Anda di halaman 1dari 14

KEDUDUKAN KAIDAH FIQHIYAH SEBAGAI METODE ISTINBATH DALAM HUKUM

Di Susun oleh:

Tri Winarsih
10380050





JURUSAN MUAMALAT
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Untuk menetapkan hukum atas sebuah persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam maka jalan yang
ditempuh oleh para ulama untuk menetapkannya adalah dengan melihatnya dalam al-Quran, kalau
hal tersebut telah diatur dalam al-Quran, maka ditetapkanlah hukumnya sesuai dengan ketetapan
al-Quran. Dan apabila dalam al-Quran tidak ditemukan hukumnya, maka para ulama mencarinya
dalam-Al-Hadis. Apabila dalam al-Hadis telah diatur, maka para ulama menetapkan hukumnya sesuai
dengan ketentuan al-Hadis. Persoalan baru muncul adalah manakala hukum atas persoalan tersebut
tidak ditemukan dalam al-Quran dan juga dalam al-Hadis, sebab al-Quran dan al-Hadis adalah
merupakan sumber hukum pokok (primer) dalam ketentuan hukum Islam.
Dalam menghadapi kondisi yang seperti ini maka para ulama mencari sumber hukum lain yang dapat
dijadikan patokan dan pegangan dalam memberikan hukum atas persoalan yang timbul, sebab
sebagaimana diketahui bahwa agama Islam itu telah sempurna dan tidak akan ada lagi penambahan
hukum yang bersifat Syariyyah, hanya saja untuk menjawab persoalan-persoalan hukum yang
timbul di kemudian hari telah diberikan rambu-rambu dan ketentuan-ketentuan lainnya dalam
rangka memberikan hukum atas persoalan baru yang timbul.
Sumber hukum baru sebagaimana dimaksudkan di atas, para ulama berbeda pendapat dalam
menetapkannya. Ada yang berpendapat bahwa apabila suatu persoalan baru timbul dan itu tidak
diatur dalam al-Quran dan al-Hadis, maka dikembalikan kepada Ijma. Dalam hal kembali kepada
Ijma ini, para ulama nampaknya sepakat, hanya saja yang disepakati secara utuh dalam rangka
Ijma adalah Ijma yang bersumber dari al-Quran dan al-Hadis, sedangkan Ijma yang bersumber di
luar al-Quran dan al-Hadis, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang setuju dan
ada juga yang tidak setuju. Yang setuju dengan Ijmaberpendapat bahwa sesuai dengan hadis Nabi
yang menyebutkan bahwa, UmmatKu tidak akan bersepakat dalam hal kesesatan. Yang tidak setuju
dengan Ijma berpendapat bahwa Ijma itu adalah hasil pemikiran dan pendapat dari para Ulama,
yang namanya hasil pemikiran dan pendapat bisa salah dan juga bisa benar, oleh karena itu tidak
bisa dijadikan sebagai hukum yang pasti.
Apabila dalam ketiga hal tersebut di atas tidak juga ditemukan maka para ulama mengembalikannya
kepada sumber-sumber hukum yang lain seperti Qiyas, Istihsan, Istishab, Maslahah Mursalah dan
Syaru man Qablana. Untuk menetapkan sumber-sumber hukum Islam ini, selain para ulama
berbeda pendapat, mereka (para ulama) juga berbeda pendapat dalam menetapkan kaidah-
kaidahnya. Perbedaan dalam kaidah-kaidah ini secara otomatis akan menimbulkan perbedaan-
perbedaan dalam bidang produk hukum, sebab kaidah sangat menentukan produk hukum. Namun
satu hal yang pasti adalah kaidah-kaidah sangat menentukan dan sangat membantu seseorang
dalam mengistimbathkan hukum.
B. RUMUSAN MASALAH
Sehubungan dengan penulisan makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah yang ada.
1. Mengerti dan memahami pengertian kaidah fiqhiyah.
2. Mengerti dan memahami kedudukan kaidah fiqhiyah sebagai metode istinbath hukum
3. Mengerti dan memahami manfaatb adanya istinbath hukum di masa sekarang ini.

C. TUJUAN PEMBAHASAN
Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang bagaimana
kedudukan kaidah fiqhiyah sebagai metode istinbath hukum, juga agar alasan untuk memperkuat
makalah ini yaitu manfaat adanya metode ini sebagai salah satu sumber ijtihad hukum para ulama di
masa setelah Rosul sampai saat ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KAIDAH FIQHIYAH

Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut
dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Ahmad warson menembahkan bahwa,
kaidah bisa berarti al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda
(prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nahl
ayat 26 :
Allah akan menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya.
Secara terminologis, kaidah mempunyai beberapa arti. Dr. Ahmad Muhammad Asy-Syafii, dalam
bukunya Ushul Fiqh Islami menyatakan bahwa kaidah adalah : hukum yang bersifat universal (kulli)
yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juzi yang banyak.
Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul fiqh sebagaimana disebutkan oleh Drs. H. Muchlis
Usman, MA. mendefinisikan kaidah sebagai berikut : hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian
dengan sebagian besar bagian-bagiannya.
Sedangkan arti fiqhiyah diambil dari kata fiqh yang diberi tambahan ya nisbah yang berfungsi
sebagai penjenisan atau membangsakan. Secara etimologi makna fiqh lebih dekat kepada ilmu
sebagaimana yang banya dipahami oleh para sahabat, makna tersebut diambil dari firman Allah
: untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. Dan sabda Nabi Muhammad SAW:
barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya diberikan kepadanya kepahaman agama.
Sedangkan dalam arti istilah sebagaimana disebutkan Al-Jurjani Al-Hanafi, fiqh berarti : ilmu yang
menerangkan hukum-hukum syara yang amaliyah yang diambil dari dalil-dalil yang tafsili(terperinci),
dan diistinbathkan lewat ijtihad yang memerlukan analisa dan perenungan.
Dan masih banyak lagi definisi lain yang dikemukan oleh para ulama tentang definisi daripada fiqh.
Dari definisi-definisi tersebut, secara umum dapat disimpulkan bahwa makna fiqh itu adalah berkisar
pada rumusan sebagai berikut :
1. Fiqh merupakan bagian dari syariah.
2. Hukum yang dibahas mencakup hukum yang amali.
3. Objekhukum pada orang-orang mukallaf.
4. Sumber hukum berdasarkan Al Quran ataupun As Sunnah atau juga bisa dengan dalil lain yang
bersumber pada kedua sumber utamma tersebut.
5. Dilakukan dengan jalan istinbath atau juga dengan ijtihad sehingga kebenarannya kondisional
dan temporer adanya.
Berikut merupakan beberapa rumusan definisi yang telah dipetakan oleh para fuqoha. Hal ini bisa
ditarik kesimpulan bahwa kaidah fiqhiyah merupakan suatu perkara yag kulli yang bersesuaian
dengan juziyah yang banyak dari padanya di ketahui hukum-hukum juziyah itu. Pengertian ini
diungkapkan oleh Imam Tajuddin As Subki. Lain halnya yang dikemukakan oleh Dr. Mustafa Ahmad
Az Zarqa bahwasanya beliau menyimpulkan bahwa kaidah fiqhiyah yaitu dasar-dasar yang bertalian
dengan hukum syara yang bersifat mencakup(sebagian besar bagian-bagiannya ) dalam bentuk teks-
teks perundang-undangan yang ringkas yang mengandung penetapan hukum-hukum yang umum
pada peristiwa-peristiwa yang dapat dimasukkan pada permasalahannya.

B. SEJARAH PERKEMBANGAN KAIDAH FIQHIYAH
Sejarah perkembangan dan penyusunan Qawaidul Fiqhiyah diklarifikasikan menjadi 3 fase, yaitu :
1. Fase pertumbuhan dan pembentukan
Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih. Dari zaman kerasulan
hingga abad ke-3 hijrah. Periode ini dari segi pase sejarahhukumi islam, dapat dibagi menjadi tiga
zaman Nabi muhammad SAW, yang berlangsung selama 22 tahun lebih (610-632 H / 12 SH-10 H),
dan zaman tabiin serta tabi tabiin yang berlangsung selama 250 tahun (724-974 M / 100-351 H).
Tahun 351 H / 1974 M, dianggap sebagai zaman kejumudan, karena tidak ada lagi ulama pendiri
maazhab. Ulama pendiri mazhab terakhir adalah Ibn Jarir al-Thabari (310 H / 734 M), yang
mendirikan mazhab jaririyah.
Dengan demikian, ketika fiqh telah mencapai puncak kejayaan, kaidah fiqh baru dibentuk dab
ditumbuhkan. Ciri-ciri kaidah fiqh yuang dominan adalah Jawami al-Kalim (kalimat ringkas tapi
cakupan maknnya sangat luas). Atas dasar ciri dominan tersebut, ulama menetapkan bahwa hadits
yang mempunyai ciri-ciri tersebut dapat dijadikan kaidah fiqh. Oleh karena itulah periodesasi sejarah
kaidah fiqih dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Sabda Nabi Muhammad SAW, yang jawami al-Kalim dapat ditinjau dari dua segi, yaitu :
a. Segi sumber : Ia adalah hadits, oleh karena itu, ia menjadi dalil hukum islam yang tidak
mengandung al-Mustasnayat
b. Segi cakupan makna dan bentuk kalimat : Ia dikatakan sebagai kaidah fiqh karena kalimatnya
ringkas, tapi cakupan maknanya luas.
Beberapa sabda Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai kaidah fiqh, yaitu :pajak itu disertai
imbalan jaminan, Tidak boleh menyulitkan (orang lain) dan tidak boleh dipersulitkan.
Demikian beberapa sabda Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai kaidah fiqh. Generasi
berikutnya adalah generasi sahabat, sahabat berjasa dalam ilmu kaidah fiqh, karena turut serta
membentuk kaidah fiqh. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan, yaitu
mereka adalah murid Rasulullah SAW dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan
terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka.
Generasi berikutnya adalah tabiin dan tabi tabiin selama 250 tahun. Diantara ulama yang
mengembangkan kaidah fiqh pada generasi tabiin adalah Abu Yusuf Yakub ibn Ibrahim (113-182),
dengan karyanya yang terkenal kitab Al-Kharaj, kaidah-kaidah yang disusun adalah : Harta setiap
yang meninggal yang tidak memiliki ahli waris diserahkan ke Bait al- mal
Kaidah tersebut berkenaan dengan pembagian harta pusaka Baitul Mal sebagai salah satu lembaga
ekonomi umat Islam dapat menerima harta peninggalan (tirkah atau mauruts), apabila yang
meninggal dunia tidak memiliki ahli waris. Ulama berikutnya yang mengembangkan kaidah fiqh
adalah Imam Asy-Syafii, yang hidup pada fase kedua abad kedua hijriah (150-204 H), salah satu
kaidah yang dibentuknya, yaitu : Sesuatu yangh dibolehkan dalah keadaan terpaksa adalah tidak
diperbolehkan ketika tidak terpaksa. Ulama berikutnya yaitu Imam Ahmad bin Hambal (W. 241 H),
diantara kaidah yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hambal, yaitu : Setiap yang dibolehkan untuk
dijual, maka dibolehkan untuk dihibahkan dan digadaikan
2. Fase perkembangan dan kodifikasi
Dalah sejarah hukum islam, abad IV H, dikenal sebagai zaman taqlid. Pada zaman ini, sebagian besar
ulama melakukan tarjih (penguatan-penguatan) pendapat imam mazhabnya masing-masing. Usaha
kodifikasi kaidah-kaidah fiqhiyah bertujuan agar kaidah-kaidah itu bisa berguna bagi perkembangan
ilmu fiqh pada masa-masa berikutnya.
Pada abad VIII H, dikenal sebagai zaman keemasan dalam kodifikasi kaidah fiqh, karena
perkembangan kodifikasi kaidah fiqh begitu pesat. Buku-buku kaidah fiqh terpenting dan termasyhur
abad ini adalah :
a. Al-Asybah wa al-Nazhair, karya ibn wakil al-Syafii (W. 716 H)
b. Kitab al-Qawaid, karya al-Maqarri al-maliki (W. 750 H)
c. Al-Majmu al-Mudzhab fi Dhabh Qawaid al-Mazhab, karya al-Alai al-Syafii (W. 761 H)
d. Al-Qawaid fi al-Fiqh, karya ibn rajab al-Hambali (W. 795 H)

3. Fase kematangan dan penyempurnaan
Abad X H dianggap sebagai periode kesempurnaan kaidah fiqh, meskipun demikian tidak berarti
tidak ada lagi perbaikan-perbaikan kaidah fiqh pada zaman sesudahnya. Salah satu kaidah yang
disempurnakan di abad XIII H adalah seseorang tidak dibolehkan mengelola harta orang lain,
kecuali ada izin dari pemiliknya
Kaidah tersebut disempurnakan dengan mengubah kata-kata idznih menjadi idzn. Oleh karena itu
kaidah fiqh tersebut adalah : seseorang tidak diperbolehkan mengelola harta orang lain tanpa izin.

C. PEMBAGIAN KAIDAH FIQHIYAH
1. Kaidah fiqh menurut fungsinya
Dari segi fungsi, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sentral dan marginal. Kaidah fiqh
yang berperan sentral, karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. Kaidah
ini dikenal sebagai al-Qawaid al-Kubra al-Asasiyyat, umpamanya :
Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum
kaidah ini mempunyai beberapa turunan kaidah yang berperan marginal, diantaranya :
Sesuatu yang dikenal secara kebiasaan seperti sesuatu yang telah ditentukan sebagai syarat
Sesuatu yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan seperti ditetapkan dengan naskh
Dengan demikian, kaidah yang berfungsi marginal adalah kaidah yang cakupannya lebih atau bahkan
sangat sempit sehingga tidak dihadapkan dengan furu.
2. Kaidah fiqh mustasnayat
Dari sumber pengecualian, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : kaidah yang tidak
memiliki pengecualian dan yang mempunyai pengecualian.
Kaidah fiqh yang tidak punya pengecualian adalah sabda Nabi Muhammad SAW. Umpamanya adalah
: Bukti dibebankan kepada penggugat dan sumpah dibebankan kepada tergugat
Kaidah fiqh lainnya adalah kaidah yang mempunyai pengecualian kaidah yang tergolong pada
kelompok yang terutama diikhtilafkan oleh ulama.
3. Kaidah fiqh segi kwalitasnya
a. Kaidah kunci
Kaidah kunci yang dimaksud adalah bahwa seluruh kaidah fiqh pada dasarnya, dapat dikembalikan
kepada satu kaidah, yaitu : Menolak kerusakan (kejelekan) dan mendapatkan maslahat
Kaidah diatas merupakan kaidah kunci, karena pembentukan kaidah fiqh adalah upaya agar
manusia terhindar dari kesulitan dan dengan sendirinya ia mendapatkan kemaslahatan.
b. Kaidah asasi
Adalah kaidah fiqh yang tingkat kesahihannya diakui oleh seluruh aliran hukum islam. Kaidah fiqh
tersebut adalah : Perbuatan / perkara itu bergantung pada niatnya
Kenyakinan tidak hilang dengan keraguan
Kesulitan mendatangkan kemudahan
Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum
c. Kaidah fiqh yang diterima oleh semua aliran hukum sunni
Kaidah fiqh yang diterima oleh semua aliran hukum sunni adalah majallah al-Ahkam al-Adliyyat,
kaidah ini dibuat di abad XIX M, oleh lajnah fuqaha usmaniah.
D. KEGUNAAN KAIDAH FIQHIYAH
Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibn Abbas Salam menyatakan bahwa Kaidah Fiqhiyah mempunyai
kegunaan sebagai suatu jalan untuk mendapat suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta
bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. Sedangkan Al-Qarafi dalam al-Furunya menulis
bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang kepada kaidah fiqhiyah, karena
jika tidak berpegang pada kaidah itu maka hasil ijtihadnya banyak bertentangan dan berbeda antara
furu-furu itu. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu-furunya.
Lebih lanjut berbicara tentang kegunaan Kaidah Fiqhiyah ini adalah sebagaimana disebutkan oleh Ali
Ahmad al-Nadwi sebagai berikut :
1. Mempermudah dalam menguasai materi hukum karena kaidah telah dijadikan patokan yang
mencakup banyak persoalan.
2. Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan,
karena kaidah dapat mengelompokkan persoalan-persoalan berdasarkan illat yang dikandungnya.
3. Mendidik orang yang berbakat fiqih dalam melakukan analogi (ilhaq) dan tahkrij untuk
mengetahui hukum permasalahan-permasalahan baru.
4. Mempermudah orang yang berbakat fiqh dalam mengikuti(memahami) bagian-bagian hukum
dengan mengeluarkannya dari thema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topik
tertentu.
5. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hukum dibentuk untuk
menegakkan maslahat yang saling berdekatan ataupun menegakkan maslahat yang lebih besar.
6. Pengetahuan tentang kaidah merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara
memahami furu yang bermacam-macam.
Demikian kegunaan kaidah yang disampaikan oleh Ali Ahmad al-Nadwi. Secara sederhana, kegunaan
kaidah fiqh adalah sebagai pengikat (ringkasan) terhadap beberapa persoalan fiqh. Menguasai suatu
kaidah berarti menguasai sekian bab fiqh. Oleh karena itu, mempelajari kaidah dapat memudahkan
orang yang berbakat fiqh dalam menguasai persoalan-persoalan yang menjadi cakupan fiqh.
E. URGENSI KAIDAH FIQHIYAH
Kaidah fiqh dikatakan penting dilihat dari dua sudut :
1. Dari sudut sumber, kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan
menguasai muqasid al-Syariat, karena dengan mendalami beberapa nashsh, ulama dapat
menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan
2. Dari segi istinbath al-ahkam, kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum
terjadi. Oleh karena itu, kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan
persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya.
Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan
hokum terhadap berbagai macam undang-undang, baik mengenai perdata, pidana, ekonomi dan
undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip
umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang.
Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas, maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-
kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu menjadi beberapa kelompok.
Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah, para mujtahid merasa lebih mudah dalam
mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di
bawah lingkup satu kaidah.
Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah
fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan
serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis
bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah, karena
jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara
furu-furu itu. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furunya dan
mudah dipahami oleh pengikutnya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kaidah Fiqhiyah (hukum) adalah dasar-dasar yang bertalian dengan hukum syara yang bersifat
mencakup (sebahagian besar bahagian-bahagiannya) dalam bentuk teks-teks perundang-undangan
yang ringkas (singkat padat) yang mengandung penetapan hukum-hukum yang umum pada
peristiwa-peristiwa yang dapat dimasukkan pada permasalahannya.
Sejarah Perkembangan Kaidah Fiqhiyah mengalami tiga fase, yaitu Fase Pertumbuhan dan
Pembentukan (1-3 H); Fase Perkembangan dan Kodifikasi dan Fase Kematangan dan
Penyempurnaan.
Kaidah Fiqhiyah memiliki kegunaan yang sangat besar bagi ahli fiqh sebab kaidah fiqh adalah sebagai
pengikat (ringkasan) terhadap beberapa persoalan fiqh. Menguasain suatu kaidah berarti menguasai
sekian bab fiqh.
Kaidah Fiqhiyah dapat dibagi kepada tiga bahagian besar, yaitu Kaidah Fiqh dari segi fungsinya;
Kaidah Fiqh dari segi Mustasnayatnya (pengecualaiannya); dan Kaidah Fiqh dari segi Kualitasnya.
Dari sudut sumber, kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan
menguasai muqasid al-Syariat, karena dengan mendalami beberapa nashsh, ulama dapat
menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan
Dari segi istinbath al-ahkam, kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum
terjadi. Oleh karena itu, kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan
persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya.
B. SARAN
Penulis tulisan ini hanya manusia yang dangkal ilmunya, yang hanya mengandalkan buku referensi
dan beberapa data dari internet. Maka dari itu penulis menyarankan agar para pembaca yang ingin
mendalami masalah kedudukan kaidah fiqhiyah dijadikan sebagai metode istinbath hukum, agar
setelah membaca makalah ini, juga membaca sumber-sumber lain yang lebih lengkap, tidak hanya
sebatas membaca makalh ini saja. Penulis sadar bahwa dalam penulisan terdapat kesalahan baik
yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun juga
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini.





KAIDAH-KAIDAH HUKUM ISLAM

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.
Pendahuluan
Untuk menetapkan hukum atas sebuah persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam
maka jalan yang ditempuh oleh para ulama untuk menetapkannya adalah dengan
melihatnya dalam al-Quran, kalau hal tersebut telah diatur dalam al-Quran, maka
ditetapkanlah hukumnya sesuai dengan ketetapan al-Quran. Dan apabila dalam al-
Quran tidak ditemukan hukumnya, maka para ulama mencarinya dalam-Al-Hadis.
Apabila dalam al-Hadis telah diatur, maka para ulama menetapkan hukumnya sesuai
dengan ketentuan al-Hadis. Persoalan baru muncul adalah manakala hukum atas
persoalan tersebut tidak ditemukan dalam al-Quran dan juga dalam al-Hadis, sebab al-
Quran dan al-Hadis adalah merupakan sumber hukum pokok (primer) dalam ketentuan
hukum Islam.Dalam menghadapi kondisi yang seperti ini maka para ulama mencari
sumber hukum lain yang dapat dijadikan patokan dan pegangan dalam memberikan
hukum atas persoalan yang timbul, sebab sebagaimana diketahui bahwa agama Islam
itu telah sempurna dan tidak akan ada lagi penambahan hukum yang bersifat
Syariyyah, hanya saja untuk menjawab persoalan-persoalan hukum yang timbul di
kemudian hari telah diberikan rambu-rambu dan ketentuan-ketentuan lainnya dalam
rangka memberikan hukum atas persoalan baru yang timbul.
Sumber hukum baru sebagaimana dimaksudkan di atas, para ulama berbeda pendapat
dalam menetapkannya. Ada yang berpendapat bahwa apabila suatu persoalan baru
timbul dan itu tidak diatur dalam al-Quran dan al-Hadis, maka dikembalikan kepada
Ijma. Dalam hal kembali kepada Ijma ini, para ulama nampaknya sepakat, hanya saja
yang disepakati secara utuh dalam rangka Ijma adalah Ijma yang bersumber dari al-
Quran dan al-Hadis, sedangkan Ijma yang bersumber di luar al-Quran dan al-Hadis,
terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang setuju dan ada juga yang
tidak setuju. Yang setuju dengan Ijma berpendapat bahwa sesuai dengan hadis Nabi
yang menyebutkan bahwa, UmmatKu tidak akan bersepakat dalam hal kesesatan.
Yang tidak setuju dengan Ijma berpendapat bahwa Ijma itu adalah hasil pemikiran dan
pendapat dari para Ulama, yang namanya hasil pemikiran dan pendapat bisa salah dan
juga bisa benar, oleh karena itu tidak bisa dijadikan sebagai hukum yang pasti.
Apabila dalam ketiga hal tersebut di atas tidak juga ditemukan maka para ulama
mengembalikannya kepada sumber-sumber hukum yang lain seperti Qiyas, Istihsan,
Istishab, Maslahah Mursalah dan Syaru man Qablana. Untuk menetapkan sumber-
sumber hukum Islam ini, selain para ulama berbeda pendapat, mereka (para ulama)
juga berbeda pendapat dalam menetapkan kaidah-kaidahnya. Perbedaan dalam kaidah-
kaidah ini secara otomatis akan menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam bidang
produk hukum, sebab kaidah sangat menentukan produk hukum. Namun satu hal yang
pasti adalah kaidah-kaidah sangat menentukan dan sangat membantu seseorang dalam
mengistimbathkan hukum.
Atas dasar hal-hal tersebut di atas, maka penulis merasa berkepentingan untuk
membahas tentang Kaidah-Kaidah Fiqhiyah (Hukum) sebagai suatu alat bantu dalam
mengistimbathkan hukum Islam. Kaidah-Kaidah ini ditelorkan oleh para ulama-ulama
mujtahid pelopor mazhab-mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii,
Imam Hambali dan imam-imam lainnya yang cukup banyak, hanya saja mazhab-
mazhabnya tidak berkembang lagi pada masa sekarang ini. Para imam-imam ini
mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam menetapkan ataupun mengistinbathkan
hukum atas suatu persoalan yang timbul.
Pengertian Qaidah Fiqhiyah
Qaidah dalam bahan Indonesia dikenal dengan istilah kaidah (sesuai dengan judul
makalah) yang berarti aturan atau patokan. Secara terminologis, kaidah mempunyai
beberapa arti. Dr. Ahmad Muhammad Asy-Syafii, dalam bukunya Ushul Fiqh Islami
menyatakan bahwa kaidah adalah :
Artinya : Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum
juzi yang banyak.
Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul fiqh sebagaimana disebutkan oleh Drs. H.
Muchlis Usman, MA. mendefinisikan kaidah sebagai berikut :
Artinya : Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagian-
bagiannya.
Sedangkan arti fiqhiyah diambil dari kata fiqh yang diberi tambahan ya nisbah yang
berfungsi sebagai penjenisan atau membangsakan. Secara etimologi makna fiqh lebih
dekat kepada ilmu sebagaimana yang banya dipahami oleh para sahabat, makna
tersebut diambil dari firman Allah :
Artinya : Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. Dan sabda Nabi
Muhammad SAW :
Artinya : Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya diberikan kepadanya
kepahaman agama.
Sedangkan dalam arti istilah sebagaimana disebutkan Al-Jurjani Al-Hanafi, fiqh berarti :
Artinya : Ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara yang amaliyah yang diambil dari
dalil-dalil yang tafshili (terperinci), dan diistinbathkan lewat ijtihad yang memerlukan
analisa dan perenungan.
Dan masih banyak lagi definisi lain yang dikemukan oleh para ulama tentang definisi
daripada fiqh. Dari definisi-definisi tersebut, secara umum dapat disimpulkan bahwa
makna fiqh itu adalah berkisar pada rumusan sebagai berikut :
1. Fiqh merupakan bahagian dari syariah.2. Hukum yang dibahas mencakup hukum
yang amali.3. Obyek hukum pada orang-orang mukallaf.4. Sumber hukum berdasarkan
al-Quran atau As-Sunnah atau dalil lain yang bersumber pada kedua sumber utama
tersebut.5. Dilakukan dengan jalan istinbath atau ijtihad sehingga kebenarannya
kondisional dan temporer adanya.
Dari ulasan tersebut di atas, baik poengertian kaidah maupun pengertian fiqh, maka
yang dimaksud dengan Kaidah Fiqhiyah adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam
Tajuddin As-Subki, sebagai berikut :
Artinya : Suatu perkara yang kulli yang bersesuaian dengan juziyah yang banyak yang
daripadanya diketahui hukum-hukum juziyat itu.
Ataupun pengertian Kaidah Fiqhiyah itu adalah sebagaimana disebutkan oleh Dr.
Mustafa Ahmad Az-Zarqa sebagai berikut :
Artinya : Dasar-dasar yang bertalian dengan hukum syara yang bersifat mencakup
(sebahagian besar bahagian-bahagiannya) dalam bentuk teks-teks perundang-
undangan yang ringkas (singkat padat) yang mengandung penetapan hukum-hukum
yang umum pada peristiwa-peristiwa yang dapat dimasukkan pada permasalahannya.
Kaidah Fiqhiyah sebagaimana tersebut dalam pembahasan di atas adalah berfungsi
untuk memudahkan para mujtahid atau para fuqoha yang ingin mengistinbathkan
hukum yang bersesuaian dengan tujuan syara dan kemaslahatan manusia. Oleh
karena itulah maka sangat tepat apabila pembahasan tentang Kaidah Fiqhiyah ataupun
Kaidah Hukum termasuk dalam pembahasan Filsafat Hukum Islam, sebab Filsafat
Hukum Islam adalah sebuah metode berpikir untuk menetapkan hukum Islam dan
sekaligus mencari jawaban ada apa yang terkandung dibalik hukum Islam itu sendiri.
Selain dikenal adanya istilah Kaidah Fiqh, dikenal juga istilah Kaidah Ushul Fiqh. Para
ulama membedakan pengertian dari kedua istilah ini, sebab Kaidah Fiqh adalah satu
ilmu yang berdiri sendiri pada satu pihak dan Kaidah Ushul Fiqh juga adalah merupakan
satu ilmu yang berdiri sendiri di lain pihak. Ibnu Taimiyah membedakan di antara kedua
ilmu ini yaitu, Kaidah Ushul Fiqh adalah dalil-dalil yang umum (ad-Dilalatu al-Ammah),
sedangkan Kaidah Fiqh adalah patokan hukum secara umum (Ibaratu an ahkam al-
ammah).
Kegunaan Kaidah Fiqh
Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibn Abbas Salam menyatakan bahwa Kaidah Fiqhiyah
mempunyai kegunaan sebagai suatu jalan untuk mendapat suatu kemaslahatan dan
menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. Sedangkan Al-
Qarafi dalam al-Furunya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya
tanpa berpegang kepada kaidah fiqhiyah, karena jika tidak berpegang pada kaidah itu
maka hasil ijtihadnya banyak bertentangan dan berbeda antara furu-furu itu. Dengan
berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu-furunya.
Lebih lanjut berbicara tentang kegunaan Kaidah Fiqhiyah ini adalah sebagaimana
disebutkan oleh Ali Ahmad al-Nadwi sebagai berikut :
1. Mempermudah dalam menguasai materi hukum karena kaidah telah dijadikan
patokan yang mencakup banyak persoalan.2. Kaidah membantu menjaga dan
menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan, karena kaidah dapat
mengelompokkan persoalan-persoalan berdasarkan illat yang dikandungnya.3.
Mendidik orang yang berbakat fiqih dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk
mengetahui hukum permasalahan-permasalahan baru.4. Mempermudah orang yang
berbakat fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hukum dengan
mengeluarkannya dari thema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topik
tertentu.5. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa
hukum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan
maslahat yang lebih besar.6. Pengetahuan tentang kaidah merupakan kemestian
karena kaidah mempermudah cara memahami furu yang bermacam-macam.
Demikian kegunaan kaidah yang disampaikan oleh Ali Ahmad al-Nadwi. Secara
sederhana, kegunaan kaidah fiqh adalah sebagai pengikat (ringkasan) terhadap
beberapa persoalan fiqh. Menguasai suatu kaidah berarti menguasai sekian bab fiqh.
Oleh karena itu, mempelajari kaidah dapat memudahkan orang yang berbakat fiqh
dalam menguasai persoalan-persoalan yang menjadi cakupan fiqh.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Asjmuni, Prof. Drs. H., Qawaid Fiqhiyah : Arti, Sejarah dan Beberapa
Qaidah Kulliyah, (Yogyakarta : Suara Muahammadiyah, 2003).Al-Jauziyyah, Ibnu
Qoyyim, Ilamu al-Muwaqqiien An Rabbi al-Alamien, (Beirut : Darul Jail, t.t), III. An-
Nadwi, Ali Ahmad, Al-Qowaidul Fiqhiyah, Mafhumuha, Nisyaatuha, Tathowwuruha,
dirasatu Muallifatiha, adillatuha, Muhimmatuha, Tathbiqatuha, (Damaskus, Daru al-
Qalam, 1414 H / 1994 M).Mahmashshanni, Subhi, Falsafatu al-Tasyri al-Islami, (Beirut :
Darul Ilmi Lil Malayin, 1961).Mubarok, Jaih, Kaidah Fiqh, Sejarah dan Kaidah Asasi,
(Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002).Mujib, Abdul, Drs. H., Kaidah-Kaidah Ilmu
Fiqih : Al-Qawaidul Fiqhiyyah, (Jakarta : Kalam Mulia, 2004). Usman, Muchlis, Drs. MA.
H., Kaidah-Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah : Pedoman Dasar Dalam Istinbath Hukum
Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002).