GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATERA UTARA Cekungan sumatera Utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen yang

berupa tinggian, cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini terjadi setelah berlangsungnya gerakan tektonik pada zaman Mesozoikum atau sebelum mulai berlangsungnya pengendapan sedimen tersier dalam cekungan sumatera utara. Tektonik yang terjadi pada akhir Tersier menghasilkan bentuk cekungan bulat memanjang dan berarah barat laut – tenggara. Proses sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan trangressi, kemudian disusul dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada akhir Tersier. Pola struktur cekungan sumatera utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan pergeseran-pergeseran yang berarah lebih kurang lebih barat laut – tenggara Sedimentasi dimulai dengan sub cekungan yang terisolasi berarah utara pada bagian bertopografi rendah dan palung yang tersesarkan. Pengendapan Tersier Bawah ditandai dengan adanya ketidak selarasan antara sedimen dengan batuan dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi, membentuk endapan berbutir kasar – halus, batulempung hitam, napal, batulempung gampingan dan serpih. Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Bawah, kemudian berhenti dan lingkungan berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya akan fosil foraminifora planktonik dari formasi Peutu. Dibagian timur cekungan diendapkan formasi Belumai yang berkembang menjadi 2 facies yaitu klastik dan karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai Miosen tengah dengan pengendapan serpih dari formasi Baong. Setelah pengendapan laut mencapai maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang mengendapkan sedimen klastik (formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras diendapkan diatas Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan Tufa Toba Alluvial. Proses tektonik cekungan tersebut telah membStratigrafi regional Cekungan Sumatera Utara dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut : 1. Basement Pre-Tersier Terdiri dari dari batuan beku, batuan metamorf, karbonat dan dijumpai fosil Halobia yang berumur Trias terletak tidak selaras menyudut dibawah batuan sedimen diatasnya. 2. Formasi Parapat (Awal Oligosen) Terdiri dari batupasir kasar dan konglomeratan dibagian bawah seta diatasnya dijumpai sisipan serpih. Secara regional dibagian bawah diendapkan dalam lingkungan fluviatil dan bagian atas dalam lingkungan laut dangkal. 3. Formasi Bampo (Akhir Oligosen) Terdiri dari serpih hitam tidak berlapis, berasosiasi dengan lapisan tipis batugamping dan batulempung karbonat, dimana formasi ini miskin fosil dan diendapkan dalam lingkungan reduksi. 4. Formasi Belumai (Awal Miosen) Dibagian timur cekungan ini berkembang formasi belumai yang identik dengan formasi Peutu yang berkembang pada bagian barat dan tengah. Formasi belumai terdiri dari batupasir Glaukonitan berselingan dengan serpih dan batugamping. Didaerah Arun, bagian atas formasi ini berkembang lapisan

batugamping kalkarenit dan kalsilutit dengan selingan serpih. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan laut dangkal sampai neritik. 5. Formasi Baong (Miosen Tengah – Akhir Miosen bagian bawah) Penyusun utama formasi ini adalah batulempung abu-abu kehitaman, napalan, lanauan, pasiran dan pada umumnya kaya akan fosil Orbulina Sp dan Globigerina Sp, Kadang-kadang diselingi lapisan tipis batupasir. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan laut dalam. Formasi ini didaerah Aru dibagi menjadi 3 satuan : a. Bagian bawah didominasi oleh lanau dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batugamping b. Bagian tengah (MBS) didominasi oleh batupasir glaukonitan dan lempung dengan sisipan lanau serta lapisan tipis batugamping. Pada anggota inin dikenal beberapa lapisan batupasir yang telah terbukti mengandung hidrokarbon, yaitu Sembilan sand dan besitang river sand (BRS). c. Bagian atas didominasi oleh lanau dan lempung dengan sisipan batupasir dan lapisan tipis batugamping. 6. Formasi Keutapang (Akhir Miosen) Terdiri dari selang-seling antara batupasir berbutir halus – sedang, serpih, lempung dengan sisipan batugamping dan batubara. Dibagian Barat daerah Aru batupasirnya bertambah kearah atas, dibagian timur serpih lebih dominan. Formasi ini merupakan lapisan utama penghasil hidrokarbon dan merupakan awal terjadinya siklus regresi, diendapkan dalam lingkungan delta sampai laut dangkal. 7. Formasi Seurula (Awal Pliosen) Terdiri dari batupasir, serpih dan lempung. Dibandingkan dengan formasi Keutapang, formasi seurula berbutir lebih kasar, banyak ditemukan fragmen-fragmen moluska yang menunjukkan endapan laut dangkal atau neritik. 8. Formasi Julu Rayeu (Akhir Pliosen) Terdiri dari batupasir halus – kasar dan lempung, kadang-kadang mengandung mika dan fragmen molusca yang menunjukkan endapan laut dangkal – Neritik. 9. Volkanik Toba (Kwarter) Terdiri dari Tufa hasil aktivitas volkanik toba, menutupi secara tidak selaras diatas formasi seurula. 10. Endapan Aluvial Terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan Batulempung.

Cekungan di Sumatera Tengah RABU, APRIL 27, 2011 Diterbitkan oleh Ichwan Dwi Cekungan tidak begitu dalam sehingga tebal endapan juga tidak setebal di Sumatra Selatan (kurang dari 3.000 m). Karena itu pelipatan akibat compressing settling juga lemah. Daerah ini lebih dominan dengan patahan blok yang mubngkin juga disebabkan oleh gaya tarikan gravitasi/ tensional stress ke arah Lautan Hindia, sehingga Sumatera Timur mengalami patahan memanjang berbentuk sejumlah horst dan graben. Pegunungan tigapuluh yang posisinya di sumbu idiogeosinklinai nampaknya merupakan

produksinya telah melampaui 1 milyar barrel. Busur dan Tinggian ini bergabung secara efektif membagi daratan Sumatra menjadi Cekungan Sumatra Utara. dan basalt. cekungan belakang busur dan zona sesar Sumatra (Great Sumatra Fault Zone) atau yang dikenal dengan sebutan Sesar Semangko. antara lain ladang kampung minyak. Kedua Terrain ini dipisahkan oleh garis Kerumutan. Tektonik transtensional utama terjadi pada daratan Sunda selama waktu Eosen Awal dan bertanggung jawab pada trough Pematang. Zona sentuh ini terdiri dari chert laut dalam. Saban Jerigi. Cekungan ini terbentuk akibat penunjaman Lempeng Samudera Hindia yang bergerak relatif ke arah utara (N 6o E) dan menyusup ke bawah Lempeng Benua Asia yang aktif selama Miosen. talang Jimar. cekungan muka busur Nias. limestone. Sebelah barat laut Pegunungan Tigapuluh merupakan daerah minyak di Sumatera Tengah dengan lapangan minyak terpenting: Di Cekungan Jambi: umumnya lapangan minyak sudah tua. Kiri. Sungai Taham. di sebelah barat adalah Greywacke Terrain yang merupakan bagian mikroplate Mergui dan di sebelah timur Quartzite Terrain dari mikroplate Malaka. Minas (1944): kedalaman 800 m. Di Talang Akar –Pendopo: ladangn minyak Talang Akar-Pendopo. Air Benakat. Trough pada area ini adalah HalfGraben yang dibatasi oleh patahan normal. Zone Bogor-Serayu Utara-Kendeng Ridge yang posisinnya disumbu geosinklin. Struktur dengan arah barat laut (NW) dan kesatuan topografi merupakan fenomena pada Kenozoikum Akhir yang menghasilkan Busur Asahan dengan arah timur laut (NNE). Pada umumnya. bagian barat laut dibatasi oleh Busur Asahan. Cekungan Sumatra Tengah dan Cekunga Sumatra Selatan. Kota Batak (1952): belum lama berproduksi Lain-lain: Sago. dimana akustik impedan sangat kontras dengan bagian bawah Pematang.pengangkatan bentuk dome pada era Mesozoikum akhir ketika daerah ini menjadi busur dalam dari orogene sumatera (batuannya batuan Pratersier). Tinggian Lampung dan Tinggian Tigapuluh yang berarah timur-timur laut (ENE). dan Bengkalis. Produk lain yang dihasilkan oleh interaksi kedua lempeng tektonik ini adalah unit fisiografi parallel berarah NW berupa busur kepulauan sepanjang muka pantai barat daya Sumatra. tinggal sisa-sianya saja misalnya kenali asam dan tampino. Lower Red Bed telah menunjukkan potensial sebagai reservoar . busur volkanik Barisan. bakat Ukui dsb. 1974). Lirik. produksinya sudah lebih 100 juta barrel. serpih mauve. 1974). Cekungan Sumatra Tengah merupakan cekungan busur belakang (Back-Arc Basin) yang berkembang sepanjang tepi Paparan Sunda di barat daya Asia Tenggara. Basement Pra-Tersier pada Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari dua litologi utama. Struktur lineamen Tersier tertua pada Cekungan Sumatra Tengah mempunyai arah barat laut-tenggara seperti pada tinggian Minas dan Duri dan berarah utara-selatan pada busur trough Pematang. Pegunungan Tigapuluh ini mengalami pengangkatan lagi pada zaman Pliosen sebagai pengelompokan imigran seperti halnya di Pegunungan Meratus – Samarinda. Limau. batu lempung yang diendapkan sebagai alluvial fan yang mempunyai hubungan unconformable di atas basement. Lower Red Bed dari grup pematang berasosiasi dengan onset trough formasi dan terdiri dari konglomerat. Mandau. Di cekungan Palembang Tengah ladang minyak Mangunjaya. di sebelah tenggara dibatasi oleh Tinggian Tigapuluh dan pada timurlaut dibatasi oleh Kraton Sunda (Mertosono dan Nayoan. Geometri dari cekungan ini berbentuk asimetri dengan bagian terdalam berada di baratdaya dan melandai ke arah timur laut (Mertosono dan Nayoan. Tergolong lapangan minyak raksasa didunia (Raksasa bila cadangan minyak > 500 juta barrel). Basement Pra-Tersier dicirikan dengan refleksi seismik yang baik. Kluang. Dimuara Enim-Baturaja: umumnya sudah tua dan tidak menghasilkan lagi. batu pasir. Duri (1940): kedalaman 200 m. Molek. Ukai. Cekungan Sumatra Tengah bagian barat daya dibatasi oleh up-lift Bukit Barisan.

Pada Miosen Tengah. Ketebalan Sihapas bervariasi diantara 500-1500 kaki. kejadian tektonik ini ditandai dengan angular unconformity pada top Formasi Telisa. . Karenanya. Pada umumnya Grup Pematang dipotong oleh major unconformity terutama pada graben. tektonik konvergen menunjukkan perkembangan konfigurasi saat ini dari sistem busur kepulauan di Sumatra. Formasi Sihapas diasosiasikan dengan kualitas seismik refleksi dengan kualitas tinggi dan menerus. Formasi Petani terdiri dari batu lempung berwarna abu-abu kehijauan dan batulanau dengan lapisan tipis batu pasir dan sedikit lapisan limestone dan batubara. Grup sihapas diendapkan di atas ketidakselarasan Pematang. Brown Shale yang terdiri dari serpih hitam hingga coklat tua adalah batuan induk utama hidrokarbon di Sumatra Tengah. Formasi Petani diendapkan selama Miosen Tengah hingga Pliosen pada cekungan yang terbatas ini ketika suplai sedimen berasal dari pegunungan Bukit Barisan tapi juga bercampur dengan dentritus vulkanogenik dari aktivitas vulkanik. Petani sangat jelas terlihat sebagai unit sedimen utama yang berprogradasi dari barat ke timut. Hubungan ini ditampilkan dengan refleksi seismik yang baik. tektonik oblig konvergen mencapai puncaknya karena tekanan utama dan dilengkapi dengan jalinan tektonik pada seluruh Cekungan Sumatra Tengah. Batu pasir Petani diendapkan sebagai Off Shore Bar Sand dan kadang-kadang mengandung gas biogenik yang potensial. danau semakin dalam kemudian Brown Shale diendapkan selama Oligosen Tengah. Pasir ini berakumulasi pada lingkungan yang beragam termasuk endapan braided dan meandering (Formasi Menggala). Penurunan perlahan pada Miosen Awal dikombinasikan dengan kenaikan relatif sea level menghasilkan batupasir Grup Sihapas yang tersebar luas. Upper Red Bed Pematang diendapkan pada lingkungan fluvio alluvial di atas Brown Shale dan juga di atas basement di daerah yang lebih tinggi. Bentuk Lower Red Bed dan Brown Shale dibatasi terutama oleh trough Paleogen. Upper Red Bed juga bermanfaat sebagai reservoar terutama pada areal trough. endapan inner neritik (Formasi Bangko). Pengaruh antara tekanan dan jalinan tektonik selama akhir masa ini menghasilkan perkembangan perangkap struktural yang berharga pada hampir seluruh lapangan minyak di Sumatra Tengah. endapan delta dan tidal flat (Formasi Bekasap dan Duri). Formasi Petani mencapai ketebalan maksimum melebihi 6000 kaki disepanjang sisi-sisi sesar Dalu Dalu pada baratdaya cekungan. lapangan minyak terbesar di sini. Pulau Sumatra terletak di baratdaya dari Kontinen Sundaland dan merupakan jalur konvergensi antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat Lempeng Eurasia/Sundaland.hidrokarbon pada semua seting struktural/stratigrafi pada bagian trough. Minas dan Duri. Pada profil seismik. penstrukturan pada permulaan cekungan dan perubahan cekungan menjadi back arc pada lingkungan yang terbatas. Karena cekungan terus menurun. meghasilkan hidrokarbon dari Formasi Bekasap dan Duri. Selama Plio-Pleistosen. Pada Oligosen Akhir. Pada cekungan tengah. Grup Pematang ketebalannya melebihi 7000 kaki pada beberapa Eo-Oligosen trough. dan dapat dipetakan pada seluruh bagian cekungan. Pengunungan Bukit Barisan berasosiasi dengan aktivitas busur vulkanik mulai tumbuh selama waktu ini. pasir Sihapas adalah reservoar hidrokarbon utama. Reservoar ini umumnya terdiri dari butir-butir kuarsa yang berasal dari granit dan quartzite terrain daratan Sunda. Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi sepanjang Palung Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatra.

Karakteristik Awal Tersier Sumatra ditandai dengan pembentukkan cekungan-cekungan belakang busur sepanjang Pulau Sumatra. Subduksi oblique dan pengaruh sistem mendatar Sumatra menjadikan kompleksitas regim stress dan pola strain pada Sumatra (Darman dan Sidi. meliputi Cekungan Sumatra Utara. terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan outer-arcdengan bagian di bawah permukaan dan volkanik back-arc Sumatra. Pulau Sumatra diinterpretasikan dibentuk oleh kolisi dan suturing dari mikrokontinen di Akhir PraTersier (Pulunggono dan Cameron. 5. 1. 2000). dan Selatan. Intra-arc Sumatra. Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi. 4. 1984. dan Cekungan Sumatra Selatan (Gambar 1). Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian bawah Bukit Barisan. dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari daerah pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada fore-arc dan back-arc basin. Cekungan Fore-arc Sunda. 3. Cekungan Sumatra Tengah. Bukit Barisan. 2.Gambar 1. . 2005). Perubahan tersebut juga mengindikasikan meningkatnya pergerakan sesar mendatar Sumatra seiring dengan rotasi. Perubahan posisi Sumatra yang sebelumnya berarah E-W menjadi SE-NW dimulai pada Eosen-Oligosen. Konfigurasi cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari subduksi yang menyebabkan non-volcanic fore-arc dan volcano-plutonik back-arc. Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatra (Barber dkk. berada sepanjang batas cekungan fore-arc Sunda dan yang memisahkan dari lereng trench. 2005). Subduksi dari Lempeng Hindia-Australia dengan batas Lempeng Asia pada masa Paleogen diperkirakan telah menyebabkan rotasi Lempeng Asia termasuk Sumatra searah jarum jam. dalam Barber dkk. terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik. Cekungan Back-arc Sumatra. Tengah. Sekarang Lempeng Samudera Hindia subduksi di bawah Lempeng Benua Eurasia pada arah N20°E dengan rata-rata pergerakannya 6 – 7 cm/tahun. 2000): Sunda outer-arc ridge. yaitu Cekungan Sumatra Utara.

pada periode tektonik Plio-Pleistosen teraktifkan kembali sebagai sesar mendatar yang sering kali memperlihatkan pola perlipatan di permukaan. Pola Sumatra sangat mendominasi di daerah Sub-Cekungan Palembang (Pulunggono dan Cameron. Struktur geologi berarah utara-selatan atau Pola Sunda juga terlihat di Cekungan Sumatra Selatan. berarah baratlaut-tenggara atau disebut Pola Sumatra. di sebelah timur oleh Paparan Sunda (Sundaland). Struktur geologi berarah timurlaut-baratdaya atau Pola Jambi sangat jelas teramati di Sub-Cekungan Jambi. dan berarah utara-selatan atau disebut Pola Sunda. . 1984). sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh dan ke arah tenggara dibatasi oleh Tinggian Lampung. dalam Satya. Manifestasi struktur Pola Lematang saat ini berupa perlipatan yang berasosiasi dengan sesar naik yang terbentuk akibat gaya kompresi Plio-Pleistosen. Cekungan ini berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda sebagai bagian dari Lempeng Kontinen Asia dan Lempeng Samudera India. Hal inilah yang membuat struktur geologi di daerah Cekungan Sumatra Selatan lebih kompleks dibandingkan cekungan lainnya di Pulau Sumatra. Menurut Suta dan Xiaoguang (2005. Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510 km2.Struktur Utama Cekungan Sumatra Selatan Menurut Salim dkk (1995) Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan belakang busur karena berada di belakang Pegunungan Barisan sebagai volcanic-arc-nya. bagian barat daya dibatasi oleh singkapan Pra-Tersier Bukit Barisan. intensitas perlipatan pada arah ini tidak begitu kuat. Pola Sunda yang pada awalnya dimanifestasikan dengan sesar normal. Terbentuknya struktur berarah timurlaut-baratdaya di daerah ini berasosiasi dengan terbentuknya sistem graben di Cekungan Sumatra Selatan. Namun. Struktur lipatan yang berkembang pada Pola Jambi diakibatkan oleh pengaktifan kembali sesar-sesar normal tersebut pada periode kompresif Plio-Plistosen yang berasosiasi dengan sesar mendatar (wrench fault). 2010) perkembangan struktur maupun evolusi cekungan sejak Tersier merupakan hasil interaksi dari ketiga arah struktur utama yaitu. berarah timurlaut-baratdaya atau disebut Pola Jambi.

Perkembangan Tektonik Peristiwa Tektonik yang berperan dalam perkembangan Pulau Sumatra dan Cekungan Sumatra Selatan menurut Pulonggono dkk (1992) adalah:  Fase kompresi yang berlangsung dari Jurasik awal sampai Kapur. Musi Lineament dan N – S trend. 2005). Saka. Orientasi Timurlaut-baratdaya atau Utara-Selatan Menunjukkan Umur Eo-Oligosen dan Struktur Inversi Menunjukkan Umur Plio-Pleistosen (Ginger dan Fielding.Gambar 2. Terjadi wrench movement dan intrusi granit berumur Jurasik – Kapur. Pantai Selatan Lampung. Kepayang. . Tektonik ini menghasilkan sesar geser dekstral WNW – ESE seperti Sesar Lematang. Elemen Struktur Utama pada Cekungan Sumatra Selatan.

dan Formasi Muara Enim. Selanjutnya. sedangkan pada daerah yang relatif turun diendapkan Formasi Kasai. Fase Kompresi Jurasik Awal Sampai Kapur dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk. . Formasi Air Benakat. Formasi Gumai. 1992). terjadi pengangkatan dan perlipatan berarah barat laut di seluruh daerah cekungan yang mengakhiri pengendapan Tersier di Cekungan Sumatra Selatan. Sedimentasi mengisi cekungan atau terban di atas batuan dasar bersamaan dengan kegiatan gunung api. Formasi Baturaja. 1992). Selain itu terjadi aktivitas volkanisme pada cekungan belakang busur. Gambar 4. Fase keempat berupa gerak kompresional pada Plio-Plistosen menyebabkan sebagian Formasi Air Benakat dan Formasi Muara Enim telah menjadi tinggian tererosi. Yaitu terendapkannya Formasi Talang Akar.   Fase ketiga yaitu adanya aktivitas tektonik Miosen atau Intra Miosen menyebabkan pengangkatan tepitepi cekungan dan diikuti pengendapan bahan-bahan klastika.Gambar 3. Terjadi pengisian awal dari cekungan yaitu Formasi Lahat.  Fase tensional pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal yang menghasilkan sesar normal dan sesar tumbuh berarah N – S dan WNW – ESE. Fase Tensional Kapur Akhir Sampai Tersier Awal dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk.

Mulhadiono dan Asikin (1989). . Tetapi. atau Paleogen. Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat Cekungan Sumatera Selatan. 1992). Cekungan Bengkulu dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan. Cekungan Bengkulu menjadi cekungan forearc dan Cekungan Sumatera Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur). Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti tidak ada forearc basinBengkulu sebab pada saat itu arc-nya sendiri tidak ada. Apakah posisi tersebut sudah dari dulu begitu? Belum tentu. Begitulah yang selama ini diyakini. arc = jalur volkanik). (1995)—semuanya di proceedings IPA baik untuk dipelajari soal Bengkulu Basin. dan inilah yang harus kita selidiki. Cekungan forearc artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore . Cekungan Bengkulu 2009 MARCH 22 tags: Cekungan Bengkulu by admin Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia.Gambar 5. setelah Pegunungan Barisan naik. Publikasi-publikasi dari Howles (1986). yaitu bahwa pada sebelum Miosen Tengah. Berdasarkan berbagai kajian geologi. (1993) dan Yulihanto et al. Mulai saat itulah. Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk.arc. Hall et al. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau Neogen. disepakati bahwa Pegunungan Barisan (dalam hal ini adalahvolcanic arc-nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah. kita menyebutnya demikian berdasarkan posisi geologinya saat ini.

Setting tektonik regional Sumatra (sumber: http://en. Cekungan Bengkulu masuk kepada cekungan yang lebih dalam daripada Cekungan Sumatera Selatan. Pada saat yang sama. Di Cekungan Bengkulu ada Graben Pagarjati.wikibooks. Graben Ipuh (pada saat yang sama di Cekungan Sumatera Selatan saat itu ada graben-graben Jambi. Dapat diamati bahwa pada Paleogen. .jpg) Sejarah penyatuan dan pemisahan Cekungan Bengkulu dari Cekungan Sumatera Selatan dapat dipelajari dari stratigrafi Paleogen dan Neogen kedua cekungan itu. Keduanya mengembangkan sistem graben di beberapa tempat. dan Kepahiang). Lematang. di Cekungan Sumatera Selatan lebih banyak diendapkan sedimen-sedimen regresif (Formasi Air Benakat/Lower Palembang dan Muara Enim/Middle Palembang) karena cekungan sedang mengalami pengangkatan dan inversi. stratigrafi kedua cekungan hampir sama. Palembang. Graben Kedurang-Manna. dibuktikan oleh berkembangnya terumbu-terumbu karbonat yang masif pada Miosen Atas yang hampir ekivalen secara umur dengan karbonat Parigi di Jawa Barat (para operator yang pernah bekerja di Bengkulu menyebutnya sebagai karbonat Parigi juga).org/wiki/File:Sumatra_map. Tetapi setelah Neogen.

. Meskipun belum berhasil menemukan minyak atau gas komersial. Meulaboh) pun berkembang terumbu-terumbu Neogen yang masif akibat pembukaan dan penenggelaman cekungan-cekungan ini. sampai saat ini belum berhasil ditemukan cadangan yang komersial.Secara tektonik. Di cekungan-cekungan forearc utara Bengkulu (Mentawai. Gradient geothermal yang besar ini merupakan anomali pada sebuah forearc basin yang rata-rata di Indonesia sekitar 2. Cekungan Bengkulu akan merupakan harapan pertama untuk penemuan minyak di sistem Paleogennya. Sayangnya. Dan. Karena pada Neogen. tidak berarti cekungan-cekungan ini tidak mengandung migas komersial. Bila dibandingkan cekungan forearc lain. sedikit di sebelah timur pulau-pulau busur luar Sumatera (SimeulueEnggano). Dengan cara itulah semua cekungan forearc di sebelah barat Sumatera yang diapit dua sesar besar ini menjadi terbuka oleh sesar mendatar (trans-tension pull-apart opening) yang mengakibatkan cekungan-cekungan ini tenggelam sehingga punya ruang untuk mengembangkan terumbu karbonat Neogen yang masif asalkan tidak terlalu dalam.5-5 F/100 ft) sebuah anomali bagi “cool basin“—sebutan yang terkenal untuk Cekungancekungan forearc. Sumur terdalam di cekungan ini yang dibor oleh operator Fina pada tahun 1992 (Arwana-1) menemukan oil shows dan menembus sedimen Oligo-Miosen yang berkualitas baik sebagai batuan induk minyak. diketahui bahwa termal cekungan ini panas (4. mengapa terjadi perbedaan stratigrafi pada Neogen di Cekungan Bengkulu—yaitu Cekungan Bengkulu dalam fase penenggelaman sementara Cekungan Sumatera Selatan sedang terangkat. 2000). yaitu Sesar Sumatera (Semangko) di daratan dan Sesar Mentawai di wilayah offshore. 2000— proceedings IPA untuk keterangan Mentawai dan Sibolga Basins). target-target pemboran di wilayah ini (total sekitar 30 sumur) tak ada satu pun yang menembus target Paleogen dengan sistem graben-nya yag telah terbukti produktif di CekunganCekungan Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. hanya ditemukan gas biogenik dan oil show (Dobson et al. Kemudian. Kedua sesar ini bersifat dextral. memang banyak publikasi menyebutkan thermal Cekungan Bengkulu di atas rata- . berdasarkan data sumur ini pula. 1998 dan Yulihanto. Sibolga. Cekungan Bengkulu menjadi diapit oleh dua sistem sesar besar yang memanjang di sebelah barat Sumatera. Sifat pergeseran (slip) yang sama dari dua sesar mendatar yang berpasangan (couple strike-slip atau duplex) akan bersifat trans-tensionatau membuka wilayah yang diapitnya. Sebab. dalam dunia perminyakan terumbu-terumbu inilah yang sejak akhir 1960-an telah menjadi targettarget pemboran eksplorasi. Cekungan Bengkulu merupakan salah satu dari dua cekungan forearc di Indonesia yang paling banyak dikerjakan operator perminyakan (satunya lagi Cekungan Sibolga-Meulaboh).5 F/100 ft atau di bawahnya (Netherwood.

blogspot. Sekarang Lempeng Samudera Hindia subduksi di bawah Lempeng Benua Eurasia pada arah N20°E dengan rata-rata pergerakannya 6 – 7 cm/tahun.com Gambar: Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatera Pulau Sumatra diinterpretasikan dibentuk oleh kolisi dan suturing dari mikrokontinen di Akhir Pra-Tersier. Itu pula yang dipakai sebagai salah satu pemikiran bahwa Cekungan ini dulunya bersatu dengan Cekungan Sumatera Selatan (pada Paleogen)—pemikiran yang juga didukung oleh tatanan tektonostratigrafinya. rembesan minyak dipermukaan juga menjadi data yang sangat berharga apabila bisa diplot di peta geologi permukaan yang cukup detail. . Gradient geothermal dipengaruhi konduktivitas termal masing-masing lapisan pengisi cekungan dan heatflow dari basement di bawah cekungan. hal ini akan memberi tahu kita sifat batuan induk yang telah menggenerasikan minyak tersebut. Selain data seismik. Kerangaka tektonik pulau sumatera Pulau Sumatra terletak di barat daya dari Kontinen Sundaland dan merupakan jalur konvergensi antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat Lempeng Eurasia/Sundaland.rata. Yang tak kalah penting adalah melakukan serangkaian analisis geokimia kepada rembesan minyak itu. Diperlukan data seismik yang lebih baik untuk target dalam dan diperlukan sumur-sumur dalam untuk menembus target-target Paleogen. cekungan sumatera tengah A. tentu saja baik bagi pematangan batuan induk dan generasi hidrokarbon. Sumber: http://geoenviron. Nanti akan diketahui dari batuan mana rembesan itu berasal. di situlah harapan akumulasi migas berada. Apabila basementnya kontinen. Selain itu. lalu dilihat penampang geologinya. Gradient geothermal yang diluar kebiasaan ini. Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi sepanjang Palung Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatra. kedekatan dengan volcanic arc akan mempertinggi thermal background di wilayah ini dan berpengaruh kepada konduktivitas termal. Sekuen syn-rift dan post-rift di cekungan ini belum tertembus. maka ia akan punya heatflow yang relatif lebih tinggi daripada basement intermediat dan oseanik.

berada sepanjang batas cekungan busur depan Sunda dan yang memisahkan dari lereng trench. dimana pola struktur utama yang berkembang berupa struktur Barat lautTenggara dan Utara-Selatan. Bukit Barisan. Back-arc basin menggambarkan gerakan mundur dari zona subduksi terhadap gerakan lempeng yang sedang menumbuk. dipisahkan oleh pengangkatan berikutnya dan erosi dari daerah pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip padabusur depan dan busur belakng basin.go. Sedangkan. Ditinjau dari posisi tektoniknya. Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan belakang busur. B. penipisan kerak yang terbentuk dalam cekungan pada belakang busur. Sebagai zona subduksi dan parit yang ditarik ke belakang.esdm. meliputi Cekungan Sumatra Utara. Busur luar sunda. 3. sedangkan yang . Walaupun demikian. Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi. Tengah. Busur depan Basin adalah depresi dasar laut yang terletak antara zona subduksi dan terkait dengan busur vulkanik. Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir sama dengan cekungan Sumatra Selatan. Sumber:http://psdg. Sesar-sesar yang berarah utara-selatan diperkirakan berumur Paleogen. Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan Sumatra tengah adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada zaman kapur. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian bawah Bukit Barisan. struktur berarah Utara-Selatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur Barat laut–Tenggara. Sedimentasi sangat asimetris. 4.id Gambar: peta cekungan sumatera tengah Cekungan Sumatra Tengah mempunyai 2 (dua) set sesar yang berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara. 5. dengan sebagian besar sedimen dipasok dari busur magmatik aktif yang regresi sejalan dengan rollback parit. Cekungan busur depan Sunda. Cekungan busur belakang Sumatra. Busur tengah Sumatra.bgl. terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik. terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan busur luar dengan bagian di bawah permukaan dan volkanikbusur belakang Sumatra. 2000): 1. 2. Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia. Sedimentasi yang terbentuk merupakan endapan material kerak samudra yang terendapkan di tepi-tepi pulau disampingnya. dan Selatan.Konfigurasi cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari subduksi yang menyebabkan non-volcanic di busur depan dan volcano-plutonik di busur belakang.

Pada struktur tua yang berarah utara-selatan terjadi Release. Pre-Tertier Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-lempeng benua dan samudera yang berbentuk mozaik. C. Kubu. (2) berlangsung pada Eosen-Oligosen. Berdasarkan teori tektonik lempeng. yaitu: (1) Pra Tertier. Eosen-Oligosen Pada kala Eosen-Oligosen disebut juga Rift Phase. (3) berlangsung pada Miosen Awal-Miosen Tengah. Pertama kelurusan utara-selatan yang merupakan sesar geser (Transform/Wrench Tectonic) berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi selama Permo-Trias. Kapur dan Tersier. maka terbentuklah dextral wrench fault yang meluas ke arah barat laut sepanjang busur vulkanik Sumatra yang berasosiasi dengan zona subduksi. diikuti oleh reaktifisasi struktur-struktur tua. Kampar. Miosen Awal-Miosen Tengah Pada kala Miosen Awal terjadi fase amblesan (sag phase). dan Half . Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya sedimensedimen Kelompok Pematang. Graben. 2. Kedua set sesar tersebut berulang kali diaktifkan kembali sepanjang Tersier oleh gaya-gaya yang bekerja. Jura. terjadi deformasi akibat Rifting dengan arah Strike timur laut. Perekahan ini membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah. tektonisme Sumatra zaman Neogen dikontrol oleh bertemunya Lempeng Samudera Hindia dengan Lempeng Benua Asia. Pinang dan Ujung Pandang. Hasil dari erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed. denudasi dan pembentukan daratan Peneplain. 3. Ada 2 (dua) struktur utama pada batuan dasar. Normal Fault. Batas lempeng ditandai oleh adanya zona subduksi di Sumatra-Jawa. Tinggian-tinggian yang terbentuk pada fase ini adalah Tinggian Mutiara. Pada zaman ini. Tinggian-tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen selanjutnya. Pola struktur tersebut disebut debagai elemen struktur pra tertier. Orientasi struktur pada batuan dasar memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. (4) berlangsung pada Miosen Tengah-Resen. diikuti oleh pembentukan Dextral Wrench Fault secara regional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada akhir eosen-oligosen terjadi peralihan dari perekahan menjadi penurunan cekungan ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah. 1. Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia maka terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan Kalimantan Selatan. Napuh. Perkembangan cekungan tertier sumatera tengah Perkembangan tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dibagi menjadi 4 episode tektonik.berarah barat laut-tenggara diperkirakan berumur Neogen Akhir. sehingga terbentuk Listric Fault. Struktur-struktur di Sumatra membentuk sudut yang besar terhadap vektor konvergen.

Pada masa ini. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Sedimen klastik diendapkan.1. Busur non vulkanic merupakan jalur pulau-pulau disebelah barat Sumatera hingga pegunungan samudera di selatan Pulau Jawa (Koesoemadinata & Pulonggono. Pada masa ini. Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas. tektonik Sumatra relatif tenang. Struktur yang terbentuk umumnya berarah barat laut-tenggara.Graben. Geologi Regional Kerangka tektonik regional Indonesia bagian barat terdiri dari paparan sunda yang stabil. Busur dalam vulkanis memanjang dari Sumatera bagian barat sampai Pulau Jawa bagian tengah. terjadi pembalikan struktur akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang terbentuk sebelumnya. diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah Utara-Selatan. Pada Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan sedimen-sedimensedimen Formasi Petani diendapkan. Cekungan Sumatera Selatan termasuk pada daerah Indonesia bagian barat. 1975). Pada kala Miosen Tengah-Resen disebut juga Barisan Compressional Phase. jalur geosinklin yang terdiri dari busur dalam vulkanic dan busur luar non vulkanic.1. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut Pulau Sumatra menuju cekungan. terutama bersumber dari daratan Sunda dan dari arah Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. 4. diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras. CEKUNGAN SUMATERA SELATAN BAB III GEOLOGI UMUM III.) . Miosen Tengah-Resen. merupakan salah satu cekungan sedimen tersier yang berada pada zona antara Paparan Sunda dan busur dalam vulkanik (gambar III.

Sub Cekungan Jambi yang berada di sayap utara Depresi Jambi. antara lain : · · Sub Cekungan Palembang Sub Cekungan Jambi . Pegunungan Bukit Barisan disebelah barat daya serta Pegunungan Dua Belas dan Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat laut. Cekungan Sumatera Selatan dibatasi Daratan Sunda di sebelah timur laut.Gambar III.1. Skema Sayatan Tegak Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan (Pulonggono. 1986) Daerah telitian termasuk dalam Cekungan Sumatera Selatan. Tinggian Lampung di sebelah tenggara. Cekungan Sumatra Selatan dibagi menjadi dua sub cekungan utama.

Gambar III. 1999) .2. dalam Setyo Mulyo. Pembagian Cekungan Sumatera Selatan (Pertamina. 1988.

) .Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu bagian dari Cekungan Sumatera Timur.R. 1988) yang dicirikan oleh : · · · Proses pengendapan yang tinggi Pola asimetri dari urutan-urutan sedimen dan fasies Bentuk pengendapan menunjukan batas dengan sesar pada bagian tepi cekungan (gambar III. 1984. 1984 vide Sukendar Asikin. Sukendar Asikin.R.. 1988) dengan sudut pertemuannya antara 15 – 30 derajat dibandingkan dengan kekuatan penunjaman.3.. 1980 Vide Davies P. Cekungan ini pola pengembangan tektoniknya sangat dipengaruhi oleh sesar-sesar mendatar mengkanan Sumatera (Sesar Semangko) yang terjadi akibat konvergen antara lempeng samudra Hindia-Australia dan lempeng Mikrosunda yang serong (Davies P. Pola tektonik tersebut menghasilkan cekungan-cekungan Pull Apart Basin (Rodgers.

Struktur Geologi Regional Kawasan Indonesia bagian barat (Sumatera.3. 1981 (dikutip dari Setyo Nulyo K.) . Eubank dan Makki.4. 1988) III. Struktur tektonik Indonesia bagian barat dipengaruhi benturan lempeng Benua Asia dengan lempeng kerak Samudra Hindia – Australia. dimana lepas pantai Sumatera Barat merupakan zona penekukan yang masih aktif (gambar III. Pembentukan Pull Apart Basin dengan ciri pengendapannya (Sukendar Asikin. Jawa dan sebagian Kalimantan) merupakan bagian dari Sunda Land yang termasuk lempeng benua Asia.2. 1999) berpendapat bahwa cekungan-cekungan di Sumatera terjadi akibat dari benturan antara kedua lempeng tersebut.Gambar III.

5.) . 1999) Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu dari cekungan-cekungan tersebut dan merupakan cekungan busur belakang (back arc) (gambar III. Setyo Mulyo K.4.Gambar III. Peta Tektonik Indonesia bagian Barat (Eubank & Makki. 1981.

Pada masa Pliosen – Plistosen terjadi gaya kompresi yang membentuk lipatan dengan arah baratlaut – tenggara dan mengakibatkan kembali sesar-sesar geser dan sesar-sesar normal (gambar III.6. sedangkan disekitarnya terjadi tinggian-tinggian lokal (Davies. Setyo Mulyo K. Perkembangan dari pergerakan lempeng-lempeng tersebut membentuk komplek sesar yang mengakibatkan sobekan-sobekan pada kerak bumi sehingga membentuk depresi lokal dikenal sebagai Pull Apart. Skema Penampang Melintang Cekungan Sumatera Selatan (Pertamina EP – II.Oligoen Awal) di Indonesia bagian barat terjadi pergerakan tektonik yang menghasilkan pola kekar dan sesar berarah utara–selatan. 1984.5. 1988). baratlaut– tenggara dan timurlaut–baratdaya. Sukendar Asikin. Pada masa Tersier terjadi gaya tension sehingga sesar-sesar yang sudah terbentuk aktif kembali membentuk sesar tumbuh.Gambar III.) . Depresi dan tinggian inilah yang membentuk konfigurasi batuan dasar dimana merupakan tempat terakumulasinya endapan Tersier. 1988. 1999) Pada Akhir Kapur sampai Awal Tersier (Eosen Awal .

Stratigrafi Regional Stratigrafi daerah Cekungan Sumatera Selatan telah banyak dibahas oleh para ahli geologi terdahulu. 1983. Vide Sukendar Asikin. Peta Struktur Sub Cekungan Palembang dan Sub Cekungan Jambi (Modifikasi dari Pulunggono.6.Gambar III. . 1988) III. umumnya tidak pernah diterbitkan dan hanya berlaku di lingkungan sendiri. Pada awalnya pembahasan dititik beratkan pada sedimen Tersier. khususnya yang bekerja dilingkungan perminyakan.3.

dan Formsi Kasai (KAF). yang terdapat dibagian bawah. Formasi Talang Akar (TAF). membagi batuan berumur Paleozoikum (Permokarbon) berupa slate dan yang berumur Mesozoikum (Yurakapur) berupa seri fasies vulkanik dan seri fasies laut dalam. Batuan ini diketemukan sebagai batuan beku. 1974) Westerveld (1941). Spruyt (1956). 1956) dari umur Miosen Tengah – Pliosen terdiri atas Formasi Air Benakat (ABF). 2. Formasi Lahat (LAF) Menurut Spruyt (1956). antara lain : Van Bemmelen (1932). kelompok batuan Tersier serta kelompok batuan Kuarter. Sedimen-sedimen yang terbentuk pada tahap genang laut disebut Kelompok Telisa (De Coster. 1974). Sedangkan yang terbentuk pada tahap susut laut disebut Kelompok Palembang (Spruyt. 1. dari umur Eosen Awal hingga Miosen Tengah terdiri atas Formasi Lahat (LAF). Formasi Muara Enim (MEF). Pertamina (1981). Batuan Pra-Tersier Batuan Pra-Tersier Cekungan Sumatera Selatan merupakan dasar cekungan sedimen Tersier. Marks (1956). 1956). Berdasarkan peneliti-peneliti terdahulu. Formasi Baturaja (BRF). dan Formasi Gumai (GUF). . yang terdiri atas lapisan-lapisan tipis tuf andesitik yang secara berangsur berubah keatas menjadi batu lempung tufan. Musper (1937). Pulunggono (1969). yaitu tahap genang laut dan tahap susut laut. batuan metamorf dan batuan sedimen (De Coster. Formasi ini terletak secara tidak selaras diatas batuan dasar. maka Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok batuan Pra-Tersier. Spruyt. a. Selain itu breksi andesit berselingan dengan lava andesit. 1974.Peneliti terdahulu telah menyusun urutan-urutan stratigrafi umum Cekungan Sumatera Selatan. De Coster 2(1974). Batuan PraTersier ini diperkirakan telah mengalami perlipatan dan patahan yang intensif pada zaman Kapur Tengah sampai zaman Kapur Akhir dan diintrusi oleh batuan beku sejak orogenesa Mesozoikum Tengah (De Coster. Batuan Tersier Berdasarkan penelitian terdahulu urutan sedimentasi Tersier di Cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi dua tahap pengendapan.

1981). Ketebalan formasi ini pada bagian selatan cekungan mencapai 460 – 610 meter. 1974). Pada bagian teratas batupasir ini berubah menjadi batupasir konglomeratan atau breksian. Menurut De Coster (1973) formasi ini terdiri dari tuf. pada anggota ini terdapat sisasisa tumbuhan dan batubara. 1956). terkadang terdapat selang-seling batulempung coklat dengan batubara. konglomeratan dan breksi yang berumur Eosen Akhir hingga Oligosen Awal. . sisa ikan foram besar dan foram kecil. 1941 vide of side katilli 1941). Formasi Talang akar dibeberapa tempat bersentuhan langsung secara tidak selaras dengan batuan Pra Tersier. hubungan itu disebut rumpang stratigrafi. sedangkan pada bagian utara cekungan mempunyai ketebalan kurang lebih 300 meter (De Coster. batulempung gampingan dan serpih. Formasi ini berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Batupasir pada bagian atas berselang-seling dengan batugamping tipis dan batupasir gampingan. aglomerat. yaitu : Anggota “Gritsand” terdiri atas batupasir. selanjutnya pada umur Eosen hingga Miosen Awal. batulempung. Formasi ini dibeberapa tempat menindih selaras Formasi Lahat (De Coster. Formasi Talang Akar (TAF) Nama Talang Akar berasal dari Talang Akar Stage (Martin. Sedimen-sedimen ini merupakan endapan fluviatil sampai delta (Spruyt. kegiatan ini mencapai puncaknya pada umur Oligosen Akhir sedangkan batuannya disebut sebagai batuan “Lava Andesit tua” yang juga mengintrusi batuan yang diendapkan pada Zaman Tersier Awal. 1956). segarnya berwarna hijau dan lapuknya berwarna ungu sampai merah keunguan. yang mengandung kuarsa dan ukuran butirnya pada bagian bawah kasar dan semakin atas semakin halus. batupasir tufan. Formasi ini diendapkan dalam air tawar daratan. sampai tepi laut dangkal dan berangsur menuju laut terbuka kearah cekungan. litoral.Batulempung tufan. diendapkan pada lingkungan paralis. Batupasir berwarna putih sampai coklat keabuan dan mengandung mika. napal. ini diperoleh dari data pemboran sumur Limau yang terletak disebelah Barat Daya Kota Prabumulih (Pertamina. juga masih menurut Spruyt (1956) anggota transisi pada bagian bawahnya terdiri atas selang-seling batupasir kuarsa berukuran halus sampai sedang dan batulempung serta lapisan batubara. b. ketebalannya antara 40 – 830 meter.Crustacea. Ketebalan dan litologi sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lainnya karena bentuk cekungan yang tidak teratur. Formasi Talang Akar dibagi menjadi dua. 1937) dan Lower Telisa Member (Marks. ia juga menafsirkan hubungan stratigrafi diantara kedua formasi tersebut selaras terutama dibagian tengahnya. 1952) nama lain yang pernah digunakan adalah Houthorizont (Musper. delta. 1974). tejadi kegiatan vulkanik yang menghasilkan andesit (Westerveld. Anggota ini mengandung fosil-fosil Molusca.

Formasi Gumai (GUF) Formasi ini diendapkan setelah Formasi Baturaja dan merupakan hasil pengendapan sedimensedimen yang terjadi pada waktu genang laut mencapai puncaknya. Formasi Air Benakat (ABF) Menurut Spruyt (1956). Di gunung Gumai tersingkap dari bawah keatas berturut-turut napal tufaan. Molusca dan lain sebagainya. batupasir napalan kelabu putih. tetapi pada beberapa tempat di pusat-pusat cekungan atau pada bagian cekungan yang dalam terkadang menjari dengan Formasi Baturaja (Pulonggono. Eulipidina Formosa Schl. Ketebalannya antara 19 . Baturaja Kalk Steen (Musper. lempung serpih dan lapisan tipis batugamping. yaitu pada saat permulaan dari endapan susut laut. Westerfeld (1941) menyebutkan bahwa lapisan-lapisan Telisa adalah seri monoton dari serpih dan napal yan mengandung Globigerina sp dengan selingan tufa juga lapisan pasir glaukonit. batugamping ini mengandung foram besar antara lain Spiroclypes spp. Formasi Baturaja (BRF) Menurut Spruyt (1956). Menurut Spruyt (1956) Formasi ini terdiri atas napal tufaan berwarna kelabu cerah sampai kelabu gelap. 1952). Lingkungan Pengendapannya adalah laut dangkal. 1932). 1986). Schilden. Penamaan Formasi Baturaja pertama kali dikemukakan oleh Van Bemmelen (1932) sebagai “Baturaja Stage”. Terdiri dari batugamping terumbu dan batupasir gampingan. d. “Midle Telisa Member” (Marks. 1973) “Crbituiden Kalk” (v. Endapan sediment pada formasi ini banyak mengandungGlobigerina spp. dan napal yang mengeras. Martin. formasi ini merupakan tahap awal dari siklus pengendapan Kelompok Palembang. 1956). tuff. Hubungannya dengan Formasi Baturaja pada tepi cekungan atau daerah dalam cekungan yang dangkal adalah selaras. formasi ini diendapkan secara selaras diatas Formasi Talang Akar. 1949) sedangkan menurut Pulonggono (1986) berumur Miosen Awal hingga Miosen Tengah (N9 – N12). Umur dari formasi ini adalah Awal Miosen Tengah (Tf2) (Van Bemmelen. e.c. Litologinya terdiri atas batupasir tufaan.150 meter dan berumur Miosen Awal. Lokasi tipe Formasi Baturaja adalah di pabrik semen Baturaja (Van Bemelen.d. 1956) dan Telisa Limestone (De Coster. Formasi ini berumur dari Miosen Akhir hingga Pliosen. 1974). Baturaja Kalk Sten Formatie (Spruyt. breksi tuff. Kadang-kadang terdapat lapisan-lapisan batupasir glaukonit yang keras. sedikit atau banyak lempung tufaan yang berselang-seling dengan batugamping napalan atau batupasirnya semakin keatas semakin berkurang . lapisan batugamping koral. 1949.

kemudian terdapat konglomerat selang-seling lapisan-lapisan batulempung tufan dan batupasir yang lepas. sedangkan pada anggota “b” selain batubara dan sisa tumbuhan tidak dijumpai fosil kecuali foram air payau Haplophragmoides spp (Spruyt. Lokasi tipe formasi ini . glaukonit kadang-kadang gampingan. Kampong Minyak. beberapa lapisan batubara berwarna merah-tua gelap. Ketebalan formasi ini berkisar 250 – 1550 meter. f. Diendapkan dalam lingkungan pengendapan neritik bagian bawah dan berangsur kelaut dangkal bagian atas (De Coster. 1956). 1974). Lembar Lahat (Tobler. Formasi ini dapat dibagi menjadi dua anggota “a” dan anggota “b”. Di daerah Jambi ditemukan berupa batulempung kebiruan. Pada formasi ini dijumpaiGlobigerina spp. “Lower Palembang Member” (Marks. 1956). lignit terdapat sebagai lensa-lensa dalam batupasir dan batulempung tufan (Spruyt. Pada bagian atas banyak dijumpai Molusca dan sisa tumbuhan. 1973). Formasi Kasai (KAF) Formasi ini mengakhiri siklus susut laut (De Coster dan Adiwijaya. 1956). Anggota “b” disebut juga Anggota Hijau Kebiruan (Blue Green Member) terdiri atas batulempung pasiran dan batulempung tufaan yang berwarna biru hijau. Anggota “a” disebut juga Anggota Coklat (Brown Member) terdiri atas batulempung dan batupasir coklat sampai coklat kelabu. “Air Benakat and en Klai Formatie” (Spruyt. napal. Di Limau. batupasir berukuran halus sampai sedang. serpih pasiran dan batupasir yang mengandung Mollusca.kandungan glaukonitnya. pada bagian teratas terdapat lapisan tuf batuapung yang mengandung sisa tumbuhan dan kayu terkersikkan berstruktur sediment silang siur. serpih lempung pasiran dan batupasir tufaan. Pada bagian bawah terdiri atas batupasir tufan dengan beberapa selingan batulempung tufan. . Didaerah Palembang terdapat juga lapisan batubara. Anggota “a” diendapkan pada lingkungan litoral yang berangsur berubah kelingkungan air payau dan darat (Spruyt. 1956). batupasir kasar halus berwarna putih sampai kelabu terang. Pada anggota “a” terkadang dijumpai kandungan Foraminifera dan Mollusca selain batubara dan sisa tumbuhan. Formasi Muara Enim (MEF) Menurut Spruyt (1956) formasi in terlatak selaras diatas Formasi Air Benakat. tetapi banyak mengadung Rotalia spp. 1937). Tobler (1906) menemukan moluska air tawar Viviparus spp dan Union spp. 1956). menurut Musper (1937). Lokasi tipenya terletak di Muara Enim. 1906) g. Nama lainnya adalah “Onder Palembang Lagen” (Musper. Ketebalan formasi ini sekitar 450 -750 meter. dalam penyelidikan Spruyt (1956) ditemukan serpih lempungan yang berwarna biru sampai coklat kelabu. terletak diantara Air Benakat dan Air Benakat Kecil (kurang lebih 40 km sebelah utara-baratlaut Muara Enim (Lembar Lahat).

Lajur-lajur batuan metamorf ini tersusun oleh strata litologi yang berbeda. batuan metamorf yang bersifat lepas berukuran pasir halus hingga kerakal. 1988). Batas lempeng ditandai oleh adanya zona subduksi di Sumatra-Jawa. Ketebalan endapan alluvial ini bervariasi. Kedua set sesar tersebut berulang kali diaktifkan kembali sepanjang Tersier oleh gaya-gaya yang bekerja (Eubank & Makki. Orogenesa Mesozoikum Tengah menyebabkan termalihkannya batuanbatuan Paleozoikum dan Mesozoikum. Fase sebelum F1 disebut sebagai fase 0 (F0) yang berlangsung pada Pra Tersier. 3. tektonisme Sumatra zaman Neogen dikontrol oleh bertemunya Lempeng Samudera Hindia dengan Lempeng Benua Asia. sedangkan yang berarah barat laut-tenggara diperkirakan berumur Neogen Akhir. Struktur-struktur di Sumatra membentuk sudut yang besar terhadap vektor konvergen. yaitu Orogenesa Mesozoikum Tengah. batuan sedimen. 1981). GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN SUMATRA TENGAH RABU. Heidrick dan Aulia (1993). APRIL 27. Tektonik Kapur Akhir-Tersier Awal. F1 (fase 1) berlangsung pada Eosen-Oligosen. F2 (fase 2) berlangsung pada Miosen Awal-Miosen Tengah. Pola struktur yang ada saat ini di Cekungan Sumatra Tengah merupakan hasil sekurang-kurangnya 3 (tiga) fase tektonik utama yang terpisah. Satuan Endapan Alluvial Penyebaran satuan ini meliputi daerah sungai dan tepian sungai-sungai besar berupa meandermeander ditengah dan ditepi sungai. maka terbentuklah dextral wrench fault yang meluas ke arah barat laut sepanjang busur vulkanik Sumatra yang berasosiasi dengan zona subduksi (Yarmanto & Aulia. 1974).umurnya diduga Plio-Plistosen. dan F3 (fase 3) berlangsung pada Miosen Tengah-Resen. Satuan ini terlempar luas dibagian timur Lembar dan tebalnya mencapai 35 meter. 2011 Diterbitkan oleh Ichwan Dwi Adapun Struktur Geologi Regionalnya adalah Pola struktur di Cekungan Sumatra Tengah dicirikan oleh blok-blok patahan dan Transcurent Faulting. dan Orogenesa PlioPlistosen (De Coster. Cekungan Sumatra Tengah mempunyai 2 (dua) set sesar yang berarah utara-selatan dan barat lauttenggara. Sistem blok-blok patahan mempunyai orientasi sejajar dengan arah utara-selatan membentuk rangkaian Horst dan Graben. Berdasarkan teori tektonik lempeng. Sesar-sesar yang berarah utara-selatan diperkirakan berumur Paleogen. . Lingkungan pengendapan air payau sampai darat. baik tingkat metamorfismenya maupun intensitas deformasinya. membahas secara terperinci tentang perkembangan tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dengan membaginya menjadi 3 (tiga) episode tektonik. Batuan-batuan tersebut kemudian terlipatkan dan terpatahkan menjadi blok-blok struktural berukuran besar yang diterobos oleh intrusi granit. dan satuan ini terdiri dari hasil rombakan beku.

4. Pada episode F3 terjadi pembalikan struktur akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang terbentuk sebelumnya. Pertama kelurusan utara-selatan yang merupakan sesar geser (Transform/Wrench Tectonic) berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi selama Permo-Trias. 1993) 1. Pinang dan Ujung Pandang. Pada akhir F1 terjadi peralihan dari perekahan menjadi penurunan cekungan ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah. Episode F3 (13–Recent) Episode F3 berlangsung pada kala Miosen Tengah-Resen disebut juga Barisan Compressional Phase. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Pola struktur tersebut disebut debagai elemen struktur F0. 2. Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia pada 45 Ma terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan Kalimantan Selatan (Heidrick & Aulia. diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras. 1993). Kampar. Graben. Pada episode F3 Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan sedimen-sedimen-sedimen Formasi Petani diendapkan. Hasil dari erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed. Perekahan ini membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah. Jura. denudasi dan pembentukan daratan Peneplain. Napuh. Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya sedimen-sedimen Kelompok Pematang. Episode F0 (Pre-Tertiary) Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-lempeng benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Episode F1 (26 . 3. Pada episode F2. Normal Fault. diikuti oleh reaktifisasi struktur-struktur tua. diikuti oleh pembentukan Dextral Wrench Fault secara regional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara. Struktur yang terbentuk umumnya berarah barat laut-tenggara. Pada struktur tua yang berarah utara-selatan terjadi Release. Orientasi struktur pada batuan dasar memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. Tinggian-tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen selanjutnya. Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan sedimen-sedimen dari Kelompok Sihapas diendapkan. Episode F2 (13 – 26 Ma) Episode F2 berlangsung pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah.50 Ma) Episode F1 berlangsung pada kala Eosen-Oligosen disebut juga Rift Phase. Tinggian-tinggian yang terbentuk pada fase ini adalah Tinggian Mutiara. Kubu. Pada kala Miosen Awal terjadi fase amblesan (sag phase). . Ada 2 (dua) struktur utama pada batuan dasar. Kapur dan Tersier.Gambar 1: Perkembangan Episode Tektonik Tersier Cekungan Sumatra Tengah (Heidrick & Aulia. sehingga terbentuk Listric Fault. dan Half Graben. Pada F1 terjadi deformasi akibat Rifting dengan arah Strike timur laut.

1994 Gambar 3.Gambar 2. Perkembangan tektonik Cekungan Sumatra Tengah pada fase F2 dan F3 (Heidrick dan Turlington. 1993) . Peta Struktur Top Basement Cekungan Sumatra Tengah(Heidrick & Aulia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful