Anda di halaman 1dari 27

PERENCANAAN BANDAR UDARA

II. KARAKTERISTIK PESAWAT


Pengertian
• Weight (Berat): ada beberapa macam (next), rencana tebal
perkerasan dan kekuatan landas pacu, taxiway dan apron.
• Ukuran (size) lebar sayap dan panjang badan pesawat
mempengaruhi konfigurasi terminal, lebar landas pacu,
Taxiway, jarak antara keduanya dipengaruhi oleh ukuran
pesawat.
• Kapasitas: perencanaan terminal building dan sarana
lainnya
• Panjang Landas Pacu: luas lahan yang dibutuhkan
– Anggapan bahwa semakin besar pesawat makin panjang landas
pacu tidak selalu benar, tergantung jarak yang akan ditempuh (berat
lepas landas)
– Analisis panjang landas pacu yang dibutuhkan taksiran jarak tempuh
pesawat sangat penting
Pengertian…

• Piston Engine Aircraft:


Aircraft pesawat digerakan oleh
baling-baling dengan tenaga mesin piston. Pesawat
kecil  mesin piston
• Turbo Prop:
Prop pesawat digerakan baling-baling
dengan tenaga mesin turbin
• Turbo Jet:
Jet Pesawat digerakan oleh daya dorong
semburan Jet. Boros Bahan Bakar.
• Turbo Fan:
Fan Ditambah kipas (fan) didepan atau
dibelakang turbin sehingga dengan bahan bakar
yang sama dengan turbo jet, didapat tenaga
penggerak yang lebih besar.
– Sebagian besar pesawat komersil bermesin turbo fan
Sifat-sifat mesin Jet

• Dibagi 2 jenis
– Turbo Jet:
Jet Compressor, kamar bakar (combustion chamber) dan
turbin
– Turbo Fan:
Fan turbo jet + sudu-sudu (fan) [ baris tunggal  single
stage, dua baris  multi stage] dibelakang compressor
• Pesawat bermesin turbin yang dilengkapi dengan air ketika
akan lepas landas, disebut mesin basah (agar bisa bekerja
pada temperatur lebih tinggi daya dorong >) tanpa air,
mesin kering.
• Daya dorong waktu take off besar
• Daya dorong yng dipakai pesawat pada saat berlayar
dengan kecepatan tetap (cruising) adalah 1/5 -1/4 tenaga
pada waktu lepas landas.
a. Ukuran Pesawat Terbang
• Wingspan (Bentangan sayap)
• Length (Panjang)
• Height (Tinggi)
• Wheel base (Jarak antara as roda utama sampai as roda
depan roda)
• Wheel tread (Jarak antara as roda utama kiri dan as roda
utama kanan)
• Turning radius (Jari-jari minimum yang dapat dicapai
pesawat terbang pada saat membelok)
– PENGARUH:
• Apron
• Taxiway
• Runway
• Tata-letak terminal apron
• Jarak antar pesawat
a. Ukuran Pesawat
Terbang…………….
a. Ukuran Pesawat
Terbang…………….
b. Bobot Pesawat Terbang
• Bobot pesawat terbang kosong (termasuk air crew) = Operating Weight Empty
(OWE) : “No Go Item” OWE tidak tetap tergantung konfigurasi tempat duduk.
• Bobot bahan bakar untuk terbang = Haul fuel
• Bobot bahan bakar cadangan = Reserve fuel
• Bobot penumpang, barang, dan barang pos = Payloads pendapatan
– Taksiran: penumpang+bagasi= 100kg/penumpang
• Bagasi pesawat = 20 s/d 30 kg per penumpang
• Bobot bahan bakar kosong (zero fuel weight) = OWE + payloads
– Penambahan bobot oleh BB  menghindari momen lentur berlebihan antara sayap
dan badan pesawat.
• Maximum take-off weight (MTOW)
– Bobot pesawat maksimum yang diperkenankan untuk lepas landas.
• OWE +Fuel+Reserve Fuel+Payloads
• Maximum ramp weight
– Bobot maksimum yang diperbolehkan untuk melakukan gerakan di darat.
• MTOW+ fuel
• Maximum landing weight
– Bobot pesawat maksimum yang diperkenankan untuk mendarat.
• OWE+reserve fuel + payloads
• PENGARUH:
– Tebal Perkerasan
Ilustrasi distribusi beban terhadap jarak
perjalanan untuk take off weight

Persentase Take Off Weight


Jarak Perjalanan OWE Payloads BBM Jalan BBM cadangan
Pendek 66 24 6 4
Menengah 59 16 21 4
Jauh 44 10 42 5
c. Konfigurasi Roda Pesawat
Terbang
Faktor-faktor untuk mengubah keberangkatan Tahunan
Pesawat menjadi Keberangkatan Ekivalen Pesawat Rencana

Poros roda Poros roda Faktor pengali untuk


pendaratan pesawat pendaratan ekivalen
sebenarnya pesawat rencana keberangkatan
Roda Tunggal Roda ganda 0.8
Tandem ganda 0.5
Roda ganda Roda Tunggal 1.3
Tandem ganda 0.6
Tandem ganda Roda Tunggal 2.0
Roda ganda 1.7
Tandem berganda dua Roda Ganda 1.7
Tandem ganda 1.0
Sumber: FAA-AC No. 150/5320-6D-1995
Pengaruh Prestasi /kemampuan Pesawat
Terbang Terhadap Panjang Landas Pacu

• Kasus-kasus berikut ini biasanya menjadi


pertimbangan:
– Pesawat terbang bermesin piston
• Pendaratan Normal
• Lepas landas dengan kegagalan mesin
– Pesawat terbang bermesin jet
• Pendaratan Normal
• Lepas Landas Normal
• Lepas landas dengan kegagalan mesin
• Yang digunakan adalah Landas pacu terpanjang
dari pertimbangan tersebut di atas.
Pendaratan Normal
STOP
50 ft
(15 m)
LD= landing distance 
full strength
60% LD pavement
Landing distance

runway

• The regulation states that the landing distance needed for each aircraft
using the airport must be long enough to permit the aircraft to come to a
full stop within 60 percent of this distance, and the pilot makes an
approach at a height of 50 ft (15 m) from the threshold.
Lepas Landas Normal

Vlof 35 ft (10,5 m)

LOD
115% LOD L
D35 (TOR) Cwy
115% D35 (TOR)

clearway min. 150


runway m

• LOD : lift of distance


• TOR : take-off run
• D35 : distance to 35 ft
• TOD : take-off distance
• Max Cwy = 0,5 (TOD – 115% LOD) = 0,5 L
Lepas landas dengan kegagalan
mesin
V2

V1 Vr Vlof 35 ft

TOR Swy
AcV1 DSD
LOD L

ASD
Cwy
D35 (TOD)

clearway

runway stopway

• Ac V1 – accelerate to V1 (decision speed)


• DSD – decelerate stop distance.
• ASD – accelerate stop distance.
• SWY – stopway.
• CWY – clearway.
• Maximum CWY = 0.5 (TOD – LOD) = 0.5 L
• Minimum width of CWY is 150 m.
• The decision speed (V1)
– It is the speed at which engine failure is assumed to occur is selected by
the aircraft manufacturer and is referred to as the “critical engine failure
speed”.
– If the engine failure occurs before the decision speed is reached, the pilot
should stop, and if the failure occurs later, the pilot should not stop but
should continue to take-off.
• The initial climb out speed (V2)
– It is minimum speed at which the pilot is allowed to climb after attaining at
height of 35 ft (10.5 m) above the take-off surface. The initial climb out
speed is higher or almost equal to the decision speed.
• The rotation speed (Vr)
– It is the speed at which the pilot initiates rotation of the airplane to cause
raising of the nose gear.
• The lift-off speed (Vlof)
– It is the speed at which the aircraft first becomes airborne.