukosa
normal/abu-abu(sianosis), kaku tubuh,sianosis
perifer,pucat dapat menunjukkan anemia.
c. Makanan/cairan
Gejala : Mual,muntah,nafsu makan
buruk/anoreksia,kemampuan untuk makan
menurun karena distress pernafasan,
penurunan BB menetap (emfisema),
peningkatan BB menunjukan edema
(bronkitis).
Tanda : Turgor kulit buruk, adema
dependen, berkeringat.
d. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek,dispnoe, dada terasa
tertekan,sesak nafasberulang,riwayat pneumonia
berulang,terpajan polusi atau debu/asap, faktor
keluarga/keturunan.
Tanda : Pernapasan cepat/lambat,
penggunaan otot bantu pernafasan, nafas bibir,
barrel chest, gerakan diafragma minimal, bunyi
nafas redup dengan ekspirasi mengi, crackles
atau ronchi, hiperesonan atau pekak pada paru,
sianosis bibir dan pada dasar kuku.
e. Higiene
Gejala : Penurunan kemampuan
beraktivitas,
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.
f. Keamanan
Gejala : Riwayat reaksi alergi / sensitif
terhadap zat/faktor lingkungan, adanya
infeksi, kemerahan/berkeringat.
g. Seksualitas
Gejala : Penurunan libido
h. Interaksi sosial
Gejala : Hubungan ketergantungan ,
kurang sistem pendukung, penyakit
lama/ketidkmampuan membaik.
Tanda : Ketidakmampuan
mempertahankan suara, keterbatasan
mobilitas fisik, kelainan hubungan dengan
anggota keluarga lain (Doenges, Marilynn.
2000:152).
Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
berhubungan dengan penumpukan sekret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan
dengan penurunan kemampuan bernapas
3. Kerusakan pertukaran gas yang
berhubungan dengan retensi CO2,
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan
regumen pengobatan (Doenges,2003)
2. Status Asmatikus
Status asmatikus adalah asma yang
berat dan persisten yang tidak
berespon terhadap terapi
konvensional.
Patofisiologi
Karakteristik dasar dari asma (konstraksi otot polos bronkial,
pembengkakan mukosa bronkial, dan pengentalan sekresi)
mengurangi diameter bronkial dan nyata pada status
asmatikus. Abnormalitas ventilasi perfusi yang mengakibatkan
hipoksemia dan respirasi alkalosis pada awalnya diikuti oleh
respirasi asidosis. Terdapat penurunan PaO2 dan respirasi
alkalosis dengan penurunan PaCO2 dan peningkatan pH.
Dengan meningkatnya keparahan status asmatikus. PaCO2
meningkat dan pH turun, mencerminkan respirasi asidosis.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis status asmatikus adalah
sama dengan manifestasi yang terdapat
pada asma hebat- pernafasan labored,
perpanjangan ekshalasi, perbesaran vena
leher, mengi. Namun, lamanya mengi tidak
mengindikasikan keparahan serangan.
Dengan makin besarnya obstruksi, mengi
dapat hilang, yang sering kali menjadi
pertanda bahaya gagal pernafasan.
Evaluasi Diagnostik
Pemeriksaan fungsi paru adalah cara yang paling akurat
dalam mengkaji obstruksi jalan nafas akut. Pemeriksaan
gas darah arteri dilakukan jika pasien tidak mampu
melakukan maneuver fungsi pernafasankarena
obstruksi berat atau keletihan, atau bila pasien tidak
berespon terhadap tindakan. Respirasi alkalosis (CO2
rendah) adalah temuan yang paling umum pada pasien
asmatik. Peningkatan PCO2 (ke kadar normal atau kadar
yang menandakan respirasi asidosis) seringkali
merupakan tanda bahaya serangan gagal nafas.
Penatalaksaan Medis
Dalam lingkungan kedaruratan, pasien mula-mula diobati
dengan agonis beta (mis, metaproterenol, terbutaline dan
albuterol) dan kortikosteroid. Pasien juga mungkin
membutuhkan oksigen suplemetal dan cairan intravena
untuk hidrasi. Jika tidak terdapat respon terhadap
pengobatan berulang, dibutuhkan perawatan di rumah
sakit. Fungsi paru yang rendah mengakibatkan dan
menyimpangkan gas darah (respirasi asidosis), mungkin
mendakan bahwa pasien menjadi lelah dan akan
membutuhkan ventilasi mekanis, adalah kriteria lain yang
menandakan kebutuhan akan perawatan di rumah sakit.
Intervensi Keperawatan
Tanda-tanda dehidrasi diidentifikasi dengan memeriksa turgor
kulit. Masukan cairan penting untuk melawan dehidrasi,
mengencerkan sekresi, dan untuk memudahkan ekspektorasi.
Cairan intravena diberikan sesuai dengan yang diharuskan, hingga
3 sampai 4 L/hari, kecuali bila ada kontradiksi. Pemantauan
terhadap pasien oleh perawat secara terus menerus, penting
dilakukan dalam 12 sampai 24 jam pertama, atau sampai status
asmatikus dapat diatasi. Energi pasien harus dihemat dan ruamgan
harus tenang serta bebas dari iritan pernafasan, termasuk bunga,
asap tembakau, parfum atau bau bahan pembersih. Bantal
nonalergenik harus digunakan.
3. Atelektasis
Atelektasis adalah suatu kondisi di
mana paru-paru tidak dapat
mengembang secara sempurna
(Somantri, 2008).
Etiologi
Sebab utama dari atelektasis adalah penyumbatan bronkus.
Penyumbatan juga bisa terjadi pada saluran pernafasan yang
lebih kecil. Penyumbatan bisa disebabkan oleh adanya
gumpalan lendir, tumor atau benda asing yang terhisap ke
dalam bronkus. Atau bronkus bisa tersumbat oleh sesuatu
yang menekan dari luar, seperti tumor atau pembesaran
kelenjar getah bening. Jika saluran pernafasan tersumbat,
udara di dalam alveoli akan terserap ke dalam aliran darah
sehingga alveoli akan menciut dan memadat. Jaringan paru-
paru yang mengkerut biasanya terisi dengan sel darah, serum,
lendir, dan kemudian akan mengalami infeksi.
Patofisiologi
Pada atelektasis absorpsi, obstruksi saluran napas
menghambat masuknya udara ke dalam alveolus yang
terletak distal terhadap sumbatan. Udara yang sudah
terdapat dalam alveolus tersebut diabsorpsi sedikit
demi sedikit ke dalam aliran darah dan alveolus kolaps.
Atelektasis absorpsi dapat disebabkan oleh obstruksi
bronkus intrinsik atau ekstrinsik. Obstruksi bronkus
intrinsik paling sering disebabkan oleh secret atau
eksudat yang tertahan.
Manifestasi Klinis
a. Dyspnea berat.
b. Sianosis.
c. Nyeri dada.
d. Takikardi.
e. Dapat mengeluh napas pendek, sesak dan kelemahan.
f. Ansietas
g. Pemeriksaan auskultasi menunjukkan penurunan bunyi
napas.
Asuhan Keperawatan
• Pengkajian o Riwayat peyakit dahulu,
o Identitas, meliputi nama misalnya kita menanyakan
pasien, jenis kelamin, pernahkah pasien
umur, bangsa. menderita penyakit THT
o Keluhan utama, seperti sebelumnya.
bersin-bersin, hidung o Riwayat keluarga, kita bisa
mengeluarkan sekret, menanyakan apakah
hidung tersumbat, dan keluarga ada yang
hidung gatal menderita penyakit yang
sama seperti yang dialami
pasien
• Pemeriksaan Fisik
o Pada tahap dini sulit diketahui.
o Ronchi basah, kasar dan nyaring.
o Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang
cukup dan pada auskultasi memberi suara
umforik.
o Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan
lanjut dan fibrosis.
o Bila mengenai Pleura terjadi efusi pleura
(perkusi memberikan suara pekak)
• Pemeriksaan Radiologi
• Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus
untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan
paru karena TB.
• Laboratorium :
• Darah : leukosit meninggi, LED meningkat
• Sputum : pada kultur ditemukan BTA
• Test Tuberkulin : Mantoux test (indurasi lebih dari
10-15 mm)
Diagnosa Keperawatan
Pertukaran gas berhubungan dengan
ketidakseimbangan perfusi dan
ventilasi dan perubahan membrane
alveolar – kapiler.
Intervensi
Tujuan :
Kriteri Hasil :
• Saturasi Oksigen
• Keseimbangan ventilasi dan perfusi
• Gangguan kesadaran
Intervensi
• Manajemen Jalan Nafas
• Kegiatan – Kegiatan
• Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
• Masukkan alat nasopharyngeal airway (NPA) atau
oropharyngeal airway (OPA), sebagaimana mestinya.
• Posisikan untuk meringankan sesak nafas
• Terapi Oksigen
Kegiatan – kegiatan
Bersihkan mulut, hidung, dan sekresi
trakea dengan tepat
Batasi merokok
Pertahankan kepatenan jalan nafas
Siapkan peralatan oksigen dan berikan
melalui system humidifier
• Monitor Pernafasan
Kegiatan – kegiatan
Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan
bernafas.
Monitor suara nafas tambahan seperti ngorok atau
mengik.
Catat pergerkan dada, catat ketidaksimetrisan,
penggunaan otot-otot bantu nafas. dan retraksi pada
otot supraclaviculas dan interkosta
• Implementasi
• Evaluasi