Anda di halaman 1dari 524

Siswoyo

Teknik Listrik
INDUSTRI
untuk
Sekolah Menengah Kejuruan
S
i
s
w
o
y
o

T
E
K
N
I
K

L
I
S
T
R
I
K

I
N
D
U
S
T
R
I

u
n
t
u
k

S
M
K
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00
ISBN XXX-XXX-XXX-X
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu-
nakan dalam Proses Pembelajaran.


















































Siswoyo
TEKNIK LISTRIK
INDUSTRI
Untuk SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional


Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang






TEKNIK LISTRIK
INDUSTRI
Untuk SMK


Penulis : Siswoyo
Ilustrasi, Tata Letak :
Perancang Kulit :




Ukuran Buku :


















Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008





i

KATA SAMBUTAN


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,
kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.



Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
i
PENGANTAR
Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan
bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya
manusia yang unggul. Keunggulan SDM hanya dapat diraih melalui
pendidikan. Pemerintah melalui UU Sisdiknas No 20/ 2003, jenjang
pendidikan menengah kejuruan termasuk program vokasional yang
mendapatkan perhatian.
Buku Teknik Listrik Industri ini disusun berdasarkan profil standar kompetensi
dan kompetensi dasar untuk bidang Teknik Listrik Industri. Dengan
pemahaman yang dimiliki, diharapkan dapat menyokong profesionalitas kerja
para lulusan yang akan memasuki dunia kerja. Bagi para guru SMK, buku ini
dapat digunakan sebagai salah satu referensi sehingga dapat membantu
dalam mengembangkan materi pembelajaran yang aktual dan tepat guna.
Buku ini juga bisa digunakan para alumni SMK untuk memperluas
pemahamannya di bidang pemanfaatan tenaga listrik terkait dengan bidang
kerjanya masing-masing.
Buku ini dibagi menjadi lima belas bab, yaitu: (1) Pengetahuan Listrik dasar
(2) Kemagnetan dan elektromagnetis (3) Dasar Listrik arus bolak-balik (4)
Transformator (5) Motor Listrik arus bolak balik (6) Mesin arus searah (7)
Pengendalian motor listrik (8)Alat ukur dan pengukuran listrik (9) Elektronika
dasar (10) Elektronika daya (11) Sistem pengamanan bahaya listrik (12)
Teknik pengaturan otomatis (13) Generator sinkron (14) Distribusi tenaga
listrik (15) Pembangkit listrik Mikrohidro.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pembinaan SMK,
Kasubdit Pembelajaran, beserta staf atas kepercayaan dan kerjasamanya
dalam penulisan buku ini. Kritik dari pembaca dan kalangan praktisi akan
kami perhatikan.
Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak pihak dan menjadi bagian amal
jariah bagi para penulis dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses
penyusunan buku ini.
Amin
Bandung, Desember 2007
Penulis
DAFTAR GAMBAR
viii
DAFTAR GAMBAR
Bab 1. Pengetahuan Listrik Dasar
1.1 Sifat muatan listrik ............................................................................ 1-2
1.2 Fenomena elektrostatis .................................................................... 1-2
1.3 Batang plastik yang bermuatan sama saling tolak menolak ............ 1-2
1.4 Batang kaca dan batang plastik yang berbeda muatannya saling
tarik menarik ..................................................................................... 1-2
1.5 Generator elektrostatis Van de Graff .............................................. 1-3
1.6 Model visual tegangan ..................................................................... 1-4
1.7 Sumber tegangan DC Power suply .................................................. 1-5
1.8 Simbol dan fisik Voltmeter ............................................................... 1-6
1.9a Mengukur tegangan ......................................................................... 1-6
1.9b Voltmeter diujung-ujung beban ........................................................ 1-7
1.10 Arus listrik mengalir ke beban .......................................................... 1-7
1.11 Atom terdiri atas proton dan elektron ............................................... 1-8
1.12 Aliran listrik merupakan aliran elektron ............................................ 1-8
1.13 Ampermeter ..................................................................................... 1-9
1.14 Mengukur arus dengan Ampermeter ............................................... 1-9
1.15 Kerapatan arus pada penghantar .................................................... 1-9
1.16 Kurva rapat arus fungsi luas penampang ........................................ 1-10
1.17 Kumpulan atom membentuk material .............................................. 1-11
1.18 Kurva konduktansi fungsi tahanan R ............................................... 1-11
1.19 Rangkaian hukum Ohm ................................................................... 1-12
1.20a Kurva arus fungsi tegangan ............................................................. 1-12
1.20b Kurva arus fungsi tahanan ............................................................... 1-13
1.22 Seri Resistor dengan sumber DC .................................................... 1-16
1.23 Paralel beban dengan sumber DC ................................................... 1-17
1.24 Aplikasi hukum Kirchhoff tegangan .................................................. 1-18
1.25 Rangkaian pembagi tegangan ......................................................... 1-19
1.26 Hukum Kirchoff-arus ........................................................................ 1-19
1.27 Pengukuran tahanan nilai R kecil ..................................................... 1-21
1.28 Pengukuran tahanan nilai R besar ................................................... 1-21
1.29 Pengukuran tahanan dalam baterai ................................................. 1-21
1.30 Karakteristik tegangan fungsi arus ................................................... 1-22
1.31 Karakteristik daya fungsi arus .......................................................... 1-22
1.32 Rangkaian ekivalen sumber tegangan ............................................. 1-23
1.33 Rangkaian ekivalen sumber arus ..................................................... 1-23
1.34 Karakteristik daya terhadap perubahan tahanan ............................. 1-23
1.35 Rangkaian tahanan a) sebenarnya b) disederhanankan c) hasil
akhir ................................................................................................. 1-24
1.36 Rangkaian Tahanan disederhanakan .............................................. 1-26
1.37 Hubungan Segitiga dan hub bintang ................................................ 1-27
1-38 Baterai terhubung seri dengan Beban Ra ........................................ 1-29
DAFTAR GAMBAR
ix
Bab 2. Kemagnetan dan Elektromagnetis
2.1 Sifat magnet saling tarik menarik, tolak-menolak ............................ 2-2
2.2 Kutub utara-selatan magnet permanet ............................................. 2-2
2.3 Daerah netral pada magnet permanet .............................................. 2-2
2.4 Perbedaan besi biasa dan magnet permanen .................................. 2-3
2.5 Pola garis medan magnet permanen ............................................... 2-3
2.6 Garis medan magnet utara-selatan ................................................. 2-3
2.7 Pola garis medan magnet tolak menolak dan tarik menarik ............. 2-4
2.8 Garis gaya magnet pada permukaan rata dan silinder ..................... 2-4
2.9 Prinsip elektromagnetik .................................................................... 2-4
2.10 Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus ............ 2-5
2.11 Prinsip putaran sekrup ...................................................................... 2-5
2.12 Elektromagnetik sekeliling kawat ...................................................... 2-5
2.13 Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet ...................... 2-6
2.14 Belitan kawat membentuk kutub magnet .......................................... 2-6
2.15 Hukum tangan kanan ....................................................................... 2-6
2.16 Belitan kawat berinti udara ............................................................... 2-7
2.17 Daerah pengaruh medan magnet ..................................................... 2-7
2.18 Medan magnet pada toroida ............................................................. 2-8
2.19 Kerapatan fluk magnet ..................................................................... 2-9
2.20 Bahan ferromagneik ......................................................................... 2-10
2.21 Kurva BH inti udara .......................................................................... 2-10
2.22 Kurva BH ferromagnetik ................................................................... 2-11
2.23 Kurva magnetisasi ............................................................................ 2-12
2.24 Kurva histerisis ................................................................................. 2-13
2.25 Histerisis magnet permanen-ferromagnetik ...................................... 2-13
2.26 Rangkaian magnetik ......................................................................... 2-14
2.27 Prinsip dasar motor DC .................................................................... 2-16
2.28 Prinsip timbulnya torsi motor DC ...................................................... 2-16
2.29 Torsi F motor DC .............................................................................. 2-17
2.30 Prinsip tangan kiri Flemming ............................................................ 2-17
2.31 Model uji gaya tolak .......................................................................... 2-18
2.32 Prinsip alat ukur listrik ....................................................................... 2-18
2.33 Prinsip torsi pada kawat berarus ...................................................... 2-19
2.34 Prinsip generator .............................................................................. 2-19
2.35 Prinsip hukum Lorentz ...................................................................... 2-20
2.36 Prinsip tangan kanan Flemming ....................................................... 2-20
2.37 Interaksi elektromagnetik .................................................................. 2-20
2.38 Prinsip induksi elektromagnetik ........................................................ 2-21
2.39 Gelombang belitan primer dan belitan sekunder .............................. 2-21
2.40 Induksi pada cincin ........................................................................... 2-22
DAFTAR GAMBAR
x
Bab 3. Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3.1 Prinsip pembangkitan Listrik AC ...................................................... 3-1
3.2 Generator AC dua kutub .................................................................. 3-1
3.3 Generator AC empat kutub .............................................................. 3-1
3.4 Prinsip generator AC ........................................................................ 3-1
3.5 Bentuk gelombang AC ..................................................................... 3-2
3.6 Rangkaian pembangkit gelombang pulsa ........................................ 3-2
3.7 Satu siklus ........................................................................................ 3-4
3.8a Pembentukan gelombang sinusoida ................................................ 3-5
3.8b Proyeksi lingkaran ke garis kuadran. ............................................... 3-5
3.9 Panjang gelombang ......................................................................... 3-6
3.10 Harga sesaat gelombang sinusoida ................................................. 3-7
3.11 Prinsip harga efektif gelombang sinusoida ...................................... 3-10
3.12 Nilai puncak, nilai efektif gelombang sinusoida. ............................... 3-10
3.13 Rangkaian resistor listrik AC ............................................................ 3-12
3.14 Kapasitor pada sumber listrik AC ..................................................... 3-13
3.15 Gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor ............................ 3-14
3.16 Nilai kapsitansi fungsi frekuensi ....................................................... 3-14
3.17 Nilai induktansi fungsi frekuensi ....................................................... 3-15
3.18 Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Induktor ................... 3-15
3.19 ......................................................................................................... 3-16
3.22 Resistor seri Induktor listrik AC ........................................................ 3-21
3.23 Seri Resistor dengan Induktor .......................................................... 3-21
3.24 Vektor tegangan dengan skala ........................................................ 3-22
3.25 Segitiga tegangan Resistor seri Induktor ......................................... 3-22
3.26 Bentuk gelombang tegangan beban Resistor dan Induktor ............. 3-23
3.27 Segitiga daya ................................................................................... 3-23
3.28 Segitiga impedansi .......................................................................... 3-24
3.29 Resistor parallel Induktor ................................................................. 3-25
3.30 Segitiga arus .................................................................................... 3-25
3.31 Segitiga konduktansi, suseptansi dan admitansi ............................. 3-25
3.32 Bentuk arus beban Resistor parallel Induktor .................................. 3-26
3.33 Segitiga Daya Aktif, Reaktif dan Semu ............................................ 3-26
3.34 Pengukuran daya dengan wattmeter ............................................... 3-27
3.35 Daya diklep beban resistif ................................................................ 3-27
3.36 Daya aktif beban impedansi ............................................................. 3-28
3.37 Daya aktif beban induktif .................................................................. 3-29
3.38 Pengukuran arus, tegangan, dan wattmeter .................................... 3-29
3.39 Rangkaian R Seri dan Segitiga Daya ............................................... 3-30
3.40 Rangkaian R Paralel dan Segitiga Daya .......................................... 3-30
3.41 Diagram Faktor Kerja ....................................................................... 3-31
3.42 Resistor seri kapasitor ...................................................................... 3-34
3.43 Rangkaian Resistor paralel kapasitor ............................................. 3-34
3.44 Segitiga Admitansi ........................................................................... 3-35
3.45 Segitiga Daya ................................................................................... 3-35
3.46 Rangkaian Seri R, L, C dan Diagram Vektor Tegangan .................. 3-36
3.47 Segitiga Impedansi Induktif dan Kapasitif ........................................ 3-37
DAFTAR GAMBAR
xi
3.48 Rangkaian Paralel R, L, C dan diagram vektor arus ........................ 3-38
3.49 Vektor Arus dan Vektor Konduktansi ................................................ 3-40
3.50 Rangkaian Resonansi LC ................................................................. 3-40
3.51 Rangkaian Resonansi LC ................................................................. 3-41
3.52 Vektor Diagram Arus ........................................................................ 3-42
3.53 Diagram Arus Saat Resonansi ......................................................... 3-42
3.54 Rangkaian Resonansi C, L ............................................................... 3-43
3.55 Penyederhanaan rangkaian ............................................................. 3-43
3.56 Diagram Arus Resonansi .................................................................. 3-44
3.57 Prinsip Tangan Kanan Flemming ..................................................... 3-45
3.58 Pembangkitan Tegangan Induksi ..................................................... 3-45
3.59 Prinsip Generator 3 Phasa ............................................................... 3-46
3.60 Rangkaian pembangkit, pengukuran dan beban bintang-segitiga ... 3-46
3.61 Tegangan Bintang dan segitiga ........................................................ 3-47
3.62 Tegangan phasa netral; tegangan phasa ke phasa ......................... 3-47
3.63 Pengukur Tegangan phasa-phasa, tegangan phasa-netral ............. 3-48
3.64 Beban Bintang .................................................................................. 3-48
3.65 Gelombang Sinusoida 3 phasa ........................................................ 3-49
3.66 Diagram Vektor Tegangan dan Arus 3 phasa .................................. 3-49
3.67 Vektor Tegangan dan Arus beban Resistif tidak seimbang .............. 3-49
3.68 Vektor Tegangan phasa-netral, beban tidak seimbang .................... 3-50
3.69 Hubungan Segitiga ........................................................................... 3-50
3.70 Vektor Arus Segitiga ......................................................................... 3-50
3.71 Vektor Arus phasa dengan arus jala-jala .......................................... 3-51
3.72 Terminal Motor Hubung Singkat ....................................................... 3-51
3.73 Terminal Motor Hubung Singkat ....................................................... 3-51
3.74 Beban Bintang dan Segitiga ............................................................. 3-52
3.75 Prinsip Wattmeter ............................................................................. 3-53
3.76 Pengukuran Daya dengan satu wattmeter ....................................... 3-54
3.77 Pengukuran Daya dengan Trafo Arus (CT) ...................................... 3-54
3.78 Pengukuran Daya dengan dua wattmeter ........................................ 3-54
3.79 Lampu TL dengan kompensasi kapasitor ......................................... 3-55
3.80 Segitiga Daya Kompensasi .............................................................. 3-55
3.81 Aliran Daya Reaktif Sebelum dan Sesudah Kompensasi ................. 3-56
3.82 Rangkaian Kompensasi Paralel dan Kompensasi Seri .................... 3-56
3.83 Kompensasi Grup ............................................................................. 3-57
3.84 Kompensasi Sentral ......................................................................... 3-57
3.85 Kompensasi Parelel & Kompensasi Seri Beban Satu Phasa ........... 3-58
Bab 4. Transformator
4.1 Peta J enis-jenis Mesin Listrik ........................................................... 4-2
4.2 Prinsip kerja Transformator Satu Phasa ........................................... 4-3
4.3 Nameplate Trafo Satu Phasa ........................................................... 4-4
4.4 Trafo satu phasa jenis Core ............................................................. 4-4
4.5 Bentuk Tegangan Input, Arus Magnetisasi dan Tegangan Output
Trafo ................................................................................................. 4-6
4.6 Vektor Arus Magnetisasi ................................................................... 4-6
DAFTAR GAMBAR
xii
4.7 Belitan primer dan sekunder Trafo Satu Phasa ............................... 4-7
4.8 Bentuk Inti Trafo tipe E-I,L, M dan tipe UI ........................................ 4-7
4.9 Inti Trafo tipe EI satu Phasa ............................................................. 4-8
4.10 Susunan belitan primer dan sekunder ............................................. 4-8
4.11 Inti Trafo jenis pelat digulung ........................................................... 4-8
4.12 Rangkaian ekivalen Trafo ................................................................ 4-9
4.13 Grafik tegangan sekunder fungsi arus beban .................................. 4-9
4.14 Vektor tegangan a) beban induktip b) beban kapasitip ................... 4-9
4.15 Pengawatan Uji Trafo a) Uji tanpa beban b) Uji hubung singkat .. 4-10
4.16 Rangkaian pengganti Trafo tanpa beban ......................................... 4-10
4.17 Vektor tegangan dan arus pada Uji tanpa beban ............................. 4-11
4.18 Vektor tegangan dan arus pada Uji hubung singkat ........................ 4-11
4.19 Rangkaian pengganti Trafo sekunder dihubung singkat .................. 4-12
4.20 Rangkaian pengganti Trafo dengan komponen resistansi dan
induktansi ......................................................................................... 4-12
4.21 Grafik Arus Hubung Singkat Trafo Grafik Arus Hubung Singkat
Trafo ................................................................................................. 4-12
4.22 Grafik efisiensi Transformator .......................................................... 4-13
4.23 Rangkaian listrik Autotransformator ................................................. 4-14
4.24 Autotrafo dengan bentuk inti toroida ................................................ 4-14
4.25 Prinsip Transformator khusus untuk Welding .................................. 4-15
4.26 Rangkaian Trafo Welding ................................................................. 4-15
4.27 Grafik tegangan fungsi arus, pada Trafo Welding ............................ 4-15
4.28 Bentuk fisik Trafo Arus (CT) ............................................................. 4-16
4.29 Pengukuran dengan trafo tegangan (PT) ......................................... 4-16
4.30 Name plate Trafo tegangan ............................................................. 4-16
4.31 Pengukuran dengan Trafo Arus ....................................................... 4-17
4.32 Nameplate Trafo Arus ...................................................................... 4-17
4.33 Keterangan nameplate Trafo Arus ................................................... 4-17
4.34 Aplikasi Trafo arus sebagai meter potable ....................................... 4-18
4.35 Bentuk fisik Transformator tiga phasa .............................................. 4-18
4.36 Belitan primer dan sekunder Trafo tiga phasa ................................. 4-19
4.37 Bentuk inti Trafo 3 Phasa ................................................................. 4-20
4.38 Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Bintang ... 4-20
4.39 Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Segitiga ... 4-20
4.40 Vektor kelompok J am pada Trafo 3 phasa ...................................... 4-21
4.41 Relay Buchholz ................................................................................ 4-21
4.42 Trafo 3 phasa hubungan Segitiga terbuka (hubungan VV) .............. 4-22
4.43 Trafo tiga phasa dengan belitan primer hubungan Segitiga, belitan
sekunder hubungan Bintang ............................................................ 4-22
4.44 Pemasangan Trafo Outdoor ............................................................. 4-23
4.45 Trafo daya (Yyn6 dan Dyn5) dengan beban asimetris ..................... 4-23
4.46 Trafo daya Yzn5 dan bentuk vektor tegangan sekundernya ............ 4-24
4.47 Namplate Trafo daya tiga phasa. ..................................................... 4-24
4.48 Pengaturan Tapping terminal Trafo Distribusi .................................. 4-24
4.49 Paralel Dua Trafo satu phasa .......................................................... 4-25
4.50 Paralel Dua Trafo Tiga phasa .......................................................... 4-26
DAFTAR GAMBAR
xiii
Bab 5. Motor Listrik Arus Bolak Balik
5.1 Pengukuran kecepatan dengan Tachometer ................................... 5-2
5.2 Torsi Motor ....................................................................................... 5-2
5.3 Pengujian Motor Listrik di Laboratorium ........................................... 5-3
5.4 Prinsip kerja motor induksi ............................................................... 5-4
5.5 Belitan stator motor induksi 2 kutub ................................................. 5-4
5.6 Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan putar pada
stator motor induksi .......................................................................... 5-5
5.7 Bentuk rotor sangkar ....................................................................... 5-6
5.8 Fisik motor induksi ........................................................................... 5-7
5.9 Rugi-rugi daya motor induksi ............................................................ 5-7
5.10 Torsi motor pada rotor dan torsi pada poros .................................... 5-8
5.11 Nameplate motor Induksi .................................................................. 5-8
5.12 Putaran motor dilihat dari sisi poros ................................................. 5-9
5.13 Karakteristik Torsi motor induksi ...................................................... 5-9
5.14 Karakteristik putaran fungsi torsi beban ........................................... 5-10
5.15 Karakteristik parameter efisiensi,putaran, faktor kerja dan arus
beban................................................................................................ 5-10
5.16 Pengawatan Motor Induksi Pengasutan Langsung (DOL) ............... 5-11
5.17 Karakteristik Torsi, Pengasutan DOL ............................................... 5-11
5.18 Karakteristik Arus fungsi putaran, Pengasutan DOL ........................ 5-12
5.19 Pengawatan Pengasutan Resistor Stator ......................................... 5-12
5.20 Karakteristik Torsi Pengasutan Resistor Stator ................................ 5-12
5.21 Pengawatan Pengasutan Tegangan dengan Autotransformato ....... 5-13
5.22 Pengawatan Pengasutan Bintang-Segitiga ...................................... 5-14
5.23 Karakteristik Arus Pengasutan Bintang-Segitiga .............................. 5-14
5.24 Karakteristik Torsi Pengasutan Bintang-Segitiga ............................. 5-15
5.25 Pengawatan Pengasutan Soft Starting ............................................. 5-15
5.26 Karakteristik Arus Pengasutan Soft Starting .................................... 5-15
5.27 Karakteristik Torsi Pengasutan Soft Starting .................................... 5-16
5.28 Bentuk fisik Motor Induksi Rotor Slipring .......................................... 5-16
5.29 Belitan Stator dan Rotor Motor Slipring berikut Resistor pada
Rangkaian Rotor ............................................................................... 5-17
5.30 Nameplate Motor Induksi J enis Slipring ........................................... 5-17
5.31 Karakteristik torsi Motor Slipring ....................................................... 5-17
5.32 Pengawatan Motor Slipring dengan tiga tahapan Resistor .............. 5-18
5.33 Karakteristik Torsi dengan tiga tahapan ........................................... 5-18
5.34 Rangkaian Belitan Motor dua kecepatan (Dahlander) ...................... 5-19
5.35 Hubungan Belitan Motor Dahlander ................................................. 5-19
5.36 Hubungan belitan Segitiga Dahlander berkutub empat (p=2) .......... 5-20
5.37 Hubungan belitan Bintang Ganda, berkutub dua (p=1) .................... 5-20
5.38 Prinsip Medan Magnet Utama dan Medan magnet Bantu Motor
Satu Phasa ....................................................................................... 5-20
5.39 Gelombang arus medan bantu dan arus medan utama ................... 5-21
5.40 Medan magnet pada Stator Motor satu Phasa ................................. 5-21
5.41 Rotor sangkar ................................................................................... 5-21
5.42 Bentuk fisik Motor Kapasitor ............................................................. 5-22
DAFTAR GAMBAR
xiv
5.43 Pengawatan Motor Kapasitor Pembalikan Putaran ......................... 5-22
5.44 Pengawatan dengan Dua Kapasitor ................................................ 5-23
5.45 Karakteristik Torsi Motor kapasitor ................................................... 5-23
5.46 Bentuk fisik Motor Shaded Pole ....................................................... 5-23
5.47 Penampang Motor Shaded Pole ...................................................... 5-24
5.48 Komutator pada Motor Universal ..................................................... 5-24
5.49 Stator dan Rotor Motor Universal ..................................................... 5-24
5.50 Motor tiga Phasa disuply tegangan satu Phasa ............................... 5-25
Bab 6. Mesin Listrik Arus Searah
6.1 Stator Mesin DC dan Medan Magnet Utama dan Medan Magnet
Bantu ................................................................................................ 6-2
6.2 Fisik Mesin DC ................................................................................. 6-2
6.3 Penampang Komutator .................................................................... 6-3
6.4 Pemegang Sikat Arang .................................................................... 6-3
6.5 Kaidah Tangan Kanan ..................................................................... 6-4
6.6 Model Prinsip Kerja Generator DC ................................................... 6-4
6.7 Pembangkitan Tegangan DC pada Angker ..................................... 6-5
6.8 a) Bentuk tegangan AC dan Slipring; dan b) Tegangan DC pada
Komutator......................................................................................... 6-5
6.9 Prinsip pembangkitan tegangan DC ................................................ 6-6
6.10 Tegangan DC pada Komutator ........................................................ 6-6
6.11 a) Rangkaian Generator DC Penguat terpisah dan b) Penguat
magnet permanen ............................................................................ 6-7
6.12 Karakteristik tegangan Generator Penguat Terpisah ....................... 6-7
6.13 Rangkaian Generator Belitan Shunt ................................................ 6-8
6.14 Karakteristik tegangan generator Shunt ........................................... 6-8
6.15 Karakteristik tegangan generator Shunt ........................................... 6-8
6.16 Karakteristik Tegangan generator kompound .................................. 6-9
6.17 Bentuk Fisik Generator DC .............................................................. 6-9
6.18 Garis Netral Reaksi J angkar ............................................................ 6-10
6.19 Garis medan Magnet jangkar ........................................................... 6-10
6.20 Pergeseran Garis Netral akibat Reaksi jangkar ............................... 6-10
6.21 Kutub Magnet Utama dan Kutub Bantu Mesin DC ........................... 6-11
6.22 Kutub Magnet Utama, Kutub bantu dan Belitan Kompensasi .......... 6-11
6.23 Rangkaian belitan jangkar, belitan kutub bantu dan belitan
kompensasi ...................................................................................... 6-11
6.24 Arah putaran Mesin DC .................................................................... 6-12
6.25 Membalik arah putaran Mesin DC .................................................... 6-12
6.26 Aturan Tangan Kiri untuk Prinsip Kerja Motor DC ............................ 6-13
6.27 Model kerja Motor DC ...................................................................... 6-13
6.28 Hubungan belitan penguat medan dan J angkar Motor DC .............. 6-14
6.29 Proses pembangkitan Torsi Motor DC ............................................. 6-14
6.30 Pengecekan sifat elektromagnetik pada J angkar Motor DC ............ 6-15
6.31 Starting Motor DC dengan Tahanan Depan jangkar ........................ 6-15
6.32 Karakteristik arus Pengasutan Motor DC ......................................... 6-15
DAFTAR GAMBAR
xv
6.33 Drop tegangan Penguat Medan Seri dan J angkar Motor DC ........... 6-16
6.34 Karakteristik putaran fungsi tegangan jangkar ................................. 6-16
6.35 Pengaturan tegangan J angkar dengan sudut penyalaan Thyristor .. 6-17
6.36 Karakteristik putaran fungsi arus eksitasi ......................................... 6-17
6.37 Kutub bantu untuk mengatasi akibat Reaksi jangkar pada Motor
DC .................................................................................................... 6-18
6.38 Karakteristik putaran Motor DC Seri ................................................. 6-19
6.39 Rangkaian Motor DC Seri ................................................................. 6-20
6.40 Rangkaian Motor DC Penguat Terpisah ........................................... 6-20
6.41 Karakteritik putaran Motor Penguat Terpisah ................................... 6-20
6.42 Rangkaian Motor DC Belitan Shunt .................................................. 6-21
6.43 Rangkaian Motor DC Belitan Kompound .......................................... 6-21
6.44 Karakteristik putaran Motor DC Kompound ...................................... 6-22
6.45 Belitan J angkar ................................................................................. 6-22
6.46 Letak Sisi-sisi Kumparran dalam Alur J angkar ................................. 6-23
6.47 Prinsip Belitan Gelung ...................................................................... 6-24
6.48 Belitan Gelung Tunggal .................................................................... 6-26
6.49 Prinsip Belitan Gelombang ............................................................... 6-26
6.50 Belitan Gelombang Tunggal ............................................................. 6-28
Bab 7. Pengendalian Motor Listrik
7.1 Sistem Pengendalian terdiri rangkaian daya dan rangkaian kontrol 7-2
7.2 Dasar Sistem Pengaturan Otomatik ................................................. 7-2
7.3 Kontrol ON-OFF dengan bimetal ...................................................... 7-2
7.4 J enis-jenis kontak ............................................................................. 7-3
7.5 Bentuk fisik kontak diam dan kontak bergerak ................................. 7-3
7.6 Simbol dan bentuk fisik relay ............................................................ 7-3
7.7 Relay dikemas plastik tertutup .......................................................... 7-4
7.8 Komponen Reed Switch ................................................................... 7-4
7.9 Tombol tekan .................................................................................... 7-4
7.10 Simbol timer dan karakteristik timer ................................................. 7-5
7.11 Tampak samping irisan kontaktor ..................................................... 7-5
7.12 Simbol, kode angka dan terminal kontaktor ..................................... 7-5
7.13 Bentuk fisik kontaktor ....................................................................... 7-6
7.14 Tampak irisan Miniatur Circuit Breaker ............................................ 7-6
7.15 Tampak irisan Motor Control Circuit Breaker ................................... 7-6
7.16 Fisik MCCB ....................................................................................... 7-7
7.17 Kontrol relay impuls .......................................................................... 7-7
7.18 Timer OFF delay ............................................................................... 7-7
7.19 Diode, Varistor dan RC sebagai pengaman relay ............................ 7-8
7.20 Koil set-reset ..................................................................................... 7-8
7.21 Rangkaian daya dan kontrol motor induksi ...................................... 7-9
7.22 Rangkaian daya dan kontrol Direct ON Line (DOL) ......................... 7-9
7.23 Hubungan terminal a) Bintang b) Segitiga ....................................... 7-10
7.24 Perbandingan DOL dan Bintang Segitiga ......................................... 7-11
7.25 Pengawatan Daya Bintang - Segitiga ............................................... 7-11
7.26 Pengawatan kontrol bintang-segitiga ............................................... 7-12
DAFTAR GAMBAR
xvi
7.27 Hubungan Bintang Segitiga ............................................................. 7-13
7.28 Nameplate motor induksi bintang segitiga ....................................... 7-13
7.29 Pengawatan kontrol otomatis bintang-segitiga ................................ 7-14
7.30 Pengawatan Daya Pembalikan Putaran Motor Induksi .................... 7-15
7.31 Pengawatan kontrol pembalikan putaran ......................................... 7-16
7.32 Kontrol pembalikan motor dilengkapi lampu indikator ...................... 7-16
7.33 Pengawatan daya dua motor bekerja bergantian ............................ 7-17
7.34 Pengawatan kontrol dua motor bergantian ...................................... 7-18
7.35 Pengaturan Selang Waktu Oleh Timer ............................................ 7-18
7.36 Karakteristik a) Arus Fungsi Putaran b) Torsi Fungsi Putaran ......... 7-19
7.37 Diagram Satu Garis Instalasi Pengasutan Soft Starting .................. 7-20
7.38 Pengawatan soft starting a) DOL b) Bintang segitiga ..................... 7-20
7.39 Tata letak komponen dalam bok panel ............................................ 7-21
7.40 Pengawatan a) Ampermeter Switch b) Voltmeter Switch ............... 7-22
7.41 Pengamanan bimetal overload dan arus hubung singkat ................ 7-22
7.42 Pemakaian Trafo Arus CT Pengamanan Motor ............................... 7-23
7.43 Pengaman under voltage ................................................................. 7-23
7.44 Pengaman beban lebih dengan PTC/NTC ....................................... 7-23
7.45 Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Pressure Switch ..................... 7-24
7.46 Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Level Switch .......................... 7-24
7.47 Instalasi pompa air dgn kendali dua buah level switch .................... 7-25
7.48 Instalasi pompa air dgn dua pompa ................................................. 7-25
7.49 Pengawatan daya pengasutan resistor dua tahap ........................... 7-26
7.50 Pengawatan kontrol pengasutan resistor dua tahap ........................ 7-27
7.51 Pengawatan daya bintang-segitiga .................................................. 7-27
7.52 Pengawatan kontrol bintang segitiga dengan timer ......................... 7-28
7.53 Pengawatan pengasutan dengan autotransformator ....................... 7-29
7.54 Pengawatan kontrol autotransformator ............................................ 7-30
7.55 Pengawatan motor slipring dua tahap resistor ................................. 7-31
7.56 Pengawatan motor slipring tiga tahap resistor ................................ 7-32
7.57 Pengawatan kontrol motor slipring ................................................... 7-32
Bab 8. Alat Ukur dan Pengukran Listrik
8.1 Tampilan meter Digital .................................................................. 8-2
8.2 Meter listrik Analog ........................................................................ 8-2
8.3 Penunjukan meter analog dan meter digital .................................. 8-5
8.4 Komponen alat ukur listrik analog ................................................. 8-5
8.5 Dudukan poros jarum penunjuk ................................................... 8-6
8.6 Pola penyimpangan jarum meter analog ....................................... 8-6
8.7 J enis skala meter analog ............................................................... 8-6
8.8 Multimeter analog .......................................................................... 8-7
8.9 Tampilan penunjukan digital .......................................................... 8-7
8.10 Prinsip kerja alat ukur digital ......................................................... 8-8
8.11 Tiga jenis display digital ................................................................ 8-8
8.12 Multimeter digital AC dan DC ........................................................ 8-8
8.13 Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar ................................................ 8-9
DAFTAR GAMBAR
xvii
8.14 Meter kumparan putar dengan diode penyearah ........................... 8-9
8.15 Prinsip alat ukur besi putar ............................................................ 8-10
8.16 Prinsip elektrodinamik .................................................................... 8-10
8.17 Pemasangan wattmeter ................................................................. 8-11
8.18 Pengawatan wattmeter dengan beban satu phasa ...................... 8-11
8.19 Prinsip Alat ukur Piringan Putar (kWHmeter) ................................ 8-12
8.20 kWH meter ..................................................................................... 8-12
8.21 Pengawatan kWH meter satu phasa dan tiga phasa ..................... 8-13
8.22 Tahanan seri RV pada Voltmeter ................................................. 8-14
8.23 Tahanan paralel ampermeter ........................................................ 8-14
8.24 Tahanan depan dan paralel ampermeter ...................................... 8-15
8.25 Batas ukur Ampermeter ................................................................. 8-15
8.26 Penambahan Batas Ukur meter .................................................... 8-16
8.28 J enis-jenis Pengukuran Tahanan .................................................. 8-16
8.29 Rangkaian jembatan Wheatstone .................................................. 8-17
8.30 Pengembangan model Wheatstone .............................................. 8-17
8.31 Bentuk fisik Osiloskop .................................................................... 8-18
8.32 Blok diagram sistem Osiloskop ...................................................... 8-19
8.33 Pancaran elektron ke layar pendar CRT ....................................... 8-20
8.34 Pembagi tegangan 10 1 pada Probe ............................................. 8-20
8.35 Trigering memunculkan sinyal gigi gergaji ..................................... 8-21
8.36 Blok diagram Osiloskop dua kanal ................................................ 8-22
8.37 Blok diagram Osiloskop Digital ...................................................... 8-23
8.38 Sampling sinyal analog oleh ADC ................................................. 8-23
8.39 Mengukur tegangan DC dengan Osiloskop ................................... 8-24
8.40 Mengukur tegangan AC dengan Osiloskop ................................... 8-25
8.41 Mengukur Arus AC dengan Osiloskop ........................................... 8-26
8.42 Mengukur beda phasa dengan Osiloskop ..................................... 8-26
8.43 Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ................. 8-27
8.44 Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ................. 8-28
8.45 Sinyal input berbeda fasa 900 dg output ....................................... 8-28
8.46 Lissajous untuk menentukan frekuensi .......................................... 8-29
Bab 9 Elektronika Dasar
9.1 Transistor ....................................................................................... 9-2
9.2 Thyristor ......................................................................................... 9-2
9.3 Orbit atom ...................................................................................... 9-3
9.4 Semikonduktor Tipe N ................................................................... 9-3
9.5 Semikonduktor Tipe P ................................................................... 9-4
9.6 Sambungan PN ............................................................................. 9-4
9.7 Simbol dan fisik Diode ................................................................... 9-5
9.8 Diode Panjar Maju ......................................................................... 9-5
9.9 Diode Panjar Mundur ..................................................................... 9-6
9.10 Karakteristik Diode ......................................................................... 9-6
9.11 Aplikasi Diode Zener sebagai penstabil tegangan ......................... 9-7
9.12 Karakteristik Diode Zener .............................................................. 9-7
DAFTAR GAMBAR
xviii
9.13 Transistor Bipolar .......................................................................... 9-8
9.14 Rangkaian Dasar Transistor .......................................................... 9-8
9.15 Tegangan Bias Transistor NPN ..................................................... 9-8
9.16 Karakteristik Transistor .................................................................. 9-9
9.17 Fisik Transistor .............................................................................. 9-9
9.18 Transistor dengan Tahanan Bias .................................................. 9-10
9.19 Karakteristik Output Transistor ...................................................... 9-11
9.20 Tegangan bias Transistor .............................................................. 9-11
9.21 Karakteristik Input Transistor ......................................................... 9-12
9.22 Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Tanpa RC ........................... 9-13
9.23 Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Dengan RC ......................... 9-13
9.24 Rangkaian Bistable Multivibrator ................................................... 9-14
9.25 Diagram Waktu Bistable Multivibrator ........................................... 9-15
9.26 Rangkaian dan Diagram Waktu Schmitt Trigger ........................... 9-15
9.27 Prinsip Kerja Penguat .................................................................... 9-16
9.28 Karakteristik Transistor Empat Kuadran ........................................ 9-16
9.29 Sinyal Pada Titik-titik Pengukuran ................................................. 9-17
9.30 Penguatan Sinyal .......................................................................... 9-17
9.31 Titik Kerja Penguat Klas AB .......................................................... 9-18
9.32 Rangkaian Push-Pull ..................................................................... 9-18
9.33 Casis Transistor Dengan Isolator .................................................. 9-19
9.34 Bentuk Pendingin Transistor ......................................................... 9-19
9.35 Pemindahan Panas Pada Pendingin Transistor ............................ 9-19
Bab 10. Elektronika Daya
10.1 Pemanfaatan Energi Listrik ........................................................... 10-2
10.2 Diagram Blok Konverter Daya ....................................................... 10-3
10.2 Diagram Blok Konverter Daya ....................................................... 10-4
10.4 Thyristor ........................................................................................ 10-4
10.5 Simbol dan fisik Diode ................................................................... 10-5
10.6 a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) ............. 10-5
10.7 Karakteristik Diode ........................................................................ 10-6
10.8 Karakteristik Output Transistor ...................................................... 10-6
10.9 Transistor Sebagai Saklar ............................................................. 10-7
10.10 Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar .............................. 10-7
10.11 Garis Beban Transistor ................................................................ 10-7
10.12 Transistor Sebagai Gerbang NAND ............................................. 10-8
10.13 Transistor Sebagai Penggerak Relay .......................................... 10-9
10.14 Bentuk Fisik & Simbol Thrystor .................................................... 10-9
10.15 Karakteristik Thrystor ................................................................... 10-10
10.16 Nilai Batas Thrystor ...................................................................... 10-10
10.17 Fuse Sebagai Pengaman Thrystor .............................................. 10-11
10.18 Struktur Fisik dan Kemasan IGBT ............................................... 10-11
10.19 Karakteristik Output IGBT ............................................................ 10-12
10.20 Diode Setengah Gelombang 1 Phasa ......................................... 10-12
10.21 Rangkaian Penyearah J embatan - Diode .................................... 10-13
DAFTAR GAMBAR
xix
10.23 Penyearah J embatan Dengan Filter RC ...................................... 10-14
10.24 Penyearah Diode Gelombang 3 Phasa .................................... 10-15
10.25 Penyearah Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik ...................... 10-15
10.26 Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa Gelombang ............... 10-16
10.27 Penyearah J embatan Gelombang Penuh 3 Phasa ...................... 10-17
10.28 Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa ........................... 10-17
10.29 Penyearah Terkendali Gelombang ........................................... 10-19
10.30 Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC Gelombang ........ 10-19
10.31 Tegangan dan Arus DC Beban Resistif ....................................... 10-19
10.32 Tegangan dan Arus DC Beban Induktif ........................................ 10-20
10.33 Modul Trigger Thrystor ................................................................. 10-20
10.34 Penyearah Thrystor dengan Diode .............................................. 10-20
10.35 Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor ....................................... 10-21
10.36 Penyearah Terkendali J embatan 1 Phasa ................................... 10-21
10.37 Penyearah Thyristor Gelombang 3 Phasa ............................... 10-22
10.38 Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan ............................................ 10-23
10.39 Penyearah Terkendali 3 Phasa ..................................................... 10-23
10.40 Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa .................................. 10-24
10.41 Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa ................................... 10-24
10.42 Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 ................................ 10-25
10.43 Bentuk Gelombang Chip TCA785 ................................................ 10-25
10.44 Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw ................................ 10-26
10.45 Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC .................................... 10-26
10.46 Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC ..................................... 10-27
10.47 Rangkaian Dimmer dengan TRIAC .............................................. 10-28
10.48 Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa .................... 10-29
10.49 Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC .......................... 10-29
Bab 11 Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11.1 Grafik bahaya arus listrik .............................................................. 11-2
11.2 Aliran listrik sentuhan langsung .................................................... 11-2
11.3 Tahanan tubuh manusia ............................................................... 11-3
11.4a Tegangan sentuh langsung .......................................................... 11-3
11.4b Tegangan sentuh tidak langsung .................................................. 11-3
11.5 Simbol pengamanan pada nameplate .......................................... 11-4
11.6 Motor listrik tahan dari siraman air ................................................ 11-4
11.7 Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah ............... 11-4
11.8 Pelindung tangan dan mata .......................................................... 11-6
11.9a Gangguan listrik dibeberapa titik .................................................. 11-7
11.9b Gangguan listrik dari beban lampu ............................................... 11-7
11.10 Tegangan langkah akibat gangguan ke tanah .............................. 11-8
11.11 Peta Tindakan Pengamanan ........................................................ 11-8
11.12 Pengamanan dengan tegangan rendah ....................................... 11-9
11.13 Stop kontak khusus untuk tegangan rendah ................................ 11-9
11.14 Pengaman dengan trafo pemisah ................................................ 11-9
DAFTAR GAMBAR
xx
11.15 Pengamanan dengan selungkup isolasi ...................................... 11-10
11.16 Kabel berisolasi thermoplastik ..................................................... 11-10
11.17 Perlindungan pengaman stop kontak .......................................... 11-10
11.18 Pengamanan dengan rintangan ................................................... 11-11
11.19 J arak aman bentangan kabel udara ............................................ 11-11
11.20 Pengamanan sentuhan tidak langsung ........................................ 11-11
11.21a Sistem Pembumian TN-S .......................................................... 11-13
11.21b Sistem Pembumian TN-C-S ....................................................... 11-13
11.21c Sistem pembumian TN-C ........................................................... 11-13
11.22 Sistem Pembumian TT ................................................................ 11-13
11.23 Sistem Pembumian IT .................................................................. 11-14
11.24 Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE ......................... 11-14
11.25 Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah .................. 11-14
11.26 Prinsip kerja ELCB ...................................................................... 11-15
11.27 Fisik ELCB ................................................................................... 11-16
11.28 Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban .......... 11-16
11.29 ELCB portabel .............................................................................. 11-16
11.30 ELCB pada pembumian TN ......................................................... 11-17
11.31 Pengukuran tahanan pembumian sistem TT ............................... 11-17
11.32 ELCB pada sistem TT .................................................................. 11-17
11.33 Pengukuran tahanan pembumian sistem IT ................................ 11-18
11.34 Simbol pengamanan isolasi ganda .............................................. 11-19
11.35 Isolasi ganda pada peralatan listrik .............................................. 11-19
11.36 Mesin bor dengan isolasi ganda .................................................. 11-20
11.37 J arak aman pengamanan ruang kerja ......................................... 11-20
11.38 Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik .............................. 11-21
11.39 Trafo pemisah melayani dua stop kontak .................................... 11-21
11.40 Pengamanan pada peralatan listrik ............................................. 11-21
11.41 Pengukuran pembumian dengan megger .................................... 11-22
11.42 Pengukuran tahanan isolasi ......................................................... 11-22
11.43 Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding .................................. 11-23
11.44 Pengujian sistem pembumian TN ................................................ 11-24
11.45 Pengukuran tahanan pembumian ................................................ 11-24
11.46 Pengukuran tahanan bumi ELCB ................................................ 11-25
Bab 12 Teknik Pengaturan Otomatis
12.1 Pengaturan manual tegangan pada Generator ............................ 12-2
12.2 Diagram blok sistem kontrol .......................................................... 12-3
12.3 Pengaturan tegangan secara otomatis ......................................... 12-4
12.4 Diagram blok sistem kontrol open-loop ........................................ 12-5
12.5 Diagram blok sistem kontrol closed-loop ....................................... 12-6
12.6 Sistem Pemanasan Air .................................................................. 12-7
12.7 Diagram blok sistem pemanasan air ............................................. 12-8
12.8 Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis ................... 12-8
12.9 Pengaturan tinggi permukaan air ................................................... 12-9
DAFTAR GAMBAR
xxi
12.10 Diagram blok pengaturan tinggi air .............................................. 12-9
12.11 Prototipe mobile robot .................................................................. 12-9
12.12 Kontrol otomatis pada mobile robot .............................................. 12-10
12.13 Perilaku statis Generator Arus Searah ......................................... 12-11
12.14 Hubungan tegangan fungsi arus ................................................. 12-11
12.15 Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi .................................. 12-12
12.16 Sistem PT0 ................................................................................... 12-12
12.17 Model fisik PT1 ............................................................................. 12-13
12.18 Respon Kontrol PT1 ..................................................................... 12-14
12.19 Model Sistem Kontrol PT2 ........................................................... 12-14
12.20 Respon Sistem PT2 ..................................................................... 12-15
12.21 Respon kontrol PTn ...................................................................... 12-15
12.22 Model Dead Time ......................................................................... 12-16
12.23 Respon Kontrol Deadtime ............................................................ 12-16
12.24 Kontroler dua posisi (On-Off) ....................................................... 12-17
12.25 Simbol kontrol on-off .................................................................... 12-18
12.26 Kontroler suhu bimetal ................................................................. 12-18
12.27 Kontrol tiga posisi ......................................................................... 12-19
12.28 Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi ............................... 12-19
12.29 Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol ......... 12-19
12.30 Kontrol proporsional ..................................................................... 12-20
12.31 Aplikasi kontroler proporsional ..................................................... 12-20
12.32 Respon kontrol proporsional ........................................................ 12-20
12.33 Kontroler Integral .......................................................................... 12-21
12.34 Aplikasi kontroler integral ............................................................. 12-21
12.35 Kontroler Proporsional Integral ..................................................... 12-22
12.36 Aplikasi Kontroler PI ..................................................................... 12-22
12.37 Respon kontroler derivatif untuk sinyal step ................................. 12-23
12.38 Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng ............................. 12-23
12.39 Aplikasi Kontroler Derivatif ........................................................... 12-23
12.40 Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng ................................ 12-24
12.41 Aplikasi Kontroler PD ................................................................... 12-24
12.42 Respon kontroler PID terhadap sinyal step .................................. 12-25
12.43 Aplikasi kontroler PID ................................................................... 12-25
12.44 Karakteristik osilasi ....................................................................... 12-26
12.45 Komponen elektropneumatik ........................................................ 12-28
12.46 Tombol NO,NC dan toggle ........................................................... 12-29
12.47 Limit switch ................................................................................... 12-29
12.48 Limit switch tekanan ..................................................................... 12-30
12.49 Proximity switch terpasang pada silinder ..................................... 12-30
12.50 Konstruksi Relay dan kontaktor .................................................... 12-31
12.51 Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu ...................... 12-32
12.52 Katup Magnetik ............................................................................ 12-32
12.53 Batang jangkar katup magnetik .................................................... 12-33
12.54 Katup magnetik 3/2 ...................................................................... 12-33
12.55 Katup magnetik 5/2 ...................................................................... 12-34
12.56 Katup magnetik impulse 5/2 ......................................................... 12-34
12.57 Katup magnetik 5/3 ..................................................................... 12-34
DAFTAR GAMBAR
xxii
12.58 Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 ........................ 12-35
12.59 Silinder operasi ganda katup 5/2 ................................................. 12-35
12.60 Silinder ganda dengan katup 5/3 ................................................ 12-36
Bab 13. Generator Sinkron
13.1 Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Penguatan Generator
DC Pilot Exciter. ......................................................................... 13-3
13.2 Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Sistem Penguatan
Brushless Exciter System. ........................................................... 13-3
13.3 Bentuk Rotor .................................................................................. 13-4
13.4 Inti Stator dan Alur pada Stator ...................................................... 13-4
13.5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa ........................... 13-5
13.6 Urutan Fasa ABC ........................................................................... 13-6
13.7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa ................... 13-6
13.8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan .............................. 13-8
13.9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal .......................................... 13-8
13.10 Kisar Kumparan ........................................................................... 13-9
13.11 Vektor Tegangan Lilitan ............................................................... 13-9
13.12 Diagram Generator AC Satu Fasa Dua Kutub. ............................ 13-11
13.13 Diagram Generator AC Tiga Fasa Dua Kutub ............................. 13-12
13.14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban .......... 13-13
13.15 Kondisi Reaksi J angkar .............................................................. 13-14
13.16 Vektor Diagram dari Beban Generator ........................................ 13-15
13.17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban. ................................... 13-16
13.18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat ............................ 13-17
13.19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah
Generator ...................................................................................... 13-17
13.20 Pengukuran Resistansi DC .......................................................... 13-18
13.21 Vektor Diagram Pf Lagging ...................................................... 13-19
13.22 Vektor Arus Medan ...................................................................... 13-20
13.23 Karakteristik Beban Nol, Hubung Singkat, dan Vektor Arus
Medan. .......................................................................................... 13-21
13.24 Diagram Potier ............................................................................. 13-22
13.25 Vektor Diagram Potier .................................................................. 13-23
13.26 Rangkaian Paralel Generator ...................................................... 13-24
13.27 Rangkaian Lampu Berputar ......................................................... 13-25
13.28 Sychroscope ................................................................................ 13-26
Bab 14. Sistem Distribusi Tenaga Listrik
14.1 Generator ....................................................................................... 14-2
14.2 Penyaluran energi listrik dari sumber ke beban ............................. 14-3
14.3 Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen .......................................... 14-4
14.4 Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ................. 14-4
14.5 Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu
keindahan pandangan) ................................................................. 14-9
DAFTAR GAMBAR
xxiii
14.6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit ................ 14-10
14.7 Situasi ............................................................................................. 14-11
14.8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar ............................................. 14-13
14.9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar .......................................... 14-14
14.10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan
Rendah 380/220V. ......................................................................... 14-15
14.11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan system
tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah
380/220V. ...................................................................................... 14-16
14.12 APP Sistem satu fasa ................................................................... 14-17
14.13 APP Sistem tiga fasa .................................................................... 14-17
14.14 Contoh cubicle di ruang praktek POLBAN ................................... 14-20
14.15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) .................................................... 14-21
14.16 Molded Case Circuit Breaker ....................................................... 14-22
14.17 ACB (Air Circuit Breaker) ............................................................. 14-23
14.18 OCB (Oil Circuit Breaker) ............................................................. 14-24
14.19 VCB (Vakum Circuit Breaker) ....................................................... 14-24
14.20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) .............................. 14-25
14.21 Diagram Transmisi dan Distribusi ................................................ 14-26
14.22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa, 4 kawat ........ 14-27
14.23 Macam-macam Stop Kontak ........................................................ 14-28
14.24 Piranti-piranti menggunakan motor .............................................. 14-30
Bab 15. Pembangkit Listrik Mikrohidro
15.1 Turbin dan Generator Mikrohidro ................................................... 15-2
15.2 Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro ............................................ 15-3
15.3 Mengukur ketinggian jatuh air ........................................................ 15-5
15.4 Mengukur debit air ......................................................................... 15-6
15.5 J alur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas ........................... 15-7
15.6 Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai ............................... 15-8
15.7 Tandon Air ..................................................................................... 15-9
15.8 Pemasangan Turbin dan Generator ............................................. 15-11
15.9 Hubungan kontrol kelistrikan ......................................................... 15-12
15.10 Electronic Load Kontroller .............................................................. 15-13
DAFTAR TABEL

xxiv.
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Kemampuan Hantar Arus .......................................................... 1-10
Tabel 1.2 Resistansi dan Konduktivitas ..................................................... 1-12
Tabel 1.3 Tegangan dan arus pada Resistor............................................. 1-12
Tabel 1.5 Tahanan jenis bahan ................................................................. 1-14
Tabel 1.6 Koefisien temperatur bahan pada 20
0
C ..................................... 1-15
Tabel 1.8 Pengukuran ............................................................................... 1-16
Tabel 2.1 Permeabilitas ............................................................................. 2-12
Tabel 2.2 Parameter dan rumus kemagnetan ........................................... 2-15
Tabel 3.1 Harga Sesaat Tegangan Sinusoida ........................................... 3-8
Tabel 3.2 Harga rata-rata gelombang sinusoida........................................ 3-9
Tabel 3.3 Harga efektif gelombang sinusoida .......................................... 3-10
Tabel 3.4 Bentuk tegangan dan arus listrik AC. ........................................ 3-12
Tabel 3.5 Tabel Nameplate Motor Induksi ................................................ 3-53
Tabel 4.1 Grup rangkaian umum untuk arus putar-transformator daya ..... 4-25
Tabel 6.1 Notasi pengenal belitan Generator DC ...................................... 6-11
Tabel 6.2 Rangkaian Motor-motor DC ....................................................... 6-19
Tabel 6.3 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelung .......... 6-25
Tabel 6.4 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelombang ... 6-27
Tabel 8.1. Besaran Sistem Internasional ................................................... 8-3
Tabel 8.2. Besaran dan Simbol Kelistrikan ................................................ 8-3
Tabel 9.1. Batasan Nilai Transistor ............................................................ 9-10
Tabel 9.2. Aplikasi Transistor .................................................................... 9-10
Tabel 10.1. J enis Penyearah Diode ........................................................... 10-18
Tabel 11.1. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik .............................. 11-5
Tabel 11.2. Kode IP XX ............................................................................ 11-6
Tabel 11.3. Tegangan Sentuh yang aman ............................................... 11-8
Tabel 11.4. J enis Pembumian Sistem ...................................................... 11-12
Tabel 11.5. Waktu pemutusan maksimum sistem TN ............................. 11-15
Tabel 11.6. Penampang penghantar sistem TN ....................................... 11-15
Tabel 11.7. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V .............................. 11-16
Tabel 11.8. Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT ............................ 11-16
Tabel 11.9. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT ...................... 11-19
Tabel 11.10. Nilai resistansi isolasi minimum ............................................ 11-23
Tabel 11.11. Waktu pemutusan maksimum sistem TN ............................ 11-24
Tabel 12.1. Contoh komponen sistem kontrol ........................................... 12-4
Tabel 12.2. Istilah penting dalam sistem kontrol ........................................ 12-4
Tabel 12.3. Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller ....................................... 12-26
Tabel 12.4. Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi . 12-27
Tabel 12.5. Parameter kontroller pendekatan Chien/Hornes/Reswick ...... 12-28
Tabel 12.6. Parameter Ziegler-Nichols ...................................................... 12-28
Tabel 14.1. Daya tersambung pada tegangan menengah ........................ 14-5
Tabel 14.2. Daya tersambung fungsi arus primer ..................................... 14-6
DAFTAR TABEL

xxiv.
Tabel 14.3. Daya tersambung fungsi Pelabur ........................................... 14-7
Tabel 14.4. Daya Tersambung Tiga Phasa ............................................... 14-7
Tabel 14.5. Golongan Pelanggan PLN ...................................................... 14-8
Tabel 14.6. Standar Daya PLN ................................................................. 14-18
1-1
BAB 1
PENGETAHUAN LISTRIK DASAR
Daftar Isi :
1.1 Fenomena Elektrostatis ............................................................. 1-2
1.2 Generator Elektrostatis Van de Graff ......................................... 1-3
1.3 Tegangan Listrik ......................................................................... 1-4
1.4 Arus Listrik ................................................................................. 1-7
1.5 Arus Listrik pada PenghantarLogam .......................................... 1-8
1.6 Mengukur Arus Listrik ................................................................ 1-9
1.7 Kerapatan Arus Listrik ................................................................ 1-9
1.8 Tahanan Pengantar ................................................................... 1-11
1.9 Hukum Ohm ............................................................................... 1-12
1.10 Tahanan Konduktor .................................................................... 1-13
1.11 Resistor ...................................................................................... 1-16
1.12 Hubungan Seri Resistor ............................................................. 1-16
1.13 Hubungan Paralel Resistor ........................................................ 1-17
1.14 Hukum Kirchhof-Tegangan ........................................................ 1-18
1.15 Hukum Kirchoff-Arus .................................................................. 1-19
1.16 Mengukur Resistansi dengan Tegangan dan Arus .................... 1-20
1.17 Tahanan Dalam Baterai ............................................................. 1-21
1.18 Ekivalen Sumer Tegangan dan Sumber Arus ............................ 1-22
1.19 Rangkaian Resistor Gabungan .................................................. 1-24
1.20 Konversi Hubungan Bintang-Segitiga ........................................ 1-27
1.21 Hubungan Seri Baterai ............................................................... 1-28
1.22 Rangkuman ................................................................................ 1-32
1.23 Soal-Soal .................................................................................... 1-34

















Pengetahuan Listrik Dasar
1-2
1.1. Fenomena Elektrostatis

Muatan listrik adalah salah satu sifat dasar dari partikel elementer tertentu.
Terdapat dua jenis muatan, muatan positif dan muatan negatif. Muatan positif
pada bahan dibawa oleh proton, sedangkan muatan negatif oleh elektron.
Muatan yang bertanda sama saling tolak menolak, muatan dengan tanda
berbeda saling tarik menarik gambar-1.1.

Satuan muatan Coulomb (C), muatan
proton adalah +1,6 x 10
-19
C, sedangkan
muatan elektron -1,6x 10
-19
C. Prinsip
kekekalan menjadi- kan muatan selalu
konstan. Bila suatu benda diubah
menjadi energi, sejumlah muatan positif
dan negatif yang sama akan hilang.

Sebatang plastik digosokkan pada kain
beberapa saat. Dekatkan batang plastik
pada potongan kertas kecil. Yang
terjadi potongan kertas kecil akan
menempel ke batang plastik gambar-
1.2. Kejadian diatas menunjukkan
fenomena muatan elektrostatis, dimana
batang plastik bermuatan positif,
menarik potongan kertas yang
bermuatan negatif. Dua benda yang
muatannya berbeda akan saling tarik
menarik satu dengan lainnya.

Batang plastik digantung bebas dengan
benang, batang plastik lainnya
digosokkan dengan bulu binatang dan
dekatkan ke batang plastik tergantung
gambar-1.3. Yang terjadi kedua batang
benda saling tolak menolak. Artinya
kedua batang plastik memiliki muatan
yang sama dan saling tolak menolak.

Batang plastik digantung bebas dengan
benang. Batang kaca digosokkan
dengan kain sutra dan dekatkan ke
batang plastik tergantung gambar-1.4.
Yang terjadi kedua batang benda saling
tarik menarik. Artinya batang plastik
dan batang gelas memiliki muatan yang
berbeda dan saling tarik menarik.



Gambar 1.1: Sifat muatan listrik
Gambar 1.2 : Fenomena elektrostatis
Gambar 1.3 : Batang plastik yang
bermuatan sama saling tolak menolak
Gambar 1.4: Batang kaca dan
batang plastik yang berbeda
muatannya saling tarik menarik
Pengetahuan Listrik Dasar
1-3
Persamaan muatan listrik :

Q = n.e

Q Muatan listrik (Coulomb)
n J umlah elektron
e Muatan elektro -1,6 x 10
-19
C

Contoh : Muatan listrik -1C, hitung jumlah elektron didalamnya

Jawaban :

Q = n.e
e Q n = =-1/-1,6. 10
-19
=6,25. 10
18

Satu Coulomb adalah total muatan yang mengandung 6,25. 10
18
elektron





1.2. Generator Elektrostatis Van de Graff

Robert J Van de Graff menciptakan alat
generator elektrostatis gambar-1.5.
Prinsip kerjanya ada dua roda poly
yang dipasang sebuah sabuk non-
konduktor. Roda poly atas diberikan
selubung yang bisa menghasilkan
muatan positif. Roda poly diputar
searah jarum jam sehingga sabuk
bergerak. Sabuk akan menyentuh
konduktor runcing, muatan elektrostatis
positif akan berkumpul dibola bulat
bagian kiri. Logam bulat bermuatan
positif dan selubung yang bermuatan
negatif akan muncul garis medan
elektrostatis.





Fenomena elektrostatis ada disekitar kita, muatan listrik memiliki muatan
positip dan muatan negatif. Muatan positip dibawa oleh proton, dan muatan
negatif dibawa oleh elektro. Satuan muatan coulomb (C), muatan proton
+1,6 x 10
-19
C, sedangkan muatan elektron -1,6x 10
-19
C. Muatan yang
bertanda sama saling tolak menolak, muatan bertanda berbeda saling tarik
menarik.
Gambar 1.5 : Generator
elektrostatis Van de Graff
Pengetahuan Listrik Dasar
1-4
1.3. Tegangan Listrik

Tegangan atau beda potensial antara dua titik, adalah usaha yang dibutuhkan
untuk membawa muatan satu coulomb dari satu titik ke titik lainnya.

1. Dua bola yang bermuatan positif dan
bermuatan negatif, karena muatan
keduanya sangat lemah dimana
beda potensial antara keduanya
mendekati nol, maka kedua bola
tidak terjadi interaksi, kedua bola
hanya diam saja gambar-1.6a.

2. Dua buah bola yang masing-masing
bermuatan positif, dan negatif.
Dengan muatan berbeda kedua bola
akan saling tarik menarik. Untuk
memisahkan kedua bola, diperlukan
usaha F
1
gambar-1.6b.

3. Kejadian dua buah bola bermuatan
positif dan negatif, dipisahkan
jaraknya dua kali jarak pada contoh
2), untuk itu diperlukan usaha F
2

sebesar 2.F
1
gambar-1.6c
.


4. Ada empat bola, satu bola
bermuatan positif dan satu bola
bermuatan negatif, dua bola lainnya
tidak bermuatan. J ika dipisahkan
seperti contoh 3), diperlukan usaha
F
2
sebesar 2.F
1
gambar-1.6d.

Persamaan tegangan :

U =
Q
W
[U] =
C
Nm
=
As
VAs
=V

U Tegangan (V)
W Usaha (Nm, J oule)
Q Muatan (C)

Satu Volt adalah beda potensial antara dua titik jika diperlukan usaha
satu joule untuk memindahkan muatan listrik satu coulomb.

Contoh : J ika diperlukan usaha 50 J oule untuk setiap memindahkan muatan
sebesar 10 Coulomb. Hitung tegangan yang ditimbulkan ?

Gambar 1.6 : Model
visual tegangan
Pengetahuan Listrik Dasar
1-5
Gambar 1.7 : Sumber
tegangan DC Power suply
Jawaban :

U =
Q
W
=
Coulomb
Joule
10
50
=5 V

1.3.1. Sumber-sumber Tegangan

Sumber tegangan yang sering
dipakai sehari-hari seperti stop
kontak PLN (220V) adaptor (0-12V),
accumulator (6V, 12V). Sebuah
adaptor menurunkan tegangan AC
220V dengan transformator
stepdown, kemudian tegangan AC
disearahkan dengan dioda dan
hasilnya listrik DC dengan tegangan
yang berbeda-beda. Sebuah adaptor
menyediakan tegangan DC dari 3V,
6V, 9V dan 12V gambar-1.7.

Secara garis besar ada lima jenis
sumber tegangan yang dipakai.



Prinsip Elektromagnet :
Belitan kawat yang didalamnya
terdapat magnet pemanen, magnet
digerakkan keluar masuk, diujung
belitan timbul tegangan listrik.
Dipakai prinsip generator listrik.



Prinsip Elektrokimia :
Dua elektrode bahan pelat tembaga
kutub +, dan pelat seng kutub -.
Direndam dalam elektrolit asam
sulfurik. Diantara kedua ujung kutub
terjadi beda tegangan. Dipakai
sebagai akumulator, baterai kering.


Prinsip Thermo-elemen:
Dua logam berbeda panas jenisnya,
dipanaskan pada titik sambungan
logamnya. Diujung lainnya akan
timbul tegangan listrik.
Pengetahuan Listrik Dasar
1-6


Prinsip Foto-elemen:
Bahan semikonduktor bila terkena
cahaya, maka dikedua terminal yang
berbeda timbul tegangan listrik.
Dipakai sebagai sel surya.




Prinsip Piezo-Kristal:
Bahan piezo-kristal yang diapit
bahan aluminium. Piezo diberikan
tekanan pada ujung berbeda timbul
tegangan listrik.




1.3.2. Pengukuran Tegangan
Tegangan listrik satuannya Volt, alat ukur
tegangan disebut Voltmeter. Bentuk fisik
dan simbol Voltmeter dan digabungkan
untuk berbagai fungsi pengukuran listrik
lainnya disebut Multimeter gambar-1.8.

Pengukuran dengan Voltmeter harus
diperhatikan, apakah listrik DC atau listrik
AC. Disamping itu batas ukur tegangan
harus diperhatikan, untuk mengukur
tegangan DC 12 V harus menggunakan
batas ukur diatasnya. Pengukuran
tegangan AC 220 V, harus menggunakan
batas ukur diatasnya, misalnya 500 V.
J ika hal ini dilanggar, menyebabkan
voltmeter terbakar dan rusak secara
permanen.

Perhatian!!: Cara mengukur tegangan DC
sebuah baterai, perhatikan meter switch selektor pada posisi sebagai Voltmeter,
kedua perhatikan batas ukurnya (gambar-1.9a). Terminal positif meter
terhubung ke kutub positif baterai. Terminal negatif meter ke kutub negatif
baterai.

Mengukur tegangan lampu yang diberikan tegangan baterai, perhatikan
terminal positif meter ke positif baterai. Kabel negatif meter ke negatif baterai
gambar-1.9b, perhatikan batas ukur skala Voltmeter harus selalu diperhatikan.
Listrik dibangkitkan oleh alat pembangkit listrik. Ada lima prinsip
pembangkitan listrik, yaitu prinsip generator, elektrokimia, thermo elemen,
foto elemen dan piezo-kristal.
Gambar 1.9a :
Mengukur tegangan
Gambar 1.8 : Simbol dan fisik
Voltmeter
Pengetahuan Listrik Dasar
1-7

Mengukur tegangan baterai dan mengukur
tegangan di masing-masing lampu dilakukan
dengan Voltmeter, perhatikan tanda positif
dan negatif meter tidak boleh terbalik
gambar-1.9c.












1.4. Arus Listrik

Aliran muatan dari satu tempat ketempat
yang lain menyebabkan terjadinya arus
listrik. Arus listrik bergerak dari terminal
positif ke terminal negatif gambar-1.10.
Aliran listrik dalam kawat logam terdiri
dari aliran elektron, arus listrik dianggap
berlawanan arah gerakan elektron.

J ika sejumlah muatan Q melewati suatu
titik dalam penghantar dalam selang
waktu t, maka arus dalam penghantar
adalah :

Persamaan arus listrik :
I =
t
Q

[I] =
s
C
=
s
As
=A

I Arus listrik (A)
Q Muatan listrik (Coulomb)
t Selang waktu (detik)

Satu Amper (1 A) adalah sejumlah aliran arus yang memuat elektron satu
coulomb (1 C) dimana muatan bergerak kesuatu titik dalam satu detik.

Alat ukur tegangan listrik adalah Voltmeter. 1 mV =0,001 V =1.10
-3
V,
1 kV =1000 V =1.10
3
V, 1 MV =1 000 000 V =1.10
6
V
Gambar 1.9c : Voltmeter
diujung-ujung beban
Gambar 1.10 : Arus listrik
mengalir ke beban
Gambar 1.9
tegangan
Pengetahuan Listrik Dasar
1-8
Contoh : Muatan sebanyak 0,24 Coulomb bergerak dalam 2 mili detik. hitung
besarnya arus, dan jumlah elektron ?

Jawaban :

a) I =
t
Q
=
ms
Coulomb
2
24 , 0
=
s
C
002 , 0
24 , 0
=120 A
b) n =
e
Q
=
C
C
19
10 . 602 , 1
24 , 0

=1,5. 10
18

1.5. Arus Listrik pada Penghantar Logam

Logam merupakan penghantar listrik yang
baik, seperti tembaga, aluminium, besi dsb.
Dalam logam terdiri dari kumpulan atom,
tiap atom terdiri atas proton bermuatan
positif dan dikelilingi oleh elektron yang
bermuatan negatif gambar-1.11.

Aliran listrik merupakan aliran elektron,
artinya elektron bergerak dari yang beda
potensialnya tinggi menuju yang lebih
rendah, atau dari terminal positif ke
terminal negatif gambar-1.12.

Gambar 1.12 : Aliran listrik merupakan aliran elektron

Tiap logam memiliki jumlah atom yang berbeda, sehingga ada logam yang
mudah mengalirkan arus listrik karena konduktivitas yang baik. Ada logam yang
konduktivitas arus listriknya lebih kecil.


Arus listrik bergerak dari terminal positip ke terminal negatif dalam loop
tertutup, aliran arus listrik terjadi karena terdapat beda potensial antara kutub
positip dan kutub negatifnya.
Gambar 1.11 : Atom terdiri atas
proton dan elektron
Pengetahuan Listrik Dasar
1-9
1.6. Mengukur Arus Listrik

Arus listrik memiliki satuan Amper, dan
alat ukurnya disebut Ampermeter.
Bentuk fisik dan secara simbol
Ampermeter dan digabung kan untuk
berbagai fungsi pengu- kuran listrik
lainnya, disebut Multimeter gambar-1.13.
Berbagai macam jenis Ampermeter, ada
yang menggunakan jarum penunjuk
(meter analog) ada yang menggunakan
penunjukan digital.

Pengukuran dengan Ampermeter harus
diperhatikan, apakah listrik DC atau
listrik AC. Disamping itu batas ukur arus
harus diperhatikan, arus 10 A harus
menggunakan batas ukur diatasnya. J ika
hal ini dilanggar, Ampermeter terbakar
dan rusak secara permanen.

Cara mengukur arus listrik DC sebuah
baterai perhatikan Ampermeter dipasang
seri dengan beban, yang kedua
perhatikan batas ukurnya gambar-1.14. Terminal positif Ampermeter terhubung
ke positif baterai. Terminal negatif meter ke beban dan negatif baterai.



1.7. Kerapatan Arus Listrik

Kerapatan arus adalah besarnya arus
yang mengalir tiap satuan luas
penghantar mm
2
. Arus listrik mengalir
dalam kawat penghantar secara
merata menurut luas penampangnya.
Arus listrik 12 A mengalir dalam kawat
berpenampang 4mm
2
, maka kerapatan
arusnya 3A/mm
2
(12A/4 mm
2
), ketika
penampang penghantar mengecil
1,5mm
2
maka kerapatan arusnya
menjadi 8A/mm
2
(12A/1,5 mm
2
)
gambar-1.15.

Alat ukur arus listrik adalah Ampermeter, ada Ampermeter analog dan
Ampermeter digital. Saat melakukan pengukuran batas ukur harus
disesuaikan. 1 A =0,000001 A =1.10
-6
A; 1 mA =0,001 A =1.10
-3
A; 1 kA
=1.000 A =1.10
3
A; 1 MA =1.000.000 A =1.10
6
A
Gambar 1.14 : Mengukur arus
dengan Ampermeter
Gambar 1.15 : Kerapatan arus
pada penghantar
Gambar 1.13 : Ampermeter
Pengetahuan Listrik Dasar
1-10
Tabel 1.1 Kemampuan Hantar Arus













Kerapatan arus berpengaruh pada kenaikan temperatur. Suhu penghantar
dipertahankan sekitar 30
0
C, dimana kemampuan hantar arus kabel sudah
ditetapkan dalam tabel Kemampuan Hantar Arus (KHA).

Berdasarkan tabel KHA kabel pada tabel
diatas, kabel berpenampang 4 mm
2
, 2 inti
kabel memiliki KHA 30A, memiliki
kerapatan arus 8,5A/mm
2
. Dengan melihat
grafik kerapatan arus berbanding terbalik
dengan penampang penghantar, semakin
besar penampang penghantar kerapatan
arusnya mengecil gambar-1.16.

Persamaan kerapatan arus :

J =
A
I
[J ] =
2
mm
A

J Kerapatan Arus (A/mm
2
)
I Arus (A)
A Penampang kawat (mm
2
)

Contoh : Arus listrik 0,2 A, mengalir kawat penampang 1,5mm
2
. Hitung a)
kerapatan arusnya b) jika dilewatkan kawat diameter 0,03mm hitung
penampang kawatnya dan kerapatan arusnya.

Jawaban :

a) J =
A
I
=
2
5 , 1
2 , 0
mm
A
=0,13 A/mm
2
b) A =
4
.d
2
t
=
4
.0,03
2 2
mm t
=0,0007 mm
2
Penampang
penghantar
mm
2
Kemampuan Hantar Arus (A)
kelompok B2 kelompok C
Jumlah penghantar
2 3 2 3
1,5
2,5
4
6
10
16
25
16,5
23
30
38
52
69
90
15
20
27
34
46
62
80
19,5
27
36
46
63
85
112
17,5
24
32
41
57
76
96
Gambar 1.16 :Kurva rapat
arus fungsi luas penampang
Pengetahuan Listrik Dasar
1-11
J =
A
I
=
2
0007 , 0
2 , 0
mm
A
=286 A/mm
2




1.8. Tahanan Penghantar

Penghantar dari bahan metal mudah
mengalirkan arus listrik, tembaga dan
aluminium memiliki daya hantar listrik yang
tinggi. Bahan terdiri dari kumpulan atom,
setiap atom terdiri proton dan elektron
gambar-1.17. Aliran arus listrik merupakan
aliran elektron.

Elektron bebas yang mengalir ini mendapat
hambatan saat melewati atom sebelahnya.
Akibatnya terjadi gesekan elektron dengan
atom dan ini menyebabkan penghantar
panas. Tahanan penghantar memiliki sifat
menghambat yang terjadi pada setiap
bahan.

Persamaan tahanan penghantar:

R =
G
1
G =
R
1

[R] =
S
1
= O [G] =
O
1
=
-1




Contoh : Sejumlah kawat penghantar memiliki resistansi R =1, 2, 4, 6,
8. Hitung besarnya konduktivitasnya

Jawaban :

G =
R
1
=
O 1
1
=1s


R Tahanan penghantar ()
G Konduktivitas (
-1
)
Kerapatan arus adalah kerapatan arus yang melalui suatu penampang
penghantar dalam satuan amper per mm
2
. Kerapatan arus berpengaruh
pada pemanasan kabel.
Gambar 1.17 : Kumpulan
atom membentuk material
Gambar 1.18 : Kurva
konduktansi fungsi tahanan R
Pengetahuan Listrik Dasar
1-12
Tabel 1.2 Resistansi dan Konduktivitas

R ( O) 1 2 4 6 8 10
G (
-1
) 1 0,5 0,25 0,166 0,125 0,1

J ika tabel R dan G diatas dibuat dalam grafik lihat gambar-1.18.

1.9. Hukum Ohm

Sumber tegangan DC yang diatur,
dirangkaikan Resistor yang dapat diatur,
dari Ampermeter mengukur arus dan
Voltmeter mengukur tegangan gambar-1.19.

Percobaan I, dipasang Resistor 4 konstan
dan tegangan diatur 2V dinaikkan setiap 2V
sampai 10V. Hasilnya kenaikan tegangan
berbanding lurus dengan kenaikan arus.

Percobaan II, tegangan ditetapkan 10V
Resistor dinaikkan dari 2, dilanjutkan kenaikan setiap 2 sampai 10.
Hasilnya kenaikan resistansi besarnya arus berbanding terbalik.

Tabel 1.3 Tegangan dan arus pada Resistor









Data percobaan I dibuat grafik arus fungsi dari tegangan gambar-1.20a.

Gambar 1.20a : Kurva arus fungsi tegangan

Resistor 4 konstan Tegangan 10V konstan
Tegangan (V) Arus (A) Resistor () Arus (A)
2 0,5 2 5,0
4 1,0 4 2,5
6 1,5 6 1,67
8 2,0 8 1,25
10 2,5 10 1,0
Gambar 1.19 : Rangkaian
hukum Ohm
Pengetahuan Listrik Dasar
1-13
Data percobaan II dapat dibuat grafik arus fungsi dari resistansi gambar-1.20b.
Gambar 1.20b : Kurva arus fungsi tahanan

Persamaan Hukum Ohm :

R =
I
U
I =
R
U
U = R . I



Contoh :
a) Resistor 1,5 dipasang pada baterai 4,5V. Hitung arus yang mengalir ?
b) Resistor 500 dialiri arus 0,2A. Hitung tegangannya ?
c) Tegangan 230V, dipasang beban dan mengalir arus 0,22A. Hitung
besarnya resistansi beban ?
Jawaban :

a) I =
R
U
=
O 5 , 1
5 , 4 V
=3A
b) U = R . I = 500O.0,2 A = 100V
c) R =
I
U
=
A
V
22 , 0
230
=1945O
1.10. Tahanan Konduktor

Tahanan konduktor dipengaruhi oleh empat faktor:
1. Berbanding lurus panjang penghantar
2. Berbanding terbalik penampang penghantar
3. J enis bahan penghantar
4. Temperatur penghantar
R Resistor ()
U Tegangan (V)
I Arus (A)
Pengetahuan Listrik Dasar
1-14

Tabel 1.4 Resistansi Konduktor


Besarnya tahanan konduktor sesuai hukum Ohm
R =
A
l
.
m
mm
2
. O
=

R Tahanan konduktor ()

Tahanan jenis konduktor (.mm
2
/m)
l Panjang konduktor (m)
A Penampang konduktor (mm
2
)

Tabel 1.5 Tahanan jenis bahan

Bahan penghantar
m
mm
2
. O

2
.mm
m
O

Aluminium (Al)
Tembaga (Cu)
Perak (Ag)
Emas (Au)
0,0278
0,0178
0,0167
0,022
36,0
56,0
60,0
45,7

Contoh : Penghantar tembaga (Cu) berpenampang 1,5 mm
2
, panjang 50 m,
tahanan jenis tembaga 0,0178mm
2
/m. Hitung tahanan penghantar tersebut

Jawaban :
R =
A
l
. =
2
2
5 , 1
50 / 0178 , 0
mm
m m mm O
=0,59

Pengetahuan Listrik Dasar
1-15
Tahanan penghantar dipengaruhi oleh temperatur, ketika temperatur meningkat
ikatan atom makin meningkat akibatnya aliran elektron terhambat. Dengan
demikian kenaikan temperatur menyebabkan kenaikan tahanan penghantar

Persamaan kenaikan tahanan pengaruh kenaikan temperatur :

0 = 0
2
0
1
[0 ] = K
1
; [0 ] =
0
C
R = R
20
.. 0 [R] = O.
K
1
. K =O
R
0
= R
20
= R
R
0
= R
20
(1+ . 0 ) [] =
K
1


R Selisih nilai tahanan ()
R
20
Tahanan penghantar suhu 20
0
C ()
R
0
Tahanan penghantar pada suhu tertentu ()
Koefisien temperatur tahanan
0 Selisih temperatur (
0
C)
0
1
Temperatur awal (
0
C)
0
2
Temperatur akhir (
0
C)

Tabel 1.6 Koefisien temperatur bahan pada 20
0
C
Bahan 1/K Bahan 1/K
Besi
Timah
Timah hitam
Seng
Emas
Perak
0,00657
0,0046
0,0042
0,0042
0,00398
0,0041
Tembaga
Aluminium
Kuningan
Manganin
Konstanta
Arang batu
0,0039
0,004
0,0015
0,00001
0,00004
-0,00045

Contoh : Penghantar tembaga pada temperatur 20
0
C memiliki tahanan 30,
penghantar tersebut dalam lingkungan yang panasnya mencapai 80
0
C.
Hitunglah tahanan penghantar pada temperatur 80
0
C.

Jawaban :

0
1
= 20
0
C 0
2
= 80
0
C R
20
= 30O
0 = 0
2
0
1
=80
0
C - 20
0
C = 60 K
R = R
20
.. 0 = 30O. 0,0039
K
1
.60 K = 7,02O
R
0
= R
20
+ R = 30O + 7,02O = 37,02 O
Pengetahuan Listrik Dasar
1-16

1.11. Resistor

Resistor ditulis simbol huruf R dan satuan
Ohm (). Resistor terbuat dari bahan arang,
belitan kawat, memiliki sifat menghambat
atau membatasi aliran listrik.

Ada dua jenis Resistor yaitu memiliki nilai
tetap dan Resistor dengan nilai berubah.
Resistor dari bahan arang memiliki rating
daya 1/8 watt watt, watt, watt, 1 watt
dan 2 watt. Resistor dari bahan belitan
kawat, memiliki nilai tetap atau nilai yang
dapat berubah. Resistor banyak digunakan
dalam rangkaian elektronika atau rangkaian
listrik.

Membaca besaran Resistor diguna kan kode
warna yang ada dibadan Resistor dan setiap
warna memiliki ketentuan tersendiri gambar
1.21. Ada sembilan warna yang diurutkan
yaitu : hitam (0), coklat (1), merah (2), oranye
(3), kuning (4), hijau (5), biru (6), ungu (7), abu-abu (8) dan putih (9).

Warna gelang pertama, menyatakan angka pertama, gelang kedua
menyatakan angka kedua. Gelang ketiga menyatakan faktor pengali jumlah nol
dibelakang angka pertama dan kedua. Gelang keempat menunjuk kan angka
toleransi penyimpangannya. Ditambah dua warna untuk gelang ketiga dan
keempat yaitu emas (5%), perak (10%) dan kosong (20%).

Contoh dalam tabel tertera warna : kuning (4), ungu (7), coklat (10), emas (
5%), sehingga hasil akhir adalah : 470 5%

1.12. Hubungan Seri Resistor

Resistor sebagai beban dapat dalam
hubungan seri, untuk mengenalinya yaitu
bahwa dalam hubungan seri hanya ada satu
cabang saja gambar-1.22. J ika beberapa
Resistor dihubungkan seri, maka dapat
digunakan tahanan pengganti (Rp).

Resistansi tahanan penghantar dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu
penampang penghantar, panjang penghantar, tahanan jenis penghantar dan
temperatur kerja.
Gambar 1.22 : Seri Resistor
dengan sumber DC
Tabel 1.7 Kode warna Resistor
Pengetahuan Listrik Dasar
1-17
Persamaan tahanan pengganti seri Resistor :

Rn R R R Rp + + + + = ..... 3 2 1

Contoh : Lima buah Resistor terhubung seri, yaitu 56, 100,27, 10 dan
5,6. Hitung besarnya tahanan pengganti (Rp).

Jawaban :
Rn R R R Rp + + + + = ..... 3 2 1
O + O + O + O + O = 6 , 5 10 27 100 56 Rp

Rp =198,6





1.13. Hubungan Paralel Resistor

Beban lampu pijar dapat dianalogikan
sebagai Resistor. J ika beberapa lampu
pijar dipasangkan secara paralel, maka
dapat dianalogikan sebagai Resistor
yang terhubung secara peralel gambar-
1.23.

Setiap lampu akan mengalirkan arus
cabang yang berbeda-beda tergantung
besarnya resistansi lampu. Arus total
I merupakan penjumlahan arus cabang
(I
1
+ I
2
+ I
3
)


Persamaan tahanan paralel :
I =I
1
+I
2
+I
3

I =
R
U


3 2 1 R
U
R
U
R
U
Rp
U
+ + =

3
1
2
1
1
1 1
R R R Rp
+ + =
Dengan ketentuan bahwa G =
R
1

Hubungan seri resistor besarnya tahanan total adalah penjumlahan dari
masing2 resistor.
Gambar 1.23 : Paralel beban
dengan sumber DC
Pengetahuan Listrik Dasar
1-18
G =G1 +G2 +G3+... Gn
R =
n
R R R R
1
....
1 1 1
1
3 2 1
+ + +


Contoh : Tiga buah Resistor terhubung paralel, yaitu 10, 20 dan 30.
Hitung besarnya tahanan pengganti (Rp).

Jawaban :

3
1
2
1
1
1 1
R R R Rp
+ + = =
30
1
20
1
10
1
+ +
=
60
2
60
3
60
6 1
+ + =
Rp
=
60
11
==.> Rp =
11
60
= 5,45

1.14. Hukum Kirchoff-Tegangan

Hukum Kirchoff-tegangan menyatakan
bahwa dalam rangkaian loop tertutup,
jumlah aljabar tegangan dalam cabang
tertutup hasilnya nol gambar-1.24.
Istilah lain jumlah drop tegangan sama
dengan tegangan sumber tegangan.
Tanda sumber tegangan berlawanan
dengan tanda drop tegangan di setiap
Resistor.

Persamaan hukum Kirchoff-tegangan:

0 ) 2 ( ) 1 ( = + + U U U
0 2 1 = U U U

U Tegangan sumber
U
1
Drop tegangan R
1

U
2
Drop tegangan R
2


Contoh : Sumber tegangan DC 10V, dirangkai dengan empat Resistor 10,
47, 100 dan X. Hitunglah besarnya Resistor X dengan menggunakan
hukum Kirchoff tegangan jika arus yang mengalir 20mA.

Jawaban :

Pertama, menghitung drop tegangan tiap Resistor

1 . 1 R I U = = ) 10 . 20 ( O mA =0,20V
2 . 2 R I U = = ) 47 . 20 ( O mA =0,94V
Gambar 1.24 : Aplikasi
hukum Kirchhoff tegangan
Pengetahuan Listrik Dasar
1-19
3 . 3 R I U = = ) 100 . 20 ( O mA =2,00V

Kedua, gunakan hukum Kirchoff tegangan untuk menghitung V
4


0 4 3 2 1 = U U U U Us
3 2 1 4 U U U Us U = = V V V V 0 , 2 94 , 0 2 , 0 10 =6,86V

Ketiga, gunakan hukum Ohm untuk menghitung R
4


I
U
R
4
4= =
mA
V
20
86 , 6
=343

Contoh : Hukum Kirchoff tegangan dapat
diaplikasikan sebagai pembagi tegangan
(voltage devider), dua buah Resistor 1k,
8,2k di berikan tegangan baterai 12V.
Hitung besarnya tegangan pembagi ditiap-
tiap ujung R
2
gambar-1.25.

Jawaban :

Menghitung tahanan pengganti Rp

2 1 R R Rp + = = O + O k k 2 , 8 1 =9,2k

Menghitung tegangan pembagi


S P BC
U R R U ). (
2
= = V k k 12 ). 2 , 9 2 , 8 ( O O =10.69V

1.15. Hukum Kirchoff-Arus

Hukum Kirchoff-arus menyatakan bahwa dalam rangkaian loop tertutup, jumlah
arus yang masuk dalam suatu titik sama dengan jumlah arus yang keluar dari
titik tersebut gambar-1.26.

Aplikasi ini banyak dipakai sehari-hari,
dimana beban listrik disambung paralel
satu dengan lainnya. Sehingga arus total
sama dengan jumlah arus tiap cabang
beban.

Persamaan hukum Kirchoff-arus:


) ( 2 1 ) ( 2 1
... .....
m OUT OUT OUT n IN IN IN
I I I I I I + + = + +


I
IN1
Arus masuk cabang-1
Gambar 1.25 : Rangkaian
pembagi tegangan
Gambar 1.26 : Hukum
Kirchoff-arus
Pengetahuan Listrik Dasar
1-20
I
IN2
Arus masuk cabang-2
I
OUT1
Arus keluar cabang-1
I
OUT2
Arus keluar cabang-2
I
OUT(m)
Arus keluar cabang-m

Contoh : Sumber tegangan DC, dirangkai dengan dua Resistor paralel. Arus
cabang-1: 5mA, arus cabang-2 : 12mA. Hitunglah besarnya arus total sumber
DC dengan menggunakan hukum Kirchoff arus ?

Jawaban :

Pertama, menghitung arus total I
T
dititik A

I
T
=I
1
+I
2
=5mA +12mA =17mA

Arus total yang masuk di titik B,

I
T
=I
1
+I
2
=5mA +12mA =17mA

Contoh: Sumber tegangan DC 12V, dirangkai tiga Resistor paralel R1=1k
R2=2,2k R3=560. Hitung besarnya arus cabang masing masing Resistor
dan arus total sumber ?

Jawaban :

I
1
= V
S
/R
1
=12V/1k =12mA
I
2
= V
S
/R
2
=12V/2,2k =5,45mA
I
3
= V
S
/R
3
=12V/560 =21,42mA

Arus total I
T
= I
1
+ I
2
+ I
3
=12mA +5,45mA +21,42mA =38,87mA
1.16. Mengukur Resistansi dengan Tegangan dan Arus
Mengukur besaran Resistor yang tidak diketahui bisa juga dilakukan dengan
metode pengukuran tegangan dan arus. Digunakan dua alat ukur yaitu
Voltmeter untuk mengukur tegangan dan Ampermeter untuk mengukur arus.
Ada dua cara pengukuran yang hampir sama, tetapi akan menghasilkan dua
persamaan yang berbeda.

Cara Pertama periksa gambar 1-27

Sumber tegangan DC dipasang dengan
posisi Voltmeter dekat catu daya dan
Ampermeter di seri dengan beban R. Arus
total yang keluar dari catu daya besarnya
Gambar 1.27 : Pengukuran
tahanan nilai R kecil
Pengetahuan Listrik Dasar
1-21
sebesar (I +I
iV
). Pada ujung Ampermeter terjadi drop tegangan sebesar U
i A
=
I.R
i A
. Sehingga besarnya tegangan pada beban R besarnya U
R
= U - U
i A
.
Dengan mengukur besarnya arus I pada Ampermeter, mengukur tegangan U
pada Voltmeter, dan mengetahui besarnya tahanan dalam Ampeter sebesar
RiA. Maka besarnya resistansi beban R adalah :

R =
I
U U
iA

=
iA
R
I
U


Cara Kedua periksa gambar 1-28

Catu daya tegangan DC terhubung seri
dengan Ampermeter. Sebuah Voltmeter
pengukur tegangan dipasangkan paralel
dengan beban Resistor R. Arus yang
terukur pada Ampermeter besarnya I.
Arus yang mengalir ke beban I I
N
.
Dengan mengukur arus pada Amper
meter dan mengukur tegangan pada Volt
meter, dan mengetahui tahanan dalam
Voltmeter yang besarnya R
iV
. Dapat
dihitung besarnya resistansi R sebesar :

R =
iV
I I
U

=
iV
R
I
U




1.17. Tahanan Dalam Baterai

Catu daya DC dapat berupa baterai atau
akumulator. Sebuah catu daya DC memiliki
tahanan dalam yang besarannya bisa diketahui
dengan cara melakukan pengukuran tegangan
dan arus. catu daya DC 4,5 Volt, dipasangkan
Resistor variable RL yang dapat diatur
besarannya dari 0 sampai 500. Tahanan
dalam Ampermeter diketahui besarnya RiA<
0,1 gambar-1.29. Untuk memperoleh
tahanan dalam catu daya DC dilakukan
pengukuran dengan mengatur tahanan RL,
kemudian dicatat data pengukuran tegangan V
dan pengukuran arus A, yang dibuat dalam
bentuk tabel dibawah ini :

Gambar 1.29 : Pengukuran
tahanan dalam baterai
Gambar 1.28 : Pengukuran
tahanan nilai R besar
Pengetahuan Listrik Dasar
1-22
Tabel 1.8 Pengukuran
RL () 50,1 20,1 10,1 6,1 4,1 3,1 2,1 1,1 0,6 0,1
I (A) 0 0,24 0,55 0,94 1,33 1,67 1,91 2,24 2,71 3,02 3,42
U (V) 13 12,1 11,0 9,5 8,1 6,8 5,9 4,7 3,0 1,8 0,38
P (W) 0 2,9 6.0 8,9 10,8 11,4 11,3 10,5 8,1 5,4 1,2

Dengan data pengukuran tegangan dan
arus, maka tabel daya dapat diisi dengan
menggunakan persamaan P = U. I . dari
tabel diatas dapat dibuat tabel yang
hasilnya seperti gambar dibawah.

Karakteristik tegangan fungsi arus gambar
1-30, garis beban dapat ditarik pada dua
titik, yaitu pada saat tegangan tanpa
beban besarnya 13,1V dan saat terjadi
hubung singkat 3,42A. Dari tabel diperoleh
baris daya akan meningkat maksimum
sampai 11,4 W dan kemudian menurun
kembali. Saat terjadi daya maksimum
tercatat tegangan besarnya 6,8V dan arus
1,67A, Titik ini disebut sebagai daya
maksimum di titik A. Dititik A ini jika nilai R
L

bisa membesar atau jika digeser akan
mengecil.



Karakter
istik daya fungsi arus gambar 1-31 merupakan ploting dari tabel-2 diatas.
tampak garis daya melengkung dari kecil kemudian membesar sampai dicapai
titik daya maksimum di titik Pmak. J ika tahanan R
L
diturunkan dan arus makin
meningkat daya justru menurun kembali. Saat dititik Pmaks. yang terjadi adalah
besarnya R
L
= R
i
, dimana R
i
merupakan tahanan dalam catu daya DC.

1.18. Ekivalen Sumber Tegangan dan Sumber Arus

Catu daya DC memiliki tahanan dalam Ri, tahanan dalam catu daya memiliki
pengaruh terhadap tegangan dan arus yang dapat dialirkan ke beban. Untuk
kebutuhan analisis rangkaian listrik, dapat dijelaskan dua cara, yaitu dengan
pendekatan ekivalen sumber tegangan dan ekivalen sumber arus.

Rangkaian ekivalen sumber tegangan
Rangkaian ekivalen sumber tegangan gambar 1-32, memperlihatkan tahanan
dalam catu daya dihubungkan seri dengan sumber tegangan.
Gambar 1.30 : Karakteristik
tegangan fungsi arus
Gambar 1.31 : Karakteristik daya
fungsi arus
Pengetahuan Listrik Dasar
1-23
Tahanan dalam baterai Ri yang dialiri arus sebesar I akan terjadi drop
tegangan sebesar = I. Ri. Besarnya tegangan terminal adalah selisih
tegangan baterai dikurangi tegangan drop tahanan dalam baterai. Besarnya
tegangan di terminal beban R
L
berlaku per samaan : U = U
O
- I.R
i


Rangkaian ekivalen sumber arus

Rangkaian ekivalen sumber arus gambar 1-33, memperlihatkan tahanan dalam
Ri tehubung paralel dengan sumber arus. Sesuai kaidah hukum Kirchoff arus
berlaku I
k
= I + I
i.
Arus yang ditarik oleh beban R
L
besarnya I. dengan
mengatur nilai R
L
maka arus beban dapat diatur sebanding dengan nilai
tahanan R
L
.









1.19. Rangkaian Resistor Gabungan
Gambar 1.32 : Rangkaian
ekivalen sumber tegangan
Gambar 1.34 : Karakteristik daya terhadap perubahan tahanan
Gambar 1.33 : Rangkaian
ekivalen sumber arus
Pengetahuan Listrik Dasar
1-24

Dalam prakteknya Resistor dihubungkan dengan berbagai kombinasi seri,
paralel, campuran seri dan paralel. Untuk menghitung tahanan pengganti
dilakukan dengan menghitung secara bertahap.

Contoh-1 : Lima buah Resistor R1 =4, R2 =6, R3=10, R4=4, dan
R5=5 gambar 1-35, Hitunglah besarnya tahanan pengganti dari kelima
tahanan tersebut, menghitung drop tegangan dan besarnya arus cabang ?



Jawaban :

1. Menghitung R1 yang paralel dengan R2 :



2. Menghitung R3, R4 dan R5 yang masing-masing tersambung paralel



3. Menghitung tahanan pengganti akhir :
Gambar 1.35 : Rangkaian tahanan a) sebenarnya
b) disederhanankan c) hasil akhir
Pengetahuan Listrik Dasar
1-25

R =R
12
+R
345
=2,4O + 1,82O =4,22O

4. Menghitung arus total



5. Menghitung drop tegangan U
12
dan U
345
:

U
12
=I . R
12
=2,84A . 2,4O = 6,82V
U
345
=I . R
345
=2,84A. 1,82O = 5,18V
Tegangan catu daya =12 V

6. Menghitung arus cabang I
1
, I
2
,I
3
, I
4
dan I
5




Untuk pengecekan sesuai hukum Kirchoff arus
I = I
1
+ I
2
= 1,7A +1,14A =2,84A




Untuk pengecekan sesuai hukum Kirchoff arus
I = I
3
+ I
4
+ I
5
= 0,517A + 1,29A+1,03A = 2,84A

Contoh2 : Resistor dengan bentuk seperti gambar 1-36, terdiri Resistor R1
=2, R2 =4, R3=20, R4=5, R5=10 dan R6=5, dipasang pada catu
daya DC 48V. Hitunglah tahanan pengganti dan besarnya arus cabang I
456
?
Pengetahuan Listrik Dasar
1-26
Jawaban :

1. Menghitung tahanan pengganti R
3456




R =R
1
+R
3456
+R
2
=2O +10O +4O =16O

2. Menghitung arus total dari catu daya DC



3. Menghitung drop tegangan U
1
, U
2
dan U
3


U
1
=I . R
1
=3A . 2O = 6V
U
2
=I . R
2
=3A . 4O =12V
U
3
=I . R
3456
=3A . 10O =30V
Tegangan catu daya U = U
1
+U
2
+U
3
=6V +12V+30V =48V

4. Menghitung arus cabang I
456
.


5. Menghitung drop tegangan U
4
, U
5
dan U
6

U
4
=I
456
. R
4
=1,5 A. 5O =7,5 V
U
5
=I
456
. R
5
=1,5 A. 10O =15V
Pengetahuan Listrik Dasar
1-27
U
6
=I
456.
R
6
=1,5 A. 5O =7,5 V
Tegangan U
3
=U
6
+U
5
+U
4
=7,5V +15V+7,5V =30V

6. Menghitung arus cabang I
3




1.20. Konversi Hubungan Bintang-Segitiga

Resistor yang terhubung segitiga dapat dikonversikan ke dalam hubungan
bintang, atau sebaliknya dari hubungan bintang dapat dikonversikan menjadi
hubungan segitiga.

a) Persamaan konversi hubungan bintang menjadi hubungan segitiga





b) Persamaan konversi hubungan segitiga menjadi hubungan bintang







Contoh : Resistor dengan hubungan seperti gambar 1-37 akan dihitung
tahanan penggantinya,

Jawaban :
Pengetahuan Listrik Dasar
1-28

1. Mengkonversikan hubungan segitiga menjadi hubungan bintang dengan
persamaan :


O =
O + O + O
O O
= 666 , 0
6 2 10
6 . 2
1
R


O =
O + O + O
O O
= 333 , 3
6 2 10
6 . 10
2
R



O =
O + O + O
O O
= 111 , 1
6 2 10
2 . 10
3
R

2. Menghitung tahanan pengganti dengan membuat penyederhanaan
sebagai berikut :

) 4 333 , 3 ( ) 3 111 , 1 (
) 4 333 , 3 )( 3 111 , 1 (
666 , 0
O + O + O + O
O + O O + O
+ O = R

R = 0,666+ 2,634=3,3







1.21. Hubungan Seri Baterai

Baterai merupakan catu daya DC, bisa berujud baterai basah, sering disebut
akumulator atau baterai kering. Baterai terdiri tas beberapa sel, akumulator
Pengetahuan Listrik Dasar
1-29
tiap selnya menghasilkan 2 V, dengan menghubungkan secara seri tiap selnya
akan dihasilkan tegangan terminal 6V, 12V atau 24V.

Baterai kering atau sering disebut batu baterai, tiap selnya menghasilkan
tegangan 1,5V, empat baterai kering dihubungkan seri akan menghasilkan
tegangan 6V. baik baterai basah atau baterai kering memiliki tahanan dalam Ri,
bateri yang terhubung secara seri gambar 1-38 dapat dihitung besarnya
tahanan dalam baterai, tegangan terminal dan besarnya arus beban


Gambar 1-38 Baterai terhubung seri dengan Beban Ra

Tahanan dalam baterai terhubung seri sebanyak n buah :

R
i tot
= R
i 1
+ R
i 2
+ + R
i n
= ER
i


R
tot
= R
i tot
+ R
a


Besarnya tegangan terminal baterai, adalah penjumlahan tegangan masing-
masing baterai.

E
tot
= E
1
+ E
2
+ + E
n
= EE

Dengan tahanan dalam baterai R
itotal
dan tahanan beban R
a
, besarnya arus
yang mengalir dari baterai :




U =I. R
a
=E
tot
U
i tot


U
i tot
=I. R
tot
=E
tot
U




R
i tot
=n. R
i


R
tot
=R
a
+n . R
1

Pengetahuan Listrik Dasar
1-30

E
tot
=n . E


U =I . R
a


U
i tot
=I . n . R
i






Contoh: Empat buah baterai dihubungkan seri, masing-masing baterai memiliki
tahanan dalam, dipasang sebuah Resistor Ra.
E
1
=1,5V R
i 1
=0,15 O
E
2
=1,5V R
i 2
=0,2 O
E
3
=2,1V R
i
=0,1 O
E
4
=2,1V R
i
=0,15 O
R
a
=1,2O

Hitunglah besarnya R
i tot
, R
tot
, E
tot
, I, U, U
i tot
, I
k


J awaban :
R
i tot
=R
i
+R
i2
+ =0,15O +0,2O +0,1O +0,15O =0,60 O
R
tot
=R
i tot
+R
a
=0,60O +1,2O =1,80 O
E
tot
=E
1
+E
2
+E
3
+E
4
=1,5 V +1,5 V +2,1 V +2,1 V=7,2 V



U =I . R
a
=4 A . 1,2 O =4,8 V
U
i tot
=E
tot
U =7,2 V 4,8 V =2,4 V



Contoh : Tiga buah baterai dihubungkan seri, masing-masing memiliki tahanan
dalam dan dipasang sebuah Resistor Ra.
E
1
=2 V R
i 1
=0,2 O
Pengetahuan Listrik Dasar
1-31
E
2
=1,5 V R
i 2
=0,3 O
E
3
=2 V R
i 3
=0,1 O
R
a
=1O
Hitunglah besarnya tegangan total, dan besarnya arus melalui resistor, jika
terjadi hubung singkat, hitung besarnya arus hubung singkat.
J awaban :
E
tot
=E
1
- E
2
+E
3
=2V 1,5 V +2 V =2,5 V

U =I . R =1,56 A . 1O =1,56 V




E
tot
=E

=1,5 V

U =I. R
a
=1,44 A . 1O =1,44 V
U
i
=I. R
i tot
=1,44 A. 0,04 O =0,056 V



Pengetahuan Listrik Dasar
1-32


U
i tot
=I . R
i tot
=1,21 A . 0,225 O =0,272 V
U =I . R
a
=1,21A . 3,5 O =4,23 V












1.22. Rangkuman

- Listrik elektrostatik terdapat disekitar kita, memiliki dua muatan, yaitu
elektrostatis bermuatan positif dan yang bermuatan negatif.
- Muatan positif mengandung proton dan muatan negatif dibawa oleh
elektron.
- Satuan muatan dinyatakan dengan Coulomb dengan symbol C.
Muatan proton mengandung +1x10
-19
C dan muatan electron
mengandung -1x10
-19
C.
- Elektrostatis yang muatannya bertanda sama akan saling tolak menolak,
sedangkan yang muatan nya bertanda berlainan saling tarik menarik.

- Alat untuk membangkitkan listrik elektrostatis disebut generator
elektrostatis Van De Graff.
- Tegangan atau beda potensial antara dua titik adalaah usaha yang
dibutuhkan untuk membawa muatan satu Coulomb dari satu titik ke titik
lainnya.
- Satuan tegangan listrik dinyatakan dalam satuan Volt (V), alat ukur
tegangan listrik disebut Voltmeter.
Pengetahuan Listrik Dasar
1-33
- Prinsip pembangkitan tegangan listrik, dikenal prinsip elektromagnetis,
prinsip elektrokimia, prinsip thermo elemen, prinsip photo-elemen dan
prinsip piezo-kristal.
- Voltmeter sebagai pengukur tegangan listrik disambungkan secara
paralel dengan sumber tegangan.
- Saat melakukan pengukurn tegangan harus diperhatikan batas ukur dan
pembacaan skala pengukuran
- Arus listrik bergerak dari terminal positif ke terminal negatif dalam loop
tertutup, aliran listrik terjadi karena adanya beda potensial antara
terminal positip dan terminal negatif.
- Satu Amper adalah sejumlah aliran arus yang memuat electron satu
coulomb dimana muatan bergerak kesuatu titik dalam satu detik.
- Logam adalah penghantar listrik yang baik, tiap logam memiliki jumlah
atom yang berbeda, sehingga ada logam yang mudah mengalirkan arus
listrik atau memiliki sifat konduktivitas yang tinggi.
- Arus listrik diukur dengan satuan Amper, alat ukur untuk mengukur arus
listrik disebut Ampermeter.
- Ampermeter dihubungkan secara seri dengan beban listrik, saat
pengukuran harus memperhatikan batas ukur dan skala pengukuran.
- Kerapatan arus adalah kerapatan arus yang melalui suatu penampang
penghantar dalam satuan amper per mm
2
. Kerapatan arus berpengaruh
pada pemanasan kabel.
- Tahanan penghantar (R) berbanding terbalik dengan konduktivitas (G).
Konduktivitas (G) berbanding terbalik dengan tahanan konduktor(R).
- Hukum Ohm menyatakan bahwa tegangan (V) perkalian antara
besarnya arus (I) dengan tahanan (R), secara matematis V =I.R.
- Tahanan kawat penghantar (R) berbanding lurus dengan tahanan jenis
kawat () dan panjang kawat (L), dan berbanding terbalik dengan
penampang kawat (A), dituliskan R =. L/A ().
- Tahanan kawat juga dipengaruhi oleh temperatur, ketika temperatur
naik, ikatan atom meningkat, mengakibatkan aliran elektron terhambat,
akibatnya tahanan kawat akan meningkat juga.
- Resistor banyak dipakai pada aplikasi teknik elektronika, ada dua jenis
terbuat dari bahan arang dan terbuat dari belitan kawat.
- Besarnya resistansi ditentukan dengan kode warna yang diurutkan dari
warna hitam (0), coklat (1), merah (2) orange (3), kuning (4), hijau (5),
biru (6), ungu (7), abu-abu (8) dan putih (9).

- Hubungan seri Resistor, besarnya tahanan total (Rt) adalah
penjumlahan dari masing-masing Resistor (R1Rn). Secara matematis
dituliskan Rt =R1 +R2+R3.+Rn.
- Hubungan paralel Resistor, besarnya tahanan pengganti (Rp) adalah
penjumlahan dari perbandingan terbalik masing-masing Resistor
(1/R11/Rn). Secara matematis 1/Rp =1/R1 +1/R2+1/R3.+1/Rn.
- Hukum Kirchoff tegangan menyatakan bahwa dalam loop tertutup
jumlah aljabar tegangan dalam cabang tertutup hasilnya nol.
Pengetahuan Listrik Dasar
1-34
- Hukum Kirchoff arus menyatakan bahwa dalam rangkaian loop tertutup,
jumlah arus yang masuk dalam suatu titik sama dengan jumlah arus
yang keluar dari titik tersebut.
- Mengukur resistansi dapat dilakukan dengan metode Volt-Ampermeter.
Pertama Voltmeter dipasang dekat dengan sumbertegangan, cara
kedua Voltmeter dipasang dekat dengan beban.
- Tahanan dalam catu daya dapat diukur dengan menggunakan metode
Volt-Ampermeter.
- Rangkaian ekivalen catudaya dapat dinyatakan dengan dua cara, yaitu
pertama rangkaian ekivalen sumber tegangan, kedua rangkaian
ekivalen sumber arus.
- Hubungan Resistor yang komplek dapat dianalisis dengan cara konversi
hubungan segitiga ke bintang, atau sebaliknya dari hubungan bintang
ke segitiga,
- Hubungan seri baterai menghasilkan tegangan total adalah
penjumlahan tegangan masing-masing baterai. Vt =v1+V2 +V3+Vn.
- Hubungan Paralel baterai menghasilkan jumlah arus total merupakan
jumlah arus masing-masing baterai. Itotal =Ib1 +Ib2+Ib3Ibn.


1.23. Soal-soal

1. Muatan listrik -5C, hitung jumlah elektron didalamnya
2. J elaskan prinsip kerja generator elektrostatis Van De Graff
3. J ika diperlukan usaha 100 J oule untuk setiap memindahkan muatan
sebesar 10 Coulomb. Hitung tegangan yang ditimbulkan ?
4. Gambarkan rangkaian an cara kerja trafo stepdown dari 220 VAC
menjadi tegangan DC 12 Volt DC dan 6 Volt DC.
5. Ada lima prinsip pembangkitan listrik, yaitu prinsip generator,
elektrokimia, thermo elemen, foto elemen dan piezo-kristal. J elaskan
cara kerja dari masing-masing.
6. Tunjukkan cara mengukur tegangan DC sebuah akumulator 12Volt,
tunjukkan cara pengukuran dengan Voltmeter yang benar.
7. Tunjukkan cara mengukur Arus DC sebuah akumulator 12Volt,
tunjukkan cara pengukuran dengan Ampermeter yang benar, dengan
beban lampu 100 Watt/12V.
8. Muatan sebanyak 0,50 Coulomb bergerak dalam 2 detik. hitung
besarnya arus, dan jumlah elektron ?
9. Arus listrik 2 A, mengalir kawat penampang 1 mm
2
. Hitung a)
kerapatan arusnya b) jika dilewatkan kawat diameter 0,02 mm hitung
penampang kawatnya dan kerapatan arusnya.
10. Kawat penghantar memiliki resistansi R = 5, 10, 15. Hitung
besarnya konduktivitasnya
11. Resistor dihubungkan dengan sumber tegangan listrik
d) Resistor 10 dipasang baterai 12 V. Hitung arus yang mengalir ?
e) Resistor 100 dialiri arus 0,6A. Hitung tegangannya ?
Pengetahuan Listrik Dasar
1-35
f) Tegangan 220V, dipasang beban dan mengalir arus 0,1 A. Hitung
besarnya resistansi beban ?
12. Penghantar tembaga (Cu) berpenampang 4 mm
2
, panjang 100 m,
tahanan jenis tembaga 0,0178mm
2
/m. Hitung tahanan penghantar
tersebut.
13. Penghantar kuningan pada temperatur 20
0
C memiliki tahanan 100,
penghantar tersebut dalam lingkungan yang panasnya mencapai 80
0
C.
Hitunglah tahanan penghantar pada temperatur 80
0
C ?
14. Sebuah Resistor tertera warna : merah, ungu, kuning, emas. Tentukan
nilai resistansinya ?
15. Lima buah Resistor terhubung seri, yaitu 27, 47,27, 100 dan 69.
Hitung besarnya tahanan pengganti (Rp).
16. Empat buah Resistor terhubung paralel, yaitu 10, 15, 30 dan 40.
Hitung besarnya tahanan pengganti (Rp).
17. Sumber tegangan DC 12V, dirangkai dengan empat Resistor 10, 27,
48 dan X. Hitunglah besarnya Resistor X dengan menggunakan
hukum Kirchoff tegangan jika arus yang mengalir 85mA.
18. Pembagi tegangan (voltage devider), dua buah Resistor R
1
=10k,
R
2
=82k di berikan tegangan baterai 12V. Hitung besarnya tegangan
pembagi diujung R
2
?
19. Sumber tegangan DC, dirangkai dengan tiga Resistor paralel. Arus
cabang-1: 15mA, arus cabang-2 : 20mA, arus cabang-3 : 30mA
Hitunglah besarnya arus total sumber DC dengan menggunakan hukum
Kirchoff arus ?
20. Sumber tegangan DC 10V, dirangkai tiga Resistor paralel R1=1,5k
R2=2,4k R3=4,8k. Hitung besarnya arus cabang masing masing
Resistor dan arus total sumber ?




BAB 2
KEMAGNETAN DAN ELEKTROMAGNETIS

Daftar Isi :
2.1 Prinsip Kemagnetan ......................................................... 2-2
2.2 Fluksi Medan Magnet ....................................................... 2-7
2.3 Kuat Medan Magnet ......................................................... 2-8
2.4 Kerapatan Fluk Magnet..................................................... 2-9
2.5 Bahan Ferromagnet .......................................................... 2-10
2.6 Rangkaian Magnetik ......................................................... 2-14
2.7 Aplikasi Kemagnetan & Elektromagnet ............................. 2-16
2.8 Rangkuman ...................................................................... 2-23
2.9 Soal-soal ........................................................................... 2-25

Kemagnetan & Elektromagnetik
2-2
2.1. Prinsip Kemagnetan

Magnet yang kita lihat sehari-hari jika
didekatkan dengan besi, maka besi
akan menempel. Magnet memiliki dua
kutub, kutub utara dan kutub selatan.
Magnet memiliki sifat pada kutub
berbeda saat didekatkan akan saling
tarik menarik (utara - selatan). Tapi jika
kutub berbeda didekatkan akan saling
tolak-menolak (utara-utara atau
selatan-selatan) gambar-2.1.

Batang magnet dibagian tengah antara
kutub utara-kutub selatan, disebut
bagian netral gambar-2.2. Bagian
netral magnet artinya tidak memiliki
kekuatan magnet. Magnet bisa dalam
ujud yang besar, sampai dalam ukuran
terkecil sekalipun. Batang magnet
panjang, jika dipotong menjadi dua atau
dipotong menjadi empat bagian akan
membentuk kutub utara-selatan yang
baru.

Untuk membuktikan bahwa daerah
netral tidak memiliki kekuatan magnet.
Ambil beberapa sekrup besi, amatilah
tampak sekrup besi akan menempel
baik diujung kutub utara maupun ujung
kutub selatan gambar-2.3 Daerah
netral dibagian tengah sekrup tidak
akan menempel sama sekali, dan
sekrup akan terjatuh.

Mengapa besi biasa berbeda logam
magnet ? Pada besi biasa sebenar nya
terdapat kumpulan magnet-magnet
dalam ukuran mikroskopik, tetapi posisi
masing-masing magnet tidak beraturan
satu dengan lainnya sehingga saling
menghilangkan sifat kemagnetannya
gambar-2.4a.




Gambar 2.1 : Sifat magnet saling
tarik menarik, tolak-menolak
Gambar 2.2 : Kutub utara-selatan
magnet permanet
Gambar 2.3 : Daerah netral pada
magnet permanet
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-3
Pada magnet sebenarnya kumpulan
jutaan magnet ukuran mikroskopik
yang teratur satu dan lainnya
gambar-4b. Kutub utara dan kutub
selatan magnet posisinya teratur.
Secara keseluruhan kekuatan
magnetnya menjadi besar.

Logam besi bisa menjadi magnet
secara permanen atau sementara
dengan cara induksi elektromagnetik.
Tetapi ada beberapa logam yang
tidak bisa menjadi magnet, misalnya
tembaga, aluminium logam tersebut
dinamakan diamagnetik.


2.1.1. Garis Gaya Magnet

Bumi merupakan magnet alam raksasa,
buktinya mengapa kompas menunjuk-
kan arah utara dan selatan bumi kita.
Karena sekeliling bumi sebenarnya
dilingkupi garis gaya magnet yang tidak
tampak oleh mata kita tapi bisa diamati
dengan kompas keberadaannya.

Batang magnet memancarkan garis
gaya magnet yang melingkupi dengan
arah dari utara ke selatan. Pembuktian
sederhana dilakukan dengan menem-
patkan batang magnet diatas selembar
kertas. Diatas kertas taburkan serbuk
halus besi secara merata, yang terjadi
adalah bentuk garis-garis dengan pola-
pola melengkung oval diujung-ujung
kutub gambar-2.5. Ujung kutub utara-
selatan muncul pola garis gaya yang kuat.
Daerah netral pola garis gaya magnetnya
lemah.







Gambar 2.5 : Pola garis
medan magnet permanen
Gambar 2.6 : Garis medan
magnet utara-selatan
Gambar 2.4 : Perbedaan besi
biasa dan magnet permanen
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-4
Arah garis gaya magnet dengan pola
garis melengkung mengalir dari arah
kutub utara menuju kutub selatan
gambar-2.6. Didalam batang magnet
sendiri garis gaya mengalir sebaliknya,
yaitu dari kutub selatan ke kutub utara.
Didaerah netral tidak ada garis gaya
diluar batang magnet.

Pembuktian secara visual garis gaya
magnet untuk sifat tarik-menarik pada
kutub berbeda dan sifat tolak-menolak
pada kutub sejenis dengan
menggunakan magnet dan serbuk halus
besi gambar-2.7. Tampak jelas kutub
sejenis utara-utara garis gaya saling
menolak satu dan lainnya. Pada kutub
yang berbeda utara-selatan, garis gaya
magnet memiliki pola tarik menarik. Sifat
saling tarik menarik dan tolak menolak
magnet menjadi dasar bekerjanya motor
listrik.

Untuk mendapatkan garis gaya magnet
yang merata disetiap titik permukaan
maka ada dua bentuk yang mendasari
rancangan mesin listrik. Bentuk datar
(flat) akan menghasilkan garis gaya
merata setiap titik permukaannya.
Bentuk melingkar (radial), juga
menghasilkan garis gaya yang merata
setiap titik permukaannya gambar-2.8.

2.1.2. Elektromagnet

Elektromagnet adalah prinsip pembang-
kitan magnet dengan menggunakan arus
listrik. Aplikasi praktisnya kita temukan
pada pita tape recorder, motor listrik,
speaker, relay dsb. Sebatang kawat yang
diberikan listrik DC arahnya mening-
galkan kita (tanda silang), maka diseke-
liling kawat timbul garis gaya magnet me-
lingkar gambar-2.9.

Gambar visual garis gaya magnet didapatkan dari serbuk besi yang ditaburkan
disekeliling kawat beraliran listrik.

Gambar 2.9 :
Prinsip elektromagnetik
Gambar 2.7 : pola garis medan
magnet tolak menolak dan tarik
menarik
Gambar 2.8 : Garis gaya magnet
pada permukaan rata dan silinder
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-5
Sebatang kawat posisi vertikal
diberikan arus listrik DC searah panah,
arus menuju keatas arah pandang
(tanda titik). Garis gaya mahnet yang
membentuk selubung berlapis lapis
terbentuk sepanjang kawat gambar-
2.10. Garis gaya magnet ini tidak
tampak oleh mata kita, cara
melihatnya dengan serbuk halus besi
atau kompas yang didekatkan dengan
kawat penghantar tsb. Kompas
menunjukkan bahwa arah garis gaya
sekitar kawat melingkar.

Arah medan magnet disekitar
penghantar sesuai arah putaran
sekrup (James Clerk Maxwell, 1831-
1879) gambar-2.11. arah arus
kedepan (meninggalkan kita) maka
arah medan magnet searah putaran
sekrup kekanan. Sedangkan bila arah
arus kebelakang (menuju kita) maka
arah medan magnet adalah kekiri.

Aturan sekrup mirip dengan hukum
tangan kanan yang menggenggam,
arah ibu jari menyatakan arah arus
listrik mengalir pada kawat. Maka
keempat arah jari menyatakan arah
dari garis gaya elektromagnet yang
ditimbulkan.

Arah aliran arus listrik DC pada kawat
penghantar menentukan arah garis
gaya elektromagnet. Arah arus listrik
DC menuju kita (tanda titik pada
penampang kawat), arah garis gaya
elektromagnet melingkar berlawanan
arah jarum jam gambar-2.12.

Ketika arah arus listrik DC meninggal
kan kita (tanda silang penampang
kawat), garis gaya elektromagnet yang
ditimbulkan melingkar searah dengan jarum jam (sesuai dengan model
mengencangkan sekrup). Makin besar intensitas arus yang mengalir semakin
kuat medan elektro- magnet yang mengelilingi sepanjang kawat tersebut.


Gambar 2.12 : Elektromagnetik
sekeliling kawat
Gambar 2.10 : Garis magnet
membentuk selubung seputar kawat
berarus
Gambar 2.11 : Prinsip
putaran sekrup
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-6
2.1.3. Elektromagnet pada Belitan Kawat

Kawat penghantar bentuk bulat dialiri
arus listrik I sesuai arah panah gambar-
2.13. Hukum tangan kanan dalam kasus
ini, disekeliling kawat timbul garis gaya
magnet yang arahnya secara gabungan
membentuk kutub utara dan kutub
selatan. Makin besar arus listrik yang
melewati kawat makin kuat medan
elektromagnetik yang ditimbulkannya.

J ika beberapa belitan kawat digulungkan
membentuk sebuah coil, jika dipotong
secara melintang maka arah arus ada
dua jenis. Kawat bagian atas bertanda
silang (meninggalkan kita) dan kawat
bagian bawah bertanda titik (menuju kita)
gambar-2.14. Hukum tangan kanan
empat jari menyatakan arah arus I, arah
ibu jari menunjukkan kutub utara magnet.








Hukum tangan kanan untuk menjelas kan
terbentuknya garis gaya elektromagnet pada
sebuah gulungan coil gambar-2.15. Sebuah
gulungan kawat coil dialiri arus listrik arahnya
sesuai dengan empat jari tangan kanan,
kutub magnet yang dihasilkan dimana kutub
utara searah dengan ibu jari dan kutub
selatan arah lainnya. Untuk menguatkan
medan magnet yang dihasilkan pada
gulungan dipasangkan inti besi dari bahan
ferromagnet, sehingga garis gaya
elektromagnet menyatu. Aplikasinya dipakai
pada coil kontaktor atau relay.





Gambar 2.13 : Kawat melingkar
berarus membentuk kutub
magnet
Gambar 2.14 : Belitan kawat
membentuk kutub magnet
Gambar 2.15 : Hukum
tangan kanan
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-7
2.2. Fluksi Medan Magnet

Medan magnet tidak bisa kasat mata
namun buktinya bisa diamati dengan
kompas atau serbuk halus besi. Daerah
sekitar yang ditembus oleh garis gaya
magnet disebut gaya medan magnetik
atau medan magnetik. J umlah garis
gaya dalam medan magnet disebut
fluksi magnetik gambar-2.16

Menurut satuan internasional besaran
fluksi magnetik () diukur dalam Weber,
disingkat Wb yang didifinisikan : Suatu
medan magnet serba sama mempunyai
fluksi magnetik sebesar 1 weber bila
sebatang penghantar dipotongkan pada
garis-garis gaya magnet tsb selama
satu detik akan menimbulkan gaya
gerak listrik (ggl) sebesar satu volt.

Weber = Volt x detik

[] =1 Vdetik =1 Wb


Belitan kawat yang dialiri arus listrik DC
maka didalam inti belitan akan timbul
medan magnet yang mengalir dari
kutub utara menuju kutub selatan.


Pengaruh gaya gerak magnetik akan melingkupi daerah sekitar belitan yang
diberikan warna arsir gambar-2.17. Gaya gerak magnetik () sebanding lurus
dengan jumlah belitan (N) dan besarnya arus yang mengalir (I), secara singkat
kuat medan magnet sebanding dengan amper-lilit.

=I . N [] =Amper-turn

Gaya gerak magnetik
I Arus mengalir ke belitan
N J umlah belitan kawat

Contoh : Belitan kawat sebanyak 600 lilit, dialiri arus 2 A. Hitunglah a) gaya
gerak magnetiknya b) jika kasus a) dipakai 1200 lilit berapa besarnya arus ?




Gambar 2.16 : Belitan kawat
berinti udara
Gambar 2.17 : Daerah
pengaruh medan magnet
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-8
Jawaban :

a) =I . N =600 lilit x 2 A =1.200 Amper-lilit
b) I = /N = 1.200 Amper-lilit/1200 lilit =1 Amper.
2.3. Kuat Medan Magnet

Dua belitan berbentuk toroida
dengan ukuran yang berbeda
diameternya gambar-2.18. Belitan
toroida yang besar memiliki diameter
lebih besar, sehingga keliling
lingkarannya lebih besar. Belitan
toroida yang kecil tentunya memiliki
keliling lebih kecil. J ika keduanya
memiliki belitan (N) yang sama, dan
dialirkan arus (I) yang sama maka
gaya gerak magnet ( = N.I) juga
sama. Yang akan berbeda adalah
kuat medan magnet (H) dari kedua
belitan diatas.

Persamaan kuat medan magnet


m m
l l
H
N . I
=
O
=

m
A
] [ = H

H Kuat medan magnet
l
m
Panjang lintasan
Gaya gerak magnetik
I Arus mengalir ke belitan
N J umlah belitan kawat
Contoh : Kumparan toroida dengan 5000 belitan kawat, panjang lintasan
magnet 20cm, arus yang mengalir sebesar 100mA. Hitung besarnya kuat
medan magnetiknya
Jawaban :

H =
m
l
N I.
=
m 0,2
5000 . A 0,1
=2.500 A/m
Gambar 2.18 : Medan
magnet pada toroida
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-9
2.4. Kerapatan Fluk Magnet

Efektivitas medan magnetik dalam
pemakaian sering ditentukan oleh
besarnya kerapatan fluk magnet,
artinya fluk magnet yang berada
pada permukaan yang lebih luas
kerapatannya rendah dan intensitas
medannya lebih lemah gambar-2.19.
Pada permukaan yang lebih sempit
kerapatan fluk magnet akan kuat dan
intensitas medannya lebih tinggi.

Kerapatan fluk magnet (B) atau
induksi magnetik didefinisikan
sebagai fluk persatuan luas
penampang. Satuan fluk magnet
adalah Tesla.


A
B
u
=
T
m
Wb
m
s V
B = = =
2 2
.
] [

B Kerapatan medan magnet
Fluk magnet
A Penampang inti

Contoh : Belitan kawat bentuk inti persegi 50mm x 30 mm, menghasilkan kuat
medan magnet sebesar 0,8 Tesla. Hitung besar fluk magnetnya.

Jawaban :

u
=
A
B =B . A =0,08T x0,05 m x 0,03 m =1,2 mWb














Gambar 2.19 : Kerapatan
fluk magnet
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-10
2.5. Bahan Ferromagnet

Bahan ferromagnet dipakai sebagai
bahan inti dalam transformator, stator
motor. Susunan molekul bahan
ferromagnet terbentuk dari bagian-bagian
kecil disebut domain gambar-2.20.

Setiap domain merupakan magnet dipole
elementer dan mengandung 10
12
sampai
10
15
atom. Bila bahan ferromagnetik
mendapat pengaruh medan magnet luar,
dengan segera masing-masing melekul
membentuk kutub yang searah.

2.5.1. Permeabilitas

Permeabilitas atau daya hantar magnetik () adalah kemampuan bahan
media untuk dilalui fluk magnet. Ada tiga golongan media magnet yaitu
ferromagnet, paramagnet dan diamagnet.

Ferromagnet mudah dijadikan magnet dan menghasilkan medan magnet yang
kuat, memiliki daya hantar magnetik yang baik. Contohnya : besi, baja, nikel,
cobal serta campuran beberapa logam seperti Alnico dan permalloy.

Paramagnet kurang baik untuk dijadikan
magnet, hasilnya lemah dan
permeabilitasnya kurang baik.
Contohnya : aluminium, platina, mangan,
chromium.

Diamagnet bahan yang lemah sebagai
magnet dan berlawanan, permeabilitas nya
dibawah paramagnet. Contohnya: bismuth,
antimonium, tembaga, seng, emas dan
perak.



Kurva BH mengandung informasi yang berhubungan dengan permeabilitas
suatu bahan. Satuan permeabilitas Wb/Am. Permeabilitas hampa udara
diperoleh dari perbandingan antara kerapatan fluk dan kuat medan magnet
gambar-2.21.



Gambar 2.20 : Bahan
ferromagneik
Gambar 2.21 :Kurva
BH inti udara
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-11
Persamaan permeabilitas hampa udara:


H
B
=
0


Am
Vs
m
A
m
Vs
= =
2
0
] [
=Wb/Am

0
=1,257 . 10
-6
Wb/Am


0
Permeabilitas hampa udara
B Fluk magnet
H Kerapatan magnet


Permeabilitas untuk bahan magnet sifatnya tidak konstan, selalu
diperbandingkan terhadap permeabilitas hampa udara, dimana perbandingan
tersebut disebut permeabilitas relatif gambar-2.22.

Persamaan permeabiltas bahan magnet :


0
0
.


t t
= = =Wb/Am

Permeabilitas bahan
0
Permeabilitas hampa udara
t
Permeabilitas relatif
Contoh : Belitan kawat rongga udara memiliki kerapatan 2.500 A/m, Hitung
besar fluk magnetnya, bila diketahui
0
=1,257 . 10
-6
Wb/Am.

Jawaban :

B =
0
. H
B =1,257 . 10
-6
Wb/Am . 2500A/m =0,00314 T =3,14mT

Contoh : Besi toroid mempunyai keliling 0,3 meter dan luas penampang 1 cm
2
.
Toroida dililitkan kawat 600 belitan dialiri arus sebesar 100mA. Agar diperoleh
fluk mahnet sebesar 60Wb pada toroida tsb. Hitung a) kuat medan magnet
b) kerapatan fluk magnet c) permeabilitas absolut dan d) permeabiltas relatif
besi.






Gambar 2.22 : Kurva
BH ferromagnetik
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-12
Jawaban :

a) Kuat medan magnet H =
m
l
N I.
=
0,3m
0,1A . 600t
=200 A/m
b) Kerapatan fluk magnet
A
B
u
= =
4
6
10 . 0 , 1
10 . 60

=0,6 T
c) Permeabilitas absolut/bahan
H
B
=
0

=
200
6 , 0
=0,003 Wb/Am
d) Permeabilitas relatif
0

t
= =
8
10 257 , 1
003 , 0

x
=2.400
2.5.2. Kurva Magnetisasi

Faktor penting yang menentukan
perubahan permeabiltas bahan adalah :
jenis bahan dan besarnya gaya gerak
magnetik yang digunakan.

Berdasarkan kurva magnetisasi
gambar-2.23 untuk mendapatkan
kerapatan fluk 1 Tesla diperlukan kuat
medan magnet 370 A/m. J ika kerapatan
fluk dinaikkan 1,2 Tesla diperlukan kuat
medan magnet 600 A/m.





Tabel 2.1 Permeabilitas
Media
t

Hampa udara
t
=1
Udara
t
~ 1
Paramagnetik , Aluminium, Krom
t

>1
Ferromagnetik, Besi, Nikel
t

> 1, ...10
5

Diamagnetik, tembaga
t

<1

Berikutnya kerapatan fluk 1,4 Tesla diperlukan kuat medan 1.000 A/m.
Kesimpulannya grafik magnet bukan garis linier, tapi merupakan garis lengkung
pada titik tertentu menuju titik kejenuhan.


Gambar 2.23 : Kurva
magnetisasi
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-13
2.5.3. Kurva Histerisis

Batang besi yang momen magnetiknya nol akan dilihat perilaku hubungan
antara kerapatan fluk magnet (B) dengan kuat medan magnet (H) gambar-2.24.

1. Diawali H dinaikkan dari titik (0)
sampai titik (1), nilai B konstan
mencapai kejenuhan sifat magnet
sempurna.

2. Kemudian H diturunkan sampai
titik (0), ternyata nilai B berhenti di
(2) disebut titik magnet
remanensi.

3. Agar B mencapai titik (0) di angka
(3) diperlukan medan kuat medan
magnetic Hc, disebut magnet
koersif, diukur dari sifat kekeras-
an bahan dalam ketahanannya
menyimpan magnet.

4. Kemudian H dinaikkan dalam
arah negatif, diikuti oleh B dengan
polaritas berlawanan sampai titik
jenuhnya(4)

5. Selanjutnya H diturunkan ke titik
(0), ternyata B masih terdapat
kerapatan fluk remanen (5).

6. Terakhir H dinaikkan arah positif,
dikuti oleh B melewati titik (6),
disini lengkap satu loop histerisis.


Tiga sifat bahan dari pembahasan diatas adalah : permeabilitas, remanensi dan
koersivity. Bahan yang cocok untuk magnet permanen adalah yang koersivity
dan remanensi yang tinggi gambar-2.25a. Bahan yang cocok untuk
elektromagnetik adalah yang permeabilitasnya dan kejenuhannya dari
kerapatan fluk magnet yang tinggi, tetapi koersivitasnya rendah gambar-2.25b.






Gambar 2.25 :Histerisis magnet
permanen-ferromagnetik
Gambar 2.24 : Kurva histerisis
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-14
2.6. Rangkaian Magnetik

Rangkaian magnetik terdiri beberapa
bahan magnetik yang masing-
masing memiliki permeabilitas dan
panjang lintasan yang tidak sama.
Maka setiap bagian mempunyai
reluktansi yang berbeda pula,
sehingga reluktansi total adalah
jumlah dari reluktansi masing-masing
bagian.

Inti besi yang berbentuk mirip huruf
C dengan belitan kawat dan mengalir
arus listrik I, terdapat celah sempit
udara yang dilewati garis gaya
magnet gambar-2.26. Rangkaian ini
memiliki dua reluktansi yaitu
reluktnasi besi R
mFe
dan reluktansi
celah udara R
m udara
.

Persamaan reluktansi :

R
m
=
u
O
=
A
l
m
.
[R
m
] =
Vs
A


R
m
=R
m Fe
+R
m Luft

=
Fe
+
Luft
=H
Fe
. l
Fe
+H
Luft
. l
Luft
Contoh : Berdasarkan gambar-2.26 luas penampang inti 66,6 cm
2
dan fluk
magnetnya 8 mWb. Panjang lintasan inti besi 100 cm, jarak celah udara 6 mm.
Hitung a) kerapatan fluk magnet pada inti besi dan tentukan besarnya gaya
gerak magnet. b) Hitung besarnya gaya gerak magnet total

Jawaban :

a) B =
2 2
0066 , 0
008 , 0
6 , 66
8
m
Wb
cm
mWb
A
= =
u
=1,20 Tesla

Berdasarkan grafik kurva jika B =1,2 Tesla, diperlukan kuat medan
magnet H =600 A/m.


Gambar 2.26 :
Rangkaian magnetik
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-15
Besarnya gaya gerak magnet pada inti besi:

Fe
=H
Fe
. l
Fe
=600 A/m x 1 m =600 A

b) B =
0
. H
L
H
L
=
) /( 10 . 257 , 1
20 , 1
6
Am Vs
T

=0,95. 10
6
A/m

L
=H
L
. l
L
=0,95 .10
6

m
A
. 6 . 10
-3
m =5700 A

c) =
Fe
+
L
=600 A +5700 A =6300 A

Tabel 2.2. Parameter dan rumus kemagnetan

Parameter Simbol Rumus Satuan
Gaya gerak magnetik =I . N Amper lilit
Kuat medan magnet H H =
lm lm
N I O
=
.

m
A
= Wb/A
Fluk Magnet =B . A Wb = Vs
Kerapatan medan
magnet
B B = H
A
. =
u

2 2
m
Vs
m
Wb
= =Tesla
Permeabilitas =
0 .

=
H
B

m
s
Am
Wb
Am
Vs O
= =
Permeabilitas hampa
0
1,257 . 10
-6

m
s
Am
Wb
Am
Vs O
= =
Reluktansi R
m
R
m
=
A
l
m
.
=
u
O

s Wb
A
Vs
A
O
= =
1

















Kemagnetan & Elektromagnetik
2-16
2.7. Aplikasi Kemagnetan & Elektromagnet
2.7.1. Prinsip Kerja Motor Listrik DC.

Prinsip motor listrik bekerja berdasarkan
hukum tangan kiri Fleming. Sebuah kutub
magnet berbentuk U dengan kutub utara-
selatan memiliki kerapatan fluk magnet
gambar-2.27.

Sebatang kawat penghantar digantung
bebas dengan kabel fleksibel. Di ujung
kawat dialirkan arus listrik DC dari terminal +
arus I mengalir ke terminal negatif.

Yang terjadi adalah kawat bergerak arah
panah akan mendapatkan gaya sebesar F.
Gaya yang ditimbulkan sebanding dengan
besarnya arus I.

J ika polaritas aliran listrik dibalik positif dan negatifnya, maka kawat akan
bergerak kearah berlawanan panah F.

F = B.L.I

F gaya mekanik (Newton)
B kerapatan fluk magnet (Tesla)
L panjang penghantar (meter)
I arus (amper)

1. Kutub magnet utara dan kutub selatan terbentuk garis medan magnet dari
kutub utara ke kutub selatan secara merata gambar-28a.

2. Sebatang penghantar yang diberikan arus lsitrik DC mengalir meninggal
kita (tanda panah) prinsip elektromagnetik disekitar penghantar timbul
medan magnet arah kekanan gambar-28b.


Gambar 2.27 : Prinsip
dasar motor DC
Gambar 2.28 : Prinsip
timbulnya torsi motor DC
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-17

3. Timbul interaksi antara medan
magnet dari kutub dan medan
elektromagnetik dari penghantar,
saling tolak menolak timbul gaya F
dengan arah kekiri gambar-2.28c.

4. Keempat jika arus menuju kita (tanda
titik), kawat penghantar
mendapatkan gaya F kearah kanan
gambar-2.29a.

5. Kelima, jika kutub utara-selatan
dibalikkan posisi menjadi selatan
utara arah medan magnet berbalik,
ketika kawat dialiri arus meninggal
kan kita (tanda panah), interaksi
medan magnet kawat mendapatkan
gaya F kearah kanan gambar-2.29b.

Hukum tangan kiri Fleming merupakan
prinsip dasar kerja motor DC. Telapak
tangan kiri berada diantara kutub utara
dan selatan, medan magnet memotong
penghantar gambar-2.30. Arus I mengalir
pada kawat searah keempat jari. Kawat
akan mendapatkan gaya F yang arahnya
searah ibu jari.

Bagaimana kalau kutub utara-selatan
dibalik posisinya ?, sementara arus I
mengalir searan keempat jari. Tentukan
arah gaya F yang dihasilkan ? Untuk
menjawab ini peragakan dengan telapan
tangan kiri anda sendiri !!.

Apa yang terjadi bila kutub magnet ditambahkan menjadi dua pasang gambar-
2.31 (kutub utara dan selatan dua buah). Medan magnet yang dihasilkan dua
pasang kutub sebesar 2B. Arus yang mengalir ke kawat sebesar I. Maka gaya
yang dihasilkan sebesar 2F. Ingat persamaan F = B.L.I, jika besar medan
magnet 2B dan arus tetap I, maka gaya yang dihasilkan sebesar 2F.




ar 2.33 :
Gambar 2.29 : Torsi F
motor DC
Gambar 2.30 : Prinsip tangan
kiri Flemming
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-18
Gambar 2.31 : Model
uji gaya tolak
Contoh:
Kumparan kawat dengan 50 belitan,
dialirkan arus sebesar 2 Amper,
kumparan kawat ditempatkan diantara
kutub utara dan selatan. Gaya F yang
terukur 0,75 Newton. Hitung besarnya
kerapatan fluk magnet, jika lebar
permukaan kutub 60mm dan kebocoran
fluksi diabaikan.

Jawaban :

Panjang efektif penghantar =>L =50. 60.
10
-3
=3m

Gaya F =B.L.I Newton =>B =
L I
F
.
=
m A
N
3 . 2
75 , 0
=0,125 Tesla
2.7.2. Prinsip Dasar Kerja Alat Ukur Listrik

Alat ukur listrik dengan penunjuk jarum
bekerja berdasarkan prinsip hukum tangan
kiri Flemming. Sebuah kumparan dari belitan
kawat penghantar digantungkan pada dua
utas kabel fleksibel, dimana kumparan bisa
berputar bebas gambar-2.32.

Kumparan kawat ditempatkan diantara kutub
magnet utara-selatan berbentuk huruf U.
Kutub magnet permanen menghasilkan garis
medan magnet yang akan memotong
kumparan kawat. Ketika kawat dihubungkan
sumber listrik dari terminal positif
mengalirkan arus listrik I ke terminal negatif.

Prinsip elektromagnetis dalam kumparan terjadi medan magnet elektromag-
netis. Medan magnet kutub permanen berinteraksi saling tolak menolak dengan
medan elektromagnetis kumparan, kumparan mendapat gaya putar F akibatnya
kumparan berputar searah panah.


Besarnya gaya F = B.I.L Newton

Penjelasan terjadinya kumparan putar mendapatkan gaya F, kutub magnet
permanen utara-selatan menghasilkan garis medan magnet B dengan arah dari
kutub utara menuju kutub selatan gambar-2.33a.
Gambar 2.32: Prinsip
alat ukur listrik
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-19

Kumparan kawat dalam posisi searah garis medan magnet berada diatara
kutub magnet permanen, dialirkan arus listrik sebesar I. Prinsip elektromagnetik
disekitar kumparan putar akan timbul medan magnet sesuai prinsip tangan
kanan, kutub utara dikiri kutub selatan dikanan gambar-2.33b.


Gambar 2.33 : Prinsip torsi pada kawat berarus

Antara medan magnet permanen dan medan elektromagnetik kumparan putar
terjadi saling tolak menolak yang menimbulkan gaya putar sebesar F yang
arahnya kekiri gambar-2.33c. Besarnya gaya F tergantung tiga komponen,
yaitu besarnya kerapatan fluk magnet permanen, besar arus mengalir ke
kumparan putar dan panjang kawat kumparan putar.


2.7.3. Prinsip Dasar Kerja Generator

Prinsip kerja generator dikenalkan Michael
Faraday 1832, sebuah kawat penghantar
digantung dua ujungnya ditempatkan diantara
kutub magnet permanen utara-selatan
gambar-2.34. Antara kutub utara dan selatan
terjadi garis medan magnet .

Kawat penghantar digerakkan dengan arah
panah, maka terjadi dikedua ujung kawat
terukur tegangan induksi oleh Voltmeter.
Besarnya tegangan induksi tergantung oleh
beberapa faktor, diantaranya : kecepatan
menggerakkan kawat penghantar, jumlah
penghantar, kerapatan medan magnet
permanen B.

Gambar 2.34 : Prinsip
generator
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-20
U = B.L.v.Z Volt

U Tegangan induksi
B Kerapatan medan magnet (Tesla)
L Panjang penghantar (meter)
v Kecepatan gerakan (m/det)
z J umlah penghantar


Terjadinya tegangan induksi dalam kawat
penghantar pada prinsip generator terjadi
gambar-2.35, oleh beberapa komponen.
Pertama adanya garis medan magnet yang
memotong kawat penghantar sebesar B.
Kedua ketika kawat penghantar digerakkan
dengan kecepatan v pada penghantar terjadi
aliran elektron yang bergerak dan
menimbulkan gaya gerak listrik (U). Ketiga
panjang kawat penghantar L juga
menentukan besarnya tegangan induksi
karena makin banyak elektron yang
terpotong oleh garis medan magnet.

Prinsip tangan kanan Flemming menjelaskan
terjadinya tegangan pada generator listrik.
Sepasang magnet permanen menghasilkan
garis medan magnet gambar-2.36,
memotong sepanjang kawat penghantar
menembus telapak tangan.

Kawat penghantar digerakkan kearah ibu jari
dengan kecepatan v. Maka pada kawat
penghantar timbul arus listrik I yang mengalir
searah dengan arah keempat jari. Apa yang
akan terjadi bila posisi magnet permanen
utara-selatan dibalikkan, kemana arah arus
yang dibangkitkan ?. Untuk menjawabnya
peragakan dengan tangan kanan anda dan
jelaskan dengan jelas dan sistematis.

Hukum Lenz, menyatakan penghantar yang
dialiri arus maka sekitar penghantar akan
timbul medan elektromagnet. Ketika kawat
penghantar digerakkan kecepatan v dan
penghantar melewatkan arus kearah kita
(tanda titik) sekitar penghantar timbul
elektromagnet kearah kiri gambar-2.37a.

Gambar 2.37 : Interaksi
elektromagnetik
Gambar 2.35 : Prinsip
hukum Lorentz
Gambar 2.36 : Prinsip tangan
kanan Flemming
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-21
Akibat interaksi medan magnet permanen dengan medan elektromagnet terjadi
gaya lawan sebesar F yang arahnya berlawanan dengan arah kecepatan v
kawat penghantar gambar-2.37b.
Contoh :
Model generator DC memiliki kerapatan fluk magnet sebesar 0,8 Tesla,
panjang efektif dari penghantar 250 mm, digerakkan dengan kecepatan
12m/detik. Hitung besarnya tegangan induksi yang dihasilkan.

Jawaban :
U = B.L.v.Z Volt

=0,8 Tesla. 250.10
-3
meter. 12 m/det =240 Volt


2.7.4. Prinsip Dasar Kerja Transformator


Dua buah belitan diletakkan
berdekatan. Belitan pertama
dihubungkan sumber listrik DC, resistor
R yang bisa diatur dan saklar yang
dapat di ON dan OFF kan. Belitan
kedua kedua ujungnya dipasangkan
pengukur tegangan Voltmeter gambar-
2.38.


Ketika saklar di ON kan maka mengalir arus I
1
dan menghasilkan medan
magnet dengan arah kutub utara dikanan. Medan magnet dari belitan pertama
ini menginduksi ke belitan kedua, sehingga di belitan kedua timbul tegangan
induksi U
2
yang terukur oleh Voltmeter kemudian tegangan hilang.


Gambar 2.39 : Gelombang belitan primer dan belitan sekunder
.37a :
Gambar 2.38: Prinsip induksi
elektromagnetik
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-22
Saklar di OFF kan memutuskan arus listrik I
1
ke belitan pertama, terjadi
perubahan dari ada medan magnet menjadi tidak ada. Perubahan medan
magnet belitan pertama di induksikan ke belitan kedua, timbul tegangan induksi
sesaat di belitan kedua terukur oleh Voltmeter dan kemudian menghilang
gambar-2.39.

Persamaan tegangan induksi :

u
i
=- N .
t A
Au


u1 Tegangan induksi
N J umlah lilitan
Perubahan fluk magnet
t Perubahan waktu

Metode lain membuktikan adanya
tegangan induksi, belitan kawat
dipasang pada sebuah inti besi dan
dihubungkan sumber listrik DC dengan
saklar ON-OFF. Sebuah cincin
aluminium diletakkan pada inti besi
diujung berdekatan belitan pertama
digantungkan dengan benang gambar-
2.40.


Saklar di ON kan maka sesaat ada perubahan arus di belitan pertama dan
timbul medan magnet, medan magnet diinduksikan lewat inti besi dan
dirasakan oleh cincin aluminium. Dalam cincin yang berfungsi sebagai belitan
kedua mengalir arus induksi, arus induksi ini berinteraksi dengan medan
magnet belitan pertama sehingga timbul gaya dan cincin bergerak.

Ketika saklar di OFF kan timbul medan magnet kembali, dan induksi diterima
cincin dan timbul gaya yang menggerakkan cincin aluminium. Dengan saklar di
ON dan OFF kan maka cincin akan bergerak kekanan kekiri berayun-ayun
pada gantungannya.

Dalam prakteknya saklar yang ON dan OFF diganti dengan sumber listrik AC
yang memang selalu berubah setiap saat besaran tegangannya.


Contoh :
Sebuah model transformator memiliki 600 belitan kawat, fluk medan magnet
sebesar 0,2mWeber, saklar di ON-OFF kan dalam waktu 3 milidetik. Hitunglah
besarnya tegangan induksi.


Gambar 2.40 : Induksi
pada cincin
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-23
Jawaban :

u
i
=- N .
t A
Au
=- 60 .
ms
mWb
3
2 , 0
=-
ms
mWb
3
2 , 0 . 60
=- 4 V

2.8. Rangkuman

- Magnet memiliki sifat dapat menarik bahan logam, magnet memiliki dua
kutub yaitu kutub utara dan kutub selatan.

- Bagian tengah batang magnet merupakan daerah netral yang tidak
memiliki gari gaya magnet.

- Magnet secara mikroskopis memiliki jutaan kutub magnet yang teratur
satu dengan lainnya dan memiliki sifat memperkuat satu dengan lainnya,
sedangkan logam biasa secara mikroskopis posisi magnetnya acak
tidak teratur dan saling meniadakan.

- Bumi merupakan magnet alam raksasa, yang dapat dibuktikan dengan
penunjukan kompas kearah utara dan selatan kutub bumi.

- Batang magnet memancarkan garis gaya magnet dengan arah kutub
utara dan selatan, dapat dibuktikan dengan menaburkan serbuk besi
diatas permukaan kertas dan batang magnet.

- Kutub magnet yang sama akan saling tolak menolak, dan kutub magnet
yang berlainan akan saling tarik menarik.

- Elektromagnet adalah prinsip pembangkitan magnet dengan
menggunakan arus listrik, aplikasinya pada loud speaker, motor listrik,
relay kontaktor dsb.

- Sebatang kawat yang dialiri arus listrik DC akan menghasilkan garis
medan magnet disekeliling kawat dengan prinsip genggaman tangan
kanan.

- Hukum putaran sekrup (Maxwell), ketika sekrup diputar searah jarus
jam (arah medan magnet), maka sekrup akan bergerak maju (arah arus
listrik DC).

- Belitan kawat yang dialiri arus listrik DC mengikuti hukum tangan kanan,
dimana empat jari menyatakan arah arus listrik, dan ujung jempol
menyatakan arah kutub utara elektromagnetik.

- J umlah garis gaya dalam medan magnet disebut fluksi magnetic (),
yang diukur dengan satuan Weber (Wb).

Kemagnetan & Elektromagnetik
2-24
- Fluksi magnetic satu weber bila sebatang penghantar dipotongkan pada
garis-garis gaya magnet selama satu detik akan menimbulkan gaya
gerak listrik (ggl) sebesar satu Volt. Weber =Volt x detik.

- Gaya gerak magnetic () berbanding lurus dengan jumlah belitan dan
besarnya arus yang mengalir dalam belitan. =Amper Lilit.

- Kuat medan mahnet (H) berbanding lurus dengan gaya gerak mahnet
() dan berbanding terbalik dengan panjang lintasan (lm). H =I.N/lm.

- Kerapatan fluk magnet (B), diukur dengan Tesla (T) besarnya fluk
persatuan luas penampang. B =/A =Wb/m
2
=Tesla.

- Bahan ferromagnetic bahan int dalam transformator, bahan stator motor
listrik yang memiliki daya hantar magnetic (permeabilitas) yang baik.

- Ada tiga jenis media magnetic, yaitu ferromagnet, paramagnet dan
diamagnet.

- Ferromagnet memiliki permeabilitas yang baik, misalnya Alnico dan
permalloy dipakai pada inti transformator dan stator motor listrik.

- Paramagnet memiliki permebilitas kurang baik, contohnya aluminium,
platina dan mangan.

- Diamagnet memiliki permeabilitas buruk, contohnya tembaga, seng,
perak an antimony.

- Permeabilitas hampa udara perbaandingan antara kerapatan fluk
magnet (B) dengan kuat medan magnet (H) pada kondisi hampa udara.

- Permeabilitas bahan magnet diperbandingkan dengan permeabilitas
hampa udara yang disebut permeabilitas relative.

- Kurva Histerisis (B-H) menggambarkan sifat bahan magnet terhadap
permeabilitas, remanensi dan koersivity. Bahan yang cocok untuk
magnet permanen yang memiliki sifat remanensi dan koersivity yang
tinggi. Sedangkan bahan yang cocok sebagai inti trafo atau stator motor
yang memiliki sifat permeabilitas dan tingkat kejenuhan dari kerapatan
fluk magnet yang tinggi.

- Prinsip kerja Motor Listrik berdasarkan kaidah tangan kiri Flemming,

- Hukum tangan kiri Flemming yang menyatakan jika telapak tangan kiri
berada diantara kutub magnet utara dan selatan. Sebatang kawat yang
dialiri arus listrik I dipotong oleh medan magnet B. Maka kawat akan
mengalami torsi F searah dengan ibu jari (gambar 2.30)

Kemagnetan & Elektromagnetik
2-25
- Hukum tangan kiri Flemming, besarnya Torsi F = B. L. I, dimana B
meruapakan kerapatan fluk magnet. L menyatakan panjang kawat dan I
besarnya arus yang melewati penghantar kawat.

- Prinsip kerja alat ukur juga berdasarkan hukum tangan kiri Flemming,
dimana kumparan putar dihubungkan dengan jarum penunjuk skala
meter.

- Prinsip kerja generator berdasakan hukum tangan kanan Flemming.

- Hukum tangan kanan Fleming menjelaskan prinsip pembangkitan
tegangan, jika telapak tangan kanan berada pada kutub magnet utara
selatan, sebatang kawat digerakkan searah ibu jari F, maka pada
batang kawat akan timbul arus listrik yang searah dengan keempat
telunjuk tangan kanan.

- Prinsip kerja transformator berdasarkan prinsip induksi dua belitan
kawat primer dan sekunder. J ika pada belitan primer terdapat gaya
magnet yang berubah-ubah, maka pada belitan sekunder terjadi induksi
gaya gerak listrik.

- Besarnya tegangan induksi berbanding lurus dengan jumlah belitan
kawat dan berbanding dengan perubahan medan magnet persatuan
waktu (AC/At).


2.9. Prinsip Dasar Kerja Transformator

1. J elaskan mengapa magnet memiliki sifat menarik besi, sedangkan
logam non besi seperti aluminium dan tembaga tidak dipengaruhi
magnet.
2. Magnet memiliki sifat tarik menarik dan tolak-menolak, kapan kedua
sifat tersebut terjadi. Peragakan dengan menggunakan model kutub
utara dan kutub selatan.
3. Besi biasa dapat dijadikan magnet dengan menggunakan prinsip elektro
magnetic, jelaskan bagaimana membuat elektromagnetik dengan
sumber tegangan DC dari akumulator 12 Volt.
4. Gambarkan rangkaian Bel Listrik dengan sumber listrik DC 12 Volt, dan
terangkan cara kerjanya.
5. Bagaimana cara menentukan kutub utara dan selatan magnet
permanen dengan bantuan sebuah kompas, jelaskan dengan gambar.
6. Belitan kawat yang dialiri arus listrik DC akan menghasilkan garis gaya
magnet. Peragakan dengan menggunakan tangan kanan, tentukan
Kemagnetan & Elektromagnetik
2-26
arah belitan kawat, arah aliran arus DC dan tentukan garis gaya magnet
yang dihasilkan.
7. Peragakan didepan kelas prinsip tangan kanan Flemming, untuk
menunjukkan prinsip kerja generator. Tunjukkan arah gerakan kawat,
arah medan magnet yang memotong kawat dan tunjukkan arah gaya
gerak listrik yang dihasilkan.
8. Peragakan didepan kelas dengan prinsip tangan kiri Flemming untuk
menunjukkan cara kerja Motor Listrik. Tunjukkan arah garis medan
magnet, arah aliran arus listrik DC dan arah torsi putar yang dihasilkan.
9. Belitan kawat sebanyak 1000 lilit, dialiri arus 4 A. Hitunglah a) gaya
gerak magnetiknya b) jika kasus a) dipakai 2000 lilit berapa besarnya
arus ?
10. Kumparan toroida dengan 1000 belitan kawat, panjang lintasan magnet
30cm, arus yang mengalir sebesar 200mA. Hitung besarnya kuat
medan magnetiknya
11. Belitan kawat bentuk inti persegi 40mm x 25mm, menghasilkan kuat
medan magnet sebesar 1,0 Tesla. Hitung besar fluk magnetnya.
12. Belitan kawat rongga udara memiliki kerapatan 1.000 A/m, Hitung besar
fluk magnetnya, bila diketahui
0
=1,257 . 10
-6
Wb/Am.
13. Besi toroid mempunyai keliling 0,4 meter dan luas penampang 1 cm
2
.
Toroida dililitkan kawat 800 belitan dialiri arus sebesar 100mA.`Agar
diperoleh fluk mahnet sebesar 80Wb pada toroida tsb. Hitung a) kuat
medan magnet b) kerapatan fluk magnet c) permeabilitas absolut dan
d) permeabiltas relatif besi.
14. Berdasarkan luas penampang inti 80 cm
2
dan fluk magnetnya 10 mWb.
Panjang lintasan inti besi 150 cm, jarak celah udara 5 mm. Hitung a)
kerapatan fluk magnet pada inti besi dan tentukan besarnya gaya gerak
magnet. b) Hitung besarnya gaya gerak magnet total





BAB 3
DASAR LISTRIK ARUS BOLAK BALIK



Daftar isi :
3.1 Prinsip Pembangkitan Listrik AC ...................................... 3-2
3.2 Prinsip Dasar Listrik AC .................................................... 3-4
3.3 Komponen Pasif Dalam Listrik AC .................................... 3-12
3.4 Bilangan Komplek ............................................................. 3-17
3.5 Rangkaian Resistor Seri Induktor dengan Listrik AC ........ 3-21
3.6 Rangkaian Resistor Seri dengan Kapasitor ...................... 3-33
3.7 Resonansi ......................................................................... 3-40
3.8 Sistem Listrik Tiga Fasa .................................................... 3-45
3.9 Pengukuran Daya Listrik Tiga Phasa ................................ 3-53
3.10 Kompensasi Daya ............................................................. 3-55
3.11 Rangkuman ...................................................................... 3-58
3.12 Soal-soal ........................................................................... 3-61
























Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 2
3.1. Prinsip Pembangkitan Listrik AC

Listrik AC dihasilkan dari hasil induksi
elektromagnetik gambar-3.1, sebuah
belitan kawat yang berdekatan dengan
kutub magnet permanen. Kutub
permanen diputar pada sumbunya, maka
diujung-ujung belitan timbul tegangan
listrik yang ditunjukkan oleh penunjukan
jarum Voltmeter. Jarum Voltmeter
bergoyang kearah kanan dan kekiri, ini
menunjukkan satu waktu polaritasnya
positif, satu waktu polaritasnya negatif.

Generator AC sederhana gambar-3.2,
terdiri stator dengan belitan kawat dan
rotor dengan dua kutub. Saat rotor diputar
satu putaran dan ujung belitan diukur
dengan voltmeter dihasilkan tegangan AC
satu periode. Bentuk tegangan sinusoida
dan fluk magnet berbeda phasa 90
0
.

Berikut ini konstruksi sederhana generator
AC dengan rotor empat kutub gambar-3.3.
Saat rotor diputar satu putaran, ujung
belitan diukur tegangan dengan Voltmeter.
Setiap satu putaran rotor dihasilkan dua
siklus tegangan sinusoida. Jika frekuensi
diinginkan 50 Hz, maka rotor dalam satu
detik harus berputar 25 putaran/detik,
atau kalau satu menit 60 detik, maka rotor
harus berputar sebanyak 1500
putaran/menit.

Kutub permanen utara dan kutub selatan
menghasilkan garis fluk magnet gambar-
3.4. Belitan kawat dengan poros yang
ujung-ujungnya disambungkan dengan
dua cincin putar. Ketika poros diputar,
belitan kawat akan memotong garis fluk
magnet, sesuai dengan hukum tangan kiri
Flemming maka pada ujung2 cincin akan
timbul tegangan yang terukur oleh
Voltmeter. Bentuk tegangan berupa
gelombang sinus.


Gambar 3.1 : Prinsip
pembangkitan Listrik AC
Gambar 3.2 : Generator AC
dua kutub
Gambar 3.3 : Generator AC
empat kutub
Gambar 3.4 : Prinsip
generator AC
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-3

Bentuk gelombang AC secara umum
gambar-3.5, berwujud bentuk sinusoida,
gelombang persegi dan bentuk zig-zag.
Satu periode gelombang adalah satu
siklus penuh, yaitu satu siklus positif dan
satu siklus negatif. Gelombang listrik
komersial PLN yang dipakai untuk rumah
tangga dan industri adalah sinusoida
frekuensi 50 Hz.







Untuk menghasilkan bentuk gelombang listrik untuk kebutuhan khusus seperti
bentuk pulsa, dihasilkan dengan rangkaian Resistor dan Kapasitor gambar-3.6.
Sumber tegangan kotak dengan frekuensi 100 Hz (5 milidetik) jika dirangkaian
dengan Kapasitor C= 1pF dan Resistor R = 1 kC, akan dihasilkan bentuk
gelombang output seperti gigi gergaji dengan ujung tajam dan kemudian turun
drastis.

















- Prinsip generator sederhana sebuah koil, bila didekatnya digerak-
gerakan magnet permanen, pada ujung koil terukur arus bolak bailk
- Prinsip generator AC sesui kaidah tangan kiri Flemming, belitan kawat
dalam loop tertutup yang dipotong oleh garis gaya magnet, pada ujung
belitan kawat akan timbul ggl induksi.
- Bentuk gelombang AC bisa berupa gelombang sinusioda, gelombang
kotak, gelombang pulsa dsb.
-
Gambar 3.6 : Rangkaian pembangkit
gelombang pulsa
Gambar 3.5 : Bentuk
gelombang AC
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 4
3.2. Prinsip Dasar Listrik AC

Arus listrik bolak balik (Alternating
Current, AC) dihasilkan oleh
pembangkit listrik AC, yaitu generator
AC. Sumber tegangan AC gambar-
3.7a dihubungkan dengan Voltmeter
dan Osiloskop untuk melihat bentuk
gelombang AC.

Listrik AC satu phasa memiliki bentuk
gelombang sinusoida gambar-3.7b
dalam satu siklus periode memiliki
nilai positif dan nilai negatif. Nilai
maksimum di hitung dari puncak ke
puncak.
Persamaan frekuensi listrik AC:


T
f
1
=

f
T
1
=
| | Hz
s
f 1
1
= =

f : frekuensi (Hz)
T : periode (detik)

1 Hertz = 1 Periode per detik
1 Kilohertz = 1 kHz = 1.000 Hz =
3
10 Hz
1 Megahertz = 1 MHz = 1.000.000 Hz =
6
10 Hz

Contoh: Frekuensi PLN diketahui f = 50 Hz, hitung besarnya periode ?

Jawaban :


s
s
Hz f
T
T
f 02 , 0
1
. 50
1
50
1 1
;
1
= = = = =
= 2 mili detik






- Listrik AC dihasilkan oleh sumber tegangan AC berupa generator AC atau
generator fungsi (funtion generator).
- Pada frekuensi 50 Hz, dalam satu detik terjadi perubahan siklus positif
negatif sebanyak 50 kali, dalam satu menit rotor akan berputar 3000 Rpm
Gambar 3.7 : Satu siklus
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-5
3.2.1. Prinsip Gelombang Sinusoida.


Menjelaskan terbentuknya gelombang sinusoida gambar-3.8a, dari sebuah
lingkaran dibagi menjadi 8 bagian dengan sudut 45
0
(360
0
/8). Satu putaran
lingkaran disebut satu periode T. Mulai dari sudut 0
0
(0/T); 45
0
(T/8);
90
0
(T/4); 135
0
(3T/8); 180
0
(T/2); 225
0
(5T/8); 270
0
(3T/4); 315
0
(7T/8) dan
360
0
(8T/8).


Gambar 3.8a : Pembentukan gelombang sinusoida.

Dari kuadran garis tegak dan garis lurus, dibagi juga menjadi delapan bagian
sama dengan membagi lingkaran, yaitu : 0
0
(0/T); 45
0
(T/8);
90
0
(T/4); 135
0
(3T/8); 180
0
(T/2); 225
0
(5T/8); 270
0
(3T/4); 315
0
(7T/8) dan
360
0
(8T/8).

Berikutnya memproyeksikan antara titik-titik sudut pada lingkaran dengan titik-
titk di garis kuadrant, misalnya titik sudut 45
0
dengan 45
0
, titik sudut 180
0
dengan 180
0
; titik sudut 170
0
dengan titik sudut 175
0
dan seterusnya sampai
sudut terakhir. Tarik garis lengkung dari sudut 0
0
; 45
0
; 90
0
; 135
0
; 180
0
; 225
0
;
270
0
; 315
0
dan 360
0
, hasilnya sebuah bentuk grafik sinusoida.

Gambar 3.8b : Proyeksi lingkaran ke garis kuadran.

t
e
g
a
n
g
a
n

Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 6
rad
rad
G
B
G B
t
o
o
o
t
o
2 .
360 360 2

= =

360 .
2 rad
B
G
t
o
o =
f
T t
B
. 2
2
t
t o
e = = =

d
B
(rad)
d
G
(gradien)
o kecepatan sudut (rad)
t waktu (detik)
T periode
f frekuensi



3.2.2. Frekuensi dan Panjang Gelombang

Frekuensi adalah jumlah periode
dalam satu detik. PLN memiliki
frekuensi 50 Hz, artinya dalam satu
detik memiliki 50 periode. Frekuensi
memiliki panjang gelombang
gambar-3.9 dengan satuan (meter).
Panjang gelombang dihitung
berdasarkan konstanta kecepatan
cahaya : 300.000 km/detik.




Persamaan panjang gelombang:


f
c
=
| | m
s
s
m
= =
1


: panjang gelombang (m)
c : konstanta kecepatan cahaya,
300.000 km/detik
f : frekuensi (Hz)

- Satu siklus/ periode terjadi dalam 360
0
atau 2 radian.
- Polaritas pada setiap setengah periode akan berbalik.
- Harga maksimum terjadi pada 90
0
dan 270
0
.
- Harga nol terjadi pada 0
0
dan 180
0
.
Gambar 3.9 Panjang gelombang
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-7
Contoh : Frekuensi radio FM 100 Mhz panjang gelombangnya sebesar :


f
c
= =
6
6
10 . 100
10 . 300
= 3 meter




3.2.3. Harga Sesaat

Gelombang sinusoida gambar-3.10 dibuat dalam bentuk diagram lingkaran dan
gelombang sinusoida. Diagram lingkaran terbagi menjadi delapan bagian yang
setiap segmen besarnya 45
0
(360
0
/8), yaitu dititk 0
0
, 45, 90
0
, 135
0
, 180
0
, 225
0
,
270
0
, 315
0
, 360
0
.

Gambar 3.10 Harga sesaat gelombang sinusoida

Dengan memutar lingkaran berlawanan jarum jam maka dapat dibuat
gelombang sinusoida yang memiliki dua sumbu, sumbu tegak dan sumbu
mendatar. Sumbu mendatar terbagi menjadi delapan titik, yaitu : 0
0
(0/T);
45
0
(T/8); 90
0
(T/4); 135
0
(3T/8); 180
0
(T/2); 225
0
(5T/8); 270
0
(3T/4); 315
0
(7T/8)
dan 360
0
(8T/8).







- Frekuensi adalah jumlah periode dalam satu detik. PLN memiliki
frekuensi 50 Hz, gelombang radio frekuensi orde Mega Hertz
- Panjang gelombang, dihitung berdasarkan kecepatan cahaya, 300.000
km/detik.
t
e
g
a
n
g
a
n

Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 8

Tabel 3.1 Harga Sesaat Tegangan Sinusoida

Derajat Sin Tegangan
0
0
0 0
45
0
0,707 0,707
90
0
1,00 1,00
135
0
0,707 0,707
180
0
0 0
225
0
-0,707 -0,707
270
0
-1,00 -1,00
315
0
-0,707 -0,707
360
0
0 0

Harga sesaat dari gelombang sinusoida untuk suatu sudut putaran dinyatakan :

( )
( ) t i i i
t u u u
. sin .

sin .

. sin . sin .
e o
e o
= =
= =


u,i harga sesaat tegangan, arus
, harga maksimum tegangan, arus
o kecepatan sudut (radian)
besarnya sudut


Contoh: Gelombang sinusoida bervariasi dari 0 hingga 100 Volt (maksimum).
Hitung besarnya tegangan sesaat pada sudut 30
0
, 45
0
,90
0
, 270
0
dari satu
periode ?

Jawaban : u = Um. sin(t) = Um sin = 100 sin

Pada sudut 30
0
= 100 sin 30
0
= 100. 0,5 = 50 Volt
45
0
= 100 sin 45
0
= 100. 0,707 = 70,7 Volt
90
0
= 100 sin 90
0
= 100. 1,0 = 100 Volt
270
0
= 100 sin 270
0
= 100. -1.0 = -100 Volt







- Satu siklus/periode terjadi dari 0
0
sampai 360
0
atau 2 radian
- Polaritas pada setiap setengah periode akan berbalik, dari positif menuju
ke negatif.
- Harga maksimum terjadi pada 90
0
dan 270
0

- Harga nol terjadi pada 0
0
dan 180
0

Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-9
3.2.4. Harga Rata-rata

Harga rata-rata dari tegangan atau arus bolak balik diperoleh dengan
menghitung rata-rata harga sesaat, didapat dengan menghitung dari setengah
periode saja.

Tabel 3.2 Harga rata-rata gelombang sinusoida

Interval Sudut Sin d
1 15
0
0,26
2 30
0
0,50
3 45
0
0,71
4 60
0
0,87
5 75
0
0,97
6 90
0
1,00
7 105
0
0,97
8 120
0
0,87
9 135
0
0,71
10 150
0
0,50
11 165
0
0,26
12 180
0
0,00
Jumlah 7,62
Harga rata-rata = 7,62/12 = 0,636

Persamaan harga rata-rata :
636 , 0 . Im
636 , 0 .
=
=

rata rata
rata rata
i
Um u


Contoh: Tegangan bolak balik memiliki tegangan maksimum 100 Volt. Hitung
besarnya tegangan rata-rata dalam satu periode ?

Jawaban :
u
rata-rata
= Um. 0,636 = 100 V x 0,636 = 63,6 Volt




3.2.5. Harga Efektif

Harga efektif gambar-3.11 dari suatu tegangan/ arus bolak balik (AC) adalah
sama dengan besarnya tegangan/arus searah (DC) pada suatu tahanan,
dimana keduanya menghasilkan panas yang sama. Tegangan PLN 220 V
merupakan tegangan efektif, bukan harga tegangan sesaat dan bukan pula
harga tegangan maksimum.

Harga rata-rata gelombang sinusoida, yaitu 0,636 harga maksimum
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 10
Gambar 3.11 : Prinsip harga efektif gelombang sinusoida


Gambar 3.12 :Nilai puncak, nilai efektif gelombang sinusoida.



R i p
R I P
I U P
p P
eff eff
eff eff eff
eff
.

.
.
. 5 , 0
2
2
=
=
=
=

2

.
2
1

. 5 , 0
Im . 5 , 0
. Im . 5 , 0 .
2 2
2 2
2 2
i
i i I
I
R R I
eff
eff
eff
= = =
=
=


Tabel 3.3 Harga efektif gelombang sinusoida

Interval Sudut Sin Sin
2

1 15
0
0,26 0,07
2 30
0
0,50 0,25
3 45
0
0,71 0,50
4 60
0
0,87 0,75
5 75
0
0,97 0,93
6 90
0
1,00 1,00
7 105
0
0,97 0,93
8 120
0
0,87 0,75
9 135
0
0,71 0,50
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-11
10 150
0
0,50 0,25
11 165
0
0,26 0,07
12 180
0
0,00 0,00
Jumlah 6,00
Harga efektif =
12
6
= 0,707

Untuk menghitung tegangan dan arus efektif pada gelombang sinusoida
gambar-3.12 diperoleh.

Um
Um
U U
eff
. 707 , 0
2
= = =

Im . 707 , 0
2
Im
= = =
eff
I I


U = U
eff
Tegangan efektif (V)
I = I
eff
Arus efektif (A)
Im Arus maksimum (A)
Um Tegangan maksimum (V)

Contoh : Tegangan bolak balik sebesar 24 V berbentuk gelombang sinusoida,
hitung besarnya tegangan maksimum, tegangan maksimum ke maksimum.

Jawaban :

a) V U Um 24 . 2 . 2 = = = 34 Volt
b) V Um m Um 34 . 2 . 2 = = = 68 Volt















- Harga efektif suatu tegangan/arus bolak balik adalah sama besarnya
dengan tegangan/arus DC pada suatu tahanan, akan menghasilkan
panas yang sama.
- Harga efektif gelombang sinusoida besarnya 0,707 dari harga
maksimum tegangan/arus
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 12
3.2.6. Tabel Rumus-rumus Tegangan Efektif.

Dalam tabel-3 dibuat tabel dari sepuluh jenis gelombang tegangan, untuk
menghitung tegangan efektif.

Tabel 3.4 Bentuk tegangan dan arus listrik AC.


3.3. Komponen Pasif Dalam Listrik AC

3.3.1. Resistor Dalam Tegangan AC

Untuk menjelaskan pergeseran phasa
gambar-3.13a sebuah sumber tegangan
bolak-balik G dirangkai dengan sebuah
Kapasitor C = 1 pF dan Resistor R = 100 C.
Dengan osiloskop dua kanal probe Y1 dan
probe Y2 disambungkan untuk melihat
bentuk gelombang pergeseran phasa.
Sumber tegangan bolak-balik diset sebesar
U, diujung tahanan R akan terukur drop
tegangan sebesar Uw.

Osiloskop dua kanal dengan probe Y1
untuk mengukur drop tegangan tahanan R
sebesar Uw dan probe Y2 untuk tegangan
U gambar-3.13b.
Gambar 3.13 : Rangkaian
resistor listrik AC
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-13

Ternyata tegangan di rangkaian sebesar U dan drop tegangan ditahanan R
sebesar Uw bergeser sudut phasanya sebesar = 45
0
. Kapasitor C
menyebabkan pergeseran phasa sebesar dengan tegangan Uw mendahului
(leading) terhadap tegangan U. Jika Kapasitor C diganti dengan induktor L,
yang terjadi adalah pergeseran phasa dimana drop tegangan di induktor
terbelakang (lagging) sebesar .




3.3.2. Kapasitor dalam Rangkian Listrik AC

Kapasitor memiliki sifat melewatkan
arus bolak balik. Function generator
diset frekuensi 1 Hz dihubungkan
dengan Voltmeter, Ampermeter dan
sebuah Kapasitor 10 pF. Tegangan
sumber U dan tegangan di ujung
Kapasitor U
C
akan dilalui arus sebesar
I
bC
gambar-3.14.

Besarnya reaktansi kapasitif XC :


C I
U
X
bC
C
.
1
e
= = (C)

| | F
V
As
C = =

| | O = =
V
As
s
X
C
.
1
1











Rangkaian Kapasitor dengan reaktansi X
C
diberikan sumber tegangan AC 50
Hz, maka akan mengalir arus sebesar I dan pada ujung Kapasitor akan terukur
F Satuan Kapasitor, (farad)
U
bC
Tegangan Kapasitor, (V)
I Arus, (A)
X
C
Reaktansi kapasitif, (C)
o Kecepatan sudut. (radian)
C Kapasitor
- Pergeseran phasa terjadi ketika tahanan R dirangkai seri dengan
kapasitor dan dipasang pada sumber tegangan bolak balik
- Kapasitor menyebabkan pergeseran phasa dimana tegangan drop di
kapasitor mendahului (leading) terhadap tegangan sumbernya.
- Induktor menyebabkan pergeseran phasa arus tertinggal (lagging)
terhadap tegangan sumbernya.
Gambar 3.14 : Kapasitor
pada sumber listrik AC
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 14
drop tegangan sebesar U
bC
gambar-3.15a. Diagram lingkaran dengan jari-jari
lingkaran luar drop tegangan U
bC
, dan jari-jari lingkaran dalam besarnya arus i
gambar-3.15b. Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor,
tampak bahwa arus i yang melewati Kapasitor mendahului (leading) terhadap
tegangan U
bC
sebesar 90
0
.

Gambar 3.15 :Gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor

Nilai reaktansi Kapasitor berbanding
terbalik dengan frekuensi (X
C
=1/2.n.f.C).
Artinya pada frekuensi rendah, nilai
reaktansi kapasitansi besar. Ketika
frekuensi dinaikkan, reaktansi kapasitansi
nilainya akan menurun gambar-3.16.


Nilai reaktansi Kapasitor berbanding terbalik
dengan kapasitansinya (X
C
= 1/ 2.n.f.C). Semakin besar nilai farad Kapasitor
maka reaktansinya makin kecil, sebaliknya makin kecil nilai faradnya makin
besar nilai reaktansi kapasitifnya.


I
U
X
C f C
X
bC
C C
= = = ;
. . 2
1
.
1
t e

| | O =
O
= =
s
s
A
V
X
C
.
1
1


Contoh : Kapasitor 1 F, dihubungkan dengan frekuensi 50 Hz. Hitung nilai
reaktansi kapasitifnya.

Jawaban :


O
= = =

s
s
C f C
X
C
6
10 . 1 .
1
50 . 2
1
. . 2
1
.
1
t
t e
= 3.185

Gambar 3.16 : Nilai
kapsitansi fungsi frekuensi
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-15



3.3.3. Induktor dalam Rangkaian Listrik AC

Bila sebuah kumparan yang induktansi-
nya L Henry dihubungkan dengan
sumber tegangan AC, maka kumparan
tersebut menghasilkan ggl lawan.
Inti induktor dapat dari bahan
ferromagnet, ferrit. Besaran reaktansi
induktor X
L
gambar-3.17, meningkat
berbanding lurus dengan kenaikan
frekuensi dan satuan reaktansi induktor
Ohm.

Rangkaian induktor X
L
dihubungkan sumber tegangan AC 50 Hz, pada ujung
induktor drop tegangan U
bL
gambar-3.18a. Diagram lingkaran memiliki dua
lingkaran, lingkaran luar dengan jari-jari arus i, lingkaran dalam dengan jari-jari
drop tegangan induktor U
bL,
antara arus dan tegangan beda phasa = 90
0

gambar-3.18b. Bentuk gelombang arus i dan drop tegangan induktor U
bL
, arus
i dijadikan referensi dari 0
0
sampai 360
0
. drop tegangan U
bL
mendahului arus i
sebesar = 90
0
gambar-3.18c.

Gambar 3.18 : Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Induktor

Persamaan induktor :


L f L
I
U
X
bL
L
. . . 2 . H = = = e

| | H
A
Vs
L = = | | O = =
A
Vs
s
X
L
.
1




- Reaktansi kapasitif (X
C
) perbanding terbalik dengan frekuensi
- Makin besar frekuensi nilai reaktansi kapasitif menurun, pada frekuensi
rendah nilai reaktansi kapasitif meningkat.
Gambar 3.17 : Nilai induktansi
fungsi frekuensi
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 16

UbL Drop tegangan (V)
I Arus efektif (A)
XL Reaktansi indutif (C)
o Kecepatan sudut (radian)
L Induktor (henry)
f Frekuensi (Hz)


Contoh : Induktor murni sebesar 10,8 H, dihubungkan dengan sumber
tegangan AC 340 sin 314t. Tentukan besarnya arus sesaat .

Jawaban :

L f L
I
U
X
bL
L
. . . 2 . H = = = e


U = Um sin ot = 340 sin 314t

o = 314 rad/detik

H L
I
U
X
bL
L
8 , 10 . 314 . = = = e
= 3400

Im =
L
X
Um
=
O 400 . 3
340V
= 0,1 A
Arus tertinggal sebesar 900 (/2 rad), jadi besarnya arus sesaat :

i = 0,1 sin (314t- /2) A




3.3.4. Beban Impedansi

Beban listrik dikenal tahanan R, Kapasitor
C atau induktor L. Beban Kapasitor dan
induktor jarang digunakan sendiri, yang
umum adalah tahanan R digabungkan
dengan Kapasitor C atau induktor L
gambar-3.19. Impedansi (Z) adalah
gabungan tahanan R dgn induktor L atau
gabungan R dengan Kapasitor C.

Persamaan impedansi

- Reaktansi Induktif (X
L
) perbanding lurus dengan frekuensi
- Makin besar frekuensi nilai reaktansi induktif meningkat, pada frekuensi
rendah nilai reaktansi induktif akan menurun.
- Drop tegangan induktor mendahului 90
0
terhadap arus
Gambar 3.19 :
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-17

I
U
Z =

| | O = =
A
V
Z


I
U
Z

Impedansi (C)
Tegangan efektif (V)
Arus efektif (A)

Contoh: Sumber tegangan bolak-balik 100 V, dirangkaikan dengan beban
impedansi Z dan menarik arus 80 mA. Hitung besarnya impedansi ?

Jawaban :

Besarnya impedansi
mA
V
I
U
Z
80
100
= =
= 1,25 k




3.4. Bilangan Komplek

Bilangan komplek adalah kumpulan titik yang dibentuk oleh bilangan nyata dan
bilangan khayal, dalam bidang komplek gambar-3.20. Sebuah bilangan
komplek dapat dituliskan dalam bentuk:

W = a + jb
a bilangan nyata
b bilangan khayal

Contoh :

Dalam bilangan komplek ada lima jenis operasi yang sering digunakan, yaitu
kesamaan, penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Misalkan diketahui dua bilangan komplek
P = a + jb
Q = c + jd

a. Kesamaan
Dua bilangan komplek adalah sama jika dan hanya jika bilangan nyata dan
bilangan khayalnya sama.
P = Q bila a = b dan c = d


b. Pengurangan
- Impedansi (Z) merupakan gabungan antara resistor R dengan komponen
induktor (X
L
) atau kapasitor (X
C
).
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 18
Penjumlahan dua bilangan komplek adalah dengan menjumlahkan masing-
masing bilangan nyata dan bilangan khayalnya.
P + Q = ( a + c) + j (c + d)

c. Pengurangan
Pengurangan dua bilangan komplek adalah dengan mengurangkan
masing-masing bilangan nyata dan bilangan khayalnya.
P - Q = ( a - c) + j (c - d)

d. Perkalian
Perkalian dua bilangan komplek dilakukan seperti perkalian aljabar biasa,
kemudian hasil kali yang sejenis dijumlahkan
P . Q = (a + jb). ( c + jd)
= ac + j
2
bd + jbc + jad
= (ac bd) + j (bc + ad)

e. Pembagian
Pembagian dua bilangan komplek dilakukan dengan menggunakan
komplek sekawan dari pembagi, dengan kata lain bilangan khayal pada
pembagi diusahakan hilang.


jd c
jb a
Q
P
+
+
= =
jd c
jd c
jd c
jb a

+
+
.

=
2 2
) ( ) (
d c
ad bc j bd ac
+
+ +


=
2 2 2 2
d c
ad bc
j
d c
bd ac

+
+
+
+


Bilangan komplek memiliki besaran dan arah sudut gambar-3.21.
W = a+ jb
= M.cos 0+ j M.sin 0
= M (cos 0+ j sin 0)

M Modulus harga sebenarnya bilangan komplek
0 Sudut arah dari bilangan komplek

Bila bilangan komplek dituliskan dalam bilangan Polar menjadi :

W = a+ jb
= M.(cos 0+ jsin 0)
= MZ 0



Dimana :
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-19
M =
2 2
b a +
0 = arc tg
a
b


Untuk penulisan dengan bilangan eksponensial menggunakan dasar theorema
Euler.

e
j0
= cos 0 + j sin 0
Jadi persamaan eksponensial menjadi :
W = a+ jb
= M.(cos 0+ jsin 0)
= MZ 0
= M. e
j0


Contoh : Sebuah impedansi dituliskan bilangan komplek Z = (5 + j4)O,
tuliskan dalam bentuk polar

Jawaban :
Z =
2 2
4 5 + = 41= 6,403
0 = arc tg
5
4
= 38,66
0

Z = (5 + j4)O
= MZ 0 = 6,403Z 38,66
0


Contoh :
Suatu besaran dinyatakan dalam tiga bilangan yang berbeda,yaitu besaran
polar, besaran komplek dan besaran eksponensial.
A = 20Z 53,1
0
, B = 3 j4 dan C = 10. e
-j2/9n

Hitunglah : a) A + B, b) A . B c) B C d) B/C e) B
2


Jawaban :

a) A + B = 20Z 53,1
0
+ (3 j4)
= 20 ( cos 53,1
0
+ j sin 53,1
0
) + (3 j4)
= 12 + j 16 + 3 j4
= 15 + j12

b) A . B = 20Z 53,1
0
. (3 j4)
= 20Z 53,1
0
. 5Z -53,13
0

= 100Z -0,03
0


c) B C = (3 j4) - 10. e
-j2/9n

= (3 j4) 10 (cos -j2/9n + j sin -j2/9n)
= 3 j4 7,66 + j 6,42
= -4,66 + j2,42

Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 20
d) B / C =
H

9
2
10
4 3
j
j
=
0
0
40 10
13 , 53 5
Z
Z
= 0,5Z-13,13
0


e) B
2
= (3 j4)
2
= (5Z-53,13
0
)
2
= 25Z-106,26
0





3.4.1. Impedansi dengan Bilangan Komplek

Impedansi dapat dituliskan dengan bilangan komplek, komponen Resistor
disebut sebagai bilangan nyata, beda phasa Resistor besarnya 0
0
. Komponen
induktor dinyatakan sebagai bilangan khayal +j karena memiliki sudut 90
0
, dan
Kapasitor dinyatakan sebagai j karena memiliki sudut -90
0
.

Z = R + jX
L
atau
Z = R - jX
C
Z =
R
X
arctg X R Z +
2 2
O

Contoh : Dua buah impedansi dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-
balik, yaitu Z1 = (2 +j4) dan Z2 = (4 j12). Hitung a) besarnya nilai impedansi
masing-masing b) jika keduanya dihubungkan seri hitung impedansi total c)
jika keduanya dihubungkan paralel hitung impedansi totalnya.

Jawaban :

Z =
R
X
arctg X R Z +
2 2

a) Z
1
= (2 +j4)O = 20 ) 16 4 ( ) 4 2 (
2 2
= + = + = 4,47
arc tg
R
X
= arc tg
2
4
= 63,44
0

Z
1
= 4,47Z63,44
0


Z
2
= (4 j12) = 160 ) 144 16 ( ) 12 4 (
2 2
= + = = 12,65
- Bilangan komplek terdiri dari bilangan nyata dan bilangan khayal
- Bilangan nyata dari komponen resistor, bilangan khayal dari komponen
induktor +j dan komponen kapasitor j.
- Dari bilangan komplek bisa ditransformasikan ke bilangan polar atau
bilangan eksponensial, atau sebaliknya.
- Sudut diperoleh dari arc tg X/R
- Bilangan polar memiliki besaran dan menyatakan sudut arah
- Bilangan eksponensial memiliki besaran dan eksponensial dengan
bilangan pangkat menyatakan arah sudut.
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-21
arc tg
R
X
= arc tg
4
12
= -71,57
0

Z
2
= 12,65Z-71,57
0


b). Impedansi Z1 seri dengan Z2, besarnya Zt = Z1+ Z2
Zt = (2 +j4) + (4 j12) = (6 j8) = 10Z-53,13
0


c). Impedansi Z1 paralel Z2, besarnya Zt = Z1//Z2
Zt =
2 1
2 . 1
Z Z
Z Z
+


Z1. Z2 = 4,47Z63,44
0
O . 12,65Z-71,57
0
O = 56,55Z-8,13
0

Z1 + Z2 = (2 +j4) + (4 j12) = (6 j8) O = 10Z-53,13
0


Zt =
2 1
2 . 1
Z Z
Z Z
+
=
0
0
13 , 53 10
13 , 8 55 , 56
Z
Z
= 5,655Z45
0





3.5. Rangkaian Resistor Seri Induktor dengan Listrik AC

Sumber tegangan bolak-balik dengan
frekuensi sinusoida dapat diatur dari 1
Hz, dirangkaiakan dengan Resistor R =
100 C dan induktor X
L
gambar-3.22.

Arus sebesar I akan mengalir melalui
Resistor R dan Induktor X
L
. Maka
terjadi drop tegangan di Resistor U
W

dan drop tegangan di induktor U
BL
, jika
kedua tegangan dijumlahkan sama
dengan tegangan sumber U gambar-
3.23.









- Impedansi (Z) merupakan gabungan antara resistor R dengan
- Bilangan komplek terdiri komponen nyata dan imajiner (R+jX)
- Komponen nyata adalah resistor, komponen imajiner +j untuk induktor
dan j untuk kapasitor. (R+jX
L
) atau (R-jX
C
)
- Bilangan komplek memiliki komponen besaran dan sudut
Gambar 3.22 : Resistor
seri Induktor listrik AC
Gambar 3.23 : Seri Resistor
dengan Induktor
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 22
Gambar 3.24 : Vektor
tegangan dengan skala


Drop tegangan Resistor U
W
digambarkan
dengan garis horizontal (arus sephasa dengan
tegangan pada Resistor R). Drop tegangan
pada induktor U
BL
berbeda sudut phasa 90
0

posisi mendahului (leading) terhadap U
W
.
Tegangan U merupakan jumlah vektor
tegangan U
W
dengan U
BL
gambar-3.24.

Cara menggambar segitiga tegangan lihat
langkah dari nomor 1 sampai nomor 6
gambar-3.25. Langkahnya sebagai berikut :
1. Buat skala tegangan 4V = 1 cm dan skala
arus 5mA = 1 cm.
2. Tarik garis arus sebagai referensi
3. Tarik garis drop tegangan Resistor U
W

4. Tarik garis drop tegangan induktor U
bL

sudut 90
0
dari U
W
, tarik garis paralel UbL
dari ujung garis U
W
.
5. Tarik garis miring antara titik 0 ke ujung
garis sejajar U
bL
, sebagai resultante
tegangan U
W
dan U
bL
.
6. Menghitung sudut .


R
X
Q
d
Q
X
R
d d
X
R
U
U
U
U
L
L
L bL
W
bL
W
= = = =
= = =
1
; tan
tan 90
o
o o





cos . cos
sin . sin
U U
U
U
U U
U
U
W
W
bL
bL
= =
= =


Beda sudut phasa
U Tegangan efektif (V)
I Arus efektif (A)
o Sudut (90
0
-)
U
W
Drop tegangan Resistor (V)
U
bl
Drop tegangan induktor (V)
R Resistor (C)
X
L
Reaktansi induktif (C)
d Ratio R/X
L

Q Ratio X
L
/R

Gambar 3.25 : Segitiga
tegangan Resistor seri
Induktor
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-23
Gambar 3.27 Sgitiga daya
Gambar 3.26 : Bentuk gelombang tegangan beban Resistor dan Induktor

Rangkaian Resistor R seri dengan induktor X
L
pada sumber tegangan AC,
pada Resistor terjadi drop tegangan U
W
dan pada ujung induktor drop tegangan
U
bL
gambar-3.26a. Diagram lingkaran memiliki tiga lingkaran, lingkaran terluar
menyataka tegangan sumber U, lingkaran tengah menyatakan drop tegangan
U
W
dan U
bL
, lingkaran dalam menyatakan besaran arus i gambar-3.26b.
Bentuk gelombang arus i dan drop tegangan Resistor UW dijadikan referensi,
tegangan sumber U mendahului terhadap arus i sebesar gambar-3.26c.




3.5.1. Segitiga Tegangan

Tegangan U
W
, U
BL
dan U membentuk
segitiga gambar-3.27, dengan sudut
antara tegangan U
W
dan U. Beban dengan
induktor X
L
di seri dengan Resistor R bila
dialiri arus AC, terjadi drop tegangan U
BL
dan
U
W
. Tegangan U merupakan penjumlahan
secara vektor tegangan U
W
dan U
BL
.

Tegangan U
W
sephasa dengan arus I, artinya
setiap beban Resistor memiliki sifat sephasa
antara tegangan dan arusnya. Sudut phasa
merupakan beda antara tegangan U dengan
arus I, selanjutnya dapat dilanjutkan
menghitung faktor kerja cos .


- Bilangan komplek terdiri komponen nyata dan imajiner (R+jX)
- Komponen nyata adalah resistor, komponen imajiner +j untuk induktor
dan j untuk kapasitor. (R+jX
L
) atau (R-jX
C
)
- Sudut diperoleh dari arc tg X/R
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 24
Beban induktor X
L
dan Resistor R
gambar-3.28a dapat membentuk
komponen segitiga. Komponen R
digambarkan horizontal, induktor X
L

berbeda 90
0
dari Resistor, hasilnya
adalah impedansi Z gambar-3.28b.






Impedansi dapat dihitung :

I
U
X
bL
L
=
I
U
R
W
=

2 2
L
X R
I
U
Z + = =
cos . Z R = sin . Z X
L
=

X
L
Reaktansi induktif (C)
Z Impedansi (C)
U
BL
Drop tegangan induktor (V)
U
W
Drop tegangan Resistor (V)
I Arus beban (A)
U Tegangan sumber (V)
Sudut beda phasa
Contoh : Rangkaian gambar-3.28a Resistor R = 1 kO, diberikan tegangan AC
24 V dipasang Ampermeter dan terukur 4,8 mA. Hitung besarnya impedansi Z,
besarnya induktor X
L
dan drop tegangan pada Resistor U
W
dan drop tegangan
induktor U
BL
?.

Jawaban :
a)
mA
V
I
U
Z
8 , 4
24
= = = 5.000 = 5k
b)
2 2 2 2 2 2 2
) 1000 ( ) 5000 ( O O = = = R Z X R Z X
L L
= 4.900
c) O = = 1000 . 8 , 4 . mA R I U
W
= 4,8V
O = = 4900 . 8 , 4 . mA X I U
L bL
= 23,5V




- Rangkaian seri Resistor dan Induktor dengan sumber listrik AC akan terjadi
drop tegangan pada masing-masing, dan terjadi pergeseran phasa kedua
tegangan sebesar 90
0
.
- Ada pergeseran sudut phasa antara tegangan dan arus sebesar
Gambar 3.28: Segitiga
impedansi
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-25
Gambar 3.29 : Resistor parallel
Induktor
3.5.2. Rangkaian Resistor Paralel Induktor listrik AC

Komponen Resistor R diparalel dengan
induktor XL, diberikan sumber tegangan
AC sinusoida gambar-3.29. Berlaku hukum
arus Kirchhoff, jumlah arus yang masuk I
sama dengan jumlah arus yang keluar I
W

dan I
BL
.


Arus melewati Resistor I
W
digambarkan garis
horizontal, arus yang melewati induktor I
BL

berbeda sudut phasa 90
0
. Arus total I
merupakan penjumlahan vektor arus
Resistor I
W
dan arus indukstor I
BL
gambar-
3.30. Perbedaan sudut phasa antara arus
Resistor I
W
dan arus total I sebesar .

Arus I
W
yang mengalir ke Resistor R
digambar sephasa dengan tegangan
sumber U.


2 2
bL W
I I I + =

2 2
L
B G Y + =

Admitansi dengan simbol (Y) merupakan
kebalikan dari impedansi (Z), memiliki dua
komponen lainnya, yaitu Konduktansi (G)
dan Suseptansi (B) yang merupakan
bilangan komplek.

Z
Y
1
=

R
G
1
=

L
L
X
B
1
=

I Arus total (A)
I
W
Arus cabang Resistor (A)
I
bL
Arus cabang induktor (A)
Y Admitansi (mho, C
-1
)
G Konduktansi (mho, C
-1
)
B
L
Suseptansi (mho, C
-1
)
Z Impedansi (C)
R Resistor (C)
X
L
Reaktansi induktif (C)

Rangkaian paralel Resistor dan indukstor diberikan tegangan AC, mengalir dua
cabang arus yang lewat induktor I
bL
dan yang melewati Resistor I
W
gambar -
3.32a. Diagram lingkaran memiliki tiga jari-jari lingkaran berbeda, jari-jari terluar
Gambar 3.30 : Segitiga arus
Gambar 3.31: Segitiga
konduktansi, suseptansi
dan admitansi
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 26
Gambar 3.33 : Segitiga Daya
Aktif, Reaktif dan Semu
menyatakan arus total I, jari-jari lingkaran tengah menyatakan arus Resistor I
W
,
dan jari-jari lingkaran terdalam sumber tegangan U gambar-3.32b. Grafik
tegangan sinusodal memperlihatkan gelombang tegangan sumber U dengan
arus total I berbeda sudut phasa . Tegangan U sephasa dengan arus
Resistor I
W
, dengan arus induktor I
BL
berbeda 90
0
.



Gambar 3.32 : Bentuk arus beban Resistor parallel Induktor





3.5.3. Daya Listrik AC

Dalam listrik AC ada tiga jenis daya,
khususnya untuk beban yang memiliki
impedansi (Z) gambar-3.33:
- Daya semu (S, VA, Volt Amper)
- Daya aktif (P, W, Watt)
- Daya reaktif (Q
L
, VAR, Volt Amper Reaktif)



Dalam arus searah tidak dikenal daya semu
dan daya reaktif, yang ada hanya daya saja.

R V R I I U P / . .
2 2
= = = (watt)





Beban impedansi arus bolak balik memiliki tiga jenis daya, yaitu daya semu
satuan Volt-amper, daya aktif dengan satuan Watt, dan daya reaktif dengan
satuan Volt-amper-reaktif.
Rangkaian paralel resistor dan induktor dengan sumber tegangan AC
menghasilkan cabang arus resistor I
W
sebagai referensi, arus cabang
induktor berbeda sudut phasa sebesar 90
0
terhadap arus I
W
, arus total
merupakan penjumlahan arus cabang resistor dan arus cabang induktor.
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-27
3.5.4. Daya Aktif

Untuk rangkaian listrik AC, bentuk
gelombang tegangan dan arus sinusoida,
besarnya daya setiap saat tidak sama.
Maka daya merupakan daya rata-rata
diukur dengan satuan Watt dan diukur
dengan alat ukur Wattmeter gambar-
3.34.




Beban Resistor R grafik tegangan U dengan arus I sephasa gambar-3.35
dimana perbedaan sudut phasanya 0
0
, faktor kerja cos d = 1. sehingga besar-
nya daya sesaat adalah p = u. i yang keduanya bernilai positif.

Pada beban resistif, dimana tidak mengandung induktor grafik gelombang
tegangan U dan arus sephasa, sehingga besarnya daya sebagai perkalian
tegangan dan arus menghasilkan dua gelombang yang keduanya bernilai
positif. Besarnya daya aktif adalah P (periksa gambar-3.35). Sisa puncaknya
dibagi dua untuk mengisi celah-celah kosong sehingga kedua rongga terisi oleh
dua puncak yang mengisinya.

Gambar 3.35 : Daya diklep beban resistif

Persamaan daya aktif (P) beban resistif :

I U I U i u p P . . 2 . . 2 .
2
1

. .
2
1
.
2
1
= = = =

I U
u i p
P
,
,

,

Daya (watt)

Harga maksimum, daya, arus dan tegangan
Harga efektif : tegangan dan arus

Gambar 3.34 : Pengukuran
daya dengan wattmeter
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 28
Pada beban impedansi, dimana disamping mengandung Resistor juga terdapat
komponen induktor. Gelombang tegangan mendahului gelombang arus
sebesar = 60
0
gambar-3.36. Perkalian gelombang tegangan dan gelombang
arus menghasilkan dua puncak positif yang besar dan dua puncak negatif yang
kecil. Pergeseran sudut phasa tergantung seberapa besar komponen
induktornya.

Gambar 3.36 : Daya aktif beban impedansi


Persamaan daya aktif pada beban induktif :

P = U. I. cos

Contoh : Lampu TL dipasang pada tegangan 220 V dan menarik arus 0,5 A
dan faktor kerja besarnya 0,6. Hitunglah daya aktifnya.

Jawaban :

P = U. I. cos = 220V. 0,5A. 0,6 = 66 Watt


Apa yang terjadi jika beda sudut phasa antara tegangan dengan arus = 90
0
?.
Penjelasan fenomena ini gambar-3.37 ketika tegangan dan arus beda sudut
phasa 90
0
. Daya aktifnya sebagai perkalian tegangan dan arus hasilnya sama
antara daya sisi negatif dan daya positifnya, dengan kata lain dayanya sama
dengan nol.
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-29
Gambar 3.37 : Daya aktif beban induktif




3.5.5. Daya Semu

Mengukur daya aktif beban
impedansi (Resistor R seri dan
induktor X
L
) dilakukan dengan
Wattmeter gambar-3.38. Daya
semu merupakan perkalian
tegangan dengan arus, satuan VA
(Volt-Amper). Tegangan di ukur
dengan Voltmeter, arus diukur
dengan Ampermeter.

I U S . = | |
1
. VA A V S = =







S Daya semu (VA, volt-amper)
U Tegangan efektif (V)
I Arus efektif (A)
- Daya aktif dinyatakan dengan satuan watt, pada beban resistif daya aktif
merupakan daya nyata yang diubah menjadi panas.
- Pada beban impedansi daya nyata hasil kali tegangan dan arus dan faktor
kerja (cos ).
- Pada beban dimana pergeseran phasa tegangan dan arus sebesar 90
0
,
maka daya aktif akan menjadi nol
Daya semu dinyatakan dengan satuan Volt-Amper, menyatakan kapasitas
peralatan listrik. Pada peralatan generator dan Transformator kapasitas
dinyatakan dengan daya semu atau KVA.
Gambar 3.38: Pengukuran
arus, tegangan, dan wattmeter
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 30
3.5.6. Segitiga Daya Beban Induktif

Beban induktif dapat digambarkan dengan dua kondisi, yaitu Resistor R seri
dengan induktor X
L
dan Resistor R paralel dengan induktor X
L
. Sumber
tegangan AC dengan beban Resistor seri induktor gambar-3.39a mengalir arus I.

Gambar 3.39 : Rangkaian R Seri dan Segitiga Daya

Pada Resistor terjadi drop tegangan U
W
dan drop tegangan induktor U
BL
. Daya
yang terjadi pada rangkaian gambar-3.39b, yaitu daya semu, daya aktif dan
daya reaktif.

I U S . = (VA, volt-amper)
I U P
W
. = (W, watt)
I U Q
bL L
. = (VAR, volt-amper-reaktif)

Beban induktif bisa juga terjadi dimana Resistor R terhubung secara paralel
dengan induktor X
L
gambar-3.40a. Arus yang mengalir melewati Resistor
sebesar I
W
dan arus cabang melewati induktor I
BL
. Daya yang terjadi pada
rangkaian tersebut mencakup kita sebut segitiga daya mencakup daya semu,
daya aktif dan daya reaktif gambar-3.40b.

Gambar 3.40 : Rangkaian R Paralel dan Segitiga Daya

Daya aktif P dengan garis horizontal, daya reaktif Q berbeda sudut 90
0
, daya
semu penjumlahan aljabar P dan Q. Sudut d antara P dan S merupakan faktor
kerja.


2 2 2 2 2
L L
Q P S Q P S + = + =
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-31
I U S . = (VA)
cos . cos S P
S
P
= =
cos . .I U P = (W)
sin . sin S Q
S
Q
L
L
= = sin . .I U Q
L
= (VAR)

P
Q
L
= tan tan . P Q
L
=

S Daya semu
P Daya aktif

L
Q Daya reaktif
Faktor kerja

Contoh: Beban induktif dihubungkan dengan tegangan AC 24 V, menarik arus
2,5 A dan terukur faktor kerja 0,9. Hitung Daya semu, daya aktif dan daya
reaktif.

Jawaban :
A V I U S 5 , 2 . 24 . = = = 60 VA
9 , 0 . 60 cos . VA S P = = = 54 W
2 2 2 2 2 2
54 ) ( 60 W VA P S Q
L
= = = 26,15 VAR
= 9 , 0 cos = 25,84
0
.



3.5.7. Faktor Kerja

Impedansi mengandung komponen resistansi
R dan induktor XL. Dari kedua komponen
tersebut menyebabkan antara tegangan dan
arus terjadi pergeseran sudut phasa. Faktor
kerja adalah konstanta dari nilai cosinus dari
sudut pergeseran phasa gambar-3.41. Nilai
faktor kerja berkisar 0,0 sampai 1.0.

Beban induktif mesin las memiliki faktor kerja
rendah 0,3 s/d 0,5. Lampu TL memiliki faktor
kerja 0,5 sd 0,7. Motor listrik dan
transformator memiliki faktor kerja 0,8 sampai
Segitiga daya menyatakan komponen daya aktif (P), daya reaktif (Q) dan
daya semu (S). Resistor seri induktor diberi tegangan AC, berbeda dalam
menggambarkan segitiga daya dengan beban resistor parale dengan
induktor.
Gambar 3.41 :
Diagram Faktor Kerja
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 32
0,9. Sedangkan lampu pijar memiliki faktor kerja 1,0.

Makin rendah faktor kerja berakibat daya reaktifnya makin membesar,
sebaliknya makin besar nilai faktor kerja daya reaktif menuju nol.

Persamaan faktor kerja adalah:


S
P
= cos

S
Q
L
= sin










Contoh : Sekelompok lampu pijar dengan tegangan 220V/58 W, digabungkan
dengan beberapa lampu TL 11 W, ada 20 buah lampu pijar dan lampu TL.
Faktor kerja terukur sebesar cos d
1
= 0,5. Hitunglah daya semu dari beban dan
besarnya arus I
1
sebelum kompensasi, Jika diinginkan faktor kerja menjadi cos
d
2
=0,9 hitung besarnya arus I
2
(setelah kompensasi) gambar-35.

Jawaban :

a) Besarnya daya lampu gabungan
W W P 11 58
1
+ = = 69 W
W P
G
69 20 = = 1.380 W = 1,38 kW

5 , 0
38 , 1
cos
cos
1
1
1
1
kW P
S
S
P
G G
= = =

= 2.760 VA = 2,76 kVA



V
VA
U
S
I
220
2760
1
1
= = = 12,54 A (sebelum kompensasi)

b)
9 , 0
38 , 1
cos
2
2
kW P
S
G
= =

= 1,53 kVA

V
VA
U
S
I
220
1530
2
2
= = = 6,95 A (setelah kompensasi)





L
Q
S
P

sin
cos

Faktor kerja
Daya aktif (W)
Daya semu (VA)
Faktor reaktif
Daya reaktif induktif (VAR)
Faktor kerja menggambarkan sudut phasa antara daya aktif dan daya semu.
Faktor kerja yang rendah merugikan mengakibatkan arus beban tinggi.
Perbaikan faktor kerja menggunakan kapasitor.
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-33
3.6. Rangkaian Resistor Seri dengan Kapasitor

Resistor yang dihubungkan seri dengan Kapasitor akan menjadi beban
impedansi, mengandung komponen Resistor R dan komponen kapasitif X
C
.
Sumber tegangan AC yang dihubungkan seri R dan X
C
akan mengalirkan arus I,
pada Resistor terjadi drop tegangan U
W
dan drop tegangan di Kapasitor U
BC

gambar-3.42.

Tegangan U
W
posisi horizontal, tegangan U
BC
dengan sudut 90
0
tegak lurus,
tegangan sumber U merupakan jumlah vektor tegangan U
W
dengan U
BC
.
Resistor R diposisikan datar, reaktansi X
C
dengan sudut 90
0
tegak lurus,
impedansi Z merupakan jumlah vektor R dengan X
C.
Daya aktif P posisi datar,
daya reaktif Q tegak sudut 90
0
dan daya semu S merupakan penjumlahan
vektor P dengan Q.



2 2 2
bC W
U U U + =
2 2
bC W
U U U + =

2 2 2
C
X R Z + =
2 2
C
X R Z + =
| | O = Z


2 2 2
C
Q P S + =
2 2
C
Q P S + =
| | VA S =

X
C
Reaktansi kapasitif (C)
U
BC
Drop tegangan Kapasitor (V)
I Arus (A)
f Frekuensi (Hz)
C Kapasitor (F)
o Kecepatan sudut (Rad)
U Tegangan sumber (V)
U
W
Drop tegangan Resistor (V)
Z Impedansi (C)
R Resistor (C)
S Daya semu (VA)
P Daya aktif (W)
Q
C
Daya reaktif (VAR)




Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 34




Contoh : Kapasitor memiliki reaktansi X
C
= 35 C, dirangkai seri dengan
Resistor R = 25 C. Hitung besarnya impedansi.

Jawaban :

2 2 2 2 2 2 2
) 35 ( ) 25 ( O + O = + = + =
C C
X R Z X R Z = 43




3.6.1. Rangkaian Resistor Paralel Kapasitor

Kapasitor X
C
dan Resistor R dalam rangkaian
paralel, dihubungkan dengan sumber tegangan
AC 50Hz gambar-3.43a. Menghasil kan arus
cabang Kapasitor I
BC
dan arus cabang melewati
Resistor I
W
. Arus total I merupakan jumlah
vektor I
BC
dengan I
W
.

Persamaan arus Kapasitor

2 2 2
bC W
I I I + =

2 2
bC W
I I I + =
cos . I I
W
=
sin I I
bC
=

W
bC
I
I
= tan
I Arus (A)
I
W
Arus cabang Resistor (A)
I
bC
Arus cabang Kapasitor (A)
Sudut phasa
Resistor seri kapasitor menyebabkan arus akan mendahului (leading)
tegangan sumber.
Gambar 3.42 : Resistor seri kapasitor
Gambar 3.43 : Rangkaian Resistor
paralel kapasitor
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-35
Jika impedansi Z memiliki sifat menghambat
arus, kebalikannya adalah admitansi Y
memiliki sifat menghantarkan arus. Resistor R
memiliki sifat menghambat arus, kebalikannya
adalah konduktansi G. Reaktansi X
C

kebalikannya adalah suseptansi B
C
. Hubungan
konduktansi G, suseptansi B
C
dan admitansi Y
digambarkan sebagai segitiga dengan sudut
gambar-3.44. Segitiga daya aktif P, daya
reaktif Q
C
dan daya semu S memiliki sudut
faktor daya sebesar .


2 2
C
B G Y + =
2 2
C
Q P S + =

Y
B
Y
G
C
sin ; cos =
S
Q
S
P
C
= = sin ; cos

Z U
I
Y
1
= = I U S . =

R U
I
G
W
1
= =
W
I U P . =

C
bC
C
X U
I
B
1
= =

bC C
I U Q . =

Y Admitansi (mho, C
-1
) I
BC
Arus cabang Kapasitor (A)
G Konduktansi (mho, C
-1
) X
C
Reaktansi kapasitif (C)
B
C
Suseptansi (mho, C
-1
) f Frekuensi (Hz)
I Arus (A) C Kapasitor (F)
U Tegangan (V) P Daya aktif (W)
Z Impedansi (C) Q
C
Daya reaktif (VAR)
I
W
Arus cabang Resistor (A)
R Resistor (C)











Rangkaian resistor paralel kapasitor, memiliki dua cabang arus. Pertama
cabang arus resistor menjadi referensi dan kedua cabang arus kapasitor
mendahului tegangan sebesar 90
0
. Arus total sebagai penjumlahan vektor
cabang arus resistor dan cabang arus kapasitor.
Gambar 3.44 : Segitiga
Admitansi
Gambar 3.45: Segitiga
Daya
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 36
3.6.2. Rangkaian Resistor Seri Induktor dan Kapasitor

Rangkaian seri Resistor R, induktor X
L
dan Kapasitor X
C
dengan sumber
tegangan AC gambar-3.46a. Arus yang mengalir ke rangkaian sebesar I,
menyebabkan drop tegangan di Resistor U
W
, drop tegangan di induktor U
BL
dan
drop tegangan di Kapasitor U
BC
. Dalam kondisi ini drop tegangan U
BL
> U
BC.


Diagram vektor gambar-3.46b tegangan U
W
mendatar, sedangkan tegangan
U
BL
tegak lurus dari U
W
arahnya keatas, sedangkan U
BC
arahnya kebawah dari
ujung U
BL
. Karena arah tegangan berbeda, dicari selisih tegangannya sebesar
(U
BL
- U
BC
). Hasilnya tegangan U merupakan penjumlahan vektor tegangan U
W

dengan tegangan (U
BL
- U
BC
).

U =U
W
2
+ (U
bL
U
bC
)
2

U =
2 2
) (
bC bL w
U U U + +

U Tegangan (V)
U
w
Drop tegangan Resistor (V)
U
bL
Drop tegangan induktor (V)
U
bC
Drop tegangan Kapasitor
(V)


Gambar 3.46 : Rangkaian Seri R, L, C dan Diagram Vektor Tegangan


Contoh : Rangkaian seri R, XL dan XC terukur tegangan drop U
w
=10 V,U
bL
=
20 V, U
bC
= 10 V Hitunglah besarnya tegangan suply U ?

Jawaban :
U =
2 2
) (
bC bL
U U Uw +
U =
2 2
) 10 20 ( 10 +
2
U = 100 100+ = 14,1 V
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-37

Resistor seri induktor dan Kapasitor gambar-3.47 memunculkan dua
kemungkinan ditinjau dari nilai reaktansi, yaitu :
- Kondisi X
L
> X
C

- Kondisi X
C
> X
L

Gambar 3.47 : Segitiga Impedansi Induktif dan Kapasitif


Kondisi ketika X
L
> X
C
, artinya rangkaian memiliki sifat lebih induktif, hasilnya
tegangan akan mendahului (lagging) arus dengan sudut phasa . Arah vektor
(X
L
-X
C
) keatas terhadap R.

Ketika X
C
> X
L
, artinya rangkaian bersifat kapasitif, yang terjadi adalah arus
akan mendahului (leading) terhadap tegangan dengan sudut phasa . Arah
vektor (X
C
-X
L
) kebawah terhadap R.

Persamaan impedansi :

Z = R + (X
L
+ X
C
)

Z =
2 2
) (
C L
X X R + +
Z =
I
U



Contoh : Rangkaian seri R= 300D, induktor L = 2H, dan Kapasitor C = 6F,
dihubungkan dengan sumber tegangan AC, frekuensi = 50 Hz. Hitung
besarnya impedansi Z ?

Jawaban :

X
L
= o . L = 2..50.2 = 628
Z Impedansi (D)
R Resistor (D)
X
L
Reaktansi induktif (D)
X
C
Reaktansi kapasitif (D)
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 38
X
c
=
C .
1
e
=
O

s
s
. 10 . 6 .
1
50 . . 2
1
6
t
= O
1885
10
6
= 531
X

= (X
L
X
C
) = 628 D - 531 D = 97
Z =
2 2
X R + =
2
2 2 2
97 300 O + O =
2
99409O = 315


3.6.3. Paralel R, L, C

Rangkaian paralel Resistor R, induktor X
L
dan Kapasitor X
C
, dihubungkan
dengan sumber tegangan AC gambar-3.48a. Ada tiga cabang arus, yaitu I
BC

lewat Kapasitor, I
BL
melewati induktor dan I
W
melewati Resistor. Arus total I
adalah penjumlahan vektor ketiga arus cabang (I
BC
+ I
BL
+I
W
)

Gambar vektor arus total dan masing-masing arus cabang gambar-3.48b, arus
cabang I
W
melewati R sebagai referensi. Tampak arus cabang induktor I
BL
lebih
besar dibandingkan arus cabang Kapasitor I
BC
. Arus cabang I
BL
dan I
BC
memiliki
arah berbeda, maka keduanya diselisihkan (I
BL
-I
BC
).

Persamaan arus total :


2 2 2
) (
bC bL w
I I I I + + =
I =
2 2
) (
bC bL w
I I I +

I Arus total (A)
I
W
Arus cabang Resistor (A)
I
BC
Arus cabang Kapasitor (A)
I
BL
Arus cabang induktor (A)


Gambar 3.48 : Rangkaian Paralel R, L, C dan diagram vektor arus


Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-39
Contoh : Rangkaian paralel dari reaktansi induktor X
L
=1.000 D, reaktansi
Kapasitor X
C
= 1.200 D, Resistor R=1.500 D, dihubungkan dengan sumber
tegangan AC 100 V. Hitunglah besarnya arus cabang, dan besar arus total.



Jawaban :

I
w
=
O
=
1500
100V
R
U
= 0,067 A
I
bC
=
O
=
1200
100V
X
U
C
= 0,0833 A
I
bL
=
O
=
1000
100V
X
U
L
= 0,1 A
I =
2 2
) (
bC bL w
I I I + =
2
2
) 0833 , 0 1 , 0 ( ) 067 , 0 ( A A A +
I =
2
00478 , 0 A = 0,0691 A = 69,1 mA


Dalam hubungan paralel Resistor, induktor dan Kapasitor ada dua kondisi yang
terjadi :
- Kondisi ketika I
BL
> I
BC

- Kondisi ketika I
BC
> I
BL


Ketika I
BL
> I
BC
dijelaskan pada gambar 3.48b diatas. Vektor arus I
BL
arahnya
kebawah lebih besar dari pada arus I
BC
. Sehingga selisih arus cabang (I
BL
- I
BC
)
arahnya tetap kebawah. Beda sudut phasa antara I dengan I
W
sebesar .

Kejadian I
BC
> I
BL
vektor arus total tetap sebagai referensi, arus cabang I
BC

arahnya dominan keatas, arus cabang I
BL
arahnya kebawah gambar-3.49a.
Selisih arus cabang (I
BC
- I
BL
) arahnya tetap keatas. Beda sudut phasa antara I
dengan I
W
sebesar .

Penjelasan dapat didekati dengan komponen konduktansi G, suseptansi B dan
admitansi Y gambar-3.49b. Ketika B
C
> B
L
, komponen B
C
arah vektornya
keatas, komponen B
L
arah vektornya kebawah. Selisih kedua vektor (B
C
- B
L
)
arahnya keatas. Sudut phasa menyatakan pergeseran antara Y dengan G.

Persamaan admitansi Y :

+ + =
2 2
) (
L C
B B G Y

2 2
) (
L C
B B G Y + + =
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 40

Z
Y
1
= | | s Y =
O
=
1


Y Admitansi (mho, D
-1
)
G Konduktansi (mho, D
-1
)
B
C
Suseptansi kapasitif (mho, D
-1
)
B
L
Suseptansi induktif (mho, D
-1
)
Z Impedansi (D)


Gambar 3.49 : Vektor Arus dan Vektor Konduktansi


3.7. Resonansi

Resonansi adalah kondisi ketika dua frekuensi yang sama saling bergetar.
Sebuah induktor dari 600 gulungan kawat pada inti U-I, dirangkaiakan dengan
Kapasitor 8,2F. Dihubungkan dengan sumber tegangan AC tegangan 25 V
frekuensi 50 Hz gambar-3.50. Dengan menggeserkan inti besi I kekiri-kanan,
terjadi perubahan penunjukan arus A, tegangan U
BL
dan U
BC
. Ketika tegangan
U
BL
= U
BC
, terjadi penunjukan arus maksimum, saat itulah terjadi resonansi.

Gambar 3.50 :Rangkaian Resonansi LC


Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-41
Rangkaian seri Resistor R, Kapasitor L dan Kapasitor C gambar-3.51, akan
terjadi tiga kemungkinan. Pertama ketika reaktansi X
L
<X
C
, yang terjadi
tegangan U
BC
>U
BL
. Kedua ketika reaktansi X
L
=X
C
, tegangan U
BC
=U
BL
,
penunjukan ampermeter maksimum. Ketiga ketika kondisi X
L
>X
C
, tegangan
U
BL
>U
BC,
kondisi sama kejadian pertama gambar-3.52.

Gambar 3.51 :Rangkaian Resonansi LC

Persamaan kondisi resonansi :

=
C L
X X
=
C
L
r
r
.
1
.
e
e


=
C L
r
.
1
2
e

C L
r
.
1
= e

=
C L
f
r
.
1
. 2t

C L
f
r
. . 2
1
t
=


C L
f
r
. . 2
1
t
=

| | Hz
s
V A
As Vs
f
r
= = =
1
.
.
1






Fr Frekuensi resonansi (Hz)
L Induktor (Henry)
C Kapasitor (Farad)
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 42
Gambar 3.52 : Vektor Diagram Arus

Rangkaian resonansi Resistor seri induktor dan Kapasitor terjadi tiga kondisi
gambar-3.53. Pertama kondisi dimana reaktansi X
C
>X
L
, drop tegangan
U
BC
>U
BL
, rangkaian lebih kapasitif, Kedua ketika reaktansi X
L
=X
C
, keduanya
saling meniadakan, besarnya arus maksimum, beban hanya Resistor saja.
Ketiga ketika reaktansi X
L
>X
C
, drop tegangan U
BL
>U
BC
, rangkain lebih induktif.
Grafik arus berbentuk puncak saat terjadi frekuensi resonansi di titik f
r
.
Impedansi berbentuk lengkung kebawah, harga minimum terjadi dititik frekuensi
resonansi f
r
.

Gambar 3.53 : Diagram Arus Saat Resonansi

Kapasitor C=8,2pF diparalel dengan induktor L terdiri 600 gulungan kawat
dengan inti U-I. Dihubungkan sumber tegangan autotrafo 25 V frekuensi 50 Hz
gambar 3.54.
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-43
Gambar 3.54 : Rangkaian Resonansi C, L

Rangkaian praktek dapat disederhanakan menjadi rangkaian Kapasitor C
paralel Resistor Rp dan induktor L gambar-3.55. Arus cabang I
BC
ke Kapasitor,
I
W
ke Resistor dan I
BL
ke induktor.

Resonasi terjadi pada frekuensi tertentu dimana reaktansi X
L
=X
C
. Saat itu arus
I
BL
=I
BC
, arus total I sama dengan I
W
gambar-3.55

Gambar 3.54 : Penyederhanaan rangkaian


Persamaan frekuensi resonansi :

=
C L
X X =
C
L
r
r
.
1
.
e
e
=
C L
r
.
1
2
e
C L
r
.
1
= e


=
C L
f
r
.
1
. 2t


C L
f
r
. . 2
1
t
=



Fr Frekuensi resonansi (Hz)
L Induktor (Henry)
C Kapasitor (Farad)
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 44

Rangkaian resonansi paralel Resistor, induktor dan Kapasitor terjadi tiga
kondisi gambar-3.56. Pertama kondisi dimana reaktansi X
C
>X
L
, arus cabang
I
BL
>I
BC
, rangkaian lebih induktif. Kedua ketika reaktansi X
L
=X
C
, arus cabang
I
BL
=I
BC
saling meniadakan, besarnya arus maksimum, beban hanya Resistor
saja. Ketiga ketika reaktansi X
L
>X
C
, arus cabang I
BC
>I
BL
, rangkaian lebih
kapasitif. Grafik impedansi Z berbentuk puncak saat terjadi frekuensi resonansi
di titik f
r
. Arus total I berbentuk lengkung kebawah, harga minimum terjadi dititik
frekuensi resonansi f
r
.

Gambar 3.55 : Diagram Arus Resonansi

Contoh: Induktor L= 1H dirangkai paralel dengan Kapasitor C = 22 nF.
Hitunglah a) besarnya frekuensi resonansi. b). jika frekuensi ditetapkan 50 Hz,
induktor L= 1H, hitung besarnya nilai Kapasitor agar terjadi kondisi resonansi ?

Jawaban :
a).
C L
f
r
. . 2
1
t
= = =
nF H 22 . 1 . 2
1
t

=
O O

/ 10 . 22 . 1 . 2
1
9
s s t
= 1.037 Hz
b). =
C L
r
.
1
2
e C =
L f L
r
. ) . 2 (
1
.
1
2 2
t e
=
=
s
s
O . 1 . )
1
50 . 2 (
1
2
t
= 10,1 F








Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-45
3.8. Sistem Listrik Tiga Fasa

3.8.1. Generator Listrik Tiga Phasa

Prinsip dasar pembangkitan listrik
berdasarkan hukum tangan kanan Fleming.
Penghantar berada ditelapak tangan kanan
yang membuka, ditembus oleh medan
magnet 4 dari kutub magnet utara-selatan,
kawat digerakkan kearah ibu jari, maka
akan timbul arus listrik yang searah dengan
keempat jari gambar-3.57

Secara praktis sebatang kawat dikedua
ujung digantung dengan kawat fleksibel,
ditempatkan diantara kutub magnet utara-
selatan gambar-3.58. Kawat dianyunkan
searah anak panah, keluar masuk,
sehingga batang kawat dipotong oleh fluk
magnet 4. Diujung penghantar dipasang
pengukur tegangan listrik, jarum voltmeter
akan menunjuk kan ke kanan dan kekiri.
Prinsip ini dasar pembangkitan listrik AC.

Besarnya tegangan induksi :

ui = B.l.v. Z (Volt)

ui Tegangan induksi (V)
B Fluk magnet
l Panjang penghantar (m)
v Kecepatan (m/det)
Z Jumlah penghantar

Generator adalah alat yang mengubah
energi mekanik menjadi energi listrik.
Konstruksi generator tiga phasa gambar-
3.59 terdiri stator dan rotor. Stator adalah
bagian generator yang diam, diantaranya
badan generator, belitan stator, sikat arang,
terminal box.

Rotor merupakan bagian generator yang bergerak, terdiri kutub rotor, slipring.
Belitan stator terdiri dari tiga phasa, belitan phasa U, belitan phasa V dan
phasa W. Ujung-ujung belitan diberikan notasi U1-U2, V1-V2 dan W1-W2.

Gambar 3.57 : Prinsip Tangan
Kanan Flemming
Gambar 3.58 : Pembangkitan
Tegangan Induksi
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 46
Rotor memiliki dua kutub utara (N, north) dan
kutub selatan (S, south). Arus listrik DC
dimasukkan ke belitan rotor melewati slipring
dan sikat arang, tujuannya untuk
mendapatkan fluk magnet yang bisa diatur
besarnya.

Aliran listrik dari pembangkitan, pengukuran
tegangan dan penyaluran daya ke beban 3
phasa, dalam hubungan bintang (Y) atau
segitiga (A) gambar-3.60.


Gambar 3.60 : Rangkaian pembangkit, pengukuran dan beban bintang-segitiga

Listrik tiga phasa dari pembangkitan, phasa U, V dan W, tegangan ketiga
phasa masing-masing berbeda 120
0
. Phasa U mengalirkan arus I
1
, phasa V
mengalirkan arus I
2
dan phasa W mengalir arus I
3
. Dengan jala-jala L1, L2, L3
dan N, tegangan diukur dengan tiga buah Voltmeter. Tegangan L1-L2 terukur
U
12
, tegangan L2-L3 terukur U
23
dan tegangan L3-L1 terukur U
31
.

Aliran ke beban ada dua jenis, beban bintang (Y) dan beban segitiga (A).
Beban bintang menggunakan empat kawat L1-U, L2-V, L3-W dan N-N. Belitan
beban mendapat arus phasa, juga mendapatkan tegangan phasa-netral.

Tegangan phasa-phasa = U
12
= U
1N
+ U
2N
= 3.U
1N

Pada beban segitiga, dipakai tiga penghantar jala-jala ke beban dengan
hubungan L1-U1W2, L2- U2V1 dan L3-V2W1. Setiap belitan mendapatkan
tegangan phasa-phasa U
12
, U
23
, U
31
, demikian juga arus yang mengalir ke
belitan juga arus jala-jala I
12
, I
23
dan I
31.


I
jala-jala
= I
12
= I
23
= I
31
= 3.I
1N
Gambar 3.59 : Prinsip
Generator 3 Phasa
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-47
3.8.2. Hubungan Bintang

Untuk memahami perbedaan tegangan
saat hubungan bintang dan segitiga lihat
gambar-3.61. Hubungan bintang terdapat
tegangan phasa-netral U
1N
, U
2N
dan U
3N.

Juga terdapat tegangan phasa-phasa U
12
,
U
23
dan U
31
.

Sedangkan pada hubungan segitiga hanya
terdapat tegangan phasa-phasa, yaitu U
12
,
U
23
dan U
31.
Analisis secara grafis dapat
dijelaskan.

3 .
2
3
. 30 cos .
2
1 31 1 1
31
N N N
U U U U
U
= = =
N N
U U U
1 3 31
=

U
31
Tegangan phasa 3 ke phasa 1
U
1N
Tegangan phasa 1 ke netral
\3 Faktor pengali

Grafik tegangan phasa-netral dan tegangan phasa-phasa lihat gambar-3.62.
Tegangan phasa U
1N
bergerak dari sudut 0
0
sampai 360
0
. Tegangan phasa U
3N

bergerak dari 60
0
sampai 420
0
. Tegangan phasa-phasa U
13
merupakan
penjumlahan vektor (U
1N
+U
3N
) bergerak dari 30
0
sampai 390
0
.

Gambar 3.62 : Tegangan phasa netral; tegangan phasa ke phasa

Tegangan phasa-phasa U
12
, U
23
, U
31
= 380 V, tegangan phasa netral U
1N,
U
2N,

U
3N
=220 V gambar-3.63.

Gambar 3.61 : Tegangan
Bintang dan segitiga
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 48
3 3
220
380
1
31
= =
N
U
U
V
V

Gambar 3.63 : Pengukur Tegangan phasa-phasa, tegangan phasa-netral

Beban hubungan bintang terminal U2, V2 dan W2 disatukan. Jala-jala L1-U1,
L2-V1 dan L3-W1 gambar-3.64. Dipasangkan empat amper meter I
1
, I
2
, I
3
.dan
I
N
. Ketika beban seimbang I
1
= I
2
= I
3
ampermeter I
N
= 0. Tegangan phasa-
phasa U
12
, U
23
dan U
31
besarnya 380 V, maka tegangan phasa-netral U
1N
, U
2N

dan U
3N
besarnya :


str
U U . 3 =
V
V U
U
str
220
3
380
3
= = =

str
I I =

Gambar 3.64 : Beban Bintang

Bentuk gelombang arus listrik tiga phasa lihat gambar-3.65. Arus i
1
berawal
dari 0
0
, 180
0
dan berakhir di sudut d 360
0
. Arus i
2
berawal dari 120
0
, 300
0
dan
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-49
berakhir di sudut d 480
0
. Arus i
3
berawal dari 240
0
dan berakhir di sudut d 600
0
.
Antara i
1,
i
2,
i
3
masing-masing berbeda 120
0
.


Gambar 3.65 : Gelombang Sinusoida 3 phasa


Rangkaian gambar-3.66, dipasangkan
tiga beban Resistor yang besarnya
identik sama, terhubung secara bintang.
Vektor tegangan U
1N
, U
2N
dan U
3N

masing-masing berbeda sudut 120
0

gambar-3.66. Besarnya arus I
1
, I
2
dan I
3

akan sama besarnya. Vektor arus I
1

akan sephasa dengan U
1N
, vektor I
2

akan sephasa dengan U
2N
dan I
3

sephasa dengan U
3N
. Kondisi ini sering
disebut beban seimbang.


Tiga beban Resistor besarnya tidak sama dirangkai secara bintang gambar-
3.67. Penunjukan ampermeter I
1
=2,5 A I
2
= 2,0 A I
3
= 1,0 A. Hitunglah besarnya
I
N


Gambar 3.67 :Vektor Tegangan dan Arus beban Resistif tidak seimbang

Dengan bantuan gambar-3.67 dibuat skala 1cm= 1 A.
Gambar 3.66 : Diagram Vektor
Tegangan dan Arus 3 phasa
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 50
I
1
= 2,5 A = 2,5 cm
I
2
= 2,0 A = 2.0 cm
I
3
= 1,0 A.= 1,0 cm
Ukur panjang I
N.
= 1,2 cm = 1,2 A.

Beban tidak seimbang mengakibatkan ada
arus yang mengalir melalui kawat netral,
sebesar I
N
= 1,2 A. Akibat lainnya
tegangan phasa-netral U
1N
, U
2N
dan U
3N

juga berubah gambar-3.68, posisi titik
netral N bergeser dari kedudukan awal
ditengah, bergeser kearah kiri bawah N.
Meskipun demikian tegangan phasa-phasa
U
12
, U
23
dan U
31
tetap simetris. Oleh
sebab itu pada hubungan bintang sedapat
mungkin beban tiap phasa dibuat seimbang,
sehingga tidak mengganggu tegangan
phasa-netral.


3.8.3. Hubungan Segitiga ()

Hubungan segitiga ujung-ujung beban
dihubungkan saling menyilang satu dengan
lainnya gambar-3.69. Terminal U1 dan W2
disatukan di catu dari phasa L1, U2 dan V1
disatukan dicatu dari phasa L2, V2 dan W1
disatukan dicatu dari phasa L3. Tiga amper
meter mengukur arus I
1
, I
2
dan I
3
.

I
1
= I
12
- I
31

I
2
= I
23
- I
12

I
3
= I
31
- I
23



Hubungan segitiga tidak ada tegangan phasa-
netral, yang ada hanya tegangan phasa-phasa.


str
I I . 3 =

str
U U =



Arus belitan phasa hubungan segitiga terukur 2,5A.
Hitunglah besarnya arus jala-jala.

Gambar 3.68 : Vektor Tegangan
phasa-netral, beban tidak
seimbang
Gambar 3.69 : Hubungan
Segitiga
Gambar 3.70 : Vektor Arus
Segitiga
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-51
Jawaban :

5 , 2 . 3 = I = 4,3 A

Secara grafis dibuat skala 10mm = 1 A, dengan
gambar-3.71 diukur I
1
, I
2
dan I
3
panjangnya =
43 mm = 4,3 A.









3.8.4. Hubungan Bintang-Segitiga Terminal Motor Induksi

Terminal box motor induksi tiga phasa
memiliki notasi standar. Urutan ujung belitan
phasa W2, U2 dan V2 ujung belitan lainnya
diberikan notasi U1,V1 dan W1.

Hubungan Bintang, terminal W2, U2 dan V2
di kopel menjadi satu sebagai titik bintang
gambar-3.72. Terminal U1 terhubung ke L1,
terminal V1 terhubung ke L2 dan terminal W1
terhubung ke jala-jala L3. Yang harus
diperhatikan belitan motor harus mampu
menang- gung tegangan phasa-netral.

1 =
str
I
3
U
U
str
=

3
3 3
U
I I U S
str str
= =
I U S = 3
cos = S P
sin = S Q

Hubungan Segitiga, gambar-3.73 terminal
W2 dikopel U1 langsung ke jala-jala L1.
Terminal U2 di kopel terminal V1 langsung
terhubung jala-jala L2. Terminal V2 dikopel
terminal W1 terhubung ke jala-jala L3. Belitan
motor harus dilihat harus mampu menahan
tegangan jala-jala.
Gambar 3.72 : Terminal Motor
Hubung Singkat
Gambar 3.73 : Terminal
Motor Hubung Singkat
Gambar 3.71 : Vektor Arus
phasa dengan arus jala-jala
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 52
U U
str
=
3
I
I
str
=

3
3 3
I
U U I S
str str
= =
I U S = 3
cos = S P sin = S Q

Contoh: Motor induksi 3 phasa data nameplate tegangan 400 V, cos d = 0,83,
arus jala-jala 8,7 A. Hitung besarnya daya aktif P, daya semu S dan daya
reaktif Q ?

Jawaban :

a). P = = = 83 , 0 7 , 8 400 3 cos 3 A V I U 5 kW
b). A V I U S 7 , 8 400 3 3 = = = 6,03
kVA
c).
= = = 56 , 0 7 , 8 400 3 sin 3 A V I U Q
L

3,38 kvar

Tiga buah Resistor dijadikan beban tiga phasa,
pertama dihubungkan secara bintang gambar-
3.74a, terukur arus I
1
= I
2
=I
3
sebesar 2,3 A.
Kemudian dihubungkan secara segitiga gambar-
3.74b, terukur arus I
1
= I
2
= I
3
sebesar 6,9 A.
Hitung besarnya a) daya aktif P saat hubungan
bintang, b) daya aktif P saat hubungan segitiga
c) Perbandingan daya segitiga/bintang ?

Jawaban :

a) Hubungan Bintang, I = 2,3 A
cos 3 = I U P
1 3 , 2 400 3 = A V P =1,6 kW

b) Hubungan Segitiga, I = 6,9 A
cos 3 = I U P
1 9 , 6 400 3 = A V P = 4,8 kW

c) Perbandingan P segitiga / P bintang

kW
kW
P
P
6 , 1
8 , 4
=
V

= 3

Gambar 3.74 : Beban
Bintang dan Segitiga
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-53
Persamaan menghitung daya aktif, semu dan reaktif listrik tiga phasa :


| |
| |
| | VAR Q
I U Q
W P
I U P
VA A V S
I U S
=
=
=
=
= =
=

sin . . . 3
cos . . . 3
.
. . 3


Tabel 3.5 Tabel Nameplate Motor Induksi

Tegangan Jala-jala 690 V 400 V 230 V 500 V

Tegangan
belitan
motor
400 V Y A - -
230 V - Y A -
500 V - - - A
289 V - - - Y


3.9. Pengukuran Daya Listrik Tiga Phasa

Pengukuran daya disebut Wattmeter,
prinsip kerjanya berdasarkan elektro-
dinamik gambar-3.75. Memiliki dua
belitan, yaitu belitan tegangan dan
belitan arus. Terdiri dua bagian, yaitu
magnet diam dengan belitan tegangan,
dan bagian yang bergerak merupakan
koil arus menggerakkan jarum penunjuk.
Interaksi dua fluk magnet tegangan dan
fluk magnet arus menghasilkan torsi
menggerak kan jarum. Simpangan jarum
sebanding dengan daya P = U. I. cos .

Pengukuran daya listrik tiga phasa
dengan wattmeter dapat dilakukan
dengan wattmeter satu phasa gambar-
3.76. Wattmeter ini memiliki dua belitan,
yaitu belitan tegangan terminal 2-5, dan belitan arus terminal 1-3. Terminal 5
dihubungkan ke kawat netral. Jala-jala L1, L2, L3 dan N dihubungkan dengan
sumber tegangan (PLN), ujung lainnya terhubung ke beban tiga phasa.

Hasil ukur = 3 x penunjukan wattmeter.
Gambar xxx :
Gambar 3.75 : Prinsip
Wattmeter
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 54

Untuk daya yang sangat besar, arus beban
mencapai puluhan sampai ratusan amper, dipakai
alat bantu berupa trafo arus CT. Rating trafo arus
CT tersedia dalam berbagai ukuran, misalnya
100/5 artinya mampu sampai arus beban primer
100 A dan arus sekunder ke wattmeter 5 A. Trafo
arus CT, bagian primer satu belitan saja, yaitu
kabel jala-jala yang dimasukkan ke lubang
tengahnya, bagian sekunder terdapat terminal L
K.

Pengawatan trafo arus CT dengan wattmeter lihat
gambar-3.77. B. Bagian primer CT sisi K
berhadapan dengan sumber tegangan L1, sisi L
berhadapan dengan bagian beban, tidak boleh
terbalik. Sekunder CT dihubungkan ke belitan
arus wattmeter, terminal k ke kaki 1 sekaligus
sambungkan dengan grounding, dan terminal l
disambungkan kaki 3. Belitan tegangan kaki 2
dihubungkan L1 dan kaki 5 ke L2 dan kaki 8
terhubung ke L3.

Hasil ukur = 3 x penunjukan wattmeter.


Pengukuran wattmeter tiga phasa dapat
digunakan dengan rangkaian gambar-3.78.
Terdapat dua belitan arus, yaitu kaki 1-3 dan kaki
7-9. Belitan tegangan juga ada dua buah, yaitu
kaki 2-5 dan kaki 5-8. Kawat L1, L2 dan L3
dihubungkan ke sumber tegangan PLN. Kawat L1
masuk ke belitan arus-1 lewat kaki 1 dan 3,
sekaligus kaki 2 dikopel ke kaki 3 menuju ke
belitan tegangan, kaki 5 ke jala-jala L2. Jala-jala
L3 kaki 7 masuk belitan arus ke kaki 9 selanjutnya
terhubung ke beban.










Gambar 3.76 : Pengukuran
Daya dengan satu wattmeter
Gambar 3.78 : Pengukuran
Daya dengan dua wattmeter

Gambar 3.77 : Pengukuran
Daya dengan Trafo Arus (CT)
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-55

3.10. Kompensasi Daya

3.10.1. Kompensasi Daya Reaktif


Lampu TL 40 Watt, tegangan 220 memiliki
faktor kerja cos d 0,5 0,6. Hal ini akan
menyebab kan daya reaktif menjadi besar.
Untuk memperbaiki faktor kerja cos d 0,9
dipasangkan Kapasitor sekitar 7pF/250 V
gambar-3.79. Faktor kerja yang rendah
merugikan disamping menyebabkan arus
jala-jala akan lebih besar, juga kualitas
listrik menjadi rendah. Beban yang sifatnya
induktif, yang mengandung belitan kawat
seperti motor listrik, mesin las faktor
kerjanya berkisar 0,6 sampai 0,7.

Kondisi sebelum kompensasi, daya aktif P
sebagai referensi, daya induktif sebelum
kompensasi Q
L
, daya semu sebelum
kompensasi S
1,
faktor kerja sebelum
kompensasi
1
gambar-3.80.

Kondisi setelah kompenasi, daya aktif P
sebagai referensi tetap sama, daya induktif
setelah kompensasi oleh Kapasitor (Q
L
-Q
C
),
daya semu setelah kompensasi S
2
, faktor
kerja setelah kompensasi
2
.

Persamaan daya reaktif kompensasi:

) tan .(tan
2 1
= P Q
C


P
Q
L
=
1
tan
P
Q Q
C L

=
2
tan

P Daya aktif (W)
Q
L
Daya induktif (VAR)
Q
C
Daya kapasitif (VAR)
1 Sudut phasa sebelum kompensasi
2 Sudut phasa setelah kompensasi

Sistem daya listrik yang besar belum dilakukan kompensasi, pengaruh daya
induktif QL dari beban motor induksi dirasakan oleh sistem tegangan 20 KV
gambar-3.81a.

Gambar 3.79 : Lampu TL
dengan kompensasi kapasitor
Gambar 3.80 : Segitiga Daya
Kompensasi
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 56
Pelaksanaan kompensasi daya reaktif sistem kelistrikan gambar-3.81b,
dengan pemasangan Kapasitor disisi tegangan rendah 400 V, sehingga rugi-
rugi daya reaktif tidak ada dalam sistem tegangan 20 KV.

Gambar 3.81 : Aliran Daya Reaktif Sebelum dan Sesudah Kompensasi

3.10.2. Sistem Kompensasi Daya 3 Phasa

Pemasangan Kapasitor sebagai kompensasi daya reaktif dilakukan dengan dua
cara gambar-3.82. Pertama untuk beban daya besar seperti motor induksi
Kapasitor dipasang secara paralel dengan beban. Cara kedua Kapasitor
dipasang seri untuk daya kecil dibawah ratusan watt, misalnya lampu TL.

Gambar 3.82 : Rangkaian Kompensasi Paralel dan Kompensasi Seri

Pemasangan untuk beban besar dengan beban faktor kerja rendah, misalnya
motor induksi, air condition yang banyak dipakai di pertokoan, hotel-hotel,
perkantoran. Instalasi Kapasitor dilakukan dengan dua cara.

Pertama dengan pengaturan secara sentral pada panel daya diruang
transformator atau genset gambar-3.81. Kedua instalasi Kapasitor dilakukan
secara kelompok beban, misalkan tiap 3 buah motor induksi dilayani satu
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-57
kelompok Kapasitor. Kelompok beban air condition dilayani oleh Kapasitor
lainnya gambar-3.82.











Contoh: Sebuah lampu TL =58 W dan sebuah lampu pijar 12 W dipasang
pada tegangan 220 V, frekuensi 50 Hz, faktor kerja sebelum kompensasi cos

1
= 0,48. akan dipasang Kapasitor agar faktor kerja baru cos
2
=0,9 gambar-
3.83. Hitung a) daya reaktif sebelum dan setelah kompensasi b) hitung besar
arus sebelum dan setelah kompensasi c) besar rating Kapasitor

Jawaban :
a). ); tan (tan
2 1
= P Q
c

cos
1
= 0,48 =>
1
= 61,3
0
=> tan

1
= 1,82
cos
2
= 0,90 =>
2
= 25,8
0
=> tan
2
= 0,48
Q= (58 W + 12 W) x (1,82-0,48) = 93,8 VAR

b). = = =
48 , 0 . 230
70
cos .
1
1
V
W
U
P
I

0,63 A
= = =
9 , 0 . 230
70
cos .
2
2
V
W
U
P
I

0,34 A
c). = =
2 2 2
. 230 . 50 . 2
var 8 , 93
. . 2 V Hz U f
Q
C
t t
5,65 F

Gambar 3.83 :
Kompensasi Grup
Gambar 3.84 :
Kompensasi Sentral
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 58
Gambar 3.85 : Kompensasi Parelel & Kompensasi Seri Beban Satu Phasa


3.11. Rangkuman

- Listrik AC dihasilkan dari hasil induksi elektromagnetik, sebuah belitan
kawat yang berdekatan dengan kutub magnet permanen. Kutub
permanen diputar pada sumbunya, maka diujung-ujung belitan timbul
tegangan listrik bolak-balik.

- Prinsip generator AC sesuai kaidah tangan kiri Flemming, belitan kawat
dalam loop tertutup yang dipotong oleh garis gaya magnet, pada ujung
belitan kawat akan timbul ggl induksi.

- Satu periode gelombang adalah satu siklus penuh, yaitu satu siklus
positif dan satu siklus negatif.

- Bentuk gelombang AC bisa berupa gelombang sinusoida, gelombang
kotak, gelombang pulsa dsb.

- Frekuensi adalah jumlah periode dalam satu detik. Listrik PLN dengan
frekuensi 50 Hz, dalam satu detik terjadi perubahan siklus positif negatif
sebanyak 50 kali dalam satu detiknya.

Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-59
- Panjang gelombang, dihitung berdasarkan kecepatan cahaya, 300.000
km/detik.
- Harga rata-rata gelombang sinusoida, yaitu 0,636 harga maksimum

- Harga efektif dari suatu tegangan/ arus bolak balik (AC) adalah sama
dengan besarnya tegangan/arus searah (DC) pada suatu tahanan,
dimana keduanya menghasilkan panas yang sama.

- Harga efektif gelombang sinusoida besarnya 0,707 dari harga
maksimum tegangan/arus.

- Pergeseran phasa terjadi ketika tahanan R dirangkai seri dengan
Kapasitor dan dipasang pada sumber tegangan bolak balik.

- Kapasitor menyebabkan pergeseran phasa dimana tegangan drop di
Kapasitor mendahului (leading) terhadap tegangan sumbernya.

- Induktor menyebabkan pergeseran phasa arus tertinggal (lagging)
terhadap tegangan sumbernya.

- Kapasitor memiliki sifat melewatkan arus bolak balik.

- Nilai reaktansi Kapasitor berbanding terbalik dengan kapasitansinya
(X
C
= 1/ 2.n.f.C).

- Makin besar frekuensi nilai reaktansi kapasitif menurun, pada frekuensi
rendah nilai reaktansi kapasitif meningkat.

- Reaktansi Induktif (X
L
) berbanding lurus dengan frekuensi (X
L
= 2.n.f.L).

- Makin besar frekuensi nilai reaktansi induktif meningkat, pada frekuensi
rendah nilai reaktansi induktif akan menurun.

- Drop tegangan induktor mendahului 90
0
terhadap arus.

- Impedansi (Z) adalah gabungan tahanan R dengan induktor L atau
gabungan R dengan Kapasitor C.

- Bilangan komplek adalah kumpulan titik yang dibentuk oleh bilangan
nyata dan bilangan khayal, dalam bidang komplek W = a + jb

- Bilangan nyata dari komponen Resistor, bilangan khayal dari komponen
induktor +j dan komponen Kapasitor j.

Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 60
- Dari bilangan komplek bisa ditransformasikan ke bilangan polar atau
bilangan eksponensial, atau sebaliknya.

- Sudut diperoleh dari arc tg X/R

- Bilangan polar memiliki besaran dan menyatakan sudut arah

- Bilangan eksponensial memiliki besaran dan eksponensial dengan
bilangan pangkat menyatakan arah sudut.

- Rangkaian seri Resistor dan Induktor dengan sumber listrik AC akan
terjadi drop tegangan pada masing-masing, dan terjadi pergeseran
phasa kedua tegangan sebesar 90
0
.

- Ada pergeseran sudut phasa antara tegangan dan arus sebesar .

- Rangkaian paralel Resistor dan induktor dengan sumber tegangan AC
menghasilkan cabang arus Resistor I
W
sebagai referensi, arus cabang
induktor berbeda sudut phasa sebesar 90
0
terhadap arus I
W
, arus total
merupakan penjumlahan arus cabang Resistor dan arus cabang
induktor.

- Beban impedansi arus bolak balik memiliki tiga jenis daya, yaitu daya
semu satuan Volt-amper, daya aktif dengan satuan Watt, dan daya
reaktif dengan satuan Volt-amper-reaktif.
- Daya aktif dinyatakan dengan satuan watt, pada beban resistif daya
aktif merupakan daya nyata yang diubah menjadi panas.

- Pada beban impedansi daya nyata hasil kali tegangan dan arus dan
faktor kerja (cos ).

- Pada beban dimana pergeseran phasa tegangan dan arus sebesar 90
0
,
maka daya aktif akan menjadi nol.

- Daya semu dinyatakan dengan satuan Volt-amper, menyatakan
kapasitas peralatan listrik. Pada peralatan generator dan transformator
kapasitas dinyatakan dengan daya semu atau KVA.

- Segitiga daya menyatakan komponen daya aktif (P), daya reaktif (Q)
dan daya semu (S). Resistor seri induktor diberi tegangan AC, berbeda
dalam menggambarkan segitiga daya dengan beban Resistor paralel
dengan induktor.

- Faktor kerja menggambarkan sudut phasa antara daya aktif dan daya
semu. Faktor kerja yang rendah merugikan mengakibatkan arus beban
tinggi. Perbaikan faktor kerja menggunakan Kapasitor
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3-61

- Rangkaian Resistor paralel Kapasitor, memiliki dua cabang arus.
Pertama cabang arus Resistor menjadi referensi dan kedua cabang
arus Kapasitor mendahului tegangan sebesar 90
0
. Arus total sebagai
penjumlahan vektor cabang arus Resistor dan cabang arus Kapasitor.


3.12. Soal-soal

1. Frekuensi Genset diketahui f = 55 Hz, hitung besarnya periode.
2. Frekuensi radio Elshinta FM 89.8 Mhz, hitung panjang gelombangnya.
3. Gelombang sinusoida bervariasi dari 0 hingga 10 Volt (maksimum).
Hitung besarnya tegangan sesaat pada sudut 30
0
, 45
0
,90
0
, 270
0
dari
satu periode ?
4. Tegangan bolak balik memiliki tegangan maksimum 10 Volt. Hitung
besarnya tegangan rata-rata dalam satu periode ?
5. Tegangan bolak balik sebesar 20 V berbentuk gelombang sinusoida,
hitung besarnya tegangan maksimum, tegangan maksimum ke
maksimum.
6. Kapasitor 0,1 F, dihubungkan dengan sumber listrik AC frekuensi 50
Hz. Hitung nilai reaktansi kapasitifnya.
7. Induktor murni sebesar 1 H, dihubungkan dengan sumber tegangan AC
100 sin 314t. Tentukan besarnya arus sesaat .
8. Sumber tegangan bolak-balik 10 V, dirangkaikan dengan beban
impedansi Z dan menarik arus 50 mA. Hitung besarnya impedansi.
9. Sebuah impedansi dituliskan bilangan komplek Z = (8 + j6)D, tuliskan
dalam bentuk polar.
10. Dua buah impedansi Z1 = (4+j5) dan Z2 = (4j8) dihubungkan
dengan sumber tegangan bolak-balik,. Hitung a) besarnya nilai
impedansi masing-masing b) jika keduanya dihubungkan seri hitung
impedansi total c) jika keduanya dihubungkan paralel hitung impedansi
totalnya.
11. Rangkaian gambar 3-22 Resistor R = 10 kD, diberikan tegangan AC 12
V dipasang Ampermeter dan terukur 4,8 mA. Hitung besarnya
impedansi Z, besarnya induktor X
L
dan drop tegangan pada Resistor
U
W
dan drop tegangan induktor U
BL
?.
12. Beban induktif dihubungkan dengan tegangan AC 220 V, menarik arus
1,0 A dan terukur faktor kerja 0,85. Hitung Daya semu, daya aktif dan
daya reaktif.
13. 10 buah lampu pijar dengan tegangan 40W/220V, digabungkan dengan
10 buah lampu TL 18 W/220V. Faktor kerja terukur sebesar cos d
1
= 0,5.
Hitunglah daya semu dari beban dan besarnya arus I
1
sebelum
kompensasi, Jika diinginkan faktor kerja menjadi cos d
2
=0,85 hitung
besarnya arus I
2
(setelah kompensasi).
14. Rangkaian seri R, X
L
dan X
C
terukur tegangan drop U
w
=15 V,U
bL
= 25 V,
U
bC
= 15 V Hitunglah besarnya tegangan suply U ?
Dasar Listrik Arus Bolak Balik
3 - 62
15. Rangkaian seri R= 100D, induktor L = 1H, dan Kapasitor C = 10F,
dihubungkan dengan sumber tegangan AC, frekuensi = 50 Hz. Hitung
besarnya impedansi Z ?
16. Rangkaian paralel dari reaktansi induktor X
L
=100 D, reaktansi Kapasitor
X
C
= 120 D, Resistor R=500 D, dihubungkan dengan sumber tegangan
AC 100 V. Hitunglah besarnya arus cabang, dan besar arus total.
17. Induktor L= 0,1H dirangkai paralel dengan Kapasitor C = 12 nF.
Hitunglah a) besarnya frekuensi resonansi. b). jika frekuensi ditetapkan
50 Hz, induktor L= 0,1H, hitung besarnya nilai Kapasitor agar terjadi
kondisi resonansi ?








BAB 4
TRANSFORMATOR


Daftar isi :
4.1 Mesin Listrik ...................................................................... 4-2
4.2 Transformator ................................................................... 4-3
4.3 Prinsip kerja Transformator ............................................... 4-3
4.4 Tranformator Ideal ........................................................... 4-4
4.5 Inti Transformator ............................................................. 4-7
4.6 Rangkaian Listrik Transformator ....................................... 4-9
4.7 Diagram Vektor Tegangan ................................................ 4-9
4.8 Rugi-rugi Transformator .................................................... 4-10
4.9 Efisiensi Transformator ..................................................... 4-12
4.10 Akibat Hubung Singkat .................................................... 4-13
4.11 Autotransformator ............................................................. 4-14
4.12 Transformator khusus ....................................................... 4-15
4.13 Transformator Pengukuran ............................................... 4-16
4.14 Trafo Pengukuran Tegangan ............................................ 4-16
4.15 Trafo Pengukuran Arus ..................................................... 4-17
4.16 Transformator 3 Phasa ..................................................... 4-18
4.17 Inti Transformator 3 Phasa ............................................... 4-20
4.18 Hubungan belitan Transformator ...................................... 4-20
4.19 Hubungan J am Belitan Trafo ............................................ 4-21
4.20 Minyak Trafo dan Relay Buchholz .................................... 4-21
4.21 Konfigurasi Transformator 3 phasa .................................. 4-22
4.22 Transformator dalam J aringan Asimetris .......................... 4-23
4.23 Pengelompokan Hubungan Transformator ....................... 4-24
4.24 Paralel Dua Transformator ................................................ 4-25
4.25 Rangkuman ...................................................................... 4-27
4.26 Soal-soal ........................................................................... 4-28











Transformator
4-2

4.1. Mesin Listrik

Mesin listrik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesin listrik statis dan
mesin lsitrik dinamis. Mesin listrik statis adalah transformator, alat untuk
mentransfer energi listrik dari sisi primer ke sekunder dengan perubahan
tegangan pada frekuensi yang sama. Mesin listrik dinamis terdiri atas motor
listrik dan generator. Motor listrik merupakan alat untuk mengubah energi listrik
menjadi energi mekanik putaran. Generator merupakan alat untuk mengubah
energi mekanik menjadi energi listrik. Anatomi keseluruhan mesin listrik tampak
pada gambar-4.1 berikut.


Gambar 4.1 : Peta Jenis-jenis Mesin Listrik
Transformator
4-3
4.2. Transformator

Berikut adalah ilustrasi pentingnya pemakaian transformator dalam sistem
distribusi tenaga listrik. Daya listrik sebesar 5.500 KW disalurkan sejauh 100
Km dengan tegangan 220 V, faktor kerja Cos =1. Besarnya arus yang
mengalir sebesar
cos . U
P
I
=
1 . 220
000 . 500 . 5
V
W
=25.000 A. J ika drop tegangan
yang diijinkan sepanjang penghantar 10%, maka penampang penghantar yang
digunakan
Uv x
I L
q
.
cos . . . 2

=
V
A m
22 . 56
1 . 000 . 25 . 000 . 100 . 2
=4.05m
2

Bisa dibayangkan penampang penghantar 4.05m
2
sepanjang 100 Km akan
sangat merepotkan, harganya akan sangat mahal, tiang penyangga kabel akan
sangat besar. Untuk itu jika tegangan listrik dinaikkan menjadi 220kV, maka
besarnya arus hanya 25A saja dan penampang kabel penghantar cukup 4,05
mm
2
. Ilustrasi diatas pentingnya peranan transformator untuk menyalurkan
tenaga listrik dalam sistem distribusi, dengan sistem tegangan tinggi, arus listrik
yang dialirkan cukup kecil dan penampang penghantarnya kecil serta ekonomis.
4.3. Prinsip Kerja Transformator

Transformator gambar-4.2 memiliki
konstruksi sebuah inti dari tumpukan
pelat tipis bahan ferro magnetis yang
satu sisi dipasang belitan primer N
1
, dan
satu sisi lainnya dipasangkan belitan
sekunder N
2
. Belitan primer N
1
dihubungkan ke sumber listrik AC
dengan tegangan primer U
1
dan arus
primer I
1
. Pada inti trafo timbul garis
gaya magnet yang diinduksikan ke
belitan sekunder N
2
. Pada belitan
sekunder N
2
timbul tegangan sekunder
U
2
dan arus sekunder I
2
. Pada trafo ideal
berlaku daya primer sama dengan daya
sekunder. Energi listrik sekunder
disalurkan ke beban listrik.


Besarnya tegangan induksi berlaku persamaan sbb :

Uo = 4,44 B. Afe. f. N
Uo Tegangan induksi
B Fluk magnet
A
fe
Luas inti
f Frekuensi
N J umlah belitan
Gambar 4.2 : Prinsip kerja
Transformator Satu Phasa
Transformator
4-4
Spesifikasi teknik sebuah transformator dicantumkan dalam nameplate, seperti
gambar-4.3 berikut ini :


Daya trafo 20 KVA
Tegangan primer 6.000 V
Arus primer 3,44 A
Frekuensi 50 Hz
Tegangan
sekunder
230 V
Arus sekunder 87 A
Impedansi trafo 5%.



Berbagai bentuk inti transformator
salah satunya disebut tipe Core,
seperti gambar-4.4. Satu kaki
dipasang belitan primer dan kaki
lainnya dipasang belitan sekunder.
Transformator ideal tidak memiliki
rugi-rugi sehingga daya primer sama
dengan daya sekunder.
4.4. Tranformator Ideal

Transformator ideal adalah trafo yang rugi-ruginya nol, artinya daya pada
belitan primer sama dengan daya dibelitan sekunder. Dalam kondisi trafo
tanpa beban, hubungan antara tegangan primer dan sekunder dengan jumlah
belitan primer dan sekunder berlaku persamaan :


2
1
2
1
N
N
U
U



Perbandingan tegangan disebut perbandingan transformasi dituliskan dengan
simbol ,
Transformator :
a). memindahkan daya listrik dari satu sisi ke sisi lainnya.
b). tidak ada perubahan frekuensi
c). bekerja berdasarkan induksi elektromagnetis
d). dua rangkaian terjadi mutual induksi saling mempengaruhi
Gambar 4.3 : Nameplate Trafo
Satu Phasa
Gambar 4.4 : Trafo satu
phasa jenis Core
Transformator
4-5

=
rendah tegangan sisi
tinggi tegangan sisi


=
2
1
U
U


Perbandingan transformasi () juga berlaku pada perbandingan belitan primer
dan sekunder =
2
1
N
N


Hubungan antara tegangan dan jumlah belitan, secara teoritis mengikuti hukum
induksi yang besarnya jumlah belitan N dan /t. Besarnya tegangan
induksi :

U
induksi
=
t
N

.

Mengingat pada trafo memiliki dua belitan, yaitu belitan primer N
1
dan belitan
sekunder N
2
, maka tegangan primer dan sekunder dapat diketahui :

U
1
=
t
N

.
1
dan U
2
=
t
N

.
2
1
1
N
U
t

dan
2
2
N
U
t

Mengingat
t

, sisi kiri sama dengan sisi kanan maka persamaan umum


hubungan antara tegangan dan jumlah belitan pada trafo ideal adalah :
2
2
1
1
N
U
N
U

atau
2
1
2
1
N
N
U
U



Perbandingan transformasi antara arus dengan jumlah belitan transformator
dapat diuraikan dengan persamaan :

2
1
1
2
N
N
I
I



Dengan demikian perbandingan transformasi untuk arus berlaku =
1
2
I
I

Perbandingan transformasi untuk impedansi Z, tahanan belitan tembaga R dan
induktansi belitan X dapat diturunkan dari tegangan dan arus, dan berlaku
persamaan :

2
=
2
1
Z
Z

2
=
2
1
R
R

2
=
2
1
X
X


Transformator
4-6
Dengan menggunakan perbandingan transformasi diatas, berlaku juga
hubungan antara impedansi Z dengan jumlah belitan N sebagai berikut :


2
2
2
1
2
1
N
N
Z
Z

atau
2
1
2
1
Z
Z
N
N



Kondisi Trafo Ideal jika ditinjau dari arus primer dan sekunder berlaku :

S
1
= S
2
=> U
1
. I
1
= U
2
. I
2


Belitan kawat primer maupun belitan sekunder
mengandung komponen resistansi R dan
komponen induktansi X
L
yang keduanya
membentuk impedansi Z. Persamaan
impedansi untuk Trafo Ideal berlaku :

Z
1
=
1
1
I
U
Z
2
=
2
2
I
U
1
2
2
1
2
1
.
I
I
N
N
Z
Z



Tegangan primer gambar-4.5a berbentuk
sinusoida U dengan frekuensi 50 Hz (20
milidetik), siklus positif dengan sudut 0 sampai
180
0
dan siklus negatif dari 180
0
sampai 360
0
.

Arus magnetisasi Im gambar-4.5b terlambat
90
0
dari tegangan primer, menghasilkan fluk
magnet pada inti trafo yang juga berbentuk
sinusoida. yang bentuknya sama dengan arus
magnetisasi.

Induksi magnet yang terjadi pada inti trafo
akan diinduksikan ke belitan sekunder.
Tegangan sekunder yang dihasilkan gambar-
4.5c berbeda sudut phasa tegangan primer
dengan sekunder sebesar 180
0
.

Pada belitan primer ketika dihubungkan
dengan sumber tegangan U, timbul arus
tanpa beban I
o
. Arus primer I
o
terbentuk
dari komponen arus magnetisasi I
m
yang
menghasilkan fluk magnet , dan
komponen arus rugi inti I
v
. gambar-4.6.
I
m
= I
o
. sin .
I
v
= I
o
. cos .


Gambar 4.5 : Bentuk Tegangan
Input, Arus Magnetisasi dan
Tegangan Output Trafo
Gambar 4.6 : Vektor Arus
Magnetisasi
Transformator
4-7

Garis gaya magnet pada inti trafo tampak pada
gambar-4.7. Belitan primer N
1
yang dihubungkan
dengan tegangan AC dialiri arus primer I
1
. Arus
primer menghasilkan fluk magnet yang mengalir
sepanjang inti besi yang melingkupi juga belitan
sekunder N
2
. Ketika belitan sekunder dipasang
kan beban, timbul arus sekunder I
2
yang
menghasilkan fluk magnet yang berlawanan arah
dengan fluk magnet arus primer.





4.5. Inti Transformator

Komponen transformator yang penting adalah
inti trafo. Inti trafo dibuat dari bahan ferro
magnetis berupa plat-plat tipis yang ditumpuk
menjadi satu sehingga membentuk inti dengan
ketebalan tertentu. Ada beberapa jenis inti
trafo, diantaranya

a. Bentuk EI
b. Bentuk L
c. Bentuk M
d. Bentuk UI


Inti transformator EI atau tipe Shell gambar-4.8. Trafo jenis ini paling banyak
dipakai untuk trafo daya kecil puluhan watt sampai daya besar orde kilowatt.
Belitan primer dan sekunder digulung pada inti bagian tengah. Belitan primer
digulungkan terlebih dulu, setiap lapisan gulungan dipisahkan dengan kertas
yang berfungsi sebagai isolasi.

Bentuk inti lainnya adalah bentuk M- yang sebenarnya akan membentuk tipe
yang sama dengan tipe Shell gambar-4.9

Bentuk UI atau sering disebut jenis inti banyak dipakai untuk trafo dengan daya
kecil untuk peralatan elektronika.







Gambar 4.7 : Belitan primer dan
sekunder Trafo Satu Phasa
mbar 4.9a :
Gambar 4.8 : Bentuk Inti Trafo
tipe E-I,L, M dan tipe UI
Transformator
4-8











Gambar 4.9 : Inti Trafo tipe EI satu Phasa

Belitan sekunder trafo jenis Shell diperlihatkan pada gambar-4.10 dibawah ini.

1. Cara pertama belitan primer dibelitkan diatas tumpang tindih dengan
belitan sekunder.

2. Cara kedua belitan primer dibelitakan diatas, dibawahnya belitan sekunder.

3. Cara ketiga sama dengan cara kedua, ditambahkan isolasi untuk
memisahkan dua belitan.

Gambar 4.10 : Susunan belitan primer dan sekunder

J umlah belitan dan penampang kawat belitan primer dan sekunder berbeda
ukuran, disesuaikan dengan tegangan dan besarnya arus yang mengalir
dimasing belitan primer dan sekunder.

Bentuk inti trafo yang lainnya tampak seperti
gambar-4.11 disamping. Belitan primer dan
sekunder digulung dalam satu kern. Sedangkan
inti merupakan pita berbentuk memanjang yang
dibelitkan di dua sisi trafo sampai mengisi penuh
belitan kawatnya. Selanjutnya kedua gulungan inti
diikat dengan pelat sehingga inti tidak terlepas.



Gambar 4.11 : Inti Trafo
jenis pelat digulung
a) b)
Transformator
4-9
4.6. Rangkaian Listrik Transformator

Rangkaian pengganti trafo gambar-4.12
terdiri R menyatakan resistansi belitan
primer dan sekunder. Induktor X
L
,
menyatakan induktansi belitan primer dan
sekunder. Komponen Impedansi Z terdiri R
dan X
L
dalam satuan Ohm. Drop tegangan
pada resistor sebesar U
R
= I. R, drop
tegangan di induktor sebesar U
L
= I. X
L.

Tegangan U
2
menyatakan tegangan
sekunder. Tegangan U
20
merupakan
penjumlahan vektor tegangan U
2
, U
R
dan U
L
.

Besarnya tegangan terminal :
U
2
= U
20
U
R
- U
L

U
2
= U
20
I. R I.X
L


Beban trafo dapat berupa resistor R, induktor
L atau kapasitor C. Gambar- 4.13
memperlihatkan karakteristik tegangan
sekunder dan peningkatan arus beban.
Dengan beban kapasitor C, ketika arus
meningkat tegangan terminal lebih besar.
Saat dibebani resistor R ketika arus
meningkat beban terminal menurun. Dengan
beban induktor L ketika arus meningkat,
tegangan terminal sekunder menurun tajam.

4.7. Diagram Vektor Tegangan

Vektor diagram gambar-4.14a, menggambar
kan tegangan dan arus trafo dengan beban
induktor. Tegangan sekunder U
2
penjum lahan
tegangan induksi U
20
, U
R
dan U
L
. Antara
tegangan U
2
dan arus I berbeda phasa sebesar
, dimana arus I terbelakang (lagging) sebesar
90
0
. Tegangan U
2
lebih kecil dibandingkan
tegangan U
20
.

Vektor diagram, gambar-4.14b, trafo dengan
beban kapasitor. Tegangan sekunder U
2

penjumlahan vektor tegangan induksi U
20
, U
R

dan tegangan U
L
. Tegangan U
2
dan arus I
berbeda sudut phasa sebesar , dimana arus I
mendahului (leading) sebesar 90
0
.

Gambar 4.13 : Grafik tegangan
sekunder fungsi arus beban
Gambar 4.12 : Rangkaian
ekivalen Trafo
Gambar 4.14 : Vektor tegangan
a) beban induktip b) beban
kapasitip
Transformator
4-10
Dalam prakteknya beban trafo lebih bersifat resistip atau beban impedansi
(gabungan resistor dan induktor)

4.8. Rugi-rugi Transformator

Ada dua jenis kerugian dalam transformator,
yaitu rugi inti dan rugi tembaga. Untuk
mengukur rugi inti dilakukan dengan pengujian
trafo tanpa beban dan untuk mengukur rugi
tembaga dilakukan dengan pengujian trafo
hubung singkat.

a. Pengujian Trafo Tanpa Beban.

Pengujian trafo tanpa beban dimaksudkan
untuk mengukur rugi-rugi pada inti trafo. Rugi
inti trafo disebabkan oleh proses magnetisasi
dan histerisis. Pengukuran rugi inti seperti
gambar-4.15a. Bagian primer trafo dipasang
Wattmeter dan Voltmeter. Bagian sekunder
trafo tanpa beban.

Rugi-rugi inti trafo = penunjukan wattmeter

Sebuah trafo dalam pengukuran tanpa beban
penunjukan Voltmeter U
1n
220 V, penunjukan
wattmeter 20 W. dipasang ampermeter
penunjukan arus 0,68 A. Maka dapat
dilakukan analisis rugi-rugi trafo sebagai
berikut.
S = U. I = 220 V. 0,68 = 149,6 VA
Z = U/I = 220/0,68 = 323,5
Cos = P/S = 20W/149,6A = 0,1337
= arc 0,1337 = 82
0


Transformator tanpa beban, yang mengalir hanya arus sisi primer I
O
sebesar
0,68 A yang melalui tahanan tembaga R
CU.
Arus tanpa beban I
O
terdiri atas
arus magnetisasi I
m
yang melalui induktansi X
L
dan arus aktif I
R
. yang melewati
tahanan inti besi R
FE
dengan sudut = 82
0
gambar 4.16.

Vektor tegangan U tegak lurus dengan arus magnetisasi Im. Sedangkan
tegangan U beda sudut phasa dengan arus Io sebesar = 82
0
gambar 4.17.
Arus Io terukur oleh ampermeter dibagian primer sebenarnya merupakan
komponen arus magnetisasi Im dan arus aktif I
R
.

Gambar 4.16 : Rangkaian
pengganti Trafo tanpa beban
Gambar 4.15 : Pengawatan
Uji Trafo a) Uji tanpa beban
b) Uji hubung singkat
Transformator
4-11
b. Pengujian Trafo Hubung Singkat

Pengujian Trafo hubung singkat dilakukan
untuk mengukur besarnya kerugian
tembaga pada trafo. Pengukuran rugi-rugi
tembaga dilakukan dengan cara seperti
gambar-4.15b. Trafo bagian primer
dihubungkan dengan sumber tegangan
yang bisa diatur besarnya, dipasang
Ampermeter dan Wattmeter.

Belitan sekundernya dihubung singkatkan.
Besar tegangan primer U
k
antara 5% sd 10%
dari tegangan primer. Tegangan diatur dari
paling kecil, dinaikkan bertahap sampai
Ampermeter menunjuk kan arus primer
nominalnya I
1n
.

Besarnya rugi-rugi tembaga = penunjukan wattmeter

Pengujianq hubungsingkat trafo dihasilkan
data pengukuran wattmeter 60 W,
penunjukan ampermeter 3 A pada
tegangan 21 V. Maka dapat dilakukan
analisis sebagai berikut:

U
K
=
V
V
220
% 100 . 21
= 9,54%


Saat dilakukan pengujian hubung singkat dapat ditentukan impendansi internal
trafo Z dan kerugian tembaga pada belitan P
CU
.

Cos =
I U
P
.
=
A V
W
3 . 21
60
= 0,95 = 18
0
.
Tegangan U
K
sephasa dengan komponen impedansi Z
k
, tegangan U
R
sephasa
dengan komponen tahanan tembaga R dan tegangan U
X
sephasa dengan
komponen induktansi X
K
gambar-4.19.

U
R
= U. Cos = 21V. 0,95 = 19,95 V
Z =
I
V
=
A
V
3
21
= 7
R
K
= Z. Cos = 7. 0,95 = 6,65

U
X
= U. Sin = 21V. 0,31 = 6,51 V

Gambar 4.17 : Vektor tegangan
dan arus pada Uji tanpa beban
Gambar 4.18 : Vektor
tegangan dan arus pada Uji
hubung singkat
Transformator
4-12
X
K
= Z. Sin = 7. 0,31 = 2,17

Besarnya rugi-rugi tembaga = penunjukan wattmeter = 60 W

Komponen tahanan tembaga RK, komponen induktansi XK dari sebuah
transformator diperlihatkan pada gambar-4.20.

Gambar 4.19 : Rangkaian pengganti Trafo
sekunder dihubung singkat
Gambar 4.20 : Rangkaian pengganti
Trafo dengan komponen resistansi dan
induktansi

Kesimpulan dari kedua pengujian trafo, yaitu uji trafo tanpa beban dan
pengujian trafo hubung singkat dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Besarnya rugi inti trafo : 20 W
2. Besarnya rugi tembaga : 60 W
3. Parameter tegangan hubung singkat UK : 9,54%


4.9. Efisiensi Transformator

Efisiensi trafo dinyatakan dalam angka
prosentase, pada faktor kerja cos
=0,2 efisiensi trafo mencapai sekitar
65%. Pada beban dengan faktor kerja
cos = 1,0, efisiensi trafo bisa
mencapai 90%, gambar-4.21.


Pcu P P
P
VFe ab
ab



Trafo berdaya kecil 250 VA; cos =
0,7; rugi inti 10 Watt dan rugi tembaga
15 Watt. Efisiensi trafo dapat dihitung
dengan persamaan berikut ini:


W W W
W
15 10 175
175

=
w
w
200
175
=0,875

Gambar 4.21 : Grafik Arus Hubung
Singkat Trafo Grafik Arus Hubung
Singkat Trafo
Transformator
4-13
4.10. Akibat Hubung Singkat

Kejadian hubung singkat pada trafo bisa
berakibat fatal, misalnya belitan primer atau
sekunder terbakar. Penyebabnya bisa karena
isolasi antara belitan primer dan sekunder
cacat dan terkelupas, atau terjadi
hubungsingkat pada belitan sekundernya.

Untuk menghindari akibat buruk
hubungsingkat trafo dipasang kan alat
pengaman, misalnya sekering atau pemutus
daya Circuit Breaker. Ketika terjadi hubung
singkat akan terjadi arus hubungsingkat
gambar-4.22 yang sangat besar dan bisa
merusak belitan tembaga baik sisi primer
atau sisi belitan sekundernya.

Besarnya arus hubung singkat :

I
KD
=
K
n
U
I
. 100%
I
KD
Arus hubungsingkat
In Arus nominal
U
k
Tegangan hubungsingkat


Sebuah trafo 220 V/24 V, arus 1 A/9 A, prosentase hubung singkat U
k
=5%,
hitung besarnya arus hubung singkat.

I
KD
=100% .
K
n
U
I
=100% .
% 5
9A
=180 A.
i
s
1,8. 2. I
KD

i
s
2.55. I
KD
=2.55 x 180 A =459 A.
Gambar 4.22 : Grafik
efisiensi Transformator
Transformator
4-14
4.11. Autotransformator

Autotransformator termasuk trafo yang
dibuat dengan rancangan berbeda, karena
belitan primer dan belitan sekunder
menggunakan satu belitan. Sehingga ada
belitan yang terhubung seri dan ada belitan
yang terhubung secara paralel, gambar-4.23.

Rumus untuk Autotransformator tetap berlaku
persamaan :

2
1
U
U
=
2
1
N
N

1
2
I
I


Autotrafo jumlah belitan primer N
1
300
belitan, jumlah belitan sekunder N
2

sebanyak 207 belitan. J ika tegangan
sekunder U
2
sebesar 270 Volt. Besarnya
tegangan sisi primer.


U
1
=
2
1 1
.
N
N U
230
270
300 . 207

V V
V



Konstruksi Autotransformator yang umum kita
temukan berbentuk bulat seperti gambar-4.24.
Tegangan primer konstan dihubungkan dengan
jala-jala PLN. Tegangan sekunder berubah-ubah
dengan cara memutar kenop yang yang dapat
berputar. Dengan memutar kenop pada sudut
tertentu, menentukan jumlah belitan sekundernya,
sehingga tegangan sekunder berbanding dengan
sudut putaran kenop putarnya.

Autotrafo memiliki efisiensi yang baik sekali
mendekati 98% dikarenakan rugi-rugi tembaga
dan rugi inti trafo sangat kecil. Tetapi yang harus
diperhatikan pemasangan penghantar phasa dan
netral tidak boleh terbalik, karena berakibat
tegangan 220 V yang membahayakan.

Gambar 4.23 : Rangkaian
listrik Autotransformator
Gambar 4.24 : Autotrafo
dengan bentuk inti toroida
Transformator
4-15
4.12. Transformator Khusus

Untuk kebutuhan khusus seperti trafo untuk
pengelasan logam gambar-4.25 diperlukan
karakteristik khusus, seperti tegangan kecil tetapi
arusnya sangat besar dan arus bisa diatur sesuai
kebutuhan. Untuk pengelasan logam tipis arus
yang dipakai kecil, sedangkan untuk pengelasan
logam yang tebal dibutuhkan arus yang besar.

Untuk itu dibuatlah inti bagian tengah terpisah
dengan inti utama dan dapat diputar kanan atau
kiri. Pada saat inti yang diputar segaris dengan
inti utama, garis gaya magnet maksimal dan arus
sekunder lebih besar. Ketika inti yang diputar
bergeser dari garis lurus, garis gaya magnet
mengecil dan arus sekunder lebih kecil.

Cara kerja trafo pengelasan gambar-4.26,
sebelum elektro las disentuhkan ke benda kerja.
tegangan sekunder U
O
=70 V. Ketika elektro las
menyentuh benda kerja logam, terjadi hubung
singkat tegangan diujung elektrode 2 V dan arus
lewat elektroda 150 A. Ada tegangan U
D
68 V
didrop pada pada induktor.

Karakteristik tegangan dan arus trafo las
gambar-4.27, menunjukkan tegangan 70 V dan
arus sekunder sampai 150 A. Saat elektrode las
menyentuh benda kerja logam, terjadi hubung
singkat pada belitan sekunder, tegangan
disekunder trafo tetap 70 V dan tegangan diujung
elektroda hanya 2 V.

Trafo Welding (mesin las) dirancang khusus
mampu menahan arus hubungsingkat yang besar
secara terus menerus, sebagai akibatnya faktor
kerja trafo las rendah antara 0,4 sampai 0,5.

Grafik gambar-4.27 menjelaskan beda tegangan
pada elektrode las sebanding dengan arus yang
dipakai. Pada arus 40 A tegangan sekitar 55A.
Saat arus 80 A, tegangan dielektrode 40 A.
Daerah kerja trafo berada saat arus antara 80 A
sampai 130 A.


Gambar 4.25 : Prinsip
Transformator khusus untuk
Welding
Gambar 4.26 : Rangkaian
Trafo Welding
Gambar 4.27 : Grafik
tegangan fungsi arus, pada
Trafo Welding
Transformator
4-16
4.13. Transformator Pengukuran

Untuk pengukuran tegangan dan arus yang besar diperlukan trafo pengukuran.
Tujuannya untuk menyesuaikan besaran pengukuran dengan kemampuan alat
ukur, disamping untuk keamanan manusia. Pemakaian trafo pengukuran tidak
hanya untuk Voltmeter, Ampermeter, Kwhmeter saja, tetapi untuk meng-
operasikan berbagai peralatan kontrol relay tegangan, relay arus, relay bimetal
dsb.

4.14. Trafo Pengukuran Tegangan

Panel distribusi dengan tegangan menengah
20 KV atau panel tegangan tinggi 150 KV
menggunakan trafo pengukuran tegangan
(Potential Transformer = PT), untuk
menurunkan tegangan 150KV atau 20KV
menjadi 100 V. Untuk arus beban yang lebih
besar 50 A dipakai trafo arus (Current
Transformer = CT) gambar-4.28 untuk
menurunkan arus menjadi 1 A atau 5 A.



Gambar 4.28 : Bentuk fisik Trafo Arus (CT)


Untuk pengukuran tegangan 20 KV sistem tiga
phasa, digunakan trafo tegangan PT dengan ratio
20KV/100 V gambar-4.29 Bagian primer trafo
tegangan terminal 1.1 dan 1.2 dipasang
pengaman dua sekering yang terhubung dengan
jala-jala L1 dan L2.

Bagian sekunder trafo tegangan, terminal 2.1 dan
2.2 dihubungkan dengan Voltmeter dengan batas
ukur 100 V. Terminal 2.1 dipasangkan sebuah
sekering pengaman, terminal 2.2 dihubungkan
dengan bumi sebagai pengaman bahaya
tegangan sentuh jika terjadi gangguan pada
trafo tegangan.

Data teknis trafo pengukuran tegangan tertera
dalam nameplate gambar-4.30 yang
menjelaskan spesifikasi teknis mencakup :

Tegangan primer 10.000 V
Gambar 4.30 : Name plate Trafo
tegangan
Gambar 4.29 : Pengukuran
dengan trafo tegangan (PT)
Transformator
4-17








4.15. Trafo Pengukuran Arus

Untuk pengukuran arus beban yang besar
digunakan trafo pengukuran arus (Current
Transformer =CT). Trafo CT dipasang pada
jala-jala seperti gambar-4.31 dengan
terminal K menghadap sisi supply daya, dan
terminal L menghadap sisi beban. Terminal
K harus dihubungkan dengan bumi untuk
mengaman kan dari tegangan sentuh yang
berbahaya jika ada gangguan kerusakan CT.


Ampermeter yang digunakan memiliki batas
ukur 1 A atau 5 A dengan skala pengukuran
sesuai kebutuhan. Yang perlu diperhatikan
ratio arus primer dan arus sekunder trafo CT
(CT ratio 300A/5A)

J ika terjadi kerusakan pada alat ukur atau
alat kontrol yang dihubungkan dengan trafo
pengukuran arus CT, maka sisi sekunder
trafo arus harus dihubungsingkatkan. J ika
tidak akan berbahaya karena akan
menimbulkan tegangan induksi yang sangat
tinggi dan berbahaya.

Spesifikasi teknis trafo CT dapat dibaca pada
nameplate yang menempel di bagian badan
trafo CT gambar-4.33. Informasi yang
terkandung mencakup data-data sbb:









Tegangan sekunder 100 V
Tegangan kerja 12, 28, 35, 75 KV
Daya trafo 100 150 VA
Presisi pengukuran 0,2 0,5%
Frekuensi 50 Hz
Tegangan nominal : 0,5/ 3/ 6 kV
Ratio arus : 300 A / 5 A
Arus thermal : 6 kA
Arus dinamik : 15 kA
Daya trafo : 30- 60 VA
Presisi pengukuran : 0,5 1,0 %
Frekuensi : 50 Hz
Gambar 4.31 : Pengukuran
dengan Trafo Arus
Gambar 4.33 : Keterangan
nameplate Trafo Arus
Gambar 4.32 : Nameplate
Trafo Arus
Transformator
4-18

Trafo arus dalam bentuk portabel untuk kebutuhan
pemeriksaan atau pemeliharaan dipakai jenis tang
amper dengan sistem digital gambar-4.34. Cara
penggunaannya sangat praktis, tekan tang amper
masukkan kesalah satu kabel phasa yang akan
diukur, periksa batas ukurnya dan penunjukan
amper terbaca secara digital.

Tang amper juga dapat mengukur daya listrik KW-
meter dengan menghubungkan kabel clip-on
tegangan ke phasa R, S, T dan N.

Tang amper sangat bermanfaat untuk mengukur
arus beban tiap-tiap phasa untuk mengetahui
keseimbangan arus. Arus beban yang tidak
seimbang berpotensi merusak alat listrik. Dengan
metode tertentu tang amper bisa digunakan untuk
melacak jika terjadi pencurian listrik yang disengaja.



4.16. Transformator 3 Phasa

Transformator 3 phasa digunakan untuk sistem listrik berdaya besar, baik pada
sistem pembangkitan, transmisi maupun distribusi. Transformator 3 phasa yang
umum kita lihat pada gardu distribusi daya 250 KVA sampai 630 KVA
berbentuk persegi gambar-4.35.


Gambar 4.34 : Aplikasi
Trafo arus sebagai
meter potable
Gambar 4.35 : Bentuk fisik
Transformator tiga phasa
Transformator
4-19
Konstruksi transformator 3 phasa untuk daya besar dalam bentuk potongan
lihat gambar-4.36 Inti trafo berbentuk E-I dengan belitan primer an sekunder
pada ketiga kaki inti tarfo. Terminal tegangan tinggi (primer) tampak dari
isolator yang panjang. Terminal tegangan rendah (sekunder) dengan terminal
lebih pendek.

Trafo ditempatkan dalam rumah trafo yang diisi dengan minyak trafo yang
berfungsi sebagai pendingin sekaligus isolasi. Secara berkala minyak trafo
diganti. Pendinginan rumah trafo disempurnakan dengan dipasang sirip
pendingin agar panas mudah diserap oleh udara luar. Bagian terpenting dari
trafo 3 phasa.


Trafo 3 phasa bisa dibangun dari dua
buah trafo satu phasa, atau tiga buah
trafo satu phasa. Untuk traffo 3 phasa
berukuran berdaya besar, dibangun dari
tiga buah trafo satu phasa, tujuannya jika
ada salah satu phasa yang rusak/terbakar,
maka trafo yg rusak tersebut dapat
diganti dengan cepat dan praktis.

Trafo 3 phasa memiliki enam belitan
gambar-4.36. Tiga belitan primer dan tiga
belitan sekunder. Belitan primer diberikan
nomor awal 1, belitan 1U1 1U2 artinya
belitan primer phasa U.

Belitan sekunder diberikan notasi nomor awal 2, misalnya 2U2-2U1, artinya
belitan sekunder phasa U. Belitan primer atau sekunder dapat dihubungkan
secara Bintang atau hubungan Segitiga.
Gambar 4.36 : Belitan primer
dan sekunder Trafo tiga phasa
Transformator
4-20
4.17. Inti Transformator 3 Phasa

Bahan inti trafo 3 phasa dari bahan plat tipis ferro-
magnetis yang ditumpuk dengan ketebalan tertentu.
Pelat tipis dimaksudkan untuk menekan rugi-rugi
histerisis dan arus edy pada batas minimal. Ada
beberapa tipe inti trafo 3 phasa tampak pada
gambar-4.37.

Tipe U-I terdiri dari tiga inti yang dipasangkan
sudut menyudut 120
0
gambar-4.37a. Tipe U terdiri
atas tiga inti U dipasang sudut menyudut 120
0

gambar-4.37b. Tipe menyudut ini dipakai untuk
trafo 3 phasa yang dipasang pada tabung bulat
untuk trafo outdoor yang dipasang pada tiang
jaringan distribusi.

Tipe E-I yang banyak dipakai, tiap kaki terdapat
belitan primer dan sekunder masing-masing phasa
gambar-4.37c. Tipe jenis ini banyak dipakai untuk
daya kecil, sedang sampai daya besar. Bahkan
tiga buah trafo satu phasa yang digabungkan, bisa
menjadi trafo tiga phasa.
4.18. Hubungan belitan Transformator

Ada dua metoda hubungan belitan primer dan belitan sekunder. Pertama
hubungan Bintang, kedua hubungan Segitiga. Pada gambar-4.39, baik belitan
primer dan sekunder dihubungkan secara Bintang. Belitan primer terminal 1U,
1V dan 1W dihubungkan dengan supply tegangan 3 phasa. Belitan sekunder
terminal 2U, 2V dan 2W disambungkan dengan sisi beban.

Hubungan belitan Segitiga baik pada belitan primer maupun belitan sekunder
gambar-4.38. Pada hubungan Bintang tidak ada titik netral, yang diperoleh
ketiganya merupakan tegangan line ke line, yaitu L1, L2 dan L3.
Gambar 4.38 : Trafo tiga phasa belitan
primer dan sekunder hubungan Bintang
Gambar 4.39 : Trafo tiga phasa belitan
primer dan sekunder hubungan Segitiga
Gambar 4.37 : Bentuk
inti Trafo 3 Phasa
Transformator
4-21
4.19. Hubungan Jam Belitan Trafo

Transformator 3 phasa antara tegangan primer dan tegangan sekunder
perbedaan phasa dapat diatur dengan metoda aturan hubungan jam belitan
trafo. Satu putaran jam dibagi dalam 12 bagian, jika satu siklus sinusoida 360
0
,
maka setiap jam berbeda phasa 30
0
(360
0
/12).
Belitan trafo Dd0 gambar-4.40a, menunjukkan huruf D pertama belitan primer
dalam hubungan Delta (segitiga), huruf d kedua belitan sekunder hubungan
Delta(segitiga),angka 0 menunjukkan beda phasa tegangan primer-sekunder 0
0
.

Belitan trafo Dy5 gambar-4.40b, menunjukkan belitan primer dalam hubungan
Delta (segitiga), belitan sekunder Y (bintang), beda phasa antara tegangan
primer- sekunder 5 x 30
0
=150
0
.

Belitan trafo Dy-11 gambar-4.40c, menunjukkan belitan primer dalam
hubungan Delta (segitiga), belitan sekunder Y (bintang), beda phasa antara
tegangan primer-sekunder 11 x 30
0
=330
0
.

4.20. Minyak Trafo dan Relay Buchholz

Untuk mendinginkan trafo dipakai minyak
trafo yang berfungsi sebagai isolasi.
Cadangan minyak trafo ditempatkan dalam
tangki terpisah yang letaknya lebih tinggi
dari rumah trafo. Antara tangki cadangan
minyak trafo dan rumah trafo ditempatkan
relay Buchholz berupa dua tabung mercury
yang fungsinya berbeda gambar-4.41.

Relay tabung mercury pertama mengaman
kan jika level minyak trafo berkurang,
maka relay akan memutuskan circuit
breaker dan tegangan listrik putus. Relay
tabung mercury kedua mendeteksi jumlah
a b
c d
Gambar 4.40 : Vektor kelompok
Jam pada Trafo 3 phasa
Gambar 4.41 : Relay Buchholz
Transformator
4-22
gas dalam ruang, jika trafo mengalami pemanasan yang berlebihan, relay
tabung mercury akan memutuskan circuit breaker dan tegangan primer trafo
aman.


4.21. Konfigurasi Transformator 3 phasa

Disamping hubungan bintang dan segitiga dikenal juga hubungan segitiga
terbuka (open delta- VV conection) dan hubungan Zig-zag. Hubungan segitiga
terbuka gambar-4.42, terdiri dari dua trafo. Tegangan primer 20 KV dan
tegangan sekunder 400 V.

Dalam hubungan segitiga terbuka kapasitas maksimum beban besarnya =
0,577 x kapasitas trafo 3 phasa. Contoh dua buah trafo 10 KVA dalam
konfigurasi segitiga terbuka, daya maksimumnya =0,577x3x10 KVA =17.32
KVA saja.














Berikut ini konfigurasi hubungan bintang dan segitiga gambar-43 untuk
transformator transmisi tegangan tinggi. J ala-jala tegangan tinggi 380 KV
diturunkan tegangan menjadi 220 KV. Agar tegangan benar-benar simetris dari
ketiga phasa, harus diperhatikan rasio belitan N1/N2 dari ketiga trafo harus
sama.

Gambar 4.42 : Trafo 3
phasa hubungan Segitiga
terbuka (hubungan VV)
Gambar 4.43 : Trafo tiga
phasa dengan belitan primer
hubungan Segitiga, belitan
sekunder hubungan Bintang

Transformator
4-23
4.22. Transformator dalam Jaringan Asimetris

J aringan distribusi untuk melayani pelanggan
rumah tangga atau komersial dicatu dari PLN
dengan tegangan 20 KV dan diturunkan
menjadi 400 V/230 V dengan transformator 3
phasa jenis pasangan luar gambar-4.44.

Dalam jaringan distribusi yang melayani
kelompok rumah tangga sering terjadi kondisi
beban tidak seimbang. Artinya beban antar
phasa tidak sama, ada yang lebih besar atau
lebih kecil. Kondisi beban asimetris diatasi
dengan penggunaan trafo dalam hubungan
Yyn6; Dyn5 atau Yzn5.

Satu trafo distribusi dengan daya 400 KVA
bisa melayani antara 200 sd 300 rumah tinggal
dengan beban antara 2 KVA sampai 1,3 KVA
tiap rumah. Rumah tinggal menggunakan
suply satu phasa yang diambil dari salah satu
dari tiga phasa yang ada. Dalam satu blok
rumah menggunakan phasa R dan N, blok
lainnya phasa S dan N, blok lainnya phasa T
dan N. Problem muncul karena beban masing-
masing phasa tidak seimbang.

Hubungan Yyn6 pada gambar-
4.45a, belitan primer 20 KV dan
sekunder 400 V dalam hubungan
segitiga dengan netral. Beda
phasa tegangan primer dan
sekunder 180
0
. Perhatikan beban
sekunder terpasang pada L3 dan
N, arus yang mengalir sebesar I
2
.
Pada sisi primer kita anggap
phasa T mendapat beban
sebesar I
1
, sedang phasa R dan
S mendapat beban sebesar I
1
.

Hubungan Dyn5 pada gambar-
4.45b, belitan primer 20 KV
dalam hubungan segitiga, belitan
sekunder 400 V dalam hubungan
bintang, beda phasa tegangan
primer dan sekunder 150
0
. Saat beban sekunder L
1
dan N mengalir I
2
, phasa R
dan N. Pada belitan primer mengalir I
1
dari L
1
dan L
2
.

Gambar 4.44 : Pemasangan
Trafo Outdoor
Gambar 4.45 : Trafo daya (Yyn6 dan
Dyn5) dengan beban asimetris
Transformator
4-24
Transformator dengan hubungan Zig-zag memiliki ciri khusus, yaitu belitan
primer memiliki tiga belitan, belitan sekunder memiliki enam belitan. Hubungan
Yzn5 gambar-4.46 menunjukkan belitan primer 20 KV terhubung dalam
bintang L
1
, L
2
dan L
3
tanpa netral N.

Belitan sekunder 400 V merupakan
hubungan Zig-zag dimana hubungan
dari enam belitan sekunder saling
menyilang satu dengan lainnya. Saat
beban terhubung dgn phasa U dan N
arus sekunder I2 mengalir melalui
belitan phasa phasa U dan phasa S.
Bentuk vektor tegangan Zig-zag garis
tegangan bukan garis lurus, tetapi
menggeser dengan sudut 60
0
.







4.23. Pengelompokan Hubungan Transformator

Hubungan belitan transformator 3
phasa sesuai dengan Tabel-4.1 terbagi
dalam kelompok jam 0 (beda phasa 0
0
)
dan kelompok jam 5 (beda phasa 150
0
).
Belitan primer dikelompokkan dalam
hubungan bintang dan segitiga,
sedangkan belitan sekunder ada
hubungan bintang, segitiga dan zig-
zag.

Nameplate transformator 3 phasa pada
gambar4.-47 menjelaskan daya trafo
160 KVA, tegangan primer 20 KV,
dengan tiga tahapan tapping, tegangan
sekunder 400 V. Arus primer 4,62 A dan
arus sekunder 231 A. Impedansi trafo
4%, frekuensi 50 Hz, Hubungan belitan
trafo Yzn5, Klas isolasi A kemampuan
hubung singkat 1,8 detik.


Rugi tegangan pada tegangan
menengah 20 KV pasti terjadi karena
pengaruh panjang kabel dan pengaruh
Gambar 4.48 : Pengaturan
Tapping terminal Trafo Distribusi
Gambar 4.46 : Trafo daya Yzn5 dan
bentuk vektor tegangan sekundernya
Gambar 4.47 : Namplate
Trafo daya tiga phasa.
Transformator
4-25
beban. Tapping trafo pada gambar-4.48 belitan primer dilakukan agar ratio
N1/N2 tetap konstan, sehingga rugi tegangan tidak berpengaruh pada
tegangan sekunder. Ada tiga tapping sesuai nameplate, yaitu pada tegangan
20.800 V, tegangan 20.000 V dan tegangan 19.200 V.

Tabel 4.1 Grup rangkaian umum untuk arus putar-transformator daya



4.24. Paralel Dua Transformator

Paralel dua transformator dilakukan dengan cara menyambungkan secara
paralel dua transformator. Tujuannya untuk mendapatkan kapasitas daya yang
tersedia lebih besar sesuai kebutuhan beban.

Prosedur paralel trafo satu phasa dengan
menyambungkan dua trafo gambar-4.49.
Terminal 2.1 trafo-1 dihubung kan Voltmeter ke
terminal 2.2 trafo-2. Terminal 2.2 trafo-
1disambungkan ke terminak 2.1 trafo-2. J ika
penunjukan Voltmeter 230 V berarti dicapai beda
tegangan nominal.

Lepaskan Voltmeter dan sambungan terminal 2.2
dan terminal 2.1 trafo-2. Kemudian Trafo-2
terminal 2.1 sambung kan ke 2L1, terminal 2.2
ke 2L2.



Gambar 4.49 : Paralel Dua
Trafo satu phasa

Transformator
4-26
Syarat teknis paralel dua transformator :
1. Tegangan kedua trafo harus sama
2. Ratio belitan N
1
/N
2
kedua trafo sama.

Paralel dua tranfo 3 phasa gambar-4.50 harus memenuhi persyaratan teknis
sbb :

1. Ratio belitan N1/N2 kedua trafo identik sama termasuk setting tapping
kedua trafo juga harus sama.

2. Impedansi kedua usahakan sama, trafo dengan kapasitas daya lebih kecil
impedansinya harus lebih besar.

3. Ratio daya trafo besar dan kecil tidak melebihi 3 : 1.
Gambar 4.50 : Paralel Dua Trafo Tiga phasa


Sebelum dilakukan penyambungan paralel dilakukan pengecekan dengan
Voltmeter, jika penunjukan adalah 0 Volt, dapat disambungkan terminal seperti
gambar-40. J ika salah dalam hubungan Voltmeter maka penunjukan akan dua
kali lipat tegangan terminalnya =800 V








Transformator
4-27
4.25. Rangkuman
Mesin listrik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesin listrik statis dan
mesin lsitrik dinamis. Mesin listrik statis adalah transformator, mesin listrik
dinamis terdiri atas motor listrik dan generator.

Transformator :
a). memindahkan daya listrik dari satu sisi ke sisi lainnya.
b). tidak ada perubahan frekuensi
c). bekerja berdasarkan induksi elektromagnetis
d). dua rangkaian terjadi mutual induksi saling mempengaruhi

Transformator ideal adalah trafo yang rugi-ruginya nol, artinya daya pada
belitan primer sama dengan daya dibelitan sekunder.

Perbandingan tegangan primer dan sekunder disebut perbandingan
transformasi. Perbandingan transformasi () juga berlaku pada
perbandingan belitan primer dan sekunder.

Tegangan sekunder yang dihasilkan berbeda sudut phasa tegangan
primer dengan sekunder sebesar 180
0
.

Inti trafo dibuat dari bahan ferro magnetis berupa plat-plat tipis yang
ditumpuk menjadi satu sehingga membentuk inti dengan ketebalan
tertentu.

Ada beberapa jenis inti trafo, diantaranya, bentuk EI, bentuk L, bentuk M,
bentuk UI.
Spesifikasi teknik sebuah transformator dicantumkan dalam nameplate,
mencakup data pabrik pembuat, daya trafo, tegangan primer, tegangan
sekunder, arus primer, arus sekunder, frekuensi dan impendansi trafo.

Ada dua jenis kerugian dalam transformator, yaitu rugi inti dan rugi
tembaga.

Untuk mengukur rugi inti dilakukan dengan pengujian trafo tanpa beban
dan untuk mengukur rugi tembaga dilakukan dengan pengujian trafo
hubung singkat.

Efisiensi trafo dinyatakan dalam angka prosentase, merupakan
perbandingan antara daya output dengan daya input trafo.

Autotransformator termasuk trafo yang dibuat dengan rancangan berbeda,
karena belitan primer dan belitan sekunder menggunakan satu belitan.

Trafo pengukuran ada dua jenis, yaitu trafo pengukuran tegangan
(Potensial Transformer) dan trafo pengukuran arus (Current Transformer).
Transformator
4-28
Trafo pengukuran tegangan (Potensial Transformer) menurunkan dari
tegangan menengah atau tegangan tinggi menjadi tegangan pengukuran,
misalnya 20KV/100V.

Trafo pengukuran arus (Current Transformer) menurunkan dari arus yang
besar menjadi arus pengukuran, misalnya 400A/5A.

Transformator 3 phasa digunakan untuk sistem listrik berdaya besar, baik
pada sistem pembangkitan, transmisi maupun distribusi.

Trafo 3 phasa memiliki enam belitan. Tiga belitan primer dan tiga belitan
sekunder.

Ada dua metoda hubungan belitan primer dan belitan sekunder, yaitu
hubungan Delta (segitiga), belitan sekunder Y (bintang).

Hubungan transformator 3 phasa antara tegangan primer dan tegangan
sekunder perbedaan phasa dapat diatur dengan metoda aturan hubungan
jam belitan trafo, contoh : Hubungan Dy5.

Belitan trafo 3 phasa Dy5, menunjukkan belitan primer dalam hubungan
Delta (segitiga), belitan sekunder Y (bintang), beda phasa antara tegangan
primer- sekunder 5 x 30
0
=150
0
.

Disamping hubungan bintang dan segitiga dikenal juga hubungan segitiga
terbuka (open delta- VV conection) dan hubungan Zig-zag.

Untuk mendinginkan trafo dipakai minyak trafo yang berfungsi sebagai
isolasi antara belitan primer dan sekunder.

Paralel dua transformator dilakukan dengan cara menyambungkan secara
paralel dua transformator. Syarat paralel: tegangan harus sama, daya trafo
mendekati sama, impedansi trafo sama.
4.26. Soal-soal
1. Daya listrik 4 MW disalurkan sejauh 100 Km dengan tegangan 220 V,
faktor kerja Cos =1. Hitung a) besarnya arus yang mengalir, b) jika drop
tegangan yang dijinkan 10%. Hitunglah penampang kawat penghantar
yang dipakai.

2. Daya listrik 4 MW disalurkan sejauh 100 Km dengan tegangan 150KV
faktor kerja Cos =1 a) hitunglah besarnya arus yang lewat penghantar.
b) hitung penampang kawat jika drop tegangan 10%.


Transformator
4-29
3. Trafo 200 Watt, memiliki tegangan primer 220 V dan tegangan sekunder
20 V. J ika jumlah belitan primer 1000 lilitan. Hitunglah a) jumlah belitan
sekunder. b) hitung besarnya arus primer dan arus sekunder.

4. Gambarkan pengawatan dan hubungan alat ukur, serta jelaskan urutan
proses pengujian: a) trafo tanpa beban b) trafo hubung singkat.

5. Gambarkan bentuk gelombang sinusoida dari tegangan primer trafo, arus
magnetisasi dan tegangan sekunder transformator.

6. Gambarkan rangkaian pengganti trafo, yang terdiri atas komponen
resistansi R dan induktansi X
L
serta beban.

7. Trafo berdaya kecil 450 VA; cos =0,7; rugi inti 50 Watt dan rugi tembaga
75 Watt. Hitung efisiensi trafo.

8. Transformator 3 phasa memiliki data nameplate belitan trafo Dy5. J elaskan
makna dari kode tersebut.

9. Trafo distribusi dilengkapi dengan alat relay Buchholz, gambarkan
skematik alat tersebut dan cara kerjanya alat tersebut.

10. Dua buah trafo 20 KVA tegangan 20KV/400 V dihubungkan segitiga
terbuka terhubung dengan sistem 3 phasa. Gambarkan hubungan kedua
trafo tersebut dan berapa daya yang dihasilkan dari gabungan dua trafo
tersebut.

11. Trafo distribusi untuk supply daerah perumahan dipakai hubungan Yzn5.
Gambarkan hubungan belitan primer dan sekunder, dan jelaskan ketika
terjadi beban tidak seimbang pada salah satu phasanya.

12. Ada tiga tapping sesuai nameplate, yaitu pada tegangan 20.800 V,
tegangan 20.000 V dan tegangan 19.200 V. J elaskan cara kerja tapping
dan mengapa tapping dilakukan pada trafo distribusi.

13. Dua buah trafo distribusi 3 phasa akan dihubungkan paralel, sebutkan
syarat agar kedua trafo dapat diparalelkan dan jelaskan prosedur paralel
dengan menggunakan gambar pengawatan kedua trafo tsb.


BAB 5
Motor Listrik Arus Bolak Balik
Daftar Isi
5.1 Mengukur Kecepatan Putaran .......................................... 5-2
5.2 Mengukur Torsi ................................................................ 5-2
5.3 Hubungan Kecepatan, Torsi dan Daya Motor ................... 5-3
5.4 Prinsip Kerja Motor Induksi ............................................... 5-4
5.5 Konstruksi Motor Induksi ................................................... 5-7
5.6 Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi ............................... 5-7
5.7 Putaran Motor Induksi ....................................................... 5-9
5.8 Karakteristik Torsi Motor Induksi ....................................... 5-9
5.9 Pengasutan Motor Induksi ................................................ 5-10
5.10 Pengasutan Hubungan Langsung (DOL) .......................... 5-11
5.11 Pengasutan Resistor Stator ............................................. 5-12
5.12 Pengasutan Saklar Bintang-Segitiga. ............................... 5-14
5.13 Pengasutan Soft Starting .................................................. 5-15
5.14 Pengasutan Motor Slipring ................................................ 5-16
5.15 Motor Dua Kecepatan (Dahlander) .................................. 5-19
5.16 Prinsip kerja Motor AC Satu Phasa ................................. 5-20
5.17 Motor Kapasitor ............................................................... 5-22
5.18 Motor Shaded Pole ........................................................... 5-23
5.19 Motor Universal ................................................................ 5-24
5.20 Motor Tiga Phasa Suply Tegangan Satu Phasa ............... 5-25
5.21 Rangkuman ...................................................................... 5-25
5-22 Soal-soal ........................................................................... 5-27
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-2
5.1. Mengukur Kecepatan Putaran

Kecepatan putaran motor sama dengan jumlah putaran motor dalam periode
tertentu, misalnya putaran per menit (Rpm) atau kecepatan per detik (Rps). Alat
ukur yang digunakan adalah indikator kecepatan sering disebut tachometer
gambar-5.1. Tachometer di tempelkan langsung pada poros sebuah motor dan
dibaca putarnnya pada skala yang ada. Tachometer yang modern
menggunakan prinsip sinar laser, bekerjanya lebih sederhana berkas sinar
laser ditembakkan pada poros dan display digital akan menunjukkan putaran
poros motor.




















5.2. Mengukur Torsi

Torsi sering disebut momen (M)
merupakan perkalian gaya F (Newton)
dengan panjang lengan L (meter) gambar-
5.2.

M = F. L (Nm)

Gaya F yang dihasilkan dari motor listrik
dihasilkan dari interaksi antara medan
magnet putar pada stator dengan medan
induksi dari rotor.

F = B. I. L
Kecepatan motor diukur dengan alat tachometer, pengukuran dilakukan
pada poros rotor, ada tachometer analog dan tachometer digital.
Gambar 5.2 : Torsi Motor
Gambar 5.1 : Pengukuran poros
dengan Tachogeneratorr
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-3

J umlah belitan dalam rotor Z dan jari-jari polly rotor besarnya r (meter), maka
torsi yang dihasilkan motor

M = B.I.L.Z.r (Nm)

5.3. Hubungan Kecepatan, Torsi dan Daya Motor

Pengukuran hubungan kecepatan, torsi dan
daya motor dilakukan di laboratorium Mesin
Listrik gambar-5.3. Torsi yang dihasilkan
oleh motor disalurkan lewat poros untuk
menjalankan peralatan industri. Hubungan
antara torsi dan daya motor dapat diturunkan
dengan persamaan :

P =
t
M
sedangkan M= F. L (Nm)
P =
t
L F.
kecepatan v =
t
L

Dalam satu putaran poros jarak ditempuh
L = 2.r., sehingga kecepatan
v = n. 2. r.

Dengan memasukkan gaya F yang terjadi pada poros, diperoleh persamaan

P = n. 2. r..F

Akhirnya diperoleh hubungan daya motor P dengan torsi poros M dengan
persamaan :

P = 2..n.M (Nm/menit)

Daya P dalam satuan Nm/menit dipakai jika torsi M yang diukur menggunakan
satuan Nm. Dalam satuan daya listrik dinyatakan dalam Watt atau kWatt maka
persamaan harus dibagi dengan 60 detik dan bilangan 1000.

P = M n. .
1000 . 60
. 2H
(kW) dimana 1.000 Nm/detik =1 kW

Persamaan akhir daya P dan torsi M secara praktis didapatkan :

P =
9549
..M n
(kW)



Gambar 5.3 : Pengujian Motor
Listrik di Laboratorium
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-4

5.4. Prinsip Kerja Motor Induksi

Motor induksi adalah alat listrik yang
mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Listrik yang diubah adalah listrik 3
phasa. Motor induksi sering juga disebut motor
tidak serempak atau motor asinkron. Prinsip
kerja motor induksi lihat gambar-5.4.

Ketika tegangan phasa U masuk ke belitan
stator menjadikan kutub S (south=selatan),
garis2 gaya mahnet mengalir melalui stator,
sedangkan dua kutub lainnya adalah N
(north=utara) untuk phasa V dan phasa W.
Kompas akan saling tarik menarik dengan
kutub S.

Berikutnya kutub S pindah ke phasa V, kompas berputar 120
0
, dilanjutkan
kutub S pindah ke phasa W, sehingga pada belitan stator timbul medan magnet
putar. Buktinya kompas akan memutar lagi menjadi 240
0
. Kejadian berlangsung
silih berganti membentuk medan magnet putar sehingga kompas berputar
dalam satu putaran penuh, proses ini berlangsung terus menerus. Dalam motor
induksi kompas digantikan oleh rotor sangkar yang akan berputar pada
porosnya. Karena ada perbedaan putaran antara medan putar stator dengan
putaran rotor, maka disebut motor induksi tidak serempak atau motor asinkron.

Susunan belitan stator motor induksi
dengan dua kutub, memiliki tiga belitan
yang masing-masing berbeda sudut
120
0
gambar-5.5. Ujung belitan phasa
pertama adalah U1-U2, belitan phasa
kedua adalah V1-V2 dan belitan phasa
ketiga yaitu W1-W2.

Prinsip kerja motor induksi dijelaskan
dengan gelombang sinusoidal
gambar5.6, terbentuk-nya medan putar
pada stator motor induksi. Tampak
stator dengan dua kutub, dapat
diterangkan dengan empat kondisi.

Gambar 5.4 : Prinsip
kerja motor induksi
Gambar 5.5 : Belitan stator
motor induksi 2 kutub
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-5
Gambar 5.6 : Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan
putar pada stator motor induksi

1. Saat sudut 0
0
. Arus I
1
bernilai positip dan arus I
2
dan arus I
3
bernilai
negatip dalam hal ini belitan V
2
, U
1
dan W
2
bertanda silang (arus
meninggalkan pembaca), dan belitan V
1
, U
2
dan W
1
bertanda titik (arus
listrik menuju pembaca). terbentuk fluk magnet pada garis horizontal sudut
0
0.
kutub S (south=selatan) dan kutub N (north=utara).

2. Saat sudut 120
0
. Arus I
2
bernilai positip sedangkan arus I
1
dan arus I
3

bernilai negatip, dalam hal ini belitan W
2
, V
1
dan U
2
bertanda silang (arus
meninggalkan pembaca), dan kawat W
1
, V
2
dan U
1
bertanda titik (arus
menuju pembaca). Garis fluk magnit kutub S dan N bergeser 120
0
dari
posisi awal.

3. Saat sudut 240
0
. Arus I
3
bernilai positip dan I
1
dan I
2
bernilai negatip,
belitan U
2
, W
1
dan V
2
bertanda silang (arus meninggalkan pembaca), dan
kawat U
1
, W
2
dan V
1
bertanda titik (arus menuju pembaca). Garis fluk
magnit kutub S dan N bergeser 120
0
dari posisi kedua.

4. Saat sudut 360
0
. posisi ini sama dengan saat sudut 0
0
. dimana kutub S
dan N kembali keposisi awal sekali.

Dari keempat kondisi diatas saat sudut 0
0
; 120
0
; 240
0
;360
0
, dapat dijelaskan
terbentuknya medan putar pada stator, medan magnet putar stator akan
memotong belitan rotor. Kecepatan medan putar stator ini sering disebut
kecepatan sinkron, tidak dapat diamati dengan alat ukur tetapi dapat dihitung
secara teoritis besarnya
p
f
ns
120
= putaran per menit.




Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-6
Rotor ditempatkan didalam rongga stator,
sehingga garis medan magnet putar stator
akan memotong belitan rotor. Rotor motor
induksi adalah beberapa batang penghantar
yang ujung-ujungnya dihubung singkatkan
menyerupai sangkar tupai, maka sering
disebut rotor sangkar tupai gambar-5.7,
Kejadian ini mengakibatkan pada rotor timbul
induksi elektromagnetis. Medan mahnet putar
dari stator saling berinteraksi dengan medan
mahnet rotor, terjadilah torsi putar yang
berakibat rotor berputar.

Kecepatan medan magnet putar pada stator:

p
f
ns
120
= Rpm

% 100

=
ns
nr ns
slip

ns kecepatan sinkron medan stator (rpm)
f frekuensi (Hz)
nr kecepatan poros rotor (rpm)
slip selisih kecepatan stator dan rotor

Contoh : Motor induksi pada nameplate tertera frekuensi 50 Hz, putaran rotor
1440 Rpm memiliki jumlah kutub 4 buah. Hitung besarnya putaran medan
magnet putar pada stator dan slip motor induksi tersebut,

Jawaban :

n
s
=
p
f 120
=
2
120 Hz 50
= 1.500 Rpm

s = % 100

s
s
n
n n

= 100%
1500
1440 1500

Rpm
Rpm Rpm
= 4%





Gambar 5.7 : Bentuk rotor
sangkar
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-7
5.5. Konstruksi Motor Induksi

Konstruksi motor induksi secara detail
terdiri atas dua bagian, yaitu: bagian
stator dan bagian rotor gambar-5.8.
Stator adalah bagian motor yang diam
terdiri : badan motor, inti stator, belitan
stator, bearing dan terminal box.
Bagian rotor adalah bagian motor
yang berputar, terdiri atas rotor
sangkar, poros rotor. Konstruksi
motor induksi tidak ada bagian rotor
yang bersentuhan dengan bagian
stator, karena dalam motor induksi
tidak komutator dan sikat arang.

Konstruksi motor induksi lebih
sederhana dibandingkan dengan motor DC, dikarenakan tidak ada komutator
dan tidak ada sikat arang gambar-5.9. Sehingga pemeliharaan motor induksi
hanya bagian mekanik saja, dan konstruksinya yang sederhana motor induksi
sangat handal dan jarang sekali rusak secara elektrik. Bagian motor induksi
yang perlu dipelihara rutin adah pelumasan bearing, dan pemeriksaan
kekencangan baut-baut kabel pada terminal box karena kendor atau bahkan
lepas akibat pengaruh getaran secara terus menerus.

Rumus mengitung daya input motor induksi :
P1 = 3 cos U (Watt)

P
1
: Daya input (Watt)
U : Tegangan (Volt)
I : Arus (Amper)
Cos : Faktor kerja


5.6. Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi

Motor induksi gambar-5.9 memiliki rugi-
rugi yang terjadi karena dalam motor
induksi terdapat komponen tahanan
tembaga dari belitan stator dan
komponen induktor belitan stator. Pada
motor induksi terdapat rugi-rugi tembaga,
rugi inti dan rugi karena gesekan dan
hambatan angin.



Gambar 5.8 : Fisik motor induksi
Gambar 5.9 : Rugi-rugi
daya motor induksi
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-8
Besarnya rugi tembaga sebanding dengan I
2
.R, makin besar arus beban maka
rugi tembaga makin besar juga. Daya input motor sebesar P1, maka daya yang
diubah menjadi daya output sebesar P2.

Persamaan menghitung rugi-rugi motor induksi :

Rugi-rugi motor = P1 P2

Persamaan menghitung efisiensi motor induksi :

q = % 100
P
P
1
2

P1 Daya input (Watt)


P2 Daya output (Watt)

Menghitung momen torsi yang dihasilkan
motor induksi lihat gambar-10,

M = r F (Nm)

P
2
= M e (Watt)

e = 2 t n

M Torsi (Nm)
F Gaya (Newton)
P
2
Daya output (Watt)


e Kecepatan sudut putar
n Kecepatan motor (Putaran/detik)

Contoh : Nameplate motor induksi gambar-
5.11 dengan daya output 5,5 KW, tegangan
400 V dan arus 10,7 A, cos 0,88. Putaran
motor 1425 Rpm. Dapat dihitung daya input,
efisiensi motor dan momen torsi motor tsb.

Jawaban :
Daya output motor P2 =5,5 kW

a) P
1
= 3 cos U = 3 0,88 A 10,7 V 400 =6,52kW

b) q = % 100
P
P
1
2
= 5,5 KW/6,52KW =0,84 =84%

c) M =
=
2 P
=
n
P
2
2
=
s
1
60
1450
2
W 55.000

= 36 Nm
Gambar 5.11 : Nameplate
motor Induksi
Gambar 5.10 : Torsi motor
pada rotor dan torsi pada poros
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-9

5.7. Putaran Motor Induksi

Motor induksi memiliki dua arah putaran motor,
yaitu putaran searah jarum jam (kanan)
gambar-5.12, dan putaran berlawanan jarum
jam (kekiri) dilihat dari poros motor. Putaran
motor induksi tergantung jumlah kutubnya,
motor induksi berkutub dua memiliki putaran
poros sekitar 2.950 Rpm, yang berkutub empat
memiliki putaran poros mendekati 1450 Rpm.

Putaran arah jarum jam (kanan) didapat dengan
cara menghubungkan L1- terminal U, L2-
terminal V dan L3 terminal W. Putaran arah
berlawanan jarum jam (kiri) didapat dengan
menukarkan salah satu dari kedua kabel phasa,
misalkan L1-terminal U, L2-terminal W dan L3-
terminal V. Dengan memasang dua buah kontaktor, sebuah motor induksi
dapat dikontrol untuk putaran kanan, dan putaran kekiri. Aplikasi praktis untuk
membuka dan menutup pintu garasi dengan motor induksi dapat
memanfaatkan kaidah putaran kanan dan kiri ini, dengan melengkapi dengan
sensor cahaya atau saklar manual motor dapat dihidupkan untuk membuka dan
menutup pintu garasi.


5.8. Karakteristik Torsi Motor Induksi

Karakteristik torsi motor induksi gambar-5.13,
disebut torsi fungsi dari slip (T=f(slip). Garis
vertikal merupakan parameter torsi (0100%)
dan garis horizontal parameter slip (1,00,0).
Dikenal ada empat jenis torsi, yaitu :
1. MA, momen torsi awal,
2. MS, momen torsi pull-up,
3. MK, momen torsi maksimum
4. MB, momen torsi kerja.

Torsi awal terjadi saat motor pertama
dijalankan (slip 1,0), torsi pull-up terjadi saat
slip 0,7, torsi maksimum terjadi slip 0,2 dan
torsi kerja berada ketika slip 0,05. Torsi beban harus lebih kecil dari torsi motor.
Bila torsi beban lebih besar dari torsi motor, akibatnya motor dalam kondisi
kelebihan beban dan berakibat belitan stator terbakar. Untuk mengatasi kondisi
beban lebih dalam rangkaian kontrol dilengkapi dengan pengaman beban lebih
disebut thermal overload, yang dipasang dengan kontaktor.

Gambar 5.12 : Putaran
motor dilihat dari sisi poros
Gambar 5.13 : Karakteristik
Torsi motor induksi
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-10
Gambar 5.15 : Karakteristik
parameter efisiensi,putaran,
faktor kerja dan arus beban

Karakteristik torsi juga bisa disajikan dalam
bentuk lain, kita kenal karakteristik putaran =
fungsi torsi, n =f (torsi) lihat gambar-5.14.
Garis vertikal menunjukkan parameter
putaran, garis horizontal menunjukkan
parameter torsi. Ketika motor berputar pada
garis n didapatkan torsi di titik M. Ketika
putaran berada di n
n
didapatkan torsi motor
di M
n
. Daerah kerja putaran motor induksi
berada pada area n dan n
n
sehingga torsi
kerja motor induksi juga berada pada area
M dan M
n.
Berdasarkan grafik n = fungsi
(torsi) dapat juga disimpulkan ketika putaran
rotor turun dari n ke n
n
pada torsi justru
terjadi peningkatan dari M ke M
n.




Karakteristik motor induksi lainnya lihat gambar-5.15 mencakup parameter
efisiensi, faktor kerja, ratio arus dan ratio putaran. Dengan membaca
karakteristik motor induksi dapat diketahui setiap parameter yang dibutuh kan.
Saat torsi mencapai 100% dapat dibaca ratio arus I/I
o
=1; faktor kerja cos :
0,8, efiseiensi motor 0,85 dan ratio putaran n/n
s
: 0,92.


5.9. Pengasutan Motor Induksi

Saat motor induksi di starting secara langsung, arus awal motor besarnya
antara 500% sd 700% dari arus nominal. Ini akan menyebabkan drop
tegangan yang besar pada pasokan tegangan PLN. Untuk motor daya kecil
sampai 5 KW, arus starting tidak berpengaruh besar terhadap drop tegangan.
Pada motor dengan daya diatas 30 KW sampai dengan 100 KW akan
menyebabkan drop tegangan yang besar dan menurunkan kualitas listrik dan
pengaruhnya pada penerangan yang berkedip.

Gambar 5.14 : Karakteristik
putaran fungsi torsi beban
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-11
Pengasutan motor induksi adalah cara menjalankan pertama kali motor,
tujuannya agar arus starting kecil dan drop tegangan masih dalam batas
toleransi. Ada beberapa cara teknik pengasutan, diantaranya :
1. Hubungan langsung (Direct On Line = DOL)
2. Tahanan depan Stator (Primary Resistor)
3. Transformator
4. Segitiga-Bintang (Start-Delta)
5. Pengasutan Soft starting
6. Tahanan Rotor lilit
5.10. Pengasutan Hubungan Langsung (DOL)

Pengasutan hubungan langsung atau dikenal
dengan istilah Direct On Line (DOL) gambar-
5.16. J ala-jala tegangan rendah 380 V melalui
pemutus rangkaian atau kontaktor Q1
langsung terhubung dengan motor induksi.
Sekering berfungsi sebagai pengaman
hubungsingkat, jika terjadi beban lebih
diamankan oleh relay pengaman beban lebih
(overload relay).

Saat pemutus rangkaian/ kontaktor di ON kan
motor induksi akan menarik arus starting
antara 5 sampai 6 kali arus nominal motor.
Untuk motor induksi dengan daya kecil 5 KW,
hubungan langsung bisa dipakai. Arus starting
yang besar akan menyebabkan drop tegangan
disisi suply. Rangkaian jenis ini banyak
dipakai untuk motor2 penggerak mekanik
seperti mesin bubut, mesin bor, mesin freis.

Torsi = I
2
2
/s

Motor di starting pada tegangan nominal, akan
mengalir arus mendekati arus hubung singkat
=7 In. jika slip =4% =0,04

( ) ( ) s I Ist T Tst .
2
= =( ) 96 , 1 04 , 0 7
2
=

Besarnya torsi starting = 1,96 kali torsi
nominalnya. Kesimpulannya, saat arus starting
5 s/d 6 kali arus nominal hanya menghasilkan
1,96 x Torsi nominalnya. gambar-5.17.


Gambar 5.17 : Karakteristik
Torsi, Pengasutan DOL
Gambar 5.16 : Pengawatan
Motor Induksi Pengasutan
Langsung (DOL)
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-12

Karakteristik pengasutan langsung hanya
sesuai untuk motor induksi berdaya kecil,
karena untuk motor daya besar akan
menyebabkan pengaruh drop tegangan
yang besar. Ketika starting dimulai motor
induksi akan menarik arus yang besarnya
sampai 6 kali arus nominalnya, Secara
berangsur-angsur ketika kecepatan motor
mendekati nominalnya maka arus motor
akan berada pada kondisi nominalnya
gambar-5.18
5.11. Pengasutan Resistor Stator

Pengasutan dengan memasang resistor pada
rangkaian stator gambar-5.19. Pertama kali kondisi
starting kontaktor Q
1
ON, maka tegangan jala-jala PLN
ke rangkaian stator dengan melewati resistor R
1
.
Fungsi resistor untuk menurunkan tegangan ke stator.
J ika tegangan ke stator berkurang 50%, maka arus
starting ditekan menjadi 50% yang akan menyebabkan
torsi menjadi 25% dari torsi nominalnya gambar-5.20.





Setelah proses starting selesai, kontaktor
Q
2
di ON kan sehingga stator mendapat
tegangan nominal dan motor akan menarik
arus nominal dan hasilnya adalah torsi
nominal. Belitan stator motor induksi dalam
hubungan bintang, dimana terminal W
2
, U
2

dan V
2
dihubung-singkatkan.




Pengasutan hubungan langsung (DOL) akan menarik arus 5 s/d 6 kali arus
nominal, menghasilkan torsi starting 1,96 kali torsi nominal
Gambar 5.20 : Karakteristik
Torsi Pengasutan Resistor Stator
Gambar 5.18 : Karakteristik Arus
fungsi putaran, Pengasutan DOL
Gambar 5.19 : Pengawatan
Pengasutan Resistor Stator
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-13

J ika x adalah faktor pengurangan tegangan, maka :

I
starting
= x. I
hs
dan T
starting
= x
2
. T
hs

Torsi = I
2
2
/s

Motor di starting pada tegangan nominal, akan mengalir arus mendekati arus
hubung singkat =7 In. jika slip =4% =0,04; x =0,5

Pengasutan resistor dapat digantikan dengan autotransformator tiga phasa,
yang dihubungkan seri dengan belitan stator gambar-5.21 Tegangan ke stator
dapat diatur sesuai kebutuhan, misalkan k =80%, 70% atau 50%.


Gambar 5.21 : Pengawatan Pengasutan Tegangan dengan Autotransformator


T
starting
= k
2
. T
hs


Misalkan k = 50%. T
hs
= 1,96

T
starting
= (0,5)
2
. 1,96 = 0,5



Pengasutan resistor stator dengan memasang resistor secara seri dengan
belitan stator. Resistor gunanya untuk menurunkan tegangan ke stator. J ika
tegangan diturunkan 50%, arus starting turun 50% dan torsi starting turun
25%.
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-14
5.12. Pengasutan Saklar Bintang-Segitiga.

Motor induksi dengan pengasutan segitiga-
bintang dengan saklar manual gambar-5.22.
Rangkaian bintang segitiga juga dapat
dilaksankan dengan menggunakan kontaktor
secara elektromagnetik. Motor induksi
dirangkai dengan saklar manual bintang-
segitiga.

Saat saklar posisi tuas 0, semua rangkaian
terbuka, sehingga motor dalam kondisi tidak
bertegangan. Saat saklar posisi bintang
(tanda Y), L1-U1; L2-V1 dan L3-W1,
sementara W2-U2-V2 dihubung singkatkan.
Tegangan ke stator :

V
stator
= V
phasa
=
3
Vline

I
stator
= I
phasa
=
3
Iline

T
starting
=
2
)
3
1
(
x T
hs

Jika diketahui T
hs
= 1,96 T nominal

T
starting
= 1/3 x 1,96 = 0,65

Ketika saklar posisi segitiga (tanda ), motor induksi bekerja pada tegangan
normal, arus nominal dan torsi nominal. Belitan stator mendapatkan tegangan
sebesar tegangan phasa ke phasa. Harus diperhatikan nameplate motor untuk
hubungan segitiga bintang harus disesuaikan dengan tegangan kerja yang
digunakan, jika salah menggunakan belitan akan terbakar.

Karakteristik arus fungsi putaran I =f(n)
pengasutan bintang-segitiga gambar-5.23
ketika motor terhubung bintang, arus starting
dua kali arus nominalnya sampai 75% dari
putaran nominal. Ketika motor terhubung
segitiga arus motor meningkat empat kali
arus nominalnya. Secara berangsur-angsur
arus motor menuju nominal saat putaran
motor nominal.





Gambar 5.22 : Pengawatan
Pengasutan Bintang-Segitiga
Gambar 5.23 : Karakteristik Arus
Pengasutan Bintang-Segitiga
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-15

Karakteristik torsi fungsi putaran T =f(n)
pengasutan bintang-segitiga gambar-5.24
memperlihatkan ketika motor terhubung bintang,
torsi starting sebesar setengah dari torsi
nominalnya sampai 75% dari putaran nominal.
Ketika motor terhubung segitiga torsi motor
meningkat menjadi dua kali lipat torsi
nominalnya. Secara berangsur-angsur torsi
motor mendekati nominal saat putaran motor
nominal.





5.13. Pengasutan Soft Starting

Pengasutan Soft starting menggunakan
komponen solid-state, yaitu enam buah
Thyristor yang terhubung antiparalel gambar-
5.25. Saat saklar Q1 di ON kan tegangan
akan dipotong gelombang sinusoidanya oleh
enam buah Thyristor yang dikendalikan oleh
rangkaian triger. Dengan mengatur sudut
penyalaan triger Thyristor, sama mengatur
tegangan ke belitan stator motor. Dengan k
sebagai ratio tegangan asut dengan tegangan
nominal besarnya torsi motor starting.

T
starting
= k
2
. T
hs


Karakteristik arus fungsi putaran pada
pengasutan soft starting, memperlihatkan grafik
arus starting besarnya tiga kali arus nominalnya
sampai motor mencapai putaran mendekati
85% gambar-5.26. Arus motor berangsur
angsur menuju arus nominalnya ketika putaran
motor mendekati nominalnya. Pengasutan
solid state makin diminati karena harganya
ekonomis dan handal.


Pengasutan segitiga bintang menggunakan saklar segitiga-bintang. Saat
hubungan segitiga arus ke stator 1/3 dari arus start DOL. Torsi starting 1/3
dari T starting DOL =0,65.
Gambar 5.24 : Karakteristik Torsi
Pengasutan Bintang-Segitiga
Gambar 5.26 : Karakteristik Arus
Pengasutan Soft Starting
Gambar 5.25 : Pengawatan
Pengasutan Soft Starting
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-16
Karakteristik torsi fungsi putaran T =f(n)
pengasutan soft starting, memperlihatkan torsi
starting sebesar setengah dari torsi nominalnya,
berangsur-angsur torsi meningkat mendekati
140% torsi saat putaran mendekati 90%
nominalnya gambar-5.27. Secara berangsur-
angsur torsi motor mendekati nominal saat
putaran motor nominal.







5.14. Pengasutan Motor Slipring

Motor slipring gambar-5.28 atau sering
disebut motor rotor lilit termasuk motor
induksi 3 phasa dengan rotor belitan dan
dilengkapi dengan slipring yang
dihubungkan dengan sikat arang ke
terminal. Motor slipring dirancang untuk
daya besar.

Motor slipring pada terminal box memiliki
sembilan terminal, enam terminal
terhubung dengan tiga belitan stator
masing-masing ujungnya (U1-U2, V1-V2
dan W1-W2), tiga terminal (K-L-M)
terhubung ke belitan rotor melalui slipring.
Ada tiga cincing yang disebut slipring
yang terhubung dengan sikat arang. Sikat
arang ini secara berkala harus diganti
karena akan memendek karena aus.

Pengasutan rotor lilit gambar-5.29 belitan rotor yang ujungnya terminal K-L-M
dihubungkan dengan resistor luar yang besarnya bisa diatur. Dengan mengatur
resistor luar berarti mengatur besarnya resistor total yang merupakan jumlah
resistansi rotor dan resistansi luar (R
rotor
+ R
luar
), sehingga arus rotor I
2
dapat
diatur.
Pengasutan Soft starting menggunakan komponen solid state Thyristor
terpasang antiparalel pada rangkaian belitan stator. Dengan mengatur sudut
penyalaaan triger , tegangan dan arus starting terkendali.
Gambar 5.27 : Karakteristik Torsi
Pengasutan Soft Starting
Gambar 5.28 : Bentuk fisik
Motor Induksi Rotor Slipring
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-17










Ketika resistor berharga maksimum, arus rotor yang mengalir minimum,
sekaligus memperbaiki faktor kerja motor. Kelebihan pengasutan rotor lilit yaitu
diperoleh torsi starting yang tinggi, dengan arus starting yang tetap terkendali.

Data teknis motor rotor lilit dalam name plate gambar-5.30 menjelaskan
informasi :

Tegangan stator 400 V
Arus stator 178 A
Daya input 100 KW
Faktor kerja 0,89
Putaran 1460 Rpm
Ferkuensi 50 Hz
Tegangan rotor 245 V
Arus rotor 248 A
Indek proteksi 44
Klas isolasi F



Resistansi rotor luar dibuat bertahap
gambar-5.31 dengan tujuh tahapan. Saat
tahap-1 nilai resistor maksimum kurva torsi
terhadap slip, berikutnya tahap 2, 3, 4, 5, 6
dan tahap 7. Antara tahap-1 sampai tahap-
7 selisih slip sebesar s. Dengan demikian
pengaturan resistor rotor juga berfungsi
mengatur putaran rotor dari putaran rendah
saat tahap-1 menuju putaran nominal pada
tahap-7.


Pengaturan resistor rotor dapat
menggunakan kontaktor elektromagnet
gambar-5.32 dengan menggunakan 3
tahap. Kontaktor Q1 menghubungkan stator
dengan sumber daya listrik.

Gambar 5.29 : Belitan
Stator dan Rotor Motor
Slipring berikut Resistor
pada Rangkaian Rotor
Gambar 5.31 : Karakteristik
torsi Motor Slipring
Gambar 5.30 : Nameplate
Motor Induksi Jenis Slipring
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-18
Gambar 5.32 :
Pengawatan Motor
Slipring dengan tiga
tahapan Resistor



1. Ketika Q2, Q3, Q4 OFF resistansi rotor maksimum (R
A
= R1+R2+R3).

2. Saat Q2 ON resistansi luar R
A
=R2+R3.

3. Ketika Q3 ON resistansi R
A
=R3 saja.

4. Ketika Q4 ON rotor kondisi terhubung singkat R
A
=0, motor bekerja
nominal.

Grafik momen motor rotor lilit gambar-
5.33 dengan empat tahapan. Tahap
pertama yang saat Q1 kondisi ON dan
Q2+Q3+Q4 posisi OFF. maka rangkaian
tahanan rotor besarnya maksimum,
besarnya arus starting 1,5 In sampai
beberapa saat ke tahap kedua. Tahap
kedua Q2 kondisi ON dan Q3+Q4 posisi
OFF, arus starting 1,5 In menuju In
sampai tahap ketiga. Tahap ketiga Q3
kondisi ON dan Q4 posisi OFF, arus
starting kembali ke posisi 1,5 In dan
terakhir posisi tahap keempat saat Q4
ON semua resistor dihubungsingkatkan,
dan motor slipring bekerja kondisi
nominal.



Pengasutan Slipring termasuk pengasutan dengan menambahkan tahanan
pada rangkaian rotornya, hanya bisa dilakukan pada motor 3 phasa jenis
rotor lilit. Dengan mengatur besaran tahanan rotor, arus dan torsi starting
dapat diatur besarnya.
Gambar 5.33 : Karakteristik
Torsi dengan tiga tahapan
R i t
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-19
Gambar 5.34 :
Rangkaian Belitan
Motor dua kecepatan
(Dahlander)
5.15. Motor Dua Kecepatan (Dahlander)

Motor dua kecepatan (Dahlander) dirancang khusus memiliki dua kelompok
belitan yang berbeda. Belitan pertama memiliki delapan pasang kutub ( p=8,
kecepatan 370 Rpm) dengan ujung terminal 1U, 1V dan 1W yang dihubungkan
dengan sumber listrik tiga phasa L1,L2 dan L3. Belitan kedua memiliki enam
pasang kutub (p=6, kecepatan 425 Rpm) dengan ujung belitan 2U, 2V dan 2W
gambar-5.34.

Penjelasan cara kerja motor dua kecepatan terletak pada cara pemasangan
belitan statornya. Perhatikan belitan stator yang memiliki empat kutub atau 2
pasang kutub utaraselatan (p=2, kecepatan 1450 Rpm), belitan stator
dihubungkan secara seri. Aliran arus listrik dari L1 menuju terminal 1U
memberikan arus pada koil pertama, secara seri masuk ke koil kedua
menghasilkan dua pasang kutub, terminal 1V terhubung dengan L2 gambar-
5.35a.

Sedangkan pada pada stator dengan dua kutub atau satu pasang kutub (p=1,
kecepatan 2950 Rpm), belitan stator disambungkan secara paralel. Aliran arus
listrik dari L2 menuju terminal 2V memberikan arus pada koil pertama, dan koil
kedua secara paralel menghasilkan satu pasang kutub saja dan terminal 1U
dan 1V terhubung dengan L1 gambar-5.35b.


Gambar 5.35 : Hubungan Belitan Motor Dahlander
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-20
Penjelasan saat (p=2, kecepatan 1450 Rpm) bagian belitan motor terhubung
segitiga dimana sumber daya L1 keterminal 1U, L2 menuju terminal 1V dan L3
terhubung ke terminal 1W. Sementara ujung terminal 2U, 2V dan 2W tidak
dibiarkan terbuka gambar-5.36. Perhatikan tiap phasa terdapat dua belitan
yang terhubung secara seri yang akan menghasilkan dua pasang kutub.


Gambar 5.36 : Hubungan belitan Segitiga Dahlander berkutub empat (p=2)

Pada saat (p=1, kecepatan 2950 Rpm) bagian belitan motor terhubung secara
paralel bintang dimana sumber daya L1 keterminal 2U, L2 menuju terminal 2V
dan L3 terhubung ke terminal 2W. Sementara ujung terminal 1U, 1V dan 1W
dihubung singkatkan gambar-5.37. Perhatikan tiap phasa terdapat dua belitan
yang terhubung bintang paralel yang akan menghasilkan satu pasang kutub
saja.

Gambar 5.37 : Hubungan belitan Bintang Ganda, berkutub dua (p=1)

5.16. Prinsip kerja Motor AC Satu Phasa

Motor AC satu phasa berbeda cara kerjanya
dengan motor AC tiga phasa. Pada motor AC
tiga phasa, belitan stator terdapat tiga belitan
yang menghasilkan medan putar dan pada
rotor sangkar terjadi induksi dan interaksi
torsi yang menghasilkan putaran. Pada
motor satu phasa memiliki dua belitan stator,
yaitu belitan phasa utama (belitan U1-U2)
dan belitan phasa bantu (belitan Z1-Z2)
gambar-5.38.

Gambar 5.38 : Prinsip Medan
Magnet Utama dan Medan
magnet Bantu Motor Satu Phasa
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-21
Belitan utama menggunakan penampang
kawat tembaga lebih besar sehingga memiliki
impedansi lebih kecil. Sedangkan belitan
bantu dibuat dari tembaga berpenampang
kecil dan jumlah belitannya lebih banyak,
sehingga impedansinya lebih besar
dibanding impedansi belitan utama.

Grafik arus belitan bantu I
bantu
dan arus
belitan utama I
utama
berbeda phasa sebesar
gambar-5.39, hal ini disebabkan karena
perbedaan besarnya impedansi kedua
belitan tersebut. Perbedaan arus beda phasa
ini menyebabkan arus total, merupakan
penjumlahan vektor arus utama dan arus
bantu. Medan magnet utama yang dihasilkan
belitan utama juga berbeda phasa sebesar
dengan medan magnet bantu.

Belitan bantu Z1-Z2 pertama dialiri arus I
bantu

menghasilkan fluk magnet tegak lurus,
beberapa saat kemudian belitan utama U1-
U2 dialiri arus utama I
utama.
yang bernilai
positip. Hasilnya adalah medan magnet yang
bergeser sebesar 45
0
dengan arah
berlawanan jarum jam gambar-5.40.
Kejadian ini berlangsung terus sampai satu
siklus sinusoida, sehingga menghasilkan
medan magnet yang berputar pada belitan
statornya.

Rotor motor satu phasa sama dengan
rotor motor tiga phasa berbentuk batang-
batang kawat yang ujung-ujungnya
dihubung singkatkan dan menyerupai
bentuk sangkar tupai, maka sering disebut
rotor sangkar gambar-5.41 Belitan rotor
yang dipotong oleh medan putar stator,
menghasilkan tegangan induksi, interaksi
antara medan putar stator dan medan
magnet rotor menghasilkan torsi putar
pada rotor.





Gambar 5.40 : Medan magnet
pada Stator Motor satu Phasa
Gambar 5.41 : Rotor sangkar
Gambar 5.39 : Gelombang arus
medan bantu dan arus medan
utama
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-22
5.17. Motor Kapasitor

Motor kapasitor satu phasa banyak
digunakan dalam peralatan rumah tangga
seperti motor pompa air, motor mesin cuci,
motor lemari es, motor air conditioning
gambar-5.42. Konstruksinya sederhana
dengan daya kecil dan bekerja dengan
suplay PLN 220 V menjadikan motor
kapasitor banyak dipakai pada peralatan
rumah tangga.

Belitan stator terdiri atas belitan utama
dengan notasi terminal U1-U2, dan belitan
bantu dengan notasi terminal Z1-Z2
gambar-5.40. J ala-jala L1 terhubung
dengan terminal U1, dan kawat netral N
terhubung dengan terminal U2.
Kondensator kerja berfungsi agar
perbedaan sudut phasa belitan utama
dengan belitan bantu mendekati 90
0
.

Untuk menghasilkan putaran ke kiri
(berlawanan jarum jam) kondensator
kerja CB disambungkan ke terminal U1
dan Z2 dan terminal Z1 dikopel dengan
terminal U2 gambar-5.43a). Putaran ke
kanan (searah jarum jam) kondensator
kerja disambung kan ke terminal Z1 dan
U1 dan terminal Z2 dikopel dengan
terminal U1. gambar-5.43b).

Motor kapasitor dengan daya diatas 1 KW di lengkapi dengan dua buah
kondensator dan satu buah saklar sentrifugal. Belitan utama U1-U2
dihubungkan dengan jala-jala L1 dan Netral N. Belitan bantu Z1-Z2
disambungkan seri dengan kondensator kerja C
B
, dan sebuah kondensator
starting C
A
diseri dengan kontak normally close dari saklar sentrifugal gambar-
5.44.

Awalnya belitan utama dan belitan bantu mendapat suply dari jala-jala L1 dan
Netral. Dua buah kondensator C
B
dan C
A
kedua membentuk loop tertutup, rotor
mulai berputar ketika putaran mendekati 70% putaran nominalnya saklar
sentrifugal akan membuka dan kontak normally close memutuskan
kondensator bantu C
A
.

Gambar 5.42 : Bentuk fisik
Motor Kapasitor
Gambar 5.43 : Pengawatan Motor
Kapasitor Pembalikan Putaran
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-23

Gambar 5.44 : Pengawatan dengan Dua Kapasitor

Fungsi dari dua kondensator disambungkan paralel C
A
+C
B
untuk meningkatkan
nilai torsi awal untuk mengangkat beban. Setelah putaran motor men- capai
70% putaran, saklar sentrifugal terputus sehingga hanya kondensator kerja CB
saja yang tetap bekerja. J ika kedua konden- sator rusak maka torsi motor akan
menurun drastis gambar-5.45.


Gambar 5.45 : Karakteristik Torsi Motor kapasitor

5.18. Motor Shaded Pole

Motor shaded pole atau motor phasa terbelah
termasuk motor satu phasa daya kecil, banyak
digunakan untuk peralatan rumah tangga
sebagai motor penggerak kipas angin, blender.

Konstruksinya sangat sederhana, pada kedua
ujung stator ada dua kawat yang terpasang dan
dihubung singkatkan fungsinya sebagai
pembelah phasa gambar-5.46 Belitan stator
dibelitkan sekeliling inti membentuk seperti
belitan transfor mator. Rotornya berbetuk
sangkar tupai dan porosnya ditempatkan pada
rumah stator ditopang dua buah bearing.
Gambar 5.46 : Bentuk fisik Motor
Shaded Pole
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-24

Irisan penampang motor shaded pole
memperlihatkan dua bagian, yaitu bagian stator
dengan belitan stator dan dua kawat shaded pole.
Bagian rotor sangkar ditempatkan di tengah-
tengah stator. Torsi putar dihasilkan oleh adanya
pembelahan phasa oleh kawat shaded pole
gambar-5.47.

Konstruksi yang sederhana, daya yang kecil,
handal, mudah dioperasikan, bebas perawatan
dan cukup di supply dengan AC 220 V jenis
motor shaded pole banyak digunakan untuk
peralatan rumah tangga kecil.


5.19. Motor Universal

Motor Universal termasuk motor satu phasa
dengan menggunakan belitan stator dan belitan
rotor. Motor universal dipakai pada mesin jahit,
motor bor tangan. Perawatan rutin dilakukan
dengan mengganti sikat arang yang memendek
atau peas sikat arang yang lembek. Kontruksinya
yang sederhana, handal, mudah dioperasikan,
daya yang kecil, torsinya yang cukup besar
motor universal dipakai untuk peralatan rumah
tangga.




Bentuk stator dari motor universal terdiri dari
dua kutub stator. Belitan rotor memiliki dua
belas alur belitan gambar-5.49, dilengkapi
komutator dan sikat arang yang
menghubungkan secara seri antara belitan
stator dengan belitan rotornya. Motor universal
memiliki kecepatan tinggi sekitar 3000 rpm.
Aplikasi motor universal untuk mesin jahit, untuk
mengatur kecepatan dihubungkan dengan
tahanan geser dalam bentuk pedal yang ditekan
dan dilepaskan.




Gambar 5.47 : Penampang
Motor Shaded Pole
Gambar 5.48 : Komutator pada
Motor Universal
Gambar 5.49 : Stator dan Rotor
Motor Universal
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-25
5.20. Motor Tiga Phasa dengan Suply Tegangan Satu Phasa

Kondisi darurat memungkinkan motor tiga
phasa, bisa dioperasikan dengan supply
tegangan satu phasa. Terminal motor
dihubungkan secara segitiga, yaitu terminal
U1 dikopel W2, V1 dikopel U2, W1 dikopel
V2, dan ditambahkan kondensa- tor
8F/400V sebagai penggeser phasa
gambar5.50-.

Untuk mendapatkan putaram ke kanan
kondensator 8F/400V disambungkan
terminal U1 dan W1, sedangkan untuk
putaran kekiri kondensator disambungkan
terminal V1 dan W1. Daya beban
maksimum hanya 70% dari daya nominal
name plate.



5.21. Rangkuman

- Kecepatan motor diukur dengan alat tachometer, pengukuran dilakukan
pada poros rotor, ada tachometer analog dan tachometer digital.

- Torsi sering disebut momen (M) merupakan perkalian gaya F (Newton)
dengan panjang lengan L (meter).

- Motor induksi disebut juga motor asinkron adalah alat listrik yang
mengubah energi listrik menjadi energi mekanik.

- Motor terdiri atas belitan stator yang diam dan bagian rotor yang berputar
pada porosnya.

- Susunan belitan stator motor induksi dengan dua kutub, memiliki tiga
belitan yang masing-masing berbeda sudut 120
0
.

- Bagian rotor merupakan batang penghantar yang bagian ujung-ujungnya
dihubungsingkatkan dan disebut rotor sangkar tupai .

- Kecepatan medan putar stator ini sering disebut kecepatan sinkron, yang
berlaku rumus :
p
f
ns
120
=
- Konstruksi motor induksi tidak ada bagian rotor yang bersentuhan dengan
bagian stator, karena dalam motor induksi tidak komutator dan sikat arang.
Gambar 5.50 : Motor tiga Phasa
disuply tegangan satu Phasa

Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-26
- Bagian motor induksi yang perlu dipelihara rutin mencakup pelumasan
bearing, dan pemeriksaan kekencangan baut-baut kabel pada terminal box
karena kendor

- Rumus mengitung daya input motor induksi : P = 3 cos U (Watt)

- Pada motor induksi terdapat rugi-rugi tembaga, rugi inti dan rugi karena
gesekan dan hambatan angin.

- Efisiensi motor adalah perbandingan antara daya output pada poros rotor
dengan daya input yang ditarik dari daya listrik.

- Besarnya rugi tembaga pada motor induksi sebanding dengan I
2
.R, makin
besar arus beban maka rugi tembaga makin besar juga.

- Spesifikasi teknik motor induksi terdapat pada nameplate, yang
mengandung informasi: pabrik pembuat, jenis motor, tegangan nominal,
arus nominal, putaran poros, frekuensi, daya motor, klas isolasi, klas IP.

- Membalik putaran motor, dilakukan dengan menukarkan posisi terminal
yang terhubung dengan supply listrik 3 phasa.

- Dikenal ada empat jenis torsi, yaitu : MA=momen torsi awal, MS=momen
torsi pull-up, MK=momen torsi maksimum, MB=momen torsi kerja.

- Ada beberapa cara teknik pengasutan, diantaranya : (a)Hubungan
langsung (Direct On Line = DOL) (b)Tahanan depan Stator (Primary
Resistor) (c) Transformator (d) Segitiga-Bintang (Start-Delta) (e)
Pengasutan Soft starting (f)Tahanan Rotor lilit.

- Pengasutan hubungan langsung (DOL) akan menarik arus 5 s/d 6 kali arus
nominal, menghasilkan torsi starting 1,96 kali torsi nominal.

- Pengasutan resistor stator dengan memasang resistor secara seri dengan
belitan stator. Resistor gunanya untuk menurunkan tegangan ke stator.
J ika tegangan diturunkan 50%, arus starting turun 50% dan torsi starting
turun 25%.

- Pengasutan segitiga bintang menggunakan saklar segitiga-bintang. Saat
hubungan segitiga arus ke stator 1/3 dari arus start DOL. Torsi starting
1/3 dari T starting DOL =0,65.

- Pengasutan Soft starting menggunakan komponen Solid State Thyristor
terpasang antiparalel pada rangkaian belitan stator. Dengan mengatur
sudut penyalaan , tegangan dan arus starting dapat dikendalikan.

- Pengasutan Slipring termasuk pengasutan dengan menambahkan tahanan
pada rangkaian rotornya, hanya bisa dilakukan pada motor 3 phasa jenis
Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-27
rotor lilit. Dengan mengatur besaran tahanan rotor, arus dan torsi starting
dapat diatur besarnya.

- Motor dua kecepatan (Dahlander) dirancang khusus memiliki dua belitan
yang berbeda. Belitan pertama memiliki delapan pasang kutub ( p=8,
kecepatan 370 Rpm). Belitan kedua memiliki enam pasang kutub (p=6,
kecepatan 425 Rpm).

- Pada motor satu phasa memiliki dua belitan stator, yaitu belitan phasa
utama (belitan U1-U2) dan belitan phasa bantu (belitan Z1-Z2).

- Rotor motor satu phasa sama dengan rotor motor induksi berbentuk
batang-batang kawat yang ujung-ujungnya dihubung singkatkan dan
menyerupai bentuk sangkar tupai.

- Motor kapasitor satu phasa, belitan utama stator (U1-U2) dan belitan
phasa bantu dihubungkan seri dengan sebuah kapasitor (Z1-Z2).

- Motor shaded pole atau motor phasa terbelah, belitan utama pada stator
dan ada belitan pembelah phasa pada kedua ujung yang dekat rotor.

- Motor Universal termasuk motor satu phasa dengan menggunakan belitan
stator memiliki komutator dan sikat arang yang dihubungkan seri dengan
belitan rotor.

- Motor tiga phasa, bisa dioperasikan dengan supply tegangan satu phasa,
dengan menambahkan kapasitor.


5.22. Soal-soal

1. Motor induksi pada nameplate tertera frekuensi 50 Hz, putaran rotor 1450
Rpm memiliki jumlah kutub 2 buah. Hitung besarnya putaran medan
magnet putar pada stator dan slip motor induksi tersebut,

2. Nameplate motor induksi tertera daya output 7,5 KW, tegangan 400 V dan
arus 18 A, cos 0,85. Putaran motor 1440 Rpm. Dapat dihitung daya
input, efisiensi motor dan momen torsi motor tsb.

3. Nameplate motor induksi dengan daya output 5,5 KW, tegangan 400 V dan
arus 10,7 A, cos 0,88. Putaran motor 1425 Rpm. Bila motor tersebut
dihubungkan dengan starting DOL, hitung besarnya arus starting dan torsi
startingnya.

4. Gambarkan pengawatan starting dengan bintang-segitiga, dan jelaskan
cara kerjanya saat pengasutan terjadi, terangkan berapa besarnya arus
starting dan torsi starting yang dihasilkan.


Motor Listrik Arus Bolak Balik

5-28
5. Motor induksi jenis rotor lilit dengan name plate sbb :
Tegangan stator 380 V
Arus stator 160 A
Daya input 90 KW
Faktor kerja 0,89
Putaran 1450 Rpm
Frekuensi 50 Hz
Tegangan rotor 245 V
Arus rotor 200 A

Hitunglah besarnya daya input, besarnya daya output dan efisiensi dari
motor induksi.

6. Motor lilit 50 KW/380V di rancang untuk pengasutan dengan tahanan
belitan rotor dengan tiga tahapan. Gambarkan pengawatan rangkaian
power nya dan jelaskan cara kerjanya dari tahapan pengasutan.

7. Motor pompa dirancang untuk mengisi tangki reservoir dengan ukuran
1m x 2m x 2m dengan ketinggian dari permukaan tanah 10 meter,
kedalaman sumur 15 meter, debit pompa 100 liter/menit. Tentukan daya
pompa yang dibutuhkan untuk menggerakkan pompa tersebut.

Bab 6
Mesin Listrik Arus Searah


Daftar Isi
6.1 Mesin Arus Searah ........................................................... 6-2
6.2 Prinsip kerja Generator DC ............................................... 6-4
6.3 Generator penguat terpisah .............................................. 6-7
6.4 Generator belitan Shunt .................................................... 6-8
6.5 Generator belitan Kompound. ........................................... 6-8
6.6 Konstruksi Generator DC .................................................. 6-9
6.7 Reaksi J angkar ................................................................. 6-10
6.8 Arah Putaran Mesin DC .................................................... 6-12
6.9 Prinsip kerja Motor DC ...................................................... 6-13
6.10 Starting Motor DC ............................................................. 6-15
6.11 Pengaturan Kecepatan Motor DC ..................................... 6-16
6.12 Reaksi J angkar pada Motor DC ........................................ 6-18
6.13 Motor belitan Seri .............................................................. 6-19
6.14 Motor DC penguat terpisah ............................................... 6-20
6.15 Motor DC belitan Shunt..................................................... 6-21
6.16 Motor DC belitan Kompound ............................................. 6-21
6.17 Belitan J angkar ................................................................. 6-22
6.18 Rugi-rugi Daya dan Efisiensi Motor DC ........................... 6-29
6.19 Rangkuman ...................................................................... 6-30
6.20 Soal-soal ........................................................................... 6-33
Mesin Listrik Arus Searah
6-2
6.1. Mesin Arus Searah

Mesin arus searah dapat berupa generator DC atau motor DC. Untuk
membedakan sebagai generator atau motor dari mesin difungsikan sebagai
apa. Generator DC alat yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik
DC. Motor DC alat yang mengubah energi listrik DC menjadi energi mekanik
putaran. Sebuah motor DC dapat difungsikan sebagai generator, atau
sebaliknya generator DC bisa difungsikan sebagai motor DC.


Gambar 6.1 : Stator Mesin DC dan Medan Magnet Utama
dan Medan Magnet Bantu

Secara fisik mesin DC tampak jelas ketika rumah motor atau disebut stator
dibongkar terdapat kutub-kutub magnet bentuknya menonjol gambar-6.1.
Mesin DC yang sudah dipotong akan tampak beberapa Kompounden yang
mudah dikenali. Bagian yang berputar dan berbentuk belitan kawat dan
ditopang poros disebut sebagai rotor atau jangkar gambar-6.2.


Gambar 6.2 : Fisik Mesin DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-3
Bagian rotor mesin DC salah satu ujungnya terdapat komutator yang
merupakan kumpulan segmen tembaga yang tiap-tiap ujungnya disambungkan
dengan ujung belitan rotor gambar-6.3. Komutator merupakan bagian yang
sering dirawat dan dibersihkan karena bagian ini bersinggungan dengan sikat
arang untuk memasukkan arus dari jala-jala ke rotor.


Gambar 6.3 : Penampang Komutator

Sikat arang (carbon brush) dipegang oleh pemegang sikat (brush holder)
gambar-6.4 agar kedudukan sikat arang stabil. Pegas akan menekan sikat
arang sehingga hubungan sikat arang dengan komutator tidak goyah. Sikat
arang akan memendek karena usia pemakaian, dan secara periodik harus
diganti dengan sikat arang baru.



Gambar 6.4 : Pemegang Sikat Arang

Salah satu kelemahan dari mesin DC adalah kontak mekanis antara komutator
dan sikat arang yang harus terjaga dan secara rutin dilakukan pemeliharaan.
Tetapi mesin DC juga memiliki keunggulan khususnya untuk mendapatkan
pengaturan kecepatan yang stabil dan halus. Motor DC banyak dipakai di industri
kertas, tekstil, kereta api diesel elektrik, dsb.

Mesin Listrik Arus Searah
6-4



6.2. Prinsip Kerja Generator DC

Prinsip kerja generator DC berdasarkan pada
kaidah tangan kanan. Sepasang magnet
permanen utara-selatan menghasilkan garis
medan magnet , kawat penghantar di atas
telapak tangan kanan ditembus garis medan
magnet . J ika kawat digerakkan ke arah ibu
jari, maka dalam kawat dihasilkan arus listrik I
yang searah dengan keempat arah jari tangan
gambar-6.5. Bagaimana kalau posisi utara-
selatan magnet permanen dibalik ? Ke mana
arah arah arus listrik induksi yang dihasilkan ?



Percobaan secara sederhana dapat dilakukan
dengan menggunakan sepasang magnet
permanen berbentuk U, sebatang kawat
digantung dikedua sisi ujungnya, pada ujung
kawat dipasangkan Voltmeter gambar-6.6.
Batang kawat digerakkan ke arah panah, pada
kawat dihasilkan ggl induksi dengan tegangan
yang terukur pada Voltmeter.


Besarnya ggl induksi yang dibangkitkan :

u
i
= B.L.v.z Volt

u
i
Tegangan induksi pada kawat, V
B Kerapatan medan magnet, Tesla
L Panjang kawat efektif, meter
v Kecepatan gerak, m/detik
z J umlah belitan kawat






Mesin DC dapat difungsikan sebagai generator DC maupun sebagai motor
DC. Saat sebagai generator DC fungsinya mengubah energi mekanik
menjadi energi listrik. Sedangkan sebagai Motor DC mengubah energi listrik
menjadi energi mekanik.
Gambar 6.5 : Kaidah
Tangan Kanan
Gambar 6.6 : Model Prinsip
Kerja Generator DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-5
Belitan kawat generator berbentuk silinder dan beberapa kawat dibelitkan
selanjutnya disebut belitan rotor atau belitan jangkar. Kedudukan I, ketika rotor
digerakkan serah jarum jam, kawat 1 tanda silang (menjauhi kita), kawat 2
tanda titik (mendekati kita) ggl induksi maksimum. Posisi II kawat 1 dan kawat 2
berada pada garis netral ggl induksi sama dengan nol. Posisi III kawat
kebalikan posisi I dan ggl induksi tetap maksimum gambar-6.7.


Gambar 6.7 : Pembangkitan Tegangan DC pada Angker

Posisi ini terjadi berulang-ulang selama rotor diputar pada porosnya, dan ggl
induksi yang dihasilkan maksimum, kemudian ggl induksi menjadi nol,
berikutnya ggl induksi menjadi maksimum terjadi berulang secara bergantian.


Gambar 6.8 : a) Bentuk tegangan AC dan Slipring; dan
b) Tegangan DC pada Komutator


GGL induksi yang dihasilkan dari belitan rotor gambar-6.7 dapat menghasilkan
dua jenis listrik yang berbeda, yaitu listrik AC dan listrik DC. J ika ujung belitan
rotor dihubungkan dengan slipring berupa dua cincin gambar-6.8a, maka
dihasilkan listrik AC berbentuk sinusoidal. Bila ujung belitan rotor dihubungkan
dengan komutator satu cincin gambar-6.8b dengan dua belahan, maka
dihasilkan listrik DC dengan dua gelombang positif.

Mesin Listrik Arus Searah
6-6

Gambar 6.9 : Prinsip pembangkitan tegangan DC

Mesin DC dikembangkan rotornya memiliki banyak belitan dan komutator
memiliki beberapa segmen. Rotor memiliki empat belitan dan komutator empat
segmen, sikat arang dua buah, akan menghasilkan ggl induksi dengan empat
buah buah gelombang untuk setiap putaran rotornya gambar 6.9. Tegangan
DC yang memiliki empat empat puncak.


Gambar 6.10 : Tegangan DC pada Komutator

Medan magnet yang sebelumnya adalah magnet permanen diganti menjadi
elektromagnet, sehingga kuat medan magnet bisa diatur oleh besarnya arus
penguatan medan magnet. Belitan rotor dikembangkan menjadi belitan yang
memiliki empat cabang, komutator empat segmen dan sikat arang dua buah.
Tegangan yang dihasilkan penjumlahan dari belitan 1-2 dan belitan 3-4
gambar 6. 10.

Dalam perkembangan berikutnya generator DC dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Generator penguat terpisah
2. Generator belitan Shunt
3. Generator belitan Kompoundd

Penjelasan singkat mengenai diagram pengawatan, karakteristik tegangan
fungsi arus dan pengaturan tegangan dapat dilihat pada tabel di bawah.

Mesin Listrik Arus Searah
6-7

6.3. Generator Penguat Terpisah

J enis generator penguat terpisah ada dua jenis
1) penguat elektromagnetik gambar-6.11a 2)
magnet permanen gambar-6.11b. Penguat
elektromagnetik melalui belitan F1-F2 diberi
sumber listrik DC dari luar misalnya dengan
baterai, dengan mengatur besarnya arus
eksitasi Ie, maka tegangan terminal rotor A1
A2 dapat dikendalikan. Generator penguat
terpisah dipakai dalam pemakaian khusus,
misalnya pada Main Generator Lok Diesel
Elektrik CC 201/CC203.






Penguat dengan magnet permanen
tegangan keluaran generator terminal rotor
A1-A2 konstan. Karakteristik tegangan U
relatif konstan dan tegangan akan menurun
sedikit ketika arus beban I dinaikkan
mendekati harga nominalnya gambar 6.12.

- Prinsip pembangkitan listrik mengikuti kaidah tangan kanan Flemming,
Sepasang magnet permanen utara-selatan menghasilkan garis medan
magnet , kawat penghantar di atas telapak tangan kanan ditembus
garis medan magnet . J ika kawat digerakkan ke arah ibu jari, maka
dalam kawat dihasilkan arus listrik I yang searah dengan keempat arah
jari tangan.
- Komutator berfungsi untuk menyearahkan tegangan yang dihasilkan
rotor menjadi tegangan DC.
Gambar 6.11 : a) Rangkaian
Generator DC Penguat terpisah dan
b) Penguat magnet permanen
Gambar 6.12 : Karakteristik tegangan
Generator Penguat Terpisah
Mesin Listrik Arus Searah
6-8
6.4. Generator Belitan Shunt

Generator belitan Shunt E1-E2 dipasangkan
secara paralel dengan belitan rotor A1-A2
gambar-6.13. Tegangan awal generator
diperoleh dari magnet sisa yang terdapat pada
medan magnet stator. Rotor berputar dalam
medan magnet yang lemah, dihasilkan tegangan
yang akan memperkuat medan magnet stator,
sampai dicapai tegangan nominalnya.







Pengaturan arus eksitasi yang melewati
belitan Shunt E1-E2 diatur oleh tahanan geser.
Makin besar arus eksitasi Shunt makin besar
medan penguat Shunt dan tegangan terminal
meningkat sampai pada tegangan nominalnya.
Karakteristik tegangan U terhadap
peningkatan arus relatif stabil, tegangan akan
cenderung menurun ketika arus I mendekati
harga nominalnya gambar 6.14.





6.5. Generator Belitan Kompound

Generator belitan Kompound disamping memiliki
belitan rotor A1-A2, memiliki dua penguat magnet
yaitu medan Seri notasi D1-D2 dan belitan
penguat magnet Shunt notasi E1-E2 gambar-
6.15. Belitan seri D1-D2 disambungkan seri
dengan rangkaian rotor A1-A2, sehingga arus ke
beban sekaligus sebagai penguat Seri. Belitan
Shunt E1-E2 disambungkan paralel dengan
rangkaian belitan rotor. Arus eksitasi magnet
Shunt Ie diperoleh dengan mengatur tahanan
geser.


Gambar 6.13 : Rangkaian
Generator Belitan Shunt
Gambar 6.15 : Karakteristik
tegangan generator Shunt
Gambar 6.14 : Karakteristik tegangan generator
Shunt
Mesin Listrik Arus Searah
6-9

Generator penguat kompound adalah kombinasi
generator penguat Shunt dan generator seri.
Karakteristik tegangan sebagai fungsi arus beban
menghasilkan tegangan terminal yang konstan
meskipun arus beban I mencapai harga
nominalnya gambar 6.16.







6.6. Konstruksi Generator DC

Potongan melintang memperlihatkan konstruksi generator DC gambar-6.17.
Generator DC terdiri dua bagian, yaitu stator bagian mesin DC yang diam, dan
bagian rotor bagian mesin DC yang berputar.

Bagian stator terdiri atas : rangka motor, belitan stator, sikat arang, bearing,
terminal box. Bagian rotor terdiri : komutator, belitan rotor, kipas rotor, poros
rotor.


Gambar 6.17 : Bentuk Fisik Generator DC

Bagian yang harus menjadi perhatian untuk perawatan secara rutin adalah
sikat arang yang akan memendek dan harus diganti secara periodik.

Komutator harus dibersihkan dari kotoran sisa sikat arang yang menempel dan
serbuk arang yang mengisi celah-celah komutator, gunakan amplas halus
untuk membersihkan noda bekas sikat arang.

Gambar 6.16 : Karakteristik
Tegangan generator kompound
Mesin Listrik Arus Searah
6-10
6.7. Reaksi Jangkar

Medan magnet untuk generator DC berasal dari
kutub elektromagnet, berupa belitan kawat yang
diberikan listrik DC, diperoleh kutub Utara (North)-
Selatan (South). Medan magnet melewati rotor
seperti ditunjukkan arah panah gambar-6.18.
Dengan mengatur besarnya arus eksitasi yang
melewati belitan magnet, makin besar kuat medan
magnet yang dihasilkan. Posisi garis netral tegak
lurus dengan medan magnet.

Dalam belitan rotor sesuai prinsip induksi
dibangkitkan tegangan listrik, ketika generator
diberikan beban mengalir arus listrik pada belitan
rotor. Pada saat itu dalam rotor juga dibangkitkan
medan elektromagnet, menurut prinsip hukum
tangan kanan, arah medan magnetnya ke arah
panah gambar-6.19.

Besar kecilnya medan magnet di rotor berbanding
lurus dengan besar kecilnya arus beban. Saat
arus beban maksimum, medan magnet rotor
maksimum, saat arus beban minimum maka
medan magnet rotor juga minimum.

Interaksi antara medan magnet stator dengan
medan elektromagnet rotor mengakibatkan
jalannya medan magnet bergeser beberapa
derajat gambar-6.20. Pergeseran garis netral
searah dengan arah putaran rotor. Untuk
mendapatkan tegangan maksimum, maka sikat
arang yang semula segaris dengan garis magnet
utama, kini bergeser beberapa derajat dari garis
netral teoritis.

Pergeseran garis netral akan melemahkan
tegangan nominal generator, untuk
mengembalikan garis netral ke posisi awal
dipasangkan medan magnet bantu (interpole).
Belitan magnet bantu berupa kutub magnet yang
ukuran fisiknya lebih kecil dari kutub utama.





Gambar 6.19 : Garis
medan Magnet jangkar
Gambar 6.20 : Pergeseran Garis
Netral akibat Reaksi jangkar
Gambar 6.18 : Garis
Netral Reaksi Jangkar
Mesin Listrik Arus Searah
6-11
Kutub bantu akan memperpendek jalannya
garis medan magnet. Dengan dipasang
kutub bantu kini garis netral kembali ke
posisi semula, dan kedudukan sikat arang
tegak lurus segaris dengan kutub utamanya
gambar-6.21. Rangkaian kutub bantu
disambungkan seri dengan belitan rotor,
sehingga kuat medan magnet kutub bantu
yang dihasilkan sebanding dengan arus ke
beban.
Untuk memperbaiki pengaruh reaksi
jangkar, dikembangkan belitan kompensasi
yang dipasangkan pada kaki kutub utama
baik pada belitan kutub utara-maupun kutub
selatan gambar-6.22. Kini dalam rangkaian
generator DC memiliki tiga belitan magnet,
yatitu belitan magnet utama, belitan magnet
bantu (interpole) dan belitan magnet
kompensasi.

Tabel 6.1 Notasi pengenal belitan
Generator DC
A Belitan rotor/ jangkar
B Belitan kutub magnet bantu
C Belitan kutub magnet kompensasi
D Belitan kutub seri
E Belitan kutub Shunt
F Belitan kutub terpisah

Rangkaian generator DC dapat dikenali dari diagram pengawatannya dan
notasi pengenal kutub magnetnya. Pengawatan dengan belitan jangkar A1-A2,
disambung seri dengan magnet kutub bantu B1-B2 dan diseri juga dengan
belitan magnet kutub kompensasi gambar-6.23a.

Gambar 6.23 : Rangkaian belitan jangkar,
belitan kutub bantu dan belitan kompensasi
Gambar 6.21 : Kutub Magnet
Utama dan Kutub Bantu Mesin
DC
Gambar 6.22 : Kutub
Magnet Utama, Kutub
bantu dan Belitan
Kompensasi
Mesin Listrik Arus Searah
6-12
Pengawatan berikutnya terdiri kutub bantu kompensasi C1-C2 dan C3-C4 diseri
dengan magnet bantu B1-B2 dan B3-B4 dan di tengah-tengah rangkaian
terpasang belitan rotor, keseluruhannya disebut rangkaian jangkar / rotor A1-A2
gambar-6.23b.

6.8. Arah Putaran Mesin DC


Gambar 6.24 : Arah putaran Mesin DC

Sebuah mesin DC dengan belitan penguat Shunt E1-E2, disambungkan secara
paralel dengan rangkaian jangkar A1-A2 gambar-6.24. Perhatikan terminal
dengan notasi E1 dan A1 disatukan terhubung dengan sumber tegangan DC
positif (+), berikutnya terminal notasi E2 dan A2 juga disatukan tersambung ke
sumber DC negatif (-). Arah mesin DC ditunjukkan oleh arah panah searah
jarum jam. Arah arus DC ditunjukkan panah dari E1 menuju E2 dan dari A1
menuju A2. Penyambungan tidak bisa dilakukan sembarangan tetapi dengan
memperhatikan notasi angka dan jenis penguat magnetnya.

Berikut adalah diagram pengawatan
mesin DC penguat Kompound.
Terdiri dari penguat magnet Seri
notasi D1-D2, penguat magnet
Shunt E1-E2 yang tersambung
dengan tahanan geser yang
mengatur besaran arus eksitasi
gambar-6.25a. Rangkaian jangkar
dengan notasi terminal A1-A2.

Perhatikan konfigurasi pertama,
sumber DC positif (+), terminal A2,
belitan jangkar A1,ke terminal D2,
belitan seri D1, kembali ke sumber
DC negatif (-). Arus eksitasi dari
tahanan geser ke E1, belitan Shunt
E2, ke sumber DC negatif.
Gambar 6.25 : Membalik arah putaran
Mesin DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-13
Konfigurasi kedua, ketika jangkar diputar arah panah (searah jarum jam), A1
menghasilkan tegangan positif (+) ke sumber DC. Arah arus DC pada belitan
seri dari D1 menuju D2, dan arus di belitan Shunt dari E1 menuju E2. Terminal
D1 dan E2 tersambung ke sumber DC negatif (-).


6.9. Prinsip kerja Motor DC

Prinsip motor listrik berdasarkan pada
kaidah tangan kiri. Sepasang magnet
permanen utara - selatan menghasilkan
garis medan magnet , kawat
penghantar diatas telapak tangan kiri
ditembus garis medan magnet . J ika
kawat dialirkan arus listrik DC sebesar I
searah keempat jari tangan, maka
kawat mendapatkan gaya sebesar F
searah ibu jari gambar-26. Bagaimana
kalau posisi utara-selatan magnet
permanen dibalik ? Ke mana arah gaya
yang dirasakan batang kawat ? lakukan
peragaan dengan tangan kiri anda.




Percobaan sederhana prinsip kerja motor
dapat dilakukan dengan menggunakan
sepasang magnet permanen berbentuk U,
sebatang kawat digantung di kedua sisi
ujungnya, pada ujung kawat dihubungkan
sumber listrik DC gambar-6.27. Arus listrik
mengalir dari terminal positif (+) ke batang
kawat sebesar I amper ke terminal negatif
(-). Kawat yang dipotong garis medan
magnet, pada batang dihasilkan gaya tolak
sebesar F searah panah.






Besarnya gaya F yang dibangkitkan :

F = B.I. L.z Newton

Gambar 6.27 : Model kerja Motor DC
Gambar 6.26 : Aturan Tangan Kiri
untuk Prinsip Kerja Motor DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-14
F Gaya pada kawat, Newton
B Kerapatan medan magnet, Tesla
I Arus mengalir di kawat, Amper
L Panjang kawat efektif, meter
z J umlah belitan kawat

Konstruksi motor DC terdiri dari dua
bagian, yaitu stator bagian motor yang
diam dan rotor bagian motor yang
berputar. Belitan stator merupakan
elektromagnet, dengan penguat magnet
terpisah F1-F2. Belitan jangkar ditopang
oleh poros dengan ujung-ujungnya
terhubung ke komutator dan sikat arang
A1-A2 gambar-6.28. Arus listrik DC
pada penguat magnet mengalir dari F1
menuju F2 menghasilkan medan magnet
yang memotong belitan jangkar. Belitan
jangkar diberikan listrik DC dari A2
menuju ke A1. Sesuai kaidah tangan kiri
jangkar akan berputar berlawanan jarum
jam.

Terjadinya gaya torsi pada
jangkar disebabkan oleh hasil
interaksi dua garis medan
magnet. Kutub magnet
menghasilkan garis medan
magnet dari utara-selatan
melewati jangkar. Belitan jangkar
yang dialirkan arus listrik DC
mengasilkan magnet dengan
arah kekiri ditunjukkan panah
gambar-6.29. Interaksi kedua
magnet berasal dari stator
dengan magnet yang dihasilkan
jangkar mengakibatkan jangkar
mendapatkan gaya torsi putar berlawanan arah jarus jam. Untuk mendapatkan
medan magnet stator yang dapat diatur, maka dibuat belitan elektromagnet
yang dapat diatur besarnya arus eksitasinya.

Percobaan untuk mengecek apakah belitan jangkar berfungsi dengan baik,
tidak ada yang putus atau hubungsingkat dengan inti jangkarnya periksa
gambar-6.30. Poros jangkar ditempatkan pada dudukan yang bisa berputar
bebas.
Gambar 6.28: Hubungan belitan
penguat medan dan Jangkar Motor
DC
Gambar 6.29 : Proses
pembangkitan Torsi Motor DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-15

Alirkan listrik DC melalui komutator,
dekatkan sebuah kompas dengan
jangkar, lakukan pengamatan jarum
kompas akan berputar ke arah jangkar.
Hal ini membuktikan adanya medan
elektromagnet pada jangkar, artinya
belitan jangkar berfungsi baik. Tetapi jika
jarum kompas diam tidak bereaksi,
artinya tidak terjadi elektromagnet
karena belitan putus atau hubung
singkat ke inti jangkar.



6.10. Starting Motor DC

Belitan jangkar nilai tahanan sangat kecil,
saat starting arus starting akan besar sekali
mengalir pada rangkaian jangkar. Hal ini
akan merusak belitan jangkar A1-A2,
komutator dan sikat arang. Agar arus starting
kecil, maka ditambahkan tahanan awal pada
rangkaian jangkar R
V
gambar-6.31. Setelah
motor berputar sampai dicapai putaran
nominalnya tahanan awal R
V
tidak
difungsikan.




Untuk mengatur putaran motor DC
dilakukan dengan mengatur arus
eksitasi penguat medan magnet
dengan tahanan geser yang
dipasang seri dengan belitan
penguat Shunt E1-E2. Pengatur
Starting dan pengatur putaran
motor DC merupakan satu
perangkat yang dipasang pada
sebagai pengendali motor DC.
Tahanan pengendali motor DC disambungkan seri dengan jangkar motor DC,
tahanan totalnya sebesar (R
V
+ R
jangkar
). Tahanan depan J angkar R
V
dibuat
dalam empat step, step pertama nilai tahanan maksimum, arus mengalir ke
rangkaian jangkar sebesar I =U/(R
V
+R
jangkar
). Nilai tahanan digeser ke step
kedua, berikutnya step tiga, step empat dan step terakhir arus mengalir ke
Gambar 6.30 : Pengecekan sifat
elektromagnetik pada Jangkar
Motor DC
Gambar 6.31 : Starting Motor
DC dengan Tahanan Depan
jangkar
Gambar 6.32 Karakteristik arus
Pengasutan Motor DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-16
jangkar adalah arus nominalnya. Karakteristik arus jangkar fungsi tahanan R
V
+R
jangkar
gambar-6.32.

Rangkaian motor DC dengan penguat
magnet terpisah. Rangkaian jangkar terdiri
dari tahanan jangkar R
A
. Ketika belitan
jangkar berada pada medan magnet dan
posisi jangkar berputar, pada jangkar timbul
gaya gerak listrik yang arahnya berlawanan
gambar-6.33. Pada belitan jangkar terjadi
drop tegangan sebesar (I
A
.R
A
).

Persamaan tegangan motor DC

U
A
= U
i
+ I
A
. R
A
dan U
i
~
E
.n

U
A
Tegangan sumber DC
U
i
Tegangan lawan
I
A
Arus jangkar
R
A
Tahanan belitan jangkar

E
Fluk Magnet
n Putaran motor


6.11. Pengaturan Kecepatan Motor DC

Saat motor DC berputar maka dalam
rangkaian jangkar terjadi ggl lawan sebesar
U
i
. J ika tegangan sumber DC yaitu U
A
diatur
besarannya, apa yang terjadi dengan
putaran motor DC ? Besarnya tegangan
lawan U
i
berbanding lurus dengan putaran
motor dan berbanding terbalik dengan
medan magnetnya U
i
~
E
.n.

J ika arus eksitasi I
e
dibuat konstan maka
fluk medan magnet
E
akan konstan.
Sehingga persamaan putaran motor berlaku
rumus n ~ Ui/
E
, sehingga jika tegangan
sumber DC diatur besarannya, maka
putaran motor akan berbanding lurus
dengan tegangan ke rangkaian jangkar
gambar-6.34.

Gambar 6.33 : Drop tegangan
Penguat Medan Seri dan Jangkar
Motor DC
Gambar 6.34 : Karakteristik putaran
fungsi tegangan jangkar
Mesin Listrik Arus Searah
6-17
Pengaturan tegangan sumber DC yang
menuju ke rangkaian jangkar menggunakan
sumber listrik AC tiga phasa dengan
penyearah gelombang penuh tiga buah
diode dan tiga buah thyristor gambar-6.35.
Sekering F1 berguna untuk mengamankan
rangkaian diode dan thyristor jika terjadi
gangguan pada belitan motor DC.

Dengan mengatur sudut phasa triger, maka
penyalaan thyristor dapat diatur besarnya
tegangan DC yang menuju rangkaian
jangkar A1-A2. Belitan penguat terpisah F1-
F2 diberikan sumber DC dari luar, dan
besarnya arus eksitasi dibuat konstan
besarnya.

Apa yang terjadi jika tegangan sumber DC
dibuat konstan dan pengaturan putaran
dilakukan dengan mengatur arus eksitasinya
? Persamaan tegangan jangkar U
i
~
E
.n.
atau putaran motor n ~ Ui/
E,
dengan
tegangan Ui konstan maka karakteristik
putaran n berbanding terbalik dengan fluk
magnet (1/
E
). Artinya ketika arus eksitasi
dinaikkan dan harga fluk magnet
E

meningkat, yang terjadi justru putaran motor
DC makin menurun gambar-6.36.

Dari penjelasan dua kondisi diatas yang
dipakai untuk mengatur putaran motor DC
untuk mendapatkan momen torsi konstan
adalah dengan pengaturan tegangan ke
jangkar.













Gambar 6.35 : Pengaturan tegangan
Jangkar dengan sudut penyalaan
Thyristor
Gambar 6.36 : Karakteristik
putaran fungsi arus eksitasi
Mesin Listrik Arus Searah
6-18
6.12. Reaksi Jangkar pada Motor DC

Reaksi jangkar pada motor DC
kejadiannya mirip dengan reaksi jangkar
pada generator DC yang telah dibahas
sebelumnya. Reaksi jangkar akan
menyebabkan garis netral bergeser
beberapa derajat dari posisi awal. Agar
garis netral kembali kondisi teoritis, dan
sikat arang pada kedudukan semula maka
dipasang kutub bantu yang ditempatkan
diantara kutub magnet utama gambar-
6.37.

Belitan kutub bantu dirangkaiakan secara
seri dengan rangkaian jangkar, gunanya
agar setiap kenaikan beban maka arus
yang menuju kutub bantu sama besarnya
dengan arus yang menuju rangkaian
jangkar. Sehingga reaksi jangkar pada
motor terkendali secara otomatis oleh
kutub bantu.

Motor DC menurut belitan penguat magnetnya dapat dibagi menjadi empat
jenis, yaitu : motor belitan seri D1-D2, motor penguat terpisah F1-F2, motor
belitan Shunt E1-E2 dan motor belitan Kompound gabungan motor Shunt E1-
E2 dan motor belitan seri D1-D2.

Tabel di bawah memperlihatkan diagram pengawatan keempat jenis motor DC
berikut karakteristik putaran n terhadap perubahan momen torsi beban.
1. Motor Seri
2. Motor penguat terpisah
3. Motor penguat Shunt
4. Motor Kompound


Gambar 6.37 : Kutub bantu untuk
mengatasi akibat Reaksi jangkar
pada Motor DC
Mesin Listrik Arus Searah
6-19
Tabel 6.2 Rangkaian Motor-motor DC



6.13. Motor Belitan Seri

Motor DC Seri mudah dikenali dari terminal box memiliki belitan jangkar notasi
A1-A2 dan belitan seri notasi D1-D2 gambar-6.38. Dalam rangkaian jangkar
A1-A2 terdapat dua belitan penguat yaitu kutub bantu dan kutub kompensasi
keduanya berfungsi untuk memperbaiki efek reaksi jangkar.

Aliran sumber DC positif (+), melewati tahanan depan RV yang fungsinya untuk
starting awal motor seri, selanjutnya ke terminal A1, melewati jangkar ke
terminal A2, dikopel dengan D1, melewati belitan seri, ke terminal D2 menuju
ke terminal negatif (-).

Belitan seri D1-D2 memiliki penampang besar
dan jumlah belitannya sedikit. Karena
dihubungkan seri dengan belitan jangkar,
maka arus eksitasi belitan sebanding dengan
arus beban. Ketika beban dinaikkan, arus
beban meningkat dan justru putaran akan
menurun.





Gambar 6.38 : Karakteristik
putaran Motor DC Seri
Mesin Listrik Arus Searah
6-20
Motor seri harus selalu dalam kondisi diberikan
beban, karena saat tidak berbeban dan arus
eksitasinya kecil yang terjadi putaran motor akan
sangat tinggi sehingga motor akan terbang, dan
sangat berbahaya. Motor seri banyak dipakai pada
beban awal yang berat dengan momen gaya yang
tinggi putaran motor akan rendah gambar-6.39,
contohnya pada pemakaian motor stater mobil.








6.14. Motor DC Penguat Terpisah

Motor DC penguat terpisah dikenal pada
terminal box dimana belitan jangkarnya A1-A2
dan belitan penguat terpisah F1-F2 gambar-
6.40.

Aliran listrik dari sumber DC positif (+) melewati
tahanan geser untuk starting awal, menuju
terminal A1, ke belitan jangkar ke terminal A2
menuju negatif (-). Penguat terpisah dari
sumber DC positif (+), menuju F2 belitan
terpisah terminal F1 melewati tahanan geser
pengatur arus eksitasi menuju negatif (-).

Tahanan depan digunakan saat starting agar
arus jangkar terkendali dan tidak merusak
belitan jangkar atau merusak komutatornya.
Tahanan geser pengatur arus eksitasi penguat
terpisah F1-F2 mengatur putaran dalam range
yang sempit, misalnya dari putaran maksimum
1500 rpm sampai 1400 rpm saja.

Karakteristik putaran terhadap pembebanan
momen, saat beban nol putaran motor pada
posisi n
0
, motor diberikan beban maksimum
putaran motor menjadi n
n
. Motor penguat
terpisah digunakan pada beban relatif konstan
dan tidak berubah secara drastis gambar-6.41.


Gambar 6.39 : Rangkaian Motor DC Seri
Gambar 6.40 :
Rangkaian Motor DC
Penguat Terpisah
Gambar 6.41: Karakteritik putaran
Motor Penguat Terpisah
Mesin Listrik Arus Searah
6-21
6.15. Motor DC Belitan Shunt

Motor DC belitan Shunt dilihat dari terminal box
terdapat rangkaian jangkar A1-A2 dan belitan
Shunt E1-E2 gambar-6.42. Pengendali motor DC
Shunt terdiri dua tahanan geser yang memiliki
fungsi berbeda.

Satu tahanan geser difungsikan untuk starting
motor DC, disambungkan seri dengan jangkar A1-
A2 tujuannya agar arus starting terkendali. Satu
tahanan geser dihubungkan dengan belitan Shunt
E1-E2, untuk mengatur arus eksitasi Shunt.

Aliran dari sumber DC positif (+) melewati tahanan
geser ke terminal A1, melewati rangkaian jangkar
dengan beliatan bantu, ke terminal A2, menuju
sumber DC negatif (-). Dari positif sumber DC
setelah melewati tahanan geser, menuju terminal
E1, ke belitan Shunt, ke terminal E2 selanjutnya
kembali ke sumber DC negatif (-).


6.16. Motor DC Belitan Kompound

Motor DC Belitan Kompound merupakan
penggabungan dua karakteristik dari motor DC
belitan seri dengan motor DC belitan Shunt
gambar-6.43. Pada terminal box memiliki enam
terminal, terdiri rangkaian jangkar A1-A2, belitan
Shunt E1-E2 dan belitan seri D1-D2.
Memiliki dua tahanan geser, satu tahanan geser
untuk mengatur starting motor diseri dengan
rangkaian jangkar A1-A2. Tahanan geser satunya
mengatur arus eksitasi menuju belitan Shunt E1-
E2.

Aliran sumber DC positif (+) melewati tahanan
geser untuk starting, menuju terminal A1, ke
rangkaian jangkar dan belitan kutub bantu, ke
terminal A2, dikopel terminal D1, ke belitan seri,
ke terminal D2 ke sumber DC negatif (-).




Gambar 6.42 : Rangkaian
Motor DC Belitan Shunt
Gambar 6.43 : Rangkaian
Motor DC Belitan Kompound
Mesin Listrik Arus Searah
6-22
Sumber DC positif (+) melewati tahanan geser mengatur arus eksitasi ke
terminal E1, ke belitan Shunt, ke terminal E2, dikopel terminal D2 kembali ke
sumber DC negatif (-).

Karakteristik putaran n sebagai fungsi momen
torsi beban merupakan gabungan dari
karakteristik motor Shunt yang memiliki
putaran relatif konstan, dan kerakteristik seri
pada momen kecil putaran relatif tinggi
gambar-6.44.

Pengaturan putaran dilakukan dengan
pengaturan medan Shunt, dengan range
putaran relatif rendah dalam orde ratusan
rpm, putaran maksimal 1500 rpm dan putaran
minimal 1400 rpm. Untuk mendapatkan range
pengaturan putaran yang lebar dilakukan
dengan mengatur tegangan yang masuk ke
rangkaian jangkarnya.
6.17. Belitan Jangkar
Belitan jangkar Motor DC berfungsi sebagai tempat terbentuknya ggl imbas.
Belitan jangkar terdiri atas beberapa kumparan yang dipasang di dalam alur
jangkar. Tiap-tiap kumparan dapat tediri atas belitan kawat atau belitan batang.



Gambar 6.45 Belitan Jangkar


Gambar 6.44 : Karakteristik
putaran Motor DC Kompound
Mesin Listrik Arus Searah
6-23

Gambar 6.46 Letak Sisi-sisi Kumparran dalam Alur Jangkar
Z =J umlah penghantar/kawat jangkar atau batang jangkar.
Zs = J umlah kawat tiap sisi kumparan
S =J umlah sisi kumparan.
Tiap-tiap kumparan mempunyai dua sisi kumparan dan jumlahnya harus
genap. Pada tiap-tiap alur bisa dipasang dua sisi kumparan atau lebih dalam
dua lapisan bertumpuk gambar 6.46. Dalam tiap-tiap alur terdapat 2U sisi
kumparan, maka jumlah alur G adalah :

G
U
S
2
=

Bila dalam tiap-tiap kutub mempunyai 8 s/d 18 alur , maka :

G =( 8 18 ) 2p

Tiap-tiap kumparan dihubungkan dengan kumparan berikutnya melalui lamel
komutator, sehingga semua kumparan dihubung seri dan merupakan rangkaian
tertutup. Tiap-tiap lamel dihubungkan dengan dua sisi kumparan sehingga
jumlah lamel k, adalah :

S =2 . k

k
Z
Z
S
. 2 =
k
S
Z
Z
. 2
=
Bila dalam tiap-tiap alur terdapat dua sisi kumparan ( U = 1) maka jumlah lamel
juga sama dengan jumlah alur
G
u
k
U
S
. 2
. 2
. 2
= = k =U . G



Mesin Listrik Arus Searah
6-24
Belitan Gelung

J ika kumparan dihubungkan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga setiap
kumparan menggelung kembali ke sisi kumparan berikutnya maka hubungan
itu disebut belitan gelung. Perhatikan gambar 6.47 Prinsip Belitan gelung.
Y =kisar belitan, yang menyatakan jarak antara lamel permulaan dan lamel
berikutnya melalui kumparan.
Y
C
= kisar komutator, jumlah lamel yang melalui komutator.
Y
1
, Y
2
=kisar bagian.

Y =Y
1
+Y
2
=2.Y
C


Gambar 6.47 Prinsip Belitan Gelung

Pada belitan gelung kisar bagian Y
2
mundur atau negatif. Tiap kumparan mem-
punyai satu sisi benomor ganjil dan satu sisi bernomor genap, karena itu Y
1

dan Y
2
selamanya harus merupakan bilangan ganjil.

Kisar bagian Y
1
ditetapkan oleh Iebar kumparan, diperkirakan sama dengan
jarak kutub-kutub . Bila lebar kumparan dinyatakan dengan jumlah alur, biasa-
nya dinyatakan dengan kisar Y
g .

Y
g
=
p
G
Y
p
G
g
2 2
(

Kisar bagian Y
1
biasanya dinyatakan dengan sejumlah sisi kumparan yang
harus dilalui supaya dari sisi yang satu sampai pada sisi berikutnya. Di dalam
tiap-tiap alur dimasukkan sisi kumparan 2U dan secera serempak beralih dari
lapisan atas ke lapisan bawah, karena itu

Y
1
=2 . U . Y
g
+1

Kisar bagian Y
1
menentukkan cara menghubungkan ujung kumparan yang satu
dengan kumparan berikutnya melalui lamel komutator , kisar Y
2
biasa disebut
juga kisar hubung.

Mesin Listrik Arus Searah
6-25
Y
2
=2 . Y
C
Y
1


Contoh :

2p =2 ,G =k =8, S =16, dan U =1 rencanakan belitan gelung tunggalnya :

Y
g
4
2
8
2
= = =
p
G
Y
C
=1
Y
1
=2 . U . Y
g
+1 Y
2
=2. Y
C
Y
1

=2 .1 . 4 +1 =2 . 1 - 9
=9 =-7

Tabel 6.3
Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelung
LAMEL SISI KUMPARAN LAMEL
1 1 - 10 2
2 3 - 12 3
3 5 - 14 4
4 7 - 16 5
5 9 - 2 6
6 11 - 4 7
7 13 - 6 8
8 15 - 8 1

Belitan Gelung Majemuk

Belitan Gelung Majemuk terdiri dari dua belitan gelung tunggal atau lebih yang
dililit secara simetris antara yang satu dengan yang lainnya. Pada belitan
gelung tunggal banyaknya cabang paralel sama dengan banyaknya jumlah
kutub (2p) dari mesin tersebut, sedangkan pada belitan gelung majemuk yang
mempunyai m gelung tunggal, banyaknya cabang paralel adalah:

a = m . p .
Yc = m
Y
2
= 2 . m Y
1

Sedangkan untuk menentukan Y
1
sama seperti pada belitan gelung tunggal.

Untuk mendapatkan belitan gelung majemuk tertutup ujung belitan terakhir
harus kembali lagi ke lamel permulaan.

Mesin Listrik Arus Searah
6-26

Gambar 6.48 Belitan Gelung Tunggal
Belitan Gelombang
Belitan Gelombang Tunggal
Pada belitan gelombang kisar komutator Yc lebih besar bila dibandingkan
dengan Yc pada belitan gelung .


Gambar 6.49 Prinsip Belitan
Gelombang
Kisar bagian pada belitan gelombang mempunyai nilai positif (maju) .

Yc
p
k 1
=
Contoh :

2p =4 ; S =42 ; G =k =21 ; u =1
Mesin Listrik Arus Searah
6-27
Y
c

2
1 21+
= Y
c
=10 atau 11,

kita ambil Yc = 10
Y
G

4
1
5
4
21
2
= = =
p
G
,


kita bulatkan menjadi 5

Y
1
= 2 . u . Y
G
+1 =2 .. 1.5 +1 =11
dan
Y
2
=2 . Yc Y
1
=2 . 10 11 =9

Tabel 6.4
Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelombang
LAMEL SISI KUMPARAN LAMEL
1 1 - 12 11
11 21 - 32 21
21 41 - 10 10
10 19 - 30 20
20 39 - 8 9
9 17 - 28 19
19 37 - 6 8
8 15 - 26 18
18 35 - 4 7
7 13 - 24 17
17 33 - 2 6
6 11 - 22 16
16 31 - 42 5
5 9 - 20 15
15 29 - 40 4
4 7 - 18 14
14 27 - 38 3
3 5 - 16 13
13 25 - 36 2
2 3 - 14 12
12 23 - 34 1
Pada belitan gelombang tunggal banyaknya sikat yang dibutuhkan hanya dua
buah, tidak tergantung pada jumlah kutubnya.

Mesin Listrik Arus Searah
6-28
Belitan Gelombang Majemuk
Apabila nilai arus atau tegangan yang diperlukan tidak bisa dipenuhi dengan
belitan gelung atau gelombang tunggal, maka diatasi dengan belitan
gelombang majemuk.
Belitan gelombang majemuk terdiri dari dua belitan gelombang tunggal atau
lebih. Tiap-tiap belitan gelombang tunggal terdiri dari dua cabang paralel, untuk
gelombang majemuk a = 2 . m

Yc
p
m k
= =



















Gambar 6.50 Belitan Gelombang Tunggal
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dilihat perbedaan-perbedaan
yang terdapat pada belitan gelung dan gelombang yaitu :
Belitan Gelung
1. Untuk generator bertegangan rendah, arus besar.
2. Ujung-ujung kumparan disambung pada lamel yang berdekatan.
3. Pada belitan gelung tunggal, arus yang mengalir pada jangkar terbagi
sesuai dengan jumlah kutub.
4. Pada belitan gelung majemuk, arus yang mengalir terbagi sesuai
dengan rumusan a = m . p.
5. Sisi kumparan terbagi pada dua bagian, yaitu terletak dihadapan kutub
utara dan kutub selatan.
Mesin Listrik Arus Searah
6-29
Belitan Gelombang
1. Untuk generator bertegangan tinggi, arus rendah.
2. Pada belitan gelombang tunggal ujung-ujung kumparan dihubungkan pada
lamel komutator dengan jarak mendekati 360
0
Listrik.
3. J umlah cabang paralel pada belitan gelombang tunggal adalah 2 (dua),
walaupun jumlah kutubnya >2.
4. Pada belitan gelombang tunggal penghantar-penghantar pada masing-
masing cabang, diletakkan terbagi rata pada seluruh permu-kaan kutub-
kutubnya.
5. Belitan gelombang majemuk digu-nakan jika dengan belitan gelung atau
gelombang tunggal arus atau tegangan yang diperlukan tidak tercapai.

6.18. Rugi-rugi Daya dan Efisiensi Motor DC
Rugi-rugi daya yang terjadi pada sebuah motor arus searah dapat dibagi ke
dalam :
- Rugi- rugi tembaga atau listrik.
- Rugi-rugi besi atau magnet.
- Rugi-rugi mekanis.
Rugi-rugi Tembaga atau Listrik
Rugi tembaga terjadi karena adanya resistansi dalam belitan jangkar dan
belitan medan magnet. Rugi tembaga akan diubah menjadi panas dalam
kawat jangkar maupun kawat penguat magnet. Desain Motor DC dilengkapi
dengan kipas rotor tujuannya untuk menghembuskan udara luar masuk
kedalam jangkar dan mendinginkan panas yang terjadi akibat rugi-rugi
tembaga.

Rugi tembaga dari belitan dibagi atas:
Rugi tembaga terjadi pada jangkar Ia
2
. Ra Watt
Rugi tembaga medan terdiri dari:

Ish
2
.Rsh Watt Motor Shunt/ Motor Kompound
Is
2
.Rs Watt Motor Seri/ Motor Kompound

Rugi-rugi Besi atau Magnet

- Rugi Histerisis
P
h
=q.B
max
X f . V Watt
q =Steinmetz Hysterisis Coefficient
B
max
=Kerapatan fluks
maksimum
(

2
m
Wb

f =Frekuensi dlm Hertz
Mesin Listrik Arus Searah
6-30
V =Volume inti (m
3
)
nilai x =antara 1,6 s/d 2

- Arus Pusar (Eddy Current)
Inti pada stator dan inti pada jangkar motor terdiri dari tumpukan pelat tipis
dari bahan ferro magnetis. Tujuan dari pemilihan plat tipis adalah untuk
menekan rugi-rugi arus eddy yang terjadi pada Motor DC.
Pe =Ke.B
max
2
. f
2
. V . t
2
Watt
Ke =Konstanta arus pusar
t =Ketebalan dari inti magnit (m)

Rugi Mekanis

Rugi mekanis yang terjadi pada motor disebabkan oleh adanya gesekan
dan hambatan angin, seperti pada bagian poros motor.

Efisiensi Motor
Efisiensi adalah prosentase perbandingan daya keluar dan daya masuk
yang terjadi pada motor.

q =
Masuk Daya
Keluar Daya
x 100%
q =
rugi Masuk Daya
Keluar Daya
E +


6.19. Rangkuman

- Mesin arus searah dapat berupa generator DC atau motor DC. Generator
DC alat yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik DC. Motor
DC alat yang mengubah energi listrik DC menjadi energi mekanik putaran.

- Mesin DC terdiri dua bagian, yaitu bagian stator dan bagian rotor.

- Komutator merupakan kumpulan segmen tembaga yang tiap-tiap ujungnya
disambungkan dengan ujung belitan rotor.

- Prinsip kerja generator DC berdasarkan pada kaidah tangan kanan
Fleming.

- Hukum tangan kanan Fleming, jika telapak tangan kanan ditembus garis
medan magnet . Dan kawat digerakkan ke arah ibu jari, maka dalam
kawat dihasilkan arus listrik I yang searah dengan keempat arah jari
tangan.

- Besarnya ggl induksi yang dibangkitkan : u
i
= B.L.v.z Volt

Mesin Listrik Arus Searah
6-31
- J ika ujung belitan rotor dihubungkan dengan slipring berupa dua cincin,
maka dihasilkan listrik AC berbentuk sinusoidal.

- Komutator berfungsi untuk menyearahkan tegangan yang dihasilkan rotor
menjadi tegangan DC.

- Sikat arang berhubungan dengan komutator, tekanan sikat arang diatur
oleh tekanan pegas yang ditentukan.

- Dalam perkembangan berikutnya generator DC dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu: Generator Penguat Terpisah, Generator Belitan Shunt, Generator
Belitan Kompound.

- Generator penguat terpisah ada dua jenis 1) penguat elektromagnetik 2)
magnet permanen. Generator DC penguat terpisah dengan penguat
elektromagnetik diapakai pada Lokomotif Diesel Elektrik jenis CC201 dan
CC203.

- Generator belitan Shunt, penguat medan Shunt E1-E2 dipasangkan secara
paralel dengan belitan rotor A1-A2. Dengan mengatur arus eksitasi Shunt
dapat mengatur tegangan terminal generator.

- Generator belitan Kompound memiliki belitan rotor A1-A2, memiliki dua
penguat magnet yaitu medan Seri notasi D1-D2 yang tersambung seri dan
belitan penguat magnet Shunt notasi E1-E2 yang tersambung paralel.

- Bagian stator motor DC terdiri atas : rangka motor, belitan stator, sikat
arang, bearing, terminal box, sedangkan bagian rotor terdiri : komutator,
belitan rotor, kipas rotor, poros rotor.

- Komutator secara periodik dibersihkan dari kotoran sisa sikat arang yang
menempel dan serbuk arang yang mengisi celah-celah komutator, gunakan
amplas halus untuk membersihkan noda bekas sikat arang.

- Pergeseran garis netral hasil interaksi antara medan magnet stator dengan
medan elektromagnet rotor mengakibatkan jalannya medan magnet
bergeser beberapa derajat.

- Dengan dipasang kutub bantu garis netral kembali ke posisi semula.

- Notasi belitan pada mesin DC dikenali dengan huruf A, B, C, D, E dan F.
Huruf A menyatakan belitan jangkar, B belitan kutub magnet Bantu, C
belitan kutub magnet kompensasi, D belitan kutub Seri dan F belitan kutub
Shunt.

- Motor DC untuk mengubah arah putaran rotor, dilakukan dengan membalik
aliran arus yang melalui rangkaian jangkarnya.

- Prinsip motor listrik berdasarkan pada kaidah tangan kiri Fleming.

- Kaidah tangan kiri Flemming menyatakan jika kawat penghantar di atas
telapak tangan kiri ditembus garis medan magnet . Pada kawat dialirkan
Mesin Listrik Arus Searah
6-32
arus listrik DC sebesar I searah keempat jari tangan, maka kawat
mendapatkan gaya sebesar F searah ibu jari.

- Besarnya gaya F yang dibangkitkan : F

= B.I. L.z Newton.

- Konstruksi motor DC terdiri dari dua bagian, yaitu stator bagian motor yang
diam dan rotor bagian motor yang berputar.

- Percobaan untuk mengecek apakah belitan jangkar berfungsi dengan baik,
tidak ada yang putus atau hubungsingkat, hubungkan komutator dengan
sumber DC, tempatkan kompas disekeliling jangkar. J ika jarum kompas
menunjuk ke arah jangkar belitan jangkarnya bagus. J ika kompas tidak
bereaksi apapun, dipastikan belitan jangkarnya putus.

- Untuk menghambat arus starting yang besar, dipasang tahanan seri pada
rangkaian belitan jangkar.

- Persamaan putaran motor berlaku rumus n ~ Ui/
E
, sehingga jika
tegangan sumber DC diatur besarannya, maka putaran motor akan
berbanding lurus dengan tegangan ke rangkaian jangkar.

- Pengaturan tegangan jangkar dari sumber listrik AC, menggunakan
thyristor dengan mengatur arus gate nya, maka tegangan ke jangkar dapat
diatur dan putaran motor dapat dikendalikan.

- Reaksi jangkar akan menyebabkan garis netral bergeser beberapa derajat
dari posisi awal, untuk mengatasinya dipasangkan kutub bantu untuk
meminimalkan akibat dari reaksi jangkar.

- Ada empat jenis motor DC berikut karakteristik putaran n terhadap
perubahan momen torsi beban. a) Motor Seri b) Motor penguat terpisah c)
Motor penguat Shunt d) Motor Kompound.

- Motor Seri banyak dipakai pada beban awal yang berat dengan momen
gaya yang tinggi putaran motor akan rendah, contoh motor stater mobil.

- Motor penguat terpisah digunakan pada beban relatif konstan dan tidak
berubah secara drastis.

- Belitan jangkar Motor DC berfungsi sebagai tempat terbentuknya ggl imbas.

- Belitan jangkar ada dua jenis, yaitu belitan gelung dan belitan gelombang

- J ika kumparan menggelung kembali ke sisi kumparan berikutnya maka
hubungan itu disebut belitan gelung.

- Pada belitan gelombang kisar komutator Yc lebih besar bila dibandingkan
dengan Yc pada belitan gelung.

- Rugi-rugi daya yang terjadi pada sebuah motor arus searah dapat dibagi
kedalam : a). Rugi-rugi tembaga atau listrik. b).Rugi-rugi besi atau magnet.
c) Rugi-rugi mekanis.

Mesin Listrik Arus Searah
6-33
- Rugi tembaga (Ia
2
. Ra) akan diubah menjadi panas dalam kawat jangkar
maupun kawat penguat magnet.

- Rugi besi dan magnet terjadi pada besi inti stator dan rotor, tumpukan pelat
tipis dari bahan ferro magnetis, tujuan dari pemilihan plat tipis adalah untuk
menekan rugi-rugi arus Eddy

- Rugi mekanis yang terjadi pada motor disebabkan oleh adanya gesekan
dan hambatan angin

- Efisiensi adalah prosentase perbandingan daya keluar dan daya masuk
yang terjadi pada motor
6.20. Soal-soal


1. J elaskan pengertian mesin DC dan berikan alasannya secara singkat.

2. Sebutkan perbedaan generator DC dan motor DC dari fungsinya.

3. Dapatkah mesin DC difungsikan sebagai generator ? apa syarat agar
berfungsi sebagai generator DC. J elaskan dengan gambar skematik.

4. Bila mesin DC difungsikan sebagai motor DC apa syarat yang harus
dipenuhi ? J elaskan dengan gambar skematik.

5. Peragakan dengan tangan anda, bagaimana prinsip pembangkitan ggl
dalam segua generator. J elaskan singkat dan benar.

6. Peragakan juga dengan tangan anda, bagaimana prinsip terjadinya torsi
putar pada motor DC. J elaskan singkat dan benar.

7. Komutator pada motor DC apa fungsinya ? Terangkan juga cara kerja
sikat arang berikut komutator pada mesin DC.

8. Gambarkan skematik pengawatan generator Shunt dan generator
Kompound.

9. J elaskan bagian Kompounden-Kompounden yang termasuk kelompok
stator dan kelompok rotor pada segua motor DC, berikut fungsi masing-
masing.
10. Terangkan dengan gambar skematik prinsip dasar terjadinya reaksi
jangkar pada generator DC.

11. Mengapa pemasangan kutub bantu dapat meminimumkan terjadinya
reaksi jangkar ?

12. Sebuah mesin DC terdiri atas belata jangkar, belitan kutub bantu dan
belitan kutub kompensasi terhubung seri. Anda gambarkan skematik
pengawatan berikut berikan notasi yang tepat pada masing-masing
Kompounden tsb.

Mesin Listrik Arus Searah
6-34
13. Mesin DC penguat Kompound. terdiri dari penguat magnet Seri notasi D1-
D2, penguat magnet Shunt E1-E2, belitan jangkar A1-A2. Gambarkan
pengawatannya dengan benar berikut supply tegangan jala-jala.
Gambarkan kapan motor berputar searah jarum jam dan kapan motor
berputar berlawanan jarum jam.

14. Gambarkan skematik pemeriksaan belitan jangkar apakah putus atau
masih berfungsi baik, jelaskan dengan singkat prosedurnya.

15. Motor DC Shunt dipasang tahanan depan pengasutan dan tahanan
pengatur eksitasi. Gambarkan skematik hubungannya dan jelaskan cara
kerja pengasutan motor Shunt tersebut.

16. J elaskan terjadinya reaksi jangkar pada motor DC. J elaskan akibat
negatif terjadinya reaksi jangkar.

17. Pada terminal box memiliki enam terminal, terdiri rangkaian jangkar A1-
A2, belitan Shunt E1-E2 dan belitan seri D1-D2. J uga dilengkapi dengan
tahanan pengasutan dan tahanan pengatur eksitasi. Gambarkan
hubungan pengawatan secara lengkap dan cara kerja rangkaian tersebut.

18. Gambarkan prinsip belitan jangkar tipe gelung dengan jumlah alur 8 dan
jumlah lamel komutator 8.

19. Gambarkan prinsip belitan jangkar tipe gelombang dengan jumlah 8 alur
dan jumlah lamel komutator 8.




Bab 7
Pengendalian Motor Listrik


Daftar Isi:
7.1 Sistem Pengendalian ........................................................ 7-2
7.2 Komponen Sistem Pengendalian ...................................... 7-3
7.3 Pengendalian Kontaktor Elektromagnetik ......................... 7-7
7.4 Pengendalian Hubungan Langsung, Direct ON Line ........ 7-8
7.5 Pengendalian Bintang-Segitiga ......................................... 7-10
7.6 Pengendalian Putaran Kanan-Kiri ..................................... 7-14
7.7 Pengendali Dua Motor Bekerja Bergantian ....................... 7-17
7.8 Pengendalian Motor Soft Starter ....................................... 7-19
7.9 Panel Kontrol Motor ......................................................... 7-21
7.10 Instalasi Motor Induksi Sebagai Water Pump ................... 7-24
7.11 Rangkaian Kontrol Motor .................................................. 7-26
7.12 Rangkuman ...................................................................... 7-33
7.13 Soal-soal ........................................................................... 7-34
























Pengendalian Motor Listrik
7-2
7.1. Sistem Pengendalian

Dalam sistem kelistrikan dikenal dua
istilah yaitu sistem pengendalian dan
sistem pengaturan. Sistem pengendalian
yang akan dibahas yang menggunakan
perangkat kontaktor dan alat kendali saklar
ON, saklar OFF, timer, dsb.

Dalam sistem pengendalian ada dua bagian
yaitu yang disebut rangkaian kontrol (DC 24
V) dan sistem daya (AC 230 V) gambar-7.1.
Ketika saklar S1 di ON kan relai Q1 akan
energized sehingga kontak 1-2 tertutup dan
lampu menyala karena mendapat supply
listrik AC 230 V. Jika saklar S1 di-OFF-kan
maka Q1 dan lampu akan OFF.

Dalam sistem pengaturan dikenal
pengaturan loop terbuka dan loop tertutup
dengan feedback. Sistem pengaturan loop
terbuka hasil keluaran tidak bisa
dikendalikan sesuai dengan setting, karena
dalam sistem loop terbuka tidak ada umpan
balik.

Sistem pengaturan loop tertutup, terdapat
umpan balik yang menghubungkan
masukan dengan hasil keluaran. Sehingga
hasil akhir keluaran akan selalu dikoreksi
sehingga hasilnya selalu mendekati dengan
besaran yang diinginkan gambar-7.2

Setrika Listrik atau Rice Cooker adalah
contoh sistem pengaturan loop tertutup
temperatur dengan Bimetal gambar-7.3
Kondisi awal bimetal pada kondisi masih
dingin akan menutup sehingga kontak
tertutup sehingga arus listrik mengalir ke
elemen pemanas. Sampai temperatur
setting dicapai, maka bimetal akan terputus
dan arus listrik terputus pula. Bila
temperatur kembali dingin bimetal
terhubung kembali dan kembali pemanas
akan bekerja lagi, kejadian berulang-ulang
kondisi ON dan OFF secara otomatis.



Gambar 7.3 : Kontrol
ON-OFF dengan bimetal
Gambar 7.1 : Sistem
Pengendalian terdiri rangkaian
daya dan rangkaian kontrol
Gambar 7.2 : Dasar Sistem
Pengaturan Otomatik
Pengendalian Motor Listrik
7-3
7.2. Komponen Sistem Pengendalian

Dalam sistem pengendalian ada dua kelompok komponen listrik yang dipakai,
yaitu komponen kontrol dan komponen daya. Yang termasuk komponen kontrol
diantaranya : saklar ON, saklar OFF, timer, relay overload dan relay.
Komponen daya diantaranya kontaktor, kabel daya, sekering atau circuit
breaker. Berikut ini akan dijelaskan konstruksi beberapa komponen kontrol dan
komponen daya yang banyak digunakan dalam sistem pengendalian.

Tabel di bawah menunjukkan ada empat tipe kontak yang umum dipakai pada
sistem pengendalian, yaitu Normally Open (NO), Normally Close (NC), Satu
Induk dua Cabang gambar 7-4.

Kontak Normally Open (NO), saat
koil dalam kondisi tidak energized
kontak dalam posisi terbuka (open,
OFF) dan saat koil diberikan arus
listrik dan 1 maka kontak dalam posisi
menutup ON.

Kontak Normally Close (NC),
kebalikan dari kontak NO saat koil
dalam kondisi tidak energized kontak
dalam posisi tertutup (close, ON) dan
saat koil diberikan arus listrik dan
energized maka kontak dalam posisi
membuka OFF.

Kontak Single pole double trough,
memiliki satu kontak utama dan dua
kontak cabang, saat koil tidak
energized kontak utama terhubung
dengan cabang atas, dan saat koil
energized justru kontak utama
terhubung dengan kontak cabang
bawah.

Kontak bantu,
Dikenal dua jenis ujung kontak, jenis
pertama kontak dengan dua kontak
hubung dijumpai pada kontak relay
gambar-7.5. Jenis kedua adalah
kontak dengan empat kontak hubung,
ada bagian yang diam dan ada kontak
yang bergerak ke bawah jenis kedua
ini terpasang pada kontaktor.

Komponen relay ini bekerja secara
elektromagnetis, ketika koil K terminal
Gambar 7.4 : Jenis-jenis kontak
Gambar 7.5 : Bentuk fisik kontak
diam dan kontak bergerak
Gambar 7.6 : Simbol
dan bentuk fisik relay
Pengendalian Motor Listrik
7-4
A1 dan A2 diberikan arus listrik angker akan menjadi magnet dan menarik lidah
kontak yang ditahan oleh pegas, kontak utama 1 terhubung dengan kontak
cabang 4 gambar-7.6. Ketika arus listrik putus (unenergized), elektromag-
netiknya hilang dan kontak akan kembali posisi awal karena ditarik oleh
tekanan pegas, kontak utama 1 terhubung kembali dengan kontak cabang 2.
Relay menggunakan tegangan DC 12V, 24V, 48V dan AC 220V.

Bentuk fisik relay dikemas dengan wadah
plastik transparan, memiliki dua kontak
SPDT (Single Pole Double Throgh
gambar-7.7, satu kontak utama dan dua
kontak cabang). Relay jenis ini
menggunakan tegangan DC 6V, 12V,
24V dan 48V. Juga tersedia dengan
tegangan AC 220V. Kemampuan kontak
mengalirkan arus listrik sangat terbatas
kurang dari 5 Amper. Untuk dapat
mengalirkan arus daya yang besar untuk
mengendalikan motor induksi, relay
dihubungkan dengan kontaktor yang
memiliki kemampuan hantar arus dari
10100 Amper.

Komponen Reed Switch merupakan saklar
elektromagnetik yang cukup unik karena
bisa bekerja dengan dua cara. Cara
pertama reed switch dimasukkan dalam
belitan kawat dan dihubungkan dengan
sumber tegangan DC. Ketika koil menjadi
elektromagnet reed switch berfungsi
sebagai kontak, ketika listrik di-OFF-kan
maka reed switch juga akan OFF gambar-
7.8. Cara kedua reed switch di belitkan
dalam beberapa belitan kawat yang dialiri
listrik DC yang besar. Misalkan jumlah
belitan 5 lilit, besarnya arus DC 10 A, reed
switch akan ON jika ada kuat magnet
sebesar 50 Amper-lilit (5 lilit x 10 Amper).

Komponen tombol tekan atau disebut
saklar ON/OFF banyak digunakan
sebagai alat penghubung atau pemutus
rangkaian kontrol gambar-7.9. Memiliki
dua kontak, yaitu NC dan NO. Artinya
saat saklar tidak digunakan satu kontak
terhubung Normally Close, dan satu
kontak lainnya Normally Open. Ketika
kontak ditekan secara manual kondisinya
berbalik posisi menjadi NO dan NC.
Gambar 7.7 : Relay
dikemas plastik tertutup
Gambar 7.9 : Tombol tekan
Gambar 7.8 : Komponen
Reed Switch
Pengendalian Motor Listrik
7-5
Komponen timer digunakan dalam
rangkai kontrol pengendalian, gunanya
untuk mengatur kapan suatu kontaktor
harus energized atau mengatur berapa
lama kontaktor energized. Ada empat
jenis timer yang sering digunakan yang
memiliki karakteristik kerja seperti pada
gambar-7.10.

Kontaktor merupakan saklar daya yang
bekerja dengan prinsip elektromagnetik
gambar-7.11. Sebuah koil dengan inti
berbentuk huruf E yang diam, jika koil
dialirkan arus listrik akan menjadi
magnet dan menarik inti magnet yang
bergerak dan menarik sekaligus kontak
dalam posisi ON. Batang inti yang
bergerak menarik paling sedikit 3 kontak
utama dan beberapa kontak bantu bisa
kontak NC atau NO. Kerusakan yang
terjadi pada kontaktor, karena belitan koil
terbakar atau kontak tipnya saling
lengket atau ujung2 kontaknya terbakar.

Susunan kontak dalam Kontaktor
gambar-7.12 secara skematik terdiri
atas belitan koil dengan notasi A2-A1.
Terminal ke sisi sumber pasokan listrik
1/L1, 3/L2, 5/L3, terminal ke sisi beban
motor atau beban listrik lainnya adalah
2/T1, 4/T2 dan 6/T3. Dengan dua kontak
bantu NO Normally Open 13-14 dan 43-
44, dan dua kontak bantu NC Normally
Close 21-22 dan 31-32. Kontak utama
harus digunakan dengan sistem daya
saja, dan kontak bantu difungsikan untuk
kebutuhan rangkaian kontrol tidak boleh
dipertukar kan. Kontak bantu sebuah
kontaktor bisa dilepaskan atau
ditambahkan secara modular.







Gambar 7.12 : Simbol, kode
angka dan terminal kontaktor
Gambar 7.10 : Simbol timer dan
karakteristik timer
Gambar 7.11 : Tampak
samping irisan kontaktor
Pengendalian Motor Listrik
7-6
Bentuk fisik Kontaktor terbuat dari bahan
plastik keras yang kokoh gambar-7.13.
Pemasangan ke panel bisa dengan
menggunakan rel atau disekrupkan. Kontaktor
bisa digabungkan dengan beberapa
pengaman lainnya, misalnya dengan
pengaman bimetal atau overload relay. Yang
harus diperhatikan adalah kemampuan hantar
arus kontaktor harus disesuaikan dengan
besarnya arus beban, karena berkenaan
dengan kemampuan kontaktor secara elektrik.

Pengaman sistem daya untuk beban motor-
motor listrik atau beban lampu berdaya besar
bisa menggunakan sekering atau Miniatur
Circuit Breaker (MCB) gambar-7.14. MCB
adalah komponen pengaman yang kompak,
karena di dalamnya terdiri dua pengaman
sekaligus.

Pertama pengaman beban lebih oleh bimetal,
kedua pengaman arus hubungsingkat oleh
relay arus. Ketika salah satu pengaman
berfungsi maka secara otomatis sistem
mekanik MCB akan trip dengan sendirinya.
Pengaman bimetal bekerja secara thermis,
fungsi kuadrat arus dan waktu sehingga ketika
terjadi beban lebih reaksi MCB menunggu
beberapa saat.
Komponen Motor Control Circuit Breaker
1

(MCCB) memiliki tiga fungsi sekaligus, fungsi
pertama sebagai switch ing, fungsi kedua
pengamanan motor dan fungsi ketiga
sebagai isolasi rangkaian primer dengan
beban gambar-7.15 Pengaman beban lebih
dilakukan oleh bimetal, dan pengamanan
hubung singkat dilakukan oleh koil arus
hubung singkat yang secara mekanik bekerja
mematikan Circuit Breaker. Rating arus yang
ada di pasaran 16 A sampai 63 A.







1
Moeller-Wiring Manual Automation and Power Distribution, hal 246, edisi 2006
Gambar 7.13 : Bentuk fisik
kontaktor
Gambar 7.14 : Tampak irisan
Miniatur Circuit Breaker
Gambar 7.15 : Tampak irisan
Motor Control Circuit Breaker
Pengendalian Motor Listrik
7-7
Bentuk fisik Motor Control Circuit Breaker
(MCCB) terbuat dari casing plastik keras
yang melindungi seluruh perangkat koil
arus hubung singkat, bimetal, dan kontak
utama gambar-7.16. Pengaman beban
lebih bimetal dan koil arus hubung
singkat terpasang terintegrasi. Memiliki
tiga terminal ke sisi pemasok listrik 1L1,
3L2 dan 5L3. Memiliki tiga terminal
terhubung ke beban yaitu 2T1, 4T2 dan
6T3. Terminal ini tidak boleh dibalikkan
pemakaiannya, karena akan mempenga-
ruhi fungsi alat pengaman.


7.3. Pengendalian Kontaktor Elektromagnetik

Komponen kontrol relay impuls bekerja
seperti saklar toggle manual, bedanya relay
impuls bekerja secara elektromagnetik
gambar-7.17. Ketika saklar S1 di-ON-kan
relay impuls K1 dengan terminal A1 dan A1
akan energized sehingga kontak posisi ON.
maka lampu E1 akan menyala. ketika
saklar S1 posisi OFF mekanik pada relay
impuls tetap mengunci tetap ON. Saat S1
di ON yang kedua, mekanik impuls lepas
dan kontak akan OFF, lampu akan mati.

Komponen timer OFF-delay bekerja
secara elektromagnetik gambar-7.18.
Saklar S2 di-ON-kan, koil timer OFF-delay
K2 akan energized dan mengakibatkan
saklar akan ON dan lampu menyala.
Timer di setting pada waktu tertentu
misalkan lima menit. Setelah waktu lima
menit dicapai dari saat timer energized,
mekanik timer OFF delay akan meng-
OFF-kan saklar dan mengakibatkan lampu
mati. Dalam pemakaiannya timer
dikombinasikan dengan kontaktor,
sehingga waktu ON dan OFF kontaktor
bisa disetting sesuai dengan kebutuhan.




Gambar 7.16 : Fisik MCCB
Gambar 7.17 : Kontrol relay
impuls
Gambar 7.18 : Timer OFF
d l
Pengendalian Motor Listrik
7-8
Koil kontaktor Q1 dalam aplikasinya
dihubungkan paralel dengan diode R1,
Varistor R2 atau seri R3C1 gambar-
7.19. Koil Q1 yang diparalel dengan
diode R1 gunanya untuk menekan
timbulnya ggl induksi yang ditimbulkan
oleh induktor pada koil Q1. Sedangkan
varistor R2 memiliki karakteristik untuk
menekan arus induksi pada koil agar
minimal dengan mengatur besaran
resistansinya. Koil Q1 yang diparalel
dengan R3C1 akan membentuk
impedansi sehingga arus yang mengalir
ke koil minimal dan aman.

Bentuk Koil Set-Reset dengan dua
belitan dan dapat melayani dua saklar
yang berfungsi sebagai saklar Setting
(tombol S) dan saklar Reset (tombol R)
gambar-7.20. Ketika tombol S di ON
mekanik koil akan meng-ON-kan saklar
dan lampu akan menyala. Diode R1,
berpasangan dengan K1 dan diode R4.
Ketika tombol R di ON koil energized
dan sistem mekanik akan meng OFF
kan saklar dan lampu akan mati. Diode
R2, berpasangan dengan K1 dan diode
R3.


7.4. Pengendalian Hubungan Langsung

Pengendalian hubungan langsung dikenal dengan istilah Direct On Line (DOL)
dipakai untuk mengontrol motor induksi dengan kontaktor Q
1
. Rangkaian daya
gambar-7.21 memperlihatkan ada lima kawat penghantar, yaitu L
1
, L
2
, L
3
, N
dan PE, ada tiga buah fuse F
1
yang gunanya sebagai pengaman hubung
singkat jika ada gangguan pada rangkaian daya. Sebuah kontaktor memiliki
enam kontak, sisi supply terminal 1, 3 dan 5, sedangkan disisi beban terhubung
ke motor terminal 2, 4 dan 6. notasi ini tidak boleh dibolakbalikkan.





Gambar 7.20 : Koil set-reset
Gambar 7.19 : Diode, Varistor
dan RC sebagai pengaman relay
Pengendalian Motor Listrik
7-9


Gambar 7.21 : Rangkaian daya dan kontrol motor induksi

Rangkaian kontrol dipasangkan fuse F
2
sebagai pengaman jika terjadi
hubung singkat pada rangkaian kontrol.

Posisi menghidupkan atau ON

Jika tombol Normally Open S
1
di ON kan listrik dari jala-jala L akan mengalir
melewati fuse F2, S
1
, S
2
melewati terminal koil A
1
A
2
dari koil Q
1
ke netral N.
Akibatnya koil kontaktor Q
1
akan energized dan mengaktifkan kontak Normally
Open Q
1
terminal 13,14 akan ON dan berfungsi sebagai pengunci. Sehingga
ketika salah satu tombol S
1
posisi OFF aliran listrik ke koil Q
1
tetap energized
dan motor induksi berputar.

Posisi mematikan atau OFF
Tombol tekan Normally Close S
2
ditekan, maka loop tertutup dari rangkaian
akan terbuka, hilangnya aliran listrik pada koil kontaktor Q
1
akan de-energized.
Akibatnya koil kontaktor OFF maka kontak-kontak daya memutuskan aliran
listrik ke motor.

Gambar 7.22 : Rangkaian daya dan kontrol Direct ON Line (DOL)
Q
1
Kontaktor
F
1
Fuse Daya
F
2
Fuse kontrol
S
1
Tombol ON
S
2
Tombol OFF
A
1
,A
2
Koil kontaktor
M3~ Motor induksi 3 phasa
Q
1
Kontaktor
F
1
Fuse Daya
F
2
Fuse kontrol
S
1
,S
3
Tombol ON
S
2
,S
4
Tombol OFF
A
1
,A
2
Koil kontaktor
M3 ~ Motor induksi 3 phasa
Pengendalian Motor Listrik
7-10
Rangkaian daya dan kontrol gambar-7.22 di atas, secara prinsip bekerja sama
dengan rangkaian gambar-7.21. yang membedakan adalah terdapat dua
tombol Normally Open S
1
dan S
3
untuk menghidupkan rangkaian. Juga
terdapat dua tombol Normally Close S
2
dan S
4
untuk mematikan rangkaian.


7.5. Pengendalian Bintang-Segitiga

Hubungan langsung atau Direct On Line dipakai untuk motor induksi berdaya
dibawah 5 KW. Motor induksi dengan daya menengah dan besar antara 10 KW
sampai 50 KW menggunakan pengendalian bintang segitia untuk starting
awalnya. Saat motor terhubung bintang arus starting hanya mengambil
sepertiga dari arus starting jika dalam hubungan segitiga.












Gambar 7.23 : Hubungan terminal a) Bintang b) Segitiga
Hubungan bintang sebuah motor dapat diketahui dari hubungan kawat pada
terminal motor. Terminal W2, U2 dan V2 di kopel jadi satu, sedangkan terminal
U1 dihubungkan ke jala-jala L1, terminal V1 ke jala-jala L2 dan terminal W1 ke
jala-jala L3 gambar-7.23a). Besar tegangan yang terukur pada belitan stator,
sebesar U
belitan
= 1/3 U
phasa-phasa
sedangkan I
belitan
= I
phasa-phasa.


Hubungan segitiga dalam hubungan terminal motor diketahui dari kombinasi
hubungan jala-jala L1-U1-W2, jala-jala L2- V1-U2 dan jala-jala L3-W1-V2
gambar-7.23b). Tegangan terukur pada belitan stator sama besarnya dengan
jala-jala, U
belitan
= U
phasa-phasa
. Sedangkan besarnya I
belitan
=1/3 I
phasa-phasa.


Perbandingan antara instalasi Direct On Line atau sering juga disebut In-Line
dan hubungan bintang segitiga lihat gambar-7.24. Saat terhubung langsung
dengan daya motor 55 Kw dan tegangan nameplate 400 V akan ditarik arus
nominal 100 A - 105 A. Motor yang sama ketika terhubung segitiga, belitan
stator hanya akan mengalirkan arus 1/3 x 100 A = 59 A. Dengan
penggunaan rangkaian bintang-segitiga dapat dipilih rating daya kontaktor atau
Pengendalian Motor Listrik
7-11
circuit breaker yang lebih kecil dan secara ekonomis biaya instalasi lebih kecil.
Alasan teknis lainnya dengan hubungan langsung (in-line) arus starting akan
mencapai 600% - 700% arus nominalnya (700 A = 7 x 100 A).

Gambar 7.24 : Perbandingan DOL dan Bintang Segitiga

A. Bintang-Segitiga tanpa Timer


Gambar 7.25 : Pengawatan Daya Bintang - Segitiga
Q
1;
Q
2;
Q
3
Kontaktor
F
1
Fuse Daya
F
2
Fuse kontrol
F
3
Thermal overload relay
S
1
,S
3
Tombol ON
S
2
,S
4
Tombol OFF
A
1
,A
2
Koil kontaktor
M1~ Motor induksi 3 phasa
Pengendalian Motor Listrik
7-12
Rangkaian daya hubungan bintang-segitiga manual gambar-7.25, maksudnya
perpindahan dari hubungan bintang ke hubungan segitiga dilakukan secara
manual oleh operator. Fuse F
1
untuk mengamankan jika terjadi hubungan
singkat pada rangkaian daya, thermal overload relay F
3
berfungsi sebagai
pengaman beban lebih. Saat kontaktor Q
1
dan Q
2
posisi ON motor terhubung
secara bintang. Operator harus menekan tombol tekan S
3
ditekan maka Q
1

tetap ON, kontaktor Q
2
akan OFF sementara kontaktor Q
3
akan ON dan motor
kini terhubung segitiga. Untuk mematikan tombol S
1
ditekan, maka rangkaian
kontrol terputus, koil Q
1
, Q
2
dan Q
3
akan OFF, rangkaian daya dan kontrol
terputus. Jika terjadi beban lebih thermal overload relay berfungsi kontak F3
akan membuka rangkaian kontrol dan rangkaian daya terputus.

Rangkaian kontrol bintang-segitiga manual gambar-7.26, fuse F2 mengaman-
kan hubung singkat rangkaian kontrol.

Posisi Hubungan Bintang

Tombol tekan Normally Open S
1

ditekan, terjadi loop tertutup pada
rangkaian koil Q
1
dan koil Q
2
. Saat
tersebut motor terhubung bintang.
Perhatikan koil Q
2
seri dengan kontak
Q
3
dan koil Q
3
seri dengan kontak Q
2

artinya kedua koil saling terkunci dan
keduanya bekerj bergantian tidak akan
pernah bekerja bersamaan.

Posisi Hubungan Segitiga

Jika operator menekan tombol
Normally Close S
3
, Q
1
tetap ON, Q
2

akan OFF dan berikutnya Q
3
justru ON.
Saat tersebut motor terhubung
segitiga. Pergantian dari posisi hubungan bintang menuju hubungan segitiga
dilakukan oleh operator. Dengan menambahkan sebuah timer maka
perpindahan secara manual dapat dilakukan secara otomatis dengan
melakukan setting waktu antara 30 detik sampai 60 detik.

Untuk mematikan rangkaian dengan menekan tombol Normally Close S
1
,
rangkaian kontrol akan terbuka, akibatnya rangkaian daya dan rangkaian
kontrol terputus. Jika terjadi gangguan beban lebih maka thermal overload relay
F
3
kontaknya terbuka, hasilnya baik rangkaian daya dan rangkaian kontrol akan
terputus dan motor aman.




Gambar 7.26 : Pengawatan
kontrol bintang-segitiga
Pengendalian Motor Listrik
7-13
B. Hubungan Bintang-Segitiga Otomatis

Gambar 7.27 : Hubungan Bintang Segitiga

Rangkaian daya hubungan bintang segitiga menggunakan tiga buah kontaktor
Q
1
, Q
2
dan Q
3
gambar-7.27. Fuse F
1
berfungsi mengamankan jika terjadi
hubungsingkat pada rangkaian motor. Saat motor terhubung bintang kontaktor
Q
1
dan Q
2
posisi ON dan kontaktor Q
3
OFF. Beberapa saat kemudian timer
yang disetting waktu 60 detik energized, akan meng-OFF-kan Q
1,
sementara Q
2
dan Q
3
posisi ON, dan motor terhubung segitiga. Pengaman beban lebih F
3

(thermal overload relay) dipasangkan seri dengan kontaktor, jika terjadi beban
lebih disisi beban, relay bimetal akan bekerja dan rangkaian kontrol berikut
kontaktor akan OFF.

Tidak setiap motor induksi bisa dihubungkan bintang-segitiga, yang harus
diperhatikan adalah tegangan name plate motor harus mampu diberikan
tegangan sebesar tegangan jala-jala
gambar-7.28, khususnya pada saat motor
terhubung segitiga. Jika ketentuan ini tidak
dipenuhi, akibatnya belitan stator bisa
terbakar karena tegangan tidak sesuai.

Rangkaian kontrol bintang-segitiga
gambar-7.29, dipasangkan fuse F
2
untuk
pengaman hubungsingkat pada rangkaian
kontrol.






Gambar 7.28 : Nameplate motor
induksi bintang segitiga
Q
1;
Q
2;
Q
3
Kontaktor
F
1
Fuse Daya
F
2
Fuse kontrol
F
3
Thermal overload relay
S
1
,S
3
Tombol ON
S
2
,S
4
Tombol OFF
A
1
,A
2
Koil kontaktor
M1~ Motor induksi 3 phasa
Pengendalian Motor Listrik
7-14
Hubungan Bintang
Tombol S
2
di-ON-kan terjadi loop tertutup
pada rangkaian koil Q
1
dan menjadi
energized bersamaan dengan koil Q
2.

Kontaktor Q
1
dan Q
2
energized motor
terhubung bintang. Koil timer K
1
akan
energized, selama setting waktu berjalan
motor terhubung bintang.
Hubungan Segitiga

Saat Q
1
dan Q
2
masih posisi ON dan timer
K
1
masih energized, sampai setting waktu
berjalan motor terhubung bintang. Ketika
setting waktu timer habis, kontak Normally
Close K
1
dengan akan OFF menyebabkan
koil kontaktor Q
1
OFF, bersamaan dengan itu Q
3
pada posisi ON. Posisi akhir
kontaktor Q
2
dan Q
3
posisi ON dan motor dalam hubungan segitiga. Untuk
mematikan rangkaian cukup dengan meng-OFF-kan tombol tekan S
1
rangkaian
kontrol akan terputus dan seluruh kontaktor dalam posisi OFF dan motor akan
berhenti bekerja.

Kelengkapan berupa lampu-lampu indikator dapat dipasangkan, baik indikator
saat rangkaian kondisi ON, maupun saat saat rangkaian kondisi OFF, caranya
dengan menambahkan kontak bantu normally open yang diparalel dengan koil
kontaktor dan sebuah lampu indikator.


7.6. Pengendalian Putaran Kanan-Kiri

Motor induksi dapat diputar arah kanan atau putar arah kiri, caranya dengan
mempertukarkan dua kawat terminal box. Putaran kanan kiri diperlukan
misalkan untuk membuka atau menutup pintu garasi.

Rangkaian daya putaran kanan-putaran kiri motor induksi terdiri atas dua
kontaktor yang bekerja bergantian, tidak bisa bekerja bersamaan gambar-7.30.
Fuse F
1
digunakan untuk pengaman hubungsingkat rangkaian daya. Ketika
kontaktor Q
1
posisi ON motor putarannya ke kanan, saat Q
1
di OFF kan dan Q
2

di ON kan maka terjadi pertukaran kabel supply menuju terminal motor, motor
akan berputar ke kiri. Rangkaian daya dilengkapi pengaman thermal overload
relay F
3
, yang akan memutuskan rangkaian daya dan rangkaian kontrol ketika
motor mendapat beban lebih.





Gambar 7.29 : Pengawatan
kontrol otomatis bintang-segitiga
Pengendalian Motor Listrik
7-15

Gambar 7.30 : Pengawatan Daya Pembalikan Putaran Motor Induksi

Cara kerja rangkaian kontrol, posisi stand by jala-jala mendapat supply 220 V
dengan titik netral N.

Posisi Putaran Arah Kanan

Saat tombol Normally Open S
3
(Forward) di tekan terjadi loop tertutup pada
rangkaian koil kontaktor Q
1
, sehingga kontaktor Q
1
energized. Pada posisi ini
motor berputar ke kanan. Perhatikan koil Q
1
di serikan dengan kontak Normally
Close Q
2
, dan sebaliknya koil Q
2
di seri dengan kontak Normally Close Q
1
, ini
disebut saling mengunci (interlocking). Artinya ketika koil Q
1
ON, maka koil Q
2

akan terkunci selalu OFF. Atau saat koil Q
2
sedang ON, maka koil Q
1
akan
selalu OFF. Karena koil Q
1
akan bergantian bekerja dengan Q
2
atau sebaliknya,
dan keduanya tidak akan bekerja secara bersamaan.
Posisi Putaran Arah Kiri.

Kontak Normally Open S
2
(Reverse) ditekan, loop tertutup terjadi pada
rangkaian koil Q
2
. Kontaktor Q2 akan ON dan dengan sendirinya koil kontaktor
Q
1
akan OFF, terjadi pertukaran dua kabel phasa pada terminal motor dan
motor berputar ke kiri.

Untuk mematikan rangkaian, tekan tombol normally close S
1,
maka rangkaian
kontrol terbuka dan aliran listrik ke koil Q
1
dan koil Q
2
terputus dan rangkaian
dalam kondisi mati. Jika terjadi beban lebih kontak F
3
akan terbuka, maka
rangkaian akan terputus aliran listriknya dan rangkaian kontrol dan daya akan
terputus.
Q
1;
Q
2;
Kontaktor
F
1
Fuse Daya
F
2
Fuse kontrol
F
3
Thermal overload relay
S
1
Tombol OFF
S
2
Tombol Putar kiri
S
3
Tombol Putar kanan
A
1
,A
2
Koil kontaktor
M1 Motor induksi 3 phasa
Pengendalian Motor Listrik
7-16

Gambar 7.31 : Pengawatan kontrol pembalikan putaran

Sebuah lampu P
1
disambungkan ke kontak 98 dari F
3
berfungsi sebagai
indikator beban lebih, lampu P
1
akan ON jika terjadi gangguan beban lebih
gambar-7.31.


Gambar 7.32 : Kontrol pembalikan motor dilengkapi lampu indikator


Rangkaian kontrol dikembangkan dengan menambahkan dua lampu indikator
E
1
akan ON ketika motor berputar ke kanan, dan lampu indikator E
2
akan ON
ketika motor berputar ke kiri gambar-7.32. Pada rangkaian kontrol
dikembagkan tombol NC (Normally Close) S1 dan tombol NC S
3
untuk
Pengendalian Motor Listrik
7-17
mematikan rangkaian. Tombol NO (Normally Open) S
2
untuk meng-energized
koil Q1 (Forward), dan tombol NO S
4
untuk meng-energized koil Q
2
(Reverse).
Tiap lampu indikator diamankan dengan fuse , F
1
untuk lampu E
1
dan F
2
untuk
lampu E
2
, sedangkan fuse F
3
untuk pengaman rangkaian kontrol.


7.7. Pengendali Dua Motor Bekerja Bergantian

Dalam proses diperlukan kerja dua atau beberapa motor induksi bekerja secara
bergantian sesuai kebutuhan. Berikut ini dua motor induksi dirancang untuk
bekerja secara bergantian, dengan interval waktu tertentu.

Rangkaian daya dua motor bekerja bergantian, fuse F
1
berfungsi sebagai
pengaman jika terjadi gangguan hubung singkat rangkaian daya baik motor-1
dan motor-2 gambar-7.33. Kontaktor Q
1
mengendalikan motor-1 dan kontaktor
Q
2
mengendalikan motor-2. Masing-masing motor dipasang thermal overload
F
3
dan F
4
. Kontaktor Q
1
dan kontaktor Q
2
dirancang interlocking, artinya
mereka akan bekerja secara bergantian.


Gambar 7.33 : Pengawatan daya dua motor bekerja bergantian


Rangkaian kontrol motor bekerja bergantian gambar-7-34 dipasang fuse F
2

sebagai pengaman gangguan di rangkaian kontrol.

Q
1;
Q
2;
Kontaktor
F
1
Fuse Daya
F
2
Fuse Kontrol
F
3,
F
4
Thermal overload relay
B
1
Tombol Proximity Switch
S
2
Tombol ON
S
3
Tombol OFF
A
1
,A
2
Koil kontaktor
M1 M2 Motor induksi 3 phasa
Pengendalian Motor Listrik
7-18
Menjalankan Motor-1

Tombol tekan Normally Open S
2
jika
ditekan akan mengakibatkan koil Q
1

energized, sehingga motor-1 bekerja. Koil
Q
1
diseri dengan kontak Normally Close Q
2,

dan koil Q
2
diseri dengan kontak Normally
Close Q
1
, menandakan bahwa keduanya
terhubung interlocking. Jika proximity
switch B
1
posisi open maka aliran listrik
terputus akibatnya koil Q
1
atau koil Q
2

akan de-energized sehingga rangkaian
kontrol dan rangkaian daya terputus.
Menjalankan Motor-2

Tombol tekan Normally Close S
3
di tekan
secara bersamaan aliran koil Q
1
terputus
dan aliran listrik ke koil Q
2
tersambung,
kontaktor Q
2
akan energized dan motor-2
bekerja.

Jika terjadi gangguan beban lebih dari salah satu motor, maka thermal overload
relay F
3
atau F
4
akan bekerja, rangkaian daya menjadi loop terbuka, dan aliran
listrik ke rangkaian motor terputus meskipun rangkaian kontrol masih bekerja.

Motor-1 dan Motor-2 bekerja dengan selang waktu

Agar tingkat keamanan lebih baik maka saat
thermal overload relay F
3
dan F
4
bekerja,
rangkaian kontrol juga harus terputus. Maka
dilakukan kontak Normally Close F
3
dan F
4

di hubungkan seri dan menggantikan fungsi
dari proximity switch B
1
gambar-7.35.

Lampu indikator P
1
diparalelkan dengan koil
Q
1
, berfungsi sebagai indikator saat koil Q
1

energized terdeteksi. Lampu indikator P
2

juga diparalel dengan koil Q
2
, sehingga saat
koil Q
2
energized dapat diketahui dengan
nyala lampu P
2
.

Timer K
3
ditambahkan seri dengan kontak
NO koil Q
1
dan NC koil Q
2
, artinya koil kon-
aktor Q
2
akan energized jika koil Q
1
sudah
bekerja dan setting waktu berjalan dicapai
maka koil Q
2
akan energized, dan motor-1
dan motor-2 akan bekerja bersama-sama.
Gambar 7.35 : Pengaturan
Selang Waktu Oleh Timer
Gambar 7.34 : Pengawatan kontrol
dua motor bergantian
Pengendalian Motor Listrik
7-19
7.8. Pengendalian Motor Soft Starter

Perkembangan elektronika daya yang pesat kini pengendalian motor induksi
menggunakan komponen elektronika seperti dengan Thyristor, GTO dsb.
Kemampuan pengendaliannya sampai ratusan KW untuk pengasutan awal dan
bahkan untuk pengaturan putaran. Karakteristik Soft starter memiliki
kemampuan mengubah besaran tegangan dan frekuensi sesuai kebutuhan.
Karakteristik arus fungsi putaran motor, akan menarik 600% arus nominal
tanpa adanya pengasutan, dengan pengasutan soft starter mampu ditekan
sampai hanya 200% arus nominalnya gambar-7.36a). Karakteristik momen
dengan soft starter mampu diatur dari 10% sampai 150% torsi nominal motor
gambar-7.36b).

Gambar 7.36 : Karakteristik a) Arus Fungsi Putaran b) Torsi Fungsi Putaran


Kemampuan soft starter lainnya adalah mampu mengubah frekuensi jala-jala
50 Hz menjadi frekuensi lebih kecil dari 25%, 50%, 75% dari frekuensi
nominalnya. Motor induksi yang memiliki putaran nominal 1450 Rpm dapat
diatur putarannya dari minimal 25% (360 Rpm) sampai frekuensi nominalnya
100% (1450 Rpm) lihat grafik gambar-7.36b).












Pengendalian Motor Listrik
7-20
Gambar satu garis prinsip instalasi
perangkat soft starter terdiri atas
beberapa tingkatan, mencakup fuse
atau kontaktor utama, saklar, induktor,
filter, inverter frekuensi, kabel dan motor
induksi gambar-7.37.

Perangkat induktor dan filter digunakan
untuk menjaga agar kualitas listrik tidak
berubah dengan adanya perangkat
inverter frekuensi. Jika kedua komponen
ini dihilangkan akan terjadi munculnya
interferensi frekuensi pada listrik jala-jala.

Inverter frekuensi memiliki kemampuan
mengubah dari frekuensi jala-jala 50 Hz
menjadi frekuensi lebih rendah dan
bahkan frekuensi yang lebih tinggi
sesuai kebutuhan. Dengan mengubah
besaran frekuensi maka putaran motor
induksi dapat diatur.

Instalasi soft starter untuk motor 55 KW
tegangan 400 V dibandingan antara
hubungan in-line dan hubungan segitiga
gambar-7.38.


Gambar 7.38 : Pengawatan soft starting a) DOL b) Bintang segitiga



Gambar 7.37 : Diagram Satu Garis
Instalasi Pengasutan Soft Starting
Pengendalian Motor Listrik
7-21
7.9. Panel Kontrol Motor

Rangkaian daya dan rangkaian kontrol motor dipasang dalam sebuah panel
yang terbuat dari bahan metal. Ukuran panjang lebar dan tinggi disesuaikan
dengan kebutuhan. Panel kontrol motor di bagian pintu dilengkapi dengan
beberapa lampu indikator, Voltmeter, Ampermeter dan beberapa tombol tekan
ON. tombol OFF, tombol Auto.

Komponen kontaktor disusun rapi dikelompokkan menurut fungsi. Komponen
pengaman seperti fuse dan circuit breaker ditempatkan menyatu gambar-7.39.
Penampang kabel daya disesuaikan dengan daya motor, minimal 10 mm
2
.
Penampang kabel kontrol dipakai 2,5 mm
2
dari jenis kabel serabut.
Pemasangan kabel dalam panel ditempatkan dalam duck kabel sehingga
tersusun rapi dan mudah dirawat. Panel kontrol motor diketanahkan dengan
kawat tembaga penampang 16 mm
2
, disambungkan dengan elektrode
pentanahan.

Instalasi pengawatan alat ukur untuk ampermeter menggunakan rotary switch
dapat mengukur arus L1, arus L2 dan arus L3 cukup dengan satu buah
ampermeter saja. Pengawatan alat ukur tegangan dengan voltmeter juga
menggunakan rotary switch, dengan berbagai jenis pengukuran tegangan, yaitu
tegangan phasa-netral L1-N, L2-N, L3-N dan tegangan phasa-phasa L1-L2, L2-
L3 dan L3-L1 gambar-7.40.
Gambar 7.39 : Tata letak komponen dalam bok panel
Pengendalian Motor Listrik
7-22


Gambar 7.40 Pengawatan a) Ampermeter Switch b) Voltmeter Switch


Kontrol motor dilengkapi dengan beberapa pengaman sekaligus berupa
pengaman thermal overload relay dan pengaman overcurrent relay yang
tersambung secara mekanik gambar-7.41. Pengaman thermal overload dan
overcurrent relay, sifatnya tambahan artinya bisa dipasangkan jika diperlukan
atau dilepas jika tidak diperlukan.

Bahkan bisa digabungkan dengan
pengaman arus sisa yang bekerjanya seperti
ELCB, berupa trafo arus yang dilewati oleh
empat kawat sekaligus, yaitu L1, L2,L3 dan
N. Dilengkapi dengan setting kepekaan arus
sisa dalam orde 50 sd 300 mA yang dapat
diatur dan pengaturan waktu berapa lama
bereaksi sampai memutuskan rangkaian.

Motor induksi dengan daya besar diatas 50
Kw bekerja dengan arus nominal diatas 100
A. Pemasangan thermal overload relay tidak
bisa langsung dengan circuit breaker, tetapi
melewati alat transformator arus CT
gambar-42. Ratio arus primer trafo arus CT
dipilih 100A/5A. Sehingga thermal overload
relay cukup dengan rating sekitar 5A saja.
Jika terjadi beban lebih arus primer CT
meningkat diatas 100A, arus sekunder CT
akan meningkat juga dan mengerjakan
thermal overload relay bekerja, sistem
mekanik akan memutuskan circuit breaker.




Gambar 7.41 Pengamanan bimetal
overload dan arus hubung singkat
Pengendalian Motor Listrik
7-23
Beberapa alat listrik sensitif terhadap
perubahan tegangan listrik baik tegangan
lebih maupun tegangan dibawah nominal. Alat
pengaman under voltage relay juga dipasang
untuk mendeteksi jika tegangan jala-jala
dibawah tegangan nominalnya. Maka relay
secara mekanik akan memutuskan circuit
breaker, sehingga peralatan listrik aman
gambar-7.43. Relay undervoltage juga
dilengkapi dengan tombol reset S11.

Kini beberapa jenis motor induksi dilengkapi
dengan sensor temperatur semikonduktor dari
PTC/NTC yang dihubungkan dengan piranti
penguat elektronik gambar-7.44.
Pengaruh beban lebih pada motor akan
menyebabkan temperatur stator meningkat.
Jika motor bekerja di atas suhu kerjanya akan
memanaskan PTC/NTC yang sensornya
terpasang dalam slot stator motor akan
meningkat nilai resistansinya. Setelah
dikuatkan sinyalnya oleh perangkat elektronik,
akan de-energized koil Q1. Sehingga kontaktor
Q1 akan terputus dan motor aman dari
pengaruh temperatur diatas normal.

Gambar 7.44 : Pengaman beban lebih dengan PTC/NTC

Gambar 7.42 Pemakaian Trafo
Arus CT Pengamanan Motor
Gambar 7.43 : Pengaman
under voltage
Pengendalian Motor Listrik
7-24
7.10. Instalasi Motor Induksi Sebagai Water Pump

1. Instalasi pompa air menggunakan satu motor dengan kendali pressure
switch gambar 7.45




F1 Fuse
Q1 Motor protective switch
+overload + over current
F7 Pressure switch 3 pole
M1 Motor penggerak pompa
Tangki udara bertekanan
Valve
Pipa tekanan
Pompa sentrifugal
Pipa hisap dengan filter
Lubang sumur





2. Instalasi pompa air digerakkan oleh satu motor dengan kendali level switch
gambar 7.46

F1 Fuse
Q1 Motor protective switch
+overload + over current
F7 Pressure switch 3 pole
M1 Motor penggerak pompa
HW Level atas
LW Level bawah
Tali terikat pelampung, beban
penyeimbang, klem dan pulley
Tangki penimbun
Tangki tekanan
Pompa Centrifugal
Keluaran
Pipa hisap dengan filter
Lubang sumur

Gambar 7.45 : Instalasi Pompa Air
Dengan Kendali Pressure Switch
Gambar 7.46 : Instalasi Pompa
Air Dengan Kendali Level Switch
Pengendalian Motor Listrik
7-25
3 Instalasi pompa air digerakkan oleh satu motor dengan kendali dua level
switch gambar 7.47

F1 Fuse
Q1 Kontaktor (start-delta)
F2 Overload relay (reset)
F8 Switch pelampung 1 pole
F9 Switch pelampung 1 pole
S1 Switch Manual-OFF-Auto
M1 Motor penggerak pompa
Tali terikat pelampung,
beban penyeimbang, klem
dan pulley
Tangki penimbun
Tangki tekanan
Pompa Centrifugal
Keluaran
Pipa hisap dengan filter
Monitor gangguan pompa
Lubang sumur

4. Instalasi pompa air menggunakan dua motor dengan kendali dua level
switch gambar 7.48.

Gambar 7.48 : Instalasi pompa air dgn dua pompa



Gambar 7.47 : Instalasi pompa air dgn
kendali dua buah level switch
Pengendalian Motor Listrik
7-26
P1 Auto Pompa-1 prioritas kerja, pompa-2 saat beban puncak
P2 Auto Pompa-2 prioritas kerja, pompa-1 saat beban puncak
P1 + P2 Pompa-1 /pompa-2 bekerja oleh switch pelampung
Tali terikat pelampung, beban penyeimbang, klem dan pulley
Tangki penimbun
Pemasukan
Tangki tekanan
Keluaran
Pompa Centrifugal
Pompa-1
Pompa-2
Pipa hisap dengan filter
Lubang sumur


7.11. Rangkaian Kontrol Motor Induksi

1. Rangkaian daya pengasutan resistor pada motor induksi, dilengkapi dengan
menggunakan pengaman beban lebih bimetal overload relay dan pengaman
arus hubung singkat pada kontaktor Q1 gambar 7.49. Rangkaian daya ini
akan bekerja baik jika rangkaian kontrol berfungsi dengan baik gambar 7.50.








Gambar7.49 : Pengawatan daya
pengasutan resistor dua tahap
Tegangan starting = 0,6 x Tegangan nameplate
Arus starting = 0,6 x Arus beban penuh
Torsi starting = 0,36 x Torsi beban penuh
Pengendalian Motor Listrik
7-27

Gambar 7.50 Pengawatan kontrol pengasutan resistor dua tahap


2. Rangkaian hubungan bintang segitiga menggunakan tiga kontaktor (Q11,
Q13 dan Q15), untuk pengamanan bisa ditambahkan MCCB Q1 yang
dilengkapi dengan pengaman bimetal overload dan pengaman arus hubung
singkat gambar 7.51.
Gambar 7.51 Pengawatan daya bintang-segitiga
Pengendalian Motor Listrik
7-28
Rangkaian kontrol hubungan bintang segitiga gambar 7.52, awalnya rangkaian
terhubung secara bintang, dengan setting waktu yang diatur oleh timer K1 akan
beralih ke hubungan segitiga.




Gambar 7.52 Pengawatan kontrol bintang segitiga dengan timer


3. Rangkaian motor induksi dengan pengasutan autotransformator yang
dipasang pada rangkaian stator. Kontaktor Q13 mengatur kerja autotrans-
formator bersama dengan timer K1. Beberapa saat berikutnya setelah
setting waktu timer tercapai K1 akan OFF motor induksi bekerja secara
dengan tegangan nominal gambar 7.53.

Rangkaian kontrol gambar 7.54 dilengkapi dengan timer K1 yang mengatur
setting waktu berapa lama pengasutan tegangan autotransformator bekerja.
Setelah waktu timer tercapai K1 akan OFF dan motor memperoleh tegangan
nominal.


Pengendalian Motor Listrik
7-29
Gambar 7.53 Pengawatan pengasutan dengan autotransformator

Torsi starting = 0,36 x Torsi beban penuh
Rating Q1, Q11 = 1 x Arus nominal
Q16 = 0,6 x Arus nominal
Q13 = 0,25 x Arus nominal












Pengendalian Motor Listrik
7-30
Gambar 7.54 Pengawatan kontrol autotransformator


4. Rangkaian Motor Induksi Slipring , untuk starting awal motor Slipring
digunakan jenis pengasutan resistor yang dipasang sisi rotor dengan dua
tahap pengaturan. Kontaktor Q12 dan Q14 merupakan kontaktor yang
mengatur hubungan tahapan resistor dengan rangkaian rotor melalui
terminal K,L,M pada terminal box. Pemutus daya Q1 dari jenis MCCB yang
dilengkapi dengan pengaman beban lebih bimetal overload relay dan
pengaman arus hubung singkat gambar 7.55.






Pengendalian Motor Listrik
7-31
Gambar 7.55 Pengawatan motor slipring dua tahap resistor


Arus starting = 0,5.. 2,5 x Arus beban penuh
Torsi starting = 0,5..1,0 x Torsi beban penuh
Kontaktor pengasutan Q14 = 0,35 x Arus rotor
Kontaktor pengasutan Q12 = 0,58 x Arus rotor
Kontaktor utama Q1, Q11 = Arus beban penuh


5. Rangkaian daya Motor Induksi Slipring menggunakan tiga tahapan
pengasutan resistor (R1, R2 dan R3) pada belitan rotor melalui tiga buah
kontaktor Q12, Q13 dan Q14. Pemutus daya MCCB Q1 dilengkapi dengan
pengaman beban lebih bimetal overload relay dan pengaman arus hubung
singkat gambar 7.56.


Pengendalian Motor Listrik
7-32
Gambar 7.56 Pengawatan motor slipring tiga tahap resistor


Tegangan starting = 0,7 x Tegangan nameplate
Arus starting = 0,49 x Arus beban penuh

Gambar 7.57 Pengawatan kontrol motor slipring



Pengendalian Motor Listrik
7-33
7.12. Rangkuman

Dalam sistem kelistrikan dikenal dua istilah yaitu sistem pengendalian dan
sistem pengaturan.
Dalam sistem pengendalian ada dua bagian yaitu yang disebut rangkaian
kontrol dan sistem daya.
Dalam sistem pengaturan dikenal pengaturan loop terbuka dan loop tertutup
dengan umpan balik.
Setrika Listrik dan Rice Cooker adalah contoh sistem pengaturan loop
tertutup temperatur dengan Bimetal.
Yang termasuk komponen kontrol diantaranya : saklar ON, saklar OFF, timer,
relay overload dan relay.
Komponen daya diantaranya kontaktor, kabel daya, sekering atau circuit
breaker.
Ada empat tipe kontak yang umum dipakai pada sistem pengendalian, yaitu
Normally Open (NO), Normally Close (NC), Satu Induk dua Cabang
Komponen timer digunakan dalam rangkai kontrol pengaturan waktu
ON/OFF.
Kontaktor merupakan saklar daya yang bekerja dengan prinsip
elektromagnetik memiliki kontak utama dan kontak bantu.
Pengaman sistem daya untuk beban motor-motor listrik atau beban lampu
berdaya besar bisa menggunakan sekering atau Miniatur circuit breaker
(MCB).
Komponen Motor Control Circuit Breaker
2
(MCCB) memiliki tiga fungsi,
fungsi pertama sebagai switching, fungsi kedua pengamanan motor dan
fungsi ketiga sebagai isolasi rangkaian primer dengan beban.
Komponen kontrol relay impuls bekerja seperti saklar toggle manual.
Komponen timer OFF-delay bekerja secara elektromagnetik.
Pengendalian hubungan langsung dikenal dengan istilah Direct ON Line
(DOL) dipakai untuk mengontrol motor induksi.
Saat motor terhubung Bintang. besar tegangan yang terukur pada belitan
stator, sebesar U
belitan
= 1/3 U
phasa-phasa
sedangkan I
belitan
= I
phasa-phasa.
.
2
Moeller-Wiring Manual Automation and Power Distribution, hal 246, edisi 2006
Pengendalian Motor Listrik
7-34
Saat motor induksi terhubung segitiga, tegangan terukur pada belitan stator
sama besarnya dengan jala-jala, U
belitan
= U
phasa-phasa
. sedangkan besarnya
I
belitan
=1/3 I
phasa-phasa.
.
Motor induksi dapat dibalik arah putaran kanan atau putaran arah kiri,
caranya dengan mempertukarkan dua kawat terminal box.
Pengendalian motor secara soft starter (GTO, Thyristor) kapasitas daya
puluhan sampai ratusan KW untuk pengasutan awal dan bahkan untuk
pengaturan putaran.
Prinsip instalasi perangkat soft starter terdiri atas beberapa tingkatan,
mencakup fuse atau kontaktor utama, saklar, induktor, filter, inverter
frekuensi, kabel dan motor induksi.
Inverter frekuensi memiliki kemampuan mengubah dari frekuensi jala-jala 50
Hz menjadi frekuensi 0 sampai 180 Hz.
Kontrol motor dilengkapi dengan beberapa pengaman sekaligus berupa
pengaman thermal overload relay dan pengaman overcurrent relay.
Alat pengaman undervoltage relay juga dipasang untuk mendeteksi jika
tegangan jala-jala dibawah tegangan nominalnya.
Motor induksi dapat dilengkapi dengan sensor temperatur semikonduktor
dari PTC/NTC.

Dalam rancangan perlu diperhatikan rating arus kontaktor, rating arus
bimetal, rating fuse dan penampang kabel disesuaikan dengan rating daya
motor induksi.
7.13. Soal-soal

1. Gambarkan skematik prinsip rangkaian kontrol dan rangkaian daya listrik
kemudian jelaskan cara kerjanya.

2. Gambarkan blok diagram sistem pengaturan loop tertutup, jelaskan prinsip
kerjanya.

3. Gambarkan skematik prinsip setrika listrik dengan pengaturan bimetal,
jelaskan cara kerjanya.

4. Gambarkan rangkaian kontrol sebuah kontaktor yang dilengkapi satu tombol
ON dan satu tombol OFF. Kemudian jelaskan prinsip kerjanya.

5. Motor induksi 10 HP/400 V di rangkaian secara DOL, tentukan penampang
kabelnya, rating kontaktor, rating overload relay.

6. Gambarkan rangkaian kontrol dan rangkaian daya motor induksi DOL.
Pengendalian Motor Listrik
7-35
7. Rancanglah pintu garasi mobil yang digerakkan oleh motor induksi, ada dua
tombol BUKA dan TUTUP diluar garasi, dan dua tombol tekan BUKA dan
TUTUP yang ada di dalam garasi. Jelaskan cara kerjanya.

8. Motor induksi dirangkaian secara Bintang-Segitiga dengan tiga buah
kontaktor, gambarkan rangkaian kontrol dan rangkaian dayanya. Tetapkan
rating fuse , rating kontaktor dan rating overload relaynya.

9. Pompa air untuk sebuah Hotel digerakkan oleh dua pompa yang bekerja
bergantian. Jika air di bak penampungan atas kurang dari 30% volume,
kedua pompa bekerja otomatis, setelah 60% volume terisi hanya bekerja
satu pompa sampai kondisi terisi penuh. Pompa bekerja secara otomatis,
pada kondisi darurat dioperasikan secara manual.






8-1


BAB 8
ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK


Daftar Isi :
8.1. Alat Ukur Listrik ..................................................... 8-2
8.2. Sistem Satuan ....................................................... 8-3
8.3. Ukuran Standar Kelistrikan .................................... 8-4
8.4. Sistem Pengukuran ............................................... 8-4
8.5. Alat Ukur Listrik Analog ......................................... 8-5
8.6. Multimeter Analog ................................................. 8-7
8.7. Alat Ukur Digital .................................................... 8-7
8.8. Alat Ukur Analog Kumparan Putar ........................ 8-8
8.9. Alat Ukur Besi Putar .............................................. 8-9
8.10. Alat Ukur Elektrodinamik ........................................ 8-10
8.11. Alat Ukur Piringan Putar ........................................ 8-12
8.12. Pengukuran Tegangan DC .................................... 8-14
8.13. Pengukuran Arus DC ............................................ 8-14
8.14. Pengukuran Tahan ................................................ 8-16
8.15. J embatan Wheatstone .......................................... 8-17
8.16. Osiloskop .............................................................. 8-18
8.17. Data Teknik Osiloskop .......................................... 8-19
8.18. Osiloskop Analog .................................................. 8-19
8.19. Osiloskop Dua Kanal ............................................. 8-21
8.20. Osiloskop Digital ................................................... 8-22
8.21. Pengukuran Dengan Osiloskop ............................. 8-24
8.22. Metode Lissajous .................................................. 8-28
8.23. Rangkuman ........................................................... 8-29
8.24. Soal-Soal ............................................................... 8-31














Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-2
8.1. Alat Ukur Listrik

Untuk mengetahui besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus,
resistansi, daya, faktor kerja, frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik.

Awalnya dipakai alat-alat ukur analog
dengan penunjukan menggunakan jarum
dan membaca dari skala. Kini banyak
dipakai alat ukur listrik digital yang praktis
dan hasilnya tinggal membaca pada layar
display gambar-8.1

Bahkan dalam satu alat ukur listrik dapat
digunakan untuk mengukur beberapa
besaran, misalnya tegangan AC dan DC,
arus listrik DC dan AC, resistansi kita
menyebutnya Multimeter. Untuk kebutuhan
praktis tetap dipakai alat ukur tunggal,
misalnya untuk mengukur tegangan saja,
atau daya listrik saja.

Kedepan alat ukur analog masih tetap
digunakan karena handal, ekonomis dan
praktis gambar-8.2. Namun alat ukur digital
makin luas dipakai, karena harganya makin
terjangkau, praktis dalam pemakaian,
penunjukannya makin akurat dan presisi.

Ada beberapa istilah dan definisi
pengukuran listrik yang harus dipahami,
diantaranya alat ukur, akurasi, presisi,
kepekaan, resolusi dan kesalahan.

a. Alat ukur, adalah perangkat untuk
menentu kan nilai atau besaran dari
kuantitas atau variabel.
b. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca
pada nilai yang sebenarnya dari variabel
yang diukur.
c. Presisi, hasil pengukuran yang
dihasilkan dari proses pengukuran, atau
derajat untuk membedakan satu
pengukuran dengan lainnya.
d. Kepekaan, ratio dari sinyal output atau
tanggapan alat ukur perubahan input
atau variabel yang diukur

Gambar 8.1 : Tampilan
meter Digital


Gambar 8.2:
Meter listrik Analog
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-3
e. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu ditanggapi
oleh alat ukur.
f. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang
diukur.

8.2. Sistem Satuan

Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan,
yaitu sistem metrik (dipelopori Perancis sejak 1795), Amerika Serikat dan
Inggris juga menggunakan sistem metrik untuk kepentingan internasional, tapi
untuk kebutuhan lokal menggunakan sistem CGS (centimeter-gram-second).
Sejak tahun 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit) sebagai
kesepakatan internasional. Enam besaran yang dinyatakan dalam sistem SI,
yaitu

Tabel 8.1. Besaran Sistem Internasional
Besaran Satuan Simbol
Panjang meter m
Massa kilogram kg
Waktu detik s
Arus listrik amper A
Temperatur thermodinamika derajat kelvin
0
K
Intensitas cahaya candela Cd

Secara praktis besaran listrik yang sering digunakan adalah volt, amper, ohm,
henry dsb. Kini sistem SI sudah membuat daftar besaran, satuan dan simbol
dibidang kelistrikan dan kemagnetan berlaku internasional.

Tabel 8.2. Besaran dan Simbol Kelistrikan
Besaran dan simbol Nama dan simbol Persamaan
Arus listrik, I amper A -
Gaya gerak listrik, E volt, V V -
Tegangan, V volt,V V -
Resistansi, R ohm, R =V/I
Muatan listrik, Q coulomb C Q =It
Kapasitansi, C farad F C =Q/V
Kuat medan listrik, E - V/m E =V/l
Kerapatan fluk listrik, D - C/m
2
D =Q/I
2

Permittivity, - F/m =D/E
Kuat medan magnet, H - A/m
nI Hdl = }
Fluk magnet, weber Wb E =d/dt
Kerapatan medan magnet,B tesla T B =/I
2

Induktansi, L, M henry H M =/I
Permeability, - H/m =B/H

Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-4
8.3. Ukuran Standar Kelistrikan

Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting, karena sebagai acuan
dalam peneraan alat ukur yang diakui oleh komunitas internasional. Ada enam
besaran yang berhubungan dengan kelistrikan yang dibuat sebagai standart,
yaitu standar amper, resistansi, tegangan, kapasitansi, induktansi, kemagnetan
dan temperatur.

1. Standar amper menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus
konstan yang dialirkan pada dua konduktor didalam ruang hampa udara
dengan jarak 1 meter, diantara kedua penghantar menimbulkan gaya = 2 x
10
-7
newton/m panjang.

2. Standar resistansi menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin
resistansi 1 yang memiliki tahanan listrik tinggi dan koefisien temperatur
rendah, ditempatkan dalam tabung terisolasi yang menjaga dari
perubahan temperatur atmospher.

3. Standar tegangan ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruh
H memiliki dua elektrode, tabung elektrode positip berisi elektrolit mercury
dan tabung elektrode negatip diisi elektrolit cadmium, ditempatkan dalam
suhu ruangan. Tegangan elektrode Weston pada suhu 20
0
C sebesar
1.01858 V.

4. Standar Kapasitansi menurut ketentuan SI, diturunkan dari standart
resistansi SI dan standar tegangan SI, dengan menggunakan sistem
jembatan Maxwell, dengan diketahui resistansi dan frekuensi secara teliti
akan diperoleh standar kapasitansi (Farad).
5. Standar Induktansi menurut ketentuan SI, diturunkan dari standar
resistansi dan standar kapasitansi, dengan metode geometris, standar
induktor akan diperoleh.

6. Standart temperatur menurut ketentuan SI, diukur dengan derajat Kelvin
besaran derajat kelvin didasarkan pada tiga titik acuan air saat kondisi
menjadi es, menjadi air dan saat air mendidih. Air menjadi es sama
dengan 0
0
Celsius = 273,16
0
Kelvin, air mendidih 100
0
C.

7. Standar luminasi cahaya menurut ketentuan SI,


8.4. Sistem Pengukuran

Ada dua sistem pengukuran yaitu sistem analog dan sistem digital. Sistem
analog berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal analog
berbentuk fungsi kontinyu, misalnya penunjukan temperatur dalam ditunjukkan
oleh skala, penunjuk jarum pada skala meter, atau penunjukan skala elektronik
r-8.3a

Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-5
Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital. Penunjukan
angka digital berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu dberhubungan
dengan waktu. Penunjukan display dari tegangan atau arus dari meter digital
berupa angka tanpa harus membaca dari skala meter. Saklar pemindah
frekuensi pada pesawat HT juga merupakan angka digital dalam bentuk digital
gambar-8.3b


Gambar 8.3 Penunjukan
meter analog dan meter digital


8.5. Alat Ukur Listrik Analog

Alat ukur listrik analog merupakan
alat ukur generasi awal dan sampai
saat ini masih digunakan.
Bagiannya banyak komponen listrik
dan mekanik yang saling
berhubungan. Bagian listrik yang
penting adalah, magnet permanen,
tahanan meter dan kumparan putar.
Bagian mekanik meliputi jarum
penunjuk, skala dan sekrup
pengatur jarum penunjuk gambar-
8.4
Mekanik pengatur jarum penunjuk
merupakan dudukan poros kumparan putar yang diatur kekencangannya
gambar-8.5J ika terlalu kencang jarum akan terhambat, jika terlalu kendor
jarum akan mudah goncang. Pengaturan jarum penunjuk sekaligus untuk
memposisikan jarum pada skala nol meter.


Gambar 8.4 komponen
alat ukur listrik analog
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-6


Alat ukur analog memiliki komponen
putar yang akan bereaksi begitu
mendapat sinyal listrik. Cara bereaksi
jarum penunjuk ada yang menyimpang
dulu baru menunjukkan angka
pengukuran.



Atau jarum penunjuk bergerak ke
angka penunjukan perlahan-lahan
tanpa ada penyimpangan. Untuk itu
digunakan peredam mekanik berupa
pegas yang terpasang pada poros
jarum atau bilah sebagai penahan
gerakan jarum berupa bilah dalam
ruang udara gambar-8.6. Pada
meter dengan kelas industri baik dari
jenis kumparan putar maupun jenis
besi putar seperti meter yang
dipasang pada panel meter banyak
dipakai peredam jenis pegas.





Bentuk skala memanjang saat kini
jarang ditemukan. Bentuk skala
melingkar dan skala kuadran banyak
dipakai untuk alat ukur Voltmeter dan
Ampermeter pada panel meter
gambar 8.7.












Gambar 8.5 : Dudukan
poros jarum penunjuk
Gambar 8.6 Pola penyimpangan
jarum meter analog
Gambar 8.7 Jenis skala
meter analog
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-7
8.6. Multimeter Analog

Multimeter salah satu meter analog yang banyak dipakai untuk pekerjaan
kelistrikan dan bidang elektronika gambar-8.8.

Multimeter memiliki tiga fungsi
pengukuran, yaitu :

1. Voltmeter untuk tegangan AC
dengan batas ukur 0-500 V,
pengukuran tegangan DC dengan
batas ukur 0-0,5V dan 0-500V.

2. Ampermeter untuk arus listrik DC
dengan batas ukur 0-50A dan 0-15A,
pengukuran arus listrik AC 0-15A.

3. Ohmmeter dengan batas ukur dari
1-1M.







8.7. Alat Ukur Digital

Alat ukur digital saat sekarang banyak dipakai dengan berbagai kelebihannya,
murah, mudah dioperaikan dan praktis.

Multimeter digital mampu
menampilkan beberapa pengukuran
untuk arus miliAmper, temperatur
0
C, tegangan miliVolt, resistansi
Ohm, frekuensi Hz, daya listrik mW
sampai kapasitansi nF gambar-8.9

Pada dasarnya data /informasi yang
akan diukur bersifat analog. Blok
diagram alat ukur digital terdiri
komponen sensor, penguat sinyal
analog, Analog to Digital converter ,
mikroprosesor, alat cetak dan dis-
play digital gambar-8.10.

Gambar 8.8 : Multimeter analog
Gambar 8.9 :
Tampilan penunjukan digital
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-8
Sensor mengubah besaran listrik dan non elektrik menjadi tegangan, karena
tegangan masih dalam orde mV perlu diperkuat oleh penguat input.


Gambar 8.10 : Prinsip kerja alat ukur digital

Sinyal input analog yang sudah diperkuat, dari sinyal analog diubah menjadi
sinyal digital dengan (ADC) Analog to Digital akan diolah oleh perangkat PC
atau mikroprosessor dengan program tertentu dan hasil pengolahan disimpan
dalam sistem memori digital. Informasi digital ditampilkan dalam display atau
dihubungkan dicetak dengan mesin cetak.

Display digital akan menampilkan
angka diskrit dari 0 sampai angka 9
ada tiga jenis, yaitu 7-segmen, 14-
segmen dan dot matrik 5x7 gambar-
8.11. Sinyal digital terdiri atas 0 dan 1,
ketika sinyal 0 tidak bertegangan atau
OFF, ketika sinyal 1 bertegangan atau
ON.



Sebuah multimeter digital, terdiri dari
tiga jenis alat ukur sekaligus, yaitu
mengukur tegangan, arus dan tahanan.
Mampu untuk mengukur besaran listrik
DC maupun AC gambar 8.12.

Saklar pemilih mode digunakan untuk
pemilihan jenis pengukuran, mencakup
tegangan AC/DC, pengukuran arus
AC/DC, pengukuran tahanan,
pengukuran diode dan pengukuran
kapasitor.

Terminal kabel untuk tegangan dengan
arus berbeda. Terminal untuk peng-
ukuran arus kecil 300mA dengan arus
sampai 10A dibedakan.
Gambar 8.12 : Multimeter
digital AC dan DC
Gambar 8.11 : Tiga
jenis display digital
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-9
8.8. Alat Ukur Analog Kumparan Putar

Konstruksi alat ukur kumparan putar
terdiri dari permanen magnet,
kumparan putar dengan inti besi bulat,
jarum penunjuk terikat dengan poros
dan inti besi putar, skala linear, dan
pegas spiral rambut, serta pengatur
posisi nol gambar-8.13. Torsi yang
dihasilkan dari interaksi
elektromagnetik sesuai persamaan :

T = B x A x I x N

T Torsi (Nm)
B kerapatan fluk magnet (Wb/m
2
)
A luas efektik koil (m
2
)
I arus ke kumparan putar (A)
N jumlah belitan




Dari persamaan diatas, komponen B, A dan N adalah konstan, sehingga torsi
berbanding lurus dengan arus mengalir ke kumparan putar. Data alat ukur
kumparan putar dengan dimensi 31/2 in, arus 1mA, simpangan skala penuh
100 derajat memiliki A : 1,72 cm
2
, B : 2.000 G(0,2Wb/m
2
, N: 84 lilit, T : 2,92 x
10
-6
Nm R kumparan putar : 88, disipasi daya : 88W.

Untuk pengukuran listrik AC alat
ukur kumparan putar ditambahkan
komponen tambahan, yaitu diode
bridge sebagai penyearah AC ke
DC gambar-8.14.

EDC = Vrms .
2 2
t
=0,9 Vrms

Tahanan seri R
V
untuk mendrop
tegangan sehingga batas ukur dan
skala pengukuran sesuai.
Sehingga tahanan total R
T
=R
V
+ R.
Multimeter menggunakan
kumparan putar sebagai
penggerak jarum penunjuknya.


Gambar 8.13 : Prinsip
Alat Ukur Kumparan Putar
Gambar 8.14 : Meter kumparan putar
dengan diode penyearah
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-10
8.9. Alat Ukur Besi Putar

Alat ukur besi putar memiliki anatomi yang berbeda dengan kumparan putar.
Sebuah belitan kawat dengan rongga tabung untuk menghasilkan medan
elektromagnetik. gambar-8.15.

Didalam rongga tabung dipasang
sirip besi yang dihubungkan
dengan poros dan jarum penunjuk
skala meter. J ika arus melalui
belitan kawat, timbul elektromag
netik dan sirip besi akan bergerak
mengikuti hukum tarik menarik
medan magnet.

Besarnya simpangan jarum
sebanding dengan kuadrat arus
yang melewati belitan. skala meter
bukan linear tetapi jaraknya angka
non-linier. Alat ukur besi putar
sederhana bentuknya dan cukup
handal.



8.10. Alat Ukur Elektrodinamik

Alat ukur elektrodinamik memiliki dua
jenis belitan kawat, yaitu belitan
kawat arus yang dipasang diam dua
buah pada magnet permanen, dan
belitan kawat tegangan sebagai
kumparan putar terhubung dengan
poros dan jarum penunjuk gambar-
8.16.

Interaksi medan magnet belitan arus
dan belitan tegangan menghasilkan
sudut penyimpangan jarum penunjuk
sebanding dengan daya yang
dipakai beban :

P = V.I.cos

Pemakaian alat ukur elektrodinamik
adalah sebagai pengukur daya listrik
atau Wattmeter.


Gambar 8.15 : Prinsip
alat ukur besi putar
Gambar 8.16 :
Prinsip elektrodinamik
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-11
Pemasangan Wattmeter
dengan notasi terminal 1,2,3
dan 5. Terminal 1-3 terhubung
ke belitan arus Wattmeter,
terhubung seri dengan beban.
Terminal 2-5 terhubung ke
belitan tegangan Wattmeter.
Terminal 1-2 dikopel untuk
mendapatkan catu tegangan
suply tegangan gambar-8.17.



Pemasangan terminal meter tidak boleh tertukar, karena akibatnya meter tidak
berfungsi. Untuk pengukuran daya besar, dimana arus beban besar dapat
digunakan trafo CT untuk menurunkan arus yang mengalir belitan arus
Wattmeter.
Misalkan daya motor 3 phasa 55 kW
dengan tegangan 400V akan
menarik arus jala-jala 100A.
Kemampuan kWH meter maksimal
dilalui arus hanya 10 A, maka
digunakan trafo arus CT dengan
rating 100/5A agar pengukuran daya
motor dapat dilaksanakan.

Wattmeter portabel pengawatan
dengan beban gambar-8.18. Ada
tiga buah selektor switch, untuk
pengaturan amper, pengaturan
tegangan dan pemilihan skala batas
ukur.

Untuk keamanan tempatkan
selektor amper dan selektor
tegangan pada batas ukur tertinggi.
J ika jarum penunjuk sudut
simpangannya masih kecil baru
selektor switch arus atau tegangan
diturunkan satu tahap.







Gambar 8.17 : Pemasangan wattmeter
Gam
Gambar 8.18 : Pengawatan wattmeter
dengan beban satu phasa
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-12
8.11. Alat Ukur Piringan Putar

Alat ukur piringan putar tidak menggunakan jarum penunjuk. Konstruksi meter
piringan putar memiliki dua inti besi gambar 8.19. Inti besi U dipasang dua
buah belitan arus pada masing-masing kaki inti, menggunakan kawat
berpenampang besar. Inti besi berbentuk E-I dengan satu belitan tegangan,
dipasang pada kaki tengah inti besi, jumlah belitan tegangan lebih banyak
dengan penampang kawat halus.


Gambar 8.19: Prinsip Alat ukur Piringan Putar (kWHmeter)


Piringan putar aluminium ditempatkan
diantara dua inti besi U dan E-I. Akibat
efek elektromagnetis kedua inti besi
tersebut, pada piringan aluminium timbul
arus eddy yang menyebabkan torsi putar
pada piringan.

Piringan aluminium berputar bertumpu
pada poros, kecepatan putaran sebanding
dengan daya dari beban. J umlah putaran
sebanding dengan energi yang dipakai
beban dalam rentang waktu tertentu.
Meter piringan putar disebut kilowatthours
(kWh) meter gambar-8.20.



Gambar 8.20 : kWH meter
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-13
Pengawatan kWhmeter satu phasa belitan arus dihubungkan ke terminal 1-3,
belitan tegangan disambungkan terminal 2-6, Terminal 1-2 dikopel dan terminal
4-6 juga dikopel langsung. Pengawatan kWhmeter tiga phasa dengan empat
kawat gambar-8.21 L1, L2, L3 dan N memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan
tegangan.

1. J ala-jala L1, terminal-1 kebelitan arus-1 terminal-3 ke beban, terminal 1-2
dikopel untuk suply ke belitan tegangan-1.
2. J ala-jala L2, terminal-4 ke belitan arus-2 terminal 6 langsung beban,
terminal 4-5 dikopel suply ke belitan tegangan-2.
3. J ala-jala L3, terminal-7 ke belitan arus-3 ke terminal 9 langsung beban,
terminal 7-8 dikopel untuk suply ke belitan tegangan-3.
4. Terminal 10 dan 12, untuk penyambungan kawat netral N dan
penyambungan dari ketiga belitan tegangan phasa 1,2 dan 3.


Gambar 8.21: Pengawatan
kWH meter satu phasa dan tiga phasa

Bentuk fisik kWhmeter kita lihat disetiap rumah tinggal dengan instalasi dari
PLN. Sebagai pengukur energi listrik kWhmeter mengukur daya pada interval
waktu tertentu dalam konversi waktu jam. Setiap kWhmeter memiliki angka
konstanta jumlah putaran /kWh.
Cz =
P
n

Cz Konstanta jumlah putaran/kWh
n Putaran
P Daya listrik kW.

Contoh: kWhmeter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh
dalam waktu 1 menit tercatat 33 putaran piringan. Hitunglah beban daya listrik
dari ?

Jawaban :
P =
Cz
n
=
kWh
h
/ 1 . 600
/ 1 . 33 . 60
=33 kW


Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-14
8.12. Pengukuran Tegangan DC

Pengukur tegangan Voltmeter memiliki
tahanan meter R
m
gambar-8.22.
Tahanan dalam meter juga
menunjukkan kepekaan meter, disebut
I
fsd
(full scale deflection) arus yang
diperlukan untuk menggerakkan jarum
meter pada skala penuh. Untuk
menaikkan batas ukur Voltmeter harus
dipasang tahanan seri sebesar R
V
.

Persamaan tahanan seri meter R
V
:

m v
m
m
m
v
v
R n R
I
U U
I
U
R
=

= =
) 1 {

R
v
Tahanan seri meter
R
m
Tahanan dalam meter
U Tegangan
U
m
Tegangan meter
I
m
Arus meter
n Faktor perkalian

Contoh : Pengukur tegangan Voltmeter memiliki arus meter 0,6mA, tegangan
meter 0,3V. Voltmeter akan digunakan untuk mengukur tegangan 1,5V. Hitung
besarnya tahanan seri meter Rv.

Jawaban :

m
m
m
v
v
I
U U
I
U
R

= =

=
mA
V V
6 , 0
3 , 0 5 , 1
=2k

8.13. Pengukuran Arus DC

Pengukur arus listrik Ampermeter memiliki
keterbatasan untuk dapat mengukur arus,
tahanan dalam meter R
m
membatasi
kemampuan batas ukur. Menaikkan batas
ukur dilakukan dengan memasang tahanan
paralel R
p
dengan Ampermeter gambar-
8.23. Tahanan R
p
akan dialiri arus sebesar
I
p
, arus yang melalui meter R
m
sebesar I
m
.

Gambar 8.22 :Tahanan
seri R
V
pada Voltmeter
Gambar 8.23 :tahanan
paralel ampermeter
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-15
Untuk menaikkan tahanan dalam meter,
didepan tahanan meter R
m
ditambah kan
tahanan seri R
v
. Sehingga tahanan dalam
meter yang baru (R
m
+ R
v
) gambar-8.24.
Tahanan paralel Rp tetap dialiri arus I
p
,
sedangkan arus yang melewati (R
m
+ R
v
)
sebesar I
m
.

Persamaan tahanan paralel Rp :


m
m
m p
m
p
p
p
I I
I
R R
I I
U
R ;
I
U
R

= =


Rp Tahanan paralel
U Tegangan
I Arus yang diukur
Im Arus melewati meter
Ip Arus melewati tahanan paralel
Rm Tahanan dalam meter

Contoh : Ampermeter dengan tahanan dalam R
m
=100, arus yang diijinkan
melewati meter I
m
=0,6mA. Ampermeter akan mengukur arus I = 6mA. Hitung
tahanan paralel Rp.

Jawaban :
100 mA 0,6 = =
m m
R I U = 60 mA

mA 0,6 mA 6
mV 60

=
m
p
I I
U
R = 11,1

Atau dengan cara yang lain, didapatkan harga R
p
yang sama

m
m
m p
m
m
p
m
m
p
I I
I
R R
I I
I
I
I
R
R

= =

mA 0,6 mA 6
mA 0,6
100

=
p
R = 11,1


Secara praktis untuk mendapatkan batas
ukur yang lebar dibuat menjadi tiga
tingkatan gambar-8.25. Batas ukur skala
pertama, saklar pada posisi 1 dipakai
tahanan paralel R
p1
. Batas ukur dengan
Gambar 8.25 : Batas ukur
Ampermeter
Gambar 8.24 : Tahanan depan
dan paralel ampermeter
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-16
skala2 posisi saklar 2 dipakai tahanan
paralel R
p2
. Batas ukur ketiga, posisi
saklar 3 dipakai tahanan paralel R
p3
.

Dengan metoda berbeda dengan tujuan
memperluas batas ukur, dipakai tiga
tahanan paralel R
p1
, R
p2
dan R
p3
yang
ketiganya disambung seri gambar-8.26.
Saklar posisi 1, tahanan (R
p1
+R
p2
+R
p3
)
paralel dengan rangkaian (R
v
+R
m
).
Saklar posisi 2, tahanan (R
p2
+R
p3
)
paralel dengan rangkaian (R
p1
+R
v
+R
m
).
Saat saklar posisi 3, tahanan Rp3 paralel
dgn rangkaian (R
p1
+ R
p2
+R
v
+R
m
).


8.14. Pengukuran Tahanan

Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengukur
langsung nilai tahanan dan pengukuran tidak langsung dengan metode
jembatan gambar-8.27. Pengukuran tahanan secara langsung bisa
menggunakan multimeter, dengan menempatkan selektor pemilih mode pada
pengukuran tahanan. Resistor yang diukur dihubungkan dengan kedua kabel
meter dan nilai tahanan terbaca pada skala meter. Pengukuran tidak langsung,
menggunakan alat meter tahanan khusus dengan prinsip kerja seperti
jembatan Wheatstone.


Gambar 8.28 : Jenis-jenis Pengukuran Tahanan

Gambar 8.26 :
Penambahan Batas Ukur
meter
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-17
8.15. Jembatan Wheatstone

Pengembangan rangkaian resistor seri dan
paralel menghasilkan prinsip J embatan
Wheatstone gambar-8.29. Sumber
tegangan DC mencatu rangkaian empat
buah resistor. R
1
seri dengan R
2
, dan R
3

seri dengan R
4
. Hukum Kirchoff tegangan
menyatakan jumlah drop tegangan sama
dengan tegangan sumber.


2 1
U U U + = dan
4 3
U U U + =

Titik A-B dipasang Voltmeter mengukur
beda tegangan, jika meter menunjukkan
nol, artinya tegangan U1 = U3 disebut
kondisi seimbang. J ika U1 U3 disebut
kondisi tidak seimbang dan meter
menunjukkan angka tertentu.


4
3
U
U
U
U
, V 0 U
2
1
AB
= =

4
3
R
R
R
R
2
1
=

R1, Rx Tahanan yang dicari
R2, Rn Tahanan variable
R3,R4 Tahanan ditetapkan, konstan


Aplikasi praktis dipakai model gambar-
8.30, R1=Rx merupakan tahanan yang
dicari besarannya. R
2
=R
n
adalah tahanan
yang bisa diatur besarannya. R
3
dan R
4

dari tahanan geser. Dengan mengatur
posisi tahanan geser B, sampai Voltmeter
posisi nol. Kondisi ini disebut setimbang,
maka berlaku rumus kesetimbangan
jembatan Wheatstone

Contoh :
J embatan Wheatstone, diketahui
besarnya nilai R
2
= 40, R
3
= 25, R
4
=
50. Hitung besarnya R
1
dalam kondisi
setimbang.
Gambar 8.29 : Rangkaian
jembatan Wheatstone
Gambar 8.30 : Pengembangan
model Wheatstone
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-18
Jawaban :

V 0 U
AB
=

50
25 40
4
3 2
4
3

=

= =
R
R R
R
R
R
R
R
1
2
1
= 20

8.16. Osiloskop

Osiloskop termasuk alat ukur elektronik, digunakan untuk melihat bentuk
gelombang, menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian
elektronika gambar 8.31. Dengan osiloskop dapat melihat amplitudo tegangan
dan gelombang kotak, oleh karena itu harga rata rata, puncak, RMS( root
mean square), maupun harga puncak kepuncak atau V
p-p
dari tegangan dapat
kita ukur. Selain itu juga hubungan antara frekuensi dan phasa antara dua
gelombang juga dapat dibandingkan. Ada dua jenis osiloskop, yaitu osiloskop
analog dan osiloskop digital.


Gambar 8.31: Bentuk fisik Osiloskop

Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-19
8.17. Data Teknik Osiloskop

- Arah Vertikal:
Menampilkan Kanal-1 (K-1) atau Kanal-2 (K-2), Kanal-1 dan Kanal-2 AC
atau chop Menjumlah atau Mengurangkan nilai Kanal-1 dan
Kanal-2
Tampilan X-Y : Melalui K-1 dan K-2 (K-2 dapat dibalik/ diinvers)
Lebar-Pita : 2 x 0.....40 MHz (-3dB)
Kenaikan waktu : 7 ns, simpangan: <1%
Koefisien : di set 1 mV/cm...20V/cm 3%
Impedansi Input : 1 MO II 20 pF
Kopel Input : DC-AC-GND (Ground)
Tegangan Input maks: 400 V

- Arah Horisontal:
Koefisien waktu: 21 x 0,5 s sampai 100 ns/cm 3% (1-2-5 bagian),
Lebar-pita penguat-X: 02,5 MHz (-3dB)

- Pembeda
Ukuran layar : 8 x 10 cm, raster dalam
Tegangan akselarasi : 2000 V
Kalibrator : generator kotak 1 kHz atau 1 MHz
Output : 0,2 V 1%


8.18. Osiloskop Analog

- Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari Pemancar Elektron (Electron
Beam), Pembelok Vertikal (Penguat-Y), Pembelok Horisontal (penguat-X), Generator
basis waktu (Sweep Generator), Catu Daya, Tabung Hampa (CRT) gambar 8.32.


Gambar 8.32: Blok diagram sistem Osiloskop
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-20
Pemancar Elektron:
Merupakan bagian terpenting sebuah osiloskop. Katode di dalam CRT
(Cathode Ray Tube) akan mengemisikan elektron-elektron ke layar CRT
melalui elektrode-elektrode pemfokus Intensitas pancaran elektron ditentukan
oleh banyaknya elektron yang diemisikan oleh Katode gambar 8.33.

Bahan yang memantulkan cahaya pada layar CRT dapat diperoleh dari Sulfid,
Oksid atau silikat dari Kadmium, yang diaktifkan melalui bahan tambahan dari
Perak, Emas atau Tembaga. Pada umumnya dipilih warna hijau untuk tampilan
cahaya pada layar CRT, karena mata manusia pada umumnya peka terhadap
warna ini.

Gambar 8.33: Pancaran elektron ke layar pendar CRT


Penguat Vertikal:
Penguat ini dapat memberikan tegangan pada plat pengarah-Y hingga 100 V.
Penguat ini harus dapat menguatkan tegangan DC maupun AC dengan
penguatan yang sama. Pengukuran sinyal dapat diatur melalui tombol POS
(position).

Input-Y (Vert. Input):
Bagian ini terhubung dengan
tombol pembagi tegangan,
untuk membagi tegangan yang
akan diukur, dengan
perbandingan 10:1 atau
100:1.gambar 8.34. Tombol ini
harus dibantu dengan sinyal
kotak untuk kompensasi.



Gambar 8.34:
Pembagi tegangan 10:1 pada Probe
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-21
Penguat Horisontal :
Penguat ini memiliki dua input, satu dari sweep generator, menghasilkan trace
(sapuan) horizontal lewat CRT dan input yang lain menguatkan sinyal
eksternal dan ditampilkan pada CRT hanya pada sumbu horizontal.

Skala pada sumbu Horisontal CRT Osiloskop, digunakan untuk mengukur
waktu (periode) dari sinyal yang diukur, misalnya 2 ms/ divisi.

Generator-Waktu

Generator waktu menghasilkan sinyal
gigi gergaji, yang frekuensinya dapat
diatur, dengan cara mengatur
periodenya melalui tombol TIME
BASE. CRT akan menampilkan sinyal
yang diukur (sinyal input) hanya jika
periode sinyal tersebut persis sama
dengan periode sinyal gigi gergaji ini
atau merupakan kelipatan periodenya.

Triggering dan bias waktu

Sinyal gigi gergaji akan mulai muncul
jika ada sinyal trigger gambar 8.35.
Pada saat sinyal input melewati level
Trigger, maka sinyal gigi gergaji mulai
muncul.

Catu Daya:

Kinerja catu daya ini sangat mempengaruhi kinerja bagian lainnya di dalam
osiloskop. Catu daya yang tidak terregulasi dengan baik akan menyebabkan
kesalahan pengukuran dan tampilan yang tidak baik pada CRT (fokus,
kecerahan/ brightness, sensitifitas, dsb).


8.19. Osiloskop Dua Kanal

Seringkali orang perlu melakukan pengukuran dua sinyal AC yang berbeda
dalam waktu yang sama. Misalnya kanal-1 mengukur sinyal input dan kanal-2
mengukur sinyal output secara bersamaan, maka osiloskop dua kanal mampu
menampilkan dua sinyal dalam waktu bersamaan dalam satu layar.

Gambar 8.35: Trigering memunculkan
sinyal gigi gergaji
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-22

Gambar 8.36: Blok diagram Osiloskop dua kanal


Blok diagram osiloskop dua kanal gambar 8.36 mempunyai sebuah sistem
pembangkit sinar (electron gun). Dua sinyal input dapat dimasukkan melalui
kanal-1 dan kanal-2 (masing-masing penguat-Y). Pengaktifan kedua penguat-Y
tsb dipilih secara elektronik, melalui frekuensi yang berbeda untuk tiap kanal.
Kedua sinyal input tsb akan masuk melalui satu elektron-gun secara bergantian
lalu ditampilkan pada CRT.

J ika sinyal input mempunyai frekuensi rendah, maka saklar elektronik akan
mengaturnya pada frekuensi tinggi. Sebaliknya, jika input sinyal mempunyai
frekuensi tinggi, maka saklar elektronik akan mengaturnya pada frekuensi yang
lebih rendah.

Tampilan sapuan ganda (dual-trace) dari electron beam tunggal dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu Chop time sharing dan alternate time sharing.
Pemilihan kanal dilakukan oleh multivibrator yang akan mengoperasikan saklar
elektronik secara otomatis.


8.20. Osiloskop Digital

Blok diagram Osiloskop Digital gambar 8.37 semua sinyal analog akan
digitalisasi. Osiloskop digital, (misalnya Storage Osciloscope) terdiri dari:

- ADC (Analog-to-Digital Converter)
- DAC (Digital-to-Analog Converter)
- Penyimpan Elektronik



Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-23

Gambar 8.37: Blok diagram Osiloskop Digital


Pada osiloskop jenis ini, semua data yang akan ditampilkan disimpan di dalam
RAM. Sinyal analog akan dicuplik (sampling), lalu dikuantisasi oleh ADC, yaitu
diberi nilai (biner) sesuai dengan besarnya amplitudo ter-sampling gambar
8.38. Nilai ini dapat ditampilkan
kembali secara langsung pada
layar CRT atau monitor PC
melalui kabel penghubung RS-
232.

Perbedaan antara osiloskop
analog dan digital hanya pada
pemroses sinyal ADC. Peng-
arah pancaran elektron pada
osiloskop ini sama dengan
pengarah pancaran elektron
pada osiloskop analog. Osilos-
kop digital ada yang dilengkapi
dengan perangkat lunak mate-
matik untuk analisa sinyal atau
printer.









Gambar 8.38:
Sampling sinyal analog oleh ADC
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-24
8.21. Pengukuran dengan Osiloskop

Berikut ini diberikan ilustrasi pengukuran dengan menggunakan osiloskop
meliputi :
1. pengukuran tegangan DC,
2. mengukur tegangan AC, periode dan frekuensi,
3. mengukur arus listrik AC.
4. pengukuran beda phasa tegangan dengan arus listrik AC dan
5. pengukuran sudut penyalaan thyristor.

1. Mengukur Tegangan DC,


Tahanan R1 dan R2 berfungsi
sebagai pembagi tegangan.
Ground osiloskop dihubung kan ke
negatip catu daya DC. Probe kanal-
1 dihubungkan ujung sambungan
R1 dengan R2. Tegangan searah
diukur pada mode DC.

Misalnya:
V
DC
=5V/div. 3div =15 V



Bentuk tegangan DC merupa kan
garis tebal lurus pada layar CRT.
Tegangan terukur diukur dari garis
nol ke garis horizontal DC.

Gambar 8.39 : Mengukur tegangan DC dengan Osiloskop








Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-25
2. Mengukur Tegangan AC, periode T dan frekuensi F


Trafo digunakan untuk meng isolasi
antara listrik yang diukur dengan
listrik pada osiloskop.

J ika menggunakan listrik PLN
maka frekuensinya 50 Hz.

Misalnya:
V
p
=2V/div. 3 div =6 V
V
rms
=6V/2 =4,2 V
T =2ms/div.10 div =20 ms
f =1/T =1/20ms =50 Hz


Tegangan AC berbentuk sinusoida
dengan tinggi U dan lebar
periodenya T. Besarnya tegangan
6 V dan periodenya 20 milidetik
dan frekuensinya 50 Hz.

Gambar 8.40 : Mengukur tegangan AC dengan Osiloskop

3. Mengukur Arus Listrik AC

Pada dasarnya osiloskop
hanya mengukur tegangan.
untuk mengukur arus
dilakukan secara tidak
langsung dengan R = 1
untuk mengukur drop
tegangan.

Misalnya :
Vp =50 mV/div. 3div
=150 mV =0,15 V
Vrms =0,15 V/2 =0,1 V
I =Vrms/R =0,1V / 1O
=0,1 A
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-26

Bentuk sinyal arus yang
melalui resistor R adalah
sinusoida menyerupai
tegangan. Pada beban
resistor sinyal tegangan dan
sinyal arus akan sephasa.

Gambar 8.41 : Mengukur Arus AC dengan Osiloskop


4. Mengukur Beda Phasa Tegangan dengan Arus Listrik AC.


Beda phasa dapat diukur dengan
rangkaian C1 dan R1. Tegangan
U1 menampakkan tegangan catu
dari generator AC. tegangan U2
dibagi dengan nilai resistor R1
representasi dari arus listrik AC.
Pergeseran phasa U1 dengan U2
sebesar x.

Misalnya:
=x .360
0
/ X
T

=2 div.360
0
/ 8div =90
0




Tampilan sinyal sinusoida
tegangan U1 (tegangan catu daya)
dan tegangan U2 (jika dibagi
dengan R1, representasi dari arus
AC).

Pergeseran phasa antara tegangan
dan arus sebesar =90
0



Gambar 8.42 : Mengukur beda phasa dengan Osiloskop

Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-27
5. Mengukur Sudut Penyalaan TRIAC


Triac merupakan komponen
elektronika daya yang dapat
memotong sinyal sinusoida pada
sisi positip dan negatip.

Trafo digunakan untuk isolasi
tegangan Triac dengan tegangan
catu daya osiloskop.

Dengan mengatur sudut penyalaan
triger maka nyala lampu dimmer
dapat diatur dari paling terang
menjadi redup.

Misalnya:

=x .360
0
/ X
T

= (1 div. 360%):7 =5 V

Gambar 8.43 : Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop















Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-28
8.22. Metode Lissajous

Dua sinyal dapat diukur beda phasanya dengan memanfaatkan input vertikal
(kanal Y) dan horizontal (kanal-X). Dengan menggunakan osiloskop dua kanal
dapat ditampilkan beda phasa yang dikenal dengan metode Lissajous.

a. Beda phasa 0
0
atau 360
0
.

Dua sinyal yang berbeda, dalam
hal ini sinyal input dan sinyal
output jika dipadukan akan
menghasil kan konfigurasi bentuk
yang sama sekali berbeda.

Sinyal input dimasukkan ke kanal
Y (vertikal) dan sinyal output
dimasukkan ke kanal X
(horizontal) berbeda 0
0
, dipadu
kan akan menghasilkan sinyal
paduan berupa garis lurus yang
memben tuk sudut 45
0
. gambar
8.44




b. Beda phasa 90
0
atau 270
0
.


Sinyal vertikal berupa sinyal
sinusoida. Sinyal horizontal yang
berbeda phasa 900 atau 2700
dimasukkan. Hasil paduan yang
tampil pada layar CRT adalah
garis bulat. gambar 8.45














T0 T2 T4
T0
T2
T4
T0 T2 T4
T1
T3
Sinyal
Horizontal
Sinyal
Vertikal
Gambar 8.45: Sinyal input
berbeda fasa 90
0
dg output


T0
T0
T2
T2
T4
T0
T1
T3
T2 T4
T4
Sinyal
Horizontal
Sinyal
Vertikal
Gambar 8.44 : Mengukur sudut
penyalaan TRIAC dengan Osiloskop
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-29

Pengukuran X-Y juga dapat digunakan untuk
mengukur frekuensi yang tidak diketahui.
Misalnya sinyal referensi dimasukkan ke input
horizontal dan sinyal lainnya ke input vertikal.










fv =frekuensi yang tidak diketahui
fR =frekuensi referensi
Nv =jumlah lup frekuensi yang tidak diketahui

NR =jumlah lup frekuensi referensi

Contoh Gambar 8.46 (c). Misalnya frekuensi referensi =3 kHz, maka

fV =3. (2/3) kHz =2 kHz


8.23. Rangkuman

- Untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus,
resistansi, daya, faktor kerja, frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik.

- Multimeter untuk mengukur beberapa besaran listrik, misalnya tegangan
AC dan DC, arus listrik DC dan AC, resistansi.

- Alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum, juga
dipakai alat ukur digital yang praktis dan membaca pada layar display.

- Parameter alat ukur listrik meliputi akurasi, presisi, kepekaan, resolusi dan
kesalahan.

- Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan,
yaitu sistem metrik dan sistem CGS.

- Sejak 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit) sebagai kesepakatan
internasional.

- Besaran dan symbol parameter listrik meliputi Arus listrik, I. Gaya gerak
listrik, E; Tegangan, V; Resistansi, R; Muatan listrik, Q; Kapasitansi, C;
Kuat medan listrik, E; Kerapatan fluk listrik, D; Permittivity, ; Kuat medan
(a) (b)
(c)
Gambar 8.46: Lissajous untuk
menentukan frekuensi
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-30
magnet, H; Fluk magnet, ; Kerapatan medan magnet,B; Induktansi, L,
M; Permeability, .

- Ada enam besaran kelistrikan yang dibuat standart,yaitu standar amper,
resistansi, tegangan, kapasitansi, induktansi, kemagnetan dan temperatur.

- Sistem analog berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal
analog berbentuk fungsi kontinyu.

- Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital.

- Bagian listrik alat ukur analog yang penting adalah, magnet permanen,
tahanan meter dan kumparan putar.

- Bagian mekanik alat ukur analog meliputi jarum penunjuk, skala dan
sekrup pengatur jarum penunjuk.

- Blok diagram alat ukur digital terdiri komponen sensor, penguat sinyal
analog, Analog to Digital converter, mikroprosesor, alat cetak dan display
digital.

- Tampilan display digital jenisnya 7-segmen, 14-segmen dan dot matrik 5x7

- Alat ukur kumparan putar terdiri dari permanen magnet, kumparan putar
dengan inti besi bulat, jarum penunjuk terikat dengan poros dan inti besi
putar, skala linear, dan pegas spiral rambut, serta pengatur posisi nol.
Dipakai untuk Voltmeter, Ampermeter. Multimeter.

- Torsi yang dihasilkan alat ukur kumparan putar T =B x A x I x N

- Untuk pengukuran listrik AC alat ukur kumparan putar dipasang diode.

- Alat ukur besi putar terdiri belitan, komponen diam, komponen putar, jarum
penunjuk dan skala pengukuran. Pengukur Voltmeter, Ampermeter.

- Alat ukur elektrodinamis, memiliki dua belitan kawat, yaitu belitan arus dan
belitan tegangan berupa kumparan putar, pengukur Wattmeter.

- Alat ukur piringan putar, memiliki belitan arus dan belitan tegangan
terpasang dalam satu inti besi, dipakai pada KWhmeter.

- KWhmeter satu phasa memiliki satu belitan arus dan satu belitan tegangan,
KWhmeter 3 phasa memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan tegangan.

- Untuk menaikkan batas ukur tegangan dipasangkan tahanan seri dengan
meter.

- Untuk menaikkan batas ukur arus dipasangkan tahanan yang dipasangkan
parallel dengan alat ukur.

- Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengukur
langsung nilai tahanan dan pengukuran tidak langsung dengan metode
jembatan.

- J embatan Wheatstone bekerja berdasarkan prinsip keseimbangan.
Alat Ukur dan Pengukuran Listrik

8-31
- Osiloskop termasuk alat ukur elektronik, digunakan untuk melihat bentuk
gelombang, menganalisis gelombang.

- Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari Pemancar Elektron (Electron
Beam), Pembelok Vertikal (Penguat-Y), Pembelok Horisontal (penguat-X),
Generator basis waktu (Sweep Generator), Catu Daya, Tabung Hampa (CRT).

- Dengan menggunakan osiloskop dua kanal dapat ditampilkan beda phasa
yang dikenal dengan metode Lissajous




8.24. Soal-soal

1. Data alat ukur kumparan putar dengan dimensi 31/2 in, arus 1mA,
simpangan skala penuh 100 derajat memiliki A : 1,70 cm
2
, B : 1.800
G(0,2Wb/m
2
, N: 80 lilit, Hitunglah torsi putar pada jarum penunjuk.

2. KWhmeter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh
dalam waktu 2 menit tercatat 80 putaran piringan. Hitunglah beban daya
listrik ?

3. Gambarkan skematik pengawatan pengukuran Kwh meter 3 phasa
dengan menggunakan tiga buah trafo arus (CT) 200A/5A. J elaskan cara
kerja pengukuran tsb.

4. Pengukur tegangan Voltmeter memiliki arus meter 0,5mA, tegangan
meter 0,25V. Voltmeter akan digunakan untuk mengukur tegangan 2,5V.
Hitung besarnya tahanan seri meter Rv.

5. Ampermeter dengan tahanan dalam R
m
=200, arus yang diijinkan
melewati meter I
m
=0,5mA. Ampermeter akan mengukur arus I = 10mA.
Hitung tahanan paralel Rp.

6. J embatan Wheatstone, diketahui besarnya nilai R
2
= 400, R
3
= 250,
R
4
= 500. Hitung besarnya R
1
dalam kondisi setimbang.

7. Gambarkan skematik pengukuran tegangan AC dengan menggunakan
osiloskop, jelaskan urutan cara pengoperasiannya.







BAB 9
ELEKTRONIKA DASAR


Daftar Isi :
9.1 Bahan Semikonduktor ............................................... 9-1
9.2 Struktur Atom Semikonduktor .................................... 9-2
9.3 Semikonduktor Tipe N ............................................... 9-3
9.4 Semikonduktor Tipe P ............................................... 9-4
9.5 Sambungan PN ......................................................... 9-4
9.6 Diode ......................................................................... 9-5
9.7 Diode Zener ............................................................... 9-6
9.8 Transistor Bipolar ...................................................... 9-8
9.9 Transistor dalam Praktek ........................................... 9-10
9.10 Garis Beban Transistor .............................................. 9-11
9.11 Rangkuman ............................................................... 9-20
9.12 Soal-soal ................................................................... 9-21
























Elektronika Dasar
9-2

9.1. Bahan Semikonduktor

Dalam pengetahuan bahan teknik listrik dikenal tiga jenis material, yaitu bahan
konduktor, bahan semikonduktor dan bahan isolator. Bahan konduktor memiliki
sifat menghantar listrik yang tinggi, bahan
konduktor dipakai untuk kabel atau kawat
penghantar listrik, seperti tembaga,
aluminium, besi, baja, dsb. Bahan
semikonduktor memiliki sifat bisa menjadi
penghantar atau bisa juga memiliki sifat
menghambat arus listrik tergantung kondisi
tegangan eksternal yang diberikan, bahan
semikonduktor merupakan komponen pem-
buatan Transistor, Diode, thyristor, triac,
GTO gambar-9.1.

Beberapa bahan semikonduktor adalah
silikon (Si), germanium (Ge), galium arsenik
(GeAs), indium antimonid (InSb), cadmium
sulfid (CdS) dan siliciumcarbid (SiC), dsb.

Bahan isolator memiliki sifat menghambat
listrik yang baik, dipakai sebagai isolator
dalam peralatan listrik, contohnya keramik,
porselin, PVC, kertas, dsb. Komponen
elektronika yang banyak dipakai dalam teknik
listrik industri adalah thyristor gambar-9.2.


9.2. Struktur Atom Semikonduktor

Atom menurut Bohr dimodelkan sebagai inti yang dikelilingi oleh elektron
elektron yang mengorbit. Inti atom memiliki muatan positif, sedangkan elektron
bermuatan negatif. Inti atom cenderung menarik elektron yang berputar dalam
orbitnya. Makin besar daya tarik dari inti, kecepatan orbit elektron akan meningkat.

Orbit atom silikon dan germanium diperlihatkan dalam gambar. Atom silikon
memiliki 14 proton dalam intinya, orbit elektron yang mengisi tiga pita orbitnya
gambar-9.3. Orbit terdalam diisi oleh dua elektron, orbit kedua dari dalam diisi
oleh 8 elektron dan orbit terluar diisi oleh empat elektron, kita sebut silikon
memiliki konfigurasi 2 8 - 4. Empat belas elektron yang mengorbit pada inti
silikon berputar menetralkan muatan dari inti atom dari luar (secara listrik) adalah
netral.





Gambar 9.2: Thyristor
Gambar 9.1: Transistor
Elektronika Dasar

9-3


















Gambar 9.3 Orbit atom

Atom germanium intinya memiliki 32 proton, memiliki empat pita orbit. Pita orbit
pertama paling dalam mengorbit 2 elektron, pita orbit kedua diisi oleh 8 elektron,
pita orbit ketiga mengorbit 18 elektron dan pita orbit keempat atau terluar diisi
oleh 4 elektron. Germanium memiliki konfigurasi elektron 2 8 18 - 4.


9.3. Semikonduktor Tipe N

Sudah dijelaskan atom silikon dengan
14 proton, memiliki konfigurasi 2-8-4.
Untuk menjadikan atom silikon menjadi
tipe N harus di doping, yaitu
menambahkan suatu atom yang memiliki
lima atom valensi (pentavalent), diantara
empat atom silikon tetangganya.

Dengan penambahan atom pentavalent
konfigurasi menjadi berubah, karena
empat atom akan saling berpasangan
dan satu atom sisa yang tidak memiliki
pasangan atau kelebihan satu elektron.
Kondisi ini kita sebut atom silikon yang
sudah didoping menjadi silikon
semikonduktor tipe N yang berarti
negatif. Atom pentavalent disebut sebagai
atom donor, yaitu arsen, antimon, dan
posfor gambar-9.4.
Gambar 9.4:
Semikonduktor Tipe N
Elektronika Dasar
9-4
9.4. Semikonduktor Tipe P

Untuk mendapatkan semikonduktor tipe P
artinya kita membuat atom silikon memiliki
hole, dengan cara memberikan doping
atom yang memiliki tiga elektron (trivalent),
pada empat atom tetangganya. Karena
atom trivalent memiliki tiga elektron,
sehingga dari empat pasangan yang ada
hanya tujuh elektron yang berjalan dalam
orbit valensinya.


Dengan kata lain sebuah hole akan muncul
dalam setiap atom trivalent . Atom silikon
yang didoping dengan atom trivalent akan
menghasilkan hole, dan inilah yang kita
sebut dengan semikonduktor tipe P atau
positif. Atom trivalent disebut sebagai atom
akseptor, yaitu aluminium, boron dan
gallium gambar-9.5.



9.5. Juntion PN

Semikonduktor tipe-P yang disambungkan dengan semikonduktor tipe-N,
selanjutnya daerah dimana tipe-P bertemu tipe-N disebut Juntion PN gambar-
9.6. Telah dijelaskan bahwa semikonduktor tipe-P memiliki kelebihan elektron,
sementara semikonduktor tipe-N memiliki hole. Elektron dari tipe-N cenderung
untuk menyebar dan memasuki hole yang ada di tipe-P, maka hole akan lenyap
dan elektron pita konduksi menjadi elektron pita valensi.


Gambar 9.6 : Sambungan PN

Gambar 9.5:
Semikonduktor Tipe P
Elektronika Dasar

9-5
Tanda positif berlingkaran dinamakan ion positif, dan tanda berlingkaran negatif
disebut ion negatif.

Tiap pasang ion positif dengan ion negatif disebut dipole, daerah di sekitar juntion
PN akan dikosongkan dari muatan-muatan yang bergerak. Kita sebut daerah
yang kosong muatan ini dengan lapisan pengosongan (depletion layer). Dari
prinsip juntion PN ini selanjutnya menjadi dasar bagi pembuatan komponen
semikonduktor seperti, Diode, Transistor, thyristor, GTO dsb.


9.6. Diode

Diode banyak dipakai sebagai penyearah dari listrik AC menjadi DC dan banyak
aplikasi dalam teknik listrik dan elektronika. Diode memiliki dua kaki, yaitu Anoda
dan Katoda gambar-9.7. Untuk mengetahui cara kerja Diode sebagai penyearah
kita lihat dua rangkaian Diode yang dihubungkan dengan sumber tegangan DC.



Gambar 9.7 : Simbol dan fisik Diode



Rangkaian Diode dengan sumber
tegangan DC Gambar-9.8
memperlihatkan tegangan DC positif
terhubung dengan kaki Anoda, pada
kondisi ini Diode mengalirkan arus DC
dapat dilihat dari penunjukan
ampermeter dengan arus I
f
, untuk
tegangan disebut tegangan maju U
f
(forward). Diode silikon akan mulai
forward ketika telah dicapai tegangan
cut-in sebesar 0,7 Volt, untuk Diode
germanium tegangan cut-in 0,3 Volt.



Gambar 9.8 :
Diode Panjar Maju
Elektronika Dasar
9-6


Rangkaian Diode gambar-9.9 menun-
jukkan tegangan DC positif disam-
bungkan dengan kaki Katoda, tampak
tidak ada arus yang mengalir atau
Diode dalam posisi memblok arus,
kondisi ini disebut posisi mundur
(reverse). Karakteristik sebuah Diode
digambarkan oleh sumbu horizontal
untuk tegangan (Volt). Sumbu vertikal
untuk menunjukkan arus (mA sampai
Amper). Tegangan positif (forward)
dihitung dari sumbu nol ke arah kanan.
Tegangan negatif (reverse) dimulai
sumbu negatif ke arah kiri.

Garis arus maju (forward) dimulai dari sumbu nol keatas dengan satuan Amper.
Garis arus mundur (reverse) dimulai sumbu nol ke arah bawah dengan orde mA.
Diode memiliki batas menahan tegangan reverse pada nilai tertentu. Jika
tegangan reverse terlampaui maka Diode akan rusak secara permanen gambar
9.10.


Gambar 9.10 : Karakteristik Diode


9.7. Diode Zener

Diode zener banyak dipakai untuk penstabil tegangan atau penstabil arus. Diode
zener justru harus bekerja pada daerah reverse, karena tujuannya untuk
menstabilkan tegangan dan arus yang diinginkan gambar-9.11.

Gambar 9.9 :
Diode Panjar Mundur
Elektronika Dasar

9-7


Gambar 9.11 : Aplikasi Diode Zener sebagai penstabil tegangan


Diode zener dipakai sebagai penstabil tegangan dalam beberapa konfigurasi.
Misalkan tegangan input U
1
= 9 Volt, tegangan output Zener U
2
= 5,6 Volt, maka
tegangan yang harus di kompensasi oleh resistor sebesar 9 V 5,6 V = 3,4 Volt.

Jika arus yang mengalir sebesar 100
mA. Besarnya resistor adalah 340 Ohm.
Gambar-2 adalah Diode zener sebagai
penstabil arus. Gambar-3 Diode zener
dirangkaian dengan Transistor sebagai
penstabil tegangan. Gambar-4 Diode
zener dengan Transistor sebagai
penstabil arus.

Diode Zener tipe BZX C5V6 memiliki
kemampuan disipasi daya P total = 400
mW. Tegangan input 12 Volt, arus yang
mengalir dari 0 mA sampai 20 mA.
Hitunglah besarnya nilai Resistor yang
dipasang.





Gambar 9.12 :
Karakteristik Diode Zener
Elektronika Dasar
9-8
9.8. Transistor Bipolar

Komponen yang penting dalam elektronika adalah Transistor. Berbeda dengan
Diode, Transistor memiliki tiga kaki, yaitu emitor, basis dan colektor. Jenis
Transistor sendiri sangat banyak, dikenal bipolar Transistor dengan tipe NPN dan
PNP, unipolar Transistor dikenal dengan IGBT, uni juntion Transistor dan Field
Effect Transistor. Gambar-9.13 memperlihatkan Transistor dalam bentuk fisik
dan Transistor dalam bentuk potongan secara proses.


Gambar 9.13 : Transistor Bipolar
Transistor NPN seperti gambar-9.14
memiliki tiga kaki, yaitu basis yang
mengalirkan arus basis I
B
, kolektor dan
emiter mengalir arus kolektor I
C
dan di
emiter sendiri mengalir arus emiter I
E
.
Perhatikan antara emiter dan basis
mendapat tegangan DC dan terdapat
tegangan basis emitor U
BE
. Kolektor
dan emiter mendapat tegangan DC
terukur U
CE
.

Persamaan umum sbb:

Ib
Ic
B =
dan I
E
= I
B
+ I
C

Sebuah Transistor BD135, dipasangkan
R
1
= 47 pada basis. dan R
2
= 6,8
pada kolektor gambar-9.15. Tegangan
basis G1 = 1,5 V dan tegangan kolektor-
emitor G2 = 12 V. dengan mengatur
tegangan G1 maka arus basis I
B
bisa
diubah-ubah. Tegangan G2 diubah-ubah
sehingga arus kolektor I
C
dapat diatur
besarannya.

Gambar 9.14 : Rangkaian
Dasar Transistor
Gambar 9.15 : Tegangan Bias
Transistor NPN
Elektronika Dasar

9-9
Hasil dari pengamatan ini berupa
karakteristik Transistor BD 135 yang
diperlihatkan pada gambar-9.16. Ada
sepuluh perubahan arus basis I
B
,
yaitu dimulai dari I
B
= 0,2 mA, 0,5
mA, 1,0 mA, 1,5 mA sampai 4,0 mA
dan terakhir 4,5 mA. Tampak
perubahan arus kolektor I
C
terkecil 50
mA, 100 mA, 150 mA sampai 370 mA
dan terbesar 400 mA.

Setiap Transistor bipolar memiliki
karakteristik berbeda-beda tergan-
tung pada berbagai parameter
penting, yaitu daya output, disipasi
daya, temperatur, tegangan kolektor,
arus basis dan faktor penguatan
Transistor.





Gambar 9.17 : Fisik Transistor

Bentuk Transistor bipolar berbeda beda secara fisik, juga cara menentukan letak
kaki basis, emiter dan kolektor dapat diketahui dari data sheet Transistor. Tabel-1
memperlihatkan berbagai jenis Transistor dari tipe TO 03, TO 220, TO 126, TO
50, TO 18 sampai TO 92, Gambar-9.17.





Gambar 9.16 : Karakteristik
Transistor
Elektronika Dasar
9-10
9.9. Transistor dalam Praktek

Transistor banyak digunakan dalam
rangkaian elektronika untuk berbagai
kebutuhan, misalnya rangkaian flip flop,
rangkaian pengatur nyala lampu, pengatur
kecepatan motor, pengatur tegangan
power supply, dsb.

Gambar-9.18 memperlihatkan rangkaian
Transistor dalam praktek terdiri dari
beberapa resistor R1, R2, RC, Resistor R1
dan RC mempengaruhi besarnya arus
basis I
B
dan arus kolektor I
C
. Tegangan
basis-emitor U
BE
=0,7 Volt merupakan
tegangan cut-in dimana Transistor
berfungsi sebagai penguat.

Dari kondisi ini dapat disimpulkan bahwa
Transistor bekerja harus mencakup empat parameter, yaitu U
BE,
U
CE,
I
B,
dan

I
C.
Kita ambil contoh tiga buah Transistor dari tipe yang berbeda, yaitu 2N3055, BC
107 dan BD 237. Gunakan datasheet Transistor untuk mendapatkan data
parameter dan hasilnya kita lihat di tabel-1 yang mencantumkan parameter
U
CEmax (Volt),
I
Cmax (Amp),
P
tot (Watt),

Tabel-9.1. Batasan Nilai Transistor

2N3055 BC 107 BD 237
UCE mak (V) 60 45 80
IC mak (A) 15 0,1 2
Ptot (W) 115 0,3 25
Model TO 3 TO 18 TO 126

Tabel 9.2. Aplikasi Transistor


Gambar 9.18 : Transistor
dengan Tahanan Bias
Elektronika Dasar

9-11
9.10. Garis Beban Transistor
Untuk membuat garis beban
Transistor harus diketahui dulu
karakteristik output Transistor
Ic=f(U
CE
) gambar-9.19. Setelah
garis beban Transistor maka akan
ditentukan titik kerja Transistor, dari
titik kerja akan diketahui sebuah
Transistor bekerja dalam kelas A,
kelas AB, kelas B atau kelas C.
Untuk membuat garis beban, kita
tentukan dua titik ekstrim, yaitu titik
potong dengan sumbu I
C
(I
Cmaks
) dan
titik potong dengan sumbu V
CE

(V
CEmaks)
dari persamaan loop output.

Persamaan loop output :

V
CC
I
C
R
C
V
CE
= 0

Jika titik kerja berada persis di tengah-tengah garis beban, maka Transistor
bekerja pada kelas A, dimana sinyal input akan diperkuat secara utuh di output
Transistor tanpa cacat, klas A dipakai sebagai penguat audio yang sempurna.
Titik kerja mendekati titik ekstrem UCE disebut kelas AB, dimana hanya separuh
dari sinyal sinusoida yang dilalukan ke output Transistor. Klas AB dan klas B
dipakai pada penguat akhir jenis push-pull. Klas C terjadi jika pada penguat
tersebut diberikan umpan balik positif sehingga terjadi penguatan tak terkendali
besarnya, penguat klas C dipakai sebagai osilator.

Transistor sebagai komponen aktif, untuk bisa bekerja dan berfungsi harus
diberikan bias. Tegangan bias Transistor dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
tegangan bias sendiri melalui tahanan R
V
dan tegangan bias dengan pembagi
tegangan (R2 paralel R1) gambar-9.20.
Gambar 9.20 : Tegangan bias Transistor

Gambar 9.19 : Karakteristik
Output Transistor
Elektronika Dasar
9-12
Persamaan menentukan tahanan bias sendiri:
R
V
=
B
BE b
I
U U


Persamaan menentukan tahanan bias tahanan pembagi tegangan
R
1
=
B q
BE b
I I
U U
+

R
2
=
q
BE
I
U
Q =
B
q
I
I


R
V
Tahanan bias sendiri
R1, R2 Tahanan pembagi tegangan
q Arus pada titik kerja
I
B
Arus basis
I
q
Arus kolektor titik kerja
U
b
Tegangan sumber
U
BE
Tegangan basis-emitor

Contoh : Transistor BC 107, diberikan tegangan sumber U
B
= 16 V. Memerlukan
tegangan bias U
BE
= 0,62 V dengan arus basis I
B
= 0,2 mA. Hitunglah a) Nilai
tahanan bias sendiri R
V
dan b) Nilai tahanan pembagi tegangan R1 dan R2.
Jawaban :
a) R
V
=
B
BE b
I
U U
=
mA
V V
2 , 0
62 , 0 16
= 76,9 k
b) Q =
B
q
I
I
==> I
q
= q. I
B
= 3 . 0,2mA = 0,6 mA.
R
1
=
q
BE
I
U
=
mA
V
6 , 0
62 , 0
= 1.03 k
R
2
=
B q
BE b
I I
U U
+

=
mA mA
V V
2 , 0 6 , 0
62 , 0 16
+

= 19.23 k
9.10.1. Kestabilan Titik Kerja
Grafik karakteristik input I
C
= f(U
BE
)
Transistor berbahan silikon, diperlukan
tegangan cut-in U
BE
= 0,6V agar Transistor
tersebut beroperasi, pada temperatur ruang
25
0
C, arus I
C
= 1 mA gambar-9.21. Ketika
I
C
=10mA dengan garis kerja temperatur
100
0
C tegangan U
BE
tetap 0,6V. Hal ini
memberikan pengertian ketika temperatur
meningkat dari 25
0
C menuju 100
0
C arus I
C

meningkat dari 1mA menjadi 10mA,
Gambar 9.21 : Karakteristik
Input Transistor
Elektronika Dasar

9-13
tegangan U
BE
tetap.
Rangkaian Transistor dengan tahanan
R1 dan R
0
untuk menentukan arus
basis I
B
. Tahanan kolektor R
C

membatasi arus kolektor I
C
. Emitor
Transistor langsung ke ground
gambar-9.22. Ketika temperatur
meningkat, R
0
berubah dan arus basis
I
B
meningkat, memicu arus kolektor I
C
membesar, akibatnya tegangan
kolektor U
RC
meningkat. Sebaliknya
ketika tahanan R
0
berubah mengecil,
tegangan basis emitor U
BE
juga
menurun, yang mengakibatkan arus
basis I
B
menurun dan akibatnya arus
kolektor I
C
akan menurun dengan
sendirinya.
Rangkaian kini menggunakan empat
resistor bernilai konstan R1 dan R2
untuk mengatur arus basis I
B
.
Tahanan kolektor R
C
, dan tahanan
emitor R
E
gambar-9.23. Ketika
temperatur meningkat, arus basis I
B

naik dan memicu kenaikan arus
kolektor I
C
. Akibatnya tegangan
kolektor U
BE
naik. Ketika tahanan R2
konstan, tegangan basis emitor U
BE

menurun, berakibat arus basis I
B

menurun, dan memicu arus kolektor I
C

akan menurun.
Persamaan untuk menentukan besaran komponen :

R
E
=
C
RE
I
U
R
C
=
C
RC
I
U

U
R2
= U
BE
+ U
RE

R
2
=
q
RE BE
I
U U +
R
1
=
B q
RE BE b
I I
U U U
+


R
E
Tahanan emitor
R
C
Tahanan kolektor
R
1,
R
2
Tahanan tegangan basis
I
E
Arus emitor
Gambar 9.22 : Rangkaian Bias
Pembagi Tegangan Tanpa RC
Gambar 9.23 : Rangkaian Bias
Pembagi Tegangan Dengan RC
Elektronika Dasar
9-14
I
C
Arus kolektor
I
B
Arus basis
U
BC
Tegangan basis-kolektor
U
BE
Tegangan basis-emitor
U
R2
Tegangan R2
U
BE
Tegangan basis-emitor
Contoh : Dengan rangkaian gambar 9-23, ditentukan tegangan sumber U
B
= 12
V, tahanan kolektor R
C
= 1k, titik kerja q = 5, tahanan emitor R
E
= 100 , faktor
penguatan Transistor () B = 80,tegangan U
BE
= 0,7 V dan tegangan kerja pada
U
RC
= 6V. Hitung besarnya arus kolektor I
C
, arus basis I
B
, tahanan R1 dan R2.

Jawaban :

I
C
=
C
RC
R
U
=
O k
V
1
6
= 6 mA
I
B
=
B
I
C
=
80
6mA
= 75 A
I
q
= q . I
B
= 5 . 75 A = 375 A

U
RE
= R
E
. I
E
= 6 mA . 100 = 0,6 V
R
2
=
q
RE BE
I
U U +
=
A
V V
375
6 , 0 7 , 0 +
= 3,5 k
R
1
=
B q
RE BE b
I I
U U U
+

=
A A
V V V
75 375
6 , 0 7 , 0 12
+

= 23,8 k


9.10.2. Flip Flop
Rangkaian bistable multivibrator
menghasilkan keluaran Q = 0
dan Q = 1. Dua buah Transistor
BC 237 dan enam buah resistor
membentuk rangkaian multivib-
rator gambar-9.24. Setiap S
(set) diberi sinyal = 1 maka
pada kaki Q akan menghasilkan
output 1, untuk mematikan Q,
sinyal R (reset) di beri sinyal = 1.
Harga Q selalu kebalikan dari
nilai output Q, jika Q = 1 maka
Q=0, sebaliknya ketika Q=0,
maka Q = 1.

Gambar 9.24 : Rangkaian Bistable
Multivibrator
Elektronika Dasar

9-15

Tabel sinyal bistable multivi-brator
gambar-9.25 memper-lihatkan empat
jenis sinyal, yaitu sinyal input S (Set) dan
R (reset) dan sinyal output Q dan Q.
Ketika S (set) = 1 maka output Q = 1
sedangkan Q = 0, ketika sinyal R(reset)
= 1, sinyal Q = 0 dan sinyal Q = 1. Ketika
S dan R = 1, kedua sinyal output Q dan
Q = 0.



Rangkaian Schmitt-trigger dengan dua
Transistor BC 237 dan tujuh resistor
memiliki input dititk E, dan output dititik Q
gambar-9.26. Gelombang ber-bentuk
gergaji di masukkan sebagai tegangan
input U1, oleh kedua Transistor BC 237
akan diperkuat sinyal input menjadi sinyal
output berbentuk kotak ON dan OFF
sesuai dengan bentuk sinyal inputnya.

Grafik tegangan U2 = f(U1) dari schmitt
trigger berbentuk kotak yang lebarnya
sebesar U1 akan menghasilkan tegangan
output U2. Rangkaian Schmitt-trigger
dapat digunakan dalam teknik pengaturan
untuk mengatur kapan ON dan kapan OFF
dengan mengatur sinyal inputnya.



9.10.3. Penguat Amplifier
Amplifier adalah perangkat yang memperkuat sinyal input yang ditangkap oleh
mikropon, tegangan input U
1
dan arus I
1
diperkuat oleh penguat amplifier dan
hasil keluarannya berupa tegangan output U
2
dan arus output I
2
yang di
reproduksi lagi sesuai aslinya oleh speaker gambar-9.27.

Penguat amplifier memiliki faktor penguatan, meliputi penguat tegangan, penguat
arus dan penguat daya. Transistor memiliki kemampuan untuk menjadi penguat
amplifier dengan melihat pada karakteristik output. Karakteristik output Transistor
BC107 memperlihatkan empat kuadrat gambar-9.28. Pada kuadran 1 terdapat
impedansi output arus AC r
CE
. Pada kuadrant II terdapat faktor penguatan arus .
Kuadran III, terdapat impedansi input arus AC r
BE
.
Gambar 9.25 : Diagram Waktu
Bistable Multivibrator
Gambar 9.26 : Rangkaian dan
Diagram Waktu Schmitt Trigger
Elektronika Dasar
9-16

Perubahan arus basis IB berpengaruh pada perubahan arus kolektor. Titik A
merupakan titik kerja linier untuk menentukan besarnya ratio perubahan.



Gambar 9.27 : Prinsip Kerja Penguat



Gambar 9.28 : Karakteristik Transistor Empat Kuadran
V
U
=
BE
CE
U
U
U
U
A
A
=
~
~
1
2
V
i
=
B
C
I
I
I
I
A
A
=
~
~
1
2
V
P
= Vi Vu
P
P
.
~
~
1
2
=
V
U
, V
i
, V
P
Faktor penguatan
U
1~
, U
2~
Tegangan input, dan tegangan output
I
1~
, I
2~
Arus input, dan arus output
P
1~
, P
2~
Daya input, dan daya output
Sebuah penguat Transistor BC107 akan diperiksa dengan osiloskop pada empat
titik pengamatan. Titik pertama pada titik input dengan mengukur tegangan U1,
titik kedua mengukur input pada tegangan basis-emitor U
BE
, titik ketiga mengukur
tegangan kolektor-emitor U
CE
dan titik keempat mengukur tegangan output U2.
Elektronika Dasar

9-17
Gambar 9.29 : Sinyal Pada Titik-titik Pengukuran
Untuk membaca rangkaian fisik dengan karakteristik output Transistor BC107
gambar-9.29, dilihat dari sisi input kemudian menuju ke sisi output.

Tegangan supply kerangkaian 12 Volt, tahanan (R1+R2) dan R3 menentukan
besarnya tegangan basis U
BE
baru bekerja pada tegangan cut-in 0,7V. Generator
fungsi memberikan sinyal input sinusoida, frekuensi 1 kHz tegangan input 50mV
AC (dibaca osiloskop-1).

Pada osiloskop 2 terbaca tegangan input AC 50mV ditambah tegangan U
BE
=
0,7V. Perubahan arus basis I
B
akan menghasilkan juga perubahan arus
kolektor I
C
, dari garis kerja A1, A dan A2 dapat dicerminkan perubahan
tegangan kolektor-emitor U
CE
terbaca di osiloskop 3 berbeda phasa 180
0
.

Pada titik keempat osiloskop-4 terbaca
tegangan output U2 adalah perubahan
tegangan output U
CE
.
Karakteristik output yang terlihat memiliki
garis beban yang ditarik dari garis tegak
20mA dan garis horizontal 12V gambar
9.30. Garis memiliki tiga titik beban yang
berpusat di A dan sisi atas A1 dan sisi
bawah A2. Garis beban ini menjelaskan
bahwa penguat jenis ini adalah disebut
penguat klas A. Penguat klas A digunakan
untuk menguatkan sinyal input pada
penguat awal.

Jika dari garis beban, titik kerja A bergeser
ke bawah mendekati sumbu horizontal U
CE
,
maka dikatakan sebagai penguat dengan
klas AB atau klas B gambar-9.31. Dari titik
kerja AB ditarik garis ke bawah memotong
garis horizontal U
CE
, maka bentuk
gelombangnya hanya separuh dari sinyal
Gambar 9.30 : Penguatan
Sinyal
Elektronika Dasar
9-18
input sinusoida yang masuk. Untuk
mendapatkan secara utuh penguatan
sinyal input sinusoida diperlukan dua
penguatan kelas AB secara push-pull.
Transistor penguat klas AB sering
disebut sebagai penguat push-pull
terdiri dari dua Transistor daya dengan
tipe yang sama gambar-9.32. Misalnya
Transistor NPN tipe 2N3055. Transistor
Q1 dan Q2 bekerja bergantian dan
berbeda 180
0
dan mendapat tegangan
sumber DC dari G. Ketika sinyal input
berupa gelombang sinusoida dari
generator sinyal, masuk ke basis Q1
dan Q2.

Saat pulsa input positif akan menyebab
kan Q1 konduksi dan sinyal diperkuat.
Sinyal input negatif berikutnya akan
menyebabkan Q2 konduksi dan
memperkuat sinyal. Kedua sinyal
output yang dihasilkan Q1 dan Q2
menyatu dan hasilnya di reproduksi
oleh speaker P1. Penguat push-pull
banyak digunakan sebagai penguat
akhir amplifier.
Gambar 9.32 : Rangkaian
Push-Pull
Gambar 9.31 : Titik Kerja
Penguat Klas AB
Elektronika Dasar

9-19
9.10.4. Sirip Pendingin
Transistor merupakan komponen elektronika
dari bahan semikonduktor, yang akan menjadi
aktif kalau diberikan tegangan sumber.
Transistor juga memiliki tahanan dalam yang
berubah-ubah. Perubahan arus basis I
B
akan
mempengaruhi arus kolektor I
C
. Pada
Transistor saat bekerja akan muncul rugi daya
yang besarnya sebanding dengan kuadrat arus
kali tahanan, rugi daya Transistor akan diubah
menjadi panas yang akan dilepaskan ke udara
sekelilingnya.

Untuk memudahkan pelepasan energi panas
maka diperlukan sirip pendingin yang
dipasang dengan casis Transistor. Sirip
pendingin dirancang dengan bentuk lingkaran
atau menyerupai tanduk, tujuannya untuk
mendapatkan luas permukaan yang maksimal
gambar-9.39.
Persamaan menghitung tahanan thermis R
thK
:

R
thK
=
v
u j
P
0 0
s - R
thG
R
thU


Gam
Pend
Gambar 9.33 : Casis
Transistor Dengan Isolator
Gambar 9.35 : Pemindahan Panas
Pada Pendingin Transistor
Gambar 9.34 : Bentuk Pendingin
Transistor
Elektronika Dasar
9-20
R
thK
Tahanan thermis
R
thG
Tahanan dalam thermis semikonduktor
R
thU
Tahanan thermis antara casis dan pendingin
0
j
Temperatur tahanan
0
u
Temperatur ruang
P
v
Rugi-rugi daya

Contoh : Transistor dirancang untuk dapat bekerja dengan suhu 0
j
= 150C,
memiliki tahanan dalam thermis sebesar R
thG
= 1,5 K/W dan tahanan thermis
casis dan pendingin R
thU
= 0,2 K/W dan besarnya kerugian daya output P
v
= 30 W.
Hitunglah tahanan thermis R
thK
, ketika bekerja pada 0
u
= 45 C

Jawaban :
R
thK

v
u j
P
0 0
s - R
thG
R
thU
R
thK

W
C C
300
45 150
0 0

s - 1,5 K/W 0,2 K/W



= 3,5 K/W 1.5 K/W 0,2 K/W = 1,8 K/W

9.11. Rangkuman
- Atom terdiri atas inti atom dan elektron yang mengorbit mengelilingi inti atom.
Inti atom memiliki muatan posiif, sedangkan elektron bermuatan negatif.
- Atom silikon memiliki 14 proton dalam intinya, orbit elektron yang mengisi tiga
pita orbitnya.
- Atom silikon orbit terdalam diisi dua elektron, orbit kedua diisi oleh 8 elektron
dan orbit terluar diisi oleh empat elektron, kita sebut silikon memiliki konfigurasi
284.
- Atom germanium intinya memiliki 32 proton, memiliki empat pita orbit, dengan
konfigurasi elektron 2 8 18 4.
- Agar atom silikon menjadi tipe semikonduktor tipe N harus di doping, yaitu
menambahkan suatu atom yang memiliki lima atom valensi (pentavalent).
- Atom pentavalent disebut atom donor, yaitu arsen, antimon dan posfor.
- Agar silikon menjadi semikonduktor tipe P, Atom silikon memiliki hole, dengan
cara mendoping atom yang memiliki tiga elektron (trivalent).
- Atom trivalent disebut atom akseptor, yaitu aluminium, boron dan gallium.
- Semikonduktor tipe-P yang disambungkan dengan semikonduktor tipe-N,
selanjutnya daerah dimana tipe-P bertemu tipe-N disebut Juntion PN.
Elektronika Dasar

9-21
- Dari prinsip juntion PN ini menjadi dasar bagi pembuatan komponen
semikonduktor seperti, Diode, Transistor, thyristor, GTO.
- Diode memiliki dua kaki, yaitu Anoda dan Katoda, hanya dapat mengalirkan
arus satu arah saja, yaitu dari anode ke katoda.
- Aplikasi Diode dipakai sebagai penyearah arus AC menjadi DC.

- Diode zener dipakai untuk penstabil tegangan atau penstabil arus.
- Transistor memiliki tiga kaki, yaitu emitor, basis dan kolektor.
- Jenis Transistor dikenal bipolar Transistor tipe NPN dan PNP, unipolar
Transistor IGBT, uni juntion Transistor dan field effect Transistor.
- Transistor akan aktif, syaratnya tegangan bias basis-emitor kondisi maju, dan
sambungan basis kolektor terbias mundur.

- Karakteristik output Transistor, menggambarkan hubungan tiga parameter,
yaitu arus input , arus output, dan tegangan output.

- Karakteristik input Transistor, menyatakan hubungan antara arus input dan
arus output saja.

- Garis beban digambarkan pada karakteristik output untuk menentukan titik
kerja Transistor.

- Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik, saat OFF didaerah Cut-
off dan saat saklar ON bekerja didaerah saturasi.

- Penguat amplifier memiliki faktor penguatan, meliputi penguat tegangan,
penguat arus dan penguat daya.

- Penguat klas A digunakan untuk menguatkan sinyal audio.

- Penguat klas B digunakan sebagai penguat daya.

- Penguat klas AB dikonfigurasi push-pull,dipakai sebagai penguat daya.

- Penguat klas C dipakai sebagai penguat osilator.

- Pelepasan energi panas Transistor, diperlukan sirip pendingin yang dipasang
pada casis Transistor.
9.12. Soal-soal

1. Jelaskan pembentukan bahan semikonduktor jenis N, juga pembentukan
semikonduktor tipe P.

2. Apa yang dimaksudkan dengan Juntion PN, gambarkan skematiknya dan
terjadinya arus forward dan arus forward .

Elektronika Dasar
9-22
3. Diode BY127 dipakai untuk penyearah gelombang penuh dari sebuah trafo
220/12 Volt, gambarkan skematik pengawatannya dan gambar gelombang
sinus dan gelombang DC nya.
4. Transistor jenis PNP, difungsikan sebagai saklar elektronik. Buatlah gambar
skematiknya dan jelaskan cara kerja saklar elektronik.

5. Transistor BC 107, diberikan tegangan sumber U
B
= 12 V. Membutuhkan
tegangan bias U
BE
=0,62 V dengan arus basis I
B
= 0,3 mA. Hitunglah a) nilai
tahanan bias sendiri R
V
dan b) nilai tahanan pembagi tegangan R1 dan R2.

6. Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND, tegangan sinyal 1 U
1
= 3,4 V,
tegangan LED U
F
= 1,65 V, arus mengalir pada LED I
F
= 20 mA, tegangan
U
BE
= 0,65 V, dan B
min
= 120, tegangan saturasi U
CEsat
= 0,2 V dan faktor
penguatan tegangan U = 3. Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ?

BAB 10
ELEKTRONIKA DAYA



Daftar Isi :
10.1 Konversi Daya ............................................................. 10-1
10.2 Komponen Elektronika Daya ....................................... 10-4
10.3 Diode ........................................................................... 10-4
10.4 Transistor .................................................................... 10-6
10.5 Thyristor ...................................................................... 10-9
10.6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) .................... 10-11
10.7 Penyearah Diode ......................................................... 10-12
10.8 Penyearah Terkendali Thyristor ................................... 10-18
10.9 Modul Trigger TCA 785 ............................................... 10-25
10.10 Aplikasi Elektronika Daya .......................................... 10-26
10.11 Rangkuman ................................................................. 10-30
10.12 Soal-soal ..................................................................... 10-31























Elektronika Daya
10-2
10.1. Konversi Daya

Ada empat tipe konversi daya, ada empat jenis pemanfatan energi yang
berbeda-beda gambar-10.1. Pertama dari listrik PLN 220 V melalui penyearah
yang mengubah listrik AC menjadi listrik DC yang dibebani motor DC. Kedua
mobil dengan sumber akumulator 12 V dengan inverter yang mengubah listrik
DC menjadi listrik AC dihasilkan tegangan AC 220 V dibebani PC. Ketiga dari
sumber PLN 220 V dengan AC konverter diubah tegangannnya menjadi 180 V
untuk menyalakan lampu. Keempat dari sumber Akumulator truk 24 V dengan
DC konverter diubah tegangan 12 V untuk pesawat CB Transmitter.


Gambar 10.1 : Pemanfaatan Energi Listrik

Pada gambar-10.1 dijelaskan ada empat konverter daya yang terbagi dalam
empat kuadran.

1. Kuadrant 1 disebut penyearah fungsinya menyearahkan listrik arus
bolak-balik menjadi listrik arus searah. Energi mengalir dari sistem listrik
AC satu arah ke sistem DC.

Contoh: Listrik AC 220 V/50 Hz diturunkan melewati trafo menjadi
12VAC dan kemudian disearahkan oleh Diode menjadi tegangan DC
12V

Elektronika Daya

10-3
2. Kuadran 2 disebut DC chopper atau dikenal juga dengan istilah DC-
DCkonverter. Listrik arus searah diubah dalam menjadi arus searah
dengan besaran yang berbeda.

Contoh: Listrik DC 15V dengan komponen elektronika diubah menjadi
listrik DC 5V.

3. Kuadran 3 disebut inverter yaitu mengubah listrik arus searah menjadi
listrik arus bolak-balik pada tegangan dan frekuensi yang dapat diatur.

Contoh: Listrik DC 12 V dari akumulator dengan perangkat inverter
diubah menjadi listrik tegangan AC 220V, frekuensi 50 Hz.

4. Kuadran 4 disebut AC-AC konverter yaitu mengubah energi listrik
arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi tertentu menjadi arus
bolak balik dengan tegangan dan frekuensi yang lain. Ada dua jenis
konverter AC, yaitu pengatur tegangan AC (tegangan berubah,
frekuensi konstan) dan cycloconverter (tegangan dan frekuensi dapat
diatur).
Contoh: tegangan AC 220 V dan frekuensi 50 Hz menjadi tegangan
AC 110 V dan frekuensi yang baru 100 Hz.

Rancangan konverter daya paling sedikit mengandung lima elemen
gambar-10.2, yaitu (1) sumber energi, (2) komponen daya, (3) piranti
pengaman dan monitoring, (4) sistem kontrol lop tertutup dan (5) beban.






















Gambar 10.2 : Diagram Blok Konverter Daya
sumber energi
sistem kontrol
lop tertutup
piranti
pengaman dan
monitoring

komponen
daya
beban
Elektronika Daya
10-4


10.2. Komponen Elektronika Daya

Bahan konduktor memiliki sifat menghantar
listrik yang tinggi, bahan konduktor dipakai
sebagai konduktor listrik, seperti kawat
tembaga, aluminium, besi, baja, dsb. Bahan
semikonduktor memiliki sifat bisa menjadi
penghantar atau bisa juga memiliki sifat
menghambat arus listrik tergantung kondisi
tegangan eksternal yang diberikan. Ketika
diberikan tegangan bias maju, maka
semikonduktor akan berfungsi sebagai
konduktor. Tetapi ketika diberikan bias
mundur, bahan semikonduktor memiliki sifat
sebagai isolator. Beberapa komponen
elektronika daya meliputi: Diode,
Transistor ,Thyristor, Triac, IGBT dsb.

Diode yang dipakai elektronika daya memiliki
syarat menahan tegangan anoda-katode
(V
AK
) besar, dapat melewatkan arus anoda
(I
A
) yang besar, kemampuan menahan
perubahan arus sesaat di/dt serta
kemampuan menahan perubahan tegangan
sesaat dv/dt. Komponen Transistor daya
harus memenuhi persyaratan memiliki
tegangan kolektor-emiter (V
CEO
) yang besar,
arus kolektor (I
C
) terpenuhi, penguatan DC
() yang besar, mampu menahan perubahan
tegangan sesaat dv/dt. Demikian juga dengan komponen Thyristor mampu
menahan tegangan anoda-katoda (V
AK
), mengalirkan arus anoda yang besar
(I
A
), menahan perubahan arus sesaat di/dt, dan mampu menahan perubahan
tegangan sesaat dv/dt gambar 10.3 dan gambar 10.4.


10.3. Diode

Diode memiliki dua kaki, yaitu Anoda dan Katoda gambar 10.5. Diode hanya
dapat melewatkan arus listrik dari satu arah saja, yaitu dari anode ke katoda
yang disebut posisi panjar maju (forward). Sebaliknya Diode akan menahan
aliran arus atau memblok arus yang berasal dari katode ke anoda, yang
disebut panjar mundur (reverse) gambar 10.6. Namun Diode memiliki
keterbatasan menahan tegangan panjar mundur yang disebut tegangan break
down. J ika tegangan ini dilewati maka Diode dikatakan rusak dan harus diganti
yang baru.
Gambar 10.4: Thyristor
Gambar 10.3: Transistor daya
Elektronika Daya

10-5


Gambar 10.5. Simbol dan fisik Diode



Gambar 10.6. a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse)


Pada kondisi panjar maju (forward) Diode mengalirkan arus DC dapat diamati
dari penunjukan ampermeter dengan arus I
f
, untuk tegangan disebut tegangan
maju U
f
(forward). Diode silikon akan mulai forward ketika telah dicapai
tegangan cut-in sebesar 0,7 Volt, untuk Diode germanium tegangan cut-in 0,3
Volt.

Pada kondisi panjar mundur (reverse) Diode dalam posisi memblok arus,
kondisi ini disebut posisi mundur (reverse). Karakteristik sebuah Diode
digambarkan oleh sumbu horizontal untuk tegangan (Volt). Sumbu vertikal
untuk menunjukkan arus (mA sampai Amper). Tegangan positif (forward)
dihitung dari sumbu nol ke arah kanan. Tegangan negatif (reverse) dimulai
sumbu negatif ke arah kiri.

Karakteristik Diode menggambarkan arus fungsi dari tegangan. Garis arus
maju (forward) dimulai dari sumbu nol keatas dengan satuan Amper. Garis
arus mundur (reverse) dimulai sumbu nol ke arah bawah dengan orde mA.
Diode memiliki batas menahan tegangan reverse pada nilai tertentu. J ika
tegangan reverse terlampaui maka Diode akan rusak secara permanen
gambar 10.7.

Elektronika Daya
10-6

Gambar 10.7: Karakteristik Diode
Dari pengamatan visual karakteristik diode diatas dapat dilihat beberapa
parameter penting, yaitu : Tegangan cut-in besarnya 0,6V tegangan reverse
maksimum yang diijinkan sebesar 50V, tegangan breakdown terjadi pada
tegangan mendekati 75V. J ika tegangan breakdown ini terlewati dipastikan
diode akan terbakar dan rusak permanen.
10.4. Transistor Daya
Pembahasan tentang Transistor sudah dibahas pada Bab 9 Elektronika Dasar,
bahwa Transistor memiliki dua kemampuan, pertama sebagai penguatan dan
kedua sebagai saklar elektronik. Dalam
aplikasi elektronika daya, Transistor
banyak digunakan sebagai saklar
elektronika. Misalnya dalam teknik
Switching Power Supply, Transistor
berfungsi bekerja sebagai saklar yang
bekerja ON/OFF pada kecepatan yang
sangat tinggi dalam orde mikro detik.

Karakteristik output Transistor BD 135
yang diperlihatkan pada gambar-10.8.
Ada sepuluh perubahan arus basis I
B
,
yaitu dimulai dari terkecil I
B
=0,2 mA,
0,5 mA, 1,0 mA, 1,5 mA sampai 4,0 mA
dan terbesar 4,5 mA. Tampak
perubahan arus kolektor I
C
terkecil 50
mA, 100 mA, 150 mA sampai 370 mA
dan arus kolektor I
C
terbesar 400 mA.
Gambar 10.8: Karakteristik
Output Transistor
Elektronika Daya

10-7
10.4.1. Transistor sebagai Saklar
Transistor dapat difungsikan sebagai saklar
elektronik, yaitu dengan mengatur arus basis I
B

dapat menghasilkan arus kolektor I
C
yang dapat
menghidupkan lampu P1 dan mematikan lampu.
Dengan tegangan supply UB =12V dan pada
tegangan basis U1, akan mengalir arus basis I
B

yang membuat Transistor cut-in dan
menghantarkan arus kolektor I
C
, sehingga
lampu P1 menyala. J ika tegangan basis U1
dimatikan dan arus basis I
B
=0, dengan
sendirinya Transistor kembali mati dan lampu
P1 akan mati. Dengan pengaturan arus basis I
B
Transistor dapat difungsikan sebagai saklar
elektronik dalam posisi ON atau OFF.

Ketika Transistor sebagai saklar kita akan
lihat tegangan kolektor terhadap emitor U
CE
.
Ada dua kondisi, yaitu ketika Transistor
kondisi ON, dan Transistor kondisi OFF.
Saat Transistor kondisi ON tegangan U
CE

saturasi. Arus basis I
B
dan arus kolektor
maksimum dan tahanan kolektor emitor R
CE

mendekati nol, terjadi antara 0 sampai 50
mdetik. Ketika Transistor kondisi OFF,
tegangan U
CE
mendekati tegangan U
B
dan
arus basis I
B
dan arus kolektor I
C
mendekati
nol, pada saat tersebut tahanan R
CE
tak
terhingga gambar-10.10.




Karakteristik output Transistor memperlihat-
kan garis kerja Transistor dalam tiga
kondisi. Pertama Transistor kondisi sebagai
saklar ON terjadi ketika tegangan U
CE

saturasi, terjadi saat arus basis I
B

maksimum pada titik A3. Kedua Transistor
berfungsi sebagai penguat sinyal input
ketika arus basis I
B
berada diantara arus
kerjanya A2 sampai A1. Ketiga ketika arus
basis I
B
mendekati nol, Transistor kondisi
OFF ketika tegangan U
CE
sama dengan
tegangan suply U
B
titik A1 gambar-10.11.
Gambar 10.9 : Transistor
Sebagai Saklar
Gambar 10.10 : Tegangan
Operasi Transistor sebagai saklar
Gambar 10.11 : Garis
Beban Transistor
Elektronika Daya
10-8
I
B
=
min
.
B
I U
C
I
B
= U . I
Bmin

R
V
=
C
BE
I U
B U U
.
). (
min 1



U Faktor penguatan tegangan
I
B
Arus basis
I
Bmin
Arus basis minimum
B
min
Faktor penguatan Transistor
()
I
C
Arus kolektor
R
V
Tahanan depan basis
U
1
Tegangan input
U
BE
Tegangan basis emitor


Contoh : Transistor BC 107 difung-
sikan gerbang NAND = Not And,
tegangan sinyal 1 U
1
= 3,4 V,
tegangan LED U
F
= 1,65 V, arus
mengalir pada LED I
F
= 20 mA,
tegangan U
BE
=0,65 V, dan B
min
=
120, tegangan saturasi U
CEsat
=0,2 V
dan faktor penguatan tegangan U =3.
gambar-10.12 Tentukan besarnya
tahanan RC dan RV ?


Jawaban :

a) R
C
=
f
CEsat F b
I
U U U
=
mA
V V V
20
2 , 0 65 , 1 5

R
C
=158 ; R
C
=150
b) R
V
=
C
BE
I U
B U U
.
). (
min 1

=
mA
V V
20 . 3
120 ). 65 , 0 4 , 3 (

R
V
=5,5 k ; R
V
=5,6 k








Gambar 10.12 : Transistor
Sebagai Gerbang NAND
Elektronika Daya

10-9

10.4.2. Transistor Penggerak Relay

Kolektor Transistor yang dipasang
kan relay mengandung induktor.
Ketika Transistor dari kondisi ON
dititik A2 dan menuju OFF di titik A1
timbul tegangan induksi pada relay.
Dengan diode R1 yang berfungsi
sebagai running diode gambar-10.13
maka arus induksi pada relay
dialirkan lewat diode bukan
melewati kolektor Transistor.



10.5. Thyristor

Thyristor dikembangkan oleh Bell
Laboratories tahun 1950-an dan mulai
digunakan secara komersial oleh General
Electric tahun 1960an. Thyristor atau SCR
(Silicon Controlled Rectifier) termasuk
dalam komponen elektronik yang banyak
dipakai dalam aplikasi listrik industri, salah
satu alasannya adalah memiliki kemam-
puan untuk bekerja dalam tegangan dan
arus yang besar. Thyristor memiliki tiga kaki,
yaitu Anoda, Katoda dan Gate. J uga dikenal
ada dua jenis Thyristor dengan P-gate dan
N-gate gambar-10.14

Fungsi Gate pada Thyristor menyerupai basis pada Transistor, dengan
mengatur arus gate I
G
yang besarnya antara 1 mA sampai terbesar 100 mA,
maka tegangan keluaran dari Anoda bisa diatur. Tegangan yang mampu
diatur mulai dari 50 Volt sampai 5.000 Volt dan mampu mengatur arus 0,4 A
sampai dengan 1500 A.

Karakteristik Thyristor memperlihatkan dua variabel, yaitu tegangan forward U
F

dan tegangan reverse U
R
, dan variabel arus forward I
F
dan arus reverse I
R
gambar-10.15. Pada tegangan forward UF, jika arus gate diatur dari 0 mA
sampai diatas 50 mA, maka Thyristor akan cut-in dan mengalirkan arus forward
I
F
. Tegangan reverse untuk Thyristor U
R
sekitar 600 Volt. Agar Thyristor tetap
ON, maka ada arus yang tetap dipertahankan disebut arus holding I
H
sebesar 5
mA.

Gambar 10.14 : Bentuk Fisik &
Simbol Thrystor
Gambar 10.13 : Transistor
Sebagai Penggerak Relay
Elektronika Daya
10-10

Gambar 10.15: Karakteristik Thrystor


Thyristor TIC 106 D sesuai dengan data sheet memiliki beberapa parameter
penting, yaitu : tegangan gate-katode =0,8 V, arus gate minimal 0,2 mA, agar
Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding =5 mA. Tegangan kerja yang
diijinkan pada Anoda =400 V dan dapat mengalirkan arus nominal =5 A.


















Aplikasi Thyristor yang paling banyak adalah sebagai penyearah tegangan AC
ke DC yang dapat diatur. Gambar-10.17 tampak empat Thyristor dalam
hubungan jembatan yang dihubungkan dengan beban luar R
L
.



Gambar 10.16: Nilai Batas Thrystor
Elektronika Daya

10-11















10.6. IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor)

IGBT komponen elektronika yang banyak dipakai dalam elektronika daya,
aplikasinya sangat luas dipakai untuk mengatur putaran motor DC atau motor
AC daya besar, dipakai sebagai inverter yang mengubah tegangan DC menjadi
AC, dipakai komponen utama Variable Voltage Variable Frequency (VVVF)
pada KRL modern, dipakai dalam kontrol pembangkit tenaga angin dan tenaga
panas matahari. Dimasa depan IGBT akan menjadi andalan dalam industri
elektronika maupun dalam listrik industri.













IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar, perbedaannya pada
Transistor bipolar arus basis I
B
yang diatur. Sedangkan pada IGBT yang diatur
adalah tegangan gate ke emitor U
GE
. Dari gambar-10.19 karakteristik IGBT,
pada tegangan U
CE
=20 V dan tegangan gate diatur dari minimum 8 V, 9 V
dan maksimal 16 V, arus Collector I
C
dari 2 A sampai 24 A.
Gambar 10.17: Fuse Sebagai
Pengaman Thrystor
Gambar 10.18 : Struktur Fisik
dan Kemasan IGBT
Elektronika Daya
10-12
Gambar 10.19 : Karakteristik Output IGBT
10.7. Penyearah Diode

Penyearah digunakan untuk mengubah listrik AC menjadi listrik DC, listrik DC
dipakai untuk berbagai kebutuhan misalnya Power Supply, Pengisi Akumulator,
Alat penyepuhan logam. Komponen elektronika yang dipakai Diode, atau
Thyristor. Penyearah dengan Diode sering disebut penyearah tanpa kendali,
artinya tegangan output yang dihasilkan tetap tidak bisa dikendalikan.
Penyearah dengan Thyristor termasuk penyearah terkendali, artinya tegangan
output yang dihasilkan bisa diatur dengan pengaturan penyalaan sudut
sesuai dengan kebutuhan.

Ada empat tipe penyearah dengan Diode, terdiri penyearah setengah
gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang dan
gelombang penuh tiga phasa.

10.7.1. Penyearah Diode Setengah Gelombang Satu Phasa
Rangkaian transformator penu-
run tegangan dengan sebuah
Diode R1 setengah gelombang
dan sebuah lampu E1 sebagai
beban. Sekunder trafo sebagai
tegangan input U
1
= 25 V dan
bentuk tegangan output DC
dapat dilihat dari osiloskop.
Tegangan input U
1
merupakan
gelombang sinusoida, dan
tegangan output setelah Diode
U
d
bentuknya setengah gelom-
bang bagian yang positifnya
saja gambar 10.20.
Gambar 10.20: Diode Setengah
Gelombang 1 Phasa
Elektronika Daya

10-13

Persamaan tegangan dan arus DC :

U
di
=0,45.U
1
U
di
Tegangan searah ideal
U
d
Tegangan searah
U
1
Tegangan efektif
I
z
= I
d
I
z
Arus melewati Diode
I
d
Arus searah
P
T
= 3,1 . P
d
P
T
Daya transformator
P
d
Daya arus searah


10.7.2. Penyearah Diode Gelombang Penuh Satu Phasa

Sekunder transformator penurun
tegangan dipasang empat Diode R1,
R2, R3 dan R4 yang dihubungkan
dengan sistem jembatan gambar
10.21. Output dihubungkan dengan
beban R
L
. Tegangan DC pulsa
pertama melalui Diode R1 dan R4,
sedangkan pulsa kedua melalui
Diode R3 dan R2. Tegangan DC
yang dihasilkan mengandung riak
gelombang dan bukan DC murni
yang rata.





Persamaan tegangan DC :

U
di
=0,9 . U
1
U
di
Tegangan searah ideal
U
d
Tegangan searah
U
1
Tegangan efektif
I
z
=
2
d I

I
z
Arus melewati Diode
I
d
Arus searah
P
T
= 1,23 . P
d
P
T
Daya transformator
P
d
Daya arus searah

Penyearah gelombang penuh satu phasa bisa juga dihasilkan dari trafo yang
menggunakan centre-tap (Ct), disini cukup dipakai dua buah diode, dan titik Ct
difungsikan sebagai terminal negatipnya.
Gambar 10.21 : Rangkaian
Penyearah Jembatan - Diode
Elektronika Daya
10-14
Untuk meratakan tegangan DC
dipasang kapasitor elektrolit C
G

berfungsi sebagai filter dengan beban
R
L
gambar 10.22

. Ketika Diode R1 dan
Diode R4 melalukan tegangan positif,
kapasitor C
G
mengisi muatan sampai
penuh. Saat tegangan dari puncak
menuju lembah, terjadi pengosongan
muatan kapasitor. Berikutnya Diode R2
dan Diode R3 melewatkan tegangan
negatif menjadi tegangan DC positif.
Kapasitor C
G
mengisi muatan dan
mengosongkan muatan. Rangkaian filter
dengan kapasitor menjadikan tegangan
DC menjadi lebih rata gambar 10.23.

C
G
=
p p.
d
u f
. 0,75 I

C
G
Kondensator
Id Arus searah
fp Frekuensi riple
Up Tegangan riple

Contoh : Penyearah gelombang penuh
diberikan tegangan 12VAC, dan arus 1A,
tegangan ripple p u =3,4V, frekuensi
ripple p f =100Hz, tegangan cut-in Diode
U
f
=0,7 V. Hitunglah:
a) Faktor daya transformator
b) Berapa besarnya tegangan AC
c) Tentukan besarnya kapasitas
kapasitor

Jawaban :
a) P
T
=1,23 . P
d
=1,23 . 12V.1A =14,8
W
b) U1=
2
d U
+2 . U
f
=
2
v 12
+2 . 0,7 V =9,88 V
c) C
G
=
p p.
d
u f
. 0,75 I
=
V 3,4 . Hz 100
A . 0,75 1
~
2200F
Gambar 10.22 : Penyearah
Jembatan Dengan Filter Capasitor
Gambar 10.23 : Penyearah
Jembatan Dengan Filter RC
Elektronika Daya

10-15
10.7.3. Penyearah Diode Setengah Gelombang Tiga Phasa

Rangkaian penyearah Diode tiga phasa menggunakan tiga Diode penyearah R1,
R2 dan R3 ketika katodenya disatukan menjadi terminal positif gambar-10.24.
Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif R
L
. Masing-masing Diode
akan konduksi ketika ada tegangan positif, sedangkan tegangan yang negatif akan
diblok. Diode R1, R2 dan R3 anak konduksi secara bergantian sesuai dengan
siklus gelombang saat nilainya lebih positif. Arus searah negatif kembali ke
sekunder trafo melalui kawat N. Tegangan DC yang dihasilkan tidak benar-benar
rata, masih mengandung riak (ripple).

Gambar 10.24 : Penyearah Diode Gelombang 3 Phasa

Rangkaian penyearah Diode setengah gelombang dengan ketiga Diode R1, R2
dan R3 dipasang terbalik, ketiga anodenya disatukan sebagai terminal positif.
Diode hanya konduksi ketika tegangan anode lebih positif dibandingkan
tegangan katode. Tegangan DC yang dihasilkan negatif gambar-10.25.


Gambar 10.25: Penyearah Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik


Urutan konduksi masing-masing Diode R1, R2 dan R3 pada penyearah
setengah gelombang dapat diperiksa pada gambar-10.56.
- Diode R1 mulai konduksi setelah melewati 30
0
, sampai sudut 150
0
, atau
sepanjang 120
0
.
- Diode R2 mulai konduksi pada sudut 150
0
, sampai 270
0
, R2 juga konduksi
sepanjang 120
0
.
- Diode R3 mulai konduksi pada sudut 270
0
, sampai 390
0
juga sepanjang
120
0
.
3 pulsa/ periode
Elektronika Daya
10-16
Dapat disimpulkan ketiga Diode memiliki sudut konduksi 120
0
.


Gambar 10.26 : Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa Gelombang

Persamaan tegangan dan arus penyearah setengah gelombang:
10.7.4. Penyearah Diode Gelombang Penuh Tiga Phasa

Penyearah Diode gelombang penuh tiga phasa menggunakan sistem jembatan
dengan enam buah Diode R1, R3 dan R5 katodanya disatukan sebagai
terminal positif. Diode R4, R6 dan R2 anodanya yang disatukan sebagai
terminal negatif gambar 10.27. Tegangan DC yang dihasilkan memiliki enam
pulsa yang dihasilkan oleh masing-masing Diode tsb. Tegangan DC yang
dihasilkan halus karena tegangan riak (ripple) kecil dan lebih rata.

U
di
=0,68 . U
1
U
di
Tegangan searah ideal
U
d
Tegangan searah
U
1
Tegangan efektif

I
z
=
3
Id

I
z
Arus melewati Diode
I
d
Arus searah
P
T
= 1,5 . P
d
P
T
Daya transformator
P
d
Daya arus searah
Elektronika Daya

10-17

Gambar 10.27 : Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa


Urutan konduksi dari keenam Diode dapat dilihat dari siklus gelombang
sinusoida, dimana konduksi secara bergantian. Konduksi dimulai dari Diode
R1+R6 sepanjang sudut komutasi 60
0
. Berturut-turut disusul Diode R1+R2,
lanjutnya Diode R3+R2, urutan keempat R3+R4, kelima R5+R4 dan terakhir
R5+R6 gambar 10.28. J elas dalam satu siklus gelombang tiga phasa terjadi
enam kali komutasi dari keenam Diode secara bergantian dan bersama-sama.
Apa yang terjadi ketika salah satu dari Diode tersebut rusak ?


Gambar 10.28 : Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa

Persamaan tegangan dan arus penyearah Diode gelombang penuh:
U
di
=1,35 . U
1
U
di
Tegangan searah ideal
U
d
Tegangan searah
U
1
Tegangan efektif
I
z
=
3
Id

I
z
Arus melewati Diode
I
d
Arus searah
P
T
= 1,1 . P
d
P
T
Daya transformator
P
d
Daya arus searah
Elektronika Daya
10-18
Tabel 10.1. Jenis Penyearah Diode

Jenis
rang-
kaian
Penyearah
satu-pulsa
Penyearah
dua-pulsa
jembatan
Penyearah
tiga-pulsa,
titik bintang
Penyearah enam-
pulsa jembatan
Kode E1U B2U M3U B6U
Rang
kaian



Tega
ngan
tanpa
beban



1
V
V
di

0,45 0,9 0,68 1,35
Faktor
ripel
1,21 0,48 0,18 0,04
d
T
P
P

3,1 1,23 1,5 1,1
I
Z
Id
2
d
I

3
d
I

3
d
I

V
di
: tegangan dc-tanpa beban, V
1
: tegangan ac, P
T
: daya trafo, P
d
: daya dc, V
d
: tegangan dc-
berbeban, I
d
: arus dc, I
Z
: arus yang mengalir melalui satu dioda


10.8. Penyearah Terkendali Thyristor

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, penyearah tak terkendali
menghasilkan tegangan keluaran DC yang tetap. Bila dikehendaki tegangan
keluaran yang bisa diubah-ubah, digunakan Thyristor sebagai pengganti dioda.
Tegangan keluaran penyearah Thyristor dapat diubah-ubah atau dikendalikan
dengan mengendalikan sudut penyalaan dari Thyristor. Penyalaan ini
dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate Thyristor. Pulsa trigger
dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger.






Elektronika Daya

10-19
10.8.1. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Satu Phasa
Rangkaian penyearah Thyristor kelebihannya
tegangan outputnya bisa diatur, dengan
mengatur sudut penyalaan gate Thyristor.
Sebuah Thyristor Q1 dan sebuah beban resistif
R
L
dihubungkan dengan listrik AC gambar-
10.29. Pada gate diberikan pulsa penyulut ,
maka Thyristor akan konduksi dan mengalirkan
arus kebeban. Dengan beban resistif R
L
maka
arus dan tegangan yang dihasilkan sephasa.
Pada gate Thyristor diberikan penyalaan
sebesar , maka tegangan positif saja yang
dilewatkan oleh Thyristor gambar-10.30
Tegangan negatif di blok tidak dilewatkan,
khususnya karena bebannya resistif R
L
.
Kondisinya berbeda jika beban mengandung
induktor, dimana antara tegangan dan arus ada
beda phasa.

Pada beban resistif R
L
, ketika sudut penyalaan
diperbesar, tegangan output yang dihasilkan
akan mengecil sesuai dengan sudut konduksi
dari Thyristor.




Persamaan tegangan pada beban resistif setengah gelombang:

U
d
=
2
U
(1+ cos )
U
d
Tegangan searah terkendali
U
do
Tegangan DC Diode
U Tegangan effektip
Sudut penyalaan gate

Pada beban resistif R
L
akan dihasilkan
tegangan dan arus yang sephasa gambar-
10.31. Dengan penyearah Thyristor
setengah gelombang hanya gelombang
positif dari sinusoida yang dilewatkan,
gelombang negatif di blocking oleh Thyristor.
Yang termasuk beban resistif, misalnya
lampu pijar, pemanas heater, rice cooker.
Untuk beban terpasang mengandung resistif-
induktif, arus beban dengan tegangan tidak
sephasa, saat Thyristor diberikan trigger
Gambar 10.29: Penyearah
Terkendali Gelombang
Gambar 10.30 :Sudut
Penyalaan dan Output
Tegangan DC Gelombang
Gambar 10.31 : Tegangan dan
Arus DC Beban Resistif
Elektronika Daya
10-20
arus beban naik dan tidak segera mencapai nol
saat tegangan berada dititik nol. Thyristor akan
konduksi lebih lama sebesar sudut u dan
pada beban muncul siklus tegangan negatif
gambar-10.32. Beban yang mengandung
resistif-induktif adalah beban motor.

Rangkaian pengaturan beban dengan Thyristor
setengah gelombang dihubungkan dengan
sumber tegangan AC, sisi beban mengandung
resistif-induktif, misalnya beban motor DC.
Terminal gate Thyristor dihubungkan dengan
modul trigger, untuk daya kecil hubungan
modul trigger ke gate Thyristor bisa langsung
gambar-10.33.

Analisa gelombang yang dihasilkan Thyristor
hanya konduksi saat tegangan positif saja,
tegangan negatifnya diblok. Tetapi arus positif
dan sebagian arus negatif dilakukan oleh
Thyristor.






Untuk daya yang lebih besar, gate dikopel dengan trafo pulsa. Trafo pulsa
gunanya sebagai isolasi rangkaian Thyristor
dengan modul trigger gambar-10.34.
Potensiometer modul penyulut trigger untuk
mengatur sudut penyalaan . Ada Diode R1
yang diparalel dengan beban yang disebut
sebagai free wheel Diode.

Pada beban resistif-induktif ditambahkan sebuah
Diode R1 (free wheel Diode). Saat Thyristor
menuju OFF maka induktor akan
membangkitkan tegangan induksi, Diode free-
wheel akan mengalirkan tegangan induksi
sehingga tidak merusak Thyristor. Pada beban
resisitip-induksip, sudut pengaturan sudut
untuk beban resistif-induktif effektif antara 0
0

sampai 90
0
.

Grafik tegangan U
d
fungsi penyalaan sudut , untuk beban resistif dan beban
induktif gambar-10.35. Beban resistif memiliki sudut pengaturan pulsa triger
Gambar 10.33 : Modul
Trigger Thrystor
Gambar 10.32 : Tegangan dan
Arus DC Beban Induktif
Gambar 10.34 : Penyearah
Thrystor dengan Diode
Elektronika Daya

10-21
dari 0
0
sampai 180
0
. Untuk beban
induktif sudut pengaturan pulsa trigger,
direkomendasikan antara 0
0
sampai 90
0
.

Contoh : penyearah Thyristor dengan
beban resistif. Tegangan input 100VAC.
Hitung tegangan DC saat sudut
penyalaan =0
0
dan =60
0

Jawaban :
0
o
:
do
d
U
U
=1 U
do
o =0
o

.
=100 V
60
o
:
do
d
U
U
=0,75 U
do
o =60
o

.
=75 V


10.8.2. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Satu Phasa

Penyearah terkendali penuh satu phasa dengan empat buah Thyristor Q1, Q2, Q3
dan Q4 dalam hubungan jembatan gambar-10.36. Pasangan Thyristor adalah Q1-
Q4 dan Q2-Q3, masing-masing diberikan pulsa penyulut pada sudut untuk siklus
positif dan siklus negatif tegangan sumber. Dengan beban resistif R
L
, pada sudut
penyalaan maka Thyristor Q1 dan Q4 akan konduksi bersamaan, dan pada
tahap berikutnya menyusul Thyristor Q2 dan Q3 konduksi. Pada beban resistif R
L
,
bentuk tegangan searah antara tegangan dan arus se-phasa.


Gambar 10.36 : Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa

Persamaan penyearah Thyristor gelomabang penuh satu phasa beban resistif
R
L
, pengaturan sudut dari 0
0
sampai 180
0
.



Gambar 10.35 : Grafik Fungsi
Penyalaan Gate Thrystor
Elektronika Daya
10-22
U
d
=0,5.Udo (1+ cos )
U
do
= 0,9.U
U
d
Tegangan searah terkendali
U
do
Tegangan DC Diode
U Tegangan effektip
Sudut penyalaan gate

Untuk beban mengandung resistif dan induktif, pengaturan sudut dari 0
0

sampai 90
0
saja, berlaku persamaan tegangan sebagai berikut:

U
d
=0,5.Udo cos
U
do
= 0,9.U
U
d
Tegangan searah terkendali
U
do
Tegangan DC Diode.
U Tegangan effektip
Sudut penyalaan gate


10.8.3. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Tiga Phasa

Rangkaian penyearah Thyristor setengah gelombang tiga phasa dengan tiga
Thyristor Q1, Q2 dan Q3. Katode ketiga Thyristor disatukan menjadi terminal
positif, terminal negatif dari kawat netral N, dengan beban resistif R
L
gambar-
10.37. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbeda-
beda melalui U
G1
, U
G2
, U
G3
. Penyearah tiga phasa digunakan untuk
mendapatkan nilai rata-rata tegangan keluaran yang lebih tinggi dengan
frekuensi lebih tinggi dibanding penyearah satu phasa. Aplikasi dipakai pada
pengaturan motor DC dengan daya tinggi. Tegangan DC yang dihasilkan
melalui beban resistif R
L
.



Gambar 10.37 : Penyearah Thyristor Gelombang 3 Phasa




Elektronika Daya

10-23

Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo
melalui kawat N. Tegangan DC yang dihasilkan
mengandung ripple. Karena tiap phasa
tegangan masukan berbeda 120
0
, maka pulsa
penyulutan diberikan dengan beda phasa 120
0
.

Pada beban resistif, pengaturan sudut
penyalaan trigger dari 0
0
sampai 150
0
. Untuk
beban induktif pengaturan sudut penyalaan
antara 0
0
sampai 90
0
gambar-10.38.



Persamaan tegangan pada beban resistif,

U
d
=Udo. cos
U
do
= 0,676 . U
U
d
Tegangan searah terkendali
U
do
Tegangan DC Diode
U Tegangan efektif
Sudut penyalaan gate


10.8.4. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Tiga Phasa

Penyearah Thyristor tiga phasa terdiri atas enam buah Thyristor Q1, Q2, Q3,
Q4, Q5, dan Q6. Katoda dari Diode Q1,Q3 dan Q5 disatukan sebagai terminal
positif, dan anode dari Thyristor Q4, Q6 dan Q2 disatukan menjadi terminal
negatif. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbeda-
beda melalui U
G1
, U
G2
, U
G3
, U
G4 ,
U
G5,
dan U
G6
. Sebuah beban resistif R
L

sebagai beban DC gambar- 10.39.


Gambar 10.39 : Penyearah Terkendali 3 Phasa

Untuk melihat urutan konduksi dari keenam Thyristor dapat dilihat dari
gelombang tiga phasa gambar-10.40. Contoh ketika tegangan DC terbentuk
dari puncak gelombang U
L1L2
yang konduksi Thyristor Q1+Q6, berikutnya pada
Gambar 10.38 : Grafik
Pengaturan Sudut Penyalaan
Elektronika Daya
10-24
puncak tegangan U
L3L1
yang konduksi Thyristor Q1+Q2 dan seterusnya. Apa
yang terjadi jika salah satu dari keenam Thyristor tersebut mati (misalnya Q1)
tidak bekerja, dan apa yang terjadi ketika Thyristor Q1 dan Q3 tidak bekerja?
Berikan jawabannya dengan melihat gelombang sinusoida di bawah ini.


Gambar 10.40: Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa

Persamaan tegangan pada beban resistif, pengaturan sudut dari 0
0
sampai
150
0
.

U
d
=Udo. cos
U
do
= 1,35 . U
U
d
Tegangan searah terkendali
U
do
Tegangan DC Diode
U Tegangan efektif
Sudut penyalaan gate



Gambar 10.41 : Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa


Elektronika Daya

10-25
10.9. Modul Trigger TCA 785

Rangkaian modul trigger dalam bentuk chip TCA-785 sudah tersedia dan dapat
digunakan secara komersial untuk pengaturan daya sampai 15 kW dengan
tegangan 3 x 380V gambar-10.42. Rangkaian ini terdiri dari potensio R2 yang
berguna untuk mengatur sudut penyalaan . Tegangan pulsa trigger dari kaki
14 dan 15 chip TCA 785. Untuk pengaturan daya besar dipakai trafo pulsa T1
dan T2. Tiap trafo pulsa memiliki dua belitan sekunder, untuk T1 untuk
melayani Thyristor Q1 dan Q4, sedangkan T2 melayani Thyristor Q2 dan Q3.

Gambar 10.42 : Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785


Dalam modul chip TCA 785 ada
beberapa kaki yang harus
diperiksa jika kaki output 14 dan
kaki 15 tidak menghasilkan
tegangan pulsa gambar-10.43.
- Kaki 15 sebagai sinkronisasi
mendapat tegangan sinusoida
dari jala-jala.
- Kaki 10 dan 11, menghasilkan
tegangan gigi gergaji.
- Kaki 15 tegangan output pulsa
untuk trafo pulsa T1.
- Kaki 14 tegangan output pulsa
untuk trafo pulsa T2.

Gambar 10.43 : Bentuk Gelombang
Chip TCA785
Elektronika Daya
10-26
Rangkaian lengkap terdiri atas rangkaian daya dengan penyearah asimetris
gelombang penuh dengan dua Diode dan dua Thyristor. Daya yang mampu
dikendalikan sebesar 15 kW beban DC gambar 10.44.

Gambar 10.44 : Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw



10.10. Aplikasi Elektronika Daya
Aplikasi penyearah Thyristor
gelombang penuh satu phasa
untuk mengendalikan putaran
motor DC untuk putaran kekanan
dan putaran ke kiri. Terdapat dua
kelompok penyearah Thyristor,
penyearah satu jika dijalankan
motor DC akan berputar ke
kanan. Ketika penyearah kedua
dijalankan maka motor DC akan
berputar ke kiri. Untuk mengatur
kecepatan motor, dengan
mengatur besarnya tegangan ke
terminal motor.



Gambar 10.45 : Aplikasi
Pengendalian putaran
Motor DC
Elektronika Daya

10-27
Potensiometer pada modul trig-ger mengatur sudut penyalaan Thyristor, maka
putaran motor dapat diatur dari minimal menuju putaran nominal. Ketika
potensiometer posisi di tengah (tegangan nol), motor akan berhenti. Ketika
potensiometer berharga positif, penyearah pertama yang bekerja dan motor
DC putarannya kekanan. Saat potensiometer berharga negatif, penyearah
kedua yang bekerja dan motor berputar kekiri.
10.10.1. Pengendali Tegangan AC

Teknik pengontrolan fasa memberikan kemudahan dalam sistem pengendalian
AC. Pengendali tegangan saluran AC digunakan untuk mengubah-ubah harga
rms tegangan AC yang dicatukan ke beban dengan menggunakan Thyristor
sebagai saklar.

Penggunaan alat ini, antara lain, meliputi:
- Kontrol penerangan
- Kontrol alat-alat pemanas
- Kontrol kecepatan motor induksi

Rangkaian pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan dua-Thyristor
yang dirangkai anti-paralel gambar 10.46 (a) atau menggunakan Triac
gambar 10.46 (b).


a). Thrystor Anti Paralel


b). TRIAC
Gambar 10.46 : Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC


Elektronika Daya
10-28

Penggunaan dua Thyristor anti paralel memberikan pendalian tegangan AC
secara simetris pada kedua setengah gelombang pertama dan setengah
gelombang berikutnya. Penggunaan Triac merupakan cara yang paling simpel,
efisien dan handal. Triac merupakan komponen dua-arah sehingga untuk
mengendalikan tegangan AC pada kedua setengah gelombang cukup dengan
satu pulsa trigger. Barangkali inilah yang membuat rangkaian pengendalian
jenis ini sangat populer di masyarakat. Keterbatasannya terletak pada
kapasitasnya yang masih terbatas dibandingkan bila menggunakan Thyristor.

Dari gambar 10.46 jika tegangan sinusoidal dimasukkan pada rangkaian
seperti pada gambar, maka pada setengah gelombang pertama Thyristor Q1
mendapat bias maju, dan Q2 dalam keadaan sebaliknya. Kemudian pada
setengah gelombang berikutnya, Q2 mendapat bias maju, sedangkan Q1 bias
mundur. Agar rangkaian dapat bekerja, ketika pada setengah gelombang
pertama Q1 harus diberi sinyal penyalaan pada gatenya dengan sudut
penyalaan, misalnya . Seketika itu Q1 akan konduksi. Q1 akan tetap konduksi
sampai terjadi perubahan arah (komutasi), yaitu tegangan menuju nol dan
negatif. Setelah itu, pada setengah perioda berikutnya, Q2 diberi trigger
dengan sudut yang sama, proses yang terjadi sama persis dengan yang
pertama. Dengan demikian bentuk gelombang keluaran pada seperti yang
ditunjukkan pada gambar.

10.10.2. Pengendalian Dimer

Seperti yang telah disinggung
sebelumnya, bahwa dua Thyristor
anti-paralel dapat digantikan
dengan sebuah Triac. Bedanya di
sini hanya pada gatenya, yang
hanya ada satu gate saja. Namun
kebutuhan sinyal trigger sama,
yaitu sekali pada waktu setengah
perioda pertama dan sekali pada
waktu setengah perioda berikutnya.
Sehingga hasil pengendalian tidak
berbeda dari yang menggunakan
Thyristor anti-paralel gambar 10.47.

Pengendalian yang bisa dilakukan
dengan menggunakan metoda ini
hanya terbatas pada beban fasa-satu saja. Untuk beban yang lebih besar,
metode pengendalian, kemudian dikembangkan lagi menggunakan sistem
fasa-tiga, baik yang setengah gelombang maupun gelombang penuh
(rangkaian jembatan).

Gambar 10.47 : Rangkaian
Dimmer dengan TRIAC
Elektronika Daya

10-29
10.10.3. Aplikasi IGBT untuk Inverter

















Gambar 10.48 : Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa

Rangkaian Cycloconverter gambar-10.48 dimana tegangan AC 3 phasa
disearahkan menjadi tegangan DC oleh enam buah Diode. Selanjutnya
sembilan buah IGBT membentuk konfigurasi yang akan menghasilkan
tegangan AC 3 phasa dengan tegangan dan frekuensi yang dapat diatur,
dengan mengatur waktu ON oleh generator PWM. Rangkaian VVVF ini dipakai
pada KRL merk HOLEC di J abotabek.


10.10.4. Pengaturan Kecepatan Motor DC


Pemakain motor DC di industri sangat banyak, salah satu alasannya karena
motor DC mudah diatur kecepatannya. Salah satu pemakaiannya di Industri
kertas, industri tekstil dsb. Blok diagram pengaturan motor DC seperti pada
gambar 10.20.



Gambar 10.49. Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC



Elektronika Daya
10-30
Cara kerja:
1. Bagian setting mengatur posisi potensiometer untuk mengatur
tegangan 10 Volt pada 1000 Rpm.
2. Motor DC akan berputar setelah dihubungkan dengan suply DC sampai
putaran mendekati 1000 Rpm, misalkan 1050 Rpm.
3. Tachogenerator akan mendeteksi kecepatan motor DC, dan mengubah
menjadi tegangan 10,05 Volt.
4. Tegangan 10,05 Volt dibandingkan dengan tegangan setting 10 V,
diperoleh selisih -0,05V (10V 10,05V).
5. Selisih tegangan ini disebut sebagai kesalahan (error) yang menjadi
input pengatur tegangan (penguatan 10X), hasilnya 10 x 0,05V =0,5V.
6. Tegangan 0,5V akan menjadi input Kontroller yang mengatur tegangan
yang masuk ke rangkaian jangkar motor DC, akibatnya putaran
menurun sesuai dengan setting putarn 1000 Rpm
7. Kondisi akan terjadi secara terus menerus yang menghasilkan putaran
motor DC tetap konstan.

10.11. Rangkuman
- Ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran.
1. Kuadrant 1 disebut penyearah
2. Kuadran 2 disebut DC Chopper
3. Kuadran 3 disebut Inverter
4. Kuadran 4 disebut AC-AC Konverter

- Komponen elektronika daya yang banyak dipakai meliputi Diode, Transistor
dan Thyristor termasuk Triac.

- Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan
anoda-katode (V
AK
) besar, dapat melewatkan arus anoda (I
A
) yang besar,
kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan
menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt.

- Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektor-
emiter (V
CEO
) yang besar, arus kolektor (I
C
) terpenuhi, penguatan DC
() yang besar, mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt.

- Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (V
AK
), mengalirkan arus
anoda yang besar (I
A
), menahan perubahan arus sesaat di/dt, dan mampu
menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt

- Thyristor memiliki tiga kaki, yaitu Anoda, Katoda dan Gate, jenisnya ada P
gate dan N-gate.

- Thyristor memiliki parameter penting, yaitu : tegangan gate-katode, arus
gate minimal, agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding.

- Aplikasi Thyristor yang paling banyak sebagai penyearah tegangan AC ke
DC, atau dipakai dalam inverter.
Elektronika Daya

10-31
- IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar, perbedaannya pada
Transistor bipolar arus basis I
B
yang diatur. Sedangkan pada IGBT yang
diatur adalah tegangan gate ke emitor U
GE.


- Rancangan konverter daya mengandung lima elemen, yaitu (1) sumber
energi, (2) komponen daya, (3) piranti pengaman dan monitoring, (4) sistem
kontrol loop tertutup dan (5) beban.
- Ada empat tipe penyearah terdiri penyearah setengah gelombang dan
gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang tiga phasa dan
gelombang penuh tiga phasa.
- Penyearah tanpa kendali dengan Diode:
1. Tegangan setengah gelombang 1 phasa U
di
=0,45.U
1
2. Tegangan gelombang penuh 1phasa U
di
=0,9 . U
1
3. Tegangan setengah gelombang 3 phasa U
di
=0,68 . U
1
4. Tegangan gelombang penuh 3 phasa U
di
=1,35 . U
1
- Penyearah terkendali dengan Thyristor :'
1. Tegangan setengah gelombang 1 phasa U
d
=
2
U
(1+ cos )
2. Tegangan gelombang penuh 1phasa U
d
=0,5.Udo (1+cos )
U
do
=0,9.U
3. Tegangan setengah gelombang 3 phasa U
d
=Udo. cos
U
do
=0,676 . U
4. Tegangan gelombang penuh 3 phasa U
d
=Udo. cos
U
do
=1,35.U
- Modul trigger chip TCA-785 dipakai untuk triger sistem satu phasa maupun
tiga phasa.
- Pengaturan daya AC dipakai Thyristor terpasang antiparalel, dengan
mengatur sudut penyalaan daya beban AC dapat dikendalikan.

10.12. Soal-soal

1. J elaskan cara kerja :
a). Penyearah
b). DC Chopper
c). Inverter
d). AC-AC Konverter

2. Diode BY127 dipakai untuk penyearah gelombang penuh dari sebuah trafo
220/12 Volt, gambarkan skematik pengawatannya dan gambar gelombang
sinus dan gelombang DC nya.

3. Transistor jenis PNP, difungsikan sebagai saklar elektronik. Buatlah
gambar skematiknya dan jelaskan cara kerja saklar elektronik.
Elektronika Daya
10-32
4. Transistor BC 107, diberikan tegangan sumber U
B
=12 V. Membutuhkan
tegangan bias U
BE
=0,62 V dengan arus basis I
B
=0,3 mA. Hitunglah a)
nilai tahanan bias sendiri R
V
dan b) nilai tahanan pembagi tegangan R1
dan R2.

5. Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND, tegangan sinyal 1 U
1
=3,4
V, tegangan LED U
F
= 1,65 V, arus mengalir pada LED I
F
= 20 mA,
tegangan U
BE
=0,65 V, dan B
min
=120, tegangan saturasi U
CEsat
=0,2 V
dan faktor penguatan tegangan U =3. Tentukan besarnya tahanan RC
dan RV ?

6. Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 24VAC, dan arus 2,0A,
tegangan ripple p u =1,5V, frekuensi ripple p f =100Hz, tegangan cut-in Diode
U
f
=0,7 V. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya
tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor.

7. Penyearah dengan Thyristor gelombang penuh satu phasa dipasang pada
tegangan 220 VAC. Hitung tegangan DC yang dihasilkan pada sudut
pengaturan o =0 60
0
.



BAB 11
SISTEM PENGAMANAN
BAHAYA LISTRIK


Daftar Isi :
11.1. Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ........................... 11-2
11.2. Kode International Protection .................................... 11-4
11.3. J enis Gangguan Listrik ............................................... 11-7
11.4. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan ............... 11-8
11.5. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah ............................. 11-9
11.6. Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif .......................... 11-10
11.7. Proteksi dengan Rintangan ........................................ 11-11
11.8. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung ..................... 11-11
11.9. J enis Sistem Distribusi ................................................ 11-12
11.10. Sistem Pembumian TN ............................................... 11-13
11.11. Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN ........ 11-14
11.12. Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ................ 11-15
11.13. Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT ......... 11-17
11.14. Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT .......... 11-18
11.15. Proteksi dengan Isolasi Ganda ................................... 11-19
11.16. Proteksi lokasi tidak Konduktif .................................... 11-20
11.17. Proteksi pemisahan Sirkit Listrik ................................. 11-21
11.18. Pengukuran Tahanan Pembumian ............................. 11-22
11.19. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ....... 11-23
11.20. Pengujian Sistem Pembumian TN .............................. 11-24
11.21. Pengukuran Tahanan Pembumian dengan
Voltmeter dan Ampermeter ......................................... 11-24
11.22. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB ...... 11-25
11.23. Rangkuman ................................................................ 11-25
11.24. Soal-soal ..................................................................... 11-27









Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-2
11.1. Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Pernah tersengat aliran listrik PLN
220V ? jika ya pasti sangat
mengagetkan. Bahkan beberapa kasus
tersengat listrik bisa berakibat pada
kematian. Mengapa tegangan listrik 12
Volt pada akumulator tidak menyengat
dan membahaykan manusia ? Tubuh
manusia memiliki batas aman dialiiri
listrik, beberapa penelitian menyebutkan
sampai dengan arus listrik 50mA adalah
batas aman bagi manusia.

J antung sebagai organ tubuh yang
paling rentan terhadap pengaruh arus
listrik, ada empat batasan gambar-11.1.
Daerah 1 (0,1 sd 0,5mA) jantung tidak
terpengaruh sama sekali bahkan dalam
jangka waktu lama. Daerah 2 (0,5 sd 10
mA) jantung bereaksi dan rasa
kesemutan muncul dipermukaan kulit.
Diatas 10mA sampai 200mA jantung
tahan sampai jangka waktu maksimal 2
detik saja. Daerah 3 (200 sd 500mA)
J antung merasakan sengatan kuat dan
terasa sakit, jika melewati 0,5 detik
masuk daerah bahaya. Daerah 4 (diatas
500mA) jantung akan rusak dan secara
permanen dapat merusak sistem
peredaran darah bahkan berakibat
kematian.

Model terjadinya aliran ketubuh manusia
gambar-11.2, sumber listrik AC
mengalirkan arus ke tubuh manusia
sebesar Ik, melewati tahanan sentuh
tangan R
ut
, tubuh manusia R
k
i dan
tahanan pijakan kaki R
u2
. Tahanan tubuh
manusia rata-rata 1000, arus yang
aman tubuh manusia maksimum 50mA,
maka besarnya tegangan sentuh adalah
sebesar :

U
B
= R
k
. I
k
= 1000 x 50 mA = 50 V.

Gambar 11.1 : Grafik bahaya arus
listrik
Gambar 11.2 : Aliran
listrik sentuhan langsung
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-3
Terjawab mengapa tegangan Akumulator 12V tidak menyengat saat dipegang
terminal positip dan terminal negatifnya, karena tubuh manusia baru
merasakan pengaruh tegangan listrik diatas 50V. Faktor yang berpengaruh
ada dua, yaitu besarnya arus mengalir ketubuh dan lama waktunya menyentuh.

Tubuh manusia rata-rata memiliki tahanan
R
k
sebesar 1000 = 1k, tangan
menyentuh tegangan PLN 220V gambar-
11.3, arus yang mengalir ketubuh
besarnya :

I
k
= U/R
k
=220V/1000 = 220mA

Arus I
k
sebesar 200mA dalam hitungan
milidetik tidak membahayakan jantung,
tetapi diatas 0,2 detik sudah berakibat
fatal bisa melukai bahkan bisa mematikan.

Tegangan sentuh bisa terjadi dengan dua
cara, cara pertama tangan orang
menyentuh langsung kawat beraliran listrik
gambar-11.4a. Cara kedua tegangan
sentuh tidak langsung, ketika terjadi
kerusakan isolasi pada peralatan listrik dan
orang menyentuh peralatan listrik tersebut
yang bersangkutan akan terkena bahaya
tegangan sentuh gambar-11.4b.
Kerusakan isolasi bisa terjadi pada belitan
kawat pada motor listrik, generator atau
transformator. Isolasi yang rusak harus
diganti karena termasuk kategori
kerusakan permanen.

Bahaya listrik akibat tegangan sentuh
langsung dan tidak langsung, keduanya
sama berbahayanya. Tetapi dengan
tindakan pengamanan yang baik, akibat
tegangan sentuh yang berbahaya dapat
diminimalkan. Kawat sebaiknya berisolasi
sehingga bila tersentuh tidak membahaya-
kan, peralatan listrik dipasang pentanahan
yang baik, sehingga ketika terjadi arus
bocor akan disalurkan ke tanah dan tidak
membahayakan manusia.



Gambar 11.3 : Tahanan
tubuh manusia
Gambar 11.4a : Tegangan
sentuh langsung
Gambar 11.4b : Tegangan
sentuh tidak langsung
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-4
11.2. Kode International Protection


Gambar 11.5 : Simbol pengamanan pada nameplate

Peralatan listrik pada name plate tertera simbol yang berhubungan dengan
tindakan pengamanan gambar-11.5. Klas I memberikan keterangan bahwa
badan alat harus dihubungkan dengan pentanahan. Klas II menunjukkan alat
dirancang dengan isolasi ganda dan aman dari tegangan sentuh. Klas III
peralatan listrik yang menggunakan tegangan rendah yang aman, contoh
mainan anak-anak.

Motor listrik bahkan dirancang oleh
pabriknya dengan kemampuan tahan
terhadap siraman langsung air gambar-
11.6. Motor listrik jenis ini tepat digunakan
di luar bangunan tanpa alat pelindung dan
tetap bekerja normal dan tidak
berpengaruh pada kinerjanya. Name plate
motor dengan IP 54, yang menyatakan
proteksi atas masuknya debu dan tahan
masuknya air dari arah vertikal maupun
horizontal.

Ada motor listrik dengan proteksi
ketahanan masuknya air dari arah vertikal
saja gambar-11.7a, sehingga cairan arah
dari samping tidak terlindungi. Tapi juga
ada yang memiliki proteksi secara
menyeluruh dari segala arah cairan
gambar-11.7b. Perbedaan rancangan ini
harus diketahui oleh teknisi karena ber-
pengaruh pada ketahanan dan umur teknik
motor, disamping harganya juga berbeda.
Gambar 11.6 : Motor listrik tahan
dari siraman air
Gambar 11.7 : Motor listrik tahan
siraman air vertikal dan segala
arah
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-5

Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi
yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang
berbahaya, dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Contoh IP X1
artinya angka X menyatakan tidak persyaratan proteksi dari masuknya benda
asing padat. Angka 1 menyatakan proteksi tetesan air vertikal. Contoh IP 5X,
angka 5 proteksi masuknya debu, angka X tidak ada proteksi masuknya air
dengan efek merusak. Tabel 11.1. merupakan contoh simbol Indek proteksi
alat listrik yang dinyatakan dengan gambar.

Tabel 11.1. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik
Digit kesatu : Digit kedua : Digit ketiga :
Proteksi terhadap benda padat Proteksi terhadap zat cair Proteksi terhadap benturan
mekanis
IP Test IP Test IP Test
0
Tanpa
proteksi
0
Tanpa
proteksi
0
Tanpa
proteksi
1



Proteksi
terhadap
benda padat
lebih besar
50 mm
(contoh,
kontak
dengan
tangan)
1



Proteksi
terhadap air
yang jatuh
ke bawah /
vertikal
(kondurasi)
1

Proteksi
terhadap
benturan
dengan
energi
0,225 joule
2


Proteksi
terhadap
benda padat
lebih besar
12 mm
(contoh jari
tangan)
2



Proteksi
terhadap air
sampai
dengan 15
o

dari vertikal
2

Proteksi
terhadap
benturan
dengan
energi
0,375 joule
3



Proteksi
terhadap
benda padat
lebih besar
2,5 mm
(contoh
penghantar
kabel)
3


Proteksi
terhadap
jatuhnya
hujan
sampai 60
o

dari vertical
3

Proteksi
terhadap
benturan
dengan
energi 0,5
joule
4



Proteksi
terhadap
benda padat
lebih besar 1
mm (contoh
alat kabel
kecil)
4


Proteksi
terhadap
semprotan
air dari
segala arah
5

Proteksi
terhadap
benturan
dengan
energi 2
joule
5



Proteksi
terhadap
debu (tidak
ada
lepisan/enda
pan yang
membahaya
kan)
5


Proteksi
terhadap
semprotan
air yang
kuat dari
segala arah
7

Proteksi
terhadap
benturan
dengan
energi 6
joule
Proteksi 6 Proteksi 9 Proteksi
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-6
Digit kesatu : Digit kedua : Digit ketiga :
Proteksi terhadap benda padat Proteksi terhadap zat cair Proteksi terhadap benturan
mekanis
IP Test IP Test IP Test
6


terhadap
debu secara
keseluruhan

terhadap
semprotan
air
bertekanan
berat
terhadap
benturan
dengan
energi 20
joule




7


Proteksi
terhadap
pengaruh
dari
pencelupan







8 ..m
Proteksi
terhadap
pengaruh
dari
pencelupan
di bawah
tekanan




Tabel 11.2. Kode IP XX
Angka pertama X, proteksi
masuknya benda asing padat
Angka kedua X, proteksi air
0 Tanpa proteksi 0 tanpa proteksi
1 diameter 50 mm 1 tetesan air vertikal
2 diameter 12,5 mm 2 tetesan air miring 15
0

3 diameter 2,5 mm 3 semprotan butir air halus
4 diameter 1,0 mm 4 semprotan butir air lebih besar
5 debu 5 pancaran air
6 kedap debu 6 pancaran air yang kuat
7 perendaman sementara
8 perendaman kontinyu

Tindakan pengamanan dalam pekerjaan
sangat penting bagi setiap teknisi yang
bekerja dengan tegangan kerja diatas 50V.
Seorang teknisi menggunakan sarung tangan
karet khusus dan helm dengan pelindung
mata gambar-11.8 melakukan perbaikan
dalam kondisi bertegangan. Bahkan teknisi
tersebut harus memiliki sertifikat kompetensi
khusus, karena kesalahan sedikit saja akan
berakibat fatal bagi keselamatan jiwanya.
Pekerjaan perbaikan instalasi listrik
disarankan tegangan listrik harus dimatikan
dan diberikan keterangan sedang dilakukan
perbaikan.



Gambar 11.8 : Pelindung
tangan dan mata
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-7
11.3. Jenis Gangguan Listrik

Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak
diinginkan dan mengganggu kerja alat listrik.
Akibat gangguan, peralatan listrik tidak
berfungsi dan sangat merugikan. Bahkan
gangguan yang luas dapat mengganggu
keseluruhan kerja sistem produksi dan akan
merugikan perusahaan sekaligus pelanggan.
J enis gangguan listrik terjadi karena berbagai
penyebab, salah satunya kerusakan isolasi
kabel gambar-11.9a.

Pertama gangguan hubungsingkat antar
phasa L1-L2-L3. Kedua gangguan hubung-
singkat Pemutus Daya. Ketiga gangguan
hubung singkat antar phasa setelah pemutus
daya. Keempat hubungsingkat phasa dengan
tanah. Kelima kerusakan isolasi belitan stator
motor, sebagai akibatnya terjadi tegangan
sentuh jika badan alat dipegang orang.

Sistem listrik 3 phasa tegangan rendah
digambarkan dengan belitan trafo sekunder
dalam hubungan bintang tegangan 400/230V
gambar-11.9b. Titik netral sekunder trafo
dihubungkan ke tanah dengan tahanan
pentanahan R
B
. J ala-jala dengan 3 kawat
phasa L1-L2-L3 dan satu kawat netral N untuk
melayani beban 3 phasa dan beban 1 phasa.

Sebuah lampu mengalami gangguan, terdapat
dua tegangan yang berbeda. Aliran listrik dari
L3 menuju lampu dan menuju kawat netral N.
Tegangan sentuh U
B
yang dirasakan oleh
orang dan tegangan gangguan U
F
. Dalam
kasus ini tegangan U
B
= tegangan U
F
, jika
besarnya > 50V membahayakan orangnya.
Meskipun kran air yang disentuh orang tsb
dihubungkan tanah R
A
, tegangan sentuh yang
dirasakan orang bisa membahayakan.






Gambar 11.9b :
Gangguan listrik dari
beban lampu
Gambar 11.9a : Gangguan
listrik dibeberapa titik
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-8
Tabel 11.3. Tegangan Sentuh yang
aman
Orang dewasa AC 50V, DC 120V
Anak-anak
Hewan peliharaan
Binatang ditaman
AC 25V, DC 60V

Gangguan listrik bisa terjadi pada tiang
saluran distribusi ke pelanggan, dari tiga
kawat phasa salah satu kawat phasa
putus dan terhubung ke tanah gambar-
11.10. Idealnya ketika terjadi kawat
phasa menyentuh tanah, maka peng-
aman listrik berupa fuse atau relay di
gardu distribusi terdekat putus sehingga
tidak terjadi tegangan gangguan tanah.
Dari titik gangguan ke tanah akan terjadi tegangan gangguan yang terbesar
dan semakin mengecil sampai radius 20 meter. Ketika orang mendekati titik
gangguan akan merasakan tegangan langkah US makin besar, dan ketika
menjauhi titik gangguan tegangan langkah akan mengecil.

11.4. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan



Keamanan Vs
Sentuhan langsung
dan tidak langsung
keamanan vs arus
kejut listrik dibawah
kondisi normal,
(keamanan vs
sentuhan langsung
atau keamanan dasar)
keamanan vs arus kejut
listrik kondisi gangguan/
tidak normal
(perlindungan terhadap
sentuhan langsung atau
kegagalan perlindungan)
tindakan proteksi
dengan :
tegangan ekstra
rendah (SELV)
tegangan ekstra
rendah dengan
pemutusan yang
aman
tindakan proteksi
dengan :
isolasi bagian
aktif
perlindungan /
bungkus isolasi
buat penghalang
buat jarak aman
tindakan proteksi
dengan :
pengamanan
otomatis melalui:
sistem TN
sistem TT
sistem IT
penyama
potensial
isolasi proteksi
ruang bebas
penghantar
pemutus
keamanan pembatasan beban pengamanan
tambahan dengan :
gawai pengaman
arus sisa (GPAS)
Gambar 11.10: Tegangan
langkah akibat gangguan ke
tanah
Gambar 11.11: Peta Tindakan Pengamanan
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-9
11.5. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah

Tegangan ekstra rendah AC 50V dan
DC 120V aman jika tersentuh langsung
manusia gambar-11.12. Untuk
menurunkan tegangan dipakai
transformator penurun tegangan 230V/
50V, dilengkapi dengan selungkup
pengaman isolasi ganda. Atau
menggunakan transformator 230/120 V
yang disearahkan dengan diode bridge
sehingga diperoleh tegangan DC 120V.
Sirkit SELV (safety extra low voltage)
tidak boleh dikebumikan, sedangkan
untuk PELV (protective extra low
voltage) bisa dilakukan pembumian.

Untuk menjamin sistem SELV dan
PELV bekerja baik, dirancang stop
kontak dengan desain khusus SELV
dan PELV gambar-11.13.
Stop kontak SELV memiliki dua lubang
kontak yang tidak bisa dipertukarkan.
Stop kontak PELV memiliki tiga lubang
kontak, satunya berfungsi sebagai
sambungan ke penghantar PE
(protective earth).

Tindakan pengamanan bisa dilakukan
dengan menggunakan transformator
pemisah atau motor-generator.
Tegangan primer dan sekunder
tranformator pemisah besarnya sama,
yaitu 230V gambar-11.14. Selungkup
pengaman dihubungkan ke penghantar
PE (Protective Earth = pengaman
ketanah). Dengan pemisahan secara
elektrik, terjadi proteksi bila terjadi
kegagalan isolasi dalam peralatan listrik
tersebut.







Gambar 11.12 : Pengamanan
dengan tegangan rendah
Gambar 11.13 : Stop
kontak khusus untuk
tegangan rendah
Gambar 11.14 : Pengaman
dengan trafo pemisah
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-10
11.6. Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif

Peralatan listrik dirancang dan diberikan
perlindungan selungkup dari bahan
isolasi gambar-11.15. Tujuannya
menghindarkan tegangan sentuh tangan
manusia dengan bagian aktif yang
bertegangan. Proteksi ini cukup baik
selama selungkup bahan isolasi berfungsi
semestinya, bagian aktif seluruhnya
tertutup oleh isolasi yang hanya dapat
dilepas dengan merusaknya. Meskipun
ada kegagalan isolasi, dipastikan arus
kejut I
K
terhalang oleh bahan isolasi dan
arus kejutnya nol. Bahan isolasi harus
tahan oleh pengaruh tekanan mekanik,
bahan kimia, listrik dan pengaruh thermal.

Kabel diberikan perlindungan selubung
luar dan bahan isolasi yang memberikan
perlindungan elektrik antar kawat gambar-
11.16. Selubung luar kabel terbuat dari
bahan thermoplastik, karet, yute.
Fungsinya sebagai pelindung mekanis
pada waktu pemasangan. Bahan isolasi
kabel dari PVC dan karet dirancang
mampu menahan tegangan kerja antar
penghantar aktif. J ika salah satu kabel
terluka maka akan terlindungi dari
kemungkinan hubungsingkat antara dua
kabel aktifnya.

Perlindungan pada stop kontak portable
juga dirancang dengan kriteria tertentu,
misalnya dengan kode IP 2X, IP 4X, IP
XXB atau IP XXD gambar-11.17. Angka 2
menyatakan proteksi benda asing padat
ukuran 12,5 mm, sedang angka 4
menyatakan proteksi benda asing padat
ukuran 1,0mm. Angka X menyatakan tidak
ada proteksi terhadap tetesan air. Kode
huruf B adalah proteksi terhadap jari
tangan manusia dan huruf D menyatakan
proteksi terhadap masuknya kawat.



Gambar 11.15 : Pengamanan
dengan selungkup isolasi
Gambar 11.17 : Perlindungan
pengaman stop kontak
Gambar 11.16 : Kabel
berisolasi thermoplastik
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-11
11.7. Proteksi dengan Rintangan

Ruang gardu dan panel listrik merupakan
ruang yang memiliki tingkat bahaya listrik
yang tinggi. Hanya teknisi listrik yang
berpengalaman yang boleh berada ditempat
tersebut untuk keperluan pelayanan dan
perbaikan saja. Diperlukan rintangan beru-
pa pagar besi yang dilengkapi dengan kunci
sehingga orang yang tidak berkepentingan
bisa bebas keluar masuk ruangan gambar-
11.18. Maksud dari rintangan adalah untuk
mencegah sentuhan tidak disengaja dengan
bagian aktif, tetapi tidak mencegah sentuh-
an disengaja dengan cara menghindari rin-
tangan secara sengaja. Rintangan diberikan
tanda-tanda bahaya listrik dengan warna
merah menyolok sehingga mudah dikenali
dan memberi peringatan secara jelas.

Bentangan kawat saluran udara telanjang di
atas atap rumah harus diperhatikan jarak
minimal dengan atap rumah sebesar 2,5
meter dan jarak dari cerobong 0,4 meter
gambar-11.19. J arak ini cukup aman jika
orang berdiri dan jangkauan tangan tidak
akan menyentuh kawat listrik secara lang-
sung. Tiang antena dari logam yang berdiri
tegak harus dijauhkan dari jalur saluran ka-
wat telanjang, untuk menghindarkan saat
tiupan angin cukup kencang akan saling
menyentuh dan membahayakan. Penangkal
petir juga cukup jauh dari saluran kawat
udara telanjang.


11.8. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung

Sentuhan tidak langsung adalah
sentuhan pada BKT (bagian konduktif
terbuka) peralatan atau instalasi listrik
yang menjadi bertegangan akibat
kegagalan isolasi. Sumber listrik 3
phasa dengan 5 kawat (L1, L2, L3, N
dan PE) gambar-11.20. BKT saat
normal tidak bertegangan dan aman
Gambar 11.18 : Pengamanan
dengan rintangan
Gambar 11.19 : Jarak
aman bentangan kabel
udara
Gambar 11.20 : Pengamanan
sentuhan tidak langsung
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-12
disentuh. Ketiga isolasi gagal, aliran listrik gangguan dikembalikan ke kawat PE,
sehingga orang terhindar arus kejut meskipun menyentuh bagian BKT.


11.9. Jenis Sistem Distribusi

Secara komersial sistem distribusi listrik banyak menggunakan listrik AC tiga
phasa dan satu phasa. Distribusi tegangan DC dipakai untuk keperluan khusus
seperti saluran listrik atas Kereta Rel Listrik dengan tegangan 1500V di wilayah
J abotabek. Sistem penghantar distribusi dikenal dua yaitu jenis sistem
penghantar aktif dan jenis pembumian sistem. J enis penghantar aktif AC
menurut PUIL 2000: 45 dikenal beberapa jenis, meliputi phase tunggal 2 kawat,
phasa tunggal 3 kawat, phase dua 3 kawat, phase dua 5 kawat, phase tiga 3
kawat dan phase tiga dengan 4 kawat.

J enis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga
sistem, yaitu TN, TT dan IT.

Tabel 11.4. Jenis Pembumian Sistem
Contohnya sistem TN-C
T Huruf pertama menyatakan hubungan sistem tenaga listrik ke
bumi,
T =hubungan langsung ke bumi
I =satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi.

N Huruf kedua menyatakan hubungan BKT instalasi ke bumi.
T = hubungan listrik langsung BKT ke bumi, tidak tergantung
pembumian setiap titik tenaga listrik,
N = hubungan listrik langsung BKT ketitik yang dikebumikan dari
sistem tenaga listrik, yang dikebumikan titik netral.

C Huruf berikutnya, menyatakan susunan penghantar netral (N)
dan penghantar proteksi (PE).
S = fungsi proteksi yang diberikan oleh penghantar yang terpisah
dari netral atau dari saluran yang dikebumikan
C = fungsi netral atau fungsi proteksi tergabung dalam
penghantar tunggal (PEN).
Keterangan :
Notasi T (terre, prancis) langsung, I (isolate) mengisolasi
N (netral), S (separate) memisahkan, C (common) bersamaan






Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-13
11.10. Sistem Pembumian TN

Sistem TN mempunyai satu titik
yang dikebumikan langsung pada
titik bintang sekunder trafo, dan
BKT instalasi dihubungkan ke titik
tersebut oleh penghantar proteksi
(PEN). Ada tiga jenis sistem TN
sesuai dengan susunan penghantar
netral (N) dan penghantar proteksi
(PE).
1


Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem
gambar-11.21a. Titik netral dibumikan di R
B.



Sistem TN-C-S fungsi
penghantar netral (N) dan
penghantar proteksi (PE)
digabungkan dalam penghantar
tunggal, di sebagian sistem
gambar-11.21b. Titik netral
sistem dibumukan dengan nilai
tahanan R
B
.


TN-C fungsi penghantar netral
(N) dan penghantar proteksi
(PE) tergabung dalam
penghantar tunggal PEN
diseluruh sistem gambar-11.21c.
Titik netral sistem dibumikan
dengan nilai tahanan R
B
.



Sistem pembumian TT mempunyai
satu titik yang dibumikan langsung
(R
B
). BKT dihubungkan ke elektrode
bumi secara listrik terpisah R
A
dari
elektrode bumi sistem gambar-
11.22.



1
PUIL 2000, hal 45
Gambar 11.21b : Sistem Pembumian
TN-C-S
Gambar 11.21c : Sistem
pembumian TN-C
Gambar 11.22 : Sistem
Pembumian TT
Gambar 11.21a : Sistem
Pembumian TN-S
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-14
Sistem pembumian IT semua bagian
aktif yang diisolasi dari bumi, atau
satu titik dihubungkan ke bumi
melalui suatu impedansi R
B
. BKT
instalasi listrik dibumikan secara
independen atau secara kolektif atau
pembumian sistem R
A
gambar-11.23.




11.11. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TN

Sistem pembumian TN-C-S penghantar
netral (N) dan penghantar proteksi (PE)
digabungkan dalam penghantar tunggal,
disebagian sistem. Beban tiga phasa
terjadi gangguan isolasi pada belitan
phasa-1 gambar-11.24.

Alternatif-1 :
J alannya arus saat terjadi gangguan
adalah : Arus dari trafo ->L1 ->belitan
phasa-1 ->badan alat->kawat PE ->
netral trafo.


Alternatif-2 :
Kawat PEN dekat trafo putus, arus dari trafo ->L1 ->belitan phasa-1 ->badan
alat ->kawat PE --->terminal penyama potensial ->pembumian R
A
->tanah ->
pembumian R
B
->netral trafo.

Perbandingan tahanan RB dan RE :

V U
V
R
R
O E
B
50
50



R
B
Tahanan pembumian trafo
R
E
Tahanan pembumian potensial
50V Tegangan sentuh aman manusia
Uo Tegangan phasa-netral

Kondisi normal tegangan phasa ke netral L1-N = L2-N = L3-N = 230 V
hubungan bintang dengan titik netral dibumikan di R
B
gambar-11.25. Sehingga
tegangan phasa ke phasa L1-L2 =L2-L3 =L3-L1 =400 V. Ketika terjadi
gangguan phasa L1-PE, drop tegangan di R
B
=50 V. Sehingga titik netral PEN
Gambar 11.23 : Sistem
Pembumian IT
Gambar 11.24 : Sistem pembumian
TN-C-S digabung kawat PE
Gambar 11.25 : Beda tegangan
titik netral akibat gangguan ke
tanah
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-15
bergeser sebesar =50V, besarnya tegangan phasa L1-N menjadi 180 V (230V-
50V). Tegangan phasa L2-N =L3-N menjadi 259V (metode geometris).

Tabel 11.5. Waktu pemutusan maksimum sistem TN
Tegangan
U
Waktu pemutusan
detik
AC 230 V 0,4
AC 400 V 0,2
AC 400 V 0,1
Waktu pemutusan konvensional maksimum 5 detik


Tabel 11.6. Penampang penghantar sistem TN
TN-C
Penampang penghantar PEN tidak boleh kurang
10mm
2
tembaga atau 16 mm
2
aluminium
TN-S
Penghantar PE terpisah dari penghantar netral <
10 mm
2
tembaga atau <16mm
2
aluminium. tetapi
tidak boleh kurang dari penghantar phasenya


11.12. Pengaman Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB)

GPAS
3
atau ELCB (Earth Leakage
Circuit Breaker) adalah pemutus
yang peka terhadap arus sisa,
yang dapat memutuskan sirkit
termasuk penghantar netralnya
secara otomatis dalam waktu
tertentu gambar-11.26. Apabila
arus sisa yang timbul karena
terjadi kegagalan isolasi melebihi
nilai tertentu, sehingga
tercegahlah bertahannya tegangan
sentuh yang terlalu tinggi. ELCB
sangat dianjurkan pada sistem TT.
Untuk sistem TN-S dan TN-C berikut sistem IT tidak boleh dipasang ELCB.

Desain fisik ELCB dengan satu phasa, dengan kawat phasa dan netral diputus
bersamaan dengan arus bocor 50mA gambar-11.27. Dilengkapi dengan
tombol reset, jika ditekan tombol reset maka ELCB akan bekerja memutus
rangkaian OFF. ELCB harus di ON kan kembali dengan menaikkan tombol ON
ke atas. Untuk pemakaian daya besar dipilih arus sisa dengan rating lebih
besar dari 30 mA, misalkan 300 mA atau 500 mA.
Gambar 11.26 : Prinsip
kerja ELCB
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-16
Pemasangan ELCB pada sistem TT
dilakukan dengan cara penghantar protektif
PE memiliki rel atau terminal tersendiri,
terminal PE dibumikan tersendiri R
A
gambar-
11.28. Suplay tiga phasa L1-L2-L3 dan N
disambungkan langsung ke terminal ELCB.

Cara ini bisa melayani beban satu phasa,
beban motor tiga phasa dan tersedia
melayani stop kontak. J ika salah satu beban
terjadi kegagalan isolasi, maka pada kawat
netral mengalir arus bocor. J ika besarnya
arus bocor memenuhi syarat maka akan
mengaktifkan sistem mekanik elektromag-
netik, dan ELCB akan OFF secara otomatis.

Tabel 11.7. Kemampuan ELCB
pada tegangan 230V
Arus bocor (mA) Daya (Watt)
30 6,9
300 69
500 115
Rating arus beban
10
2.300
Rating arus beban
16
3.680


Kini tersedia ELCB dalam bentuk portabel
yang dipasangkan pada stop kontak, dan
diujung lainnya terhubung ke stop kontak
menuju beban gambar-11.29. Persyaratan
bisa bekerja dengan baik penghantar PE
tersambung dengan baik ke bumi. Bebannya
satu phasa berupa peralatan kerja yang
mudah dipindah-pindahkan seperti mesin bor
tangan, mesin gergaji listrik. Perhatikan daya
beban harus sesuai dengan rating ELCB.







Gambar 11.27 : Fisik ELCB
Gambar 11.28 : Pemasangan
ELCB untuk pengamanan
kelompok beban
Gambar 11.29 : ELCB
portabel
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-17
Sistem TN yang dilengkapi dengan
ELCB dapat dilakukan dengan
penghantar netral (N) dan penghantar
protektif (PE) terpisah. Badan alat
dihubungkan dengan penghantar PE.
Penghantar netral dan protektif
disatukan pada titik sumber dihubungkan
ke bumi di R
B
gambar-11.30. Ketika
terjadi kegagalan isolasi, arus bocor
akan mengaktifkan ELCB dan tegangan
sentuh yang besar tidak akan terjadi.


11.13. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TT

Sistem TT dalam PUIL 2000
disebut sistem Pembumian
Pengaman (sistem PP), dilakukan
dengan cara membumikan titik
netral di sumbernya R
B
, BKT
dibumikan dengan penghantar
protektif secara terpisah R
A

gambar-11.31. Saat terjadi
gangguan phasa L1 arus
gangguan dari kawat PE mengalir
lewat R
A
, kemudian arus mengalir
menuju R
B
dan kembali ke netral
trafo.

Sistem pembumian TT yang
dipasang ELCB pada beban satu
phasa dan beban tiga phasa,
pembumian dua beban disatukan
dengan kawat PE dikebumikan di
R
A
. Saat terjadi gangguan arus
gangguan mengalir ke kawat PE ke
pembumian RA lewat tanah
menuju ke R
B
dan ke netral trafo
gambar-11.32.

Besarnya tahanan pembumian R
A
:


N
L
A
I
U
R




Gambar 11.30 : ELCB pada
pembumian TN
Gambar 11.31 : Pengukuran tahanan
pembumian sistem TT
Gambar 11.32 : ELCB pada sistem TT
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-18
R
A
Tahanan pembumian penghantar PE
I
n
Arus bocor ELCB

Contoh: Tegangan jala-jala 230 V diketahui tahanan saat hubung singkat 5,
diketahui tahanan pembumian PE sebesar 2. Hitunglah besarnya arus
gangguan dan besarnya tegangan sentuh.

J awaban :


A
O
K
R
U
I
=
5
230V
=46 A

U
B
=I
K
. R
A
=46A x 2 =92 V

Dengan melihat karakteristik ELCB dipilih rating 16A.

Tabel 11.8. Tahanan Pembumian R
A
pada Sistem TT
Arus sisa ELCB
Tahanan RA dalam
UL =50 V UL =25 V
0,01 A 5.000 2500
0,03 A 1.665 832
0,3 A 165 82
0,5 A 100 50


11.14. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian IT

Sistem pembumian IT, instalasi harus
diisolasi dari bumi atau dihubungkan
ke bumi melalui suatu impedansi
yang cukup tinggi R
B
gambar-11.33.
Titik netral buatan dapat dihubungkan
secara langsung ke bumi jika
impedansi urutan nol yang dihasilkan
cukup tinggi. J ika tidak ada titik netral
maka penghantar phasa dapat
dihubungkan ke bumi melalui suatu
impedansi. BKT harus dibumikan
secara individual, dalam kelompok
atau secara kolektif ke pipa besi atau
komponen logam yang terhubung
langsung ke tanah.




Gambar 11.33 : Pengukuran
tahanan pembumian sistem IT
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-19
Besarnya impedansi Z sebesar :

Z
Ia
U
. 2



Zs Impedansi pembumian
U Tegangan phasa-netral
Ia Arus gangguan (sistem TN )

Menghitung besarnya tahanan pembumian langsung R
A
:

R
A
. Id U
L


R
A
Tahanan pembumian langsung
Id Arus gangguan sisa
U
L
Tegangan sentuh (50 V)

Tabel 11.9. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT
Tegangan nominal
instalasi Uo
Netral tidak
terdistribusi (detik)
Netral terdistribusi
(detik)
230/400 V 0,4 0,8
400/690 V 0,2 0,4
580/1000 V 0,1 0,2


11.15. Proteksi dengan Isolasi Ganda

Untuk memberikan pengamanan yang
baik beberapa alat listrik dirancang
dengan isolasi ganda, simbol isolasi
ganda gambar-11.34. Alat dengan
isolasi ganda tidak memerlukan sistem
pentanahan. J ika terjadi kegagalan
isolasi, isolasi tambahan akan menahan
arus kejut sehingga tetap aman bagi
pemakai alat.

Dalam isolasi ganda ada dua jenis
isolasi, bagian aktif diisolasi dengan
isolasi dasar, bagian luarnya diberikan
isolasi kedua yang menjamin tidak akan
terjadi tegangan sentuh gambar-11.35.
Isolasi tambahan ini diperkuat dengan
sekrup dari bahan isolasi, tidak boleh
mengganti sekrup logam yang memiliki
sifat menghantarkan listrik.
Gambar 11.35 : Isolasi ganda
pada peralatan listrik
Gambar 11.34 : Simbol
pengamanan isolasi ganda
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-20
Mesin bor tangan merupakan alat
listrik dengan pelindung isolasi
ganda gambar-11.36. Seluruh
bagian aktif berupa motor listrik dan
sistem penggerak roda gigi dari
logam dibungkus rapat dengan
bahan isolasi. Bagian luar ditutup
oleh isolasi lapisan kedua untuk
menjamin tidak ada bagian konduktif
yang bersinggungan dengan tangan,
jika terjadi kegagalan isolasi pada
motor listriknya. Antara motor dan
mekanik bor menggunakan poros
bahan isolasi, sehingga meskipun
mata bor dipegang dijamin tidak ada
arus kejut mengalir ke tubuh
manusia. Bahkan tombol tekan
motor juga terbungkus bahan isolasi
secara rapat.


11.16. Proteksi Lokasi tidak Konduktif

PUIL 2000 :57 mengatur juga
bahwa isolasi bisa diberikan pada
suatu ruangan yang disebut deng-
an proteksi lokasi tidak konduktif
gambar-11.37. J arak dinding
dengan kondukstif minimal 1,25 m,
dan tinggi lantai terhadap langit-
langit minimal 2,5 m sehingga cu-
kup bebas orang berdiri tanpa me-
nyentuh langit-langit tersebut. Dan
jarak antara dua peralatan harus
lebih besar dari 2,5 m. Resistansi
lantai dan dinding pada setiap titik
pengukuran besarnya 50 K jika
tegangan nominal isolasi tidak me-
lebihi 500V atau 100 K jika te-
gangan nominal isolasi melebihi 500 V.







Gambar 11.36 : Mesin bor
dengan isolasi ganda
Gambar 11.37 : Jarak aman
pengamanan ruang kerja
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-21
11.17. Proteksi Pemisahan Sirkit Listrik

Tindakan pengamanan dengan cara
pemisahan sirkit listrik antara
pemasok dengan sirkit beban dengan
transformator pemisah gambar-
11.38. Pemisahan sirkit listrik bisa
dengan trafo pemisah atau motor-
generator. Bila sirkit beban terjadi
kegagalan isolasi, secara elektrik
terpisah dengan sirkit sumber sehing-
ga tegangan sentuh terhindarkan.

Beberapa alat bisa dipasok dari
sekunder trafo pemisah, badan alat
sisi sekunder trafo pemisah bisa
digabungkan sebagai pengganti
penghantar protektif PE gambar-
11.39. Bagian aktif dari sirkit yang
dipisahkan tidak boleh dihubungkan
pada setiap titik ke sirkit lainnya atau
ke bumi. J ika terjadi kegagalan
isolasi pada sirkit sekunder trafo
pemisah maka akan terjadi hubung
singkat, sehingga sistem pengaman-
an pemisah tidak berfungsi.



Gambar 11.40 : Pengamanan pada peralatan listrik



Gambar 11.38 : Pengamanan
dengan pemisahan sirkit listrik
Gambar 11.39 : Trafo pemisah
melayani dua stop kontak
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-22
11.18. Pengukuran Tahanan Pembumian


Gambar 11.41 : Pengukuran pembumian dengan megger

Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana
dengan menggunakan alat ukur Megger gambar-11.41.
Selama pengukuran sumber tegangan harus dimatikan semua, semua saklar
menuju ke beban dan penghantar aktif ke stop kontak harus diputuskan.
Dengan menggunakan Megger maka hasil pengukuran mendekati sesuai tabel
dibawah.

Pengukuran R
Tahanan pembumian sistem <1
Tahanan terminal potensial <0,1
Tahanan pembumian tegangan tinggi <3

Instalasi tegangan rendah adalah
instlasi listrik yang diberikan
tegangan dibawah 500V gambar-
11.42. Tahanan isolasi suatu
instalasi merupakan salah satu
unsur yang menentukan kualitas
instalasi tersebut, sebab fungsi
utama isolasi sebagai sarana
proteksi dasar. Langkah pertama
sumber tegangan harus dimatikan
dan semua jalur instalsi bebas
tegangan. Megger dioperasikan
dan mengukur setiap titik-titik
yang diperlukan.

Gambar 11.42 : Pengukuran
tahanan isolasi
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-23
Sebagai contoh rumah tinggal disuplay listrik PLN dilakukan pengukuran isolasi
dengan menggunakan Megger, maka hasil yang dicapai harus lebih besar dari
yang tertera pada Tabel di bawah.

Tabel 11.10. Nilai resistansi isolasi minimum
Tegangan sirkit nominal
Tegangan uji arus
searah (V)
Resistansi isolasi
(M)
Tegangan ekstar rendah (SELV,
PELV dan FELV) yang memenuhi
persyaratan
250 0,25
Sampai dgn tegangan 500 V, dgn
pengecualian hal tsb diatas
500 0,5
Diatas 500 V 1000 1,0


11.19. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding

PUIL 2000 hal.91 menyatakan
untuk melakukan pengukuran
tahanan isolasi lantai dapat
digunakan metoda pengukuran
Ampermeter dan Voltmeter.
Sebuah pelat logam bujur
sangkar berukuran 250 mm x
250 mm dan kertas atau kain
penyerap air basah berukuran
270 mm x 270 mm, ditemptkan
antara pelat logam dan
permukaan lantai yang akan
diuji gambar-11.43.

Beban sebesar 750 N (sekitar 75 kg, lantai) atau 250 N (25 kg, untuk dinding)
dipasang diatas pelat logam tersebut selama pengukuran berlangsung. Agar
rata letakkan sebatang kayu diatas permukaan logam.

Besarnya tahanan isolasi lantai adalah :

Z
X

I
U
X



Z
X
Impedansi lantai/ dinding
U
X
Tegangan terukur voltmeter
I
X
Arus terukur ampermeter



Gambar 11.43 : Pengukuran
tahanan isolasi lantai/dinding
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-24
11.20. Pengujian Sistem Pembumian TN

Dalam sistem TN dilakukan dengan cara semua BKT peralatan dan instalasi
dibumikan dengan melalui penghantar proteksi PE. J ika terjadi kegagalan
isolasi, mengalir arus gangguan yang akan memutuskan secara otomatis alat
pengaman fuse, MCB, ELCB sehingga tegangan sentuh yang berbahaya tidak
terjadi.

J ika terjadi gangguan hubung pendek
pada suatu lokasi dalam instalasi,
antara penghantar phase dengan
penghantar proteksi PE gambar-11.44,
maka dengan segera terjadi
pemutusan rangkaian dengan waktu
pemutusan yang cepat sesuai tabel di
bawah.

Tabel 11.11. Waktu pemutusan maksimum sistem TN
J ika terjadi gangguan
hubung pendek antara
penghantar phasa dengan
penghantar proteksi PE
Tegangan Uo (Volt) Waktu pemutusan
230 V 0,4 detik
400 V 0,2 detik
>400 V 0,1 detik
Waktu pemutusan konvensional yang tidak dilampaui 5 detik diijinkan untuk
sirkit distribusi
*) PUIL 2000 hal 66


11.21. Pengukuran Tahanan Pembumian

Tahanan pembumian yang akan
diukur dihubungkan dengan tegangan
phasa L, melalui pengaman arus lebih,
ampermeter, tahanan geser bernilai
antara 20 sampai 1000 . Sebuah
Voltmeter yang memiliki tahanan
dalam Ri 40 K, dan sebuah
elektrode bantu yang ditanam dengan
jarak lebih dari 20 m dari elektrode
pembumian R
A.
gambar-11.45.

Posisikan tahanan geser pada resistansi maksimum (1000 ), geser perlahan-
lahan sampai terbaca tegangan V dan penunjukan arus A. Besarnya tahanan
pembumian R
A
sebesar :


E
E
A
I
U
R

a
L
A
I
U
R

n
L
A
I
U
R


Gambar 11.44 : Pengujian sistem
pembumian TN
Gambar 11.45 : Pengukuran
tahanan pembumian
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-25


R
A
Tahanan pembumian
U
E
Tegangan phasa-netral
I
E
, Arus
Ia, I
n
Arus gangguan
U
L
Tegangan sentuh


11.22. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB

Motor induksi 3 phasa dilengkapi
dengan proteksi ELCB akan
diukur dengan menggunakan
Ampermeter dan Voltmeter untuk
menguji besarnya arus sisa yang
mengakibatkan ELCB bekerja
gambar-11.46.

Tegangan phasa dari L3 melalui
tahanan geser bernilai 10k dan
Ampermeter, sebuah Voltmeter
memiliki Tahanan dalam minimal
3 K dan sebuah elektrode
bantu yang dibumikan dengan
jarak lebih besar 20 m dari lokasi
motor.

Tahanan geser pada posisi
maksimum, saklar di-ON-kan,
lakukan pengaturan sampai ter-
baca Ampermeter dan Voltmeter
menunjukkan skala 50V. Pada saat itu ELCB harus OFF, artinya arus sisa yang
melewati tahanan geser mengerjakan alat ELCB dengan baik.

11.23. Rangkuman

Penelitian arus listrik 50 mA adalah batas aman bagi manusia.

Tahanan tubuh manusia rata-rata 1.000 , arus aman tubuh manusia
50mA, maka besarnya tegangan sentuh aman 50 Volt.

Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat
proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian
yang berbahaya, dari masuknya benda asing padat dan masuknya air.


Gambar 11.46 : Pengukuran tahanan
bumi ELCB
Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-26
Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus
dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.

Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak diinginkan dan
mengganggu kerja alat listrik.

J enis gangguan listrik terjadi karena kerusakan isolasi kabel.
1. Pertama gangguan hubung singkat antar phasa L1-L2-L3.
2. Kedua gangguan hubung- singkat Pemutus Daya.
3. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus
daya.
4. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah.
5. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor, sebagai akibatnya
terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang.

J enis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal
tiga sistem, yaitu TN, TT dan IT.

Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem
gambar-11.21a. Titik netral dibumikan di R
B.

Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi
(PE) digabungkan dalam penghantar tunggal,

TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE)
tergabung dalam penghantar tunggal PEN

Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung
(R
B
).

Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar
proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal,

ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka
terhadap arus sisa, yang dapat memutuskan sirkit termasuk
penghantar netralnya secara otomatis

Sistem pembumian IT, instalasi harus diisolasi dari bumi atau
dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi R
B


Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi, bagian aktif diisolasi dengan
isolasi dasar, bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin
tidak akan terjadi tegangan sentuh.

Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara
pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah

Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara
sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger

Pengukuran tahanan isolasi lantai dapat digunakan metoda
pengukuran Ampermeter dan Voltmeter.


Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
11-27
11.24. Soal-soal

1. J elaskan pentingnya sistem pengamanan dalam instalasi listrik.

2. Dikenal bahaya tegangan sentuh langsung dan tidak langsung, jelaskan
kedua istilah tersebut dan berikan contohnya.

3. Ketika tersengat listrik ada orang yang terkaget-kaget, ada yang pingsan
dan bahkan ada korban jiwa. J elaskan mengapa terjadi hal demikian.

4. Mengapa tegangan 50V dianggap aman bagi tubuh manusia, jelaskan.

5. Bodi motor listrik sebaiknya diketanahkan, jelaskan mengapa hal tersebut
dilakukan.

6. Trafo pemisah dapat menjadi alat pengamanan, jelaskan mengapa hal
tersebut bisa terjadi.

7. Gambarkan skematik pengukuran tahanan pembumian instalasi rumah
tinggal. J elaskan prosedur dan urutannya dengan benar.


BAB 12
TEKNIK PENGATURAN OTOMATIS
Daftar Isi :
12.1. Pengertian sistem Pengaturan ................................... 12-2
12.2. Diagram Blok Sistem Kontrol ...................................... 12-5
12.3. Perilaku Sistem Kontrol .............................................. 12-10
12.4. Tipe Kontroler ............................................................. 12-17
12.5. Kontroler Dua Posisi ................................................... 12-17
12.6. Kontroler Tiga Posisi .................................................. 12-18
12.7. Kontroler Proporsional (P) .......................................... 12-20
12.8. Kontroler Integral (I) .................................................... 12-22
12.9. Kontroler Proporsional Integral (PI) ............................ 12-23
12.10. Kontroler Derivatif (D) ................................................. 12-23
12.11. Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ......................... 12-24
12.12. Kontroler PID .............................................................. 12-25
12.13. Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ................... 12-26
12.14. Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu ............ 12-27
12.15. Optimisasi Kontroler ................................................... 12-27
12.16. Elektropneumatik ........................................................ 12-28
12.17. Komponen Elektro Pneumatik .................................... 12-29
12.18. Rangkaian Dasar ........................................................ 12-35
12.19. Rangkuman ................................................................ 12-36
12.20. Soal-soal .................................................................... 12-37
Teknik Pengaturan Otomatis
12-2
12.1. Pengertian Sistem Pengaturan
Pengertian kontrol atau pengaturan adalah proses atau upaya untuk mencapai
tujuan. Sebagai contoh sederhana dan akrab dengan aktivitas sehari-hari dari
konsep kontrol atau pengaturan adalah saat mengendarai kendaraan. Tujuan
yang diinginkan dari proses tersebut adalah berjalannya kendaraan pada
lintasan (track) yang diinginkan. Ada beberapa komponen yang terlibat di
dalamnya, misalnya pedal gas, speedometer, mesin (penggerak), rem, dan
pengendara.
Sistem kontrol berkendaraan berarti kombinasi dari komponen-komponen
tersebut yang menghasilkan berjalannya kendaraan pada lintasan yang
diinginkan. Ketika jalan lengang dan aturan memperbolehkan, pengendara
mempercepat laju kendaraan dengan membuka pedal gas. Demikian pula, jika
ada kendaraan lain di depan atau lampu penyeberangan berwarna merah
maka pengendara menginjak rem dan menurunkan kecepatannya. Semua
upaya itu dilakukan untuk mempertahankan kendaraan pada lintasan yang
diinginkan.
Misalnya kita ingin mengatur agar tegangan yang dihasilkan oleh Generator
arus searah bernilai konstan, seperti pada gambar 12.1.
Gambar 12.1 Pengaturan manual tegangan pada Generator
Dalam sistem tersebut, karena tegangan keluaran U diinginkan tetap maka
arus keluaran I berubah sesuai dengan nilai beban. Arus keluaran dihasilkan
oleh kecepatan putar rotor pada Generator yang dibangkitkan oleh arus eksitasi
I
e
. Dengan berubah-ubahnya arus I maka arus eksitasi I
e
juga harus berubah
mengikuti nilai arus I tersebut. Perubahan arus eksitasi dilakukan secara
manual. Besar arus eksitasi disesuaikan dengan kebutuhan untuk
menghasilkan arus keluaran I oleh Generator. Karena pengaturan ini dilakukan
secara manual, seorang operator harus terus-menerus melihat besar arus
keluaran yang diinginkan untuk disesuaikan dengan besar arus eksitasi yang
Teknik Pengaturan Otomatis
12-3
diperlukan. Dalam istilah teknik kontrol, tegangan U disebut variabel yang
dikontrol x, arus eksitasi disebut variabel buatan (manipulated variable) y, dan
arus beban I disebut variabel gangguan (disturbance variable) z. Tegangan
konstan yang diinginkan dalam pengaturan ini disebut variabel acuan
(referensi). Dalam bentuk diagram blok, sistem kontrol digambarkan pada
gambar 12.2. Dalam diagram blok tersebut, plant menghasilkan variabel yang
dikontrol serta kontroler menghasilkan variabel termanipulasi.
Gambar 12.2 Diagram blok sistem kontrol
Contoh lain dapat disebutkan berupa proses memindahkan barang oleh tangan
kita. Pada proses tersebut, tujuannya adalah posisi atau letak barang yang
diinginkan. Komponennya berupa tangan (dalam hal ini tentunya dengan otot
tangan), mata, dan otak sebagai pengontrol. Pada saat tangan bergerak untuk
memindahkan barang, mata akan menangkap informasi tentang posisi pada
saat itu. Informasi tersebut diproses oleh otak untuk disimpulkan apakah
posisinya sudah benar atau tidak. Selanjutnya, apabila posisinya masih belum
tercapai maka otak akan memerintahkan otot tangan untuk bergerak
memindahkan barang ke posisi yang diinginkan. Proses pengaturan suhu tubuh
adalah juga contoh dari sistem kontrol. Tujuannya adalah menjaga suhu tubuh
agar berjalan normal. Secara umum dapat dikatakan semua proses yang terjadi
di alam pada hakikatnya adalah sebuah sistem kontrol.
Dalam teknik kontrol dipelajari tentang pengaturan sistem agar menghasilkan
keluaran yang diinginkan. Komponen utama sistem kontrol terdiri atas objek
yang dikontrol (disebut plant), variabel (besaran) yang dikontrol, dan aktuator.
Tabel 12.1 memperlihatkan contoh sistem kontrol dengan komponen-
komponennya. Misalnya plant berupa motor listrik, maka variabel yang dikontrol
adalah kecepatan dan aktuatornya adalah kontaktor.
Teknik Pengaturan Otomatis
12-4
Tabel 12.1. Contoh komponen sistem kontrol
Plant Variabel yang dikontrol Aktuator
Motor listrik
Generator
Pengatur suhu ruangan
Kecepatan putar
Tegangan
suhu
Kontaktor
Transistor
Thyristor
Tabel 12.2 memperlihatkan istilah teknis dalam sistem kontrol serta simbol
formalnya.
Tabel 12.2. Istilah penting dalam sistem kontrol
Istilah Simbol Contoh
Variabel yang dikontrol
Variabel acuan
Variabel termanipulasi
Selisih (error)
Variabel gangguan
x
w
y
e
z
Tegangan
Tegangan acuan
Arus eksitasi
Selisih tegangan
Arus beban
Selain secara manual, pengaturan tegangan pada Generator bisa dilakukan
secara otomatis dengan menggunakan Thyristor, seperti diperlihatkan pada
gambar 12.3.
Gambar 12.3 Pengaturan tegangan secara otomatis
Teknik Pengaturan Otomatis
12-5
Dalam pengaturan secara otomatis, peranan operator diganti oleh peralatan
atau komponen yang secara otomatis bekerja sesuai dengan fungsi operator.
Pada gambar 12.3, peranan operator diganti oleh gabungan antara sensor
tegangan (berupa trafo tegangan) dan Thyristor sebagai aktuator penghasil
arus eksitasi yang mengatur kecepatan putar rotor dalam Generator.
Dalam sistem tersebut, setiap harga tegangan yang dihasilkan oleh Generator
ditangkap oleh trafo tegangan untuk dibandingkan dengan tegangan acuan
(referensi). Selisih tegangan ini menjadi input pemicu (trigger) Thyristor yang
menentukan nilai arus eksitasi dan output tegangan yang selanjutnya
mempengaruhi Generator untuk menghasilkan tegangan output yang
diinginkan.
Prinsip pengaturannya adalah sebagai berikut : apabila tegangan output lebih
rendah dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi
sehingga tegangan output Generator naik mendekati harga tegangan
acuannya, sebaliknya jika tegangan output lebih tinggi dari tegangan acuan
maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output
Generator turun mendekati harga tegangan acuannya.
12.2. Diagram Blok Sistem Kontrol
Ada dua bentuk umum sistem kontrol yaitu :
a. Sistem Kontrol Lingkar-terbuka (Open-Loop Control System).
b. Sistem Kontrol Lingkar-tertutup (Closed-Loop Control System) atau
sistem kontrol dengan umpan balik (Feedback Control System).
Sistem kontrol yang pertama sering disebut pengaturan secara manual,
sedangkan yang kedua disebut kontrol otomatis. Seperti diperlihatkan pada
gambar 12.2, untuk memudahkan melihat proses pengaturan yang
berlangsung dalam sistem kontrol, dibuat diagram blok yang menggambarkan
aliran informasi dan komponen yang terlibat dalam sistem kontrol tersebut.
Gambar kotak mewakili tiap komponen dalam sistem kontrol, sedangkan aliran
informasi diperlihatkan dengan garis dengan tanda anak panah di salah satu
ujungnya yang menandakan arah informasi atau data dalam proses pengaturan
tersebut. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka (SKL-buka) diperlihatkan
dalamgambar 12.4.
kontroler aktuator plant
masukan
acuan
keluaran
Gambar 12.4 Diagram blok sistem kontrol open-loop
Teknik Pengaturan Otomatis
12-6
Sedangkan diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup diperlihatkan dalam
gambar 12.5.
Dalam sistem kontrol lingkar tertutup, nilai keluaran berpengaruh langsung
terhadap aksi pengaturan. Sinyal selisih (error) yaitu perbedaan antara
masukan acuan dan sinyal umpan balik diberikan kepada kontroler sedemikian
sehingga dalam prosesnya memperkecil selisih dan menghasilkan keluaran
sistem pada harga atau kondisi yang diinginkan. Sistem kontrol lingkar tertutup
dalam kenyataannya selalu merujuk kepada sistem yang menggunakan umpan
balik untuk mengurangi error sistem.
Sistem kontrol lingkar-terbuka adalah sistem yang keluarannya tidak
berpengaruh terhadap aksi pengaturan. Dengan kata lain, dalam sistem ini
keluarannya tidak diukur ataupun diumpanbalikkan untuk dibandingkan dengan
masukan. Contoh praktis sistem ini adalah mesin cuci. Perendaman,
pencucian, dan penyabunan dalam mesin cuci beroperasi berdasarkan waktu
yang ditentukan oleh pengguna. Mesin tidak mengukur kondisi sinyal keluaran
berupa kebersihan pakaian. Dalam sistem tersebut, keluaran tidak
dibandingkan dengan masukan acuan, sehingga masukan acuan berhubungan
dengan kondisi operasi (operating condition) yang tetap. Akibatnya ketelitian
sistem sangat bergantung kepada kalibrasi. Dalam hal adanya gangguan,
sistem kontrol lingkar-terbuka tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan.
Sistem kontrol ini dapat digunakan dalam praktek hanya jika hubungan antara
masukan dan keluaran diketahui dan tidak ada gangguan.
Keuntungan dari sistem kontrol lingkar-tertutup terlihat dari penggunaan umpan
balik yang membuat respon sistem tidak terlalu peka (sensitif) terhadap
gangguan luar ataupun perubahan nilai-nilai komponen dalam sistem. Hal
tersebut memungkinkan penggunaan komponen yang tidak akurat dan murah
untuk mewujudkan pengendalian yang akurat untuk suatu plant. Dari sisi
kestabilan, sistem kontrol lingkar-terbuka relatif lebih mudah dibuat karena
kestabilan sistem bukan masalah utama. Di lain pihak, kestabilan menjadi
masalah besar dalam sistem kontrol lingkar-tertutup karena penanganan error
yang berlebihan bisa menyebabkan osilasi. Sistem kontrol ini bermanfaat
kontroler aktuator plant
keluaran
komparator
umpan
balik
Gambar 12.5 Diagram blok sistem kontrol closed-loop
masukan
acuan
Teknik Pengaturan Otomatis
12-7
apabila ada gangguan yang bersifat sukar ditentukan atau diramalkan, tetapi
biasanya sistem kontrol lingkar tertutup juga memerlukan daya dan biaya yang
relatif lebih besar dibandingkan dengan sistem kontrol lingkar-terbuka yang
bersesuaian.
Dewasa ini dengan kemajuan teknologi dalam bidang elektronika dan
komputer, hampir seluruh sistem dikendalikan secara elektronis dan
terkomputerisasi. Peran manusia menjadi hanya sebagai operator. Dalam
merealisasikan sistem yang dikendalikan dengan komputer maka penambahan
komponen pengubah dari sinyal analog ke digital dan sebaliknya mutlak
diperlukan untuk menjamin keberlangsungan proses dalam sistem tersebut
Contoh 1: Pemanasan air
Perhatikan diagram skematik sistem pemanasan air pada gambar 12.6.
Skema tersebut memperlihatkan sistem pengaturan yang bertujuan untuk
memperoleh air panas dengan suhu tertentu. Air yang akan dipanaskan
disimpan dalam tangki air (PLANT). Mekanisme pemanasan air dilakukan
dengan mengalirkan uap panas ke dalam saluran uap panas yang selanjutnya
uap panas ini akan memanaskan air dingin yang masuk ke dalam tangki.
Seorang operator (KONTROLER) bertugas untuk mengatur aksi buka tutup
katup (AKTUATOR) pada saluran uap panas.
Algoritma kontrolnya adalah apabila suhu air panas kurang dari yang diinginkan
maka buka katup saluran uap, sebaliknya jika suhu air panas lebih dari yang
diinginkan maka tutup katup saluran uap. Sebuah termometer (SENSOR)
digunakan untuk mendeteksi besar suhu air panas yang dihasilkan. Sistem
kontrol tersebut dapat gambar 12.7 melalui diagram blok berikut
tangki air
katup
saluran uap panas
saluran air dingin
saluran air panas
pembuangan uap panas
pengukur suhu
(termometer)
Gambar 12.6 Sistem Pemanasan Air
Teknik Pengaturan Otomatis
12-8
Meskipun ada sensor berupa termometer pada sistem ini, kita tidak dapat
mengatakan sistem ini sebagai SKL-tutup, karena data suhu tidak diproses
langsung oleh sistem tetapi diproses melalui operator. Dengan kata lain,
intervensi operator menyebabkan berlangsungnya proses dalam sistem.
Apabila diinginkan menjadi sistem kontrol lingkar tertutup, maka fungsi operator
harus diambil alih oleh peralatan elektronika pemroses keputusan (misalnya
komputer atau mikrokontroler) serta rangkaian penggerak (driver) pemutar
buka tutup katup. Selain itu sensor elektronis juga menjadi kebutuhan untuk
menjamin tersedianya informasi keluaran yang terus-menerus. Bentuk diagram
blok sistem kontrol lingkar tertutup untuk sistem pemanasan air ini diperlihatkan
pada gambar 12.8
Contoh 2. Pengaturan tinggi permukaan air
Gambar 12.9 secara skematik memperlihatkan pengaturan tinggi permukaan
air. Dalam sistem ini, yang ingin diatur adalah tinggi permukaan air dalam
tangki (PLANT). Seorang operator (KONTROLER) bertugas membuka tutup
kran air (AKTUATOR) untuk menjaga tinggi permukaan air yang tetap.
Algoritma kontrolnya adalah buka kran air apabila tinggi permukaan air turun
dan tutup kran air apabila tinggi permukaan air lebih dari yang diinginkan.
kontroler
motor listrik
+driver
tangki
air
suhu air
panas
sebenarnya
komparator
sensor suhu
(transduser)
suhu air
panas yang
diinginkan
mikrokontroler atau komputer
Gambar 12.8 Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis
kontroler
(operator)
aktuator
(katup +tangan
operator)
plant
(tangki air)
suhu air panas
yang diinginkan
suhu air panas
sebenarnya
Gambar 12.7 Diagram blok sistem pemanasan air
Teknik Pengaturan Otomatis
12-9
Disini yang berfungsi sebagai sensor adalah mata sang operator yang selalu
melihat tinggi permukaan air.
Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka untuk sistem ini dapat digambarkan
dalam bentuk berikut
Contoh 3. Mobile Robot
Mobile robot secara sederhana didefinisikan