Anda di halaman 1dari 130

RPP

PENGATURAN DAN PENGAWASAN KETEKNIKAN


DALAM KEGIATAN USAHA MIGAS
(rev draf 28 Januari 2008)

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1. Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang


dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfir berupa fasa cair atau
padat, termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang
diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara
atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh
dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha minyak
dan gas bumi;
2. Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam
kondisi tekanan dan temperatur atmosfir berupa fasa gas yang
diperoleh dari proses penambangan minyak dan gas bumi;
3. Minyak dan Gas Bumi adalah minyak bumi dan gas bumi;
4. Bahan Bakar Minyak adalah bahan bakar yang berasal dan/atau
diolah dari minyak bumi;
5. Bahan Bakar Gas adalah bahan bakar untuk digunakan dalam
kegiatan transportasi yang berasal dari gas bumi dan/atau hasil
olahan dari minyak dan gas bumi;
6. Bahan Bakar Lain adalah bahan bakar yang berbentuk cair atau gas
yang berasal dari selain minyak bumi, gas bumi dan hasil olahan;
7. LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk
memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya
yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran
keduanya;
8. LNG adalah Gas Bumi yang terutama terdiri dari metana yang
dicairkan pada suhu sangat rendah (sekitar minus 160° C) dan
dipertahankan dalam keadaan cair untuk mempermudah transportasi
dan penimbunan;
9. Hasil Olahan adalah hasil dan/atau produk selain bahan bakar
minyak dan/atau bahan bakar gas yang diperoleh dari kegiatan usaha
pengolahan minyak dan gas bumi baik berupa produk akhir atau
produk antara kecuali pelumas dan produk petrokimia;
10. Wilayah Kerja adalah daerah tertentu di dalam wilayah hukum
pertambangan Indonesia yang wewenangnya diberikan Negara
kepada Pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan Eksplorasi
dan Eksploitasi;
11. Survei Umum adalah kegiatan lapangan yang meliputi pengumpulan,
analisis, dan penyajian data yang berhubungan dengan informasi

RPP Keteknikan Migas 280108 1


kondisi geologi untuk memperkirakan letak dan potensi sumber daya
minyak dan gas bumi di luar Wilayah Kerja;
12. Kegiatan Usaha Hulu adalah kegiatan usaha yang berintikan atau
bertumpu pada kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi;
13. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi
mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh
perkiraan cadangan minyak dan gas bumi di Wilayah Kerja yang
ditentukan;
14. Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
menghasilkan minyak dan gas Bumi dari wilayah kerja yang
ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur,
pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan
untuk pemisahan dan pemurnian minyak dan gas bumi di lapangan
serta kegiatan lain yang mendukungnya;
15. Kegiatan Usaha Hilir adalah kegiatan usaha yang berintikan atau
bertumpu pada kegiatan usaha Pengolahan, Pengangkutan,
Penyimpanan, dan/atau Niaga;
16. Pengolahan adalah kegiatan memurnikan, memperoleh bagian-
bagian, mempertinggi mutu, dan mempertinggi nilai tambah minyak
bumi dan/atau gas bumi, tetapi tidak termasuk pengolahan lapangan;
17. Pengangkutan adalah kegiatan pemindahan Minyak Bumi, Gas Bumi,
dan/atau hasil olahannya dari Wilayah Kerja atau dari tempat
penampungan dan pengolahan, termasuk pengangkutan gas bumi
melalui pipa transmisi dan distribusi;
18. Penyimpanan adalah kegiatan penerimaan, pengumpulan,
penampungan, dan pengeluaran minyak bumi dan/atau gas bumi;
19. Niaga adalah kegiatan pembelian, penjualan, ekspor, impor minyak
bumi dan/atau hasil olahannya, termasuk Niaga Gas Bumi melalui
pipa;
20. Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia adalah seluruh wilayah
daratan, perairan, dan landas kontinen Indonesia;
21. Badan Usaha (BU) adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang
menjalankan jenis usaha bersifat tetap, terus-menerus dan didirikan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta
bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
22. Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah badan usaha yang didirikan dan
berbadan hukum di luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang melakukan kegiatan di wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan wajib mematuhi peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Republik Indonesia;
23. Kontrak Kerja Sama adalah kontrak bagi hasil atau bentuk kontrak
kerja sama lain dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih
menguntungkan Negara dan hasilnya dipergunakan untuk sebesar-
besar kemakmuran rakyat;
24. Izin Usaha adalah izin yang diberikan kepada Badan Usaha untuk
melaksanakan Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan dan/atau
Niaga dengan tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba;

RPP Keteknikan Migas 280108 2


25. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden
beserta para Menteri;
26. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah
Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah;
27. Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk
melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang minyak dan
gas bumi;
28. Badan Pengatur adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan
pengaturan dan pengawasan terhadap penyediaan dan
pendistribusian bahan bakar minyak dan gas bumi pada Kegiatan
Usaha Hilir;
29. Departemen adalah departemen yang bidang tugas dan
kewenangannya meliputi kegiatan usaha minyak dan gas bumi;
30. Gas Metana Batubara (Coalbed Methane) adalah gas bumi
(hidrokarbon) dimana gas metana merupakan komponen utamanya
yang terjadi secara alamiah dalam proses pembentukan batubara
(coalification) dalam kondisi terperangkap dan terserap (terabsorbsi)
di dalam batubara dan/atau lapisan batubara;
31. Wilayah Terbuka adalah bagian dari Wilayah Hukum Pertambangan
Indonesia yang belum ditetapkan sebagai Wilayah Kerja;
32. Kontrak Jasa adalah suatu bentuk Kontrak Kerja Sama untuk
pelaksanaan Eksploitasi minyak dan gas bumi berdasarkan prinsip
pemberian imbalan jasa atas produksi yang dihasilkan;
33. Kontraktor adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang
diberikan wewenang untuk melaksanakan Eksplorasi dan Eksploitasi
pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan Kontrak Kerja Sama dengan
Badan Pelaksana;
34. Data adalah semua fakta, petunjuk, indikasi, dan informasi baik
dalam bentuk tulisan (karakter), angka (digital), gambar (analog),
media magnetik, dokumen, percontoh batuan, fluida, dan bentuk lain
yang didapat dari hasil survei umum, eksplorasi dan eksploitasi
minyak dan gas bumi;
35. Cadangan Strategis Minyak Bumi adalah jumlah tertentu minyak bumi
yang ditetapkan Pemerintah yang harus tersedia setiap saat untuk
kebutuhan bahan baku pengolahan di dalam negeri guna mendukung
ketersediaan dan pendistribusian bahan bakar minyak dalam negeri;
36. Cadangan Bahan Bakar Minyak Nasional adalah jumlah tertentu
bahan bakar minyak untuk mendukung penyediaan bahan bakar
minyak dalam negeri;
37. Pengolahan Lapangan adalah kegiatan pengolahan hasil produksi
sendiri sebagai kelanjutan dan/atau rangkaian kegiatan eksplorasi
dan eksploitasi minyak dan gas bumi sepanjang tidak ditujukan untuk
memperoleh keuntungan dan/atau laba atau untuk tujuan komersial;
38. Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa adalah kegiatan menyalurkan
gas bumi melalui pipa meliputi kegiatan transmisi, dan/atau transmisi
dan distribusi melalui pipa penyalur dan peralatan yang dioperasikan
dan/atau diusahakan sebagai suatu kesatuan sistem yang
terintegrasi;

RPP Keteknikan Migas 280108 3


39. Wilayah Jaringan Distribusi adalah wilayah tertentu dari jaringan
distribusi gas bumi yang merupakan bagian dari Rencana Induk
Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional;
40. Kegiatan Usaha Niaga Umum (Wholesale) adalah kegiatan usaha
penjualan, pembelian, ekspor dan impor bahan bakar minyak, bahan
bakar gas, bahan bakar lain dan /atau hasil olahan dalam skala besar
yang menguasai atau mempunyai fasilitas dan sarana penyimpanan
dan berhak menyalurkannya kepada semua pengguna akhir dengan
menggunakan merek dagang tertentu;
41. Kegiatan Usaha Niaga Terbatas (Trading) adalah kegiatan usaha
penjualan, pembelian, ekspor dan impor, bahan bakar minyak, bahan
bakar gas, bahan bakar lain dan/atau hasil olahan dalam skala besar
yang tidak menguasai atau mempunyai fasilitas dan sarana
penyimpanan dan hanya dapat menyalurkannya kepada pengguna
yang mempunyai/menguasai fasilitas dan sarana pelabuhan dan/atau
terminal penerima (receiving terminal);
42. Daerah Terpencil adalah suatu wilayah yang sulit dijangkau, dan
sarana/infrastruktur transportasi terbatas serta wilayah yang ekonomi
masyarakatnya belum berkembang sehingga diperlukan biaya yang
tinggi dalam penyaluran bahan bakar minyak;
43. Daerah Lepas Pantai adalah daerah yang meliputi perairan Indonesia
dan landas kontinen Indonesia;
44. Instalasi adalah kumpulan peralatan yang terangkai dalam suatu
konstruksi untuk melaksanakan fungsi tertentu dalam kegiatan usaha
minyak dan gas bumi;
45. Sumur adalah sumur minyak dan gas bumi termasuk di daerah lepas
pantai;
46. Direksi adalah Pimpinan Perusahaan yang melaksanakan kegiatan
usaha migas;
47. Pemurnian dan pengolahan adalah usaha memproses minyak dan
gas bumi di daratan atau di daerah lepas pantai dengan cara
mempergunakan proses fisika dan kimia guna memperoleh dan
mempertinggi mutu hasil-hasil minyak dan gas bumi yang dapat
digunakan;
48. Tempat pemurnian dan pengolahan adalah tempat penyelenggaraan
pemurnian dan pengolahan minyak dan gas bumi termasuk di
dalamnya peralatan, bangunan dan instalasi yang secara langsung
dan tidak langsung (penunjang) berhubungan dengan proses
pemurnian dan pengolahan;
49. Perusahaan adalah perusahaan yang melakukan usaha pada
kegiatan usaha minyak dan gas bumi;
50. Keselamatan migas adalah keselamatan yang mencakup
keselamatan pekerja, keselamatan umum, keselamatan instalasi dan
keselamatan lingkungan pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi;
51. Kepala Teknik Migas adalah seseorang yang memimpin dan
bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan
perundangan keselamatan minyak dan gas bumi pada suatu kegiatan
usaha migas;
52. Menteri adalah Menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya
meliputi kegiatan usaha minyak dan gas bumi;

RPP Keteknikan Migas 280108 4


53. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang bidang tugas dan
tanggung jawabnya meliputi kegiatan usaha minyak dan gas bumi;
54. Direktur adalah Direktur Direktorat yang bidang tugas dan tanggung
jawabnya meliputi urusan standar dan mutu, kaidah keteknikan yang
baik dan keselamatan migas pada kegiatan usaha minyak dan gas
bumi;
55. Kepala Inspeksi adalah Kepala Inspektur Migas (Minyak dan Gas
Bumi) yang diangkat oleh Direktur Jenderal;
56. Inspektur Migas (Minyak dan Gas Bumi) adalah pegawai negeri sipil
yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak untuk
melakukan inspeksi keselamatan minyak dan gas bumi;
57. Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan
termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus
semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat
keselamatan migas, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman,
perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk
memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya;
58. Standarisasi adalah proses merumuskan menetapkan, menerapkan
dan merevisi standar yang dilaksanakan secara tertib dan
bekerjasama dengan semua pihak;
59. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan
oleh Badan Standarisasi Nasional dan berlaku secara nasional;
60. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia adalah keputusan
pimpinan instansi teknis yang berwenang untuk memberlakukan
Standar Nasional Indonesia secara wajib terhadap barang dan atau
jasa;
61. Akreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh Komite
Akreditasi Nasional (KAN), yang menyatakan bahwa suatu
lembaga/laboratorium telah memenuhi persyaratan untuk melakukan
kegiatan sertifikasi tertentu ;
Akreditasi adalah proses pemberian pengakuan formal yang
menyatakan bahwa suatu lembaga telah memenuhi persyaratan
untuk melakukan kegiatan sertifikasi tertentu;
62. Sertifikasi adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap
barang dan atau jasa;
63. Sertifikat adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh
lembaga/laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan
bahwa barang, jasa, proses, sistem atau personel telah memenuhi
standar yang dipersyaratkan;
64. Tanda SNI adalah tanda sertifikasi yang dibubuhkan pada barang
kemasan atau label yang menyatakan telah terpenuhinya persyaratan
Standar Nasional Indonesia;
65. Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud,
baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun
tidak dapat dihabiskan, yang dapat diperdagangkan, dipakai,
dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen;
66. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi
yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh
konsumen;

RPP Keteknikan Migas 280108 5


67. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha,
baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum
yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun
bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha
dalam berbagai bidang ekonomi;
68. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain;
69. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan
penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan,
pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup;
70. Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber
daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati,
dan sumber daya buatan;
71. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada
dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam
suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup;
72. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain
ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya;
73. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya
alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijak
dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin
kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya;
74. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan;
75. Bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah setiap bahan yang
karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lain;
76. Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/
atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun
yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan
dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta makhluk hidup lain;
77. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau
lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran
dan/ atau perusakan lingkungan hidup;

RPP Keteknikan Migas 280108 6


78. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada
lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau
kegiatan;
79. Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan
oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai
tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau
kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan;
80. Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan Nusantara
dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya;
81. Limbah cair adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang
berwujud cair;
82. Limbah padat adalah sisa atau hasil samping dari suatu usaha
dan/atau kegiatan yang berwujud padat termasuk sampah;
83. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) adalah
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha
dan/atau kegiatan;
84. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang
sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau
kegiatan;
85. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara
cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan;
86. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) adalah upaya
penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup
yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan;
87. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya
pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak
besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan;
88. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL) adalah studi lingkungan untuk kegiatan yang tidak
berdampak penting dan secara teknologi dampaknya dapat dikelola;
89. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi
yang membina secara teknis usaha dan/atau kegiatan dimaksud;
90. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis
mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat
oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai
daerah;
91. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah
sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau
konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakkan
lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain;

RPP Keteknikan Migas 280108 7


92. Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup
reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan,
pengolahan dan penimbunan limbah B3;
93. Reduksi limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk
mengurangi jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah
B3, sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan;
94. Penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan atau kegiatannya
menghasilkan limbah B3;
95. Pengumpul limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pengumpulan dengan tujuan untuk mengumpulkan limbah B3
sebelum dikirim ke tempat pengolahan dan atau pemanfaatan dan
atau penimbunan limbah B3;
96. Pengangkut limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan
kegiatan pengangkutan limbah B3;
97. Pemanfaat limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pemanfaatan limbah B3;
98. Pengolah limbah B3 adalah badan usaha yang mengoperasikan
sarana pengolahan limbah B3;
99. Penimbun limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
penimbunan limbah B3;
100. Pengawas adalah pejabat yang bertugas di Instansi yang
bertanggung jawab melaksanakan pengawasan pengelolaan limbah
B3;
101. Penyimpanan adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan
oleh penghasil dan atau pengumpul dan atau pemanfaat dan atau
pengolah dan atau penimbun limbah B3 dengan maksud menyimpan
sementara;
102. Pengumpulan limbah B3 adalah kegiatan mengumpulkan limbah B3
dari penghasil limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara
sebelum diserahkan kepada pemanfaat dan atau pengolah dan atau
penimbun limbah B3;
103. Pengangkutan limbah B3 adalah suatu kegiatan pemindahan limbah
B3 dari penghasil dan atau dari pengumpul dan atau dari pemanfaat
dan atau dari pengolah ke pengumpul dan atau ke pemanfaat dan
atau ke pengolah dan atau ke penimbun limbah B3;
104. Pemanfaatan limbah B3 adalah suatu kegiatan perolehan kembali
(recovery) dan atau penggunaan kembali (reuse) dan atau daur ulang
(recycle) yang bertujuan untuk mengubah limbah B3 menjadi suatu
produk yang dapat digunakan dan harus juga aman bagi lingkungan
dan kesehatan manusia;
105. Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik
dan komposisi limbah B3 untuk menghilangkan dan atau mengurangi
sifat bahaya dan atau sifat racun;
106. Penimbunan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan limbah
B3 pada suatu fasilitas penimbunan dengan maksud tidak
membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup;
107. Usaha Penunjang Minyak dan Gas Bumi selanjutnya disebut Usaha
Penunjang Migas adalah kegiatan usaha yang menunjang dan
mendukung kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang meliputi
usaha jasa penunjang migas dan usaha industri penunjang migas;

RPP Keteknikan Migas 280108 8


108. Usaha Jasa Penunjang Migas adalah kegiatan usaha jasa layanan
yang diberikan atau disediakan oleh badan usaha atau perorangan
untuk dipergunakan dalam Kegiatan Usaha Hulu yang meliputi
eksplorasi dan eksploitasi dan Kegiatan Usaha Hilir yang meliputi
pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan niaga;
109. Usaha Industri Penunjang Migas adalah kegiatan usaha industri yang
menghasilkan bahan, barang dan/atau peralatan yang digunakan
terkait sebagai penunjang langsung dalam kegiatan usaha minyak
dan gas bumi;
110. Jasa Konstruksi adalah layanan penanganan pekerjaan bangunan
atau konstruksi atau wujud fisik lainnya yang perencanaan teknis dan
spesifikasinya ditetapkan oleh pengguna barang/jasa dan proses
serta pelaksanaannya diawasi oleh pengguna barang/ jasa;
111. Jasa Nonkonstruksi adalah layanan pekerjaan untuk menunjang
kegiatan eksplorasi, eksploitasi/produksi dalam kegiatan usaha hulu
migas;
112. Jasa Konsultansi adalah layanan jasa keahlian profesional dalam
berbagai bidang dalam rangka mencapai sasaran tertentu yang
keluarannya berbentuk piranti lunak dan disusun secara sistematis
berdasarkan kerangka acuan kerja yang ditetapkan pengguna/jasa;
113. Barang adalah benda dalam berbagai bentuk baik utuh maupun
terurai, yang meliputi bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi,
peralatan, yang spesifikasinya ditetapkan oleh pengguna
barang/jasa;
114. Jasa adalah layanan penanganan pekerjaan atau wujud fisik lainnya
yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan pengguna
barang/jasa dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh
pengguna barang/ jasa;
115. Material adalah benda dalam berbagai bentuk dan uraian, yang
meliputi bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi, yang
spesifikasinya ditetapkan oleh pengguna barang/jasa;
116. Peralatan adalah benda-benda dalam berbagai bentuk, yang dirakit
menjadi satu kesatuan yang mempunyai fungsi untuk tujuan tertentu;
117. Industri Pemanfaat Migas adalah benda dalam berbagai bentuk dan
uraian, yang meliputi bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi,
yang spesifikasinya ditetapkan oleh pengguna barang/jasa;
118. Surat Keterangan Terdaftar Migas Registrasi Perusahaan Usaha
Penunjang (RPUP) adalah surat yang diberikan kepada Usaha
Penunjang Migas berdasarkan klasifikasi dan kualifikasi usaha
penunjang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki;
119. Sistem adalah suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan satu
sama lain untuk menjalankan suatu fungsi;
120. Prosedur adalah tata cara atau tahapan yang tertulis sebagai acuan
dalam melaksanakan suatu kegiatan;
121. Manajemen Reservoar adalah kegiatan dengan memanfaatkan
seluruh sumber daya yang ada mulai dari sumber daya manusia,
teknologi dan sumber daya keuangan untuk mendapatkan
keuntungan yang maksimum atau keuntungan dari memproduksi
suatu reservoar.

RPP Keteknikan Migas 280108 9


122. Kompetensi Kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang
mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang
sesuai dengan standar yang ditetapkan;
123. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya
disingkat SKKNI, adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup
aspek pengetahuan, keterampilan dan / atau keahlian serta sikap
kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan
yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
124. Sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian sertifikat
kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji
kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia,
Standar Internasional dan/atau Standar Khusus
125. Sertifikat kompetensi kerja adalah bukti tertulis yang diterbitkan oleh
lembaga sertifikasi profesi terakreditasi yang menerangkan bahwa
seseorang telah menguasai kompetensi kerja tertentu sesuai dengan
SKKNI
126. Kerangka Kualifikasi Nasional Indnesia yang selanjutnya disingkat
KKNI, adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang
dapat menyandingkan, menyetarakan dan mengintegrasikan antara
bidang pendidikan dan pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam
rangka pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur
pekerjaan di berbagai sektor.

Pasal 2

Inspektur Migas bertanggung-jawab atas tugas dan pekerjaannya kepada


Kepala Inspektur Migas.

Pasal 3

(1) BU/BUT diwajibkan menyampaikan kepada Menteri rencana kerja tahunan


dan anggaran perusahaan yang telah disahkan.
(2) BU/BUT diwajibkan mengajukan kepada Menteri rencana kegiatan usaha
minyak dan gas bumi yang didasarkan pada rencana kerja tahunan dan
anggaran perusahaan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini
dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum memulai
pekerjaannya untuk disetujui.
(3) Hal-hal yang dimaksudkan dengan rencana operasi sebagaimana
dimaksudkan pada ayat (2) pasal ini akan ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 4

(1) Semua data, contoh, peta dan dokumen lainnya yang diperoleh BU/BUT
dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi berdasarkan
ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini adalah milik Pemerintah.
(2) BU/BUT wajib menyampaikan kepada Menteri semua laporan dan semua
data berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini,
yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 10


Pasal 5

Dengan seizin Menteri, BU/BUT dapat mengirimkan contoh dan data mengenai
wilayah kegiatan usaha migas dan atau wilayah kerjanya keluar negeri untuk
keperluan penilaian dan penelitian.

Pasal 6

(1) Pengusaha BU/BUT bertanggung-jawab penuh atas ditaatinya ketentuan-


ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini termasuk pihak-pihak lain yang
bekerja untuknya, dalam wilayah kuasa pertambangan kegiatan usaha
migas dan/ atau wilayah kerjanya.
(2) Dalam hal pengusaha BU/BUT tidak melaksanakan sendiri kegiatan usaha
migas pekerjaan pertambangan sebagaimana termasuk dalam ketentuan-
ketentuan Peraturan Pemerintah ini, pengusaha BU/BUT diwajibkan
menunjuk secara tertulis seseorang sebagai penanggung jawab, yang
karenanya bertanggung-jawab atas kewajiban-kewajiban pengusaha
BU/BUT, sesuai dengan surat penunjukannya.
(3) Penunjukan penanggung jawab sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2)
pasal ini, oleh pengusaha BU/BUT wajib diberitahukan kepada Menteri
untuk disetujui dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan
sebelum dimulainya sesuatu pekerjaan.

Pasal 7

Setiap akan diadakan penggantian pemilik BU/BUT dan/atau penanggung-


jawab, wajib diberitahukan kepada Menteri dalam jangka waktu selambat-
lambatnya 1 (satu) bulan sebelum dilakukan penggantian tersebut.
Pasal 8

(1) Pemilik BU/BUT dan/atau penanggung-jawab dan/atau setiap orang yang


berada dan bekerja pada Perusahaan diwajibkan:
a. memberikan keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan
Inspektur Migas;
b. untuk menyertai Inspektur Migas dalam pemeriksaannya, apabila
diminta.
(2) BU/BUT diwajibkan menyediakan fasilitas pengangkutan, komunikasi,
akomodasi dan fasilitas-fasilitas lainnya, yang diperlukan Inspektur Migas
dengan layak, yang dibutuhkan dalam pemeriksaan dan penelitiannya.
(3) Inspektur Migas harus membuat berita acara atas sumpah jabatan
mengenai pemeriksaan dan penelitian sebagaimana dimaksudkan pada
ayat (2) pasal ini yang kemudian ditandatangani olehnya.

Pasal 9

(1) BU/BUT diwajibkan menyimpan pada tempat yang layak peta yang
seksama mengenai wilayah kegiatan usaha dan/atau wilayah kerjanya

RPP Keteknikan Migas 280108 11


dimana digambarkan kegiatan usaha migas dan letak instalasi serta
dokumen lainnya yang bersangkutan.
(2) BU/BUT diwajibkan menyampaikan masing-masing satu fotokopi peta
sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini kepada Menteri dan
instansi lain yang terkait.

Pasal 10

(1) Tatausaha dan pengawasan keselamatan migas atas pekerjaan-pekerjaan


serta pelaksanaan kegiatan usaha minyak dan gas bumi berada dalam
wewenang dan tanggung jawab Menteri.
(2) Menteri melimpahkan wewenangnya untuk mengawasi pelaksanaan
ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini kepada Direktur
Jenderal dengan hak subtitusi.
(3) Pelaksanaan tugas dan pekerjaan sebagaimana dimaksudkan pada ayat
(2) dilakukan oleh Kepala Inspektur Migas dibantu oleh Inspektur Migas.
(4) Kepala Inspektur Migas memimpin dan bertanggung jawab mengenai
pengawasan ditaatinya ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah
ini dan mempunyai wewenang sebagai Inspektur Migas.
(5) Inspektur Migas melaksanakan pengawasan terhadap ditaatinya
ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 11

(1) BU/BUT bertanggung jawab penuh atas ditaatinya ketentuan-ketentuan


dalam Peraturan Pemerintah ini dan kebiasaan yang baik dalam teknik
kegiatan usaha minyak dan gas bumi.
(2) Dalam hal pemilik BU/BUT menjalankan sendiri pimpinan dan
pengawasan ditempat kegiatan usaha migas, ia menjabat sebagai Kepala
Teknik Migas Migas dan mendapat pengesahan dari Kepala Inspektur
Migas.
(3) Dalam hal pemilik BU/BUT tidak menjalankan sendiri pimpinan dan
pengawasan di tempat kegiatan usaha migas, ia diwajibkan menunjuk
seorang sebagai Kepala Teknik Migas yang menjalankan pimpinan dan
pengawasan, yang harus disahkan terlebih dahulu oleh Kepala Inspektur
Migas sebelum yang bersangkutan melakukan pekerjaannya.
(4) Kepala Teknik Migas termasuk pada ayat (2) dan ayat (3) harus memenuhi
syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas.
(5) Kepala Teknik Migas wajib menunjuk seorang wakil yang disahkan oleh
Kepala Inspektur Migas sebagai penggantinya, apabila ia berhalangan
atau tidak ada di tempat selama maksimum 3 (tiga) bulan berturut-turut,
kecuali apabila ditentukan lain oleh Kepala Inspektur Migas.
(6) Serah terima tanggung jawab antara Kepala Teknik Migas dan wakilnya
termasuk pada ayat (5) harus dilakukan secara tertulis dan dilaporkan
kepada Kepala Inspektur Migas.

RPP Keteknikan Migas 280108 12


(7) Pemilik BU/BUT bertanggung jawab penuh atas ditaatinya ketentuan-
ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini dan kebiasaan yang baik dalam
teknik kegiatan usaha minyak dan gas bumi.

Pasal 12

Dilarang masuk dalam kegiatan usaha migas kecuali mendapat izin dan
dikawal.

Pasal 13

Kepala Inspektur Migas dan atau Kepala Teknik Migas dapat memberhentikan
seseorang karena tindakan-tindakan/pekerjaan–pekerjaan yang
membahayakan.

Pasal 14

Setiap orang berkewajiban untuk melaporkan kepada Inspektur Migas dan atau
Kepala Teknik Migas apabila mengetahui seseorang dengan tindakan-tindakan/
pekerjaan-pekerjaan yang membahayakan.

Pasal 15

Kepala Teknik Migas wajib mengetahui jumlah pekerja dengan kualifikasinya


serta ditempatkan dimana pekerja tersebut ditempatkan.

Pasal 16

BU/BUT wajib menyediakan alat pelindung diri, peralatan keselamatan kerja,


sarana komunikasi, peta lokasi, prosedur penyelamatan serta tempat yang
layak untuk MCK.
Pasal 17

Setiap kegiatan usaha migas mulai dari rencana, dilaksanakan, berhenti untuk
sementara atau permanen, wajib dilaporkan kepada Menteri.

Pasal 18

Setiap BU/BUT wajib menggunakan instalasi, peralatan dan prosedur kerja


yang baik dan aman serta menjaga kelestarian lingkungan

RPP Keteknikan Migas 280108 13


BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
(Keselamatan, Keandalan, Efisiensi dan Konservasi Sumber Daya)

Pasal 19

(1) Dalam mengembangkan dan memproduksi lapangan minyak dan gas


bumi, BU/BUT wajib melakukan optimalisasi dan menerapkan kaidah
keteknikan yang baik.
(2) Dalam melakukan kegiatan usaha pengolahan, pengangkutan,
penyimpanan dan niaga minyak dan gas bumi, BU wajib menerapkan
kaidah keteknikan yang baik untuk mencapai efisiensi dan efektifitas.
(3) Kaidah keteknikan yang baik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
ayat (2), bertujuan untuk:
a. memanfaatkan reservoar minyak dan gas bumi secara optimal;
b. menciptakan kondisi andal dan efisien bagi instalasi migas;
c. menciptakan kondisi aman bagi pekerja dan masyarakat umum di
sekitar instalasi migas;
d. menciptakan kondisi akrab lingkungan bagi fungsi lingkungan hidup di
sekitar instalasi migas;
e. menciptakan kondisi aman bagi beroperasinya instalasi migas dari
gangguan dan atau potensi gangguan dari luar.

BAB III
PERSYARATAN UMUM

Persyaratan Umum Dalam Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan


Perlengkapan Penyelamat Dan Pelindung Diri

Pasal 20

(1) Pemilik BU/BUT wajib menyediakan dalam jumlah yang cukup alat-alat
penyelamat dan pelindung diri yang jenisnya disesuaikan dengan sifat
nya.
(2) Alat-alat termaksud pada ayat (1) setiap waktu harus memenuhi syarat-
syarat keselamatan migas yang telah ditentukan.
(3) Kepala Teknik Migas wajib mengawasi bahwa alat-alat tersebut benar-
benar digunakan sesuai dengan kegunaannya oleh setiap pekerja dan
orang lain yang memasuki tempat kerja.

Pasal 21

(1) Pada tempat yang ditentukan dalam tempat kegiatan usaha minyak dan
gas bumi harus tersedia petugas dan tempat yang memenuhi syarat untuk

RPP Keteknikan Migas 280108 14


keperluan pertolongan pertama pada kecelakaan, dilengkapi dengan obat
dan peralatan yang cukup termasuk mobil ambulans yang berada dalam
keadaan siap digunakan.
(2) Pada tempat-tempat tertentu harus disediakan alat-alat dan obat untuk
memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan termasuk alat untuk
mengangkut korban kecelakaan.

Pasal 22

(1) Kepala Teknik Migas diwajibkan memberikan pengetahuan mengenai


pertolongan pertama pada kecelakaan kepada sebanyak mungkin pekerja
bawahannya, sehingga para pekerja tersebut mampu memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan.
(2) Pada tempat-tempat tertentu harus dipasang petunjuk-petunjuk yang
singkat dan jelas tentang tindakan pertama yang harus dilakukan apabila
terjadi kecelakaan.

Pasal 23

(1) Setiap Badan Usaha Penunjang yang akan melaksanakan kegiatannya


pada BU/BUT yang melakukan kegiatan usaha minyak dan gas bumi wajib
memiliki Surat Keterangan Terdaftar Perusahaan Usaha Penunjang
Minyak dan Gas Bumi.
(2) Pedoman dan tata cara pengajuan permohonan Surat Keterangan
Terdaftar Perusahaan Usaha Penunjang Minyak dan Gas Bumi seperti
tersebut pada ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Peraturan Menteri.
(3) Bagi Badan Usaha Penunjang yang memiliki klasifikasi bidang usaha
inspeksi teknik tidak boleh memiliki klasifikasi bidang usaha konstruksi,
pabrikasi, dan rekayasa (engineering.)
(4) Kegiatan Usaha Penunjang Minyak dan Gas Bumi dapat dilakukan oleh:
a. Badan Usaha Jasa Penunjang Migas Nasional
b. Badan Usaha Jasa Penunjang Migas Dalam Negeri
c. Badan Usaha Jasa Penanaman Modal Asing (PMA)
d. Industri/Badan Usaha Jasa Asing

BAB IV
KONSERVASI SUMBER DAYA MIGAS

Bagian Kesatu
Produksi, Penimbunan, Pemuatan dan Konservasi

Pasal 24

BU/BUT diwajibkan melakukan seluruh usaha produksi di daerah operasinya


sesuai dengan kaidah keteknikan yang baik dalam kegiatan usaha minyak dan
gas bumi.

RPP Keteknikan Migas 280108 15


Pasal 25

Segera setelah penemuan dan penentuan batas reservoar, BU/BUT wajib


menyampaikan kepada Menteri, data studi reservoar dan taksiran cadangan.

Pasal 26

BU/BUT wajib menyampaikan kepada Menteri laporan bulanan secara teratur


tentang data produksi.

Pasal 27

(1) BU/BUT wajib memberikan kepada Menteri keterangan yang terperinci


untuk setiap penyelesaian sumur yang menggambarkan formasi produksi
potensial yang berbeda-beda.
(2) BU/BUT wajib memberitahukan Menteri dengan segera apabila dalam satu
sumur hendak berpindah dari satu lapisan yang berproduksi ke lapisan
lain.

Pasal 28

Sebelum melakukan usaha sekunder dan tersier pada suatu reservoar BU/BUT
diwajibkan memberitahukan kepada Menteri.

Pasal 29

Selama usaha sekunder dan tersier berlangsung BU/BUT diwajibkan


mencantumkan dalam laporan bulanan termaksud dalam Pasal 26 Peraturan
Pemerintah ini, perincian mengenai hal-hal sebagai berikut:
a. jumlah zat yang dihasilkan dan diinjeksikan baik secara bulanan maupun
secara kumulatif;
b. tekanan injeksi dan tekanan reservoar;
c. saat diambilnya tekanan tersebut pada huruf b di atas disertai catatan
mengenai setiap permulaannya.

Pasal 30

BU/BUT diwajibkan mencantumkan dalam laporan bulanan termaksud dalam


Pasal 26 Peraturan Pemerintah ini, catatan mengenai setiap kegiatan stimulasi
dengan asam atau zat lain yang berguna serta akibatnya terhadap produksi.

Pasal 31

(1) BU/BUT dilarang meninggalkan sumur baik untuk sementara maupun


untuk selamanya, tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri.
(2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini harus
memuat keterangan mengenai setiap tanda hidrokarbon, lapisan yang

RPP Keteknikan Migas 280108 16


mengandung air dan lapisan yang belubang-lubang yang diketemukan,
disertai pengujian dan pencatatan yang telah atau sedang dilakukan.
(3) Apabila hendak meninggalkan sumur, BU/BUT diwajibkan mentaati cara
dan kebijakan yang baik dalam teknik pertambangan minyak dan gas bumi
yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri dengan
berkonsultasi dengan Menteri lain yang bersangkutan.
(4) BU/BUT dilarang meninggalkan sumur sebelum melakukan tindakan-
tindakan yang layak untuk mencegah timbulnya kecelakaan.
(5) Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan terhitung mulai
saat sumur ditinggalkan, BU/BUT diwajibkan memberitahukan kepada
Menteri mengenai telah dilaksanakannya semua pekerjaan yang
berhubungan dengan hal tersebut.

Pasal 32

(1) Apabila hendak meninggalkan sumur yang berproduksi, BU/BUT


diwajibkan memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri.
(2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini harus
memuat keterangan dan perincian termaksud dalam Pasal 31 Peraturan
Pemerintah ini.
(3) Apabila hendak mengadakan perubahan yang berarti mengenai rencana
sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini atau apabila kondisi
reservoar mengalami suatu perubahan, BU/BUT diwajibkan
memberitahukan hal tersebut kepada Menteri.
Pasal 33

BU/BUT wajib untuk mengalokasikan dana untuk penanganan paska operasi.

Pasal 34

Pengelolaan reservoar termasuk optimalisasi produksi, yang tidak merusak


karakteristik reservoar.

Pasal 35

BU/BUT wajib mendapatkan persetujuan disain dasar pengembangan lapangan


minyak dan gas bumi dari Menteri.

Bagian Kedua
Manajemen Reservoar

Pasal 36

BU/BUT wajib mendapatkan persetujuan dari Menteri untuk memulai suatu


kegiatan eksplorasi.

RPP Keteknikan Migas 280108 17


Pasal 37

BU/BUT wajib menerapkan manajemen reservoar sesuai kaidah keteknikan


yang baik.
Pasal 38

Pada saat akan mengoperasikan wilayah baru, BU/BUT wajib melakukan


evaluasi yang menyangkut aspek aktivitas perdagangan minyak dan gas bumi,
industri dan lingkungan serta potensi bahaya yang mungkin terjadi dan aspek
keekonomian dan dampak sosial masyarakat.

Pasal 39

Manajemen reservoar yang dimaksud pada pasal 37 meliputi kegiatan-kegiatan


yang dimulai dati tahapan eksplorasi, tahapan penemuan cadangan, tahapan
deliniasi, tahapan pengembangan, tahapan produksi alamiah, tahapan produksi
lanjut (secondary dan tertiary) serta tahapan meninggalkan lapangan.

Bagian Ketiga
Tahapan Eksplorasi

Pasal 40

BU/BUT wajib melaporkan kepada Menteri 2 (dua) minggu sebelum dimulainya


pelaksanaan survei geologi terhadap suatu daerah.

Pasal 41

Pelaporan sebagaimana dimaksud pada Pasal 40, harus dilengkapi dengan


luas area yang akan dilakukan survei geologi, peralatan yang akan digunakan,
teknologi yang digunakan serta daftar tenaga kerja yang digunakan.

Pasal 42

Setiap kapal atau peralatan yang digunakan untuk survei geologi wajib
dilakukan pemeriksaan teknis oleh Menteri dan wajib memenuhi syarat
keselamatan migas sebagaimana ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 43

Setiap tenaga kerja yang digunakan pada kegiatan survei geologi wajb memiliki
sertifikat kompetensi sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 44

Dalam rangka optimalisasi kegiatan ini maka dalam melaksanakan kegiatan


eksplorasi wajib mempertimbangkan asas-asas pemboran.

Pasal 45

RPP Keteknikan Migas 280108 18


Menteri dengan pertimbangan tertentu dapat memberhentikan kegiatan
pemboran eksplorasi dan pemboran pengembangan.

Bagian Keempat
Tahapan Penemuan Cadangan

Pasal 46

BU/BUT wajib melaporkan kepada Menteri mengenai perkembangan sesaat


setelah menemukan suatu potensi cadangan hidrokarbon.

Pasal 47

Dalam laporan pada Pasal 46, BU/BUT menguraikan mengenai data-data


mengenai jenis formasi, tipe batuan serta stratigrafinya, batas atas struktur
lapisan serta ketebalan lapisan produktif.

Bagian Kelima
Tahapan Pengembangan Lapangan

Pasal 48

Pada saat akan melaksanakan pengembangan lapangan, BU/BUT wajib


melakukan disain dasar fasilitas produksi di permukaan dan di bawah
permukaan berdasarkan hasil studi reservoar model, analisis kinerja reservoar
dan peramalan.

Pasal 49

Disain dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 wajib mendapatkan


persetujuan dari Menteri.

Pasal 50

Studi yang dimaksud pada Pasal 48 wajib juga menganalisis hal-hal terkait
dengan rencana pengembangan lapangan yaitu faktor ekonomi, aspek sumber
daya, aspek keselamatan yang terkait, aspek teknik, aspek komersial dan
lingkungan, demikian juga mengenai fasilitas produksi yang akan dibongkar
pada saat kontrak telah habis atau cadangan habis (tidak ekonomis).

Bagian Keenam
Tahapan Produksi

Pasal 51

RPP Keteknikan Migas 280108 19


Menteri dapat memberikan persyaratan tertentu kepada BU/BUT yang akan
melaksanakan pembangunan fasilitas peningkatan produksi, pelaksanaan
kegiatan produksi pada saat produksi meningkat.

Pasal 52

Persyaratan yang ditentukan pada Pasal 51 wajib mempertimbangkan


keuntungan untuk masyarakat, dapat membangun sistem transportasi dan
efisiensi dari penggunaan energi.

Bagian Ketujuh
Tahapan Produksi Lanjut

Pasal 53

BU/BUT wajib mendapatkan persetujuan dari Menteri untuk dimulainya suatu


kegiatan produksi tahap lanjut yang didasarkan dari kajian reservoar dan
fasilitas produksi.

Bagian Kedelapan
Rencana Pembongkaran

Pasal 54

BU/BUT wajib mengusulkan rencana melakukan pembongkaran


(decommissioning) fasilitas produksi kepada Menteri paling lambat 5 (lima)
tahun sebelum berakhirnya masa kontrak, atau paling lambat 2 (dua) tahun
sebelum melakukan pembongkaran.

Pasal 55

BU/BUT wajib mengusulkan rencana pembongkaran fasilitas tersebut dengan


mencantumkan rencana melanjutkan produksi, atau penutupan atau
pembuangan fasilitas.

Pasal 56

Terhadap rencana pembongkaran tersebut Menteri dapat memberikan


persyaratan tertentu.

Bagian Kesembilan
Persyaratan Keselamatan

Pasal 57

BU/BUT dalam melakukan manajemen reservoar pada kondisi dan tingkat


tertentu wajib menjamin keselamatan migas.

RPP Keteknikan Migas 280108 20


Bagian Kesepuluh
Sistem Tanggap Darurat

Pasal 58

BU/BUT wajib membuat sistem tanggap darurat (emergency preparadness)


untuk mengatasi apabila terjadi kecelakaan terhadap proses maupun manusia.

Pasal 59

Apabila terjadi suatu kecelakaan atau kondisi darurat, Menteri dapat meminta
pihak lain disekitar kegiatan untuk membantu serta mengerahkan sumber daya
untuk menghentikan kondisi darurat.

Bagian Kesebelas
Kawasan Keselamatan Operasi Migas Zona Aman (Safety Zones)

Pasal 60

Lingkungan di sekitar dan di atas fasilitas produksi harus ditetapkan sebagai


kawasan keselamatan migas kecuali ditentukan lain oleh Menteri.

Pasal 61

Pada saat terjadinya suatu kecelakaan ataupun keadaan darurat Menteri dapat
memperluas kawasan keselamatan migas.

Pasal 62

Perluasan kawasan keselamatan operasi migas pada Pasal 61 harus


dikoordinasikan dengan Menteri lain terkait.

Pasal 63

Disekitar fasilitas yang telah ditinggalkan dapat ditetapkan oleh Menteri sebagai
kawasan keselamatan migas.

Pasal 64

BU/BUT wajib melaporkan semua kegiatan yang terkait dengan pengelolaan


keselamatan migas kepada Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 21


BAB V
PERSYARATAN INSTALASI
(Pembangunan, Pengujian, Pengoperasian, Pembongkaran dan
Persyaratan khusus)

Pasal 65

Instalasi kegiatan usaha migas mulai tahap perencanaan, pembangunan,


pengujian, pengoperasian, pembongkaran dan persyaratan khusus harus
sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini dan atau standar yang diakui.

BAB VI
INSTALASI HULU

(Alat-Alat Peledak dan Penembakan)

Pasal 66

(1) Dalam Peraturan Pemerintah ini, yang dipandang sebagai bahan-bahan


peledak adalah:
a. mesin dan alat-alat peledak yang sejenis;
b. bahan-bahan tembak peledak (brisent);
c. bahan-bahan tembak keselamatan (yaitu bahan-bahan tembak yang
memberi cukup perlindungan terhadap gas tambang dan zat arang);
d. segala bahan-bahan tembak antara lain bahan-bahan tembak
menggunakan hawa cair;
e. detonator-detonator dalam segala bentuk selama detonator-detonator
mengandung air gas letus atau zat semacam yang menimbulkan.
(2) Penggunaan bahan-bahan tembak termaksud sub dari ayat (1) ini hanya
dengan izin dari Kepala Inspektur Migas, yang pada isinya dapat
memberikan syarat.
(3) Kalau ada keragu-raguan dalam golongan-golongan manakah yang
tersebut dalam ayat (1) tentang bahan peledak itu harus dimasukkan,
maka hal ini ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas, Ia berwenang atas
biaya pemegang izin konsesi menggunakan tenaga ahli untuk menyelidiki
apakah bahan-bahan tembak itu memenuhi syarat-syarat untuk
digunakan.
(4) Dilarang untuk memakai bahan-bahan peledak lainnya selain dari pada
yang diberikan oleh BU/BUT atau oleh Kepala Teknik Migas untuk
pekerjaan tambang seluruhnya atau untuk bagian khusus.

Pasal 67

(1) Bahan-bahan peledak hanya dapat diterima atau diangkut, ditimbun dan
diberikan kepada orang-orang yang ditunjuk oleh orang-orang yang

RPP Keteknikan Migas 280108 22


mengeksplorir atau oleh Kepala Teknik Migas dengan menulis dalam Buku
Kegiatan Migas dengan menerangkan pekerjaan-pekerjaannya. Orang-
orang itu harus mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk
mencegah pencurian bahan-bahan peledak.
(2) Untuk menyelenggarakan bahan-bahan peledak dapat ditunjuk oleh
pegawai-pegawai yang bertanggung jawab yaitu pekerja-pekerja yang
dapat dipercaya.

Pasal 68

(1) Persediaan detonator tidak boleh lebih besar dari pada persediaan
sehingga harus seimbang dengan jumlah maksimum dari bahan-bahan
peledak.
(2) Detonator-detonator harus disimpan dalam tempat kering yang tertutup
dan yang memberikan cukup keselamatan pada lingkungannya.

Pasal 69

Paling sedikit sekali seminggu maka isi dan keadaan dari tempat timbunan
yang tersebut dalam pasal sebelumnya diperiksa dengan seksama oleh
BU/BUT atau oleh Kepala Teknik Migas atau oleh seseorang yang ditunjuk oleh
mereka yang juga diberikan tugas untuk memeliharanya, mereka mencatat
pendapatnya dalam daftar persediaan.

Pasal 70

(1) Bahan-bahan peledak dalam waktu 24 jam setelah tiba dalam pekerjaan
eksplorasi atau pekerjaan tambang diserahkan dan ditimbun dalam tempat
penimbunan.
(2) Waktu pengangkutan bahan-bahan peledak dilarang untuk merokok,
mempunyai bahan-bahan menyala atau pijar dan memakai lampu-lampu
keselamatan dari tembaga atau kuningan pada waktu pengangkutan
peluru-peluru dan detonator-detonator di tambang-tambang dari tempat
penimbunan ke tempat kerja maka diperbolehkan untuk menggunakan
lampu-lampu.
(3) Pengangkutan bahan-bahan peledak ke tempat penimbunan dan suatu
tempat penimbunan ke tempat penimbunan yang lain hanya dapat
dilaksanakan dalam koli yang tertutup baik dan dibawah pengawasan
orang-orang tertentu yang ditugaskan untuk kepentingan itu.
(4) Harus dijaga sebaik-baiknya agar pada waktu pengangkutan bahan-bahan
peledak jangan dibanting-banting.
(5) Pengangkutan itu hanya diperbolehkan di atas permukaan tanah pada
siang hari dan dilindungi selayaknya terhadap penyinaran mata hari dan di
dalam tambang sebanyak mungkin dilaksanakan di antara dua waktu
kerja.
(6) Pengangkutan bahan-bahan tembak melalui sumur tambang harus
dilaksanakan secara mekanis dan lambat dan baru setelah diberitahukan

RPP Keteknikan Migas 280108 23


dengan sinyal-sinyal baik kepada ruangan mesin maupun kepada tempat
penerimaan di bawah tanah bahwa pengangkutan itu akan dilaksanakan.
(7) Kecuali orang yang mengantarkan maka dalam bak muatan atau dalam
kerangkeng tidak boleh ada orang-orang duduk bersama dengan bahan
peledak.
(8) pada pengangkutan yang termaksud dalam ayat (3) pasal ini maka
dilarang untuk mengangkut bersama-sama bahan peledak dengan atau
barang-barang lain dan juga untuk mengangkut detonator-detonator
bersama-sama dengan bahan peledak lainnya.

Pasal 71

(1) Bahan-bahan peledak yang dianggap rusak tidak boleh dipakai lagi, akan
tetapi harus segera dimusnahkan di atas tanah di tempat yang
diperuntukkan untuk kepentingan itu dengan memperhatikan penjagaan-
penjagaan yang diperlukan oleh orang-orang yang khusus ditunjuk untuk
kepentingan ini.
(2) Pada waktu pemberhentian untuk sementara atau tetap dari pekerjaan-
pekerjaan eksplorasi atau penggalian maka segala bahan-bahan peledak
yang masih ada pada pekerjaan disingkirkan dari tempat itu sesuai dengan
kehendak kepala inspektur Migas, kecuali bila oleh pemegang wilayah
Kerja atau pemegang kuasa pertambangan dengan musyawarah dengan
kepala inspektur Migas mengambil tindakan-tindakan lain.

Pasal 72

(1) Tempat penimbunan bahan-bahan peledak dibedakan:


a. di atas tanah;
b. di bawah tanah;
c. tempat-tempat penimbunan pembantu di bawah tanah.
(2) Selain untuk menimbun bahan-bahan peledak di tempat penimbunan di
atas tanah diberikan atas surat permohonan waktu kepentingan itu yang
dimajukan dengan melampirkan gambar-gambar surat keterangan oleh
kepala inspektur Migas pada izin itu menetapkan jumlah maksimum
bahan-bahan peledak yang dapat ditimbun dengan memperhatikan batas-
batas yang sesuai.
(3) Bila tempat penimbunan itu dilingkungan dengan tempat tanggul tanah
yang tingginya paling sedikit 2 (dua) meter dan bagian atasnya lebar 1
(satu) meter dengan jalan masuk yang tidak berhadapan dengan ukuran
yang sama maka jarak-jarak yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini
dikurangi dengan separuhnya; jarak-jarak itu diperkecil sampai
seperempatnya bila menurut perimbangan Kepala Inspektur Migas
lingkungannya cukup dilindungi perhubungan-perhubungan selama dari
lapangan.
(4) Dalam jumlah-jumlah yang termaksud dalam pasal ini tidak termaksud dari
bahan-bahan pengepak.

RPP Keteknikan Migas 280108 24


(5) Jumlah yang termaksud dalam pasal ini harus ditetapkan lebih lanjut
segera setelah lingkungannya berubah. BU/BUT atau Kepala Teknik
Migas wajib untuk memberitahukan perubahan yang demikian itu kepada
Kepala Inspektur Migas.

Pasal 73

(1) Untuk tempat-tempat timbunan di atas tanah untuk jumlah-jumlah yang


lebih dari 50 (lima puluh) kg berlaku peraturan-peraturan tersebut di bawah
ini tempat-tempat itu harus:
a. terdiri dari material yang tidak mudah terbakar dan diperlengkapi
dengan dinding yang pejal serta dengan suatu atap yang dibuat
seringan mungkin;
b. baik di bawah maupun di atas dalam dinding dilengkapi dengan kisi-kisi
yang ditutup dengan kawat kasa dengan mata anyaman kecil yang
memungkinkan pembersihan dengan hawa secara alamiah yang
cukup;
c. mempunyai jalan masuk yang jika ditutup tidak dapat dibuka oleh orang
yang tidak berwenang, kecuali dengan memaksa;
d. dilindungi dengan tangkal-kilat yang harus diselidiki apakah masih
dapat dipakai paling sedikit tiap 6 (enam) bulan dan tiap kali setelah
ada guntur hebat;
e. terdiri dari 2 (dua) bagian yang dapat ditutup baik satu dengan lainnya
dan bagian yang letaknya dari jalan masuk (ruangan muka) dapat
digunakan hanya untuk pengeluaran bahan-bahan tembak dan bagian
lain (ruangan belakang) hanya untuk menimbun persediaan;
f. dijaga siang hari dan malam hari oleh orang-orang yang dapat
dipercaya;
g. kering dan sedemikian luas sehingga mudah untuk memasukan dan
mengeluarkan bahan-bahan peledak dan untuk memungkinkan
pengawasan sewaktu-waktu.
(2) Peraturan-peraturan ayat (1) pasal ini sub a, b, dan g tidak berlaku
terhadap tempat-tempat penimbunan yang digali dalam batu-batu padat.
(3) Untuk tempat-tempat penimbunan dimana ditimbun sebanyak-banyaknya
50 (lima puluh) kg alat-alat peledak hanya berlaku peraturan ayat (1) pasal
ini sub c.

Pasal 74

(1) Tempat-tempat penimbunan di bawah tanah harus:


a. mempunyai satu jalan masuk yang dalam keadaan tertutup tidak dapat
dibuka oleh orang-orang yang tidak berwenang tanpa memaksa;
b. terdiri dari 2 (dua) bagian yang dapat ditutup baik satu dengan yang
lain dan yang bagian yang terletak terdekat dari jalan masuk (ruangan
muka) dapat digunakan hanya untuk mengeluarkan bahan-bahan

RPP Keteknikan Migas 280108 25


tembak dan bagian lain (ruangan belakang) hanya untuk menimbun
persediaan;
c. kering dan sedemikian luas sehingga mudah untuk memasukan dan
mengeluarkan bahan-bahan peledak dan untuk memungkinkan
pengawasan sewaktu-waktu;
d. dilindungi sebaik-baiknya terhadap guguran dan terbenam;
e. tanah paling sedikit 25 (dua puluh lima) meter dari tiap tempat kerja
dan 10 (sepuluh) meter dari lereng abar (remhelling) yang terdekat dan
dari serambi yang digunakan untuk lalu lintas dan pengangkutan, jika
keadaan-keadaan khusus maka Kepala Inspektur Migas dapat
mengizinkan jarak yang lebih kecil dari pada 100 (seratus) meter dari
suatu sumur;
f. dilewati oleh arus hawa yang masuk.
(2) Untuk perlengkapan tempat-tempat timbunan pembantu di bawah tanah
dibutuhkan izin dari Inspektur Migas didalamnya dapat ditimbun sejumlah
barang-barang peledak yang besarnya tidak lebih daripada jumlah yang
menurut perkiraan akan dipakai selama 2 (dua) hari 2 (dua) malam, akan
tetapi tidak lebih dari 50 (lima puluh) kg.
(3) Tempat-tempat penimbunan pembantu harus terletak dalam jarak paling
sedikit 25 (dua puluh lima) meter dari sumur-sumur atau tempat-tempat
dimana ada penembakan dan paling sedikit 10 (sepuluh) meter dari
serambi-serambi yang digunakan untuk lalu lintas atau lereng-lereng abar,
tempat-tempat penimbunan pembantu itu harus mempunyai satu jalan
masuk yang dalam keadaan tertutup tidak dapat dibuka oleh orang-orang
yang tidak berwenang kecuali secara memaksa.

Pasal 75

(1) Mesiu hanya dapat disimpan ditempat penimbunan-penimbunan diamankan


sampai 3 (tiga) meter diatas lantai tidak ada bagian-bagian besi, kecuali
besi itu ditutup sama sekali dengan baik dengan tembaga pelat, seng-pelat
atau beton.
(2) Untuk memasuki tempat-tempat penimbunan itu hanya diperbolehkan
dengan lampu-lampu keselamatan dari tembaga atau kuningan dan tanpa
memakai sepatu sedangkan tidak diperbolehkan untuk memakai barang-
barang dari besi.
(3) Mesiu hanya dapat disimpan bersama dengan bahan-bahan pelacak lain
dalam satu tempat penimbunan, jika untuk itu ada bagian terpisah yang
dapat ditutup dan yang memenuhi syarat-syarat dalam ayat (1) pasal ini.
(4) Sumbu tidak dianggap sebagai mesiu.

Pasal 76

Tempat-tempat penimbunan dan tempat penimbunan pembantu kecuali oleh


orang-orang yang berdasarkan tugasnya harus disitu, hanya dapat dimasuki
oleh:
a. Inspektur Migas, Penyidik Pegawai Negeri Sipil dan/atau Polisi;

RPP Keteknikan Migas 280108 26


b. orang-orang yang untuk kepentingan memperoleh izin khusus dari
BU/BUT atau dari Kepala Teknik Migas.

Pasal 77

(1) Terkecuali detonator-detonator maka bahan-bahan peledak hanya dapat


diberikan pada para pegawai yang mengawasi untuk pemakaian sehari-
hari dalam bentuk bungkusan kecil atas peluru-peluru dan dalam jumlah
yang tidak lebih besar daripada jumlah yang mereka butuhkan selama
masa kerjanya dalam satu hari, dengan menandatangani dalam daftar
untuk penerimaan dari jumlah itu.
(2) Si penerima berhak untuk menolak dan mengembalikan bahan-bahan
peledak yang menurut pendapatnya tidak dapat dipakai atau berbahaya.
Bahan-bahan tembak ini harus selekas mungkin diserahkan kepada
BU/BUT atau Kepala Teknik Migas untuk diselidiki.
(3) Pembukaan koli tidak boleh diselenggarakan dalam ruangan belakang dari
tempat penimbunan; pada pembukaan koli yang berisi mesiu tidak
diperbolehkan untuk memakai alat-alat besi pembukaan koli yang berisi
bahan-bahan tembak harus dilaksanakan tanpa kekerasan.
(4) Koli yang telah kosong, serta bahan-bahan pengepak (kertas, sampah,
kayu dan sebagainya) tidak boleh ditinggalkan pada tempat penimbunan.
(5) Pengangkutan bahan-bahan peledak ketempat kerja hanya dapat
dilaksanakan dalam peti-peti dan tas-tas bernomor yang diberikan oleh
BU/BUT atau Kepala Teknik Migas dan yang tertutup baik dan dibubuhi
dengan nama si pemilik, dimana detonator-detonator dan sumbu-sumbu
disimpan dalam bagian yang terpisah dari peti atau tas.
(6) Bahan-bahan peledak yang tidak dipakai pada akhir kerja, kecuali jika
telah diserahkan dalam tempat penimbunan pembantu, diserahkan lagi
ditempat penimbunan, dari mana bahan-bahan itu diterima dan harus
disimpan dalam ruangan belakang; pembukaan kembali dari bahan-bahan
peledak itu tidak perlu jika disimpan dalam peti-peti atau tas-tas yang
termaksud dalam ayat (5) pasal ini, dimana juga dapat disimpan detonator-
detonator yang belum dipakai, asal saja dibungkus terpisah.
(7) Dilarang untuk membawa bahan-bahan peledak ketempat-tempat lain
diluar tambang dan begitu pula untuk menyerahkan di bawah tangan
kepada orang lain.
(8) Orang-orang yang bertugas untuk menembak berwajib untuk menutup peti
atau tas terhadap pihak ketiga jika tidak dipakai olehnya.

Pasal 78

(1) BU/BUT atau Kepala Teknik Migas migas harus menyelenggarakan daftar
yang menyebutkan:
a. nama-nama dan jumlah-jumlah dari bahan-bahan tembak yang
diterima pada tambang dan tanggal-tanggal penerimanya;
b. tempat-tempat penimbunan di mana bahan-bahan tembak itu disimpan.

RPP Keteknikan Migas 280108 27


(2) Dalam tempat penimbunan bahan-bahan peledak harus ada sesuatu
daftar (daftar persediaan) untuk pengeluaran dan penerimaan bahan-
bahan peledak dan harus secara teratur diselenggarakan daftar ini harus
memuat:
a. nama dari penjaga tempat penimbunan yaitu orang yang bertugas
untuk menerima dan mengeluarkannya;
b. jumlah-jumlah yang dari tiap jenis bahan-bahan peledak dan bahan-
bahan penyala ditimbun dalam dan dikeluarkan dari tempat
penimbunan itu;
c. saat-saat waktu hal tersebut dilaksanakan;
d. nama orang kepada siapa penyerahan/pengeluaran itu dilaksanakan;
e. keterangan mengenai tempat kemana bahan-bahan peledak itu
diangkut atau dimana dipakainya.
(3) Tiap dari daftar persediaan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini orang
yang termasuk sub a dari ayat itu diselenggarakan ditutup dan ditanda
tangani.

Pasal 79

(1) Untuk penyimpanan dan pengeluaran bahan-bahan peledak berlaku


peraturan-peraturan yang tersebut di bawah ini:
a. bahan-bahan peledak harus disimpan dalam bahan pengepak asli
(peti, kaleng, bejana) dimana harus ditulis tanggal penerimaan di
tambang sedemikian rupa sehingga tulisan itu tanpa menggeser koli
dapat dilihat;
b. koli dengan bahan-bahan peledak harus ditimbun di atas lapisan-
lapisan bawah dari kayu yang terletak di atas sendi-sendi yang
menonjol sedikitnya 0,30 (tiga persepuluh) meter di atas lantai;
c. tidak diperbolehkan untuk menimbun lebih pada 4 (empat) koli satu di
atas lain, antara 2 (dua) koli harus dipasang lapisan-lapisan kayu yang
diketam sama, sehingga dimana-mana sekeliling koli dapat sirkulasi
hawa;
d. penempatan dan pengambilan koli harus dilaksanakan dengan sangat
hati-hati;
e. suhu di dalam ruangan belakang tidak boleh tinggi dari pada 35 oC,
untuk mengontrol maka dalam ruangan itu harus ada pengukur suhu
(thermometer);
f. didalam tempat penimbunan tidak boleh ada barang-barang yang
menyala atau berpijar lain selain daripada lampu-lampu keselamatan
atau lampu-lampu akumulator listrik yang dapat dibawa dan hanya
selama para penjaga tempat penimbunan hadir didalamnya;
g. bahan-bahan peledak hanya dipakai sebanyak mungkin berurut
menurut tanggal penerimaannya;
h. pemberian/pengeluaran bahan-bahan peledak hanya dapat
dilaksanakan dalam ruangan muka selama pemberian/pengeluaran
maka ruangan belakang harus ditutup;

RPP Keteknikan Migas 280108 28


i. detonator-detonator tidak boleh disimpan dalam suatu tempat
penimbunan bersama bahan-bahan peledak lain, kecuali berhubungan
dengan ketentuan pada akhir ayat (6) dari Pasal 77 yaitu penyimpanan
bahan-bahan peledak yang dikembalikan dalam peti atau tas tertutup.
(2) Pasal ini, kecuali ketentuan sub f dan i tidak berlaku terhadap
penyimpanan di tempat penimbunan di atas tanah, dalam mana boleh
ditimbun paling banyak 50 (lima puluh) kg dan ditempat penimbunan
pembantu di bawah tanah.

Pasal 80

(1) Mempersiapkan bahan peledak dan penembakannya sendiri harus


dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai banyak pengalaman
tentang bahan-bahan peledak dan penembakan dan yang nama-namanya
pada pekerjaan-pekerjaan kegiatan migas harus telah dimasukan dalam
Buku Kegiatan Migas.
(2) BU/BUT atau Kepala Teknik Migas mengusahakan agar ayat (1)
diindahkan; atas tuntutan Kepala Inspektur Migas maka orang-orang yang
ditugaskan untuk mempersiapkan dan melaksanakan penembakan wajib
untuk membuktikan kecakapan.

Pasal 81

(1) Bahan-bahan peledak hanya dapat disiapkan sesaat sebelum


pemakaiannya.
(2) Sumbunya harus diambil cukup panjang, sehingga orang yang
menyalakan mempunyai waktu untuk menyelamatkan dirinya sebelum
peledakan pertama terjadi dan sumbu itu tidak boleh pendek dari pada 60
(enam puluh) centimeter.
(3) Lubang-lubang cam disuatu tempat tembak yang sekaligus diisi harus
selalu dinyalakan bersama-sama.
(4) Waktu menyalakan sekaligus 4 (empat) atau lebih lobang cam maka harus
selalu hadir 2 (dua) orang.

Pasal 82

(1) Dilarang pada waktu mengisi suatu lubang cam memakai alat-alat lain
daripada yang diberikan untuk kepentingan itu oleh BU/BUT atau Kepala
Teknik Migas.
(2) Untuk mengisi hanya dapat dipakai pasir halus atau batu-batuan lembek
yang juga digosok tidak menimbulkan nyala.
(3) Memasukkan peluru tembak dalam dan pengisian penuh dari lobang cam
hanya dapat dilaksanakan dengan alat-alat dari kayu atau dari tembaga
atau juga dari kuningan.
(4) Dilarang untuk menyalakan lubang cam tanpa diisi penuh, terkecuali
dalam keadaan khusus dan hanya dibawah pengawasan pribadi dari

RPP Keteknikan Migas 280108 29


orang yang menyelidiki atau Kepala Teknik Migas atau dari pegawai yang
ditunjuk olehnya untuk tiap keadaan tersendiri.

Pasal 83

(1) Sebelum dimulai dengan pekerjaan-pekerjaan untuk mempersiapkan


peluru tembak dan mengisi lobang cam maka semua jalan masuk
ketempat kerja, juga ketempat kerja termaksud dalam ayat (2) pasal ini,
harus pada jarak yang cukup jauh dipasang tanda-tanda perhatian yang
menyolok mata jika ditempat-tempat yang aman dijalan masuk dijalan
masuk itu tidak ditempatkan orang penjaga.
(2) Jika tempat-tempat terletak sedemikian dekat dari tempat kerja lain
sehingga akibat dari tembakan-tembakan itu disitu dapat dirasakan maka
orang yang ditugaskan dengan penembakan berwajib memberitahukan
pekerjaan-pekerjaan yang ada disitu pada waktunya.
(3) Semua orang yang tidak bersangkut paut dengan penembakan berwajib
untuk sebelum dimulai dengan pekerjaan-pekerjaan yang termaksud
dalam ayat (1), pergi ketempat perlindungan yang aman yang telah
ditunjukan terlebih dahulu, tempat perlindungan mana harus jika mungkin
terletak diluar arus angin yang langsung meniupnya.
(4) Jika tempat perlindungan-tempat perlindungan yang sedemikian itu tidak
ada dalam jarak yang cukup jauh maka tempat perlindungan-tempat
perlindungan itu harus dengan sengaja dibuat.

Pasal 84

(1) Kecuali jika telah pasti betul bahwa semua isi yang harus meledak
berturut-turut juga sungguh-sungguh meledak dan selalu dapat isi-isi yang
sekaligus meledak, maka tidak ada sesuatu orang yang dengan alasan
apapun juga diperbolehkan untuk dalam seperempat jam, setelah
tembakan yang terakhir didengarkan, mendekati tempat penembakan.
(2) Orang yang sesuai dengan ayat (1) Pasal 80 ditunjuk untuk menembak
dalam mengizinkan para pekerja memasuki tempat penembakan,
sebelumnya ia membuktikan bahwa tempat penembakan ini telah
dibersihkan secukupnya daripada gas-gas yang berbahaya.

Pasal 85

(1) Jika penembakan diselenggarakan pada akhir masa kerja dan jika tidak
ada regu lain yang harus kerja dalam tempat kerja itu, maka orang yang
termaksud didalam ayat (2) Pasal 84, dapat mengundurkan penyelidikan
yang termaksud dalam ayat tersebut sampai masa kerja yang pertama
kalinya berturut, asal saja diusahakan bahwa tempat kerja itu tidak
dimasuki antar waktu.
(2) Pada penggilingan regu-regu maka pekerja pelopor dari regu yang pulang
memberitahukan kepada pekerja pelopor dari regu yang datang tentang
isi-isi yang belum meletus dan tentang apakah yang telah diusahakan. Bila
regu yang satu menyambut regu yang lain dengan tenggang waktu maka

RPP Keteknikan Migas 280108 30


petunjuk-petunjuk itu diberitahukan kepada menilik yang ditugaskan untuk
mengawasi bagian yang bersangkutan dan ia harus mengusahakan hal ini
kepada pekerja pelopor dari regu yang harus menyambut. Dalam hal
manapun juga maka suatu lubang cam dalam mana yang isinya belum
meledak, harus diberi tanda dengan menutup lubang cam itu dengan
sumbat kayu yang dapat dilihat jelas.
(3) Dilarang untuk mengecam atau menggaruk keluar lubang-lubang cam
dalam mana isinya tidak meledak. Menyemprot isi yang sedemikian itu,
seperti juga pekerjaan-pekerjaan lain pada lubang cam itu dan untuk
masih meledakkan suatu isi, hanya dapat dilaksanakan dibawah
pengawasan terus-menerus dari orang ahli dan pada umumnya menurut
instruksi-instruksi yang diterima dan BU/BUT atau Kepala Teknik Migas.
(4) Dilarang untuk mengecam lebih dalam lubang yang diledakkannya tidak
berhasil cukup atau sisa ujung dari lubang cam, lubang-lubang yang isinya
telah meledak tidak boleh diisi lagi sebelumnya menjadi dingin sama
sekali.
(5) Bila didekatnya lubang-lubang cam yang tidak atau cukup meledak, harus
dibuat lubang-lubang cam baru maka kepala lubang-lubang cam baru ini
harus diberikan jurusan sedemikian rupa sehingga tidak tembus kedalam
lubang cam yang telah ada.

Pasal 86

Dalam hal-hal tertentu Kepala Inspektur Migas dapat menetapkan ketentuan


khusus sebagai pelengkap dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan
dalam Peraturan Pemerintah ini.

Instalasi

Pasal 87

(1) Setiap akan mendirikan suatu instalasi kegiatan usaha migas, BU/BUT
wajib memberitahukan secara tertulis dalam jangka waktu selambat-
lambatnya 14 (empat belas) hari sebelumnya kepada Menteri dengan
menjelaskan hal-hal yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh
Menteri.
(2) Sesuai ayat (1), BU/BUT wajib berkoordinasi dengan instansi terkait
lainnya.

Pasal 88

Dalam mendirikan instalasi kegiatan usaha migas harus dilakukan tindakan-


tindakan sedemikian rupa sehingga:
a. dapat menjamin pekerja;
b. dapat menjamin keamanan pelayaran;
c. dapat mencegah kemungkinan rusaknya kabel atau pipa penyalur di bawah
permukaan air;

RPP Keteknikan Migas 280108 31


d. dapat dicegah kemungkinan pelongsoran, penggeseran, dan penghanyutan
instalasi kegiatan usaha migas.

Pasal 89

Instalasi kegiatan usaha migas harus didirikan sedemikian rupa sehingga aman
terhadap kekuatan angin, gelombang dan arus laut yang mungkin timbul.

Pasal 90

(1) Helikopter atau pesawat terbang lainnya hanya boleh mendarat pada atau
naik dari suatu instalasi apabila pada instalasi kegiatan usaha migas
tersebut telah dibangun geladak khusus untuk keperluan tersebut.
(2) Penggunaan geladak sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini
harus seizin Menteri terkait.

Pasal 91

(1) Suatu instalasi kegiatan usaha migas yang tidak dipakai lagi harus
dibongkar seluruhnya dalam jangka waktu yang ditetapkan Menteri,
dengan melakukan tindakan-tindakan yang layak untuk menjamin
keamanan pekerjaan dan alur pelayaran.
(2) BU/BUT diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Menteri
selambat-lambatnya dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sebelum
dilakukannya pembongkaran instalasi kegiatan usaha migas dengan
menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
a. letak tempat di mana instalasi kegiatan usaha migas ditempatkan
dinyatakan dalam koordinat geografis;
b. tanggal dimulainya pekerjaan pembongkaran termaksud.
(3) BU/BUT diwajibkan melaporkan penyelesaian pembongkaran dengan
mencantumkan hal-hal yang telah dibongkar, dalam jangka waktu
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah selesai pekerjaan
tersebut.

Pasal 92

Terhadap instalasi, peralatan dan teknik yang dipergunakan dalam kegiatan


usaha minyak dan gas bumi wajib dilaksanakan pemeriksaan keselamatan
migas.

Pasal 93

Pemeriksaan Keselamatan Migas dilaksanakan oleh Kepala Inspektur Migas


dan atau Inspektur Migas.

Pasal 94

RPP Keteknikan Migas 280108 32


Apabila dianggap perlu Menteri dapat menunjuk pihak lain yang memenuhi
persyaratan untuk membantu pelaksanaan pemeriksaan keselamatan migas
termaksud dalam Pasal 92.

Pasal 95

Pemeriksaan keselamatan migas dilaksanakan sebagai berikut:


a. pada saat instalasi dan atau peralatan akan dipasang;
b. saat unjuk kerja teknik yang akan dipergunakan;
c. secara berkala sesuai dengan sifat dan jenis instalasi, peralatan dan teknik
yang dipergunakan;
d. Setiap saat apabila dianggap perlu oleh Menteri.

Pasal 96

Menteri menerbitkan Sertifikat Kelayakan Penggunaan atas instalasi, peralatan


dan teknik yang dipergunakan setelah diadakan pemeriksaan keselamatan
migas.

Pasal 97

BU/BUT wajib menyampaikan laporan kepada Menteri setiap terdapat kelainan


pada instalasi dan atau peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan usaha
minyak dan gas bumi untuk diadakan pemeriksaan ulang atas keselamatan
migas.

Pasal 98

(1) Jangka waktu Sertifikat Kelayakan Penggunaan termaksud dalam Pasal


96 ditentukan lebih lanjut oleh Menteri.
(2) Setelah selesainya jangka waktu termaksud pada ayat (1) Pasal ini,
terhadap instalasi, peralatan dan teknik yang dipergunakan wajib
dilakukan pemeriksaan teknis keselamatan migas sebagaimana
termaksud dalam Pasal 92.

Pasal 99

(1) Dalam hal pemeriksaan teknis keselamatan migas atas instalasi, peralatan
dan teknik yang dipergunakan dilaksanakan dengan bantuan pihak lain
sebagaimana termaksud dalam Pasal 94, biaya pemeriksaan teknis
ditanggung oleh perusahaan pemakai jasa pemeriksaan.
(2) Menteri dapat menetapkan batas maksimum besarnya biaya pemeriksaan
termaksud pada ayat (1) pasal ini.
(3) Pelaksanaan pemeriksaan teknis dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara sesuai dengan kemampuan keuangan negara, serta
sumber pembiayaan lainnya yang tidak mengikat.

RPP Keteknikan Migas 280108 33


Pasal 100

Yang dimaksudkan dengan bangunan lepas pantai minyak dan gas bumi di
daerah lepas pantai dalam Peraturan Pemerintah ini, selanjutnya disebut
bangunan lepas pantai, adalah setiap bangunan di atas atau di bawah air, yang
dipasang secara tetap dan digunakan pada kegiatan usaha minyak dan gas
bumi di daerah lepas pantai.

Pasal 101

(1) Setiap bangunan lepas pantai termasuk yang sedang didirikan dan yang
sudah berdiri sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini harus memiliki
Sertifikat Kelayakan Konstruksi yang dikeluarkan pemerintah setelah
diadakan pemeriksaan teknis atas bangunan lepas pantai tersebut.
(2) Pemeriksaan teknis atas bangunan lepas pantai dilakukan oleh Menteri
c.q. Direktorat Jenderal atau dengan bantuan pihak atau pihak-pihak
ketiga yang ditunjuk Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Pasal 102

Jenis pemeriksaan teknis atas bangunan lepas pantai antara lain meliputi segi-
segi sebagai berikut:

A. Penilaian Perencanaan (design appraisal)


1. Untuk keperluan penilaian diperlukan keterangan-keterangan antara lain:
a. batas umur yang direncanakan (designed life expectancy);
b. data lingkungan termaksuk dasar laut;
c. gambar perencanaan;
d. spesifikasi perencanaan;
e. perhitungan perencanaan;
f. data mengenai tiang pancang;
g. toleransi untuk pertumbuhan binatang dan tumbuh-tumbuhan laut
(fouling);
h. cara pencegahan terhadap korosi;
i. material yang digunakan dalam konstruksi;
j. spesifikasi pengelasan sambung-sambungan las;
k. petunjuk operasi (operation manual).
2. Pemeriksaan atas perencanaan (design) antara lain untuk mengetahui:
a. faktor keamanan (safety factor) dari konstruksi dan pondasi
termaksuk faktor keamanan dalam keadaan laut yang terburuk yang
mungkin terjadi dalam setiap jangka waktu 100 (seratus) tahun (one
hundred year return period);
b. daya tahan terhadap kelelahan bahan (fatigue life estimation);
c. daya tahan terhadap gempa bumi dan pergeseran oleh pengaruh-
pengaruh lain;
d. daya tahan terhadap getaran (vibration).

B. Pemeriksaan Fisik terdiri dari atas antara lain:

RPP Keteknikan Migas 280108 34


a. penelitian umum untuk menilai keadaan umum bangunan lepas pantai
dan dalam hal bangunan lepas pantai baru, untuk menentukan sesuai
tidaknya bangunan lepas pantai dengan perencanaan dan baik tidaknya
carra pembuatannya (workmanship) dan pendirian bangunan lepas
pantai;
b. pemeriksaan di dasar laut antara lain untuk menentukan pengausan
setempat;
c. pemeriksaan atau bagian-bagian bangunan lepas pantai di daerah
sekitar permukaan air (splash zone);
d. pemeriksaan sambungan–sambungan las untuk mengetahui
kemungkinan retak;
e. pemeriksaan ketebalan material pada bagian–bagian bangunan lepas
pantai untuk mengetahui kemungkinan korosi;
f. pemeriksaan sambungan pada bagian–bagian bangunan lepas pantai
untuk mengetahui kemungkinan deteriorasi, rusak dan retak;
g. pemeriksaan atas sistim pencegahan korosi;
h. penelitian atas laporan-laporan kecelakaan;
i. penelitian atas laporan pemeriksaan berkala yang dilaksanakan oleh
perusahaan yang menggunakannya;
j. pemeriksaan khusus atas kerusakan pada bangunan lepas pantai yang
pernah terjadi dan perbaikan-perbaikan yang pernah dilaksanakan.

Pasal 103

(1) Pelaksanaan pemeriksaan teknis atas bangunan lepas pantai diperinci


sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Permulaan;
b. Pemeriksaan Berkala;
c. Pemeriksaan Khusus.
(2) A. Pemeriksaan permulaan untuk bangunan lepas pantai baru terdiri dari:
a. penilaian perencanaan;
b. pemeriksaan pada waktu bangunan lepas pantai dirakit untuk menilai
sesuai tidaknya perakitan bangunan lepas pantai dengan
perencanaan;
c. pemeriksaan pada waktu bangunan lepas pantai didirikan untuk
menilai apakah pendirian bangunan lepas pantai serta pondasinya
tidak mengalami kelainan yang dapat mempengaruhi kekuatan, umur
dan kegunaannya.
B. Pemeriksaan Permulaan untuk bangunan lepas pantai yang sedang
didirikan dan yang sudah berdiri sebelum berlakunya Peraturan
Pemerintah ini terdiri dari:
a. Penilaian perencanaan;
b. Pemeriksaan fisik termaksud dalam Pasal 102 huruf B.
C. Untuk menjamin kelancaran pembangunan bangunan lepas pantai
baru, penilaian perencanaan dapat diatur secara bertahap dengan cara
pengajuan bagian demi bagian dari perencanaan disesuaikan dengan
perkembangan perencanaan bangunan lepas pantai termaksud.
Pemeriksaan secara bertahap dapat pula diterapkan untuk pemeriksaan-
pemeriksaan pada saat bangunan lepas pantai dirakit dan didirikan.

RPP Keteknikan Migas 280108 35


(3) Pemeriksaan Berkala diatur sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Kecil dilaksanakan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun
dan 3 (tiga) tahun setelah tanggal Pemeriksaan Permulaan atau
tanggal Pemeriksaan Lengkap terakhir yang meliputi sekurang-
kurangnya pemeriksaan atas bagian-bagian bangunan lepas pantai di
daerah sekitar permukaan air (splash zone) dan semua riser.
b. Pemeriksaan Besar dilaksanakan selambat-lambatnya 2 (dua) tahun
setelah tanggal Pemeriksaan Pemulaan atau tanggal Pemeriksaan
Lengkap terakhir, yang terdiri dari sekurang-kurangnya pemeriksaan
tersebut pada huruf a di atas, pemeriksaan atas bagian-bagian tertentu
dari bangunan lepas pantai di bawah air untuk mengetahui kerusakan,
pertumbuhan binatang dan tumbuh-tumbuhan laut, korosi, pengausan
dan debris lainnya yang melekat pada konstruksi serta pemeriksaan
atau kemampuaan sistim pencegahan korosi.
c. Pemeriksaan Lengkap dilakukan selambat-lambatnya 4 (empat) tahun
setelah tanggal Pemeriksaan Permulaan atau tanggal Pemeriksaan
Lengkap terakhir, yang meliputi sekurang-kurangnya pemeriksaan
termaksud dalam Pasal 102 huruf B. Hanya apabila Direktorat Jenderal
menganggap keadaan bangunan lepas pantai memuaskan
berdasarkan hasil pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya, maka
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dapat menentukan
keringanan atas jenis-jenis pemeriksaan termaksuk dalam Pasal 102
huruf B.
(4) Pemeriksaan Khusus dilaksanakan apabila:
a. bangunan lepas pantai mengalami kerusakan;
b. diadakan perubahan atau bangunan lepas pantai;
c. keadaan bangunan lepas pantai diragukan;
d. diadakan pelaksanaan perbaikan dan perubahan prinsipil atas
bangunan lepas pantai.
(5) Untuk keperluan Pemeriksaan Khusus perusahaan yang menggunakan
bangunan lepas pantai wajib melaporkan kepada Menteri segala
kerusakan yang timbul dan perubahan prinsipil yang akan dilaksanakan.

Pasal 104

Permohonan pemeriksaan teknis atas bangunan lepas pantai harus diajukan


oleh perusahaan yang menggunakan bangunan lepas pantai kepada Menteri
dengan disertai:
a. lokasi bangunan lepas pantai dalam wilayah kerja/wilayah kuasa
pertambangan perusahaan yang bersangkutan;
b. nama penanggung jawab bangunan lepas pantai;
c. maksud penggunaan bangunan lepas pantai;
d. data termaksud dalam Pasal 102 huruf A angka 1;
e. data lain yang diperlukan.

Pasal 105
(1) Segala biaya yang diperlukan untuk mengadakan pemeriksaan teknis atas
bangunan lepas pantai dibebankan pada perusahaan yang menggunakan
bangunan lepas pantai yang bersangkutan

RPP Keteknikan Migas 280108 36


(2) Menteri dapat menentukan batas maksimum dari biaya pemeriksaan
teknis termaksud pada ayat (1) pasal ini.

Pasal 106

(1) Apabila bangunan lepas pantai dianggap berbahaya untuk operasi, maka
Menteri dapat melakukan tindakan–tindakan sebagai berikut:
a. teguran untuk meniadakan bahaya termaksud dalam jangka waktu yang
ditetapkan, kepada perusahaan yang menggunakan bangunan lepas
pantai 3 (tiga) kali berturut-berturut dalam jangka waktu 1 (satu) bulan;
b. apabila teguran tersebut pada huruf a di atas tidak diindahkan, maka
Menteri dapat melakukan penghentian untuk sementara waktu
penggunaan bangunan lepas pantai sampai bangunan lepas pantai
tersebut diperbaiki sebagai tersebut pada huruf a di atas;
c. apabila tindakan tersebut pada huruf b di atas tidak dipatuhi, maka
Menteri dapat melakukan tindakan penghentian penggunaan bangunan
lepas pantai dan mencabut Sertifikat Kelayakan Konstruksi.
(2) Apabila bangunan lepas pantai menurut penilaian Menteri dianggap
berbahaya sedemikian rupa, maka Menteri dapat segera menghentikan
penggunaan bangunan lepas pantai tersebut dan mencabut Sertifikat
Kelayakan Konstruksi.

Pasal 107

(1) Apabila perusahaan yang menggunakan bangunan lepas pantai tidak


dapat menerima Keputusan Menteri mengenai hasil pemeriksaan teknis
atas bangunan lepas pantai termaksud dalam Pasal 102 maka
perusahaan tersebut dapat mengajukan keberatan kepada Presiden.
(2) Keputusan Presiden dalam banding adalah mengikat.

Pasal 108

Disamping ketentuan-ketentuan dalam peraturan pemerintah ini juga berlaku


peraturan perundang-undangan lain yang terkait.

Pasal 109

Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini
selanjutnya akan ditetapkan oleh Menteri c.q. Direktur Jenderal Minyak dan
Gas Bumi.

Persyaratan Khusus
Pasal 110

(1) Peraturan Pemerintah ini menetapkan batas-batas:


a. daerah terlarang, di mana orang, kapal, pesawat terbang dan lain-lain
sejenisnya yang tidak berkepentingan dilarang memasukinya;
b. daerah terbatas, di mana kapal-kapal pihak ketiga yang tidak
berkepentingan dilarang membuang atau membongkar sauh.

RPP Keteknikan Migas 280108 37


(2) Kecuali dengan izin Menteri bersama dengan menteri lain yang
bersangkutan, eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi tidak dapat
dilakukan di tempat-tempat sebagai berikut:
a. daerah atau pangkalan pertahanan, alur keluar masuknya pesawat
terbang, alur pelayaran, instalansi pelayaran, pelabuhan, menara suar,
rambu suar, dan instalasi lain yang bersifat permanen di atas atau di
bawah permukaan air;
b. tempat keagamaan, atau tempat suci, kuburan, peninggalan jaman
kuno yang penting, daerah suaka alam atau daerah yang secara resmi
daerah yang dinyatakan sebagai daerah pariwisata;
c. ditempat yang jaraknya kurang dari 250 (dua ratus lima puluh) meter
dari batas wilayah kuasa pertambangan dan/atau wilayah kerja atau
apabila berbatasan dengan negara lain, dengan jarak yang akan
ditentukan dalam perjanjian antara Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan negara lain, yang bersangkutan;
d. secara umum diketahui sebagai tempat peneluran ikan, batu karang,
mutiara, koral;
e. instalasi di bawah permukaan air antara lain pipa penyalur, kabel,
dermaga laut, setiap jenis pondamen, perangkap ikan yang sudah ada
sebelum dimulainya usaha pertambangan tersebut;
f. tempat penyelidikan ilmiah.
(3) Hal-hal yang bersangkutan dengan pemberian izin sebagaimana
dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini akan diatur lebih lanjut oleh Menteri
bersama dengan Menteri lain yang bersangkutan

Pasal 111

(1) Pengusaha dilarang mengakibatkan terjadinya pencemaran pada air laut,


air sungai, pantai dan udara dengan minyak mentah atau hasil
pengolahannya, gas yang merusak, zat yang mengandung racun, bahan
radio aktif, barang yang tidak terpakai lagi serta barang kelebihan dan lain-
lain.
(2) Apabila terjadi pencemaran, pengusaha diwajibkan untuk
menanggulanginya.

Pasal 112

Ketentuan lebih lanjut mengenai keamanan dan keselamatan migas dan segala
sesuatu yang bersangkutan ditetapkan tersendiri dengan suatu Peraturan
Menteri.

Pasal 113

Ketentuan mengenai perhubungan terutama mengenai perhubungan laut dan


segala sesuatunya yang bersangkutan ditetapkan tersendiri dengan suatu
Peraturan Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 38


Pipa Penyalur

Pasal 114

(1) Apabila untuk eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi akan
dipasang pipa penyalur, maka pengusaha wajib memberitahukan secara
tertulis dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari
sebelumnya kepada Direktur Jenderal dengan menjelaskan hal-hal yang
perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.
(2) Pada pemberitahuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini
harus dilampirkan peta yang menggambarkan dengan jelas letak trayek
pipa penyalur yang akan dipasang.

Pasal 115

Pemasangan pipa penyalur untuk eksplorasi atau eksploitasi minyak dan gas
bumi harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga:
a. dapat menjamin keamanan alur pelayaran dan pekerja;
b. dapat dicegah pengkaratan (korosi) dan erosi terhadap pipa penyalur;
c. tidak menimbulkan kerusakan terhadap kabel, pipa penyalur di bawah laut
yang telah ada;
d. tidak mengakibatkan pencemaran sebagaimana dimaksudkan pada Pasal
111 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 116

Apabila terdapat kebocoran atau kerusakan lainnya pada pipa penyalur yang
dipasang untuk eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi, BU/BUT harus
segera melakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Pasal 117

Pelaksanaan penggelaran, pengoperasian, perbaikan dan perawatan pipa


penyalur, wajib mengikuti ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 118

Sistem perpipaan pada instalasi proses produksi, instalasi pemurnian dan


pengolahan dan atau instalasi depot minyak dan gas bumi berlaku ketentuan
standar yang ditetapkan Menteri.

Penggelaran Pipa Penyalur

Pasal 119

(1) Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum dimulainya penggelaran,


perubahan dan atau perluasan pipa penyalur, BU/BUT wajib

RPP Keteknikan Migas 280108 39


menyampaikan laporan secara tertulis kepada Kepala Inspektur Migas
mengenai:
a. lokasi geografis;
b. denah penggelaran pipa penyalur;
c. proses diagram;
d. jumlah perincian tenaga kerja dan perubahannya;
e. hal-hal yang dianggap perlu oleh Kepala Inspektur Migas.
(2) Apabila dalam pelaksanaannya terdapat perubahan mengenai hal-hal
yang telah diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengusaha
BU/BUT wajib menyampaikan laporan secara tertulis kepada Kepala
Inspektur Migas.
(3) Kepala Inspektur Migas melakukan pengawasan atas pelaksanaan
penggelaran pipa penyalur.

Pasal 120

(1) Penggelaran pipa penyalur baik di darat maupun di laut dapat dilakukan
dengan cara ditanam atau diletakkan di permukaan tanah.
(2) Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang digelar di daratan wajib ditanam,
dengan kedalaman minimum 1 (satu) meter dari permukaan tanah.
(3) Disain, konstruksi dan klasifikasi lokasi penggelaran pipa penyalur wajib
memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib.
(4) Klasifikasi lokasi penggelaran Pipa Transmisi Minyak, Pipa Transmisi
Gas, Pipa Alir Sumur dan Pipa Induk ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 121

(1) BU/BUT wajib menyediakan tanah untuk tempat digelarnya pipa penyalur
dan ruang untuk Hak Lintas Pipa (Right of Way) serta memenuhi
ketentuan Jarak Minimum.
(2) Penyediaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan
BU/BUT dengan cara membeli, membebaskan, menyewa atau
mendapatkan izin dari instansi pemerintah, badan hukum atau
perorangan.
(3) Pemegang hak atas tanah yang telah memberikan Hak Lintas Pipa
dilarang menghalang-halangi BU/BUT dalam pelaksanaan penggelaran,
pengoperasian dan pemeliharan pipa penyalur.

Pasal 122

(1) Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang digelar di daratan dengan
tekanan lebih dari 16 (enam belas) bar, harus dirancang sesuai ketentuan
klasifikasi lokasi kelas 2 (dua) serta memenuhi ketentuan Pasal 120
dengan Jarak Minimum ditetapkan sekurang-kurangnya 9 (sembilan)
meter.
(2) Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang digelar di daratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dapat dirancang dengan ketentuan klasifikasi

RPP Keteknikan Migas 280108 40


lokasi kelas 1 (satu) dalam hal data perencanaan lingkungan jangka
panjang yang ditetapkan Pemerintah Daerah setempat menjamin
klasifikasi lokasi tidak berubah, dengan ketentuan Jarak Minimum
ditetapkan 9 (sembilan) meter.
(3) Dalam hal ketentuan Jarak Minimum sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan (2) tidak dapat dipenuhi, disain konstruksi dan klasifikasi lokasi
ditetapkan minimal satu kelas lebih tinggi dari kelas dan Jarak Minimum
yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri.
(4) Dalam hal ketentuan Jarak Minimum pada ayat (1) dan (2) tidak dapat
dipenuhi, Jarak Minimum tersebut dapat diperpendek menjadi minimum 3
(tiga) meter dengan syarat:
a. untuk pipa dengan diameter lebih kecil dari 8 (delapan) inci, faktor
disain tidak lebih dari 0,4 (empat per sepuluh);
b. untuk pipa dengan diameter 8 (delapan) inci sampai 12 (dua belas)
inci, faktor disain tidak lebih dari 0,3 (tiga per sepuluh);
c. untuk pipa dengan diameter lebih besar dari 12 (dua belas) inci faktor
disain 0,3 (tiga per sepuluh) dan ketebalan pipa minimum 11,9 (sebelas
dan sembilan per sepuluh) mm atau 0,468 (empat ratus enam puluh
delapan per seribu) inci.
(5) Dalam hal persyaratan ketebalan pipa pada ayat (4) tidak dapat dipenuhi,
Jarak Minimum ditetapkan 3 (tiga) meter, dengan ketentuan faktor disain
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib dipenuhi dan harus dilengkapi
dengan sarana pengaman tambahan atau ketentuan lain yang ditetapkan
oleh Kepala Inspektur Migas.

Pasal 123

(1) Penggelaran Pipa Transmisi Gas dan Pipa Induk yang akan dioperasikan
pada tekanan dari 4 (empat) bar sampai dengan 16 (enam belas) bar,
harus memenuhi klasifikasi kelas 4 (empat) dengan ketentuan Jarak
Minimum ditetapkan 2 (dua) meter.
(2) Dalam hal Jarak Minimum 2 (dua) meter sebagaimana pada ayat (1) tidak
dapat dipenuhi, harus memenuhi klasifikasi lokasi kelas 4 (empat) dan
faktor disain tidak lebih dari 0,3 (tiga per sepuluh) dan dilengkapi dengan
pengaman tambahan atau dengan ketentuan lain yang ditetapkan oleh
Kepala Inspektur Migas.

Pasal 124

(1) Pipa Transmisi minyak di daratan yang dioperasikan dengan tekanan yang
dapat menimbulkan tegangan melingkar (hoop stress) lebih ditetapkan
besar dari 20% (dua puluh persen) Kuat Ulur Minimum Spesifikasi (KUMS)
wajib ditanam sekurang-kurangnya sedalam 1 (satu) meter dari
permukaan tanah dan mempunyai Jarak Minimum sekurang-kurangnya 3
(tiga) meter.
(2) Pipa Transmisi Minyak di daratan yang dioperasikan dengan tekanan yang
dapat menimbulkan tegangan melingkar lebih kecil dari 20% (dua puluh

RPP Keteknikan Migas 280108 41


persen) KUMS, wajib disediakan jarak yang cukup untuk kepentingan
pemeliharaan pipa.
(3) BU/BUT wajib membuat konstruksi khusus pada perlintasan Pipa
Transmisi Minyak dengan jalan raya, rel kereta api dan sungai serta wajib
menyediakan peralatan pencegah pencemaran lingkungan.

Pasal 125

(1) Peralatan pendukung yang dipasang pada pipa penyalur antara lain
meliputi kerangan utama atau cabang, stasiun pengirim atau penerima pig,
stasiun pengatur aliran atau tekanan, stasiun penghubung atau pembagi
aliran dan stasiun kompresor atau pompa, wajib dilengkapi dengan
pelindung dan atau pagar pengaman.
(2) Pada peralatan pendukung Pipa Induk yang bertekanan sampai 16 (enam
belas) bar, dilarang mendirikan bangunan, meletakkan barang-barang
ataupun menanam tanaman keras dalam jarak sekurang-kurangnya 20
(dua puluh) meter dari sisi luar peralatan.
(3) Pada peralatan pendukung Pipa Induk yang bertekanan sampai 16 (enam
belas) bar, dilarang mendirikan bangunan, meletakkan barang-barang,
menanam tanaman keras dalam jarak sekurang-kurangnya 6 (enam)
meter dari sisi luar peralatan.
(4) Dalam hal ketentuan jarak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3)
tidak terpenuhi, harus mengikuti klasifikasi daerah berbahaya sesuai
standar yang berlaku dan atau dilengkapi dengan sarana pengaman
tambahan atau ketentuan lain yang ditetapkan Kepala Inspektur Migas.

Pasal 126

(1) Pipa penyalur yang digelar melintasi sungai atau saluran irigasi wajib
ditanam dengan kedalaman sekurang-kurangnya 2 (dua) meter di bawah
dasar normalisasi sungai atau saluran irigasi.
(2) Pipa penyalur yang digelar melintasi daerah rawa-rawa wajib ditanam
dengan kedalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) meter di bawah dasar
rawa serta dilengkapi dengan sistem pemberat sedemikian rupa sehingga
pipa tidak akan tergeser maupun berpindah, atau disangga dengan pipa
pancang.
(3) Pipa penyalur yang digelar di laut wajib memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a. dalam hal kedalaman dasar laut kurang dari 13 (tiga belas) meter
maka pipa harus ditanam sekurang-kuranganya 2 (dua) meter di
bawah dasar laut (sea bed), serta dilengkapi dengan sistem
pemberat agar pipa tidak tergeser atau berpindah;
b. dalam hal kedalaman dasar laut 13 (tiga belas) meter atau lebih
maka pipa dapat diletakkan di dasar laut, serta dilengkapi dengan
sistem pemberat agar pipa tidak tergeser atau berpindah;
c. setelah diselesaikannya penggelaran pipa, pada daerah keberadaan
pipa harus dilengkapi dengan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran

RPP Keteknikan Migas 280108 42


(SBNP) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Pasal 127

Penggelaran Pipa Servis dilaksanakan sesuai Standar Nasional Indonesia.

Pasal 128

(1) Dalam hal terjadi perubahan kondisi lingkungan pada jalur pipa, BU/BUT
wajib melakukan analisis risiko untuk menetapkan langkah pengaman
tambahan.
(2) Hasil analisis risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mendapatkan persetujuan dari Kepala Inspektur Migas.

Pasal 129

(1) Kepala Inspektur Migas dapat mewajibkan adanya penambahan


pemasangan peralatan keselamatan migas yang sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia.
(2) Penetapan penambahan peralatan keselamatan migas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kepala Inspektur Migas secara
jelas dan tertulis.

Pasal 130

(1) Dalam hal tidak dapat dipenuhinya ketentuan dalam Peraturan Pemerintah
ini, Kepala Inspektur Migas dapat memberikan petunjuk dan ketentuan
yang wajib ditaati oleh BU/BUT.
(2) Petunjuk dan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
secara jelas dan tertulis.

Pengoperasian dan Pemeliharaan Pipa Penyalur

Pasal 131

Pengoperasian dan pemeliharan pipa penyalur wajib memenuhi Standar


Nasional Indonesia.

Pasal 132

BU/BUT wajib membuat prosedur tertulis tentang pengoperasian dan


pemeliharan pipa penyalur sebagai berikut:
a. prosedur pengoperasian dalam keadaan operasi normal dan dalam
keadaan reparasi;
b. program penanganan khusus dan atau luar biasa terhadap fasilitas yang
diperkirakan sangat berbahaya;

RPP Keteknikan Migas 280108 43


c. program khusus operasi dalam perubahan tekanan;
d. program persyaratan inspeksi berkala dalam operasi;
e. program pengawasan pipa penyalur secara periodik;
f. program pencegahan kerusakan pipa penyalur akibat penggalian;
g. prosedur keadaan darurat dan analisa kecelakaan dan atau kegagalan
operasi;
h. prosedur pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta
pencemaran lingkungan.

Pasal 133

(1) BU/BUT wajib melakukan penghitungan Tekanan Operasi Maksimum


Boleh (TOMB), secara periodik.
(2) BU/BUT dilarang mengoperasikan pipa penyalur pada tekanan melebihi
Tekanan Operasi Maksimum Boleh (TOMB).

Pasal 134

Dalam hal diperlukan pengoperasian pipa penyalur melebihi tekanan


sebagaimana dimaksud pada Pasal 133 ayat (2), BU/BUT wajib membuat
prosedur operasi perubahan tekanan dan mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Kepala Inspektur Migas.

Pasal 135

(1) BU/BUT wajib melakukan perawatan, dan atau penggantian terhadap


segala kerusakan pada pipa penyalur dan peralatan serta perlengkapan
pendukungnya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.
(2) BU/BUT wajib melaporkan kepada Kepala Inspektur Migas secara periodik
selambat-lambatnya setiap 6 (enam) bulan, atas hal-hal sebagai berikut:
a. perbaikan dan atau penggantian pipa penyalur dan atau peralatan
pendukungnya;
b. perubahan dan atau penyimpangan fungsi Jarak Minimum dan atau
ruang terbuka di sekitar pipa penyalur;
c. kerusakan, kebocoran, kegagalan, pengkaratan dan gangguan operasi
lainnya;
d. perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan jalur pipa penyalur .
(3) BU/BUT wajib menyimpan data dan informasi yang berkaitan dengan
kebocoran, perbaikan, survei kebocoran, data inspeksi dan atau patroli
atas pipa penyalur, kondisi pipa pecah dan data lain yang diperlukan.
(4) Dalam hal diperlukan, data dan informasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) wajib ditunjukkan kepada Inspektur Migas.

Pasal 136

(1) BU/BUT wajib mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi dan
atau menjaga keselamatan migas, dalam hal terjadi kebocoran, kebakaran
dan atau ledakan, yang mengakibatkan tumpahan minyak atau gas bumi.

RPP Keteknikan Migas 280108 44


(2) Keadaan sebagaimana termasuk pada ayat (1) yang dapat menimbulkan
bahaya atau mengakibatkan kehilangan jiwa dan harta, wajib dilaporkan
kepada Kepala Inspektur Migas dan Pemerintah Daerah setempat dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam sejak
diketahuinya keadaan dimaksud .
(3) Kepala Inspektur Migas mengambil tindakan yang diperlukan segera
setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Tindakan Pencegahan Bahaya

Pasal 137

(1) BU/BUT wajib memasang dan memelihara marka dan rambu, peringatan
dan atau tanda batas yang jelas dan mudah dilihat.
(2) Marka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang pada tiap jarak 100
(seratus) meter dan rambu dipasang setiap 500 (lima ratus) meter.
(3) Pada daerah yang terdapat atau padat hunian atau lalu lintas orang dan
atau barang, jarak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
diperpendek sesuai kebutuhan.
(4) Marka atau rambu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa tulisan
yang jelas dalam huruf kapital dan berbunyi “DILARANG, PERINGATAN,
AWAS, BERBAHAYA, LINTASAN SALURAN PIPA GAS” dan memuat
nama perusahaan dengan alamat dan nomor telepon, diletakkan pada
ketinggian yang cukup dan mudah dilihat.

Pasal 138

Gas bumi yang disalurkan melalui Pipa Induk, wajib diberi pembau yang khusus
dibuat untuk itu, dengan ketentuan tidak mengurangi mutu gas bumi, tidak
merusak pipa dan tidak mencemari lingkungan.

Pasal 139

Dalam pelaksanaan pembilasan pipa penyalur wajib dihindari timbulnya bahaya


dengan cara memasukkan gas inert kedalam pipa dan atau melalui prosedur
yang berlaku.

Pasal 140

(1) Terhadap penggelaran pipa penyalur yang melintasi perairan wajib


memperhatikan aspek keselamatan pelayaran.
(2) Pada tempat-tempat tertentu yang merupakan alur pelayaran wajib
dipasang rambu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 141

RPP Keteknikan Migas 280108 45


(1) BU/BUT bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pihak lain dan
atau orang yang bekerja kepadanya, yang timbul akibat pekerjaan
penggelaran, pengoperasian, perbaikan, kebocoran dan atau kecelakan
pipa penyalur dan peralatan serta perlengkapan pendukungnya.
(2) Dalam hal terjadi ketidaksesuaian mengenai ganti kerugian yang
diberikan, akan diselesaikan permasalahannya melalui Pengadilan.

Pasal 142

(1) Terhadap setiap bagian-bagian tertentu dari setiap instalasi pipa penyalur
dapat dilakukan analisis risiko secara terintegrasi yang meliputi aspek
keselamatan migas, lindungan lingkungan, disain, konstruksi,
pemeliharaan dan operasi.
(2) Dalam hal terjadi perubahan kondisi operasi, BU/BUT wajib membuat
analisis risiko pada tempat perubahan terjadi untuk menetapkan langkah
pengamanan.
(3) Hasil analisis risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mendapatkan persetujuan dari Kepala Inspektur Migas.

Produksi, Penimbunan, Pemuatan dan Konversi

Pasal 143

BU/BUT diwajibkan melakukan seluruh kegiatan usaha migas didaerah


operasinya sesuai dengan kaidah keteknikan yang baik.

Pasal 144

(1) Semua alat pengukur dan cara pengukuran tunduk pada pengujian dan
pemeriksaan yang dilakukan oleh Inspektur Migas.
(2) Semua alat pengukur yang dipergunakan dalam usaha produksi, kecuali
yang khusus dipergunakan oleh BU/BUT untuk keperluan pemeriksaan
intern, harus dikalibrasikan secara berkala menurut peraturan yang
berlaku.
(3) Untuk memberikan kesempatan kepada Inspektur Migas dalam
melaksanakan pengujian sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dan
menyaksikan kalibrasi sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) pasal ini,
BU/BUT diwajibkan memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri.
(4) Alat pengukur yang terbukti tidak lagi memenuhi syarat, dilarang untuk
dipergunakan selanjutnya dan segera harus diperbaiki atau diganti dengan
yang memenuhi syarat.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai alat pengukur akan ditetapkan oleh
Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 46


Pasal 145

BU/BUT diwajibkan memberitahukan kepada Menteri pada waktu selesainya


pembangunan fasilitas produksi termasuk pengumpulan, pemisahan,
penimbunan, pemuatan dan pengangkutan sesuai dengan rencana kerja
operasi yang telah disetujui.

Pasal 146

Setiap bangunan lepas pantai wajib dilengkapi alat navigasi.

Pembongkaran Bangunan Lepas Pantai

Pasal 147

(1) Bangunan lepas pantai yang tidak dipakai lagi harus dibongkar seluruhnya
atau sebagian dengan melakukan tindakan-tindakan yang layak untuk
menjamin keamanan pekerjaan dan alur pelayaran.
(2) BU/BUT, diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Menteri
usulan program pembongkaran bangunan lepas pantai paling lambat 2
(dua) tahun atau paling cepat 3 (tiga) tahun dari perkiraan penghentian
penggunaan bangunan lepas pantai.
(3) Usulan program pembongkaran bangunan lepas pantai sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2), wajib dilampiri dengan kajian awal yang
sekurang-kurangnya meliputi:
a. desain awal dan modifikasi yang pernah dilakukan;
b. catatan sejarah operasi serta hasil inspeksi tahunan dan khusus;
c. alternatif teknologi atau metode pemotongan yang dipilih;
d. kajian lingkungan;
e. alternatif pengelolaan hasil pembongkaran;
f. analisis resiko.

Pasal 148

(1) Dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya
usulan program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (2), Menteri
wajib melaksanakan evaluasi usulan program dan menerbitkan
pengesahan hasil evaluasi.
(2) Evaluasi usulan program sekurang-kurangnya meliputi aspek:
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. pengelolaan lingkungan hidup;
c. teknologi atau metode yang dipergunakan;
d. kompetensi pelaksana kegiatan;
e. efisiensi dan keekonomian;
f. hasil verifikasi kondisi terakhir oleh pihak independen.

RPP Keteknikan Migas 280108 47


(3) Dalam melakukan evaluasi usulan program Menteri harus melakukan
koordinasi dengan instansi terkait dan tidak dipungut biaya.
(4) Apabila berdasarkan hasil evaluasi usulan program dapat diterima Menteri
akan menerbitkan izin pembongkaran bangunan lepas pantai.

Pasal 149

(1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat menunjuk lembaga independen atau
perguruan tinggi yang berkompeten untuk membantu pelaksanaan
evaluasi usulan program.
(2) Biaya yang diperlukan untuk jasa evaluasi independen sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) ditanggung oleh BU/BUT.
(3)
(4) Besar biaya evaluasi oleh pihak independen ditentukan berdasarkan atas:
a. mekanisme pasar;
b. kompleksitas dari instalasi bangunan lepas pantai;
c. teknologi yang akan digunakan.

Pelaksanaan Pembongkaran

Pasal 150

(1) Sebelum melaksanakan pembongkaran BU/BUT harus sekurang-


kurangnya harus:
a. melaksanakan survei lokasi jalur pipa dan kabel laut yang
menghubungkan bangunan lepas pantai dengan instalasi lain;
b. melaksanakan survai lokasi pengelolaan hasil pembongkaran;
c. melaksanakan survai kegiatan lain di sekitar lokasi pembongkaran;
d. menetapan penempatan rambu-rambu navigasi;
e. memberitahukan kepada Menteri Perhubungan rencana
pembongkaran untuk diumumkan dalam Berita Pelaut Indonesia;
f. melaksanakan penutupan sumur permanen sesuai dengan ketentuan
yang berlaku;
g. melaksanakan pemotongan konduktor 4,5 (empat setengah) meter di
bawah mudline;
h. melaporkan rencana pelaksanaan pembongkaran kepada Menteri.
(2) Pemeriksaan dan penilaian teknis struktur yang berada di atas air dan di
bawah permukaan air wajib dilaksanakan untuk memastikan kondisi
bangunan lepas pantai dan mengidentifikasi ulang potensi bahaya yang
mungkin timbul sebelum pembongkaran.
(3) Semua sistim perpipaan dan peralatan lain yang mengandung hidrokarbon
harus dibersihkan sedemikian sehingga tidak mencemari lingkungan.

Pasal 151

RPP Keteknikan Migas 280108 48


(1) Sebelum melaksanakan pembongkaran struktur atas, BU/BUT wajib
memastikan bahwa semua sistem kelistrikan, perpipaan dan instrumentasi
ke dan dari instalasi lain telah dibongkar.
(2) Bagian dek/modul dan struktur penguat dibongkar dengan memotong
sambungan las antara tiang pancang dengan kaki dek.
(3) BU/BUT wajib memastikan struktur atas yang dibongkar telah ditempatkan
secara kokoh pada kapal pengangkut untuk dibawa ke tempat
pengelolaan.

Pasal 152

(1) Untuk instalasi yang dipasang pada kedalaman laut kurang dari 55 (lima
puluh lima) meter kaki jacket, tiang pancang dan dudukannya wajib
dipotong 3 (tiga) meter di bawah mudline atau sejajar dengan permukaan
dasar laut (seabed) dalam hal jarak antara mudline dan seabed kurang
dari 3 (tiga) meter.
(2) Untuk instalasi yang dipasang pada kedalaman 55 (lima puluh lima) meter
atau lebih, kaki jacket, tiang pancang dan dudukannya wajib dipotong
sedemikian hingga jarak antara permukaan laut rata-rata dengan ujung
atas sisa instalasi minimal 55 (lima puluh lima) meter.

Pasal 153

(1) BU/BUT wajib membuat prosedur pembongkaran, pemindahan dan


pengangkutan yang harus disosialisasikan kepada pelaksana kegiatan dan
bagian-bagian terkait.
(2) BU/BUT wajib menjamin keselamatan migas pada saat operasi
pembongkaran dan transportasi bagian-bagian struktur atas dan bawah.

Pasal 154

(1) Dalam hal terdapat sisa instalasi yang ditinggalkan pada lokasi, selambat-
lambatnya dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja BU/BUT wajib
memberitahukan kepada Menteri dan instansi lain yang berkepentingan
dengan penggunaan laut.
(2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sekurang-
kurangnya meliputi informasi posisi dan koordinat, elevasi sisa instalasi,
ukuran dan informasi lain yang diperlukan.

Pasal 155
Pembinaan dan Pengawasan

(1) Menteri melakukan pengawasan teknis kesesuaian usulan program BU/


BUT yang telah disetujui dengan pelaksanaan teknis di lapangan
(2) BU/BUT wajib menyerahkan Laporan Akhir Pelaksanaan pekerjaan
pembongkaran selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah
pembongkaran selesai.

RPP Keteknikan Migas 280108 49


(3) Apabila berdasarkan evaluasi teknis laporan sebagaimana dimaksud ayat
(2) dapat diterima, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)
hari kerja Menteri menerbitkan surat persetujuan kebersihan lokasi
(clearence certificate).

BAB VII
(Instalasi Hilir)

Bangunan
Pasal 156
(1) Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum mulai membangun atau
mengadakan perubahan dan atau perluasan tempat kegiatan usaha
migas, BU/BUT diwajibkan menyampaikan secara tertulis kepada Kepala
Inspektur Migas mengenai hal-hal:
a. lokasi geografis;
b. denah bangunan dan instalasi pemurnian dan pengolahan;
c. bahan baku, bahan penolong beserta hasil pemurnian dan
pengolahannya;
d. proses disain;
e. instalasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang bersifat
permanen, baik dengan air maupun bahan kimia;
f. jumlah dan perincian tenaga kerja dan atau tambahannya;
g. hal-hal lain yang dianggap perlu oleh Kepala Inspektur Mgas.
(2) Apabila dalam pelaksanaannya terdapat perubahan mengenai hal-hal
yang telah diajukan sesuai dengan ketentuan termasuk pada ayat (1),
BU/BUT diwajibkan menyampaikannya secara tertulis kepada Kepala
Inspektur Migas.
(3) Dalam masa pembangunan tempat kegiatan usaha migas, pembuatan,
pendirian, penyusunan dan pemasangan semua peralatan, bangunan dan
instalasi kegiatan usaha migas berada di bawah pengawasan Kepala
Inspektur Migas.

Pasal 157

(1) Semua bangunan dan instalasi dalam tempat kegiatan usaha migas harus
memenuhi syarat-syarat teknis dan keselamatan migas yang sesuai
dengan sifat-sifat khusus dari proses dan lokasi yang bersangkutan.
(2) Perencanaan, pendirian dan pemeliharaan instalasi kegiatan usaha migas
harus dilaksanakan dengan baik untuk menjaga keselamatan migas.
(3) Semua bangunan dan instalasi yang didirikan di dalam daerah yang
mempunyai kemungkinan besar bagi timbulnya bahaya kebakaran, harus
dibuat dari bahan-bahan yang tidak mudah terbakar.
(4) Semua bangunan dan instalasi harus dilengkapi dengan sistem
telekomunikasi yang baik.

RPP Keteknikan Migas 280108 50


(5) Instalasi migas dan instalasi lainnya harus ditempatkan pada lokasi yang
tidak mudah menimbulkan berbagai bahaya dan kerusakan terhadap
sekitarnya.
(6) Instalasi-instalasi unit proses yang berlainan fungsinya harus diatur
penempatannya sesuai dengan sifat bahan-bahan yang diolah dan
dihasilkan, dengan maksud untuk mengurangi atau membatasi
menjalarnya kerusakan apabila terjadi kecelakaan dan atau kebakaran.
(7) Semua peralatan, bangunan dan instalasi yang dapat menimbulkan
kemungkinan terjadinya arus listrik yang diakibatkan oleh petir, arus liar,
muatan statis dan sebagainya, harus dilengkapi dengan suatu sistem
untuk meniadakannya.
(8) Dalam mengadakan perbaikan dan pemeliharaan tempat pemurnian dan
pengolahan harus digunakan cara, peralatan dan tenaga yang memenuhi
syarat.

Pasal 158

Tanda warna peralatan pada tempat pemurnian dan pengolahan seperti kolom,
pipa, pesawat, rambu tanda bahaya, alat pelindung, dan lain-lainnya harus
memenuhi keseragaman warna yang disetujui oleh Kepala Inspektur Migas.

Jalan dan Tempat Kerja

Pasal 159

(1) Jalan dalam tempat kegiatan usaha migas harus baik dan cukup lebar,
sehingga setiap tempat dapat dicapai dengan mudah dan cepat oleh orang
maupun kendaraan serta harus dipelihara dengan baik, diberikan
penerangan yang cukup dan dimana perlu dilengkapi dengan rambu-
rambu lalu-lintas.
(2) Apabila di dalam tempat kegiatan usaha migas terdapat jalan kereta api,
maka jalan tersebut harus dibuat sesuai dengan keadaan tanah, beban
jalan serta kecepatan kereta api.
(3) Sepanjang jembatan, sekeliling lubang yang membahayakan dan dipinggir
tebing yang terbuka harus diberi pagar yang cukup kuat.
(4) Setiap instalasi migas harus mempunyai tempat kerja dan tempat lalu-
lintas yang baik, aman dan harus selalu dalam keadaan bersih.
(5) Lantai terbuka, selokan dan penggalian di tempat kerja harus diberi tanda
yang jelas dan dapat dilihat dengan mudah, baik pada siang maupun
malam hari.
(6) Geladak kerja, lantai dan lorong, termasuk titian untuk berjalan, jembatan,
tangga dan lubang yang dibuat di lantai dan dinding harus dipelihara
dengan baik dan dibuat dengan memenuhi syarat-syarat keselamatan
migas serta apabila dianggap perlu, dilindungi dengan pagar yang aman
untuk mencegah terjadinya bahaya atau kecelakaan.

RPP Keteknikan Migas 280108 51


(7) Tangga harus dilengkapi sekurang-kurangnya pada 1 (satu) sisi dengan
tempat pegangan yang kuat.
(8) Tangga yang dapat dipindah-pindahkan harus dilengkapi dengan alat
pengaman terhadap kemungkinan bergeser.
(9) Bejana, reservoar dan bak yang terbuka yang berisikan bahan cair,
termasuk yang mendidih, panas atau yang dapat melukai, sepanjang
dapat menimbulkan bahaya, harus dikelilingi dengan pagar yang aman
atau dibuat usaha-usaha lainnya untuk mencegah kecelakaan.
(10) Jembatan, tempat kerja dan tangga harus diperiksa secara berkala.

Pasal 160

(1) Tempat kerja harus bersih dan dipelihara dengan baik.


(2) Tempat kerja harus dilengkapi dengan penerangan yang baik, sesuai
dengan syarat- syarat keselamatan pekerja.
(3) Ruangan kerja harus mempunyai ventilasi yang baik disesuaikan dengan
jumlah orang dan keadaan udara yang terdapat di dalam ruangan
tersebut.
(4) Ruangan kerja harus diatur sedemikian rupa, sehingga kebisingan berada
di bawah nilai ambang batas yang ditentukan atau apabila hal ini tidak
dapat dicapai, para pekerja harus dilengkapi dengan alat pelindung diri.
(5) Ruangan kerja harus dapat dicapai dan ditinggalkan dengan mudah dan
aman melalui pintu-pintu tertentu dan harus terpelihara dengan baik.
(6) Di tempat-tempat tertentu untuk keadaan darurat harus tersedia alat-alat
penyelamat yang sesuai dengan kebutuhan.

Pesawat dan Perkakas

Pasal 161

(1) Pesawat-pesawat pengangkat, mesin perkakas dan perkakas harus


terbuat dan terpelihara sedemikian rupa, sehingga memenuhi syarat-
syarat teknis yang baik dan aman.
(2) Peralatan termaksud pada ayat (1) harus diperiksa secara berkala.

Pasal 162

(1) Bagian-bagian pesawat, mesin perkakas dan alat transmisi yang bergerak,
yang dapat membahayakan pekerja yang melayaninya dan
membahayakan lalu-lintas, harus terlindung dengan baik dan aman.
(2) Pesawat dan mesin perkakas yang dalam penggunaannya dapat
menimbulkan bahaya terhadap pekerja yang melayaninya harus diberi
pelindung dan dipasang sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan.

RPP Keteknikan Migas 280108 52


(3) Ruangan di antara pesawat atau mesin perkakas harus cukup lebar dan
bebas dari benda-benda yang dapat merintangi dan menimbulkan bahaya
terhadap pekerja yang melayaninya dan lalu-lintas.
(4) Pesawat dan mesin perkakas yang karena akibat perputaran yang sangat
tinggi mungkin dapat pecah beterbangan, harus dilindung dengan baik,
serta kecepatan putarannya tidak boleh melebihi batas kecepatan aman
yang telah ditentukan untuk pesawat tersebut.
(5) Masing-masing mesin perkakas yang digerakkan oleh pesawat secara
sentral, harus dapat dihentikan secara tersendiri.
(6) Apabila sesuatu pesawat atau mesin perkakas perlu dijalankan untuk
percobaan atau hal-hal lain yang bersifat sementara dengan tidak
memakai alat pelindung, maka pada tempat yang mudah terlihat harus
dipasang rambu-rambu tanda bahaya yang jelas.

Pasal 163

(1) Pada pesawat pengangkat harus dinyatakan dengan jelas batas daya
angkat aman yang telah ditentukan untuk pesawat tersebut.
(2) Bagian-bagian yang bergerak seperti rantai, roda gigi, dan rem serta alat
pengaman pesawat pengangkat harus selalu berada dalam keadaan baik.
(3) Pesawat pengangkat harus dilayani oleh ahli yang ditunjuk oleh Kepala
Teknik Migas.
(4) Dilarang membebani pesawat pengangkat melebihi batas daya angkat
aman yang telah ditentukan untuk pesawat tersebut.

Pompa

Pasal 164

(1) Pemasangan dan penggunaan pompa beserta perlengkapannya, baik


untuk bagian-bagian cair ataupun gas, termasuk yang bertekanan tinggi
dan bersuhu tinggi ataupun bersuhu rendah sekali harus memenuhi
syarat-syarat sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Indonesia,
kecuali apabila ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh
Kepala Inspektur Migas.
(2) Tekanan kerja di dalam pompa beserta perlengkapannya tidak boleh
melebihi batas tekanan kerja aman yang telah ditentukan untuk pompa itu.
Untuk keperluan tersebut harus dipasang alat-alat pengamannya yang
selalu dapat bekerja dengan baik di atas batas tekanan kerja aman yang
telah ditentukan.
(3) Pompa harus diperiksa secara berkala dan diuji kemampuannya menurut
tata cara yang ditentukan oleh Kepala Inspektur Migas.
(4) Apabila terjadi kebocoran pada pompa, aliran zat cair atau gas di
dalamnya harus dapat dihentikan dengan segera dari tempat yang aman.

RPP Keteknikan Migas 280108 53


(5) Apabila terjadi perubahan, penambahan atau pemindahan terhadap suatu
pompa dan perlengkapannya, maka kemampuan pompa tersebut harus
diuji kembali. Syarat-syarat pemakaian yang diperbolehkan dan jangka
waktu pemakaian sebelum inspeksi berikutnya akan ditentukan kembali.

Pasal 165

(1) Jika pada suatu baterai pompa, sebuah pompa atau lebih dibersihkan atau
diperbaiki, sedangkan yang lainnya masih digunakan, maka semua
saluran pipa dari dan ke pompa tersebut harus dilepaskan dan ditutup
dengan flensa mati.
(2) Semua saluran pipa yang bersuhu tinggi atau bersuhu rendah sekali harus
disalut dengan baik di tempat-tempat yang dapat menimbulkan bahaya
terhadap orang dan peralatan di sekitarnya.

Kompresor, Pompa Vakum, Bejana Tekan Dan Bejana Vakum

Pasal 166

(1) Kompresor dan bejana tekan adalah peralatan yang bekerja dengan
tekanan kerja di dalam peralatan melebihi ½ (setengah) atmosfir tekanan
lebih.
(2) Pompa vakum dan bejana vakum adalah peralatan yang bekerja dengan
tekanan kerja di dalam peralatan kurang dari 1 (satu) atmosfir absolut.

Pasal 167

(1) Pemasangan dan penggunaan kompresor, pompa vakum dan bejana


tekan atau bejana vakum dan peralatannya harus memenuhi syarat-syarat
sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali
apabila ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh Kepala
Inspektur Migas.
(2) Bejana tekan atau bejana vakum, apabila diisi dengan zat cair atau gas
bertekanan tinggi atau di bawah atmosfir ataupun dicairkan yang dapat
menimbulkan bahaya ledakan harus memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan.
(3) Kompresor, pompa bakum dan bejana tekan atau bejana vakum harus
diperiksa secara berkala dan diuji kemampuannya menurut tatacara yang
ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas.
(4) Pada kompresor, pompa vakum dan bejana tekan atau bejana vakum
harus dipasang alat-alat pengaman yang selalu dapat bekerja dengan baik
diatas batas tekanan kerja aman yang telah ditentukan untuk peralatan
tersebut.
(5) Apabila terjadi perubahan, penambahan atau pemindahan terhadap suatu
kompresor, pompa vakum atau bejana vakum, maka kemampuan alat-alat
tersebut harus diuji kembali. Syarat-syarat pemakaian yang diperbolehkan

RPP Keteknikan Migas 280108 54


dan jangka waktu pemakaian sebelum inspeksi berikutnya akan ditentukan
kembali.

Tungku Pemanas

Pasal 168

(1) Tungku pemanas untuk memanaskan atau menguapkan minyak dan gas
bumi atau zat-zat lain harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana
tercantum dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali apabila ditentukan
lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh Kepala Inspektur Migas,
tungku pemanas harus diperiksa secara berkala dan diuji kemampuannya
menurut tatacara yang ditentukan oleh Kepala Inspektur Migas.
(2) Pada tungku pemanas harus dipasang alat-alat pengaman yang selalu
harus dapat bekerja dengan baik.
(3) Apabila terjadi kebocoran aliran minyak dan gas bumi atau zat-zat lain
dalam tungku pemanas, aliran tersebut harus dapat dihentikan dengan
segera dari tempat yang aman.
(4) Apabila terjadi perubahan, penambahan atau pemindahan terhadap suatu
tungku pemanas dan perlengkapannya, maka kemampuan tungku
pemanas tersebut berserta perlengkapannya harus diuji kembali. Syarat-
syarat pemakaian yang diperbolehkan dan jangka waktu pemakaian
sebelum inspeksi berikutnya akan ditentukan kembali.

Pasal 169

(1) Jika pada suatu baterai tungku pemanas, sebuah tungku pemanas atau
lebih harus dibersihkan atau diperbaiki, sedangkan yang lainnya masih
digunakan, maka semua saluran pipa dari dan ketungku pemanas tersebut
harus dilepaskan dan ditutup dengan flensa mati.
(2) Semua saluran pipa yang berisi uap dan cairan panas harus disalut
dengan baik di tempat-tempat yang dapat menimbulkan bahaya terhadap
orang dan peralatan di sekitarnya.

Kondensor dan Heat Exchanger

Pasal 170

(1) Kondensor dan heat exchanger beserta perlengkapannya, baik untuk


bagian-bagian cair atau gas dari minyak dan gas bumi ataupun zat-zat
lain, termasuk yang bertekanan tinggi dan vakum, harus memenuni syarat-
syarat sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali
apabila ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh Kepala
Inspektur Migas.

RPP Keteknikan Migas 280108 55


(2) Kondensor dan heat exchanger beserta perlengkapannya harus diperiksa
secara berkala dan diuji kemampuannya menurut tatacara yang ditentukan
oleh Kepala Inspektur Migas.
(3) Pada kondensor dan heat exchanger harus dipasang alat-alat pengaman
yang selalu harus dapat bekerja dengan baik.
(4) Apabila terjadi kebocoran aliran minyak dan gas bumi atau zat-zat lain di
dalam kondensor atau heat exchanger, aliran tersebut harus dapat
dihentikan dengan segera dari tempat yang aman.
(5) Apabila terjadi perubahan, penambahan atau pemindahan terhadap suatu
kondensor atau heat exchanger dan perlengkapannya, maka kemampuan
kondensor atau heat exchanger tersebut berserta perlengkapannya harus
diuji kembali. Syarat-syarat pemakaian yang diperbolehkan dan jangka
waktu pemakaian sebelum inspeksi berikutnya akan ditentukan kembali.

Pasal 171

(1) Jika pada suatu baterai kondensor atau heat exchanger, sebuah
kondensor atau sebuah heat exchanger atau lebih harus dibersihkan atau
diperbaiki, sedangkan yang lainnya masih digunakan, maka semua
saluran pipa dari dan ke kondensor atau heat exchanger tersebut harus
dilepaskan dan ditutup dengan flensa mati.
(2) Semua saluran pipa yang bersuhu tinggi atau bersuhu rendah sekali harus
disalut dengan baik di tempat-tempat yang dapat menimbulkan bahaya
terhadap orang dan peralatan disekitarnya.

Pasal 172
Perpipaan

(1) Pemasangan dan penggunaan perpipaan beserta perlengkapannya


kecuali perpipaan uap air yang bergaris tengah lebih dari 450 (empat ratus
lima puluh) millimeter, harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana
tercantum dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali apabila ditentukan
lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh Kepala Inspektur Migas.
(2) Tekanan kerja di dalam perpipaan beserta perlengkapannya tidak boleh
melebihi batas tekanan kerja aman yang telah di tentukan dan untuk
keperluan tersebut harus dipasang alat-alat pengaman yang selalu dapat
bekerja dengan baik di atas batas tekanan kerja aman yang telah di
tentukan.
(3) Letak perpipaan di atas permukaan tanah atau di udara harus diatur
sedemikian rupa sehingga tidak menggangu lalu-lintas orang dan
kendaraan.
(4) Pada tempat-tempat tertentu perpipaan beserta perlengkapannya harus
diberi pelindung untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

RPP Keteknikan Migas 280108 56


(5) Perpipaan yang ditanam harus dilengkapi dengan alat atau cara untuk
mengetahui dengan segera apabila terjadi kebocoran.
(6) Sistem perpipaan harus selalu berada dalam keadaan terpelihara dengan
baik.

Pasal 173

Tempat Penimbunan

(1) Tempat penimbunan minyak dan gas bumi beserta hasil pemurnian dan
pengolahannya, termasuk gas bumi yang dicairkan, bahan cair dan gas
lainnya yang mudah terbakar dan atau mudah meledak dan zat yang
berbahaya lainnya, harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana
tercantum dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali apabila ditentukan
lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh Kepala Inspektur Migas.
(2) Tempat penimbunan termasuk pada ayat (1) harus dilengkapi dengan alat-
alat pengaman dan dibuat atau dibangun sedemikian rupa sehingga tidak
akan menimbulkan bahaya kebakaran atau ledakan harus dapat dibatasi
atau dilokalisir setempat.
(3) Tempat penimbunan yang berbentuk tanki untuk bahan cair harus
dikelilingi dengan tanggul yang dapat menampung sejumlah bahan cair
yang ditentukan. Tinggi tanggul tidak boleh melebihi 150 (seratus
limapuluh) centimeter dari permukaan tanah dibagian luar tempat yang
ditanggul. Setiap tempat yang ditanggul harus dilengkapi dengan sistim
saluran untuk pengeringan yang dapat ditutup apabila diperlukan.
(4) Kapasitas tempat penimbunan tersebut harus dinyatakan dengan jelas
pada masing-masing tempat dan dilarang mengisi tempat penimbunan
melebihi kapasitas yang telah ditentukan.
(5) Aliran bahan cair dan gas dari dan ke tempat penimbunan harus dapat
dihentikan dengan segera untuk masing-masing tempat penimbunan dari
tempat yang aman.
(6) Tempat penimbunan harus selalu berada dalam keadaan terpelihara baik
dan khusus untuk tempat penimbunan berbentuk tanki secara berkala
harus diadakan pembersihan dan pemeliharaan pada bagian dalam.
(7) Kompleks tempat penimbunan harus dilengkapi dengan sistem pemadam
kebakaran yang permanen.

Listrik

Pasal 174

(1) Pesawat pembangkit tenaga listrik, pesawat yang menyalurkan tenaga


listrik atau menggunakan tenaga listrik, peralatan listrik, pemasangan dan
penggunaan tenaga listrik, harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana
tercantum dalam Standar Nasional Indonesia, kecuali apabila ditentukan
lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh Kepala Inspektur Migas.

RPP Keteknikan Migas 280108 57


(2) Untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh terputusnya
aliran listrik, Kepala Teknik Migas wajib menjamin kelangsungan aliran
listrik tersebut dilokasi-lokasi tertentu atau instalasi-instalasi tertentu di
tempat kegiatan usaha migas.

Pasal 175

(1) Pesawat pembangkit tenaga listrik, pesawat yang menyalurkan tenaga


listrik atau menggunakan tenaga listrik dan peraltan penyalur tenaga listrik
lainnya, harus dipasang dan dilindungi sedemikian rupa sehingga percikan
api yang mngkin timbul tidak akan menimbulkan kebakaran terhadap
bahan-bahan yang mudah meledak atau terbakar.
(2) Alat pembantu yang menyalurkan tenaga listrik ke pesawat yang
menggunakannya harus disusun, diatur dan dipasang dengan baik.
(3) Dilarang menggunakan kawat atau kabel listrik yang tidak disalut di tempat
yang menimbulkan bahaya.
(4) Pengamanan kawat atau kabel listrik yang tidak disalut di termasuk jarak
antara kawat atau kabel tersebut dengan dinding, baik di luar maupun di
dalam bangunan, tingginya dari permukaan tanah dan jarak antara kawat
atau kabel masing-masing harus cukup. Luas penampang kawat atau
kabel tersebut harus sesuai dengan kekuatan arus listrik yang mengalir di
dalamnya untuk mencegah timbulnya bahaya.
(5) Kawat atau kabel listrik di atas tanah dan di luar bangunan harus di
lengkapi dengan penangkal petir yang baik dalam jumlah yang cukup.
(6) Bagian-bagian pesawat, penyalur atau peralatan lainnya yang
menggunakan arus listrik harus terlindung dan yang menggunakan
tegangan tinggi harus dilengkapi dengan tanda peringatan.
(7) Daya tahan isolasi seluruh jaringan saluran listrik dan tiap-tiap bagiannya
harus memenuhi syarat-syarat keselamatan migas.
(8) Dalam penyaluran tenaga listrik harus dipasang sejumlah sambungan
pengaman yang cukup dan dapat bekerja dengan baik.

Pasal 176

(1) Pekerjaan pemasangan, pemeliharaan dan perbaikan instalasi listrik


hanya boleh dilakukan oleh atau dibawah pengawasan ahli yang ditunjuk
oleh Kepala Teknik Migas.
(2) Pekerjaan termasuk pada ayat (1) dapat dilakukan terhadap pesawat dan
penyalur yang sedang dialiri arus listrik tegangan rendah dengan
mengindahkan tindakan pencegahan kecelakaan. Dilarang melakukan
pekerjaan apapun terhadap pesawat dan penyalur yang sedang dialiri arus
listrik tegangan tinggi.

RPP Keteknikan Migas 280108 58


Pasal 177
Penerangan Lampu

(1) Penerangan lampu dalam instalasi dan di tempat kegiatan usaha migas.
(2) Dalam tempat kegiatan usaha migas serta unit-unitnya tidak boleh
digunakan penerangan lampu selain dari pada lampu listrik yang dilindungi
dengan tutup gelas yang kuat dan kedap gas. Di tempat-tempat yang
dianggap perlu sebelah luar tutup lampu tersebut harus dilindung dengan
keranjang pelindung yang baik dan cukup kuat.
(3) Pada tempat dan instalasi tertentu harus disediakan alat penerangan
lampu darurat yang aman yang setiap waktu siap digunakan.
(4) Pada tempat dan pekerjaan tertentu harus digunakan arus listrik tegangan
di bawah 50 (lima puluh) volt.

Pemadam Kebakaran

Pasal 178

(1) Alat pemadam kebakaran beserta perlengkapan penyelamat harus


memenuhi syarat-syarat sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional
Indonesia, kecuali apabila ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah ini
atau oleh Kepala Inspektur Migas.
(2) BU/BUT wajib menyediakan alat pemadam kebakaran beserta
perlengkapan penyelamat yang baik yang setiap saat siap untuk
digunakan, termasuk instalasi air yang permanen dengan tekanan yang
diperlukan lengkap dengan hydrant secukupnya, mobil pemadam
kebakaran dengan air dan bahan kimia dalam jumlah yang cukup dan
apabila diperlukan, instalasi permanen untuk pemadam kebakaran dengan
bahan kimia.
(3) Instalasi pemadam kebakaran yang permanen disamping dilengkapi
dengan sistim pemompaan utama harus dilengkapi pula dengan sistim
pemompaan tambahan yang tidak tergantung pada jaringan pusat tenaga
listrik tempat kegiatan usaha migas.
(4) Pada tempat-tempat tertentu harus disediakan alat pemadam kebakaran
yang portable dalam jumlah yang cukup yang jenisnya yang disesuaikan
dengan sifat kebakaran yang mungkin timbul, serta pekerja yang bekerja
di tempat yang bersangkutan harus dapat melayani atau menggunakan
alat tersebut.
(5) Pada tempat-tempat tertentu harus dipasang alat komunikasi yang dapat
berhubungan langsung dengan stasiun pemadam kebakaran apabila
terjadi kebakaran atau kecelakaan.
(6) Pada tempat yang mempunyai kemungkinan besar akan timbulnya bahaya
kebakaran, harus dipasang sistem alarm yang apabila terjadi kebakaran di
tempat tersebut dapat segera diketahui.

RPP Keteknikan Migas 280108 59


Pasal 179

(1) Kepala Teknik Migas wajib membentuk regu pemadam kebakaran yang
tetap dan kompeten serta selalu berada dalam keadaan siap.
(2) Kepala Teknik Migas wajib menunjuk seorang petugas yang bertanggung
jawab dalam hal penanggulangan kebakaran, petugas tersebut harus
dicatat oleh Kepala Teknik Migas dalam Buku Keselamatan Migas.
(3) Kepala Teknik Migas wajib memeriksa secara berkala kondisi semua alat
pemadam kebakaran beserta perlengkapan penyelamat.
(4) BU/BUT wajib menjamin penggunaan alat pemadam kebakaran yang
memenuhi syarat-syarat keselamatan migas.

Instalasi SPBU

Pasal 180

Disain, konstruksi, operasi, modifikasi, perawatan dan penutupan permanen


instalasi SPBU wajib mengacu pada Standar Nasional Indonesia.

Pasal 181

(1) BU wajib melaksanakan manajemen resiko terhadap instalasi stasiun


pengisian bahan bakar untuk umum.
(2) Manajemen resiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup
identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian resiko.
(3) Resiko sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup resiko terhadap
pekerja, instalasi dan peralatan, publik, dan lingkungan.
(4) Manajemen resiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan:
a. pada saat instalasi stasiun pengisian bahan bakar untuk umum akan
dibangun;
b. pada saat terjadi perubahan instalasi dan lingkungan;
c. saat unjuk kerja teknik yang akan dipergunakan;
d. secara berkala sesuai dengan sifat dan jenis instalasi, peralatan;
e. setiap saat apabila dianggap perlu oleh Menteri.

Pasal 182

(1) BU wajib menentukan klasifikasi daerah berbahaya pada instalasi SPBU.


(2) Klasifikasi daerah berbahaya pada instalasi stasiun pengisian bahan bakar
untuk umum adalah sebagai berikut:
- Zona 0
Bagian dari area SPBU di mana terdapat bahan mudah terbakar lepas
ke atmosfir secara kontinyu atau ada dalam jangka waktu yang lama
- Zona 1

RPP Keteknikan Migas 280108 60


Bagian dari area SPBU di mana bahan mudah terbakar tidak terjadi pada
saat normal operasi, kalaupun terjadi periode waktunya pendek.
- Zona 2
Bagian dari area SPBU dimana bahan mudah terbakar tidak terjadi pada
saat normal operasi, kalaupun terjadi durasi periode waktunya pendek.
(3) Bagian dari area SPBU di mana tidak termasuk pada zona 0, zona 1, dan
zona 2 merupakan daerah tidak berbahaya.

Pasal 183

(1) Penentuan lokasi instalasi SPBU harus sesuai dengan peraturan-


perundangan yang berlaku.
(2) Instalasi SPBU harus mempunyai luas tanah yang cukup untuk
penempatan tanki, bejana tekan, kompresor, sistem perpipaan, pipa
ventilasi, posisi bongkar mobil tanki, pompa dan dispenser serta bangunan
administrasi dalam kaitan dengan keselamatan operasi instalasi SPBU.
(3) Penempatan bangunan dan peralatan operasi harus mempertimbangkan
keselamatan, kesehatan, efisiensi operasi dan lingkungan.
(4) Instalasi SPBU harus dapat dimasuki dengan aman oleh mobil tanki
BBM/BBG dan kendaraan pelanggan dan pelayanan lainnya.
(5) Harus disediakan jalan untuk proses evakuasi konsumen dan pekerja
pada saat keadaan darurat.
(6) Tata letak instalasi SPBU harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
- jalan untuk keluar dan masuk kendaraan bermotor harus diaspal atau
dibeton dan tidak terhalang;
- semua peralatan dalam zona 0, zona 1 dan zona 2 tidak diperkenankan
dipasang di bawah jaringan listrik dan telepon yang memiliki ketinggian
kurang dari 3 (tiga) meter;
- perpipaan dan kabel harus dipendam pada kedalaman tidak kurang dari
0,6 (enam persepuluh) meter di bawah permukaan dan ditimbun dengan
pasir yang bersih serta tidak boleh ditempatkan di bawah bangunan;
- tanki penimbun minyak harus dipendam;
- tidak diperbolehkan ada bangunan di atas lokasi tanki penimbun minyak;
- tanki harus ditempatkan minimum 30 (tiga puluh) centimeter dibawah
permukaan tanah, dan dilengkapi dengan sistem peringatan level tinggi
(high level alarm), level instrument, dan katup blok serta piranti
pengendalian luapan;
- tanki timbun harus dilindungi dari kemungkinan terjadinya korosi dengan
pelapis dan harus diuji sesuai dengan standar yang berlaku.
(7) Tanki timbun yang dipergunakan pada instalasi SPBM harus memenuhi
persyaratan antara lain sebagai berikut:
a. tanki terbuat dari baja atau material lain yang didisain, difabrikasi dan
diuji berdasarkan standar yang disetujui oleh Menteri;
b. tanki yang didisain dan dibangun harus jenis dinding ganda (double
wall).

RPP Keteknikan Migas 280108 61


c. Tanki harus dilengkapi dengan sistem ventilasi yang sesuai, dengan
ukuran diameter tidak kurang dari 4 (empat) centimeter dan tinggi pipa
ventilasi tidak kurang dari 4 (empat) meter dari permukaan tanah;
d. tanki harus dilengkapi dengan pipa penerima BBM yang masuk ke
dalam tanki sampai 15 (lima belas) centimeter dari dasar tanki.
(8) Titik pengisian tanki timbun minimum berjarak 4 (empat) meter dari
bangunan atau lintasan kendaraan pelanggan dan 12 (dua belas) meter
dari bangunan sekolah, tempat tinggal, rumah sakit dan tempat umum
lainnya.
(9) Titik pengisian BBM harus dilengkapi dengan sistem drainase untuk
mencegah tumpahan BBM.
(10) Tata letak dan lintasan sistem perpipaan harus terlindungi dari efek
eksternal atau interferensi dan memungkinkan akses untuk melakukan
inspeksi dan perawatan.
(11) Tanki timbun harus dilengkapi dengan pipa venting.
(12) Pipa venting harus dipasang dengan ketinggian minimal 4 (empat) meter
di atas permukaan tanah.
(13) Pipa venting harus dipasang dengan jarak minimal 3 (tiga) meter dari
bangunan terdekat.
(14) Kabel-kabel yang ditanam harus diberi pelindung dan tidak boleh masuk
cairan, gas ataupun uap.
(15) Tata letak dispenser minimum 3 (tiga) meter dari semua jenis
bangunan/ruang kerja.
(16) Dispenser harus ditempatkan:
- di area terbuka;
- di area yang memungkinkan kendaraan pelanggan bergerak tanpa
terganggu oleh posisi kendaraan pelanggan lainnya;
- sedemikian sehingga hose tidak tegang dan tidak menimbulkan
kerusakan ketika berkontak dengan kanopi;
- hose dilindungi dari kendaraan yang akan lewat.
(18) Tempat truk tanki BBM melakukan pengisian kedalam tanki timbun
minimal memiliki panjang 15 (lima belas) meter dan lebar 5 (lima) meter
serta harus ditempat terbuka jauh dari bangunan (kecuali kanopi), aktifitas
pengisian mobil pelanggan dan emergency escape route dan cukup lebar
bagi truk tanki BBM pada saat melakukan pengisian BBM ke tanki timbun.
(19) Tempat truk tanki BBM harus disediakan telepon darurat dan APAR.
(20) Jika ada lebih dari 1 (satu) kendaraan pelanggan yang melakukan
pengisian BBM pada saat yang sama harus dibuatkan jalur emergency
yang aman untuk semua kendaraan dan dipisahkan dengan jarak tertentu
untuk meyakinkan jika terjadi kecelakaan pada satu kendaraan tidak
mengakibatkan/berefek keselamatan operasi dari kendaraan lainnya
lainnya, hal ini harus masuk kedalam risk assessment.
(21) Sistem drainase dan separator minyak/air harus dipasang dan
ditempatkan sehingga dapat mencegah tumpahan minyak dari kendaraan
keluar dari area SPBU.

RPP Keteknikan Migas 280108 62


(22) Pipa ventilasi separator minyak/air minimal memiliki ketinggian 2,4 (dua
empat persepuluh) meter dari atas permukaan tanah.
(23) SPBU haru dilengkapi dengan tong/buckets berisi pasir kering atau
material penyerap lainnya untuk membersihkan tumpahan kecil dan
kebocoran dari kendaraan dan diletakan ada tempat yang mudah
dijangkau oleh operator dan pelanggan.
(24) SPBU harus dilengkapi dengan jenis dry powder extinguisher dengan
berat minimal 4,5 (empat setengah) kg dan diletakkan pada tempat yang
mudah dijangkau oleh operator dan pelanggan.
(25) SPBU dengan jumlah dispenser sampai dengan 4 (empat) buah wajib
dilengkapi extinguisher sekurang-kurangnya 2 (dua) buah.
(26) Setiap ada penambahan 2 (dua) dispenser wajib dilakukan penambahan 1
(satu) buah extinguisher.
(27) Lokasi tanki, pengisian tanki, pipa ventilasi, dispenser, tanki BBM, dan
bangunan harus dirancang cukup untuk:
a. jalan keluar pada saat terjadi kebakaran atau kecelakaan lainnya,
b. proteksi bahaya dari sumber api;
c. akses yang aman;
d. keluar masuk kendaraan;
e. kendaraan mobil tanki BBM.

Pasal 184
Penerimaan dan Verifikasi/Komisioning

(1) Kepala Teknik Migas harus memastikan bahwa fasilitas yang telah selesai
dikerjakan, baik yang baru, hasil pengembangan atau modifikasi, serta
semua sistem keselamatan yang berkaitan, telah selesai dibangun, dan
semua peralatan yang terpasang, memenuhi disain dan kriteria khusus.
(2) Pekerjaan konstruksi yang dilakukan harus sesuai dengan gambar dan
spesifikasi dan dalam kualitas yang baik.
(3) Kontraktor yang mengerjakan mempunyai kompetensi, inspeksi yang
efektif, dan kesesuaian peralatan.
(4) Semua pekerjaan selama konstruksi atau pengembangan memerlukan
pengawasan yang memadai. Pengaturan untuk inspeksi, termasuk
kunjungan pihak yang berwenang, harus di setujui oleh semua pihak yang
terkait sebelum memulai pekerjaan.
(5) Material dan peralatan yang digunakan harus memenuhi Standar Nasional
Indonesia maupun internasional yang relevan.
(6) Verifikasi yang dilakukan selama commissioning harus meliputi
penelaahan langkah-langkah untuk memastikan bahwa:
a. rekaman menunjukkan bahwa tanki penimbun dan semua bahan bakar
kendaraan yang terkait dengannya dan pipa untuk uap bahan bakar
kedap terhadap kobocoran;
b. gambar klasifikasi daerah berbahaya (hazardous area classification)
telah disiapkan dan pemeriksaan visual telah dilakukan;

RPP Keteknikan Migas 280108 63


c. peralatan dalam daerah berbahaya telah dipasang secara benar dan
telah diuji;
d. semua tanda peringatan dan informasi telah dipasang tempatnya;
e. semua saluran listrik dan saluran saluran lainya dari daerah berbahaya
telah disegel dengan baik;
f. sistem pengendalian buangan uap bahan bakar telah diuji untuk
integritasnya dan bisa dioperasikan dengan benar;
g. sistem pengukuran dan sistem pemantauan/deteksi kebocoran bekerja
dengan benar;
h. sistem drainase, termasuk pemisah minyak/air telah selesai dan telah
diuji;
i. semua peralatan untuk keadaan darurat telah dipasang dan bekerja
dengan baik;
j. pemasangan peralatan listrik telah selesai dan dokumen yang relevan
dengannya telah diterbitkan.

(7) Kepala Teknik Migas harus memastikan bahwa verifikasi dilakukan oleh
yang berkompetensi.
(8) Pada tahapan penyelesaian dari kegiatan commissioning, harus ada
pemeriksaan akhir untuk adanya bukti kebocoran dari semua peralatan
yang mengandung bahan bakar. Harus juga diperiksa lagi bahwa semua
hasil dan sertifikat dari pengujian dan operasi commissioning tersedia dan
telah diberikan kepada Kepala Teknik Migas.
(9) Kepala Teknik Migas harus menjaga rekaman/catatan pengujian awal dan
prosedur commissioning untuk acuan di masa yang akan datang.

Pasal 185
Konstruksi dan Keselamatan Konstruksi

(1) Seluruh pihak yang terlibat baik perencana, kontraktor dan operator harus
mengikuti peraturan pemerintah dan standar yang berlaku pada setiap
tahap kegiatan.
(2) BU wajib membuat sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja
(SMK3) yang melibatkan semua pihak yang terkait dan menjalankannya
pada setiap tahap pekerjaan.
(3) Sebelum pekerjaan konstruksi dimulai, semua pihak yang terkait harus
melakukan pengkajian untuk menentukan potensi bahaya dan membuat
prosedur pelaksanaan dari pekerjaan yang akan dilaksanakan.
(4) Setiap akan melakanakan pekerjaan harus memiliki izin kerja yang
dikeluarkan oleh orang yang ditunjuk dan mempunyai pengetahuan
mengenai bahaya dan resiko pada setiap kegiatan.
(5) BU wajib menjaga lingkungan sekitar agar terhindar dari gangguan
dan/atau pencemaran yang dapat terjadi akibat dari kegiatannya.

RPP Keteknikan Migas 280108 64


Pasal 186
Sistem Berisi BBM (Containment System)

(1) Sistem yang berisi BBM harus didisain, dikonstruksi dan dioperasikan
sedemikian sehingga dapat mencegah kebocoran yang diakibatkan dari
kendaraan, korosi, degradasi kimia, kerusakan mekanik.
(2) Tanki penimbun wajib didisain dan dikonstruksi mengacu pada Standar
Nasional Indonesia.
(3) Tanki penimbun wajib dipendam dengan proyeksi horisontal atau vertikal.
(4) Material tanki penimbun terbuat dari baja, glass reinforced plastic atau
kombinasi dari baja dan glass reinforced plastic.
(5) Penggunaan material tanki penimbun bukan baja dan atau glass
reinforced plastic wajib dilaksanakan analisis resiko dan mendapatkan
persetujuan Direktur jenderal.
(6) Tanki wajib dikonstruksi dengan 2 (dua) dinding dan dilengkapi manhole
Comment [PV1]: Akan diperbaiki
minimal ............ diameter inci.
(7) Pengelasan untuk konstruksi tanki timbun baja hanya boleh dilakukan
berdasarkan prosedur pengelasan yang telah dikualifikasi sesuai Standar
Nasional Indonesia dan mendapat pengesahan dari Direktur Jenderal.
(8) Juru Las dan Operator Las harus berkualifikasi sesuai Standar Nasional
Indonesia dan telah mendapat pengesahan dari Direktur Jenderal.
(9) Penyambungan untuk konstruksi tanki timbun GRP hanya boleh dilakukan
berdasarkan prosedur penyambungan yang telah dikualifikasi sesuai
Standar Nasional Indonesia dan mendapat pengesahan dari Direktur
Jenderal.
(10) Juru Sambung dan Operator Sambung harus berkualifikasi sesuai Standar
Nasional Indonesia dan telah mendapat pengesahan dari Direktur
Jenderal.
(11) Tanki penimbun wajib dilakukan uji hidrostatik dengan tekanan minimal 1
(satu) barg selama 1 (satu) jam.
(12) Tanki penimbun harus dilengkapi dengan as-built drawing dan sertifikat
jaminan mutu yang diterbitkan oleh pabrik pembuat.
(13) Sertifikat jaminan mutu sekurang kurangnya memuat pernyataan jaminan
mutu produk, Surat Keterangan Terdaftar, klien, lokasi pemasangan,
kapasitas, test pressure, tanda tangan manajemen pabrik pembuat.
(14) Tanki penimbun yang telah dioperasikan wajib dilakukan pemeriksaan
internal, dan kebocoran setiap 5 (lima) tahun sekali.
(15) Tata cara pemeriksaan internal dan kebocoran diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Menteri.
(16) Hanya pekerja yang kompeten yang dapat melakukan perawatan tanki
penimbun.

Pasal 187
Dispenser dan Alat Pengendalian

RPP Keteknikan Migas 280108 65


(1) Persyaratan keselamatan untuk konstruksi dan operasi pompa metering
dan dispenser wajib mengacu kepada ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
(2) Dispenser harus di-mounted secara aman dan terlindungi
(3) Nonreturn/check valve harus terpasang pada bagian suction pump dan
dipasang pada rumah dispenser.
(4) Dispenser wajib dilengkapi dengan breakaway coupling pada setiap hose-
nya.
(5) Hose harus memiliki marka yang menunjukan spesifikasi pembuatannya.
(6) Hose harus memiliki panjang minimal 3 (tiga) meter dan maksimal 4
(empat) meter.
(7) Dispenser harus dibatasi maksimum mengalirkan BBM sebanyak 100
(seratus) liter dalam satu kali transaksi.
(8) Perbaikan dispenser hanya dapat dilakukan oleh personel yang kompeten.
(9) Setiap perbaikan, modifikasi dan pengujian dispenser harus
didokumentasikan dan dapat ditunjukan pada saat inspeksi.
(10) Pengujian dispenser harus mencakup kecepatan aliran, kebisingan dan
getaran, tes fungsi nozzle dan automatis shut-off.

Pasal 188
Sistem Deteksi Kebocoran

(1) SPBU harus dilengkapi dengan fasilitas yang sesuai untuk memonitor dan
mencegah secepat mungkin kebocoran minyak ke tanah.
(2) Sistem deteksi dan pencegahan kebocoran dibagi menjadi beberapa kelas
sesuai dengan hasil dari penilaian resiko fasilitas SPBU.
(3) Tanki penimbun minyak harus dilengkapi dengan alat pengukur level dan
sistem pencegahan tumpahan yang dikalibrasi secara rutin.
(4) SPBU wajib memiliki prosedur investigasi dan penanggulangan kebocoran
dan/atau tumpahan minyak.
(5) SPBU wajib menjaga kehandalan dan keakurasian data peralatan deteksi
dan pencegahan kebocoran dan tumpahan minyak.
(6) BU wajib mendidik pekerja yang baru maupun lama perihal pendeteksian
dan penanggulangan kbocoran dan/atau tumpahan minyak.
(7) BU wajib menjalankan program inspeksi dan pemeliharaan peralatan
pencegahan dan/atau penanggulangan kebocoran minyak secara rutin
dan efektif.

RPP Keteknikan Migas 280108 66


Pasal 189
Kanopi dan Bangunan

(1) Bangunan, kanopi dan struktur lainya pada SPBU secara umum harus
didesain dan dikonstruksi menurut peraturan bangunan yang ada.
(2) Semua elemen struktur bangunan harus terbuat dari material yang tidak
mudah terbakar.
(3) Peralatan untuk penerangan harus didesain dan dipasang oleh orang yang
mempunyai kualifikasi dan ketrampilan yang cukup.
(4) Operator harus memastikan bahwa pemasangan, pengujian, dan
pemeliharaan peralatan listrik pada bangunan sesuai dengan standar yang
ada.
(5) Bangunan toko harus sejauh minimal 4 (empat) m dari titik dispenser atau
tanki penimbun, dan mempunyai nilai ketahanan api paling tidak selama
30 (tiga puluh) menit dan harus tersedia alat penyelamatan diri dalam
keadaan darurat.

Instalasi dan Bangunan SPBLPG

Pasal 190

(1) Pengusaha wajib menyampaikan laporan secara tertulis kepada Kepala


Inspektur Migas, mengenai:
a. lokasi geografis;
b. denah bangunan dan instalasi;
c. proses diagram;
d. peralatan penanggulangan kebakaran;
e. hal-hal lain yang dianggap perlu oleh Kepala Inspektur Migas,
selambat-lambatnya dalam jangka waktu 2 (dua) bulan sebelum
dimulainya pembangunan, perubahan dan atau perluasan SPBLPG.
(2) Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah
diterimanya pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala
Inspektur Migas, memberikan hasil evaluasinya.
(3) Dalam masa pembangunan, pendirian, penyusunan dan pemasangan
Instalasi dan Peralatan berada di bawah pengawasan Kepala Inspektur
Migas.

Pasal 191

(1) Semua bangunan SPBLPG, Instalasi dan Peralatan yang ada harus
memenuhi syarat-syarat teknis Keselamatan Migas yang ditetapkan
Menteri.
(2) Tanda warna Peralatan dan Instalasi, rambu tanda bahaya, alat pelindung
dan lain-lainnya harus memenuhi keseragaman warna yang berlaku.

RPP Keteknikan Migas 280108 67


Jalan dan Tempat SPBLPG

Pasal 192

(1) Jalan pada SPBLPG harus baik dan cukup lebar sehingga dapat dilalui
dengan mudah untuk keluar masuk kendaraan, diberi penerangan dan
dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas.
(2) Permukaan lapisan jalan harus diratakan sedemikian rupa sehingga dapat
mengurangi dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Pasal 193

(1) Setiap tempat pada SPBLPG harus bersih dan dipelihara dengan baik
(2) Tempat kerja harus dilengkapi dengan penerangan yang baik sesuai
dengan syarat keselamatan migas.

Pasal 194

Pada tempat-tempat tertentu harus tersedia alat-alat keselamatan migas yang


sesuai dengan kebutuhan dan setiap saat dapat dipergunakan dengan baik
dalam keadaan darurat.

Instalasi dan Peralatan

Pasal 195

Setiap Instalasi harus dilengkapi dengan peralatan pemadam kebakaran yang


memadai dan sesuai kebutuhan serta berfungsi dengan baik.

Pasal 196

(1) Setiap peralatan yang berbentuk tanki, pompa dan tempat pengisian agar
dilengkapi dengan peralatan penanggulangan keadaan darurat dan
diletakkan pada lokasi yang memudahkan untuk maksud tersebut.
(2) Peralatan yang berupa tempat pengisian dapat ditempatkan pada
permukaan tanah atau pada dengan ketinggian tertentu yang
memudahkan pelayanan.

Pasal 197

Setiap peralatan untuk maksud pengisian dan pembongkaran yang otomatis,


wajib dilengkapi dengan kerangan penutup yang dapat diputar dengan tangan
apabila dalam keadaan darurat.

RPP Keteknikan Migas 280108 68


Pasal 198

Sirkulasi udara pada suatu bangunan instalasi harus terjamin baik, sehingga
gas yang berbahaya tidak terakumulasi dalam bangunan.

Pasal 199

Pada sistem pemipaan harus dilengkapi dengan katup pengaman sebagal


penyalur tekanan lebih.

Pasal 200

(1) Setiap pemipaan harus tahan terhadap kemungkinan pengembangan,


penciutan, getaran, dan pengkaratan serta dilengkapi dengan sarana
bonding.
(2) Pipa yang ditanam dalam tanah harus dengan kedalaman sekurang-
kurangnya 60 (enam puluh) centimeter, diberi pengaman dan tidak berada
di bawah bangunan.

Pasal 201

(1) Pada saluran pipa yang masuk ke pompa harus dilengkapi dengan
peredam getar.
(2) Pada saluran pipa yang keluar dari pompa harus dilengkapi dengan:
a. katup penahan aliran balik;
b. katup pengaman dan katup penutup otomatis;
c. peredam getar.

Pasal 202

Pada sistem kabel harus diberi tanda dan dipasang secara aman sesuai
ketentuan yang berlaku.

Pasal 203

(1) Setiap tempat pengisian harus dipasang di atas pondasi yang sepadan
dan dilengkapi dengan tanda tanda dan petunjuk yang jelas dan mudah
dibaca.
(2) Tempat pengisian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilengkapi
dengan sakelar pengaman (safety shut down swicthes).
(3) Tempat pengisian harus dilindungi terhadap cuaca dengan memasang
atap (kanopi) yang dibuat sedemikian rupa sehingga gas tidak
terperangkap

RPP Keteknikan Migas 280108 69


Pasal 204

(1) Slang pada tempat pengisian harus selalu dalam keadaan baik serta
diperiksa dan diuji secara berkala sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
(2) Panjang slang sebagaimana termaksud pada ayat (1), tidak boleh lebih
dan 5,5 (lima setengah) meter dan dilengkapi dengan katup penutup aliran
otomatis sesuai syarat yang ditetapkan.

Jarak Aman

Pasal 205

Bangunan, daerah pelayanan, instalasi dan peralatan pada SPBLPG, harus


diatur sedernikian rupa sehingga memenuhi syarat jarak aman.

Pasal 206

Peralatan yang berupa tanki, pompa dan tempat pengisian harus diletakkan
sekurang-kurangnya berjarak 10 (sepuluh) meter dan kemungkinan sumber
nyala api terbuka.

Pasal 207

Pada lokasi pengisian SPBLPG dilarang terdapat kegiatan yang dapat


menimbulkan api terbuka sekurang kurangnya dalam jarak 25 (dua puluh lima)
meter.

Pasal 208

Dalam hal terdapat jalan menikung, jarak antara tempat pengisian dan tikungan
jalan tidak boleh kurang dari 8 (delapan) meter.

Tempat Penimbunan

Pasal 209

(1) Tanki Timbun LPG harus terletak di atas permukaan tanah dengan
memenuhi syarat keselamatan migas yang berlaku.
(2) Tanki Timbun harus selalu berada dalam keadaan terpelihara dengan baik
dan secara berkala harus diadakan pembersihan dan pemeliharaan.

Pasal 210

Tanki Timbun harus dilengkapi dengan katup penyalur tekanan (pressure relief
device) dan katup pengaman (safety valve).

Pasal 211

RPP Keteknikan Migas 280108 70


(1) Pada Tanki Timbun harus diberi pelindung untuk menghindari benturan
kendaraan, dengan memasang pagar atau patok.
(2) Tanki Timbun harus dilengkapi dengan alat penyembur air (water sprinkle)
atau ditutupi dengan tanali yang ditumbuhi rumput dan setiap saat disiram
air yang berfungsi untuk melindungi pengaruh cuaca panas.

Pasal 212

Dalam hal tempat penimbun LPG berupa mobil tanki, maka parkir mobil harus
terpisah dengan pompa dan tempat pengisian.

Pasal 213

Pada Tanki Timbun LPG harus tersedia penerangan yang cukup dan pada saat
terdapat aktivitas penerimaan dan pembongkaran, tidak dibenarkan adanya
sumber nyala api terbuka dalam jarak sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima)
meter.

Instalasi Pengangkutan Minyak


Kapal-Kapal Laut dan Kapal-Kapal Pedalaman
Pengangkutan Minyak yang Tidak Dibungkus
Kapal Tanki dan Kapal Pedalaman

Pasal 214

(1) Minyak yang tidak dibungkus hanya boleh diangkut dalam tanki dari kapal-
kapal tanki atau kapal-kapal tanki pedalaman yang sesuai dan dibangun
khusus untuk pengangkutan itu.
(2) Kapal-kapal tanki itu harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku untuk
kapal-kapal yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan dalam surat
keputusan (beslit) Perkapalan tahun 1927; kapal-kapal pedalaman harus
memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 10, 11 dan 12.

Pasal 215

(1) Suatu kapal pedalaman yang digunakan untuk mengangkut minyak yang
dibebaskan dan tidak dibungkus, harus memenuhi syarat-syarat berikut:
a. tanki-tankinya harus rapat betul (kedap gas) dan tidak boleh
bocor;
b. tergantung dari pada besarnya tanki-tanki dan pelayaran yang
ditempuh oleh kapal-kapal pedalaman itu, tanki-tankinya harus
dilengkapi dengan sekat yang membujur di atas kapal atau
dengan dinding-dinding penahan yang cukup jumlahnya dan jika
mungkin membuat ruangan ekspansi atau ruangan lain, agar
supaya minyak dapat kesempatan cukup untuk memuai;
bagaimanapun juga harus diatur/ disusun ruangan-ruangan

RPP Keteknikan Migas 280108 71


sedemikian rupa sehingga stabilitas dari kapal pada waktu
mengisi dan mengosongkan tanki-tanki itu cukup terjamin;
c. alat-alat untuk membongkar dan memuat tanki minyak yang tidak
dibungkus harus memberikan jaminan keamanan yang
diperlukan;
d. ketentuan berdasarkan keputusan mengenai sekat-sekat dan
lantai dari bilik atau tempat tinggal untuk awak kapal di atas kapal
tanki, berlaku juga untuk kapal tanki pedalaman;
e. tanki-tanki itu harus dilengkapi dengan pipa-pipa udara yang
serasi dan yang diperlukan dan dipasang sedemikian rupa,
sehingga ujungnya keluar di tempat yang aman di atas geladak;
tanki-tanki itu harus dapat ditutup rapat dan tidak boleh bocor.
(2) Suatu kapal tanki pedalaman yang digunakan untuk mengangkut minyak
biasa atau minyak berbahaya yang tidak dibungkus, selain harus
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam ayat terdahulu sub a s.d.
d di atas, harus juga memenuhi syarat–syarat berikut:
a. tanki-tanki hanya boleh berada di bagian dari kapal pedalaman yang di
depan serta di belakangnya dibatasi oleh kofferdam, untuk kapal laut
yang mengangkut minyak biasa atau minyak berbahaya yang tidak
dibungkus;
b. jika suatu kapal pedalaman digunakan untuk mengangkut minyak
berbahaya yang tidak dibungkus, maka pompa-pompa yang digunakan
untuk mengisi harus ditempatkan di dalam ruang pompa yang terletak
di suatu bagian dari kapal yang di depan serta di belakangnya dibatasi
oleh kofferdam atau di suatu tempat yang aman di geladak;
c. kofferdam-kofferdam dan bagian-bagian dari kapal yang terletak
diantaranya, demikian juga ruang pompa harus dapat ditutup rapat
(kedap gas);
d. kapal harus dilengkapi dengan pipa agar pada waktu mengisi tanki-
tanki, gasnya dapat keluar dengan cara yang aman pada ketinggian
yang cukup di atas badan kapal;
e. harus disediakan alat-alat untuk mengeluarkan gas dari kofferdam-
kofferdam, ruang pompa dan tanki-tanki, kecuali jika dapat diadakan
cara lain yang aman.
(3) Di dalam hal-hal yang khusus, Kepala Inspektur Migas berwenang untuk
mengizinkan penyimpangan terhadap ketentuan-ketentuan dalam ayat (1)
dan ayat (2) di atas.

Pasal 216

(1) Tanki dari suatu kapal pedalaman yang berisi atau bekas berisi minyak
berbahaya atau minyak biasa yang tidak dibungkus dan belum dibersihkan
dari minyak dan gas, harus tetap tertutup sampai setelah pembersihan
gas, pembukaan tanki dan sebagainya untuk membersihkannya, harus
dilakukan. Untuk tanki-tanki kecil yang bekas berisi minyak biasa yang
tidak dibungkus, dapat diberikan penyimpangan oleh Kepala Inspektur
Migas.
(2) Ketentuan mengenai pengisian kofferdam-kofferdam dari kapal tanki
selama dan sesudahnya mengangkut minyak berbahaya yang tidak

RPP Keteknikan Migas 280108 72


dibungkus, juga berlaku mengenai pengisian kofferdam-kofferdam dari
kapal-tanki pedalaman jika satu tanki dari kapal itu berisi atau bekas berisi
minyak berbahaya yang tidak dibungkus dan belum dibersihkan dari
minyak dan gas.

Pasal 217

(1) Kapal tanki pedalaman hanya boleh digunakan jika pemiliknya mempunyai
sertifikat yang masih berlaku, diberikan di tempat-tempat di mana ada
Syahbandar ahli; oleh beliau dan di tempat lain oleh pejabat yang ditunjuk
oleh Kepala Inspektur Migas untuk memberikan sertifikat-sertifikat ini.
(2) Sertifikat harus diminta secara tertulis oleh pemilik atau atas nama pemilik
kepada pejabat yang bersangkutan yang ditunjuk untuk memberikan
sertifikat-sertifikat tersebut; pejabat ini tidak akan mengeluarkan sertifikat
sebelum diketahui bahwa kapal tersebut ternyata dalam keadaan
sempurna dan memenuhi syarat-syarat yang berlaku terhadap kapal itu
yang termaktub dalam Pasal 217.
(3) Sertifikat tersebut menyatakan apakah kapal itu cocok/baik untuk
mengangkut minyak biasa dan/atau minyak berbahaya yang tidak
dibungkus atau hanya mengangkut minyak yang dibebaskan dan yang
tidak dibungkus; sertifikat diberikan dalam rangkap dua, yang aslinya
dengan materai diberikan kepada pemilik dan tembusannya yang tidak
bermaterai atas usaha si pemilik digantungkan di kapal tanki pedalaman
itu di tempat yang ditunjuk oleh pejabat yang memberikan sertifikat.
(4) Sertifikat diberikan untuk selama-lamanya 1 (satu) tahun dan tidak berlaku
lagi setelah kapal tanki pedalaman itu tidak memenuhi lagi syarat-syarat
yang ditetapkan.
(5) Kapal tanki pedalaman yang memiliki sertifikat yang masih berlaku hanya
diizinkan untuk pemeriksaan guna mendapatkan sertifikat baru, selama
bulan terakhir dari masa berlakunya sertifikat itu; setelah masa berlaku
habis waktunya, mulailah sertifikat yang baru itu berlaku.
(6) Jika pemilik mengajukan permohonan untuk pemeriksaan tepat pada
waktunya, tetapi pejabat yang bersangkutan tidak mungkin memeriksa
kapal itu sebelum masa berlakunya sertifikat lama habis, pejabat tersebut
dapat memperpanjang sementara berlakunya sertifikat lama, tetapi tidak
lebih dari 1 (satu) bulan.
(7) Untuk memeriksa suatu kapal tanki pedalaman berhubung dengan
permohonan untuk mendapatkan sertifikat yang dimaksud dalam ayat (1),
akan dikenakan biaya sebesar ......... rupiah oleh Pemerintah, jumlah mana
harus dibayar pada waktu mengajukan permohonan sertifikat.

Semboyan-Semboyan Pengenal untuk dan Jarak yang Harus Diperhatikan


Terhadap Kapal Minyak

Pasal 218

(1) Nakhoda dari kapal pedalaman atau kapal laut yang berukuran isi kotor
kurang dari 500 (lima ratus) m3:

RPP Keteknikan Migas 280108 73


a. diatas kapal di mana ada minyak biasa atau minyak berbahaya yang
tidak dibungkus atau minyak berbahaya yang dibungkus atau lebih dari
925 (sembilan ratus dua puluh lima) liter minyak biasa dibungkus;
b. yang dibangun untuk mengangkut dibawah geladak minyak biasa yang
tidak dibungkus atau minyak berbahaya dan tidak dibersihkan dari
minyak dan gas; demikian juga nakhoda dari kapal laut yang berukuran
isi kotor 500 (lima ratus) m3 atau lebih yang ada didalam salah satu
keadaan seperti disebut di bawah a dan c pasal 215 ayat (1);
c. diwajibkan menjaga agar diantara matahari terbit dan matahari
terbenam, di atas kapal atau alat penyeberangan itu diperlihatkan
bendera-bendera ditempat yang jelas terlihat di sekelilingnya.
(2) Sebagai bendera pengenal yang dimaksud dalam ayat terdahulu,
digunakan bendar B dari buku semboyan internasional atau suatu bendera
merah, di atas kapal-kapal dan alat-alat penyeberangan berukuran isi
kotor 500 (lima ratus) m3 atau lebih, sekurang-kurangnya panjang 2 (dua)
meter dan lebar 1½ (satu setengah) meter; dikapal-kapal dan alat-alat
penyeberang yang lebih kecil sekurang-kurangnya panjang 1 (satu) meter
dan lebar 0,75 (tiga perempat) meter.
(3) Di atas kapal yang berukuran isi kotor 500 (lima ratus) m3 atau lebih
sebagai pengganti bendera yang dimaksud dalam ayat terdahulu, dari
matahari terbenam sampai matahari terbit, harus diperlihatkan lampu
merah yang bersinar terang disekelilingnya.
(4) Untuk kapal-pedalaman yang berukuran isi kotor 500 (lima ratus) m3 atau
lebih, pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan dapat memberikan
penyimpangan dari ketentuan dalam ayat terdahulu, jika ia menganggap
bahwa hal itu perlu dan diperbolehkan sehubungan dengan tempat-labuh
yang ditunjuk, bersandar pada tempat muat dan bongkar dengan
penerangan yang baik atau dalam hal beberapa kapal sandar bersama.

Pasal 219

(1) Kapal-pedalaman dan kapal-laut yang berukuran isi kotor 500 (lima ratus)
m3 atau lebih, seperti yang dimaksud dalam Pasal 215 ayat (1), tidak boleh
berada dalam jarak masing-masing 5 (lima) meter sejauh mengenai
minyak biasa dan 10 (sepuluh) meter sejauh mengenai minyak berbahaya,
dari nyala-api yang terbuka atau dari barang-barang yang mudah terbakar.
(2) Kapal yang didalamnya ada nyala-api yang terbuka atau api, jika tidak
perlu tidak boleh masuk ke dalam jarak 10 (sepuluh) meter dari kapal
seperti yang dimaksud dalam Pasal 215 ayat (1) atau dari tempat
penimbunan minyak terapung.
(3) Ketentuan dalam ayat (1) tidak dapat diterapkan terhadap kapal-kapal dan
alat-alat penyeberang lain seperti yang dimaksud disatu, kecuali nakhoda-
nakhoda yang bersangkutan berkeberatan; ketentuan dalam ayat (2) tidak
berlaku terhadap penundaan di lambung dari kapal-laut yang berukuran isi
kotor 500 (lima ratus) m3 atau lebih, jika hal demikian tidak menimbulkan
bahaya berhubung dengan kemungkinan adanya minyak dikapal sebagai
muatan geladak, juga terhadap penundaan di lambung dari kapal-
pedalaman atau kapal-laut yang berukuran isi kotor kurang dari 500 (lima

RPP Keteknikan Migas 280108 74


ratus) m3, dalam hal-hal di mana pejabat yang ditugaskan untuk
pengawasan, mengingat jumlah yang kecil dari minyak yang berada di
kapal, tidak berkeberatan terhadapnya.
(4) Jarak diantara kapal-pedalaman atau kapal-laut yang berukuran isi kotor
kurang dari 500 (lima ratus) m3 yang ditunda, seperti yang dimaksud
dalam Pasal 28 ayat (1) dengan kapal yang menunda, harus sekurang-
kurangnya 20 (dua puluh) meter, sedang tali tunda panjangnya tidak
kurang dari 5 (lima) meter, dihitung mulai dari kapal yang ditunda, harus
dari baja atau rantai; jika kapal yang menunda adalah kapal-uap,
cerborong asapnya harus dilengkapi dengan penahan bunga-api yang
baik.

Pasal 220

Pengangkutan Penumpang Kapal-Kapal Pedalaman

(1) Di atas kapal-pedalaman tidak boleh terdapat orang-orang yang tidak


termasuk awak kapal, jika kapal itu mengangkut atau berkas mengangkut
minyak berbahaya atau minyak biasa yang tidak dibungkus dibawah
geladak dan tanki-tanki atau ruang-ruang muat dari kapal itu belum
dibersihkan dari minyak dan gas.
(2) Menyimpang dari ketentuan dalam ayat terdahulu, selain di kapal-
pedalaman yang terkena ketentuan dalam Pasal 215 ayat (2), maka
pengangkutan sejumlah kecil minyak berbahaya yang dibungkus dengan
adanya orang-orang yang tidak termasuk awak-kapal, diizinkan sebagai
muatan geladak ditempat-tempat dan sampai sejumlah yang ditetapkan
oleh pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan untuk kapal yang
bersangkutan.

Pasal 221

Tempat Penimbunan Minyak Terapung

(1) Suatu tempat penimbunan minyak terapung hanya dapat digunakan, jika
pemiliknya mempunyai sertifikat yang masih berlaku, dimana ternyata
bahwa pemilik telah mendapat izin untuk menggunakan tempat
penimbunan itu. Terhadap pemberian izin itu dapat dicantumkan syarat-
syarat.
(2) Didalam sertifikat yang harus diminta secara tertulis oleh atau atas nama
pemilik disebutkan tempat-tempat kedudukan dari tempat penimbunan
minyak terapung itu; pemilih wajib mengusahakan menempati tempat
penimbunan yang ditunjuk dan tidak pindah tempat kedudukan kecuali
dengan izin dari pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan.
(3) Sertifikat diberikan ditempat-tempat dimana ada Syahbandar (ahli); oleh
Syahbandar ini dan selanjutnya oleh pejabat yang ditunjuk untuk itu, suatu
perusahaan pelabuhan, oleh Menteri Perhubungan dan untuk tempat-

RPP Keteknikan Migas 280108 75


tempat lain, oleh Kepala Daerah yang bersangkutan didalam mana terletak
tempat-tempat berlabuh yang ditunjuk itu.
(4) Pejabat yang ditugaskan untuk memberikan sertifikat, tidak akan memberi
sertifikat sebelum ia membuktikan bahwa tempat penimbunan minyak itu
dalam keadaan baik dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam
dan berdasarkan peraturan ini; dan selanjutnya tidak, sebelum mengenai
tempat penimbunan yang akan ditunjuk dan syarat-syarat yang mungkin
diberikan terhadap izin itu telah ada kesepakatan untuk tempat labuh
didalam perusahaan pelabuhan, dengan Menteri Perhubungan atau
pengurus pelabuhan seperti yang dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3); untuk Comment [PV2]: Akan dicek ulang
tempat labuh ditempat-tempat lain, dengan Kepala Daerah yang
bersangkutan seperti yang disebut dalam ayat terdahulu.
(5) Sertifikat diberikan dalam rangkap dua dimana yang asli dibuat atas
materai diserahkan kepada pemilik dan tembusannya yang tidak
bermaterai atas usaha pemilik harus digantungkan ditempat penimbunan
minyak terapung, ditempat yang ditunjuk oleh pejabat yang memberikan
sertifikat itu.

Pasal 222

(1) Tempat penimbunan minyak terapung harus dibuat dari besi atau baja.
(2) Pada penimbunan minyak di bawah geladak harus dipenuhi syarat-syarat
berikut:
a. tidak boleh ada lubang-lubang lain di geladak selain lubang-lubang
palka yang memberi jalan masuk ke ruangan-ruangan dimana minyak
itu ditimbun dan yang dimaksud dalam d; Comment [PV3]: Cek ulang
b. palka-palka harus dapat ditutup atau dijepit kedap gas dan
penutupannya harus sedemikian sehingga dapat dijamin dengan kunci;
c. geladak harus rapat betul dan dibuat dari besi atau baja;
d. memompa-lensa (lenspompen) harus dapat dilakukan tersendiri pada
tiap ruangan dengan satu pompa-lensa atau lebih; jika pompa atau
pompa-pompa lensa yang dapat dilepas daya pemadaman yang sama
atau kebakaran minyak;
e. alat-alat penolong yang cukup memungkinkan semua
penumpang/pelayar dalam keadaan bahaya meninggalkan tempat
penimbunan itu;
f. penangkal-penangkal petir yang diperlukan dan dalam keadaan baik;
g. jika ada alasan untuk itu, alat-alat yang diperlukan untuk dapat
membersihkan ruangan dibawah geladak, dari gas.
(3) Dalam sertifikat dicatat apa yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan
dalam ayat terdahulu.

Pasal 223

(1) Ditempat penimbunan minyak terapung:


a. dilarang merokok, menimbulkan bunga-api atau menyalakan api atau
lampu; larangan ini tidak berlaku untuk lampu-lampu listrik yang
dilindungi dengan baik, juga tidak berlaku untuk pemakaian dan

RPP Keteknikan Migas 280108 76


penyalaan lampu-lampu semboyan yang dimaksud dalam Pasal 24; Comment [PV4]: Cek ulang
tetapi yang terakhir ini harus dipasang tinggi diatas badan kapal atau
di-atap tempat penimbunan;
b. dilarang menimbun minyak ditempat lain, selain di ruangan yang
disediakan seperti yang disebut dalam sertifikat;
c. tidak boleh ada orang-orang yang tidak diperlukan ditempat itu, selain
yang disebut dalam sertifikat;
d. dilarang memasukkan orang-orang yang tidak berkepentingan, untuk
itu harus dipasang papan-papan peringatan dengan pemberitahuan
yang jelas dapat dibaca dan jika perlu pintu masuk harus dijaga;
e. ruangan-ruangan didalam mana minyak ditimbun harus tertutup,
kecuali jika sedang mengerjakan muatan dan jika ruangan-ruangan ini
terletak di bawah geladak, palka-palkanya harus ditutup rapat (kedap
gas) atau ditutup dengan dua terpal penutup yang baik dan dijepit;
f. harus dijaga sedapat mungkin terhadap kebocoran dari pembungkus
dan dalam hal itu secepatnya mengambil tindakan-tindakan yang
aman;
g. pada waktu mengerjakan penimbunan minyak seperti yang dimaksud
dalam Pasal 33 ayat (3), minyak itu harus disusun diatas alas yang Comment [PV5]: Cek ulang
cukup tinggi, agar minyak yang bocor dapat dengan mudah mengalr
keluar;
h. harus memperlihatkan bendera pengenal antara matahari terbit dan
matahari terbenam seperti yang dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dan Comment [PV6]: Cek ulang
jika menurut pendapat dari pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan
dipandang perlu, menyalakan lampu merah antara matahari terbenam
dan matahari terbit seperti yang dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3); Comment [PV7]: Cek ulang
i. jumlah minyak tidak boleh melebihi jumlah maksimum yang ditentukan
dalam sertifikat.
(2) Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 16 ayat (2), sehubungan dengan kapal- Comment [PV8]: Cek ulang
pedalaman, ketentuan dalam Pasal 24, sehubungan dengan lampu-lampu Comment [PV9]: Cek ulang
semboyan diatas kapal yang berukuran isi kotor kurang dari 500 (lima
ratus) m3, begitu juga ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1)
sampai dengan ayat (3) dan Pasal 20 ayat (1), berlaku juga untuk tempat Comment [PV10]: Cek ulang
penimbunan minyak terapung.
(3) Peraturan-peraturan dalam bab ini tidak berlaku terhadap sebanyak-
banyaknya 111 (seratus sebelas) liter minyak biasa yang khusus
digunakan untuk keperluan kapal yang berada di tempat penimbunan
minyak terapung.

Pasal 224

(1) Pejabat yang ditugaskan untuk memberikan sertifikat-sertifikat dapat


mencabut sertifikat, tanpa memberi hak ganti rugi kepada pemilik, jika satu
atau lebih dari ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dengan atau
berdasarkan peraturan ini atau satu atau lebih dari syarat-syarat
pemberian sertipikat tidak ditaati, begitu juga dalam hal pemiliknya dalam
jangka waktu yang ditetapkan dengan tertulis oleh pejabat tersebut, tidak
melaksanakan perintah tertulis itu untuk memenuhi peraturan-peraturan
yang telah dilanggar.

RPP Keteknikan Migas 280108 77


(2) Sertifikat dapat diminta kembali dan ditahan, jika pada pejabat yang
bersangkutan terbukti bahwa tempat penimbunan itu, tidak lagi dalam
keadaan baik.
(3) Sertifikat dapat dicabut dan dapat juga ditunjuk tempat labuh yang lain, jika
keadaan-keadaan berubah atau ada hal-hal yang memberikan alasan
untuk itu.

Pasal 225

(1) Dilarang mengeringkan kapal tanki, kapal tanki pedalaman, kapal yang
khusus dibangun dan digunakan untuk pengangkutan minyak berbahaya
yang dibungkus (diisi dalam kaleng, drum dan sebagainya), di bawah
geladak atau tempat penimbunan minyak terapung atau melakukan
perbaikan baik dengan perantaraan galangan atau bengkel reparasi, jika
untuk maksud itu sebelumnya tidak diberikan izin tertulis oleh pejabat
pengawas yang bersangkutan.
(2) Ketentuan dalam ayat terdahulu yang bertalian dengan pelaksanaan
perbaikan atas kapal tanki atau kapal tanki pedalaman, sejauh hal itu
ditentukan oleh Presiden, juga berlaku atas perbaikan-perbaikan pada dan
dalam tempat-tempat penyimpanan tetap (bunkers) dari kapal untuk
minyak yang tidak dibungkus, guna keperluan kapal.
(3) Oleh atau atas nama Presiden ditetapkan ketentuan-ketentuan lebih lanjut
untuk pelaksanaan yang ditentukan dalam ayat-ayat terdahulu.

Pasal 226

(1) Menteri berwenang untuk mengambil atau menyuruh mengambil contoh-


contoh dari semua minyak yang ada dikapal untuk pengujian sesuai
dengan standar dan mutu yang diakui.
(2) Oleh pemilik maupun oleh nakhoda dapat dimintakan pengujian minyak
atau pengujian ulang atas minyak yang telah diuji; untuk pengujian dan
pengujian ulang ditarik biaya yang timbul menjadi beban BU/BUT
ditetapkan oleh Menteri.
(3) Menteri menetapkan pejabat-pejabat yang berwenang untuk menguji
minyak sesuai dengan peraturan perundang-undangan standar dan mutu
dan ditetapkan peraturan-peraturan mengenai cara pengujian dan
pengujian ulang dan pengambilan contoh-contoh.
(4) Pemilik atau nakhoda wajib memberikan segala bantuan yang diperlukan
pada waktu pengambilan contoh-contoh minyak; mereka boleh selalu hadir
pada waktu itu.
(5) Pada waktu pengambilan contoh-contoh, berhubung dengan permohonan
yang dajukan oleh pemilik atau nakhoda untuk pengujian minyak,
sipemohon harus hadir atau mewakili dan ikut menandatangani berita
acara yang bersangkutan.
(6) Selanjutnya semua yang mengenai pengujian dan pengujian ulang minyak
dan apa yang dalam hal itu harus diperhatikan oleh yang berkepentingan
maupun oleh pejabat-pejabat yang bersangkutan, diatur oleh Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 78


Pasal 227

Lapangan-lapangan penimbunan harus memenuhi syarat-syarat berikut:


a. tempat-tempat penimbunan beserta instalasi-instalasi yang berhubungan
harus berada di atas Niveau 50 (lima puluh) cm di bawah permukaan
tanah dan dubuat dari bahan-bahan yang tidak dapat terbakar;
b. setiap tempat penimbunan atau kumpulan dari beberapa tempat
penimbunan harus dikelilingi dengan tanggul tanah atau tembok yang kuat
dan dibuat sedemikian rupa, agar pada waktu terjadi
kecelakaan/kebakaran, jumlah maksimal zat cair yang diizinkan untuk
ditimbun dapat ditampung didalam tanggul sampai setinggi 20 (dua puluh)
cm. Di bawah permukaan tanggul, apabila didalam tanggul itu hanya ada
satu tempat penimbunan dan apabila didalam tanggul terdapat beberapa
tempat penimbunan, maka harus dapat menampung separoh dari jumlah
maximum zat cair yang diizinkan untuk ditimbun;
c. jarak antara satu tempat penimbunan dengan yang lainnya, sedikitnya
harus 10 (sepuluh) meter;
d. tempat-tempat penimbunan beserta instalasi-instalasi yang berhubungan,
yang letaknya kurang dari 500 (lima ratus) m dari bangunan-bangunan
lainya harus dilengkapi dengan penangkal petir yang baik dan selalu
dipelihara dalam keadaan baik, sedangkan jumlah penempatannya serta
cara pemasangann ditetapkan Kepala Daerah. Penangkal–penangkal petir
tersebut harus diperiksa setiap 6 ( enam) bulan sekali oleh atau atas nama
Kepala Daerah, terutama setelah terjadi penyambaran petir. Biaya
pemeriksaan ini dibebankan kepada pemegang izin. Pemegang izin
berkewajiban, setelah diberitahu secara tertulis segera melakukan
perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan atas segala sesuatu yang
dianggap perlu yang berhubungan dengan pemeriksaan yang telah
dilakukan;
e. tanki-tanki di atas tanah, apabila diisi dengan zat cair, harus ditutup.
Apabila diisi penuh dengan zat cair jenis ringan, untuk mana ia dibuat,
maka setelah waktu yang lama tidak boleh ada penyusutan zat cair dalam
jumlah yang berarti. Tanki-tanki harus dilengkapi dengan sebuah alat yang
sewaktu-waktu dapat mengeluarkan gas yang mungkin terbentuk didalam
Tanki, dipasang sedemikian rupa sehingga gas yang keluar, kemungkinan
sedikit sekali dapat berkumpul didekat tanki. Pada lubang-lubang
pengeluaran dari alat itu harus dipasang 3 (tiga) kawat kasa, berturut
dalam jarak yang sama, yang dibuat dari kawat tembaga atau kuningan
sebesar 0,3 mm- 0,4 mm. dan besarnya lubang kasa tidak lebih dari 0,25
(satu perempat) mm persegi. Kasa harus dipasang sedemikian rupa agar
dapat dengan mudah diperiksa, dibersihkan dan diganti. Oleh yang
berwajib dapat juga diberikan izin untuk memakai alat lain sebagai
pengganti kawat Kasa yang sedikitnya dapat memenuhi harapan yang
sama;
f. pada jarak 50 (lima puluh) m dari lapangan penimbunan besar dan jarak
25 m dari lapangan penimbunan kecil, diukur dari dinding luar tempat
penimbunan , harus dipasang pagar disekeliling lapangan yang terbuat
dari bahan yang tahan api, dilengkapi dengan sejumlah pintu yang
semuanya dapat ditutup dengan baik agar tidak dapat dimasuki oleh

RPP Keteknikan Migas 280108 79


orang-orang yang tidak berkepentingan, satu dan lain menurut petunjuk
dari Kepala Daerah. Instalasi-instalasi penghubung yang berada didalam
lapangan penimbunan harus sejauh 10 (sepuluh) m dari pagar, diukur dari
dinding luar instalasi penghubung tersebut. untuk lapangan lapangan-
lapangan penimbunan besar harus dibuat jalur bebas (kosong) di luar
pagar selebar 10 (sepuluh) m;
g. pintu-pintu yang tersebut dalam huruf f harus selalu ditutup dengan baik,
kecuali jika diadakan penjagaan yang teratur dan ketat, satu dan lain
menurut petunjuk dari Kepala Daerah. Dalam hal ini dapat dilakukan
penyimpangan apabila dianggap perlu untuk menghindarkan atau
mengurangi kecelakaan atau kerugian yang ada atau mungkin akan
terjadi;
h. pada pintu-pintu tersebut harus dipasang papan-papan pemberitahuan
yang jelas dan menyolok dalam bahasa yang ditentukan oleh Kepala
Daerah, yang menyatakan larangan masuk bagi mereka yang tidak
berkepentingan, larangan merokok dan larangan adanya api didalam
halaman;
i. di atas atau disamping pintu-pintu masuk kedalam lapangan penimbunan
harus dipasang papan pengumuman yang jelas mengenai jenis lapangan
penimbunan yang telah mendapat izin dari pemerintah;
j. dalam keadaan yang luar biasa, maka dengan pertimbangan dari Kepala
Pememrintah Daerah dapat diberikan izin untuk mendirikan bangunan-
bangunan, dimana didalamnya terdapat api guna menjalankan pompa-
pompa dan menyoldier kaleng-kaleng. Bangunan-bangunan tersebut
harus berada sedikitnya 20 (dua puluh) m dari semua tempat-tempat
penimbunan;
k. menggunakan penerangan buatan (Kunstlicht) didalam halaman, maka
ruangan yang digunakan untuk pembakaran harus cukup terlindung dari
loncatan api. Sumber penerangan (Lichtbron) dari penerangan listrik sama
sekali tidak boleh berhubungan dari udara luar;
l. pada setiap tempat penimbunan dan instalasi yanng berhubungan harus
disediakan jumlah pasir kering yanng cukup atau alat pemadam kebakaran
menurut petunjuk dari Kepala Daerah untuk memadamkan yang baru
timbul dari zat-zat cair yang mengalir keluar. Lapangan-lapangan
penimbunan yang letaknya dipinggir pengairan, jika menurut pendapat
kepala daerah keadaan ditempat mengizinkan, maka pada sisi yang
berada disebelah perairan, jarak antara tempat tempat penimbunan atan
instalasi-instalasi dengan pagar yang tahan api dapat dibuat lebih pendek
daripada yang syaratkan dalam huruf f, apabila perairan yang berada di
luar pagar mempunyai lebar sedikitnya sama dengan jarak yang
ditentukan untuk bagian yang tidak ada, sedang selanjutnya dapat
ditiadakan jalur selebar 10 (sepuluh) m di luar pagar yang disyaratkan
dalam ayat tersebut untuk sisi yang berada disebelah perairan dari tempat-
tempat penimbunan besar. Instalasi-Instalasi seperti tersebut dalam Pasal
7, yang berada disuatu lapangan penimbunan dan yang menurut Comment [PV11]: Cek ulang
pemeriksaan telah memenuhi syarat-syarat dalam pasal ini, tidak
termasuk.

RPP Keteknikan Migas 280108 80


Pasal 228

(1) Pipa hawa yang berada pada tanki bensin di bawah tanah, harus
dilengkapi paling sedikit dengan 3 (tiga) lapis kasa yang dibuat dari
kuningan atau tembaga yang besar lobangnya tidak melebihi 0,25 (satu
perempat) mm2 dan besar kawat antara 0,3 s.d. 0,4 mm sedang didalam
pipa isi selain saringan bensin, dipasang dengan rapat pada dinding tanki,
sepasang dari dua buah saringan yang dibuat dari kasa seperti tersebut di
atas.
(2) Bagian dalam dan luar dari tanki harus dijaga jangan sampai berkarat, baik
dengan cara menempatkan tanki itu didalam lubang yang tidak dapat
dimasuki air atau dengan cara lain yang tidak mungkin akan menimbulkan
karatan.
(3) Ruangan galian disekeliling dan di atas tanki harus diisi dengan pasir dan
dalamnya galian harus sedemikian rupa sehingga bagian atas dari tanki itu
berada sedikitnya ½ (setengah) meter di bawah permukaan tanah.
(4) Tanki itu harus dapat menahan tekanan dari dalam sebesar 7 (tujuh)
atmosfir.
(5) Dilarang menempatkan tanki-tanki seperti itu dibawah rel kereta api atau
dibawah tempat-tempat yang dilalui kendaraan berat.
(6) Jika pengisian tanki tidak dilakukan dengan cara seperti yang disebutkan
dalam ayat (7), maka lubang isi harus berada pada jarak sedikitnya 10 Comment [PV12]: Cek ulang
(sepuluh) meter dari tempat penempatan. Drum-drum dan kaleng-kaleng
yang telah kosong harus segera disingkirkan.
(7) Pengisian tanki dari kereta ketel atau drum yang menggunakan alat yang
mengalirkan secara tertutup yang berarti bahwa, bensin atau gasnya
sewaktu mengalir dalam saluran itu, dimana-mana tidak berhubungan
dengan udara luar, maka jarak minimum antara lubang isi dan tempat
pengetapan tidak perlu diperhatikan. Saluran dan sambungan-
sambungannya pada kereta-ketel dan pada tanki harus rapat betul dan
tidak bocor, sedang pada waktu mengisi bagian-bagian dari kereta ketel
atau drum, saluran dan tanki harus saling berhubungan denan baik untuk
mengalirkan listrik statis yang mungkin timbul kedalam tanah.
(8) Dilarang adanya api, barang-barang yang terbakar atau membara dan
penerangan selain penerangan listrik didekat pompa dan lubang pengisian
dari tanki.
(9) Tanki beserta alat-alatnya tidak boleh digunakan, sebelum ada pernyataan
bahwa ia telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan, sedang
pengawasan yang tetap dan teratur dari atau atas nama pembesar yang
telah memberikan izin, harus diperbolehkan oleh pemegang izin tersebut.

Pasal 229

Pembongkaran dan Pemuatan Minyak dan Gas Bumi,


Hasil Pemurnian dan Pengolahannya
Serta Bahan Berbahaya Lainnya

RPP Keteknikan Migas 280108 81


(1) Membongkar dan memuat minyak dan gas bumi beserta hasil pemurnian
dan pengolahannya, termasuk gas bumi yang dicairkan, harus memenuhi
syarat-syarat sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Indonesia
kecuali apabila ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah ini atau oleh
Kepala Inspektur Migas.
(2) Peralatan untuk membongkar dan memuat termasuk pada ayat (1) harus
dilengkapi dengan alat-alat pengaman dan dibuat atau dibangun
sedemikian rupa sehingga tidak akan menimbulkan bahaya kebakaran
atau ledakan atau bahaya lainnya, serta apabila terjadi kebakaran atau
ledakan atau kecelakaan lainnya harus dapat dibatasi atau dilokalisir
setempat.
(3) Kepala Teknik Migas wajib mencegah terjadinya pencemaran oleh minyak
dan gas bumi beserta hasil pemurnian dan pengolahannya di tempat
membongkar dan memuat.
(4) Dalam hal terjadi kebocoran pada waktu membongkar atau memuat
minyak dan gas bumi serta hasil pemurnian dan pengolahannya, maka
aliran bahan-bahan tersebut harus dapat dihentikan dengan segera dari
tempat yang aman, disusul dengan tindakan-tindakan pengamanan yang
diperlukan.
(5) Untuk bahan cair dan gas lainnya yang berbahaya diperlakukan
ketentuan-ketentuan termaksud pada ayat-ayat (1), (2), (3) dan (4).
(6) Pelaksanaan membongkar dan memuat minyak dan gas bumi serta hasil
pemurnian dan pengolahannya harus diawasi oleh ahli dalam bidang
tersebut. Ahli termaksud harus dicatat oleh Kepala Teknik Migas dalam
Buku Kegiatan Migas.

BAB VIII

PERSYARATAN PEKERJA
(Kompetensi)

Pasal 230

Setiap tenaga kerja yang akan ditempatkan pada jabatan teknik khusus dalam
kegiatan usaha minyak dan gas bumi wajib memiliki Sertifikat Tenaga Teknik
Khusus yang dikeluarkan oleh Menteri.

Pasal 231

Jabatan-jabatan teknik khusus sebagaimana termaksud dalam Pasal 230


ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri, secara bertahap.

RPP Keteknikan Migas 280108 82


Sertifikasi Tenaga Teknik Khusus

Pasal 232

(1) Sertifikat Tenaga Teknik Khusus sebagaimana termasuk dalam Pasal 230
dapat diberikan kepada tenaga kerja yang memenuhi persyaratan umum
sebagai berikut:
a. telah memiliki pengalaman kerja dalam keahlian dan atau keterampilan
teknik khusus yang bersangkutan dalam jangka waktu tertentu;
b. menguasai bidang keahlian dan atau keterampilan teknik khusus
sesuai persyaratan yang berlaku;
c. memilki tingkat kesehatan jasmani sesuai persyaratan yang berlaku;
d. telah dinyatakan lulus dalam pengujian teknik khusus yang
diselenggarakan untuk bidang keahlian dan atau keterampilan yang
bersangkutan.
(2) Menteri menetapkan persyaratan teknis dan persyaratan lainnya yang
harus dipenuhi oleh tenaga kerja yang bersangkutan untuk dapat
memperoleh Sertifikat Tenaga Teknik Khusus sebagaimana termaksud
dalam Pasal 230.

Pasal 233

(1) BU/BUT yang menempatkan tenaga kerja pada Jabatan Teknik Khusus
Wajib mengajukan calon Tenaga Teknik Khusus kepada Menteri untuk
memperoleh Sertifikat Tenaga Teknik Khusus sesuai bidang keahlian dan
atau keterampilan yang bersangkutan.
(2) Calon Tenaga Teknik Khusus wajib mengikuti ujian yang dilaksanakan
oleh Menteri.

Pasal 234

(1) Menteri menunjuk dan mengangkat Panitia Penguji Sertifikasi Tenaga


Teknik Khusus atas usul Direktur Jenderal.
(2) Menteri menetapkan lebih lanjut tata cara pelaksanaan Sertifikasi Tenaga
Teknik Khusus.
(3) Biaya Sertifikasi Tenaga Teknik Khusus sebagaimana termasuk pada ayat
(2) dibebankan kepada Perusahaan yang mengajukan calon Tenaga
Teknik Khusus yang bersangkutan sesuai dengan penetapan Menteri.

Pasal 235

(1) BU/BUT wajib menggunakan Tenaga Teknik Khusus yang berkompeten


dan telah dilakukan sertifikasi keahlian oleh Lembaga Sertifikasi Profesi
yang terakreditasi.
(2) BU/BUT wajib melaksanakan pembinaan Tenaga Teknik Khusus secara
berkala.

RPP Keteknikan Migas 280108 83


Pasal 236

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya disebut SKKNI


adalah uraian kemampuan yang mencakup pengetahuan, ketrampilan dan
sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan
tertentu yang berlaku secara nasional.

Pasal 237

Setiap tenaga kerja, baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing
yang akan ditempatkan pada jabatan teknik khusus wajib memiliki sertifikat
Tenaga Teknik Khusus yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi yang
terakreditasi.

Pasal 238

Dalam hal Lembaga Sertifikasi Profesi belum terbentuk, Menteri dapat


mengeluarkan Sertifikat Tenaga Teknik Khusus.

Pasal 239

Setiap tenaga kerja yang akan ditempatkan pada jabatan teknik khusus pada
Kegiatan Usaha Migas wajib memiliki Sertifikat Tenaga Teknik Khusus yang
dikeluarkan oleh Menteri atau Lembaga Sertifikasi Profesi yang terakreditasi.

Pasal 240

Dalam hal penggunaan Tenaga Kerja Teknik Khusus dengan status WNA
pendatang wajib mendapat rekomendasi izin kerja dari Menteri.

Syarat-Syarat Pekerja, Kesehatan dan Kebersihan

Pasal 241

(1) Tugas atau pekerjaan dalam tempat kegiatan usaha migas yang
keselamatan dan kesehatan para pekerjanya sangat tergantung pada
pelaksanaan yang baik, hanya dapat diserahkan kepada pekerja-pekerja
yang dapat dipercaya dan memenuhi syarat-syarat jasmani dan rohani
yang diperlukan.
(2) Seorang pekerja harus segera dibebaskan dari tugas atau pekerjaannya,
apabila ternyata yang bersangkutan tidak memenuhi syarat dan kurang
dapat dipercaya atau jika oleh Inspektur Migas dianggap perlu untuk
membebaskan yang bersangkutan setelah diadakan pemeriksaan khusus
terhadapnya.

Pasal 242

(1) Kepala Teknik Migas wajib:


a. melaksanakan ketentuan umum tentang kesehatan kerja ;

RPP Keteknikan Migas 280108 84


b. memperhatikan kebersihan seluruh tempat kegiatan usaha migas;
c. melakukan pemeriksaan kesehatan para pekerja secara berkala;
d. menugaskan seorang yang ahli dalam melaksanakan pelayanan
kesehatan kerja;
e. memberhentikan pekerja yang dinilai dapat membahayakan kegiatan
usaha migas.
(2) Kepala Teknik Migas wajib menyediakan air minum yang memenuhi
syarat-syarat kesehatan serta tempat-tempat untuk berganti pakaian dan
membersihkan badan serta menyediakan MCK bagi para pekerja dalam
jumlah yang cukup, bersih dan memenuhi syarat kesopanan.
(3) Kepala Teknik Migas wajib mengambil langkah-langkah tertentu untuk
mencegah timbulnya penyakit akibat kerja di tempat-tempat atau dengan
bahan-bahan yang membahayakan kesehatan.

BAB IX
PERSYARATAN SISTEM DAN PROSEDUR

Bagian kesatu
Sistem Manajemen Keselamatan Migas

Pasal .........
BU/BUT wajib menyusun, memiliki, dan mensosialisasikan Sistem Manajemen
Keselamatan Migas dalam operasinya

Pasal....
Sistem Manajemen Keselamatan Migas termaksud minimal terdiri dari elemen-
elemen sebagai berikut:
1. Komitmen Manajemen
2. Pelatihan dan kompetensi
3. Inspeksi
4. Manajemen perubahan
5. Audit
6. Investigasi
7. Pelaporan

Pasal ..........
Sistem Manajemen Keselamatan Migas termaksud di atas harus mendapat
persetujuan Menteri sebelum diimplementasikan

Bagian kedua
Eksplorasi, Eksploitasi, Pengolahan, Pemurnian, Pengangkutan Dan
Penimbunan

Pasal 243

Pada suatu pemboran harus dilakukan tindakan-tindakan yang layak untuk


mencegah:
a. terbuangnya minyak dan gas bumi dengan sia-sia;

RPP Keteknikan Migas 280108 85


b. masuknya cairan atau gas kedalam formasi geologis yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi kegiatan usaha migas.

Pasal 244

(1) BU/BUT diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Menteri dalam


jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sebelum
dilakukannya pemboran sumur eksplorasi, sumur pengembangan dan
sumur penilaian.
(2) BU/BUT dilarang memindahkan instalasi pertambangan kesuatu lokasi
untuk pemboran sumur eksplorasi, sumur pengembangan dan sumur
penilaian tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Menteri.
(3) Pemberitahuan pemindahan instalasi sebagaimana dimaksudkan pada
ayat (2) pasal ini harus diajukan dalam jangka waktu selambat-lambatnya
14 (empat belas) hari sebelum dilakukannya pemindahan instalasi migas
yang bersangkutan
(4) Pemberitahuan tersebut dapat dimintakan untuk satu sumur atau dalam
bentuk rencana pemboran disertai penjelasan mengenai jumlah sumur dan
lokasi alternatifnya.
(5) Pemberitahuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dan ayat (3)
pasal ini harus memuat keterangan-keterangan yang akan ditetapkan lebih
lanjut oleh Menteri.

Pasal 245

(1) BU/BUT diwajibkan memberitahukan kepada Menteri segera setelah


dimulainya pemboran.
(2) BU/BUT diwajibkan segera memberitahukan kepada Menteri, apabila
lokasi yang mulai dibor berbeda dengan lokasi yang semula diberitahukan
disertai alasan-alasan diadakan penyimpangan tersebut dalam batas-
batas rencana operasi yang telah disetujui.

Pasal 246

(1) Selambat-lambatnya pada tanggal 15 (lima belas) setiap bulan, BU/BUT


diwajibkan melaporkan secara singkat kepada Menteri mengenai
kemajuan dalam pekerjaan pemboran yang dilakukan pada bulan
sebelumnya. Hal-hal yang dimuat dalam laporan tersebut akan ditetapkan
lebih lanjut oleh Menteri.
(2) BU/BUT diwajibkan memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri
apabila akan melakukan pengujian produksi yang pertama, agar Inspektur
Migas dapat menyaksikan pengujian tersebut.
(3) Apabila dalam melaksanakan suatu rencana BU/BUT bermaksud akan
membor suatu sumur lebih dalam, diwajibkan segera memberitahukan
disertai penjelasan secara terperinci kepada Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 86


(4) Apabila diminta, BU/BUT diwajibkan menyampaikan keterangan yang
diperlukan oleh Menteri.

Pasal 247

(1) BU/BUT diwajibkan memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri,


sebelum melakukan penangguhan suatu sumur dan pemindahan instalasi
yang bersangkutan dalam batas-batas rencana operasi yang disetujui.
(2) Dalam keadaan darurat BU/BUT dapat menyimpang dari ketentuan-
ketentuan dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini dan selanjutnya diwajibkan
segera melaporkan kepada Menteri disertai alasan-alasannya.

Pasal 248

(1) BU/BUT diwajibkan membuat dan menyusun catatan-catatan dalam harian


dengan baik dalam buku harian mengenai pemboran yang dilakukan pada
instalasi selama berlangsungnya pemboran serta menyimpan buku
tersebut dengan baik.
(2) Buku harian sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini setiap
waktu harus dapat diperlihatkan untuk diperiksa oleh Inspektur Migas.
(3) Bentuk buku harian ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 249

(1) BU/BUT diwajibkan menyimpan di Indonesia 1 (satu) perangkat daripada


semua contoh yang diambil dari sumur termasuk contoh inti bantuan,
benda cair dan gas yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh
Menteri.
(2) Contoh dari benda sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini
masing-masing harus diberi tanda yang menunjukkan pada laporan sumur
yang bersangkutan.
(3) Menteri berwenang melakukan pemeriksaan atas contoh-contoh tersebut
dan apabila diminta olehnya, BU/BUT diwajibkan menyerahkannya.
(4) BU/BUT diwajibkan untuk segera melaporkan kepada Menteri mengenai
setiap tanda adanya hidrokarbon.

Pasal 250

(1) BU/BUT diwajibkan mencegah terjadinya penyimpangan arah pemboran


yang tidak dikehendaki dan lubang yang berliku-liku.
(2) Apabila direncanakan pemboran lebih dari satu sumur pengembangan
atau sumur penilaian yang dilakukan dari satu instalasi pertambangan,
BU/BUT diwajibkan menyataknnya dalam pemberitahuan yang memuat
diagram tentang kedalam yang diperkirakan dari setiap sumur terhadap
permukaan air.

RPP Keteknikan Migas 280108 87


Pasal 251

Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung mulai saat


penyelesaian sumur atau ditinggalkannya sumur termasuk sumur injeksi.
BU/BUT diwajibkan melaporkan kepada Menteri mengenai hal-hal yang
periciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 252

(1) Pembakaran minyak mentah serta hasil pengolahannya, sampah dan


barang yang tidak terpakai lagi harus dilakukan pada alat yang khusus
dibuat untuk keperluan itu atau dikapal atau tongkang khusus, dipantai
atau ditempat lainnya menurut peraturan yang berlaku dengan jarak yang
cukup aman dari tempat suatu kegiatan tanpa merugikan pihak lain,
sedangkan gas bumi harus dibakar.
(2) Untuk daerah tertentu Menteri dapat menetapkan bahwa dari jumlah yang
dapat dibakar habis, segala sesuatu yang akan dibuang harus diangkut
atau dibakar atau dibuang dengan cara yang ditentukan oleh Menteri.

Bagian kedua
Seismik dan Pemboran

Pasal 253

Seismik

Persyaratan umum kegiatan seismik wajib mengikuti SNI 13-6912-2002 dan


atau edisi terakhir tentang operasi seismik yang aman di Indonesia.

Pasal 254

Pemboran

(1) Persyaratan umum pemboran minyak dan gas bumi wajib mengikuti SNI
13-6910-2002 dan atau edisi terakhir tentang operasi pemboran darat dan
lepas pantai yang aman di Indonesia.
(2) Kegiatan pemboran wajib mengikuti ketentuan Rencana Umum Tata
Ruang Nasional atau Daerah.
(3) Dilarang melakukan kegiatan pertambangan lainnya di sekitar kegiatan
pemboran dalam jarak 3 (tiga) km kecuali mendapat persetujuan dari
Menteri terkait.
(4) BU/BUT diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Menteri dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sebelum
dilakukannya pemboran sumur eksplorasi, sumur pengembangan dan
sumur penilaian.

RPP Keteknikan Migas 280108 88


(5) Dalam suatu lokasi pemboran wajib disiapkan jalur keselamatan untuk
melakukan evakuasi dalam keadaan darurat dan dilengkapi dengan
marka-marka atau rambu-rambu keselamatan dan tanda arah angin.
(6) Khusus untuk kegiatan pemboran yang kemungkinan mengandung gas
beracun terutama H2S dan SO2 wajib dilengkapi dengan alat deteksi yang
diletakkan pada jarak minimal 100 (seratus) meter, 250 (dua ratus lima
puluh) meter dan 500 (lima ratus) meter dari pagar terluar lokasi
pemboran.
(7) Pada setiap pemboran dengan kedalaman lebih dari 15 (lima belas) meter
wajib dipasang alat pencegah semburan liar.
(8) Luas lokasi suatu kegiatan pemboran wajib disesuaikan dengan kapasitas
peralatan yang akan digunakan.
(9) Jarak minimum dari titik pemboran sumur eksplorasi ke fasilitas umum
adalah 500 (lima ratus) meter.
(10) Jarak minimum dari titik pemboran sumur minyak ke fasilitas umum adalah
100 (seratus) meter.
(11) Jarak minimum dari titik pemboran sumur gas ke fasilitas umum adalah
500 (lima ratus) meter.
(12) Jarak minimum dari titik pemboran sumur minyak dan gas ke sumur air
adalah 300 (tiga ratus) meter
(13) Persyaratan umum pemboran minyak dan gas bumi wajib mengikuti SNI
13-6910-2002 dan atau edisi terakhir tentang operasi pemboran darat dan
lepas pantai yang aman di Indonesia.
(14) Kegiatan pemboran wajib mengikuti ketentuan Rencana Umum Tata
Ruang Nasional atau Daerah.

Instalasi

(15) Setiap instalasi yang akan digunakan untuk kegiatan pemboran wajib
dilakukan pemeriksaan teknis untuk menjamin kelayakannya sesuai
dengan standar yang diacu.
(16) Instalasi pemboran sebagaimana dimaksud pada ayat (25) terdiri dari:
peralatan angkat, peralatan putar, peralatan sirkulasi, peralatan
pengendali sumur, peralatan listrik dan peralatan keselamatan wajib
dilakukan pemeriksaan teknis untuk menjamin kelayakannya sesuai
dengan standar yang diacu.
(17) Peralatan penunjang pemboran, kerja ulang sumur dan perawatan sumur
wajib dilakukan pemeriksaan teknis untuk menjamin kelayakannya sesuai
dengan standar yang diacu.
(18) Tata cara Pemeriksaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat
sebelumnya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

RPP Keteknikan Migas 280108 89


(Sistem Pengendali Sumur)
(19) BU/BUT wajib menjamin bahwa peralatan pengendali sumur yang
digunakan sesuai dengan kondisi tekanan sumur yang diantisipasi.
(20) Sistem kendali alat pencegahan semburan liar ditempatkan di dekat panel
juru bor dan yang lain ditempatkan pada jarak minimum 30 (tiga puluh)
meter dari sumur.
(21) Klasifikasi peralatan pengendalian sumur untuk kegiatan pemboran sumur
sebagai berikut:
b. peralatan kelas A adalah peralatan yang digunakan untuk kedalaman
dari permukaan sampai 1.850 m;
c. peralatan kelas B adalah peralatan yang digunakan untuk kedalaman
dari 1.850 m sampai 3.000 m;
d. peralatan kelas C adalah peralatan yang digunakan untuk kedalaman
dari 3.000 m sampai 5.500 m;
e. peralatan kelas D adalah peralatan yang digunakan untuk kedalaman
lebih dari 5.500 m.
f. tekanan minimum alat pencegah semburan liar wajib memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
- peralatan kelas A adalah 14.000 kPa (2.000 psi);
- peralatan kelas B, 21.000 kPa (30.000 psi);
- peralatan kelas C, 34.000 kPa (5.000 psi);
- peralatan kelas D, 70.000 kPa (10.000 psi).

(Pencegah Semburan Liar Dan Akumulator)


(22) Semua peralatan pencegah semburan liar wajib dioperasikan dengan
sistem hidrolik dan dihubungkan dengan peralatan akumulator.
(23) Setiap peralatan pencegah semburan liar wajib dilakukan uji fungsi
sebelum dioperasikan dan dilakukan pemeriksaan teknis secara berkala
untuk menjamin kehandalan operasi.

(Choke Manifold)
(24) Choke manifold wajib memiliki tekanan yang sama dengan alat pencegah
semburan liar.
(25) Choke manifold wajib dilakukan pemeriksaan teknis sesuai dengan
standar yang berlaku.

(Peralatan Angkat Pemboran)


(26) Setiap peralatan angkat pemboran wajib dilakukan pemeriksaan teknis
secara berkala dan diberi tanda beban kerja aman sesuai dengan standar
yang berlaku.
(27) Setiap peralatan angkat wajib dilengkapi dengan peralatan pelindung.

(Peralatan Sirkulasi Pemboran)


(28) Semua peralatan pompa lumpur wajib dilakukan pemeriksaan teknis
berkala.

RPP Keteknikan Migas 280108 90


(29) Pompa lumpur wajib dilengkapi katup pengaman dan alat pencegah
terjadinya getaran.

(Peralatan Listrik)
(30) Semua peralatan listrik wajib dilakukan pemeriksaan teknis sesuai dengan
Standar Nasional Indonesia yang berlaku.

(Peralatan Penyemenan Sumur)


(31) Peralatan penyemenan sumur wajib dilakukan uji fungsi sebelum
dioperasikan dan dilakukan pemeriksaan teknis secara berkala untuk
menjamin kehandalan operasi.

(Pipa Selubung)
(32) BU/BUT wajib menjamin pemasangan pipa selubung permukaan dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. perencanaan dan penempatan pipa selubung permukaan wajib
disesuaikan dengan data geologi dan data teknik terkait;
b. pipa selubung permukaan wajib ditempatkan di bawah sumber air
minum yang digunakan masyarakat;
c. pipa selubung permukaan wajib ditempatkan setidaknya 25 (dua puluh
lima) m di atas formasi terpilih sesuai dengan program pemboran yang
telah ditentukan;
d. semua lubang annulus wajib disemen sesuai dengan program
pengeboran;
e. program pemasangan pipa selubung permukaan wajib dicatat dan
didokumentasikan untuk dapat diperiksa oleh Inspektur Migas.
(33) BU/BUT wajib menjamin semen permukaan memiliki daya ikat
(compressive strength) yang cukup sebelum melanjutkan pemboran ke
tahap selanjutnya.

(34) BU/BUT wajib menjamin:


a. casing intermediate dan casing produksi wajib disemen hingga ke
formasi yang memilliki porositas tinggi minimum sampai 150 (seratus
lima puluh) m di atas casing shoe, dan harus dilakukan pengujian
sesuai dengan program yang telah direncanakan;
b. tidak dilakukan pemboran sebelum semen memiliki daya ikat
(compressive strength) yang cukup;
c. Casing conductor wajib ditempatkan dan disemen pada kedalaman
tidak kurang dari 30 (tiga puluh) m di bawah mudline;
d. Jika ditemukan sesuatu hal yang meragukan mengenai kualitas semen,
maka dilakukan pengukuran kembali kualitas semen.
(35) Annulus casing permukaan dan casing intermediate wajib dilengkapi
saluran pelepasan tekanan yang memenuhi spesifikasi dan disetujui oleh
pihak operator yang diberi wewenang.

RPP Keteknikan Migas 280108 91


(Pekerja)
(36) Semua pekerja pada kegiatan pemboran wajib memiliki sertifikat
kompetensi sebagaimana diatur dalam SKKNI.
(37) Sertifikat kompetensi sebagaimana disebut dalam ayat (46) di atas
dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Personil yang terakreditasi.
(38) Setiap pekerja yang terlibat dalam operasi pemboran wajib mengerti
masalah keselamatan migas pada kegiatan pemboran.
(39) Setiap pekerja yang bekerja pada kegiatan pemboran yang mengandung
gas beracun terutama H2S wajib memiliki sertifikat keselamatan H2S.

(Lingkungan)
(40) Sebelum memulai kegiatan pemboran, kerja ulang dan perawatan sumur,
BU/BUT wajib melakukan studi lingkungan.
(41) BU/BUT dilarang mengakibatkan terjadinya pencemaran pada air laut, air
sungai, pantai dan udara dengan minyak mentah atau hasil
pengolahannya, gas yang merusak, zat yang mengandung racun, bahan
radio aktif, barang yang tidak terpakai lagi serta barang kelebihan dan lain-
lain.
(42) Apabila terjadi pencemaran, BU/BUT diwajibkan untuk menanggulanginya.
(43) Ketentuan pengelolaan lumpur bor diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Menteri.
(44) BU/BUT yang melaksanakan pemboran pada suatu struktur geologi wajib
melakukan pengelolaan lumpur bor, limbah lumpur dan serbuk bor.

(Pelaporan)
(45) BU/BUT wajib memberitahukan secara tertulis kepada Menteri dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sebelum
dilakukannya pemboran sumur eksplorasi, sumur pengembangan dan
sumur penilaian.
(46) BU/BUT wajib melaksanakan tindak lanjut terhadap rekomendasi hasil
pemeriksaan aspek K3PL yang dilakukan oleh Inspektur Migas dan
menyampaikan hasilnya kepada Kepala Inspektur Migas sebelum
dilakukan penajakan
(47) BU/BUT dilarang memindahkan instalasi pertambangan kesuatu lokasi
untuk pemboran sumur eksplorasi, sumur pengembangan dan sumur
penilaian tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Menteri.
(48) Pemberitahuan pemindahan instalasi sebagaimana dimaksudkan pada
ayat (2) pasal ini harus diajukan dalam jangka waktu selambat-lambatnya
14 (empat belas) hari sebelum dilakukannya pemindahan instalasi
pertambangan yang bersangkutan. Pemberitahuan tersebut dapat
dimintakan untuk satu sumur atau dalam bentuk rencana pemboran
disertai penjelasan mengenai jumlah sumur dan lokasi alternatifnya.

RPP Keteknikan Migas 280108 92


(49) Pemberitahuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dan ayat (3)
pasal ini harus memuat keterangan-keterangan yang akan ditetapkan lebih
lanjut oleh Menteri.
(50) BU/BUT diwajibkan memberitahukan kepada Menteri segera setelah
dimulainya pemboran.
(51) BU/BUT diwajibkan segera memberitahukan kepada Menteri, apabila
lokasi yang mulai dibor berbeda dengan lokasi yang semula diberitahukan
disertai alasan-alasan diadakan penyimpangan tersebut dalam batas-
batas rencana operasi yang telah disetujui.
(52) Selambat-lambatnya pada tanggal 15 (lima belas) setiap bulan, BU/BUT
diwajibkan melaporkan secara singkat kepada Menteri mengenai
kemajuan dalam pekerjaan pemboran yang dilakukan pada bulan
sebelumnya. Hal-hal yang dimuat dalam laporan tersebut akan ditetapkan
lebih lanjut oleh Menteri.
(53) BU/BUT diwajibkan memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri
apabila akan melakukan pengujian produksi yang pertama, agar Inspektur
dapat menyaksikan pengujian tersebut.
(54) Apabila dalam melaksanakan suatu rencana BU/BUT bermaksud akan
member suatu sumur lebih dalam, diwajibkan segera memberitahukan
disertai penjelasan secara terperinci kepada Menteri.
(55) Apabila diminta, BU/BUT diwajibkan menyampaikan keterangan yang
diperlukan oleh Menteri.
(56) BU/BUT wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri, sebelum
melakukan penangguhan suatu sumur dan pemindahan instalasi
pertambangan yang bersangkutan dalam batas-batas rencana operasi
yang disetujui.
(57) Dalam keadaan darurat BU/BUT dapat menyimpang dari ketentuan-
ketentuan dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini dan selanjutnya diwajibkan
segera melaporkan kepada Menteri disertai alasan-alasannya.
(58) BU/BUT dilarang meninggalkan sumur baik untuk sementara maupun
untuk selamanya, tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Menteri.
(59) Pemberitahuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini harus
memuat keterangan mengenai setiap tanda hidrokarbon, lapisan yang
mengandung air dan lapisan yang berlubang-lubang yang diketemukan,
disertai pengujian dan pencatatan yang telah atau sedang dilakukan.
(60) Apabila hendak meninggalkan sumur, BU/BUT diwajibkan mentaati cara
dan kebijakan yang baik dalam tehnik pertambangan minyak dan gas bumi
yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri dengan
berkonsultasi dengan Menteri lain yang bersangkutan.
(61) BU/BUT dilarang meninggalkan sumur sebelum melakukan tindakan-
tindakan yang layak untuk mencegah timbulnya kecelakaan migas.
(62) Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan terhitung mulai
saat sumur ditinggalkan, BU/BUT diwajibkan memberitahukan kepada

RPP Keteknikan Migas 280108 93


Menteri mengenai telah dilaksanakannya semua pekerjaan yang
berhubungan dengan hal tersebut.
(63) BU/BUT diwajibkan membuat dan menyusun catatan-catatan dalam harian
dengan baik dalam buku harian mengenai pemboran yang dilakukan pada
instalasi pertambangan selama berlangsungnya pemboran serta
menyimpan buku tersebut dengan baik.
(64) Buku harian sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini setiap
waktu harus dapat diperlihatkan untuk diperiksa oleh Inspektur Migas.
(65) Bentuk buku harian ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.
(66) BU/BUT wajib menyimpan di Indonesia 1 (satu) perangkat daripada semua
contoh yang diambil dari sumur termasuk contoh inti bantuan, benda cair
dan gas yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.
(67) Contoh dari benda sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini
masing-masing harus diberi tanda yang menunjukkan pada laporan sumur
yang bersangkutan
(68) BU/BUT berwenang melakukan pemeriksaan atas contoh-contoh tersebut
dan apabila diminta olehnya, BU/BUT diwajibkan menyerahkannya.
(69) BU/BUT diwajibkan untuk segera melaporkan kepada Direktur Jenderal
mengenai setiap tanda adanya hidrokarbon.
(70) BU/BUT diwajibkan mencegah terjadinya penyimpangan arah pemboran
yang tidak dikehendaki dan lubang yang berliku-liku.
(71) Apabila direncanakan pemboran lebih dari satu sumur pengembangan
atau sumur penilaian yang dilakukan dari satu instalasi migas, BU/BUT
diwajibkan menyatakannya dalam pemberitahuan yang memuat diagram
tentang kedalam yang diperkirakan dari setiap sumur terhadap permukaan
air.
(72) Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung mulai
saat penyelesaian sumur atau ditinggalkannya sumur termasuk sumur
injeksi. BU/ BUT diwajibkan melaporkan kepada Menteri mengenai hal-hal
yang periciannya akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 255

Pemboran Pengembangan, Kerja Ulang


dan Perawatan Sumur

Klasifikasi peralatan pengendalian sumur untuk kegiatan kerja ulang sumur dan
perawatan sumur sebagai berikut:
a. sumur kelas A adalah sumur yang memiliki tekanan minimum pada casing
produksi sama atau lebih kecil dari 21.000 kPA (3.000 psi) dan mengandung
gas H2S kurang dari 10 ppm;
b. sumur kelas B adalah sumur yang memiliki tekanan minimum casing
produksi:
(i) lebih besar dari 21.000 kPa, atau

RPP Keteknikan Migas 280108 94


(ii) kurang atau sama dengan 21.000 kPa dan mengandung gas H2S lebih
besar dari 10 ppm.
c. sumur kelas C adalah sumur yang memiliki keasaman tinggi.

Pasal 256

Penutupan Sumur

(1) BU/BUT wajib melaporkan rencana penutupan sumur kepada Menteri.


(2) BU/BUT wajib melakukan penutupan sumur sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia.

Pasal 257

Ketentuan Umum Pemboran

Pada suatu pemboran harus dilakukan tindakan-tindakan yang layak untuk


mencegah:
1. terbuangnya minyak dan gas bumi dari dalam sumur ke permukaan dengan
sia-sia;
2. masuknya cairan atau gas kedalam formasi geologis yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi pertambangan minyak dan gas bumi.

Pasal 258

Jarak Minimum

(1) Jarak minimum kegiatan pemboran wajib mengikuti Standar Nasional


Indonesia.
(2) Terhadap kegiatan pemboran yang dilaksanakan pada daerah padat
penduduk, jarak minimum ditentukan berdasarkan hasil analisis risiko.

BAB X

(Persyaratan Usaha Jasa Penunjang)

Pelaku usaha jasa penunjang yang akan melakukan kegiatan usaha jasa harus
memiliki sarana dan prasarana, kompetensi, kemampuan, modal dan
manajemen. (Catatan : menunggu draf Kepmen Usaha Jasa Penunjang dari
pak Hafiz)
Pasal 259

(1) Persyaratan Administratif:


a. pembinaan dan pengaturan Usaha Jasa Penunjang Migas dilakukan
dengan menilai kemampuan perusahaan usaha dan industri

RPP Keteknikan Migas 280108 95


penunjang; pemanfaatan penggunaan produksi dalam negeri serta
peran asosiasi yang terkait dengan Usaha Penunjang Migas;
b. lingkup kegiatan Usaha Penunjang meliputi klasifikasi dan kualifikasi
bidang usaha, pemanfaatan, pembinaan dan pengawasan Usaha
Penunjang Migas;
c. Menteri menetapkan klasifikasi bidang Usaha Penunjang
berdasarkan kemampuan, sumber daya manusia, permodalan,
penguasaan teknologi, barang dan peralatan dan kemampuan
mengelola perusahaan;
d. untuk mendapatkan penetapan klasifikasi bidang usaha penunjang
migas, BU/BUT menyampaikan data perusahaan kepada Menteri c.q.
Direktur Jenderal
e. Registrasi Perusahaan Usaha Penunjang (RPUP) Surat Keterangan
Terdaftar Migas, Perusahaan mengajukan pedaftaran secara tertulis
kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi sebagaimana
dimaksud pada ayat (d);
f. pada setiap kegiatan usaha minyak dan gas bumi hanya dibenarkan
menggunakan Badan Usaha Penunjang Migas yang telah memiliki
Surat Keterangan Terdaftar Migas dan telah menjadi anggota
Asosiasi Perusahaan Usaha Penunjang Migas.
(2) Persyaratan Teknis:
a. penyelenggaraan Usaha Penunjang Migas dilaksanakan dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang minyak dan
gas bumi, penerapan kaidah keteknikan yang baik, keselamatan migas
dan pengembangan tenaga kerja nasional;
b. dalam pelaksanaan kegiatan Usaha Penunjang, BU/BUT harus selalu
berpegang dan berkomitmen kepada taat peraturan, memahami
kebijakan pemerintah dalam memprioritaskan produksi barang dan jasa
dalam negeri;
c. kriteria Badan Usaha Penunjang yang melakukan kegiatan usaha
minyak dan gas bumi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. dapat dikelola dengan baik (manageable) memenuhi kaedah
akuntabilitas dan layak diaudit;
2. beroperasi secara penuh (available) dan handal (reliable);
3. aman (secured);
4. dapat dikembangkan (scalable).

Pasal 260

Syarat-Syarat Penunjukan Perusahaan Jasa

Perusahaan Jasa yang dapat ditunjuk untuk membantu pelaksanaan


pemeriksaan keselamatan kerja harus memenuhi syarat-syarat umum sebagai
berikut:
1. Perusahaan Berbadan Hukum Indonesia;
2. terdaftar pada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dalam bidang
usaha G (jasa teknologi khusus);
3. bukan perusahaan konstruksi, fabrikasi dan rekayasa (engineering).

RPP Keteknikan Migas 280108 96


Pasal 261

Perusahaan Jasa termaksud pada Pasal 260 wajib memenuhi syarat khusus
sebagai berikut:
1. memiliki Tenaga Ahli yang mempunyai tanggung jawab atas bidang
keahlian, serta memiliki pengalaman yang cukup;
2. memiliki peralatan atau dapat menunjukkan surat jaminan penggunaan
dari pemilik peralatan penunjang inspeksi yang dibutuhkan sebagai
dengan bidang inspeksinya;
3. memiliki kemampuan membuat prosedur pemeriksaan teknis secara rinci
sesuai bidang inspeksinya;
4. dapat mempresentasikan kemampuan yang dimiliki Perusahaan
Penunjang Migas kepada Tim Evaluasi Perusahaan.

Tata Cara Pengajuan Permohonan

Pasal 262

Perusahaan Jasa menyampaikan permohonan secara tertulis kepada Direktur


Jenderal mengenai penunjukan Perusahaan Jasa Teknik dengan menyebutkan
nama perusahaan dan jenis inspeksi yang diminati.

Pasal 263

Permohonan sebagaimana dimaksud pada Pasal 262 harus dilengkapi data


administrasi perusahaan yang meliputi:
1. Akte Badan Hukum;
2. Alamat Perusahaan;
3. Penanggung Jawab;
4. Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas
Bumi;
5. Data Peralatan;
6. Data Tenaga Ahli;
7. Prosedur pemeriksaan teknis secara rinci sesuai bidang inspeksi yang
diminati;
8. Data pendukung lainnya.

Pasal 264

Tim Evaluasi Perusahaan dapat meminta kepada Perusahaan Jasa data


pendukung lain yang diperlukan dan melakukan pemeriksaan peralatan dalam
rangka pelaksanaan tugasnya.

RPP Keteknikan Migas 280108 97


Surat Penunjukan

Pasal 265

Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah melengkapi persyaratan dan
data pendukung yang diperlukan, Direktur Jenderal akan menerbitkannya:
1. Surat Penunjukan apabila Perusahaan Jasa memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam peraturan ini dan persyaratan yang
ditetapkan Tim Evaluasi Perusahaan, atau
2. Surat Penolakan apabila Perusahaan Jasa tidak memenuhi persyaratan
yang cukup sebagaimana diatur dalam Peraturan ini dan persyaratan yang
ditetapkan Tim Evaluasi Perusahaan.

Pasal 266

Jangka waktu Surat Penunjukan sebagaimana dimaksud pada Pasal 265


berlaku selama-lamanya 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang apabila
Perusahaan Jasa tersebut memenuhi persyaratan dan kewajibannya.

Tata Kerja Pelaksanaan Pemeriksaan


Keselamatan Migas oleh Perusahaan Jasa

Pasal 267

(1) BU/BUT memberitahukan kepada Direktur Jenderal mengenai keperluan


pemeriksaan instalasi peralatan dan teknik yang digunakan dalam
kegiatan usaha minyak dan gas bumi, sesuai jadwal pemeriksaan dan
atau kebutuhan.
(2) Direktur Jenderal memberitahukan kepada perusahaan mengenai
pelaksanaan pemeriksaan instalasi, peralatan dan teknik yang digunakan.
(3) BU/BUT menyelenggarakan pemeriksaan instalasi, peralatan dan teknik
yang dipergunakan sesuai pemberitahuan sebagai mana termaksud dalam
ayat (2) berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) BU/BUT menyampaikan calon Perusahaan Jasa yang akan melaksanakan
pemeriksaan instalasi, peralatan dan teknik yang dipergunakan kepada
Direktur Jenderal untuk mendapatkan persetujuannya.

Pasal 268

Sebelum Perusahaan Jasa melaksanakan pemeriksaan dan atau pengujian


atas instalasi, peralatan dan teknik yang dipergunakan harus melapor dan
berkonsultasi terlebih dahulu kepada Direktur Jenderal.

Pasal 269

Perusahaan Jasa wajib melakukan pemeriksaan teknis, sesuai dengan


tanggung jawab teknis, moral dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

RPP Keteknikan Migas 280108 98


Pelaporan

Pasal 270

Perusahaan Jasa wajib menyampaikan laporan hasil pemeriksaan teknis


beserta pendapat mengenai kelayakan penggunaan peralatan kepada Menteri.

Pasal 271

Perusahaan Jasa wajib menyampaikan laporan berkala atas kegiatannya


secara periodik setiap 6 (enam) bulan sekali.

BAB XI

INFRASTRUKTUR TEKNOLOGI
(Sertifikasi, Akreditasi, Metrologi)

Sertifikasi

Pasal 272

Perencanaan, desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan dan dekomisioning


instalasi dan peralatan migas wajib mengacu pada peraturan perundang-
undangan, spesifikasi teknis dan standar yang berlaku.

Pasal 273

(1) Pembangunan dan konstruksi migas wajib mengacu pada rancangan


instalasi sesuai dengan kaidah keteknikan yang baik.
(2) Instalasi migas yang telah selesai dibangung harus dilengkapi dengan
gambar terpasang.
(3) Instalasi migas yang dibangun dan terpasang harus sesuai dengan
peruntukannya.
Pasal 274

Instalasi migas yang dibangun dan dipasang, direkondisi, dilakukan perubahan


kapasitas atau relokasi, wajib dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap
kesesuaian standar dan spesifikasi yang berlaku.

Pasal 275

(1) Terhadap instalasi yang digunakan dalam kegiatan usaha migas wajib
dilaksanakan pemeriksaan teknis dan pengujian terhadap kesesuaian
terhadap standar teknik yang berlaku.

RPP Keteknikan Migas 280108 99


(2) Pemeriksaan teknis dan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dalam rangka menjamin kehandalan/kelaikan dan keselamatan
instalasi kerja.

Pasal 276

Dalam hal Standar Nasional Indonesia berkaitan dengan kepentingan


keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi
lingkungan hidup dan atau pertimbangan ekonomis, instansi teknis dapat
memberlakukan secara wajib sebagian atau keseluruhan spesifikasi teknis dan
atau parameter dalam Standar Nasional Indonesia.

Pasal 277

(1) Terhadap instalasi, peralatan, barang dan atau jasa, proses, sistem dan
personel yang telah memenuhi ketentuan/spesifikasi teknis Standar
Nasional Indonesia dapat diberikan sertifikat dan atau dibubuhi tanda SNI
dan atau keselamatan.
(2) Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga
pelatihan, atau laboratorium.
(3) Tanda SNI dan atau keselamatan yang berlaku adalah sebagaimana
tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini.
(4) Persyaratan dan tata cara pemberian sertifikat dan pembubuhan tanda
SNI dan atau keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Akreditasi Nasional.

Pasal 278

Menteri menerbitkan penggunaan instalasi dan peralatan yang digunakan pada


kegiatan usaha migas berdasarkan pemeriksaan teknis dan pengujian yang
dilakukan oleh lembaga sertifikasi produk/inspeksi yang independent dan
terakreditasi.

Pasal 279

(1) Dalam hal lembaga sertifikasi produk/inspeksi yang independent dan


terakreditasi belum tersedia, Menteri dapat menunjuk lembaga inspeksi
teknis yang dianggap mampu untuk melaksanakan pemeriksaan teknis
dan pengujian.
(2) Ketentuan penunjukan lembaga inspeksi teknis sebagaimana yang
dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dalam suatu peraturan Menteri.

Pasal 280

(1) Terhadap instalasi dan peralatan yang pengujian dan pemeriksaannya


memenuhi kesesuaian standar dan spesifikasi teknis, lembaga inspeksi
teknis menerbitkan sertifikat layak operasi dan memberikan rekomendasi
izin penggunaan instalasi dan peralatan kepada Menteri

RPP Keteknikan Migas 280108 100


(2) Terhadap rekomendasi lembaga sertifikasi produk/instalasi, Menteri
menerbitkan izin penggunaan instalasi dan peralatan
(3) Menteri berhak menolak rekomendasi dari lembaga sertifikasi
produk/instalasi apabila terdapat ketidaksesuaian terhadap ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 281

Menteri dapat mencabut izin penggunaan instalasi dan peralatan apabila


terdapat hal-hal yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

Pasal 282

(1) Pelaku usaha yang menerapkan Standar Nasional Indonesia yang


diberlakukan secara wajib, harus memiliki sertifikat dan atau tanda SNI
dan atau keselamatan.
(2) Terhadap peralatan yang telah memenuhi standar dari aspek keselamatan
diberikan tanda kesesuaian keselamatan, diberi tanda “S”.

Pasal 283

(1) Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secara wajib dikenakan


sama, baik terhadap barang dan atau jasa produksi dalam negeri maupun
terhadap barang dan atau jasa impor.
(2) Barang dan atau jasa impor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
pemenuhan standarnya ditunjukkan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh
lembaga sertifikasi atau laboratorium yang telah diakreditasi Komite
Akreditasi Nasional atau lembaga sertifikasi atau laboratorium negara
pengekspor yang diakui Komite Akreditasi Nasional.
(3) Pengakuan lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan atau
laboratorium negara pengekspor oleh Komite Akreditasi Nasional
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) didasarkan pada perjanjian saling
pengakuan baik secara bilateral ataupun multilateral.
(4) Dalam hal barang dan atau jasa impor sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) tidak dilengkapi sertifikat, Pimpinan instansi teknis dapat menunjuk
salah satu lembaga sertifikasi atau laboratorium baik di dalam maupun di
luar negeri yang telah diakreditasi dan atau diakui oleh Komite Akreditasi
Nasional untuk melakukan sertifikasi terhadap barang dan atau jasa impor
dimaksud.

Pasal 284

(1) Pemberlakukan Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 269 dinotifikasikan Badan Standarisasi Nasional kepada
Organisasi Perdagangan Dunia setelah memperoleh masukan dari

RPP Keteknikan Migas 280108 101


instansi teknis yang berwenang dan dilaksanakan paling lambat 2 (dua)
bulan sebelum Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secara
wajib berlaku efektif.
(2) Badan Standarisasi Nasional menjawab pertanyaan yang datang dari luar
negeri yang berkaitan dengan Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia
setelah memperoleh masukan dari instansi teknis yang berwenang

Pasal 285

(1) Pengawasan terhadap pelaku usaha, barang dan atau jasa yang telah
memperoleh sertifikat dan atau dibubuhi tanda SNI dan atau keselamatan
yang diberlakukan secara wajib, dilakukan oleh Menteri
(2) Pengawasan terhadap unjuk kerja pelaku usaha yang telah memperoleh
sertifikat produk dan atau tanda SNI dan atau keselamatan dilakukan oleh
lembaga sertifikasi produk /inspeksi yang menerbitkan sertifikat dimaksud.
(3) Masyarakat dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat
melakukan pengawasan terhadap barang yang beredar di pasaran

Pasal 286

BU/BUT dalam melaksanakan kegiatan usahanya wajib menjamin standar dan


mutu (spesifikasi teknis) yang berlaku pada setiap tahap kegiatan:
perencanaan, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan serta pasca
operasi.

Pasal 287

(1) Standar sebagaimana dimaksud dalam peraturan pemerintah ini:


a. Standar Nasional Indonesia (SNI);
b. Standar Internasional.
(2) Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
huruf a dapat ditetapkan menjadi SNI Wajib oleh Menteri sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
(3) Standar Internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dapat
diterapkan apabila belum tersedia SNI Wajib.
(4) Penerapan Standar Internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
huruf b harus mendapat persetujuan dari Menteri.

Pasal 288

(1) Spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 286 ditetapkan


oleh Menteri berdasarkan usulan pemangku kepentingan dan hasil
pengujian oleh laboratorium uji yang terakreditasi.
(2) Spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disesuaikan
dengan kebutuhan penggunaannya.

RPP Keteknikan Migas 280108 102


Pasal 289

(1) Tenaga yang melakukan kegiatan pengoperasian, pemeriksaan, pengujian


pada kegiatan migas harus memiliki kompetensi sesuai dengan SKKNI.
(2) SKKNI dirumuskan dikonsesuskan dan ditetapkan berdasarkan ketentuan
BNSP.

Pasal 290

(1) Tenaga Ahli yang akan bekerja pada kegiatan usaha migas harus
mengikuti diklat yang diselenggarakan oleh Lembaga Diklat Profesi dan
diuji oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.
(2) Lembaga Sertifikasi Profesi dan Lembaga Uji harus terakreditasi sesuai
dengan ketentuan BNSP.
(3) Tenaga ahli yang telah lulus uji Lembaga Sertifikasi Profesi diberikan
sertifikat.

Pasal 291

Dalam hal Lembaga Sertifikasi Profesi dan Lembaga Diklat Profesi yang
terakreditasi belum terbentuk, Menteri dapat melakukan pembinaan teknis dan
memberikan sertifikat.

Akreditasi
Pasal 292

(1) Dalam rangka sertifikasi, pelaksanaan sertifikasi dilaksanakan oleh


Lembaga Sertifikasi Produk, atau Lembaga Sertifikasi Inspeksi yang telah
diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional.
(2) Untuk mendukung pelaksanaan sertifikasi diperlukan laboratorium uji yang
telah diakreditasi oleh Lembaga Akreditasi Nasional.

Pasal 293

(1) Tenaga ahli teknik yang melakukan pengoperasian, pengujian,


pemeriksaan dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi yang telah
dilakukan akreditasi oleh BNSP.
(2) Tenaga ahli untuk mendapatkan sertifikasi dilakukan pendidikan, pelatihan
yang diselenggarakan lembaga diklat yang terakreditasi.

Metrologi

Pasal 294

(1) Tanki Penimbun yang digunakan sebagai alat ukur dalam kegiatan usaha
minyak dan gas bumi wajib dilaksanakan Pemeriksaan Keselamatan
Migas.

RPP Keteknikan Migas 280108 103


(2) Pemeriksaan Keselamatan Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan terhadap setiap Tanki Penimbun yang baru, dan/atau sedang
digunakan dan yang mengalami Alterasi, Reparasi, dan/atau Rekonstruksi.
(3) Pelaksanaan Pemeriksaan Keselamatan Migas sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) dilakukan di tempat pemasangan dan/atau tempat
pendiriannya.
(4) BU/BUT wajib melaksanakan pemeriksaan teknis tanki timbun sesuai
dengan Standar Nasional Indonesia.

Pasal 295

Apabila dianggap perlu Direktur Jenderal dapat menunjuk pihak lain yang telah
memenuhi persyaratan untuk membantu melaksanakan Pemeriksaan
Keselamatan Migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 294.

Pasal 296

(1) Terhadap Tanki Penimbun yang telah dilaksanakan Pemeriksaan


Keselamatan Kerja dengan hasil penilaian layak, Direktur Jenderal
memberikan persetujuan Izin Penggunaan/Operasi.
(2) Izin Penggunaan/Operasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan
untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.
(3) Dalam hal telah berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) terhadap Tanki Penimbun wajib dilakukan Pemeriksaan
Keselamatan Migas.
(4) Dalam hal selama jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
Tanki Penimbun mengalami perubahan dan/atau diragukan kemampuan
kerjanya, maka terhadap Tanki Penimbun wajib dilakukan Pemeriksaan
Keselamatan Migas.

Pasal 297

Perusahaan yang telah mengoperasikan dan/atau menggunakan Tanki


Penimbun sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, wajib
melaksanakan Pemeriksaan Keselamatan Migas berdasarkan Peraturan
Pemerintah ini paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak
ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 298

Apabila terdapat kekurangan pada Tanki Penimbun setelah dilakukan


Pemeriksaan Keselamatan Migas, maka dalam waktu yang ditetapkan oleh
Direktur Jenderal, BU/BUT wajib mengadakan perbaikan dan/atau perubahan
sehingga Tanki Penimbun memenuhi kemampuan kerja, yang menyangkut segi
keselamatan migas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

RPP Keteknikan Migas 280108 104


Rencana Pembangunan
Alat Ukur Takar Timbang Dan Perlengkapan (UTTP)

Pasal 299

(1) BU/BUT yang akan menggunakan UTTP untuk kegiatan penyerahan


minyak dan gas bumi terlebih dahulu wajib menyampaikan kepada
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi rencana pembangunan UTTP
yang bersangkutan, dengan memberikan perincian mengenai:
a. jenis UTTP;
b. spesifikasi UTTP;
c. tempat pemasangan UTTP;
d. jenis minyak dan gas bumi atau hasil-hasil pemurnian dan
pengolahannya yang akan diukur dengan UTTP yang bersangkutan.
(2) Setelah melakukan penelitian, Direktur Jenderal memberikan persetujuan
atau penolakan atas rencana penggunaan UTTP termaksud pada ayat (1)
pasal ini kepada BU/BUT, dengan tembusan kepada Direktorat Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri.

Pasal 300

(1) Untuk keperluan impor UTTP, BU/BUT mencantumkan rencana


penggunaan UTTP yang telah mendapat persetujuan Direktorat Jenderal
dalam Rencana Impor Barang yang dipergunakan untuk kegiatan usaha
minyak dan gas bumi.
(2) BU/BUT yang akan melaksanakan impor UTTP terlebih dahulu wajib
mengajukan permohonan izin tipe kepada Direktur Jenderal Perdagangan
Dalam Negeri c.q. Direktur Metrologi, dengan menyampaikan fotokopi
proforma invoice atau invoice UTTP yang bersangkutan dengan dilengkapi
spesifikasi teknis.

Tera Dan Tera Ulang Uttp

Pasal 301

(1) BU/BUT yang bermaksud menerakan atau menera ulang UTTP


mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam
Negeri c.q. Direktur Metrologi, dengan tembusan kepada Direktur
Jenderal.
(2) Direktorat Metrologi melakukan tera atau tera ulang UTTP yang
bersangkutan, dengan disaksikan oleh pejabat atau petugas yang ditunjuk
oleh Direktur Jenderal.

RPP Keteknikan Migas 280108 105


Pasal 302

(1) Apabila dianggap perlu pengujian untuk memberikan tera atau tera ulang
UTTP dapat dilakukan oleh pihak ketiga, setelah mendapat persetujuan
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri dan Direktur Jenderal.
(2) Pengujian UTTP oleh pihak ketiga termaksud pada ayat (1) pasal ini harus
disaksikan oleh pejabat atau petugas yang ditunjuk oleh Direktur Metrologi
dan pejabat atau petugas yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal.

Pasal 303

Direktur Jenderal mengeluarkan izin penggunaan UTTP setelah dilakukan tera


atau tera ulang oleh Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri c.q.
Direktorat Metrologi.
Hasil Pengujian UTTP
Pasal 304

(1) Terhadap UTTP yang telah diuji dikeluarkan:


a. Surat Keterangan Hasil Pengujian untuk UTTP bukan tanki; dan
b. Daftar Isi Tanki untuk tanki ukur.
(2) Surat Keterangan Hasil Pengujian dan Daftar Isi Tanki termaksud pada
ayat (1) pasal ini disahkan oleh Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam
Negeri c.q. Direktorat Metrologi dan disetujui oleh Direktur Jenderal.

Pasal 305

(1) Jangka waktu berlakunya Surat Keterangan Hasil Pengujian adalah


sebagai berikut:
a. untuk meter prover adalah 2 (dua) tahun atau setelah digunakan untuk
pengujian sebanyak 500 (lima ratus) kali, mana yang lebih dahulu
tercapai;
b. untuk meter gas (orifice, turbin dan yang sejenis) adalah 1 (satu) tahun;
c. untuk bejana ukur yang dipergunakan dalam pengujian pipa uji adalah
2 (dua) tahun;
d. untuk kompensator suhu dan berat jenis (ATG/ATC Unit) adalah 6
(enam) bulan.
(2) Jangka waktu berlakunya Daftar Isi Tanki adalah 6 (enam) tahun.
(3) Jangka waktu berlakunya Surat Keterangan Hasil Pengujian dan Daftar Isi
Tanki di luar ketentuan-ketentuan termaksud pada ayat-ayat (1) dan (2)
pasal ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis kegiatan usaha
minyak dan gas bumi.
Pasal 306

Tera ulang UTTP dilakukan sebelum berakhirnya jangka waktu Surat


Keterangan Hasil Pengujian atau Daftar Isi Tanki termaksud dalam Pasal 304,
dalam hal-hal sebagai berikut:
a. apabila terdapat perubahan pada sistem UTTP yang bersangkutan;
b. apabila ketepatan pengukuran UTTP yang bersangkutan diragukan;

RPP Keteknikan Migas 280108 106


c. apabila tanda tera pada UTTP yang bersangkutan rusak.

BAB XII
LARANGAN UMUM

Instalasi

Pasal 307

(1) Untuk melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4.
(2) Peraturan Pemerintah ini,dapat dibangun, dipelihara dan dipergunakan
instalasi-instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya di Landas
Kontinen dan/atau diatasnya.
(3) Untuk melindungi instalasi-instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya
tersebut pada ayat (1) pasal ini terhadap gangguan pihak ketiga,
Pemerintah dapat menetapkan suatu daerah terlarang yang lebarnya tidak
melebihi 500 (lima ratus) meter, dihitung dari setiap titik terluar pada
instalasi-instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya disekeliling
instalasiinstalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya yang terdapat di
Landas Kontinen dan/atau di atasnya.
(4) Disamping daerah terlarang tersebut pada ayat (2) pasal ini Pemerintah
dapat juga menetapkan suatu daerah terbatas selebar tidak melebihi 1.250
(seribu dua ratus lima puluh) meter terhitung dari titik-titik terluar dari
daerah terlarang itu, dimana kapal-kapal pihak ketiga dilarang membuang
atau membokar sauh.

Pasal 308

Menteri dengan persetujuan Menteri lain yang bersangkutan menetapkan


batas-batas:
a. daerah terlarang, dimana orang, kapal, pesawat terbang dan lain-lain
sejenisnya yang tidak berkepentingan dilarang memasukinya;
b. daerah terbatas, dimana kapal-kapal pihak ketiga yang tidak berkepentingan
dilarang membuang atau membongkar sauh.

Pasal 309

(1) Kecuali dengan izin Menteri bersama dengan Menteri lain yang
bersangkutan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi tidak dapat
dilakukan di tempat-tempat sebagai berikut:
a. daerah atau pangkalan pertahanan, alur keluar masuknya pesawat
terbang, alur pelayaran, instalansi pelayaran, pelabuhan, menara suar,
rambu suar, dan instalasi lain yang bersifat permanen diatas atau
dibawah permukaan air;
b. tempat keagamaan, atu tempat suci, kuburan, peninggalan jaman kuno
yang penting, daerah suaka alam atau daerah yang secara resmi
daerah yang dinyatakan sebagai daerah pariwisata;

RPP Keteknikan Migas 280108 107


c. ditempat yang jaraknya kurang dari 250 (dua ratus lima puluh) meter
dari batas wilayah kuasa pertambangan dan/atau wilayah kerja atau
apabila berbatasan dengan negara lain, dengan jarak yang akan
ditentukan dalam perjanjian antara Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan negara lain, yang bersangkutan;
d. secara umum diketahui sebagai tempat peneluran ikan, batu karang,
mutiara, koral;
e. instalasi dibawah permukaan air antara lain pipa penyalur, kabel,
dermaga laut, setiap jenis pondamen, perangkap ikan yang sudah ada
sebelum dimulainya usaha pertambangan tersebut;
f. tempat penyelidikan ilmiah.
(2) Dalam hal kegiatan usaha minyak dan gas bumi dilakukan di daerah
terlarang dan terbatas Menteri akan menugaskan Staf Khusus Urusan
Maritim (Susmar) untuk melakukan koordinasi dengan Menteri terkait.
(3) Susmar bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal.
(4) Hal-hal yang bersangkutan dengan pemberian izin sebagaimana
dimaksudkan pada ayat (1) pasal ini akan diatur lebih lanjut oleh Menteri
bersama dengan Menteri lain yang bersangkutan.

Pasal 310

(1) BU/BUT dilarang mengakibatkan terjadinya pencemaran pada air laut, air
sungai, pantai dan udara dengan minyak mentah atau hasil
pengolahannya, gas yang merusak, zat yang mengandung racun, bahan
radio aktif, barang yang tidak terpakai lagi serta barang kelebihan dan lain-
lain.
(2) Apabila terjadi pencemaran, BU/BUT diwajibkan untuk menanggulanginya.

Pasal 311

(1) Dalam melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam di landas


kontinen harus diindahkan dan dilindungi kepentingan-kepentingan:
a. pertahanan dan keamanan nasional;
b. perhubungan;
c. telekomunikasi dan transmisi listrik dibawah laut;
d. perikanan;
e. penyelidikan kelautan dan penyelidikan ilmiah lainnya;
f. cagar alam.
(2) Dalam hal-hal terdapat perselisihan-perselisihan antara kepentingan
kepentingan tersebut dalam ayat (1) pasal ini mengenai pemanfaatan
sumber-sumber kekayaan alam di landas kontinen Indonesia,akan
diselesaikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Apabila terjadi hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan tersebut pada
ayat (1) pasal ini, Menteri dapat menghentikan untuk sementara waktu
pengusahaannya atau dapat mencabut lain usaha yang bersangkutan.

RPP Keteknikan Migas 280108 108


Larangan dan Pencegahan Umum
Dalam Tempat Pemurnian Dan Pengolahan

Pasal 312

(1) BU/BUT harus mengambil tindakan pengamanan terhadap tempat


pemurnian dan pengolahan termasuk pemagaran sekelilingnya.
(2) Orang-orang yang tidak berkepentingan dilarang memasuki tempat
pemurnian dan pengolahan kecuali dengan izin Kepala Teknik Migas.
(3) Dilarang membawa atau menyalakan api terbuka, membawa barang pijar
atau sumber yang dapat menimbulkan percikan api di dalam tempat
pemurnian dan pengolahan kecuali di tempat-tempat yang ditentukan atau
dengan izin Kepala Teknik Migas.
(4) Untuk keperluan tersebut Kepala Teknik Migas wajib menunjuk petugas-
petugas yang berhak memeriksa setiap orang.
(5) Petugas-petugas tersebut harus dicatat dalam Buku Kegiatan Migas.
(6) BU/BUT wajib menentukan pembagian daerah dalam tempat pemurnian
dan pengolahan sesuai dengan tingkat bahayanya dengan cara
memasang rambu-rambu peringatan di tempat-tempat yang mudah
terlihat.
(7) Pada tempat-tempat tertentu dimana terdapat atau di perkirakan terdapa
akumulasi bahan-bahan yang mudah meledak dan atau mudah terbakar
harus diambil tindakan-tindakan pencegahan khusus untuk mencegah
timbulnya kecelakaan, ledakan atau kebakaran.
(8) Pada tempat-tempat tertentu yang dianggap perlu dan dimana dapat
timbul bahaya harus dipasang papan peringatan atau larangan yang jelas
dan mudah terlihat.

Merokok, Menyalakan Lampu dan Api

Pasal 313

(1) Merokok, membuat timbulnya bunga-api, menyalakan api dan lampu,


kecuali lampu-lampu keselamatan dan lampu-lampu listrik yang dilindungi
dengan baik, seperti juga penggunaan lampu-jalan (looplamp) yang
disambung dengan kabel yang lentuk, dengan memperhatikan ketentuan-
ketentuan dalam ayat-ayat berikutnya, dilarang:
a. pada jarak kurang dari 5 (lima) meter dari minyak biasa yang ada
dikapal, jika jumlahnya lebih dari 25 (dua puluh lima) liter dan pada
jarak kurang dari 10 (sepuluh) meter dari minyak berbahaya yang ada
dikapal, jika jumlahnya lebih dari 1 (satu) liter; jika ketentuan dalam
kalimat terakhir dari Pasal 215 ayat (1) telah diterapkan, jarak-jarak
tersebut dikurangi sesuai dengan itu;
b. di atas kapal, bukan kapal-motor seperti yang dimaksud dalam akhir
Pasal 215 ayat (2), sub b, yang membawa atau bekas membawa
minyak berbahaya yang dibungkus, dalam palka dibawah geladak yang

RPP Keteknikan Migas 280108 109


tidak dibangun untuk dapat ditutup agar kedap gas dan yang belum
dibersihkan dari minyak dan gas;
c. di atas kapal, yang belum dibersihkan dari minyak dan gas, dibangun
untuk pengangkutan minyak biasa dan minyak berbahaya yang tidak
dibungkus, di atas bagian dari kapal yang terletak diantara sekat-sekat
luar dari kofferdam atau palka yang diisi atau bekas diisi dengan
minyak berbahaya yang dibungkus dan sedapat mungkin lebih ke
depan atau kebelakang, sejauh diperlukan dipandang dari segi
keselamatan migas;
d. di atas kapal, dimana terdapat atau bekas terdapat minyak berbahaya
yang dibungkus, didalam suatu bangunan atau lebih diatas geladak
dan bangunan-bangunan itu belum dibersihkan dari minyak dan gas,
kecuali sejauh mengenai kapal laut, oleh pejabat yang bersangkutan,
diizinkan lain;
e. di atas kapal, seperti yang dimaksud dalam Pasal 215 ayat (2) yang
memuat minyak berbahaya yang dikemas.
(2) Ketentuan dalam ayat terdahulu pada b, d dan e tidak berlaku terhadap
pemakaian dan penyalaan lampu-lampu semboyan yang dimaksud dalam
pasal 215 dan ketentuan pada a tidak berlaku di bagian-bagian dari kapal
yang terletak dibawah geladak yang diperuntukkan guna pengangkutan
dibawah geladak dari minyak biasa dan minyak berbahaya yang tidak
dibungkus, dimana merokok, menyalakan api atau lampu tidak dilarang
oleh peraturan-peraturan lain, juga tidak dibagian-bagian di atas geladak
dari kapal demikian yang terletak lebih ke-depan atau ke-belakang dari
bagian-bagian yang dimaksud dalam ayat terdahulu pada c.
(3) Merokok dan menyalakan api atau lampu juga dilarang pada jarak kurang
dari 10 (sepuluh) meter dari alat penyeberang, alat pengangkut atau alat
kerja, yang dibuat untuk dijalankan dengan minyak berbahaya yang
diangkut sebagai muatan geladak, jika didalam tanki-penyimpanan bahan
bakar terdapat minyak berbahaya.
(4) Dalam hal-hal yang khusus, dari ketentuan dalam ayat (1) untuk kapal-laut
yang berukuran isi kotor lebih dari 500 (lima ratus) m3 yang datang dari
perairan-luar seperti yang dimaksud dalam b dari ayat itu, dapat diberi
penyimpangan oleh pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan dengan
syarat-syarat yang ditetapkan olehnya.
(5) Jarak 10 (sepuluh) meter seperti yang dimaksud dalam ayat (1), oleh
pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan dapat dikurangi sampai 5
(lima) meter untuk kapal yang berukuran isi kotor kurang dari 500 (lima
ratus) m3 yang tidak digerakkan dengan mesin, jika minyak yang
berbahaya di-isi dalam drum-drum seperti yang dimaksud dalam Pasal
215 ayat (3).
Pasal 314

(1) Selama memuat atau membongkar minyak berbahaya dan selama lubang-
lubang palka dari ruangan dimana terdapat minyak berbahaya yang
dikemas, tidak ditutup, maka merokok diatas kapal dilarang, demikian juga
penggunaan alat-pemancar telegrap-radio dan tidak boleh adanya lampu
atau api terbuka yang menyala, selain dalam hal-hal yang benar-benar

RPP Keteknikan Migas 280108 110


perlu, dengan pertimbangan dari pejabat yang ditugaskan untuk
pengawasan hanya untuk keperluan pembongkaran dan juga dalam hal-
hal khusus lainnya dengan pertimbangan dari Kepala Inspektur Migas.
(2) Dari ketentuan dalam ayat terdahulu yang bertalian dengan pemuatan dan
pembongkaran minyak berbahaya yang dibungkus, yang diangkut sebagai
muatan-geladak di kapal yang berukuran isi kotor lebih dari 500 (lima
ratus) m3, oleh pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan, jika keadaan-
keadaan khusus mengizinkan, dapat diberi penyimpangan.
(3) Waktu membongkar atau memuat minyak biasa antara matahari terbenam
dan matahari terbit dan dalam keadaan seperti yang dimaksud dalam
Pasal 20 (2), nakhoda diharuskan menjaga agar ada penerangan yang Comment [PV13]: Cek ulang
cukup dan baik dan untuk itu harus mentaati petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan.
(4) Selama pembongkaran dan pemuatan ke dan dari daratan, dari minyak
berbahaya atau minyak biasa yang tidak dikemas, kapalnya tidak boleh
bersandar pada tempat pembongkaran atau pemuatan dimana atau
didekat mana digunakan penerangan buatan selain yang dimaksud dalam
kata permulaan ayat (1) Pasal 22, boleh merokok atau dimana ada api Comment [PV14]: Cek ulang
menyala selain yang dengan izin dari pejabat yang ditugaskan untuk
pengawasan.
Pasal 315

(1) Jika dikapal yang berukuran isi kotor kurang dari 500 (lima ratus) m3,
praktis tidak mungkin memenuhi ketentuan dalam Pasal 22 ayat (1), di Comment [PV15]: Cek ulang
bawah a dan c mengenai lampu-lampu semboyan yang peraturan-
peraturan pelanggaran dilaut atau peraturan-peraturan pedalaman, maka
pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan dapat mengizinkan
penyimpangan sejauh hal demikian diperlukan; di atas kapal-kapal yang
membawa minyak berbahaya, maka lampu-lampu itu jika diperlihatkan,
harus dipasang tinggi di atas badan kapal, setidak-tidaknya 2 (dua) meter
di atasnya.
(2) Jika untuk menyalakan lampu-lampu yang dimaksud dalam ayat terdahulu
harus menggunakan nyala api yang terbuka, maka penyalaan ini harus
dilakukan di tempat yang aman dan dalam hal seperti dimaksud dalam
ayat terdahulu, cukup tinggi di atas badan kapal.

Larangan dan Pencegahan Umum Pada SPBLPG

Pasal 316

(1) Setiap orang dilarang memasuki lokasi SPBLPG, kecuali para pekerja dan
pihak lain yang berdasarkan pekerjaannya atau kepentingannya berkaitan
langsung dengan SPBLPG.
(2) Pada tempat-tempat yang dianggap rawan kebakaran, harus dipasang
tanda larangan merokok dan setiap orang dilarang melakukan pekerjaan-
pekerjaan yang dapat menimbulkan api terbuka.

RPP Keteknikan Migas 280108 111


(3) Orang-orang yang karena tugas pembinaan dan pengawasan harus
memeriksa SPBLPG, harus didampingi oleh Kepala Teknik Migas atau
pejabat yang ditunjuk.

Pasal 317

(1) Semua pekerja pada lokasi SPBLPG dilarang bekerja tanpa menggunakan
peralatan keselamatan migas perorangan yang sesuai dengan jenis
pekerjaannya.
(2) BU dilarang menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil dalam
pekerjaannya dan tidak memenuhi persyaratan tenaga teknik khusus yang
ditetapkan.

Pasal 318

(1) Pada tempat kerja, jalan dan gedung harus dilengkapi dengan tanda-tanda
larangan, peringatan dan anjuran yang jelas dan mudah dimengerti yang
ditempatkan pada lokasi yang strategis.
(2) Dalam melaksanakan pekerjaan yang rawan bahaya harus terdapat
tatacara yang wajib diikuti oleh para pekerja dengan memperhatikan segi
keselamatan migas meliputi prosedur kerja aman dan prosedur keadaan
darurat.

BAB XIII

KEWAJIBAN UMUM

Kepala Teknik Migas

Pasal 319

BU/BUT atau Kepala Teknik Migas, sesuai dengan peraturan-peraturan yang


berhubungan dengan kegiatan usaha migas wajib memberikan instruksi-
instruksi yang diperlukan, memberikan bahan-bahan yang diperlukan dan
penyelenggaraan pengawasan-pengawasan yang diperlukan, untuk menjaga
bahwa Peraturan Pemerintah ini ditaati oleh pemegang wilayah dan/atau izin
usaha migas.

Pasal 320

Tiap orang dari para pegawai di bawah BU/BUT atau Kepala Teknik Migas
kegiatan usaha migas yang diberikan tugas untuk memimpin atau mengawasi
suatu bagian dari BU/BUT, dalam batas-batas lingkungan pekerjaan yang
diberikan kepadanya wajib seperti BU/BUT atau Kepala Teknik Migas untuk
mengindahkan Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 321

RPP Keteknikan Migas 280108 112


(1) Tugas atau pekerjaan dalam kegiatan usaha migas yang keselamatan
migas sangat tergantung pada pelaksanaan yang baik, hanya dapat
diserahkan kepada pekerja-pekerja yang dapat dipercaya dan memenuhi
syarat-syarat jasmani dan rohani yang diperlukan.
(2) Seorang pekerja harus segera dibebaskan dari tugas atau pekerjaannya,
apabila ternyata yang bersangkutan tidak memenuhi syarat dan kurang
dapat dipercaya atau jika oleh Inspektur Migas dianggap perlu untuk
membebaskan yang bersangkutan setelah diadakan pemeriksaan khusus
terhadapnya.

Pasal 322
(1) Kepala Teknik Migas wajib:
a. melaksanakan ketentuan umum tentang kesehatan pekerja;
b. memperhatikan kebersihan seluruh kegiatan usaha migas;
c. memperhatikan kesehatan para pekerjanya.
(2) Kepala Teknik Migas wajib menyediakan air minum yang memenuhi syarat-
syarat kesehatan serta tempat-tempat untuk berganti pakaian dan
membersihkan badan bagi para pekerja dalam jumlah yang cukup, bersih
dan memenuhi syarat kesopanan.
(3) Kepala Teknik Migas wajib mengambil langkah-langkah tertentu untuk
mencegah timbulnya penyakit jabatan pada pekerjanya yang dipekerjakan
di tempat-tempat atau dengan bahan-bahan yang membahayakan
keselamatan migas.

Pasal 323

(1) Kepala Teknik Migas wajib menjaga ditaatinya ketentuan-ketentuan


Peraturan Pemerintah ini dengan cara membina, memberikan instruksi,
menyediakan peralatan dan perlengkapan serta melakukan pengawasan
yang diperlukan, sepanjang hal itu tidak ditetapkan secara nyata-nyata
menjadi kewajiban BU/BUT.
(2) Setiap pekerja yang menjadi bawahan dari BU/BUT atau Kepala Teknik
Migas yang ditunjuk menjadi pimpinan atau ditunjuk untuk melakukan
pengawasan pada suatu bagian dari pada suatu pekerjaan, di dalam batas-
batas lingkungan pekerjaan yang menjadi wewenangnya, wajib menjaga
ditaatinya ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini seperti halnya
seorang Kepala Teknik Migas.

Pasal 324

(1) Kepala Teknik Migas atau pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya wajib
mendampingi Inspektur Migas pada saat melaksanakan pemeriksaan di
tempat kegiatan usaha migas.
(2) BU/BUT, Kepala Teknik Migas dan setiap pekerja yang berada di tempat
pekerjaan wajib memberikan keterangan yang benar yang diminta oleh
dalam melaksanakan pemeriksaan dan penyidikannya.

RPP Keteknikan Migas 280108 113


(3) BU/BUT wajib menyediakan fasilitas angkutan, komunikasi, akomodasi dan
lainya yang layak diberikan kepada Inspektur Migas dalam melaksanakan
tugasnya.

Pasal 325

(1) Kepala Teknik Migas wajib membuat dan menyimpan di tempat pekerjaan
daftar kecelakaan migas yang disusun menurut bentuk yang ditetapkan
oleh Kepala Inspektur Migas.
(2) Kepala Teknik Migas wajib memberitahukan secara tertulis setiap
kecelakaan yang menimpa seseorang ditempat pekerjaan yang
bersangkutan dalam jangka waktu 2 x 24 ( dua kali dua puluh empat ) jam
setelah kecelakaan tersebut terjadi atau setelah diketahui akibat dari
kecelakaan tersebut kepada Kepala Inspektur Migas dan Kepala Daerah
setempat. Pemberitahuan tersebut harus dibuat menurut bentuk yang
ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas.
(3) Pemberitahuan harus disampaikan dengan segera kepada Kepala
Inspektur Migas antara lain dengan telepon/sms, faksimili, teleks, telegram
dalam hal terjadi kecelakaan yang menimbulkan luka-luka berat atau
kematian seseorang atau lebih. Apabila dikemudian hari terjadi kematian
seseorang akibat luka-luka pada kecelakaan sebelumnya, kematian
tersebut wajib diberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Kepala
Inspektur Migas.
(4) Kepala Teknik Migas wajib memberitahukan dengan segera kecelakaan
yang menimbulkan kerugian materiil yang besar kepada Kepala Inspektur
Migas dengan menyebut sifat serta besarnya kerugian tersebut.
(5) Apabila oleh Kepala Inspektur Migas dianggap perlu, sehubungan dengan
kemungkinan dapat hadirnya Inspektur Migas dalam waktu singkat di
tempat kecelakaan, sejauh hal tersebut tidak mengganggu jalannya
tindakan-tindakan penyelamatan dan tidak membahayakan, maka segala
sesuatu ditempat tersebut harus dalam keadaan tidak berubah sampai
selesainya penyidikan oleh Inspektur Migas.
(6) Selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah selesainya tiap triwulan,
Kepala Teknik Migas wajib menyampaikan kepada Kepala Inspektur Migas
laporan kecelakaan migas yang terjadi dalam triwulan tersebut menurut
bentuk yang ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas.
(7) Setiap akhir tahun takwim, Kepala Teknik Migas wajib menyampaikan
kepada Kepala Inspektur Migas daftar jumlah tenaga kerja rata-rata dalam
setahun menurut bentuk yang ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas.

Pasal 326

(1) Untuk keperluan pemberitahuan termaksud dalam Pasal 325 ayat (2) dan
ayat (3) kecelakaan migas dibagi dalam 4 (empat) golongan yaitu:
a. ringan, kecelakaan yang tidak menimbulkan kehilangan hari kerja;

RPP Keteknikan Migas 280108 114


b. sedang, kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan
diduga tidak akan menimbulkan cacat jasmani dan atau rokhani yang
akan mengganggu tugas pekerjaannya.
c. berat, kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan
diduga akan menimbulkan cacat jasmani dan atau rohani yang akan
mengganggu tugas pekerjaannya;
d. mati, kecelakaan yang menimbulkan kematian segera atau dalam
jangka waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah terjadinya
kecelakaan.
(2) Untuk keperluan laporan kecelakaan migas termaksud dalam Pasal 325
ayat (6) digunakan penggolongan kecelakaan termaksud pada ayat (1)
yang didasarkan pada keadaan nyata akibat kecelakaan terhadap pekerja
yang mendapat kecelakaan.

Kewajiban Umum Pengusaha, Kepala Teknik Migas dan Pekerja

Pasal 327

BU/BUT secara berkala wajib melakukan hal-hal sebagai berikut:


a. menyiapkan prosedur kerja aman dan prosedur keadaan darurat yang
mudah dibaca;
b. penyuluhan keselamatan migas untuk semua tingkat pekerja yang
mencakup segi peraturan keselamatan migas dan pelaksanaan pekerjaan
lapangan;
c. latihan keadaan darurat berdasarkan sistem pengaturan yang telah
ditetapkan.

Pasal 328

BU/BUT wajib memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Inspektur Migas


dan Kepala Daerah setempat setiap kecelakaan migas yang terjadi di lokasi
kegiatan usaha migas.

Pasal 329

Kepala Teknik Migas wajib menjaga ditaatinya ketentuan-ketentuan Peraturan


Pemerintah ini dengan cara membina, memberikan instruksi, menyediakan
peralatan dan perlengkapan serta melakukan pengawasan yang diperlukan.

Pasal 330

Setiap pekerja pada kegiatan usaha migas harus dapat memadamkan


kebakaran dan menggunakan setiap peralatan keselamatan dan pengaman
yang tersedia.

Penimbunan Minyak Bumi

Pasal 331

Pemegang Izin berkewajiban:

RPP Keteknikan Migas 280108 115


a. menjaga agar didalam halaman tempat penimbunan tidak ada yang
merokok dan tidak terdapat api, selanjutnya mengambil tindakan-tindakan
untuk mencegah mengalirnya zat-zat cair keluar atau kebakaran dari zat-
zat cair yang ditimbun;
b. setelah mendapat pemberitahuan secara tertulis, untuk setiap hal yang luar
biasa ditentukan waktunya, maka atas biaya sendiri harus mengambil
tindakan-tindakan pencegahan, yang menurut Kepala Daerah dianggap
perlu demi untuk kepentingan umum dan keamanan; apabila hal ini tidak
dilaksanakan, maka tindakan-tindakan pencegahan akan dilakukan oleh
Kepala Daerah dan membebankan biaya–biaya pelaksanaan tersebut
kepada pemegang izin;
c. untuk melaksanakan pengawasan terhadap Peraturan Pemerintah ini atau
yang ditetapkan kemudian, setelah Inspektur Migas, juga setiap waktu
memberikan izin masuk ke lapangan penimbunan kepada petugas dari Bea
dan Cukai dan kepada mereka yang termasuk di dalam Pekerjaan Umum,
sepanjang mereka untuk hal ini ditunjuk Menteri yang bersangkutan atau
Kepala Daerah.

Pasal 332

Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja

Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja
untuk:
a. memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas
dan atau keselamatan migas;
b. memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan
kerja yang diwajibkan;
d. meminta pada BU/BUT agar dilaksanakan semua syarat keselamatan
migas yang diwajibkan;
e. menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan
keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan
diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh Kepala
Teknik Migas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung
jawabkan.

Pasal 333

Kewajiban Bila Memasuki Tempat Kerja

Barangsiapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua


petunjuk keselamatan migas dan memakai alat-alat perlindungan diri yang
diwajibkan.

RPP Keteknikan Migas 280108 116


Pasal 334
Kewajiban BU/BUT

BU/BUT diwajibkan:
a. secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya,
semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, Peraturan Pemerintah
ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja
yang bersangkutan, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan menurut
petunjuk pengawas atau ahli keselamatan migas;
b. memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar
keselamatan migas yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan
lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut
petunjuk pengawas atau ahli keselamatan migas;
c. menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri yang
diwajibkan pada tenaga kerja berada di bawah pimpinannya dan
menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut,
disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut pengawas
atau ahli keselamatan migas.

BAB XIV

PENGAWASAN

(Umum, Kewenangan, Pelimpahan, Pengawasan, Keberatan dan


Pertimbangan)

Pasal 335

Menteri melakukan pengawasan atas standar dan mutu, kaidah keteknikan


yang baik dan keselamatan migas.

Pasal 336

(1) Inspektur Migas berwenang menetapkan petunjuk-petunjuk tertulis


setempat yang berhubungan dengan tindakan-tindakan yang harus
dilakukan untuk melaksanakan syarat-syarat yang ditetapkan berdasarkan:
a. ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini;
b. ketentuan-ketentuan khusus termaksud pada ayat (2).
(2) Kepala Inspektur Migas berwenang menetapkan ketentuan khusus
sebagai pelengkap dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah ini.
(3) Dalam batas-batas tertentu pada pemeriksaan setempat Inspektur Migas
diberi wewenang untuk menilai sesuatu keadaan dengan menerapkan
istilah-istilah termaksud pada ayat (1).

Pasal 337

RPP Keteknikan Migas 280108 117


(1) Pada tempat kegiatan usaha migas wajib ada Buku Kegiatan Migas
menurut bentuk dan contoh yang ditetapkan oleh Kepala Inspektur Migas.
Buku tersebut harus disahkan oleh Inspektur Migas dengan membubuhi
nomor dan paraf pada tiap-tiap halaman.
(2) Dalam Buku Kegiatan Migas, Inspektur Migas mencatat sendiri segala
keputusannya dan pendapatnya mengenai pelaksanaan ketentuan-
ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
(3) Dengan tidak mengurangi ketentuan pada ayat (2), segala pemberitahuan
resmi dari Kepala Inspektur Migas kepada Kepala Teknik Migas yang
dilakukan secara tertulis, faksimili, telegram, teleks atau telepon/sms
(setelah itu disusul dengan pernyataan tertulis), apabila diminta oleh
Kepala Inspektur Migas pemberitahuan resmi tersebut setelah diterima
oleh Kepala Teknik Migas, harus dicatat dalam Buku Kegiatan Migas dan
dibuat salinan sesuai dengan aslinya dan ditanda tangani oleh Kepala
Teknik Migas.
(4) Selain oleh Inspektur Migas, Buku Kegiatan Migas tidak diperkenankan
diisi oleh orang lain dengan catatan-catatan yang secara nyata ditetapkan
dalam ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
(5) Dalam jangka waktu 1 (satu) minggu salinan catatan tersebut harus
dikirimkan kepada Kepala Inspektur Migas.
(6) Kepala Teknik Migas diwajibkan selekas mungkin mengirimkan kepada
BU/BUT salinan keputusan dan pemberitahuan resmi yang dicatat dalam
Buku Kegiatan Migas termaksud pada ayat (2) dan ayat (3).

Pasal 338

(1) Kecuali pejabat-pejabat yang pada umumnya diserahi tugas melakukan


penyidikan tindak pidana, Kepala Inspektur dan Inspektur Migas
berwenang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan-
ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
(2) Inspektur Migas wajib membuat berita acara berdasarkan sumpah
jabatannya tentang hasil penyidikan dan menyampaikannya kepada
Kepala Inspektur Migas.
(3) Inspektur Migas dalam melakukan tugasnya setiap waktu berwenang
memasuki tempat kegiatan migas termasuk pada masa pembangunannya.
(4) Dalam hal Inspektur Migas ditolak untuk memasuki tempat Kegiatan migas
termaksud pada ayat (3), Inspektur Migas dapat meminta bantuan
Kepolisian setempat.

Wewenang Penyidikan

Pasal 339

(1) Dalam hal terjadi kecelakaan migas, Inspektur Migas melaksanakan


penyelidikan penyebab terjadinya kecelakaan.

RPP Keteknikan Migas 280108 118


(2) Inspektur Migas wajib membuat berita acara berdasarkan sumpah
jabatannya tentang hasil penyidikan dan meneruskannya kepada Direktur
Jendral dan kepada Kepala Kepolisian setempat
(3) Dalam hal ada indikasi tindak pidana penyidikan dilakukan oleh Penyidik
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Migas.
(4) Hasil penyidikan oleh PPNS Migas dapat digunakan sebagai bahan tindak
pidana sesuai ketentuan yang berlaku
(5) Dalam hal terjadi kecelakaan migas tertentu, Menteri dapat menugaskan
Komite Nasional Keselamatan Migas (KNKM).
(6) Hasil penyidikan oleh KNKM digunakan sebagai bahan masukan dalam
penyempurnaan regulasi.
(7) Susunan keanggotaan KNKM akan ditetapkan dalam keputusan Direktur
Jenderal.

Pasal 340

(1) Apabila BU/BUT atau Kepala Teknik Migas tidak dapat menerima
keputusan Inspektur Migas dalam hal-hal yang bersifat teknis, maka ia
dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Inspektur Migas untuk
dipertimbangkan Kepala Inspektur Migas.
(2) Keputusan Kepala Inspektur Migas dalam hal termaksud pada ayat (1)
adalah mengikat.

BAB XV
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

Pasal 341

(1) Dalam pelaksanaan kegiatan usaha Migas, BU/BUT wajib menyusun


melaksanakan Studi Lingkungan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL dan
UPL) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Dalam pembuatan AMDAL, dan UKL dan UPL sebagaimana dimaksud
dengan ayat (1), BU/BUT Migas wajib mematuhi persyaratan teknis yang
ditetapkan oleh Menteri.
(3) Sebelum memulai kegiatannya, BU/BUT wajib mensosialisasikan rencana
kegiatannya kepada masyarakat dan instansi terkait sesuai dengan
Dokumen Lingkungan yang telah disetujui.

Pasal 342

(1) BU/BUT wajib melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan


pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta pemulihannya yang
diakibatkan oleh Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi yang berada di
daerah operasinya.

RPP Keteknikan Migas 280108 119


(2) Kewajiban pemulihan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) meliputi paska operasi kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi.
(3) Kewajiban pemulihan lingkungan hidup oleh BU/BUT dilaksanakan melalui
dana penjaminan, yang selanjutnya akan ditetapkan oleh peraturan
Menteri. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
(4) BU/BUT dalam melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dan ayat (2) wajib mentaati standar yang telah ditetapkan oleh Menteri.
(5) Menteri sebelum menetapkan standar sebagaimana dimaksud dalam ayat
(4) wajib meminta saran masukan dari berkoordinasi dengan menteri yang
bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup.
(6) Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup serta pemulihannya sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), BU/BUT wajib menggunakan bahan dan bahan kimia,
akrab lingkungan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Menteri.
(7) Semua biaya yang timbul akibat tindakan pencegahan, penaggulangan
serta pemulihan pencemaran dan kerusakan lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) menjadi tanggung jawab BU/BUT
pencemar.
(8) Apabila terjadi pencemaran, BU/BUT diwajibkan untuk menanggulanginya.

Pasal 343

Peralatan Pencegahan Pencemaran Lingkungan

(1) Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan


kerusakan lingkungan hidup serta pemulihannya, BU/BUT wajib
menggunakan peralatan dan teknologi yang handal sesuai ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku dan wajib mendapatkan izin dari
Menteri Direktorat Jenderal, selanjutnya akan diatur lebih lanjut dalam
Keputusan Menteri.
(2) Peralatan pencegahan dan penanggulangan pencemaran sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan pengujian dan disaksikan oleh
Inspektur Migas.
(3) Pengujian peralatan pencegahan dan penanggulangan pencemaran
dilaksanakan pada saat peralatan akan dipasang/digunakan, secara
berkala, setiap saat apabila dianggap perlu.
(4) Semua biaya yang timbul akibat tindakan penanggulangan pencemaran
lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), menjadi tanggung
jawab BU/BUT pencemar.

RPP Keteknikan Migas 280108 120


Pasal 344
Limbah

(1) BU/BUT wajib melakukan pengelolaan limbah kegiatan usahanya sesuai


dengan hasil Analisis Resiko, pedoman, standar nasional atau standar
internasional serta persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Menteri sebelum menetapkan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), wajib akan berkoordinasi dengan Menteri yang
bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup.
(3) Dalam melaksanakan pengelolaan limbah BU/BUT wajib mengutamakan
prinsip pemanfaatan kembali, pengurangan dan daur ulang dengan tetap
memperhatikan pelestarian lingkungan hidup.
(4) BU/BUT dapat melakukan pengelolaan limbah pada kegiatan usaha
minyak dan gas bumi dengan cara reinjeksi ke formasi dengan
memperhatikan kondisi geologi pada formasi yang digunakan dan
menjamin tidak mencemari air tanah. Persyaratan teknis selanjutnya akan
diatur dalam Peraturan Menteri.

Bahan dan Limbah Berbahaya dan Beracun (B3)


Pasal 345
(1) BU/BUT wajib mengidentifikasi dan mengontrol pengadaan,
pengangkutan, penyimpanan, penanganan, dan penggunaan bahan dan
limbah berbahaya dan beracun yang digunakan atau dihasilkan dalam
operasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undngan yang
berlaku.
(2) BU/BUT yang menghasilkan limbah B3 wajib mengolah limbah B3 yang
dihasilkannya sesuai dengan teknologi yang ada dan jika tidak mampu
diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara lain yang memiliki
teknologi pengolahan limbah B3
(3) Pengolahan dan/atau penimbunan limbah B3 sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan sendiri oleh penghasil limbah B3 atau
penghasil limbah B3 dapat menyerahkan pengolahan dan/atau
penimbunan limbah B3 yang dihasilkannya itu kepada pengolahan
dan/atau penimbun limbah B3.

Pasal 346

(1) Lumpur yang berasal dari pengeboran (drilling mud) dilarang dapat
dibuang ke lingkungan setelah dilakukan pengujian yang hasilnya
memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Pengelolaan lumpur pengeboran dan limbah pengeboran wajib
dilaksanakan sesuai dengan Pedoman yang telah disetujui oleh Menteri.
(3) Minyak mentah hasil uji produksi harus dikelola di lapangan produksi
terdekat dan dilarang dibakar/dibuang.

RPP Keteknikan Migas 280108 121


Pasal 347

Pemeliharaan Peralatan

(1) BU/BUT wajib menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan dan


pemantauan lingkungan yang dibangun berdasarkan potensi dan
karakteristik limbah yang dihasilkan.
(2) Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib
didesain, dibangun, dikonstruksi atau dipabrikasi berdasarkan peraturan,
standar dan kaidah keteknikan yang baik dalam kegiatan Minyak dan Gas
Bumi.
(3) BU/BUT wajib memelihara, menguji dan memeriksa secara berkala sarana
dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2)
dioperasikan berdasarkan peraturan, spesifikasi, standar yang berlaku dan
kaidah keteknikan yang baik dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
(4) Pemeriksaan berkala sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), ditentukan
berdasarkan jangka waktu tertentu atau hasil Analisis Resiko yang telah
dibuat sesuai karakteristik limbah yang dihasilkan.
(5) Menteri wajib melakukan verifikasi teknis terhadap sarana dan prasarana
pengelolaan lingkungan yang akan dan telah dioperasikan oleh BU/BUT.
(6) Menteri akan menerbitkan izin penggunaan terhadap sarana dan
prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang telah memenuhi
kriteria Pengelolaan Lingkungan Hidup.
(7) Ketentuan lebih lanjut tentang sarana dan prasarana Pengelolaan
Lingkungan Hidup serta jenisnya ditetapkan lebih lanjut dalam Peraturan
Menteri.

Pasal 348

(1) BU/BUT wajib menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan.


(2) Sistem Manajemen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-
kurangnya mencakup elemen-elemen:
a. kebijakan dan strategi;
b. perencanaan;
c. implementasi dan operasi;
d. pengawasan dan tindakan koreksi;
e. pengkajian manajemen lingkungan.

Pasal 349

Sistem Tanggap Darurat

(1) Untuk menanggulangi tumpahan minyak pada kegiatan usaha minyak dan
gas bumi, BU/BUT wajib menyediakan peralatan dan bahan-bahan

RPP Keteknikan Migas 280108 122


penanggulangan pencemaran yang disesuaikan dengan kondisi operasi
dan spesifikasi minyak.
(2) BU/BUT harus menyediakan alat transportasi untuk pelaksanaan
penanggulangan tumpahan minyak.
(3) BU/BUT wajib melakukan latihan penanggulangan pencemaran
lingkungan minimal setiap 1 (satu) tahun yang disaksikan oleh Inspektur
Migas.
(4) BU/BUT wajib membuat rencana dan prosedur penanggulangan keadaan
darurat sebagai akibat kecelakaan dan kejadian besar, atau yang dapat
menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan, atau bencana alam
dengan mempertimbangkan hasil analisis resiko.
(5) BU/BUT wajib membentuk organisasi dan tim tanggap darurat dan
menunjuk anggotanya yang senantiasa siaga dan terlatih menghadapi
terjadinya keadaan darurat.
(6) Prosedur penanggulangan keadaan darurat sebagaimana termaksud
dalam ayat (1) selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Menteri.

Pasal 350

Pembinaan dan Pengawasan

(1) BU/BUT wajib mengikuti pembinaan lindungan lingkungan secara berkala


(2) Pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
dilakukan oleh Inspektur Migas.
(3) Pengawasan yang dimaksud ayat (1) dilakukan mencakup pengawasan
administrasi, operasional dan insidentil.
(4) Pengawasan lain juga dilakukan terhadap pencemaran lingkungan dan isu
lingkungan yang berkoordinasi dengan instansi terkait

Pasal 351

Pelaporan

(1) BU/BUT wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaaan dan


pemantauan lingkungan kepada Menteri sesuai dokumen lingkungan yang
telah disetujui.
(2) BU/BUT wajib melaporkan setiap tumpahan minyak bumi dan atau zat-zat
pencemaran lainnya kepada Menteri.
(3) Tumpahan yang lebih dari 15 (lima belas) bbl setara minyak harus segera
dilaporkan secara lisan, atau dengan teknologi komunikasi pada
kesempatan pertama dan diikuti dengan laporan lengkap tertulis kepada
Menteri paling lambat 1 x 24 jam.

RPP Keteknikan Migas 280108 123


(4) Untuk tumpahan yang kurang atau sama dengan 15 (lima belas) bbl,
BU/BUT wajib membuat catatan seperti pada ayat (2) dan harus
dilaporkan setiap bulan kepada Menteri.
(5) BU/BUT wajib melaporkan rencana dan hasil pemeriksaan berkala
instalasi, peralatan dan instrumentasi yang dioperasikannya kepada
Menteri.

BAB XVI
Penghargaan Keselamatan Migas

Pasal 352

Tanda Penghargaan Keselamatan Migas dimaksudkan untuk memberikan


pengakuan mengenai tingkat keberhasilan suatu BU/BUT dalam menjamin
kelangsungan keselamatan migas, sehingga mampu secara terus-menerus
menjalankan kegiatannya tanpa kehilangan jam kerja untuk suatu kurun waktu
tertentu.

Pasal 353

Tujuan Pemberian Tanda Penghargaan Keselamatan Migas adalah untuk


mendorong peningkatan prestasi dalam bidang keselamatan kerja minyak dan
gas bumi disamping menjamin penerapan teknologi yang tepat guna dan
berhasil guna, sehingga dapat mencapai tingkat produksi yang maksimal
dalam pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi dan pengusahaan
sumber daya panasbumi.

Pasal 354

(1) Tanda Penghargaan Keselamatan Migas dapat diberikan untuk kategori


sebagai berikut:
a. Tanpa kehilangan jam kerja sebagai akibat kecelakaan migas:
b. Kinerja Pembinaan keselamatan migas;
c. Kinerja pengelolaan Lingkungan Hidup
(2) Tanda Penghargaan Keselamatan Migas yang diberikan untuk kategori
“Tanpa Kehilangan jam kerja sebagai akibat kecelakaan” dibagi tiga kelas
yaitu:
a. Patra Nirbhaya Karya Utama;
b. Patra Nirbhaya Karya Madya;
c. Patra Nirbhaya Karya Pratama.
(3) Tanda Penghargaan Keselamatan Migas kategori Kinerja Pengelolaan
Lingkungan Hidup dibagi menjadi lima kelas yaitu:
a. Sangat baik
b. Baik
c. Cukup

RPP Keteknikan Migas 280108 124


d. Buruk
e. Sangat Buruk

Pasal 355

(1) Tanda Penghargaan Keselamatan Migas termaksud dalam Pasal 354


diberikan sesuai dengan sifat pekerjaan dalam bidang-bidang:
a. Eksplorasi;
b. Eksploitasi;
c. Pengolahan;
d. Pengangkutan;
e. Penyimpanan; dan
f. Niaga.
(2) Saat pelaksanaan pemberian Tanda Pengahargaan Keselamatan Migas
ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 356

(1) BU/BUT dapat memperoleh penghargaan atas prestasi dalam bidang


Keselamatan Migas sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
(2) Tanda Penghargaan Keselamatan Migas diberikan oleh Menteri sesuai
persyaratan yang ditetapkan.

Pasal 357

(1) Menteri menetapkan persyaratan teknis dan persyaratan lain yang harus
dipenuhi untuk dapat memperoleh Tanda Penghargaan Keselamatan
Migasi termaksud dalam Pasal 356 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini.
(2) Menteri atas usul Direktur Jenderal menetapkan BU/BUT calon penerima
Tanda Penghargaan Keselamatan Migas atas prestasi yang telah dicapai
dalam bidang keselamatan migas.
(3) BU/BUT dapat juga mengajukan permohonan kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal untuk memperoleh Tanda Penghargaan Keselamatan Migas
sesuai dengan prestasi yang dicapai dalam bidang keselamatan migas
dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Pasal 358

(1) Menteri membentuk Panitia yang diketuai oleh Direktur Jenderal dan
menetapkan tatacara penilaian dan pemberian Tanda Penghargaan
Keelamatan Migas.

RPP Keteknikan Migas 280108 125


(2) Biaya yang timbul sebagai akibat pemberian Tanda Penghargaan
Keselamatan Migas menjadi beban BU/BUT yang bersangkutan dan atau
sumber-sumber lain yang sah.

Pasal 359

BU/BUT yang telah memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan lalu pada
saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini diutamakan memperoleh Tanda
Penghargaan Keselamatan Migas.

Pasal 360

Tata Cara Penilaian dan Pemberian Tanda Penghargaan Keselamatan Migas


diatur dalam Peraturan Menteri.

BAB XVII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 361

(1) Kecuali pejabat-pejabat yang pada umumnya diserahi tugas melakukan


penyidikan tindak pidana Inspektur Migas berwenang untuk melakukan
penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan-ketentuan Peraturan
Pemerintah ini.
(2) Inspektur Migas wajib membuat Berita Acara berdasarkan sumpah
jabatannya tentang hasil penyidikan dan meneruskannya kepada Direktur
Jendral dan Kepala Kepolisian setempat.

Pasal 362

(1) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan


atau denda setinggi-tingginya Rp. ......... (..........) Pengusaha atau
penanggung-jawab yang melakukan pelanggaran atas ketentuan-
ketentuan Pasal 3 ayat (1) dan (2), Pasal (4) ayat (2), Pasal 6 ayat (2) dan
ayat (3), Pasal 7, Pasal 8 ayat (2), Pasal 9, Pasal 13 ayat (1), Pasal 17
sampai dengan Pasal 33, Pasal 34 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 35 sampai
dengan Pasal 47, Pasal 48 ayat (2), Pasal 49 sampai dengan Pasal 56,
Pasal 57 ayat (1), Pasal 58 ayat (1) dan Pasal 59 Peraturan Pemerintah
ini.
(2) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan
atau denda setinggi-tingginya Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah)
Pengusaha atau penanggung-jawab atau setiap orang yang berada dan
bekerja pada Perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan dalam pasal 8
ayat (1) Peraturan Pemerintah ini.

RPP Keteknikan Migas 280108 126


(3) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dam
atau denda setinggi-tingginya Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) Nahkoda
yang dengan sengaja melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan
Bab I Pasal 10 ayat (2) Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 363

(1) Tindak pidana sebagaimana dimaksudkan pada Pasal 61 Peraturan


Pemerintah ini adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana
dimaksudkan pada pasal 62 Peraturan Pemerintah ini adalah pelanggaran.
(2) Jika suatu tindak pidana termaksud dalam Pasal-pasal 61 Peraturan
Pemerintah ini dilakukan oleh pengusaha atau penanggung-jawab, dalam
hal mana pengusaha atau penanggung-jawab merupakan suatu badan
hukum, maka tuntunan pidana dilakukan dan hukuman pidana dijatuhkan
terhadap para anggota pengurusan

Pasal 364

(1) Pejabat yang ditugaskan untuk pengawasan berwenang, atas tanggungan


dan tanggungjawab dari orang-orang yang melanggar, jika mugkin
sebelumnya dengan cara yang bijaksana memberikan peringatan dan jika
perlu dengan kekerasan tanpa mengurangi ancaman hukuman terhadap
para pelanggar, untuk suruh membongkar, mencegah atau melaksanakan
apa yang berlawanan dengan ketentuan-ketentuan dalam dan
berdasarkan ordonansi ini, telah dilaksanakan, sedang dilakukan atau
dibaikan.
(2) Untuk membayar beaya-beaya berdasarkan ayat terdahulu, kapal yang
bersangkutan ikut menanggung dan dapat disita

Pasal 365

(1) Dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda


setinggi-tingginya 500 (limaratus) gulden, akan dihukum :
a. Nakhoda yang melanggar ketentuan-ketentuan dalam pasl-pasal 6
ayat 1 dan 2 atau pasal 7 ayat 5, pasal 8 ayat 2 dan pasal 9;
b. Pemilik yang melanggar ketentuan-ketentuan dalam pasal 7 ayat 4
atau pasal 11 ayat 1;
c. Nakhoda kapal dan pengurus galangan atau bengkel untuk
mengeringkan atau memperbaiki kapal-kapal dimana atau dengan
perantaraannya kapal yang dimaksud dalam pasal 12 ayat 1 dan2,
dikeringkan atau menjalani perbaikan sebelum dipenuhi ketentuan
yang dimaksud dalam ayat 2 itu.
(2) Dengan hukuman kurungan selama-lamanya 1 (satu) bulan atau denda
setinggi-tingginya 100 (seratus) gulden, akan dihukum : Nakhoda yang

RPP Keteknikan Migas 280108 127


melanggar ketentuan dalam pasal 7 ayat 2 atau ketentuan dalam pasal 10
yang bertalian dengan pasal 7 ayat 6.
(3) Tanpa mengurangi ketentuan dalam ayat 1, mereka yang melanggar
peraturan-peraturan yang diberikan berdasarkan ketentuan-ketentuan
dalam pasal 8 ayat 1 dan 2 mengenai merokok dan menyalakan api dan
lampu, dihukum dengan kurungan penjara selama-lamanya 1 (satu) bulan
atau denda setinggi-tingginya 100 (seratus) gulden.

Pasal 366

(1) Dalam hal diketahuinya pelanggaran dari ketentuan dalam pasal 7 ayat 1,
maka minyak yang diangkut dan yang berlawanan dengan pasal itu,
dapat disita dan ditimbun atas beaya pemiliknya.
(2) Oleh Presiden ditetapkan bagaimana harus bertindak terhadap kejadian
seperti yang dimaksud dalam ayat terdahulu dan dengan syarat-syarat
apa mengembalian minyak yang disita itu, dapat dilakukan.

Pasal 367

(1) Dengan pengecualian hal yang dimaksud dalam ayat kedua, jika diatas
kapal tidak ada nakhoda yang diangkat oleh pemilik, maka kewajiban
pada nakhoda dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan hukuman
berdasarkan ordonansi ini, pemilik dianggap sebagai nakhoda.
(2) Jika diatas kapal yang ditunda tidak ada nakhoda yang diangkat oleh
pemilik, maka nakhoda yang berada diatas kapal menunda, dianggap
juga sebagai nakhoda kapal yang ditunda.
(3) Jika suatu kapal dimiliki oleh perseroan terbatas, badan koperasi atau
perkumpulan atau yayasan yang memiliki badan hukum, maka untuk
pelaksanaan pasal 15 ayat 1 sub b, dianggap sebagai pemiliknyalah
anggota atau anggota-anggota pengurus yang melakukan tindakan yang
dapat dihukum itu.

Pasal 368

Tindakan-tindakan yang dapat dihukum sebagai dimaksud dalam ordonansi ini,


dianggap sebagai pelanggaran.

Pasal 369

Sanksi

(1) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 18 ayat (1) dan (2) dapat dikenakan sanksi administratif dan
atau sanksi pidana.

RPP Keteknikan Migas 280108 128


(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa
pencabutan sertifikat produk dan atau pencabutan hak penggunaan tanda
SNI, pencabutan izin usaha, dan atau penarikan barang dari peredaran.
(3) Sanksi pencabutan sertifikat produk dan atau hak penggunaan tanda SNI
dilakukan oleh lembaga sertifikasi produk.
(4) Sanksi pencabutan izin usaha dan atau penarikan barang dari peredaran
ditetapkan oleh instansi teknis yang berwenang dan atau Pemerintah
Daerah.
(5) Sanksi pidana sebagaimana di maksud dalam ayat (1) berupa sanksi
pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Comment [PV16]: Akan dibahas lebih
lanjut
(6) Sanksi administratif berupa teguran bagi BU/BUT yang mendapat
penilaian buruk sebagaimana dimaksud pada Pasal 354 ayat (3)
(7) Sanksi penggantian jabatan Kepala Teknik Migas untuk penilaian Sangat
Buruk sebagaimana dimaksud pada Pasal 354 ayat (3)
(Usulan DMTL)

BAB XVIII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 370

(1) Terhadap kegiatan usaha migas yang sudah beroperasi pada saat
berlakunya Peraturan Pemerintah ini, wajib diadakan penyesuaian paling
lambat 12 (dua belas) bulan setelah ditetapkan Peraturan Pemerintah ini.
(2) Dalam hal yang luar biasa Menteri dapat menetapkan ketentuan-ketentuan
lebih lanjut mengenai pelaksanaan ketentuan termaksud pada ayat (1)

BAB XIX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 371

Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini
akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 372

Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini
akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 373

RPP Keteknikan Migas 280108 129


Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar supaya
setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan Peraturan Pemerintah ini
ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal...............

Presiden Republik Indonesia

Ttd

RPP Keteknikan Migas 280108 130