Anda di halaman 1dari 26

Oleh

I Gede Dipta antara, S. Kep.


Halusinasi adalah
satu persepsi yang salah
oleh panca indera tanpa adanya
rangsang (stimulus) eksternal
(Cook & Fontain, Essentials of
Mental Health Nursing, 1987).
 Halusinasi pendengaran : karakteristik
ditandai dengan mendengar suara,
teruatama suara – suara orang,
biasanya klien mendengar suara orang
yang sedang membicarakan apa yang
sedang dipikirkannya dan
memerintahkan untuk melakukan
sesuatu.
 Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan
adanya stimulus penglihatan dalam bentuk
pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar
kartun dan / atau panorama yang luas dan
kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau
menakutkan.
 Halusinasi penghidu :
karakteristik ditandai dengan
adanya bau busuk, amis dan
bau yang menjijikkan seperti :
darah, urine atau feses.
Kadang – kadang terhidu bau
harum. Biasanya berhubungan
dengan stroke, tumor, kejang
dan dementia.
 Halusinasi peraba :
karakteristik ditandai dengan
adanya rasa sakit atau tidak
enak tanpa stimulus yang
terlihat.
Contoh : merasakan sensasi listrik
datang dari tanah, benda mati atau
orang lain.
 Halusinasi pengecap :
karakteristik ditandai
dengan merasakan
sesuatu yang busuk,
amis dan menjijikkan.
 Halusinasi sinestetik :
karakteristik ditandai
dengan
merasakan fungsi tubuh
seperti darah mengalir
melalui
vena atau arteri, makanan
dicerna atau pembentukan
urine.
Faktor Predisposisi
 BIOLOGIS
Gangguan perkembangan dan fungsi
otak, susunan syaraf – syaraf pusat
dapat menimbulkan gangguan realita.
Gejala yang mungkin timbul adalah :
hambatan dalam belajar, berbicara, daya
ingat dan muncul perilaku menarik diri.
 PSIKOLOGIS

 Keluarga pengasuh dan lingkungan klien sangat


mempengaruhi respons psikologis klien, sikap
atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah : penolakan
atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup
klien.
 SOSIOBUDAYA

 Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan


orientasi realita seperti : kemiskinan, konflik
sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai
stress.
Faktor Presipitasi

Secara umum klien dengan gangguan


halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan,
tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna,
putus asa dan tidak berdaya
 SLEEP DIS ORDER
 COMPORTING
 CONDEMING
 CONTROLING
 CONCUERING.
 Tahanp I
fae awal sesorang sebelum muncul
halusinasi, klien merasa banyak punya
masalah, masalah makin terasa sulit,
shg terbiasa untuk berhayal, hayalan
merupakan problem solving baginya.
 Tahap II
Memberi rasa nyaman tingkat
ansietas sedang secara umum,
halusinasi merupakan suatu
kesenangan.
Mengalami ansietas, kesepian,
rasa bersalah dan ketakutan.

Mencoba berfokus pada pikiran yang


dapat menghilangkan ansietas

Fikiran dan pengalaman sensori


masih ada dalam kontrol kesadaran,
nonpsikotik.
 -

 Tersenyum, tertawa sendiri

 - Menggerakkan bibir tanpa suara

 - Pergerakkan mata yang cepat

 - Respon verbal yang lambat

 - Diam dan berkonsentrasi


Tahap III

 Menyalahkan
Tingkat kecemasan berat secara umum
halusinasi menyebabkan perasaan
antipati
Pengalaman sensori menakutkan
Merasa dilecehkan oleh
pengalaman sensori tersebut

Mulai merasa kehilangan kontrol


- Menarik diri dari orang lain non psikotik
-Terjadi peningkatan denyut jantung,
pernafasan dan tekanan darah
- Perhatian dengan lingkungan
berkurang
- Konsentrasi terhadap pengalaman
sensori kerja
- Kehilangan kemampuan
 Tahap III
-

 Mengontrol
- Tingkat kecemasan berat
- Pengalaman halusinasi tidak dapat
ditolak lagi
- Klien menyerah dan menerima
pengalaman sensori (halusinasi)
 Tahap IV

 Klien sudah dikuasai oleh halusinasi


- Klien panik
Pengalaman sensori mungkin menakutkan
jika individu tidak mengikuti perintah
halusinasi, bisa berlangsung dalam
beberapa jam atau hari
apabila tidak ada intervensi
terapeutik.
- Perilaku panik
- Resiko tinggi mencederai
- Agitasi atau kataton
- Tidak mampu berespon
terhadap lingkungan
Penatalaksanaan keperawatan
halusinasi
 TUK (Tujuan Khusus)
1. BHSP
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
4. Klien dapat dukungan dari kelurga
5. Klien ddapat memanfaatkan obat
dengan baik.
 SEORANG PERAWAT HRS MAMPU
MERAWAT KLIEN DENGAN
HALUSINASI DENGAN.:
- AWITAN HALUSINASI
- FREKUENSI MUNCULNYA HAL
- DURASI
- RESPON KLIEN THD HAL.