Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN
Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di dalam laboratorium,
industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian, dan peperangan yang
memakai bahan kimia di abad modern1.Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada
mata dapat dibedakan dalam

bentuk : trauma asam dan trauma basa atau alkali. Tingkat

keparahan cedera kimia berhubungan langsung dengan volume, pH, durasi pajanan, dan derajat
penetrasi dari zat kimia.Bahan asam akan segera mengadakan presipitasi dan koagulasi dengan
protein jaringan kemudian nekrosis. Biasanya hanya terbatas konjungtiva atau lapisan kornea
yang superfisial1.
Bahan basa atau alkali dapat menembus kornea masuk ke dalam kamera okuli anterior
terus sampai ke retina dalam waktu yang singkat. Bahan alkali bersifat koagulasi sel-sel dan
terjadi proses saponifikasi, dehidrasi serta eksfoliasi. Akibat daya penetrasi tinggi dari bahan
alkali, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih dalam dan lebih banyak, dan setelah sembuh akan
meninggalkan komplikasi seperti simblefaron, kekeruhan kornea yang menetap, penutupan
saluran air mata yang menetap1. Dibanding bahan asam, maka trauma oleh bahan alkali cepat
dapat merusak dan menembus kornea1,.
Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera.Irigasi daerah yang terkena
merupakan tindakan yang segera harus dilakukan karena dapat memberikan penyulit yang lebih
berat.Prognosis tegantung pada sejauh mana bahan kimia itu menembus sampai ke dalam mata3.
Umumnya berhubungan juga dengan beratnya trauma kimia pada mata dan struktur adneksa
yang muncul3,4.

BAB II
TRAUMA KIMIA
1.1 EPIDEMIOLOGI
Lebih dari 60% dari trauma kimia terjadi dalam kecelakaan kerja, 30% di rumah, dan
10% akibat kekerasan4. Sebanyak 20% trauma kimia secara signifikan mengakibatkan cacat
visual dan kosmetik.Hanya 15% dari pasien dengan trauma kimia berat yang mencapai perbaikan
visual yang fungsional. Secara global, predileksi ras tidak bisa dipastikan, akan tetapi pria muda
berkulit hitam lebih cenderung berpotensi tinggi. Pria 3 kali lebih cenderung mengalami trauma
kimia daripada wanita10. Trauma kima dapat menyerang setiap umur, akan tetapi, trauma paling
banyak terjadi pada pasien berusia 16 45 tahun4,10.

1.2 ETIOLOGI
Pengaruh bahan kimia sangat bergantung pada pH, kecepatan dan jumlah bahan kimia
yang diserap, dan hebatnya ruda paksa pada jaringan mata sendiri.Banyak bahan kimia yang
digunakan di rumah-rumah dan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan trauma kimia.
1. Bahan Asam
Umumnya asam menyebabkan cedera (trauma) ocular termasuk asam sulfat, asam
hidroklorik, asam nitrat, asam asetat, asam khromik, dan asam hidrofluorat.Ledakan accu
mobil, yang menyebabkan luka bakar (cedera) asam sulfat, mungkin merupakan asam
yang paling sering mencederai mata.Asam hidrofluorat dapat ditemukan pada pembersih
karat di rumah, pengkilat alumunium, dan petugas pembersihan.Industri tertentu yang
menggunakan asam hidrofluorat untuk membersihkan batu bata, pengikisan kaca,
electropolishing, tanning kulit.Asam hidrofluorat juga digunakan untuk fermentasi
control di pabrik.Toksisitas hidrofluorat okuler dapat terjadi dari paparan gas dan cairan.3

2. Bahan Kimia Basa

Zat alkali pada umumnya mengandung ammonium hidroksida, potasium hidroksida,


sodium

hidroksida,

kalsium

hidroksida,

dan

magnesium

hidroksida.Zat

yang
2

mengandung seperti senyawa tersebut dan dapat ditemukan di rumah seperti larutan
alkali, semen, kapur, dan ammonia.Semprotan balon udara dengan sodium hidroklorida
pada pemompaan dan mungkin dapat menyebabkan keratitis alkali. Selain itu, bunga api
dan percikan api mengandung magnesium hidroksida dan fosfor3,.
1.3 PATOFISIOLOGI
Trauma kimia pada mata adalah trauma yang mengenai bola mata baik diakibatkan oleh
zat asam (zat dengan pH < 7) ataupun basa (zat dengan pH > 7) yang dapat menyebabkan
kerusakan struktur bola mata tersebut.Tingkat keparahan trauma dikaitkan dengan volume, pH ,
lama pajanan, dan derajat penetrasi dari za kimia10.Mekanisme cedera antara asam dan basa
sedikit berbeda4,7.
Trauma Asam
Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam
kornea.Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH, sementara anion
merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan koagulasi. Koagulasi protein umumnya
mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam, dan menyebabkan tampilan ground glass
dari stroma korneal yang mengikuti trauma akibat asam. Sehingga trauma pada mata yang
disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh
zat kimia basa4.
Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan presipitasi
dengan jaringan protein disekitarnya, karena adanya daya buffer dari jaringan terhadap bahan
asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya cenderung terlokalisir. Bahan asam
yang mengenai kornea juga mengadakan presipitasi sehingga terjadi koagulasi, kadang-kadang
seluruh epitel kornea terlepas.Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan proteoglikan di
kornea. Bila trauma diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan trauma basa.2
Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel kornea
yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila konsentrasi tidak tinggi maka tidak
akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Biasanya kerusakan hanya pada bagian superfisial

saja.Koagulasi protein ini terbatas pada daerah kontak bahan asam dengan jaringan. Koagulasi
protein ini dapat mengenai jaringan yang lebih dalam.2,5
Asam hidrofluorik adalah satu pengecualian. Asam lemah ini secara cepat melewati
membran sel, seperti alkali.Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel, dan memungkinkan
menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium dan magnesium membentuk
insoluble complexes.Nyeri lokal yang ekstrim bisa terjadi sebagai hasil dari immobilisasi ion
kalsium, yang berujung pada stimulasi saraf dengan pemindahan ion potassium.Fluorinosis akut
bisa terjadi ketika ion fluoride memasuki sistem sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala
pada jantung, pernafasan, gastrointestinal, dan neurologic3.
Bahan kimia asam

Asam cenderung berikatan dengan protein

Menyebabkan koagulasi protein plasma

Koagulasi protein ini, sebagai barrier yang membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut

Luka hanya terbatas pada permukaan luar saja.

Asam masuk ke bilik mata depan menimbulkan iritis dan katarak.

Gangguan persepsi penglihatan

Trauma Basa (Alkali)


Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa
memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk penetrasi sel
membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina.Trauma basa akan memberikan
iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata,
trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera
okuli anterior sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa
akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan
terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi.5
Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH
yang tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasi disertai dengan disosiasi asam lemak
membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut zat
alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel
kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat
edema kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan
sel ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru atau neovaskularisasi.
Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel
epitel yang baru terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui
plasminogen aktivator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga
kolagenase yang akan merusak kolagen kornea. 5
Selain itu gangguan penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan
dapat terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan
puncaknya terdapat pada hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu
setelah trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau
vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata
depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan berubah,
yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan
penting dalam pembentukan jaringan kornea.5

Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan menambah bertambah
kerusakan kolagen kornea. Alkali yang menembus ke dalam bola mata akan merusak retina
sehingga akan berakhir dengan kebutaan penderita1.
Bahan kimia alkali

Pecah atau rusaknya sel jaringan dan Persabunan disertai disosiasi asam lemak membran sel
penetrasi lebih lanjut

Mukopolisakarida jaringan menghilang & terjadi penggumpalan sel kornea

Serat kolagen kornea akan membengkak & kornea akan mati

Edema terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma, cenderung disertai masuknya
pemb.darah (Neovaskularisasi)

Dilepaskan plasminogen aktivator & kolagenase (merusak kolagen kornea)

Terjadi gangguan penyembuhan epitel

Berkelanjutan menjadi ulkus kornea atau perforasi ke lapisan yang lebih dalam, merusak retina

Kebutaan

1.4 DIAGNOSIS
Diagnosis pada trauma mata dapat ditegakkan melalui gejala klinis, anamnesis dan pemeriksaan
fisik dan penunjang. Namun hal ini tidaklah mutlak dilakukan dikarenakan trauma kimia pada
mata merupakan kasus gawat darurat sehingga hanya diperlukan anamnesa singkat.6
Anamnesis.
Pada anamnesis sering sekali pasien menceritakan telah tersiram cairan atau tersemprot
gas pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Perlu diketahui apa persisnya zat
kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan
dengan kecepatan tinggi) serta kapan terjadinya trauma tersebut.6
Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi.
Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba tiba.Nyeri,
lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Dan harus dicurigai adanya
benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi akibat
ledakan.3,6,7

Gejala Klinis.
Terdapat gejala klinis utama yang muncul pada trauma kimia yaitu, epifora,
blefarospasme, dan nyeri berat.Trauma akibat bahan yang bersifat asam biasanya dapat segera
terjadi penurunan penglihatan akibat nekrosis superfisial kornea.Sedangkan pada trauma basa,
kehilangan penglihatan sering bermanifestasi beberapa hari sesudah kejadian. Namun sebenarnya
kerusakan yang terjadi pada trauma basa lebih berat dibanding trauma asam.(6)
Terlepas dari mekanisme tertentu cedera, keluhan pasien sering berhubungan dengan
tingkat keparahan paparan. Menimbulkan keluhan umum adalah sebagai berikut :

Nyeri

Terasa mengganjal (seperti ada benda asing )

Penglihatan kabur

Fotopobia

Mata merah

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena zat kimia sudah
terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral.Obat anestesi topikal atau lokal
sangat membantu agar pasien tenang, lebih nyaman dan kooperatif sebelum dilakukan
pemeriksaan. Setelah dilakukan irigasi, pemeriksaan dilakukan dengan perhatian khusus untuk
memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea, derajat iskemik limbus, tekanan intra okular,
konjungtivalisasi pada kornea, neovaskularisasi, peradangan kronik dan defek epitel yang
menetap dan berulang.6

Ground glass appearance

Kekeruhan kornea

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dalam kasus trauma kimia mata adalah pemeriksaan pH bola
mata secara berkala dengan kertas lakmus.Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH
normal. Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit lamp bertujuan untuk mengetahui
lokasi luka dan perluasan dari trauma kimia 10. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga
dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengetahui
tekanan intraokular.6

Kertas Lakmus untuk mengukur Ph


8

Slit Lamp

Ophtalmoskopi

Tonometri Schiotz

1.5 KLASIFIKASI
Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat dibedakan dalam :1
1. Derajat 1

: Hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata

2. Derajat 2

: Hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel kornea

3. Derajat 3

: Hiperemi disertai dengan nekrosis konjuntiva dan lepasnya epitel


kornea

4. Derajat 4

: Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%

Gambar Klasifikasi Trauma Kimia, (a) derajat 1, (b) derajat 2, (c) derajat 3, (d) derajat 4
1.6 PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan trauma kimia pada mata adalah memperbaiki penglihatan, mencegah
terjadinya infeksi, mempertahankan arsitektur mata , mencegah sekuele jangka panjang(7.3).
Trauma Asam
Irigasi jaringan yang terkena secepat mungkin setelah terpajan cairan kimia, dilakukan
selama mungkin untuk meyakinkan cairan yang mengakibatkan trauma benar benar bersih dari
mata. Irigasi dapat dilakukan denan menggunakan garam fisiologis atau air selama 15 30
menit. Trauma asam pada dasarnya akan kembali normal , namun jika perlu dapat diberikan
anastesi topikal, penetralisir natrium bikarbonat 3% dan antibiotika.

10

Trauma Basa
Secepat mungkin setelah terpajan, dilakukan irigasi selama 15 30 menit dengan air atau
larutan fisiologis agar bahan yang dapat menyebabkan trauma benar benar larut dan
farmakologi dasar seperti pada trauma asam. Penatalaksanaan lanjutan berdasarkan pemeriksaan
lanjutan. Untuk mengetahui telah terjadinya netralisasi basa dapat dilakukan pemeriksaan dengan
kertas lakmus . pH normal air mata 7,3 (7,8) .
EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma alkali diperlukan untuk menetralisir
kolagenase yang terbentuk pada hari ke 71.
Tatalaksana Emergensi.5

1.Irigasi

Merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan
kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus dilakukan sesegera
mungkin.Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata
selama 15-30 menit samapi pH mata menjadi normal (7,3).Pada trauma basa hendaknya
dilakukan irigasi lebih lama, paling sedikit 2000 ml dalam 30 menit. Makin lama makin baik.Jika
perlu dapat diberikan anastesi topikal, larutan natrium bikarbonat 3%, dan antibiotik. Irigasi
dalam waktu yang lama lebih baik menggunakan irigasi dengan kontak lensa (lensa yang
terhubung dengan sebuah kanul untuk mengirigasi mata dengan aliran yang konstan.

2. Double eversi pada kelopak mata

Dilakukan untuk memindahkan material yang terdapat pada bola mata.Selain itu tindakan
ini dapat menghindarkan terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi,
dan konjungtiva forniks.
3. Debridemen

Pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi re-epitelisasi
pada kornea.Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian obat-obatan
11

seperti steroid topikal, sikloplegik, dan antibiotik profilaksis selama 7 hari. Sedangkan pada
trauma kimia berat, pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengurangi inflamasi, membantu
regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus kornea.

Gambar Tatalaksana Trauma Kimia


12

4. Medikamentosa
Trauma kimia ringan dapat diterapi dengan pemberian obat obatan seperti steroid
topikal , siklopegik, dan antibiotika profilaksis selama 7 hari. Sedangkan pada trauma kimia
berat, pemberian obat obatan bertujuan untuk mengurangi inflamasi, membantu regenerai epitrl
dan mencegah terjadinya ulkus kornea9.

Steroid

Mediator inflamasi dilepaskan pada saat cedera yang menyebabkan nekrosis jaringan dan
mengikat reaktan inflamasi lebih lanjut. Respon inflamasi yang kuat tidak hanya menghambat
repitelisasi tetapi juga meningkatkan resiko ulserasi dan perforasi kornea. Steroid topikal
digunakan untuk mengurangi inflamasi dan menstabilkan leukosit PMN, sitoplasma dan
membran lisosom setelah epitel kornea telah sembuh10.Beberapa dokter tidak mau menggunakan
kortikosteroid karena dapat menggangu perbaikan luka stroma

dengan merusak keratocyte

migrasi ke daerah trauma dan mencegah sintesis kolagen1 .Namun, fase perbaikan biasanya
puncaknya 10 14 hari setelah terjadinya trauma kimia10. Dengan demikian, kunci keberhasilan
penggunaan kortikosteroid adalah untuk memaksimalkan proses antiinflamasi10.Lalu dilakukan
tappering off dan akhirnya menghentikan pemberian untuk mencegah penipisan kornea 10.

Untuk itu steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari.
Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED diberikan setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat
diberikan Prednisolon IV 50-200 mg.

Sikloplegik

Bertujuan mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia posterior.Atropin 1% ED


atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.

13

Asam askorbat

Asam Askorbat memerankan peranan penting dalam remodellin kolagen, yang


menyebabkan penigkatan dalam penyembuhan kornea.10 Natrium askorbat 10% topikal diberikan
setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gr.

Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor

Bertujuan untuk menurunkan tekanan intra okular dan mengurangi resiko terjadinya
glaukoma sekunder.Diberikan secara oral asetazolamid (diamox) 500 mg.

Antibiotik profilaksis

Bertujuan untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis.Tetrasiklin efektif untuk


menghambat kolagenase, menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan
ulkus.Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg).

Artificial tears

Setelah pemicu kimia telah sepenuhnya dihapus, penyembuhan epitel bisa dimulai. Mata
terluka kimia cenderung memiliki kecenderungan untuk kurang menghasilkan air mata yang
,memadai, sehingga air mata buatan tambahan memaikan peran penting dalan penyembuhan4.
Pembedahan.3,5
Pembedahan Segera:

sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi limbus,

mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks. Prosedur berikut
dapat digunakan untuk pembedahan:

Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan


vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea.

14

Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dar donor
(allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal.

Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis

Pembedahan Lanjut: pada tahap lanjut dapat menggunakan metode berikut:

Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan simblefaron.

Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva.

Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata.

Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal ini untuk
memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi.

Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan hasil
dari graft konvensional sangat buruk.

1.7 KOMPLIKASI
Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis
trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada mata antara
lain:
1. Simblefaron, adalah gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus, sehingga kornea
dan penglihatan terganggu.

15

2. Kornea keruh, edema, neovaskuler

3. Sindroma mata kering


4. Katarak traumatik, trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak.
Komponen basa yang mengenai mata menyebabkan peningkatan pHcairan akuos dan
menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahanlahan. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka jarang terjadi
katarak traumatik.
5. Glaukoma sudut tertutup
6. Entropion dan phthisis bulbi

Ptisis Bulbi.
16

1.8 PROGNOSIS
Prognosis trauma kimia pada mata sangat ditentukan oleh bahan penyebab trauma
tersebut.Derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva merupakan salah satu
indikator keparahan trauma dan prognosis penyembuhan.Iskemik yang paling luas pada
pembuluh darah limbus dan konjungtiva memberikan prognosa yang buruk.Bentuk paling berat
pada trauma kimia ditunjukkan dengan gambaran cooked fish eye dimana prognosisnya adalah
yang paling buruk, dapat terjadi kebutaan.

Dapat ditentukan dengan banyak system klasifikasi, contohnya klasifikasi Hughes:


Ringan

Prognosis baik

Terdapat erosi epitel kornea

Kekeruhan yang ringan pada kornea

Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva

Sedang

Prognosis baik

Kornea keruh, sehingga sukar melihat iris dan pupil secara terperinci

Terdapat nekrosis dan iskemi ringan pada konjungtiva dan kornea

Berat

Prognosis buruk

Akibat kekeruhan kornea, pupil tidak dapat dilihat

Konjungtiva dan sklera pucat

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidharta. Trauma Kimia. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga, Jakarta : Balai Penerbit
FKUI. 2009; h 271 273.
2. American College of Emergency Phycisians. Management of Ocular Complaints.
Diunduh tanggal 18 Maret 2014 dari http://www.acep.org/content.aspx?id=26712
3. Weaver, C. N. M., Rosen, C. L., Burns, Ocular ., eMedicine Journal. 2012.
4. Randleman, J.B., Bansal, A. S., Burns, Chemical., eMedicine Journal. 2011.
5. Kanski, Jack J. Chemical Conjunctivitis. Clinical Ophthalmology. Butterworth
Heinemann; page 89 90.
6. Dua, H. S., King, A.J., Joseph, A. 2001 New classification for ocular surface burns, 85:
1379-1383, British Journal of Ophthalmology. Diakses 18 maret 2014, dari
http://bjo.bmj.com/content/85/11/1379.full.pdf new classification.
7. Lestari,I.C.,et al.,Trauma Basa Pada Mata., http://cintalestari,wordpress.com. 2010
8. Guyton,A.C., Hall, J. E., 2006, Fisiologi Kedokteran ,Edisi 11 ,EGC,Jakarta
9. Erhard K. Lang.Opthalmology A Pocket Textbook Atlas 2nd.Stuttgart.New York.2006.
10. American Journal of Clinical Medicine.Chemical Ocular Burns.Diunduh pada tanggal 07
September 2014 dari http:// www.aapsus.org/articles/29.pdf

18