Anda di halaman 1dari 41

Learning Objectives

Dapat menjelaskan :
1. Definisi keputihan & kutil
2. Etiologi keputihan & kutil
3. Gejala keputihan & kutil
4. Patofisiologi keputihan & kutil
5. Klasifikasi keputihan
6. Komplikasi berdasarkan etiologi keputihan
7. Pemeriksaan keputihan (pap smear) dan kutil
8. Terapi dan pencegahan keputihan
LO 1. definisi keputihan dan kutil
Keputihan : Keluarnya cairan yang
berlebihan dari vagina terutama terdiri dari mucus, dan
bukan darah, terkadang terasa gatal, panas, atau perih,
kadang berbau, atau tidak terasa apa-apa.
Kutil : suatu lesi epidermal
hiperplastik yang berlobulus dengan permukaan
bertanduk
LO 2. etiologi keputihan
Infeksi :
- virus : HPV, HIV, herpes simplex virus
- protozoa : trichomonas vaginalis
- jamur : candida albicans
- bakteri : neisseria gonorheae, gardenella vaginalis,
Chlamidia trachomatis
Faktor fisiologi :
- hormonal


Iritasi :
- pelicin, kondom
- Sabun cuci dan pelembut pakaian
- Deodorant dan sabun
- Cairan antiseptic untuk mandi.
- Pembersih vagina
- Celana yang ketat dan tidak menyerap keringat
- Kertas tisu toilet yang berwarna
LO 3. Gejala keputihan
Cairan keputihan berwarna kuning/seperti susu
Berbau amis/asam/busuk
Rasa gatal
Nyeri pada perut bagian bawah
Vagina bengkak
LO 4. patofisiologi keputihan
1. Jamur (candida albicans) :
Sel atau spora dan bentuk miselia atau hifa Pelekatan
sel candida pada epitel vagina(miselia) Hifa candida
tumbuh berkolonisasi pada permukaan
vagina(perubahan estrogen) Memproduksi enzim
protease,bekerja optimal pH normal vagina
Mendukung pertumbuhan jamur yg menghasilkan
beberapa faktor merusak epitel vagina vaginits
Gejala :
- cairan keputihan seperti susu
- berbau asam
- rasa gatal
- daerah kemaluan
bengkak dan merah

2. Virus :
Sel kanker serviks pada awalnya berasal dari sel epitel
serviks yang mengalami mutasi genetik sehingga
mengubah perilakunya melakukan pembelahan sel
yang tak terkendali, imortal, dan menginvasi jaringan
stroma di bawahnya mutasi genetik yang tidak dapat
diperbaiki pertumbuhan kanker


Gejala :
- Tonjolan yang tidak sakit, kutil yang menyerupai
bunga kol tumbuh di dalam / pada kelamin, anus
dan tenggorokan
3. Bakteri : Neisseria gonorrhoae
Kuman (mukosa serviks, konjungtiva atau rektum).
Kuman menempel pada permukaan mukosa
mencapai jaringan ikat di bawah epitel terjadi reaksi
radang berupa infiltrasi lekosit polimorfonuklear.
Eksudat yang terbentuk dapat menyumbat saluran atau
kelenjar sehinnga terjadi kista retensi dan asbes
terjadinya kerusakan pada sel epitel oleh gonokokus,
menyebabkan terbentuknya celah pada mukosa,
sehingga mempermudah dan mempercepat masuknya
kuman GO.

Gejala :
- Bisa tanpa gejala
- cairan vagina berwarna kuning
- bau busuk

4. Protozoa : Trichomonas vaginalis
T.vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada
dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai
mencapai jaringan epitel dan subepitel migrasi
leukosit sekret vagina mengalir keluar
Gejala :
- cairan vagina bisa berwarna hijau kuning , berbau
busuk, kental
- rasa gatal
- vagina dan serviks biasanya mengalami
peradangan

Cara infeksi :
a. Infeksi endogen
infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang
bersumber dari diri sendiri. Contoh : Gardnerella
vaginalis, Candida albicans.
b. Infeksi menular seksual
penyakit infeksi yang ditularkan melalui hubungan
seksual. Contoh : Neisseria gonorrhoae, Clamydia
trachomatis, Trichomonas vaginalis.
c. Infeksi iatrogenik
infeksi akibat masuknya mikroorganisme ke
jaringan tubuh karena terbawa oleh peralatan dan
bahan yang digunakan pada waktu pelayanan
(toilet seat, handuk, dll).
LO 5. klasifikasi keputihan
Keputihan fisiologis
Merupakan respons fungsi tubuh yang normal.
Dalam keadaan normal vagina memproduksi cairan
yang berwarna bening, tidak berbau, tidak
berwarna, jumlahnya tidak berlebihan dan tidak
disertai rasa gatal. Cairan ini berfungsi sebagai alat
pelindung alami, mengurangi gesekan dinding
vagina saat berjalan dan saat melakukan hubungan
seksual.

Dalam vagina juga hidup flora doderleins yang
dalam keadaan normal berfungsi menjaga
keseimbangan ekosistem vagina. Pada kondisi
tertentu keseimbangan ini dapat terganggu misalnya
saat stres, saat daya tahan tubuh turun, kelelahan,
menjelang dan sesudah haid, obat-obatan hormonal,
kehamilan. Gangguan ini mengakibatkan cairan
vagina yang keluar sedikit berlebih, tapi tidak ada
perubahan warna dan bau.

Keputihan yang fisiologis terjadi pada saat
menjelang, sesudah, atau di tengah-tengah siklus
menstruasi. Jumlahnya tidak terlalu banyak,
jernih/putih, tidak biasanya keputihan fisiologis ini
disebabkan oleh hormon yang ada di dalam tubuh
kita

Keputihan fisiologis (normal), ciri-cirinya, lendirnya
seperti lendir bening, Tidak gatal dan tidak berbau.
Keputihan patologis
Cairan yang keluar dari vagina berwarna putih
hingga kehijauan, jumlahnya banyak, kental, lengket,
berbau, terasa gatal dan panas, dapat menimbulkan
luka di daerah mulut vagina.
Keputihan patologis dapat disebabkan oleh
infeksi bakteri, jamur, virus, parasit di saluran
reproduksi. Bisa juga menjadi salah satu indikasi
adanya kanker rahim.

LO 6. Komplikasi berdasarkan etiologi
keputihan
Trikomoniasis
pada wanita adalah sistisis, skenitis dan abses
bartholin dan dapat menyebabkan kelahiran
prematur bayi.
Kandidiasis vulvavaginalis
peritonitis
Vaginosis bakterial
terjadi radang panggul, kelahiran prematur,
endometritis post-partum, dan infeksi traktus
urinarius.



Gonore : Bartholinitis
Klamidiosis
infertilitas, PID, Bartholinitis, kehamilan ektopik,
ketuban pecah dini, persalinan prematur, infeksi
puerperal, dan pada neonatus berupa konjungtivitis
dan pneumonia.
LO 7. Pemeriksaan keputihan
Pap smear
a. Persiapan
Penentuan saat pengambilan, yaitu pertengahan
daur haid pada wanita subur/pramenopause (+
menjelang/ saat ovulasi) rangsangan estrogen
memudahkan mendeteksi sel dengan kelainan
pematangan.
Menghindari hal yang menimbulkan kontaminan
(kontak seksual, obat-obatan intravaginal,
cairan/pencuci vagina).

b. Pengambilan dan fiksasi spesimen
Pasien dalam posisi litotomi
Spekulum dimasukan ke liang vagina
Ambil sampel endoserviks (dari kanalis servikalis)
dengan cytobrush
Sel yang diperoleh dipindahkan ke object glass
Ambil sampel ektoserviks dengan ujung spatula
ayre
Spesimen yang diperoleh di spatula diapuskan
merata pada object glass
fiksasi segera apusan pada object glass dalam etil
alkohol 95%

c. Pengiriman spesimen
Bila tempat pengiriman dekat, sediaan dapat
dikirimkan dalam keadaan terendam cairan etil
alkohol 95%
Bila tempat pengiriman jauh, sediaan direndam
dalam cairan fiksasi paling sedikit selama 30
menit, keluarkan dan keringkan di udara
terbuka. Setelah itu dimasukan ke dalam kotak
(karton) pengiriman


Pemeriksaan sekret Vagina
a. Pengambilan spesimen
Spesimen diambil menggunakan spekulum
Spekulum dilembabkan dengan air hangat
sebelum digunakan (jangan menggunakan
antiseptik)
Untuk pemeriksaan T.vaginalis, sampel diambil dari
posterior fornix vagina, sedangkan untuk sampel
gonococcal serta chlamydial diambil dari
endoserviks
Setelah spekulum dimasukan, mukos serviks harus
diseka dengan kapas
Sampel swab dimasukan ke dalam servikal canal
dan diputar selama 10 detik sebelum dikeluarkan

b. Pemeriksaan spesimen
Wet mount disiapkan dengan mencampur sampel
vagina dengan larutan garam pada gelas benda,
lalu diberi penutup
Pemeriksaan menggunakan perbesaran 400x
untuk T.vaginalis dengan pergerakan tertentu,
anakan khamir, dan clue cells. c,. Albikans juga
kadang dapat ditemukan dalam sekret vagina
Bakterial vaginosis menggunakan pewarnaan gram
(dikocok dahulu pewarnanya baru dipulas ke gelas
benda)

c. Interpretasi hasil pemeriksaan
Normal mengandung banyak laktobasilus dan
<5 leukosit dalam lapangan pandang
G.vaginalis clue cells dilapisi sejumlah kecil
bakteri gram negatif yang bercampur dengan flora
campuran (sejumlah besar bakteri gram negatif
kecil, bakteri batang, coccobasilus, bakteri gram
negatif batang melengkung), tanpa bakteri gram
positif besar dan leukosit <5 per lapangan pandang
Trikomomiasis/cervicitis sejumlah besar sel
darah putih (>10 per lapangan pandang)
Mucopurulent cervicitis >10 leukosit berinti
pleomorfik per lapangan oil immersion (karena
infeksi N. gonorrhoea dan atau C.trachomatis)
Vaginal candidiasis ditemukan C. albikans
dalam jumlah besar
Umur Frekuensi
21 29 tahun Minimal sekali setahun
30 69 tahun Setiap 2-3 tahun jika telah memiliki hasil
Pap Smear normal selama 3x pemeriksaan
70 tahun ke
atas
Jika telah melakukan test Pap Smear
selama 3x dan hasilnya normal, serta tidak
ada kelainan selama pemeriksaan 10 tahun
sebelumnya, maka anda tidak perlu
melanjutkan pemeriksaan.
Pemeriksaan dilakukan pada wanita yang sudah menikah
LO 8. Terapi dan pencegahan
Terapi causal
Candida albicans
- Topikal
1.Mikonazol nitrat 2 % 1 x sehari selama 7 14
hari
2.Klotrimazol 1 % vagina krim 1 x sehari selama
7 hari
3.Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2
minggu
- Sistemik
1.Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
2.Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari
3.Nimorazol 2 gram dosis tunggal
Chlamydia trachomatis
1.Tetrasiklin 4 x 500 mg selama 10 14 hari oral
2.Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
3.Metrodinazole 600 mg/hari selama 4 7 hari
Gardnerella vaginalis
1.Metrodinazole 2 2x 500 mg
2.Ampisilin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari

Trichomonas vaginalis
Secara Topikal
Bahan cairan berupa irigrasi, misal:H
2
O
2
1-2% dan larutan
asam laktat 4%
Bahan berupa supositoria
Gel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal
Secara Sistemik (Oral)
Metronidazol dosis tunggal 2 gram / 3x500mg per
hari selama7hari
Nimorazol dosis tunggal 2gr
Tinidazol dosis tunggal 2gr
Omidazol dosis tunggal 1,5gr

herpes simplex virus
Belum ada obat yang dapat memberikan
kesembuhan secara tuntas
- Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
- Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
- Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah
timbulnya infeksi sekunder

Neisseria gonorhoeae
- Penicillin
Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
- Seftriaxon
- Spektinomisin
- Ciprofloksasin

pencegahan
a. Trikomoniasis
1. pemeriksaan waktu pengobatan terhadap
pasangan seksual untuk mencegah jangan
terjadi infeksi ping-pong
2. jangan berhubungan seksual selama
pengobatan dan belum dinyatakan sembuh
3.dianjurkan menggunakan kondom
4. hindari pemakaian barang-barang yang
mudah menimbulkan transmisi

b. Gonore
1. penggunaan kondom
2. edukasi
3. menghindari kontak seksual sampai
pengobatan selesaiikut
4. pasangan diikutsertakan dalam pengobatan
agar tidak terjadi efek ping-pong

c. Vaginosis bakterial
1. menghindari penggunaan vaginal douching
maupun produk higiene wanita lain, misalnya
disinfektan, pemberi vagina, pengencang
vagina, dan pengeringa vagina.
2. membersihkan bagian luar vagina cukup
dengan air sabun.
3. menggunakan kondom selama hubungan
seksual
4. membersihkan dengan benar alat kontrasepsi
setelah pemakaian.

d. Kandidiasis vulvavaginalis
Dalam usaha pencegahan peranan tenaga
kesehatan sangat penting. Pelaku kesehatan
sebaiknya waspada jika menemukan beberapa
hal sebagai berikut.
1. Wanita hamil dan wanita pengguna
kontrasepsi
2. Kondisi kesehatan tertentu, misalnya diabetes
melitus.
3. Antibiotik