Anda di halaman 1dari 18

Sirka Nafisa 12011025 Pulau Sumatra terletak di barat daya dari Kontinen Sundaland dan merupakan jalur konvergensi

i antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat Lempeng Eurasia/Sundaland. Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi sepanjang Palung Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatra.

Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatera

Pulau Sumatra dibentuk oleh kolisi dan suturing dari mikrokontinen di Akhir Pra-Tersier. Sekarang Lempeng Samudera Hindia subduksi di bawah Lempeng Benua Eurasia pada arah N20E dengan rata-rata pergerakannya 6 7 cm/tahun. Konfigurasi cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari subduksi yang menyebabkan non-volcanic di busur depan dan volcano-plutonik di busur belakang. Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi, 2000): 1. Busur luar sunda, berada sepanjang batas cekungan busur depan Sunda dan yang memisahkan dari lereng trench. 2. Cekungan busur depan Sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan busur luar dengan bagian di bawah permukaan dan volkanik busur belakang Sumatra. 3. Cekungan busur belakang Sumatra, meliputi Cekungan Sumatra Utara, Tengah, dan Selatan. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian bawah Bukit Barisan. 4. Bukit Barisan, terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama pada PermKarbon hingga batuan Mesozoik.

Sirka Nafisa 12011025 5. Busur tengah Sumatra, dipisahkan oleh pengangkatan berikutnya dan erosi dari daerah pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada busur depan dan busur belakng basin. Busur depan Basin adalah depresi dasar laut yang terletak antara zona subduksi dan terkait dengan busur vulkanik. Sedimentasi yang terbentuk merupakan endapan material kerak samudra yang terendapkan di tepi-tepi pulau disampingnya. Sedangkan, Back-arc basin menggambarkan gerakan mundur dari zona subduksi terhadap gerakan lempeng yang sedang menumbuk. Sebagai zona subduksi dan parit yang ditarik ke belakang, penipisan kerak yang terbentuk dalam cekungan pada belakang busur. Sedimentasi sangat asimetris, dengan sebagian besar sedimen dipasok dari busur magmatik aktif yang regresi sejalan dengan rollback parit.

Cekungan Sumatera Utara


Geologi Regional Cekungan Sumatera Utara Daerah ini merupakan bagian dari Back-arc Basin lempeng Sunda yang meliputi suatu jalur sempit yang terbentang dari Medan sapai ke Banda Aceh. Di sebelah barat jalur ini dibatasi oleh singkapan-singkapan pra-Tersier. Dapat dikatakan bahwa yang dikenal sebagai lempung hitam (black clay) dan batupasir bermika (micaceous sandstone), mungkin merupakan pengendapan non-marin. Transgresi baru dimulai dengan batupasir Peunulin atau batupasir Belumai, yang tertindih oleh Formasi Telaga. Formasi regresi diwakili oleh Formasi Keutapang dan Formasi Seureula yang merupakan lapisan resevoir utama. Daerah cekungan ini juga terdiri dari cekungan yang dikendalikan oleh patahan batuan dasar. Semua cekungan tersebut adalah pendalaman Paseh (Paseh deep). Di sini jugalah letak dearah terangkat blok Arun, yang dibatasi oleh patahan yang menjurus ke utara-selatan. Cekungan Paseh membuka ke arah utara ke lepas pantai, ke sebelah selatan tempat depresi Tamiang dan depresi Medan. Di antara kedua depresi tersebut terdapat daerah tinggi, dan di sana Formasi Peunulin/Telaga/Belumai langsung menutupi batuan dasar. Minyak ditemui pada formasi ini (Diski, Batumandi), lebih ke selatan lagi terdapat depresi Siantara dan kemudian daerah cekungan dibatasi oleh lengkung Asahan dari cekungan Sumatera Tengah. Struktur daerah cekungan Sumatera Utara diwakili oleh berbagai lipatan yang relatif ketat yang membujut barat laut-tenggara yang diikuti oleh sesar naik. Di sini diketahui bagian barat relatif naik terhadap bagian timur. Perlipatan terjadi di Plio-Plistosen. Semua unsur struktur yang lebih

Sirka Nafisa 12011025 tua direfleksikan pada paleotopografi batuan dasar, seperti misalnya di blik Arun yang menjurus ke utara-selatan. Cekungan sumatera Utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen yang berupa tinggian, cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini terjadi setelah berlangsungnya gerakan tektonik pada zaman Mesozoikum atau sebelum mulai berlangsungnya pengendapan sedimen tersier dalam cekungan sumatera utara. Tektonik yang terjadi pada akhir Tersier menghasilkan bentuk cekungan bulat memanjang dan berarah barat laut tenggara. Proses sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan trangressi, kemudian disusul dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada akhir Tersier. Pola struktur cekungan sumatera utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan pergeseran-pergeseran yang berarah lebih kurang lebih barat laut tenggara Sedimentasi dimulai dengan sub cekungan yang terisolasi berarah utara pada bagian bertopografi rendah dan palung yang tersesarkan. Pengendapan Tersier Bawah ditandai dengan adanya ketidak selarasan antara sedimen dengan batuan dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi, membentuk endapan berbutir kasar halus, batu lempung hitam, napal, batulempung gampingan dan serpih. Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Bawah, kemudian berhenti dan lingkungan berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya akan fosil foraminifora planktonik dari formasi Peutu. Di bagian timur cekungan ini diendapkan formasi Belumai yang berkembang menjadi 2 facies yaitu klastik dan karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai Miosen tengah dengan pengendapan serpih dari formasi Baong. Setelah pengendapan laut mencapai maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang mengendapkan sedimen klastik (formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras diendapkan diatas Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan Tufa Toba Alluvial. Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara Proses tektonik cekungan tersebut telah membuat stratigrafi regional cekungan Sumatera Utara dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut: 1. Formasi Parapat Formasi Parapat dengan komposisi batupasir berbutir kasar dan konglomerat di bagian bawah, serta sisipan serpih yang diendapkan secara tidak selaras. Secara regional, bagian bawah Formasi Parapat diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dengan dijumpai fosil Nummulites di Aceh. Formasi ini diperkirakan berumur Oligosen.

Sirka Nafisa 12011025 2. Formasi Bampo Formasi Bampo dengan komposisi utama adalah serpih hitam dan tidak berlapis, dan umumnya berasosiasi dengan pirit dan gamping. Lapisan tipis batugamping, ataupun batulempung berkarbonatan dan mikaan sering pula dijumpai. Formasi ini miskin akan fosil, sesuai dengan lingkungan pengendapannya yang tertutup atau dalam kondisi reduksi (euxinic). Berdasarkan beberapa kumpulan fosil bentonik dan planktonik yang ditemukan, diperkirakan formasi ini berumur Oligosen atas sampai Miosen bawah. Ketebalan formasi amat berbeda dan berkisar antara 100 2400 meter. 3. Formasi Belumai

Pada sisi timur cekungan berkembang Formasi Belumai yang identik dengan formasi Peutu yang hanya berkembang dicekungan bagian barat dan tengah. Terdiri dari batupasir glaukonit berselang seling dengan serpih dan batugamping. Didaerah Formasi Arun bagian atas berkembang lapisan batupasir kalkarenit dan kalsilutit dengan selingan serpih. Formasi Belumai terdapat secara selaras diatas Formasi Bampo dan juga selaras dengan Formasi Baong, ketebalan diperkirakan antara 200 700 meter. Lingkungan pengendapan Formasi ini adalah laut dangkal sampai neritik yang berumur Miosen awal. 4. Formasi Baong

Sirka Nafisa 12011025

Formasi Baong terdiri atas batulempung abu-abu kehijauan, napalan, lanauan, pasiran. Umumnya kaya fosil Orbulina sp, dan diselingi suatu lapisan tipis pasir halus serpihan. Didaerah Langkat Aru beberapa selingan batupasir glaukonitan serta batugampingan yang terdapat pada bagian tengah. Formasi ini dinamakan Besitang River Sand dan Sembilan sand, yang keduanya merupakan reservoir yang produktif dengan berumur Miosen Tengah hingga Atas. 6. Formasi Keutapang Formasi Keutapang tersusun selang-seling antara serpih, batulempung, beberapa sisipan batugampingan dan batupasir berlapis tebal terdiri atas kuarsa pyrite, sedikit mika, dan karbonan terdapat pada bagian atas dijumpai hidrokarbon. Ketebalan formasi ini berkisar antara 404 1534 meter. Formasi Keutapang merupakan awal siklus regresi dari sedimen dalam cekungan sumatera utara yang terendapkan dalam lingkungan delta sampai laut dalam sampai Miosen akhir.

Sirka Nafisa 12011025

6. Formasi Seurula Formasi ini agak sulit dipisahkan dari Formasi Keutapang dibawahnya. Formasi Seurula merupakan kelanjutan facies regresi, dengan lithologinya terdiri dari batupasir, serpih dan dominan batulempung. Dibandingkan dengan Formasi Keutapang, Formasi Seurula berbutir lebih kasar banyak ditemukan pecahan cangkang moluska dan kandungan fornifera plangtonik lebih banyak. Ketebalan Formasi ini diperkirakan antara 397 720 meter. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan bersifat laut selama awal Pliosen. 7. Formasi Julu Rayeu Formasi Julu Rayeu merupakan formasi teratas dari siklus endapan laut dicekungan sumatera utara. Dengan lithologinya terdiri atas batupasir halus sampai kasar, batulempung dengan mengandung mika, dan pecahan cangkang moluska. Ketebalannya mencapai 1400 meter, lingkungan pengendapan laut dangkal pada akhir Pliosen sampai Plistosen. 8. Vulkanik Toba Vulkanik Toba merupakan tufa hasil kegiatan vukanisme toba yang berlangsung pada PlioPlistosen. Lithologinya berupa tufa dan endapan-endapan kontinen seperti kerakal, pasir dan lempung. Tufa toba diendapkan tidak selaras diatas formasi Julu Rayeu. Ketebalan lapisan ini diperkirakan antara 150 200 meter berumur Plistosen. 9. Alluvial

Sirka Nafisa 12011025 Satuan alluvial ini terdiri dari endapan sungai (pasir, kerikil, batugamping dan batulempung) dan endapan pantai yaitu, pasir sampai lumpur. Ketebalan satuan alluvial diperkirakan mencapai 20 meter. Potensi Hidrokarbon Batuan induk yang berpotensi dalam pembentukan hidrokarbon di Cekungan Sumatera Utara adalah serpih Formasi Baong, serpih gampingan Formasi Belumai, dan serpih Formasi Bampo dibeberapa tempat. Bertindak sebagai batuan reservoir adalah batupasir Formasi Keutapang, batupasir Formasi Baong Tengah (MBS), batuan karbonat Formasi Malaca, dan batuan karbonat Formasi Peutu.

Hydrocarbon play of north sumatra

Batuan Induk (Source rock) Pada Cekungan Sumatera Utara terdapat beberapa formasi yang menjadi batuan induk (source rock). Formasi Bampoo yang berumur Oligosen akhir hingga miosen awal merupakan sedimen black shale hasil trangresi laut,mengandung kandungan organik (organic rich), dan memiliki ketebalan hingga 2000m. Oleh karena itu formasi Bampoo memungkinkan menjadi batuan induk dan batuan tudung (cap rock). Batuan induk yang lain adalah formasi Peutu. Formasi ini merupakan fasies batugamping terumbu(reefal karbonat) yang mengalami trangresi, sehingga menjadi endapan shale pada lingkungan laut yang lebih dalam. Formasi ini berumur miosen awal. Batuan Reservoir

Sirka Nafisa 12011025 Reservoir utama pada cekungan Sumatera Utara adalah platform batugamping dan batugamping terumbu (reef) yang terbentuk pada formasi Peutu dan Belumai yang berumur miosen awal. Reservoir batugamping ini terbentuk di bagian tengah cekungan dan sangat terbatas pelamparannya. Reef pada formasi Peutu memiliki porositas rata-rata 18 %. Sedimen batupasir marine Formasi Belumai juga dikembangkan sebagai reservoir. Reservoir yang lainnya adalah Formasi batupasir Keutapang yang diendapkan di bagian selatan cekungan ini, berumur miosen tengah hingga miosen akhir. Formasi ini merupakan reservoir silisiklastik yang memiliki porositas dan permeabilitas yang baik serta terdapat konsentrasi pertumbuhan gamping terumbu (reefal) di beberapa tempat. Pada bagian utara cekungan terdapat reservoir pada Formasi batupasir marine Parapat tetapi pelamparannya terbatas. Batuan tudung (seal rock) Batuan tudung pada cekungan Sumatera Utara tersebar pada beberapa formasi. Formasi shale Bampoo dapat menjadi batuan tudung karena memiliki ketebalan yang cukup tebal. Selain itu batuan tudung untuk reservoir formasi Keutapang adalah sedimen lempung formasi Seurula. Formasi Baong merupakan batuan tudung utama dari reservoir batugamping reef ,batugamping platform dan batupasir Belumai yang menjadi reservoir utama dari lapangan minyak Cekungan Sumatera Utara Migrasi Proses migrasi yang terbentuk pada Cekungan Sumatera Utara adalah migrasi primer dan migrasi sekunder. Migrasi primer terjadi pada shale formasi Peutu yang mengandung hidrokarbon langsung bermigrasi ke arah batugamping terumbu Arun yang terperangkap di dala formasi Peutu. Sedangkan migrasi sekunder terbentuk pada endapan black shale Formasi Bampoo yang bermigrasi melalui jalur horst dan graben basemen serta jalur struktur geologi di sekitar basemen. Jebakan (Oil trap) Jebakan (trap system) yang berkembang pada Cekungan Sumatera Utara adalah jebakan antiklin yang terbentuk pada reservoir batugamping terumbu (reefal) akibat dorongan dari basemen dengan kombinasi sesar dan jebakan stratigrafi oleh formasi Baong. Reservoir Batugamping terumbu (carbonate reef) terjebak pada bagian atas dan di sekitar basemen yang menjulang

Sirka Nafisa 12011025 (basement highs). Jebakan stratigrafi juga dibentu oleh Formasi Bampoo dan Formasi Keutapang atas/ Seurula shale.

Cekungan Sumatera Tengah


Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan belakang busur. Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan Sumatra tengah adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada zaman kapur. Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir sama dengan cekungan Sumatra Selatan, dimana pola struktur utama yang berkembang berupa struktur Barat laut-Tenggara dan Utara-Selatan. Walaupun demikian, struktur berarah UtaraSelatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur Barat lautTenggara.

Peta Cekungan Sumatera Tengah

Cekungan Sumatra Tengah mempunyai 2 (dua) set sesar yang berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara. Sesar-sesar yang berarah utara-selatan diperkirakan berumur Paleogen, sedangkan yang berarah barat laut-tenggara diperkirakan berumur Neogen Akhir. Kedua set sesar tersebut berulang kali diaktifkan kembali sepanjang Tersier oleh gaya-gaya yang bekerja.

Sirka Nafisa 12011025 Berdasarkan teori tektonik lempeng, tektonisme Sumatra zaman Neogen dikontrol oleh bertemunya Lempeng Samudera Hindia dengan Lempeng Benua Asia. Batas lempeng ditandai oleh adanya zona subduksi di Sumatra-Jawa. Struktur-struktur di Sumatra membentuk sudut yang besar terhadap vektor konvergen, maka terbentuklah dextral wrench fault yang meluas ke arah barat laut sepanjang busur vulkanik Sumatra yang berasosiasi dengan zona subduksi. Perkembangan cekungan tertier sumatera tengah Perkembangan tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dibagi menjadi 4 episode tektonik, yaitu: 1. Pre-Tertier Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-lempeng benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur pada batuan dasar memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. Pola struktur tersebut disebut debagai elemen struktur pra tertier. Ada 2 (dua) struktur utama pada batuan dasar. Pertama kelurusan utara-selatan yang merupakan sesar geser (Transform/Wrench Tectonic) berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi selama Permo-Trias, Jura, Kapur dan Tersier. Tinggian-tinggian yang terbentuk pada fase ini adalah Tinggian Mutiara, Kampar, Napuh, Kubu, Pinang dan Ujung Pandang. Tinggian-tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen selanjutnya. 2. Eosen-Oligosen Pada kala Eosen-Oligosen disebut juga Rift Phase. Pada zaman ini, terjadi deformasi akibat Rifting dengan arah Strike timur laut, diikuti oleh reaktifisasi struktur-struktur tua. Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia maka terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan Kalimantan Selatan. Perekahan ini membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah. Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya sedimen-sedimen Kelompok Pematang. Pada akhir eosen-oligosen terjadi peralihan dari perekahan menjadi penurunan cekungan ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah, denudasi dan pembentukan daratan Peneplain. Hasil dari erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed. 3. Miosen Awal-Miosen Tengah Pada kala Miosen Awal terjadi fase amblesan (sag phase), diikuti oleh pembentukan Dextral Wrench Fault secara regional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada struktur tua yang berarah utara-selatan terjadi Release, sehingga terbentuk Listric Fault, Normal Fault, Graben, dan Half Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara.

Sirka Nafisa 12011025 Pada masa ini, Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas, tektonik Sumatra relatif tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan Sunda dan dari arah Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut Pulau Sumatra menuju cekungan, diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah Utara-Selatan. 4. Miosen Tengah-Resen. Pada kala Miosen Tengah-Resen disebut juga Barisan Compressional Phase. Pada masa ini, terjadi pembalikan struktur akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Struktur yang terbentuk umumnya berarah barat laut-tenggara. Pada Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan sedimen-sedimen-sedimen Formasi Petani diendapkan, diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras. Stratigrafi Cekungan Sumatera Utara 1. Formasi Pematang Berumur Oligosen sampai Miosen Awal. Formasi ini menutupi batuan dasar secara tidak selaras, yang batuannya terdiri dari: konglomerat, batupasir, dan lempung. 2. Formasi Sihapas Berumur Miosen Awal. Diendapkan secara selaras di atas Formasi Pematang, batuan penyusunnya didominasi oleh batupasir. 3. Formasi Telisa Berumur Miosen Awal sampai Miosen Tengah. Batuan penyusunnya adalah batulempung dengan sisipan batugamping, yang diendapkan selaras di atas Formasi Sihapas dan di beberapa tempat menunjukkan hubungan berubah fasies (menjari). 4. Formasi Wingfoot Berumur Miosen Tengah. Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Telisa, yang batuannya terdiri dari selang-seling batupasir dan batulempung. 5. Formasi Petani Berumur Miosen Atas sampai Plistosen, Batuan penyusun dari Formasi ini terdiri batupasir, tufaan, batulempung, konglomeratan, dan lapisan batuanbaru, Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Wingfoot

Sirka Nafisa 12011025

Cekungan Sumatera Selatan


Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan belakang busur yang dibatasi oleh Bukit Barisan di sebelah barat dan Paparan Sunda di sebelah timur. Cekungan Sumatera Selatan terbentuk pada periode tektonik ektensional Pra-Tersier sampai Tersier Awal yang berarah relatif barat timur. Tektonik Regional Cekungan Sumatera Selatan Struktur Cekungan Sumatera Selatan yang ada saat ini merupakan hasil dari 3 periode, yaitu : Periode 1, terbentuknya horst graben berarah timurlaut baratdaya dan utara selatan selama periode ekstensional Kapur Akhir Oligosen Awal. Sedimen pengisinya merupakan sedimen klastik kasar dan vulkanuklastik, serta lingkungannya pengendapannya darat atau lakustrin. Periode 2, graben yang terbentuk mengalami subsidence sampai periode dimana tektonik tidak aktif (Oligosen Akhir Miosen Awal), kemudian cekungan berada pada lingkungan laut. Pada Miosen Awal Miosen Tengah mulai terjadi aktivitas tektonik yang menghasilkan lipatan kompresional dikarenakan adanya subduksi oblique dari lempeng samudera yang berada di sebelah tenggara pulau Sumatera. Periode 3, pada Pliosen Plistosen terjadi tektonik kompresional yang sangat kuat disertai uplifting busur vulkanik ke arah barat sehingga mengaktifkan kembali fitur-fitur struktur sebelumnya, yaitu sesar normal menjadi sesar naik.

Sirka Nafisa 12011025

Kerangka Tektonik Cekungan Sumatera Selatan

Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan

Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan (De Coastal, 1974)

Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan dikelompokan menjadi 2, yaitu Kelompok Telisa yang merupakan formasi-formasi yang terbentuk pada fase transgresi dan Kelompok Palembang yang terbentuk pada fase regresi.

Sirka Nafisa 12011025 1. Kelompok Telisa Formasi Lahat Formasi Lahat merupakan suatu rangkaian breksi vulkanik tebal, tuf, endapan lahar dan aliran lava, serta dicirikan dengan kehadiran sisipan lapisan batupasir kuarsa. Anggota Formasi Lahat dari tua ke muda adalah Kikim Bawah, anggota batupasir kuarsa, Kikim Atas. Formasi Lahat diendapan pada lingkungan darat, serta berumur Eosen Oligosen Awal. Formasi Talang Akar Setelah pengendapan Formasi Lahat, terjadi proses erosi secara regional. Bukti erosi ini diperlihatkan oleh Formasi Talang Akar yang terendapkan tidak selaras diatas Formasi Lahat. Setelah masa hiatus umur Oligosen Tengah, kemudian diendapkan sedimen pada topografi yang rendah pada Oligosen Akhir. Variasi lingkungan pengendapannya berkisar dari lingkungan sungai teranyam dan sungai bermeander yang berangsur berubah menjadi lingkungan delta front dan lingkungan prodelta. Formasi Talang Akar berakhir pada masa transgresi maksimum dengan munculnya endapan laut pada cekungan selama Miosen Awal. Klastik Pra-Baturaja Formasi ini merupakan sedimen klastik dengan variasi yang kompleks yang ditemukan di antara Formasi Lahat dan Formasi Baturaja lingkungan laut, berumur Miosen awal. Bagian dasarnya yang berupa sedimen vulkaniklastik dan lempung lakustrin disebut Formasi Lemat. Formasi Lemat merupakan fasies distal dari Formasi Lahat, atau dapat dikatakan juga sebagai unit yang lebih muda dan kaya akan material jatuhan dari Formasi Lahat. Formasi Baturaja Formasi Baturaja dicirikan denga kehadiran batugamping yang berada di sekitar bagian dasar Formasi Telisa. Formasi Baturaja ini masuk ke dalam rentang umur yang ekuivalen dengan foraminifera planktonik dengan kisaran umur N5 N6 atau Miosen Awal. Formasi Telisa / Formasi Gumai Puncak transgresi pada Cekungan Sumatera Selatan dicapai pada waktu pengendapan. Formasi Gumai, sehingga formasi ini mempunyai penyebaran yang sangat luas pada Cekungan Sumatera Selatan. Formasi ini diendapkan selaras diatas Formasi Baturaja dan anggota Transisi Talang Akar. Dicirikan dengan adanya serangkaian batulempung tebal berwarna abu-abu gelap. Terdapat foraminifera planktonik yang membentuk lapisan tipis berwarna putih, tuf

Sirka Nafisa 12011025 berwarna keputihan serta lapisan turbidit berwarna coklat yang tersusun atas material andesit tufaan. Pada bagian atas formasi banyak ditemukan lapisan berwarna coklat dengan nodul lensa karbonatan berdiameter sampai 2 meter. Umur dari formasi ini sangat beragam. Ketika batugamping Baturaja tidak berkembang, pada bagian dasarnya lapisan Formasi Telisa memiliki zona N4 foraminifera planktonik (Miosen Awal), sedangkan saat dimana Baturaja berkembang dengan tebal, lapisan tertua Formasi Telisa memiliki zona fauna N6 atau N7 (Miosen Awal). Bagian atasnya juga bervariasi dari zona N8 (Miosen Awal) hingga N10 (Miosen Tengah), bergantung pada posisi cekungan dan dimana letak penentuan batas formasi. 2. Kelompok Palembang Formasi Air Benakat Formasi Air Benakat diendapkan secara selaras di atar Formasi Gumai, dan merupakan awal fase regresi. Didominasi oleh shale sisipan batulanau, batupasir dan batugamping. Ketebalannya antara 100 1000 meter. Berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, dan diendapkan di lingkungan laut dangkal. Formasi Muara Enim Bagian atas dan bawah formasi ini dicirikan oleh keterdapatan lapisan batubara yang menerus lateral. Ketebalan formasi sekitar 500 700 meter, 15% nya berupa batubara. Bagian formasi yang menipis, lapisan batubaranya pun tipis atau bahkan tidak ada. Hal ini menunjukan bahwa tingkat subsidence berperan penting dalam pengendapan batubara. Formasi Muara Enim berumur Miosen Akhir Pliosen Awal, dan diendapkan secara selaras di atas Formasi Air Benakat pada lingkungan laut dangkal, paludal, dataran delta dan non-marine. Formasi Kasai Litologi Formasi Kasai berupa pumice tuff, batupasir tufaan dan batulempung tufaan. Fasies pengendapannya fluvial dan alluvial fan dengan sedikit ashfall (jatuhan erupsi vulkanik, non-andestik). Pada Formasi Kasai hanya ditemukan sedikit fosil, berupa moluska air tawar dan fragmen-fragmen tumbuhan. Umur Formasi Kasai adalah Pliosen Akhir Plistosen. Potensi Hidrokarbon Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan yang produktif. Hal ini desebabkan terdapat beberapa formasi yang dapat bertindak sebagai batuan induk yang baik, batuan reservoar yang memadai dan batuan penutup. Jalur migrasinya diperkirakan oleh adanya sesar-sesar yang terjadi pada cekungan ini.

Sirka Nafisa 12011025

Hydrocarbon Play Cekungan Sumatra Selatan

Batuan Induk Batuan Induk yang potensial berasal dai batulempung hitam Formasi Lahat, lignit (batubara), batulempung Formasi Talang Akar dan Batulempung Formasi Gumai. FOrmasi Lahat mengalami perubahan fasies yag cepat kea rah lateral sehingga dapat bertindak sebagai batuan induk yang baik dengan kandungan material organiknya 1.2 - 5%. Formsi Lahat diendapkan dibagian graben dan dibagian tengah Subsekungan Palembeng. Landaian suhu berkisar 4.8 5.5o C/100 m, sehingga kedalaman pembentukan minyak yang komersil terdapat pada kedalaman 2000 3000 m. Fomasi yang paling banyak menghasilkan minyak yang diketahui hingga saat ini adalah Formasi Talang Akar, dengan kandungan material organic yang berkisar 0.5 1.5%. Diperkirakan dibagia tengah cekungan Formasi Talang Akar telah encapai tingkatan lewat matang. Minyak Cekungan Sumatera Selatan berasal dai batuan induk yang mengandung kerogen wax. Formasi Gumai mempunyai kandungan material organik yang berkisar 1 1.38% di Subcekungan Jambi, sedangkan di Subcekungan Palembang tidal ada data yang menunjukan bahwa formasi ini dapat bertindak sebagai batua induk. Kandungan Material organik pada Formasi Air Benakat berkisar antara 0.5 50%, karena pada Formasi ini banyak mengandung lapisan lignit. Tetapi kadungan rata-ratanya adalah 1.1%. Temperatur jendela minyak (oil window) adalah 115 oC pada kedalaman 1700 m, sedangkan jendela gas (gas window) adalah 320 oC pada kedalaman 2500m. di

Sirka Nafisa 12011025 Batuan Reservoar Lapisan batupasir yang terdapat dalam Formasi Lahat, Talang Akar, Gumai, Air Benakat, dan Muara Enim dapat merupakan batuan resevoar, selain itu batugamping Formasi Baturaja juaga dapat berlaku sebagai batuan reservoar. Pada Subcekungan Jambi, produksi terbesar terdapat pada batuan reservoar Formasi Air Benakat. Batupasir alasnya mempunyai porositas 27%, batupasir delta porositasnya 20% dan batupasir laut dangkal mempunyai porositas 10% Batupasir konglomeratan dari Formasi Talang Akar merupakan reservoar kedua yang berproduksi minyak dengan porositas 30% dan permeabilitas 12 180 md. Batugamping Formasi Baturaja berproduksi minyak hanya dibagian Tenggara Subcekungan Jambi dengan porositas 19%. Pada Subcekungan Palembang produksi minyak terbesar terdapat pada batuan reservoar Formasi Talang Akar dan Formasi Baturaja. Porositas lapisan batupasir berkisar 15 28%. Reservoar dari Formasi Air Benakat dan Muara Enim merupakan penghasil minyak kedua setelah kedua formasi tersebut diatas. Batugamping Formsi Baturaja menghasilkan kondensat dan gas ditepi sebelah Barat dan Timur dari Subcekungan Palembang. Batuan Tudung Batuan tudung pada umumnya merupakan lapisan batulempung yang tebal dari Formasi Gumai, Air Benakat dan Muara Enim. Disamping itu terjadinya perubahan fasies kea rah lateral dai Formasi Talang Akar dan Baturaja. Perangkap dan Migrasi Pada umumnya perangkap hidrokarbon di Cekungan Sumatera Selatan merupakan perangkap struktur anticlinal dari suatu anticlinorium yang terbentuk pada Pleo-Pleistosen. Selain itu terdapat drape batuan sedimen terhadap batuan dasar disuatu tinggian. Struktur sesar, bai normal maupun geser, dapat bertindak sebagai perangkap untuk minyak. Perangkap stratigrafi terjadi pada batugamping terumbu, bentuk membaji, bentuk kipas, dan lensa dari batupasir karena perubahan fasies. Migrasi umumnya terjadi kea rah up dip serta melalui sesar-sesar yang ada.

Sirka Nafisa 12011025

Daftar Pustaka:
http://chaniago021090.blogspot.com/2013/06/bab-i-pendahuluan-a.html (Diakses tgl 20-01-2014, pukul 22:32) http://dinawan24geo.wordpress.com/2013/08/19/37/ (Diakses tgl 20-01-2014, pukul 23:06) http://dyazo.blogspot.com/2012/04/cekungan-sumatera-tengah.html (Diakses tgl 20-01-2014, pukul 22:20) http://erinutami.blogspot.com/2012/04/cekungan-sumatera-tengah.html (Diakses tgl 20-01-2014, pukul 22:45)