Anda di halaman 1dari 4

Islam

Anggota dekonstruksi integrasi Bangsa Indonesia

Oleh Abaz Zahrotien

Hampir semua masyarakat mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang


dibangun atas berbagai macam suku, bahasa, adat istiadat, budaya sampai tatanan yang
paling dasar dalam relung kesadaran manusia, yakni agama dan atau aliran kepercayaan.

Setidaknya, sebelum sampai pada mengetahui secara lebih mendetail tentang


relasi antara negara dengan kemajemukan tersebut, agaknya perlu digaristebalkan dan
menjadi kesadaran bersama terlebih dahulu bahwa keanekaragaman yang dimiliki
negara Indonesia hari ini itu muncul dan berkembang pesat jauh sebelum Indonesia
sebagai suatu tatanan negara diproklamirkan. Ini penting mengingat hal ini justru yang
akan menjadi pisau bedah tentang relasi kemajemukan dan negara.

Kemajemukan tersebut, merupakan salah satu aset negara, sebagaimana telah


digambarkan dalam jargon negara Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Disini
mengandung sebuah titik tekan yang utama, dimana Indonesia sebagai sebuah negara
telah menyadari betul akan keberadaan keberagamaan tersebut dan mengakomodirnya
dalam satu ruang kebangsaan. Artinya, negara menyadari bahwa element utama yang
menentukan integralitas bangsa adalah aspek kemajemukan.

Islam menjadi satu wajah dalam kemajemukan tersebut yang akhir-akhir ini
menjadi sorotan tajam dan menjadi polemik di media massa. Sebagai salah satu
keragaman, adanya Islam adalah hal yang wajar. Sebagai salah satu agama, Islam-pun
akan memiliki hak yang sama dihadapan hukum dan laku sosial dengan agama-agama
lainnya. Namun kemudian, sebagai salah satu ragam kemajemukan yang paling
dominan, justru hari ini Islam malah bertindak diluar kontrol (out of control) dengan
berani menjustifikasi kesalahan atas tirani minoritas golongan, yang parahnya malah
berada di dalam kontrolnya.

Disadari atau tidak, bahwa hari ini Islam justru berupaya memecah integrasi
bangsa yang terbangun sejak zaman Majapahit dibawah sumpah palapa Patih Gajah
Mada. Keberagaman yang telah ada dalam kurun waktu yang panjang mencoba
dibenturkan dengan keberagaman lainnya yang dianggap posisinya ‘membahayakan’
untuk kepentingan golongan tertentu.

Kepentingan Sektarian

Dalam hal ini, penulis lebih melihat Islam secara umum tanpa memilah lebih
detail mengenai adanya kepentingan golongan yang bersembunyi atas nama Islam.
Tujuannya adalah, agar tidak terjadi justifikasi negatif yang akhirnya menumbuhkan
konflik horizontal dalam Islam itu sendiri.

Adanya satu golongan yang berteriak atas nama Islam, melakukan aksi
anarkhis dibawah ajaran Al qur’an, mengganggu ketenraman publik atas nama
kemerdekaan agama Tuhan sampai pada pembantaian etnis minor dengan alasan Jihad
merupakan fenomena yang sedang berjalan akhir-akhir ini. Dimana apabila hal ini ditarik
pada wilayah sosiologis, maka agama (Islam) tidak lagi mampu menjawab kebutuhan
umat manusia atas kemerdekaan beragama dan menjalankan aktivitas keagamaannya.

Negara sama halnya hari ini dengan Islam yang mencoba melakukan tindak
represif untuk menekan golongan Jemaat Ahmadiyah atas aktivitas keagamaannya yang
menurut pemerintah sesat. Ini sudah harus dilihat lagi secara mendalam dalam
kacamata pola relasional antara negara dan agama. Bahwa agama sebagai institusi
individu yang paling asasi telah di ‘kotori’ oleh kepentingan golongan dan pemerintah
dengan intervensi negara atas hak-hak dasar individu warga negaranya.

Sederhananya, dalam persoalan ini sebenarnya perlu dikaji lagi lebih


mendalam mengenai relasi agama dan negara yang cukup ruwet belakangan ini. Peran
negara apakah harus mendominasi dalam kepentingan beragama individu
masyarakatnya, atau bahkan negara sama sekali tidak ikut campur mengenai persoalan
keagamaan, sebagaimana negara sekuler.

Belum lagi apabila hal ini dibenturkan pada manistream besar masyarakat
secara umum yang dalam ruang kesadaran mereka membutuhkan kemerdekaan secara
penuh atas tanggung jawab individu dan sosialnya. Dimana pada dasarnya setiap orang
mendambakan adanya tatanan sosial yang ideal, stabil, tanpa diskriminatif dan represif
dari pihak-pihak tertentu.

Penggunaan identitas agama untuk melakukan desintegrasi bangsa harus kita


tolak dengan gigih. Mengingat hal ini akan mengarhkan masyarakat pada satu titik
bersama untuk mencapai tujuan organisasi/partai atau institusi tersebut dalam rangka
menyelesaikan problem eksistensi mereka. Atau paling tidak, golongan yang
bersembunyi dibalik islam tersebut berusaha melakukan agitasi massa untuk
meningkatkan secara kuantitas kader mereka.

Terlepas dari semua itu, hari ini, Islam sebagia sebuah agama telah
menghancurkan keragaman yang menjadi aset negara dengan mengeluarkan fatwa
sesat terhadap Ahmadiyah sebagai komunitas minor yang ada di Indonesia. Justifikasi
yang telah diberikan ini memaksa negara harus mendirikan Bakor Pakem sebagai
organisasi negara yang memili legitimas persoalan keberagamaan. Dan inipula berarti
bahwa tidak hanya Islam yang hendak menggerogoti kesatuan dan persatuan bangsa,
tetapi juga Indonesia sebagai sebuah negara yang terrepresentasikan melalui jajaran
birokratnya.

Rahmatal Lil ‘Alamin

Dalam salah satu ajaran Islam disebutkan bahwa islam adalah agama rahmatal
lil ‘alamin, rahmat untuk sekalian alam, yang apabila ditafsir lebih mendalam lagi, bahwa
Islam adalah agama yang hendak membangun sebuah tatanan sosial yang ideal tidak
hanya untuk orang islam saja, tetapi untuk semua agama dan semua golongan yang ada.

Selain jargon tersebut, dalam Islam juga mengenal Istilah antroposentrisme


transendental yang mana ada penyadaran bahwa laku sosial manusia yang menentukan
nasib segala sesuatunya dengan tetap memposisikan ‘sesuatu’ yang transenden tersebut
pada level tertinggi. Aspek hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal ‘alam
hampir-hampir sampai pada titik frozen yang hanya selesai pada diskusi-diskusi dan
obrolan ringan seputar itu.

Oleh karenanya, sekali lagi, bahwa untuk mengantisipasi gerakan Islam untuk
memperbaiki posisinya sebagai sebuah organisasi pengkaderan dan gerakan hal yang
harus dilakukan adalah mendefinisikan dan mereorientasikan makna Islam secara
kultural dengan tetap berkaca pada habitual action masyarakat yang berada
dibawahnya. Dari sini kemudian mencoba kembali didiaogkan pada hal tersebut untuk
dapat dengan musywarat mencapai kesepakatan kolektif.

Pengejawantahan terhadap makna rahmatal lil alamin hari ini adalah perlu
untuk ditata kembali sebelum benar-benar dimanifestasikan dalam ruang strategis.
Mengingat citra Islam dimata dunia sudah mencapai titik yang paling memprihatinkan.

Pada aspek lain yang sebenarnya menjadi kesimpulan adalah bahwa Islam hari
ini apabila tetap tidak menjalankan aktifitas diskriminatif terhadap penganut agama lain
atas nama tuhan. Hal ini gampang untuk kemudian masyarakat diprovokasi dan diberi
pengarah lebih matang terkait dengan jargon Islam sebaga sebuah agama yang
rahmatal lil ‘alamin.

Sederhananya, bahwa upaya untuk membubarkan Golongan yang


bersembunyi dibalik Islam tersebut dapat digoyangkan adalah dengan meyakini,
mempercayai apa yang menjadi pembahasannya serta yang paling penting adalah aspek
akidah dari agama/golongan tirani minoritas adalah dengan mengakui mereka sebagai
bagian dari tubuh kita yang dapat dengan cepat pensiun. Penyadaran terhadap makna
Islam Nusantara, Islam Indonesia serta beberap jargon lainnya merupakan hak dasar
yang harus diterma oleh peserta didik.

*Penulis adalah Sekretaris Umum PMII Cabang Wonosobo.