Anda di halaman 1dari 91

Disusun oleh: Yoserizal Ezra

Pembimbing: dr. FX Widiarso, SpOG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS PERIODE 29 APRIL 06 JULI 2013

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien Umur Alamat Jenis kelamin Suku Bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Status Perkawinan Tanggal masuk RS : : : : : : : : : Ny. US 36 tahun Jekulo, Kudus Perempuan Jawa Islam SMA Ibu Rumah Tangga Kawin (GIP0A0)

: 16 Mei 2013 (11.30 WIB)

Identitas Suami
Nama :Tn. HS Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat :
Jekulo, Kudus

ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal : 16 Mei 2013 jam 11.30 WIB Keluhan utama : Perut kencang kencang dan pinggang sakit sejak kemarin malam

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Rumah Sakit Mardi Rahyu, rujukan dari bidan dengan keluhan inpartu resiko tinggi dan curiga bayi besar. Pasien mengatakan merasa perut kencang-kencang sejak kemarin malam (15 Mei 2013 ). Perut kencang-kencang mulai dirasakan pada waktu siang dan frekuensinya semakin bertambah pada waktu malam. Keluar air ketuban jernih sejak subuh hari. Pasien merasakan gerakan janin aktif.

Pasien mengaku kehamilannya sudah 9 bulan. Tanggal hari pertama haid terakhir adalah 23 Agustus 2012. Ini merupakan kehamilannya yang pertama. Pasien kontrol kehamilan tiap bulan ke bidan sampai usia kehamilan 9 bulan.

Riwayat Haid Menarche : 16 tahun Siklus haid : 28 hari Lamanya : 7 hari Banyaknya : 1-2 kotek per hari Haid terakhir (HPHT) : 23 Agustus 2012 Taksiran partus (HPL) : 30 Mei 2013 Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali pada usia 35 tahun, selama 1 tahun

Riwayat kehamilan dan kelahiran


Jenis Persalina n Menet ek s/d umur

No

Anak
ke

Tahun
Persalinan

Jenis
Kelamin

Umur
Kehamilan

Penolo
ng

Hidup /
Mati

Riwaya
t Nifas

HAMIL INI

Riwayat Kontrasepsi (Keluarga Berencana)


Tidak ada

Penyakit Dahulu
tidak ada

Riwayat Keluarga
Hubungan Umur Jenis kelamin Keadaan
kesehatan

Penyebab
meninggal

Ayah

72 tahun

Laki-laki

Hidup

Ibu
Suami

70 tahun
37 tahun

Perempuan
Laki-laki

Hidup
Hidup

Ada kerabat yang menderita :


Penyakit Alergi Asma Tuberkulosis HIV Hepatitis B Ya Tidak Hubungan

Hepatitis C
Hipertensi Cacat bawaan Lain lain

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Suhu Pernafasaan Tinggi Badan Berat Badan

:Tampak sakit sedang : Compos Mentis : 130/80 mmHg : 88 x/menit (kuat angkat, teratur) : 360C : 20x/ menit. Abdominal-torakal : 165 cm : 80 kg

Kulit Warna kuning langsat, Turgor Kulit baik, Ikterus (-), Edema (-)

Telinga Selaput pendengaran utuh, Serumen (-), Perdarahan (-) Hidung Sekret (-), Deviasi septum (-), Pernapasan cuping hidung (-), epistaksis (-) Mulut Lidah dalam batas normal, Pursed Lips breathing (-)

Kepala Normocephali, Rambut hitam, distribusi merata Mata Pupil isokor 3mm, reflek cahaya (+/+), Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-), Udem palpebra (-/-)

Dada Bentuk : simetris baik statis maupun dinamis, tidak tampak scar, kulit sawo matang, sela iga tidak tampak Pembuluh darah : tidak tampak Buah dada : membesar, puting susu menonjol keluar, areola mammae melebar

Perut (Abdomen) Inspeksi Bentuk : membuncit, Simetris lesi luka post operasi (-) Palpasi Nyeri tekan ( - ), massa ( - ), Defans musculer (-) Hati : tidak dapat dinilai Limpa : tidak dapat dinilai Ginjal : ballotement ( - ), CVA (-) Perkusi : Timpani Auskultasi : Bising usus normal

Kulit
Warna Effloresensi Jaringan parut Pigmentasi Pertumbuhan rambut Pembuluh darah Suhu raba Keringat Turgor Lapisan lemak Ikterus Edema : sawo matang : tidak ada : tidak ada : tidak ada : normal : tidak menonjol dan melebar : normal, kulit Lembab : setempat yaitu di kepala dan leher : baik : tebal : tidak ada : ada (kaki kanan dan kiri)

Kelenjar getah bening


Submandibula Supraklavikula Lipat paha Leher Ketiak : tidak ditemukan pembesaran : tidak ditemukan pembesaran : tidak ditemukan pembesaran : tidak ditemukan pembesaran : tidak ditemukan pembesaran

Aspek kejiwaan
Tingkah laku Alam perasaan Proses pikir : tenang : biasa : wajar

PEMERIKSAAN OBSTETRI
Pemeriksaan Luar Inspeksi Wajah : Chloasma gravidarum (+) Payudara : pembesaran payudara (+), puting susu menonjol, cairan dari mammae (-) Abdomen : Membesar memanjang, Linea nigra (+), strie livide (+), strie albicans (+), bekas operasi (-)

Palpasi : nyeri tekan (-) Leopold I:Bulat, lunak, tidak melenting (bokong), Leopold II: Keras memanjang pada bagian kiri (PUKI) Leopold III: Bulat, keras, melenting (kepala) Leopold IV: Divergen (Sudah masuk panggul) TFU = 3 jari dibawah xiphoideus. DJJ : 12-12-12 = 144x/menit TBJ : (33-11) x 155 = 3410 gram PPV : (+) lendir

Pemeriksaan Dalam Vaginal Toucher 7 cm, KK (-), eff 75% Bag bawah kepala H II teraba ubun-ubun kecil kiri depan

RESUME
Pasien GIPoAo hamil 39 minggu berusia 36 tahun datang ke RS Mardi Rahayu dengan rujukan dari bidan dengan keluhan perut kencang-kencang sejak kemarin malam (15 Mei 2013), keluar air ketuban (+), keluar lendir (+).Pasien mengaku kehamilannya sudah 9 bulan. Tanggal hari pertama haid terakhir adalah 23 Agustus 2012. Tidak ada riwayat penyakit dahulu.

Riwayat menarche : 16 tahun, HPHT : 23 Agusuts 2012 HPL: 30 Mei 2013

PEMERIKSAAN FISIK
KU : Baik, tenang Tekanan darah : 130/80 mmHg Nadi : 88x/menit RR : 20x/menit Suhu : 36oC

Abdomen : membesar, letak memanjang, TFU 3 jari dibawah xiphoideus (33 cm) Presentasi kepala, PUKI, sudah masuk pintu atas panggul Extremitas : edem -/- ( tungkai bawah), sianosis -/-, akral hangat DJJ : 12-12-12 = 144 x/menit TBJ : 3410 gram

PEMERIKSAAN DALAM
VT : 7 cm, KK (-) , EFF 75% Bag bawah kepala H II letak ubun-ubun kiri depan

DIAGNOSIS
Diagnosis kerja : GIPoAo Umur 36 tahun, Hamil 39 minggu Anak I hidup intrauterine Presentasi kepala, sudah masuk pintu atas panggul, PUKI Inpartu kala I fase aktif Primitua

Dasar diagnosis : HPHT : 23 Agustus 2012 Pemeriksaan Obsetri (Luar dan Dalam (VT))

Pemeriksaan yang dianjurkan Pemeriksaan laboratorium darah rutin

Rencana Pengelolaan: Pengawasan 10/4 jam IVFD RL 20 tetes permenit O2 2 liter /menit

Prognosis : Power Passage Passenger

: dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

FOLLOW UP
Tanggal 16 Mei 2013, jam 11.50 WIB S : perut sering kencang-kencang, ingin mengejan O : Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 82 x/menit Frekuensi nafas : 20 x/menit Suhu : 36C Abdomen : supel, nyeri tekan (-), BU (+) TFU : 3 jari dibawah umbilikus Extremitas : edem (-/-) sianosis (-) VT : 10 cm, KK (-) Bag bawah kepala H III (+) Letak ubun-ubun kecil kiri depan

A : GIPoAo Umur 36 tahun, Hamil 39 minggu Anak I hidup intrauterine Presentasi kepala, sudah masuk pintu atas panggul, PUKI Inpartu kala II Primi tua P : Akhiri persalinan dengan vaccum ekstraksi

FOLLOW UP
Tanggal 16 Mei 2013, jam 11.58 WIB Lahir bayi laki-laki, BB; 3100 gr, A/S: 9-9-10 Plasenta dilahirkan secara spontan, kotiledon lengkap P: Bactesyn 2x1 Zegavit 1x1 Phospargin 2x1 Kaltrofen sup 2x1

Tanggal 17 Mei 2013, jam 08.00 WIB S : keluhan (-) O : Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 82 x/menit Frekuensi nafas: 20 x/menit Suhu : 36C Abdomen : supel, NT (-), BU (-) TFU : 3 jari dibawah umbilikus Extremitas : edem (-/-) sianosis (-)

A : GoPIAo, post partus dengan VE H-I a/I partus macet P : Infus RL 20 tpm O2 2 LPM Bactesyn 2x1 Zegavit 1x1 Phospargin 2x1 Kaltrofen sup 2x1

FOLLOW UP
Tanggal 18 Mei 2013, jam 08.00 WIB S : keluhan (-) O : Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 110/70 mmHg Nadi : 90 x/menit Frekuensi nafas : 20 x/menit Suhu : 36 C Abdomen : supel, NT (-), BU (-) TFU : 3 jari dibawah umbilikus Extremitas : edem (-/-) sianosis (-)

A : GoPIAo, post partus dengan VE H-II a/I partus macet P : Bactesyn 2x1 Phospargin 2x1 Zegavit 1x1 Kaltroven sup 1x1 Diizinkan pulang Kontrol ke klinik kebidanan-kandungan 1 minggu kemudian

PENDAHULUAN
Gangguan jalannya persalinan secara umum disebut sebagai distosia. Distosia meningkatkan morbiditas dan mortalitas bagi ibu dan bayi.

DEFINISI
Partus macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun janin (anak). Partus macet atau distosia didefinisikan sebagai persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya kemajuan persalinan dimana pada fase inpartu kala II tidak terjadi kemajuan penurunan janin ketika ibu mengejan.

ETIOLOGI
Distosia merupakan akibat dari 4 gangguan atau kombinasi antara : Kelainan Tenaga Persalinan. Kelainan Presentasi-Posisi & Perkembangan janin Kelainan pada Tulang Panggul Kelainan Jaringan Lunak dari saluran reproduksi yang menghalangi desensus janin

ETIOLOGI
Secara sederhana, kelainan diatas dapat secara mekanis dikelompokkan kedalam 3 golongan :

POWER

PASSANGER

PASSAGE

MEKANISME DISTOSIA
Pada akhir kehamilan, agar dapat melewati jalan lahir kepala harus dapat mengatasi tebalnya segmen bawah rahim dan servik yang masih belum mengalami dilatasi. Perkembangan otot uterus di daerah fundus uteri dan daya dorong terhadap bagian terendah janin adalah faktor yang mempengaruhi kemajuan persalinan kala I.

MEKANISME DISTOSIA
Setelah dilatasi servik lengkap, hubungan mekanis antara ukuran dan posisi kepala janin serta kapasitas panggul (fetopelvic proportion) dikatakan baik bila desensus janin sudah terjadi. FPD-fetopelvic disproportion menjadi jelas bila persalinan sudah masuk kala II. Gangguan fungsi otot uterus dapat terjadi akibat regangan uterus berlebihan dan atau partus macet [obstructed labor]. Dengan demikian maka persalinan yang tidak berlangsung secara efektif adalah merupakan tanda akan adanya fetopelvic disproportion.

Pola Persalinan Persalinan Terhambat Dilatasi Desensus Persalinan Macet Tidak terjadi kemajuan dilatasi

Nulipara <1,2 cm/jam <1,0 cm/jam

Multipara <1,5 cm/jam <2,0 cm/jam

>2jam

>2jam

Kriteria active phase arrest dan protraction disorder menurut American College Of Obstetricians and Gynecologist

Pola Persalinan Pesalinan memanjang (Prolonged latent phase)

Nulipara >20 jam

Multipara >14 jam

Terapi Anjuran Tirah baring

Terapi Khusus Oksitosin atau SC pada keadaan gawat

Persalinan terhambat Protraction active-phase dilatation Protraction descent

<1,2 cm/jam <1,0 cm/jam

<1,5 cm/jam <2 cm/jam

Ekspektatif

SC untuk CPD

1. 2.

Persalinan macet Prolonged deceleration phase Secondary arrest of dilatation 3. Arrest of descent 4. Failure of descent

>3jam >2jam >1 jam

>1jam >2 jam >1 jam

Oksitosin tanpa CPD SC pada CPD

Istirahat bila lelah SC

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN TENAGA (POWER)


Pada persalinan normal, his dimulai dari daerah tuba dan ligamentum rotundum dengan dominasi kekuatan pada fundus uteri,. Kemudian menjalar ke dalam dan bagian bawah uterus merata simetris pada seluruh korpus uteri. Terdapat relaksasi diantara 2 kontraksi. Sesudah tiap His, otot korpus uteri menjadi lebih pendek.

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN TENAGA (POWER)

HIS

Inertia Uteri His Terlampau Kuat Inkoordinasi Uteri

TENAGA MENGEJAN

INERTIA UTERI awal persalinan His tidak adekuat (lemah, singkat dan jarang) dinamakan inertia uteri primer. Bila timbulnya sesudah His kuat untuk waktu yang lama disebut inertia uteri sekunder.
Penatalaksanaan umum : TTV, IVFD Glukosa 5% & NaCl, VT Penatalaksanaan khusus : penilaian 3P, pemecahan selaput ketuban; oxytocin 5 IU dalam D5% mulai 8 tts, dinaikkan 4 tts/15 menit. Jika ada keadaan CPD yang berarti, pertimbangkan SC.

HIS TERLAMPAU KUAT Frekuensi dan durasi saat his normal, tonus relaksasi normal, namun kekuatan/amplitudonya terlalu besar, akibatnya terjadi partus presipitatus.
Pasien mengalami nyeri persisten oleh karena terbentuknya lingkaran Bandl , perlukaan luas jalan lahir serta rupture uteri. Pada bayi dapat terjadi dekompresi mendadak dan perdarahan subdural. Pada saat persalinan dilakukan episiotomi.

INKOORDINASI UTERI Sifat His pada keadaan ini berubah, tonus relaksasi dan kontraksi meningkat, koordinasi antar bagian tidak sinkron.
Penanganan simptomatis : morphin , pethidine. Penanganan khusus : pada pembukaan belum lengkap perlu SC.

Kontraksi uterus hipotonik

Kontraksi uterus hipertonik

Komplikasi maternal: Jarang terjadi bila dilatasi servik dapat berlangsung secara normal. Bila servik panjang dan jalan lahir kaku, akan terjadi robekan servik dan jalan lahir yang luas. Emboli air ketuban (jarang). Atonia uteri dengan akibat HPP.

Komplikasi janin : Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat A.Kontraksi uterus yang terlalu kuat akan menyebabkan asfiksia intrauterin. B.Trauma intrakranial akibat tahanan jalan lahir. Erb atau Duchene paralysis pada 1/3 kasus partus presipitatus. cedera pada janin akibat terjatuh dilantai atau tidak dapat segera memperoleh resusitasi bila diperlukan.

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN ANAK (PASSANGER)

PRESENTASI

POSISI

PERKEMBANGAN

BENTUK JANIN

LETAK TALI PUSAT

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN ANAK (PASSANGER)


1. POSISI OKSIPITALIS POSTERIOR 2. PRESENTASI PUNCAK KEPALA 3. PRESENTASI MUKA 4. PRESENTASI DAHI 5. LETAK SUNGSANG 6. LETAK LINTANG 7. PRESENTASI GANDA

KELAINAN LETAK, PRESENTASI ATAU POSISI

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN ANAK (PASSANGER)

KELAINAN BENTUK JANIN & LETAK TALI PUSAT

1. JANIN BESAR 2. HIDROSEFALUS 3. DOUBLE MONSTER 4. JANIN PERUT BESAR 5. PROLAPSUS UTERI

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN JALAN LAHIR (PASSAGE)


Panggul ginekoid dengan pintu atas panggul yang bundar, atau dengan diameter transversa yang lebih panjang sedikit daripada diameter anteroposterior dan dengan panggul tengah serta pintu bawah panggul yang cukup luas. Panggul antropoid dengan diameter anteroposterior yang lebih panjang daripada diameter transversa, dan dengan arkus pubis menyempit sedikit. Panggul android dengan pintu atas panggul yang berbentuk sebagai segitiga berhubungan dengan penyempitan ke depan, dengan spina iskiadika menonjol ke dalam dan dengan arkus pubis menyempit. Panggul platipelloid dengan diameter anteroposterior yang jelas lebih pendek daripada diameter transversa pada pintu atas panggul dan dengan arkus pubis yang luas.

Ukuran rata-rata panggul wanita normal Pintu atas panggul (pelvic inlet) : Diameter transversal (DT) + 13.5 cm. Conjugata vera (CV) + 12.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 22.0 cm. Pintu tengah panggul (midpelvis) : Distansia interspinarum (DI) + 10.5 cm. Diameter anterior posterior (AP) + 11.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 20.0 cm. Pintu bawah panggul (pelvic outlet) : Diameter anterior posterior (AP) + 7.5 cm. Distansia intertuberosum + 10.5 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 16.0 cm.

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN JALAN LAHIR (PASSAGE)


PINTU ATAS PANGGUL Perkiraan Diameter AP Pintu Atas Panggul dilakukan melalui pengukuran Conjugata Diagonalis secara manual (VT) dan kemudian dikurangi 1.5 cm
Kesempitan Pintu Atas Panggul merupakan predisposisi terjadinya kelainan presentasi. Pada wanita dengan kesempitan panggul, angka kejadian letak muka dan letak lintang meningkat 3 kali lipat dan angka kejadian prolapsus talipusat meningkat 5 6 kali lipat.

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN JALAN LAHIR (PASSAGE)


PINTU TENGAH PANGGUL Kejadian ini sering menyebabkan kejadian deep tranverse arrest ( LETAK MALANG MELINTANG RENDAH ) pada perjalanan persalinan dengan posisio occipitalis posterior ( sebuah gangguan putar paksi dalam akibat kesempitan Bidang Tengah Panggul ).
Ukuran rata-rata Bidang Tengah Panggul : Diameter tranversal (interspinous) = 10.5 cm Diameter AP (tepi bawah SP sampai pertemuan S4 S5) 11.5 cm Diameter Sagitalis Posterior - DSP ( titik pertengahan diameter interspinous dengan pertemuan S4 S5) 5 cm

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN JALAN LAHIR (PASSAGE)


PINTU BAWAH PANGGUL Distosia akibat kesempitan Pintu Bawah Panggul saja jarang terjadi mengingat bahwa kesempitan PBP hampir selalu disertai dengan kesempitan Bidang Tengah Panggul.

DISTOSIA AKIBAT KELAINAN JALAN LAHIR (PASSAGE)


KELAINAN JALAN LAHIR LUNAK Persalinan kadang-kadang terganggu oleh karena kelainan jalan lahir lunak yaitu adanya kelainan tractus genitalis. Kelainan tersebut terdapat di vulva, vagina, cerviks uteri, dan uterus: Abnormalitas vulva ( atresia vulva, inflamasi vulva, tumor dekat vulva) Abnormalitas vagina (atresia vagina, septum longitudinalis vagina, striktur anuler) Abnormalitas serviks (atresia dan stenosis serviks, Ca serviks) Kelainan uterus (antefleksi, retrofleksi, mioma uteri) Tumor ovarium

VAKUM
Definisi Ekstraksi vakum adalah persalinan buatan yang dilakukan dengan cara membuat tekanan negative pada kepala janin sehingga terbentuk kaput buatan dan janin dapat dilahirkan pervaginam.

VAKUM
Indikasi Kala II lama dengan presentasi kepala belakang/vertex. Kontraindikasi Malpresentasi (dahi, puncak, kepala, muka, bokong). Panggul sempit (disproporsi kepala-panggul).

Syarat Untuk melakukan ekstraksi vakum terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Presentasi belakang kepala Penurunan kepala Hodge III+ Ketuban sudah pecah Tidak ada panggul sempit Pembukaan lengkap Harus ada tenaga mengedan dari ibu

Alat dan Prosedur Alat-alat untuk tindakan vakum terdiri dari: Mangkuk vakum Rantai vakum Pemegang vakum Selang penghubung mangkuk vakum ke botol vakum Botol vakum Pompa vakum

Prosedur dalam melakukan ekstraksi vakum: Ibu tidur dalam posisi litotomi Persiapan alat vakum Setelah persiapan vakum selesai, dipilih mangkuk yang sesuai dengan pembukaan serviks, pada pembukaan lengkap, biasanya ukuran mangkuk yang dipilih adalah mangkuk nomor 5 Mangkuk dimasukkan ke dalam vagina dalam posisi miring, kemudian dipasang di bagian terendah kepala, menjauhi ubun-ubun besar Setelah mangkuk terpasang, dilakukan pemeriksaan ulang, apakah ada jalan lahir/ jaringan yang terjepit.

Setelah itu pompa vakum dinyalakan, dimulai dengan tekanan -0,2kg/cm2 selama 2 menit, kemudian dinaikkan lagi menjadi -0,4kg/cm2 selama 2 menit, kemudian dinaikkan lagi menjadi -0,6kg/cm2. Setelah itu, dilakukan traksi percobaan, dilihat apakah saat dilakukan traksi , kepala janin ikut turun. Jika tidak, pemasangan mangkuk diulangi lagi. Bersamaan dengan timbulnya his, ibu disuruh mengejan, dan mangkuk ditarik searah dengan sumbu panggul. Pada waktu melakukan tarikan, harus ada koordinasi yang baik antara tangan kiri dan kanan penolong. Ibu jari dan telunjuk tangan kiri penolong menahan mangkuk,agar mangkuk selalu dalam posisi yang benar, sehingga tidak terlepas. Sedangkan tangan kanan melakukan tarikan dengan memegang pada pemegang. Traksi dilakukan selama ada his, dan harus mengikuti putaran paksi dalam, sampai occiput terlihat sebagai hipomoklion, traksi dilakukan curam ke arah atas, dan tangan kiri menahan perineum saat kepala meregang perineum, hinggal lahirlah dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu janin. Setelah kepala lahir, tekanan dihentikan, dan mangkuk dilepaskan, janin dilahirkan seperti persalinan normal biasa.

Kriteria Ekstraksi Vakum Gagal Kepala tidak turun pada tarikan. Jika tarikan sudah tiga kali dan kepala bayi belum turun, atau tarikan sudah 30 menit, Mangkok lepas pada tarikan pada tekanan maksimum.

Komplikasi
Ibu Perdarahan Trauma jalan lahir Infeksi Janin Ekskoriasi kulit kepala Sefalohematoma Subgaleal hematoma. Nekrosis kulit kepala (scalpnecrosis), yang dapat menimbulkan alopesia.

FORCEPS
Ekstraksi forceps atau ekstraksi cunam adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan tarikan cunam yang dipasang di kepala janin. Cunam / Forceps Cunam terdiri dari dua sendok, sendok kanan dan sendok kiri Sendok kanan / forces kanan adalah cunam yang dipegang di tangan kanan penolong dan dipasang di sebelah kanan ibu Sendok kiri / forceps kiri adalah cunam yang dipegang di tangan kiri penolong dan dipasang di sebelah kiri ibu.

Daun cunam: bagian yang dipasang di kepala janin saat melakukan ekstraksi forceps. Terdiri dari dua lengkungan (curve) , yaitu lengkung kepala janin (cephalic curve) dan lengkung panggul (cervical curve). Daun cunam : Fenestrated ( berlubang) Solid ( tidak berlubang) Tangkai Cunam: bagian yang terletak antara daun cunam dan kunci cunam Terbuka (cunam Simpson) Tertutup (cunam Kielland) Kunci cunam: kunci cunam ada beberapa macam, ada yang interlocking, system sekrup, dan system sliding. Pemegang cunam, bagian yang dipegang penolong saat melakukan ekstraksi.

Indikasi Relatif Indikasi menurut De Lee Forceps dilakukan secara elektif, asal syarat untuk melakukan ekstraksi terpenuhi Indikasi menurut Pinard Indikasi menurut Pinard hampir sama dengan menurut De Lee, namun ibu harus dipimpin dulu mengejan selama 2 jam.

INDIKASI
2. Indikasi Absolut 2.1. Indikasi Ibu : Ekstraksi forceps dilakukan pada ibu-ibu dengan keadaan pre-eklampsi, eklampsi, atau ibu-ibu dengan penyakit jantung, paru, partus kasep 2.2. Indikasi Janin: pada keadaan gawat janin 2.3. Indikasi waktu: pada kala dua lama

KONTRAINDIKASI TINDAKAN EKSTRAKSI CUNAM Terdapat kontra-indikasi berlangsungnya persalinan pervaginam. Pasien menolak tindakan ekstraksi cunam obstetrik. Dilatasi servik belum lengkap. Presentasi dan posisi kepala janin tidak dapat ditentukan dengan jelas. Kegagalan ekstraksi vakum. Fasilitas pemberian analgesia yang memadai tidak ada. Fasilitas peralatan dan tenaga pendukung yang tidak memadai. Operator tidak kompeten.

Jenis Ekstraksi Forceps Menurut Pemasangannya: 1. High Forceps 2. Mid Forceps 3. Low Forceps/ Outlet Forceps

Syarat Dalam Melakukan Ekstraksi Forceps: 1. Pembukaan lengkap 2. Presentasi belakang kepala 3. Panggul luas / tidak ada DKP 4. Ketuban sudah pecah 5. Kepala sudah engaged, sudah berada di dasar panggul 6. Janin tunggal hidup

Pemasangan forceps yang sempurna , jika memenuhi kriteria berikut: 1. Forceps terpasang biparietal kepala , atau sumbu panjang forceps sejajar dengan sumbu diameter mento-oksiput kepala janin, melintang terhadap panggul 2. Sutura sagitalis berada di tengah kedua daun forceps yang terpasang, dan tegak lurus dengan cunam 3. Ubun ubun kecil berada kira-kira 1 cm di atas bidang tersebut

Prosedur/ Langkah Dalam Melakukan Forceps: 1. Membayangkan forceps sebelum dipasang 2. Memasang forceps 3. Mengunci forceps 4. Memeriksa kembali pemasangan 5. Traksi percobaan 6. Traksi definitive 7. Melepaskan cunam

MEMBAYANGKAN

MEMASANG FORCEPS

PENGUNCIAN

PERIKSA ULANG

TRAKSI PERCOBAAN

TRAKSI DEFINITIF

MELEPASKAN CUNAM

Pemasangan Forceps dikatakan gagal apabila: 1. Forceps tidak dapat dipasang 2. Forceps tidak dapat dikunci 3. Tiga kali traksi janin tidak lahir

KOMPLIKASI EKSTRAKSI FORCEPS


MATERNAL Laserasi jalan lahir: Simfisiolisis. Perdarahan. Infeksi. Inkontinensia urin Inkontinensia alvi. ANAK Nilai Apgar rendah. Cephal hematoma. Cedera daerah wajah . Erb paralysa. Fraktura klavikula. Kenaikan kadar bilirubin. Perdarahan retina. Morbiditas jangka panjang