Anda di halaman 1dari 151

MANAJEMEN PENGELOLAAN DANA SEBAGAI UPAYA

PENINGKATAN KESEHATAN PADA KOPERASI BMT


MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH
SIDOGIRI PASURUAN

SKRIPSI

Oleh
LATIFATUR RAHMANIYA
NIM : 05610016

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2009
MANAJEMEN PENGELOLAAN DANA SEBAGAI UPAYA
PENINGKATAN KESEHATAN PADA KOPERASI BMT
MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH
SIDOGIRI PASURUAN

SKRIPSI

Diajukan Kepada :
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)

Oleh

LATIFATUR RAHMANIYA
NIM : 05610016

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2009
LEMBAR PERSETUJUAN

MANAJEMEN PENGELOLAAN DANA SEBAGAI UPAYA


PENINGKATAN KESEHATAN PADA KOPERASI BMT
MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH
SIDOGIRI PASURUAN

SKRIPSI

Oleh

LATIFATUR RAHMANIYA
NIM : 05610016

Telah Disetujui 25 Juni 2009


Dosen Pembimbing,

Ahmad Fahrudin A, SE., MM


NIP 150294653

Mengetahui :
Dekan,

Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA


NIP 150231828
LEMBAR PENGESAHAN

MANAJEMEN PENGELOLAAN DANA SEBAGAI UPAYA


PENINGKATAN KESEHATAN PADA KOPERASI BMT
MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH
SIDOGIRI PASURUAN

SKRIPSI

Oleh

LATIFATUR RAHMANIYA
NIM : 05610016

Telah dipertahankan di Depan Dewan Penguji


dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)
Pada tanggal 23 Juli 2009

Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan


1. Ketua
Indah Yuliana, SE., MM : ( )
NIP 150327250

2. Sekretaris/Pembimbing
Ahmad Fahrudin A, SE., MM : ( )
NIP 150294653

3. Penguji Utama
Prof. Dr. H. Muhammad Djakfar, SH., M.Ag : ( )
NIP 150203742

Disahkan Oleh :
Dekan,

Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA


NIP 150231828
SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini saya :


Nama : Latifatur Rahmaniya
NIM : 05610016
Alamat : Prangat selatan RT. 13 kec. Marangkayu kab. Kutai Kartanegara
Kalimantan Timur.
menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan
kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan judul:
MANAJEMEN PENGELOLAAN DANA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN
KESEHATAN PADA KOPERASI BMT MASLAHAH MURSALAH LIL
UMMAH SIDOGIRI PASURUAN
adalah hasil karya saya sendiri, bukan “duplikasi” dari karya orang lain.

Selanjutnya apabila di kemudian hari ada “klaim” dari pihak lain, bukan
menjadi tanggungjawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi,
tetapi menjadi tanggungjawab saya sendiri.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan
dari siapapun.

Malang, 08 Juli 2009


Hormat saya,

LATIFATUR RAHMANIYA
NIM : 05610016
PERSEMBAHAN

I Gift This Thesis to:

Ayahanda Tercinta

Ibunda Tersayang

Kakak & Adik-adikku Terkasih

Dan pastinya,

Pembaca yang Budiman


MOTTO

4’yϑ≈tGuŠø9$#uρ 4’n1öà)ø9$# “Ï%Î!uρ ÉΑθß™§=Ï9uρ ¬Tsù 3“tà)ø9$# È≅÷δr& ôÏΒ Ï&Î!θß™u‘ 4’n?tã ª!$# u!$sùr& !$¨Β

ãΑθß™§9$# ãΝä39s?#u !$tΒuρ 4 öΝä3ΖÏΒ Ï!$uŠÏΨøîF{$# t÷t/ P's!ρߊ tβθä3tƒ Ÿω ö’s1 È≅‹Î6¡¡9$# Èø⌠$#uρ ÈÅ3≈|¡yϑø9$#uρ

∩∠∪ É>$s)Ïèø9$# ߉ƒÏ‰x© ©!$# ¨βÎ) ( ©!$# (#θà)¨?$#uρ 4 (#θßγtFΡ$$sù çµ÷Ψtã öΝä39pκtΞ $tΒuρ çνρä‹ã‚sù

“Harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda)
yang berasal dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan,
supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa
yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras
hukuman-Nya” (Al Hasyr: 7)
KATA PENGANTAR

Assalamu ’alaikum Wr. Wb.


Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi program strata satu pada Jurusan
Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang. Selain itu, juga supaya dapat mengasah pengetahuan yang telah didapat
penulis. Sebagai judul dalam skripsi ini adalah: “MANAJEMEN
PENGELOLAAN DANA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN
PADA KOPERASI BMT MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH SIDOGIRI
PASURUAN“.
Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis telah banyak
mendapatakan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak berupa keterangan-
keterangan, saran, serta nasehat dan motivasi baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan hidayah serta anugerah-
Nya sehingga skripsi ini bisa terselesaikan dengan baik.
2. Yang terhormat Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo, selaku Rektor
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
3. Yang terhormat Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA, selaku Dekan
Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang.
4. Yang terhormat Bapak Ahmad Fahrudin A, SE., MM, selaku Dosen
Pembimbing skripsi yang telah berkenan meluangkan waktu untuk
memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis sehingga skripsi
ini dapat terselesaikan dengan baik.
5. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh karyawan Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
6. Ayah dan Bunda tercinta tersayang yang tak henti-hentinya melantunkan
do’anya untukku.
7. Brothers and Sisters, Mbak Titik, Mbak Sutriani, Mas Yanto, Mas Ivast, Ipit
dan Iin. Saudara-saudaraku, Rofeq, Kholis, Rifqi, Mas Fadly, Mbak Icha,
dan tak terlupakan Ulya. Canda tawa kalian yang selalu kurindukan.
8. Sobatku, Fahime dan Ella.
9. Teman-teman SESCOM (Sharia Economic Students Community), Mbak Yani,
Mida, Hana, Ela, Erwin, Nasichin, Abraham, Mas Samsul, dan semuanya
yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya.
10. Teman-teman LSM Griya Baca, Adek Lia, Nurul, Nia, Habibah, Amrullah,
Mas Hamdani, Bpk & Ibu Tri, Faizun, dan adek-adek binaan.
11. Kawan-kawan HMI, Mas Soni, Mas Anas, Ruslan, Rosyid, Memey,
Masruroh, Asyrofi, Samsuri, Hakim, Eko, Iin, Lutvi dan semuanya yang
gak mungkin kulupakan. “Yakin itu punya keteguhan hati, pantang
menyerah, percaya diri, cobaan hanyalah ujian, punya keinginan maju
dan berubah. Usaha itu tak kenal lelah, istiqomah, berbuat dan bertindak”.
YAKIN + USAHA = SAMPAI
12. Teman-teman Fakultas Ekonomi angkatan 2005, khususnya kelas A
semuanya tanpa terkecuali. Thanks for all support guys and wonderfull
experience, forever friend. Love you full…
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Malang, 08 Juli 2009

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN ...........................................................................................iii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................................ iv
HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................................... vi
MOTTO...........................................................................................................................vii
KATA PENGANTAR................................................................................................. viii
DAFTAR ISI......................................................................................................................x
DAFTAR TABEL...........................................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................ xiv
ABSTRAK....................................................................................................................... xv

BAB I : PENDAHULUAN .........................................................................................1


A. Latar Belakang .........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................7
C. Tujuan Penelitian ....................................................................................7
D. Manfaat Penelitian..................................................................................8
BAB II : KAJIAN PUSTAKA .....................................................................................9
A. Penelitian Terdahulu ..............................................................................9
B. Kajian Teoritis........................................................................................12
1. Sekilas tentang Koperasi ....................................................................12
2. Baitul Maal Wa Tamwil .....................................................................15
3. Manajemen...........................................................................................24
4. Pengertian Dana ..................................................................................25
5. Manajemen Dana ................................................................................27
6. Sumber Dana .......................................................................................30
7. Penggunaan Dana BMT .....................................................................35
8.Arti Pentingnya Analisa Sumber dan Penggunaan Dana..............44
9. Tingkat Kesehatan BMT.....................................................................44
C. Manajemen dalam Perspektif Islam..................................................53
D. Kerangka Berpikir.................................................................................56
BAB III : METODE PENELITIAN............................................................................57
A. Lokasi Penelitian ...................................................................................57
B. Jenis dan Pendekatan Penelitian ........................................................57
C. Data dan Sumber Data .........................................................................58
D. Teknik Pengumpulan Data .................................................................58
E. Instrumen Pengumpulan Data ............................................................62
F. Model Analisis Data ..............................................................................63
BABIV: PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN.........65
A. Paparan Data Hasil Penelitian ............................................................65
1. Sejarah Berdirinya BMT-MMU .........................................................65
2. Visi dan Misi BMT-MMU ..................................................................68
3. Legalitas BMT ......................................................................................69
4. Maksud dan Tujuan............................................................................69
5. Usaha ....................................................................................................70
6. Struktur Organisasi.............................................................................70
7. Kantor Cabang.....................................................................................84
8. Permodalan ..........................................................................................86
9. Sistem Operasional .............................................................................88
10. Mitra Kerja .........................................................................................89
11. Produk Operasional BMT-MMU ....................................................92
B. Pembahasan Data Hasil Penelitian ....................................................94
1. Penghimpunan Dana..........................................................................94
2. Pengalokasian Dana ...........................................................................99
3. Komposisi Sumber dan Penggunaan Dana BMT-MMU.............108
4. Tingkat Kesehatan BMT-MMU.......................................................111
a. Aspek Jasadiyah ...........................................................................111
b. Aspek Ruhiyah .............................................................................136
BAB V : PENUTUP ..................................................................................................141
A. Kesimpulan ..........................................................................................141
B. Saran.......................................................................................................145
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................147
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 : Penghimpunan dan Pengalokasian Dana BMT-MMU.............................4

Tabel 2.1 : Matriks Penelitian Terdahulu.......................................................................9

Tabel 3.1 : Jenis dan Instrumen Pengumpulan Data..................................................62

Tabel 4.1 : Jumlah Anggota BMT-MMU Tahun 2006-2008 .......................................74

Tabel 4.2 : Sumber Dana Dari Berbagai Pihak ............................................................97

Tabel 4.3 : Produk Pembiayaan di BMT-MMU Tahun 2006-2008............................99

Tabel 4.4 : Komposisi Sumber & Penggunaan Dana BMT-MMU..........................105

Tabel 4.5 : Prosentase CAR ..........................................................................................113

Tabel 4.6 : Perhitungan Rasio Aktiva .........................................................................116

Tabel 4.7 : Rasio Perbandingan Earning 1 .................................................................127

Tabel 4.8 : Rasio Perbandingan Earning 2 .................................................................128

Tabel 4.9 : Rasio Perbandingan BOPO .......................................................................129

Tabel 4.10 : Analisis Cash Ratio ..................................................................................132

Tabel 4.11 : Perhitungan LDR......................................................................................135

Tabel 4.12 : Penghimpunan dan Pengalokasian Dana Sesuai Akad .....................139


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Sumber & Penggunaan Dana (Pool of Funds Approach) ......................42

Gambar 2.2 : Sumber & Penggunaan Dana (Assets Allocation Approach) ................43

Gambar 4.1 : Struktur Organisasi BMT-MMU............................................................78

Gambar 4.2 : Struktur Organisasi Cabang SPS BMT-MMU .....................................79

Gambar 4.3 : Pengelolaan Dana ..................................................................................101


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Bukti Konsultasi.....................................................................................150

Lampiran 2 : Surat Keterangan Penelitian ................................................................151

Lampiran 3 : Hasil Penelitian dengan Metode Wawancara ...................................152

Lampiran 4 : Laporan Keuangan BMT-MMU Tahun Buku 2006-2008 .................153

Lampiran 5 : Sertifikat Penilaian Kesehatan BMT-MMU .......................................154

Lampiran 6 : Dokumentasi Wawancara ....................................................................155


ABSTRAK

Latifatur Rahmaniya, 2009 SKRIPSI. Judul: “Manajemen Pengelolaan Dana


Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Pada Koperasi BMT Maslahah
Mursalah Lil Ummah Sidogiri Pasuruan”
Pembimbing : Ahmad Fahrudin A, SE., MM

Kata Kunci : Manajemen Dana, Kesehatan BMT, Aspek Jasadiyah, Aspek


Ruhiyah.

BMT merupakan salah satu model lembaga keuangan syariah yang paling
sederhana layaknya Koperasi. Banyak fakta yang terdapat di lapangan bahwa
BMT memiliki citra buruk karena manajemennya yang amburadul, pengelolanya
yang tidak amanah dan tidak profesional, kesulitan modal, dan sebagainya.
Idealnya suatu BMT tetap harus memenuhi kriteria-kriteria layaknya sebuah
bank syariah besar dengan beribu-ribu nasabahnya. Salah satu alasan yang
sederhana adalah sebuah lembaga yang mengelola uang masyarakat, tentunya
harus kredibel, dapat dipercaya oleh masyarakat. Maka dari itu dibutuhkan
adanya manajemen dana yang bertujuan untuk mengelola dana yang dihimpun
dan yang disalurkan. Sehingga dengan kualitas manajemen dana yang bagus dan
pengelola yang amanah, maka akan dihasilkan pula tingkat kesehatan yang baik
pada BMT-MMU Sidogiri Pasuruan, baik dari segi aspek jasadiyah maupun
aspek ruhiyah.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif.


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data primer dan data
sekunder. Sedangkan dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik
observasi, dokumentasi, dan wawancara. Model analisis data yang digunakan
ialah analisis deskriptif, yaitu pengumpulan data, pemilihan data, penyajian data,
kemudian menarik kesimpulan serta memberikan solusi dan alternatif
pemecahan masalah yang dihadapi terkait dengan manajemen dana untuk
menunjang tingkat kesehatan BMT-MMU.

Berdasarkan hasil penelitian, manajemen pengelolaan dana pada BMT-


MMU menggunakan pendekatan Pool of Funds Approach. BMT-MMU tidak
mengalami masalah dalam penghimpunan dana, namun kendalanya ada pada
pengalokasian dana, di mana pada tahun 2008 BMT-MMU pernah mengalami
idle money. Ditinjau dari aspek jasadiyah, dengan menganalisis faktor CAMEL,
BMT-MMU termasuk kategori “Sehat”. Prosentase CAR selalu berada di atas
nilai minimal, peningkatan aktiva produktif juga diikuti dengan kenaikan profit
yang diperoleh, dari sekian pernyataan tentang manajemen BMT, ada 55
pernyataan bernilai positif, BMT-MMU juga masih mampu menanggung beban
operasionalnya dari pendapatan operasional, serta memiliki rasio lancar yang
cukup bagus karena telah memenuhi standar rasio lancar yang ditetapkan oleh
BI yaitu minimal 3%. Sedangkan ditinjau dari aspek ruhiyah, BMT-MMU juga
dapat dikatakan “Sehat”.
ABSTRACT

Rahmaniya, Latifatur, 2009. THESIS. Title: “The Processing Management of Fund


as the Effort of Health Improvement at BMT Cooperation Maslahah
Mursalah Lil Ummah Sidogiri Pasuruan”
Advisor : Ahmad Fahrudin A, SE., MM

Keywords : Fund Management, BMT Health, Physical Aspect, Spiritual


Aspect

BMT is one of the simplest Islamic financial institution models like


cooperation. Many facts found in the field show that BMT has bad reputation
because of its disorganized management, its distrusted and unprofessional
management, its difficulty in capital, etc. Ideally, BMT still has to fulfill criteria as
big Islamic banks with thousands of customers. One of simple reasons is an
institution managing people’s money should be credible, trusted by people. That
is why, it needs a fund management having the purpose to manage fund
collected then distributed. By having good and trusted fund management quality,
BMT-MMU Sidogiri Pasuruan will have good health level, either from physical
or spiritual aspect.

This research is a qualitative research with descriptive analysis. The data


used in this research consist of primer and secondary data. Meanwhile, in
collecting the data, the researcher uses observation, documentation, and
interview techniques. The data analysis model used is descriptive analysis, that is
data collecting, data choosing, data presenting, concluding and giving solution
and alternative for solving problems faced rerated to fund management to
improve the health level of BMT-MMU.

Based on the research result, the fund processing management in BMT-


MMU uses Pool of Funds Approach. BMT-MMU does not face problem in
collecting fund, but its obstacle is in data allocation, where in 2008 BMT-MMU
ever got idle money. From its physical aspect, by analyzing CAMEL factor, BMT-
MMU is included in “Healthy” category. The CAR percentage is always above
the minimal score, the increase of productive asset is also followed by the
increase of profit. From many statements about BMT-MMU, there are 55
statements having positive value, BMT-MMU is also able to carry out its
operational expenses from its operational income, and its fluent ratio standard is
also good enough because it has already fulfilled the fluent ratio standard
regulated by BI that is minimally 3 %. Whereas, from spiritual aspect, BMT-MMU
is also able to be said “Healthy”.
‫ﺍﳌﺴﺘﺨﻠﺺ‬

‫ﺭﲪﻨﻴﺔ ﻟﻄﻴﻔﺔ ‪ .2009 ،‬ﺍﻟﺒﺤﺚ ﺍﳉﺎﻣﻌﻲ‪ .‬ﺍﳌﻮﺿﻮﻉ‪" :‬ﺇﺩﺍﺭﺓ ﺗﺸﻐﻴﻞ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﶈﺎﻭﻟﺔ ﺗﻨﻤﻴﺔ ﺻﺤﺔ ﺍﳉﻤﻌﻴﺔ‬
‫ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻧﻴﺔ ﺑﻴﺖ ﺍﳌﺎﻝ ﻭﺍﻟﺘﻤﻮﻳﻞ )‪ (BMT Maslahah Mursalah Lil Ummah‬ﺳﻴﺪﻭﻗﲑﻱ‬
‫ﻓﺎﺳﻮﺭﻭﺍﻥ"‪.‬‬

‫‪ :‬ﺃﲪﺪ ﻓﺤﺮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﳌﺎﺟﺴﺘﲑ‬ ‫ﺍﳌﺸﺮﻑ‬

‫ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﺮﺀﺳﻴﺔ‪ :‬ﺍﺩﺍﺭﺓﺍﻷﻣﻮﺍﻝ‪ ،‬ﺻﺤﺔ ‪ ،BMT‬ﺍﳉﺎﻧﺐ ﺍﳌﺎﺩﻯ‪ ،‬ﺍﳉﺎﻧﺐ ﺍﻟﺮﻭﺣﻲ‪.‬‬


‫‪BMT‬‬ ‫‪ BMT‬ﻫﻮ ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻷﺳﻠﻮﺏ ﺍﳌﺆﺳﺴﺔ ﺍﳌﺎﻟﻴﺔ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻧﺴﻴﻄﺔ ﻛﺎﻟﺸﺮﻛﺔ‪ .‬ﻭﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﳌﺸﻜﻠﺔ ﰲ‬
‫ﺃﻧﻪ ﳝﻠﻚ ﺻﻮﺭﺓ ﻗﺒﻴﺤﺔ ﻷﻥ ﺍﻻﺩﺍﺭﻱ ﰲ ‪ BMT‬ﻫﻮ ﻏﲑ ﺟﻴﺪ‪ ،‬ﻭﻣﺪﻳﺮﻩ ﻏﲑ ﺃﻣﺎﻧﺔ ﻭﻏﲑ ﻣﻬﲏ‪ ،‬ﻭﺍﳌﺎﻝ ﺻﻌﺐ‪،‬‬
‫ﻭﻏﲑ ﺫﻟﻚ‪ .‬ﻭﻻﺑﺪ ﻋﻠﻰ ‪ BMT‬ﺃﻥ ﳝﻸ ﺍﳌﻌﺎﻳﲑ ﻛﺎﳌﺼﺎﺭﻑ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﻜﺒﲑﺓ ﺑﺄﻟﻒ ﻧﺴﺎﺑﺔ‪ .‬ﻭﺇﺣﺪﻯ ﺍﳊﺠﺔ‬
‫ﺍﻟﻨﺴﻴﻄﺔ ﻫﻲ ﻳﺪﻭﺭ ﺍﳌﺆﺳﺴﺔ ﻣﺎﻝ ﺍ‪‬ﺘﻤﻊ ﻻﺑﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﻮﺛﻮﻕ‪ ،‬ﻭﺍﻷﻣﺎﻧﺔ‪ .‬ﻓﻠﺬﻟﻚ ﳛﺘﺎﺝ ﺍﳌﺆﺳﺴﺔ ﺍﻻﺩﺍﺭﻱ ﺍﳌﺎﻝ‬
‫ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻬﺪﻑ ﻟﻴﺪﻭﺭ ﺍﳌﺎﻝ ﺍﻟﺬﻱ ﳚﺘﻤﻊ ﻭﳚﺮﻩ‪ .‬ﺣﱴ ﺑﺎﻟﻜﻴﻔﻴﺔ ﺍﻻﺩﺍﺭﻱ ﺍﳌﺎﻝ ﺍﳉﻴﺪ ﻭﺍﳌﺪﻳﺮ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ‪ ،‬ﻓﻴﺤﺘﺼﻞ‬
‫ﺍﳌﺮﺣﻠﺔ ﺍﻟﺼﺤﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻠﻰ ‪ BMT-MMU‬ﺳﻴﺪﺍﻛﲑﻱ ﻓﺎﺳﻮﺭﻭﺍﻥ ﻣﻦ ﺍﳉﺎﻧﺐ ﺍﳉﺴﺪﻱ ﻭﺍﳉﺎﻧﺐ ﺍﻟﺮﻭﺣﻲ‪.‬‬

‫ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺤﺚ ﻫﻮ ﲝﺚ ﻛﻴﻔﻲ ﺑﺘﺤﻠﻴﻞ ﺍﻟﻮﺻﻔﻲ‪ .‬ﻭﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ ﺍﻟﱵ ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﺖ ﺍﻟﺒﺎﺣﺜﺔ ﰲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺤﺚ ﻫﻲ‬
‫ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ ﺍﻟﺮﺋﻴﺴﻴﺔ ﻭﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ ﺍﻟﻔﺮﻋﻴﺔ‪ .‬ﺃﻣﺎ ﳎﺘﻤﻊ ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ‪ ،‬ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﺖ ﺍﻟﺒﺎﺣﺜﺔ ﺍﳌﻼﺣﻈﺔ‪ ،‬ﻭﺍﻟﻮﺛﻴﻖ‪ ،‬ﻭﺍﳌﻘﺎﺑﻠﺔ‪.‬‬
‫ﻭﺃﺳﻠﻮﺏ ﺍﻟﺘﺤﻠﻴﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺳﺘﻌﻤﻠﺖ ﺍﻟﺒﺎﺣﺜﺔ ﻭﻫﻮ ﲢﻠﻴﻞ ﺍﻟﻮﺻﻔﻲ ﻭﻫﻮ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ‪ ،‬ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ‪ ،‬ﻭﻗﺪﻡ‬
‫ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ ﰒ ﺍﳋﻼﺻﺔ ﻭﺃﻋﻄﺖ ﺍﻹﺧﺘﺮﺍﺝ ﻭﺣﻞ ﺍﳌﺸﻜﻠﺔ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻮﺍﺟﻪ ﺍﳌﺆﺳﺴﺔ ﻭﺍﳌﺘﻌﻠﻘﺔ ﺑﺎﻻﺩﺍﺭﻱ ﺍﳌﺎﻝ‬
‫ﻭﺍﳌﺮﺣﻠﺔ ﺍﻟﺼﺤﺔ ‪.BMT-MMU‬‬

‫ﻓﺎﺳﻮﺭﻭﺍﻥ‬ ‫‪BMT-MMU‬‬ ‫ﻭﺗﺄﺳﻴﺴﺎ ﻋﻠﻰ ﻧﺘﻴﺠﺔ ﺍﻟﺒﺤﺚ‪ ،‬ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﺍﻻﺩﺍﺭﻱ ﺍﺩﺍﺭﺓ ﺍﳌﺎﻟﻴﺔ ﻋﻠﻰ‬
‫ﺍﳌﺸﻜﻠﺔ ﰲ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﳌﺎﻝ‪ ،‬ﻭﻟﻜﻦ ﻟﻪ‬ ‫‪BMT-MMU‬‬ ‫ﻭﻻ ﻳﻮﺻﺐ‬ ‫‪.pool of funds approach‬‬ ‫ﺍﳌﺪﺧﻞ‬
‫ﺍﳌﻌﻮﻗﺔ ﰲ ﺍﳌﺨﺼﺺ ﺍﳌﺎﻝ ﰲ ﺳﻨﺔ ‪ 2008‬ﻭﻫﻲ ‪ .idle money‬ﻭﻣﻦ ﺍﳉﺎﻧﺐ ﺍﳉﺴﺪﻱ‪ ،‬ﺣﻠﻠﺖ ﺍﻟﺒﺎﺣﺜﺔ‬
‫ﺏ‪ ،CAMEL‬ﺃﻗﻠﺔ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ‪ ،‬ﺗﻨﻤﻴﺔ ﺍﳌﺎﻝ ﺍﻹﻧﺘﺎﺝ ﺍﺗﺒﺎﻋﻪ ﺗﻨﻤﻴﺔ ﺍﻟﺮﲝﻴﺔ‪ ،‬ﻭﻣﻦ ﰒ ﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻹﳚﺎﰊ ﻫﻮ ﻳﻘﺪﺭ‬
‫ﺃﻥ ﻳﻜﻠﻒ ﻋﻤﻠﻴﺘﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺘﻴﺠﺔ ﺍﻟﻌﻤﻠﻴﺔ‪ ،‬ﻭﳝﻠﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﻧﺴﺒﺔ ﻣﻌﺪﻟﺔ ﻣﺘﻮﺳﻄﺔ ﻷﻥ ﻟﻴﻤﻸ ﻣﻌﻴﺎﺭ‬ ‫‪BMT-MMU‬‬
‫ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﺍﳌﻌﺪﻟﺔ ﻳﻘﺮﺭﻫﺎ ﺍﳌﺼﺮﻑ ﺍﻹﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺔ ﺑﺄﻗﻠﺔ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ ‪ .%3‬ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺍﳉﺎﻧﺐ ﺍﻟﺮﻭﺣﻲ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ‬
‫"ﺍﻟﺼﺤﺔ"‪.‬‬
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perekonomian suatu negara sangat ditopang oleh peranan bisnis yang

dilakukan oleh para penduduknya. Begitu juga dengan bisnis lembaga keuangan

yang berperan mengelola keuangan masyarakat. Dalam ilmu ekonomi kita kenal

hukum “bila uang banyak beredar di masyarakat akan mengakibatkan inflasi”.

Sehingga di sinilah peran lembaga keuangan yang dapat menyeimbangkan

jumlah uang yang beredar dengan uang yang disimpan. Bagi sebuah lembaga

yang merupakan bisnis keuangan, produk yang diperjualbelikan adalah jasa

keuangan. Sebelum dilakukan penjualan jasa keuangan, lembaga keuangan

haruslah terlebih dulu membeli jasa keuangan yang tersedia di masyarakat dan

membeli jasa keuangan dapat diperoleh dari berbagai sumber dana yang ada,

terutama sumber dana dari masyarakat luas (Kasmir, 2001: 45).

Lembaga keuangan berfungsi sebagai perantara keuangan (financial

intermediary), maka dalam hal ini faktor “kepercayaan” dari masyarakat

merupakan faktor utama dalam menjalankan bisnis perbankan. Secara

fungsional, lembaga keuangan non bank memiliki persamaan dengan perbankan,

namun juga memiliki perbedaan dalam manajemen operasionalnya. Adapun

yang termasuk lembaga keuangan non bank di antaranya seperti asuransi,

reksadana, pasar modal, dan Baitul Maal wa Tamwil. Ketiga lembaga tersebut
memiliki fungsi yang sama yaitu membantu atau melayani masyarakat dalam

hal keuangan.

Tidak hanya perbankan yang dapat berfungsi sebagai Financial

Intermediary, namun ada pula lembaga keuangan non bank, sebut saja salah

satunya adalah koperasi. Koperasi merupakan salah satu dari tiga kelompok

pelaku ekonomi Indonesia yaitu BUMN/BUMD, swasta, dan koperasi. Eksistensi

koperasi telah diakui secara nasional sehingga termuat dalam Undang-undang

Dasar 1945 dan terwujud dalam Undang-undang RI No. 25 Tahun 1992 tentang

perkoperasian.

Keberadaan koperasi telah direspon positif oleh masyarakat. Namun

sampai saat ini peran utama koperasi dalam percaturan ekonomi Indonesia

belum nampak baik, bahkan terkesan ketinggalan dibanding dengan pelaku-

pelaku ekonomi yang lain. Mungkin karena beberapa hal, antara lain

pengelolaannya yang kurang serius dan tidak profesional, kurang memiliki

karakter shiddiq dan amanah atau mungkin juga karena modal yang kurang

memadai. Koperasi yang menerapkan pola simpan pinjam dengan prinsip

syariah biasa disebut Baitul Mal wa Tamwil (BMT).

Ridwan (2004) dalam Habibah (2008: 3) menjelaskan bahwa di antara

lembaga keuangan yang terkait langsung dengan upaya pengentasan kemiskinan

adalah Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dengan sistem syariahnya. Apalagi

masyarakat pedesaan yang belum terjangkau oleh lembaga keuangan perbankan.


Sehingga dengan ini, keberadaan BMT dapat memberikan pelayanan kepada

masyarakat kecil yang kelebihan dana maupun yang kekurangan dana.

BMT merupakan salah satu model lembaga keuangan syariah yang paling

sederhana yang saat ini banyak muncul dan tenggelam di Indonesia. Sayangnya,

gairah munculnya begitu banyak BMT di Indonesia tidak didukung oleh faktor-

faktor pendukung yang memungkinkan BMT untuk terus berkembang dan

berjalan dengan baik. Fakta yang ada di lapangan menunjukkan banyaknya BMT

yang tenggelam dan bubar yang disebabkan oleh berbagai macam hal antara lain:

manajemennya yang amburadul, pengelola yang tidak amanah dan profesional,

tidak dipercaya masyarakat, kesulitan modal, dan lain sebagainya. Akibatnya,

citra yang timbul di masyarakat sangat jelek. BMT identik dengan jelek, tidak

dapat dipercaya, dan sebagainya.

Suatu BMT tetap harus memenuhi kriteria-kriteria layaknya sebuah bank

syariah besar dengan beribu-ribu nasabahnya. Salah satu alasan yang sederhana

adalah sebuah lembaga yang mengelola uang masyarakat, tentunya harus

kredibel, dapat dipercaya oleh masyarakat. Siapapun pasti ingin dirinya

diyakinkan bahwa uang yang dia simpan di suatu BMT aman dari resiko apapun

dan setiap saat dapat mengambil uangnya kembali.

Usaha untuk mempertahankan kualitas kinerja dan kelangsungan usaha

berdasarkan prinsip syariah tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas dari

penanaman dana (manajemen dana). Manajemen dana sebagai suatu usaha


pengelolaan dana bertujuan untuk mengelola posisi dana yang dihimpun dan

pengalokasiannya pada aktivitas financing yang tepat dan optimal sehingga

menghasilkan tingkat kinerja yang bagus di mata para stakeholders. Berikut ini

adalah tabel data mengenai penghimpunan dan pengalokasian dana oleh “BMT

Maslahah Mursalah Lil Ummah”, yaitu:

Tabel 1.1
Penghimpunan dan Pengalokasian Dana BMT-MMU
Periode 2006-2008
MANAJEMEN DANA Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008

Penghimpunan DPK Rp16.092.514.225,11 Rp20.538.776.289,62 Rp30.664.359.953,36

Pengalokasian Dana Rp12.710.176.480,- Rp14.511.821.388,- Rp21.646.845.476,-

Data di atas menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap BMT

semakin baik dan minat mereka untuk menabungkan dananya pada BMT-MMU

terus meningkat. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kinerja lembaga BMT itu

sendiri.

Terbukti pula dengan semakin bertambahnya kantor cabang BMT-MMU

di setiap kecamatan di Pasuruan. Di mana pada tahun 2006 BMT-MMU memiliki

kantor cabang sebanyak 14 unit, tahun 2007 mejadi 17 unit, dan tahun 2008

bertambah lagi 3 unit menjadi 20 unit kantor cabang.

Tidak semua lembaga keuangan mampu mengelola dananya dengan

efektif dan efisien sehingga akan berdampak pada kinerja keuangan lembaga itu

sendiri. Manajemen dana yang diterapkan belum tentu bisa mencapai sasaran

pengelolaan aktiva. Oleh karena itu dibutuhkan manajemen dana yang efektif
dan sumber daya yang profesional. Dari segi penerimaan dana bank syariah

menawarkan produk funding didukung dengan fasilitas bagi hasil. Sedangkan

pengelolaan penyaluran dana harus memperhatikan jenis aktivitas dan jangka

waktunya, karena kegiatan penyaluran dana tersebut merupakan pemberian

pinjaman atau penyertaan dana tersebut dari bank kepada nasabah yang berarti

pembayaran akan dilakukan di waktu yang akan datang (saat jatuh tempo).

Sedangkan dana yang disalurkan sebagian besar berasal dari dana pihak ketiga.

Begitu pula dengan lembaga keuangan lainnya seperti BMT, yang juga

berfungsi sebagai perantara keuangan. Hanya saja cakupan dan peranan bisnis

BMT tidak sebesar perbankan, karena BMT tak lain hanyalah sejenis koperasi

yang berasaskan kekeluargaan.

Masyarakat sebagai pihak yang paling berperan, pada umumnya memiliki

sikap tanggap terhadap berbagai bentuk pelayanan yang diberikan oleh masing-

masing instansi untuk menarik simpati mereka. Simpati dan kepercayaan

masyarakat terhadap suatu BMT tidak terlepas dari penilaian tingkat kesehatan

BMT tersebut.

Untuk menilai kesehatan BMT, faktor penilaian kesehatan yang

digunakan juga sama dengan faktor penilaian kesehatan perbankan. Hanya saja

penilaian kesehatan BMT dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek Jasadiyah

dan aspek Ruhiyah. Sistem penilaian kesehatan bank di Indonesia dan di dunia

internasional meliputi Capital, Asset, Management, Earning ability, dan Liquidity

atau yang lazim disebut CAMEL. Aspek-aspek tersebut satu dengan yang
lainnya saling terkait, secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan. Penilaian

terhadap faktor CAMEL tersebut merupakan penilaian dari aspek Jasadiyah,

sedangkan aspek Ruhiyah dapat dinilai dari ruh dan prinsip kerja BMT. Dengan

diketahuinya tingkat kesehatan, maka diketahui pula kinerja BMT itu sendiri.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen dana

sangatlah penting dalam operasional lembaga keuangan khususnya BMT selaku

lembaga yang memperjualbelikan jasa keuangan (dana). Maka penulis di sini

mencoba merangkai berbagai tulisan terkait mengenai teori manajemen dana

dengan penilaian tingkat kesehatan BMT yang ditinjau dari aspek Jasadiyah

(analisis CAMEL) dan aspek Ruhiyah, hingga kemudian muncul judul

“Manajemen Pengelolaan Dana Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Pada

Koperasi BMT Maslahah Mursalah Lil Ummah Sidogiri Pasuruan”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka masalah

dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana manajemen pengelolaan dana yang digunakan oleh BMT-

MMU sebagai upaya peningkatan kesehatan?

2. Bagaimana tingkat kesehatan BMT-MMU ditinjau dari aspek Jasadiyah

(analisis CAMEL) dan aspek Ruhiyah?


C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan tentang manajemen pengelolaan dan

pengalokasian dana yang dimiliki sebagai upaya peningkatan kesehatan

BMT-MMU.

2. Untuk mendeskripsikan aplikasi tingkat kesehatan BMT-MMU ditinjau

dari segi Aspek Jasadiyah (analisis CAMEL) dan Aspek Ruhiyah.

D. Manfaat Penelitian

Bagi BMT:

Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini, hasil akhir penilaian Tingkat

Kesehatan BMT bagi pihak manajemen BMT sendiri dapat digunakan sebagai

salah satu alat untuk menetapkan strategi, mengambil keputusan dan

kebijakan yang akan datang.

Bagi Insan Akademik:

Hasil yang ditemukan dari penelitian ini, diharapkan dapat menambah

wawasan dan dijadikan sebagai acuan serta pedoman bagi peneliti di masa

yang akan datang yang juga tertarik untuk membahas tentang manajemen

pengelolaan dana dan penilaian tingkat kesehatan BMT.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Maulidatul Mufiydah (2006)

dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Manajemen Dana Sebagai Salah Satu

Variabel Pengendalian Likuiditas, Rentabilitas dan Solvabilitas Bank” dijelaskan

bahwa dana terbesar dalam sebuah bank adalah berasal dari pihak ketiga.

Sedangkan dalam skripsi Lilik Hamidah yang berjudul “Pentingnya

Likuiditas Dalam Manajemen Dana Pada BMT Maslahah Mursalah Lil Ummah

Pasuruan” dijelaskan pada komposisi sumber dana, porsi terbesar diduduki oleh

tabungan MDA umum, pinjaman pihak ketiga dan tabungan MDA berjangka

yang merupakan dana mahal. Sedangkan sumber dana lainnya seperti tabungan

wadiah merupakan dana murah, tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan.

Tabel 2.1
Matriks Penelitian Terdahulu
NO NAMA (TAHUN) JUDUL METODE HASIL
PENELITIAN

1 Maulidatul Mufiydah Analisis Teknik Selama tahun 2003-2005


(2006) Manajemen Dana pengumpulan data dana pihak ketiga selalu
Sebagai Salah Satu yang digunakan memberikan porsi dana
Variabel ialah dokumentasi. terbesar bagi PT. Bank
Pengendalian Metode analisis Syariah Mandiri. Total
Likuiditas, deskriptif dengan dana akhir tahun 2003 &
Rentabilitas dan pendekatan 2004 mengalami
Solvabilitas Bank kuantitatif. peningkatan karena
sumber dana yang
diperoleh lebih besar
dibandingkan
penggunaannya. Pada
akhir tahun 2005, terjadi
penurunan pada kas dan
setara kas karena adanya
peningkatan beberapa
transaksi yang berefek
memperkecil kas. Namun,
BSM tidak rugi karena di
awal tahun 2005 masih
terdapat kas dan setara
kas yang besar dan
sanggup menutupi
kekurangan tersebut.

2 Hernawa Rachmanto Analisis Tingkat Teknik Dalam periode 5 tahun


(2006) Kesehatan Bank pengumpulan data (2001-2005) kinerja PT
Syariah dengan yang digunakan Bank Syariah Mandiri
Menggunakan adalah dokumentasi semakin membaik & yg
Metode CAMEL dan wawancara. paling baik yaitu tahun
Dengan metode 2003 dimana tingkat
analisis deskriptif kesehatan mencapai 55,90.
aspek CAMEL.

3 Lilik Hamidah (2007) Pentingnya Teknik Terdapat kekurangan


Likuiditas Dalam pengumpulan data dana untuk menutupi
Manajemen Dana yang digunakan penggunaan dana, hal ini
Pada BMT ialah dokumentasi, terlihat dari perhitungan
Maslahah Mursalah studi pustaka, dan Loan to Deposit Ratio di
Lil Ummah wawancara. mana terlihat prosentase
Pasuruan Menggunakan LDR dari tahun 2003-2005
model analisis data di atas 100%. Dari sanalah
kuantitatif dengan diketahui bahwa BMT
analisis Time Series. mengalami kekurangan
dana/defisit untuk
menutupi penggunaan
dana antara lain
pembiayaan.

4 Habibah (2008) Pengelolaan Dana Teknik Pengelolaan Dana di BMT,


Untuk Menjaga pengumpulan data baik pengelolaan dana
Kestabilan yang digunakan untuk lingkup komersil
Likuiditas dan adalah observasi, maupun sosial. BMT
Solvabilitas Dalam dokumentasi, dan MMU Sidogiri
Meningkatkan wawancara. Analisis menggunakan pendekatan
Profitabilitas Pada data yang Pool of FundApproach.
BMT MMU digunakan adalah
Sidogiri Pasuruan analisis kualitatif.

5 Latifatur Rahmaniya Manajemen Teknik Dari penilaian kesehatan


(2009) Pengelolaan Dana pengumpulan data BMT-MMU selama
Sebagai Upaya yang digunakan periode 2006-2008
Peningkatan adalah observasi, termasuk kategori
Kesehatan Pada dokumentasi, dan “Sehat”, baik secara aspek
Koperasi BMT wawancara. Analisis Jasadiyah (analisis
Maslahah Mursalah data yang CAMEL) maupun aspek
Lil Ummah digunakan adalah Ruhiyah.
Sidogiri Pasuruan kualitatif dengan
analisis deskriptif
tingkat kesehatan
BMT.

Dengan melihat tabel di atas, maka nampak akan adanya persamaan dan

perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu. Adapun

persamaannya adalah tema pembahasan tentang Manajemen Dana dan metode

penelitian yang menggunakan penelitian kualitatif deskriptif.

Sedangkan letak perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian

sekarang ini yaitu faktor atau unsur yang berkaitan dengan tema pembahasan.

Dalam penelitian saat ini mendeskripsikan tentang Manajemen Dana yang


berhubungan dengan Tingkat Kesehatan BMT. Begitu pula ada perbedaan pada

tahun atau periode sampel penelitian, di mana penelitian saat ini mengambil

periode sampel penelitian pada tahun 2006-2008.

B. Kajian Teoritis

1. Sekilas tentang Koperasi

Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 Koperasi adalah badan

usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan

melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai

gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan (Reksohadiprodjo,

1998: 1).

Adapun tujuan koperasi adalah memajukan kesejahteraan anggota pada

khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan

perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil

dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Seperti halnya lembaga-lembaga atau badan usaha lain koperasi hidup di

tengah-tengah lingkungan yang mempunyai karakteristik khas Indonesia.

Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh koperasi Indonesia pada hakikatnya

timbul dari suasana lingkungan tersebut yang juga secara langsung

mempengaruhi keadaan intern lembaga koperasi tersebut (Reksohadiprodjo,

1998: 3).
Derajat besar kecilnya persoalan dengan sendirinya tergantung pada

kekuatan koperasi, artinya ketahanan koperasi terhadap lingkungannya

dipengaruhi oleh kekuatan atau kelemahan koperasi tersebut. Dengan demikian

mungkin saja bahwa pengaruh lingkungan itu berbeda-beda dirasakan oleh

masing-masing koperasi.

Walaupun sebagai badan usaha koperasi dimiliki oleh anggotanya,

namun dalam mengerjakan tugas-tugasnya diserahkan kepada orang lain, yaitu

pengelola. Sedangkan pengawasannya dilaksanakan oleh orang lain yaitu

pengawas. Berbagai karakteristik koperasi yang membedakannya dengan

perseroan adalah:

a. Pemilik adalah anggota sekaligus juga pelanggan.

b. Kekuasaan tertinggi berada pada Rapat Anggota.

c. Satu anggota adalah satu suara.

d. Organisasi ini diurus secara demokratis.

e. Tujuan yang ingin dicapai adalah mensejahterakan anggotanya, jadi tidak

hanya mengejar keuntungan saja. Di sini fungsi sosial sangat diperhatikan

oleh koperasi.

f. Keuntungan dibagi berdasarkan besarnya jasa anggota kepada koperasi.

g. Koperasi merupakan sekumpulan orang atau badan hukum yang

berusaha mensejahterakan masyarakat (termasuk para anggotanya).


h. Koperasi merupakan alat perjuangan ekonomi.

i. Koperasi merupakan sistem ekonomi.

j. Unit usaha diadakan dengan orientasi melayani anggota.

k. Tata pelaksanaannya bersifat terbuka bagi seluruh anggota.

Karakteristik urutan g, h, dan i mensyaratkan bahwa manajemen koperasi

harus menggunakan pendekatan situasional atau kondisional. Sebaliknya, untuk

karakteristik a, b, c, d, e, dan f dapat digunakan pendekatan Management by

Objective (MBO). Segala perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, dan

pengawasan, baik yang dilakukan oleh pelaksana maupun pengurus benar-benar

berorientasi ke tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi, metode MBO

merupakan pendekatan yang digunakan untuk menilai prestasi kerja masing-

masing, di mana penilaian dilakukan dengan membandingkan hasil kerja yang

dicapai dengan yang direncanakan (Sukamdiyo, 1996: 20-21).

2. Baitul Maal Wa Tamwil

a. Pengertian Usaha BMT

Kata Baitul mal berasal dari kata bait dan al-mal. Bait artinya bangunan

atau rumah, sedangkan al-mal berarti harta benda atau kekayaan. Jadi baitul

mal secara harfiah berarti rumah harta benda atau kekayaan. Namun

demikian, kata baitul mal biasa diartikan sebagai perbendaharaan (umum atau

negara) (Lubis, 2004: 114).


Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) pada dasarnya merupakan

pengembangan dari konsep ekonomi dalam Islam terutama dalam bidang

keuangan. Menurut Widodo, dkk (1999) dalam Hamidah (2007: 16) istilah

BMT adalah penggabungan dari Baitul Mal dan Baitul Tamwil. Baitul Maal

adalah lembaga keuangan yang kegiatannya mengelola dana yang bersifat

nirlaba (sosial). Sumber dana diperoleh dari zakat, infaq dan sedekah, atau

sumber lain yang halal. Kemudian dana tersebut disalurkan kepada mustahiq

yang berhak atau untuk kebaikan. Adapun Baitul Tamwil adalah lembaga

keuangan yang kegiatannya adalah menghimpun dan menyalurkan dana

masyarakat dan bersifat profit motive. Penghimpunan dana diperoleh melalui

simpanan pihak ketiga dan penyalurannya dilakukan dalam bentuk

pembiayaan atau investasi, yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah.

BMT (Baitul Maal wat Tamwil) atau padanan kata Balai Usaha Mandiri

Terpadu adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip

bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam

rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum

fakir miskin (Azis, 2008: 2). Secara konseptual, BMT memiliki dua fungsi

yaitu:

1) Baitut Tamwil (Bait = rumah; at-Tamwil = pengembangan harta).

Melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi

dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil

terutama dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang

pembiayaan kegiatan ekonominya.


2) Baitul Maal (Bait = rumah; Maal = harta). Menerima titipan dana Zakat,

Infaq, dan Shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan

peraturan dan amanahnya.

Menurut Ridwan (2004) dalam Hamidah (2007: 17) BMT merupakan

organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Peran sosial BMT akan terlihat

pada definisi Baitul Maal, sedangkan peran bisnis BMT terlihat dari definisi

Baitul Tamwil. Sebagai lembaga sosial, Baitul Maal memiliki kesamaan fungsi

dan peran dengan lembaga Amil Zakat. Sebagai lembaga bisnis, BMT lebih

mengembangkan usahanya pada sektor jasa keuangan, yakni simpan pinjam

seperti usaha perbankan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa BMT sebagai Baitul

Maal berfungsi untuk mengumpulkan sekaligus menyalurkan dana sosial,

serta sebagai Baitut Tamwil yang berfungsi sebagai lembaga bisnis yang

bermotif laba. Karena BMT bukan bank, maka ia tidak tunduk pada aturan

perbankan.

Badan hukum yang paling mungkin untuk BMT adalah koperasi,

namun sangat mungkin dibentuk perundangan sendiri, mengingat sistem

operasional BMT tidak sama persis dengan perkoperasian (Ridwan, 2004

dalam Hamidah, 2007: 17).

b. Visi BMT

Visi BMT adalah mewujudkan kualitas masyarakat di sekitar BMT

yang selamat, damai dan sejahtera dengan mengembangkan lembaga dan

usaha BMT dan POKUSMA (Kelompok Usaha Muamalah) yang maju


berkembang, terpercaya, aman, nyaman, transparan, dan berkehati-hatian

(Azis, 2008: 3).

c. Misi BMT

Misi BMT adalah membangun dan mengembangkan tatanan

perekonomian dan struktur masyarakat madani yang adil dan makmur, maju

berlandaskan syariah dan ridho Allah SWT. Sehingga misi BMT bukan

semata-mata mencari keuntungan dan penumpukan laba, tetapi lebih

berorientasi pada pendistribusian laba yang merata dan adil sesuai dengan

prinsip-prinsip ekonomi Islam.

d. Tujuan BMT

Didirikannya BMT bertujuan untuk meningkatkan kualitas usaha

ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada

umumnya agar dapat mandiri dan tidak tergantung pada BMT dengan

memberikan modal pinjaman. Namun demikian BMT harus menciptakan

suasana keterbukaan, sehingga dapat mendeteksi berbagai kemungkinan

yang timbul dari pembiayaan.

e. Asas dan Landasan Usaha BMT

BMT berasaskan Pancasila dan UUD 1945 serta berlandaskan prinsip

syariah Islam, keimanan, keterpaduan (Kaffah), kekeluargaan atau koperasi,

kebersamaan, kemandirian, dan profesionalisme.

f. Kendala Pengembangan BMT

Dalam perkembangannya BMT tentunya tidak lepas dari berbagai

kendala, walaupun tidak terlalu berlaku sepenuhnya kendala ini di suatu


BMT. Kendala-kendala tersebut menurut Sudarsono (2004) dalam Habibah

(2008: 21), adalah sebagai berikut:

1) Akumulasi kebutuhan dana masyarakat belum bisa dipenuhi oleh BMT,

hal ini yang menjadikan nilai pembiayaan dan jangka waktu pembayaran

kewajiban dari nasabah cukup cepat. Dan belum tentu pembiayaan yang

diberikan BMT cukup memadai untuk modal usaha masyarakat.

2) Walaupun keberadaan BMT cukup dikenal tetapi masih banyak

masyarakat berhubungan dengan rentenir. Hal ini disebabkan masyarakat

membutuhkan pemenuhan dana yang memadai dan pelayanan yang

cepat, walaupun ia membayar bunga yang cukup tinggi. Ternyata ada

beberapa daerah yang terdapat BMT masih ada rentenir, artinya BMT

belum mampu memberikan pelayanan yang memadai dalam jumlah dana

dan waktu.

3) Beberapa BMT cenderung menghadapi masalah yang sama, misalnya

nasabah yang bermasalah. Kadang ada satu nasabah yang tidak hanya

bermasalah di satu tempat tetapi di tempat lain juga bermasalah. Oleh

karena itu perlu upaya dari masing-masing BMT untuk melakukan

koordinasi dalam rangka mempersempit gerak nasabah yang bermasalah.

4) BMT cenderung menghadapi BMT lain sebagai lawan yang harus

dikalahkan, bukan sebagai partner dalam upaya untuk mengeluarkan

masyarakat dari permasalahan ekonomi yang ia hadapi. Keadaan ini


kadang menciptakan iklim persaingan yang tidak islami, bahkan hal ini

mempengaruhi pola pengelolaan BMT tersebut lebih pragmatis.

5) Dalam kegiatan rutin BMT cenderung mengarahkan pengelola untuk

lebih berorientasi pada persoalan bisnis (Business Oriented). Sehingga

timbul kecenderungan kegiatan BMT bernuansa pragmatis lebih dominan

daripada kegiatan yang bernuansa idealis.

6) Dalam upaya untuk mendapatkan nasabah timbul kecenderungan BMT

mempertimbangkan besarnya bunga di bank konvensional terutama

untuk produk yang berprinsip jual beli (Bai’). Hal ini akan mengarahkan

nasabah untuk berpikir profit oriented daripada memahamkan aspek

syariah, lewat cara membandingkan keuntungan bagi hasil BMT dengan

bunga di bank dan lembaga keuangan konvensional.

7) BMT lebih cenderung menjadi Baitut Tamwil daripada Baitul Maal. Di

mana lebih banyak menghimpun dana yang digunakan untuk bisnis

daripada untuk mengelola zakat, infaq, dan sedekah.

8) Pengetahuan pengelola BMT sangat mempengaruhi BMT tersebut dalam

menangkap masalah-masalah dan menyikapi masalah ekonomi yang

terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga menyebabkan dinamisasi

dan inovasi BMT tersebut kurang.


g. Strategi Pengembangan BMT

Semakin berkembangnya masalah ekonomi masyarakat, maka

berbagai kendala tidak mungkin dilepaskan dari keberadaan BMT. Oleh

karena itu, perlu strategi yang jitu guna mempertahankan eksistensi BMT

tersebut. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:

1) Sumber daya manusia yang kurang memadai kebanyakan berkorelasi dari

tingkat pendidikan dan pengetahuan. BMT dituntut meningkatkan

sumber daya melalui pendidikan formal ataupun non formal, oleh karena

kerjasama dengan lembaga pendidikan yang mempunyai relevansi

dengan hal ini tidak bisa diabaikan, misalnya kerjasama BMT dengan

lembaga-lembaga pendidikan atau bisnis islami.

2) Strategi pemasaran yang local oriented berdampak pada lemahnya upaya

BMT untuk mensosialisasikan produk-produk BMT di luar masyarakat di

mana BMT itu berada. Guna mengembangkan BMT maka upaya-upaya

meningkatkan teknik pemasaran perlu dilakukan, guna memperkenalkan

eksistensi BMT di tengah-tengah masyarakat.

3) Perlunya inovasi. Produk yang ditawarkan kepada masyarakat relatif

tetap, dan kadangkala BMT tidak mampu menangkap gejala-gejala

ekonomi dan bisnis yang ada di masyarakat. Hal ini timbul dari berbagai

sebab; pertama, timbulnya kekhawatiran tidak sesuai dengan syariah; kedua,

memahami produk BMT hanya seperti yang ada. Kebebasan dalam


melakukan inovasi produk yang sesuai dengan syariah diperlukan supaya

BMT mampu tetap eksis di tengah-tengah masyarakat.

4) Untuk meningkatkan kualitas layanan BMT diperlukan pengetahuan

strategis dalam bisnis (Business Strategy). Hal ini diperlukan untuk

meningkatkan profesionalisme BMT dalam bidang pelayanan. Isu-isu

yang berkembang dalam bidang ini biasanya adalah pelayanan tepat

waktu, pelayanan siap sedia, pelayanan siap dana, dan sebagainya.

5) Pengembangan aspek paradigmatik, diperlukan pengetahuan mengenai

aspek bisnis islami sekaligus meningkatkan muatan-muatan Islam dalam

setiap perilaku pengelola dan karyawan BMT dengan masyarakat pada

umumnya dan nasabah pada khususnya.

6) Sesama BMT sebagai partner dalam rangka mengentaskan ekonomi

masyarakat, demikian antar BMT dengan BPR Syariah ataupun bank

syariah merupakan satu kesatuan yang berkesinambungan yang antara

satu dengan yang lainnya mempunyai tujuan untuk menegakkan syariat

Islam di dalam bidang ekonomi.

7) Perlu adanya evaluasi bersama guna memberikan peluang bagi BMT atau

lembaga sertifikasi BMT. Lembaga ini bertujuan khusus untuk

memberikan laporan peringkat kinerja kwartalan atau tahunan BMT di

seluruh Indonesia (Sudarsono, 2004 dalam Habibah: 2008, 25).


h. Key Success Factor BMT

1) Secara operasional mampu melaksanakan prinsip-prinsip syariah secara

berkesinambungan, yang dilandasi oleh kekuatan ruhiyah yang memadai

dari pengurus dan pengelolanya.

2) Adanya komitmen dan ghirah yang tinggi dari pendiri dan pengelolanya,

yang itu pun berpangkal dari kesadaran ruhiyah yang cukup baik.

3) Didirikannya BMT berorientasi pada landasan niat untuk beribadah pada

Allah SWT melalui penguatan ekonomi dan perbaikan kualitas kehidupan

ummat.

4) Meluasnya dukungan dari para aghniya’ dan tokoh-tokoh masyarakat

setempat termasuk perusahaan-perusahaan yang ada di sekitarnya.

5) Kemampuan manajemen dan keterampilan teknis lembaga keuangan

pengurus dan pengelolanya yang didukung oleh pelatihan yang cukup

dan lengkap meliputi teori, praktek dan MMQ (metode memahami dan

mengamalkan al-Qur’an).

6) Mampu memelihara kepercayaan masyarakat yang tinggi melalui

hubungan emosional yang islami.

7) Pendiriannya dilakukan sesuai dengan petunjuk yang antara lain

tercermin dalam buku “Pedoman Cara Pendirian BMT”.


8) Kemampuan menghimpun dana dengan pendekatan-pendekatan islami

dan manusiawi.

9) Berusaha secara terus-menerus menjadi lembaga penyambung dan

pemelihara ukhuwah islamiyah di antara pengurus, pengelola, Pokusma

(kelompok usaha muamalah), dan anggotanya (Azis, 2008).

3. Manajemen

Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur.

Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-

fungsi manajemen. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk

mewujudkan tujuan yang diinginkan (Hasibuan, 2001: 1). Selanjutnya kata

manajemen (management) dapat mempunyai beberapa arti. Pertama sebagai

pengelolaan, pengendalian atau penanganan (managing). Kedua, perlakuan

secara terampil untuk menangani sesuatu berupa skillful treatment. Ketiga,

gabungan dari dua pengertian tersebut, yaitu yang berhubungan dengan

pengelolaan suatu perusahaan, rumah tangga atau suatu bentuk kerja sama

dalam mencapai suatu tujuan tertentu (Herujito, 2001: 1).

Sedangkan menurut G. R. Terry mengatakan bahwa management is a

distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling performed

to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other

resources. Yang artinya, manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri

dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan

pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran


yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-

sumber lainnya (Hasibuan, 2001: 2).

4. Pengertian Dana

Dana adalah uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank dalam

bentuk tunai, atau aktiva lain yang dapat segera diubah menjadi uang tunai

(Muhammad, 2005: 49).

a. Dana Dalam Artian Kas

Sebagaimana dijelaskan oleh Riyanto (2002) dalam Hamidah (2007: 14)

kas merupakan unsur modal kerja yang dapat digunakan untuk menguasai

serta memiliki barang dan jasa apa saja yang diinginkan. Kas merupakan

dana dalam bentuk yang pasti dan tunai. Namun, harus tetap dijaga agar

jumlah kas tidak terlalu besar, sebab kas yang terlalu besar menunjukkan

penggunaan dana yang tidak efisien. Tetapi di lain pihak ada kewajiban bagi

bank untuk mempertahankan kas dalam jumlah tertentu agar dapat

memenuhi kewajiban dan kebutuhan finansial tepat pada waktunya.

b. Dana Dalam Artian Modal Kerja

Modal kerja erat hubungannya dengan operasi koperasi sehari-hari

juga menunjukkan tingkat keamanan atau margin of safety para kreditur

terutama kreditur jangka pendek. Adapun modal kerja yang cukup sangat

penting bagi suatu koperasi karena dengan modal kerja yang cukup itu

memungkinkan bagi koperasi untuk beroperasi dengan seekonomis mungkin

dan koperasi tidak mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya-bahaya


yang mungkin timbul karena adanya krisis atau kekacauan keuangan

(Munawir, 2002 dalam Hamidah, 2007: 15).

5. Manajemen Dana

a. Pengertian Manajemen Dana

Manajemen dana bank adalah sebagai suatu proses pengelolaan

penghimpunan dana-dana masyarakat ke dalam bank dan pengalokasian

dana-dana tersebut bagi kepentingan bank dan masyarakat pada umumnya

serta pemupukannya secara optimal melalui penggerakan semua sumber

daya yang tersedia demi mencapai tingkat rentabilitas yang memadai sesuai

dengan batas ketentuan peraturan yang berlaku (Muhammad, 2005: 42).

b. Tujuan Manajemen Dana

Pokok-pokok permasalahan manajemen dana bank pada umumnya

dan bank syariah pada khususnya adalah:

1) Berapa memperoleh dana dan dalam bentuk apa dengan biaya yang relatif

murah.

2) Berapa jumlah dana yang dapat ditanamkan dan dalam bentuk apa untuk

memperoleh pendapatan yang optimal.

3) Berapa besarnya dividen yang dibayarkan yang dapat memuaskan

pemilik/pendiri dan laba ditahan yang memadai untuk pertumbuhan

bank syariah.
Dari permasalahan yang ada di atas, maka manajemen dana

mempunyai tujuan sebagai berikut:

1) Memperoleh profit yang optimal.

2) Menyediakan aktiva cair dan kas yang memadai.

3) Menyimpan cadangan.

4) Mengelola kegiatan-kegiatan lembaga ekonomi dengan kebijakan yang

pantas bagi seseorang yang bertindak sebagai pemelihara dana-dana

orang lain.

5) Memenuhi kebutuhan masyarakat akan pembiayaan.

Dari tujuan-tujuan di atas, bila diamati akan didapat kontradiksi

antara tujuan yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, di satu sisi bertujuan

untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya, tentunya ini bisa direalisasi

dengan memberikan pembiayaan yang sebesar-besarnya, namun di sisi lain

kita juga harus menyediakan dana kas untuk memenuhi kewajiban-kewajiban

segera dibayar, yang harus didukung oleh tersedianya dana yang memadai.

(Muhammad, 2005: 48)

c. Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Dana BMT

Dalam menerapkan manajemen dana banyak dipengaruhi oleh

berbagai faktor, baik bersumber dari intern lembaga keuangan itu sendiri

ataupun dari eksternal (Muhammad, 2005: 44). Faktor-faktor yang

mempengaruhi manajemen dana BMT dapat dikelompokkan antara lain:


1) Kebijaksanaan-kebijaksanaan moneter

Setiap muncul kebijaksanaan moneter yang baru, tidak hanya bank

tetapi juga BMT harus harus mengambil langkah-langkah penyesuaian

agar tidak melanggar peraturan atau ketinggalan di dalam percaturan

keuangan dan perekonomian pada umumnya. Pentingnya pada bankir

mengikuti kebijaksanaan moneter karena setiap kebijaksanaan tersebut

mempunyai unsur-unsur yang perlu dipahami oleh bank agar langkah-

langkah yang diambil selalu seirama.

2) Lingkungan

Lingkungan BMT baik internal maupun eksternal akan mempengaruhi

gaya manajemen dana yang digunakan.

3) Mobilisasi dana

Dana yang ada di dalam masyarakat sifatnya relatif terbatas yang

diperebutkan oleh perbankan dan lembaga-lembaga keuangan lainnya.

Oleh karena itu berlaku hukum permintaan dan penawaran. Faktor-faktor

yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dana antara lain:

a) Ketentuan kewajiban pemeliharaan likuiditas (cash requirement ratio).

b) Jumlah ekspansi uang primer dari bank sentral.

c) Selera masyarakat untuk memilih bentuk simpanan yang diinginkan.

d) Tingkat pendapatan per kapita.

e) Peraturan-peraturan yang terkait pada masing-masing jenis dana.


4) Hubungan peminjam dengan pemodal

Di dalam masyarakat terdapat dua pihak, yaitu mereka yang

mempunyai kelebihan uang (pemodal) dan di pihak lain yang mengalami

kekurangan uang (peminjam) untuk memenuhi berbagai macam

kebutuhannya. BMT yang pada dasarnya adalah penghubung atau

mediator antara pemodal dengan peminjam berperan besar dalam hal

menghubungkan dua kepentingan ini agar kedua pihak ini mencapai

tujuan atas kebutuhan dan kepentingan masing-masing.

6. Sumber Dana

Salah satu ruang lingkup kegiatan manajemen dana adalah aktivitas

penghimpunan dana yang nantinya berfungsi menjadi sumber dana bank

(Mufiydah, 2006: 25). Agak sedikit berbeda dengan bank, BMT tidak dapat

memperoleh dana seluas-luasnya layaknya dana yang dihimpun oleh perbankan.

Pertumbuhan setiap BMT sangat dipengaruhi oleh perkembangan

kemampuannya menghimpun dana masyarakat, baik berskala kecil maupun

besar, dengan masa pengendapan yang memadai. Sebagai lembaga keuangan,

maka dana merupakan masalah yang paling utama. Tanpa dana yang cukup,

lembaga keuangan tidak dapat berbuat apa-apa, atau dengan kata lain, bank

menjadi tidak berfungsi sama sekali (Muhammad, 2005: 49).

Pengertian sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun

dana dari masyarakat (Kasmir, 2004: 45). Sedangkan menurut Siamat (1993)
dalam Dendawijaya (2005: 46), dana bank adalah uang tunai yang dimiliki bank

ataupun aktiva lancar yang dikuasai bank dan setiap waktu dapat diuangkan.

Dalam BMT berbagai sumber dana dapat dikelompokkan menjadi tiga

jenis (Ridwan, 2004 dalam Habibah, 2008: 15), yakni:

a. Dana pihak kesatu

Dana pihak kesatu ini sangat diperlukan BMT terutama pada saat

pendirian. Dalam perbankan hal ini dikenal dengan istilah modal disetor.

Dana ini dapat terus dikembangkan, seiring dengan perkembangan BMT.

Sumber dana pihak kesatu ini dapat dikelompokkan menjadi:

1) Simpanan Pokok Khusus (Modal Penyertaan)

Yaitu simpanan modal penyertaan, yang dapat dimiliki oleh individu

maupun lembaga dengan jumlah setiap penyimpanan tidak harus

sama, dan jumlah dana tidak mempengaruhi suara dalam rapat. Untuk

memperbanyak jumlah simpanan pokok khusus ini, BMT dapat

menghubungi para aghniya maupun lembaga-lembaga Islam.

simpanan hanya dapat ditarik setelah jangka waktu 1 tahun melalui

musyawarah tahunan. Atas simpanan ini, penyimpanan akan

mendapat porsi laba atau SHU pada setiap akhir tahun secara

proporsional. Dengan jumlah modalnya.

2) Simpanan Pokok

Simpanan pokok ialah yang harus dibayar saat menjadi anggota BMT.

Besarnya simpanan pokok harus sama. Pembayarannya dapat saja

dicicil, supaya dapat menjaring jumlah anggota yang lebih banyak.


Sebagai bukti keanggotaan, simpanan pokok tidak boleh ditarik selama

menjadi anggota. Jika simpanan ini ditarik, maka dengan sendirinya

keanggotaannya dinyatakan berhenti.

3) Simpanan Wajib

Simpanan ini menjadi sumber modal yang mengalir terus setiap waktu.

Besar kecilnya sangat tergantung pada kebutuhan permodalan dan

anggotanya. Besarnya simpanan wajib setiap anggota sama, baik

simpanan pokok maupun simpanan wajib akan turut diperhitungkan

dalam pembagian SHU.

4) Simpanan Sukarela

Adalah simpanan yang dilakukan secara sukarela baik jumlahnya

maupun jangka waktunya.

5) Dana Cadangan

Yaitu bagian dari SHU (keuntungan) yang tidak dibagikan kepada

anggota yang dimaksudkan untuk menambah modal.

b. Dana pihak kedua

Dana ini bersumber dari pinjaman pihak luar. Nilai dana ini memang

sangat tidak terbatas. Artinya tergantung pada kemampuan BMT masing-

masing, dalam menanamkan kepercayaan kepada calon investor. Pihak

luar yang dimaksud ialah mereka yang memiliki dana yang dikelola

secara syariah. Berbagai lembaga yang mungkin dijadikan mitra untuk

meraih pembiayaan misalnya, Bank Muamalat Indonesia, BNI Syariah,

Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan lembaga keuangan Islam lainnya.
c. Dana pihak ketiga

Dana ini merupakan simpanan sukarela atau tabungan dari para

anggota BMT. Jumlah dan sumber ini sangat luas dan tidak terbatas. Dana

pihak ketiga inilah yang paling besar porsinya karena berasal dari

masyarakat luas.

Dilihat dari cara pengambilan sumber dananya, maka dapat dibagi

menjadi empat:

1) Simpanan Lancar (Tabungan)

Adalah simpanan anggota kepada BMT yang dapat diambil sewaktu-

waktu (setiap saat). BMT tidak dapat menolak permohonan

pengambilan tabungan ini.

2) Simpanan Tidak Lancar (Deposito)

Adalah simpanan anggota kepada BMT yang pengambilannya hanya

dapat dilakukan pada saat jatuh tempo.

3) Hibah

Yaitu pemberian dana dari pihak lain dan tidak ada kewajiban untuk

membayar kembali baik berupa pokok pemberian maupun jasa.

4) Dana Lain Yang Tidak Mengikat

Berbagai sumber permodalan BMT tersebut semuanya sangat penting.

Namun untuk mendapatkan jumlah dana yang besar, maka

pengembangan unsur modal penyertaan perlu diperhatikan. Unsur ini


dapat digunakan untuk menjaring para aghniya baik individu maupun

lembaga lainnya.

7. Penggunaan Dana BMT

Penggunaan dana BMT merupakan upaya menggunakan dana BMT

untuk keperluan operasional yang dapat mengakibatkan berkembangnya BMT

atau sebaliknya, jika penggunaannya salah.

Pengalokasian dana BMT ini harus selalu berorientasi untuk

meningkatkan kesejahteraan anggota. Manajemen akan selalu dihadapkan pada

dua persoalan, yakni bagaimana akan semaksimal mungkin mengalokasikan

dana yang dapat memberikan pendapatan maksimal pula dan tetap menjaga

kondisi keuangan sehingga dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya setiap

saat. Dua kondisi ini dapat dicapai, jika manajemen mampu bertindak sesuai

dengan landasan BMT yang sebenarnya. Untuk itu, pengalokasian dana BMT

harus memperhatikan aspek (Ridwan, 2004 dalam Habibah, 2008: 19) sebagai

berikut:

a. Aman, artinya dana BMT dapat dijamin pengembaliannya.

b. Lancar, artinya perputaran dana dapat berjalan dengan cepat.

c. Menghasilkan, artinya pengalokasian dana harus dapat memberikan

pendapatan maksimal.

d. Halal, artinya pengalokasian dana BMT harus pada usaha yang halal baik

dari tinjauan hukum positif maupun agama.

e. Diutamakan untuk pengembangan usaha ekonomi anggota.


Setelah dana pihak ketiga (DPK) dikumpulkan, maka sesuai dengan

fungsi intermediary-nya maka lembaga keuangan berkewajiban menyalurkan

dana tersebut untuk pembiayaan. Dalam hal ini, BMT harus mempersiapkan

strategi penggunaan dana-dana yang dihimpunnya sesuai dengan rencana

alokasi berdasarkan kebijakan yang telah digariskan (Muhammad, 2005: 55).

Alokasi dana ini mempunyai beberapa tujuan yaitu:

a. Mencapai tingkat profitabilitas yang cukup dan tingkat resiko yang

rendah.

b. Mempertahankan kepercayaan masyarakat dengan menjaga agar posisi

likuiditas tetap aman.

Untuk mencapai kedua keinginan tersebut maka alokasi dana-dana bank

harus diarahkan sedemikian rupa agar pada saat diperlukan semua kepentingan

nasabah dapat terpenuhi.

Dalam bukunya Dendawijaya (2005: 54) dijelaskan cara penempatan

(alokasi) dana oleh suatu bank umum dengan mempertimbangkan sumber dana

yang diperolehnya terdiri atas dua pendekatan yang masih banyak

dipergunakan/dipilih oleh eksekutif bank dan lembaga keuangan lainnya, yaitu:

a. Pool of Fund Approach

Adalah penempatan (alokasi) dana bank dengan tidak memperhatikan

hal-hal yang berkaitan dengan sumber dana, seperti sifat, jangka waktu,

dan tingkat harga perolehannya.


b. Assets Allocation Approach

Adalah penempatan dana ke berbagai aktiva dengan mencocokkan

masing-masing sumber dana terhadap jenis alokasi dana yang sesuai

dengan sifat, jangka waktu, dan tingkat harga perolehan sumber dana

tersebut.

Sedangkan menurut Arifin (2002) dalam Muhammad (2005: 56-58) alokasi

penggunaan dana bank syariah pada dasarnya dapat dibagi dalam dua bagian

penting dari aktiva bank, yaitu:

a. Earning Assets (aktiva yang menghasilkan)

Aktiva yang dapat menghasilkan atau Earning Assets adalah aset bank

yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan. Aset ini disalurkan

dalam bentuk investasi yang terdiri atas:

1) Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah)

2) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan (Musyarakah)

3) Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli (Al-Bai’)

4) Pembiayaan berdasarkan prinsip sewa (Ijarah dan Ijarah wa Iqtina/Ijarah

Muntahiah bi Tamlik)

5) Surat-surat berharga syariah dan investasi lainnya.

Pembiayaan merupakan fungsi bank dalam menjalankan fungsi

penggunaan dana. Dalam kaitan dengan perbankan maka ini merupakan

fungsi yang terpenting. Portofolio pembiayaan pada bank komersial

menempati porsi terbesar, pada umumnya sekitar 55% sampai 60% dari
total aktiva. Dari pembiayaan yang dikeluarkan atau disalurkan bank

diharapkan dapat memberikan hasil. Tingkat penghasilan dari

pembiayaan (yield on financing) merupakan tingkat penghasilan tertinggi

bagi bank. Sesuai dengan karakteristik dari sumber dananya, pada

umumnya bank komersial memberikan pembiayaan berjangka pendek

dan menengah, meskipun beberapa jenis pembiayaan dapat diberikan

dengan jangka waktu yang lebih panjang. Tingkat penghasilan dari setiap

jenis pembiayaan juga bervariasi, tergantung pada prinsip pembiayaan

yang digunakan dan sektor usaha yang dibiayai.

Di samping penggunaan dana untuk pembiayaan, bagi bank syariah

juga dapat mengalokasikan dananya untuk fungsi investasi pada surat-

surat berharga. Porsi terbesar berikutnya dari fungsi penggunaan dana

bank adalah berupa investasi pada surat-surat berharga. Selain untuk

tujuan memperoleh penghasilan, investasi pada surat berharga ini

dilakukan sebagai salah satu media pengelolaan likuiditas, di mana bank

harus menginvestasikan dana yang ada seoptimal mungkin, tetapi dapat

dicairkan sewaktu-waktu bila bank membutuhkan dengan tanpa atau

sedikit sekali mengurangi nilainya. Tingkat penghasilan dari investasi

(yield on investment) pada surat berharga tersebut pada umumnya lebih

rendah daripada yield on financing.


b. Non Earning Assets (aktiva yang tidak menghasilkan), terdiri dari:

1) Aktiva dalam bentuk tunai (cash assets)

Aktiva dalam bentuk tunai atau cash assets terdiri dari uang tunai

dalam vault, cadangan likuiditas (primary reserve) yang harus dipelihara

pada bank sentral, giro pada bank dan item-item tunai lain yang masih

dalam proses penagihan (collections). Dari aktiva tunai ini bank tidak

memperoleh penghasilan, dan kalaupun ada sangat kecil dan tidak berarti.

Namun demikian investasi pada cash assets adalah penting untuk

mendukung fungsi simpanan pada bank, dan dalam beberapa hal juga

diperlukan untuk memenuhi kebutuhan layanan dari pihak koresponden

yang berkaitan dengan pembiayaan investasi.

Bank harus memelihara uang tunai dalam vault yang terdiri dari uang

kertas dan uang logam. Bank harus dapat memenuhi kebutuhan para

nasabah penyimpan dana yang ingin menarik dananya dalam bentuk

tunai, meskipun bank juga harus membatasi jumlah investasi dalam

bentuk uang tunai, karena bila terlalu banyak dapat mengurangi tingkat

penghasilan bank.

Bank juga harus memelihara cash assets sebagai cadangan (reserve)

dalam bentuk rekening pada bank sentral. Biasanya bank sentral

menetapkan kewajiban ini berdasarkan jumlah dan tipe simpanan

nasabah bank. Bank menggunakan cadangan ini untuk memproses cek

yang ditarik melalui kliring. Bank juga memelihara saldo dalam jumlah
tertentu pada bank koresponden sebagai kompensasi atas servis yang

diperoleh seperti cek kliring, layanan yang berkaitan dengan proses

pembiayaan, investasi dan partisipasi dalam sindikasi pembiayaan. Saldo

pada bank koresponden dapat juga digunakan untuk memenuhi

kebutuhan cadangan bagi bank yang tidak menjadi anggota lembaga

kliring.

2) Pinjaman (qard)

Pinjaman qard al hasan adalah merupakan salah satu kegiatan bank

syariah dalam mewujudkan tanggung jawab sosialnya sesuai dengan

ajaran Islam. untuk kegiatan ini bank tidak memperoleh penghasilan

karena bank dilarang untuk meminta imbalan apapun dari para penerima

qard.

3) Penanaman Dana dalam Aktiva Tetap dan Inventaris

Penanaman dana dalam bentuk ini juga tidak menghasilkan

pendapatan bagi lembaga keuangan manapun, tetapi merupakan

kebutuhan untuk menfasilitasi pelaksanaan fungsi kegiatannya. Fasilitas

itu terdiri dari bangunan gedung, kendaraan dan peralatan lainnya yang

dipakai oleh bank dalam rangka penyediaan layanan kepada nasabahnya.

Gambaran tentang pola penghimpunan dana dan pengalokasiannya dapat

dilakukan melalui pendekatan pusat pengumpulan dana (Pool of Funds Approach)

dan pendekatan alokasi aktiva (Assets allocation Approach), sebagaimana telah

dijelaskan di atas.
Gambar 2.1
Sumber dan Penggunaan Dana Berdasarkan Pendekatan
Pusat Pengumpulan Dana (Pool of Funds Approach)

Sumber & Penggunaan Dana

Sumber Dana Penggunaan

Wadiah Primary Reserve

Secondary
Reserve

Qard
Mudharabah
Mutlaqah Dana Pool
Musyarakah

Mudharabah

Murabahah
Musyarakah
Salam

Istishna’

Ijarah

Aktiva Tetap

Mudharabah Special Project


Muqayadah

Sumber : (Arifin, 2002 dalam Muhammad, 2005: 59)


Gambar 2.2
Sumber dan Penggunaan Dana Berdasarkan
Assets Allocation Approach

Sumber dan Penggunaan Dana

(Assets Allocation Approach)

Sumber Dana Penggunaan Dana

Wadiah Primary Reserve

Secondary Reserve

Qard
Mudharabah
Mutlaqah
Murabahah

Salam

Mudharabah
Muqayyadah Istishna’

Ijarah (wa iktina)

Mudharabah
Musyarakah

Musyarakah

Aktiva Tetap

Sumber : (Arifin, 2002 dalam Muhammad, 2005: 60)


8. Arti Pentingnya Analisa Sumber dan Penggunaan Dana

a. Untuk mengetahui laporan tahun lalu

b. Untuk proyeksi yang dimaksudkan

c. Untuk menilai kebijaksanaan dalam penggunaan dan cara mendapatkan

dana untuk periode mendatang.

9. Tingkat Kesehatan BMT

a. Pengertian Tingkat Kesehatan BMT

Tingkat kesehatan BMT merupakan suatu kondisi yang terlihat sebagai

gambaran kinerja dan kualitas BMT, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor

dan dapat mempengaruhi aktivitas BMT serta pencapaian target-target BMT,

untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Penilaian tingkat kesehatan

BMT sangat bermanfaaat untuk memberikan gambaran mengenai kondisi

aktual BMT kepada pihak-pihak yang berkepentingan, terutama bagi nasabah

dan pengelola. selain itu, dengan mengetahui tingkat kesehatannya akan

membantu pihak-pihak tertentu dalam pengambilan keputusan sehingga

terhindar dari kesalahan pengambilan keputusan.

Beberapa faktor baik internal maupun eksternal yang dapat

mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung tingkat kesehatan

BMT, yaitu:

1) faktor SDM, kondisi BMT sangat dipengaruhi oleh kemampuan SDM

dalam mengelola BMT.

2) Faktor sumber daya, termasuk didalamnya adalah dana dan fasilitas kerja.
Sebuah BMT perlu diketahui tingkat kesehatannya, karena BMT

merupakan sebuah lembaga keuangan pendukung kegiatan ekonomi rakyat

(Hosen, 2008: 43). BMT yang sehat akan :

1) Aman

2) Dipercaya

3) Bermanfaat

Aspek kesehatan BMT dapat dilihat dari :

1) Aspek Jasadiyah, yang meliputi

a) Kinerja keuangan

BMT mampu melakukan penggalangan, pengaturan, penyaluran, dan

penempatan dana dengan baik, teliti, hati-hati, cerdik, dan benar, sehingga

berlangsung kelancaran arus pendanaan dalam pengelolaan kegiatan

usaha BMT dan akan meningkatkan keuntungan secara berkelanjutan.

Kinerja keuangan ini dapat dinilai dari faktor CAMEL.

b) Kelembagaan dan manajemen

BMT memiliki kesiapan untuk melakukan operasinya dilihat dari sisi

kelengkapan legalitas, aturan-aturan, dan mekanisme organisasi dalam

perencanaan, pelaksanaan, pendampingan dan pengawasan, SDM,

permodalan, sarana, dan prasarana kerja.


2) Aspek Ruhiyah, yang meliputi :

a) Visi dan misi BMT

Pengelola, pengurus, dan pengawas syariah, dan seluruh anggotanya

memiliki kemampuan dalam mengaplikasikan visi dan misi BMT.

b) Kepekaan sosial

Pengelola, pengurus, dan pengawas syariah, dan seluruh anggotanya

memiliki kepekaan yang tajam dan dalam, responsif, proaktif, terhadap

nasib para anggota dan nasib (kualitas hidup) warga masyarakat di sekitar

BMT tersebut.

c) Rasa memiliki yang kuat

Pengelola, pengurus, dan pengawas syariah, dan seluruh anggota serta

masyarakat sekitar memiliki kepedulian untuk memelihara

keberlangsungan hidup BMT sebagai sarana ibadah.

d) Pelaksanaan prinsip-prinsip syariah

Pengelola, pengurus, dan pengawas syariah, dan seluruh anggota

memberlakukan aturan dan implementasi operasional BMT sesuai dengan

syariah (Hosen, 2008: 44).

Dalam melakukan penilaian terhadap tingkat kesehatan BMT terdapat

5 aspek yang menjadi acuan dasar penilaian. Dasar penilaian ini mengacu
pada sistem penilaian kesehatan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI)

yang dikenal dengan istilah CAMEL (Capital adequacy, Asset quality,

Management of risk, Earning ability, dan Liquidity sufficiency). Kelima aspek

tersebut adalah modal, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan

likuiditas. Tidak banyak berbeda dengan penilaian kesehatan perbankan,

karena BMT juga merupakan lembaga keuangan.

b. Pihak-pihak Yang Membutuhkan Laporan Kesehatan BMT

Tingkat kesehatan suatu bank menjadi salah satu tolok ukur kinerja

keuangan bank yang sangat penting dewasa ini, karena dari hasil penilaian

ini akan dapat diketahui performance pemilik dan profesionalisme pengelola

bank tersebut (Riyadi, 2006: 175).

Begitu pula sama halnya dengan BMT. Terdapat beberapa pihak yang

sangat membutuhkan hasil penilaian tingkat kesehatan BMT yaitu:

1) Pengelola BMT

Yang dimaksud dengan pengelola di sini adalah Pemilik, Pengurus,

pengawas dan Manajer pengelola BMT sangat berkepentingan terhadap

penilaian tingkat kesehatan BMT yang dikelolanya, berdasarkan hasil

penilaian tersebut dapat diketahui letak kekurangan/kelemahan yang

dihadapi BMT, sehingga dapat diambil kebijakan yang dapat

mempertahankan tingkat kesehatan bank yang telah dicapainya atau

meningkatkan tingkat kesehatannya.


2) Masyarakat Pengguna Jasa BMT/Anggota

Dalam kondisi perekonomian yang belum stabil, ditambah penegakan

hukum yang belum dapat berjalan dan kondisi sosial politik yang mudah

berubah maka Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dapat dijadikan

acuan bagi para pemilik dana untuk menyimpan uangnya pada BMT yang

memiliki kondisi “Sehat”. Karena hal ini akan memberikan jaminan

bahwa dalam waktu tertentu dana yang disimpan pada BMT tersebut

akan aman.

3) Lembaga Keuangan Lain

Dalam hal ini lembaga keuangan yang memberikan pinjaman kepada

BMT perlu untuk mengetahui tingkat kesehatan BMT. Sehingga lembaga

keuangan mengetahui bahwa dana tersebut mampu dikelola dengan baik

oleh pihak BMT.

c. Predikat Tingkat Kesehatan BMT

Kondisi tingkat kesehatan BMT saat ini dikelompokkan menjadi 4

predikat (Riyadi, 2006: 176), yaitu:

1) Sehat

2) Cukup Sehat

3) Kurang Sehat

4) Tidak Sehat
d. Faktor Penilaian CAMEL

Berikut ini merupakan faktor-faktor penentu tingkat kesehatan BMT

yang rumusnya tak jauh beda dengan perhitungan pada perbankan, adalah

sebagai berikut:

1) Capital

Modal merupakan hal terpenting dalam memulai dan menjalankan

suatu usaha apa saja. Kekurangan modal merupakan gejala umum yang

dialami lembaga keuangan di negara-negara berkembang. Kekurangan

modal tersebut dapat bersumber dari dua hal, yang pertama adalah

karena modal yang jumlahnya kecil, yang kedua adalah kualitas

modalnya yang buruk. Rasio yang digunakan untuk menilai aspek

permodalan pada BMT adalah dengan metode CAR (Capital Adequacy

Ratio) dan perhitungannya sebagai berikut :

CAR = Modal x 100%


Total Asset

2) Assets

Aset merupakan total aktiva yang dimiliki oleh BMT selama periode

tertentu. Penilaian kualitas asset pada BMT tidaklah serumit penilaian aset

pada perbankan. Untuk menilai kualitas aset pada BMT dapat digunakan

rumus sebagai berikut:

Aktiva = Laba Bersih x 100%


Total Aktiva Produktif
3) Management

Untuk menilai manajemen suatu BMT terdapat beberapa

pertanyaan/pernyataan yang menyangkut tentang manajemen

permodalan, aktiva, pengelolaan, rentabilitas dan likuiditas. Namun

pernyataan tersebut tidaklah sebanyak pernyataan yang ada pada

perbankan.

4) Earning

Earning (rentabilitas) diartikan sebagai rasio untuk mengetahui

kemampuan BMT dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, juga

bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam

menjalankan operasionalnya. Terdapat 3 cara penilaian laba pada BMT,

yaitu:

a) Rasio SHU sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap

pendapatan operasional.

Earning 1 = SHU sebelum pajak x 100%


Pendapatan Operasional

b) Rasio SHU sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap total asset.

Earning 2 = SHU sebelum pajak x 100%


Total Asset

c) Rasio Biaya Operasional dalam 12 bulan terakhir terhadap Pendapatan

Operasional dalam periode yang sama.

BOPO = Biaya Operasional x 100%


Pendapatan Operasional
5) Liquidity

a) Rasio Lancar (Cash Ratio)

Rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan hutang

lancar. Rasio ini menunjukkan besarnya kas yang dipunyai suatu lembaga

ditambah aset-aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu

tahun, relatif terhadap besarnya hutang-hutang yang jatuh tempo dalam

jangka waktu tidak lebih dari satu tahun (Hanafi, 2005: 212).

Cash Ratio = Hutang Lancar x 100%


Aktiva Lancar

Yang dimaksud alat likuid adalah kas dan penanaman pada bank lain

dalam bentuk giro dan tabungan dikurangi dengan tabungan bank lain

pada bank. Sedangkan hutang lancar adalah meliputi kewajiban segera,

tabungan dan deposito.

b) Loan to Deposit Ratio (LDR)

LDR mempunyai pengertian sebagai alat likuid untuk mengukur

seberapa jauh kemampuan perusahaan dalam membayar semua dana

masyarakat dengan mengandalkan pembiayaan yang didistribusikan

kepada masyarakat. Besarnya LDR menurut peraturan pemerintah

maksimum adalah 110% (Kasmir, 2001: 272).

LDR = Total Pembiayaan x 100%


Total DPK
e. Hasil Penilaian

Hasil penilaian kesehatan BMT dapat dilihat dari perhitungan data-

data laporan keuangan menurut aspek CAMEL, yang juga meliputi kriteria

sebagai berikut:

1) “Sehat”

2) “Cukup Sehat”

3) “Kurang Sehat”

4) “Tidak Sehat”

Hanya saja dalam penilaian tingkat kesehatan BMT tidak ditetapkan

adanya nilai kredit layaknya penilaian tingkat kesehatan perbankan.

C. Manajemen dalam Perspektif Islam

Islam mewajibkan para penguasa dan pengusaha untuk berbuat adil, jujur

dan amanah demi terciptanya kebahagiaan manusia (falah) dan kehidupan yang

baik (hayatan thayyibah) yang sangat menekankan aspek persaudaraan (ukhuwah),

keadilan sosial-ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan spiritual umat manusia.

Sebagaimana tujuan utama syariat adalah memelihara kesejahteraan manusia

yang mencakup perlindungan keimanan, kehidupan, akal, keturunan dan harta

benda mereka (Arifin, 2002: 96).

Harta benda di sini tidak dapat mengantarkan tujuan ini, kecuali bila

dialokasikan dan didistribusikan secara merata. Hal ini menuntut penyertaan


kriteria moral tertentu dalam menikmati harta benda, operasi pasar dan politbiro.

Apabila harta benda menjadi tujuan itu sendiri, maka akan mengakibatkan

ketidakmerataan, ketidakseimbangan dan perusakan lingkungan yang pada

akhirnya akan mengurangi kebahagiaan anggota masyarakat di masa sekarang

maupun bagi generasi mendatang. Al-Qur’an telah memerintahkan agar supaya

harta dapat diratakan kepada pihak-pihak yang membutuhkannya, sebagaimana

firman-Nya:

∩∠∪ 4 öΝä3ΖÏΒ Ï!$uŠÏΨøîF{$# t÷t/ P's!ρߊ tβθä3tƒ Ÿω ö’s1

“...Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu” (QS. Al-Hasyr: 7).

Untuk itu para penguasa dan pengusaha harus menjalankan manajemen

yang baik dan sehat. Manajemen yang baik harus memenuhi syarat-syarat yang

tidak boleh ditinggalkan (Conditio sine qua non) demi mencapai hasil tugas yang

baik. Oleh karena itu para penguasa atau pengusaha wajib mempelajari ilmu

manajemen. Apalagi bila prinsip atau teknik manajemen itu terdapat atau

diisyaratkan dalam Al-Qur’an atau hadits.

Manajemen selalu terdapat dan sangat penting untuk mengatur semua

kegiatan dalam rumah tangga, sekolah, yayasan, pemerintahan, dan lain

sebagainya. Manajemen menetapkan tujuan dan usaha untuk mewujudkan

dengan memanfaatkan 6M (men, materials, machines, methods, money, and markets)

dalam proses manajemen tersebut. Dengan manajemen yang baik maka

pembinaan kerja sama akan serasi dan harmonis, saling menghormati dan

mencintai, sehingga tujuan optimal akan tercapai. Begitu pentingnya peranan


manajemen dalam kehidupan manusia mengharuskan kita mempelajari,

menghayati, dan menerapkannya demi hari esok yang lebih baik (Hasibuan, 2001:

4). Hal tersebut telah ditegaskan dalam ajaran Islam sebagaimana firman Allah

swt dalam surat Ash-Shaff ayat 4 yang berbunyi:

∩⊆∪ ÒÉθß¹ö¨Β Ö≈uŠ÷Ψç/ Οßγ‾Ρr(x. $y|¹ Ï&Î#‹Î6y™ ’Îû šχθè=ÏG≈s)ムšÏ%©!$# =Ïtä† ©!$# ¨βÎ)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam


barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh” (QS as-Shaff: 4).

Islam telah menegaskan tentang kebaikan dalam mengatur segala sesuatu

yang dilakukan. Sehingga diharapkan dengan adanya manajemen ini, organisasi

(perusahaan) dapat berjalan dengan baik dan lancar kepada tujuan yang telah

ditetapkan. Dan perusahaan pun mampu survive dalam rentang waktu yang

berkepanjangan.
D. Kerangka Berpikir

Manajemen Dana

Sumber dana Penggunaan dana

Aspek Jasadiyah Aspek Ruhiyah

Analisis CAMEL 1. Visi & Misi

Dengan Penilaian Aspek: 2. Kepekaan sosial

1. Permodalan 3. Rasa Memiliki Yang


Kuat
2. Kualitas Aktiva
4. Komitmen Pada
3. Kualitas Manajemen Prinsip Syariah
4. Rentabilitas

5. Likuiditas

Manajemen dana merupakan sistem yang mengatur tentang pengelolaan

sumber dan pengalokasian dana. Manajemen dana di sini berhubungan sebagai

upaya peningkatan kesehatan BMT, dari segi aspek jasadiyah dan aspek ruhiyah.

Untuk aspek jasadiyah menggunakan faktor-faktor CAMEL, sedangkan untuk

aspek ruhiyah ditinjau dari visi dan misi, kepekaan sosial, rasa memiliki yang

kuat, serta komitmen pada prinsip syariah.


BAB III

METODE PENELITIAN

Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang

mempunyai langkah-langkah sistematis (Wirartha, 2006: 69). Adapun penelitian

adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis

masalah untuk memperoleh fakta-fakta dan menguji kebenaran suatu

pengetahuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah

suatu cara atau prosedur untuk memperoleh pemecahan terhadap permasalahan

yang sedang dihadapi. Metode penelitian mencakup alat dan prosedur penelitian.

A. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Koperasi BMT Maslahah Mursalah Lil

Ummah Jl. Raya Sidogiri No. 09 Sidogiri Kraton Pasuruan 67151.

B. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara kualitatif yaitu penelitian yang

menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan

sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural setting yang holistis, kompleks

dan rinci (Indriantoro dan Supomo, 1999: 12).

C. Data dan Sumber Data

Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi

pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Sumber data


penelitian terdiri atas: sumber data primer dan sumber data sekunder.

(Indriantoro dan Supomo, 1999: 146)

Dalam penelitian ini digunakan data primer dan data sekunder juga. Yang

mana data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara

langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara

khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data

primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil

observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil

pengujian. Sedangkan data sekunder merupakan sumber data penelitian yang

diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan

dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau

laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang

dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan (Indriantoro dan Supomo, 1999:

146-147).

D. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil

penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data

(Sugiyono, 2005: 129). Pengumpulan data merupakan bagian dari proses

pengujian data yang berkaitan dengan sumber dan cara untuk memperoleh data

penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini di antaranya:


1. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja,

sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk

kemudian dilakukan pencatatan (Soemitro, 1985 dalam Subagyo, 2004: 63).

Observasi sebagai alat pengumpul data dapat dilakukan secara spontan dapat

pula dengan daftar isian yang telah disiapkan sebelumnya. Peneliti di sini

melakukan observasi secara non partisipatif, yaitu peneliti tidak melibatkan

diri dalam aktivitas objek yang diteliti, pengamatan dilakukan secara sepintas

pada saat tertentu (Subagyo, 2004: 66). Dalam hal ini peneliti melakukan

observasi pada aktivitas dan budaya kerja Para karyawan BMT-MMU.

2. Dokumentasi

Metode penelitian yang umumnya menggunakan data sekunder

adalah penelitian arsip atau metode dokumentasi. Data dokumenter adalah

jenis data penelitian yang antara lain berupa: faktur, jurnal, surat-surat,

notulen hasil rapat, memo, atau dalam bentuk laporan program (Indriantoro

dan Supomo, 1999: 146). Dalam hal ini dokumen yang diteliti yaitu laporan

keuangan pada tahun buku 2006-2008.

3. Wawancara (Interview)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila

peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan

permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui

hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya


sedikit/kecil (Sugiyono, 2005: 130). Metode wawancara digunakan untuk

mengumpulkan data primer.

Wawancara di sini dilakukan secara tidak terstruktur, adalah

wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman

wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk

pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa

garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan (Sugiyono, 2005: 132).

Peneliti melakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait di antaranya yaitu

kepada staf manajer, bagian pendanaan, Staf Divisi BMT, dan sebagainya.

Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peneliti adalah di antaranya:

a. Apa saja yang dapat dilakukan oleh pihak BMT MMU dalam

menghimpun dana pihak ketiga?

b. Dana yang telah terhimpun tersebut dialokasikan pada bidang-bidang apa

saja?

c. Bagaimana pihak BMT dalam memegang kepercayaan yang telah

diberikan oleh masyarakat?

d. Apa saja faktor-faktor yang menunjang keberhasilan BMT-MMU dalam


menghimpun dana?
e. Apakah dengan manajemen dana yang baik akan menghasilkan tingkat

kesehatan bank yang baik pula?


E. Instrumen Pengumpulan Data

Tabel 3.1
Jenis dan Instrumen Pengumpulan data

NO Jenis Data IPD Objek/Informan


Data BMT-MMU
1 Manajemen Dokumentasi, Dokumen, Manajer,
Penghimpunan Dana Wawancara Kadiv. BMT
2 Manajemen Dokumentasi, Dokumen, Manajer,
Penyaluran Dana Wawancara Kadiv. BMT
3 Laporan Keuangan Dokumentasi Dokumen
4 Penilaian Kesehatan Dokumentasi Dokumen
BMT
a. Aspek Jasadiyah
(Analisis CAMEL):
1) Capital Dokumentasi Dokumen
2) Assets Dokumentasi Dokumen
3) Management Wawancara Kadiv. BMT
4) Earning Dokumentasi Dokumen
5) Liquidity Dokumentasi Dokumen
b. Aspek Ruhiyah:
1) Visi & Misi Dokumentasi, Dokumen, Manajer
Wawancara BMT.
2) Kepekaan sosial Observasi, Pengurus,
Wawancara Pengawas,
Pengelola.
3) Kepemilikan Observasi, Pengurus,
Yang Kuat Wawancara Pengawas,
Pengelola.
4) Komitmen Pada Observasi, Pengurus,
Prinsip Syariah Wawancara Pengawas,
Pengelola.
F. Model Analisis Data

Analisis data merupakan bagian dari proses pengujian data yang hasilnya

digunakan sebagai bukti yang memadai untuk menarik kesimpulan penelitian

(Indriantoro dan Supomo, 1999: 11). Analisis data dapat dilakukan setelah

memperoleh data-data yang dibutuhkan, baik dengan teknik observasi,

wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data-data tersebut diolah dan

dianalisis untuk mencapai tujuan akhir penelitian.

Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

kualitatif. Analisis kualitatif dalam hal ini dilakukan terhadap data yang berupa

informasi, uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data

lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya,

sehingga memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan suatu gambaran

yang sudah ada dan sebaliknya (Subagyo, 2004: 106). Analisis data ini digunakan

untuk menganalisis manajemen dana dan tingkat kesehatan BMT-MMU, baik

dari aspek Jasadiyah maupun aspek Ruhiyah selama kurun waktu 3 tahun

terakhir.

Berikut ini adalah tahapan-tahapan analisis data yang dilakukan oleh

peneliti:

1. Peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari penelitian, baik itu data

primer maupun data sekunder. Maksudnya adalah untuk mengklasifikasikan

data-data yang relevan dengan tujuan penelitian.

2. Melakukan pemilihan data yang saling berhubungan. Hal ini ditujukan untuk

mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan dana berpengaruh terhadap


tingkat kesehatan BMT-MMU, baik dari segi aspek Jasadiyah maupun aspek

Ruhiyah. Sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan data yang

dianalisis.

3. Melakukan penafsiran data, yaitu tentang manajemen dana yang ditinjau dari

sumber dana dan pengalokasiannya, dan juga tentang tingkat kesehatan

BMT-MMU, baik dari segi aspek Jasadiyah maupun Ruhiyah. Kemudian

merelevansikannya sesuai dengan teori-teori yang terkait.

4. Dan terakhir, peneliti menarik suatu kesimpulan dan memberikan saran-

saran untuk perbaikan selanjutnya.


BAB IV

PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN

A. Paparan Data Hasil Penelitian

1. Sejarah Berdirinya BMT MMU

Di tengah badai krisis ekonomi dan moneter yang merontokkan lembaga-

lembaga keuangan yang berbasis pada ribawi, lembaga keuangan yang berbasis

pada syariah terhindar dari krisis. Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama

di Indonesia (berdiri tahun 1992) lolos dari krisis tanpa perlu mendapat Bantuan

Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Kalangan perbankan yang melihat resistensi perbankan syariah dalam

menghadapi krisis dan potensi pasar umat Islam yang begitu besar mulai melirik

sistem ekonomi syariah. Di antara mereka kemudian ramai-ramai mendirikan

perbankan syariah, mengkonversi banknya menjadi bank syariah ataupun

dengan membuka divisi syariah. Sejalan dengan musim semi ekonomi syariah

Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) seperti BPRS dan BMT juga tumbuh

subur (Bakhri, 2004: 22-23).

Bermula dari keprihatinan guru-guru (asatidz) dan pengurus Madrasah

Miftahul Ulum (MMU) Pondok Pesantren Sidogiri dan madrasah-madrasah

ranting atau filial MMU Pondok Pesantren Sidogiri atas perilaku masyarakat

yang cenderung kurang memperhatikan kaidah-kaidah syariah di bidang

muamalat. Yaitu adanya praktik-praktik yang mengarah pada ekonomi ribawi

yang dilarang secara tegas oleh agama.


Asatidz dan pengurus MMU Pondok Pesantren Sidogiri yang mengetahui

bahaya ekonomi ribawi terus berpikir dan berdiskusi untuk mencari gagasan

yang bisa menjawab permasalahan umat tersebut. Akhirnya ditemukan gagasan

untuk mendirikan usaha bersama yang mengarah pada pendirian Lembaga

Keuangan Mikro Syariah (LKMS) untuk mengangkat dan menolong masyarakat

bawah dari jeratan ekonomi ribawi dan mengangkat martabat ekonomi yang

masih dalam kelompok mikro/kecil (Bakhri, 2004: 38-39).

Akhirnya mereka menyetujui untuk membentuk tim kecil yang diketuai

oleh H. Mahmud Ali Zain untuk menggodok dan menyiapkan berdirinya

koperasi, baik yang terkait dengan keanggotaan, permodalan, legalitas koperasi

dan sistem operasionalnya.

Tim berkonsultasi dengan pejabat kantor Dinas Koperasi Pengusaha Kecil

dan Menengah (PK&M) Kabupaten Pasuruan untuk mendirikan koperasi. Di

samping itu, tim kecil juga mendapatkan tambahan informasi tentang BMT

(Baitul Mal wat Tamwil) dari pengurus PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha

Kecil) pusat dalam suatu acara perkoperasian yang diselenggarakan di Pondok

Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo dalam rangka sosialisasi

kerjasama Inkopontren dengan PINBUK pusat yang dihadiri antara lain oleh KH.

Nur Muhammad Iskandar SQ dari Jakarta sebagai ketua Inkopontren, DR.

Subiakto Tjakrawardaya Mentri Koperasi dan DR. Amin Aziz ketua PINBUK

pusat.

Setelah berdiskusi dengan orang-orang yang ahli dalam bidang ekonomi

syariah, maka terbentuklah LKMS dengan nama “Koperasi Baitul Mal wat
Tamwil-Maslahah Mursalah Lil Ummah” disingkat dengan Koperasi BMT-MMU

yang berkedudukan di kecamatan Wonorejo Pasuruan. Jalan ke arah pendirian

koperasi didahului dengan rapat pembentukan koperasi yang diselenggarakan

pada tanggal 25 Muharram 1418 H atau 1 Juni 1997.

Di antara asatidz dan pengurus Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Pondok

Pesantren Sidogiri yang getol memberikan pemikiran dan terlibat langsung

berdirinya Koperasi BMT-MMU yaitu:

a. M. Hadlori Abd. Karim yang saat itu menjabat sebagai kepala MMU

tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri.

b. M. Dumairi Nor yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala MMU

tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri.

c. Baihaqi Ustman saat itu menjabat sebagai Tata Usaha MMU tingkat

Ibtidaiyah.

d. H. Mahmud Ali Zain saat itu menjabat sebagai ketua Koperasi Pondok

Pesantren (Kopontren) Sidogiri dan salah satu ketua DTTM (Dewan

Tarbiyah wat Ta’lim Madrasy).

e. A. Muna’i Ahmad saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala MMU tingkat

Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri.

Selain itu, Koperasi BMT-MMU sangat ditunjang dan didorong oleh

keterlibatan beberapa orang pengurus Kopontren Sidogiri.

Dari diskusi dan konsultasi serta tambahan informasi dari beberapa pihak

maka berdirilah Koperasi BMT-MMU tepatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal

1418 H atau 17 Juli 1997 M. berkedudukan di kecamatan Wonorejo Pasuruan.


Pembukaan dilaksanakan dengan diselenggarakan selamatan pembukaan yang

diisi dengan pembacaan shalawat Nabi Besar Muhammad SAW.

Kantor pelayanan yang dipakai adalah dengan cara kontrak/sewa yang

luasnya ± 16,5 m² pelayanan dilakukan oleh 3 orang karyawan. Modal yang

dipakai untuk usaha didapat dari simpanan anggota yang berjumlah Rp.

13.500.000,- (Tiga belas juta lima ratus ribu rupiah) dengan anggota yang

berjumlah 348 orang terdiri dari para asatidz dan pimpinan serta pengurus MMU

Pondok Pesantren Sidogiri dan beberapa orang asatidz, pengurus Pondok

Pesantren Sidogiri.

2. Visi dan Misi BMT MMU

a. Visi

1) Terbangunnya dan berkembangnya ekonomi umat dengan landasan

syariah Islam.

2) Terwujudnya budaya ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan di

bidang sosial ekonomi.

b. Misi

1) Menerapkan dan memasyarakatkan syariat Islam dalam aktivitas

ekonomi.

2) Menanamkan pemahaman bahwa sistem syariah di bidang ekonomi

adalah ADIL, MUDAH, dan MASLAHAH.

3) Meningkatkan kesejahteraan umat dan anggota.

4) Melakukan aktivitas ekonomi dengan budaya STAF (shiddiq/jujur,

Tabligh/komunikatif, Amanah/dipercaya, Fatonah/profesional).


3. Legalitas BMT

Koperasi BMT-MMU telah mendapat legalitas berupa Badan Hukum

Koperasi dengan nomor 608/BH/KWK.13/IX/97 tanggal 4 September 1997.

Selain itu, juga telah memiliki TDP nomor 13252600099, TDUP nomor

133/13.25/UP/IX/98 dan NPWP nomor 1-718-668.5-624.

4. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari pendirian Koperasi BMT-MMU Sidogiri di

antaranya adalah:

a. Koperasi ini bermaksud menggalang kerjasama untuk membantu

kepentingan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada

umumnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan.

b. Koperasi ini bertujuan memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat

serta ikut membangun perekonomian nasional dalam rangka

mewujudkan masyarakat madani yang berlandaskan Pancasila dan UUD

1945 serta diridlai Allah SWT.

5. Usaha

Usaha yang dilakukan koperasi BMT-MMU Sidogiri meliputi: a) Simpan

Pinjam pola syariah, b) Industri rumah tangga (home industry) produksi roti, c)

Sektor jasa penggilingan padi, dan d) Usaha yang mendapat prioritas adalah

usaha BMT. Manfaatnya sangat dirasakan oleh anggota dan masyarakat umum.

6. Struktur Organisasi

Struktur organisasi yang ada di BMT-MMU Pasuruan bersifat sentralisasi

(terpusat), yaitu segala keputusan dan kebijakan serta wewenang menjadi


tanggungjawab dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Sedangkan struktur

organisasi dalam setiap cabang Simpan Pinjam syariah (SPS) khususnya di BMT-

MMU cabang Wonorejo juga bersifat sentralisasi tetapi setiap keputusan,

kebijakan serta wewenang menjadi tanggungjawab Kepala Cabang. Sehingga

hierarki struktur organisasi bersifat vertikal, dalam artian jabatan yang lebih

rendah bertanggungjawab kepada jabatan yang lebih tinggi.

a. Rapat Anggota

Sesuai dengan Undang-undang RI no 25/1992 tentang Perkoperasian,

bahwa anggota adalah pemilik sekaligus sebagai pelanggan atau pengguna

jasa koperasi. Oleh karenanya Rapat Anggota merupakan kekuasaan tertinggi

dalam lembaga koperasi.

Keanggotaan diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

Koperasi. Keanggotaan koperasi melekat pada diri anggota sendiri dan tidak

dapat dipindahkan kepada orang lain dengan dalih apapun. Setiap anggota

harus tunduk kepada ketentuan dalam AD/ART Koperasi, peraturan khusus

dan keputusan-keputusan rapat anggota.

Pada garis besarnya, anggota koperasi ada dua macam, yaitu anggota

biasa dan anggota luar biasa. Perbedaan yang mencolok dari keduanya

adalah anggota luar biasa tidak berhak memilih atau dipilih menjadi

pengurus atau pengawas. Syarat keanggotaan yang menonjol di Koperasi

BMT-MMU ini adalah berprofesi sebagai guru atau karyawan Madrasah

Miftahul Ulum (AD pasal 5.b).


Rapat anggota dalam lembaga koperasi merupakan kekuasaan tertinggi.

Rapat Anggota Biasa menetapkan:

1) Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

2) Kebijaksanaan umum di bidang organisasi manajemen dan usaha koperasi.

3) Pemilihan, pengangkatan atau pemberhentian pengurus dan atau

pengawas.

4) Penyusunan dan menetapkan RK, RAPB (Rencana Kerja dan Rencana

Anggaran Pendapatan dan Belanja).

5) Pengesahan atau penolakan atas pertanggungjawaban pengurus dan atau

pengawas tentang aktivitas dan usahanya.

6) Pembagian SHU (Surplus Hasil Usaha).

7) Penggabungan atau pembubaran koperasi.

Rapat anggota yang dilaksanakan setiap tahun setelah tutup buku

tahunan disebut RAT (Rapat Anggota Tahunan) yang biasanya dilaksanakan

pada bulan Januari, Februari atau Maret tahun berikutnya. Koperasi BMT-

MMU ini sebenarnya telah melaksanakan RAT dalam setiap tahunnya sejak

berdiri, tetapi pada tahun pertama dan kedua dilaksanakan belum sesuai

dengan petunjuk dari Departemen Koperasi (sekarang Dinas Koperasi PK &

M) karena RATnya dilaksanakan pada bulan Rabi’ul Awal atau bulan Juli.

Setelah berjalan 2 tahun, maka tahun buku diubah dari tahun Hijriyah ke

tahun Miladi sehingga dilaksanakan RAT 1999 pada tanggal 2 Februari 2000

setelah berjalan 2,5 tahun. Adapun perhitungan laporan keuangan tahun 1999
sampai dengan Desember 1999 yakni selama 6 bulan karena adanya kebijakan

perubahan dari tahun Hijriyah ke tahun Miladi.

Baru pada RAT tahun 2000, RAT dilaksanakan sesuai dengan Anggaran

Dasar Koperasi dan dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2001 karena masa

bakti pengurus periode pertama dinyatakan habis pada Desember 2000, maka

pada saat RAT 2000 tersebut, diselenggarakan pemilihan pengurus dan

pengawas untuk periode 2001-2003.

Sebelum dilaksanakan RAT 2000 pengurus menyelenggarakan RAB

(Rapat Anggota Biasa) yaitu pada tanggal 19 Ramadlan 1421 H atau tanggal

15 Desember 2000 untuk membahas rancangan RK-RAPB 2001. Sebelum RAB

ini, telah diselenggarakan RAB yang pertama yaitu pada tanggal 28

September 2000 yang pokok pembahasannya adalah pengurus meminta

persetujuan kepada anggota untuk menjadi anggota koperasi sekunder yaitu

Koperasi Bank Perkreditan Rakyat Untung Surapati yang berkedudukan di

kecamatan Bangil Pasuruan. Akhirnya dalam rapat tersebut memutuskan

menerima usulan pengurus untuk menjadi anggota dan pemilik KBPR

Untung Surapati Bangil dengan dua syarat yaitu KBPR diubah

operasionalnya menjadi BPR syariah dan Koperasi BMT-MMU menjadi

pemilik modal mayoritas.

Keanggotaan BMT-MMU pada tahun 2006-2008 ini ada pembukaan

pendaftaran anggota baru yang dibuka dalam waktu 1 bulan lebih yaitu dari

tanggal 5 Januari s/d 10 Februari setiap tahunnya. Di samping membuka

pendaftaran, pengurus menerima simpanan khusus dari anggota sebagai


tambahan modal koperasi sendiri. Keadaan anggota sampai dengan 31

Desember 2008 adalah:

Tabel 4.1
Jumlah Anggota BMT-MMU
Tahun 2006-2008
Tahun Lama Keluar Sisa Baru Jumlah
2006 666 orang 12 orang 654 orang 111 orang 765 orang
2007 765 orang 21 orang 744 orang 104 orang 848 orang
2008 848 orang 9 orang 839 orang 80 orang 919 orang
(Sumber : RAT BMT-MMU tahun 2006-2008)

b. Pengurus

Pengurus koperasi diangkat oleh anggota dalam Rapat Anggota yang

diselenggarakan untuk kepentingan pengangkatan pengurus atau

dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Pengurus adalah penerima amanat anggota untuk menjalankan organisasi

dan usaha koperasi dengan berlandaskan pada RK-RAPB yang diputuskan

atau ditetapkan dalam rapat anggota.

Jumlah anggota pengurus sedikitnya 3 orang terdiri atas ketua, sekretaris,

bendahara. Sesuai dengan Anggaran Dasar Koperasi, masa jabatan pengurus

adalah 3 tahun. Pengurus harus dipilih dari/oleh anggota dan

bertanggungjawab kepada anggota dalam rapat anggota. Pengurus tidak

menerima gaji akan tetapi berhak menerima uang jasa atau uang kehormatan.

Pengurus berhak mengangkat pengelola (Manager atau Direksi) dengan

sistem kontrak kerja untuk menjalankan dan melaksanakan usaha koperasi.

Pengelola bertanggungjawab kepada pengurus yang mengangkat. Dalam


periode 1997-2000 susunan pengurus mengalami perubahan dan

perampingan yakni pada tahun pertama jumlah pengurus sebanyak 7 orang.

Pada tahun kedua dirampingkan menjadi 5 orang dan ada mutasi jabatan.

Karena periode kepengurusan pertama berakhir pada bulan Desember 2000,

maka RAT 2000 diadakan reformasi pengurus dan pengawas yang

menelorkan keputusan susunan pengurus periode 2001-2003.

Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi.

Berdasarkan RAT di BMT-MMU Pasuruan tahun buku 2008, susunan

kepengurusan BMT-MMU pasuruan adalah sebagai berikut:

1) Pengurus

a) Ketua : HM. Khudlori Abdul Karim

b) Wakil Ketua I : H. Adi Hidayat

c) Wakil Ketua II : H.A. Muna’i Ahmad

d) Sekretaris : Muhammad Mujib

e) Bendahara : H. Majid Bahri

2) Pengawas

a) Bidang Syariah : KH. AD. Rohman Syakur

b) Bidang Manajemen : H. Mahmud Ali Zain

c) Bidang Keuangan : H. Abdullah Rohman

3) Penasehat : KH. Hasbullah Mun’im Kholili

4) Pengelola/Manajerial

a) Manajer : HM. Dumairi Nor

b) Wakil Manajer : H. Eddy Soepardjo


c) Kadiv. Unit BMT : Abdullah Shodiq

d) Kadiv. Unit Riil : M. Masykur Mundzir

e) Kadiv. Ak. Adm : Ahmad Ikhwan

f) Kadiv. Personalia : Abd. Hamid Sanusi

g) Wakadiv. Ak. Adm : Syamsul Arifin Wahab

(Sumber : RAT BMT-MMU 2008)

c. Pengawas

Sesuai dengan Undang-undang RI No 25/1992 pasal 21 bahwa perangkat

organisasi koperasi terdiri dari: 1) Rapat Anggota, 2) Pengurus, dan 3)

Pengawas. Maka keberadaan pengawas koperasi benar-benar diakui di

samping merupakan satu di antara tiga perangkat organisasi. Pengawasan

koperasi dilakukan oleh pengawas yang diangkat dari dan oleh anggota

dalam rapat anggota sekaligus bertanggungjawab kepada anggota.

Pengawasan atas aktivitas koperasi baik tentang keorganisasian ataupun

usaha dilakukan dengan terencana atau mendadak. Apabila dianggap perlu

dan mendapat persetujuan dalam Rapat Anggota, pengawas bisa

menggunakan jasa KJA (Koperasi Jasa Audit) atau akuntan publik untuk

melakukan pemeriksaan atau audit atas aktivitas usaha dan keuangan

koperasi dalam setiap tahunnya.

Pengawas melaksanakan pengawasan paling tidak setiap bulan sekali

yaitu pada saat laporan keuangan bulanan yang dilakukan oleh manager di

hadapan pengawas dan pengurus sehingga jika ada kejanggalan dalam

aktivitas dan usaha atau keuangan maka pengawas bisa menindak lanjutinya.
Manager memberikan laporan keuangan dalam satu bulan operasional terdiri

atas Neraca, Arus Kas (Cash flow), perhitungan Hasil Usaha dan posisi

keuangan.
Gambar 4.1
Struktur Organisasi BMT-MMU

RAT

Pengawas Pengurus
-----------------------------------------------------

Staf Pengurus

Manajer

Kadiv. Keuangan & Adm Kadiv. SPS Kadiv. Usaha Riil


-----------------------------------------------------------------------

KaCab. SPS KaCab. Riil

Sumber : Litbang BMT-MMU Pasuruan

Keterangan:

: Garis intruksi/perintah

-------------- : Garis koordinasi


Gambar 4.2
Struktur Organisasi
Cabang Simpan Pinjam Syariah BMT-MMU

Kepala Cabang

Kasir Surveyor Marketing

Debt, Collector Costumer Services

Sumber : Litbang BMT-MMU Pasuruan

d. Job Description

Pengelola BMT-MMU terdiri dari:

1) Manajer

2) Kepala Divisi SPS

3) Kepala Divisi Riil

4) Kepala Divisi Ak & AD

5) Kepala Cabang

Adapun perincian tugas, wewenang dan tanggungjawab dari masing-

masing jabatan dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya adalah sebagai

berikut:

1) Tugas dan wewenang Manajer

a) Bertanggungjawab kepada pengurus atas segala tugas-tugasnya.

Memimpin organisasi dan kegiatan usaha BMT.


b) Menyusun perencanaan dan pengembangan seluruh usaha BMT.

c) Mengevaluasi dan melakukan pembinaan terhadap seluruh usaha

BMT.

d) Menjalankan setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pengurus.

e) Menyampaikan laporan perkembangan usaha BMT kepada

pengurus setiap bulan sekali.

f) Mengangkat dan memberhentikan karyawan dengan

sepengetahuan pengurus.

g) Menandatangani perjanjian pembiayaan.

h) Memutuskan permohonan pembiayaan sesuai dengan flafon yang

telah ditentukan.

i) Menyetujui atau menolak setiap izin karyawan.

j) Bersama pengurus dan pengawas menetapkan ketentuan gaji

karyawan.

k) Mengupayakan jenis usaha lain yang produktif dengan persetujuan

pengurus.

l) Membuat peraturan karyawan.

m) Menetapkan target pendapatan dari tiap-tiap cabang usaha dalam

masa 1 tahun.

2) Kepala Divisi SPS

a) Bertanggungjawab kepada manajer atas perkembangan usaha SPS.

b) Memimpin seluruh kegiatan usaha SPS.

c) Menyusun perencanaan dan pengembangan usaha SPS.


d) Melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap segala bentuk usaha

SPS.

e) Menyusun dan menyampaikan laporan kepada Manajer tentang

pengelolaan dan perkembangan usaha SPS.

f) Menyusun perencanaan kerja dan perencanaan pendapatan usaha

SPS.

g) Mengatur penempatan karyawan untuk cabang SPS.

h) Bersama manajer mengatur posisi permodalan pada cabang SPS.

i) Pengajuan sarana dan prasarana penunjang kegiatan usaha SPS.

j) Merencanakan target pendapatan pada masing-masing cabang.

3) Kepala Divisi Riil

a) Bertanggungjawab kepada manajer atas perkembangan usaha riil.

b) Memimpin seluruh kegiatan usaha riil.

c) Menyusun perencanaan dan pengembangan usaha riil.

d) Melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap segala bentuk usaha

riil.

e) Menyusun dan menyampaikan laporan kepada manajer tentang

pengelolaan dan perkembangan usaha riil.

f) Menyusun perencanaan kerja dan perencanaan pendapatan usaha

riil.

g) Mengatur penempatan karyawan untuk cabang riil.

h) Bersama manajer mengatur posisi permodalan pada cabang riil.

i) Pengajuan sarana dan prasarana penunjang kegiatan usaha riil.


j) Merencanakan target pendapatan pada masing-masing cabang.

4) Kepala Divisi Ak dan AD

a) Bertanggungjawab kepada manajer atas tugas-tugasnya.

b) Mengawasi, mengevaluasi dan melakukan pembinaan akuntansi

dan administrasi kepada seluruh cabang.

c) Melakukan pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana

BMT-MMU dengan persetujuan manajer.

d) Menyusun dan melaporkan kegiatan BMT-MMU kepada manajer.

e) Berkoordinasi dengan Kepala Divisi lainnya dalam mengatur

sirkulasi keuangan semua unit usaha BMT-MMU.

f) Mengatur administrasi karyawan yang bersifat ketenagakerjaan.

g) Melakukan audit keuangan pada masing-masing unit usaha BMT-

MMU.

h) Menyampaikan informasi dari pusat kepada seluruh jajaran

karyawan.

5) Kepala Cabang SPS

a) Bertanggungjawab kepada Kepala Divisi SPS atas tugas-tugasnya.

b) Memimpin organisasi dan kegiatan usaha cabang SPS.

c) Mengevaluasi dan memutuskan setiap permohonan pembiayaan.

d) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pengembalian

pembiayaan.

e) Menandatangani perjanjian pembiayaan.

f) Menandatangani buku tabungan dan warkat Mudharabah.


g) Menyampaikan laporan pengelolaan BMT kepada Kepala Divisi

SPS setiap bulan sekali.

7. Kantor Cabang

Pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1418 H atau 17 Juli 1997, cabang pertama

didirikan di Wonorejo tepatnya di sebelah barat Pasar Wonorejo dengan kantor

yang berukuran ± 16,5 m² dengan usaha BMT, Balai Usaha Terpadu atau Simpan

Pinjam Syariah (SPS).

Setahun kemudian membuka cabang kedua yaitu usaha pertokoan yang

ditempatkan di sebelah utara Pasar Wonorejo. Setengah tahun kemudian BMT

membuka kembali cabang yang ketiga yaitu usaha pembuatan dan penjualan roti

yang ditempatkan di desa sidogiri. Dan kemudian dibukalah usaha BMT yang

diletakkan di desa Sidogiri juga, dan usaha ini menjadi cabang BMT-MMU yang

keempat.

Dengan demikian pada tahun 2000 BMT-MMU hanya memiliki 4 cabang.

Namun untuk selanjutnya dibuka pula beberapa cabang secara berturut-turut,

yaitu:

a. Unit 5 ditempatkan di Jl. Raya Utara Pasar Warungdowo, yang

operasionalnya dimulai pada tanggal 22 April 2001.

b. Unit 6 ditempatkan di Stan Pasar Baru Kraton, yang operasionalnya

dimulai pada tanggal 21 Mei 2001.

c. Unit 7 ditempatkan di Depan Kopontren Sidogiri Unit 9 Rembang, yang

operasionalnya dimulai pada tanggal 18 Juni 2001.


d. Unit 8 ditempatkan di Jetis Dhompo Kraton Timur Balai Desa Pasuruan,

yang operasionalnya dimulai pada tanggal 27 November 2001.

e. Unit 9 ditempatkan di Stan Pasar Utara Nongkojajar, yang operasionalnya

dimulai pada tanggal 17 April 2002.

f. Unit 10 ditempatkan di Jl. Raya Pasar Kalipang Grati, yang operasionalnya

dimulai pada tanggal 26 April 2002.

g. Unit 11 ditempatkan di Jl. Raya Timur Pasar Ranggeh Gondangwetan,

yang operasionalnya dimulai pada tanggal 30 Juni 2002.

h. Unit 12 ditempatkan di Stan Pasar Prigen Pandaan Pasuruan, yang

operasionalnya dimulai pada awal Maret 2004.

i. Unit 13 ditempatkan di Stan Pasar Kebonagung Blok WB-54 Pasuruan.

j. Unit 14 ditempatkan di Jl. Raya Barat Pasar Purwosari Pasuruan.

k. Unit 15 ditempatkan di Jl. Pasar Palang No. 20 Sukorejo Pasuruan.

l. Unit 16 ditempatkan di Jl. Urip Sumoharjo No. 12 Pandaan Pasuruan.

m. Unit 17 ditempatkan di Jl. Raya Nguling Pasuruan.

n. Unit 18 ditempatkan di Jl. Raya Kedawung Kulon Grati Pasuruan.

o. Unit 19 ditempatkan di Jl. Raya Pasar Winongan Pasuruan.

p. Cabang 20 ditempatkan di Jl. Raya Pasar Gerbo Purwodadi Pasuruan.

q. Unit 21 di Jl. Raya Gondanglegi Beji Pasuruan.

r. Unit 22 di Jl. Raya Lekok Pasuruan.

s. Unit 23 di Jl. Raya Bromo No. 16 Pasrepan Pasuruan.

(Sumber : RAT 2008 BMT-MMU Pasuruan)


8. Permodalan

Sekalipun koperasi primer ini sebagai wadah perkumpulan orang dan

bukan terfokus pada pengumpulan modal namun lembaga koperasi adalah

lembaga yang mengarah pada perilaku bisnis yang mempunyai orientasi pada

profit yang membutuhkan modal untuk memulai dan melakukan aktivitasnya.

Modal perusahaan koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal

pinjaman (AD pasal 39), modal sendiri terdiri atas:

a. Simpanan pokok

b. Simpanan wajib

c. Dana cadangan

d. Hibah/donasi

Sedangkan modal pinjaman bisa didapat dari:

a. Anggota

b. Koperasi lain atau anggotanya

c. Bank atau lembaga keuangan non bank

d. Penerbitan obligasi atau surat utang lainnya

e. Sumber lain yang sah dan halal

Selain dari itu koperasi melakukan pemupukan modal yang berasal dari

modal penyertaan dengan cara yang ditetapkan dalam ART atau peraturan

khusus koperasi.

Karena pembukaan pendaftaran anggota dibatasi dengan waktu maka

keadaan modal tidak selalu berubah akibat pendaftaran anggota baru. Menurut

ketentuan dalam AD dan ART koperasi, Simpanan pokok anggota sebesar


Rp10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Simpanan wajib yang harus dibayar di awal

tahun atau setiap bulan dalam satu tahunnya sebesar Rp5.000,- (lima ribu rupiah),

sedangkan simpanan khusus tidak ditentukan nominalnya tetapi hanya

ditentukan kelipatannya yakni Rp5.000,-.

Berdasarkan keputusan RAT 2000 setiap anggota yang akan mengisi

simpanan khusus dibatasi paling besar Rp5.000.000,- selebihnya dari itu bisa

dimasukkan dalam rekening tabungan atau menjadi modal penyertaan. Pada

RAT 2001 simpanan khusus dibatasi paling besar Rp10.000.000,- dan RAT 2002

seluruh simpanan setiap anggota maksimal sebesar Rp20.000.000,-. Sedangkan

dalam RAT 2003 simpanan khusus dibatasi maksimal Rp25.000.000,-.

9. Sistem Operasional

BMT singkatan dari Baitul Mal wat Tamwil atau Balai Usaha Mandiri

Terpadu adalah merupakan sistem simpan pinjam dengan pola syariah. Sistem

BMT ini adalah konsep muamalah syariah, tenaga yang menangani kegiatan

BMT ini telah mendapat pelatihan dari BMI (Bank Muamalat Indonesia) cabang

Surabaya dan PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) Pasuruan dan Jawa

Timur. Di samping pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga-

lembaga professional.

BMT menghimpun dana dari anggota dan calon anggota atau masyarakat

dengan akad wadi’ah atau mudharabah/qirad atau qard. Sedangkan peminjaman

atau pembiayaan dengan menggunakan salah satu di antara 5 akad, yaitu:

mudharabah/qirad, musyarakah/syirkah, murabahah, bai’ bitsaman ajil dan qard hasan.


Dalam muamalah pola syariah tidak menggunakan imbalan bunga, tapi

menggunakan imbalan bagi hasil untuk mudharabah dan musyarakah atau imbalan

laba untuk murabahah dan bai’ bitsamanil ajil (BBA). Qard hasan biasanya dipakai

untuk kegiatan yang bersifat sosial (nirlaba).

10. Mitra Kerja

Koperasi BMT-MMU mempunyai beberapa mitra yang ikut mendukung

aktifitas koperasi ini, di antaranya adalah:

a. Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri ( Kopontren Sidogiri). Koperasi ini

merupakan koperasi tertua di antara mitra-mitra yang ada, berdiri pada

tahun 1961 dan terus berjalan sampai sekarang. Kopontren Sidogiri inilah

yang mendorong dan mendukung berdirinya Koperasi BMT-MMU.

Banyak bantuan teknis yang diberikan pada Koperasi BMT-MMU

terutama pada saat pengajuan Badan Hukum koperasi. Kopontren

Sidogiri baru memiliki Badan Hukum pada tanggal 15 Juli 1997 dengan

nomor: 441/BH/KWL.13/VII/97.

Kopontren Sidogiri banyak bergerak di sektor riil dan jasa, tidak memiliki

usaha BMT/simpan pinjam. Pada Desember 2003 Kopontren Sidogiri

sudah memiliki 10 unit usaha yang meliputi usaha Toserba, Toko Kitab,

Kelontong, pakaian jadi, paracangan, kantin, percetakan dan alat-alat tulis,

Warpostel dan Toko Swalayan. SHU Kopontren Sidogiri ± 88% diserahkan

kepada Pesantren sebagai tambahan Anggaran Pendapatan dan Belanja

(APB) Pondok Pesantren Sidogiri.


b. Koperasi PER Malabar Pasrepan Pasuruan. Koperasi ini mulai beroperasi

sejak September 1999 dan telah berbadan hukum sejak Desember 1999

dengan nomor: 173/BH/KDK.13.14/XII/1999. Koperasi ini pertama

operasi dengan usaha simpan pinjam pola syariah yakni pola bagi hasil

kemudian pada tahun kedua membuka sektor riil dan jasa. Koperasi PER

Malabar ini ada kesamaan usaha dengan usaha yang ada di BMT-MMU.

Adapun kemitraan antara kedua koperasi adalah saling membantu dalam

aktiva dan pasiva antar BMT. Koperasi PER Malabar yang berkedudukan

di kecamatan Pasrepan Pasuruan sudah mengadakan RAT pertama.

c. Koperasi UGT (Usaha Gabungan Terpadu) Sidogiri. Koperasi ini

anggotanya tersebar di wilayah propinsi Jawa Timur dan telah berbadan

hukum sejak bulan Juli 2000 dengan nomor: 09/BH/KWK.13/VII/2000

dan telah memulai operasinya sejak 8 Juni 2000 di Surabaya. Kemudian

pada bulan September 2000 dibuka cabang UGT kedua yang ditempatkan

di kota Jember.

Koperasi ini akan membuka UPK (Unit Pelayanan Koperasi) di beberapa

kabupaten di Jawa Timur yang berdekatan dengan domisili anggota

koperasi. Koperasi BMT-MMU bermitra dengan Koperasi UGT karena

memiliki kesamaan dalam mengelola usaha dan saling mengisi aktiva

atau pasiva masing-masing.

d. Koperasi Muawanah (Komu) berkedudukan di Lekok Pasuruan. Koperasi

ini dikelola oleh warga Nahdlatul Ulama kabupaten Pasuruan. Koperasi

ini relatif muda jika dibanding dengan koperasi mitra yang lain karena
koperasi ini baru beroperasi mulai tanggal 17 Agustus 2000 dan telah

mendapatkan Badan Hukum pada tanggal 23 November 2000 dengan

nomor: 10/BH/KDK.13.14/XI/2000.

Koperasi BMT-MMU menjalin kerjasama/kemitraan dengan Koperasi

Muawanah karena memiliki kesamaan dalam pengelolaan cabang usaha

simpan pinjam pola syariah atau BMT. Kemitraan bisa dilakukan dengan

cara saling mengisi dan membantu aktiva atau pasiva antar BMT/SPS.

Koperasi BMT-MMU bersama Komu akan membuka UPK di kecamatan-

kecamatan kabupaten Pasuruan yang dinilai menguntungkan dan

maslahah bagi kehidupan masyarakat terutama untuk membantu

permodalan bagi pengusaha kecil dan mikro yang jarang mendapatkan

perhatian di bidang akses dana.

e. Koperasi Bank Perkreditan Rakyat Syariah “Untung Surapati” Bangil.

Koperasi ini semula berbentuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang

beroperasi secara konvensional. Kemudian setelah mendapat persetujuan

prinsip dan izin usaha dari Bank Indonesia pada tanggal 11 Agustus 2001

maka BPR ini pindah menjadi syariah dengan nama KBPRS (Koperasi

Bank Perkreditan Rakyat Syariah) Untung Surapati. Koperasi BPR Syariah

ini berdasarkan hukum koperasi sekunder yang beranggotakan badan

hukum koperasi primer.

Koperasi ini pada saat beroperasi konvensional tahun 2000 anggotanya

hanya dua koperasi primer. Kemudian pada bulan Februari 2001,

anggotanya bertambah 4 koperasi termasuk di antaranya Koperasi BMT-


MMU Sidogiri Pasuruan. KBPRS Untung Surapati pada posisi Desember

1999 dan 2000 (sebelum syariah) mengalami SHU minus, namun pada

posisi Desember 2001 (setelah syariah) SHU KBPRS Untung Surapati

sudah membukukan laba (surplus).

11. Produk Operasional BMT

Adapun produk-produk yang ditawarkan oleh BMT-MMU pasuruan

adalah sebagai berikut:

a. Simpanan/Tabungan Mudharabah atau Wadiah Yad ad-Dhamanah

1) Tabungan Umum Syariah

2) Tabungan Berjangka

3) Tabungan Aqiqah/Idul Qurban

4) Tabungan Haji

5) Tabungan Ziarah/Wisata

b. Pinjaman/Pembiayaan

1) Mudharabah/MDA (bagi hasil)

2) Murabahah/MRB (modal kerja)

3) Musyarakah/MSA (penyertaan)

4) Bai’ Bitsamanil Ajil/BBA (investasi)

5) Qardul Hasan/QH (kebajikan)

c. ZIS (Zakat, Infaq, dan Shadaqah)

1) Menerima zakat, infaq, dan shadaqah

2) Menyalurkan ZIS kepada mustahiknya baik bersifat produktif atau

konsumtif.
d. Produk unit produksi

1) Pembuatan roti

2) Menerima pesanan berbagai macam jenis roti

e. Produk unit jasa

1) Jual beli gabah/beras.

2) Menerima penggilingan padi.

B. Pembahasan Data Hasil Penelitian

1. Penghimpunan Dana

Dana-dana yang dihimpun oleh pihak BMT-MMU sebagian besar adalah

dari produk-produk BMT-MMU yang ditawarkan, dan tidak menutup

kemungkinan pula berasal dari perorangan ataupun instansi sebagai hibah yang

diberikan secara cuma-cuma kepada pihak BMT-MMU. Usaha yang dijalankan

oleh BMT-MMU tidak hanya sebatas unit Simpan Pinjam Syariah (SPS) saja,

tetapi juga meliputi usaha produksi roti yang ada di unit 3 dan usaha

penggilingan padi di unit 8.

Dari hasil wawancara peneliti dengan Manajer BMT-MMU, dijelaskan

bahwasanya:

Sumber dana yang diperoleh oleh BMT-MMU dapat digolongkan menjadi


tiga kelompok. Pertama, modal sendiri yang terdiri dari simpanan pokok
anggota, simpanan wajib anggota, simpanan khusus, dan dana penyertaan.
Kedua, pinjaman pihak luar. Pinjaman ini merupakan kerjasama pihak
BMT-MMU dengan pihak bank yang juga berlandaskan dengan prinsip
syariah yang di antaranya adalah kerjasama dengan Bank Syariah Mandiri
Cabang Sidoarjo, BNI Syariah Cabang Malang, serta Bank Muamalat
Indonesia Cabang Surabaya. Ketiga, terdiri dari tabungan umum
mudharabah dan tabungan mudharabah berjangka, ada pula dari dana
sosial (zakat, infaq, dll) (Wawancara: Bpk. HM Dumairi Nor, Tanggal 23
April 2009, jam 09.00-10.30 di kantor pusat).

Berdasarkan hasil wawancara di atas, secara umum berlaku untuk semua

cabang BMT-MMU unit Simpan Pinjam Syariah (SPS). Namun dengan sistem

sentralisasi yang diterapkan oleh BMT-MMU, untuk dana likuiditas atau kas

sebesar 10% dan SHU berjalan dari tiap-tiap cabang harus disetor ke BMT pusat.

Sumber dana tersebut antara lain adalah:

a. Dana pihak 1

Dana pihak 1 ini terdiri dari modal sendiri yang di dalamnya terrmasuk

simpanan anggota (simpanan pokok Rp10.000,-, simpanan wajib

Rp50.000,-, dan simpanan khusus maksimal Rp49.940.000,-).

c. Dana pihak 2

Dana ini diperoleh BMT-MMU dari pinjaman Lembaga Keuangan Syariah

yang terdiri dari Bank BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank

Muamalat Indonesia, dan Permodalan Nasional Madani (PNM). Atas

dasar kepercayaan dari masyarakat maupun dari lembaga keuangan lain,

BMT-MMU kadangkala mendapatkan pinjaman dari pihak luar tanpa

harus melakukan permohonan pinjaman terlebih dahulu bahkan tanpa

jaminan. Untuk sumber dana pihak 2 ataupun pinjaman pihak 3

(pinjaman pihak luar) hanya dapat dilakukan oleh BMT-MMU pusat.

Sedangkan cabang-cabang BMT-MMU tidak bisa melakukan pinjaman

secara langsung pada pihak luar.


d. Dana pihak 3

Dana pihak 3 ini diperoleh dari titipan (Wadi’ah), tabungan (Mudharabah)

dari masyarakat. Adapun produk-produk tabungan yang ada pada BMT-

MMU ialah:

1) Tabungan Wadi’ah

Tabungan yang berupa titipan biasa tanpa adanya bagi hasil, tetapi

dapat diberikan imbalan atau bonus tergantung pada keridhaan

Mudharib.

2) Tabungan Mudharabah Umum

Simpanan yang bisa ditarik sewaktu-waktu oleh Shahibul maal. Dan

sistem bagi hasil dalam tabungan ini adalah tergantung pada saldo

rata-rata tabungan anggota.

3) Tabungan MDA Berjangka

Simpanan yang bisa ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah

disepakati bersama antara pihak BMT (Mudharib) dengan nasabah

(Shahibul maal). Untuk sistem bagi hasil dalam tabungan ini tidak

hanya tergantung pada saldo rata-rata tabungan, akan tetapi juga

tergantung pada nisbah yang ditetapkan oleh BMT. Nisbah tabungan

mudharabah berjangka di BMT-MMU adalah 3 bulan (52 : 48), 6 bulan

(55 : 45), 9 bulan (57 : 43), dan 12 bulan (60 : 40).


4) Dana Sosial

Yang termasuk dana sosial dalam BMT-MMU adalah zakat yang

berasal dari zakat per tahun yang dikeluarkan oleh BMT-MMU serta

dana sosial lainnya yang berasal dari anggota yang didapat dari total

keseluruhan SHU dipotong sebesar 10%.

Berikut ini penghimpunan dana yang telah dilakukan oleh pihak BMT-

MMU selama tiga tahun terakhir (2006-2008) baik yang berasal dari pihak 1,

pihak 2, dan pihak 3, adalah:

Tabel 4.2
Sumber Dana Dari Berbagai Pihak
KETERANGAN TH 2006 TH 2007 TH 2008
Pihak 1
Modal Penyertaan dr Pusat - - -
Modal Penyertaan Lainnya - - -
Simpanan Pokok Anggota 38,250,000.00 8,480,000.00 9,190,000.00
Simpanan Wajib Anggota 45,900,000.00 42,400,000.00 50,545,000.00
Simpanan Khusus 2,405,995,000.00 3,154,180,000.00 3,940,135,000.00
Dana Penyertaan 1,065,000.00 25,000,000.00 1,065,000.00
Dana Cadangan Umum 644,025,188.39 818,125,900.39 1,113,269,687.96
Jumlah Dana Pihak 1 3,135,235,188.39 4,048,185,900.39 5,114,204,687.96
pihak 2
Antar Koperasi Pasiva - - -
Pinjaman dr Bank & Non
Bank 2,645,829,150.00 2,416,666,320.00 2,433,333,040.00
Jumlah Dana Pihak 2 2,645,829,150.00 2,416,666,320.00 2,433,333,040.00
Pihak 3
Tabungan MDA Umum 12,567,889,068.49 17,219,556,106.61 26,798,366,563.06

Tabungan MDA Berjangka 659,900,000.00 - 171,457,527.27

Tabungan Wadiah 211,481,643.74 113,710,029.71 192,126,561.74

Tabungan Deposito - 781,850,000.00 1,053,690,000.00


Antar Koperasi Pasiva - - -
Dana Pendidikan 1,393,675.00 1,973,825.00 6,757.51
Zakat - - -

Dana Sosial 6,020,687.88 5,020,008.30 15,379,503.78

Total Dana Pihak 3 13,446,685,075.11 18,122,109,969.62 28,231,026,913.36


Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah dana terbesar BMT-MMU

adalah bersumber dari dana pihak ketiga atau dana yang dihimpun dari

masyarakat luas, yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun

2006 sebesar Rp13.446.685.075,11 menjadi sebesar Rp28.231.026.913,36 pada

tahun 2008.

Dengan peningkatan sumber dana yang berhasil dihimpun oleh BMT-

MMU selama kurun waktu 3 tahun terakhir itu, peneliti dapat menyatakan

bahwa kinerja BMT-MMU dalam melakukan penghimpunan dana, khususnya

dana pihak ketiga sangatlah baik. Hal ini juga membuktikan bahwa BMT-MMU

telah mendapat kepercayaan dari masyarakat dan lembaga keuangan lainnya

sebagai lembaga keuangan yang mampu mengelola keuangan dengan baik dan

sesuai syariat Islam.

Terdapat hal lain pula yang menjadikan masyarakat begitu percaya

terhadap BMT-MMU ini, adalah seluruh karyawan BMT-MMU adalah santri

alumni Pondok Pesantren Sidogiri yang berakhlak mulia serta amanah.


2. Pengalokasian Dana

BMT-MMU tidak hanya bergerak di bidang sosial, akan tetapi juga

berorientasi komersil, artinya bertujuan untuk mendapatkan laba (profit). Berikut

ini adalah cara-cara yang dilakukan oleh BMT-MMU dalam memperoleh laba:

a. Menjual produk-produk pembiayaan kepada masyarakat. Produk-produk

pembiayaan tersebut antara lain:

1) Pembiayaan BBA (Bai’ Bitsamanil Ajil) dengan sistem margin.

2) Pembiayaan MDA (Mudharabah) dengan sistem bagi hasil.

3) Pembiayaan MRB (Murabahah) dengan sistem margin.

4) Pembiayaan antar koperasi aktiva dengan sistem bagi hasil.

Berikut ini dapat dilihat jumlah dana pembiayaan yang telah disalurkan

oleh BMT-MMU selama periode 2006-2008 adalah:

Tabel 4.3
Produk Pembiayaan di BMT-MMU
Periode 2006-2008

PEMBIAYAAN TH 2006 TH 2007 TH 2008

Investasi 374,365,365.98 567,000,000.00 677,000,000.00

Pembiayaan BBA 6,687,126,340.00 8,198,291,239.00 13,764,510,507.00

Pembiayaan MSA 5,000,000.00 - -

Pembiayaan MDA 5,563,113,826.00 5,456,807,494.00 6,201,403,032.00

Pembiayaan MRB 281,022,047.00 256,408,678.00 610,488,887.00

Pembiayaan QORD 166,914,267.00 593,313,977.00 1,063,443,050.00

Pembiayaan Lain-lain 7,000,000.00 7,000,000.00 7,000,000.00


Total Pembiayaan
13,084,541,845.98 15,078,821,388.00 22,323,845,476.00
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU.

b. Penyaluran pada sektor Riil

BMT-MMU tidak hanya memiliki usaha Simpan Pinjam Syariah (SPS),

tetapi terdapat pula usaha lain yang bergerak pada sektor riil sebagai

tempat penyaluran atau pengelolaan dana. Adapun usaha sektor riil yang

dijalankan oleh BMT-MMU ialah:

1) Pabrik roti

Pabrik roti ini merupakan salah satu usaha yang didirikan pihak BMT-

MMU dengan tujuan agar dana yang ada di BMT-MMU dapat

tersalurkan secara optimal.

2) Penggilingan padi

Usaha ini dapat berjalan cukup baik juga, karena masyarakat

lingkungan di sekitarnya mayoritas bermata pencaharian sebagai

petani.

Jika diamati dari cara BMT-MMU dalam memperoleh sumber dana dan

mengelola/menyalurkan dananya, maka manajemen dana pada BMT-MMU

tergolong menggunakan Pool of Funds Approach, yaitu melihat sumber-sumber

dana dan penempatannya. Yang melandasi konsep ini adalah semua jenis

sumber dana disatukan dalam satu wadah (pool) dengan tanpa memilah-milah

berdasarkan jenis dan sifat dananya, untuk kemudian disalurkan.


Gambar 4.3
Pengelolaan Dana

Sumber & Penggunaan Dana

(Pool of Funds Approach)

Pada BMT-MMU Pasuruan

Penggunaan Dana
Sumber Dana

Primary Reserve
Deposito/Tabungan
Mudharabah
Berjangka Secondary Reserve

Pinjaman Pihak III Pembiayaan BBA

Pembiayaan MSA
Tabungan MDA
Umum
Pool of Pembiayaan MDA
Funds
Tabungan Wadi’ah Pembiayaan MRB

Antar Koperasi Pembiayaan Qard


Pasiva
Pembiayaan Lain
Dana SHU
Antar Koperasi
Aktiva

Aktiva Tetap

Bi. Operasional

Qardul Hasan
Dana ZIS
Aktivitas Sosial
Penjelasan Gambar Pool of Funds

a. Sumber Dana BMT-MMU:

1) Tabungan Wadi’ah

Tabungan yang berupa titipan biasa tanpa adanya bagi hasil, tetapi dapat

diberikan imbalan atau bonus tergantung pada keridhaan Mudharib.

2) Tabungan MDA Umum

Simpanan yang bisa ditarik sewaktu-waktu.

3) Tabungan MDA Berjangka

Simpanan yang bisa ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah

disepakati bersama.

4) Pinjaman Pihak Ketiga

Pinjaman kepada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) dan

pinjaman dari bank syariah lainnya.

5) Antar Koperasi Pasiva

Pembiayaan yang diterima BMT dari koperasi lainnya (Koperasi mitra

BMT).

6) Dana SHU

Dana penyisihan SHU.


7) Dana Zakat

Zakat yang dikeluarkan BMT per tahun.

b. Penggunaan Dana BMT-MMU:

1) Primary Reserve

Cadangan utama yang harus dipelihara BMT demi memenuhi kebutuhan

likuiditas BMT. Selain itu dapat diperlukan untuk memenuhi permintaan

nasabah yang muncul secara tiba-tiba yang terdiri dari: kas dan bank

(BPRS Untung Suropati) untuk menyimpan likuiditas apabila kas berlebih,

selain itu dimanfaatkan untuk sarana transfer antar daerah.

2) Secondary Reserve

Cadangan tunai kedua yang berfungsi sebagai penyangga posisi Primary

Reserve, yang terdiri dari: investasi, yaitu keikutsertaan dalam penanaman

modal di BPRS Untung Suropati, INKOPSYAH Jakarta dan pembelian

tanah Pasrepan dan Tanggulangin Kejayan.

3) Pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil/BBA (Jual beli)

Pembiayaan dengan sistem jual beli yang dilakukan secara angsuran

terhadap pembelian suatu barang.

4) Pembiayaan Musyarakah/MSA (Penyertaan)

Pembiayaan berupa sebagian modal yang diberikan kepada nasabah dari

modal keseluruhan.
5) Pembiayaan Mudharabah/MDA (Bagi hasil)

Pembiayaan modal kerja sepenuhnya oleh BMT, sedang nasabah

menyediakan usaha dan manajemennya.

6) Pembiayaan Murabahah/MRB (Investasi)

Pembayaran dilakukan pada saat jatuh tempo dan satu kali lunas beserta

mark-up (laba) sesuai dengan kesepakatan bersama.

7) Pembiayaan Qard (Kebajikan)

Pembiayaan yang bersifat sosial (nirlaba).

8) Pembiayaan Lain-lain

Pembiayaan yang dihasilkan dengan akad selain MDA, MRB, MSA, BBA,

dan Qard. Misalnya akad nadzar.

9) Antar Koperasi Aktiva

Memberikan pembiayaan kepada koperasi mitra BMT, yaitu Koperasi

Muawanah, PER MALABAR, Kopontren Sidogiri dan Koperasi Unit

Gabungan Terpadu.
Tabel 4.4
Komposisi Sumber dan Penggunaan Dana BMT-MMU
Periode 2006-2008

Sumber dan Penggunaan Dana Tahun 2006

Sumber Jumlah % komposisi Penggunaan Jumlah % Komposisi


a. Tabungan MDA Umum 12,567,889,068.49 76.38 I Primary Reserve 4,540,368,550.58 21.49 III
b. Tabungan MDA Berjangka 659,900,000.00 4.01 III Secondary Reserve 374,365,365.98 1.77
c. Tabungan Wadiah 211,481,643.74 1.29 Pembiayaan BBA 6,687,126,340.00 31.66 I
d. Tabungan Deposito - - Pembiayaan MSA 5,000,000.00 0.02
e. Antar Koperasi Pasiva - - Pembiayaan MDA 5,563,113,826.00 26.34 II
f. Pinjaman dr Bank & non Bank 2,645,829,150.00 16.08 II Pembiayaan MRB 281,022,047.00 1.33
g. Dana SHU 252,288,250.00 1.53 Pembiayaan QORD 166,914,267.00 0.79
Sub Total Sumber Dana 16,337,388,112.23 Pembiayaan Lain-lain 7,000,000.00 0.03
h. Dana ZIS 116,125,790.00 0.71 Antar Koperasi Aktiva 248,333,520.00 1.18
Aktiva Tetap 1,522,695,125.00 7.21
Bi. Operasional 1,611,738,392.70 7.63
Sub Total Penggunaan 21,007,677,434.26
Aktivitas Sosial 116,125,790.00 0.55
Total Sumber Dana 16,453,513,902.23 100.00 Total Penggunaan Dana 21,123,803,224.26 100.00
Selisih 4,670,289,322.03
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU, Data Diolah Peneliti
Sumber dan Penggunaan Dana Tahun 2007

Sumber Jumlah % komposisi Penggunaan Jumlah % Komposisi


a. Tabungan MDA Umum 17,219,556,106.61 82.14 I Primary Reserve 8,256,376,272.44 30.05 I
b. Tabungan MDA Berjangka - - Secondary Reserve 567,000,000.00 2.06
c. Tabungan Wadiah 113,710,029.71 0.54 Pembiayaan BBA 8,198,291,239.00 29.84 II
d. Tabungan Deposito 781,850,000.00 3.73 III Pembiayaan MSA - -
e. Antar Koperasi Pasiva - - Pembiayaan MDA 5,456,807,494.00 19.86 III
f. Pinjaman dr Bank & non Bank 2,416,666,320.00 11.53 II Pembiayaan MRB 256,408,678.00 0.93
g. Dana SHU 295,143,787.57 1.41 Pembiayaan QORD 593,313,977.00 2.16
Sub Total Sumber Dana 20,826,926,243.89 Pembiayaan Lain-lain 7,000,000.00 0.03
h. Dana ZIS 135,740,935.00 0.65 Antar Koperasi Aktiva 81,666,960.00 0.30
Aktiva Tetap 1,497,740,555.00 5.45
Bi. Operasional 2,427,096,310.96 8.83
Sub Total Penggunaan 27,341,701,486.40
Aktivitas Sosial 135,740,935.00 0.49
Total Sumber Dana 20,962,667,178.89 100.00 Total Penggunaan Dana 27,477,442,421.40 100.00
Selisih 6,514,775,242.51
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU, Data Diolah Peneliti
Sumber dan Penggunaan Dana Tahun 2008

Sumber Jumlah % komposisi Penggunaan Jumlah % Komposisi


Tabungan MDA Umum 26,798,366,563.06 85.89 I Primary Reserve 12,097,576,830.40 30.29 II
Tabungan MDA Berjangka 171,457,527.27 0.55 Secondary Reserve 677,000,000.00 1.70
Tabungan Wadiah 192,126,561.74 0.62 Pembiayaan BBA 13,764,510,507.00 34.47 I
Tabungan Deposito 1,053,690,000.00 3.38 III Pembiayaan MSA - -
Antar Koperasi Pasiva - - Pembiayaan MDA 6,201,403,032.00 15.53 III
Pinjaman dr Bank & non Bank 2,433,333,040.00 7.80 II Pembiayaan MRB 610,488,887.00 1.53
Dana SHU 400,503,031.64 1.28 Pembiayaan QORD 1,063,443,050.00 2.66
Sub Total Sumber Dana 31,049,476,723.71 Pembiayaan Lain-lain 7,000,000.00 0.02
Dana ZIS 150,273,761.13 0.48 Antar Koperasi Aktiva 460,000,000.00 1.15
Aktiva Tetap 1,652,986,135.00 4.14
Bi. Operasional 3,252,065,361.02 8.14
Sub Total Penggunaan 39,786,473,802.42
Aktivitas Sosial 150,273,761.13 0.38
Total Sumber Dana 31,199,750,484.84 100.00 Total Penggunaan Dana 39,936,747,563.55 100.00
Selisih 8,736,997,078.71
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU, Data Diolah Peneliti
3. Komposisi Sumber dan Penggunaan Dana BMT-MMU

Dana yang dihimpun oleh BMT-MMU berasal dari berbagai pihak dan

sumber yang sesuai dengan syariat Islam. Menurut data yang telah diolah oleh

peneliti, komposisi sumber dana terbesar adalah berasal dari Tabungan

Mudharabah Umum di peringkat pertama. Pada tahun 2006 Tabungan MDA

Umum sebesar Rp12.567.889.068,49 atau sebesar 76,38% dari total keseluruhan

komposisi sumber dana. Begitu pula pada tahun 2007 dan pada tahun 2008

jumlah Tabungan MDA Umum meningkat menjadi Rp26.798.366.563,06 atau

sebesar 85,89%.

Sedangkan yang menduduki peringkat kedua setiap tahunnya dalam

komposisi sumber dana BMT-MMU adalah berasal dari pinjaman bank dan non

bank. Tahun 2006 BMT-MMU mendapatkan pinjaman dari pihak luar adalah

sebesar Rp2.645.829.150,00 atau sebesar 16,08% dari total keseluruhan sumber

dana yang ada. Pada tahun 2007 sebesar 11,53%, hingga pada tahun 2008

semakin menurun menjadi 7,80%. Dengan semakin menurunnya tingkat

pinjaman BMT-MMU terhadap pihak luar setiap tahunnya, itu menunjukkan

bahwa tingkat ketergantungan BMT-MMU pada pihak luar juga semakin kecil.

Namun pinjaman pihak luar tersebut tetap menjadi komposisi sumber dana

terbesar kedua. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan manager BMT-

MMU yang mengatakan:

Karena sangat dipercayanya BMT-MMU oleh masyarakat dan lembaga


lain, kadangkala pihak luar khususnya Bank BNI Syariah menawarkan
dan memberikan pinjaman dana kepada BMT-MMU dengan sistem bagi
hasil. Hal ini memberikan kemudahan bagi pihak BMT-MMU dalam
memperoleh dana, selain itu juga memberikan keuntungan pada BMT-
MMU karena pinjaman tersebut tidak perlu disertai dengan adanya
jaminan (Wawancara: Bpk. Dumairi Nor, Tanggal 23 April 2009, Jam
09.00-10.30 di kantor pusat).

Komposisi sumber dana yang menduduki urutan ketiga dan seterusnya

tidaklah menentu, menurut data yang telah diolah peneliti. Pada tahun 2006

komposisi sumber dana yang menduduki peringkat ketiga berasal dari

Tabungan MDA Berjangka sebesar 4,01%. Tahun 2007 dan 2008 sejak adanya

Tabungan Deposito, komposisi sumber dana urutan ketiga tidak lagi diduduki

oleh Tabungan MDA Berjangka, melainkan diduduki oleh Tabungan Deposito.

Tahun 2007 Tabungan Deposito menjadi komposisi sumber dana sebesar 3,73%

dan tahun 2008 sebesar 3,38%.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komposisi sumber dana

BMT-MMU selama periode 2006-2008, peringkat pertama selalu didominasi oleh

Tabungan MDA Umum. Sementara untuk peringkat kedua tahun 2006-2008,

komposisi sumber dana berasal dari Pinjaman Bank dan non Bank. Untuk

peringkat ketiga dan seterusnya sumber dana berasal dari Tabungan Deposito,

Tabungan Wadi’ah, dana SHU dan dana zakat yang merupakan sumber dana

komposisinya kecil.

Sedangkan untuk komposisi penggunaan dana, pada tahun 2006

komposisi terbesar adalah Pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) sebesar

Rp6.687.126.340,00 atau 31,66% dari seluruh penggunaan dana. Untuk tahun

2007 komposisi terbesar ada pada Primary Reserve sebesar 30,05% dan pada tahun
2008 kembali lagi komposisi terbesar penggunaan dana yaitu Pembiayaan BBA

sebesar Rp13.764.510.507,00 atau 34,47%.

Pada penggunaan dana peringkat kedua adalah Pembiayaan MDA pada

tahun 2006 sebesar Rp5.563.113.826,00 atau 26,34%. Pada tahun 2007 diduduki

oleh Pembiayaan BBA sebesar 29,84% dan tahun 2008 adalah Primary Reserve

sebesar Rp12.097.576.830,40 atau 30,29% dari total penggunaan dana. Untuk

peringkat ketiga penggunaan dana tahun 2006 adalah Primary Reserve sebesar

Rp4.540.368.550,58 atau 21,49%. Untuk tahun 2007 dan 2008 peringkat ketiga

adalah Pembiayaan MDA sebesar 19,86% tahun 2007 dan sebesar 15,53% tahun

2008.

Dari keterangan di atas kesimpulannya adalah komposisi penggunaan

dana terbesar oleh BMT-MMU ialah Pembiayaan BBA pada tahun 2006 dan 2008.

Namun pada tahun 2007 komposisi penggunaan dana terbesar adalah pada

Primary Reserve (kas dan bank). Hal ini bisa terjadi karena kurang optimalnya

pengalokasian dana atau karena kondisi perekonomian Indonesia khususnya

daerah sekitar BMT yang kurang stabil, sehingga BMT merasa harus lebih hati-

hati dan selektif dalam memberikan pembiayaan. Penggunaan dana BMT-MMU

yang didominasi oleh pembiayaan BBA tersebut menunjukkan kecenderungan

yang positif karena pembiayaan merupakan sumber pendapatan terbesar baik

bagi BMT-MMU maupun bagi lembaga keuangan lainnya.


4. Tingkat Kesehatan BMT-MMU

a. Aspek Jasadiyah

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya mengenai manajemen dana

pada BMT-MMU. Untuk kemudian selanjutnya akan dikaitkan pada tingkat

kesehatan BMT-MMU itu sendiri. Namun seperti yang dijelaskan oleh Manager

BMT-MMU bahwa:

Dalam aturan perkoperasian atau lembaga Baitul Maal wat Tamwil, tidak
ada standarisasi penilaian tingkat kesehatan BMT. Hanya saja aspek-aspek
yang biasa dijadikan acuan oleh Koperasi untuk menilai kesehatan BMT
adalah tidak jauh berbeda dengan aspek-aspek penilaian tingkat
kesehatan bank, yaitu meliputi aspek modal, aktiva, manajemen,
rentabilitas,dan likuiditas, atau biasa disingkat CAMEL. Dengan membaca
tingkat kesehatan lembaga keuangan layaknya BMT, dirasa sebagai
sesuatu yang sifatnya populis (cari muka). Sebagai lembaga keuangan
syariah, BMT-MMU merasa hanya akan menimbulkan riya’ saja, jika harus
melebih-lebihkan sesuatu kebaikan, hal tersebut sifatnya hanya memberi
kesenangan palsu pada orang lain. Cukup dengan kepercayaan dan
biarkan masyarakat yang menilai sendiri kinerja BMT itu seperti apa,
tanpa pihak BMT perlu membesar-besarkan hal tersebut. Namun sebagai
bentuk pengawasan oleh Koperasi, maka Koperasi tetap mengacu pada
aspek-aspek CAMEL untuk menilai tingkat kesehatan BMT. Sedangkan
untuk lingkup internal BMT-MMU tidak memiliki standarisasi penilaian
tersebut (Wawancara dengan Bpk. Dumairi Nor Tanggal 23 April 2009,
Jam 09.00-10.30, di kantor pusat).

Menurut hasil wawancara di atas, maka dalam menilai tingkat kesehatan

BMT tidaklah ada standarisasi yang dijadikan acuan. Hanya aspek-aspek

penilaiannya saja yang sama dengan penilaian tingkat kesehatan bank, namun

tidak dengan prosentasenya dan tidak berlaku adanya skor penilaian kesehatan

BMT. Cukup hanya dengan menilai tingkat prosentase beberapa aspek CAMEL

tersebut.
Dalam melakukan penilaian terhadap tingkat kesehatan BMT terdapat 5

aspek yang menjadi acuan dasar penilaian. Dasar penilaian ini mengacu pada

sistem penilaian kesehatan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) yang

dikenal dengan istilah CAMEL (Capital adequacy, Asset quality, Management of risk,

Earning ability, dan Liquidity sufficiency). Kelima aspek tersebut adalah modal,

kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditas. Berikut adalah

aspek-aspek yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan BMT:

1) Modal (Capital)

Untuk menilai faktor permodalan pada suatu lembaga keuangan ada

banyak cara/perhitungan yang dilakukan. Dan untuk menilai aspek modal pada

BMT dapat digunakan dengan menghitung CAR (Capital Adequacy Ratio), yaitu

rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan aktiva BMT-MMU yang

mengandung resiko ikut dibiayai dari modal sendiri atau perbandingan antara

modal sendiri terhadap total asset.

CAR = Modal x 100%


Total Asset

Standarisasi prosentase CAR pada lembaga perbankan adalah sebesar 8%.

Namun lain halnya dengan lembaga keuangan BMT yang tidak memiliki standar

penilaian CAR. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kadiv. BMT adalah:

Prosentase CAR pada BMT-MMU selalu lebih tinggi dibandingkan


standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada perbankan (melebihi
8%). Namun BMT-MMU sendiri mempunyai kebijakan penetapan CAR
adalah 10%-15% (Wawancara dengan Bpk. Abdullah Shodiq Tanggal 23
April 2009, Jam 11.00-12.00, di kantor pusat).
Tabel 4.5
Prosentase CAR
Periode 2006-2008

NO KETERANGAN TH 2006 TH 2007 TH 2008


1 Modal

a. Simpanan Pokok Anggota 38,250,000.00 8,480,000.00 9,190,000.00

b. Simpanan Wajib Anggota 45,900,000.00 42,400,000.00 50,545,000.00

c. Simpanan Khusus 2,405,995,000.00 3,154,180,000.00 3,940,135,000.00

d. Dana Penyertaan 1,065,000.00 25,000,000.00 1,065,000.00

e. Dana Cadangan Umum 644,025,188.39 818,125,900.39 1,113,269,687.96

f. SHU Th 2006 1,129,614,436.24 1,263,442,484.26 1,700,082,582.89

Total Modal 4,264,849,624.63 5,311,628,384.65 6,814,287,270.85


2 Aktiva
Aktiva Lancar:

a. Kas 2,342,319,263.56 3,118,147,276.94 4,821,353,196.84

b. Antar Koperasi Aktiva 248,333,520.00 81,666,960.00 460,000,000.00

c. Bank 2,198,049,287.02 5,138,228,995.50 7,276,223,633.56

d. Investasi 374,365,365.98 567,000,000.00 677,000,000.00

e. Pembiayaan BBA 6,687,126,340.00 8,198,291,239.00 13,764,510,507.00

f. Pembiayaan MSA 5,000,000.00 - -

g. Pembiayaan MDA 5,563,113,826.00 5,456,807,494.00 6,201,403,032.00

h. Pembiayaan MRB 281,022,047.00 256,408,678.00 610,488,887.00

i. Pembiayaan Qord 166,914,267.00 593,313,977.00 1,063,443,050.00

j. Pembiayaan Lain 7,000,000.00 7,000,000.00 7,000,000.00

k. Penyisihan Piutang (27,214,732.82) (4,255,816.17) (22,443,347.19)

Jumlah Aktiva Lancar 17,846,029,183.74 23,412,608,804.27 34,858,978,959.21


Penyertaan Pada Entitas
Lain:
Pembiayaan Cabang - - -

Penyertaan Tambahan Tetap 734,400,010.00 661,400,000.00 661,400,000.00

Jumlah Penyertaan 734,400,010.00 661,400,000.00 661,400,000.00


Aktiva Tetap:

a. Tanah 430,725,000.00 460,725,000.00 510,725,000.00

b. Gedung Kantor 670,893,500.00 670,893,500.00 814,893,500.00

c. Ak. Peny. Gedung Kantor (71,246,695.00) (114,383,295.00) (161,982,795.00)

d. Kendaraan 429,203,000.00 502,702,800.00 574,202,800.00

e. Ak. Peny. Kendaraan (159,207,040.00) (203,772,200.00) (301,909,460.00)

f. Inventaris Kantor 483,426,825.00 563,338,325.00 707,208,325.00

g. Ak. Peny. Inv. Kantor (261,099,465.00) (381,763,575.00) (490,151,235.00)

Jumlah Aktiva Tetap 1,522,695,125.00 1,497,740,555.00 1,652,986,135.00


Aktiva Lain-lain:

a. Biaya Dibayar Di muka 116,593,497.00 126,146,630.00 155,125,130.00

b. Biaya Pra Operasional 137,646,034.00 152,508,685.00 150,157,000.00

Jumlah Aktiva Lain-lain 254,239,531.00 278,655,315.00 305,282,130.00

Total Aktiva 20,357,363,849.74 25,850,404,674.27 37,478,647,224.21

CAR 20.95 20.55 18.18


Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU, Data Diolah Peneliti

Dari tabel di atas tampak jelas bahwa CAR BMT-MMU setiap tahunnya

senantiasa melebihi CAR pada perbankan, meski cenderung mengalami

penurunan pada 3 tahun terakhir ini. Pada tahun 2006 BMT-MMU memiliki

prosentase CAR sebesar 20,95% dan mengalami penurunan pada tahun 2007

sebesar 0,40% menjadi hanya 20,55%. Pada tahun 2008 menurun lagi hingga

menjadi 18,18%. Idealnya nilai CAR yang telah ditetapkan oleh pihak BMT
adalah sebesar 10%-15%. Penurunan yang terjadi selama tiga tahun terakhir itu

menggambarkan bahwa kemampuan modal BMT-MMU dalam menutupi aktiva

yang beresiko juga semakin menurun. Namun hal ini tidaklah menunjukkan

indikasi yang buruk terhadap kinerja permodalan BMT-MMU, karena CAR pada

tahun 2006-2008 berada di atas nilai ideal yang ditetapkan.

2) Aktiva (Assets)

Kualitas aktiva pada BMT dapat diukur dari perbandingan antara laba

bersih dengan aktiva produktif. Karena semakin berproduktif aktiva tersebut,

maka laba yang diperoleh pun semakin meningkat. Analisis rasio ini untuk

mengukur sejauh mana tingkat efektivitas penggunaan asset. Dapat dirumuskan

sebagai berikut:

Aktiva = Laba Bersih x 100%


Total Aktiva Produktif

Yang termasuk ke dalam aktiva produktif adalah semua aktiva yang

bersifat lancar (cash ratio).

Tabel 4.6
Perhitungan Rasio Aktiva
Periode 2006-2008

KOMPONEN TH 2006 TH 2007 TH 2008


Laba Bersih 1,129,614,436.24 1,263,442,484.26 1,700,082,582.89
Aktiva Produktif 17,846,029,183.74 23,412,608,804.27 34,858,978,959.21
Prosentase 6.32 5.40 4.88
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU, Data Diolah Peneliti

Dari tabel di atas nampak bahwasanya rasio aktiva BMT-MMU dari tahun

2006-2008 mengalami penurunan prosentase. Pada tahun 2006 rasio aktiva BMT-
MMU sebesar 6,32% dan pada tahun 2007 turun menjadi 5,40%. Hal tersebut

terjadi karena asset BMT-MMU banyak pula dialokasikan untuk penambahan

inventaris. Di tahun 2008 tersebut asset BMT-MMU naik drastis, akan tetapi tidak

diiringi dengan pengalokasian dana secara optimal sehingga mengalami idle

money yang menyebabkan kualitas aktiva produktif pun menurun. Namun

bukan berarti aktiva BMT-MMU mengalami kesehatan yang buruk, karena

masih diimbangi dengan kenaikan laba yang diperoleh. Dimana prosentase rasio

aktiva yang diperoleh pada tahun 2008 adalah sebesar 4,88%.

3) Manajemen (Management)

BMT yang ditumbuhkan secara swadaya dan berakar di masyarakat

“bawah” ini, telah menjadi kenyataan yang berdiri paling depan dalam

menyaingi para rentenir. Dewasa ini telah diusahakan berbagai upaya untuk

memperkuat jaringan antar BMT dengan mendirikan Induk Koperasi Syariah

BMT, Koordinator Pengembangan BMT, PINBUK, dan juga lembaga-lembaga

yang menyediakan teknologi informasi untuk administrasi dan jaringan BMT.

Penilaian kuantitatif terhadap manajemen meliputi beberapa komponen,

yaitu manajemen permodalan, kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen

rentabilitas, dan manajemen likuiditas. Sedangkan perhitungan nilai kredit

didasarkan pada hasil penilaian jawaban (jumlah nilai positif) dari pertanyaan-

pertanyaan mengenai manajemen. Berikut pertanyaan-pertanyaan tersebut:


a) Permodalan

(1) Memiliki ketentuan tertulis mengenai penetapan besarnya

simpanan pokok, simpanan wajib, pemupukan modal dari

cadangan laba serta tatacara pelaksanaannya (P)

(2) Memiliki ketentuan mengenai perlakuan terhadap inventaris,

investasi dan harta lembaga lainnya berkenaan dengan alokasi

modal (P)

(3) Memiliki ketentuan mengenai tingkat kelancaran pembiayaan

(aturan kolektibilitas) (P)

(4) Memiliki aturan tertulis mengenai Cadangan Penghapusan Piutang

(CPP) (P)

(5) Memiliki kebijakan untuk menyisihkan sebagian labanya untuk

memperkuat permodalan (P)

(6) Tingkat pertumbuhan laba ditahan sama atau lebih besar dari

tingkat pertumbuhan asset

(7) Tingkat pertumbuhan modal BMT sama atau lebih besar dari

tingkat pertumbuhan asset (P)

(8) BMT memiliki aturan yang mengatur mengenai penghapusbukuan

pinjaman yang macet (P)


(9) BMT senantiasa memantau kondisi finansial yang berkaitan

langsung dengan kecukupan modal BMT (P)

(10) BMT memiliki aturan tertulis mengenai aturan modal hibah, modal

penyertaan serta alokasinya

b) Kualitas Asset

(1) BMT memiliki kebijakan/aturan tertulis mengenai pinjaman

kepada pihak internal (pengelola, pengurus, pemeriksa dan dewan

syariah) (P)

(2) BMT memiliki prosedur pembiayaan tertulis mulai dari proses

permohonan, pencairan pinjaman, pengadministrasian dan

pengawasannya (P)

(3) BMT memiliki sistem dan prosedur tertulis mengenai penetapan

penilaian dan pengikatan agunan (P)

(4) BMT memiliki strategi tertentu yang tertulis dalam menangani

pembiayaan bermasalah (P)

(5) BMT senantiasa memantau konsistensi dan mematuhi

penggunaan/prosedur pembiayaan (P)

(6) BMT tidak melanggar Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)

(P)
(7) BMT tidak memperkenankan penetapan persyaratan yang lebih

ringan untuk fasilitas pembiayaan kepada pihak internal (P)

(8) Trend pinjaman bermasalah BMT membaik 6 bulan terakhir (P)

(9) BMT mengadministrasikan agunan dengan baik dan aman (P)

c) Manajemen/Pengelolaan

(1) Dalam pelaksanaannya BMT konsisten dengan sistem syariah (P)

(2) BMT memiliki kebijaksanaan umum tertulis yang mencakup

kegiatan utamanya (simpan pinjam) (P)

(3) BMT memiliki rencana anggaran (proyeksi finansial) minimal

untuk 1 tahun yang mencakup: penghimpunan dana masyarakat,

target lending (pemberian pinjaman), pendanaan, pendapatan (P)

(4) BMT memiliki perencanaan mengenai

pengembangan/peningkatan kualitas SDM (P)

(5) BMT senantiasa mengadakan perencanaan mingguan dan bulanan

(P)

(6) BMT senantiasa melakukan evaluasi terhadap capaian target dari

perencanaan (P)

(7) BMT secara reguler mengadakan rapat manajemen, operasional

dan marketing (P)


(8) BMT memiliki brankas untuk menyimpan uang dan jaminan (P)

(9) BMT memiliki kantor yang terpisah dengan pihak lain (P)

(10) Hasil seluruh rapat manajemen/operasional/marketing selalu

dibuat notulen tertulis dan diadministrasikan dengan baik (P)

(11) BMT memiliki struktur organisasi dan job description tertulis dan

diketahui dan dilaksanakan oleh seluruh pengelola BMT (P)

(12) BMT memiliki peraturan kekaryawanan (P)

(13) BMT memiliki peraturan yang menjamin keamanan operasional

BMT (P)

(14) Frekuensi rapat pengurus minimal 1 kali dalam 1 bulan (P)

(15) BMT memiliki jumlah pengelola yang purna waktu di atas 4 orang

(16) BMT memiliki sisdur simpan dan pinjam yang tertulis dan

disahkan (P)

(17) BMT memiliki kebijakan mengenai pengeluaran uang yang tertulis

dan disahkan (P)

(18) BMT memiliki sistem dan kebijakan akuntansi yang tertulis dan

disahkan (P)

(19) Gaji staff di BMT 1,5 kali UMR (P)

(20) Gaji kepala bagian di BMT 2 kali UMR (P)


(21) Gaji manajer di BMT 3 kali UMR (P)

d) Rentabilitas

(1) BMT mempunyai kebijakan untuk membatasi/meniadakan

pinjaman untuk usaha baru (P)

(2) Dalam pemberian pinjaman BMT lebih mengutamakan

kemampuan bayar daripada tersedianya agunan (P)

(3) BMT menghindari pemberian pinjaman yang bersifat

spekulatif/usaha yang belum dikuasai dan dipahami oleh BMT

yang menghasilkan keuntungan tinggi tetapi beresiko tinggi (P)

(4) Rencana kerja BMT memuat adanya upaya-upaya dalam

mengusahakan sumber dana murah (P)

(5) ROA (return on asset) BMT minimal 2,5 % atau cenderung

meningkat dalam 6 bulan terakhir (P)

(6) ROE (return on equity) BMT minimal 2,5 % atau cenderung

meningkat dalam 6 bulan terakhir (P)

(7) Tingkat pertumbuhan laba BMT sama atau lebih besar dari

pertumbuhan asset (P)

(8) Realisasi biaya operasional antara proyeksi anggaran dan realisasi

anggaran tidak melebihi 15 % (P)


(9) BMT memiliki ketentuan bahwa semua pengeluaran/biaya harus

didukung dengan bukti-bukti yang valid (P)

e) Likuiditas

(1) BMT memiliki kebijaksanaan tertulis yang menyangkut

pengendalian likuiditas (P)

(2) BMT memiliki kebijaksanaan/strategi khusus dalam mencari dan

mempertahankan mitra- mitra funding potensial (P)

(3) BMT merencanakan LDR dalam batas-batas yang sehat (P)

(4) BMT memiliki asset yang likuid guna menjamin likuiditas (P)

(5) BMT memiliki kredibilitas yang baik antar BMT sehingga

memungkinkan sewaktu-waktu mendapat pinjaman dana guna

menutupi kebutuhan likuiditasnya

(6) BMT pada umumnya dapat mempertahankan mitra pemilik dana

yang relatif besar pada satu tahun terakhir (P)

(7) BMT memiliki kebijakan dalam mengatur hubungan antara jumlah

pinjaman yang akan diterima dari lembaga lain untuk menjaga

likuiditasnya (P)

(8) BMT memiliki kebijakan yang mengatur hubungan antara jumlah

pinjaman yang diberikan dengan jumlah dana masyarakat (P)


(9) Memiliki pedoman administrasi yang efektif untuk memantau

kewajiban yang jatuh tempo (P)

(10) Memiliki sistem informasi manajemen yang memadai untuk

memantau keadaan likuiditas (P)

Dengan kriteria Penilaian sebagai berikut:

a) Kurang dari 20 (Sangat Kurang)

b) 20 s/d < 30 (Kurang)

c) 30 s/d < 40 (Lumayan)

d) 40 s/d < 50 (Baik)

e) 50 s/d 60 (sangat baik)

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dapat dihitung jumlah jawaban yang

positif adalah sebanyak 55. Sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas manajemen

dalam BMT-MMU adalah “Sangat Baik”. Penilaian terhadap aspek manajemen

ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan di atas untuk diisi

oleh pihak BMT-MMU.

4) Rentabilitas (Earning)

Keuntungan yang diperoleh koperasi atau BMT biasa disebut SHU

(Surplus Hasil Usaha). Meskipun BMT sebagai lembaga keuangan syariah yang

juga berorientasi pada sosial, namun tidak dapat dipungkiri bahwa BMT juga
dituntut untuk menghasilkan keuntungan demi kelancaran usahanya. Di antara

tujuan melakukan usaha yang terpenting adalah mendapatkan keuantungan atau

lebih dikenal dengan istilah laba.

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 16, pemahaman

tentang laba ialah:

∩⊇∉∪ šωtGôγãΒ (#θçΡ%x. $tΒuρ öΝßγè?t≈pgÏkB Mpt¿2u‘ $yϑsù 3“y‰ßγø9$$Î/ s's#≈n=āÒ9$# (#ãρuŽtIô©$# tÏ%©!$# y7Í×‾≈s9'ρé&

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah
beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-
Baqarah: 16).

Orang-orang (mereka) yang dicontohkan pada ayat di atas menyia-

nyiakan modal utama mereka, yaitu petunjuk (al-huda). Namun petunjuk itu

tidak tersisa pada mereka karena adanya dhalalah (penyelewengan atau kesesatan)

dan tujuan-tujuan duniawi (Syahatah, 2001: 145), sehingga merugilah mereka

dalam perdagangan. Pengertian laba dalam Al-Qur’an berdasarkan ayat yang

telah disebutkan di atas ialah kelebihan atas modal pokok atau pertambahan

pada modal pokok yang diperoleh dari proses dagang. Jadi dalam berdagang

adalah menjadi sangat penting untuk melindungi dan memelihara modal pokok

serta mendapatkan laba.

Ayat lain yang menjelaskan diperbolehkannya mencari keuntungan

setelah melakukan bisnis ialah dalam surat Huud ayat 86:

∩∇∉∪ 7á‹Ïpt¿2 Νä3ø‹n=tæ O$tΡr& !$tΒuρ 4 tÏΖÏΒ÷σ•Β ΟçFΖà2 βÎ) öΝä3©9 ׎öyz «!$# àM§‹É)t/
“Sisa (keuntungan) dari Allah[734] adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-
orang yang beriman. Dan Aku bukanlah seorang Penjaga atas dirimu" (QS. Huud:
86).

[734] yang dimaksud dengan sisa keuntungan dari Allah ialah keuntungan yang
halal dalam perdagangan sesudah mencukupkan takaran dan timbangan.

Dari ayat di atas, dianjurkan untuk mencari keuntungan dalam berdagang

dengan cara yang halal, sehingga baik penjual maupun pembeli sama-sama

merasa diuntungkan. Ayat di atas menjelaskan pula bahwa Islam mengakui

adanya keuntungan (laba) dan dalam berbisnis apapun juga diperintahkan agar

para pengusaha tidak mengambil laba secara batil.

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa penilaian

terhadap rasio rentabilitas (earning) dapat diperhitungkan dengan menggunakan

3 cara, di antaranya adalah:

a) Rasio perbandingan SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional.

Earning 1 = SHU sebelum pajak x 100%


Pendapatan Operasional

Tabel 4.7
Rasio perbandingan Earning 1
Periode 2006-2008

KOMPONEN TH 2006 TH 2007 TH 2008


SHU sebelum pajak 1,149,778,790.97 1,316,316,085.26 1,752,285,887.69
Pend. Operasional 3,707,602,345.24 4,816,720,650.35 6,476,054,935.01
Prosentase 31.01 27.33 27.06
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU

Dari tabel di atas Nampak bahwa pendapatan operasional BMT-MMU

setiap tahunnya semakin meningkat, yang kemudian diikuti dengan

kenaikan SHU kotornya. Yang termasuk dalam perhitungan SHU adalah


laba bersih yang dihasilkan oleh BMT-MMU unit SPS (Simpan Pinjam

Syariah), unit riil penggilingan padi dan produksi roti, serta investasi pada

BPRS “Untung Suropati” bangil.

Pada tahun 2006 prosentase earning 1 sebesar 31,01% dan pada tahun

2007 turun menjadi 27,33%, kemudian mengalami penurunan lagi pada

tahun 2008 menjadi 27,06%. Penurunan ini dikarenakan pendapatan

operasional yang diperoleh BMT-MMU banyak dikurangi oleh beban

langsung dan beban tidak langsung, sehingga SHU yang dihasilkan

meskipun meningkat tapi kurang signifikan.

b) Rasio perbandingan SHU sebelum pajak terhadap total asset.

Earning 2 = SHU sebelum pajak x 100%


Total Asset

Tabel 4.8
Rasio perbandingan Earning 2
Periode 2006-2008

KOMPONEN TH 2006 TH 2007 TH 2008


SHU sebelum pajak 1,149,778,790.97 1,316,316,085.26 1,752,285,887.69
Total Asset 20,357,363,849.74 25,850,404,674.27 37,478,674,224.21
Prosentase 5.65 5.09 4.68
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU

Tabel di atas menunjukkan kenaikan asset yang dimiliki BMT-MMU

dan diikuti pula dengan peningkatan SHU kotornya. Karena semakin

banyak kekayaan yang dimiliki, maka laba yang dihasilkan pun juga

harus semakin meningkat. Pada tahun 2006 prosentase rasio earning 2

adalah sebesar 5,65%, kemudian menurun pada tahun 2007 menjadi 5,09%
dan menurun lagi pada tahun 2008 menjadi hanya sebesar 4,68%.

Penurunan prosentase tersebut karena SHU hanya didapat dari

pendapatan pengalokasian dana, sedangkan total asset tidak hanya

terbatas pada aktiva yang produktif saja.

c) Rasio perbandingan beban operasional terhadap pendapatan operasional

(BOPO).

BOPO = Beban Operasional x 100%


Pendapatan Operasional

Tabel 4.9
Rasio perbandingan BOPO
Periode 2006-2008
KOMPONEN TH 2006 TH 2007 TH 2008
Beban Operasional 2,577,987,909.00 3,553,278,166.09 4,775,972,352.12
Pend. Operasional 3,707,602,345.24 4,816,720,650.35 6,476,054,935.01
Prosentase 69.53 73.77 73.75
Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU

Prosentase BOPO yang terus meningkat pada 3 tahun terakhir ini

menunjukkan bahwasanya beban atau biaya yang dikeluarkan oleh pihak

BMT-MMU dalam menunjang kegiatan operasionalnya dinilai cukup

efisien dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kegiatan

operasional tersebut. Pada tahun 2006 prosentase rasio BOPO adalah

sebesar 69,53%, kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2007

menjadi 73,77% dan di tahun 2008 mengalami penurunan yang sangat

kecil sebesar 0,02% menjadi 73,75%. Prosentase tersebut sangatlah ideal,

karena tidak lebih dari 100%.

5) Likuiditas (Liquidity)
Likuiditas merupakan aspek penilaian terhadap alat likuid dan

kemampuan lembaga keuangan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya

dengan aktiva lancarnya.

Menurut hasil wawancara dengan manager BMT-MMU, dijelaskan

bahwasanya:

BMT-MMU pernah mengalami idle money di penghujung tahun 2008. Saat


sebagian besar lembaga keuangan mengalami goncangan kinerja
keuangan luar biasa dan ketidakcukupan dana akibat adanya krisis global,
BMT-MMU justru sebaliknya. BMT-MMU mampu menghimpun dana
dari masyarakat jauh lebih banyak lagi. (Wawancara dengan Bpk. Dumairi
Nor Tanggal 23 April 2009, Jam 09.00-10.30, di kantor pusat).

Menurut informasi yang disampaikan oleh pihak BMT, bahwa pada tahun

2008 banyak orang yang menarik dananya dari perbankan dan lebih memilih

untuk menaruhnya pada BMT yang dirasa lebih aman dan beresiko kecil

terhadap imbas atau efek dari krisis global yang melanda hampir seluruh negara

di dunia.

Oleh karena itu, dengan melimpahnya dana yang terhimpun pada BMT-

MMU namun kurang memaksimalkan penyaluran dana, maka terjadilah

kelebihan dana kas (idle money) yang menunjukkan kurang stabilnya likuiditas

BMT-MMU dalam meningkatkan produktifitas. Sehingga dana yang

penyalurannya kurang optimal, akan berdampak berkurangnya pula tingkat

profitabilitas BMT itu sendiri. Karena pendapatan terbesar yang diperoleh oleh

lembaga keuangan itu adalah berasal dari penyaluran dana (pembiayaan).


Dalam ajaran agama Islam dilarang untuk menahan atau menimbun dana

(al-Iktinaz) dan membiarkannya tidak berputar atau tidak dikelola untuk hal-hal

yang bermanfaat bagi masyarakat umum (Arifin, 2002: 11). Sebagaimana yang

terdapat dalam al-Qur’an:

tã ¸οt≈pgÏB šχθä3s? βr& HωÎ) È≅ÏÜ≈t6ø9$$Î/ Μà6oΨ÷t/ Νä3s9≡uθøΒr& (#þθè=à2ù's? Ÿω (#θãΨtΒ#u šÏ%©!$# $y㕃r'‾≈tƒ

∩⊄∪ $VϑŠÏmu‘ öΝä3Î/ tβ%x. ©!$# ¨βÎ) 4 öΝä3|¡àΡr& (#þθè=çFø)s? Ÿωuρ 4 öΝä3ΖÏiΒ <Ú#ts?

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta


sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu
[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisaa’:
29).

[287] Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang
lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat
merupakan suatu kesatuan.

Komponen-komponen yang digunakan dalam menganalisis aspek

likuiditas pada BMT-MMU adalah:

1) Rasio Lancar (Cash Ratio)

Cash ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan

kewajiban jangka pendek atau tingkat kemampuan BMT dalam

memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva

lancar. Semakin tinggi cash ratio berarti semakin baik likuiditas

perusahaan dalam memenuhi kewajibannya (Jusuf, 2007 dalam Habibah,

2008: 38). Rumus yang digunakan untuk mengetahui tingkat cash ratio ini

adalah:
CR = Aktiva Lancar x 100%
Hutang Lancar

Yang termasuk dalam kategori aktiva lancar adalah kas serta penempatan-

penempatan pada bank, koperasi, dan pembiayaan. Sedangkan yang

termasuk hutang lancar adalah tabungan, pinjaman pihak ketiga atau

lembaga luar, dan dana sosial.

Tabel 4.10
Analisis Cash Ratio
Periode 2006-2008
NO KOMPONEN TH 2006 TH 2007 TH 2008
1 Aktiva
Aktiva Lancar:

a. Kas 2,342,319,263.56 3,118,147,276.94 4,821,353,196.84

b. Antar Koperasi Aktiva 248,333,520.00 81,666,960.00 460,000,000.00

c. Bank 2,198,049,287.02 5,138,228,995.50 7,276,223,633.56

d. Investasi 374,365,365.98 567,000,000.00 677,000,000.00

13,764,510,507.0
e. Pembiayaan BBA 6,687,126,340.00 8,198,291,239.00 0

f. Pembiayaan MSA 5,000,000.00 - -

g. Pembiayaan MDA 5,563,113,826.00 5,456,807,494.00 6,201,403,032.00

h. Pembiayaan MRB 281,022,047.00 256,408,678.00 610,488,887.00

i. Pembiayaan Qord 166,914,267.00 593,313,977.00 1,063,443,050.00

j. Pembiayaan Lain 7,000,000.00 7,000,000.00 7,000,000.00

k. Penyisihan Piutang (27,214,732.82) (4,255,816.17) (22,443,347.19)

17,846,029,183.7 23,412,608,804.2 34,858,978,959.2


Jumlah Aktiva Lancar 4 7 1
2 Pasiva
Kewajiban Lancar:
12,567,889,068.4 17,219,556,106.6 26,798,366,563.0
a. Tabungan MDA Umum 9 1 6

b. Tabungan MDA Berjangka 659,900,000.00 - 171,457,527.27

c. Tabungan Wadiah 211,481,643.74 113,710,029.71 192,126,561.74

d. Tabungan Deposito - 781,850,000.00 1,053,690,000.00


e. Antar Koperasi Pasiva - - -

f. Pinjaman dr Bank & non Bank 2,645,829,150.00 2,416,666,320.00 2,433,333,040.00

g. Dana Pendidikan 1,393,675.00 1,973,825.00 6,757.51


h. Zakat - - -

i. Dana Sosial 6,020,687.88 5,020,008.30 15,379,503.78

16,092,514,225.1 20,538,776,289.6 30,664,359,953.3


Jumlah Kewajiban Lancar 1 2 6

Cash Ratio 90.17 87.73 87.97


Sumber : Laporan Keuangan BMT-MMU

Dari hasil pengolahan data di atas diketahui bahwa pada tahun 2006 rasio

lancar BMT-MMU sebesar 90,17%. Angka tersebut menginterpretasikan

bahwa untuk setiap satu rupiah kewajiban lancar dijamin dengan 90,17

rupiah aktiva lancar. Rasio lancar ini menurun pada tahun 2007 menjadi

87,73% dan meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 87,97%.

Menunjukkan bahwa pada tahun 2008 setiap satu rupiah hutang

lancarnya, BMT-MMU menjamin dengan 87,97 rupiah aktiva lancarnya.

Bila diamati secara keseluruhan periode tersebut, likuiditas pada BMT-

MMU cukup baik dan fluktuatif. Prosentase rasio lancar tersebut telah

memenuhi standart yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu minimal

3% (Muljono, 1996 dalam Habibah, 2008: 39).


2) Loan to Deposit Ratio (LDR)

LDR merupakan perbandingan antara total pembiayaan dengan total dana

pihak ketiga. Semakin tinggi prosentase LDR maka semakin rendah

tingkat likuiditasnya. Berikut adalah rumusnya:

LDR = Total Pembiayaan x 100%


Total DPK

Adapun pembiayaan yang terdapat pada BMT-MMU terdiri dari

pembiayaan BBA, pembiayaan MDA, pembiayaan MRB, pembiayaan

MSA, pembiayaan Qard, dan pembiayaan lain-lain. Sedangkan dana

pihak ketiga terdiri dari total tabungan dari anggota atau masyarakat luas

serta pinjaman pihak luar.

Tabel 4.11
Perhitungan Loan to Deposit Ratio
Periode 2006-2008
NO KETERANGAN TH 2006 TH 2007 TH 2008
1 Pembiayaan
a. Pembiayaan BBA 6,687,126,340.00 8,198,291,239.00 13,764,510,507.00
b. Pembiayaan MSA 5,000,000.00 - -
c. Pembiayaan MDA 5,563,113,826.00 5,456,807,494.00 6,201,403,032.00
d. Pembiayaan MRB 281,022,047.00 256,408,678.00 610,488,887.00
e. Pembiayaan Qord 166,914,267.00 593,313,977.00 1,063,443,050.00
f. Pembiayaan Lain-lain 7,000,000.00 7,000,000.00 7,000,000.00
Total Pembiayaan 12,710,176,480.00 14,511,821,388.00 21,646,845,476.00
2 Dana Pihak Ketiga
a. Tabungan MDA Umum 12,567,889,068.49 17,219,556,106.61 26,798,366,563.06
b. Tabungan MDA Berjangka 659,900,000.00 - 171,457,527.27
c. Tabungan Wadiah 211,481,643.74 113,710,029.71 192,126,561.74
d. Tabungan Deposito - 781,850,000.00 1,053,690,000.00
e. Antar Koperasi Pasiva - - -
f. Pinjaman dr Bank & non
Bank 2,645,829,150.00 2,416,666,320.00 2,433,333,040.00
g. Dana Pendidikan 1,393,675.00 1,973,825.00 6,757.51
h. Zakat - - -
i. Dana Sosial 6,020,687.88 5,020,008.30 15,379,503.78
Total DPK 16,092,514,225.11 20,538,776,289.62 30,664,359,953.36
LDR 78.98 70.66 70.59
Sumber : Data diolah oleh peneliti

Dari perhitungan di atas, LDR yang dihasilkan oleh BMT-MMU

cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2006 LDR sebesar 78,98%,

hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah simpanan anggota atau tabungan

digunakan untuk menjamin pembiayaan sebesar 0,78 rupiah. Pada tahun

2007 LDR mengalami penurunan menjadi 70,66%, kemudian menurun

lagi menjadi 70,59% pada tahun 2008. Hal tersebut menyebabkan semakin

membaiknya rasio likuiditas, karena semakin banyaknya alat likuid yang

dimiliki oleh BMT-MMU. Di samping itu, prosentase LDR selama tahun

2006-2008 adalah kurang dari 100%, artinya total dana pihak ketiga yang

dihimpun masih lebih besar dibandingkan dengan total dana pembiayaan

yang disalurkan. Sehingga pihak BMT-MMU tidak perlu khawatir bila

terjadi penarikan dana setiap saat oleh anggota.

Dari masing-masing kelima aspek CAMEL yang telah dibahas di atas,

maka dapat dikatakan bahwa BMT-MMU memiliki tingkat kesehatan yang baik

atau dengan kata lain BMT-MMU sebagai lembaga keuangan yang

berkategorikan “Sehat”.

b. Aspek Ruhiyah

Penilaian tingkat kesehatan BMT-MMU tidak hanya dilihat dari kelima

faktor di atas, namun dapat ditinjau pula dari aspek ruhiyahnya. Menilai aspek
tersebut dapat dilihat dari budaya kerja dan prinsip kerja yang ditaati oleh

pengurus, pengawas, dan pengelola BMT-MMU. Penilaian pada aspek ruhiyah

dapat ditinjau dari hal-hal berikut ini:

1) Visi dan Misi

BMT-MMU memiliki visi misi yang jelas dalam mengembangkan konsep

ekonomi Islam dan mengajak para masyarakat agar bermuamalah sesuai dengan

syariah Islam. Dengan menanamkan pemahaman bahwa sistem syariah di

bidang ekonomi adalah adil, mudah, dan maslahah. Dalam visi misi BMT-MMU

yang telah dipaparkan sebelumnya di atas, juga terdapat keinginan untuk

mewujudkan budaya ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan di bidang sosial

ekonomi. Artinya antara BMT dengan masyarakat dapat saling membantu dan

bekerjasama dalam kebaikan.

Dalam melaporkan kinerjanya BMT-MMU juga menerapkan Prinsip

TARIF (Transparansi, Akuntabilitas, Responsibility, Independency, dan Fairness).

Sebagaimana yang dikatakan oleh Manager BMT-MMU:

Jika kita dapat bersikap jujur, terbuka, dan apa adanya, maka anggota pun
akan terbuka pada kita. Sejauh ini tidak ada nasabah pembiayaan yang
angsuran pembiayaannya macet. Karena setiap kali ada kendala, mereka
senantiasa berbagi dengan kami untuk kemudian dicari solusi terbaiknya
bersama-sama (Wawancara: Bpk. Dumairi Nor, Tanggal 23 April 2009,
Jam 09.00-10.30 di Kantor Pusat).

2) Kepekaan Sosial

Proses pendirian BMT sangat memperhatikan tidak saja aspek ekonomi

tetapi yang lebih penting adalah memperjuangkan nilai-nilai syariah yang

diyakini para pendirinya dapat menolong kaum dhuafa terutama yang lemah
ekonomi. Para pengurus, pengawas, dan pengelola dapat memberikan tauladan

silaturrahim dan kedekatan emosional yang baik kepada masyarakat. Menurut

hasil wawancara:

Apabila ada anggota yang terlambat atau tidak bisa datang untuk
membayar angsuran pembiayaan karena suatu halangan, maka pihak
BMT-lah yang akan mendatangi dengan senang hati tanpa surat
peringatan apa pun. Ini juga merupakan sarana yang digunakan oleh
pihak BMT-MMU dalam mempererat hubungan ukhuwah islamiyah
dengan para anggotanya. BMT memakai sistem Kesetaraan, Kekeluargaan,
dan Kemitraan, yang artinya tidak ada pandang bulu, tidak ada
kesenjangan sosial, dan hubungan itu harus timbal balik. Jadi kedatangan
pihak BMT-MMU ke rumah-rumah para anggota bukan semata-mata
hanya ingin menagih hutang (Wawancara: Bpk. Dumairi Nor, Tanggal 23
April 2009, Jam 09.00-10.30 di Kantor Pusat).

Dari sini jelas bahwa kepekaan dan kepedulian BMT-MMU terhadap para

anggota dan lingkungan sekitarnya sangatlah tinggi. Ini merupakan bentuk

dedikasi mereka kepada masyarakat, bangsa, negara, serta agama.

3) Rasa Kepemilikan Yang Kuat

BMT-MMU bukan hanya semata-mata menjadi milik para pengurus,

pengawas, dan pengelola. Namun, masyarakat juga harus memiliki rasa

kepemilikan dan kepedulian yang tinggi terhadap BMT-MMU. Hal ini terbukti

pada setiap kali BMT-MMU melaksanakan RAT, seluruh anggota biasa diundang

dan diberi hak suara untuk menentukan keberlangsungan BMT selanjutnya.

Sehingga dari sini para anggota merasa memiliki tanggungjawab atas

keberlangsungan BMT-MMU selanjutnya.

4) Pelaksanaan Prinsip Syariah

BMT-MMU merupakan lembaga keuangan syariah yang sudah pasti

melaksanakan kegiatan operasionalnya berdasarkan prinsip syariah Islam.


Seluruh transaksi tabungan dan pembiayaan akadnya disesuaikan menurut

syariah Islam. Dapat dilihat pada tabel di bawah ini mengenai kegiatan

penghimpunan dan pengalokasian dana sesuai dengan akad yang diterapkan

pada BMT-MMU:

Tabel 4.12
Penghimpunan dan Pengalokasian Dana Sesuai Akad
Sumber dan Alokasi Dana Akad
Pihak I: Mudharabah
Simpanan Pokok
Simpanan Wajib
Simpanan Sukarela
Pihak II:
Sumber Dana BNI Syariah Cabang Malang Mudharabah dan
BSM Cabang Sidoarjo Musyarakah
PNM Surabaya
Pihak III:
Tabungan:
Simpanan Wadiah Wadiah
Tab. Umum Mudharabah Mudharabah
Tab. Mudharabah Berjangka Mudharabah
Penempatan pada Lembaga:
BNI Syariah Mudharabah dan
BSM Musyarakah
PNM
Alokasi Dana Pembiayaan:
Pembiayaan Mudharabah Mudharabah
Pembiayaan Murabahah Jual-Beli
Pembiayaan Musyarakah Mudharabah
Pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil Jual-Beli
Pembiayaan Qordul Hasan Tathawwu
Sumber : Data diolah peneliti.

Bukan hanya itu, para pengurus, pengawas, dan pengelola BMT-MMU

yang tak lain adalah santri alumni Pondok Pesantren Sidogiri, juga memberikan

tauladan yang baik dalam hal penampilan. Mereka membiasakan untuk

berpenampilan islami layaknya seorang ustadz saat bekerja. Sehingga secara


tidak langsung akan membuat masyarakat dan orang-orang yang berkunjung

pada BMT-MMU merasa sangat malu jika tidak berpakaian sopan.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan dan dibahas pada bab-

bab sebelumnya, maka peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Manajemen pengelolaan dana yang digunakan oleh BMT-MMU adalah

dengan pendekatan Pool of Funds approach. Yang dimaksud dengan

pendekatan tersebut adalah pendekatan pusat pengumpulan dana, di

mana semua jenis sumber dana yang diperoleh BMT-MMU disatukan

terlebih dahulu dalam satu wadah dengan tanpa memandang jenis

ataupun sifat dananya, baru kemudian dialokasikan. Sumber-sumber

dana yang diperoleh BMT-MMU berasal dari modal sendiri (simpanan

pokok, simpanan wajib dan simpanan khusus), tabungan anggota biasa

dan anggota luar biasa (tabungan MDA umum, tabungan MDA berjangka,

tabungan wadi’ah, dan tabungan deposito), pinjaman pihak luar (PNM,

BNI Syariah, dan BSM), dana cadangan umum, dana sosial, serta ada pula

dari antar koperasi pasiva (namun hal ini sangatlah jarang terjadi). Dari

dana-dana tersebut (kecuali dana sosial) kemudian dialokasikan pada

Primary reserve, secondary reserve, antar koperasi aktiva, aktiva tetap

(inventaris), biaya operasional, serta produk-produk pembiayaan. Untuk

dana sosial yang terkumpul dan zakat yang dikeluarkan oleh BMT-MMU
setiap tahunnya dialokasikan pada pembiayaan Qordul Hasan dan

aktivitas sosial lainnya.

2. a. Aspek Jasadiyah

Dalam penilaian tingkat kesehatan BMT-MMU dari aspek Jasadiyah

dengan memperhatikan faktor CAMEL (Capital adequacy, Asset quality,

Management of risk, Earning ability, dan Liquidity sufficiency), maka dapat

disimpulkan bahwa selama tiga tahun terakhir (2006-2008) BMT-MMU

termasuk dalam kriteria “sehat”. Dari aspek permodalan, CAR BMT-

MMU senantiasa berada pada titik di atas standar yang telah ditetapkan

baik oleh Bank Indonesia (minimal 8%) maupun oleh BMT sendiri (10%-

15%). Bila ditinjau dari aspek kualitas aktiva, meskipun nilai prosentase

rasio aktiva semakin menurun setiap tahunnya, hal tersebut dikarenakan

asset BMT-MMU tidak hanya disalurkan pada pembiayaan, namun

banyak pula dialokasikan pada penambahan inventaris demi kepentingan

operasional BMT-MMU. Dengan kenaikan jumlah aktiva produktif

tersebut juga diiringi dengan kenaikan jumlah laba yang diperoleh.

Artinya pengalokasian asset untuk produk-produk pembiayaan masih

terus menjadi prioritas. Adanya krisis global pada tahun 2008 cukup

membuat pihak BMT-MMU kebingungan dalam mengalokasikan dananya,

karena banyak masyarakat yang berbondong-bondong menyimpan

dananya daripada mengajukan pembiayaan. Di penghujung tahun 2008,

asset yang dimiliki BMT-MMU naik drastis menjadi sekitar 37 triliun dari
tahun sebelumnya yang hanya berkisar 26 triliun. Hingga pada tahun 2008

tersebut BMT-MMU mengalami idle money. Dari segi aspek manajemen,

BMT-MMU memiliki sistem manajemen yang baik, dilihat dari banyaknya

pernyataan-pernyataan bernilai positif. Kemudian dari aspek rentabilitas

(earning), rasio earning 1, earning 2 dan BOPO selama tahun 2006-2008

tidak menunjukkan adanya tanda-tanda mendekati titik penurunan

perolehan laba. Bila dibandingkan, pendapatan operasional masih jauh

lebih besar daripada beban operasional yang harus ditanggung. Rasio

BOPO selama tahun 2006-2008 adalah 69,53%, 73,77%, dan 73,75%. Itu

artinya BMT-MMU masih dapat menanggung beban operasionalnya dari

pendapatan operasional yang diperoleh, karena prosentase BOPO masih

berada pada titik aman (kurang dari 100%). Sedangkan dari aspek

likuiditas, BMT-MMU memiliki rasio lancar yang cukup bagus karena

telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu

minimal 3%. Cash Ratio BMT-MMU selama tahun 2006-2008 adalah 90,17%,

87,73% dan 87,97%, menunjukkan tingkat likuiditasnya pun baik dan

fluktuatif. Sedangkan LDR diperoleh 78,98%, 70,66%, dan 70,59%.

Penurunan LDR ini menunjukkan bahwa dana yang dihimpun lebih besar

daripada dana yang disalurkan untuk pembiayaan, yang berarti pula

semakin membaiknya rasio likuiditas BMT-MMU.

b. Aspek Ruhiyah

Sedangkan dari aspek ruhiyah, BMT-MMU juga termasuk kategori

“Sehat”. BMT-MMU memiliki gambaran visi misi yang jelas untuk


membantu perekonomian kaum lemah dan mengembangkan sistem

ekonomi Islam. Ini juga merupakan bentuk kepedulian BMT-MMU

terhadap masyarakat kelas bawah agar tidak lagi dijerat lehernya oleh

para rentenir. Dalam operasionalnya BMT-MMU juga telah melaksanakan

sesuai dengan prinsip syariah Islam serta para pengurus, pengawas, dan

pengelola senantiasa mempertanggungjawabkan kinerjanya secara TARIF

(Transparansi, Akuntabilitas, Responsibility, Independency, dan Fairness).

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisa, peneliti merasa perlu

memberikan adanya beberapa saran yang konstruktif demi kebaikan dan

peningkatan kesehatan BMT-MMU selanjutnya. Yang di antaranya adalah:

1. Pihak BMT-MMU dapat lebih mengoptimalkan unit jasa penggilingan

padi dan pembuatan roti, tidak hanya menambah cabang unit SPS saja.

Karena bila dilihat secara geografis, wilayah Kabupaten Pasuruan masih

memiliki banyak lahan persawahan. Sehingga BMT-MMU masih

memungkinkan untuk menambah beberapa cabang unit jasa penggilingan

padi sebagai upaya peningkatan SHU.

2. Menyusun strategi yang lebih baik lagi ke depannya, karena persaingan

usaha juga semakin ketat. Dengan meningkatkan kualitas SDM serta

sumber-sumber daya lainnya yang menunjang kegiatan operasional BMT-

MMU, sehingga menghasilkan kualitas kinerja dan tingkat kesehatan yang


baik pula, serta mengoptimalkan penghimpunan dan pengalokasian dana

secara efektif dan efisien.

3. Lebih waspada dengan adanya dampak dari krisis global yang

menyebabkan BMT-MMU mengalami idle money di tahun 2008, agar tidak

terulang kembali di waktu selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainul, 2002. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, Penerbit Alfabeta,


Jakarta.

Azis, M. Amin, 2008. Tata Cara Pendirian BMT, Penerbit PKES Publishing, Jakarta.

Bakhri, Mokh. Syaiful, 2004. Kebangkitan Ekonomi Syariah Di Pesantren: Belajar Dari
Pengalaman Sidogiri, Penerbit Cipta Pustaka Utama, Pasuruan.

Dendawijaya, Lukman, 2005. Manajemen Perbankan, Penerbit Ghalia Indonesia,


Bogor.

Habibah, 2008. Pengelolaan Dana Untuk Menjaga Kestabilan Likuiditas dan


Solvabilitas Dalam Meningkatkan Profitabilitas Pada BMT MMU Sidogiri
Pasuruan, Skripsi UIN Malang.

Hamidah, Lilik, 2007. Pentingnya Likuiditas Dalam Manajemen Dana Pada BMT
Maslahah Mursalah Lil Ummah Pasuruan, Skripsi UIN Malang.

Hanafi, Mamduh M dan Abdul Halim, 2005. Analisis Laporan Keuangan, Edisi
Kedua, Penerbit UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Hasibuan, Malayu S.P., 2001. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah, Penerbit
PT Bumi Aksara, Jakarta.

Herujito, Yayat M, 2001. Dasar-dasar Manajemen, Penerbit PT Grasindo, Jakarta.

Hosen, M. Nadratuzzaman, Dkk, 2008. Lembaga Bisnis Syariah, Penerbit PKES


Publishing, Jakarta.

Indriantoro, Nur dan Bambang supomo, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi & Manajemen, Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Jusuf, Jopie, 2007. Analisis Kredit Untuk account Officer, Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.

Kasmir, 2001. Manajemen Perbankan, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Lubis, Suhrawardi K, 2004. Hukum Ekonomi Islam, Cetakan ketiga, Penerbit Sinar
Grafika, Jakarta.

Mufiydah, Maulidatul, 2006. Analisis Manajemen Dana Sebagai Salah Satu


Variabel Pengendalian Likuiditas, Rentabilitas dan Solvabilitas Bank (Studi
Pada PT Bank Syariah Mandiri), Skripsi UIN Malang.

Muhammad, 2005. Manajemen Dana Bank Syariah, Edisi Pertama, Penerbit


Ekonisia FE UII, Yogyakarta.

Munawir, 2002. Analisa Laporan Keuangan, Penerbit Liberty, Yogyakarta.


Rachmanto, Hernawa, 2006. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Syariah Dengan
Menggunakan Metode CAMEL (Studi Kasus Pada PT Bank Syariah
Mandiri), Skripsi UII Yogyakarta.

RAT BMT-MMU tahun buku 2006-2008.

Rahman, Afzalur, 1996. Doktrin Ekonomi Islam, Jilid Empat, Penerbit PT Dana
Bhakti Wakaf, Yogyakarta.

Reksohadiprodjo, Sukanto, 1998. Manajemen Koperasi, Edisi Kelima, Penerbit


BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.

Ridwan, Muhammad, 2004. Manajemen Baitul Maal wa Tamwil, Edisi Pertama,


Penerbit UII Press, Yogyakarta.

Riyadi, Selamet, 2006. Banking Assets and Liability Management, Edisi Ketiga,
Penerbit LPFE UI, Jakarta.

Riyanto, Bambang, 2002. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat,


Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Siamat, Dahlan, 1995. Manajemen Lembaga Keuangan, Penerbit Intermedia, Jakarta.

Syahatah, Husein, 2001. Pokok-pokok Pikiran Akuntansi Islam, Cetakan Pertama,


Penerbit Akbar Media Eka Sarana, Jakarta.

Subagyo, Joko, 2004. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Cetakan Keempat,
Penerbit PT Rineka Cipta, Jakarta.

Sudarsono, Heri, 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Edisi Kedua, Penerbit
Ekonisia, Yogyakarta.

Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan kedelapan, Penerbit Alfabeta,


Bandung.

Sukamdiyo, Ign, 1996. Manajemen Koperasi, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Widodo, Hentarto, dkk, 1999. PAS (Pedoman Akuntansi Syariat) Panduan Praktis
Operasional BMT, Penerbit Mizan, Bandung.

Wirartha, I made, 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi, Penerbit CV. Andi
offset, Yogyakarta.

Zaenal, A. 2006. Menilai Tingkat Kesehatan BMT Dari Aspek Manajemen.


http://trimudilah.wordpress.com/2006/12/05/bmt/. 10 April 2009.
Wawancara dengan Manager BMT-MMU
Bpk. HM. Dumairi Nor
Di Kantor Pusat BMT-MMU

Wawancara dengan Kadiv. Unit BMT


Bpk. Abdullah Shodiq
Di Kantor Pusat BMT-MMU

Peneliti sedang menulis Hasil Wawancara