Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perhatian masyarakat terhadap masalah pertanian dan lingkungan beberapa
tahun terakhir semakin meningkat. Keadaan ini disebabkan semakin dirasakannya
dampak negatif yang besar bagi lingkungan akibat penggunaan bahan kimia.
Gerakan revolusi hijau pada massa orde baru, disadari telah menimbulkan
permasalahan lain dalam dunia pertanian di Indonesia, diantaranya menciptakan
ketergantungan para petani pada penggunaan pupuk kimia dan pestisida serta
menurunnya kesuburan lahan. Maka dari itu salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dalam bidang pertanian adalah
mengembangkan pertanian dengan sistem pertanian organik

yang prinsip

pengelolaannya kembali ke alam (Nasir, 2005).


Menurut Hamzah (2007), pertanian organik telah berkembang secara luas,
baik dari sisi budidaya, sarana produksi, jenis produk, pengetahuan konsumen dan
organisasi atau lembaga masyarakat yang menaruh minat (concern) pada pertanian
organik. Tujuan yang ingin dicapai oleh para pelaku pertanian organik yaitu
menyediakan produk yang sehat, aman dan ramah lingkungan. Perkembangan sistem
pertanian organik berpengaruh terhadap perusahaan-perusahaan pupuk. Pengaruh
tersebut berupa minimalisasi penggunaan bahan baku yang berupa bahan-bahan
kimia dan kembali menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dalam
memproduksi pupuk sehingga hasilnya pula berupa pupuk organik. Salah satu
produk pupuk oganik adalah pupuk bokashi kotaku yang diproduksi oleh PT.
Songgolangit Persada yang beralamat di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg
Timur, Tabanan, Bali.
PT. Songgolangit Persada sendiri merupakan salah satu anak perusahan dari
PT. Karya Pak Oles Tocker yang bergerak di bidang produksi pupuk organik dengan
tekhnologi effective microorganism (EM). Bahan baku pupuk bokashi kotaku adalah
kotoran sapi, babi, kambing, ayam dan kompos yang kemudian difermentasikan dengan
bakteri effective microorganism (EM) atau yang lebih dikenal dengan EM4. Teknologi EM
memanfaatkan mikroorganisme alam sebagai fermentor (ragi) yang terdiri dari lima

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

kelompok mikroorganisme dari golongan ragi, L actobacillus, jamur fermentasi, bakteri


fotosintetik, dan Actinomycetes.
Pembuatan kompos secara tradisional membutuhkan waktu antara 3-4
bulan. Sekarang dengan menerapkan teknologi Effective Microorganism (EM),
pembuatan pupuk kompos hanya memerlukan waktu 3-14 hari. Hasil pupuk kompos
dari proses dekomposisi bahan organik dengan teknologi EM populer dikenal
dengan nama ''Pupuk Bokashi''.
Kata bokashi diambil dari bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang
telah difermentasikan. Oleh orang Indonesia kata bokashi ada yang memperpanjang
menjadi ''bahan organik kaya akan sumber kehidupan''. Larutan EM pertama kali
ditemukan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Jepang pada tahun
1980-an.

Jumlah mikroorganisme di dalam larutan EM sangat banyak, sekitar 80

genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam
mendekomposisikan bahan organik. Pemanfaatan pupuk bokashi secara rutin dapat
berdampak nyata terhadap peningkatan kesuburan lahan, tanah menjadi gembur,
serta sifat fisik, kimia dan biologi tanah menjadi lebih baik (Wariyanto,2002)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana proses pembuatan pupuk organik bokashi kotaku di PT. Songgolangit
Persada?
2. Bagaimana metode pemasaran

PT. Songgolangit Persada dalam memasarkan

pupuk bokashi kotaku?


3. Bagaimana analisis ekonomi (rugi/laba) dari PT. Songgolangit Persada dalam
memproduksi pupuk bokashi kotaku?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui proses pembuatan pupuk organik bokashi kotaku di PT.
Songgolangit Persada.
2. Untuk mengetahui metode pemasaran PT. Songgolangit Persada dalam memasarkan
pupuk bokashi kotaku.
3. Untuk mengetahui perhitungan ekonomi (rugi/laba) dari PT. Songgolangit Persada
dalam memproduksi pupuk bokashi kotaku

1.4 Manfaat
ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

a. Bagi Petani
Sebagai bahan pertimbangan bagi petani dalam memilih jenis pupuk organik
untuk usaha peningkatan kesuburan lahan pertaniannya karena pupuk bokashi kotaku
dapat memperbaiki unsure hara pada lahan serta mampu meningkatkan kesuburan
tanah sehingga produksi tanaman meningkat. Selanjutnya laporan ini dapat menjadi
pedoman bagi petani dalam menggunakan pupuk orgnik bokashi kotaku .
b. Bagi Instansi Terkait
Sebagai salah satubahan pertimbangan untuk instansi/lembaga terkait dalam upaya
untuk memberikan penyuluhan kepada petani agar mau beralih ke pertanian
dengan memanfaatka pupuk organik bokhasi kotaku.
c. Bagi Mahasiswa

Sebagai salah satu sumber untuk menambah wawasan dan pengetahuan


mahasiswa mengenai dunia pertanian, khususnya pertanian organik.

Sebagai salah satu sumber informasi bagi mahasiswa yang ingin menekuni
dunia agribisnis khususnya dalam agroindustri pembuatan pupuk organik
berbasis teknologi EM4.

Sebagai salah satu refrensi dan bahan pertimbangan bagi mahasiswa yang
akan melaksanakan magang di tahun berikutnya.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

BAB II
METODOLOGI PELAKSANAAN MAGANG

2.1 Kerangka Pemikiran


SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN

PT. SONGGOLANGIT
PERSADA

INPUT

PROSES
BAHAN BAKU
MODAL
TENAGA KERJA

PENGOLAHAN

OUTPUT

PUPUK
BOKHASI
KOTAKU

PEMASARAN

BIAYA-BIAYA
PENERIMAAN

PENDAPATAN
BSRSIH

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

2.2 Tempat Dan Waktu Pelaksanaan Magang Kerja


Kegiatan Magang Kerja dilaksanakan di PT.Songgolangit Persada Tabanan, Bali.
Kegiatan Magang Kerja akan dilaksanakan mulai tanggal 17 Juli 2014 sampai tanggal 16
Agustus 2014. Penentuan lokasi magang ini dilakukan dengan metode purposive
sampling yaitu metode penentuan lokasi magang secara sengaja berdasarkan beberapa
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut. (1) PT.Songgolangit merupakan salah satu
perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang produksi pupuk dan merupakan satusatunya perusahaan di Indonesia yang menggunakan teknologi EM (Effective
microorganism) dalam proses produksi pupuknya.

2.3 Metode Pengumpulan Data


Dalam pengumpulan data di lokasi kegiatan penulis menggunakan metode-metode
sebagai berikut:
a. Observassi Lapang
Observasi keadaan umum yang meliputi : lokasi, luas area, struktur
organisasi, jumlah tenaga kerja, dan proses produksi yang dijlankan.
b. Diskusi dan wawancara
Diskusi dan wawancara adalah bentuk praktek kerja langsung untuk
memperoleh penjelasan dan pemahaman dari kegiatan yang dilakukan serta
memperoleh keterangan dari pihak instansi mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan tujuan magang kerja baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
2.4 Metode Sampling
Sample dalam kegiatan magang ini ditentukan dengan metode purposive
sampling, yaitu ditentukan secara sengaja. Sample yang ditentukan terdiri dari : (1) Kabag
Produksi, (2) Kabag Administrasi & Keuangan, dan (3) Kabag Pemasaran.

2.5 Jenis Data yang Digunakan


Data yang dikumpulkan dari lokasi magang kerja adalah data yang relevan
dengan topik magang kerja yang dipilih, yaitu berupa:

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung di tempat magang
kerja melalui observasi lapang dan wawancara langsung dengan pihak
instansi.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen
perusahaan, laporan magang terdahulu, serta literature dan artikel yang
relevan dengan topik magang kerja yang dipilih.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Lokasi Magang


a. Gambaran umum desa bantas
Magang kerja dilaksanakan pada PT.Songgolangit Persada yang beralamat di
Desa Bantas, Keamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Adapun gambaran
umum Desa Bantas yaitu sebagai berikut :

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Gelogor

Sebelah Barat berbatasan dengn Desa Megati

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Dukuhpulu kajo

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Gadungan

b. Profil PT. Songgolangit Persada


Pada zaman modern sekarang ini, kebanyakan petani di Indonesia lebih memilih
system pertanian anorganik dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida kimiawi dalam
usaha pengembangan usahataninya dibandingkan dengan pertanian organik. Dalam
kurun waktu yang singkat penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi memang akan
mendatangkan keuntungan yang besar karena adanya peningkatan produksi pada
tanaman. Namun dalam kurun waktu yang cukup lama akan berdampak pada
pencemaran lingkungan, kerurusakan pada struktur tanah dan hilangnya kandungan
unsur hara daam tanah. Keadaan seperti ini tentu akan sangat merugikan bagi pertanian
yang berkelanjutan.
Sebagai ilmuwan pertanian asli Indonesia, Gusti Ngurah Wididana merasa
memiliki tanggung jawab dengan kondisi pertanian di Indonesia yang seperti ini.
Setelah mendapat lisensi dari Prof. Dr. Teruo Higa untuk mengembangkan beliau
langsung mendirikan PT. Songgolangit Persada pada tahun 1993 yang bertujuan untuk
memproduksi prduk organik EM-4. Dari waktu ke waktu PT. Songgolangit terus
berkembang dan tidak hanya memproduksi EM-4 namun meluas pada produksi pupuk
organik dan usaha perkebunan organik yang semuanya berbasis pada teknologi EM-4.
Pupuk organik Bokashi yang diproduksi di PT. Songgolangit lebih dikenal dengan
ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

nama Pupuk Organik Bokashi Kotaku yang terdiri dari pupuk bokashi kotaku sekar dan
pupuk bokashi kotaku granul. Sebagai suatu perusahan, dalam memproduksi pupuk
bokashi PT. Songgolangit Persada juga memiliki visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
Mengembangkan pertnian organik dengan teknologi EM-4 untuk dapat
menhasilkan produk pertanian yang sehat dan berkualitas sehingga memberikan
manfaat ekonomis dan spiritual kepada konsumen dan produsen.
Misi :
1. Menghasilkan pupuk organik berkualitas yang dapat digunakan siapa saja
dengan mudah dan murah.
2. Menciptakan lapangan kerja.
3. Mengembangkan lingkungan yang sehat dan masyarakat yang sejahtera.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

STRUKTUR ORGANISASI PT. SONGGOLANGIT PERSADA

DEWAN DIREKSI
Dr. Ir. G. N. Wididana, M.Agr
Ir. Agus Urson HP
Dra. Ketut Tisnawati

MANAGER PABRIK
Nyoman Sukamerta
ADMINISTRASI
Ni Wayan wisnariati
Luh Okta Periani

KEPALA PRODUKSI

KEPALA PENGAWASAN MUTU

Drh. Komang Rista Rahayu

Endah Widyowati, S.Si.Apt

SUPERVISOR PENGOLAHAN

SUPERVISOR PENGEMASAN

SUPERVISOR GUDANG

Putu Paramita

Putu Wesen Adnyana

Komang Suardika

ANGGOTA

ANGGOTA

ANGGOTA

Ketut Wiaget

Made Arini
Wayan Suwryasa

Putu Merta Yasa

SUPERVISOR
PENGAWASAN MUTU
Nyoman Suparta

Sumber : PT. Songgolangit Persada


Putu Paramita

Gambar 3.1. Struktur Organisasi PT. Songgolangit Persada

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

3.2 Tinjauan Umum Pupuk Bokashi Kotaku


Pupuk Bokashi Kotaku dibuat dari aneka jenis bahan organik yang difermentasi
dengan menggunakan Teknologi EM (Effective Microorganisme ). Dengan keragaman
bahan baku, proses fermentasi dan penerapan teknologi yang handal membuat pupuk
berkualitas tinggi. Bokashi Kotaku merupakan merek pupuk yang diproduksi PT.
Songgolangit Persada sejak tahun 1998 dan dipasarkan secara resmi pada tahun
1999. Tempat produksinya yaitu di sekitar kota Denpasar, Bali.
Proses pengolahan bahan baku menggunakan Teknologi EM (Effective
Microorganisms) dengan prinsip dasar fermentasi. Jadi, Bokashi Kotaku lebih dari
sekedar kompos biasa.Melalui proses fermentasi unsur hara yang dibebaskan lebih
banyak. Selain itu, juga dihasilkan sejumlah senyawa organik seperti asam laktat, asam
nukleat, biohormon, karbohidrat, protein, dan lain-lain yang dapat diserap oleh perakaran
tanaman. Senyawa organik ini juga dapat membentengi tanaman dari serangan penyakit.

Gambar 3.2 pupuk bokasi


Spesifikasi :

Jenis

Bentuk Fisik : Halus

Warna

: Hitam Kecoklatan

Sifat

: Ramah Lingkungan, tidak berbau

Kandungan Hara : N, P, K ( unsur makro ) dan Ca, Mg, Al, dll ( unsur

: Organik

mircro )

Kemasan

Proses Produksi : Fermentasi dengan Teknologi EM ( Effective

: 25 kg dan 40 kg, kemasan karung

Microorganisms )
ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

10

3.3 Keunggulan Dan Manfaat Pupuk Bokashi


1. Tidak Berbau
Meskipun

dibuat

dari

sampah

dan

berbagai

jenis

bahan

organik

lainnya, Bokashi Kotaku tidak menimbulkan bau busuk karena pembuatannya melalui
proses fermentasi sehingga dapat diaplikasikan setiap saat. Sedangkan pupuk organik
yang dibuat dengan cara konvensional masih memungkinkan menyebarkan bau busuk
bila belum sempurna.
2. Bentuk Halus
Bokashi Kotaku bentuknya halus, tidak tercampur dengan ranting-ranting atau
daun seperti yang biasa terdapat pada kotoran kandang sehingga kebun/taman dan
tanaman dalam pot baik di dalam maupun di luar ruangan tetap tampak bersih.
3. Bebas Bahan Kimia Sintetis
Pupuk Bokashi Kotaku 100% menggunakan bahan-bahan alami. Tidak
menggunakankarbit (untuk

mempercepat

pematangan)

dan formalin (untuk

menghilangkan bau).
4. Mengandung Senyawa Organik
Proses fermentasi menghasilkan senyawa organik yang berupa asam amino, asam
asetat, asam nukleat, protein, dan lain-lain yang dapat diserap langsung perakaran
tanaman.Mengandung unsur hara makro ( N-P-K ) dan unsur mikro ( Ca, Mg, Al, dan
lain-lain ).
5. Diinokulasi EM-4
EM-4

adalah

kultur

campuran

dari

berbagai

jenis

mikroorganisme

menguntungkan tanaman yang satu sama lain bekerja secara sinergis untuk membantu
menyediakan unsur hara bagi tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap
penyakit, dan memperbaiki kondisi ekosistem mikro ( micro ecosystem ). Selain itu,
Bokashi Kotaku yang dibuat dari berbagai jenis bahan organik dan inokulasi EM-4

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

11

menyebabkan pupuk ini dapat meningkatkan populasi, aktivitas, dan keragaman


mikroorganisme yang menguntungkan tanaman.
6. Kemasan Praktis
Pupuk Bokashi Kotaku dikemas dengan kantong plastik dan dilapisi inner yang
kedap air sehingga dapat disimpan lebih lama. Kemasan 30 kg dan 40 kg per zak
memudahkan dalam pengaplikasian. Hal ini tentunya lebih praktis daripada
menggendong berkeranjang-keranjang pupuk kandang.
7. Memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah
Pemakaian pupuk kimia secara terus menerus terbukti dapat merusak sifat-sifat
tanah baik sifat fisik, kimia, maupun biologi. Bokashi Kotaku dapat memperbaiki
kerusakan ketiga sifat tanah tersebut. Secara fisik tanah menjadi gembur, secara kimia
dapat menyediaakan unsur hara bagi tanaman, sedangkan secara biologis pupuk
Bokashi

Kotaku

dapat

meningkatkan

populasi,

keragaman,

dan

aktivitas

mikoorganisme yang menguntungkan tanaman dan menekan pathogen (penyebab


penyakit) pada tanaman.
3.4 Proses Produksi
3.4.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam agroindustri pupuk bokashi dibagi menjadi
dua yaitu bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dalam agroindustri ini adalah
kotoran sapi, babi, ayam,komapos dan EM-4. Kotoran hewan dan kompos diperoleh
dari daerah-daerah yang ada di pulau Bali bahkan sebagiannya berasal dari pulau
Jawa jika bahan baku lokalnya kurang.
Bahan penolong yang digunakan untuk membantu proses produksi pupuk
bokashi adalah EM-4, air, karung kemasan, benang jahit dan solar. EM-4 berperan
sebagai fermentor yang mepercepat proses dekomposisi kotoran hewan dan kompos.
EM-4 merupakan bahan yang diproduksi sendiri di PT. Songgolangit Persada. Air
digunakan sebagai pelarut EM-4 dengan perbandingan 1 liter EM-4 membutuhkan
100 liter air untuk memfermentasi 1 ton campuran kotoran hewan dan kompos
menjadi pupuk bokashi.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

12

Karung kemasan berfungsi untuk membungkus pupuk bokashi. Karung yang


digunakan adalah karung ukuran 40 kg dan 25 kg. Dan benang jahit berfungsi untuk
menjahit karung pembunkus.

Gambar 3.3 bahan baku pupuk bokashi kotaku

3.4.2 Peralatan
Alat yang digunakan dalam agroindustri pupuk bokashi adalah 1buah
cangkul, 2 buah ember, 1 buah gembor, 2 buah sekop,1 unit mesin giling, 1 unit
timbangan dan 1 unit mesin jahit karung. Cangkul dan sekrop digunakan untuk
mencampur kotoran kambing, dedak, sekam, superdegra dan air sampai merata.
Ember digunakan sebagai tempat untuk membuat larutan dekomposer. Gembor
digunakan sebagai alat untuk menyiramkan larutan dekomposer ke dalam campuran
kotoran hewan dan kompos.

Gambar 3.4 mesin penghalus dan mesin jahit karung

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

13

Mesin giling digunakan untuk menghaluskan bokashi yang masih berupa


gumpalan. Timbangan berfungsi sebagai alat pengukur berat agar berat pupuk
bokashi yang akan dipasarkan dapat sama ukurannya. Sedangkan mesin jahit karung
digunakan untuk menjahit kemasan.

3.4.3 Tenaga Kerja


Sesuai dengan misi PT. Songgolangit Persada dalam meniptakan lapangan
pekerjaan

bagi masyarakat sekitar, maka proses produksi pupuk bokashi tidak

semuanya menggunakan mesin. Sebagian besar proses produksi dikerjakan oleh


tenaga manusia.Tenaga kerja yang dikerjakan dalam proses produksi pupuk
bokashi di PT. Songgolangit Persada berjunlah 8 orang dan semuanya berasal dari
warga desa Bantas yang tinggal di sekitar pabrik..
Dalam proses produksi pupuk bokashi, terdapat 3 kegiatan yang melibatkan
tenaga kerja yaitu kegiatan pencampuran bahan, penghalusan pupuk bokashi dan
pengemasan. Kegiatan pencampuran bahan merupakan tahap awal proses pembuatan
pupuk bokashi yang membutuhkan tenaga kerja 1-4 orang. Kegiatan kedua adalah
penghalusan

pupuk

bokashi.

Peran

pekerja

dalam

kegiatan

ini

adalah

mengoperasionalkan mesin giling dan membantu kelancaran kegiatan penghalusan.


Besarnya upah tenaga kerja dalam kegiatan ini disesuaikan dengan upah rata-rata
buruh tani.
Pengemasan merupakan tahap akhir dalam pembuatan pupuk bokashi.
Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses ini sebanyak 1-4 orang. Masing-masing
kegiatan dikerjakan dalam waktu 1 hari. Sistem pengupahan dihitung berdasarkan
UMR Propinsi Bali yaitu Rp 50.000/hari kerja.

3.4.4 Proses Pengolahan


Secara teknis lankah-langkah pembuatan pupuk bokashi sangatlah mudah
sehingga dapat dikerjakan oleh siapapun. Alat-alat yang digunakan pun tidak terlalu
rumit.Secara garis besar ada 3 tahapan, yaitu pencampuran bahan, fermentasi dan
pengemasan. Berikut ini akan dijelaskan Secara lebih perinci teknik pembuatan
pupuk bokashi dengan bahan dasar kotoran hewan :
Bahan-bahan : (untuk 1 ton bokashi)
pupuk kandang (kotoran babi : sapi = 500 kg : 400 kg )
kompos (100 Kg)
ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

14

EM-4 (1 liter)
Air bersih 100 liter

Langkah-langkah pembuatan :
1. Pencampuran kotoran hewa (babi,ayam,sapi) dengan kompos
Langkah pertama yang dilakukan dalam proses pembuatan pupuk bokashi
adalah mencampur kotoran hewan dengan kompos sampai merata dengan
komposisi 50 % kotoran babi, 40 % dan 10 % kompos. Alat yang digunakan
adalah cangkul dan sekop.

Gambar 3.6 Pencampuran Bahan (kotoran sapi,babi,ayam dan kompos)

2. Pembuatan larutan dekomposer


Larutan

dekomposer

dibuat

dari

campuran

EM-4

dengan

air.

Perbandingan antara EM-4 dan air adalah 1 : 100. Artinya untuk 1 liter EM-4
dibutuhkan 100 liter air.Wadah yang digunakan dalam pembuatan larutan
dekomposer adalah ember.
3. Pemberian larutan dekomposer.
Setelah kotoran hewan dan kompos tercampur secara merata, langkah
selanjutnya adalah pemberian larutan dekomposer ke dalam campuran bahanbahan pembuatan pupuk bokashi. Larutan dekomposer disiramkan ke campuran
bahan menggunakan gembor secara merata. Kegunaan dari larutan dekomposer
adalah untuk mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

15

Gambar 3.5 Pemberan Larutan EM-4 Pada Pupuk

4. Penutupan campuran bahan dengan terpal.


Bahan-bahan yang telah tercampur rata dengan larutan dekomposer
kemudian ditutup dengan menggunakan terpal. Setelah ditutup dengan terpal,
campuran bahan pembuatan pupuk bokashi dibiarkan selama 7-10 hari untuk
proses dekomposisi.

5. Penghalusan
Setelah proses dekomposisi selesai, maka terpal sudah harus dibuka dan
pupuk bokashi telah jadi. Tetapi karena masih berbentuk gumpalan, maka pupuk
bokashi perlu dihaluskan dengan tujuan agar pupuk bokashi dapat diserap dengan
cepat oleh tanaman. Penghalusan dilakukan dengan menggunakan mesin giling
(selep).

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

16

6. Pengemasan
Pupuk bokashi yang sudah dihaluskan dapat langsung dikemas ke dalam
kemasan karung dan dijahit dengn mesin jahit karung. Sebelum dikemas, pupuk
bokashi ditimbang terlebih dahulu agar berat setiap kemasan yang akan
dipasarkan dapat sama. Setiap kemasan berisi 25 kg dan 40 kg pupuk bokashi.
Proses pengolahan pupuk bokashi

7. Pengangkutan dan penyimpanan


Setelah di kemas dalam karung, pupuk-pupuk tersebut diangkut dengan
menggunakan mobol pick up dan dibawa ke gudang penyimpanan untuk siap
dipasarkan.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

17

3.4.5 Pemasaran
Pemasaran pupuk bokashi kotaku yang dihasilkan oleh PT. Songgolangit
Persada masih terbatas di sekitar wilayah propinsi Bali dan sebagian daerah di pulau
Jawa. Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran pupuk bokashi kotaku
antara lain pedagang kecil (pemilik kios atau toko pertanian), pedagang besar dan
agen distributor. Lembaga-lembaga pemasaran dalam menyampaikan produk dari
produsen berhubungan satu dengan yang lainnya yang membentuk jaringan
pemasaran. Dari jaringan pemasaran yang terbentuk dapat diketahui arus pemasaran
pupuk bokashi kotaku seperti produsen berhubungan langsung dengan konsumen
akhir, produsen berhubungan dengan pedagang kecil, pedagang besar dan agen
distributor. Pola pemasaran yang terbentuk selama pergerakan arus produk (pupuk
bokashi) dari produsen ke konsumen akhir disebut sistem pemasaran. Sistem
pemasaran dari pupuk bokashi dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

18

PRODUSEN
PT. Songgolangit Persada

KOSUMEN

PEDAGANG
BESAR

TOKO/KIOS
PERTANIAN

DISTRIBUTOR

KONSUMEN

KONSUMEN

Gambar 3.7. bagan pemasaran pupuk bokashi kotaku


Untuk pemasaran sekitar daerah Kecamatan Selemadeg Timur, biasanya
produsen berhubungan langsung dengan konsumen akhir dengan cara produsen yang
mendatangi konsumen atau konsumen yang mendatangi produsen. Selain
berhubungan langsung dengan konsumen akhir, produsen pupuk bokashi juga
berhubungan dengan para pedagang kecil yang memiliki toko atau kios pertanian.
Dari toko atau kios pertanian inilah kemudian produk disalurkan ke konsumen
akhir.
Untuk pemasaran di seuruh pulau Bali, PT. Songgolangit Persada telah
menjalin kerja sama dengan agen-agen/pedagang besar untuk memasarkan pupuk
bokashi. Dari agen/toko, pupuk bokashi disalurkan lewat distributor yang dimiliki
agen/pedagang besar untuk disalurkan lagi kepada konsumen. Harga jual pupuk
bokashi di tingkat produsen sebesar Rp 25.000 per kemasan 25 kg dan Rp 35.000,00
per kemasan 40 kg.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

19

3.5 Analisis Ekonomi


3.5.1 Analisis Biaya, Penetapan Harga Pokok dan Harga jual, Analisis Penerimaan,
dan Analisis Pendapatan
3.5.1.1 Analisis Biaya
Biaya produksi pada agroindustri pupuk bokashi adalah semua pengeluaran
atau biaya yang digunakan untuk menghasilkan pupuk bokashi per satu siklus proses
produksi per kemasan. Setiap kemasan berisi dan 25 kg dan 40 kg pupuk bokashi dan
lama waktu per proses produksi adalah 1 bulan. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh
perusahaan pupuk bokashi terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Adapun biaya
produksi dalam proses produksi adalah sebagai berikut:

1. Biaya Tetap (fixed cost)


Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada volume produksi.
Biaya tetap dalam penelitian ini adalah biaya penyusutan alat yang digunakan dalam
proses produksi pupuk bokashi seperti pada table 1.

Tabel 1. Biaya Tetap (Penyusutan) Alat Dan Mesin Produksi Per Bulan
Jenis Biaya

harga
awal/unit

Mesin
Penghalus
Mesin Jahit
Ember
Skop
Terpal
Cangkul
Gembor
Timbangan

10.000.000
1.500.000
15.000
45.000
160.000
40.000
20.000
550.000

harga
akhir
(Rp)
5.000.000

jumlah
alat(unit)
1

umur
ekonomis
(bulan)
60

Biaya
penyusutan/bln
(Rp)
83.333,33

750.000
1
60
7.500
2
24
22.500
2
24
40.000
2
24
20.000
1
24
10.000
1
24
225.000
1
60
T o t a l
Sumber :diolah dari data primer PT.SLP Januari-Juni tahun 2013

12.500
625
1.875
10.000
833,33
416,67
5.416,67
115.000

Alat-alat dan mesin yang digunakan dalam proses produksi pupuk bokashi dan
dikenakan biaya penyusutan adalah mesin penghalus, mesin jahit karung, ember, skop,
terpal, cangkul, gembor dan timbangan. Biaya penyusutan dihitung dengan metode garis
lurus dan tanpa perhitungan bunga modal. Formulasi perhitungannya sebagai berikut :

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

20

Dimana:
D : biaya penyusutan per tahun (Rp./tahun)
P : harga awal mesin (Rp.)
S : harga akhir mesin (Rp.)
N : perkiraan umur ekonomis (tahun)
2. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variable adalah biaya yang besarnya tergantung pada kuantitas produksi.
Besarnya biaya variable dalam produksi pupuk di PT.SLP secara rinkas dapat di lihat
pada table 2 dan table 3 berikut ini :

Tabel 2. Biaya Variable Pupuk Bokashi Kotaku


Untuk Pembuatan 80 Ton Bokashi Kemasan 40 Kg

Jenis Biaya

Total
Harga(Rp)

Jumlah

Harga/Unit

1 Kompos

2 Truck

2,975,000

17,000 Kg

5,950,000

2 Kohe Babi Lokal

10 Truck

550,000

31,500 Kg

5,500,000

3 Kohe Sapi Lokal

10 Truck

770,000

31,500 Kg
80,000 Kg

4
5
6
7
8
9

EM 4 Aktif
80 Liter
Listrik
Solar
80 Liter
Tenaga Kerja
8 Orang
Kemasan 40 Kg
2,000 Pcs
Benang Jahit
8 rol
Total Biaya Variabel
Kuantitas Produksi
Biaya Variable Rata-Rata

2,500
6,000
50,000
2,250
6,000

Berat

7,700,000
200,000
480,000
4,000,000
4,500,000
48,000
28,378,000

2,000
14,189

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP Januari-Juni tahun 2013


Tabel 3. Baya Variable Pupuk Bokashi Kotaku

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

21

Untuk Pembuatan 36 Ton Bokashi Kemasan 25 Kg


No

Jenis Biaya

Jumlah

Harga/unit

Berat

Jumlah

1 Kohe Sapi

1 Truck

2,500,000

12,000 Kg

2,500,000

2 Kompos

1 Truck

4,500,000

12,000 Kg

4,500,000

3 Kohe Babi Lokal

4 Truck

500,000

12,000 Kg
36,000 Kg

2,000,000

4 EM 4

10 Liter

15,000

150,000

5 Molase

10 Liter

10,000

100,000

6 Air
7 Listrik

300 Liter

1,500

450,000
-

8 Solar

30 Liter

6,000

180,000

9 Tenaga Kerja

8 0rang

50000

1,620,000

10 Kemasan 25 Kg

1,440 Pcs

2,100

3,024,000

6,000

42,000
14,566,000

11 Benang Jahit
7 rol
Total Biaya Variabel
Kuantitas Produksi
Biaya Variabel Rata-Rata

1,440
10,115

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP Januari-Juni tahun 2013


Dari table 2 dan 3 di atas dapat diketahui bahwa biaya variable dalam pembuatan
pupuk bokashi kotaku dapat dibagi atas 2 kelompok berdasarkan ukuran kemasan, yaitu
biaya variable untuk pembuatan pupuk kemasan 25 Kg dan 40 Kg dan masing-masing
jumlahnya berbeda-beda. Biaya variable total untuk untuk pembuatan pupuk kemasan 40 Kg
sebesar Rp 28,378,000 dan untuk kemasan 25 Kg sebesar Rp 14,566,000. Sehingga total
seluruh biaya variable dalam satu periode produksi pupuk bokashi kotaku adalah Rp
42,944,000. Sedangkan biaya variable rata-rata per kemasan untuk kemasan 40 Kg sebesar
Rp 14,189 dan untuk kemasan 25 Kg Rp 10,115.

3. Biaya Total (Total Variable Cost)


Biaya total adalah gabungan dari biaya tetap dan biaya variable. Rician biaya
total pada produksi pupuk bokashi kotaku dapat dilihat pada table 4 berikut ini :

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

22

Table 4. Biaya Total Rata-Rata Per Kemasan Per Siklus Produksi

No.

40 Kg

25 Kg

(Rp)

(Rp)

115.000

115.000

Keterangan

Biaya Tetap Total

Biaya Variable Total

28.378.000

14.566.000

Biaya Total

28.493.000

14.681.000

Kuantitas Produksi

2.000

1.440

Biaya Total Rata-Rata

14.246

10.195

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP Januari-Juni tahun 2013

3.4.1.2 Harga Pokok dan Harga Jual


Harga pokok penjualan merupakan biaya langsung yang timbul dari kegiatan
produksi suatu produk, seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead
pabrik, biaya kemasan/label, biaya pemasaran dan biaya pengangkutan. Sehingga
harga pokok penjualan pupuk bokashi kotaku per kemasan dapat ditentukan
berdasarkan biaya variable pada table 2 dan 3, yaitu Rp14.189 per kemasan untuk
kemasan 40 Kg dan Rp 10.115 per kemasan untuk kemasan 25 Kg.
Sedangkan harga jual adalah besarnya harga yang akan dibebankan kepada
konsumen yang di hitung dari biaya produksi ditambah dengan biaya non produksi
dan laba yang diharapkan. (Mulyadi 2005)
Harga jual pupuk bokashi kotaku yang ditetapkan oleh PT. Songgolangit
Persada adalah Rp 25.000 per kemasan 25 Kg dan Rp 35.000 per kemasan 40 Kg.
harga jual tersebut merupakan harga jual di tingkat produsen.

3.4.1.3 Analisis Penerimaan


Penerimaan merupakan hasil perkalian antara harga jual pupuk bokashi per
kemasan dengan jumlah pupuk bokashi yang terjual. Secra matematis dirumuskan
sebagai berikut :
TR = (TP) . (P)
Dimana :

TR = Total Revenue/ Total Penerimaan


Tp = Total Poduck/Total Produksi
P = Price/Tingkat Harga

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

23

Adapun rincian penerimaan PT. Songgolangit Persada dapat dilihat pada table 5.

Table 5. Total Penerimaan Per Proses Produksi


No .

Keterangan

40 kg

25 Kg

1.

Kuantitas Produksi (zak)

2.000

1.440

2.

Harga Jual/Kemasan (Rp)

35.000

25.000

3.

Penerimaan (Rp)

70.000.000

36.000.000

Total Penrimaan (Rp)

106.000.000

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP Januari-Juni tahun 2013

Jumlah pupuk bokashi yang terjual adalah 2.000 zak kemasan 40 kg dan
1.440 zak kemasan 25 Kg dengan harga masing-masing per kemasannya Rp 35.000
dan Rp 25.0000. Sehingga total penerimaan dari hasil penjualan pupuk kemasan 40
Kg sebesar Rp 70.000.000 dan kemasan 25 Kg sebesar Rp 36.000.000. Dan total
penerimaan keseluruhannya sebesar Rp 106.000.000.

3.4.1.4 Analisis Pendapatan


Pendapatan bersih perusahaan pupuk bokashi kotaku merupakan selisih dari
penerimaaan total yang diterima oleh PT. Songgolangit Persada dengan total biaya
yang telah dikeluarkan selama proses produksi setelah dikurangi dengan pajak.
Secara matematis diformulasikan sebagai berikut :
NR = (TR TC) - Pajak

Dimana :

TC = VC + FC

NR = Nett Revenue/Pendapatan Bersih


TR = Total Revenue
TC = Total Cost

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

24

Table 5. Total Pendapatan Per Proses Produksi

No .

Keterangan

40 kg

25 Kg

(Rp)

(Rp)

1.

Penerimaan (Rp)

70.000.000

36.000.000

2.

Biaya Total (Rp)

28.493.000

14.681.000

3.

Pendapatan Kotor (Rp)

41.507.000

21.319.000

Total Pendapatan Kotor

62.826.000

Pajak ( 15 %)

9.423.900

Pendapatan bersih

53.402.100

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP Januari-Juni tahun 2013

Dari table 5 dapat diketahui total pendapatan sebelum PT.Songgolangit dari


penjualan pupuk bokashi adalah Rp 62.826.000. Untuk memperoleh pendapatan
bersih/laba usaha maka pendapatan kotor harus dikurangi pajak. Sesuai dengan Pasal
17 ayat 1, Undang-Undang No. 36 tahun 2008 (Undang-Undang tentang Pajak
Penghasilan), bahwa tarif (potongan) pajak penghasilan di atas 50 juta adalah sebesar
15% maka pajak penghasilan perusahaan pupuk bokashi PT. Songgolangit Persada
sebesar Rp 9.423.900 sehingga dipeoleh pendapatan bersih sebesar Rp 53.402.100.

3.5

Kendala-Kendala Yang Dihadapi


Dalam menjalankan usaha PT. songgolangit Persada juga mengalami brbagai
kendala yang menghambat pertumbuhan perusahaan, dalam hal ini berhubungan
dengan pertumbuhan pendapatan. Kendala-kendala tersebut dapat dilihat dari dua
segi, yaitu kendala internal dan kendala eksternal.
Kendala Internal
Kendala internal PT. Songgolangit Persada terjadi pada bagian pemasaran,
yaitu pemasaran pupuk bokashi kotaku hanya terfokus di Pulau Bali dan pulau
Jawa. Sementara di pulau Jawa sendiri terdapat banyak industri-industri pupuk
organik.
Kendala Eksternal
Kendala eksternal yang dihadapi PT. Songgolangit Persada yaitu adanya
pesaing produk sejenis seperti pupuk organik Pubotan (pupuk bokashi tanaman),
Pupuk Organik Tanaman Subur, Pupuk Hayati Ultra Gen dan lain-lain.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

25

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Pupuk organik bokashi kotaku merupakan satu-satunya jenis pupuk organik
di Indonesia yang menggunakan tekhnologi mikroorganisme (EM-4). Pupuk organik
bokashi kotaku merupakan salah satu produk unggulan dari PT. Karya Pak Oles
Tocker yang di produksi di PT. Songgolangit Persada yang beralamat di Tabanan,
Bali.
Proses pembuatan pupuk organik sangatlah mudah danmenggunakan
peralatan yang sederhana sehingga dapat dilakukan oleh semua kalangan masyarakat.
Bahan baku yang digunakan pun adalah bahan baku yang mudah di peroleh di
lingkungan seperti kotoran ternak dan kompos. Yang membedakan pupuk organik
bokash kotaku dengan pupuk organik lainnya adalah pada teknik fermentasinya.
Puppuk organik bokashi kotaku difermentasi dengan

teknologi mikroorganisne

(EM-4).
Dalam analisis biaya produksi pupuk bokashi kotaku, terdapat dua komponen
biaya, yaitu biaya tetapdan biaya variable. Biaya tetap meliputi biaya penyusutan
mesin dan peralatan produksi. Sedangkan biaya variable meliputi biaya bahan baku
dan bahan penolong serta biaya tenaga kerja.
Peneriman total dari produksi pupuk bokashi kotaku di PT. Songgolangit
Persada per periode produksinya mencapai Rp 106.000.0000. Sehingga setelah
dikurangi dengan total biaya produksi sebesar Rp 43.174.000 dan pajak 15 % (Rp
9.423.900) diperoleh pendapatan bersih perusahan sebesar Rp 53.402.100.

4.1.1 SARAN
1. PT. Songgolangit Persada terus mendekatkan produk pupuk bokashi kotaku dengan
petani-petani di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih kurang industry
pupuk seperti di Indonesia timur. PT. SLP juga perlu membangun caban-cabang
produksi di seluruh propinsi di Indonesia. Dengan cara seperti ini seluruh petanipetani di Indonesia dapat lebih mengenal pupuk bokashi kotaku.
2. Dalam mempromosikan produk sebaiknya menggunakan media promosi yang lebih
efektif seperti TV karena TV lebih dapat di akses oleh semua kalangan masyarakat.
Saluan TV yang di pilih pun harus saluran TV yang dapat menjangkau seluruh
wilayah di Indonesia.
ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

26

DAFTAR PUSTAKA

Pambudy, R, 1999. Kumpulan Pemikiran : Bisnis dan Kewirausahaan dalam Sistem


Agribisnis. Pustaka Wirausaha Muda, Bogor.
Armenia, Yuka Marlianita Sari. 2007. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Ikan dan
seafood pada CV. Kyu Karya Abadi di Kuta Bali (Skripsi) Fakultas Pertanian
Universitas Udayana, Denpasar.
Purwanto, E.A. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Untuk Administrasi Publik dan
Masalah Sosial. Gava Media. Yogyakarta
Wariyanto, Agus. 2002. Bokashi : Penggembur Tanah dari Bahan Murah. Available
at http://www.suara-merdeka.go.id (Verified 14 Feb. 2008).
Mubyarto. 1987. Pengantar Ekonomi Pertanian. Sinar Harapan. Yogyakarta. Mulyadi.
2000. Akuntansi Biaya. Edisi V. Fakultas Ekonomi. Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta.
Armenia, Yuka Marlianita Sari. 2007. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Ikan dan
seafood pada CV. Kyu Karya Abadi di Kuta Bali (Skripsi) Fakultas Pertanian
Universitas Udayana, Denpasar.
Gitosudarma, Indriyo. 2000. Manajemen Pemasaran. Edisi Pertama.
BPFE,Yogyakarta.
Hikmawati, R. 2002, Analisis Strategi Pemasaran Pupuk Urea pada PT. Pupuk
Kujang (Persero), Skripsi ,Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kotler, 2005 Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi Ke-11 PT.Prenhallindo, Jakarta.

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

27

ANDREAS LAWE FAPERTA UNDANA

28