Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

TAHAN NAPAS, TEKANAN PERNAPASAN DAN


PERNAPASAN PADA ORANG

Kelompok A-16
Abbiya Farah Putri
Airindiya Bella
Betari Texania Harsa
Cita Pratiwi
Devinta Dhia Widyani
Dyah Arum Maharani
Eli Susanti
Fahrul Rozy
Fathonah Fatimatuzahra Said
Gilang Anugrah

(1102013003)
(1102013016)
(1102013058)
(1102013065)
(1102013077)
(1102012072)
(1102013095)
(1102013103)
(1102013108)
(1102012097)

Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI
2015
TAHANAN NAPAS, TEKANAN PERNAPASAN
TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasisiwa harus dapat :

1. Menetapkan tercapainya breaking point seseorang pada waktu menahan napas pada
berbagai kondisi pernapasan.
2. Menerangkan perbedan lamanya menahan napas pada kondisi pernapasan yang
berbeda-beda.
3. Mengukur tekanan pernapsan dengan manometer air raksa dan manometer air.
DASAR TEORI
Respirasi melibatkan keseluruhan proses yang menyebabkan pergerakan pasif O2 dari
atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel serta pergerakan pasif CO2
selanjutnya yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Sistem
pernapasan ikut berperan dalam homeostasis dengan mempertukarkan O2 dan CO2 antara
atmosfer dan darah. Darah mengangkut O2 dan CO2 antara sistem pernapasan dan jaringan.
Fungsi utama pernapasan adalah untuk memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel
tubuh dan mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh sel. Respirasi ada dua, yaitu:
Respirasi internal atau seluler, mengacu kepada proses metabolisme intrasel yang
berlangsung di dalam mitokondria, yang menggunakan O2 dan mengahsilkan CO2 selama
penyerapan energi dari molekul nutrient. Respirasi eksternal, mengacu kepada keseluruhan
rangkaian kejadian yang terlihat dalam pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal
dan
sel
tubuh.
Empat proses yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner :
1

Ventilasi pulmoner, gerakan pernapasan yang menukar udara dalam alveoli dengan
udara luar.
2 Arus darah melalui paru-paru, darah mengandung O2 masuk ke seluruh tubuh, CO2
dari seluruh tubuh masuk ke paru-paru.
3 Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah yang tepat yang
bisa dicapai untuk semua bagian.
4 Difusi gas yang menembus membrane alveoli berdifusi daripada O2. Proses
pertukaran O2 dan CO2, konsentrasi dalam darah mempengaruhi dan merangsang
pusat pernapasan terdapat dalam otak untuk memperbesar kecepatan dalam
pernapasan sehingga terjadi pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 lebih banyak.
Mekanika Pernapasan
Udara cenderung bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah yaitu
menuruni gradien tekanan.Terdapat 3 tekanan berbeda yang penting pada ventilasi :
1 Tekanan atmosfer (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara
diatmosfer terhadap benda-benda dipermukaan bumi.
2 Tekanan intraalveolus (tekanan intrapulmonalis) adalah tekanan di dalam alveolus.
3 Tekanan intrapleura (tekanan intratoraks) adalah tekanan ini di dalam kantong pleura
dan tekanan yang terjadi di luar paru di dalam rongga toraks.

Perubahan tekanan intraalveolus dan intrapleura selama Siklus Pernapasan


Selama inspirasi, tekanan intraalveolus lebih kecil daripada tekanan atmosfer
Selama ekspirasi, tekanan intraalveolus lebih besar daripada tekanan atmosfer
Pada akhir inspirasi dan ekspirasi, tekanan intraalveolus setara dengan tekanan
atmosfer, karena alveolus berkontak langsung dengan atmosfer dan udara terus
mengalir mengikuti penurunan gradien tekanan sampai kedua tekanan seimbang.
Selama siklus pernapasan, tekanan intrapleura lebih rendah dari tekanan intraalveolus.
Dengan demiikian gradien tekanan transmural selalu ada, dan paru sedikit banyak
selalu teregang bahkan selama ekspirasi.
Berbagai keadaan pernapasan ditandai oleh kelainan gas darah.
Hipoksia mengacu kepada insufisiensi O2 di tingkat sel. Terdapat 4 kategori hipoksia:
1 Hipoksia hipoksik ditandai oleh rendahnya Po2 darah arteri disertai dengan kurangnya
saturasi Hb.
2 Hipoksia anemik mengacu kepada penurunan kapasitas darah mengangkut O2.
3 Hipoksia sirkulasi muncul jika darah beroksigen yang sampai ke jaringan sangat
sedikit.
4 Hipoksia histotoksik, penyaluran O2 ke jaringan normal, tetapi sel-sel tidak mampu
menggunakan O2 yang tersedia untuk mereka.
Hiperoksia, Po2 di atas normal, tidak dapat terjadi apabila sesorang menghirup udara
atmosfer di ketinggian permukaan laut.
Hiperkapnia mengacu kepada kelebihan CO2 dalam darah arteri; hal ini disebabkan oleh
hipoventilasi (ventilasi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik untuk
penyaluran O2 dan pembuangan CO2).
Hipokapnia, Pco2 arteri di bawah normal, ditimbulkan oleh hiperventilasi. Hiperventilasi
terjadi apabila seorang bernapas berlebihan, yaitu pada saat kecepatan ventilasi melebihi
kebutuhan metabolik tubuh untuk pengeluaran CO2, sehingga lebih banyak CO2 yang
dikeluarkan ke atmosfer dibandingkan dengan yang diproduksi di jaringan dan Pco2 arteri
turun. Po2 alveolus meningkat selama hiperventilasi karena lebih banyak O2 segar yang
sampai ke alveolus dari atmosfer daripada yang diekstraksi dari alveolus oleh darah untuk
dikonsumsi jaringan dan dengan demikian Po2 arteri meningkat.

Ventilasi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak berkaitan dengan kebutuhan
pasokan O2 atau pengeluaran CO2
Kecepatan dan kedalaman bernapas dapat dimodifikasi oleh sebab-sebab di luar kebutuhan
akan pasokan O2 atau pengeluaran CO2. Refleks refleks protektif, misalnya bersin dan batuk,
secara temporer mengatur aktivitas pernapasan sebagai usaha untuk mengeluarkan bahan
bahan iritan dari saluran pernapasan. Inhalasi bahan iritan tertentu sering memicu
penghentian ventilasi. Nyeri yang berasal dari bagian lain tubuh secara refleks merangsang
pusat pernapasan (sebagai contoh: seseorang megap-megap jika merasa nyeri). Modifikasi
bernapas secara involuter juga terjadi selama ekspresi berbagai keadaan emosional, misalnya
tertawa, menangis, bernapas panjang dan mengerang. Modifikasi yang dicetuskan oleh emosi
ini diperantai oleh hubungan hubungan antara sistem limbik otak (yang bertanggung jawab
untuk emosi) dan pusat pernapasan. Selain itu, pusat pernapasan secara refleks dihambat
selama proses menelan, pada saat saluran pernapasan ditutup untuk mencegah makanan
masuk ke paru.
Manusia juga memiliki kontrol volunter yang cukup besar terhadap ventilasi. Kontrol
bernapas secara volunter dilakukan oleh korteks serebrum, yang tidak bekerja pada pusat
pernapasan di otak, tetapi melalui impuls yang dikirim secara langsung ke neuron neuron
motorik di korda spinalis yang mempersarafi otot pernapasan. Kita dapat secara sengaja
melakukan hiperventilasi (bernapas berlebihan) atau pada keadaan ekstrim yang lain,
menahan napas kita, tetapi hanya untuk jangka waktu yang singkat. Perubahan perubahan
kimiawi yang kemudian terjadi di daerah arteri secara langsung dan secara refleks
mempengaruhi pusat pernapasan, yang kemudian mengalahkan masukan volunter ke neuron
motorik otot pernapasan. Selain bentuk-bentuk ekstrim pengontrolan pernapasan tadi, kita
juga mengontrol pernapasan untuk melakukan berbagai tindakan volunter; misalnya
berbicara, bernyanyi, dan bersiul.

Kontrol pernapasan
Ventilasi melibatkan dua aspek berbeda, yang keduanya dapat dipengaruhi oleh kontrol
saraf :
1
2

Siklus ritmis antara inspirasi dan ekspirasi


Pengaturan besarnya ventilasi

Yang pada gilirannya bergantung pada kontrol frekuensi bernapas dan kedalaman tidal
volume. Irama bernapas terutama ditentukan oleh aktivitas pemacu yang diperlihatkan oleh
neuron-neuron inspirasi yang teletak di pusat kontrol pernapasan di medula batang otak.
Sewaktu neuron-neuron inspirasi ini melepaskan muatan secara spontan, impuls akhirnya
mencapai otot-otot inspirasi, sehingga terjadi inspirasi. Apabila neuron inspirasi berhenti
melepaskan muatan, otot inspirasi melemas dan terjadi ekspirasi. Apabila ekspirasi aktif akan
terjadi, oto-otot ekspirasi diaktifkan oleh keluaran dari neuron-neuron ekspirasi di medula.
Irama dasar ini diperhalus oleh keseimbangan aktivitas di pusat apnustik dan pneumotaksik
yang terletak lebih tinggi di batang otak di pons. Pusat apnustik memperpanjang inspirasi,
sementara pusat pneumotaksik yang lebih kuat membatasi inspirasi.
Tiga faktor kimi berperan dalam penentuan besarnya ventilasi. P CO2,PO2, dan konsentrasi H+
darah arteri. Faktor dominan dalam pengaturan ventilasi dari terus menerus ( menit-ke-menit)
adalah PCO2 arteri. Peningkatan PCO2 arteri merupakan stimulus kimiawi terkuat yang
merangsang ventilasi. Perubahan PCO2 arteri mengubah ventilasi terutama dengan
menimbulkan perubahan setara pada konsentrasi H+ CES otak, yang sangat peka di
kemoreseptor sentral. Kemoreseptor perifer responsif terhadap peningkatan konsentrasi H +
arteri, yang juga secara refleks meningkatkan ventilasi. Penyesuaian kadar CO2 penghasil
asam dalam darah arteri penting untuk mempertahankan kesimbangan asam-basa tubuh.
Kemoreseptor perifer juga secara refleks merangsang pusat pernapasan sebagai respons
terhadap penurunan mencolok PO2 arteri (< 60 mmHg ). Respons ini berfungsi sebagai
mekanisme darurat untuk meningkatkan respirasi apabila kadar PO2 arteri turun di bawah
rentang aman berdasarkan bagian datar kurva O2-Hb.
Pengaturan Tahan Napas
Pernafasan dapat sengaja dihambat untuk beberapa saat, titik saat pernafasan tidak dapat
dihambat lagi secara volunteer disebut titik lepas. Lepasnya kendali volunteer ini disebabkan
oleh peningkatan Pco2 dan penurunan Po2 darah arteri. Setelah glomus karotikus seseorang
diangkat maka kemampuan menahan napas akan lebih lama.bernafas dengan 100% oksigen
sebelum menahan napas akan menaikkan Po2 alveolus awal sehingga titik lepas dapat
ditunda. Hal yang serupa timbul bila kita melakukan hiperventilasi dengan udara biasa karena
co2 dihembuskan keluar dan Pco2 darah arteri pada awalnya akan diturunkan. Reflex atau
factor mekanik agak mempengaruhi titik lepas karena pada subjek yang menahan nafas
selama mungkin kemudian bernafas dengan campuran udara berkadar o2 rendah dan co2
tinggi, masih dapat menahan nafas kembali selama 20 detik atau lebih. Factor psikologis juga
memegang peranan, dan subjek dapat menahan nafasnya lebih lama bila usahanya diberikan
pujian dibandingkan bila subjek tersebut tidak diberikan pujian.

ALAT
1. Stopwatch
2. Beberapa kantong plastik :
3.
4.
5.
6.

- yang kosong
- yang berisi O2
- yang berisi CO2
Sfigmomanometer dan stetoskop
Alat analisis gas Fyrite : untuk CO2
Manometer air raksa dan botol perangkap
Manometer air

TATA KERJA

1 TAHAN NAPAS
Tetapkanlah lamanya op dapat menehan napas (dalam detik) dengan cara menghentikan
pernapasan dan menutup mulut dan hidungnya sendiri sehingga tercapai breaking point pada
berbagai kondisi pernapasan seperti tercantum dalam daftar dibawah ini (berilah istirahat 5
menit antara 2 percobaan).
1. Pada akhir inspirasi biasa
P-IV.1.1 Apa yang dimaksud dengan breaking point ?
Jawaban:
Saat dimana seseorang sudah tidak mampu lagi untuk menahan
napasnya.
P-IV.1.2 Faktor-faktor apa yang menyebabakan terjadinya breaking point ?
Jawaban:
Peningkatan PCO2 dan penurunan Po2
2. Pada akhir ekspirasi biasa
3. Pada akhir inspirasi tunggal kuat
4. Pada akhir ekspirasi tunggal kuat
5. Pada akhir inspirasi tunggal kuat setelah op bernapas cepat dan dalam selama 1 menit.
6. Pada akhir inspirasi tunggal kuat dari kantong plastic yang berisi O2
7. Pada akhir inspirasi tunggal kuat setelah op bernapas cepat dan dalam selama 3 menit
dengan 3 kali pernapasan yang terakhir dari kantong plastic berisi O2
8. Pada akhir inspirasi yang kuat dari kanton plastic berisi CO2 10%
9. Pada akhir inspirasi tunggal kuat segera sesudah berlari ditempat selama 2 menit
10. Setelah breaking point pada percobaan no.9 tercapai, biarkanlah op bernapas lagi
selama 40 detik, kemudian tentukanlah berkali-kali menahan napas sesudah inspirasi
tunggal kuat dengan diselingi bernapas selama 40 detik sampai op bernapas lagi
dengan tenang seperti sebelum berlari.
P-IV.1.3 Bagaimana perubahan Po2 dan PCO2 dalam udara alveoli dan darah pada waktu
kerja otot dan dalam keadaan hiperventilasi ?
Jawaban:
Perubahan Po2 dan PCO2 dalam udara alveoli dan darah :
a. Dalam keadaan hiperventilasi
Pada keadaan ini lebih banyak CO2 yang dikeluarkan ke atmosfir
dibandingkan dengan yang diproduksi di jaringan dan PCO2 arteri dan alveolus
menurun. Po2 alveolus meningkat selama keadaan hiperventilasi karena lebih
banyak O2 segar yang sampai ke alveolus dari atmosfer daripada yang
diekstraksi dari alveolus oleh darah untuk konsumsi jaringan, dengan

demikian Po2 arteri meningkat. Kandungan O2 di darah pada dasarnya tidak


berubah selama hiperventilasi.
b. Dalam keadaan kerja otot
Penggunaan O2 jaringan meningkat, Po2 darah sedikit naik disebabkan oleh
peningkatan ventilasi alveolus yang dapat mengimbangi kebutuhan O2.
Sedangkan pembentukan CO2 di jaringan meningkat, PCO2 darah menurun
karena peningkatan ventilasi dapat mengeluarkan CO2 lebih cepat dari
pembentukannya.
HASIL PRAKTIKUM
O.P : Fathonah Fatimatu Zahra Said (19th)
N
O
1
2
3

Pada akhir inspirasi biasa


Pada akhir ekspirasi biasa
Pada akhir inspirasi tunggal yang kuat

57 detik
46 detik
1 menit 10 detik

Pada akhir ekspirasi tunggal yang kuat

1 menit

PERLAKUAN

Pada akhir inspirasi tunggal yang kuat setelah bernapas


dalam & cepat selamat 1 menit
Pada akhir inspirasi tunggal yang kuat dari kantong
6
plastik berisi O2
Pada akhir inspirasi tunggal setelah bernapas dalam &
7 cepat selama 3 menit dengan 3 kali pernapasan yang
terakhir dari kantong plastik berisi O2
Pada akhir inspirasi yang kuat dari kantong plastik
8
berisi CO2 10%
Pada akhir inspirasi tunggal yang kuat segera setelah
9
berlari di tempat selama 2 menit
KESIMPULAN
5

1
2

WAKTU

49 detik
58 detik
1 menit
21 detik
15 detik

Breaking point dapat terjadi akibat PCO2 meningkat sehingga merangsang pusat
respirasi.
Ketika berolahraga, otot memerlukan O2 ynag adekuat dan menghasilkan CO2
sehingga tidak dapat menahan napas yang lama.
.

2. TEKANAN PERNAFASAN
DASAR TEORI
Respirasi dalam pengertian sebenarnya adalah pertukaran gas, dimana O 2
yang dibutuhkan untuk metabolisme sel masuk ke dalam tubuh dan CO 2
yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui

paru. Agar terjadi pertukaran sejumlah gas untuk metabolisme tubuh


diperlukan usaha kerja pernapasan.
Pengendalian dan pengaturan pernapasan dilakukan oleh sistem
persyarafan, mekanisme kimia, dan mekanisme non kimia. Sistem syaraf
secara normal mengatur kecepatan ventilasi alveolus hampir sama
dengan permintaan tubuh, sehingga tekanan O2 darah arteri (PO2) dan
tekanan CO2 (PCO2) hampir tidak berubah bahkan selama latihan sedang
sampai berat dan kebanyakan stress pernapasan lainnya
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari
pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan
energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen
dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.
Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1. Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara
darah dan udara.
2. Respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran
darah ke sel-sel tubuh.
Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas ke udara
dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu :
1. Respirasi / Pernapasan Dada
- Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut
- Tulang rusuk terangkat ke atas
- Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam
dada kecil sehingga udara masukke dalam badan.
2. Respirasi / Pernapasan Perut
- Otot difragma pada perut mengalami kontraksi
- Diafragma datar
- Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan tekanan udara
pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke paru-paru.
Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari. Dalam
keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O 2 yang diperlukan pun
menjadi berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kalilipat. Ketika
oksigen tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen
yang banyaknya akan disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara.
Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg
dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya
hanya 40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita
hasilkan dalam tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc di mana setiap liter

darah mampu melarutkan 4,3 cc karbondioksida / CO 2. CO2 yang


dihasilkan akan keluar dari jaringan menuju paru-paru dengan bantuan
darah.
Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia :
1. Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3 ---> H2 + CO2
2. Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2
3. Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 ---> Hb + O2
4. Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O ---> H2 + CO2
TATA KERJA
A. Pengukuran tekanan pernafasan normal
1. Suruh OP bernafas biasa selama 1-2 menit
2. Dengan tetap bernafas melalui hidung, hubungkan pipa
kacamanometer air dengan mulut OP sehingga permukaan air
dalam manometer naik turun mengikuti ekspirasi dan inspirasi
3. Catatlah besar tekanan inspirasi dan ekspirasi normal OP
B. Tekanan pernafasan maksimal
1. Hubungkan pipa kaca manometer air raksa dengan mulut OP
melalui botol perangkap.
2. Suruhlah OP melakukan inspirasi dan ekspirasi sekuat-kuatnya
beberapa kali sambil menutup hidung. Permukaan air raksa
dalam manometer akan naik turun mengikuti inspirasi dan
ekspirasi. Catatlah besar tekanan inspirasi dan ekspirasi
maksimal OP.
P IV.1.4. Apakah fungsi botol perangkap pada percobaan ini?
Untuk menjaga OP agar air raksa tidak tertelan pada saat
inspirasi kuat.

HASIL PRAKTIKUM
O.P

: Fahrul Rozy (18th)

Perlakuan
Bernapas Biasa /
normal (manometer
air)
Bernapas Maksimal
(manometer air
raksa)

Inspirasi
30 mmHg

Ekspirasi
20 mmHg

9 mmHg

8 mmHg

KESIMPULAN
Kesimpulan hasil yang diperoleh dari O.P adalah tekanan inspiras lebih besar
dibandingkan dengan tekanan ekspirasi sama dengan normal.
.

3. PERNAPASAN PADA ORANG


TUJUAN
Dalam latihan ini akan dipelajari :
1.
2.
3.
4.

Kapasitas vital fungsional


Kapasitas vital
Kapasitas residu fungsional
Kurva Flow Volume

DASAR TEORI

Pada orang normal volume udara dalam paru bergantung pada bentuk dan
ukurantubuh. Posisi tubuh juga mempengaruhi volume dan kapasitas paru, biasanya
menurunbila berbaring, dan meningkat bila berdiri. Sedangkan faktor utama yang
mempengaruhi kapasitas vital adalah bentuk anatomi tubuh, posisi selama pengukuran
kapasitas vital, kekuatan otot pernapasan dan pengembanganparu dan rangka dada
(Compliance paru).
Volume dan kapasitas volume dipengaruhi oleh anatomi tubuh, usia, tinggi badan ,
posisi tubuh ,daya regang paru, ada/tidaknya penyakit paru.
Volume paru meliputi :
o Volume tidal : volume udara yang masuk dan keluar selama 1 kali bernafas,
nilai pada saat istirahat rata-rata 500ml.
o Volume cadangan inspirasi : volume tambahan yang dapat secara maksimal
dihirup melebihi volume tidal istirahat. Nilai rata-ratanya 3000ml.

o Kapasitas inspirasi : volume maksimal udara yang dapat dihirup pada akhir
ekspirasi normal. Nilai rata-ratanya 3500ml.
o Volume cadangan ekspirasi : volume udara tambahan yang dikeluarkan secara
aktif oleh kontraksi maksimum melebihi udara yang dikeluarkan secara pasif
pada akhir volume tidal biasa. Nilai rata-ratanya 1000ml.
o Volume residual : volume minimum udara yang tersisa di paru bahkan setelah
ekspirasi maksimum. Nilai rata-ratanya adalah 1200ml.
Kapasitas paru meliputi :
o Kapasitas residual fungsional : volume udara di paru pada akhir ekspirasi pasif
normal. Nilai rata-ratanya 2200ml.
o Kapasitas vital : volume maksimal udara yang dapat dikeluarkan pada saat
satu kali bernafas setelah inspirasi minimum. Nilai rata-ratanya 4500ml.
o Kapasitas paru total : volume udara maksimal yang dapat ditampung oleh
paru. Nilai rata-ratanya 5700ml.
o Volume ekspirasi paksa dalam satu detik : volume udara yang dapat di
ekspirasi selama 1 detik pertama ekspirasi pada penentuan kapasitas vital.
Ventilasi pulmonal adalah jumlah volume tidal dikalikan dengan frekuensi pernafasan. Nilai
rata-ratanya adalah 6000ml. Pada saat meningkatkan ventilasi paru lebih baik yang
ditingkatkan adalah volume tidalnya. Ini disebabkan karena adanya ruang mati anatomik
yang volumenya rata-rata 150ml. Sedangkan ventilasi alveolus adalah tidal volume dikurangi
dengan volume ruang mati dikalikan dengan frekuensi pernafasan.

Spirometer digunakan untuk mempelajari ventilasi paru dengan mencatat volume


udara yang masuk dan keluar paru-paru.
Pada waktu istirahat, spirogram menunjukkan volume udara paru-paru 500 ml.
Keadaan ini disebut tidal volume. Seorang yang bernapas dalam keadaan baik
inspirasi maupun ekspirasi, kedua keadaan yang ekstrim ini disebut vital capacity.
Paru-paru tidak pernah kosong. Untuk membuktikan adanya residual volume,
penderita disuruh bernafas dengan mencampuri udara dengan helium, kemudian
dilakukan pengukuran fraksi helium pada waktu ekspirasi. Di klinik biasanya
dipergunakan spirometer. Penderita disuruh bernafas dalam satu menit yang
disebut respiratory minute volume. Maksimum volume udara yang dapat dihirup
selama 15 menit disebut maximum voluntary ventilation. Maksimum ekspirasi setelah
maksimum inspirasi sangat berguna untuk mengetes penderita emphysema dan
penyakit obstruksi jalan pernafasan. Penderita normal dapat mengeluarkan udara kirakira 70% dari vital capacity dalam 0.5 detik.; 85% dalam satu detik; 94% dalam 2
detik; 97% dalam 3 detik. Normal peak flow rate 350-500 liter/menit.

ALAT
Autospirometer AS 500 lengkap dengan peralatannya yang terdiri dari autospirometer AS
500, mouth piece, tranducer.

TATA KERJA
Mula- mula dicatat data mengenai o.p. yaitu jenis kelamin, umur, tinggi badan yang
kemudian dimasukan kedalam alat. Setelah alat-alat siap dihubungkan dengan listrik.
1. Pemeriksaan kapasitas vital fungsional.
Tekan FVC, stelah itu tekan star/stop, lalu dilihat pesan yang tertulis di LCD dan
dikerjakan :
- Ekspirasi maksimal
- Inspirasi maksimal
- Ekspirasi paksa
- Bernapas biasa
2. Pemeriksaan kapasitas vital :
Tekan VC/MVV, kemudian tekan star/stop. Lalu baca pesan yang tertulis di LCD.
Kemudian dilihat hasilnya di LCD.
3. Pemeriksaan kapasitas residu fungsional :
Seperti diatas, tetapi dilakukan pernapasan tenang selama 3 kali, kemudian ekspirasi
komplit, bila tidak stabil tidak terdapat pesan di LCD, tetapi bila stabil terdapat pesan
dan dilakukan pernapasan dangkal, ekspirasi komplit kemudian inspirasi penuh, dan
lihat hasilnya di LCD.
4. Pemeriksaan kapasitas pernapasan maksimal :
Tekan VC/MVV lalu tekan star/stop, perhatikan pesan pada LCD, bernapas biasa dan
cepat selama 12 detik.

5. Pemeriksaan kurve flow volume


Tekan FVC, lalu star dan stop ditekan, dan lihat pesan di LCD yaitu napas
semaksimal mungkin diluar alat kemudian ekspirasi secepat-cepatnya dan sedalamdalamnya kedalam mouth piece yang dihubungkan dengan transducer. Dan setelah itu
dilihat hasilnya dan bila perlu direkam.
HASIL PRAKTIKUM
O.P 1

: Fahrul Rozy

Umur

: 18th

Jenis kelamin : Laki-laki


Berat

: 70kg

Tinggi

: 173cm

KAPASITAS VITAL
Prediction
: 5,40
Actual
: 3,68
KAPASITAS FUNGSIONAL
Prediction
: 5,16
Actual
: 4,14

: 60-80%

Pred. Europe : 68% (Normal)


N
: 75-80%
Pred. Europe : 80% (Normal)

KESIMPULAN
Kesimpulan hasil yang diperoleh dari alat autospirometer menunjukkan bahwa kapasitas vital
dan kapasitas vital fungsional pada O.P normal karena hasil sama dengan nilai prediksi.

LAMPIRAN I

LAMPIRAN II