Anda di halaman 1dari 45

Module Course Enrichment :

MODEL BISNIS DAN MANAJEMEN SKALA USAHA KECIL :

PRODUK TANAMAN TROPIS

DAN MANAJEMEN SKALA USAHA KECIL : PRODUK TANAMAN TROPIS Oleh : Wayan Widia UNUD- USAID TROPICAL

Oleh :

Wayan Widia

UNUD- USAID TROPICAL CURRICULUM PROJECT

2012

1

DISCLAIMER

possible by the generous

support of the American people through the United States Agency for International Development (USAID).

This

publication

is

made

The contents are the responsibility of Texas A&M University and Udayana University as the USAID Tropical Plant

Curriculum Project

the views of USAID or the United States Government.

necessarily reect

partners

and

do

not

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Agribisnis Skala Usaha Kecil : Permasalahan dan Tantangan

Fakta empiris menunjukkan bahwa sebagain besar usahatani di Indonesia berskala usaha kecil, yang umumnya dilakukan oleh rakyat. Atas dasar itu pulalah, dikatakan sebagai usaha pertanian rakyat atau usaha sekala kecil. Hasil penelitian Suparta (2001) dan Ibrahim (2001), melaporkan bahwa 46.2%, petani menguasai lahan dibawah 0,5 Ha, dan 26.2%, antara 0,5 – 1.0 Ha. Hal ini mengindikasikan bahwa petani dalam berusaha sangat dibatasi oleh kepemilikan akan luas lahan. Dalam kondisi seperti ini, jika petani tidak pintar memilih jenis komoditi yang dibudidayakannya, betapa pun besarnya kemauan mengembangkan usaha, sulit baginya untuk mengumpulkan modal usaha secara memadai dari perolehan hasil usahataninya. Petani pada umumnya sangat terbatas dalam pemilikan modal usaha. Mereka merasa sangat sulit mengakses bantuan modal dari lembaga keuangan formal seperti perbankan. Faktor pembatasnya adalah tidak punya agunan, prosedur terasa sulit, takut dengan resiko usaha, dan terbatasnya informasi dan komunikasi. Mereka merasa lebih aman mendapatkan modal usaha dari perusahaan inti melalui cara hubungan kemitraan. Dilain pihak, ditinjau dari sisi pendidikan, tingkat pendidikan petani kita masih sangat rendah (sebagain besar SD sampai SMP). Keadaan seperti ini kurang mampu menumbuhkan hasrat untuk lebih berinovasi dalam memelihara usahanya. Usaha pertanian rakyat umumnya mempunyai berbagai keterbatasan, seperti skala usaha kecil, modal usaha sangat terbatas, menggunakan teknologi sederhana, kulitas produksi masih rendah, kontinuitas tidak terjamin sehingga para pelakunya kurang responsif dalam menghadapi situasi pasar dan pemasaran yang berubah secara dinamis. Kecilnya skala usahatani ini mengakibatkan lemahnya posisi tawar (bargaining position) sehingga pada gilirannya mereka hanya bisa berusaha dalam kondisi kegureman dengan ruang pengambilan keputusan yang sangat sempit, kurang mampu mengakses kredit komersial, lemah dalam pemasaran dan kurang mampu melakukan alih teknologi dan informasi. Menurut hasil penelitian para pakar agribisnis, hingga saat ini di Indonesia belum terjalin kerjasama kemitraan yang serasi di antara pelaku sistem agribisnis. Struktur agribisnis masih dipersal yakni tidak adanya hubungan organisasi fungsional antara setiap tingkatan usaha, hubungan bisnis bersifat tidak langsung dan impersonal yang hanya diikat dan dikoordinir oleh mekanisme pasar. Struktur sistem bisnis semacam ini menyebabkan tidak terjaminnya kualitas dan kuantitas produk pertanian sesuai dengan permintaan pasar.

2

Permasalahan yang bersifat struktural ini memberi peluang semakin berkembangnya asosiasi pengusaha horizontal yang bersifat asimetri dan cendrung berfungsi sebagai kartel yang memiliki kekuasaan monopsonistik (menekan harga yang diterima petani), dan monopolistik (menjual dengan harga tinggi kepada konsumen). Masing-masing pelaku subsistem ingin memburu rente ekonomi yang sebanyak-banyaknya atas prilaku subsistem lainnya. Dalam kondidi seperti ini, marjin usaha akan akan lebih banyak dinikmati oleh subsistem agribisnis hulu maupun hilir, sedangkan susbsistem usaha tani berada pada posisi tertekan, sehingga memperoleh bagian marjin hanya sebagain kecil saja.

Menurut Saragih dalam Suparta (2005), permasalahan struktural sistem bisnis usaha pertanian pada prinsipnya dapat diatasi jika semua pemangku kepentingan mempunyai komitmen yang sama dalam memajukan sektor agribisnis. Agribisnis skala usaha kecil yang eksis hingga saat ini di Indonesia harus mampu ditingkatkan menjadi skala ekonomis. Peningkatan skala ekonomi (ecoonnic of scale) salah satunya dapat dilakukan melalui pembentukan kelompok tani, koperasi atau program kemitraan usaha lainnya. Agar para pelaku yang bermitra mendapat keuntungan yang proporsional, maka cara pandang terhadap agribisnis harus diubah. Agribisnis tidak lagi hanya dipandang sebagai suatu unit usahatani (mikro) saja, melainkan sebagai sebuah kegiatan yang bekerja dengan prinsip-prinsip korporasi dalam sebuah sistem bisnis yang terstruktur. Dengan pengertian lain, aktivitas-aktivitas agribisnis adalah suatu sistem bisnis yang terdiri dari beberapa susbsistem, dimana antara satu subsistem dengan subsistem lainnya saling terkait dan terpadu untuk memperoleh nilai tambah yang maksimal bagi para pelakunya. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa pemilihan komoditi yang akan diusahakannya harus berbasis pada kebutuhan yang besar dan permintaan pasar yang luas. Dalam rangka memuaskan pemenuhan akan permintaan pasar, perencanaan usaha-usaha gribisnis perlu memperhatikan aspek-aspek terkait pemilihan sentra produksi yang memungkinkan terpadunya agro-ekosistem dan peluang pasar, skala usaha dan keterkaitan secara terpadu antar subsistem dalam sistem agribisnis. Dari sudut pandang ini, sistem agribisnis merupakan sistem usaha di bidang pertanian yang terdiri dari beberapa subsistem, yaitu : (a) subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi, (b) sub sistem usaha tani (c) subsistem pengelohanan hasil pertanian atau agroindustri, (d) subsistem pemasaran hasil pertanian, dan (e) subsistem pendukung usaha.

1.2 Konsep Sistem dan Keterpaduan Usaha Agribisnis

Konsep agribisnis modern pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1955, ketika John H. Davis menggunakan istilah agribisnis dalam makalahnya yang disampaikan pada Boston Conference on Distribution.

3

Selanjutnya John H. Davis dan Ray Golberg dalam bukunya yang berjudul A Conception of Agribusiness pada tahun 1957 di Harvard University, memberikan pengertian agribisnis sebagai berikut :

Agribusiness is the sum total of all operation involved in the manufacture and distribution of farm supplies, production operations on the farm, and the storage, processing, and distribution of farm commodities and items made from them.”

Pengertian senada juga dikemukakan oleh Downey dan Ericson di era tahun 1990- an. Menurut pandangannya, agribisnis meliputi keseluruhan kegiatan manajemen bisnis mulai dari perusahaan yang menghasilkan sarana produksi untuk usaha tani, proses produksi pertanian, serta perusahaan yang menangani pengolahan, pengangkutan, penyebaran, penjualan secara borongan maupun penjualan eceran produk kepada konsumen akhir. Kedua pengertian tersebut, menggambarkan bahwa, agribisnis merupakan suatu sistem, dan atau suatu entitas, yang tersusun dari sekumpulan subsistem yang bergerak secara bersama-sama dan saling tergatung untuk mencapai tujuan bersama. Sistem agribisnis menekankan adanya kebersamaan dan saling ketergatungan antara subsistem untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini sejalan dengan pandangan Hafsah (1999) dan Adjid (1998), yang mengemukakan bahwa agribisnis adalah kegiatan usaha di bidang pertanian yang berwatak bisnis, pelakunya secara konsisten berupaya meraih nilai tambah komersial dan finansial yang berkesinambungan untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan pasar. Pengertian ini menggambarkan bahwa agribisnis sebagai suatu perusahaan (enterprises). Bertitik tolak dari konsep sistem yang dilontarkan oleh para pakar agribisnis, Departemen Pertanian (2001), memberikan pengertian konsep sistem dan usaha agribisnis, yakni subsistem hulu (perusahaan pengadaan dan penyaluran sarana produksi), subsistem agribisnis tengah (perusahaan usaha tani), subsistem agribisnis hilir (perusahaan pengolahan hasil atau agroindustri dan perusahaan pemasaran hasil), serta subsistem penunjang (lembaga keuangan, transportasi,penuluhan dan pelayanan informasi agribisnis, penelitian kaji terap, kebijakan pemerintah, dan asuransi agribisnis). Masing-masing merupakan perusahaan agribisnis yang harus dapat bekerja secara efisien, dan selanjutnya harus melakukan koordinasi (kebersamaan dan saling ketergantungan) dalam suatu sistem untuk lebih meningkatkan efisiensi usaha. Subsistem jasa penunjang berkewajiban nemfasilitasi berjalannya sistem agribisnis tersebut. Atas dasar pemahaman tersebut di atas, maka dapat dirumsukan bahwa konsep sistem agribisnis, yakni keseluruhan aktivitas bisnis di bidang pertanian yang saling terkait dan saling tergantung satu sama lainnya, mulai dari : (1) subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi, (2) subsistem usahatani, (3)

4

subsistem pengolahan dan penyimpanan hasil (agroindustri), (4) subsistem pemasaran, dan (5) subsistem jasa penunjang. (Gambar 1). Sistem itu harus mampu mengatur dirinya sendiri dan mampu menyesuaikan dirinya dengan kondisi lingkungan maupun internal sistem secara otomatis.

Subsistem Subsistem Perusahaan Subsistem Perusahaan Subsistem Pengadaan dan Perusahaan Pemasaran Hasil Perusahaan
Subsistem
Subsistem
Perusahaan
Subsistem
Perusahaan
Subsistem
Pengadaan dan
Perusahaan
Pemasaran Hasil
Perusahaan
Penyaluran Sarana
Pengolahan Hasil
:
Produksi
Produksi :
(Agroindustri) :
Usahatani :
Perdagangan
 Bibit
Penangan pasca
domestik
 Pangan
 Pupuk
penen
Perdagangan
 Hortikultura
 Pakan
Pengolahan
ekspor
 Ternak
 Obatan-obatan
lanjutan
 Alat dan Mesin
 Teknologi
Subsistem Jasa Penunjang :
 Pengaturan, Penelitian, Penyuluhan, Informasi Kredit
Modal, Transportasi, Asuransi agribisnis, Pasar

Gambar 1 . Konsep Sistem dan Keterpaduan Usaha Agribisnis (sumber : Antara, 2009)

Berdasarkan formulasi sistem pada Gambar 1, struktur sistem agribisnis yang disarankan adalah struktur agribisnis-industrial atau disebut juga dengan istilah sistem bisnis yang dibentuk dengan pendekatan integrasi vertikal Menurut Saragih (1998), pembentukan struktur ini dapat dilakukan sedikitnya dengan tiga cara yaitu : (1) berupa pola koperasi agribisnis, (2) pola usaha patungan, dan (3) pola pemilikan tunggal. Dengan demikian, petani mempunyai akses untuk menikmati nilai tambah yang besar yang ada pada sub sektor agribisnis hulu dan hilir. Keberhasilan pengembangan agribisnis sangat ditentukan oleh kerjasama tim (team work) sumber daya manusia yang terlibat dalam sistem. Kunci keberhasilan kerjasama tim adalah setiap SDM yang terlibat dalam agibisnis, disamping memiliki prilaku yang cukup di bidang pekerjaannya (on the job skill), harus juga mempunyai prilaku positif tentang posisi dirinya dalam perusahaan

5

agribisnis, posisi perusahaannya dalam integrasi vertikal agribisnis, serta wawasan ekonomi secara makro. Dengan demikian akan terjalin suatu kerjasama yang solid dan berdaya guna dalam pengembanagan usaha. Konsep perusahaan dimunculkan dalam sistem agribisnis dimunculkan untuk mengubah paradigma petani, yang mana petani adalah sebagai manajer perusahaan agribisnis, yang berkedudukan setara dengan perusahaan agribisnis yang berada di hulu maupun hilir. Petani dibina untuk memahami kebutuhan pasar, mampu bersinergi dengan perusahaan agribisnis lain untuk memproduksi barang yang dibutuhkan pasar. Jika hal ini dapat dilakukannya, maka impian untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani akan semakin cepat terwujud. Masing-masing komponen pelaku perusahan agribisnis biasanya membagi diri dalam fungsi dan tugasnya, namun tetap bersinergi untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Integrasi vertikal antar perusahan agribisnis yang berbeda pemilikannya sering diwujudkan dalam bentuk’’kemitraan usaha’’,atau jika pemiliknya sama disebut ’’perusahaan terintegrasi’’ (intergrated business company) Subsistem perusahan agribisnis hulu berfungsi menghasilkan dan menyediakan sarana produksi pertanian terbaik agar mampu menghasilkan produk usahatani yang berkualitas, melakukan pelayanan yang bermutu kepada usahatani, memberikan bimbingan teknis produksi, memberikan bimbingan manajemen dan hubungan sistem agribisnis, memfasilitasi proses pembelajaran atau pelatihan bagi petani, menyaring dan memsintesis informasi agribisnis praktis untuk petani, mengembangkan kerjasama bisnis (kemitraan) yang dapat memberikan keuntungan bagi para pihak. Subsistem perusahaan usahatani sebagai produsen pertanian berfungsi melakukan kegiatan teknis produksi agar produknya dapat dipertanggung jawabkan baik secara kualitas maupun kuantitas, mampu melakukan manajemen agribisnis secara baik agar proses produksinya menjadi efisien sehingga mampu bersaing di pasar. karena itu, petani umumnya memerlukan penyuluhan dan informasi agribisnis, teknologi dan inovasi lainnya dalam proses produksi, bimbingan teknis atau pendampingan agar petani dapat melakukan proses produksi secara efesien dan bernilai tambah lebih tinggi. Subsistem perusahan agribisnis hilir berfungsi melakukan pengolahan lanjut (baik tingkat primer, sekunder, maupun tersier) untuk mengurangi susut nilai atau meningkatkan mutu produk agar dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen, serta berfungsi pemperlancar pemasaran hasil melalui perencanaan sistem pemasaran yang baik. Subsistem jasa penunjang (penyuluhan, penelitian, informasi agribisnis, pengaturan, kredit modal, transportasi,dll) secara aktif ataupun pasif berfungsi menyediakan lanyanan bagi kebutuhan pelaku sistim agribisnisuntuk memperlancar aktivitas perusahan dari sistim agribisnis. Masing-masing

6

komponen jasa penunjang itu mempunyai karakteristik fungsi yang berbeda, namun intinya adalah agar rmereka dapat berbuat sesuatu untuk mengurangi beban dan meningkatkan kelancaran penyelenggaraan sistem agribisnis. Dalam jangka panjang diharapkan agribisnis yang berbasis pada komoditas tanaman tropis dikembangkan dengan lebih menekankan pada prinsip- prinisp aroindustrialisasi serta menghasilkan produk sesuai dengan permintaan pasar. Hampir setiap komoditas pertanian memiliki spesifikasi karakteristik biologis dan alur bisnis yang berbeda-beda. Berikut ini adalah contoh struktur sistem agribisnis yang dikembangkan untuk komoditas sayuran saat ini (Gambar

2).

Subsistem Bagan Alir dalam Sistem Agribisnis Agribisnis Pembibitan/ Pestisida Peembenihan Pupuk Pengadaan
Subsistem
Bagan Alir dalam Sistem Agribisnis
Agribisnis
Pembibitan/
Pestisida
Peembenihan
Pupuk
Pengadaan
Peralatan
Sarana Produksi
Kios-Tani-Kios Tani
Budidaya
Usahatani
Usahatani Rakyat
Perusahaan
Penanganan
Pengolahan
Pasca Panen
Hasil
Pedagang
Pengolahan
Pengepul
Sederhana
Pedagang Antar
Pasar Umum
Pasar Swalayan
Pulau
Pemasaran
dan Distribusi
Restoran,
Warung
Industri
Catering Service
Makan
Pengolahan
Konsumen

Gambar 2. Struktur Sistem Agribisnis Komoditas Sayuran Saat ini (sumber : Suparta, 2005)

7

1.3 Strategi Pengembangan

Pengelolaan agribisnis-agroindustrial yang berorientasi pasar atau disebut juga agribisnis modern, haruslah diusahakan secara terintegrasi dari hulu sampai ke hilir yang dikoodinir dan dipersatukan menjadi satu kesatuan organisasi bisnis yang kuat dari seluruh lapisan terkait (petani, pengusaha, peneliti pakar, lembaga pembiayaan, lembaga penelitian dan pemerintah) agar nilai tambah pertanian dapat dinikmati secara proporsional oleh masing-masing pelaku bisnis.

Ruang lingkup sistem agribisnis modern terbentuk oleh beberapa sub- sistem bisnis, yaitu :

1. Sub-sistem Agribisnis Hulu Agribisnis yang menangani faktor produksi dan sarana untuk usaha tani, dikenal juga dengan agribisnis input

2. Sub-sistem Agribisnis Usaha Tani Agribisnis yang melakukan usaha pemanenan energi surya melalui proses fotosintesis, dikenal juga dengan agribisnis produksi.

3. Sub-sistem Agribisnis Hilir Agribisnis yang mengolah output/hasil produksi agribisnis, dikenal juga dengan agribisnis proses dan manufaktur

4. Sub-sistem Agribisnis Pendukung Seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis, dikenal dengan agribisnis jasa, misal, jasa penyewaan Alsintan

Fungsi dan ruang lingkup sistem agribisnis modern bila dianggap perlu masih dapat dikembangkan lagi dengan strategi pengintegrasian. Strategi pengintegrasian ini bisa dialakuakn melalui dua pola, yaitu pola integrasi vertikal dan pola integrasi horizontal. Adanya pengintegrasian ini mengakibatkan adanya perluasan keterkaiatan di sepanjang mata rantai proses yang membentuk semacam close-loop supplay chain. Disetiap mata rantai proses terdapat peluang untuk menambah nilai produk melalui sentuhan inovasi dan kreatifitas tertentu. Andaikan pengembangan sistem dilakukan dengan model dua dimensi maka akan ada pengembangan sumbu X dan pengembangan sumbu Y. Skema pengembangan sistem agribisnis modern yang dimaksud dapat dilihat pada Gambar 3.

8

Integrasi Hulu & Left Side linkage Integrasi Hulu & Right Side linkage Left Side On
Integrasi Hulu &
Left Side linkage
Integrasi Hulu &
Right Side linkage
Left Side
On Farm
Right Side
Integrasi Hilir &
Left Side linkage
Integrasi Hilir &
Right Side linkage
Hulu (Backward)
Hilir (Forward)

Gambar 3. Strategi Pengembangan Sistem Agribisnis Modern

Berdasarkan sumbu X, pengembangan sistem agribisnis dapat dilakukan dengan integrasi horisontal. Model ini merupakan strategi untuk mengendalikan para pesaing dan dapat dikaitakan melalui dua cara, yaitu :

Terkait ke sisi kanan (right side linkage) Mengintegasikan beberapa perusahaan yang merupakan pesaing langsung karena memiliki alur sistem agribisnis hulu-hilir yang sama, tujuannya adalah meniadakan persaingan dan menguasai akses pasar. Misalnya integrasi sesama agribisnis sesama penyedia input pertanian

Terkait ke sisi kiri (left side linkage):

Mengintegrasikan beberapa perusahaan yang bukan merupakan pesaing langsung tetapi saling berkompetisi sebagai produk komplementer atau sebagai produk substitusi, tujuannya adalah meminimalkan persaingan dan menguasai pasar. Misalnya agribisnis daging sapi dengan agribisnis telur dan daging ayam.

Berdasarkan sumbu Y, pengembangan sistem agribisnis dapat dilakukan dengan strategi integrasi vertikal. Model ini merupakan strategi perusahaan untuk menguasai alur sistem agribisnis dari hulu sampai hilir, mulai dari pemasok bahan baku hingga distribusi pemasaran. Integrasi dapat dilakukan dengan cara merjer, akuisisi, atau membuat perusahaan tersendiri yang dapat dikaitkan melalui empat cara, yaitu :

9

Integrasi hulu–on farm atau terkait kebelakang (backward linkage) Mengembangkan sistem agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu dengan agribisnis on farm. Tujuannya adalah agar lebih menguasai bahan baku, faktor produksi dan sarana penunjang produksi.

Integrasi on farm- hilir atau terkait kedepan (forward linkage) Mengembangkan sistem agibisnis dengan menggabungkan agribisnis on farm dengan agribisnis hilir. Tujuannya adalah agar lebih dekat ke konsumen.

Integrasi hulu – on farm – hilir atau integrasi terkait dari belakang hingga depan (backward-forward linkage). Mengembangan sistem agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu, agribisnis on farm dan agribisnis hilir. Tujuannya adalah menguasai bahan baku dan lebih dekat ke konsumen.

Integrasi satu alur (hulu – on farm – hilir – penunjang) atau integrasi penuh (full integration) Mengembangkan sistem agribisnis yang mengintegrasikan agribisnis hulu, on farm, hilir dan penunjang. Tujuannya menguasai satu sistem agribisnis hulu-hilir.

Untuk mudahnya, pengembangan sistem agribisnis modern dapat digambarkan dalam bentuk dua dimensi dimana usaha tani sebagai titik pangkal (0,0), sumbu vertikal Y merupakan alur hulu-hilir untuk pengembangan terkait kebelakang dan kedepan (backward-forward linkage). Sumbu horizontal X merupakan persaingan langsung – tidak langsung untuk pengembangan kekanan dan kekiri (right-left side linkage

Apapun strategi yang dikembangkan dalam medesain model bisnis dalam sistem agribisnis modern tidak serta merta bisa berjalan. Ada dua parameter lingkungan bisnis yang mencirikan sistem agribisnis modern bisa beroperasi stabil, yaitu

1. Responsif terhadap lingkungan bisnis yang terus berubah

2. Senantiasa mendengarkan suara pelanggan (voice customer)

Kedua parameter lingkungan bisnis tersebut hanya bisa teradopsi (melekat) ke dalam sistem, jika setiap entitas (pelaku bisnis) yang tergabung didalamnya mempunyai kesamaan dalam cara pandang dan budaya dalam memelihara kompetensi untuk bersaing.

10

BAB II PEMBERDAYAAN AGRIBISNIS SKALA USAHA KECIL MELALUI KEMITRAAN USAHA

2.1 Prinsip dan Konsep Dasar Kemitraan Usaha

Usaha sekala kecil dan koperasi merupakan bagian terbesar sekaligus pilar penopang utama perekonomian nasional harus diberikan peluang dan peran lebih besar agar mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Permasalahan mendasar yang ada pada usaha kecil dan koperasi adalah kurangnya kemampuan manajemen dan profesionalisme serta terbatasnya akses terhadap permodalan, teknologi dan jaringan pemasaran. Salah satu upaya yang dianggap tepat untuk memecahkan masalah kesenjangan ini adalah melalui kemitraan usaha. Kemitraan usaha dapat dibangun antara yang usaha besar dan yang kecil, antara yang usaha yang kuat dan yang lemah. Sesuai dengan amanat undang-undang tentang usaha kecil, kemitraan harus di bangun atas landasan saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memperkuat dengan fungsi dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan dan proposi yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam kemitraan tersebut. Dalam wacana pembangunan nasional, kemitraan usaha antara pengusaha kecil dengan pengusaha besar diharapkan dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi, penyebaran tenaga kerja, pemeratan pendapatan, dan mengembangkan pertumbuhan pembangunan regional. Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan, saling menguntungkan dan saling menguatkan. Karena merupakan strategis bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat di tentukan oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Para pelaku bisnis harus memiliki dasar-dasar etika bisnis yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Semakin kuat pemahaman serta penerapan etika bisnis bagi pelaku kemitraan maka semakin kokoh landasan kemitraan yang dibangunnya sehingga pada gilirannya akan memudahkan pelaksanakan kemitraan usaha itu sendiri. Pada dasarnya falsafah mendasar dari kemitraan usaha adalah kebersamaan dan pemerataan. Kemitraan akan selalu dibutuhkan selama tuntutan pemerataan belum teratasi. Kemitraan merupakan proses jangka panjang yang berubah secara dinamis untuk memenuhi harapan dan kebutuhan dari seluruh pelaku kemitraan. Misalnya, melalui kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahan kecil dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pangsa pasar, meningkatkan keuntungan, sama-sama menanggung risiko menjamin pasokan bahan baku serta menjamin distribusi pemasaran.

11

Mariotti, J.L (1999) mengemukakan bahwa terdapat enam dasar yang dianggap mencerminkan etika bisnis, yaitu :

Karakter, integritas dan kejujuran. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dalam kemitraam diperlukan orang-orang yang mempunyai karakter kuat dan tidak mudah putus asa. Integritas adalah sikap bertindak jujur dan benar, satunya kata dengan perbuatan. Kemitraan yang dibangun dengan integritas terpuji akan menghasilkan bangunan kemitraan yang kokoh dan tidak mudah tergoyahkan. Kejujuran adalah ketulusan hati yang merupakan sikap dasar yang dimiliki manusia. Kemitraan yang diawali oleh kejujuran akan merupakan awal terbentunya transparasi dalam segala manifestasinya.

Kepercayaan. Kepercayaan adalah anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercaya itu benar-benar atau nyata. Kepercayaan yang teguh terhadap seseorang atau mitra merupakan modal dasar dalam menjalin bisnis. Kemitraan umumnya di mulai atas dasar sikap saling mempercayaai. Kegagalan membangun kemitraan biasanya dimulai dari sikap yang saling mencurigai dan akhirnya saling tidak percaya.

Komunikasi yang terbuka. Komunikasi yang terbuka merupakan rangkaian proses dimana sesuatu informasi atau gagasan dipertukarkan secara transparan. Kemitraan senantiasan berkembang sesuai dengan tantangan dan maslahnya, agar kemitraan eksis bertahan maka kemitraan selelu memerlukan ide, gagasan dan informasi yang terus berkembang.

Adil. Adil diartikan sebagai tidak berat sebelah atau tidak memihak, atau bersikap sama atau seimbang terhadap semua orang. Kemitraan yang dilandasi sikap adil menunjukkan adanya pengorbanan dari pihak yang bermitra dalam mendapatkan keuntungan yang yang lebih besar.

Keinginan pribadi dari pihak yang bermitra. Dalam kemitran pasti ada suatu nilai tambah yang ingin diraih oleh masing-masing pihak yang bermitra. Nilai tambah tidak selalu diwujudkan dalam bentuk nilai ekonomi, tetapi juga non-ekonomi seperti peningkatan kemampuan manajemen, penguasaan teknologi dan kepuasan tertentu.

Keseimbangan antara insentif dan resiko. Di antara pihak yang bermitra harus ada keinginan untuk memiliki beban resiko yang dihadapi bersama selain menikmati keuntungan secara bersama. Keinginan untuk

12

mengambil resiko dari suatu usaha kemitraan dapat diartikan sebagai awal dari keberhasilan kemitraan usaha.

Pemberdayaan

agribisnis

skala

usaha

kecil

melalui

pengembangan

kemitraan usaha memungkinan untuk meraih sejumlah manfaat, yaitu :

Peningkatkan produktivitas. Produktivitas dalam sistem produksi didefinsikan sebagai output dibagi dengan input. produktivitas akan meningkat apabila dengan input yang sama akan diperoleh hasil yang lebih tinggi atau sebaliknya dengan hasil yang sama hanya membutuhkan input yang lebih rendah. Bagi perusahaan yang lebih besar, peningkatan produktivitas dilakukan dengan cara mengurangi faktor input adan atau meningkatkan produksi dengan sumberdaya yang sama. Bagi perusahaan kecil/petani, peningkatan produktivitas biasanya dilakukan secara simultan yakni menambah unsur input baik kualitas maupun kuantitasnya dalam jumlah tertentu tetapi diharapkan akan memperoleh output dalam jumlah yang berlipat. Bagi perusahaan/petani yang berkelompok dapat meningkatkan produktivitas dengan cara menekan faktor input melalui penggunaan input secara bersama (misalnya penggunaan traktor bersama milik kelompok, pemeliharaan irigasi/subak, penjualan secara bersama, dll).

Peningkatan efisiensi. Efisiensi terjadi bila output tertentu dapat dicapai dengan input yang minimum. Dipandang dari sudut penggunaan tenaga kerja, efisiensi adalah jumlah waktu yang sebenarnya digunakan dibagi dengan standar waktu yang telah ditetapkan atau output yang dihasilkan dibagi dengan standar output yang telah ditetapkan. Efisiensi dan produktivitas bagaikan mata uang dengan sisi yang berbeda yang keduanya dapat ditingkatkan dengan meminimumkan penggunaan input. Contoh dalam bidang usaha tani,perusahaan besar menyediakan alat mesin pertanian/teknologi sehingga petani dapat mempercepat dan memperluas areal tanam dengan tenaga kerja yang tersedia, disi lain produksi plasma dapat meningkat mencapai hasil yang diharapkan sesuai kapasitas produksi yang ditargetkan.

Jaminan kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Produk akhir dari suatu kemitraan usaha ditentukan oleh dapat tidaknya diterima oleh pasar, indikator adalah adanya kesesuaian mutu yang diinginkan oleh konsumen. Loyalitas konsumen akan dicapai apabila ada jaminan mutu dari suatu produk. Misalnya, salah satu sistem penjaminan mutu yang dipersyaratkan bagi produk-produk hasil pertanian adalah HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang menerapkan suatu standar mutu tidak hanya pada hasilnya tetapin juga pada proses produksinya. Untuk dapat dicapainya

13

jaminan mutu secara berkesinambungan maka satu-satunyaalternatif adalah terjadinya kemitraan industri hulu dan industri hilir.Disamping kualitas, kuantitas juga harus dapat ,memenuhi kebutuhan atau permintaan pelanggan, serta terjaga kontinuitasnya sehingga mampu menjaga kredibilitas produsen. Hal ini memerlukan manajemen yang mantap, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta memerlukan prosedur operasional yang konsisten.

2.2

Membagi resiko. Dalam kemitraan diharapkan resiko yang besar dapat ditanggung bersama (risk sharing), tentunya secara proporsional sesuai dengan besarnya modal dan keuntungan yang akan diperoleh. Risk sharing mengandung makna senasib sepenanggungan sehingga eksistensi perusahaan yang bermitra menjadi besar.

Bentuk Kemitraan dan Pola Pengembangannya

Pada dasarnya maksud dan tujuan pembentukan kemitraan usaha adalah win-win solution partnership, artinya diharapkan terjadinya posisi tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing pihak yang bermitra. Ciri hubungannya bukan sebagai buruh dan majikan atau atasan bawahan melainkan pembagian resiko dan keuntungan secara proporsional. Asas kemitraan adalah saling membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah No.44 tentang kemitraan, disarankan bahwa perusahaan bermitra berkewajiban berbagi informasi tentang peluang kemitraan dan melakukan pembinaan kepada plasmanya pada aspek-aspek pemasaran, pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia, permodalan, manajemen agribisnis, dan teknologi. Sedangkan kelompok mitra berkeajiban untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan kinerja usahanya secara berkelanjutan serta memanfaatkan dengan sebaik-baiknya berbagai pembinaan dan bantuan yang diberikan oleh inti.

Jenis-jenis kemitraan yang dapat dikembangkan dalam rangka pemberdayaan agribisnis skala usaha kecil, yaitu :

Pola Inti Plasma. Pola inti plasma adalah pola hubungan kemitraan usaha antara kelompok mitra usaha sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra. Misalnya, Pola PIR, dimana perusahaan inti menyediakan sarana produksi, bimbingan teknis dan manajemen, menampung, mengolah dan memasarkan hasil rpoduksi, sedangkan mitra usaha plasma melakukan budidaya sesuai dengan standar operasional prosedur yang disepakati,

14

sehingga hasil produksi yang didapat dapat memenuhi baik kuantitas maupun kualitas yang diharapkan.

Pola Sub Kontrak. Pola sub kontrak merupakan pola hubungan kemitraan usaha antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha yang memperoduksi barang yang diperlukan oleh perusahaan sebagai bagian dari komponen produksinya. Ciri khas bentuk sub kontrak ini adalah membuat kontrak bersama yang mencantumkan volume, harga dan waktu penyerahan.

Pola Dagang Umum. Pola dagang umum merupakan pola hubungan kemitraan usaha yang memasarkan hasil dengan kelompok usaha yang mensuplai kebutuhan perusahaan mitra. Contohnya adalah kemitraan antara produsen sayuran/buah-buahan dengan toko swalayan. Keuntungan pola ini adalah adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahannya adalah memerlukan mosal kuta serta pengusaha kecil sering lebih dirugikan.

Pola Keagenan. Pola keagenan merupakan salah satu bentuk hubungan kemitraan dimana usaha kecil di beri hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa dari usaha menengah atas usaha besar sebagai mitranya.

Pola Waralaba. Pola waralaba merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok usaha mitra usaha dengan perusahaan mitra usaha yang memberikan hal lisensi, merek dagang, saluran distribusi perusahaannya kepada kelompok mitra usaha sebagai penerima waralaba yang disertai dengan bantuan bimbingan manajemen. Perusahaan mitra usaha sebagai pemilik waralaba bertanggunjawab terhadap sistem operasi, pelatihan, program pemasaran, merek dagang, dan hal-hal lainnya kepada mitra usahanya, sedangkan mitra usaha pedagang usaha waralaba hanya mengikuti pola yang telah ditetapkan oleh pemilik waralaba serta memberikan royalti dan biaya lainnya terkait dengan kegiatan usaha tersebut.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membangun kemitraan usaha antara lain, yaitu :

Mengenal dan memilih calon mitra. Pengenalan calon mitra merupakan awal keberhasilan proses membangun kemitraan. Memilih calon mitra membutuhkan waktu karena harus benar-benar diyakini, karena itu diperlukan informasi secara lebih lengkap.

Memahami kondisi bisnis pihak bermitra. Kondisi bisnis calon mitra harus benar-benar diperhatikan terutama kemampuan dalam manajemen,

15

pengusaan pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya manusia. Kondisi bisnis pihak yang bermitra harus dinilai secara jujur dan realistis terutama dalam mengidentifikai faktor-faktor kunci yang membawa sukses.

Mengembangkan strategi dan menilai detail bisnis. Strategi yang direncanakan bersama meliputi strategi dalam pemasaran, distribusi, operasional dan informasi. Strategi disusun berdasarkan informasi mengenai keunggulan dan kelemahan bisnis dari pihak yang bermitra. Penilaian detail juga dilakukan terhadap besarnya produk yang dihasilkan, sasaran pembelinya, pangsa pasarnya, dan metode distribusinya.

Memonitor dan mengevalusi kinerja. Pelaksanaan kemitraan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati perlu dimonitor terus menerus agar target yang ingin dicapai benar-benar menjadi kenyataan, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi untuk perbaikan secara terus-menerus (continous improvement).

Pola kemitraan usaha dapat dibangun mulai dari tahapan pemula hingga menjadi tahapan kemitraan utama. Sebagai ilustrasi dapat ditunjukkan seperti pada skema sebagai berikut :

Pembina/ Fasilitator Perusahaan Koperasi/ Besar Kemitraan Usaha Kecil
Pembina/
Fasilitator
Perusahaan
Koperasi/
Besar
Kemitraan
Usaha
Kecil

Modal

Sarana produksi

Alat dan Mesin

Manajemen

Teknologi

Gambar 4. Pola Kemitraan Sederhana (Pemula)

16

Pembina/ Fasilitator Perusahaan Koperasi/ Besar Usaha Kemitraan Kecil  Alat dan Mesin  Sarana produksi
Pembina/
Fasilitator
Perusahaan
Koperasi/
Besar
Usaha
Kemitraan
Kecil
 Alat dan Mesin
 Sarana produksi
 Agroindustri
 Manajemen
 Pemasaran
 Permodalan

Teknologi

Gambar 5. Pola Kemitraan Tahap Madya

Pembina/ Fasilitator Konsultan Pengembangan Bisnis
Pembina/ Fasilitator Konsultan Pengembangan Bisnis

Pembina/

Fasilitator

Pembina/ Fasilitator Konsultan Pengembangan Bisnis
Pembina/ Fasilitator Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis

Konsultan

Pengembangan

Bisnis

Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Konsultan Pengembangan Bisnis
Perusahaan Besar
Perusahaan
Besar
Konsultan Pengembangan Bisnis Perusahaan Besar Koperasi/ Usaha Kecil Kemitraan saham Gambar 6. Pola
Koperasi/ Usaha Kecil
Koperasi/
Usaha
Kecil

Kemitraan saham

Gambar 6. Pola Kemitraan Tahap Utama

17

BAB III KEMITRAAN USAHA DALAM MODEL KLASTER BISNIS BERBASIS KOMODITI UNGGULAN

3.1 Konsep Pembentukan Klaster Bisnis

Michael Porter (1998) mendefinsikan klaster sebagai konsentrasi perusahaan dan institusi (pemasok, pelanggan, kompetitor dan institusi pendukung lainnya seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, institusi keuangan dan dinas pelayanan umum) yang terkait satu sama lainnya pada bidang industri tertentu. Manfaat klaster selain mengurangi biaya transportasi dan transaksi,juga meningkatkan efisiensi, menciptakan aset kolektif, dan memungkinkan terciptanya inovasi. Lihat Gambar 6.

dan memungkinkan terciptanya inovasi. Lihat Gambar 6. Gambar 7. Konsep pembentukan klaster dan daya saing bisnis

Gambar 7. Konsep pembentukan klaster dan daya saing bisnis

Pembentukan klaster menjadi issue yang penting karena secara individual Agribisnis Skala Usaha Kecil seringkali tidak sanggup menangkap peluang pasar yang membutuhkan jumlah volume produksi yang besar, standar yang homogen dan penyerahan yang teratur. Perusahaan kecil seringkali mengalami kesulitan mencapai skala ekonomis dalam pembelian input (seperti peralatan dan bahan baku) dan akses jasa-jasa keuangan dan konsultasi.

18

Ukuran kecil juga menjadi suatu hambatan yang signifikan untuk internalisasi beberapa fungsi pendukung penting seperti pelatihan, penelitian pasar, logistik dan inovasi teknologi; demikian pula dapat menghambat pembagian kerja antar perusahaan yang khusus dan efektif secara keseluruhan fungsi-fungsi tersebut merupakan inti dinamika perusahaan. Beberapa contoh keuntungan yang dapat ditarik dari sebuah kerjasama dalam klaster bsinsi adalah:

1. Melalui kerjasama horisontal, misalnya bersama usaha kecil lain menempati posisi yang sama dalam mata rantai nilai (value chain) secara kolektif perusahaan-perusahaan dapat mencapai skala ekonomis melampaui jangkauan perusahaan kecil secara individual.

2. Melalui integrasi vertikal (dengan usaha kecil lainnya maupun dengan perusahaan besar dalam mata rantai pasokan), perusahaan-perusahaan dapat memfokuskan diri ke bisnis intinya dan memberi peluang pembagian tenaga kerja eksternal.

3. Kerjasama antar perusahaan juga memberikan kesempatan tumbuhnya ruang belajar secara kolektif untuk meningkatkan kualitas produk dan pindah ke segmen pasar yang lebih menguntungkan. Jaringan bisnis tersebut dan perumus kebijakan lokal,dapat mendukung pembentukan suatu visi pengembangan lokal bersama dan memperkuat tindakan kolektif untuk meningkatkan daya saing usaha kecil.

Dengan demikian klaster bisnis yang efektif adalah yang dapat menjadi alat yang baik untuk mengatasi hambatan akibat ukuran usaha kecil dan berhasil mengatasi persaingan dalam suatu lingkungan pasar yang semakin kompetitif. Konsep klaster bisnis merupakan salah satu strategi yang dinilai sangat tepat meningkatkan daya saing industri berbasis pertanian yang berkelanjutan. Upaya ini mengelompokkan industri inti yang saling berhubungan, baik dengan industri pendukung (supporting industries) maupun industri terkait (related industries). Model klaster ini cocok dikembangkan pada komoditas unggulan yang dicirikan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pohon industri yang lengkap, spekturum penggunaannya sangat luas, daya serap tenaga kerja yang tinggi, teknologi budidaya yang mudah, masa tanam yang pendek atau biaya produksi per unitnya rendah. Contohnya, adalah pengembangan klaster industri rumput laut di 60 daerah di Indonesia.

3.2 Model Kluster Bisnis Berbasis Komoditi Unggulan

Sistem agribisnis berbasis komoditi adalah kesatun sub-sistem bisnis yang dibentuk berdasarkan konsep pohon industri. Artinya, komoditi spesifik yang menjadi basis pengembangan dalam sistem agribisnis memiliki potensi

19

dikembangkan menjadi berbagai siub-sistem bisnis yang menghasilkan produk turunan baik produk pangan maupun non-pangan. Contoh lain dari komoditi hasil pertanian yang berpotensi dikembangkan menjadi sistem agribisnis berbasis komoditi adalah komoditi lidah buaya (Aloevera). Tanaman lidah buaya dapat diolah menjadi makanan dan minimum atau dikepsor dalam bentuk pelepah segar ke negara tetangga seperti Singapura, Malysia dan Brunei Darusalama. Hasil olahan yang terbatas dan ekspor dalam bentuk bahan baku hanya memberikan sedikit nilai tambah. Nilai tambah akan diperoleh jika tanaman lidah buaya diolah menjadi produk yang dibutuhkan industri sebagai bahan baku industri lanjutan. Adapun industri lanjutan dari tanaman lidah buaya dapat dilihat pada Gambar

lanjutan dari tanaman lidah buaya dapat dilihat pada Gambar Gambar 8. Pohon industri tanaman lidah buaya

Gambar 8. Pohon industri tanaman lidah buaya (Aloevera)

Apabila komoditi tersebut akan dikembangkan pengusahaannya, maka sebaiknya industri yang memproduksi gel ataupun tepung harus memiliki kontinuitas ketersediaan bahan baku (pelepah segar). Kondisi tersebut dapat tercapai jika industri dan budidaya terkait secara langsung dalam suatu klaster bisnis. Adanya klaster bisnis yang mengkaitkan industri dan budidaya yang didukung dengan kehadiran institusi yang kuat, diantaranya akan dapat mencegah terjadinya perebutan bahan baku yang dapat berakibat mematikan industri hilir. Kondisi tersebut justru akan memberikan jaminan kepastian pasar bagi hasil panennya selain dimungkinkan adanya bantuan sarana produksi dan

20

pendampingan dalam penggunaan teknologi. Agribisnis dengan berbasis tanaman lidah buaya dimaksud adalah pengusahaan komoditi lidah buaya mulai dari budidaya, agroindustri (industri pengolahan) dan pemasaran hasil produk akhirnya.

21

BAB IV STUDI AWAL PERANCANGAN SISTEM BISNIS KOMODITI BAMBU TABAH

4.1 Potensi Usaha Budidaya Tabah Tabah

Bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata (Buese) Kurz.)mempunyai batang yang sifatnya simpodial atau berumpun. Panjang buluh dapat mencapai sekitar 10 m dan ujungnya melengkung, dengan garis tengahnya sekitar 3 – 6 cm. Tebal buluhnya mencapai 6 mm, dengan warna buluh hijau sampai hijau tua, ruas batang mencapai 30 – 50 cm dengan pelepah buluh panjangnya 11 – 18 cm tetap melekat pada buluhnya, pelepah buluh bagian luar ditumbuhi oleh miang (bulu- bulu halus) yang melekat berwarna coklat hitam, pelepah mudah luruh (Gambar

melekat berwarna coklat hitam, pelepah mudah luruh (Gambar Gambar 9. Perawakan bambu tabah ( Gigantochloa

Gambar 9. Perawakan bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz)

Di Indonesia nama jenis bambu ini tergantung dari daerah tempat tumbuhnya, di Jawa disebut dengan bambu lengka, dan beberapa tumbuh di daerah Sukabumi sedangkan di Bali disebut bambu tabah. Masyarakat Bali menyebut tabah karena rebungnya rasa hambar tidak pahit, tidak seperti rebung betung. Rebung dipanen pada saat musim hujan, maksud dari pemanenan rebung

22

disamping dapat digunakan untuk konsumsi, juga bermaksud untuk penjarangan rumpun, agar rumpun bambu dapat dijaga, sehingga kualitas buluhnya maksimal. Rebung bambu tabah dapat dipanen setelah rumpunnya berumur 3 tahun. Panen dilakukan 2 x dalam seminggu pada saat musim hujan. Rebung dipanen 3 hari setelah ujung rebung muncul diatas permukaan tanah atau rebung mencapai tinggi 30 – 50 cm, untuk jenis Dendrocalamus asper. Rebung yang dipanen pada rumpun bambu yang telah berumur 2 – 3 tahun, yaitu rebung yang tumbuh melebihi 10 rebung setiap musim. Rebung dipanen ketika mencapai tinggi 15 cm. Rebung yang dipanen diatas permukaan tanah akan berbeda apabila di panen pada saat masih di dalam tanah. Bambu memang dapat tumbuh dimana-mana pada segala jenis tanah. Namun, jika budi daya untuk tujuan memperoleh rebung yang bagus, maka bambu tersebut sebaiknya ditanam pada tanah ringan, sedikit berpasir, dan tanah yang subur. Dengan demikian, pembentukan rebung sebagai tujuan utama budi daya menjadi lebih optimal. Bambu dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah pada ketinggian 0-2000 m diatas permukaan laut. Bahkan, bambu dapat tumbuh pada tanah marginal yang kurang subur sekalipun. Bambu termasuk jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan sangat cepat. Dalam waktu sekitar 3 tahun sejak ditanam, sebatang bambu sudah dapat membentuk rumpun yang sangat rapat. Pembentukan rebung erat kaitannya dengan kondisi tanah. Jenis tanah yang paling ideal untuk budi daya rebung bambu rebung adalh tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Budi daya bambu pada tanah yang gembur dan kaya organik dapat menghasilkan rebung yang besar dan gemuk. Disamping itu, bambu yang ditanam untuk tujuan menghasilkan membutuhkan curah hujan yang cukup tinggi untuk merangsang keluarnyarebung. Curah hujan yang dibutuhkan adalah sekitar 1200 mm per tahun atau minimal 10 mm per bulan. Sedangkan kelembaban udara yang dibutuhkan sekitar 50-80 persen. Bambu tabah dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai di tempat-tempat pada ketinggian 600 m diatas permukaan laut dan juga dapat tumbuh pada daerah tropis yang lembab disepanjang sungai dengan ketinggian 1000 m diatas permukaan laut. Bambu ini juga dapat tumbuh dengan baik pada tipe tanah latosol dengan curah hujan hingga 3,000 mm. Bambu yang menghasilkan rebung dengan kandungan HCN rendah dan enak untuk dikonsumsi diantaranya adalah bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu temen (Gigantochloa verticillata), bambu kuning (Dendrocalamus litiforus) dan bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz). Semua pelepah rebung bambu tabah berwarna coklat muda sampai hijau ke abu-abuan, tertutup miang berwarna hitam tersebar tidak merata. Warna daun pelepah buluh pada ujung rebung berwarna coklat muda sampai hijau. Perbedaan warna pelepah tersebut tergantung dari pertumbuhan dan cara panen rebung tersebut. Apabila rebung dipanen pada saat masih di dalam tanah, warna pelepah coklat muda, serta

23

daging rebung berwarna putih. Perawakan rebung bambu tabah Gambar 10.

disajikan pada

Perawakan rebung bambu tabah Gambar 10. disajikan pada Gambar 10. Perawakan rebung bambu tabah Rebung sangat

Gambar 10. Perawakan rebung bambu tabah

Rebung sangat digemari di samping rasanya enak, mengandung nilai nutrisi tinggi. Berdasarkan kajian Kencana (2004), rebung bambu tabah mempunyai komposisi : air (92,2 %), protein (2,29 %), lemak (0,23 %), pati (1,68), serat (3,07 %) dari 100 g bahan segar. Keunggulan lain dari rebung bambu tabah disbanding rebung lainnya adalah kandungan HCNnya jauh lebih rendah. Kencana (1991) menginformasikan rebung betung mengandung HCN 256 ppm per 100 gr bahan segar sementara rebung tabah kandungan HCN 7,97 ppm per 100 gr bahan segar.

Bambu tabah merupakan salah satu jenis bambu lokal yang dibudidayakan

di Desa Pupuan. Dahulu sebelum tahun 2000-an, bambu tabah tergolong jenis

yang kurang diperhatikan karena batangnya kurang besar dan kuat sehingga

belum mempuyai harga dibandingkan jenis bambu lainnya seperti bambu tali (G.apus), bambu andong (G. pseudoarundinacae ), bambu betung (Dendrocolalamus asper) yang nyaris sudah akrab dengan kehidupan masyarakat

di Bali. Munculnya temuan bahwa jenis bambu ini dapat menghasilkan rebung

yang dapat dikonsumsi dan potensinya sebagai sayuran elit sejajar dengan dengan

sayuran asparagus dan jamur mendorong adanya permintaaan berlebihan. Sedangkan ketersediaannya di masyarakat sangat terbatas sehingga menyulitkan mengelolanya untuk menjadikan sebagai bahan baku industri yang lestari dan berkualitas. Beberapa tahun silam rebung bambu masih identik dengan makanan kampung karena hanya dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan yang memang akrab dengan tanaman bambu. Namun, sekarang masyarakat perkotaan di

24

Indonesia pun sangat menyukai rebung bambu. Rebung bambu kalengan ataupun yang dikemas dalam plastik transparan telah banyak dijual di supermarket bersama dengan sayuran ekslusif kalengan lainnya, seperti jamur, asparagus dan kacang polong. Selain dijual dalam kalengan di supermarket atau toko-toko besar, rebung bambu juga tersedia di pasa-pasar tradisional. Rebung bambu yang yang tersedia di pasar-pasar tradisional ditawarkan dalam bentuk dalam berbagai bentuk mulai dari rebung gelondongan, rebung yang sudah dikuliti, dan rebung yang telah dipotong-potong siap untuk dimasak. Permintaan akan rebung bambu tidak saja berasal dari dalam negeri melainkan juga dari luar negeri. Pasar luar negeri lebih menjanjikan karena kebutuhan akan rebung bambu lebih besar. Berdasarkan BPEN, permintaan rebung dari Indonesia mencapai 4500 ton/tahun dengan tujuan Korsel, Jepang, Taiwan, Amerika, Kanada, Australia dan Singapura. Jepang membutuhkan rebung segar dan kaleng sebanyak 30.000 ton/tahun, Taiwan 80.000 ton/tahun dan Australia 12.000 ton/tahun. Kini sayuran rebung bambu telah berkembang menjadi salah satu sayuran favorit yang digemari masyarakat internasional. Untuk mengantisipasi perkembangan industri berbasis bahan baku bambu tabah harus dilakukan budidaya agar dihasilan pasokan rebung yang lestari dan berkualitas. Sampai saat ini belum dijumpai masyarakat melakukan budidaya khusus jenis bambu tabah sehingga diperlukan petunjuk atau pedoman teknis untuk melakukan praktek baik budidaya. Hal ini sangat penting diketahui supaya masyarakat yang bergerak dalam bidang pemanfaatan rebung-rebung bambu tabah tertarik untuk mengusahakannya.

4.2 Produk olahan Rebung Bambu Tabah

Rebung bambu tabah dapat diolah lebih lanjut dalam berbagai kemasan. dalam kemasan botol maupun dalam kemasan plastik vakum. Secara garis besar diagram alir pengolahan rebung bambu dapat ilihat pada Gambar 13. Rician teknologi proses yang diberlakukan untuk menghasilkan produk olahan rebung bambu tabah, yaitu :

Produk Rebung Segar (fresh-cut)

Rebung setelah dengan teknik pengupasan yang dianjurkan, dicuci dan direndam dalam larutan garam 100 g dalam 20 liter air bersih untuk 50 potong rebung segar seberat 5 kg selama 10 menit, lalu dimasukkan ke dalam plastik vakum ukuran 20 x 25 cm sebanyak 3 potong rebung ukuran 10 cm masing-masing beratnya 100 g. Rebung dalam kemasan plastik kemudian di vakum, selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin sebelum didistribusikan ke supermarket.

.

25

Gambar 11 Produk rebung bambu tabah kemasan vakum  Produk Rebung Steam Proses rebung steam,

Gambar 11

Produk rebung bambu tabah kemasan vakum

Produk Rebung Steam

Proses rebung steam, sama seperti proses rebung segar, hanya saja sebelum dikemas, rebung disteam selama 20 menit, didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam plastik vakum, setelah dingin rebung dimasukkan kedalam plastik sebanyak 3 potong setara dengan berat 300-350 g, selanjutnya di vakum dan disimpan di dalam lemasi pendingin sebelum di distribusikan ke supermarket.

26

Gambar 12. Ilustrasi diagram alir pengolahan rebung bambu tabah Proses rebung steam dalam kemasan stand-up

Gambar 12. Ilustrasi diagram alir pengolahan rebung bambu tabah

Proses rebung steam dalam kemasan stand-up pouch dilakukan dengan cara setelah rebung di steam seperti proses rebung sebelumnya, di dinginkan lalu dimasuk seberat 300 g kedalam kemasan stand-up pouch ukuran 14 x 20 cm (500 ml) jenis plastik PE dengan ketebalan 0,8 mikron, lalu dimasukkan larutan garam 2,5 persen sebanyak 200 ml, kemudian di seller selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin.

Produk Rebung dalam Kemasan Botol

27

Proses rebung dalam botol dilakukan dengan cara, rebung yang sudah dikupas seperti sebelumnya, di steam selama 20 menit, lalu didinginkan. Disiapkan botol dengan ukuran 330 ml yang sudah disterilisasi beserta tutupnya, kemudian dibuat larutan garam dengan konsentrasi 2,5 %, disaring dan ditambah 2 g asam askorbat. Setelah siap, rebung dimasukkan ke dalam botol sebanyak 3 potong dan diisi larutan garam sampai batas leher botol untuk head space, botol ditutup, kemudian disterilisasi selama 20 menit, botol didinginkan dalam suhu kamar, dan dibiarkan selama 2 minggu sebelum di labeling.

kamar, dan dibiarkan selama 2 minggu sebelum di labeling. Gambar 13. Rebung tabah dalam kemasan botol

Gambar 13. Rebung tabah dalam kemasan botol

4.3 Rancangan Awal Klaster Bisnis komoditi Rebung Bambu Tabah

Klaster bisnis komoditi bambu tabah (Gambar 14), dibangun melibatkan beberapa sub sistem (komponen) atau institusi, yaitu Kelompok Tani, Lembaga ULP2 (Lembaga Usaha Lepas Panen Pedesaan), perusahaan penghela, BDS (Business Development Services) dan Lembaga Pembiayaan Usaha (Bank atau LPBB). Bahkan sangat besar kemungkinannya petani dikemudian hari saja tidak hanya berkelompok dalam kelompok tani, tetapi juga dalam bentuk lembaga ekonomi koperasi, terutama koperasi produsen. Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka koperasi produsen dimaksud selain

28

dapat memiliki ULP2 juga sangat dimungkinkan untuk memiliki saham pada perusahaan penghela.

dimungkinkan untuk memiliki saham pada perusahaan penghela. Keterangan : Kel.Tani : Kelompok Tani BDS :

Keterangan :

Kel.Tani

: Kelompok Tani

BDS

: Business Development Service

LEMBAGA

: ULP2 (Usaha Lepas Panen Pedesaan)

Gambar 14. Rancangan awal klaster bisnis berbasis komodoti bambu tabah

Peran dari masing-masing komponen dalam kluster bisnis bambu tabah adalah sebagai berikut :

Kelompok Tani

Satu kelompok tani yang terlibat dalam kluster beranggotakan 10 orang petani yang melakukan budidaya tanaman bambu tabah di lahan setara luasan 10 ha (1 petani menangani 1 ha). Direncanakan jumlah kelompok tani yang terlibat

29

dalam satu klaster pada tahap awal sebanyak 15 kelompok atau petani yang terlibat sejumlah 150 orang dengan lahan yang dibudidayakan seluas 150 ha. Proses kerja yang dilaksanakan kelompok tani adalah penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan dan pembersihan hasil panen (pelepah segar). Seluruh rebung bambu segar dari kelompok tani akan ditampung oleh lembaga ULP2, untuk dilakukan proses lanjutan sebelum dijual ke perusahaan penghela sebagai bahan baku. Pada masa yang akan datang diharapkan kelompok tani secara bertahap dapat memiliki saham di perusahaan penghela.

Business Development Services (BDS)

BDS merupakan badan independen yang berfungsi sebagai pendamping dan pemonitor kinerja ULP2 dan kelompok tani. BDS ini dapat berasal dari kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian atau perusahaan yang berpengalaman dalam industri olahan rebung bambu. Satu BDS pada tahap awal direncanakan hanya untuk satu klaster atau menangani 15 kelompok tani (10 petani menangani 10 Ha) yang berarti akan mendampingi sekitar 150 petani bambu tabah sesuai asumsi di atas. Selanjutnya BDS dapat mengembangkan lebih dari satu klaster bisnis sesuai dengan kemampuan. Peran BDS melakukan pendampingan dalam rangka menjaga dan menjamin kuantitas, kualitas, dan kontinuitas produksi rebung bambu agar sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu BDS juga melakukan monitoring terhadap pengembalian pinjaman yang diterima oleh kelompok tani. Pemilihan BDS yang akan dilibatkan dalam klaster didasarkan atas rekomendasi dari Kementerian Koperasi dan UKM atau lembaga pemerintah lainnya yang ditunjuk.

Lembaga ULP2

Lembaga ULP2 juga merupakan badan independen yang akan melakukan proses lanjutan dari rebung bambu yang dihasilkan petani. Rebung bambu yang dibeli dari petani kemudian akan mengalami perlakuan pembersihan, proses sortasi dan pengemasan untuk selanjutnya dijual ke perusahaan penghela. Satu ULP2 direncanakan menampung hasil rebung segar dari 15 kelompok tani atau hasil dari 150 ha lahan budidaya. Dengan demikian dalam satu kluster akan terdapat 1 lembaga ULP2.

Perusahaan Penghela

Perusahaan penghela akan menyerap seluruh rebung segar yang telah diproses oleh lembaga ULP2 dan berfungsi sebagai pabrikan pengolah rebung bambu segar menjadi produk rebung segar dalam kemasan plastik produk rebung

30

steam dan produk rebung dalam kemasan botol yang akan dipasarkan oleh perusahaan penghela baik ke pasar domestik maupun internasional. Perusahaan penghela juga akan bertindak sebagai avalis atau penjamin atas pinjaman yang diterima oleh Lembaga ULP2 dan kelompok tani.

Lembaga Pembiayaan/Bank dan Bukan Bank

Bank berfungsi sebagai salah satu sumber dana bagi keberlangsungan klaster bambu tabah. Fungsi ini akan diwujudkan dalam bentuk pemberian pinjaman berupa investasi dan modal kerja bagi komponen kluster yang terlibat yaitu: perusahaan penghela, Lembaga ULP2 dan kelompok tani. Fungsi Kementerian Koperasi & UKM atau lembaga pemerintah lain yang ditunjuk adalah mediator bagi kerjasama antar komponen klaster dalam kaitannya dengan perbankan. Selain itu pihak kementerian akan menseleksi kelompok tani, Lembaga ULP2, dan BDS yang akan terlibat di dalam klaster. Pada model klaster bisnis dimaksud terdapat lembaga surveyor yang tidak termasuk dalam komponen klaster. Lembaga surveyor bertindak sebagai pemantau persediaan di level perusahaan penghela dan hanya sebagai pemeriksa persediaan di level ULP2. Layanan sebagai pemantau persediaan mewajibkan lembaga surveyor membuat laporan rutin (seminggu atau dua minggu sekali) kepada lembaga pembiayaan perihal kuantitas dan kondisi fisik persediaan, yang menjadi jaminan, mulai dari bahan baku hingga barang jadi selama jam kerja. Lembaga surveyor juga akan menerapkan sistem kunci ganda pada gudang dalam rangka mengawasi keamanan dan mutasi barang yang bersangkutan. Layanan sebagai pemeriksa persediaan hanya mewajibkan lembaga surveyor membuat laporan atas kuantitas dan kondisi persediaan, yang dijaminkan, pada satu waktu tertentu yang telah ditetapkan. Manfaat lembaga surveyor akan dirasakan oleh lembaga keuangan pemberi kredit/pembiayaan dan klaster bisnis itu sendiri. Manfaat bagi lembaga pembiayaan adalah pengawasan terhadap jaminan berjalan secara kontinyu.dan berfungsi sebagai peringatan dini terhadap kondisi usaha. Sedangkan manfaat bagi klaster bisnis bambu tabah adalah berfungsi sebagai peringatan dini dalam mengembangkan usaha serta memberikan keyakinan terhadap lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan terhadap usaha bambu tabah.

5 Analisis Kelayakan Finansial Bisnis Bambu Tabah.

4.1 Analis Bisnis Hulu Bambu Tabah Analisis finansial binis budidaya bambu rebung tabah adalah penghitungan seberapa besar biaya produksi yang diperlukan untuk menghasilkan rebung dan seberapa besar pendapatan yang bisa didapat oleh para petani atau produsen

31

pertanian dalam kurun waktu tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, bahwa rebung bambu tabah baru bisa dipanen pada tahun ke-3. Jadi, penerimaan hasil usaha baru bisa didapat setelah tahun ke-3. Pola bisnis usaha tani budidaya rebung bambu ini memerlukan adanya kesabaran bagi petani, namun karena tanaman bambu hanya sekali tanam, maka setelah tahun ke-3 pendapatan terus dapat dihasilkan sementara investasi awal hampir tidak diperlukan lagi.

Bisnis Pembibitan Bambu Rebung Tabah

Dalam penghitungan analisis ekonomi usaha pembibitan bambu rebung

tabah didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :

1. Harga polybag Rp. 200 per buah

2. Bambu bibit Rp. 1000/ mata tunas

3. Pupuk kandang Rp. 50.000/karung

4. Paranet Rp. 1.000.000/gulung

5. Tenaga kerja lepas Rp. 25.000/hari

6. Tenaga kerja bulanan Rp. 400.000/bulan

7. Tingkat keberhasilan 40%

Adapun perhitungannya sebagai berikut :

 

Harga

Biaya/

No.

Uraian

Satuan

Satuan

Jumlah

Penerimaan

 

(Rupiah)

(Rupiah)

 

A.

Biaya Bahan

 

1

Polybag

buah

200

5,760

1,152,000

2

Paranet

gulung

1,000,000

4

4,000,000

3

Bambu untuk tiang

 

batang

7,000

50

350,000

4

Listrikdan air

bulan

400,000

5

2,000,000

5

Bambu untuk bibit

 

mata tunas

1,000

5,760

5,760,000

6

Pupuk kandang

karung

50,000

8

400,000

 

Total Biaya Bahan ( A )=

13,662,000

 

B. Biaya Tenaga Kerja

 

1

Pembukaan lahan (14 hari)

HKP

25,000

70

1,750,000

2

Pembuatan rumah bibit

Lumps

1,800,000

1

1,800,000

3

Pemeliharaan

GBP

400,000

6

2,400,000

4

Pemanenan bibit

 

HKP

25,000

25

625,000

Pemeliharaan

bibit

dalam

5

polybag

GBP

400,000

4

1,600,000

 

Total Biaya Tenaga Kerja (B) =

8,175,000

 

C. Total Biaya Pembibitan (A + B) =

 

21,837,000

 

D. Jumlah Bibit Diperoleh

 

1 Jumlah mata tunas

5760

batang

2 Tingkat keberhasilan

40

persen

3 Jumlah bibit yang didapat

2304

bibit

 

E.

Penerimaan

1 Penjualan bibit

 

25,000

2,304

57,600,000

F. Keuntungan Usaha Pembibitan Bambu Rebung Tabah (E-C)

1 Keuntungan operasional ( 5 bulan)

35,763,000

2 Keuntungan per bulan

 

7,152,600

Berdasarkan hasil penghitungan tersebut diatas terlihat bahwa usaha pembibitan bambu rebung tabah menguntungkan. Apabila petani mengusahakan di tanah miliknya sendiri maka keuntungan usaha yang bisa didapat adalalah sebesar Rp.7.152.600,- per bulan.

Bisnis Budidaya Bambu Rebung Tabah

Dalam penghitungan analisis ekonomi usaha tani budidaya rebung bambu

ini didasarkan pada beberapa asumsi dasara antara lain :

1. Luas lahan budi daya 1 hektar

2. Sewa lahan = Rp.2,000,000/Ha/tahun

3. Jarak tanam 5 x 4 m sehingga untuk lahan 1 hektar berisi 500 rumpun bambu tabah

4. Produksi rebung sebanyak 30 buah per rumpun

5. Rebung dijual dengan harga Rp. 2500/rebung

6. Tenaga kerja (HKP=Hari Kerja Pria) Rp. 17.500,-

7. Tenaga kerja bulanan (GBP) = Rp. 400,000/orang

8. Harga-harga berlaku pada akhir tahun 2011

Adapun diskripsi dari masing-masing komponen biaya/penerimaan dari operasi usaha budi daya bambu rebung tabah ini adalah sebagai berikut :

A. Sewa Lahan Biaya sewa lahan adalah pengeluaran biaya yang dibayarkan kepada pemilik tanah sebagai kompensasi atas penggunaan lahan tersebut untuk budi daya bambu rebung tabah. Tanah yang diperlukan adalah berupa

33

tegalan/tanah kering. Biaya sewa diperhitungkan sebesar Rp. 2,000,000 per hektar per tahun. Biaya sewa tahunan ini tidak mengalami kenaikan selama masa sewa, sehingga dalam waktu 6 (enam) jumlah biaya sewa lahan menjadi sebesar Rp. 12,000,000., (dua belas juta rupiah. Kewajiban biaya pajak bumi kepada negara atas kepemilikan tanah menjadi beban pemilik tanah.

B. Biaya Bahan Biaya bahan dalam usaha budi daya rebung tabah ini terdiri atas empat (4) komponen, yaitu :

1. Biaya pengadaan bibit Biaya pengadaan bibit adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membeli bibit bambu rebung tabah. Biaya pengadaan ini diperlukan di awal tahun dan hanya sekali selama periode waktu usaha. Harga bibit bambu tabah diperhitungkan Rp. 25,000 per bibit sudah diterima di lokasi penanaman. Dengan menggunakan jarak tanam 5 x 4 m, maka jumlah bibit yang diperlukan untuk luas tanam satu (1) hektar adalah sebanyak 500 bibit. Karena itu, jumlah biaya biaya pengadaan bibit sebesar Rp. 12,500,000.

2. Biaya pupuk kompos Biaya pupuk kompos adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membeli pupuk kompos yang dipergunakan untuk menimbun lubang tanam. Setiap lubang tanam memerlukan 10 kg pupuk kompos dan hanya sekali dilakukan pada saat akan menanam bibit ke lahan tanam. Jumlah lubang tanam dalam luas tanam 1 hektar adalah sebanyak 500 buah, sehingga jumlah pupuk kompos yang diperlukan adalah sebanyak 5,000 kg (5 ton). Harga pupuk kompos diperhitungkan Rp 1,000 per kg, karena itu jumlah biaya pengadaan pupuk kompos menjadi Rp. 5,000,000.

3. Biaya pupuk kandang Biaya pupuk kandang adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membeli pupuk kandang yang dipergunakan untuk menimbun permukaan lubang tanam setelah bibit ditanam pada lubang tanam. Setiap lubang tanam memerlukan 1 kg pupuk kandang dan hanya sekali dilakukan pada saat menanam bibit ke lahan tanam. Jumlah lubang tanam dalam luas tanam 1 hektar adalah sebanyak 500 buah, sehingga jumlah pupuk kandang yang diperlukan adalah sebanyak 5,00 kg (0,5 ton). Harga pupuk kandang diperhitungkan Rp 1,000 per kg, karena itu jumlah biaya pengadaan pupuk kompos menjadi Rp.

500,000.

34

4. Biaya pupuk pemeliharaan Biaya pupuk pemeliharaan adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membeli pupuk kandang/kompos yang dipergunakan untuk memelihara tingkat kesuburan tanah. Pupuk pemeliharaan ini diaplikasikan sebanyak 2 kg per rumpun tanaman bambu per tahun. Selama periode usaha enam (6) tahun dilakukan sebanyak enam kali aplikasi sehinga jumlah pupuk yang diperlukan per rumpun sebanyak 12 kg. Jumlah rumpun dalam luas tanam 1 hektar ada sebanyak 500 rumpun. Dengan demikian jumlah pupuk pemeliharaan yang diperlukan adalah sebanyak 6,000 kg (6 ton). Harga pupuk pemeliharaan diperhitungkan Rp. 1,000 per kg, sehingga jumlah biaya pupuk pemeliharaan selama periode usaha menjadi Rp. 6,000,000.

Dengan menjumlahkan ke empat komponen biaya bahan tersebut didapat akumulasi biaya bahan sebesar Rp. 27,000,000., (dua puluh tujuh juta rupiah).

C. Biaya Tenaga Kerja Biaya tenaga kerja adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membayar gaji bulanan, upah borongan kepada para pekerja yang terlibat dalam usaha budi daya bambu rebung tabah. Biaya tenaga kerja ini terdiri atas tiga (3) macam biaya, yaitu :

1. Biaya pembuatan lubang tanam Biaya pembuatan lubang tanam adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membayar upah borongan membuat lubang tanam kepada pekerja. Biaya ini diperlukan di awal tahun dan hanya sekali selama periode waktu usaha. Harga borongan pembuatan lubang tanam diperhitungan Rp. 5,000 per lubang tanam. Jumlah lubang tanam yang harus dibuat sebanyak 500 lubang, karena itu biaya pembuatan lubang tanam ini menjadi Rp. 2,500,000.

2. Biaya penanaman bibit Biaya penanaman bibit adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membayar upah borongan menanam bibit ke lubang tanam kepada pekerja. Biaya ini diperlukan di awal tahun dan hanya sekali selama periode waktu usaha. Harga borongan menanam bibit diperhitungan Rp. 1,000 per bibit. Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 500 bibit, karena itu biaya penanaman bibit ini menjadi Rp.500,000.

3. Biaya pemeliharaan

35

Biaya pemeliharaan adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membayar gaji bulanan kepada pekerja. selama periode usaha. Biaya ini timbul mulai tahun pertama dan berlanjut sampai berakhir periode waktu usaha. Jumlah pekerja yang diperlukan untuk memelihara rumpun tanaman sebanyak 2 orang per hektar luas tanaman, sehingga dalam setahun diperlukan 24 kali gaji bulanan pria (GBP). Gaji bulanan untuk setiap pekerja ini diperhitungkan Rp. 400,000 per bulan, karena jumlah biaya pemeliharaan dalam setahun menjadi Rp. 9,600,000. Dalam kurun waktu enam tahun akumulasi biaya pemeliharaan ini menjadi Rp. 57,600,000. Biaya pemeliharaan ini merupakan komponen biaya yang terbesar diantara biaya tenaga kerjaa lainnnya.

Dengan menjumlahkan ketiga komponen biaya tenaga kerja tersebut di atas, didapat akumulasi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 60,600,000., (enam puluh juta enam ratus ribu rupiah).

D. Biaya Operasional Biaya operasional adalah keseluruhan pengeluaran biaya untuk mengoperasikan usaha budi daya bambu rebung tabah selam periode usaha. Besaran biaya ini merupakan penjumlahan dari tiga kompoenen biaya utama yaitu biaya sewa lahan, biaya bahan dan biaya tenaaga kerja. Dengan menjumlahkan ketiga komponen biaya tersebut didapat biaya operasional selama periode usaha sebesar Rp, 99,600,000., (sembilan puluh sembilan juta enam rataus ribu rupiah).

E. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha adalah seluruh penerimaan pendapatan dari hasil usaha budi daya bambu rebung tabah selama periode usaha. Pendapatan ini baru bisa diterima mulai periode tahun ke-3 dan berlanjut sampai periode usaha berakhir. Pendapatan usaha ini terdiri dari dua macam, yaitu :

1. Penjualan rebung bambu tabah Penjualan rebung bambu tabah adalah pendapatan yang diterima sebagai imbalan atas penyerahan hasil panen rebung kepada pihak pembeli. Dalam setiap rumpun bambu tabah diasumsikan diperoleh 30 rebung per rumpun per tahun. Dalam setiap 1 hektar di dapat hasil panen rebung sebanyak 15,000 rebung. Harga hasil pasar hasil panen rebung diperhitungkan Rp. 2,500/per rebung. Dengan demikian, jumlah pendapatan penjualan hasil panen rebung dalam setahun per 1 hektar luas tanam menjadi sebesar Rp. 37,500,000. Selama periode

36

usaha dilakukan empat kali panen sehingga jumlah pendapatan penjualan hasil panen rebung menjadi sebesar Rp. 150,000,000.

2. Penjualan batang bambu tabah Penjualan batang bambu tabah adalah pendapatan yang diterima sebagai imbalan atas penyerahan batang bambu tabah yang telah tua kepada pihak pembeli. Dalam setiap rumpun bambu tabah diasumsikan diperoleh 5 batang per rumpun per tahun. Dalam setiap 1 hektar di dapat hasil batang bambu tabah sebanyak 2,500 batang. Harga pasar hasil batang bambu tabah tua diperhitungkan Rp. 2,000/per batang. Dengan demikian, jumlah pendapatan penjualan batang bambu tabah dalam setahun per 1 hektar luas tanam menjadi sebesar Rp. 5,000,000. Pada tahun-tahun berikutnya diasumsikan setiap tahunnya ada tambahan sebanyak 1 batang yang bisa dijual. Dengan demikian, selama periode usaha akan didapat hasil penjualan batang bambu tabah sebesar Rp. 26,000,000.

Dengan menjumlahkan komponen pendapatan dari hasil penjualan rebung dan hasil penjualan batang bambu tabah selama periode usaha, mampu menciptakan pendapatan usaha budi daya rebung bambu sebesar Rp. 176,000,000., (seratus tujuh puluh enam juta rupiah).

4.2 Analisis Agribisnis Hilir Bambu Tabah

Bagian kedua dalam rangkaian sistem agribisnis hulu-hilir adalah agribisnsis di tingkat hilir. Tahap awal dalam analisis ini adalah menentukan struktur ongkos dan harga jual produk untuk memenuhi konsep business to business. Hasil analisis disajikan sebagai berikut :

Asumsi Dasar

1 hektar

 

500

rumpun

 

1 rumpun

30

batang

 

1 rumpun

40

rebung

1 rebung

 

250

gr (+kulit)

1 rebung

 

100

gr (bersih)

1 pack

 

3

rebung

1 pack

 

250

gr / weight

1 bottle

 

3

rebung

1 bottle

 

300

gr / weight

100

pack/btl

minimum order

37

Listrik

1

KwHour

900

Rp

air

 

3,000

/hari

cold storage

13,000

/hari

   

16,000

/hari

   

496,000

/bulan

vakum

5

/rebung

   

3

rebung

Dasar Perhitungan

1

hektar

500

rumpun

   
   

15,000

batang

   
   

20,000

rebung

   
   

10,000

gr (+kulit)

10

ton

   

4,000

gr (bersih)

4

ton

500

rumpun

1.0

hektar

   
   

15,000

batang

   
   

20,000

rebung

   
   

10,000

gr (+kulit)

10

ton

   

4,000

gr (bersih)

4

ton

Harga rebung

 

2,750

Rp

3

rebung

   

1,000

Rp

1

rebung

Ongkos panen

 

100

Rp

1

rebung

Ongkos cuci

 

100

Rp

1

rebung

Ongkos antar

 

100

Rp

1

rebung

Ongkos kupas

 

5,000

per jam/org

25

rebung

   

200

Rp

1

rebung

Biaya STEAM

 

100

Rp (gas)

(isi 100 rebung)

   

5

Rp (air/listrik)

 
   

105

Rp.

 

100 rebung

   

1

Rp

 

1 rebung

Proses VAKUM

 

1,000

Rp/plastik

(isi 3-4 rebung)

   

5

Rp

   
   

1,005

Rp

 

3 rebung

   

335

Rp

 

1 rebung

38

Proses BOTOL

 

3,500

Rp / botol

       
     

10

Rp. (seal)

     
     

3,510

Rp

3

rebung

 
     

1,170

Rp

1

rebung

 

Proses PICKLE

 

50,000

Rp. (fermentasi+bumbu)

 
     

100

Rp. (cutting)

     
     

10

Rp. (seal)

     
     

50,110

Rp.

300

rebung

 
     

167

Rp.

1

rebung

 

Cold storage

 

10,000

Rp. / hari

 

300

rebung

 
     

33

Rp.

1

rebung

 

Delivery

150,000

 

Rp./ drop

 

300

rebung

 

(Denpasar)

 

500

Rp.

1

rebung

 

Kalkulasi produk per-pesanan (order)

 

Order

1

pack / bottle / week

     
   

100 pack minimum

     

Post Harvest

Product

Isi

Kg

HDP

 

Panen

Cuci

Antar

Vakum Fresh

3

0.25

 

3,000

 

300

300

300

Vakum Steam

3

0.25

 

3,000

 

300

300

300

Vakum St. 1Kg

12

1

 

4,800

 

4,800

4,800

4,800

Vakum Steam Slash

 

3

0.25

       

Bottle Steam

3

0.3

 

3,000

 

300

300

300

Bottle Pickle

3

0.3

 

3,000

 

300

300

300

Process

Product

 

Kupas

Steam

 

Vakum

Botol

Pickle

Vakum Fresh

 

600

   

1,005

   

Vakum Steam

 

600

 

3

 

1,005

   

Vakum St. 1Kg

 

2,400

 

13

 

4,020

   

Vakum Steam Slash

 

600

 

3

 

1,005

   

39

Bottle Steam

600

 

3

 

3,510

 

Bottle Pickle

600

 

3

 

3,510

501

calculation

Product

PH

Process

Cld.Strg

Delivery

Neto

Vakum Fresh

3,900

 

1,605

100

1,500

7,105

Vakum Steam

3,900

 

1,608

100

1,500

7,108

Vakum St. 1Kg

19,200

 

6,433

400

6,000

32,033

Vakum Steam Slash

-

 

1,608

100

1,500

3,208

Bottle Steam

3,900

 

4,113

100

1,500

9,613

Bottle Pickle

3,900

 

4,614

100

1,500

10,114

Final Calculation

Product

20

% OC

PPh 15%

 

Gross

Vakum Fresh

1,421

     

8,526.00

Vakum Steam

1,422

     

8,529.78

Vakum St. 1Kg

6,407

     

38,439.12

Vakum Steam Slash

642

-

-

 

3,849.78

Bottle Steam

1,923

     

11,535.78

Bottle Pickle

2,023

     

12,137.10

40

BAB V

RANGKUMAN

Para pelaku agribisnis sekala usaha kecil di Indonesia hingga kini umumnya masih mempunyai berbagai keterbatasan. Kecilnya sekala usaha membuat posisi tawar mereka relatif lemah baik dalam mengakses modal maupun pasar. Salah satu cara memperbaiki posisi tawar mereka adalah dengan peningkatan skala ekonomi (economic of scale) usaha. Hal ini dapat dilakukan melalui pembentukan jalinan kemitraan usaha yang beroperasi dalam sebuah sistem agribisnis terintegrasi hulu-hilir, yakni saling ketergantungan antara subsistem hulu, subsistem agribisnis tengah, subsistem agribisnis hilir serta subsistem penunjang. Setiap susbsitem merupakan perusahaan agribisnis yang harus dapat bekerja secara efisien. Kemitraan usaha agribisnis harus di bangun atas landasan saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memperkuat masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya. Melalui kemitraan usaha memungkinkan untuk meraih peningkatan produktivitas, efisiensi,jaminan kualitas, kuantitas dan kontinuitas, serta berbagi resiko sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Terdapat beberapa pola kemitraan usaha yang bisa dijadikan pilihan yaitu pola inti plasma, subkontrak, dagang umum, keagenan dan waralaba, yang bisa dibangun mulai tahapan pemula hingga menuju ke tahapan utama yakni kemitraan dalam bentuk saham. Dalam beberapa tahun terakhir aktualisisasi kemitraan usaha agribisnis telah berhasil diwujudkan melalui pembentukan model klaster bisnis. Model klaster bisnis ini telah terbukti mampu menjadi alat yang baik untuk mengatasi hambatan akibat ukuran usaha kecil. Penerapan model klaster bisnis merupakan salah satu strategi yang dinilai sangat tepat meningkatkan daya saing industri berbasis pertanian yang berkelanjutan. Model bisnis ini menyarankan pengelompokkan industri inti yang saling berhubungan, baik dengan industri pendukung (supporting industries) maupun industri terkait (related industries). Model klaster ini cocok dikembangkan pada komoditas unggulan yang dicirikan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan pohon industri yang lengkap . Contohnya, adalah pengembangan klaster bisnis industri rumput laut di 60 daerah di Indonesia. Berdasarkan hasil studi, model klaster bisnis juga cocok diterapakan sebagai alternatif pengembangan sistem agribisnis berbasis komoditi bambu tabah. Keunggulan tanaman bambu tabah adalah selain sebagai tanaman penghasil bahan pangan berupa rebung bambu juga sebagai penghasil bahan baku industri. Klaster bisnis komoditi bambu tabah dibangun dengan melibatkan beberapa sub sistem (komponen) atau institusi, yaitu Kelompok Tani, Lembaga ULP2 (Lembaga Usaha Lepas Panen Pedesaan), perusahaan penghela, BDS (Business

41

Development Services) dan Lembaga Pembiayaan Usaha (Bank atau LPBB). Berdasarkan hasil analisis secara ekonomi, pengembangan agribisnis berbasis bambu tabah dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk memajukan sektor agribisnis skala usaha kecil.

42

DAFTAR PUSTAKA

Agus Andoko, 2005. Budi Daya Bambu Rebung. Penerbit Kanisus

Antara, Made, 2009. Pertanian Bangkit atau Bangkrut. Penerbit Arti Foundation

Bambang Y. Ariadi dan Rahaya Relawati, 2011. Hilir. Penerbit Muara Indah Bandung.

Canela,

Eduardo,

2001.

Business

Development

Sistem Agribisnis Terintegrasi Hulu-

Services

for

Small

and

Medium

Enterprisesand Cooperatives in Indonesia: Some Key Guidelines and Needs. Laporan Kajian.USAID dan BPSKPKM.

Humprey, John and Schmitz, Robert, 1995. Principles for Promoting Clusters and Networks of SMEs. UNIDO. Austria.

Japan International Cooperation Agency, 2003. Studi Mengenai Peningkatan Kapasitas Kluster Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia. Laporan Perkembangan. KRI International Corp. Tokyo. Kader, A. 2002. Postharvest Technology of Horticultural Crops. University of California. California.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI, (2001). Petunjuk Teknis Perkuatan Permodalan UKMK dan Lembaga Keuangannya dengan Penyediaan Modal Awal danPadanan (MAP) Melalui Koperasi Simpan Pinjam/Unit Simpan Pinjam Koperasi.

, 2003. Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Sentra Usaha Kecil dan Menengah.

, 2003. Petunjuk Teknis Business Development Services (BDS).

dan Badan Pusat Statistik, 2003. Pengukuran dan Analisis Ekonomi Kinerja Penyerapan Tenaga Kerja, Nilai Tambah dan Ekspor Usaha Kecil dan Menengah Serta Peranannya Terhadap Tenaga Kerja Nasional dan Produk Domestik Bruto Menurut Harga Konstan dan Harga Berlaku. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

, 2003. Pengkajian Grand Strategy Pengembangan Sentra UKM dalam Rangka Perkuatan BDS, KSP/USP dan Asosiasi UKM.

, 2003. Evaluasi Perkuatan dan Pengembangan Sentra Bisnis dalam Meningkatkan Daya Saing Produk Unggulan.

,

2005.

Direktori

Sentra

Perkebunan. Jakarta

UKM

Bidang

Usaha

Pertanian

dan

, 2005. Pengkajian Strategis Pengembangan Tahap Lanjut Sentra Bisnis UKM Pasca Dukungan Program Perkuatan.

43

Kencana, P.K., Diah, 2009. Fisiologi dan Teknologi Pascapanen Rebung Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz). Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang

Koizumi, Hajime, 2003. Strengthening Capacity of SME Clusters : Master Concept and Strategy for SME Cluster Development from Lessons Learnt. JICA Study Team. Mosselman, Marco dan Prince, Yvonne, (2004). Review of Methods to Measure The Effectiveness of State Aid to SME. EIM. European Community.

Nadvi, Khalid, (1995). Industrial Clusters and Networks: Case Studies of SME Growth and Innovation. UNIDO. Austria

Pasaribu

A.

Musa,

2012.

Yogyakarta.

Kewirausahaan

Berbasis

Agribisnis.

Penerbit

Andi

Suparta, Nyoman, 2005. Pendekatan Holistik Membangun Agribisnis. Penerbit Bali Media Adhikarsa

Xiao, J and QingPing Y., 2010. Transfer of Technology Model (TOTEM) : Bamboo Shoots Plantation. International Network for Bamboo and Rattan (INBAR), China.

44