Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS

PRESBIOPIA

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. Anwar

Umur : 53 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Makassar

Pekerjaan : PNS

Alamat : Pao-Pao

No. Register : 31 26 01

Tanggal Periksa : 14 September 2015

Tempat Periksa : RSUD Syekh Yusuf

Pemeriksa : dr. Yusuf Bachmid, Sp.M

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Sulit membaca dekat
Anamnesis Terpimpin : Pasien mengeluhkan kesulitan dalam membaca dekat.
Keluhan ini dialami sejak 4 tahun yang lalu. Keluhan dirasakan perlahan-lahan
yang semakin lama semakin buruk. Keluhan juga disertai mata yang cepat lelah (+),
berair (+) dan terasa pedih serta sakit kepala saat melihat objek dekat dalam waktu
yang lama. Mual dan muntah (-). Penglihatan berkabut dan silau jika terkena cahaya
disangkal. Riwayat menggunaan kacamata baca (+) add +1.75 sejak 4 tahun yang
lalu. Riwayat hipertensi dan diabetes melitus disangkal.

1
III. PEMERIKSAAN OPHTALMOLOGI

A. Inspeksi
Pemeriksaan OD OS
Palpebra Edema (-) Edema (-)
Aparatus Lakrimal Lakrimasi (+) Lakrimasi (+)
Silia Normal Normal
Konjunctiva Bulbi Hiperemis (-), dry eye (+) Hiperemis (-), dry eye(+)
Mekanisme Muskular Normal, ke segala arah Normal, ke segala arah
Kornea jernih Jernih
BMD Sedang Sedang
Iris Coklat, Krypte (+) Coklat, Krypte (+)
Pupil Bulat, letak sentral Bulat, letak sentral
Lensa Jernih Jernih

B. Palpasi
Pemeriksaan OD OS
Test Okuler Tn Tn
Nyeri tekan (-) (-)
Massa Tumor (-) (-)
Glandula Preaurikuler Pembesaran (-) Pembesaran (-)

C. Pemeriksaan Visus
VOD : 20/20
VOS : 20/20
Presbiop : AS : 60 +1,50 AS 25

D. Tonometer Applanasi Goldman


TOD : Tidak dilakukan pemeriksaan
TOS : Tidak dilakukan pemeriksaan

2
E. Penyinaran Oblik
Pemeriksaan OD OS
Konjunctiva Dry eye (+) Dry eye (+)
Kornea Jernih Jernih
BMD Sedang Sedang
Iris Coklat, Kripte (+) Coklat, Kripte (+)
Pupil Bulat, Letak sentral Bulat, Letak sentral
Lensa Jernih Jernih

F. Slit Lamp
SLOD : Konjunctiva normal, kornea jernih, BMD sedang, Iris coklat
dengan kripe (+), pupil bulat letak sentral, dan lensa jernih.

SLOS : Konjunctiva normal, kornea jernih, BMD sedang, Iris coklat


dengan kripe (+), pupil bulat letak sentral, dan lensa jernih

IV. Resume
Seorang pasien laki-laki berumur 53 tahun, mengeluhkan mengeluhkan
kesulitan dalam membaca dekat. Keluhan ini dialami sejak 1 tahun yang lalu.
Keluhan dirasakan perlahan-lahan yang semakin lama semakin buruk. Keluhan juga
disertai mata yang cepat lelah (+), berair (+) dan terasa pedih serta sakit kepala saat
melihat objek baik jauh maupun dekat dalam waktu yang lama. Riwayat penggunaan
kacamata (+) add +1.75
Pada pemeriksaan oftalmologi secara inspeksi dan palpasi pada ODS
didapatkan konjuctiva dry eye (+), Lakrimasi (+) kornea jernih, pupil bulat, serta pada
lensa jernih. Pada pemeriksaan refraksi VOD 20/20 dan VOS 20/20. Pemeriksaan
tonometri tidak dilakukan pemeriksaan. Sedangkan pada pemeriksaan slit lamp ODS
di dapatkan konjunctiva dry eye (+), kornea jernih, BMD sedang, Iris coklat dengan
kripe (+), pupil bulat letak sentral, dan lensa jernih.

3
V. Diagnosis
ODS Presbiopia

VI. Terapi
- R/ Cendo lyters ED
4 dd 1 gtt ODS
- R/ Neurodex
1 dd 1
- R/Vitamin C
3 dd 1
- Kacamata

VII. Diskusi
Pasien didiagnosis presbiopia berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Berdasarkan hasil anamnesis pasien mengeluhkan sulit membaca
dalam jarak dekat. Dan pada pasien ini ada riwayat penggunaan kacamata baca (add
+1.75). Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan optotipe snellen chart
didapatkan nilai visus untuk ODS adalah 20/20. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pasien tidak mengalami kelainan refraksi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil
anamnesis yang menunjukkan bahwa pasien memiliki keluhan kesulitan membaca
dekat dan usia pasien juga sudah termasuk dalam kategori kelompok usia yang secara
fisiologis mengalami presbyopia. Dimana presbiopia merupakan suatu penyakit
degeneratif diperkuat lagi dengan pemeriksaan menggunakan American Standard
didapatkan AS 60. setelah dilakukan koreksi dengan lensa add S+2,25 ada kemajuan
saat dilakukan pemeriksaan kembali dengan menggunakan American Standard yaitu
AS 25. Pasien kemudian mendapat tatalaksana berupa pemberian kacamata baca
dengan lensa add S+2,25 D untuk penglihatan jarak dekat kedua mata.

4
TINJAUAN PUSTAKA

1. ANATOMI MATA

Gambar 1: Anatomi mata

Pemahaman tentang anatomi mata diperlukan untuk mengetahui berbagai proses


yang terjadi dalam mata. Pada penglihatan terhadap proses yang cukup rumit oleh
jaringan yang dilalui seperti membelokkan sinar, memfokuskan sinar dan meneruskan
rangsangan sinar yang membentuk bayangan yang dapat dilihat. Berikut adalah bagian
mata yang memegang peranan pembiasan sinar pada mata :

a. KORNEA
Kornea merupakan jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan
difokuskan ke dalam pupil. Bentuk kornea yang cembung dan sifatnya yang transparan
merupakan hal yang sangat menguntungkan karena sinar yang masuk 80% atau dengan
kekuatan 40 Dioptri dilakukan atau dibiaskan oleh kornea ini. Indeks bias kornea adalah
1,38. Kelengkungan kornea mempunyai kekuatan yang berkekuatan sebagai lensa hingga
40 dioptri.

b. IRIS
Iris merupakan bagian yang berwarna pada mata. Iris menghalangi sinar msuk ke
dalam mata dengan cara mengatur jumlah sinar masuk ke dalam pupil melalui besarnya
pupil.

5
c. PUPIL
Pupil yang berwarna hitam pekat pada sentral iris mengatur jumlah sinar masuk
kedalam mata. Seluruh sinar yang masuk melalui pupil diserap sempurna oleh jaringan
dalam mata. Tidak ada sinar yang keluar melalui pupil sehingga pupil akan berwarna
hitam. Ukuran pupil dapat mengatur refleks mengecil atau membesarkan untuk jumlah
masuknya sinar. Pengaturan jumlah sinar masuk ke dalam pupil diatur secara refleks.
Pada penerangan yang cerah pupil akan mengecil untuk mengurangi rasa silau. Pada tepi
pupil terdapat m.sfingter pupillae yang bila berkontraksi akan mengakibatkan
mengecilnya pupil (miosis). Hal ini terjadi ketika melihat dekat atau merasa silau dan
pada saat berakomodasi. Selain itu, secara radier terdapat m.sfingter dilatator pupillae
yang bila berkontraksi akan mengakibatkan membesarnya pupil (midriasis). Midriasis
terjadi ketika berada di tempat gelap atau pada waktu melihat jauh.

d. BADAN SILIAR
Badan siliar merupakan bagian khusus uvea yang memegang peranan untuk
akomodasi dan menghasilkan cairan mata. Di dalam badan siliar didapatkan otot
akomodasi dan mengatur besar ruang intertrabekula melalui insersi otot pada scleral spur.

e. LENSA
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam mata
dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak dibelakang iris yang terdiri dari zat
tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang menebal dan menipis pada saat terjadinya
akomodasi. Lensa yang jernih ini mengambil peranan membiaskan sinar 20% atau 10
dioptri. Peranan lensa yang terbesar adalah pada saat melihat dekat atau berakomodasi.

f. RETINA
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang
menerima rangsangan cahaya dan terletak dibelakang pupil. Retina akan meneruskan
rangsangan yang diterimanya berupa bayangan benda sebagai rangsangan elektrik ke otak
sebagai bayangan yang dikenal.

6
g. SARAF OPTIK
Saraf optik yang keluar dari polus bola mata membawa 2 jenis serabut saraf, yaitu
: saraf penglihat dan serabut pupilomotor. Saraf penglihat meneruskan rangsangan listrik
dari mata ke korteks visual untuk dikenali bayangannya.

2. FISIOLOGI MATA

Gambar 2 : Fisiologi Penglihatan

Mata secara optik dapat disamakan dengan sebuah kamera fotografi, mata
mempunyai sistem lensa, sistem aperture yang dpat berubah-ubah (pupil) dan retina yang
dapat disamakan dengan film. Sistem lensa mata terdiri atas empat perbatasan refraksi,
yaitu : perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara, perbatasan antara
permukaan posterior kornea dan humour aquous, perbatasan antara humour aquous dan
permukaan anterior lensa mata dan perbatasan antara permukaan posterior lensa dengan
vitreus. Indeks internal udara adalah 1, kornea 1,38, humour aquos 1,33, lensa kristalina
(rata-rata) 1,40 dan humour vitreus 1,34.

7
Gambar 3. refraksi

Pembelokan sebuah berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika suatu berkas cahaya
berpindah dari satu medium dengan tingkat kepadatan tertentu ke medium dengan tingkat
kepadatan yang berbeda. Di kenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti
pungtum proksimum merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat
dengan jelas. Pungtum remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat
melihat dengan jelas, titik ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan
retina atau foveola bila mata istirahat. Pada emetropi, pungtum remotum terletak didepan
mata.
Derajat refraksi ditentukan oleh dua faktor, yaitu : rasio indeks bias dari kedua
media transparan dan derajat kemiringan antara bidang peralihan dan permukaan
gelombang yang datang. Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar
kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Suatu lensa
dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi atau penyatuan
berkas-perkas cahaya, yaitu persyaratan untuk membawa suatu bayangan ke titik focus.
Dengan demikian, permukaan refraktif mata bersifat konveks. Lensa dengan permukaan
konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas-berkas cahaya.
Cahaya meramvat melalui udara kira-kira dengan kecepatan 300.000 km/detik,
tetapi perambatannya melalui benda padat dan cairan yang trasnparan jauh lebih lambat.
Ketika suatu berkas cahaya msuk ke sebuah medium yang lebih tinggi densitasnya,
cahaya tersebut melambat (begitu pula sebaiknya). Berkas cahaya mengubah arah
perjalanannya ketika melalui permukaan medium baru pada setiap sudut kecuali sudut
tegak lurus.
8
Proses melihat bermula dari masuknya seberkas cahaya dari benda yang diamati
kedalam mata melalui lensa yang kemudian dibiaskan pada retina (macula). Terjadi
perubahan proses sensasi cahaya menjadi impuls listrik yang diteruskan ke otak melalui
saraf optik untuk kemudian di interpretasikan. Kemampuan seseorang untuk melihat
tajam (focus) atau disebut juga tajam penglihatan (acies visus) tergantung dari media
refraktif di dalam bola mata.
Sistem lensa mata membentuk bayangan di retina. Bayangan yang terbentuk di
retina terbalik dari benda aslinya. Namun demikian, persepsi otak terhadap benda tetap
dalam keadaan tegak, tidak terbalik seperti bayangan yang terjadi di retina, karena otak
sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal.
Pembentukan bayangan di retina memerlukan empat proses. Pertama, pembiasan
sinar/cahaya. Hal ini berlaku apabila cahaya melalui perantaraan yang berbeda
kepadatannya dengan kepadatan udara, yaitu kornea, humour aquous, lensa dan vitreus.
Kedua akomodasi lensa, yaitu proses lensa menjadi cembung atau cekung tergantung
pada objek yang dilihat itu dekat atau jauh. Ketiga konstriksi pupil yaitu pengecilan garis
pusat pupil agar cahaya tepat di retina sehingga penglihatan tidak kabur. Pupil juga
mengecil apabila cahaya yang terlalu terang memasukinya atau melewatinya. Hal ini
penting untuk melindungi mata dari paparan cahaya yang tiba-tiba atau terlalu terang.
Keempat pemfokusan yaitu pergerakan kedua bola mata sedemikian rupa sehingga kedua
bola mata terfokus kearah objek yang sedang dilihat.
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan
dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Karena mempunyai daya
pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan
membiaskan sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau melihat benda yang
dekat. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar,mencembung) atau
adanya perubahan panjang (lebih panjang, lebih pendek) bola mata maka sinar normal
tidak dapat terfokus pada macula.
Kemampuan akomodasi lensa membuat cahaya tidak berhigga akan terfokus pada
retina, demikian pula bila benda jauh didekatkan, maka benda pada jarak yang berbeda-
beda akan terfokus pada retina atau macula lutea. Akibat akomodasi, daya pembiasan
bertambah kuat. Kekuatan akomodasi akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, semakin

9
dekat benda maka semakin kuat mata harus berakomodasi (mencembung). Akomodasi
terjadi akibat kontraksi otot siliar. Kekuatan akomodasi diatur oleh refleks akomodasi.
Refleks akomodasi akan meningkat bila mata melihat kabur dan pada waktu konvergensi
atau melihat dekat.
Pada saat seseorang melihat suatu objek pada jarak dekat, maka terjadi trias
akomodasi yaitu : (i) kontraksi dari otot siliar yang berguna agar zonula zini mengendor,
lensa dapat mencembung, sehingga cahaya yang datang dapat difokuskan ke retina. (ii)
konstriksi dari otot rektus internus, sehingga timbul konvergensi dan mata tertuju pada
benda itu, (iii) konstriksi otot konstriksi pupil dan timbullah miosis agar cahaya yang
masuk tak berlebih dan terlihat dengan jelas.

3. PRESBIOPIA
A. DEFINISI
Presbiopia merupakan keadaan dimana semakin berkurangnya kemampuan
akomodasi mata seiring dengan bertambahnya usia. Kelainan ini terjadi pada mata
normal berupa gangguan perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat
berkurangnya elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi.
Pada presbiopia terjadi kekakuan lensa seiring dengan bertambahnya usia,
sehingga kemampuan lensa untuk memfokuskan bayangan saat melihat dekat. Hal
tersebut menyebabkan pandangan kabur saat melihat dekat.

Gambar 4 : Skema Presbiopi

10
B. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi presbiopi lebih tinggi pada populasi dengan usia harapan hidup yang
tinggi. Karena presbiopi berhubungan dengan usia, prevalensinya berhubungan langsung
dengan orang-orang lanjut usia dalam populsinya.
Walaupun sulit untuk melakukan perkiraan insiden presbiopi karena onsetnya
yang lambat, tetapi bisa dilihat bahwa insiden tertinggi presbiopi terjadi pada usia 42
hingga 44 tahun. Studi di Amerika pada tahun 1955 menunjukkan 106 juta orang di
Amerika mempunyai kelainan presbiopi. Faktor resiko utama bagi presbiopi adalah
usia,walaupun kondisi lain seperti trauma, penyakit sistemik, penyakit kardiovaskular,
dan efek samping obat juga bisa menyebabkan presbiopi dini.

C. ETIOLOGI
Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat :
a. Kelemahan otot akomodasi
b. Lensa mata yang tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sclerosis lensa

D. PATOFISIOLOGI
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata
karena adanya perubhan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul
sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka lensa menjadi lebih
keras (sklerotik) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung, dengan demikian
kemampuan melihat dekat makin berkurang.

Gambar 5. Akomodasi lensa

11
E. KLASIFIKASI
a. Presbiopi insipient yaitu tahap awal perkembangan presbiopi, dari anamnesa didapati
pasien memerlukan kacamata untuk membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila
dilakukan tes, dan pada pasien biasanya akan menolak preskripsi kacamata baca
b. Presbiopi fungsional yaitu amplitudo akomodasi yang semakin menurun dan akan
didapatkan kelainan ketika diperiksa
c. Presbiopi absolut yaitu peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional, dimana
proses akomodasi sudah tidak terjadi sama sekali.
d. Presbiopi premature yaitu presbiopi yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan biasanya
berhubungan dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, obat-obatan.
e. Presbiopi nocturnal yaitu kesulitan untu membaca jarak dekat pada kondisi gelap
disebabkan dengan peningkatan diameter pupil.

F. GEJALA KLINIS
a. Setelah membaca, mata menjadi merah, berair dan sering terasa pedih. Bisa juga disertai
kelelahan mata dan sakit kepala jika membaca terlalu lama.
b. Membaca dengan cara menjauhkan kertas yang dibaca karena tulisan tampak kabur pada
jarak baca yang biasa
c. Sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat, terutama di malam hari
d. Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca
e. Terganggu secara emosional dan fisik

G. DIAGNOSIS PRESBIOPI
1. Anamnesa gejala-gejala dan tanda-tanda presbiopi
2. Pemeriksaan oftalmologi
a. Visus, dimana pemeriksaan dasar untuk mengevaluasi presbiopi dengan
menggunakan snellen chart
b. Refraksi, memeriksa mata satu per satu, mulai dengan mata kanan. Pasien diminta
untuk memperhatikan kartu Jaeger dan menentukan kalimat terkecil yang bisa dibaca
pada kartu. Target koreksi pada huruf sebesar 20/30

12
c. Motilitas ocular, penglihatan binocular, dan akomodasi termasuk pemeriksaan duksi
dan versi, tes tutup dan tes tutup-buka, tes Hirschberg, amplitud dan fasilitas
akomodasi dan steoreopsis
d. Penilaian kesehatan ocular dan skrining kesehatan umum untuk mendiagnosa
penyakit-penyakit yang bisa menyebabkan presbiopi
e. Pemeriksaan ini termasuk reflex cahaya pupil, tes konfrontasi, penglihatan warna,
tekanan intraocular, dan pemeriksaan menyeluruh tentang kesehatan segmen anterior
dan posterior dari mata dan adnexa nya. Biasanya pemeriksaan dengan
ophtalmoskopi indirect untuk mengevaluasi segmen mendia dan posterior.

H. PENATALAKSANAAN PRESBIOPI
1. Digunakan lensa positif untuk koreksi presbiopi. Tujuan koreksi adalah untuk
mengompensasi ketidakmampuan mata untuk memfokuskan objek-objek yang dekat.
2. Kekuatan lensa mata yang berkurang ditambahkan dengan lensa positif sesuai usia dan
hasil pemeriksaan subyektif sehingga pasien mampu membaca tulisan pada kartu Jaeger
20/30
3. Karena jarak biasanya 33 cm, maka adisi +3,00 D adalah lensa positif terkuat yang dapat
diberikan pada pasien. Pada kekuatan ini, mata tidak melakukan akomodasi bila
membaca pada jarak 33 cm, karena tulisan yang dibaca terletak pada titik focus lensa
+3,00 D.

Usia (tahun) Kekuatan Lensa Positif yang dibutuhkan


40 Tahun +1,00 D
45 Tahun +1,50 D
50 Tahun +2,00 D
55 Tahun +2,50 D
60 Tahun +3,00 D

4. Selain kacamata untuk kelainan presbiopi saja, ada beberapa jenis lensa lain yang
digunakan untuk mengoreksi berbagai kelainan refraksi yang ada bersamaan dengan
presbiopi, ini termasuk :

13
a. Bifokal, untuk mengoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bisa yang mempunyai garis
horizontal atau yang progresif
b. Trifocal, untuk mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh. Bisa yang
mempunyai garis horizontal atau yang progresif.
c. Bifocal kontak, untuk mengoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bagian bawah adalah
untuk membaca. Sulit dipasang dan kurang memuaskan hasil koreksinya
d. Monovision kontak, lensa kontak untuk melihat jauh di mata dominan, dan lensa
kontak untuk melihat dekat pada mata non-dominan. Mata yang dominan umumnya
adalah mata yang digunakan untuk focus pada kamera untuk mengambil foto.
e. Monovision modified, lensa kontak bifocal pada mata non-dominan dan lensa kontak
untuk melihat jauh pada mata dominan. Kedua mata digunakan untuk melihat jauh
dan satu mata digunakan untuk membaca.
f. Pembedahan, refraktif seperti keratoplasti konduktif LASIK, LASEK dan karatektomi
fotorefraktif.

14