Anda di halaman 1dari 73

Fisiologi Sistem Endokrin

2 sistem yang berperan dalam koordinasi dan kontrol fungsi organ : sistem endokrin dan sistem saraf papirus bangsa Mesir 1.500 SM : urine manis Aretaeus dari Cappadocia : daging tubuh yang larut dalam air seni 1921, ahli fisiologi Kanada, Sir Frederick Grant Banting dan Charles Herbert Best menemukan hubungan antara kekurangan insulin dan Diabetes mellitus

pengertian yang lebih baik akan sistem endokrin akan mengarah ke penatalaksanaan yang lebih baik pula untuk kelainan-kelainan hormonal.

Endokrinologi : ilmu yang mempelajari penyesuaian homeostasis kimiawi dan aktivitas-aktivitas lain yang dilaksanakan oleh hormon Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin tanpa saluran (duktus) khusus yang tersebar di seluruh tubuh Kelenjar endokrin mensekresikan hormon ke cairan interstisial berdifusi ke aliran darah menuju seluruh tubuh bekerja pada sel target (sel sasaran) spesifik dengan reseptor yang sesuai Hormon zat perantara kimiawi jarak jauh

Fungsi Sistem Endokrin Mengatur metabolisme organik dan H2O serta keseimbangan elektrolit. Menyebabkan perubahan adaptasi untuk membantu tubuh menghadapi tekanan stress. Mengatur perkembangan dan pertumbuhan tubuh. Mengontrol reproduksi. Mengatur produksi sel darah merah Bersama dengan sistem saraf otonom, mengontrol dan menyatukan baik sirkulasi dan pencernaan serta absorpsi makanan.

Suatu zat dapat disebut hormon bila zat tersebut : (definisi klasik hormon) : dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau sel-sel khusus disekresikan langsung ke dalam aliran darah ditransportasi ke seluruh tubuh mempengaruhi kegiatan sel jaringan / organ sasaran yang letaknya jauh dari asal tempat pembentukkannya.

Beberapa hormon mempengaruhi hampir semua sel tubuh, Growth hormone pertumbuhan pada hampir semua bagian tubuh tiroksin meningkatkan laju dari banyak reaksi kimiawi di dalam tubuh. Beberapa hormon hanya memberikan pengaruhnya pada jaringan yang spesifik (jaringan target) karena hanya jaringan inilah yang mempunyai reseptor terhadap hormon tersebut. ACTH (adrenocorticotropic hormone) menstimulasi korteks kelenjar adrenal, memyebabkannya untuk mensekresikan hormon adrenokortikal

dalam mempertahankan homeostasis tubuh, sistem endokrin dan sistem saraf berinteraksi satu sama lain. Sebagai contoh, medulla kelenjar adrenal dan kelenjar hipofisis dalam mensekresikan hormonnya secara primer tergantung pada respon terhadap stimulasi neural.
Perbandingan antara Sistem Saraf dan Sistem Endokrin Sistem Saraf
Sel Signal kimiawi Spesifisitas kerja Kecepatan onset Durasi kerja Neuron Neurotransmitter Receptor pada sel postsynaptics Beberapa detik Sangat singkat kecuali aktivitas neural berlanjut

Sistem Endokrin
Ephitelium glandular Hormon Reseptor pada sel target Beberapa detik sampai jam Dapat singkat atau dapat bertahan selama beberapa hari bahkan ketika sekresi dihentikan

Hormon Tropik adalah hormon yang mengatur produksi dan sekresi dari hormon yang lain. Contoh : TSH (Thyroid Stimulating Hormone) Kelenjar Parakrin mengeluarkan sekretnya melalui proses difusi sederhana ke dalam cairan interstisial dan hanya memberikan efek pada sel-sel di dekatnya. Contoh histamin yang dibebaskan oleh sel mast selama proses peradangan . Histamin bekerja pada arteriol di sekitarnya untuk menimbulkan vasodilatasi lokal yang kemudian diikuti oleh peningkatan aliran darah yang diperlukan untuk menambah perangkat pertahanan tubuh ke tempat yang terkena.

Kelenjar Autokrin hanya memberikan efek pada sel sekresinya itu sendiri dengan berikatan pada reseptor di permukaan sel. Kedua kelenjar tersebut, kelenjar parakrin dan autokrin, mensekresikan zatnya ke dalam lingkungan internal, dan walaupun mereka bukanlah hormon menurut definisi tradisional, keduanya mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai molekul messenger, dan kadang-kadang disebut hormon lokal. Kelenjar Eksokrin mempunyai sekret yang keluar melalui saluran atau duktus menuju permukaan tubuh, sebagai contoh kelenjar keringat.

Neurotransmitter : zat perantara kimiawi yang jarak jangkauannya sangat pendek, digunakan oleh neuron untuk berkomunikasi dengan sel yang dipersarafi (neuron, otot atau kelenjar) Neurohormon : hormon yang dikeluarkan ke dalam darah secara spesifik oleh neuron neurosekretorik. Neuron neurosekretorik dianggap termasuk sistem endokrin, dan sistem tersebut disebut neuroendokrin. Neuron neurosekretorik mengeluarkan zat perantara kimiawi (chemical messenger) melalui darah, sedangkan neuron biasa mengeluarkan neurotransmiter ke dalam ruang tertutup. Neuromodulator : zat perantara yang bekerja pada neuron untuk menimbulkan perubahan biokimiawi jangka panjang di sel saraf.

Kelenjar jukstakrin (kelenjar yang langsung mengeluarkan sekretnya ke sel tetangganya melalui suatu hubungan juksta) Kelenjar intrakrin (kelenjar yang hasil sekresinya bekerja pada sel itu sendiri, tanpa hasil sekresinya itu keluar ke cairan interstisial. Jadi langsung setelah disekresikan oleh suatu organel sel, kemudian melintasi sitoplasma untuk bekerja pada bagian sel yang lain pada satu sel yang sama).

Kelenjar endokrin sentral termasuk kelenjar pineal, hipotalamus dan hipofisis. Kelenjar Pineal adalah bagian dari otak yang mensekresikan hormon, yang penting di dalam menjaga irama biologi tubuh (Melatonin). Kelenjar endokrin perifer, termasuk : Kelenjar Tiroid (hormon tiroid), Medula dan Korteks Adrenal (Hormon Adrenokortikal), Pankreas (Hormon Insulin, Glucagon), Hormon Paratiroid, Kalsitonin (Kontrol Hormon terhadap Metabolisme Kalsium dan Fisiologi Tulang)

Fungsi Kelenjar Endokrin yang Kompleks Satu kelenjar endokrin dapat menghasilkan bermacam hormon. Kelenjar hipofisis anterior, sebagai contoh, menghasilkan enam macam hormon yang berbeda, masing - masing mempunyai mekanisme kontrol yang berbeda dan mempunyai fungsi yang berbeda pula. Satu macam hormon dapat disekresikan oleh lebih dari satu kelenjar endokrin. Contohnya, baik hipotalamus maupun pankreas sama - sama mensekresikan hormon somatostatin. Seringkali, satu macam hormon mempunyai lebih dari satu tipe sel target, dan oleh karena itu dapat menimbulkan lebih dari satu macam efek. Contohnya, Vasopresin menimbulkan reabsorpsi H2O oleh tubulus ginjal, begitu juga vasokonstriksi pembuluh darah seluruh tubuh.

Laju sekresi dari beberapa hormon berbeda secara bermakna selama tenggang waktu tertentu dalam pola siklus. Karena itu, sistem endokrin juga mengatur fungsi koordinasi temporal (time ; waktu). Hal ini terlihat jelas pada kontrol endokrin atas siklus reproduksi, seperti siklus menstruasi, yang fungsi normalnya membutuhkan perubahan pola yang sangat spesifik dari sekresi berbagai macam hormon. Sebuah sel target tunggal dapat dipengaruhi oleh lebih dari satu hormon. Contohnya, insulin mengatur perubahan glukosa menjadi glikogen di dalam sel hati dengan menstimulasi satu enzim hepar spesifik, sedangkan hormon yang lain, glukagon, mengaktifkan enzim hati yang lain menimbulkan degradasi glikogen menjadi glukosa di dalam sel hati.

Perantara kimiawi (chemical messenger) yang sama dapat berupa hormon atau neurotransmiter tergantung pada asal dan cara pengantarannya / transportasinya ke sel target. Norepinefrin yang disekresikan sebagai hormon oleh medulla adrenal dan dilepaskan sebagai neurotransmiter dari serat saraf postganglionik simpatik adalah contoh utama. Beberapa organ secara khusus mempunyai fungsi endokrin (khusus mensekresikan hormon saja, contohnya kelenjar hipofisis anterior). Sedang organ yang lain dari sistem endokrin juga melaksanakan fungsi non - endokrin, contohnya testis selain memproduksi sperma juga mensekresikan hormon seks pria, testosteron.

Tinjauan kimiawi hormon Secara kimiawi, hormon dapat dibagi menjadi hormon steroid dan hormon non-steroid. Hormon steroid terbuat dari kolesterol, dengan struktur kimia yang mirip pula dengan kolesterol. perubahan dari kolesterol menjadi hormon steroid spesifik membutuhkan adanya sejumlah enzim, yang hanya terdapat pada organ steroidogenik (penghasil steroid) spesifik. Hormon steroid tidak disimpan seperti hormon non-steroid

Hormon non-steroid termasuk hormon amina, peptida, dan protein atau glikoprotein yang terbuat dari asam amino. Hormon amina adalah hormon yang diturunkan (derivat) dari asam amino tirosin, termasuk norepinefrin dan epinefrin (medulla kelenjar adrenal) serta tiroksin dan triiodotironin (kelenjar tiroid). Hormon peptida terdiri dari rantai pendek asam amino (kurang dari 100 asam amino) Hormon protein terbuat dari rantai panjang asam amino (lebih dari 100 asam amino) hormon non-steroid disimpan sampai mereka disekresikan. Dengan menyimpan hormon peptida di dalam bentuk yang telah siap dilepaskan, kelenjar dapat merespons secara cepat terhadap setiap permintaan untuk peningkatan sekresi tanpa perlu terlebih dahulu meningkatkan sintesis hormon. Berbeda dengan hormon steroid, yang laju sekresinya diatur secara penuh oleh laju sintesis hormon.

Jenis kimiawi hormon


Jenis zat Amina Peptida Protein Glikoprotein Steroid Terbuat dari Asam amino Asam amino Asam amino Protein dan karbohidrat Kolesterol Contoh Norepinefrin, Epinefrin ADH, OT, TRH, SS, GnRH PTH, GH, PRL FSH, LH, TSH Estrogen, Testosteron, Aldosteron, Kortisol

Perbedaan kecil pada struktur kimia di antara hormon pada setiap kategori seringkali mengakibatkan perbedaan besar dalam respons biologis-nya.

Perbedaan dalam struktur kimia juga mempunyai akibat perbedaan dalam daya larut hormon. Tingkat daya larut suatu hormon akan menentukan bagaimana : (1) hormon diproses oleh sel endokrin, (2) cara bagaimana hormon diangkut di dalam darah, dan (3) mekanisme bagaimana hormon melaksanakan efeknya pada sel target. Berikut adalah perbedaan dalam tingkat daya larut dari berbagai macam kelas hormon : Semua hormon peptida dan katekolamin adalah hidrofilik (menyukai air) dan lipofobik (takut akan lemak); karena itu mereka sangat larut di dalam air dan mempunyai daya larut dalam lemak yang sangat rendah Semua hormon steroid dan hormon tiroid adalah lipofilik (menyukai lipid) dan hidrofobik (takut akan air); karena itu mereka mempunyai tingkat larut yang tinggi di dalam lemak dan sebaliknya, daya larutnya rendah di dalam air.

Onset dan Durasi Kerja Hormon ONSET Hormon yang bekerja melalui sistem second messenger untuk mengubah aktivitas enzim yang telah ada hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menjalankan efeknya secara penuh. Co. epinefrin dan norepinefrin, disekresikan dalam waktu beberapa detik setelah stimulasi, dan dapat segera melakukan fungsi kerjanya secara penuh dalam waktu beberapa detik sampai beberapa menit Hormon yang bekerja melalui pembentukkan protein baru, membutuhkan waktu lebih lama sampai beberapa jam, sebelum efeknya mulai dilangsungkan. Co. tiroksin atau growth hormon membutuhkan beberapa bulan untuk menimbulkan efeknya secara penuh.

DURASI KERJA Bila dibandingkan secara kontras dengan respons neural yang secara cepat dihentikan begitu signal pemicunya dihentikan pula, respons hormonal dapat tetap ada (persisten) untuk selama beberapa waktu setelah hormon tidak lagi berikatan dengan reseptornya. Efek hormon biasanya akan tetap ada selama beberapa waktu setelah withdrawal hormon itu sendiri. Respons yang tergantung pada sintesis protein berlangsung lebih lama daripada yang kerjanya melaui aktivasi enzim. Hormon lipofilik sendiri akan lebih lama kehadirannya sebelum di non-aktifkan bila dibandingkan dengan hormon hidrofilik.

Konsentrasi hormon yang dibutuhkan untuk mengontrol metabolik dan fungsi endokrin adalah sangat kecil, berkisar antara 1 picogram ( satu per sejuta per sejuta dari satu gram) dalam setiap mililiter darah sampai beberapa mikrogram (per juta dari satu gram) per mililiter darah. Laju sekresi dari hormon jugalah sangat kecil. Biasanya diukur dalam mikrogram atau miligram per hari. Kelenjar endokrin tidak mensekresikan hormonnya dalam laju yang konstan (tetap). Laju sekresi tersebut diatur oleh kombinasi beberapa mekanisme yang kompleks. Mekanisme umum dalam pengontrolan laju sekresi tersebut adalah : sistem umpan balik negatif, refleks neuroendokrin ,dan irama diurnal (sirkadian).

Transport Hormon di dalam darah Hormon yang larut dalam air (peptida dan katekolamin) larut di dalam plasma Hormon steroid bersirkulasi di dalam darah dengan terikat pada protein plasma. Biasanya kurang dari 10 persen berada dalam keadaan bebas tanpa terikat dengan protein plasma. Hormon katekolamin bersirkulasi sebagai hormon bebas dalam jumlah sekitar 50% ; sedangkan 50% yang lain terikat secara lemah pada protein plasma albumin. Karena hormon katekolamin larut di dalam air, kepentingan dan tujuan ikatan dengan protein plasma ini masih belum diketahui dengan jelas.

Enzim pencerna tidak dapat mengurai hormon steroid dan tiroid, sehinnga dapat dimasukkan ke dalam tubuh secara oral Insulin harus injeksi Metabolisme Hormon Hati merupakan tempat utama untuk me-non-aktifkan hormon metabolik, beberapa hormon juga dimetabolisme di ginjal, darah, atau sel target. Cara utama di dalam melakukan bersihan hormon dan metabolitnya dari dalam darah adalah melalui eksresi urin cara non-invasif untuk menilai fungsi endokrin, karena laju sekresi hormon dan metabolitnya di dalam urin merefleksikan laju sekresi oleh kelenjar endokrin.

Hormon peptida hidrofilik dan katekolamin hanya berada di dalam darah untuk waktu yang singkat (beberapa menit sampai beberapa jam), sebelum mulai di-non-aktifasikan Pada insulin, sel target-nya sendiri menghilangkan ikatan dengan hormon dengan cara endositosis dan mendegradasikan-nya intraselular. Ikatan hormon lipofilik dengan protein plasma membuat mereka bertahan lebih lama terhadap non-aktifasi hormonnya. Hormon lipofilik dapat tetap ada di dalam darah untuk beberapa jam (steroid) sampai mencapai waktu seminggu (hormon tiroid).

Klirens Hormon Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan konsentrasi hormon di dalam darah. Pertama adalah laju sekresi hormon ke dalam darah. Yang kedua adalah laju bersihan hormon dari dalam darah, yang disebut laju klirens metabolik (metabolic clearance rate). Biasanya diekspresikan sebagai jumlah mililiter plasma yang di bersih kan dari hormon per menit. Untuk menghitung laju klirens ini, harus dihitung (1) laju menghilangnya hormon dari plasma per menit, dan (2) konsentrasi dari hormon dalam setiap mililiter plasma. Laju Klirens Metabolik = Laju menghilangnya hormon dari dalam plasma / Konsentrasi hormon dalam setiap mililiter plasma

Hormon dibersihkan dari plasma dengan berbagai cara (1) destruksi metabolik oleh jaringan (2) ikatan dengan jaringan (3) eksresi oleh hati ke dalam cairan empedu (4) eksresi oleh ginjal ke dalam urin.

Reseptor Hormon Hormon dapat menuju ke semua sel, tetapi hanya berpengaruh pada sel yang mempunyai reseptor yang sesuai. Reseptor hormon adalah molekul protein atau glikoprotein yang mempunyai binding site untuk hormon yang spesifik Setiap target sel mempunyai 2.000 sampai 100.000 reseptor Semakin banyak reseptor yang terikat dengan hormon, semakin besar respons yang ditimbulkan.

Lokasi dari reseptor tiap tipe hormon adalah sebagai berikut : Di dalam atau di atas permukaan membran sel. Reseptor membran spesifik untuk sebagian besar hormon protein, peptida, dan hormon katekolamin. Di dalam sitoplasma sel. Reseptor untuk beberapa hormon steroid ditemukan sebagian besar pada sitoplasma. Di dalam nukleus sel. Reseptor untuk hormon steroid dan hormon tiroid ditemukan di dalam nukleus dan dipercaya berhubungan secara langsung dengan satu atau beberapa kromosom.

Perbedaan kerja antara hormon yang mempunyai reseptor di permukaan membran sel dan yang mempunyai reseptor di sitosol

Jumlah reseptor pada target sel biasanya tidak tetap konstan dari hari ke hari, atau bahkan dari menit ke menit. Down Regulation : penurunan jumlah reseptor aktif yang akan menurunkan responsifitas jaringan target terhadap hormon. Hal ini kemudian akan menurunkan sensitifitas (desensitisasi) sel target terhadap peningkatan konsentrasi hormon Up Regulation : pembentukkan lebih banyak molekul reseptor oleh target sel, melebihi keadaan normal, menyebabkan jaringan target menjadi lebih sensitif terhadap efek stimulasi hormon.

Mekanisme Kerja Hormon Tiga cara utama hormon melangsungkan respon biologi-nya :
Kelenjar Endokrin Hormon

Berikatan dengan reseptor SEL TARGET) Ikatan hormon dengan reseptornya memicu salah satu dari kejadian intraselular di bawah ini : 1. Mengubah permeabilitas saluran (channel) dengan bekerja pada protein pembentuk-saluran yang telah ada. Atau 2. Bekerja memalui sistem second messenger untuk mengubah aktivitas dari protein yang telah ada, Atau 3. Mengaktifkan gen spesifik menyebabkan pembentukan protein baru.

Respons Fisiologis

Hormon Lipofilik (Hormon Steroid dan Hormon Tiroid) Urutan Kerja Hormon Lipofilik Kelenjar hormon mensekresikan hormon lipofilik. Hormon lipofilik berdifusi melalui membran sel target. Hormon bergabung dengan molekul reseptor spesifik pada nukleus atau pada sitoplasma sel target. Kompleks hormon-reseptor berdifusi masuk atau ditransportasikan ke dalam nukleus. Kompleks hormon-reseptor berikatan pada daerah yang khusus dari DNA di kromosom (hormone response element / HRE), yang mengaktifkan proses transkripsi gen spesifik untuk membentuk RNA messenger. RNA messenger memasuki sitoplasma dan mengarahkan ribosom melaksanakan sintesis protein. Protein yang baru terbentuk memproduksi efek spesifik hormon.

Hormon Hidrofilik (Hormon Non Steroid) Urutan Kerja Hormon Nonsteroid Kelenjar hormon mensekresikan hormon nonsteroid. Cairan tubuh membawa hormon ke target sel. Hormon bergabung dengan situs reseptor pada membran dari sel target, mengaktifkan protein G. Molekul Adenylate cyclase diaktifkan di dalam mebran sel target. Adenylate cyclase mengubah ATP menjadi cyclic AMP. Cyclic AMP mengaktifkan protein kinases. Enzim enzim ini mengaktifkan substrat protein di dalam sel yang mengubah proses metabolik. Perubahan selular menimbulkan efek dari hormon. sistem second messenger yang lain : Fosfolipase C & Kalsium Kalmodulin

Kontrol terhadap Sekresi Hormon Sistem Umpan Balik Hypotalamus Pituitari Anterior Kelenjar Endokrin Sel Target Kerja Hormon Kelenjar Endokrin Sel Target Kerja Hormon

Sistem Saraf

Perubahan jumlah di dalam plasma

Kelenjar endokrin perifer Sel Target Kerja Hormon

Kontrol terhadap sistem endokrin terjadi dalam 3 jalur : (a) hipotalamus dan pituitari anterior, (b) sistem saraf secara langsung, dan (c) kelenjar yang merespon secara langsung terhadap perubahan di lingkungan internal. Penghambatan Negative Feedback dilambangkan dengan - .

1.

2.

3.

Hipotalamus mengatur pelepasan hormon tropik oleh kelenjar pituitari anterior, yang merupakan hormon penstimulasi kelenjar endokrin lain untuk melepaskan hormon. Hipotalamus secara teratur menerima informasi tentang lingkungan internal dari hubungan saraf dan cairan serebrospinal. Sistem saraf menstimulasi beberapa kelenjar secara langsung. Sebagai contoh, medulla adrenal mensekresikan hormonnya (epinefrin dan norepinefrin) sebagai respons terhadap impuls saraf preganglionik simpatik. Grup kelenjar endokrin yang lain merespons secara langsung terhadap perubahan dari lingkungan internal. Sebagai contoh, ketika kadar glukosa darah meningkat, pankreas mensekresikan insulin, dan ketika kadar glukosa darah turun, sebaliknya pankreas mensekresikan glukagon.

Udara dingin Hipotalamus TRH Adenohipofisis TSH Kelenjar Tiroid Tiroksin


Mekanisme umpan balik negatif pengaturan sekresi hormon tiroksin : menghambat : merangsang

umpan balik positif pengendalian sekresi hormon bersifat saling menguatkan. Terjadi ketika kerja biologis hormon di jaringan target membutuhkan tambahan sekresi dari hormon. Contoh sekresi Luteinizing Hormone (LH) yang terjadi sebagai akibat efek stimulasi estrogen ke kelenjar hipofisis anterior sebelum ovulasi. LH bekerja pada ovarium menstimulasi tambahan sekresi estrogen menyebabkan lebih banyak lagi sekresi LH. Ketika kadar konsentrasi LH mencapai tingkat yang cukup memadai kontrol umpan balik negatif akan terjadi.

Umpan Balik Positif Persalinan hormon oksitosin dihasilkan oleh hipotalamus merangsang kontraksi uterus merangsang serviks uteri untuk meregang. Regangan serviks uteri ini menimbulkan impuls yang merangsang hipotalamus untuk mensekresi oksitosin yang lebih banyak lagi. Demikian proses ini semakin kuat dan baru berhenti bila bayi sudah dilahirkan.

Refleks Neuroendokrin di dalamnya termasuk komponen saraf dan komponen endokrin. Tujuan menghasilkan peningkatan mendadak di dalam sekresi hormon sebagai respons terhadap stimulus spesifik. Contoh, sekresi epinefrin oleh medulla adrenal secara tunggal diatur oleh sistem saraf simpatik. Beberapa sistem kontrol endokrin yang lain, mengandung baik sistem umpan balik (mempertahankan jumlah basal yang konstan dari hormon) maupun refleks neuroendokrin (menyebabkan sekresi mendadak sebagai respons terhadap kebutuhan yang mendadak pula terhadap hormon). Contohnya adalah peningkatan sekresi hormon kortisol, hormon stress, oleh korteks adrenal sebagai respons terhadap stress.

Irama Diurnal (Sirkadian) irama diurnal (siang-malam ; day-night) irama sirkadian (dalam waktu/selama sehari ; around a day) Irama endokrin terkunci terhadap petunjuk dari luar tubuh, seperti siklus terang dan gelap. Puncak pasang dan surut dari siklus 24 jam sekresi hormon diatur sesuai dengan siklus terang dan gelap. Beberapa siklus endokrin ber-operasi pada skala waktu selain irama sirkadian, ontoh siklus menstruasi bulanan.

Hal-hal yang dapat menyebabkan kelainan endokrin terjadi


Aktivitas Hormon Terlalu Sedikit Kelenjar endokrin terlalu sedikit mensekresikan hormon (hiposekresi) * Peningkatan bersihan hormon dari darah Tingkat responsitifitas jaringan yang abnormal terhadap hormon Kekurangan reseptor sel target Kekurangan enzim yang esensial untuk respons sel target Aktivitas Hormon Terlalu Banyak Kelenjar endokrin terlalu banyak mensekresikan hormon (hipersekresi) * Penurunan jumlah protein plasma pengikat hormon (terlalu banyak hormon bebas yang aktif secara biologis) Penurunan bersihan hormon dari darah Penurunan non-aktifasi Penurunan eksresi

* penyebab terbanyak disfungsi endokrin

Hiposekresi (dapat primer atau sekunder) 1. genetik (kelainan sejak lahir dimana tidak adanya kehadiran enzim yang dibituhkan untuk mengkatalisa sintesis dari hormon) 2. diet (kekurangan yodium, yang dibutuhkan untuk sintesis hormon tiroid) 3. zat kimia atau zat toksik (beberapa residu insektisida dapat menghancurkan korteks adrenal) 4. imunologi (antibodi autoimun dapat menghancurkan jaringan tiroid tubuh sendiri) 5. proses penyakit lainnya (kanker atau tuberkulosis mungkin dapat menghancurkan kelenjar endokrin) 6. iatrogenik (operasi pengangkatan kelenjar tiroid yang terkena kanker) 7. idiopatik (mempunyai arti penyebabnya belum diketahui).

Hipersekresi dapat terjadi karena : 1. tumor yang mengabaikan sinyal masukan pengatur normal (normal regulating input) dan secara terusmenerus mensekresikan hormon secara berlebihan 2. faktor imunologi, seperti stimulasi berlebihan terhadap kelenjar tiroid oleh antibodi abnormal yang meyerupai kerja dari TSH, hormon tropik tiroid.

Permisifitas, Sinergisme, dan Antagonisme Hormon seringkali mempengaruhi reseptor dari hormon yang lain sebagai bagian dari aktivitas fisiologis normal-nya. Sebuah hormon dapat mempengaruhi aktivitas hormon yang lain pada sel targetnya melalui satu dari tiga jalur berikut ini : Permisifitas : suatu hormon harus ada dalam jumlah yang adekuat agar efek hormon lain dapat bekerja secara penuh. Hormon yang pertama meningkatkan responsitifitas sel target terhadap hormon lain. Contohnya, hormon tiroid meningkatkan jumlah reseptor untuk epinefrin pada sel target epinefrin, meningkatkan tingkat efektifitas dari epinefrin itu sendiri.

Sinergisme : kerja dari beberapa hormon saling melengkapi dan efek kombinasinya lebih besar dibandingkan dengan gabungan jumlah dari efek hormonhormon itu sendiri masing-masing secara terpisah. Contohnya adalah sinergisme kerja antara Folliclestimulating hormone (FSH) dengan testosteron, yang keduanya dibutuhkan untuk mempertahankan laju produksi normal dari sperma. Antagonisme : satu hormon menyebabkan hilangnya reseptor hormon yang lain, menurunkan efekitivitas hormon yang lain itu. Contohnya, progesteron (hormon yang disekresikan selama kehamilan yang menurunkan kontraksi uterus) menghambat responsitifitas uterus terhadap estrogen (hormon yang disekresikan selama kehamilan yang meningkatkan kontraksi uterus). Dengan menyebabkan hilangnya reseptor estrogen pada otot polos uterus, progesteron mencegah uterus untuk melangsungkan efeknya selama kehamilan ,sehingga menjaga uterus sebagai lingkungan yang tenang (tidak berkontraksi) yang cocok untuk perkembangan fetus.

Pengukuran Konsentrasi Hormon di dalam Darah Kebanyakan hormon berada di dalam darah dalam jumlah yang sangat kecil, dapat mencapai 1 picogram (satu per trilyun dari satu miligram) per mililiter darah. Radioimmunoasay Prinsip : I. diproduksi antibodi yang sangat spesifik terhadap hormon yang akan diukur. II. sejumlah kecil dari antibodi ini (1) dicampurkan dengan sejumlah cairan tubuh dari binatang yang mengandung hormon yang akan diukur, dan (2) dicampur secara bersamaan dengan sejumlah hormon standar yang telah dimurnikan, yang telah ditandai dengan isotop radioaktif.

Kondisi spesifik yang dipenuhi : harus ada jumlah antibodi yang sangat kecil yang berikatan seluruhnya dengan keduanya, hormon yang telah ditandai dengan radioaktif dan hormon standar di dalam cairan tubuh yang akan diukur. Hormon alami dan hormon ter-radioaktif akan berkompetisi menuju binding site (tempat lekat) dari antibodi. Dalam kompetisi tersebut, kedua hormon yang berikatan dengan reseptor, alami dan yang ter-radioaktif, proporsional dengan konsentrasinya di dalam cairan yang akan diukur.

III.

setelah pengikatan drengan reseptor mencapai keadaan seimbang, kompleks antibodi hormon dipisahkan dari sisa cairan solusio, jumlah dari hormon ter-radioaktif yang terikat dengan kompleks ini diukur dengan teknik penghitungan radioaktif. Jika sejumlah besar hormon ter-radioaktif berikatan dengan antibodi, jelaslah bahwa hanya ada sejumlah kecil dari hormon alami yang berkompetisi dengan hormon ter-radioaktif, dan karena itu jumlah hormon alami di dalam cairan tubuh yang diukur adalah kecil. Sebaliknya, jika hanya sejumlah kecil hormon terradioaktif yang terikat dengan antibodi, maka terdapat jumlah yang besar dari hormon alami.

IV.

Untuk membuat penghitungan menjadi sangat kuantitatif, prosedur radioimmunoassay juga dilakukan pada cairan solusio standar mengandung hormon yang belum ditandai dengan radioaktif pada beberapa tingkat konsentrasi. Kemudian sebuah kurva standar dibuat. Tingkat kesalahan 10 sampai 15 persen.

Penggunaan hormon untuk meningkatkan kemampuan atlet. Growth Hormone (HGH) memperbesar massa otot Steroid menguatkan otot Eritropoetin meningkatkan jumlah eritrosit meningkatkan pengiriman oksigen ke otot meningkatkan ketahanan 1987 menyebabkan serangan jantung dan kematian pada lebih dari dua lusin atlet balap sepeda Belanda