Anda di halaman 1dari 13

BAB 1 TINJAUAN TEORI

1.1 Tinjauan Medis 1.1.1 Pengertian Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang ( Marilynn, E. Doenges, 2002 ; 761 ). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan / atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudakpaksa ( Arif Mansjoer, 2000 ; 346 ). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya ( Brunner dan Suddart, 2001 ).

1.1.2

Etiologi

1.1.2.1 Trauma 1) Langsung : kecelakaan lalu lintas. 2) Tidak langsung : duduk. 1.1.2.2 Patologis 1.1.2.3 Degenerasi jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri atau

1.1.3

Fisiologis Proses penyembuhan tulang

1.1.3.1 Fase haematom Pada permulaan akan terjadi perdarahan disekitar patahan tulang yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang periosteum. 1.1.3.2 Fase jaringan fibrosis atau proliferasi sel. 1) Hematom menjadi media pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler, sehingga hematom berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler didalamnya.

2) Jaringan ini menyebabkan fragmen tulang saling menempel yang disebut kalus fibrosa. 3) Berlangsung 5 hari. 1.1.3.3 Fase pembentukan kalus 1) Kedalaman haematom dan jaringan fibrosis ini tumbuh. Sel jaringan mesenkim yang bersifat osteogenik yang berubah menjadi sel kondroblast yang membentuk kondroid ( bahan dasar tulang rawan ). 2) Di tempat yang agak jauh dari patahan tulang dimana vaskularisasi masih baik, sel jaringan mesenkim berubah menjadi osteoblast dan membentuk osteoid ( bahan dasar tulang ). 3) Kondroid dan osteoid pada awalnya tidak mengandung kalsium, sehingga tidak tampak saat difoto rontgen. 4) Berlangsung 3 4 minggu. 1.1.3.4 Fase osifikasi 1) Kalus fibroid mengalami penimbunan miner terutama kalsium, sehingga berubah mnjadi kalus tulang. 2) Berlangsung 3 4 bulan. 1.1.3.5 Fase remodeling 1) Terjadinya pergantian sel tulang secara berangsur angsur oleh tulang yang mengatur diri sendiri sesuai garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. 2) Akhirnya sel tulang ini mengatur diri menjadi sel tulang normal dengan kekuatan yang sama dengan tulang biasa. 3) Fase ini berlangsung berbulan bulan sampai bertahun tahun.

1.1.4

Patofisiologi Trauma langsung / Tidak langsung Jaringan tulang Diskontinuitas tulang (fraktur)
Terbuka Tertutup

Fragmen Tulang Tembus Kulit Kontak dengan dunia luar Kontaminasi

Gerakan fragmen tulang yang patah, cidera j. lunak Imobilisasi Tirah baring lama Penurunan fungsi paru Pergerakan minimal Decubitus Risti gangg. Pertukaran gas Krepitasi Nyeri

Perubahan struktur jaringan tulang Spasme otot

Keruskan rangka neuromuskular Penurunan fungsi gerak

Pembuluh darah rusak

Perdarahan meningkat Anemia Gangg. Mobilitas fisik Syock Gangg. Mobilitas fisik Pemenuhan ADL

Risti infeksi

Kerusakan integritas kulit

Gangg. Perfusi jaringan Gangg. Pemenuhan ADL

1.1.5

Klasifikasi Fraktur dapat diklasifikasikan menurut tipe, luasnya kerusakan dan lokasi

fraktur. Secara umum fraktur dapat dibedakan menjadi : 1.1.5.1 Fraktur komplit Yaitu patah tulang yang garis patahnya melintang pada luas tulang yang membagi tulang menjadi dua bagian. Berdasarkan bentuk garis patahnya, fraktur tersebut dapat dibagi menjadi : 1) Fraktur transversal : garis patahnya melintang pada tulang.

2) Fraktur oblik (miring) : garis patahnya membentuk sudut melintang tulang. 3) Fraktur spiral : garis patahnya berbentuk spiral, biasanya terjadi karena rotasi. 4) Fraktur kompresi : terjadi apabila permukaan tulang terdorong kea rah permukaan.

5) Fraktur avulsi

: terjadi karena trauma tarikan otot pada tulang sehingga memisahkan fragmen fragmen tulang.

Sedangkan fraktur yang berdasarkan jumlah garis patah dapat dibagi menjadi : 1) Fraktur kominutif : garis patahnya lebih dari satu dan saling berhubungan. 2) Fraktur segmental : garis patahnya lebih dari satu tapi tidak berhubungan. 3) Fraktur multipel : garis patahnya lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan.

1.1.5.2 Fraktur tak komplit Yaitu fraktur yang tidak membagi tulang menjadi dua bagian, patahnya terjadi sebagian tulang, diantaranya yaitu : 1) Harline frakture (patah retak rambut) 2) Buckle fraktur 3) Green stick fraktur (fraktur tangkai dahan muda) mengenal satu korteks denngan anngulasi korteks yang terjadi pada tulang panjang anak. Selain yang telah tersebut diatas dapat ditambahkan pula klasifikasi fraktur yaitu fraktur patologis dimana terjadi melalui daerah daerah tulang yang telah melemah akibat suatu tumor atau proses patologis lainnya, sering kali tulang yang berdekatan memperlihatkan penurunan densitas. (Mansjoer, Arif . 2000, 346)

1.1.6

Manifestasi Klinis

1.1.6.1 Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang dimobilisasi spasme otot merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. 1.1.6.2 Hilangnya fungsi bagian yang terluka tidak dapat digerakan dan cenderung bergerak secara tidak alami.

1.1.6.3 Deformitas dapat berupa : 1) Angulasi tidak hanya disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan, tetapi juga oleh otot otot ekstermitas yang menarik patahan tulang.

2) Pemendekan, tonus otot otot ekstermitas menarik patahan tulang sehingga ujung patahan saling bertumpuk, misalnya otot otot paha yang menarik patahan tulang pada fraktur os. Femur. 1.1.6.4 Motilitas abnormal Tempat patahan menjadi sendi palsu. Bagian ini harus sedikit mungkin digerakkan karena dikhawatirkan kalau terjadi kerusakan lebih lanjut. 1.1.6.5 Krepitasi Teraba derik tulang akibat gesekan antara fragmen tulang. 1.1.6.6 Bengkak dan perubahan warna local diakibatkan oleh trauma dan perdarahan. Bisa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.

1.1.7

Pemeriksaan Penunjang

1.1.7.1 Sinar X Dapat berfungsi untuk melihat kesadaran, tekstur, erosi, hubungan tulang, sinar x sendi untuk melihat cairan, spur, penyempitan dan perubahan struktur sendi. 1.1.7.2 CT Scan Dapat berfunngsi untuk memperlihatkan tumor jaringan lunak, cidera ligament atau tendon. Identifikasi lokasi dan panjangnya fraktur didaerah yang sulit. 1.1.7.3 MRI Dapat berfungsi untuk abnormalitas jaringan linak, karena menggunakan medan magnet maka perhiasan harus dilepas. Kontra indikasi bagi klien yang implan logam. 1.1.7.4 Angiografi Pemeriksaan struktur vaskuler untuk melihat perfusi arteri. Suatu bahan kontras dimasukkan kedalam arteri tertentu dan diambil foto. Paska angiografi klien berbaring 12 24 jam untuk mencegah perdarahan pada bekas penusukkan. 1.1.7.5 Mielografi Untuk melihat herniasi discus, stenosis spinal. 1.1.7.6 Artherosintesis Untuk memperoleh cairan spinal guna keperluan pemeriksaan. 1.1.7.7 Arthrografi Dapat berfungsi untuk melihat struktur jaringan linak dan kontur sendi. (adanya robekan kapsul sendi atau ligament). Setelah prosedur selesai sendi dibalut tekan selama 12 24 jam untuk mencegah kebocoran.

1.1.7.8 Laboratorium 1) Fraktur pembekuan 2) Calsitonon (metabolisme tulang) 3) Calsium (osteomalasia) 4) CPK atau creatinine posphokinase (enzim pada kerusakan otot dan tulang) 5) PTH (metabolisme tulang) 6) Alkali phosphate (tumor tulang dan paget disease) 7) Vitamin D (metabolisme tulang)

1.1.8

Penatalaksanaan

1.1.8.1 Fraktur tertutup 1) Terapi konservatif terdiri atas : (1.1) (1.2) (1.3) (1.4) Proteksi saja. Imobilisasi saja tanpa reposisi. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips. Traksi untuk reposisi secara perlahan.

2) Terapi operatif, terdiri atas : (2.1) (2.2) Reposisi terbuka, fiksasi interna. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologist, diikuti fiksasi eksterna.

1.1.8.2 Fraktur terbuka 1) Debridemen luka, bertujuan untuk membersihkan kotoran, benda asing, jaringan yang lepas, tulang yang nekrosis. 2) Pemakaian tetanus toxoid. 3) Kultur jaringan pada luka. 4) Kompres terbuka. 5) Pengobatan antibiotika. 6) Pemantauan gejala osteomielitis, tetanus. 7) Menutup lika setelah diketahui tidak ada infeksi. 8) Reduksi tulang yang patah. 9) Imobilisasi tulang yang patah.

1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan 1.2.1 Penngkajian

1.2.1.1 Anamnesa 1) Apakah ada riwayat trauma ? 2) Kapan terjadinya trauma ? 3) Dimana terjadinya trauma ? 4) Apa jenis trauma yang terjadi ? 5) Berat atau ringankah traumanya ? 6) Arah dari trauma ? 7) Posisi dan eksttermitas / bagian tubuh warna yang bersangkutan ? 1.2.1.2 Pemeriksaan fisik 1) Aktifitas / istirahat Tanda : keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri). 2) Sirkulasi Tanda : Hipertensi (kadang kadanng terlihat sebgai respon terhadap nyeri / ansietas) atau hipotensi. Takikardia (respon stress, hipovolemia) Penurunan / tidak ada nadi pada bagian distal yang cidera , pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena. Pembengkakan jaringan atau masa hematom pada sisi cidera. 3) Neurosensori Gejala : Hilang gerakan / sensori, spasme otot. Kebas / kesemutan (parestesis). Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi. 4) Nyeri atau kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba pada saat cidera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobisasi) tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme / kram otot (setelah imobilisasi) 5) Kelemahan Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna.

Pembengkakan lokal (dapat meningkatkan secara bertahap / tiba tiba)

1.2.2

Rencana Asuhan Keperawatan

1.2.2.1 Diagnosa Keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang , edema dan cidera pada jaringan lunak, alat traksi atau mobilisasi, stress, ansietas. Batasan karakteristik Data subyektif : komunikasi (verbal atau kode) dari pemberian

gambaran nyeri. Data obyektif : perilaku melindungi atau pro teksi, memfokuskan pada diri sendiri, penyempitan fokus, perilaku distraksi, wajah tampak menahan nyeri, perubahan pada tonus otot. Tujuan : Menyatakan nyeri hilang. Kriteria hasil : 1) Pasien mengatakan nyeri hilang, dengan skala nyeri 1 3. 2) Dapat menunjukkan tindakan santai. 3) Mampu berpartisipasi dalam aktivitas / tidur. 4) Mampu menunjukkan ketrampilan distraksi / realksasi. 5) Mampu menunjukkan TTV dalam batas normal (TD : 110 70 mmHg).

Tindakan / intervensi 1) Pertahankan mobilisasi bagian yang sakit dengan trirah baring, gips, pembebatan, traksi. R : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan yang cidera. 2) Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena. R : Meningkatkan aliran darah balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri. 3) Hindari penggunaan sprei / bantal plastik dibawah ekstermitas dalam gips. R : Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.

4) Tinggikan penutup tempat tidur, pertahankan linen terbuka pada ibu jari kaki. R : Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa ketidak nyamanan karena tekanan selimut pada bagian yang sakit. 5) Evaluasi keluhan nyeri / ketidak nyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik ttermasuk intensitas (skala 0 10). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal. R : Mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi / reaksi terhadap nyeri. 6) Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cidera. R : Membantu untuk menghilangkan ansietas. 7) Jelaskan prosedur sebelum memulainya. R : Memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk aktivitas juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidak nyamanan. 8) Beri obat sebelum perawatan aktivitas. R : Meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan partisipasi. 9) Lakukan dan awasi latihan gerak aktif / pasif. R : Mempertahankan kekuatan / mobilisasi otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflmasi pada jaringan yang cidera. 10) Dorong menggunakan teknik menejemen stress, contoh relaksasi progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan terapeutik. R : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama. 11) Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa / tiba tiba atau dalam, lokasi progresif / buruk tidak hilang dengan analgesik. R : Dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh : infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen. 12) Berikan obat sesuai indikasi, nekrotik, analgesik non narkotik. R : Diberikan untuk menurunkan nyeri dan atau spasme otot. 1.2.2.2 Diagnosa Keperawatan Kerusakan mobilisasi fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri / ketidak nyamanan, terapi restriktif (imobilisasi tungkai)

Batasan karakteristik Mayor (80% - 100%) : Penurunan kemampuan untuk bergerak dengan sengaja dalam lingkungan (misalnya mobilisasi ditempat tidur, berpindah, ambulasi),

keterbatasan retan gerak. Minor (50% - 80%) : Pembatasan pergerakan yang dilaksanakn,

enggan untuk bergerak. Tujuan : Meningkatkan atau mempertahankan mobilisasi pada tingakat paling tinggi. Kriteria hasil : 1) Pasien mampu mempertahankan posisi fungsional. 2) Pasien mampu meningkatkan kekuatan / fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh. 3) Meningkatkan teknik yang memapukan melakukan aktivitas. Tindakan / intervensi 1) Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cedera / pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi. R : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual. 2) Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik atau rekreasi. R : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi,

memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri / harga diri, dan membantu menurunkan isolasi sosial. 3) Instruksikan pasien untuk / bantu dalam rentan gerak pasien aktif pada ekstermitas yang sakit dan yang tidak sakit. R : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi,

mencegah kontraktur / atrofi dan resorbsi kalsium karena tidak digunakan. 4) Diberikan atau bantu dalam mobilisasi fungsi organ. R : Mobilisasi dini menurunkan insiden komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalitas fungsi organ. 5) Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk dan nafas dalam. R : Mencegah atau menurunkan insiden komplikasi kulit atau pernafasan. 6) Dorong peningkatan masukan cairan sampai 2000 3000 ml/jam.

10

R : Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan infeksi urinarius. 7) Bantu / dorong perawatn diri / kebersihan. R : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung. 8) Berikan diit tinggi protein, karbihidrat, vitamin dan mineral. R : Pada cidera musculoskeletal, nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat. 9) Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau rehabilitasi spesialis. R : Berguna dalam membuat aktivitas individual dan program latihan.

1.2.2.3 Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, terpejan pada lingkungan tindakan pembedahan. Tujuan : Infeksi tidak terjadi.

Kriteria hasil : 1) Tidak terdapat tanda tanda infeksi. 2) Luka sembuh tepat pada waktunya. 3) Keadaan luka kering bebas drainage purulen. Tindakan / intervensi 1) Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas. R : Pen atau kawat tidak harus dimasukan melalui kilit yang terinfeksi, kemerahan / abrasi. 2) Kaji tonus otot, reflek tendon dalam dan kemampuan untuk berbicara. R : Kekuatan otot, spasme tonik otot rahang dan disfagia menunjukkan terjadinya tetanus. 3) Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan. R : Merupakan tanda perkiraan infeksi gas ganggren. 4) Selidiki adanya nyeri tiba tiba atau keterbatasan gerakan dengan edema local atau eritema ekstermitas cidera. R : Dapat mengindikasikan terjadinya osteomielitis. 5) Lindungi jaringan yang terputus. R : Perlukaan pada jaringan dapat menjadi jalan masuk

mikroorganisme dan menyebabkan terjadinya infeksi. 6) Berikan perawatan sesuai prosedur dengan teknik aseptik.

R : dapat mencegah kontaminasi silang dan kemunngkinan infeksi. 7) Berkolaborasi denngan dokter dalam pemberian obat antibiotik. R : Dengan pemberian obat antibiotic dapat membunuh kuman yang masuk kedalam tubuh.

12

DAFTAR PUSTAKA

Brunner. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. EGC. Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Diagnosa Keperawatan Atau Aplikasi Pada Praktis Klinis. Universitas Padjajaran. Jakarta.

Depkes, RI. (1989). Perawatan Pasien yang merupakan Kasus Bedah. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI. Jakarta.

Junaidi ,Purnawan. (1982). Aesculapius FKUI. Jakarta.

Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2. Media

J.Reeves, Charlene. (2001). Medika. Jakarta.

Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 1 Salemba

Marrilyn E, doengoes. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta.