Anda di halaman 1dari 22

BAB 1 PENDAHULUAN

Kanker rektal adalah keganasan ketiga terbanyak di dunia dan penyebab kematian kedua terbanyak di Amerika Serikat. Di Indonesia jumlah penderita kanker rektal menempati urutan ke10 (2,75%) setelah kanker lain yaitu kanker leher rahim, kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker ovarium, kanker jaringan lunak, dan kanker tiroid. Salah satu pemicu kanker rektal adalah masalah nutrisi dan kurang berolah raga. Kanker rektal merupakan salah satu jenis kanker yang tercatat sebagai penyakit yang paling mematikan di dunia. Faktor keturunan dapat juga berperan sebagai pencetus timbulnya kanker jenis ini. Namun, penyakit ini bukannya tidak dapat disembuhkan. Jika penderita telah terdeteksi secara dini, maka kemungkinan untuk sembuh bisa mencapai 50%. Setiap waktu, kanker ini bisa menyerang seseorang. Resikonya akan terus meningkat seiring dengan penambahan usia. Data dari Amerika Serikat dan Inggris memperlihatkan orang yang berusia antara 50 sampai 80 tahun beresiko tiga kali lipat dari kelompok usia lainnya dan lebih banyak terdapat pada pria dan jarang ditemukan di bawah usia 40 tahun. Mereka yang memiliki riwayat peradangan saluran cerna seperti kolitis usus kronis, tergolong beresiko tinggi untuk berkembang menjadi kanker kolorektal. Demikian juga dengan mereka yang memiliki riwayat penyakit kanker tersebut, resiko terkena penyakit ini bisa menyerang pada kelompok usia mana pun di bawah 50 tahun. Dari berbagai laporan diketahui bahwa kanker rektum masuk dalam 10 kanker terbanyak berdasarkan data dari patologi. Berdasarkan data patologi anatomi FK Unand Padang tahun 1999, kanker rektum ini menempati urutan kedua di Indonesia. Umumnya penderita datang dalam stadium lanjut, seperti kebanyakan tumor ganas lainnya, 90% diagnosis kanker rektal dapat ditegakkan dengan colok dubur. Sampai saat ini pembedahan adalah terapi pilihan untuk kanker rektal.

BAB 2 TINJUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Usus besar atau colon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m (5 kaki) yang terbentang dari caecum hingga canalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil, yaitu sekitar 6,5 cm (2,5 inci), tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil. Usus besar terdiri dari 6 bagian, yaitu caecum, colon ascenden, colon transversum, colon descenden, colon sigmoid dan rectum (Lihat Gambar. 1). Berbeda dengan mukosa usus halus, pada mukosa colon tidak dijumpai vili dan kelenjar biasanya lurus-lurus dan teratur. Permukaan mukosa terdiri dari pelapis epitel tipe absorptif diselang-seling dengan sel goblet. Pada lamina propria dan basis kripta secara sporadik terdapat nodul jaringan limfoid.

2.1.1 Rektum Bagian ini merupakan lanjutan dari usus besar, yaitu colon sigmoid dengan panjang sekitar 15 cm. Rektum memiliki tiga kurva lateral serta kurva dorsoventral. Mukosa dubur lebih halus dibandingkan dengan usus besar. Rektum memiliki 3 buah valvula : superior kiri, medial kanan dan inferior kiri. 2/3 bagian distal rektum terletak di rongga pelvik dan terfiksir, sedangkan 1/3 bagian proksimal terletak dirongga abdomen dan relatif mobile. Kedua bagian ini dipisahkan oleh peritoneum reflectum dimana bagian anterior lebih panjang dibanding bagian posterior. Saluran anal (anal canal) adalah bagian terakhir dari usus, berfungsi sebagai pintu masuk ke bagian usus yang lebih proksimal, dikelilingi oleh spinkter ani (eksternal dan internal ) serta otototot yang mengatur pasase isi rectum kedunia luar. Spinkter ani eksterna terdiri dari 3 sling : atas, medial dan depan.

2.1.2 Fungsi Rektum Fungsi utama dari rektum dan canalis anal ialah untuk mengeluarkan massa feses yang terbentuk dan melakukan hal tersebut dengan cara yang terkontrol. Fungsi rektum berhubungan dengan
2

defekasi sebagai hasil refleks. Apabila feses masuk ke dalam rektum, terjadi peregangan rektum sehingga menimbulkan gelombang peristaltik pada colon descendens dan colon sigmoid mendorong feses ke arah anus, sfingter ani internus dihambat dan sfingter ani internus melemas sehingga terjadi defekasi. Feses tidak keluar secara terus menerus dan sedikit demi sedikit dari anus berkat adanya kontraksi tonik otot sfingter ani internus dan externus.

Gambar 1

2.2 Definisi Kanker Rektum Rektum adalah bagian dari usus besar yang terletak di panggul, berakhir di anus. Kanker pada rekti adalah penyakit yang ditandai oleh perkembangan sel-sel ganas pada lapisan atau epitel rektum. Sel-sel ganas berubah sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan mekanisme normal yang mengatur pertumbuhan. Sel-sel ini dapat menyerang jaringan lokal sekitarnya atau mungkin menyebar ke seluruh tubuh dan menyerang sistem organ lainnya.1,2

2.3 Etiologi Kanker Rektum Banyak faktor dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker rektal, diantaranya adalah 2:
3

Diet tinggi lemak, rendah serat Usia lebih dari 50 tahun Riwayat pribadi mengidap adenoma atau adenokarsinoma kolorektal mempunyai resiko lebih besar 3 kali lipat. Riwayat keluarga satu tingkat generasi dengan riwayat kanker kolorektal mempunyai resiko lebih besar 3 kali lipat. Familial polyposis coli, Gardner syndrome, dan Turcot syndrome, pada semua pasien ini tanpa dilakukan kolektomi dapat berkembang menjadi kanker rektal Resiko sedikit meningkat pada pasien Juvenile polyposis syndrome, Peutz-Jeghers syndrome, dan Muir syndrome. Terjadi pada 50 % pasien Kanker kolorektal Herediter nonpolyposis Inflammatory bowel disease Kolitis Ulseratif (resiko 30 % setelah berumur 25 tahun) Crohn disease, berisiko 4 sampai 10 kali lipat 2

2.4 Faktor Resiko Kanker Rektum Etiologi dari kanker rektum sendiri belum diketahui, namun beberapafaktor resiko telah ditemukan dapat menyebabkan terjadinya kanker rektum.Beberapa faktor resiko yang berperan antara lain:1,2,3 a) Faktor genetik seperti Familial adenomatous polyposis (FAP) dan hereditarynonpolyposis colorectal cancer (HNPCC). b) Inflammatory Bowel Disease seperti penyakit krohn dan Kolitis ulseratif. c) Riwayat keluarga yang menderita kanker kolorektal. d) Riwayat menderitar kanker payudara, polip, kanker ovarium dan endometriosis. e) Umur di atas 40 tahun.Risiko dari kanker kolorektal meningkat bersamaan dengan usia, terutama pada pria dan wanita berusia 50 tahun atau lebih dan hanya 3% dari kanker kolorektal muncul pada orang dengan usia dibawah 40 tahun. 55% kanker terdapat pada usia lebih 65 tahun. f) Diet rendah serat dan tinggi lemak.

2.5 Gejala Klinis Kanker Rektum Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada kanker rektal antara lain ialah 3: Perubahan pada kebiasaan BAB atau adanya darah pada feses, baik itu darah segar maupun yang berwarna hitam. Diare, konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar benar kosong saat BAB Feses yang lebih kecil dari biasanya Keluhan tidak nyama pada perut seperti sering flatus, kembung, rasa penuh pada perut atau nyeri Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya Mual dan muntah, Rasa letih dan lesu Pada tahap lanjut dapat muncul gejala pada traktus urinarius dan nyeri pada daerah gluteus.3

2.6 Patofisiologi Kanker Rektum

Pada mukosa rektum yang normal, sel-sel epitelnya akan mengalamiregenerasi setiap 6 hari. Pada keadaan patologis seperti adenoma terjadi perubahangenetik yang mengganggu proses differensiasi dan maturasi dari sel-sel tersebut yangdimulai dengan inaktivasi genadenomatous polyposis coli (APC) yang menyebabkan terjadinya replikasi tak terkontrol. Peningkatan jumlah sel akibat replikasi tak terkontrol tersebut akan menyebabkan terjadinya mutasi yang akan mengaktivasi K-ras onkogen dan mutasi gen p53, hal ini akan mencegah terjadinya apoptosis dan memperpanjang hidup sel.2

Gambar: Patofisiologi Kanker Rektum

Kanker kolon dan rectum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisanepitel usus) dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusupserta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati).2

2.7 Diagnosis Kanker Rektum a) Anamnesis Gejala dan tanda yang menunjukkan nilai prediksi tinggi terhadap akan adanya kanker kolon dan rectum. Keluhan utama adalah buang air besar berdarah dan berlendir. Terjadi perubahan pola defekasi yaitu diare selama beberapa hari yang disusul konstipasi selama beberapa hari (diare dan konstipasi bergantian). Ukuran feses kecil-kecil seperti kotoran kambing. Pasien mengeluh kembung dan mules hilang timbul sehingga terjadi anoreksia dan berat badan akan menurun dengan cepat.3,4 Disamping itu terjadi tenesmus, rasa tidak puas sehabis buang air besar, dan keluhan pegal- pegal. Keluhan perut kembung, mules dan sebagainya sering dianggap sebagi masuk angin dan pasien terlambat datang ke dokter. Berbeda dari kolon, mukosa dari rektum tidak dilapisi oleh tunika serosa. Perdarahan berasal dari arteri hemoroid superior (cabang arteri mesenterika inferior) serta arteri hemoroid inferior dan media. Perdarahan yang terjadi biasanya lebih banyak.3,4

Selain itu perdarahan peranum disertai peningkatan frekuensi defekasi dan/ atau diare selama minimal 6 minggu (semua umur), perdarahan peranum tanpa gejala anal (diatas 60 tahun), peningkatan frekwensi defekasi atau diare selama minimal 6 minggu (diatas 60 tahun) dan terdapat massa pada fossa iliaca dektra (semua umur). Massa intra luminal didalam rektum, tanda -tanda obstruksi mekanik usus (Ileus Obstruksi). Setiap penderita dengan anemia defisiensi Fe (Hb < 11gr % pada priadan Hb < 10 gr % pada wanita pasca menopause). b) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari kemungkinan metastase seperti pembesaran KGB atau hepatomegali. Dari pemeriksaan colok dubur dapat diketahui: - Adanya tumor rektum - Lokasi dan jarak dari anus - Posisi tumor, melingkar/ menyumbat lumen - Perlengketan dgn jaringan sekitar - Dapat dilakukan biopsi cubit Pemeriksaan colok dubur - Dilakukan pada setiap penderita dengan gejala anorektal - Menetapkan keutuhan sfingter ani - Menetapkan ukuran dan derajat fiksasi serta jarak tumor dari garisanokutan. Lokasinya 1/3 tengah dan 1/3 distal rektum. c) Pemeriksaan penunjang Berdasarkan bukti sampai dengan saat ini, terdapat tiga macam pemeriksaan penunjang yang efektif didalam diagnosis kanker kolon dan rektum yaitu enema barium, endoskopi dan CTpneumokolon. Tingkat akurasi pemeriksaan tersebut sangat tergantung pada persiapan kolon yang baik.

- Enema barium dengan kontras ganda. Pemeriksaan ini mempunyai keuntungan sebagai berikut: - Sensitivitas untuk KKR 65-95 %. - Tidak memerlukan sedasi. - Keberhasilan prosedur sangat tinggi - Tersedia hampir diseluruh rumah sakit - Cukup aman Sedangkan kelemahan pemeriksaan enema barium adalah: - Lesi T1 sering tidak terdiagnosa - Lesi di rektosigmoid dengan divertikulosis dan sekum, akurasinya rendah - Akurasinya rendah untuk lesi dengan tipe datar - Untuk polip dengan ukuran < 1 cm. Sensitivitasnya hanya 70-95% - Mendapat paparan radiasi

Endoskopi Jenis endoskopi yang dapat digunakan adalah Sigmoidoskopi rigid, sigmoidoskopi fleksibel, dan kolonoskopi. Sigmoidoskopi fleksibel lebih efektif dibandingkan dengan yang rigid untuk visualisasi kolon dan rektum. Dapat mendeteksi polip yang berukuran > 9 mm. Sensitifitas dan spesifitas kolonoskopi akan semakin tinggi bila persiapan kolon, sedasi dan kompetensi operator semakin baik. Keuntungan kolonoskopi sebagai berikut : - Sensitivitas untuk polip dan adenokarsinoma kolorektal 95% - Dapat lan gsung dilakukan sebagai biopsi untuk diagnostik - Untuk lesi synchronous polyp dapat dilakukan reseksi

- Tidak ada paparan radiasi Sedangkan kelemahannya adalah : - 5-30% kasus pemeriksaan tidak sampai ke sekum - Lokalisasi tumor dapat tidak akurat - Harus selalu sedasi intravena - Mortalitas 1:5000 kolonoskopi

Pneumocolon Computed Tomography Pneumocolon Computed Tomography (PCT) 5, 7, 11Dapat dilakukan pemeriksaan ini bila ada ahli radiologi yang berkompeten dengan keuntungan: - Sensitivitas tinggi dalam mendiagnosa KKR - Toleransi dari penderita baik - Dapat memberikan informasi kondisi diluar kolon, termasuk menentukan stadium invasi lokal, metastasis hepar, dan kelenjar getah bening. Namun kerugiannya adalah : - Tidak dapat mendiagnosa polip < 10 mm. - Memerlukan radiasi yang lebih tinggi - Jumlah dokter spesialis radiologi yang berkompeten masih terbatas - Tidak dapat dilakukan biopsi dan polipektomi. Penetapan stadium pre operatif Penetapan stadium preoperatif harus selalu dilakukan karena strategi terapi untuk setiap stadium berbeda. 5,6,7,11 Prosedur yang dilakukan adalah : - Deteksi perluasan tumor primer dan infiltrasinya kejaringan sekitarnya

- Deteksi kelenjar getah bening regional dan para aorta - Deteksi metastasis ke hepar dan paru paru - Deteksi metastasis ke cairan intraperitoneal. Ultrasonografi endoluminal transrektal - Dapat menetapkan tingkat infiltrasi perirektal tumor primer akurasi 81-96% - Menetapkan metastasis kelenjar getah bening perirektal: akurasi 60-83% - Digunakan terutama pada Tl yang akan dilakukan eksisi transanal - Digunakan pada T3 -T4 yang dipertimbangkan untuk terapi neo-adjuvan - Digunakan untuk rencana terapi reseksi transanal atau kemo-radioterapi. CT-Scan dan MRI - Dapat melihat invasi ekstra rektal dan invasi organ sekitar - Akurasi tidak setinggi USG endoluminal - Dapat mendeteksi metastasis ke kelenjar getah bening retroperitoneal dan hepar - Berguna untuk menentukan suatu tumor stadium lanjut untuk menjalani terapi adjuvan preoperatif - Untuk mengevaluasi keadaan ureter dan buli buli - Akurasi menentukan stadium d'engan CT Scan adalah 80% dibanding MRI hanya 59 %. Untuk metastasis KGB, akurasi CT Scan 65 %, sedangkan MRI 39 %, Spesifisitas CT Scan pelvis 90% dan sensitifitasnya 40% dibanding MRI 13 %.

10

Stadium kanker kolon dan rektum 5,6,7,8,9,11 Sistem Dukes Modifikasi Astler Coller Stadium A : Tumor terbatas pada lapisan mukosaStadium B1: Tumor menginvasi sampai lapisan muskularis propria Stadium B2 : Tumor menginvasi menembus lapisan muskularis propria Stadium C1 : Tumor B1 dan ditemukan anak sebar pada KGB Stadium C2 : Tumor B2 dan ditemukan anak sebar pada KGB Stadium D : Tumor bermetastasis jauh Stadium berdasarkan TNM pT-Tumar Primer pTx : Tirmor primer tidak dapat dinilai pTO : Tumor Primer tidak ditemukan pTis : Karsinoma insitu, intraepitel atau sebatas lapisan mukosa saja pT1 : Tumor menginvasi submukosa pT2 : Tumor menginvasi lapisan muskularis propria pT3 : Tumor menembus muskularis propria hingga lapisan serosa atau jaringan perikolika/ perirektal belum mencapai peritoneum. pT4 : Tumor menginvasi organ atau struktur disekitarnya atau menginvasi sampai peritoneum pN- Kelenjar getah bening regional pNx : Kelenjargetah bening regional tidak dapat dinilai pNO : Tidak ditemukan metastasis pada kelenjar getah beningregional pN1 : Ditemukan anak sebar pada 1-3 KGB regional
11

pN2 : Ditemukan anak sebar pada 4 atau lebih KGB regional pM : Metastasis jauh pMx : metastasis jauh tidak dapat dinilai pMO : tidak ditemukan metastasis jauh pM1 : ditemukan metastasis jauh. Stadium Kinik Stadium 0 : Stadium lA : Stadium IB : Stadium IIA : Stadium lIB : StadiumillA: Tis T1 T2 T3 T4 Semua T N0 N0 N0 N0 N0 N1 N2 Semua N M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M1

StadiumIIIB : Semua T Stadium lV : Semua T

2.8 Penatalaksanaan Kanker Rektum 1. Pembedahan Terapi yang paling lazim digunakan terutama untuk stadium I dan II kanker rektal, bahkan pada pasien suspek dalam stadium III juga dilakukan pembedahan. Penggunaan kemoterapi sebelum pembedahan dikenal sebagai neoadjuvant chemotherapy dan pada kanker rektal, ia digunakan terutama pada stadium II dan III. Pada pasien lainnya yang hanya dilakukan pembedahan, meskipun sebagian besar jaringan kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien masih

12

memerlukan kemoterapi atau radiasi setelah pembedahan untuk membunuh sel kanker yang tertinggal. Tipe pembedahan yang dipakai: Eksisi lokal: jika kanker ditemukan pada stadium paling dini, tumor dapat dihilangkan tanpa melakukan pembedahan lewat abdomen. Jika kanker ditemukan dalam bentuk polip, operasinya dinamakan polypectomy. Reseksi: jika kanker lebih besar, dilakukan reseksi rektum lalu dilakukan anastomosis.

Pengangkatan kanker rektum biasanya dilakukan dengan reseksi abdominoperianal, termasuk pengangkatan seluruh rektum, mesorektum dan bagian dari otot levator ani dan dubur. Prosedur ini merupakan pengobatan yang efektif namun mengharuskan pembuatan kolostomi permanen. Rektum terbagi atas 3 bagian yaitu 1/3 atas, tengah dan bawah. Kanker yang berada dilokasi 1/3 atas dan tengah (5-15cm dari garis dentate) dapat dilakukan restorative anterior resection.Jarak antara pinggir bawah tumor dan garis dentate merupakan factor yang sangat penting untuk menentukan jenis operasi. Local excision dapat diterapkan untuk mengobati kanker rektum dini yang terbukti belum memperlihatkan tanda-tanda metastasis ke kelenjar getah bening. Operasi ini dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan yaitu transanal, transpinkter atau transakral. Pendekatan transpinkter dan transakral memungkinkan untuk dapat mengamati kelenjar mesorektal untuk mendeteksi kemungkinan terjadi metastasis. Sedang pendekatan transanal memiliki kekurangan untuk mengamati keterlibatan kelenjar pararektal. Pada tumor rektum 1/3 tengah dilakukan reseksi dengan mempertahankan sfingter anus, sedangkan pada tumor 1/3 distal dilakukan amputasi rektum melalui reseksi abdominoperineal Quenu-Miles. Pada operasi ini anus turut dikeluarkan serta rektum dan sigmoid dengan mesosigmoid dilepaskan termasuk kelenjar limfe pararektum dan retroperitoneal sampai kelenjar limfe retroperitoneal. Kemudian melalui insisi perineal anus dieksisi dan dikeluarkan seluruhnya degan rectum melalui abdomen. Indikasi eksisi lokal kanker rektum: Tumor bebas, berada 8cm dari garis dentate T1 atau T2 yang dipastikan dengan pemeriksaan ultrasound
13

Termasuk well-differrentiated atau moderately well differentiated secara histology Ukuran kurang dari 3-4cm

Kontraindikasi eksisi lokal kanker rektum: Tumor tidak jelas Termasuk T3 yang dipastikan dengan ultrasound Termasuk Poorly differentiated secara histology

2. Radiasi Peran lain radioterapi adalah sebagai terapi tambahan untuk pembedahan pada kasus tumor lokal yang sudah diangkat melalui pembedahan dan untuk penanganan kasus metastasis jauh tertentu. Terutama ketika digunakan dalam konbinasi dengan kemoterapi, radiasi yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah menurunkan resiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian sebesar 29%. Pada penanganan metastasis jauh, radiasi telah berguna mengurangi efek lokal dari metastasis tersebut. 3. Kemoterapi Adjuvant chemotherapy (menangani pasien yang tidak terbukti memiliki penyakit residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan), dipertimbangkan pada pasien dimana tumornya menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombolan ( Stadium II lanjut dan stadium III). Terapi standarnya ialah dengan fluorouracil (5-FU) dikombinasikan dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas bulan. 5-FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon. Agen lainnya levamisole (meningkatkan system imun, dapat menjadi substitusi bagi leucovorin.

14

2.9 Prognosis Kanker Rektum Secara keseluruhan 5 year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai berikut: a. b. c. d. Stadium I 72% Stadium II 54% Stadium III 39% Stadium IV 7%

Lima puluh persen dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat berupa kekambuhan lokal, jauh atau keduanya. Kekambuhan lokal lebih sering terjadi. Penyakit kambuh pada 5-30% pasien, biasanya pada 2 tahun pertama setelah operasi. Faktor- factor yang mempengaruhi terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan ahli bedah, stadium tumor, lokasi dan kemampuan untuk memperoleh batas-batas negatif tumor.

15

BAB 3 LAPORAN KASUS

Identitas Pasien Keluhan Utama Anamnesis Telaah

: I, Pria, umur 36 tahun, : Buang air besar berdarah

: Hal ini dialami pasien sejak 8 tahun yang lalu. Memberat dalam 2

minggu ini. BAB berwarna merah darah segar. Setiap kali ke toilet untuk BAB, pasien mengaku harus mengedan dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengeluarkan feses. Feses kecilkecil seperti kotoran kambing (+), feses keluar selalu bercampur darah dan lendir dan pasien merasa bahwa isi perut tidak benar benar kosong saat BAB. Riwayat mecret (+), Penurunan berat badan (+), 10 kg dalam 1 bulan. Mual (+) Muntah (-). RPT RPO ::-

Pemeriksaan Fisik: Kepala : Konjungtiva palpebra pucat (+) Leher : Dalam batas normal Thorax Inspesksi: Simetris fusiformis Palpasi : stem fermitus Kanan = kiri Perkusi : Sonor Auskultasi: SP: vesikuler; ST(-) :

16

Abdomen Inspeksi : Distensi(+),simetris Palpasi : soepel (+), Nyeri tekan (-),defans muscular (-) Perkusi : shifting dullness (+),timpani Auskultasi : Peristaltik normal DRE: Perineum normal,TSA ketat, teraba massa intraluminal sirkular, keras, bernodul,bile(+), Feses(+), darah(+), lendir(+). Laboratory Finding : Test (16-8-2013) Darah Lengkap Hemoglobin (Hb) Leukocyte (WBC) Hematocrite Trombocyte (PLT) 14,3g % 9.16 x 103/mm3 42.40 % 533 x 103/mm3 13.2 17.4 g % 4.5 11.0 x103/mm3 43 - 49 % 150 450 x103/mm3 Results Normal Value

Laboratory Findings: Parameters Albumin Ureum Creatinin Natrium (Na) Value 2.8 g/dl 19.80 mg/dl 0.84 mg/dl 129 mEq/L Normal Value 3.5-5.0 g/dl < 50 mg/dl 0,7- 1,2 mg/dl 135 155

17

Kalium (K) Chloride (Cl)

4.0 mEq/L 104 mEq/L

3,6 5,5 96 106

Foto Thorax

Hasil: Efusi pleura kiri

18

Diagnosa: Moderate differentiated adeno ca recti T4NxM3 Pengobatan : IVFD RL 30 tts/menit Inj. RAnitidine 5gr/12j Transfusi PRC 500cc

19

BAB 4 PENUTUP Kanker rektal memerlukan penanganan multimodalitas dan belum terdapat keseragaman secara nasional dalam pendekatan terapinya. Meskipun akhir-akhir ini terjadi perkembangan secara cepat dari pengobatan adjuvan tetapi peningkatan umur harapan hidup penderita tidak membaik karena sebagian besar pasien ditemui dalam keadaan stadium lanjut. Kunci utama keberhasilan penanganan kanker rektal adalah ditemukannya kasus dalam stadium dini, sehingga terapi dapat dialaksanakan secara bedah kuratif. Penapisan karsinoma kolon dan rektum memegang peranan penting. Dari berbagai pengalaman di negara maju memperlihatkan bahwa penapisan yang adekuat terbukti menurunkan angka kematian akibat dari kanker rektal. Dengan penapisan tersebut akan lebih banvak ditemukan kasus dini sehingga terapi dapat secara bedah kuratif. Adalah perlu upaya pemberian informasi yang jelas dan mudah dimengerti kepada penderita kanker rektal mengenai faktor risiko terjadinya penyakit kanker rektal dan gejala-gejala awal penyakit kanker rektal sehingga diharapkan penderita datang berobat masih stadium dini sehingga terapi kuratif bisa dilakukan dan pentingnya pemeriksaan saringan pada siapa saja terutama yang berusia diatas 40 tahun ataupun yang mempunyai riwayat salah satu atau lebih anggota keluarganya pernah mengidap kanker rektal, serta pentingnya melakukan kontrol rutin guna penyembuhan yang lengkap.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. http://repository.unand.ac.id/12202/1/Deteksi_Dini,_Diagnosa_dan_Penatalaksanaan_Ka nker_Kolon_dan_Kerektum.pdf [Accessed on 28th August 2013] 2. http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/11/karsinoma_rektum_files_of_drsmed.pdf [Accessed on 28th August 2013] 3. Casciato DA, (ed). 2004. Manual of Clinical Oncology 5 Th ed Lippincott Williams & Wilkins: USA.p 201 4. Price, S. dan Wilson, L. 2006. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses Proses Penyakit Volume 2 Edisi 6. Jakarta: EGC 5. Hassan , Isaac 2006, Rectal carcinoma, www.emedicine.com 6. Cirincione, Elizabeth 2005, Rectal Cancer,www.emedicine.com

21

22