Anda di halaman 1dari 17

Disusun oleh: Ulfi NelaYanar (1102014272)

Pembimbing :
dr. Uus Rustandi, Sp.An-KIC.
dr. Ruby Satria Nugraha, Sp.An., M.Kes.
dr. Rizki, Sp.An.
BAB I: PENDAHULUAN

 Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra bedah, selama

pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan belum berfungsi secara
optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.

 Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda hipovolemik
dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema paru dan gagal nafas.

 Gejala dari defisit cairan ini belum dapat dideskripsikan, tetapi termasuk di dalamnya
adalah rasa haus, perasaan mengantuk, dan pusing kepala.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Cairan Tubuh

Cairan
Cairan Ekstraselular
Intraselular
Cairan ekstraselular dibagi menjadi:
cairan intravaskular dan intersisial.

Elektrolit Non Elektrolit


Proses Pergerakan Cairan Tubuh

Difusi
Asupan dan Kehilangan Cairan dan Elektrolit
pada Keadaan Normal
 Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah oleh stres
akibat operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh adanya cedera pada paru-
paru, kulit atau traktus gastrointestinal

 Pada keadaan normal, seseorang mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per
hari

 Dalam bentuk cairan maupun makanan padat dengan kehilangan cairan ratar-ata 250 ml
dari feses, 800-1500 ml dari urin, dan hampir 600 ml kehilangan cairan yang tidak disadari
(insensible water loss) dari kulit dan paru-paru
Dasar-Dasar Terapi Cairan Elektrolit
Perioperatif
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan menjadi pegangan pemberian cairan perioperatif,
yaitu

1. Kebutuhan Normal Cairan Dan Elektrolit Harian

2. Defisit Cairan Dan Elektrolit Pra Bedah

3. Kehilangan Cairan Saat Pembedahan

-Perdarahan

-Kehilangan Cairan Lainnya

4. Gangguan Fungsi Ginjal


Penatalaksanaan Terapi

Cairan Pra Bedah


• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Laboratorium: pemeriksaan elektrolit, BUN, hematokrit, hemoglobin dan
protein

 Fase awal: Keluhan haus, nadi meningkat sedikit, belum ada gangguan cairan dan komposisinya secara serius.
Dehidrasi pada fase ini terjadi jika kehilangan kira-kira 2% berat badan (1500 ml air).
 Fase moderat: Keluhan rasa haus, mukosa kering otot lemah, nadi cepat dan lemah. Terjadi pada kehilangan cairan
6% berat badan.
 Fase lanjut/dehidrasi berat: adanya tanda shock cardiosirkulasi, terjadi pada kehilangan cairan 7-15 % berat badan.
Kegagalan penggantian cairan dan elektrolit biasanya menyebabkan kematian jika kehilangan cairan ≥15 % berat
badan atau lebih.
Cairan Selama Pembedahan
• Pada pembedahan dengan trauma ringan diberikan cairan 2 ml/kg
BB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kg BB/jam sebagai
pengganti akibat trauma pembedahan
• Cairan pengganti akibat trauma pembedahan sedang 6 ml/kg BB/jam
• Cairan pengganti pada trauma pembedahan berat 8 ml/kg BB/jam
Klasifikasi Shok Akibat Perdarahan :

Intravenous fluid replacement in haemorrhagic shock


Class I 2.5 l Ringer-lactate solution or 1.0 L polygelatin
(haemorrhage 750 ml (15%))
1.0 l polygelatin plus 1.5 L Ringer-lactate solution
Class II
(haemorrhage 800-1500 ml (15-30%))
1.0. l Ringer-lactate solution plus 0.5 l whole blood
Class III or 0.1-1.5 l equal volumes of concentrated red cells
(haemorrhage 1500-2000 ml (30-40%)) and polygelatin

1.0 l Ringer-lactate solution plus 1.0 l polygelatin


Class IV plus 2.0 l whole blood or 2.0 l equal volumes of
(haemorrhage 2000 ml (48%)) concentrated red cells and polygelatin or
hestastarch
Cairan Pasca Bedah
Terapi cairan pasca bedah ditujukan untuk :

• Memenuhi kebutuhan air, elektrolit dan nutrisi


• Mengganti kehilangan cairan pada masa paska bedah (cairan
lambung, febris)
• Melanjutkan penggantian defisit prabedah dan selama
pembedahan
• Koreksi gangguan keseimbangan karena terapi cairan
Macam-macam Cairan yang Dapat Digunakan
dalam Terapi Cairan

Cairan Kristaloid
• Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan
koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk
mengatasi defisit volume intravaskuler.
• Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit.

Cairan Koloid
• Koloid Alami (Protein plasma 5% dan albumin manusia 5 dan 2,5%)
• Koloid Sintesis (Dextran, Hydroxylethyl Starch,Gelatin)
Transfusi
• Pada perdarahan yang terjadi di bawah 50% atau hematokrit masih di atas 20%, darah
yang hilang masih dapat diganti dengan cairan koloid atau kombinasi koloid dengan
kristaloid
• Namun bila kehilangan darah > 50%, biasanya diperlukan transfusi.
• Untuk mengganti darah yang hilang dapat digunakan rumus dasar transfusi darah,
yaitu:
• V = (Hb target – Hb inisial) x 80% x BB
• Transfusi sel darah merah (Indikasi transfusi sel darah merah: Kehilangan darah yang
akut, transfusi darah prabedah, anemia defisiensi besi, anemia yang berkaitan dengan
kelainan menahun, gagal ginjal, gagal sumsum tulang, penderita yang tergantung
transfusi, penderita sel bulan sabit, penyakit hemolitik neonatus)
• Transfusi Trombosit dan Granulosit (Indikasi transfusi trombosit: Gagal sumsum tulang
yang disebabkan oleh penyakit atau pengobatan mielotoksik, kelainan fungsi
trombosit, trombositopenia akibat pengenceran, purpura trombositopenia autoimun)
Sifat-Sifat Plasma Substitute yang Ideal
Kriteria Whole blood Larutan elektrolit Albumin 20% Dekstran HES 6% Haemaccel
40+10
pH 7,3 – 7,4 5,5 – 6,5 6,47 – 7,2 4,5 – 5,7 5,0 – 7,0 7,0 – 7,6
BM rata-rata - - 66.000 40.000 200.000/ 450.000 35.000
Tekanan osmotic Fisiologis Non-osmotik Iso-osmotik Hiper-osmotik Hiper-osmotik Iso-osmotik
Keseimbangan cairan Terpelihara Resiko edema Perbaikan Dehidrasi Dehidrasi Perbaikan
intravaskuler-interstitial
Waktu paruh efektif Beberapa hari-minggu Beberapa menit Beberapa hari 6-8 jam 12 jam 4-6 jam

Gangguan pada blood Biasanya tidak Tidak Tidak Pseudoaglu tinasi Tidak Tidak
typing
Gangguan pada Ada kemungkinan (aktivasi Hanya pengence- Hanya pengence- Menurunkan fungsi Menurunkan fungsi Hanya pengenceran
homeostasis faktor) ran ran trombosit dan trombosit dan
koagulopati koagulopati
Fungsi ginjal Membaik Membaik Mungkin terganggu Tidak ditemukan data Membaik
literatur
Overload cardiovaskuler Mungkin Tidak Tidak mungkin Mungkin Mungkin Tidak mungkin
Efek samping yang Anafilaksis/ Edema pulmonal Reaksi kutis, Anafilaksis yang perlu Anafilaksis atau Reaksi kulit lokal,
mungkin inkompatibilitas demam, hipotensi premedikasi reaksi anafilaksis hipotensi sementara
sementara

Transmisi penyakit Resiko infeksi virus seperti Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
HIV, HBV, HCV
Waktu penyimpanan 21 hari 3 tahun 3-5 tahun 5 tahun 3 tahun 5 tahun
Suhu penyimpanan 4-60C Suhu ruangan 2-250C 0C Suhu ruangan Suhu ruangan
Akumulasi pada RES Tidak Tidak Tidak Beberapa minggu Beberapa bulan Tidak
Sifat-sifat plasma substitute yang ideal adalah:

• pH, tekanan onkotik dan viskositas sebanding dengan plasma darah


• Efek volume yang cukup untuk periode waktu tertentu tanpa resiko overload pada sistem
cardiovaskuler atau terjadinya edema
• Meningkatkan mikrosirkulasi dan memperbaiki diuresis
• Tidak mengganggu homeostasis
• Tidak mengganggu blood grouping dan cross matching
• Akumulasi minimal pada sistem retikuloendotelial
• Lama penyimpanan produk panjang
• Ekonomis
DAFTAR PUSTAKA
Heitz U, Horne MM. Fluid, electrolyte and acid base balance. 5th ed. Missouri:Elsevier-
mosby; 2005.p3-227.
Holte K, Kehlet H. Compensatory fluid administration for preoperative dehydrationdoesit
improve outcome. Acta Anaesthesiol Scand. 2002; 46: 1089-93.
Kaswiyan U. Terapi cairan perioperatif. Bagian Anestesiologi dan Reanimasi. Fakultas
Kedokteran Unpad/ RS. Hasan Sadikin. 2000.
Latief AS, dkk. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada pembedahan. Ed.Kedua.
Bagian anestesiologi dan terapi intensif, FKUI. 2002
Mayer H, Follin SA. Fluid and electrolyte made incredibly easy. 2nd ed. Pennsylvania:
Springhouse; 2002:3-189.
Pandey CK, Singh RB. Fluid and electrolyte disorders. Indian J.Anaesh.2003;47(5):380-387.
TERIMA KASIH