Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor usaha yang sangat penting dan vital baik
dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga maupun dalam menunjang sektor-sektor
usaha lainnya. Sebagai negara agraris, sektor pertanian memberikan kontribusi yang
sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data BPS dalam
Hikmawati (2002), sektor pertanian merupakan sektor terbesar kedua setelah sektor
industri dan pengolahan. Sektor pertanian menunjukkan kontribusi sebesar 19,16
persen terhadap PN. Pertumbuhan yang positif ketika krisis ekonomi berlangsung,
dimana sektor lain menunjukkan pertumbuhan negatif. Pada tahun 2000 sektor
pertanian tumbuh sebesar 3,86 persen dan mampu menyerap sekitar 43,21 persen dari
total tenaga kerja di Indonesia. Terlepas dari hal tersebut di atas, dalam
perjalanannya pertanian di Indonesia sering mengalami kendala-kendala dalam
pengelolaannya sehingga menghambat tingkat produksinya.
Perhatian masyarakat terhadap masalah pertanian dan lingkungan beberapa
tahun terakhir semakin meningkat. Gerakan revolusi hijau pada massa orde baru,
disadari telah menimbulkan permasalahan lain dalam dunia pertanian di Indonesia,
diantaranya meniptakan ketergantungan para petani pada penggunaan pupuk kimia
dan pestisida serta menurunnya kesuburan lahan. Keadaan ini disebabkan semakin
dirasakannya dampak negatif yang besar bagi lingkungan akibat penggunaan bahan
kimia. Maka dari itu salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi
penggunaan bahan kimia dalam bidang pertanian adalah mengembangkan pertanian
dengan sistem pertanian organik yang prinsip pengelolaannya kembali ke alam
(Nasir, 2005).
Menurut Hamzah (2007), pertanian organik telah berkembang secara luas,
baik dari sisi budidaya, sarana produksi, jenis produk, pengetahuan konsumen dan
organisasi atau lembaga masyarakat yang menaruh minat (concern) pada pertanian
organik. Tujuan yang ingin dicapai oleh para pelaku pertanian organik yaitu
menyediakan produk yang sehat, aman dan ramah lingkungan. Perkembangan sistem
pertanian organik berpengaruh terhadap perusahaan-perusahaan pupuk. Pengaruh
tersebut berupa minimalisasi penggunaan bahan baku yang berupa bahan-bahan

kimia dan kembali menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dalam


memproduksi pupuk sehingga hasilnya pula berupa pupuk organik. Salah satu
produk pupuk oganik adalah pupuk bokashi kotaku yang diproduksi oleh PT.
Songgolangit Persada yang beralamat di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg
Timur, Tabanan, Bali.
PT. Songgolangit Persada sendiri merupakan salah satu anak perusahan dari
PT. Karya Pak Oles Tocker yang bergerak di bidang produksi pupuk organik dengan
tekhnologi effective microorganism (EM).

Bahan baku pupuk bokashi kotaku

adalah kotoran sapi, babi, kambing, ayam dan kompos yang kemudian difermentasikan
dengan bakteri effective microorganism (EM) atau yang lebih dikenal dengan EM4.
Teknologi EM memanfaatkan mikroorganisme alam sebagai fermentor (ragi) yang
terdiri dari lima kelompok mikroorganisme dari golongan ragi, L actobacillus, jamur
fermentasi, bakteri fotosintetik, dan Actinomycetes.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pembuatan pupuk organik bokashi kotaku di PT.
Songgolangit
Persada?
2. Bagaimana metode pemasaran

PT. Songgolangit Persada dalam

memasarkan pupuk bokashi kotaku?


3. Bagaimana analisis ekonomi (rugi/laba) dari PT. Songgolangit Persada
dalam memproduksi pupuk bokashi kotaku?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui proses pembuatan pupuk organik bokashi kotaku di PT.
Songgolangit
Persada.
2. Untuk mengetahui metode pemasaran PT. Songgolangit Persada dalam
memasarkan pupuk bokashi kotaku.
3. Untuk mengetahui perhitungan ekonomi (rugi/laba) dari PT. Songgolangit
Persada dalam memproduksi pupuk bokashi kotaku?
1.4 Manfaat
a. Bagi Petani
Sebagai bahan pertimbangan bagi petani dalam memilih jenis pupuk organik
untuk usaha peningkatan kesuburan lahan pertaniannya karena pupuk bokashi kotaku
dapat memperbaiki unsure hara pada lahan serta mampu meningkatkan kesuburan

tanah sehingga produksi tanaman meningkat. Selanjutnya laporan ini dapat menjadi
pedoman bagi petani dalam menggunakan pupuk orgnik bokashi kotaku .
b. Bagi Instansi Terkait
Sebagai salah satubahan pertimbangan untuk instansi/lembaga terkait dalam upaya
untuk memberikan penyuluhan kepada petani agar mau beralih ke pertanian
dengan memanfaatka pupuk organik bokhasi kotaku.
c. Bagi Mahasiswa
Sebagai salah satu sumber untuk menambah wawasan dan pengetahuan
mahasiswa mengenai dunia pertanian, khususnya pertanian organik.
Sebagai salah satu sumber informasi bagi mahasiswa yang ingin menekuni
dunia agribisnis khususnya dalam agroindustri pembuatan pupuk organik
berbasis teknologi EM4.
Sebagai salah satu refrensi dan bahan pertimbangan bagi mahasiswa yang
akan melaksanakan magang di tahun berikutnya.

BAB II
METODOLOGI PELAKSANAAN MAGANG

2.1 Kerangka Pemikiran


SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN

PT. SONGGOLANGIT
PERSADA

INPUT

BAHAN BAKU
MODAL
TENAGA KERJA

PROSES
PENGOLAHAN

OUTPUT

PUPUK
BOKHASI
KOTAKU

PEMASARAN

BIAYA-BIAYA
PENERIMAAN

PENDAPATAN
BSRSIH

2.2 Tempat Dan Waktu Pelaksanaan Magang Kerja


Kegiatan Magang Kerja dilaksanakan di PT.Songgolangit Persada Tabanan, Bali.
Kegiatan Magang Kerja akan dilaksanakan mulai tanggal 17 Juli 2014 sampai tanggal 16
Agustus 2014.
Penentuan lokasi magang ini dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu metode
penentuan lokasi magang secara sengaja berdasarkan beberapa

pertimbangan-

pertimbangan sebagai berikut. (1) PT.Songgolangit merupakan salah satu perusahaan


swasta yang bergerak dalam bidang produksi
perusahaan

di

Indonesia

yang

pupuk dan merupakan satu-satunya

menggunakan

teknologi

EM

(Effective

microorganism) dalam proses produksi pupuknya.


2.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data di lokasi kegiatan penulis menggunakan metode-metode
sebagai berikut:
a. Observassi Lapang
Observasi keadaan umum yang meliputi : lokasi, luas area, struktur
organisasi, jumlah tenaga kerja, dan proses produksi yang dijlankan.
b. Diskusi dan wawancara
Diskusi dan wawancara adalah bentuk praktek kerja langsung untuk
memperoleh penjelasan dan pemahaman dari kegiatan yang dilakukan serta
memperoleh keterangan dari pihak instansi mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan tujuan magang kerja baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
2.4 Metode Sampling
Sample dalam kegiatan magang ini ditentukan dengan metode purposive sampling,
yaitu ditentukan secara sengaja. Sample yang ditentukan terdiri dari : (1) Kabag
Produksi, (2) Kabag Administrasi & Keuangan, dan (3) Kabag Pemasaran.

2.5 Jenis Data yang Digunakan


Data yang dikumpulkan dari lokasi magang kerja adalah data yang relevan
dengan topik magang kerja yang dipilih, yaitu berupa:

a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung di tempat magang
kerja melalui observasi lapang dan wawancara langsung dengan pihak
instansi.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen -dokumen
perusahaan, laporan magang terdahulu, serta literature dan artikel yang
relevan dengan topik magang kerja yang dipilih.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Lokasi Magang


a. Gambaran umum desa bantas
Magang kerja dilaksanakan pada PT.Songgolangit Persada yang beralamat di
Desa Bantas, Keamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Adapun gambaran
umum Desa Bantas yaitu sebagai berikut :

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Gelogor

Sebelah Barat berbatasan dengn Desa Megati

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Dukuhpulu kajo

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Gadungan

b. Profil PT. Songgolangit Persada


Pada zaman modern sekarang ini, kebanyakan petani di Indonesia lebih memilih
system pertanian anorganik dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida kimiawi dalam
usaha pengembangan usahataninya dibandingkan dengan pertanian organic. Dalam
kurun waktu yang singkat penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi memang akan
mendatangkan keuntungan yang besarka rena adanya peningkatan produksi pada
tanaman. Namun dalam kurun waktu yang cukup lama akan berdampak pada
pencemaran lingkungan, kerurusakan pada struktur tanah dan hilangnya kandungan
unsure hara daam tanah. Keadaan seperti ini tentu akan sangat merugikan bagi pertanian
yang berkelanjutan.
Sebagai ilmuwan pertanian asli Indonesia, Gusti Ngurah Wididana merasa
memiliki tanggung jawab dengan kondisi pertanian di Indonesia yang seperti ini.
Setelah mendapat lisensi dari Prof. Dr. Teruo Higa untuk mengembangkan beliau
langsung mendirikan PT. Songgolangit Persada pada tahun 1993 yang bertujuan untuk
memproduksi prduk organik EM-4. Dari waktu ke waktu PT. Songgolangit terus
berkembang dan tidak hanya memproduksi EM-4 namun meluas pada produksi pupuk
organik dan usaha perkebunan organik yang semuanya berbasis pada teknologi EM-4.
Pupuk organik Bokashi yang diproduksi di PT. Songgolangit lebih dikenal dengan

nama Pupuk Organik Bokashi Kotaku yang terdiri dari pupuk bokashi kotaku sekar dan
pupuk bokashi kotaku granul. Sebagai suatu perusahan, dalam memproduksi pupuk
bokashi PT. Songgolangit Persada juga memiliki visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
Mengembangkan pertnian organik dengan teknologi EM-4 untuk dapat
menhasilkan produk pertanian yang sehat dan berkualitas sehingga memberikan
manfaat ekonomis dan spiritual kepada konsumen dan produsen.
Misi :
1. Menghasilkan pupuk organik berkualitas yang dapat digunakan siapa saja
dengan mudah dan murah.
2. Menciptakan lapangan kerja.
3. Mengembangkan lingkungan yang sehat dan masyarakat yang sejahtera.

STRUKTUR ORGANISASI PT. SONGGOLANGIT PERSADA

DEWAN DIREKSI
Dr. Ir. G. N. Wididana, M.Agr
Ir. Agus Urson HP
Dra. Ketut Tisnawati

MANAGER PABRIK
Nyoman Sukamerta
ADMINISTRASI
Ni Wayan wisnariati
Luh Okta Periani

KEPALA PRODUKSI

KEPALA PENGAWASAN MUTU

Drh. Komang Rista Rahayu

Endah Widyowati, S.Si.Apt

SUPERVISOR
PENGOLAHAN

SUPERVISOR
PENGEMASAN

SUPERVISOR
GUDANG

Putu
Paramita

Putu Wesen
Adnyana

Komang
Suardika

ANGGOT

ANGGOT
A

A Ketut
Wiaget

Made
Arini
Wayan
Suwryasa

ANGGOTA
Putu Merta
Yasa

Sumber : PT. Songgolangit Persada

Gambar 1. Struktur Organisasi PT. Songgolangit Persada

SUPERVISOR
PENGAWASAN
MUTU
Nyoman
Suparta

3.2 Tinjauan Umum Pupuk Bokashi


Pembuatan kompos secara tradisional membutuhkan waktu antara 3-4 bulan.
Sekarang dengan menerapkan teknologi Effective Microorganism (EM), pembuatan
pupuk kompos hanya memerlukan waktu 3-14 hari. Hasil pupuk kompos dari proses
dekomposisi bahan organik dengan teknologi EM populer dikenal dengan nama
''Pupuk Bokashi''. Kata bokashi diambil dari bahasa Jepang yang berarti bahan
organik yang telah difermentasikan. Oleh orang Indonesia kata bokashi ada yang
memperpanjang menjadi ''bahan organik kaya akan sumber kehidupan''. Larutan EM
pertama kali ditemukan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Jepang
pada tahun 1980-an.

Jumlah mikroorganisme di dalam larutan EM sangat banyak,

sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif
dalam mendekomposisikan bahan organik. Pemanfaatan pupuk bokashi secara rutin
dapat berdampak nyata terhadap peningkatan kesuburan lahan, tanah menjadi
gembur,

serta

sifat

fisik,

kimia

dan

biologi

tanah

menjadi

lebih

baik

(Wariyanto,2002)
Menurut Nasir (2005) pada umumnya pupuk bokashi ditemukan dalam bentuk
serbuk atau butiran. Bahan dasar pupuk bokashi dapat berasal dari limbah pertanian,
seperti jerami, sekam padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, batang jagung, dan bahan
hijauan lainnya. Sedangkan kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan
dasar pupuk bokashi antara lain: kotoran sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan babi.
Pupuk bokashi yang dibahas dalam penelitian ini adalah pupuk bokashi yang berbahan
dasar kotoran sapi, ayam, babi dan kompos.
Kriteria hasil pupuk bokashi yang baik adalah berwarna coklat kehitaman,
berstruktur remah, kadar air 30-40%, dan pH sekitar 7. Perbandingan unsur karbon (C)
dan nitrogen (N) atau CN ratio rata-rata 10-20. Aplikasi pupuk bokashi di lapang relatif
mudah. Lahan 1 ha membutuhkan pupuk bokashi sekitar 3-5 ton. Tekhnik aplikasinya
adalah seluruh pupuk bokashi tersebut disebar secara merata sebelum lahan diolah
(dibajak). Selain tekhnik tersebut, pupuk bokashi juga dapat disebar setelah bedengan
terbentuk (IP2TP, 2000).
Pada prinsipnya peranan pupuk bokashi hampir sama dengan pupuk organik
lainnya seperti kompos. Namun pada pupuk bokashi, proses dekomposisi bahan organik
dipercepat dengan penambahan EM. EM yang digunakan dalam pembuatan pupuk

bokashi sangat berguna sekali dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Penggunaan bokashi EM secara rinci berpengaruh terhadap:

Peningkatan ketersediaan nutrisi bagi tanaman.

Peningkatan aktivitas mikroorganisme indogenu


yang menguntungkan, seperti Rhizobium, bakteri
pelarut fosfat, dan lain-lain.

Fiksasi Nitrogen.

Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia


(Hamzah, 2007).

3.3 Proses Produksi


3.3.1

Bahan
Bahan yang digunakan dalam agroindustri pupuk bokashi dibagi menjadi
dua yaitu bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dalam agroindustri ini adalah
kotoran sapi, babi, ayam,komapos dan EM-4. Kotoran hewan dan kompos diperoleh
dari daerah-daerah yang ada di pulau Bali bahkan sebagiannya berasal dari pulau
Jawa jika bahan baku lokalnya kurang.
Bahan penolong yang digunakan untuk membantu proses produksi pupuk
bokashi adalah EM-4, air, energi listrik, karung kemasan benang jahit dan solar. EM4 berperan sebagai fermentor yang mepercepat proses dekomposisi kotoran hewan
dan kompos. EM-4 merupakan bahan yang diproduksi sendiri di PT. Songgolangit
Persada. Air digunakan sebagai pelarut EM-4 dengan perbandingan 1 liter EM-4
membutuhkan 100 liter air untuk memfermentasi 1 ton campuran kotoran hewan dan
kompos menjadi pupuk bokashi.
Energy listrik digunakan sebagi sumber energy dalam mengoperasionalkan
mesin jahit karung dan penggerak pompa air. Karung kemasan berfungsi untuk
membungkus pupuk bokashi. Karung yang digunakan adalah karung ukuran 40 kg
dan 25 kg. Dan benang jahit berfungsi untuk menjahit karung pembunkus.

3.3.2

Peralatan
Alat yang digunakan dalam agroindustri pupuk bokashi adalah 1buah
cangkul, 2 buah ember, 1 buah gembor, 2 buah sekop,1 unit mesin giling, 1 unit

timbangan dan 1 unit

mesin jahit karung. Cangkul dan sekrop digunakan untuk

mencampur kotoran kambing, dedak, sekam, superdegra dan air sampai merata.
Ember digunakan sebagai tempat untuk membuat larutan dekomposer. Gembor
digunakan sebagai alat untuk menyiramkan larutan dekomposer ke dalam campuran
kotoran hewan dan kompos.
Mesin giling digunakan untuk menghaluskan bokashi yang masih berupa
gumpalan. Timbangan berfungsi sebagai alat pengukur berat agar berat pupuk
bokashi yang akan dipasarkan dapat sama ukurannya. Sedangkan mesin jahit karung
digunakan untuk menjahit kemasan.
3.3.3 Tenaga Kerja
Sesuai dengan misi PT. Songgolangit Persada dalam meniptakan lapangan
pekerjaan

bagi masyarakat sekitar, maka proses produksi pupuk bokashi tidak

semuanya menggunakan mesin. Sebagian besar proses produksi dikerjakan oleh


tenaga manusia.Tenaga kerja yang dikerjakan dalam proses produksi pupuk
bokashi di PT. Songgolangit Persada berjunlah 8 orang dan semuanya berasal dari
warga desa Bantas yang tinggal di sekitar pabrik..
Dalam proses produksi pupuk bokashi, terdapat 3 kegiatan yang melibatkan
tenaga kerja yaitu kegiatan pencampuran bahan, penghalusan pupuk bokashi dan
pengemasan. Kegiatan pencampuran bahan merupakan tahap awal proses pembuatan
pupuk bokashi yang membutuhkan tenaga kerja 1-4 orang. Kegiatan kedua adalah
penghalusan

pupuk

bokashi.

Peran

pekerja

dalam

kegiatan

ini

adalah

mengoperasionalkan mesin giling dan membantu kelancaran kegiatan penghalusan.


Besarnya upah tenaga kerja dalam kegiatan ini disesuaikan dengan upah rata-rata
buruh tani.
Pengemasan merupakan tahap akhir dalam pembuatan pupuk bokashi.
Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses ini sebanyak 1-4 orang. Masing-masing
kegiatan dikerjakan dalam waktu 1 hari. Sistem pengupahan dihitung berdasarkan
UMR Propinsi Bali yaitu Rp 50.000/hari kerja.
3.3.4

Proses Pengolahan
Secara teknis lankah-langkah pembuatan pupuk bokashi sangatlah mudah
sehingga dapat dikerjakan oleh siapapun. Alat-alat yang digunakan pun tidak terlalu
rumit.Secara garis besar ada 3 tahapan, yaitu pencampuran bahan, fermentasi dan

pengemasan. Berikut ini akan dijelaskan Secara lebih perinci teknik pembuatan
pupuk bokashi dengan bahan dasar kotoran hewan :
Bahan-bahan : (untuk 1 ton bokashi)
pupuk kandang (kotoran babi : sapi = 500 kg : 400 kg )
kompos (100 Kg)
EM-4 (1 liter)
Air bersih 100 liter
Langkah-langkah pembuatan :
1. Pencampuran kotoran hewa (babi,ayam,sapi) dengan kompos
Langkah pertama yang dilakukan dalam proses pembuatan pupuk bokashi
adalah mencampur kotoran hewan dengan kompos sampai merata dengan
komposisi 50 % kotoran babi, 40 % dan 10 % kompos. Alat yang digunakan
adalah cangkul dan sekrop.
2. Pembuatan larutan dekomposer
Larutan

dekomposer

dibuat

dari

campuran

EM-4

dengan

air.

Perbandingan antara EM-4 dan air adalah 1 : 100. Artinya untuk 1 liter EM-4
dibutuhkan 100 liter air.Wadah

yang digunakan dalam pembuatan larutan

dekomposer adalah ember.


3. Pemberian larutan dekomposer.
Setelah kotoran hewan dan kompos tercampur secara merata, langkah
selanjutnya adalah pemberian larutan dekomposer ke dalam campuran bahanbahan pembuatan pupuk bokashi. Larutan dekomposer disiramkan ke campuran
bahan menggunakan gembor secara merata. Kegunaan dari larutan dekomposer
adalah untuk mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik.
4. Penutupan campuran bahan dengan terpal.
Bahan-bahan yang telah tercampur rata dengan larutan dekomposer
kemudian ditutup dengan menggunakan terpal. Setelah ditutup dengan terpal,
campuran bahan pembuatan pupuk bokashi dibiarkan selama 7-10 hari untuk
proses dekomposisi.
5. Penghalusan
Setelah proses dekomposisi selesai, maka terpal sudah harus dibuka dan
pupuk bokashi telah jadi. Tetapi karena masih berbentuk gumpalan, maka pupuk
bokashi perlu dihaluskan dengan tujuan agar pupuk bokashi dapat diserap dengan

cepat oleh tanaman. Penghalusan dilakukan dengan menggunakan mesin giling


(selep).
6. Pengemasan
Pupuk bokashi yang sudah dihaluskan dapat langsung dikemas ke dalam
kemasan karung dan dijahit dengn mesin jahit karung. Sebelum dikemas, pupuk
bokashi ditimbang terlebih dahulu agar berat setiap kemasan yang akan
dipasarkan dapat sama. Setiap kemasan berisi 25 kg dan 40 k g pupuk
bokashi. Proses pengolahan pupuk bokashi
7. Pengangkutan dan penyimpanan
Setelah di kemas dalam karung, pupuk-pupuk tersebut diangkut dan di simpan di
gudang penyimpanan untuk siap dipasarkan.
3.3.5

Pemasaran
Pemasaran pupuk bokashi kotaku

yang dihasilkan oleh PT. Songgolangit

Persada masih terbatas di sekitar wilayah propinsi Bali dan sebagian daerah di pulau
Jawa. Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran pupuk bokashi kotaku
antara lain pedagang kecil (pemilik kios atau toko pertanian), pedagang besar dan
agen distributor. Lembaga-lembaga pemasaran dalam menyampaikan produk dari
produsen berhubungan satu dengan yang lainnya yang membentuk jaringan
pemasaran. Dari jaringan pemasaran yang terbentuk dapat diketahui arus pemasaran
pupuk bokashi kotaku seperti produsen berhubungan langsung dengan konsumen
akhir, produsen berhubungan dengan pedagang kecil, pedagang besar dan agen
distributor. Pola pemasaran yang terbentuk selama pergerakan arus produk (pupuk
bokashi) dari produsen ke konsumen akhir disebut sistem pemasaran. Sistem
pemasaran dari pupuk bokashi dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.

PRODUS
EN
PT. Songgolangit
Persada

KOSUM
EN

TOKO/KI
OS
PERTANI
AN

PEDAGA
NG
BESAR

DISTRIBUTOR

KONSUMEN

KONSUM
EN

Untuk pemasaran sekitar daerah Kecamatan Selemadeg Timur, biasanya


produsen berhubungan langsung dengan konsumen akhir dengan cara produsen yang
mendatangi konsumen atau konsumen

yang mendatangi produsen. Selain

berhubungan langsung dengan konsumen akhir, produsen pupuk bokashi juga


berhubungan dengan para pedagang kecil yang memiliki toko atau kios pertanian.
Dari toko atau kios pertanian inilah kemudian produk disalurkan ke konsumen
akhir.
Untuk pemasaran di seuruh pulau Bali, para produsen pupuk di Desa
Wonosari telah menjalin kerja sama dengan agen-agen/pedagang besar untuk
memasarkan pupuk bokashi. Dari agen/toko, pupuk bokashi disalurkan lewat
distributor yang dimiliki agen/pedagang besar untuk disalurkan lagi kepada
konsumen. Harga jual pupuk bokashi di tingkat produsen sebesar Rp 25.000 per
kemasan 25 kg dan Rp 35.000,00 per kemasan 40 kg.

3.4 Analisis Ekonomi


3.4.1

Analisis Biaya, Penetapan Harga Pokok dan Harga jual, Analisis Penerimaan,
dan Analisis Pendapatan

3.4.1.1 Analisis Biaya


Biaya produksi pada agroindustri pupuk bokashi adalah semua pengeluaran
atau biaya yang digunakan untuk menghasilkan pupuk bokashi per satu siklus proses
produksi per kemasan. Setiap kemasan berisi dan 25 kg dan 40 kg pupuk bokashi dan
lama waktu per proses produksi adalah 1 bulan. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh
perusahaan pupuk bokashi terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Adapun biaya
produksi dalam proses produksi adalah sebagai berikut:
1. Biaya Tetap (fixed cost)
Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada volume produksi.
Biaya tetap dalam penelitian ini adalah biaya penyusutan alat yang digunakan dalam
proses produksi pupuk bokashi seperti pada table 1.
Tabel 1. Biaya Tetap (Penyusutan) Alat Dan Mesin Produksi Per Bulan
Jenis Biaya

harga
awal/unit

Mesin
Penghalus
Mesin Jahit
Ember
Skop
Terpal
Cangkul
Gembor
Timbangan

10.000.000
1.500.000
15.000
45.000
160.000
40.000
20.000
550.000

harga
akhir
(Rp)
5.000.000

jumlah
alat(unit)
1

umur
ekonomis
(bulan)
60

750.000
1
7.500
2
22.500
2
40.000
2
20.000
1
10.000
1
225.000
1
T o t a l
Sumber :diolah dari data primer PT.SLP tahun 2013/2014

60
24
24
24
24
24
60

Biaya
penyusutan/bln
(Rp)
83.333,33
12.500
625
1.875
10.000
833,33
416,67
5.416,67
115.000

Alat-alat dan mesin yang digunakan dalam proses produksi pupuk bokashi dan
dikenakan biaya penyusutan adalah mesin penghalus, mesin jahit karung, ember, skop,
terpal, cangkul, gembor dan timbangan. Biaya penyusutan dihitung dengan metode garis
lurus dan tanpa perhitungan bunga modal. Formulasi perhitungannya sebagai berikut :

Dimana:
D : biaya penyusutan per tahun (Rp./tahun)
P : harga awal mesin (Rp.)
S : harga akhir mesin (Rp.)
N : perkiraan umur ekonomis (tahun)
2. Biaya Variabel (Varable Cost)
Biaya variable adalah biaya yang besarnya tergantung pada kuantitas produksi.
Besarnya biaya variable dalam produksi pupuk di PT.SLP secara rinkas dapat di lihat
pada table 2 dan table 3 berikut ini :
Tabel 2. Biaya Variable Pupuk Bokashi Kotaku
Untuk Pembuatan 80 Ton Bokashi Kemasan 40 Kg

Jenis Biaya

Jumlah

Harga/Unit

Total
Harga(Rp)

Berat

1 Kompos

2 Truck

2,975,000

17,000 Kg

5,950,000

2 Kohe Babi Lokal

10 Truck

550,000

31,500 Kg

5,500,000

3 Kohe Sapi Lokal

10 Truck

770,000

31,500 Kg
80,000 Kg

7,700,000

4 EM 4 Aktif

80 Liter

2,500

5 Listrik

200,000
-

6 Solar

80 Liter

6,000

480,000

7 Tenaga Kerja

8 Orang

50,000

4,000,000

2,000 Pcs

2,250

4,500,000

6,000

48,000
28,378,000

8 Kemasan 40 Kg

9 Benang Jahit
8 rol
Total Biaya Variabel
Kuantitas Produksi
Biaya Variable Rata-Rata

2,000

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP tahun 2013/2014

14,189

Tabel 3. Baya Variable Pupuk Bokashi Kotaku


Untuk Pembuatan 36 Ton Bokashi Kemasan 25 Kg
No

Jenis Biaya

Jumlah

Harga

Berat

Jumlah

1 Kohe Sapi

1 Truck

2,500,000

12,000 Kg

2,500,000

2 Kompos

1 Truck

4,500,000

12,000 Kg

4,500,000

3 Kohe Babi Lokal

4 Truck

500,000

12,000 Kg
36,000 Kg

2,000,000

4 EM 4

10 Liter

15,000

150,000

5 Molase

10 Liter

10,000

100,000

6 Air

300 Liter

1,500

450,000

7 Listrik

8 Solar

30 Liter

6,000

180,000

9 Tenaga Kerja

8 0rang

50000

1,620,000

10 Kemasan 25 Kg

1,440 Pcs

2,100

3,024,000

6,000

42,000
14,566,000

11

Benang Jahit
7 rol
Total Biaya Variabel
Kuantitas Produksi
Biaya Variabel Rata-Rata

1,440
10,115

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP tahun 2013/2014


Dari table 2 dan 3 di atas dapat diketahui bahwa biaya variable dalam pembuatan
pupuk bokashi kotaku dapat dibagi atas 2 kelompok berdasarkan ukuran kemasan, yaitu
biaya variable

untuk pembuatan pupuk kemasan 25 Kg dan 40 Kg dan masing-masing

jumlahnya berbeda-beda. Biaya variable total untuk untuk pembuatan pupuk kemasan 40 Kg
sebesar Rp 28,378,000 dan untuk kemasan 25 Kg sebesar Rp 14,566,000. Sehingga total
seluruh biaya variable dalam satu periode produksi pupuk bokashi kotaku adalah Rp
42,944,000. Sedangkan biaya variable rata-rata per kemasan untuk kemasan 40 Kg sebesar
Rp 14,189 dan untuk kemasan 25 Kg Rp 10,115.

3. Biaya Total (Total Variable Cost)


Biaya total adalah gabungan dari biaya tetap dan biaya variable. Rician biaya
total pada produksi pupuk bokashi kotaku dapat dilihat pada table 4 berikut ini :

Table 4. Biaya Total Rata-Rata Per Kemasan Per Siklus Produksi


No.

40 Kg

25 Kg

(Rp)

(Rp)

115.000

115.000

Keterangan

Biaya Tetap Total

Biaya Variable Total

28.378.000

14.566.000

Biaya Total

28.493.000

14.681.000

Kuantitas Produksi

2.000

1.440

Biaya Total Rata-Rata

14.246

10.195

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP tahun 2013/2014


3.4.1.2 Harga Pokok dan Harga Jual
Harga pokok penjualan merupakan biaya langsung yang timbul dari kegiatan
produksi suatu produk, seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead
pabrik, biaya kemasan/label, biaya pemasaran dan biaya pengangkutan. Sehingga
harga pokok penjualan pupuk bokashi kotaku per kemasan dapat ditentukan
berdasarkan biaya variable pada table 2 dan 3, yaitu Rp14.189 per kemasan untuk
kemasan 40 Kg dan Rp 10.115 per kemasan untuk kemasan 25 Kg
Sedangkan harga jual adalah besarnya harga yang akan dibebankan kepada
konsumen yang di hitung dari biaya produksi ditambah dengan biaya non produksi
dan laba yang diharapkan. (Mulyadi 2005)
Harga jual pupuk bokashi kotaku yang ditetapkan oleh PT. Songgolangit
Persada adalah Rp 25.000 per kemasan 25 Kg dan Rp 35.000 per kemasan 40 Kg.
harga jual tersebut merupakan harga jual di tingkat produsen.
3.4.1.3 Analisis Penerimaan
Penerimaan merupakan hasil perkalian antara harga jual pupuk bokashi per
kemasan dengan jumlah pupuk bokashi yang terjual. Secra matematis dirumuskan
sebagai berikut :
TR = (TP) . (P)
Dimana :

TR = Total Revenue/ Total Penerimaan


Tp = Total Poduck/Total Produksi
P = Price/Tingkat Harga

Adapun rincian penerimaan PT. Songgolangit Persada dapat dilihat pada


table 5.
Table 5. Total Penerimaan Per Proses Produksi
No .

Keterangan

40 kg

25 Kg

1.

Kuantitas Produksi (zak)

2.000

1.440

2.

Harga Jual/Kemasan (Rp)

35.000

25.000

3.

Penerimaan (Rp)

70.000.000

36.000.000
106.000.000

Total Penrimaan (Rp)


Sumber :diolah dari data primer PT.SLP tahun 2013/2014

Jumlah pupuk bokashi yang terjual adalah 2.000 zak kemasan 40 kg dan
1.440 zak kemasan 25 Kg dengan harga masing-masing per kemasannya Rp 35.000
dan Rp 25.0000. Sehingga total penerimaan dari hasil penjualan pupuk kemasan 40
Kg sebesar Rp 70.000.000 dan kemasan 25 Kg sebesar Rp 36.000.000. Dan total
penerimaan keseluruhannya sebesar Rp 106.000.000.
3.4.1.4 Analisis Pendapatan
Pendapatan bersih perusahaan pupuk bokashi kotaku merupakan selisih dari
penerimaaan total yang diterima oleh PT. Songgolangit Persada dengan total biaya
yang telah dikeluarkan selama proses produksi setelah dikurangi dengan pajak.
Secara matematis diformulasikan sebagai berikut :
NR = (TR TC) - Pajak
Dimana :

TC = VC + FC

NR = Nett Revenue/Pendapatan Bersih


TR = Total Revenue
TC = Total Cost

Table 5. Total Pendapatan Per Proses Produksi


No .

Keterangan

40 kg

25 Kg

(Rp)

(Rp)

1.

Penerimaan (Rp)

70.000.000

36.000.000

2.

Biaya Total (Rp)

28.493.000

14.681.000

3.

Pendapatan Kotor (Rp)

41.507.000

21.319.000

Total Pendapatan Kotor

62.826.000

Pajak ( 15 %)

9.423.900

Pendapatan bersih

53.402.100

Sumber :diolah dari data primer PT.SLP tahun 2013/2014


Dari table 5 dapat diketahui total pendapatan sebelum PT.Songgolangit dari
penjualan pupuk bokashi adalah Rp 62.826.000. Untuk memperoleh pendapatan
bersih/laba usaha maka pendapatan kotor harus dikurangi pajak. Sesuai dengan Pasal
17 ayat 1, Undang-Undang No. 36 tahun 2008 (Undang-Undang tentang Pajak
Penghasilan), bahwa tarif (potongan) pajak penghasilan di atas 50 juta adalah sebesar
15% maka pajak penghasilan perusahaan pupuk bokashi PT. Songgolangit Persada
sebesar Rp 9.423.900 sehingga dipeoleh pendapatan bersih sebesar Rp 53.402.100.
3.5

Kendala-Kendala Yang Dihadapi


Dalam menjalankan usaha PT. songgolangit Persada juga mengalami brbagai
kendala yang menghambat pertumbuhan perusahaan, dalam hal ini berhubungan
dengan pertumbuhan pendapatan. Kendala-kendala tersebut dapat dilihat dari dua
segi, yaitu kendala internal dan kendala eksternal.
Kendala Internal
Kendala internal PT. Songgolangit Persada terjadi pada bagian pemasaran,
yaitu pemasaran pupuk bokashi kotaku masih terbatas di Pulau Bali. Hal ini
disebabkan oleh promosi yang kurang efektif sehingga petani di luar pulau Bali
belum mengetahui keunggulan-keunggulan pupuk bokahi kotaku.

Kendala Eksternal
Kendala eksternal yang dihadapi PT. Songgolangit Persada yaitu adanya
pesaing produk sejenis seperti pupuk organik Pubotan (pupuk bokashi tanaman),
Pupuk Organik Tanaman Subur, Pupuk Hayati Ultra Gen dan lain-lain.

BAB IV
PENUTUP
4.1

KESIMPULAN
Pupuk organik bokashi kotaku merupakan satu-satunya jenis pupuk organik
di Indonesia yang menggunakan tekhnologi mikroorganisme (EM-4). Pupuk organik
bokashi kotaku merupakan salah satu produk unggulan dari PT. Karya Pak Oles
Tocker yang di produksi di PT. Songgolangit Persada yang beralamat di Tabanan,
Bali.
Proses pembuatan pupuk organik sangatlah mudah danmenggunakan
peralatan yang sederhana sehingga dapat dilakukan oleh semua kalangan masyarakat.
Bahan baku yang digunakan pun adalah bahan baku yang mudah di peroleh di
lingkungan seperti kotoran ternak dan kompos. Yang membedakan pupuk organik
bokash kotaku dengan pupuk organik lainnya adalah pada teknik fermentasinya.
Puppuk organik bokashi kotaku difermentasi dengan

teknologi mikroorganisne

(EM-4).
Dalam analisis biaya produksi pupuk bokashi kotaku, terdapat dua komponen
biaya, yaitu biaya tetapdan biaya variable. Biaya tetap meliputi biaya penyusutan
mesin dan peralatan produksi. Sedangkan biaya variable meliputi biaya bahan baku
dan bahan penolong serta biaya tenaga kerja.
Peneriman total dari produksi pupuk bokashi kotaku di PT. Songgolangit
Persada per periode produksinya mencapai Rp 106.000.0000. Sehingga setelah
dikurangi dengan total biaya produksi sebesar Rp 43.174.000 dan pajak 15 % (Rp
9.423.900) diperoleh pendapatan bersih perusahan sebesar Rp 53.402.100.
4.1.1

SARAN

1. PT. Songgolangit Persada terus mendekatkan produk pupuk bokashi kotaku dengan
petani-petani di Indonesia, yaitu dengan membangun caban-cabang produksi di
seluruh propinsi di Indonesia. Dengan cara seperti ini seluruh petani-petani di
Indonesia dapat lebih mengenal pupuk bokashi kotaku.
2. Dalam mempromosikan produk sebaiknya menggunakan media promosi yang lebih
efektif seperti TV karena TV lebih dapat di akses oleh semua kalangan masyarakat.
Saluan TV yang di pilih pun harus saluran TV yang dapat menjangkau seluruh
wilayah di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Pambudy, R, 1999. Kumpulan Pemikiran : Bisnis dan Kewirausahaan dalam Sistem
Agribisnis. Pustaka Wirausaha Muda, Bogor.
Armenia, Yuka Marlianita Sari. 2007. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Ikan
dan seafood pada CV. Kyu Karya Abadi di Kuta Bali (Skripsi) Fakultas Pertanian
Universitas Udayana, Denpasar.
Purwanto, E.A. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Untuk Administrasi Publik dan
Masalah Sosial. Gava Media. Yogyakarta
Wariyanto, Agus. 2002. Bokashi : Penggembur Tanah dari Bahan Murah. Available
at http://www.suara-merdeka.go.id (Verified 14 Feb. 2008).
Mubyarto. 1987. Pengantar Ekonomi Pertanian. Sinar Harapan. Yogyakarta. Mulyadi.
2000. Akuntansi Biaya. Edisi V. Fakultas Ekonomi. Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta.
Armenia, Yuka Marlianita Sari. 2007. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Ikan
dan seafood pada CV. Kyu Karya Abadi di Kuta Bali (Skripsi) Fakultas
Pertanian Universitas Udayana, Denpasar.
Gitosudarma, Indriyo. 2000. Manajemen Pemasaran. Edisi Pertama.
BPFE,Yogyakarta.
Hikmawati, R. 2002, Analisis Strategi Pemasaran Pupuk Urea pada PT.
Pupuk Kujang (Persero), Skripsi ,Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kotler, 2005 Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi Ke-11 PT.Prenhallindo, Jakarta.