Anda di halaman 1dari 9

DERMATITIS SEBOROIK

Yang harus dipelajari:


Histologi lapisan kulit stratum korneum sampai dermis
Kelompok2 dermatitis (masih kurang, banyak banget, )
Dermatitis seboroik
Efloresensi
Diagnosis banding
Faktor resiko
Anatomi Kulit
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu :
1. Lapisan epidermis atau kutikel
2. Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin)
3. Lapisan subkutis (hipodermis)
Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan
adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak.
1. Lapisan Epidermis terdiri atas stratum korneum, lusidum, granulosum, spinosum
dan basale.
Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri
atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah
berubah menjadi keratin (zat tanduk)
Stratum lusidum merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma
yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih
jelas di telapak tangan dan kaki.
Stratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakam 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng
dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti diantaranya. Butir-butir kasar ini
terdiri atas keratohilain. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. Stratum
granulosum juga tampak jelas di telapak tangan dan kaki
Stratum spinosum (stratum malpighi) atau disebut juga prickle cell layer (lapisan
akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya
berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak
mengandung glikogen dan inti terletak di tengah. Sel sel ini makin dekat ke
permukaan makin gepeng ke bentuknya. diantara sel-sel stratum spinosum terdapat
jembatan-jembatan antar sel (intercelullar bridges) yang terdirir dari protoplasma dan
tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan
bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Di atara sel-sel spinosum terdapat pula
sel Langerhans. Sel-sel stratum spinosum mengandung banyak glikogen.
Stratum basal terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal
pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar. Lapisan ini merupakan
lapisan epidermis yang paling bawah. Sel sel basal ini mengadaakan mitosis dan
berfngsi reproduktif. Lapisan ini terdri dari 2 jenis sel:
o Sel kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar,
dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel
o Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel sel berwarna
muda deang sitoplama basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen
(melanosomes)

2. Lapisan dermis, berada dibawah epidermis dan lebih tebal dari epidermis. Lapisan
ini terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan
folikel rambut. Lapisan ini dibagi menjaadi 2 yaitu :
Pars papilare bagian yang menonjol ke epidermis berisi ujung serabut saraf dan
pembuluh darah
Pars retikulare bagian yang menonjol ke arah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-
serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar (matriks)
lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, di bagian
ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblas, membentuk
ikatan yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat
lentur dan semakin bertambah umur menjadi kurang larut sehingga menjadi tidak
stabil. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah
mengembang serta lebih elsatis.

3. Lapisan subkutis terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel sel lemak didalamnya.
Sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma
lemak yang bertambah. Lapisan sel lemak disebut panikulus adiposa yang berfungsi
sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat ujung saraf tepi, pembuluh darah
dan getah bening. Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus yang terletak di bagian
atas dermis (pleksus superficial) dan yg terletak disubkutis (Pleksus profunda).
Adneksa Kulit (kulit, kuku rambut)
A. Kelenjar kulit terdiri dari ;
1. Kelenjar keringat (glandula sudorifera)
Kelenjar ekrin (kecil, terletak dangkal,sekret encer)
Kelenjar ini sudah dibentuk sempurna pada 28 minggu kehamilan, dan mulai
berfungsi pada 40 minggu setelah kelahiran. Berbentuk spiral dan bermuara langsung
ke permukaan kulit. Terletak diseluruh permukaan kulit dan terbanyak terletak di
telapak tangan, kaki dan aksila. Sekresi tergantung pada beberapa faktor dan
dipengaruhi oleh saraf kolinergik, panas dan stress emosional
Kelenjar apokrin (besar, dalam dan kental)
Dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terletak di aksila, areola mamae, pubis, labia
minora dan saluran telinga luar. Pada pubertas smulai besar dan mengeluarkan sekret.
Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan glukosa dengan PH 4-6,8.

2. Kelenjar palit (glandula sebasea)
Terletak diseluruh permukaan kulit kecuali di telapak tangan dan kaki. Kelenjar palit
biasanya tedapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar
rambut. Sebum mengandung trigliserida, asam lemak bebas, skualen, wax ester dan
kolesterol. Sekresi dipengaruhi hormon androgen. Pada pubertas menjadi besar dan
aktif.


B. Kuku
Bagian terminal lapisan tanduk (stratum korneum) yang menebal. Bagian kuku yang
terbenam dalam kulit jari disebut akar kuku (nail root), bagian terbuka di atas dasar
jaringan lunak kulit pada ujung jari disebut badan kuku (nail plate) dan yang paling
ujung adalah bagian kuku yang bebas. Sisi kuku agak mencekung membentuk alur
kuku (nail groove). Kulit tipis yang menutupi kuku di bagian proksimal disebut
eponikium, sedangakan kulit yang ditutupi kuku bebas disebut hoponikium.

C. Rambut
Terdiri dari akar rambut (yang terbenam dalam kulit) dan batang rambut (diluar kulit).
Ada 2 macam rambut: rambut lanugo adalah rambut halus, tidak ada pigmen dan
terdapat pada bayi. Dan rambut terminal adalah rambut kasar dengan pigmen, dan
terdapat pd dewasa. Pada dewasa pertumbuhan rambut dipengaruhi hormon androgen.
Rambut notmal dan sehat berkilat, elasstis dan tidak mudah patah dan dapat menyerap
air. Rambut terdiri dari karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen.
Efloresensi
Makula : Kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan warna semata-mata
Contoh : melanoderma, leukoderma, purpura, petekie, ekimosis
Eritema : Kemerahan pada kulit yang disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah
kapiler yang reversibel
Urtika : Edema setempat yg timbul mendadak dan hilang perlahan-lahan
Vesikel : Gelembung berisi cairan serum, beratap, berukuran kurang dari setengah
cm garis tenga dan mempunyai dasar, vesikel berisi darah disebut vesikel hemoragik
Pustul : Vesikel yang berisi nanah, bila nanah mengendap di bagian bawah vesikel
disebut vesikel hipopion.
Bula : Vesikel yang berisi lebih besar.
Kista : Ruangan berdinding dan berisi cairan, sel, maupun sisa sel. Isi kista terdiri
atas hasil dindingnya yaitu serum, getah bening, keringat, sebum, sel-sel epitel,
lapisan tanduk dan rambut.
Abses : Kumpulan nanah dalam jaringan. Abses biasanya terbentuk dari infiltrat
peradangan. Sel dan jaringan hancur membentuk nanah. Dinding abses terdiri artas
jaringan sakit yang belum menjadi nanah.
Papul : penonjolan diatas permukaan kulit, sirkumskirp, diameter kurang dari
cm, berisi zat padat.
Nodus : masa pada sirkumskrip, terletak di subkutan atau kutan, dapat menonjol,
bila diameternya lebih kecil dari 1 cm disebut nodulus.
Plak : peninggian diatas permukaan kulit , rata dan berisi zat padat , diamternya
2 cm atau lebih.
Tumor : Benjolan yang berdasarkan pertumbuhan sel maupun jaringan.
Infiltrat : Tumor terdiri atas kumpulan radang.
Vegetasi : pertumbuhan berupa penonjolam bulat atau rucing yang menjadi satu
vegetasi dapat dibawah permukaan kulit misalnya pada tubuh, dalam hal ini disebut
granulasi, seperti pada tukak.
Sikatriks : terdiri dari jaringan tak utuh, relief kulit tidak normal, permukaan licin dan
tidak dapat adneksa kulit. Secara klinis terlihat menonjol karena kelebihan jaringan
ikat. Bila sikatriks hipertrofik menjadi patologik , pertumbuhan melampaui batas luka
disebut keloid .
Erosi : Kelainan kulit disebabkan kehilangan jaringan yang tidak melampaui
strartum basal
Eskoriasi : bila garukan lebih dalam lagi sehingga tergores sampai papil. Maka akan
terlihat darah dan serum yg keluar. Hilangnya jaringan sampai dengan stratum
papilare.
Ulkus : hilangnya jaringan yang lebih dalam dari eskoriasi. Ulkus mempunyai
dinding, isi, tepi, dasar.
Skuama : lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama dapat halus
sebagai taburan tepung, maupun lapisan tebal dan luas sebagai lembaran kertas. Dapat
dibedakan misalnya pitiriasiformis (halus), psoriasiformis (berlapis-lapis),
iktioaiformis (seperti ikan), kutikular (tipis), lamelar (berlapis), membranosa atau
eksfoliatika (lembaran) dan keratotik (terdiri atas zat tanduk)
Krusta : cairan tubuh yang mengering, dapat bercampur dengan jaringan nekrotik,
maupun benda asing. Warnanya ada berbagai macam. Kuning muda berasal dari
serum, kuning kehijauan berasal dari pus kehitaman berasal dari darah.
Likenifikasi : penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas
Guma : infiltrat sirkumskrip, menahun, destruktif, biasanya melunak
Eksantema : kelainan pd kulit yang timbul serentak dalam waktu singkat dan tidak
berlangsung lama, umumnya didahului demam.
Fagedenikum : proses yang menjurus ke dalam dan meluas (ulkus tropikum, ulkus
molle)
Terebrans : proses yang menjurus ke dalam
Monomorf : Kelainan kulit yang pada satu ketika terdiri atas ganya satu macam
ruam kulit
Polimorf : kelainan kulit yang sedang berkembang, terdiri dari macam2
efloresensi.
Telangiektasis : Pelebaran kapiler yang menetap pd kulit
Roseola : eksantema yang lentikular berwarna merah tembaga pada sidilis dan
frambusia
Galopans : proses yang cepat meluas (ulkus diabetekum galopans)
Ukuran
Miliar : jarum pentul
Lentikular : biji jagung
Numular : uang logam
Plakat : lebih besar dari plakat
Susunan kelainan
Linear : seperti garus lurus
Sirisnar/anular : lingkaran
Arsinar : bulan sabit
Polikistik : pinggiran yang saling menyambung
Korimbiformis : susunan seperti induk ayam dikelilingi anaknya
Bentuk lesi
Teratur : bulat, lonjong, seperti ginjal dll
Tidak teratur : tidak mempunyai bentuk
Penyebaran dan lokalisasi
Sirkumskrip : batas tegas
Difus : tidak tegas
Generalisata : tersebar pd sebagian bagian tubuh
Regional : daerah tertentu badan
Universal : seluruh tubuh
Soliter : hanya satu lesi
Herpetiformis : vesikel berkelompok
Konfluens : dua atau lebih lesi yang menjadi satu
Diskret : terpisah satu sama lain
Serpiginosa : proses yang menjalar ke satu jurusan diikuti oleh penyembuhan
jaringan yang ditinggalkan
Irisformis : eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel warna yang lebih
gelap ditengahnya.
Simetrik : mengenai kedua belah badan yang sama
Bilateral : kedua belah badan
Unilateral : satu badan
Macam-macam dermatitis
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) yang menimbulkan kelainan klinis
berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama dan likenifikasi) dan
keluhan gatal.
1. Dermatitis Kontak : disebabkan oleh substansi yang menempel pd kulit. Terdiri dari
dermatitis iritan (nonimunologik) jadi tanpa didahului proses sensitisasi dan dermatitis kontak
alergi terjadi setelah sensitisasi terhadap suatu alergen.

Dermatitis Kontak Iritan (DKI)
Dapat terjadi berbagai umur,ras dan jenis kelamin
Dihubungkan dengan pekerjaan (akibat kerja)
Etiologi : bahan yang bersifat iritan (asam, alkali, deterjen, serbuk kayu)
Faktor yang mempengaruhi kelainan kulit : ukuran molekul, daya larut, konsentrasi,
lama kontak, gerakan, trauma fisis, suhu, lingkungan, faktor individu (tebal kulit)
Gejala klinis : iritan kuat menimbulkan gejala akut sedangakan iritan lemah
menibulkan gejala kronis
Histopatologik : DKI akut (vasodilatasi didalam dermis, edema intrasel , nekrosis
epidermal). DKI kronis ( kerusakan epidermis yang menibulkan vesikel atau bula.
Didalam vesikel atau bule ditemukan limfosit dan neutrofil)
Diagnosis : anamnesis dan pengamatan gambaran klinis, uji tempel dengan bahan yg
dicurigai
Terapi : hindari pajanan, KS topikal dan pemakaian alat pelindung diri
Dermatitis Kontak Alergik (DKA)
Terjadi pada orang yang kulitnya peka (hipersensitif)
Etiologi : bahan kimia sederhana (<1000 dalton, lipofilik, sangat reaktif, dapat
menembus str korneum sehingga bisa mencapai sel epidermis)
Gejala klinis : Pada keadaan akut: eritematosa, edema, papulovesikel, vesikel atau
bula, erosi dan eksudasi bila vesikel atau bula pecah. Pada keadaan kronis : kulit
kering, skuama, papul, likenifikasi, dan fisur.
Predileksi : tangan, lengan, wajah, telinga, leher, badan, genital, paha.
Diagnosis : anamnesis (pakai sabuk yang ada logamnya, pekerjaanm obat sistemik,
dll) dan pemeriksaan klinis.
Dermatitis Atopik (D.A)
Biasanya pada bayi dan anak anak
Riwayat atopi pada keluarga (D.A, rinitis alergik, asma bronkial)
Gejala klinis : papul, gatal, lalu mengalami ekskoriasi dan likenifikasi. Predileksinya
di lipatan (fleksural).

Dermatitis Seboroik (D.S)
Kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat yang predileksinya
berada di tempat-tempat seboroik dan diserrai dengan peningatan produksi sebum
(seborrhea) dari kulit kepala dan daerah muka serta tubuh yang kaya akan folikel
sebaceous.
Penyebabnya belum diketahui pasti, faktor predisposisinya ialah kelainan konstitusi
berupa status seboroik (seborrhoeic state) yang rupanya diturunkan, bagaimana
caranya belum dipastikan.
Infeksi bakteri oleh : Pityrosporum ovale yang merupakan flora normal kulit manusia.
Dimana pertmbuhan p.ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi,
baik akibat produk metabolitnya yang msk ke dalam epidermis maupun karena sel
jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T dan sel Langerhans.
D.S berhubungan erat dengan keaktivan glandula sebasea. Glandula tersebut akif pada
bayi yang baru lahir, meudian menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun akibat stimulasi
hormon androgen dari ibu berhenti.
D.S pada bayi terjadi pada bulan bulan pertama, kemudian jarang pada usia sebelum
akil balik dan insidensinya mencapai puncaknya pada umur 18-40 tahun, kadang-
kadang pada umur tua. D.S sering terjadi pada pria dibandingkan wanita.
D.S juga dapat diakibatkan oleh proliferasi epidermis yang meningkat seperti pada
psoriasis.
Pada orang yang mempunyai faktor predisposisi, timbulnya D.S dapat disebabkan
oleh faktor kelelahan, stress, emosional, infeksi atau defisiensi imun.
Gejala klinis :
Eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan, batasnya kurang
tegas. D.S yang ringan hanya mengenai kulit kepala berupa skuama-skuama yang
halus, mulai sebagai bercak kecil yang kemudian mengenai seluruh kulit kepala
dengan skuama-skuama yang halus dan kasar. Kelainan tsb disebut pitiriasis sika
atau ketombe. Sedangkan bentuk yang berminyak disebut ptiriasis steatoides yang
dapat disertai eritema dan krusta yang tebal. Rambut pada tempat tsb mempunyai
kecenderungan rontok.
Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak yang berskuama dan
berminyak disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, telinga dan leher.
Pada bentuk yang lebih berat lagi seluruh kepala tertutup oleh krusta yang kotor
dam tidak berbau tidak sedap. Pada bayi, skuama kekuningan dan kumpulan debris-
debris epitel yang lekat pada kulit kepala bayi disebut cradle cap.
Pada daerah supraorbital, skuama skuama halus dapat terlihat di alis mata, kuliy
dibawahnya eritematosa dan gatal disertai dengan bercak skuama kekuningan, dapat
pula terjadi blefaritis.
D.S dapat bersama-sama dengan akne yang berat. Jika meluas dapat menjadi
eritroderma, pada bayi disebut panyakit Leiner. Pada penderita HIV dapat juga
mengalami penyakit ini.
Pedileksi : kulit kepala, kening, sekitar hidung , alis mata dan pada dada
bagian tengah serta di telinga bagian luar, lipatan bawah areola, lipat paha, anogenital,
lipatan nasolabial. Lokasi ini banyak menghasilkan sebum atau kandungan lemak
yang diproduksi ileh kelenjar khusus yang melindungi bagian epidermis dari kulit.
Biasanya kelainan berupa ketombe atau dandruff
Faktor resiko : makanan (tinggi lemak dan alkohol), iklim (insiden eingkat pada
keadaan dingin), keturunan, lingkungan (kulit menjadi lembab dan maserasi akan
lebih mudah menimbulkan penyakit), infeksi (kemungkinan oleh P. Ovale), kelelahan
dan definsiensi imun.
Histopatologis : pada D.S akut dan subakut, tersebar superficial ifiltrat
perivascular dari limfosit dan histiosit, dari spongiosis yang ringan sampai berat,
hiperplasia bentuk psoriasis ringanganm Pinkus spurting papilla hampir sering
sebagao cii khas dari dermatitis seboroik sama seperti psoriasis, tetapi abses Munro
tidak ada, penyumbatan folikel oleh karena orthokeratosis dan parakeratosis dan
kerak-kerak yang mengandung neutrofil. Pada D.S kronis terdapat dilatasi pe,buluh
darah kapiler dan vena pada plexus superficial.
D.S pada bayi (usia 2-10 minggu)
Penyakit ini terjadi pada bayi didominasi pada bulan-bulan pertama kehidupan
sebagai penyakit inflamasi yang terutama mempengaruhi rambut dan kulit kepala
dengan lipatan intertriginosa berminyak yang disertai sisik dan kerak. Daerah lainya
seperti wajah, dada dan leher juga dapat terpengaruh.
Pada kepala (kulit kepala daerah frontal dan parietal) khas disebut cradle crap
dengan krusta tebal, pecah-pecah dan berminyak tanpa ada dasar kemerahan dan
kurang/ tidak gatal.
Pada lokasi lain seperti lipatan belakang telinga dan leher lesi tampak kemerahan
atau merah kekuningan yang terutup dengan skuama yang berminyak, kurang/tidak
gatal. Perjalanan penyakit ini pd bayi biasanya berlanjut mingguan sampai bulanan.
Kekambuhan juga jarang terjadi.
D.S pada dewasa (pubertas, rata-rata usia 18-40 tahun, dapat usia tua)
Umumnya gatal dan biasanya pd area seboroik, bersifat kronis dan mudah
kambuh. Sering berkaitan dengan kelelaham stress atau paparan sinar matahari.
Perjalanan penyakit biasanya berlangsung dalam waktu yang lama. Periode perbaikan
pada musim panas dan kambuh kembali pd musim dinin, pembesaran lesi dapat
terjadi sebagai akibat dari perubahan musim terutama efek dari paparan sinar
matahari.
Diagnosis banding :
o Psoriasis : berbeda dengan D.S karena terdapat skuama yang berlapis-lapis
diserati dengan tanda tetesan lilin dan Auspiz. Tempat predileksinya juga
berbeda. Skuama pd psoriasis lebih tebal dan putih seperti mika, kelainan kulit
juga pada perbatasan wajah dan scalp dan tmpat-tempat lain sesuai dengan
tempat predileksinya.
o Psoriasis inversa : yang mengenai daerah fleksor juga dapat menyerupai D.S
o Kandidosis : pada kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas
tegas denga satelit disekitarnya yang predileksinya pd lipatan paha dan perianal.
o Otomikosis dan otitis eksterna : D.S yang menyerang saluran telinga luar akan
mrip dengan otomikosis dan otitis eksterna. Pada otomikosis akan terlihat
elemen jamur pada sediaan langsung. Otitis eksterna menyebabka tanda-tanda
radang, jika akut terdapat pus.
Pengobatan :
Faktor predisposisi hendaknya diperhatikan, misalnya stress emosional dan kurang
tidur, dan diet rendah lemak.
Pengobatan sistemik :
o Kortikosteroid
Pada kasus yg berat diberikan Prednison 20-30 mg sehari. Dosis diturunkan
perlahan jika sudah ada perbaikan. Pemberiaan Antibiotik diperlukan apabila
disertai penyakit sekunder
o Isotretinoin
Pada kasus yang rekalsitran. Efeknya mengurangi aktivitas kelenjar sebasea.
Ukuran kelenjar tersebut dapat dikurangi sampai 90%, akibatnya terjadi
pengurangan sebum. Dosisnya 0.1-0.3 mg per kg berat badan per hari.
Perbaikan terlihat setelah 4 minggu. Setelah itu diberikan dosis pemeliharaan
5-10 mg per hari selama beberapa tahun.
o Narrow band UVB (TL-01)
Pada D.S yang parah dapat digunakan narrow band UVB yg cukup aman dan
efektif. Setelah pemberian terapi 3x seminggu selama 8 minggu, sebagian
besar penderita mengalami perbaikan.
o Ketokonazol
Bila pada sediaan langsung terdapat P.Ovale yang banyak dapat diberikan
ketokonazol dengan dosis 200 mg per hari.
Pengobatan topikal
o Pada ptiriasis sika dan oleosa, seminggu 2-3 kali scalp dikeramasi selama 5-15
menit misalnya dengan Selenium sulfida (selsun). Jika terdapat skuama dan
krusta diberi emolien misalnya krim urea 10%. Obat yang lain yang dpat
dipakau untuk D.S adalah
o Resoin 1-3 %
o Ter, misalnya likuor karbonas detergens 2-5% atau krim pragmatar
o Sulfur praesipitatum 4-20 % dapat digabung dengan asam salisilat 3-6 %
o Kortikosteroid, misalnya hidrokortison 2

%. Pada kasus dengan inflamasi


yang berat dapat dipakai kortikosteroid yang lebih kuat misalnya betametason
valerat, asalkan jangan dipakau terlalu lama karena efek sampingnya.
o Krim ketokonazol 2% dapat diaplikasikan bila pada sediaan langsung terdapat
banyak P.ovale.
Prognosis : sebagaian kasus yang mempunyai faktor konstitusi penyakit ini agak
sukar disembuhkan meskipun terkontrol.