Anda di halaman 1dari 21

TEKS

ANEKDOT
Amatilah video berikut!
1. Apakah video tadi
termasuk anekdot?
2. Apakah anekdot hanya
bersifat humor?
3. Atau ada makna tertentu
yang ada di dalamnya?
4. Makna apa yang ingin
disampaikan dalam video
tadi?
Perbedaan Anekdot dengan
Konten Humor

1. Anekdot biasanya diambil dari


masalah sehari-hari yang
menyangkut orang banyak,
sedangkan humor hanya
rekaan.
2. Anekdot memiliki fungsi
tertentu yaitu makna tersirat
yang diharapkan mampu
diterima oleh pihak tertentu,
sedangkan humor hanya
sekedar menghibur pembaca
atau penonton dan tidak ada
makna tersiratnya.
Makna Idiomatis

Dalam teks anekdot terdapat


makna idiomatis. Makna kata ini
digunakan untuk menimbulkan
kelucuan ketika mengungkapkan
sindiran kepada pihak-pihak
tertentu.

Pertanyaannya, apa makna


idiomatis itu?
Makna Idiomatis

Makna kata idiomatis


merupakan makna yang
terbentuk dari gabungan
dua kata yang maknanya
menyimpang dari makna asli
kedua kata tersebut.
Contoh Makna Kata Idiomatis

 Setiap gerak langkah yang tengah kau lakukan,


akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat
nanti.
 Polisi telah menangkap pelaku yang tertangkap
basah sedang bertransaksi narkoba.
 Kekayaan yang baru didapatnya, membuat dia
semakin lupa daratan.
 Di kantor ini, aku termasuk anak kemarin sore.
 Sore ini aku akan makan angin ke perkebunan teh
milik Paman Edo.
Unsur Utama dalam Teks
Anekdot

 Tokoh faktual
 Mengandung lelucon
 Berisi kritik dan pelajaran
Struktur Teks Anekdot

 Abstraksi
 Orientasi
 Krisis
 Reaksi
 Koda
Bacalah teks berikut!
Khutbah Nasruddin

Suatu ketika, orang-orang di kota mengundang Nasruddin untuk menyampaikan khutbah di sebuah majelis.
Ketika tiba di mimbar, dia mendapati bahwa sebagian besar hadirin dalam majelis itu tidak terlampau
bersemangat untuk mendengarkan khutbahnya. Sesudah menyampaikan salam, Nasruddin bertanya kepada
hadirin, “Apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?”

Hadirin serempak menjawab, “Tidak !” Sebab itu Nasruddin berkata, “Aku tidak punya keinginan untuk
berbicara kepada orang-orang yang tidak mengetahui apapun tentang apa yang akan aku bicarakan”
kemudian berjalan turun dari mimbar dan meninggalkan majelis.

Orang-orang merasa tidak enak hati kepadanya dan mengundangnya lagi pada keesokan harinya.
Keesokan harinya, sesampai di mimbar, Nasruddin mengulang pertanyaan yang sama dan hadirinpun menjawab,
“Ya !”. Maka Nasruddin berkata, “Baiklah, karena kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan maka aku tidak
akan membuang waktu kalian yang sangat berharga.”

Kemudian ia turun dari mimbar dan berjalan pulang. Kali ini orang-orang benar-benar dibuat bingung dan
akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi dan mengundangnya agar datang lagi minggu depan
menyampaikan khutbah.

Minggu depannya, ketika naik mimbar, Nasruddin lagi-lagi bertanya yang sama, “Apakah kalian tahu apa
yang akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Kali ini hadirin sudah bersiap-siap untuk pertanyaan itu, maka
sebagian dari mereka menjawab “Tidak !” dan sebagian lagi menjawab “Ya !”

Nasruddin pun berkata lagi, “Baiklah, kalau begitu sebahagian yang sudah tahu bisa menceritakan kepada
sebahagian lainnya yang belum tahu” dan ia pun kemudian turun meninggalkan mimbar.

Seperti itulah Nasruddin ketika menanggapi permasalahan ketika dia hendak berkhotbah. Orang-orang pun
akhirnya ragu untuk mengundangnya lagi.
Misalnya:

Suatu ketika, orang-orang di kota


Abstraksi mengundang Nasruddin untuk
menyampaikan khutbah di sebuah majelis.

Pengertian:
Abstraksi merupakan pendahuluan yang
menyatakan latar belakang atau gambaran
umum tentang isi suatu teks.
Misalnya:

Ketika tiba di mimbar, dia mendapati bahwa


Orientasi sebagian besar hadirin dalam majelis itu tidak
terlampau bersemangat untuk
mendengarkan khutbahnya.

Pengertian:
Orientasi merupakan bagian cerita yang
mengarah pada terjadinya suatu krisis, konflik,
atau peristiwa utama dalam cerita anekdot.
Bagian inilah yang menjadi penyebab
timbulnya krisis.
Misalnya:
Kemudian ia turun dari mimbar dan berjalan pulang.
Kali ini orang-orang benar-benar dibuat bingung dan
akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi
Krisis atau dan mengundangnya agar datang lagi minggu depan
menyampaikan khutbah.
Komplikasi Minggu depannya, ketika naik mimbar, Nasruddin lagi-
lagi bertanya yang sama, “Apakah kalian tahu apa yang
akan saya sampaikan dalam khutbah ini ?” Kali ini hadirin
sudah bersiap-siap untuk pertanyaan itu, maka sebagian
dari mereka menjawab “Tidak !” dan sebagian lagi
menjawab “Ya !”

Pengertian:
Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari
inti peristiwa suatu anekdot. Pada bagian
itulah adanya kekonyolan yang menggelitik
dan mengundang tawa.
Misalnya:
Nasruddin pun berkata lagi, “Baiklah, kalau
begitu sebagian yang sudah tahu bisa
Reaksi menceritakan kepada sebagian lainnya yang
belum tahu” dan ia pun kemudian turun
meninggalkan mimbar.

Pengertian:
Reaksi merupakan tanggapan atau respons
atau krisis yang dinyatakan sebelumnya.
Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap
mencela atau menertawakan. Bagian ini
sering mengejutkan, sesuatu yang tidak
terduga, dan mencengangkan.
Misalnya:
Seperti itulah Nasruddin ketika
menanggapi permasalahan ketika dia
Koda hendak berkhotbah. Orang-orang pun
akhirnya ragu untuk mengundangnya lagi.

Pengertian:
Koda merupakan penutup atau kesimpulan
sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di
dalamnya dapat berupa persetujuan,
komentar, atau penjelasan atas maksud dari
cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian
ini biasanya ditandai oleh kata-kata seperti
itulah, akhirnya, demikianlah. Keberadaan
koda bersifat opsional, artinya bisa ada atau
tidak.
Pola Kalimat

 Kalimat langsung
 Kalimat tidak langsung
Misalnya:

1. Ibu menyuruh, “Belikan ibu garam di


Kalimat warung!”
2. “Jangan bergereak!” gertak polisi kepada
Langsung pencuri.
3. “Siapakah yang membersihkan ruang kelas
ini?” tanya bu guru sebelum memulai
pelajaran.
4. “Kak, kau dipanggil Ayah” kata ibu, “ kamu
disuruh makan olehnya.”
5. Budi berkata: “Aku ingin pergi ke Jepang
suatu saat nanti.”
Misalnya:

1. Ibu menyuruh, “Belikan ibu garam di


Kalimat Tidak warung!” (Kalimat langsung)

Langsung 2. Ibu menyuruh kami membelikan garam di


warung. (Kalimat tidak langsung)
Kebahasaan yang Sering
Muncul dalam Anekdot

 Pronomina
 Kata keterangan waktu
 Konjungsi penerang
 Konjungsi temporal
 Kata kerja material
 Kata kerja mental
Langkah Menyusun Anekdot

 Menentukan topik
 Mencari bahan referensi
 Menentukan pesan atau sindiran tersirat yang ingin
disampaikan
 Menentukan unsur humor
 Menentukan alur cerita berdasarkan struktur
anekdot
 Mengembangkan anekdot
 Menyunting anekdot
Perhatikan gambar anekdot
berikut kemudian jelaskan
makna tersiratnya!