Anda di halaman 1dari 45

1

Module Course Enrichment :



MODEL BISNIS DAN MANAJEMEN
SKALA USAHA KECIL :
PRODUK TANAMAN TROPIS





Oleh :
Wayan Widia


UNUD- USAID TROPICAL CURRICULUM PROJECT
2012
DISCLAIMER
This publicaton is made possible by the generous
support of the American people through the United
States Agency for Internatonal Development (USAID).
The contents are the responsibility of Texas A&M University
and Udayana University as the USAID Tropical Plant
Curriculum Project partners and do not necessarily reect
the views of USAID or the United States Government.
2

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Agribisnis Skala Usaha Kecil : Permasalahan dan Tantangan

Fakta empiris menunjukkan bahwa sebagain besar usahatani di Indonesia
berskala usaha kecil, yang umumnya dilakukan oleh rakyat. Atas dasar itu
pulalah, dikatakan sebagai usaha pertanian rakyat atau usaha sekala kecil. Hasil
penelitian Suparta (2001) dan Ibrahim (2001), melaporkan bahwa 46.2%, petani
menguasai lahan dibawah 0,5 Ha, dan 26.2%, antara 0,5 1.0 Ha. Hal ini
mengindikasikan bahwa petani dalam berusaha sangat dibatasi oleh kepemilikan
akan luas lahan. Dalam kondisi seperti ini, jika petani tidak pintar memilih jenis
komoditi yang dibudidayakannya, betapa pun besarnya kemauan mengembangkan
usaha, sulit baginya untuk mengumpulkan modal usaha secara memadai dari
perolehan hasil usahataninya.
Petani pada umumnya sangat terbatas dalam pemilikan modal usaha.
Mereka merasa sangat sulit mengakses bantuan modal dari lembaga keuangan
formal seperti perbankan. Faktor pembatasnya adalah tidak punya agunan,
prosedur terasa sulit, takut dengan resiko usaha, dan terbatasnya informasi dan
komunikasi. Mereka merasa lebih aman mendapatkan modal usaha dari
perusahaan inti melalui cara hubungan kemitraan. Dilain pihak, ditinjau dari sisi
pendidikan, tingkat pendidikan petani kita masih sangat rendah (sebagain besar
SD sampai SMP). Keadaan seperti ini kurang mampu menumbuhkan hasrat untuk
lebih berinovasi dalam memelihara usahanya.
Usaha pertanian rakyat umumnya mempunyai berbagai keterbatasan,
seperti skala usaha kecil, modal usaha sangat terbatas, menggunakan teknologi
sederhana, kulitas produksi masih rendah, kontinuitas tidak terjamin sehingga para
pelakunya kurang responsif dalam menghadapi situasi pasar dan pemasaran yang
berubah secara dinamis. Kecilnya skala usahatani ini mengakibatkan lemahnya
posisi tawar (bargaining position) sehingga pada gilirannya mereka hanya bisa
berusaha dalam kondisi kegureman dengan ruang pengambilan keputusan yang
sangat sempit, kurang mampu mengakses kredit komersial, lemah dalam
pemasaran dan kurang mampu melakukan alih teknologi dan informasi.
Menurut hasil penelitian para pakar agribisnis, hingga saat ini di Indonesia
belum terjalin kerjasama kemitraan yang serasi di antara pelaku sistem agribisnis.
Struktur agribisnis masih dipersal yakni tidak adanya hubungan organisasi
fungsional antara setiap tingkatan usaha, hubungan bisnis bersifat tidak langsung
dan impersonal yang hanya diikat dan dikoordinir oleh mekanisme pasar. Struktur
sistem bisnis semacam ini menyebabkan tidak terjaminnya kualitas dan kuantitas
produk pertanian sesuai dengan permintaan pasar.
3

Permasalahan yang bersifat struktural ini memberi peluang semakin
berkembangnya asosiasi pengusaha horizontal yang bersifat asimetri dan
cendrung berfungsi sebagai kartel yang memiliki kekuasaan monopsonistik
(menekan harga yang diterima petani), dan monopolistik (menjual dengan harga
tinggi kepada konsumen). Masing-masing pelaku subsistem ingin memburu rente
ekonomi yang sebanyak-banyaknya atas prilaku subsistem lainnya. Dalam
kondidi seperti ini, marjin usaha akan akan lebih banyak dinikmati oleh
subsistem agribisnis hulu maupun hilir, sedangkan susbsistem usaha tani berada
pada posisi tertekan, sehingga memperoleh bagian marjin hanya sebagain kecil
saja.
Menurut Saragih dalam Suparta (2005), permasalahan struktural sistem
bisnis usaha pertanian pada prinsipnya dapat diatasi jika semua pemangku
kepentingan mempunyai komitmen yang sama dalam memajukan sektor
agribisnis. Agribisnis skala usaha kecil yang eksis hingga saat ini di Indonesia
harus mampu ditingkatkan menjadi skala ekonomis. Peningkatan skala ekonomi
(ecoonnic of scale) salah satunya dapat dilakukan melalui pembentukan kelompok
tani, koperasi atau program kemitraan usaha lainnya. Agar para pelaku yang
bermitra mendapat keuntungan yang proporsional, maka cara pandang terhadap
agribisnis harus diubah. Agribisnis tidak lagi hanya dipandang sebagai suatu unit
usahatani (mikro) saja, melainkan sebagai sebuah kegiatan yang bekerja dengan
prinsip-prinsip korporasi dalam sebuah sistem bisnis yang terstruktur. Dengan
pengertian lain, aktivitas-aktivitas agribisnis adalah suatu sistem bisnis yang
terdiri dari beberapa susbsistem, dimana antara satu subsistem dengan subsistem
lainnya saling terkait dan terpadu untuk memperoleh nilai tambah yang maksimal
bagi para pelakunya. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa pemilihan komoditi
yang akan diusahakannya harus berbasis pada kebutuhan yang besar dan
permintaan pasar yang luas.
Dalam rangka memuaskan pemenuhan akan permintaan pasar,
perencanaan usaha-usaha gribisnis perlu memperhatikan aspek-aspek terkait
pemilihan sentra produksi yang memungkinkan terpadunya agro-ekosistem dan
peluang pasar, skala usaha dan keterkaitan secara terpadu antar subsistem dalam
sistem agribisnis. Dari sudut pandang ini, sistem agribisnis merupakan sistem
usaha di bidang pertanian yang terdiri dari beberapa subsistem, yaitu : (a)
subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi, (b) sub sistem usaha tani
(c) subsistem pengelohanan hasil pertanian atau agroindustri, (d) subsistem
pemasaran hasil pertanian, dan (e) subsistem pendukung usaha.

1.2 Konsep Sistem dan Keterpaduan Usaha Agribisnis

Konsep agribisnis modern pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat
pada tahun 1955, ketika J ohn H. Davis menggunakan istilah agribisnis dalam
makalahnya yang disampaikan pada Boston Conference on Distribution.
4

Selanjutnya J ohn H. Davis dan Ray Golberg dalam bukunya yang berjudul A
Conception of Agribusiness pada tahun 1957 di Harvard University, memberikan
pengertian agribisnis sebagai berikut :

Agribusiness is the sum total of all operation involved in the
manufacture and distribution of farm supplies, production operations on
the farm, and the storage, processing, and distribution of farm
commodities and items made from them.

Pengertian senada juga dikemukakan oleh Downey dan Ericson di era tahun 1990-
an. Menurut pandangannya, agribisnis meliputi keseluruhan kegiatan manajemen
bisnis mulai dari perusahaan yang menghasilkan sarana produksi untuk usaha tani,
proses produksi pertanian, serta perusahaan yang menangani pengolahan,
pengangkutan, penyebaran, penjualan secara borongan maupun penjualan eceran
produk kepada konsumen akhir.
Kedua pengertian tersebut, menggambarkan bahwa, agribisnis merupakan
suatu sistem, dan atau suatu entitas, yang tersusun dari sekumpulan subsistem
yang bergerak secara bersama-sama dan saling tergatung untuk mencapai tujuan
bersama. Sistem agribisnis menekankan adanya kebersamaan dan saling
ketergatungan antara subsistem untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini sejalan
dengan pandangan Hafsah (1999) dan Adjid (1998), yang mengemukakan bahwa
agribisnis adalah kegiatan usaha di bidang pertanian yang berwatak bisnis,
pelakunya secara konsisten berupaya meraih nilai tambah komersial dan finansial
yang berkesinambungan untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan pasar.
Pengertian ini menggambarkan bahwa agribisnis sebagai suatu perusahaan
(enterprises).
Bertitik tolak dari konsep sistem yang dilontarkan oleh para pakar
agribisnis, Departemen Pertanian (2001), memberikan pengertian konsep sistem
dan usaha agribisnis, yakni subsistem hulu (perusahaan pengadaan dan penyaluran
sarana produksi), subsistem agribisnis tengah (perusahaan usaha tani), subsistem
agribisnis hilir (perusahaan pengolahan hasil atau agroindustri dan perusahaan
pemasaran hasil), serta subsistem penunjang (lembaga keuangan,
transportasi,penuluhan dan pelayanan informasi agribisnis, penelitian kaji terap,
kebijakan pemerintah, dan asuransi agribisnis). Masing-masing merupakan
perusahaan agribisnis yang harus dapat bekerja secara efisien, dan selanjutnya
harus melakukan koordinasi (kebersamaan dan saling ketergantungan) dalam
suatu sistem untuk lebih meningkatkan efisiensi usaha. Subsistem jasa penunjang
berkewajiban nemfasilitasi berjalannya sistem agribisnis tersebut.
Atas dasar pemahaman tersebut di atas, maka dapat dirumsukan bahwa
konsep sistem agribisnis, yakni keseluruhan aktivitas bisnis di bidang pertanian
yang saling terkait dan saling tergantung satu sama lainnya, mulai dari : (1)
subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi, (2) subsistem usahatani, (3)
5

subsistem pengolahan dan penyimpanan hasil (agroindustri), (4) subsistem
pemasaran, dan (5) subsistem jasa penunjang. (Gambar 1). Sistem itu harus
mampu mengatur dirinya sendiri dan mampu menyesuaikan dirinya dengan
kondisi lingkungan maupun internal sistem secara otomatis.












Gambar 1 . Konsep Sistem dan Keterpaduan Usaha Agribisnis
(sumber : Antara, 2009)

Berdasarkan formulasi sistem pada Gambar 1, struktur sistem agribisnis
yang disarankan adalah struktur agribisnis-industrial atau disebut juga dengan
istilah sistem bisnis yang dibentuk dengan pendekatan integrasi vertikal..
Menurut Saragih (1998), pembentukan struktur ini dapat dilakukan sedikitnya
dengan tiga cara yaitu : (1) berupa pola koperasi agribisnis, (2) pola usaha
patungan, dan (3) pola pemilikan tunggal. Dengan demikian, petani mempunyai
akses untuk menikmati nilai tambah yang besar yang ada pada sub sektor
agribisnis hulu dan hilir.
Keberhasilan pengembangan agribisnis sangat ditentukan oleh kerjasama
tim (team work) sumber daya manusia yang terlibat dalam sistem. Kunci
keberhasilan kerjasama tim adalah setiap SDM yang terlibat dalam agibisnis,
disamping memiliki prilaku yang cukup di bidang pekerjaannya (on the job skill),
harus juga mempunyai prilaku positif tentang posisi dirinya dalam perusahaan
Subsistem
Perusahaan
Pengadaan dan
Penyaluran Sarana
Produksi :

Bibit
Pupuk
Pakan
Obatan-obatan
Alat dan Mesin
Teknologi
Subsistem
Perusahaan
Produksi
Usahatani :

Pangan
Hortikultura
Ternak
Subsistem
Perusahaan
Pengolahan Hasil
(Agroindustri) :

Penangan pasca
penen
Pengolahan
lanjutan
Subsistem
Perusahaan
Pemasaran Hasil
:

Perdagangan
domestik
Perdagangan
ekspor
SubsistemJasa Penunjang :

Pengaturan, Penelitian, Penyuluhan, Informasi Kredit
Modal, Transportasi, Asuransi agribisnis, Pasar

6

agribisnis, posisi perusahaannya dalam integrasi vertikal agribisnis, serta wawasan
ekonomi secara makro. Dengan demikian akan terjalin suatu kerjasama yang
solid dan berdaya guna dalam pengembanagan usaha.
Konsep perusahaan dimunculkan dalam sistem agribisnis dimunculkan
untuk mengubah paradigma petani, yang mana petani adalah sebagai manajer
perusahaan agribisnis, yang berkedudukan setara dengan perusahaan agribisnis
yang berada di hulu maupun hilir. Petani dibina untuk memahami kebutuhan
pasar, mampu bersinergi dengan perusahaan agribisnis lain untuk memproduksi
barang yang dibutuhkan pasar. J ika hal ini dapat dilakukannya, maka impian
untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani akan semakin cepat
terwujud.
Masing-masing komponen pelaku perusahan agribisnis biasanya membagi
diri dalam fungsi dan tugasnya, namun tetap bersinergi untuk menghasilkan
produk yang berkualitas. Integrasi vertikal antar perusahan agribisnis yang
berbeda pemilikannya sering diwujudkan dalam bentukkemitraan usaha,atau
jika pemiliknya sama disebut perusahaan terintegrasi (intergrated business
company)
Subsistem perusahan agribisnis hulu berfungsi menghasilkan dan
menyediakan sarana produksi pertanian terbaik agar mampu menghasilkan produk
usahatani yang berkualitas, melakukan pelayanan yang bermutu kepada usahatani,
memberikan bimbingan teknis produksi, memberikan bimbingan manajemen dan
hubungan sistem agribisnis, memfasilitasi proses pembelajaran atau pelatihan bagi
petani, menyaring dan memsintesis informasi agribisnis praktis untuk petani,
mengembangkan kerjasama bisnis (kemitraan) yang dapat memberikan
keuntungan bagi para pihak.
Subsistem perusahaan usahatani sebagai produsen pertanian berfungsi
melakukan kegiatan teknis produksi agar produknya dapat dipertanggung
jawabkan baik secara kualitas maupun kuantitas, mampu melakukan manajemen
agribisnis secara baik agar proses produksinya menjadi efisien sehingga mampu
bersaing di pasar. karena itu, petani umumnya memerlukan penyuluhan dan
informasi agribisnis, teknologi dan inovasi lainnya dalam proses produksi,
bimbingan teknis atau pendampingan agar petani dapat melakukan proses
produksi secara efesien dan bernilai tambah lebih tinggi.
Subsistem perusahan agribisnis hilir berfungsi melakukan pengolahan
lanjut (baik tingkat primer, sekunder, maupun tersier) untuk mengurangi susut
nilai atau meningkatkan mutu produk agar dapat memenuhi kebutuhan dan selera
konsumen, serta berfungsi pemperlancar pemasaran hasil melalui perencanaan
sistem pemasaran yang baik.
Subsistem jasa penunjang (penyuluhan, penelitian, informasi agribisnis,
pengaturan, kredit modal, transportasi,dll) secara aktif ataupun pasif berfungsi
menyediakan lanyanan bagi kebutuhan pelaku sistim agribisnisuntuk
memperlancar aktivitas perusahan dari sistim agribisnis. Masing-masing
7

komponen jasa penunjang itu mempunyai karakteristik fungsi yang berbeda,
namun intinya adalah agar rmereka dapat berbuat sesuatu untuk mengurangi
beban dan meningkatkan kelancaran penyelenggaraan sistem agribisnis.
Dalam jangka panjang diharapkan agribisnis yang berbasis pada
komoditas tanaman tropis dikembangkan dengan lebih menekankan pada prinsip-
prinisp aroindustrialisasi serta menghasilkan produk sesuai dengan permintaan
pasar. Hampir setiap komoditas pertanian memiliki spesifikasi karakteristik
biologis dan alur bisnis yang berbeda-beda. Berikut ini adalah contoh struktur
sistem agribisnis yang dikembangkan untuk komoditas sayuran saat ini (Gambar
2).

Subsistem
Agribisnis
Bagan Alir dalam Sistem Agribisnis
Pengadaan
Sarana Produksi
Pembibitan/
Peembenihan
Pestisida
Pupuk
Peralatan
Kios-Tani-Kios Tani
Budidaya
Usahatani Rakyat
Usahatani
Perusahaan
Pengolahan
Hasil
Penanganan
Pasca Panen
Pedagang
Pengepul
Pengolahan
Sederhana
Pemasaran
dan Distribusi
Pasar Umum Pasar Swalayan
Pedagang Antar
Pulau
Warung
Makan
Restoran,
Catering Service
Industri
Pengolahan
Konsumen


Gambar 2. Struktur Sistem Agribisnis Komoditas Sayuran Saat ini
(sumber : Suparta, 2005)
8

1.3 Strategi Pengembangan
Pengelolaan agribisnis-agroindustrial yang berorientasi pasar atau disebut
juga agribisnis modern, haruslah diusahakan secara terintegrasi dari hulu sampai
ke hilir yang dikoodinir dan dipersatukan menjadi satu kesatuan organisasi bisnis
yang kuat dari seluruh lapisan terkait (petani, pengusaha, peneliti pakar, lembaga
pembiayaan, lembaga penelitian dan pemerintah) agar nilai tambah pertanian
dapat dinikmati secara proporsional oleh masing-masing pelaku bisnis.
Ruang lingkup sistem agribisnis modern terbentuk oleh beberapa sub-
sistem bisnis, yaitu :
1. Sub-sistem Agribisnis Hulu
Agribisnis yang menangani faktor produksi dan sarana untuk usaha tani,
dikenal juga dengan agribisnis input

2. Sub-sistem Agribisnis Usaha Tani
Agribisnis yang melakukan usaha pemanenan energi surya melalui proses
fotosintesis, dikenal juga dengan agribisnis produksi.

3. Sub-sistem Agribisnis Hilir
Agribisnis yang mengolah output/hasil produksi agribisnis, dikenal juga
dengan agribisnis proses dan manufaktur

4. Sub-sistem Agribisnis Pendukung
Seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis, dikenal dengan
agribisnis jasa, misal, jasa penyewaan Alsintan
Fungsi dan ruang lingkup sistem agribisnis modern bila dianggap perlu
masih dapat dikembangkan lagi dengan strategi pengintegrasian. Strategi
pengintegrasian ini bisa dialakuakn melalui dua pola, yaitu pola integrasi vertikal
dan pola integrasi horizontal. Adanya pengintegrasian ini mengakibatkan adanya
perluasan keterkaiatan di sepanjang mata rantai proses yang membentuk semacam
close-loop supplay chain. Disetiap mata rantai proses terdapat peluang untuk
menambah nilai produk melalui sentuhan inovasi dan kreatifitas tertentu.
Andaikan pengembangan sistem dilakukan dengan model dua dimensi maka akan
ada pengembangan sumbu X dan pengembangan sumbu Y. Skema pengembangan
sistem agribisnis modern yang dimaksud dapat dilihat pada Gambar 3.


9

Integrasi Hulu &
Left Side linkage
Integrasi Hulu &
Right Side linkage
Integrasi Hilir &
Left Side linkage
Integrasi Hilir &
Right Side linkage
Left Side
H
u
l
u

(
B
a
c
k
w
a
r
d
)
H
i
l
i
r

(
F
o
r
w
a
r
d
)
Right Side
On Farm

Gambar 3. Strategi Pengembangan Sistem Agribisnis Modern
Berdasarkan sumbu X, pengembangan sistem agribisnis dapat dilakukan
dengan integrasi horisontal. Model ini merupakan strategi untuk mengendalikan
para pesaing dan dapat dikaitakan melalui dua cara, yaitu :
Terkait ke sisi kanan (right side linkage)
Mengintegasikan beberapa perusahaan yang merupakan pesaing langsung
karena memiliki alur sistem agribisnis hulu-hilir yang sama, tujuannya
adalah meniadakan persaingan dan menguasai akses pasar. Misalnya
integrasi sesama agribisnis sesama penyedia input pertanian

Terkait ke sisi kiri (left side linkage):
Mengintegrasikan beberapa perusahaan yang bukan merupakan pesaing
langsung tetapi saling berkompetisi sebagai produk komplementer atau
sebagai produk substitusi, tujuannya adalah meminimalkan persaingan dan
menguasai pasar. Misalnya agribisnis daging sapi dengan agribisnis telur
dan daging ayam.

Berdasarkan sumbu Y, pengembangan sistem agribisnis dapat dilakukan
dengan strategi integrasi vertikal. Model ini merupakan strategi perusahaan untuk
menguasai alur sistem agribisnis dari hulu sampai hilir, mulai dari pemasok bahan
baku hingga distribusi pemasaran. Integrasi dapat dilakukan dengan cara merjer,
akuisisi, atau membuat perusahaan tersendiri yang dapat dikaitkan melalui empat
cara, yaitu :

10

Integrasi huluon farm atau terkait kebelakang (backward linkage)
Mengembangkan sistem agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu
dengan agribisnis on farm. Tujuannya adalah agar lebih menguasai bahan
baku, faktor produksi dan sarana penunjang produksi.

Integrasi on farm- hilir atau terkait kedepan (forward linkage)
Mengembangkan sistem agibisnis dengan menggabungkan agribisnis on
farm dengan agribisnis hilir. Tujuannya adalah agar lebih dekat ke
konsumen.

Integrasi hulu on farm hilir atau integrasi terkait dari belakang
hingga depan (backward-forward linkage).
Mengembangan sistem agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu,
agribisnis on farm dan agribisnis hilir. Tujuannya adalah menguasai bahan
baku dan lebih dekat ke konsumen.

Integrasi satu alur (hulu on farm hilir penunjang) atau integrasi
penuh (full integration)
Mengembangkan sistem agribisnis yang mengintegrasikan agribisnis
hulu, on farm, hilir dan penunjang. Tujuannya menguasai satu sistem
agribisnis hulu-hilir.
Untuk mudahnya, pengembangan sistem agribisnis modern dapat
digambarkan dalam bentuk dua dimensi dimana usaha tani sebagai titik pangkal
(0,0), sumbu vertikal Y merupakan alur hulu-hilir untuk pengembangan terkait
kebelakang dan kedepan (backward-forward linkage). Sumbu horizontal X
merupakan persaingan langsung tidak langsung untuk pengembangan kekanan
dan kekiri (right-left side linkage
Apapun strategi yang dikembangkan dalam medesain model bisnis dalam
sistem agribisnis modern tidak serta merta bisa berjalan. Ada dua parameter
lingkungan bisnis yang mencirikan sistem agribisnis modern bisa beroperasi
stabil, yaitu
1. Responsif terhadap lingkungan bisnis yang terus berubah
2. Senantiasa mendengarkan suara pelanggan (voice customer)
Kedua parameter lingkungan bisnis tersebut hanya bisa teradopsi
(melekat) ke dalam sistem, jika setiap entitas (pelaku bisnis) yang tergabung
didalamnya mempunyai kesamaan dalam cara pandang dan budaya dalam
memelihara kompetensi untuk bersaing.
11

BAB II
PEMBERDAYAAN AGRIBISNIS SKALA USAHA KECIL
MELALUI KEMITRAAN USAHA
2.1 Prinsip dan Konsep Dasar Kemitraan Usaha
Usaha sekala kecil dan koperasi merupakan bagian terbesar sekaligus pilar
penopang utama perekonomian nasional harus diberikan peluang dan peran lebih
besar agar mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Permasalahan mendasar yang ada pada usaha kecil dan koperasi adalah kurangnya
kemampuan manajemen dan profesionalisme serta terbatasnya akses terhadap
permodalan, teknologi dan jaringan pemasaran. Salah satu upaya yang dianggap
tepat untuk memecahkan masalah kesenjangan ini adalah melalui kemitraan
usaha. Kemitraan usaha dapat dibangun antara yang usaha besar dan yang kecil,
antara yang usaha yang kuat dan yang lemah.
Sesuai dengan amanat undang-undang tentang usaha kecil, kemitraan
harus di bangun atas landasan saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan
saling memperkuat dengan fungsi dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan
dan proposi yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam
kemitraan tersebut. Dalam wacana pembangunan nasional, kemitraan usaha antara
pengusaha kecil dengan pengusaha besar diharapkan dapat mendorong
peningkatan pertumbuhan ekonomi, penyebaran tenaga kerja, pemeratan
pendapatan, dan mengembangkan pertumbuhan pembangunan regional.
Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau
lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan
prinsip saling membutuhkan, saling menguntungkan dan saling menguatkan.
Karena merupakan strategis bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat di
tentukan oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika
bisnis. Para pelaku bisnis harus memiliki dasar-dasar etika bisnis yang dipahami
dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Semakin
kuat pemahaman serta penerapan etika bisnis bagi pelaku kemitraan maka
semakin kokoh landasan kemitraan yang dibangunnya sehingga pada gilirannya
akan memudahkan pelaksanakan kemitraan usaha itu sendiri.
Pada dasarnya falsafah mendasar dari kemitraan usaha adalah
kebersamaan dan pemerataan. Kemitraan akan selalu dibutuhkan selama tuntutan
pemerataan belum teratasi. Kemitraan merupakan proses jangka panjang yang
berubah secara dinamis untuk memenuhi harapan dan kebutuhan dari seluruh
pelaku kemitraan. Misalnya, melalui kemitraan antara perusahaan besar dengan
perusahan kecil dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pangsa pasar,
meningkatkan keuntungan, sama-sama menanggung risiko menjamin pasokan
bahan baku serta menjamin distribusi pemasaran.
12

Mariotti, J .L (1999) mengemukakan bahwa terdapat enam dasar yang
dianggap mencerminkan etika bisnis, yaitu :

Karakter, integritas dan kejujuran. Karakter adalah sifat kejiwaan,
akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Dalam kemitraam diperlukan orang-orang yang mempunyai karakter kuat
dan tidak mudah putus asa. Integritas adalah sikap bertindak jujur dan
benar, satunya kata dengan perbuatan. Kemitraan yang dibangun dengan
integritas terpuji akan menghasilkan bangunan kemitraan yang kokoh dan
tidak mudah tergoyahkan. Kejujuran adalah ketulusan hati yang
merupakan sikap dasar yang dimiliki manusia. Kemitraan yang diawali
oleh kejujuran akan merupakan awal terbentunya transparasi dalam segala
manifestasinya.

Kepercayaan. Kepercayaan adalah anggapan atau keyakinan bahwa
sesuatu yang dipercaya itu benar-benar atau nyata. Kepercayaan yang
teguh terhadap seseorang atau mitra merupakan modal dasar dalam
menjalin bisnis. Kemitraan umumnya di mulai atas dasar sikap saling
mempercayaai. Kegagalan membangun kemitraan biasanya dimulai dari
sikap yang saling mencurigai dan akhirnya saling tidak percaya.

Komunikasi yang terbuka. Komunikasi yang terbuka merupakan
rangkaian proses dimana sesuatu informasi atau gagasan dipertukarkan
secara transparan. Kemitraan senantiasan berkembang sesuai dengan
tantangan dan maslahnya, agar kemitraan eksis bertahan maka kemitraan
selelu memerlukan ide, gagasan dan informasi yang terus berkembang.

Adil. Adil diartikan sebagai tidak berat sebelah atau tidak memihak, atau
bersikap sama atau seimbang terhadap semua orang. Kemitraan yang
dilandasi sikap adil menunjukkan adanya pengorbanan dari pihak yang
bermitra dalam mendapatkan keuntungan yang yang lebih besar.

Keinginan pribadi dari pihak yang bermitra. Dalam kemitran pasti ada
suatu nilai tambah yang ingin diraih oleh masing-masing pihak yang
bermitra. Nilai tambah tidak selalu diwujudkan dalam bentuk nilai
ekonomi, tetapi juga non-ekonomi seperti peningkatan kemampuan
manajemen, penguasaan teknologi dan kepuasan tertentu.

Keseimbangan antara insentif dan resiko. Di antara pihak yang bermitra
harus ada keinginan untuk memiliki beban resiko yang dihadapi bersama
selain menikmati keuntungan secara bersama. Keinginan untuk
13

mengambil resiko dari suatu usaha kemitraan dapat diartikan sebagai awal
dari keberhasilan kemitraan usaha.
Pemberdayaan agribisnis skala usaha kecil melalui pengembangan
kemitraan usaha memungkinan untuk meraih sejumlah manfaat, yaitu :
Peningkatkan produktivitas. Produktivitas dalam sistem produksi
didefinsikan sebagai output dibagi dengan input. produktivitas akan
meningkat apabila dengan input yang sama akan diperoleh hasil yang lebih
tinggi atau sebaliknya dengan hasil yang sama hanya membutuhkan input
yang lebih rendah. Bagi perusahaan yang lebih besar, peningkatan
produktivitas dilakukan dengan cara mengurangi faktor input adan atau
meningkatkan produksi dengan sumberdaya yang sama. Bagi perusahaan
kecil/petani, peningkatan produktivitas biasanya dilakukan secara simultan
yakni menambah unsur input baik kualitas maupun kuantitasnya dalam
jumlah tertentu tetapi diharapkan akan memperoleh output dalam jumlah
yang berlipat. Bagi perusahaan/petani yang berkelompok dapat
meningkatkan produktivitas dengan cara menekan faktor input melalui
penggunaan input secara bersama (misalnya penggunaan traktor bersama
milik kelompok, pemeliharaan irigasi/subak, penjualan secara bersama, dll).

Peningkatan efisiensi. Efisiensi terjadi bila output tertentu dapat dicapai
dengan input yang minimum. Dipandang dari sudut penggunaan tenaga
kerja, efisiensi adalah jumlah waktu yang sebenarnya digunakan dibagi
dengan standar waktu yang telah ditetapkan atau output yang dihasilkan
dibagi dengan standar output yang telah ditetapkan. Efisiensi dan
produktivitas bagaikan mata uang dengan sisi yang berbeda yang keduanya
dapat ditingkatkan dengan meminimumkan penggunaan input. Contoh dalam
bidang usaha tani,perusahaan besar menyediakan alat mesin
pertanian/teknologi sehingga petani dapat mempercepat dan memperluas
areal tanam dengan tenaga kerja yang tersedia, disi lain produksi plasma
dapat meningkat mencapai hasil yang diharapkan sesuai kapasitas produksi
yang ditargetkan.

Jaminan kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Produk akhir dari suatu
kemitraan usaha ditentukan oleh dapat tidaknya diterima oleh pasar, indikator
adalah adanya kesesuaian mutu yang diinginkan oleh konsumen. Loyalitas
konsumen akan dicapai apabila ada jaminan mutu dari suatu produk.
Misalnya, salah satu sistem penjaminan mutu yang dipersyaratkan bagi
produk-produk hasil pertanian adalah HACCP (Hazard Analysis Critical
Control Point) yang menerapkan suatu standar mutu tidak hanya pada
hasilnya tetapin juga pada proses produksinya. Untuk dapat dicapainya
14

jaminan mutu secara berkesinambungan maka satu-satunyaalternatif adalah
terjadinya kemitraan industri hulu dan industri hilir.Disamping kualitas,
kuantitas juga harus dapat ,memenuhi kebutuhan atau permintaan pelanggan,
serta terjaga kontinuitasnya sehingga mampu menjaga kredibilitas produsen.
Hal ini memerlukan manajemen yang mantap, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta memerlukan prosedur operasional
yang konsisten.

Membagi resiko.
Dalam kemitraan diharapkan resiko yang besar dapat ditanggung bersama
(risk sharing), tentunya secara proporsional sesuai dengan besarnya modal
dan keuntungan yang akan diperoleh. Risk sharing mengandung makna
senasib sepenanggungan sehingga eksistensi perusahaan yang bermitra
menjadi besar.

2.2 Bentuk Kemitraan dan Pola Pengembangannya
Pada dasarnya maksud dan tujuan pembentukan kemitraan usaha adalah
win-win solution partnership, artinya diharapkan terjadinya posisi tawar yang
setara berdasarkan peran masing-masing pihak yang bermitra. Ciri hubungannya
bukan sebagai buruh dan majikan atau atasan bawahan melainkan pembagian
resiko dan keuntungan secara proporsional. Asas kemitraan adalah saling
membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat.
Mengacu pada Peraturan Pemerintah No.44 tentang kemitraan, disarankan
bahwa perusahaan bermitra berkewajiban berbagi informasi tentang peluang
kemitraan dan melakukan pembinaan kepada plasmanya pada aspek-aspek
pemasaran, pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia, permodalan,
manajemen agribisnis, dan teknologi. Sedangkan kelompok mitra berkeajiban
untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan kinerja usahanya secara
berkelanjutan serta memanfaatkan dengan sebaik-baiknya berbagai pembinaan
dan bantuan yang diberikan oleh inti.
J enis-jenis kemitraan yang dapat dikembangkan dalam rangka pemberdayaan
agribisnis skala usaha kecil, yaitu :
Pola Inti Plasma. Pola inti plasma adalah pola hubungan kemitraan usaha
antara kelompok mitra usaha sebagai plasma dengan perusahaan inti yang
bermitra. Misalnya, Pola PIR, dimana perusahaan inti menyediakan sarana
produksi, bimbingan teknis dan manajemen, menampung, mengolah dan
memasarkan hasil rpoduksi, sedangkan mitra usaha plasma melakukan
budidaya sesuai dengan standar operasional prosedur yang disepakati,
15

sehingga hasil produksi yang didapat dapat memenuhi baik kuantitas maupun
kualitas yang diharapkan.

Pola Sub Kontrak. Pola sub kontrak merupakan pola hubungan kemitraan
usaha antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha yang
memperoduksi barang yang diperlukan oleh perusahaan sebagai bagian dari
komponen produksinya. Ciri khas bentuk sub kontrak ini adalah membuat
kontrak bersama yang mencantumkan volume, harga dan waktu penyerahan.

Pola Dagang Umum. Pola dagang umum merupakan pola hubungan
kemitraan usaha yang memasarkan hasil dengan kelompok usaha yang
mensuplai kebutuhan perusahaan mitra. Contohnya adalah kemitraan antara
produsen sayuran/buah-buahan dengan toko swalayan. Keuntungan pola ini
adalah adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai
dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahannya adalah
memerlukan mosal kuta serta pengusaha kecil sering lebih dirugikan.

Pola Keagenan. Pola keagenan merupakan salah satu bentuk hubungan
kemitraan dimana usaha kecil di beri hak khusus untuk memasarkan barang
dan jasa dari usaha menengah atas usaha besar sebagai mitranya.

Pola Waralaba. Pola waralaba merupakan pola hubungan kemitraan antara
kelompok usaha mitra usaha dengan perusahaan mitra usaha yang
memberikan hal lisensi, merek dagang, saluran distribusi perusahaannya
kepada kelompok mitra usaha sebagai penerima waralaba yang disertai
dengan bantuan bimbingan manajemen. Perusahaan mitra usaha sebagai
pemilik waralaba bertanggunjawab terhadap sistem operasi, pelatihan,
program pemasaran, merek dagang, dan hal-hal lainnya kepada mitra
usahanya, sedangkan mitra usaha pedagang usaha waralaba hanya mengikuti
pola yang telah ditetapkan oleh pemilik waralaba serta memberikan royalti
dan biaya lainnya terkait dengan kegiatan usaha tersebut.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membangun kemitraan usaha
antara lain, yaitu :
Mengenal dan memilih calon mitra. Pengenalan calon mitra merupakan
awal keberhasilan proses membangun kemitraan. Memilih calon mitra
membutuhkan waktu karena harus benar-benar diyakini, karena itu diperlukan
informasi secara lebih lengkap.

Memahami kondisi bisnis pihak bermitra. Kondisi bisnis calon mitra
harus benar-benar diperhatikan terutama kemampuan dalam manajemen,
16

pengusaan pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya manusia. Kondisi
bisnis pihak yang bermitra harus dinilai secara jujur dan realistis terutama
dalam mengidentifikai faktor-faktor kunci yang membawa sukses.
Mengembangkan strategi dan menilai detail bisnis. Strategi yang
direncanakan bersama meliputi strategi dalam pemasaran, distribusi,
operasional dan informasi. Strategi disusun berdasarkan informasi mengenai
keunggulan dan kelemahan bisnis dari pihak yang bermitra. Penilaian detail
juga dilakukan terhadap besarnya produk yang dihasilkan, sasaran
pembelinya, pangsa pasarnya, dan metode distribusinya.

Memonitor dan mengevalusi kinerja. Pelaksanaan kemitraan berdasarkan
ketentuan-ketentuan yang telah disepakati perlu dimonitor terus menerus agar
target yang ingin dicapai benar-benar menjadi kenyataan, kemudian
dilanjutkan dengan evaluasi untuk perbaikan secara terus-menerus (continous
improvement).

Pola kemitraan usaha dapat dibangun mulai dari tahapan pemula hingga
menjadi tahapan kemitraan utama. Sebagai ilustrasi dapat ditunjukkan seperti
pada skema sebagai berikut :









Gambar 4. Pola Kemitraan Sederhana (Pemula)


Perusahaan
Besar
Koperasi/
Usaha
Kecil
Pembina/
Fasilitator
Kemitraan
Modal
Sarana produksi
Alat dan Mesin
Manajemen
Teknologi
17












Gambar 5. Pola Kemitraan Tahap Madya










Gambar 6. Pola Kemitraan Tahap Utama

Perusahaan
Besar
Koperasi/
Usaha
Kecil
Kemitraan
Alat dan Mesin
Agroindustri
Pemasaran
Teknologi
Pembina/
Fasilitator
Sarana produksi
Manajemen
Permodalan
Perusahaan
Besar
Koperasi/
Usaha
Kecil
Kemitraan saham
Pembina/
Fasilitator
Konsultan
Pengembangan
Bisnis
18

BAB III
KEMITRAAN USAHA DALAM MODEL KLASTER BISNIS
BERBASIS KOMODITI UNGGULAN

3.1 Konsep Pembentukan Klaster Bisnis
Michael Porter (1998) mendefinsikan klaster sebagai konsentrasi
perusahaan dan institusi (pemasok, pelanggan, kompetitor dan institusi pendukung
lainnya seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, institusi keuangan dan dinas
pelayanan umum) yang terkait satu sama lainnya pada bidang industri tertentu.
Manfaat klaster selain mengurangi biaya transportasi dan transaksi,juga
meningkatkan efisiensi, menciptakan aset kolektif, dan memungkinkan
terciptanya inovasi. Lihat Gambar 6.




Gambar 7. Konsep pembentukan klaster dan daya saing bisnis

Pembentukan klaster menjadi issue yang penting karena secara individual
Agribisnis Skala Usaha Kecil seringkali tidak sanggup menangkap peluang pasar
yang membutuhkan jumlah volume produksi yang besar, standar yang homogen
dan penyerahan yang teratur. Perusahaan kecil seringkali mengalami kesulitan
mencapai skala ekonomis dalam pembelian input (seperti peralatan dan bahan
baku) dan akses jasa-jasa keuangan dan konsultasi.
19

Ukuran kecil juga menjadi suatu hambatan yang signifikan untuk internalisasi
beberapa fungsi pendukung penting seperti pelatihan, penelitian pasar, logistik
dan inovasi teknologi; demikian pula dapat menghambat pembagian kerja antar
perusahaan yang khusus dan efektif secara keseluruhan fungsi-fungsi tersebut
merupakan inti dinamika perusahaan.
Beberapa contoh keuntungan yang dapat ditarik dari sebuah kerjasama dalam
klaster bsinsi adalah:

1. Melalui kerjasama horisontal, misalnya bersama usaha kecil lain menempati
posisi yang sama dalam mata rantai nilai (value chain) secara kolektif
perusahaan-perusahaan dapat mencapai skala ekonomis melampaui
jangkauan perusahaan kecil secara individual.
2. Melalui integrasi vertikal (dengan usaha kecil lainnya maupun dengan
perusahaan besar dalam mata rantai pasokan), perusahaan-perusahaan dapat
memfokuskan diri ke bisnis intinya dan memberi peluang pembagian tenaga
kerja eksternal.
3. Kerjasama antar perusahaan juga memberikan kesempatan tumbuhnya ruang
belajar secara kolektif untuk meningkatkan kualitas produk dan pindah ke
segmen pasar yang lebih menguntungkan. Jaringan bisnis tersebut dan
perumus kebijakan lokal,dapat mendukung pembentukan suatu visi
pengembangan lokal bersama dan memperkuat tindakan kolektif untuk
meningkatkan daya saing usaha kecil.

Dengan demikian klaster bisnis yang efektif adalah yang dapat menjadi
alat yang baik untuk mengatasi hambatan akibat ukuran usaha kecil dan berhasil
mengatasi persaingan dalam suatu lingkungan pasar yang semakin kompetitif.
Konsep klaster bisnis merupakan salah satu strategi yang dinilai sangat tepat
meningkatkan daya saing industri berbasis pertanian yang berkelanjutan. Upaya
ini mengelompokkan industri inti yang saling berhubungan, baik dengan industri
pendukung (supporting industries) maupun industri terkait (related industries).
Model klaster ini cocok dikembangkan pada komoditas unggulan yang
dicirikan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pohon industri yang lengkap,
spekturum penggunaannya sangat luas, daya serap tenaga kerja yang tinggi,
teknologi budidaya yang mudah, masa tanam yang pendek atau biaya produksi per
unitnya rendah. Contohnya, adalah pengembangan klaster industri rumput laut di
60 daerah di Indonesia.

3.2 Model Kluster Bisnis Berbasis Komoditi Unggulan

Sistem agribisnis berbasis komoditi adalah kesatun sub-sistem bisnis yang
dibentuk berdasarkan konsep pohon industri. Artinya, komoditi spesifik yang
menjadi basis pengembangan dalam sistem agribisnis memiliki potensi
20

dikembangkan menjadi berbagai siub-sistem bisnis yang menghasilkan produk
turunan baik produk pangan maupun non-pangan. Contoh lain dari komoditi hasil
pertanian yang berpotensi dikembangkan menjadi sistem agribisnis berbasis
komoditi adalah komoditi lidah buaya (Aloevera). Tanaman lidah buaya dapat
diolah menjadi makanan dan minimum atau dikepsor dalam bentuk pelepah segar
ke negara tetangga seperti Singapura, Malysia dan Brunei Darusalama. Hasil
olahan yang terbatas dan ekspor dalam bentuk bahan baku hanya memberikan
sedikit nilai tambah. Nilai tambah akan diperoleh jika tanaman lidah buaya diolah
menjadi produk yang dibutuhkan industri sebagai bahan baku industri lanjutan.
Adapun industri lanjutan dari tanaman lidah buaya dapat dilihat pada Gambar 7. .



Gambar 8. Pohon industri tanaman lidah buaya (Aloevera)

Apabila komoditi tersebut akan dikembangkan pengusahaannya, maka
sebaiknya industri yang memproduksi gel ataupun tepung harus memiliki
kontinuitas ketersediaan bahan baku (pelepah segar). Kondisi tersebut dapat
tercapai jika industri dan budidaya terkait secara langsung dalam suatu klaster
bisnis. Adanya klaster bisnis yang mengkaitkan industri dan budidaya yang
didukung dengan kehadiran institusi yang kuat, diantaranya akan dapat mencegah
terjadinya perebutan bahan baku yang dapat berakibat mematikan industri hilir.
Kondisi tersebut justru akan memberikan jaminan kepastian pasar bagi hasil
panennya selain dimungkinkan adanya bantuan sarana produksi dan
21

pendampingan dalam penggunaan teknologi. Agribisnis dengan berbasis tanaman
lidah buaya dimaksud adalah pengusahaan komoditi lidah buaya mulai dari
budidaya, agroindustri (industri pengolahan) dan pemasaran hasil produk
akhirnya.











































22

BAB IV
STUDI AWAL PERANCANGAN SISTEM BISNIS
KOMODITI BAMBU TABAH


4.1 Potensi Usaha Budidaya Tabah Tabah
Bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata (Buese) Kurz.)mempunyai
batang yang sifatnya simpodial atau berumpun. Panjang buluh dapat mencapai
sekitar 10 m dan ujungnya melengkung, dengan garis tengahnya sekitar 3 6 cm.
Tebal buluhnya mencapai 6 mm, dengan warna buluh hijau sampai hijau tua, ruas
batang mencapai 30 50 cm dengan pelepah buluh panjangnya 11 18 cm tetap
melekat pada buluhnya, pelepah buluh bagian luar ditumbuhi oleh miang (bulu-
bulu halus) yang melekat berwarna coklat hitam, pelepah mudah luruh (Gambar
9). .



Gambar 9. Perawakan bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz)

Di Indonesia nama jenis bambu ini tergantung dari daerah tempat
tumbuhnya, di J awa disebut dengan bambu lengka, dan beberapa tumbuh di
daerah Sukabumi sedangkan di Bali disebut bambu tabah. Masyarakat Bali
menyebut tabah karena rebungnya rasa hambar tidak pahit, tidak seperti rebung
betung. Rebung dipanen pada saat musim hujan, maksud dari pemanenan rebung
23

disamping dapat digunakan untuk konsumsi, juga bermaksud untuk penjarangan
rumpun, agar rumpun bambu dapat dijaga, sehingga kualitas buluhnya maksimal.
Rebung bambu tabah dapat dipanen setelah rumpunnya berumur 3 tahun.
Panen dilakukan 2 x dalam seminggu pada saat musim hujan. Rebung dipanen 3
hari setelah ujung rebung muncul diatas permukaan tanah atau rebung mencapai
tinggi 30 50 cm, untuk jenis Dendrocalamus asper. Rebung yang dipanen
pada rumpun bambu yang telah berumur 2 3 tahun, yaitu rebung yang tumbuh
melebihi 10 rebung setiap musim. Rebung dipanen ketika mencapai tinggi 15 cm.
Rebung yang dipanen diatas permukaan tanah akan berbeda apabila di panen pada
saat masih di dalam tanah.
Bambu memang dapat tumbuh dimana-mana pada segala jenis tanah.
Namun, jika budi daya untuk tujuan memperoleh rebung yang bagus, maka
bambu tersebut sebaiknya ditanam pada tanah ringan, sedikit berpasir, dan tanah
yang subur. Dengan demikian, pembentukan rebung sebagai tujuan utama budi
daya menjadi lebih optimal.
Bambu dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah pada
ketinggian 0-2000 m diatas permukaan laut. Bahkan, bambu dapat tumbuh pada
tanah marginal yang kurang subur sekalipun. Bambu termasuk jenis tanaman
yang memiliki pertumbuhan sangat cepat. Dalam waktu sekitar 3 tahun sejak
ditanam, sebatang bambu sudah dapat membentuk rumpun yang sangat rapat.
Pembentukan rebung erat kaitannya dengan kondisi tanah. J enis tanah
yang paling ideal untuk budi daya rebung bambu rebung adalh tanah yang gembur
dan kaya bahan organik. Budi daya bambu pada tanah yang gembur dan kaya
organik dapat menghasilkan rebung yang besar dan gemuk. Disamping itu,
bambu yang ditanam untuk tujuan menghasilkan membutuhkan curah hujan yang
cukup tinggi untuk merangsang keluarnyarebung. Curah hujan yang dibutuhkan
adalah sekitar 1200 mm per tahun atau minimal 10 mm per bulan. Sedangkan
kelembaban udara yang dibutuhkan sekitar 50-80 persen. Bambu tabah dapat
tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai di tempat-tempat pada ketinggian
600 m diatas permukaan laut dan juga dapat tumbuh pada daerah tropis yang
lembab disepanjang sungai dengan ketinggian 1000 m diatas permukaan laut.
Bambu ini juga dapat tumbuh dengan baik pada tipe tanah latosol dengan curah
hujan hingga 3,000 mm.
Bambu yang menghasilkan rebung dengan kandungan HCN rendah dan
enak untuk dikonsumsi diantaranya adalah bambu betung (Dendrocalamus asper),
bambu temen (Gigantochloa verticillata), bambu kuning (Dendrocalamus
litiforus) dan bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz). Semua pelepah
rebung bambu tabah berwarna coklat muda sampai hijau ke abu-abuan, tertutup
miang berwarna hitam tersebar tidak merata. Warna daun pelepah buluh pada
ujung rebung berwarna coklat muda sampai hijau. Perbedaan warna pelepah
tersebut tergantung dari pertumbuhan dan cara panen rebung tersebut. Apabila
rebung dipanen pada saat masih di dalam tanah, warna pelepah coklat muda, serta
24

daging rebung berwarna putih. Perawakan rebung bambu tabah disajikan pada
Gambar 10.



Gambar 10. Perawakan rebung bambu tabah

Rebung sangat digemari di samping rasanya enak, mengandung nilai
nutrisi tinggi. Berdasarkan kajian Kencana (2004), rebung bambu tabah
mempunyai komposisi : air (92,2 %), protein (2,29 %), lemak (0,23 %), pati
(1,68), serat (3,07 %) dari 100 g bahan segar. Keunggulan lain dari rebung bambu
tabah disbanding rebung lainnya adalah kandungan HCNnya jauh lebih rendah.
Kencana (1991) menginformasikan rebung betung mengandung HCN 256 ppm
per 100 gr bahan segar sementara rebung tabah kandungan HCN 7,97 ppm per
100 gr bahan segar.
Bambu tabah merupakan salah satu jenis bambu lokal yang dibudidayakan
di Desa Pupuan. Dahulu sebelum tahun 2000-an, bambu tabah tergolong jenis
yang kurang diperhatikan karena batangnya kurang besar dan kuat sehingga
belum mempuyai harga dibandingkan jenis bambu lainnya seperti bambu tali
(G.apus), bambu andong (G. pseudoarundinacae ), bambu betung
(Dendrocolalamus asper) yang nyaris sudah akrab dengan kehidupan masyarakat
di Bali. Munculnya temuan bahwa jenis bambu ini dapat menghasilkan rebung
yang dapat dikonsumsi dan potensinya sebagai sayuran elit sejajar dengan dengan
sayuran asparagus dan jamur mendorong adanya permintaaan berlebihan.
Sedangkan ketersediaannya di masyarakat sangat terbatas sehingga menyulitkan
mengelolanya untuk menjadikan sebagai bahan baku industri yang lestari dan
berkualitas.
Beberapa tahun silam rebung bambu masih identik dengan makanan
kampung karena hanya dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan yang memang
akrab dengan tanaman bambu. Namun, sekarang masyarakat perkotaan di
25

Indonesia pun sangat menyukai rebung bambu. Rebung bambu kalengan ataupun
yang dikemas dalam plastik transparan telah banyak dijual di supermarket
bersama dengan sayuran ekslusif kalengan lainnya, seperti jamur, asparagus dan
kacang polong. Selain dijual dalam kalengan di supermarket atau toko-toko besar,
rebung bambu juga tersedia di pasa-pasar tradisional. Rebung bambu yang yang
tersedia di pasar-pasar tradisional ditawarkan dalam bentuk dalam berbagai
bentuk mulai dari rebung gelondongan, rebung yang sudah dikuliti, dan rebung
yang telah dipotong-potong siap untuk dimasak.
Permintaan akan rebung bambu tidak saja berasal dari dalam negeri
melainkan juga dari luar negeri. Pasar luar negeri lebih menjanjikan karena
kebutuhan akan rebung bambu lebih besar. Berdasarkan BPEN, permintaan
rebung dari Indonesia mencapai 4500 ton/tahun dengan tujuan Korsel, J epang,
Taiwan, Amerika, Kanada, Australia dan Singapura. J epang membutuhkan
rebung segar dan kaleng sebanyak 30.000 ton/tahun, Taiwan 80.000 ton/tahun dan
Australia 12.000 ton/tahun. Kini sayuran rebung bambu telah berkembang
menjadi salah satu sayuran favorit yang digemari masyarakat internasional.
Untuk mengantisipasi perkembangan industri berbasis bahan baku bambu
tabah harus dilakukan budidaya agar dihasilan pasokan rebung yang lestari dan
berkualitas. Sampai saat ini belum dijumpai masyarakat melakukan budidaya
khusus jenis bambu tabah sehingga diperlukan petunjuk atau pedoman teknis
untuk melakukan praktek baik budidaya. Hal ini sangat penting diketahui supaya
masyarakat yang bergerak dalam bidang pemanfaatan rebung-rebung bambu tabah
tertarik untuk mengusahakannya.

4.2 Produk olahan Rebung Bambu Tabah

Rebung bambu tabah dapat diolah lebih lanjut dalam berbagai kemasan.
dalam kemasan botol maupun dalam kemasan plastik vakum. Secara garis besar
diagram alir pengolahan rebung bambu dapat ilihat pada Gambar 13. Rician
teknologi proses yang diberlakukan untuk menghasilkan produk olahan rebung
bambu tabah, yaitu :
Produk Rebung Segar (fresh-cut)
Rebung setelah dengan teknik pengupasan yang dianjurkan, dicuci dan
direndam dalam larutan garam 100 g dalam 20 liter air bersih untuk 50
potong rebung segar seberat 5 kg selama 10 menit, lalu dimasukkan ke
dalam plastik vakum ukuran 20 x 25 cm sebanyak 3 potong rebung ukuran
10 cm masing-masing beratnya 100 g. Rebung dalam kemasan plastik
kemudian di vakum, selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin sebelum
didistribusikan ke supermarket.
.

26


Gambar 11.. Produk rebung bambu tabah kemasan vakum

Produk Rebung Steam
Proses rebung steam, sama seperti proses rebung segar, hanya saja sebelum
dikemas, rebung disteam selama 20 menit, didinginkan sebelum
dimasukkan ke dalam plastik vakum, setelah dingin rebung dimasukkan
kedalam plastik sebanyak 3 potong setara dengan berat 300-350 g,
selanjutnya di vakum dan disimpan di dalam lemasi pendingin sebelum di
distribusikan ke supermarket.

27



Gambar 12. Ilustrasi diagram alir pengolahan rebung bambu tabah
Proses rebung steam dalam kemasan stand-up pouch dilakukan dengan cara
setelah rebung di steam seperti proses rebung sebelumnya, di dinginkan lalu
dimasuk seberat 300 g kedalam kemasan stand-up pouch ukuran 14 x 20 cm
(500 ml) jenis plastik PE dengan ketebalan 0,8 mikron, lalu dimasukkan
larutan garam 2,5 persen sebanyak 200 ml, kemudian di seller selanjutnya
disimpan dalam lemari pendingin.
Produk Rebung dalam Kemasan Botol
28

Proses rebung dalam botol dilakukan dengan cara, rebung yang sudah
dikupas seperti sebelumnya, di steam selama 20 menit, lalu didinginkan.
Disiapkan botol dengan ukuran 330 ml yang sudah disterilisasi beserta
tutupnya, kemudian dibuat larutan garam dengan konsentrasi 2,5 %,
disaring dan ditambah 2 g asam askorbat. Setelah siap, rebung dimasukkan
ke dalam botol sebanyak 3 potong dan diisi larutan garam sampai batas
leher botol untuk head space, botol ditutup, kemudian disterilisasi selama
20 menit, botol didinginkan dalam suhu kamar, dan dibiarkan selama 2
minggu sebelum di labeling.


Gambar 13. Rebung tabah dalam kemasan botol

4.3 Rancangan Awal Klaster Bisnis komoditi Rebung Bambu Tabah

Klaster bisnis komoditi bambu tabah (Gambar 14), dibangun melibatkan
beberapa sub sistem (komponen) atau institusi, yaitu Kelompok Tani, Lembaga
ULP2 (Lembaga Usaha Lepas Panen Pedesaan), perusahaan penghela, BDS
(Business Development Services) dan Lembaga Pembiayaan Usaha (Bank atau
LPBB). Bahkan sangat besar kemungkinannya petani dikemudian hari saja tidak
hanya berkelompok dalam kelompok tani, tetapi juga dalam bentuk lembaga
ekonomi koperasi, terutama koperasi produsen. Dalam rangka meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani, maka koperasi produsen dimaksud selain
29

dapat memiliki ULP2 juga sangat dimungkinkan untuk memiliki saham pada
perusahaan penghela.


Keterangan :
Kel.Tani : Kelompok Tani
BDS : Business Development Service
LEMBAGA : ULP2 (Usaha Lepas Panen Pedesaan)

Gambar 14. Rancangan awal klaster bisnis berbasis komodoti bambu tabah

Peran dari masing-masing komponen dalam kluster bisnis bambu tabah
adalah sebagai berikut :

Kelompok Tani

Satu kelompok tani yang terlibat dalam kluster beranggotakan 10 orang
petani yang melakukan budidaya tanaman bambu tabah di lahan setara luasan 10
ha (1 petani menangani 1 ha). Direncanakan jumlah kelompok tani yang terlibat
30

dalam satu klaster pada tahap awal sebanyak 15 kelompok atau petani yang
terlibat sejumlah 150 orang dengan lahan yang dibudidayakan seluas 150 ha.
Proses kerja yang dilaksanakan kelompok tani adalah penyiapan lahan,
penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan dan pembersihan hasil panen
(pelepah segar). Seluruh rebung bambu segar dari kelompok tani akan ditampung
oleh lembaga ULP2, untuk dilakukan proses lanjutan sebelum dijual ke
perusahaan penghela sebagai bahan baku. Pada masa yang akan datang
diharapkan kelompok tani secara bertahap dapat memiliki saham di perusahaan
penghela.

Business Development Services (BDS)

BDS merupakan badan independen yang berfungsi sebagai pendamping
dan pemonitor kinerja ULP2 dan kelompok tani. BDS ini dapat berasal dari
kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian atau perusahaan yang
berpengalaman dalam industri olahan rebung bambu. Satu BDS pada tahap awal
direncanakan hanya untuk satu klaster atau menangani 15 kelompok tani (10
petani menangani 10 Ha) yang berarti akan mendampingi sekitar 150 petani
bambu tabah sesuai asumsi di atas. Selanjutnya BDS dapat mengembangkan lebih
dari satu klaster bisnis sesuai dengan kemampuan.
Peran BDS melakukan pendampingan dalam rangka menjaga dan
menjamin kuantitas, kualitas, dan kontinuitas produksi rebung bambu agar sesuai
dengan yang diharapkan. Selain itu BDS juga melakukan monitoring terhadap
pengembalian pinjaman yang diterima oleh kelompok tani. Pemilihan BDS yang
akan dilibatkan dalam klaster didasarkan atas rekomendasi dari Kementerian
Koperasi dan UKM atau lembaga pemerintah lainnya yang ditunjuk.

Lembaga ULP2

Lembaga ULP2 juga merupakan badan independen yang akan melakukan
proses lanjutan dari rebung bambu yang dihasilkan petani. Rebung bambu yang
dibeli dari petani kemudian akan mengalami perlakuan pembersihan, proses
sortasi dan pengemasan untuk selanjutnya dijual ke perusahaan penghela. Satu
ULP2 direncanakan menampung hasil rebung segar dari 15 kelompok tani atau
hasil dari 150 ha lahan budidaya. Dengan demikian dalam satu kluster akan
terdapat 1 lembaga ULP2.

Perusahaan Penghela

Perusahaan penghela akan menyerap seluruh rebung segar yang telah
diproses oleh lembaga ULP2 dan berfungsi sebagai pabrikan pengolah rebung
bambu segar menjadi produk rebung segar dalam kemasan plastik produk rebung
31

steam dan produk rebung dalam kemasan botol yang akan dipasarkan oleh
perusahaan penghela baik ke pasar domestik maupun internasional. Perusahaan
penghela juga akan bertindak sebagai avalis atau penjamin atas pinjaman yang
diterima oleh Lembaga ULP2 dan kelompok tani.

Lembaga Pembiayaan/Bank dan Bukan Bank

Bank berfungsi sebagai salah satu sumber dana bagi keberlangsungan
klaster bambu tabah. Fungsi ini akan diwujudkan dalam bentuk pemberian
pinjaman berupa investasi dan modal kerja bagi komponen kluster yang terlibat
yaitu: perusahaan penghela, Lembaga ULP2 dan kelompok tani. Fungsi
Kementerian Koperasi & UKM atau lembaga pemerintah lain yang ditunjuk
adalah mediator bagi kerjasama antar komponen klaster dalam kaitannya dengan
perbankan. Selain itu pihak kementerian akan menseleksi kelompok tani,
Lembaga ULP2, dan BDS yang akan terlibat di dalam klaster.
Pada model klaster bisnis dimaksud terdapat lembaga surveyor yang tidak
termasuk dalam komponen klaster. Lembaga surveyor bertindak sebagai
pemantau persediaan di level perusahaan penghela dan hanya sebagai pemeriksa
persediaan di level ULP2. Layanan sebagai pemantau persediaan mewajibkan
lembaga surveyor membuat laporan rutin (seminggu atau dua minggu sekali)
kepada lembaga pembiayaan perihal kuantitas dan kondisi fisik persediaan, yang
menjadi jaminan, mulai dari bahan baku hingga barang jadi selama jam kerja.
Lembaga surveyor juga akan menerapkan sistem kunci ganda pada gudang dalam
rangka mengawasi keamanan dan mutasi barang yang bersangkutan. Layanan
sebagai pemeriksa persediaan hanya mewajibkan lembaga surveyor membuat
laporan atas kuantitas dan kondisi persediaan, yang dijaminkan, pada satu waktu
tertentu yang telah ditetapkan.
Manfaat lembaga surveyor akan dirasakan oleh lembaga keuangan
pemberi kredit/pembiayaan dan klaster bisnis itu sendiri. Manfaat bagi lembaga
pembiayaan adalah pengawasan terhadap jaminan berjalan secara kontinyu.dan
berfungsi sebagai peringatan dini terhadap kondisi usaha. Sedangkan manfaat bagi
klaster bisnis bambu tabah adalah berfungsi sebagai peringatan dini dalam
mengembangkan usaha serta memberikan keyakinan terhadap lembaga keuangan
dalam menyalurkan pembiayaan terhadap usaha bambu tabah.

5 Analisis Kelayakan Finansial Bisnis Bambu Tabah.

4.1 Analis Bisnis Hulu Bambu Tabah
Analisis finansial binis budidaya bambu rebung tabah adalah penghitungan
seberapa besar biaya produksi yang diperlukan untuk menghasilkan rebung dan
seberapa besar pendapatan yang bisa didapat oleh para petani atau produsen
32

pertanian dalam kurun waktu tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan
sebelumnya, bahwa rebung bambu tabah baru bisa dipanen pada tahun ke-3. J adi,
penerimaan hasil usaha baru bisa didapat setelah tahun ke-3. Pola bisnis usaha
tani budidaya rebung bambu ini memerlukan adanya kesabaran bagi petani,
namun karena tanaman bambu hanya sekali tanam, maka setelah tahun ke-3
pendapatan terus dapat dihasilkan sementara investasi awal hampir tidak
diperlukan lagi.

Bisnis Pembibitan Bambu Rebung Tabah
Dalam penghitungan analisis ekonomi usaha pembibitan bambu rebung
tabah didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :
1. Harga polybag Rp. 200 per buah
2. Bambu bibit Rp. 1000/ mata tunas
3. Pupuk kandang Rp. 50.000/karung
4. Paranet Rp. 1.000.000/gulung
5. Tenaga kerja lepas Rp. 25.000/hari
6. Tenaga kerja bulanan Rp. 400.000/bulan
7. Tingkat keberhasilan 40%

Adapun perhitungannya sebagai berikut :
No. Uraian Satuan
Harga
Satuan J umlah
Biaya/
Penerimaan

(Rupiah)

(Rupiah)

A. Biaya Bahan

1 Polybag buah 200 5,760 1,152,000
2 Paranet gulung 1,000,000 4 4,000,000
3 Bambu untuk tiang batang 7,000 50 350,000
4 Listrikdan air bulan 400,000 5 2,000,000
5 Bambu untuk bibit mata tunas 1,000 5,760 5,760,000
6 Pupuk kandang karung 50,000 8 400,000

Total Biaya Bahan ( A )= 13,662,000


B. Biaya Tenaga Kerja

1 Pembukaan lahan (14 hari) HKP 25,000 70 1,750,000
2 Pembuatan rumah bibit Lumps 1,800,000 1 1,800,000
3 Pemeliharaan GBP 400,000 6 2,400,000
4 Pemanenan bibit HKP 25,000 25 625,000
5
Pemeliharaan bibit dalam
polybag GBP 400,000 4 1,600,000

Total Biaya Tenaga Kerja (B) = 8,175,000

33


C. Total Biaya Pembibitan (A + B) = 21,837,000


D. Jumlah Bibit Diperoleh

1 J umlah mata tunas 5760 batang

2 Tingkat keberhasilan 40 persen

3 J umlah bibit yang didapat 2304 bibit



E. Penerimaan

1 Penjualan bibit

25,000 2,304 57,600,000


F. Keuntungan Usaha Pembibitan Bambu Rebung Tabah (E-C)
1 Keuntungan operasional ( 5 bulan)

35,763,000
2 Keuntungan per bulan

7,152,600

Berdasarkan hasil penghitungan tersebut diatas terlihat bahwa usaha
pembibitan bambu rebung tabah menguntungkan. Apabila petani mengusahakan
di tanah miliknya sendiri maka keuntungan usaha yang bisa didapat adalalah
sebesar Rp.7.152.600,- per bulan.

Bisnis Budidaya Bambu Rebung Tabah
Dalam penghitungan analisis ekonomi usaha tani budidaya rebung bambu
ini didasarkan pada beberapa asumsi dasara antara lain :
1. Luas lahan budi daya 1 hektar
2. Sewa lahan =Rp.2,000,000/Ha/tahun
3. J arak tanam 5 x 4 m sehingga untuk lahan 1 hektar berisi 500
rumpun bambu tabah
4. Produksi rebung sebanyak 30 buah per rumpun
5. Rebung dijual dengan harga Rp. 2500/rebung
6. Tenaga kerja (HKP=Hari Kerja Pria) Rp. 17.500,-
7. Tenaga kerja bulanan (GBP) =Rp. 400,000/orang
8. Harga-harga berlaku pada akhir tahun 2011

Adapun diskripsi dari masing-masing komponen biaya/penerimaan dari operasi
usaha budi daya bambu rebung tabah ini adalah sebagai berikut :

A. Sewa Lahan
Biaya sewa lahan adalah pengeluaran biaya yang dibayarkan kepada
pemilik tanah sebagai kompensasi atas penggunaan lahan tersebut untuk
budi daya bambu rebung tabah. Tanah yang diperlukan adalah berupa
34

tegalan/tanah kering. Biaya sewa diperhitungkan sebesar Rp. 2,000,000
per hektar per tahun. Biaya sewa tahunan ini tidak mengalami kenaikan
selama masa sewa, sehingga dalam waktu 6 (enam) jumlah biaya sewa
lahan menjadi sebesar Rp. 12,000,000., (dua belas juta rupiah. Kewajiban
biaya pajak bumi kepada negara atas kepemilikan tanah menjadi beban
pemilik tanah.

B. Biaya Bahan
Biaya bahan dalam usaha budi daya rebung tabah ini terdiri atas empat (4)
komponen, yaitu :
1. Biaya pengadaan bibit
Biaya pengadaan bibit adalah pengeluaran biaya untuk keperluan
membeli bibit bambu rebung tabah. Biaya pengadaan ini diperlukan di
awal tahun dan hanya sekali selama periode waktu usaha. Harga bibit
bambu tabah diperhitungkan Rp. 25,000 per bibit sudah diterima di
lokasi penanaman. Dengan menggunakan jarak tanam 5 x 4 m, maka
jumlah bibit yang diperlukan untuk luas tanam satu (1) hektar adalah
sebanyak 500 bibit. Karena itu, jumlah biaya biaya pengadaan bibit
sebesar Rp. 12,500,000.

2. Biaya pupuk kompos
Biaya pupuk kompos adalah pengeluaran biaya untuk keperluan
membeli pupuk kompos yang dipergunakan untuk menimbun lubang
tanam. Setiap lubang tanam memerlukan 10 kg pupuk kompos dan
hanya sekali dilakukan pada saat akan menanam bibit ke lahan tanam.
J umlah lubang tanam dalam luas tanam 1 hektar adalah sebanyak 500
buah, sehingga jumlah pupuk kompos yang diperlukan adalah
sebanyak 5,000 kg (5 ton). Harga pupuk kompos diperhitungkan Rp
1,000 per kg, karena itu jumlah biaya pengadaan pupuk kompos
menjadi Rp. 5,000,000.

3. Biaya pupuk kandang
Biaya pupuk kandang adalah pengeluaran biaya untuk keperluan
membeli pupuk kandang yang dipergunakan untuk menimbun
permukaan lubang tanam setelah bibit ditanam pada lubang tanam.
Setiap lubang tanam memerlukan 1 kg pupuk kandang dan hanya
sekali dilakukan pada saat menanam bibit ke lahan tanam. J umlah
lubang tanam dalam luas tanam 1 hektar adalah sebanyak 500 buah,
sehingga jumlah pupuk kandang yang diperlukan adalah sebanyak 5,00
kg (0,5 ton). Harga pupuk kandang diperhitungkan Rp 1,000 per kg,
karena itu jumlah biaya pengadaan pupuk kompos menjadi Rp.
500,000.
35



4. Biaya pupuk pemeliharaan
Biaya pupuk pemeliharaan adalah pengeluaran biaya untuk keperluan
membeli pupuk kandang/kompos yang dipergunakan untuk
memelihara tingkat kesuburan tanah. Pupuk pemeliharaan ini
diaplikasikan sebanyak 2 kg per rumpun tanaman bambu per tahun.
Selama periode usaha enam (6) tahun dilakukan sebanyak enam kali
aplikasi sehinga jumlah pupuk yang diperlukan per rumpun sebanyak
12 kg. J umlah rumpun dalam luas tanam 1 hektar ada sebanyak 500
rumpun. Dengan demikian jumlah pupuk pemeliharaan yang
diperlukan adalah sebanyak 6,000 kg (6 ton). Harga pupuk
pemeliharaan diperhitungkan Rp. 1,000 per kg, sehingga jumlah biaya
pupuk pemeliharaan selama periode usaha menjadi Rp. 6,000,000.

Dengan menjumlahkan ke empat komponen biaya bahan tersebut
didapat akumulasi biaya bahan sebesar Rp. 27,000,000., (dua puluh
tujuh juta rupiah).

C. Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja adalah pengeluaran biaya untuk keperluan membayar
gaji bulanan, upah borongan kepada para pekerja yang terlibat dalam
usaha budi daya bambu rebung tabah. Biaya tenaga kerja ini terdiri atas
tiga (3) macam biaya, yaitu :

1. Biaya pembuatan lubang tanam
Biaya pembuatan lubang tanam adalah pengeluaran biaya untuk
keperluan membayar upah borongan membuat lubang tanam kepada
pekerja. Biaya ini diperlukan di awal tahun dan hanya sekali selama
periode waktu usaha. Harga borongan pembuatan lubang tanam
diperhitungan Rp. 5,000 per lubang tanam. J umlah lubang tanam yang
harus dibuat sebanyak 500 lubang, karena itu biaya pembuatan lubang
tanam ini menjadi Rp. 2,500,000.

2. Biaya penanaman bibit
Biaya penanaman bibit adalah pengeluaran biaya untuk keperluan
membayar upah borongan menanam bibit ke lubang tanam kepada
pekerja. Biaya ini diperlukan di awal tahun dan hanya sekali selama
periode waktu usaha. Harga borongan menanam bibit diperhitungan
Rp. 1,000 per bibit. J umlah bibit yang ditanam sebanyak 500 bibit,
karena itu biaya penanaman bibit ini menjadi Rp.500,000.
3. Biaya pemeliharaan
36

Biaya pemeliharaan adalah pengeluaran biaya untuk keperluan
membayar gaji bulanan kepada pekerja. selama periode usaha. Biaya
ini timbul mulai tahun pertama dan berlanjut sampai berakhir periode
waktu usaha. J umlah pekerja yang diperlukan untuk memelihara
rumpun tanaman sebanyak 2 orang per hektar luas tanaman, sehingga
dalam setahun diperlukan 24 kali gaji bulanan pria (GBP). Gaji
bulanan untuk setiap pekerja ini diperhitungkan Rp. 400,000 per bulan,
karena jumlah biaya pemeliharaan dalam setahun menjadi Rp.
9,600,000. Dalam kurun waktu enam tahun akumulasi biaya
pemeliharaan ini menjadi Rp. 57,600,000. Biaya pemeliharaan ini
merupakan komponen biaya yang terbesar diantara biaya tenaga kerjaa
lainnnya.

Dengan menjumlahkan ketiga komponen biaya tenaga kerja tersebut di
atas, didapat akumulasi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 60,600,000.,
(enam puluh juta enam ratus ribu rupiah).

D. Biaya Operasional
Biaya operasional adalah keseluruhan pengeluaran biaya untuk
mengoperasikan usaha budi daya bambu rebung tabah selam periode
usaha. Besaran biaya ini merupakan penjumlahan dari tiga kompoenen
biaya utama yaitu biaya sewa lahan, biaya bahan dan biaya tenaaga kerja.
Dengan menjumlahkan ketiga komponen biaya tersebut didapat biaya
operasional selama periode usaha sebesar Rp, 99,600,000., (sembilan
puluh sembilan juta enam rataus ribu rupiah).

E. Pendapatan Usaha
Pendapatan usaha adalah seluruh penerimaan pendapatan dari hasil usaha
budi daya bambu rebung tabah selama periode usaha. Pendapatan ini baru
bisa diterima mulai periode tahun ke-3 dan berlanjut sampai periode usaha
berakhir. Pendapatan usaha ini terdiri dari dua macam, yaitu :

1. Penjualan rebung bambu tabah
Penjualan rebung bambu tabah adalah pendapatan yang diterima
sebagai imbalan atas penyerahan hasil panen rebung kepada pihak
pembeli. Dalam setiap rumpun bambu tabah diasumsikan diperoleh 30
rebung per rumpun per tahun. Dalam setiap 1 hektar di dapat hasil
panen rebung sebanyak 15,000 rebung. Harga hasil pasar hasil panen
rebung diperhitungkan Rp. 2,500/per rebung. Dengan demikian,
jumlah pendapatan penjualan hasil panen rebung dalam setahun per 1
hektar luas tanam menjadi sebesar Rp. 37,500,000. Selama periode
37

usaha dilakukan empat kali panen sehingga jumlah pendapatan
penjualan hasil panen rebung menjadi sebesar Rp. 150,000,000.

2. Penjualan batang bambu tabah
Penjualan batang bambu tabah adalah pendapatan yang diterima
sebagai imbalan atas penyerahan batang bambu tabah yang telah tua
kepada pihak pembeli. Dalam setiap rumpun bambu tabah
diasumsikan diperoleh 5 batang per rumpun per tahun. Dalam setiap
1 hektar di dapat hasil batang bambu tabah sebanyak 2,500 batang.
Harga pasar hasil batang bambu tabah tua diperhitungkan Rp.
2,000/per batang. Dengan demikian, jumlah pendapatan penjualan
batang bambu tabah dalam setahun per 1 hektar luas tanam menjadi
sebesar Rp. 5,000,000. Pada tahun-tahun berikutnya diasumsikan
setiap tahunnya ada tambahan sebanyak 1 batang yang bisa dijual.
Dengan demikian, selama periode usaha akan didapat hasil penjualan
batang bambu tabah sebesar Rp. 26,000,000.

Dengan menjumlahkan komponen pendapatan dari hasil penjualan
rebung dan hasil penjualan batang bambu tabah selama periode usaha,
mampu menciptakan pendapatan usaha budi daya rebung bambu
sebesar Rp. 176,000,000., (seratus tujuh puluh enam juta rupiah).

4.2 Analisis Agribisnis Hilir Bambu Tabah

Bagian kedua dalam rangkaian sistem agribisnis hulu-hilir adalah
agribisnsis di tingkat hilir. Tahap awal dalam analisis ini adalah menentukan
struktur ongkos dan harga jual produk untuk memenuhi konsep business to
business. Hasil analisis disajikan sebagai berikut :

Asumsi Dasar

1
hektar
500
rumpun
1
rumpun
30
batang
1
rumpun
40
rebung
1
rebung
250
gr (+kulit)
1
rebung
100
gr (bersih)

1 pack 3 rebung
1 pack 250 gr / weight
1 bottle 3 rebung
1 bottle 300 gr / weight
100 pack/btl minimum order
38


Listrik
1 KwHour 900 Rp

air 3,000 /hari
cold storage 13,000 /hari
16,000 /hari
496,000 /bulan
vakum 5 /rebung
3 rebung


Dasar Perhitungan

1 hektar 500 rumpun
15,000 batang
20,000 rebung
10,000 gr (+kulit) 10 ton
4,000 gr (bersih) 4 ton
500 rumpun 1.0 hektar
15,000 batang
20,000 rebung
10,000 gr (+kulit) 10 ton
4,000 gr (bersih) 4 ton

Harga rebung 2,750 Rp 3 rebung
1,000 Rp 1 rebung
Ongkos panen 100 Rp 1 rebung
Ongkos cuci 100 Rp 1 rebung
Ongkos antar 100 Rp 1 rebung
Ongkos kupas 5,000 per jam/org 25 rebung
200 Rp 1 rebung

Biaya STEAM 100 Rp (gas) (isi 100 rebung)
5 Rp (air/listrik)
105 Rp. 100 rebung
1 Rp 1 rebung

Proses VAKUM 1,000 Rp/plastik (isi 3-4 rebung)
5 Rp
1,005 Rp 3 rebung
335 Rp 1 rebung

39

Proses BOTOL 3,500 Rp / botol
10 Rp. (seal)
3,510 Rp 3 rebung
1,170 Rp 1 rebung

Proses PICKLE 50,000 Rp. (fermentasi+bumbu)
100 Rp. (cutting)
10 Rp. (seal)
50,110 Rp. 300 rebung
167 Rp. 1 rebung

Cold storage 10,000 Rp. / hari 300 rebung
33 Rp. 1 rebung

Delivery 150,000 Rp./ drop 300 rebung
(Denpasar) 500 Rp. 1 rebung


Kalkulasi produk per-pesanan (order)





Order 1 pack / bottle / week

100 pack minimum



Post Harvest
Product Isi Kg HDP Panen Cuci Antar
Vakum Fresh 3 0.25 3,000

300

300

300
Vakum Steam 3 0.25 3,000

300

300

300
Vakum St. 1Kg 12 1 4,800

4,800

4,800

4,800
Vakum Steam Slash 3 0.25
Bottle Steam 3 0.3 3,000

300

300

300
Bottle Pickle 3 0.3 3,000

300

300

300

Process
Product Kupas Steam Vakum Botol Pickle
Vakum Fresh

600


1,005

Vakum Steam

600
3

1,005

Vakum St. 1Kg

2,400
13

4,020

Vakum Steam Slash

600
3

1,005

40

Bottle Steam

600
3

3,510

Bottle Pickle

600
3

3,510

501

calculation
Product PH Process Cld.Strg Delivery Neto
Vakum Fresh

3,900
1,605

100

1,500

7,105
Vakum Steam

3,900
1,608

100

1,500

7,108
Vakum St. 1Kg

19,200
6,433

400

6,000

32,033
Vakum Steam Slash

-
1,608

100

1,500

3,208
Bottle Steam

3,900
4,113

100

1,500

9,613
Bottle Pickle

3,900
4,614

100

1,500

10,114

Final Calculation
Product 20 % OC PPh 15% Gross
Vakum Fresh

1,421


8,526.00
Vakum Steam

1,422


8,529.78
Vakum St. 1Kg

6,407


38,439.12
Vakum Steam Slash

642

-
-

3,849.78
Bottle Steam

1,923


11,535.78
Bottle Pickle

2,023


12,137.10












41

BAB V
RANGKUMAN

Para pelaku agribisnis sekala usaha kecil di Indonesia hingga kini
umumnya masih mempunyai berbagai keterbatasan. Kecilnya sekala usaha
membuat posisi tawar mereka relatif lemah baik dalam mengakses modal maupun
pasar. Salah satu cara memperbaiki posisi tawar mereka adalah dengan
peningkatan skala ekonomi (economic of scale) usaha. Hal ini dapat dilakukan
melalui pembentukan jalinan kemitraan usaha yang beroperasi dalam sebuah
sistem agribisnis terintegrasi hulu-hilir, yakni saling ketergantungan antara
subsistem hulu, subsistem agribisnis tengah, subsistem agribisnis hilir serta
subsistem penunjang. Setiap susbsitem merupakan perusahaan agribisnis yang
harus dapat bekerja secara efisien.
Kemitraan usaha agribisnis harus di bangun atas landasan saling
membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memperkuat masing-masing
pihak yang terlibat di dalamnya. Melalui kemitraan usaha memungkinkan untuk
meraih peningkatan produktivitas, efisiensi,jaminan kualitas, kuantitas dan
kontinuitas, serta berbagi resiko sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Terdapat beberapa pola kemitraan usaha yang bisa dijadikan pilihan yaitu pola inti
plasma, subkontrak, dagang umum, keagenan dan waralaba, yang bisa dibangun
mulai tahapan pemula hingga menuju ke tahapan utama yakni kemitraan dalam
bentuk saham.
Dalam beberapa tahun terakhir aktualisisasi kemitraan usaha agribisnis
telah berhasil diwujudkan melalui pembentukan model klaster bisnis. Model
klaster bisnis ini telah terbukti mampu menjadi alat yang baik untuk mengatasi
hambatan akibat ukuran usaha kecil. Penerapan model klaster bisnis merupakan
salah satu strategi yang dinilai sangat tepat meningkatkan daya saing industri
berbasis pertanian yang berkelanjutan. Model bisnis ini menyarankan
pengelompokkan industri inti yang saling berhubungan, baik dengan industri
pendukung (supporting industries) maupun industri terkait (related industries).
Model klaster ini cocok dikembangkan pada komoditas unggulan yang dicirikan
memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan pohon industri yang lengkap . Contohnya,
adalah pengembangan klaster bisnis industri rumput laut di 60 daerah di
Indonesia.
Berdasarkan hasil studi, model klaster bisnis juga cocok diterapakan
sebagai alternatif pengembangan sistem agribisnis berbasis komoditi bambu
tabah. Keunggulan tanaman bambu tabah adalah selain sebagai tanaman penghasil
bahan pangan berupa rebung bambu juga sebagai penghasil bahan baku industri.
Klaster bisnis komoditi bambu tabah dibangun dengan melibatkan beberapa sub
sistem (komponen) atau institusi, yaitu Kelompok Tani, Lembaga ULP2
(Lembaga Usaha Lepas Panen Pedesaan), perusahaan penghela, BDS (Business
42

Development Services) dan Lembaga Pembiayaan Usaha (Bank atau LPBB).
Berdasarkan hasil analisis secara ekonomi, pengembangan agribisnis berbasis
bambu tabah dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk memajukan sektor
agribisnis skala usaha kecil.
































43

DAFTAR PUSTAKA

Agus Andoko, 2005. Budi Daya Bambu Rebung. Penerbit Kanisus

Antara, Made, 2009. Pertanian Bangkit atau Bangkrut. Penerbit Arti Foundation

Bambang Y. Ariadi dan Rahaya Relawati, 2011. Sistem Agribisnis Terintegrasi Hulu-
Hilir. Penerbit Muara Indah Bandung.

Canela, Eduardo, 2001. Business Development Services for Small and Medium
Enterprisesand Cooperatives in Indonesia: Some Key Guidelines and Needs.
Laporan Kajian.USAID dan BPSKPKM.

Humprey, J ohn and Schmitz, Robert, 1995. Principles for Promoting Clusters and
Networks of SMEs. UNIDO. Austria.

J apan International Cooperation Agency, 2003. Studi Mengenai Peningkatan Kapasitas
Kluster Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia. Laporan
Perkembangan. KRI International Corp. Tokyo.
Kader, A. 2002. Postharvest Technology of Horticultural Crops. University of
California. California.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI, (2001). Petunjuk Teknis
Perkuatan Permodalan UKMK dan Lembaga Keuangannya dengan
Penyediaan Modal Awal danPadanan (MAP) Melalui Koperasi Simpan
Pinjam/Unit Simpan Pinjam Koperasi.

_______________, 2003. Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Sentra Usaha
Kecil dan Menengah.

_______________, 2003. Petunjuk Teknis Business Development Services (BDS).

_______________ dan Badan Pusat Statistik, 2003. Pengukuran dan Analisis Ekonomi
Kinerja Penyerapan Tenaga Kerja, Nilai Tambah dan Ekspor Usaha Kecil
dan Menengah Serta Peranannya Terhadap Tenaga Kerja Nasional dan
Produk Domestik Bruto Menurut Harga Konstan dan Harga Berlaku. Badan
Pusat Statistik. J akarta.

_______________, 2003. Pengkajian Grand Strategy Pengembangan Sentra UKM dalam
Rangka Perkuatan BDS, KSP/USP dan Asosiasi UKM.

_______________, 2003. Evaluasi Perkuatan dan Pengembangan Sentra Bisnis dalam
Meningkatkan Daya Saing Produk Unggulan.

_______________, 2005. Direktori Sentra UKM Bidang Usaha Pertanian dan
Perkebunan. J akarta

_______________, 2005. Pengkajian Strategis Pengembangan Tahap Lanjut Sentra
Bisnis UKM Pasca Dukungan Program Perkuatan.

44

Kencana, P.K., Diah, 2009. Fisiologi dan Teknologi Pascapanen Rebung Bambu Tabah
(Gigantochloa nigrociliata Kurz). Disertasi Program Pascasarjana Fakultas
Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang

Koizumi, Hajime, 2003. Strengthening Capacity of SME Clusters : Master Concept and
Strategy for SME Cluster Development from Lessons Learnt. J ICA Study
Team.
Mosselman, Marco dan Prince, Yvonne, (2004). Review of Methods to Measure The
Effectiveness of State Aid to SME. EIM. European Community.

Nadvi, Khalid, (1995). Industrial Clusters and Networks: Case Studies of SME Growth
and Innovation. UNIDO. Austria

Pasaribu A. Musa, 2012. Kewirausahaan Berbasis Agribisnis. Penerbit Andi
Yogyakarta.

Suparta, Nyoman, 2005. Pendekatan Holistik Membangun Agribisnis. Penerbit Bali
Media Adhikarsa

Xiao, J and QingPing Y., 2010. Transfer of Technology Model (TOTEM) : Bamboo
Shoots Plantation. International Network for Bamboo and Rattan (INBAR),
China.