Anda di halaman 1dari 42

Besaran vektor yang mempunyai besar

(m.v) dan
arah (sama dengan vektor kecepatan / v)

Jadi momentum adalah Besaran yang
dimiliki oleh sebuah benda atau
partikel yang bergerak

P = m . v ; satuannya kg.m/s (1.1)

Perubahan momentum sebuah benda tiap
satuan waktu sebanding dengan gaya total
yang bekerja pada benda dan berarah sama
dengan gaya tersebut, sehingga didapatkan
rumus :
(1.2)



F =
dp
dt
Persamaan no 1.2 didapatkan dari :
Hukum kedua Newton


Sedangkan a = ;

Sehingga
;


Sehingga diperoleh rumus hukum kedua Newton
dalam bentuk momentum yaitu





dv
dt
F = m .
dv
dt
= . (m . v)
d
dt
F =
dp
dt

1. Sebuah bus bermassa 5 ton bergerak
dengan kecepatan tetap 10 m/s. Berapa
momentum yang dimiliki bus tersebut?
Penyelesaian:
P= m . v
P = 5000 kg x 20 m/s
P= 100000 kg m/s
(catatan 1 ton = 1000 kg)

2. Bola kasti 0,5 kg mula-mula bergerak ke kiri
dengan kelajuan 2 m/s. Kemudian bola
tersebut dipukul dengan gaya F berlawanan
dengan gerak bola, sehingga kelajuan bola
berubah menjadi 5 m/s. Bila bola bersentuhan
dengan pemukul selama 0,01 sekon, maka
perubahan momentumnya adalah

Pembahasan :
Diketahui :
m = 0,5 kg, v
o
= -2 m/s, v
t
= 5 m/s, t = 0,01 sekon
Ditanya :
Perubahan momentum ?
Jawab :
P = m (v
t
v
o
)
= (0,5)(5 (-2))
= (0,5)(7) = 3,5 kg m/s
= 3,5 N s

RUMUS
CONTOH
DALAM
SEHARI-HARI
Bola ditendang
Bola tenis dipukul
Alasan :
Karena pada saat tendangan dan
pukulan, gaya yang bekerja sangat
singkat.

1. Sebuah bola dipukul dengan gaya 50
Newton dengan waktu 0,01 sekon. Berapa
besar Implus pada bola tersebut?
Penyelesaian
Dengan menggunakan persamaan diatas
maka
I=F.t
I=50 N. 0,01s
I=0,5 Ns

Hubungan rumus momentum dan impuls

Impuls sama dengan perubahan momentum
Suatu partikel yang bermassa m bekerja gaya F yang konstan,
maka
setelah waktu t partikel tersebut bergerak dengan kecepatan
V
t
=V
0
+ a t seperti yang sudah dibahas pada GLBB(gerak lurus
berubah beraturan)
Menurut hukum ke-2 Newton:
F=m.a,
Dengan subtitusi kedua persamaan tersebut maka diperoleh
I = P
F.t = mv
t
mv
0

Keterangan
mv
t
= mementum benda pada saat kecepatan v
t

mv
0
= mementum benda pada saat kecepatan v
0



Jika F = 0, maka berlaku hukum kekekalan
momentum.


Hukum kekekalan momentum berlaku pada
peristiwa tumbukan, benda pecah menjadi
beberapa bagian, dan penggabungan
beberapa benda.




pawal = pakhir
Tumbukan dapat berlangsung secara
singkat dan dapat pula berlangsung lama.
Pada semua proses tumbukan, benda-benda
yang saling bertumbukan akan berinteraksi
dengan kuat hanya selama tumbukan
berlangsung kalaupun ada gaya eksternal
yang bekerja, besarnya akan jauh lebih kecil
daripada gaya interaksi yang terjadi, dan oleh
karenanya gaya tersebut diabaikan.

Jenis-Jenis Tumbukan
Lenting
Sempurna
Lenting
Sebagian
Tidak
Lenting
Ingat ! jika pada tumbukan tidak terjadi kehilangan
energi kinetik, maka tumbukan yang terjadi bersifat
lenting sempurna. Disini akan dibahas tumbukan satu
dimensi dimana kecepatan benda yang bertumbukan
terletak segaris. Misalnya sepanjang sumbu-x seperti
pada gambar 6 berikut;




Gambar 6. Ilustrasi 2 Bola Sebelum dan Sesudah
Tumbukan
Berlaku : Hk. Kekekalan Momentum dan Hk Kekekalan
Energi
Kinetik

Berdasarkan Hukum Kekalan Momentum
diperoleh :


atau


Oleh karena tumbukan yang terjadi adalah
lenting sempurna, energi kinetiknya tetap,
yaitu:


atau

Pada tumbukan lenting sempurna, harga
koefisien restitusi adalah sebagai berikut:

Sebagian besar tumbukan yang terjadi antara dua
benda adalah tumbukan lenting sebagian. Misalnya,
bola tenis yang bertumbukan dengan raket atau bola
baseball yang dipukul. Analisis tumbukan tidak lenting
sebagian melibatkan koefisien restitusi (e) .
Koefisien restitusi didefinisikan sebagai harga negatif
dari perbandingan antara besar kecepatan
relatif kedua benda setelah tumbukan dan sebelum
tumbukan.


Pada tumbukan lenting sebagian, harga koefisien
restitusi

0<e<1



Va Vb Vb

Dengan demikian, Hukum kekekalan momentumnya
berbentuk:
M
1
V
1
+M
2
V
2
= (M
1
+M
2
)V
Dengan demikian, kecepatan kedua benda setelah
tumbukan dapat dihitung dengan rumus:

Jika salah satu benda misalnya m2 semula diam, maka
persamaanya menjadi:

Dengan koefisien restitusi (e) sama dengan 0 (nol)
Pada tumbukan tidak lenting, hanya berlaku Hk.
Kekekalan Momentum



A B B A B A
Untuk mendapatkan koefisien restitusi dapat
menggunakan rumus :


e= Va-Vb
Va-Vb
Perubahan bentuk benda elastis akan
sebanding dengan gaya yang bekerja
padanya sampai batas tertentu (batas
elastisitas). Jika gaya yang deberikan
ditambah hingga melebihi batas elastisitas
benda maka benda akam mengalami
deformasi (perubahan bentuk ) permanen
-Robert Hooke-
Tegangan (Stress)
Regangan (strain)
Modulus Elastisitas (Young)
Aplikasinya
Tegangan adalah besarnya gaya yang bekerja
pada permukaan benda persatuan luas.
Tegangan dalam elastisitas dirumuskan:


Tegangan sama seperti tekanan, ia memiliki
satuan Pascal (Pa) atau N/m2

Regangan dalam elastisitas adalah
pertambahan panjang yang terjadi pada suatu
benda karena pengaruh gaya luar per panjang
mula-mula benda tersebut sebelum gaya luar
bekerja padanya. Regangan dirumuskan:


Karena regangan adalah perbandingan dari
dua besaran yang sejenis maka ia hanya
seperti koefisien (tanpa punya satuan).

Modulus Elastisitas (Young)
Definisi dari modulus young adalah perbandingan
antara tegangan dengan regangan. Di rumuskan:


jika kita menguraikan rumus tegangan dan
regangan di dapat persamaan :


kesimpulan modulus young sebanding
dengan gaya (F) serta panjang awal (lo) dan
berbanding terbalik dengan luas alas (A) dan
pertambahan panjang ( l)



1. Hukum Hooke
Hubungan antara gaya F yang meregangkan
pegas dengan pertambahan panjang pegas x pada
daerah elastisitas pertama kali dikemukakan oleh
Robert Hooke (1635 1703), yang kemudian dikenal
dengan Hukum Hooke. Pada daerah elastis linier,
besarnya gaya F sebanding dengan pertambahan
panjang x.
Secara matematis dinyatakan:
F = k . x .. (3.5)
dengan:
F = gaya yang dikerjakan pada pegas (N)
x = pertambahan panjang (m)
k = konstanta pegas (N/m)


Pada saat ditarik, pegas mengadakan gaya yang
besarnya sama dengan gaya tarikan tetapi arahnya
berlawanan
(Faksi = -Freaksi). Jika gaya ini disebut gaya pegas FP
maka gaya ini pun sebanding dengan pertambahan
panjang pegas.
Fp = -F
Fp = -k.x
(3.6)
dengan:
Fp = gaya pegas (N)
Berdasarkan persamaan (3.5) dan (3.6), Hukum
Hooke dapat dinyatakan:
Pada daerah elastisitas benda, besarnya pertambahan
panjang sebanding dengan gaya yang bekerja pada
benda.
Sifat pegas seperti ini banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya pada neraca pegas dan
pada kendaraan bermotor (pegas sebagai peredam
kejut).
2. Energi Potensial Elastisitas
Gaya F
a
berubah dari 0 ketika x=0 sampai
bernilai kx ketika pegas diregangkan atau
ditekan sejauh x.
Gaya rata-rata = F = (0 + kx) = kx. x
adalah jarak maksimum pegas yang
diregangkan atau ditekan. Usaha alias kerja
yang dilakukan adalah :
W = F
a
x = (1/2 kx) (x) = kx
2

Dengan demikian, nilai Energi Potensial elastis
adalah :
EP elastis = . K.x
2
atau W=.F.x

1. Sususan Seri
K
pengganti
=1/K
pengganti
= 1/K
1
+ 1/ K
2
++1/
K
N



2. Susunan Pararel
K
pengganti
= K
1
+K
2
+K
3
++K
N

Soal-Soal
Sebuah bola bermassa 100 gram
dilempar mendatar dengan
kelajuan 5 m/s. Kemudian bola
dipukul searah dengan arah
mula-mula. Bila lamanya bola
bersentuhan dengan pemukul 2
ms dan kecepatan bola setelah
meninggalkan pemukul 10 m/s,
besar gaya yang diberikan oleh
pemukul adalah

Pembahasan :
Diketahui :
m = 100 gram = 0,1 kg
v
o
= +5 m/s
t = 2 milisekon = 2 x 10
-3
sekon
v
t
= +10 m/s
Ditanya :
Gaya yang dikerjakan pemukul
pada bola (F) ?

Jawab :
Rumus impuls :
I = F t
Rumus perubahan momentum :

Teorema impuls-momentum :
Impuls = perubahan momentum

Sebuah bola bermassa 0,1 kg dilempar
horizontal ke kanan dengan kelajuan 20 m/s.
Setelah dipukul, bola bergerak ke kiri dengan
kelajuan 30 m/s. Impuls yang diberikan oleh
kayu pemukul pada bola adalah .

Pembahasan :
Diketahui :
m = 0,1 kg, v
o
= +20 m/s, v
t
= -30 m/s
Ditanya :
Impuls (I) ?
Jawab :
Impuls = perubahan momentum
I = m (v
t
v
o
) = (0,1)(-30 20) = (0,1)(-50) = -5 N
s

Sebuah balok 2 kg yang diam di atas lantai di tembak
dengan sebutir peluru bermassa 100 gram dengan
kecepatan 100 m/s.



Jika peluru menembus balok dan kecepatannya
berubah menjadi 50 m/s, tentukan kecepatan gerak
balok!

Pembahasan
Dengan menggunakan Hukum kekekalan momentum
Grafik (F-x)
menunjukkkan
hubungan antara gaya
dan pertambahan
panjang pegas.




Besar energi potensial
pegas berdasarkan
grafik diatas adalah....

Diketahui :
F = 40 N
X = 0,08 m
ditanya :
Ep : ?
Jawab:
Ep = . F . x
Ep = . 40 . 0,08
Ep = 1,6 Joule


Tiga buah pegas dirangkai
seperti gambar berikut
ini.




Jika konstanta pegas k
1
= k
2
=3
Nm
1
dan k
3
= 6
Nm
1
, maka konstanta susunan
pegas besarnya ...
Pembahasan :
Diketahui :
k
1
= k
2
=3 Nm
1
k
3
= 6 Nm
1
Ditanya :
Konstanta ketiga pegas?
Jawab :
k
1
= k
2
adalah susunan pararel
maka dari itu K
pengganti
=
K
1
+K
2

maka :
K
pengganti
= K
1
+K
2
= 3 + 3 = 6 (K
X
)
K
3
adalah susunan seri. Maka
total dari ketiga konstanta
tersebut adalah
1/K
pengganti
= 1/K
X
+ 1/K
3

= 1/6 + 1/6
= 1/ 12
K
pengganti
= 12 Nm
-1



Sebuah benda bermassa M = 1,90
kg diikat dengan pegas yang
ditanam pada sebuah dinding
seperti gambar dibawah! Benda M
kemudian ditembak dengan peluru
bermassa m = 0,10 kg.





Jika peluru tertahan di dalam balok
dan balok bergerak ke kiri hingga
berhenti sejauh x = 25 cm, tentukan
kecepatan peluru dan balok saat
mulai bergerak jika nilai konstanta
pegas adalah 200 N/m!
Pembahasan
Peluru berada di dalam balok,
sehingga kecepatan keduanya sama
besarnya, yaitu v.
Balok dan peluru ini punya energi
kinetik EK. Kenapa kemudian
berhenti? Karena dilawan oleh
gesekan pada lantai. Jadi
persamaan untuk kasus ini adalah :





Masuk datanya untuk mendapatkan
kecepatan awal gerak balok (dan
peluru di dalamnya) :