Anda di halaman 1dari 6

JENIS VAKSIN

Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang diubah sedemikian rupa sehingga
patogenisitas dan toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung sifat antigenisitas.
Vaksin yang baik harus mudah diperoleh, murah, stabil dalam cuaca ekstrim dan non
patogenik. Efeknya harus tahan lama dan mudah di reaktivasi dengan suntikan Booster
antigen (Baratawidjaja,2004).
Vaksin dapat digolongkan berdasarkan antara lain: jenis mikroba, viabilitas,
komposisi dan cara pembuatannya.
Berdasarkan viability kuman yang digunakan, vaksin dapat dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu:
1.

Live Attenuated (bakteri atau virus hidup yang dilemahkan)


Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar penyebab penyakit. Virus atau

bakteri liar ini dilemahkan (attenuated) di laboratorium, biasanya dengan cara pembiakan
berulang-ulang. Misalnya vaksin campak yang dipakai sampai sekarang, diisolasi untuk
mengubah virus liar campak menjadi virus vaksin dibutuhkan 10 tahun dengan cara
melakukan penanaman pada jaringan media pembiakan secara serial dari seorang anak
yang menderita penyakit campak pada tahun 1954.
Supaya dapat menimbulkan respon imun, vaksin hidup attenuated harus
berkembang biak (mengadakan replikasi) di dalam tubuh resipien. Suatu dosis kecil virus
atau bakteri yang diberikan, yang kemudian mengadakan replikasi di dalam tubuh dan
meningkat jumlahnya sampai cukup besar untuk memberi rangsangan respon imun.
Vaksin virus hidup attenuated bersifat labil dan dapat mengalami kerusakan bila terkena
panas dan sinar, maka harus dilakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan
hati-hati. Apapun yang merusak organisme hidup dalam botol (misalnya panas atau
cahaya) atau pengaruh luar terhadap replikasi organisme dalam tubuh (antibody yang
beredar) dapat menyebabkan vaksin tersebut tidak efektif.
Vaksin virus hidup attenuated secara teoritis dapat berubah menjadi bentuk
patogenik seperti semula. Hal ini hanya terjadi pada vaksin polio hidup. Walaupun vaksin
hidup attenuated menyebabkan penyakit, umumnya bersifat ringan dibandingkan dengan

penyakit alamiah dan itu dianggap sebagai kejadian ikutan (adverse event). Respons imun
terhadap vaksin hidup attenuated pada umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh
infeksi alamiah. Respon imun tidak membedakan antara suatu infeksi dengan virus
vaksin yang dilemahkan dan infeksi dengan virus liar.
Imunitas aktif dari vaksin hidup attenuated tidak dapat berkembang karena
pengaruh dari antibody yang beredar. Antibodi dari sumber apapun (misalnya
transplasental, transfusi) dapat mempengaruhi perkembangan vaksin mikroorganisme dan
menyebabkan tidak adanya respons (non response). Vaksin campak merupakan
mikroorganisme yang paling sensitif terhadap antibodi yang beredar dalam tubuh. Virus
vaksin polio dan rotavirus paling sedikit terkena pengaruh.
Vaksin hidup attenuated yang tersedia:

berasal dari virus hidup: vaksin campak, gondongan (parotitis), rubela, polio,
rotavirus, demam kuning (yellow fever).

Berasal dari bakteri: vaksin BCG dan demam tifoid oral (Ranuh.et al, 2005).

2.

Inactivated (bakteri, virus atau komponennya dibuat tidak aktif).


Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam

media pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan


penambahan bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin fraksional, organisme
tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang dimasukkan dalam
vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari pneumokokus).
Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen
dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini tidak menyebabkan penyakit (walaupun pada
orang dengan defisiensi imun) dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk
patogenik. Tidak seperti antigen hidup, antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi
oleh antibodi yang beredar. Vaksin inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibodi
yang beredar. Vaksin inactivated dapat diberikan saat antibodi berada di dalam sirkulasi
darah.
Vaksin inactivated selalu membutuhkan dosis ganda. Pada umumnya, pada dosis
pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan

sistem imun. Respon imun protektif baru timbul setelah dosis kedua tau ketiga. Hal ini
berbeda dengan vaksin hidup, yang mempunyai respon imun mirip atau sama dengan
infeksi alami, respon imun terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral, hanya
sedikit atau tak menimbulkan imunitas selular. Titer antibodi

terhadap antigen

inactivated menurun setelah beberapa waktu. Sebagai hasilnya maka vaksin inactivated
membutuhkan dosis suplemen (tambahan) secara periodik.
Pada beberapa keadaan suatu antigen untuk melindungi terhadap penyakit masih
memerlukan vaksin seluruh sel (whole cell), namun vaksin bakterial seluruh sel bersifat
paling reaktogenik dan menyebabkan paling banyak reaksi ikutan atau efek samping. Ini
disebabkan respon terhadap komponen-komponen sel yang sebenarnya tidak diperlukan
untuk perlindungan (contoh antigen pertusis dalam vaksin DPT).
Vaksin inactivated yang tersedia saat ini berasal dari:

Seluruh sel yang inactivated, contoh influenza, polio, rabies, hepatitis A.

Seluruh bakteri yang inactivated, contoh pertusis, tifoid, kolera, lepra.

Vaksin fraksional yang masuk sub-unit, contoh hepatitis B, influenza, pertusis aseluler, tifoid Vi, lyme disease.

Toksoid, contoh difteria, tetanus, botulinum

Polisakarida murni, contoh pneumokokus, muningokokus, dan Haemophilus


influenzae tipe b.

Gabungan polisakarida (Haemophilus influenzae tipe b dan pneumokokus)


(Ranuh.et al,2004).

Berdasarkan jenis mikroba di dalamnya, vaksin dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
1. Vaksin Bakterial, yang terdiri dari bakteri hidup yang dilemahkan atau diinaktifkan,
polisakarida dari kapsel bakteri atau fragmennya yang memiliki sifat antigen. respon
imun antibakterial meliputi lisis melalui antibodi dan komplemen, opsonisasi,
fagositosis yang diaktifkan dengan eliminasi bakteri di hati, limpa, dan sel-sel dari
sistem fagosit makrofag.

Contok vaksin bakterial: vaksin polisakarida, Lyme disease, vaksin Bacille Calmette
Guerin (BCG), vaksin streptokok pneumoni.

Vaksin Polisakarida
Vaksin polisakarida adalah vaksin sub-unit yang inactivated dengan bentuknya
yang unik terdiri atas rantai panjang molekul-molekul gula yang membentuk
permukaan kapsul bakteri tertentu. Vaksin polisakarida murni tersedia untuk 3
macam penyakit yaitu pneumokokus , meningokokus dan Haemophilus
influenzae tipe b (Ranuh.et al,2004).

2. Vaksin Viral, yang terdiri dari virus hidup yang dilemahkan atau diinaktifkan, juga
fragmen virus yang memiliki sifat antigen. Respon imun yang baik terhadap virus
harus mencakup efek antibodi pada permukaan epitel. Efek ini dapat diperoleh dari
IgA lokal atau IgG dan IgM ekstravaskuler setempat. Infeksi virus seperti campak
atau polio, mulai di epitel mukosa saluran napas atau cerna dan efek paatogeniknya
yang utama terjadi setelah disebarkan melalui darah ke alat-alat tubuh lainnya.
contoh vaksin viral: vaksin rubela, vaksin virus influenza, vaksin campak, vaksin
poliomielitis, vaksin Hepatitis B, vaksin Hepatitis A, vaksin varisela, vaksin virus
retro, vaksin rabies.
3. Vaksin Parasiter, yang terdiri dari suatu protein yang terdapat di permukaan
sporozoit Plasmodium falciparum (vaksin malaria).
Berdasarkan komposisi antigennya, vaksin dibagi menjadi:
1. Whole Vaccine, terdiri dari mikroba utuh. Contohnya: vaksin pertusis whole cell
2. Split/Sub-Unit Vaccine, dibuat dari bagian-bagian mikroba yang mengandung
antigen paling aktif. Vaksin sub-unit ini diproduksi melalui pemurnian biokimiawi
fraksi mikroba atau dengan teknologi rekombinan. Oleh karena vaksin sub-unit ini
tidak memiliki bahan replikasi aktif, tidak menunjukkan risiko infeksi dan juga tidak
mengandung asam nukleat mikoba sehingga tidak karsinogenik. Contoh vaksin subunit yang sudah menunjukkan keberhasilan adalah vaksin Hepatitis B yang hanya
mengandung

antigen

(Baratawidjaja,2004).

permukaan

virus

hepatitis

yang

dimurnikan

3. Vaksin Toksoid, dibuat dari eksotoksin atau endotoksin bakteri yang diisolasi atau
dibuat secara biosintesis dan kemudian dinetralisasi dengan formaldehid. Toksoid
adalah

toksin yang dibuat untuk mempertahankan antigenisitasnya tetapi hilang

toksisitasnya.
Cotoh vaksin toksoid: antitoksin botulism, antitoksin tetanus, antitoksin difteria,
antitoksin DPT.
Berdasarkan cara pembuatannya, vaksin dapat dibagi menjadi:
1. Vaksin Bakterial
Pertama-tama bakteri dari suku (strain) tertentu ditanam di dalam medium cair
yang optimal dalam botol atau pada produksi besar-besaran dalam tangki fermentasi.
Setelah suatu masa tertentu, kuman ini dimatikan dengan cara pemanasan atau dengan zat
kimia dan bila perlu dipisahkan dari mediumnya. Bakteri yang sudah mati ini kemudian
diproses sebagai suspensi sel utuh atau sebagian tertentu diisolasi, misalnya fraksi
polisakarida.
2. Vaksin Viral
Langkah pertama adalah memelihara sel-sel untuk multiplikasi virus, karena virus
tidak mampu memperbanyak diri sendiri kesuali di dalam sel hidup (host cells). Host
cells yang telah dipenetrasi oleh virus (asam nuleinat, DNA/RNA) ekmudian dirangsang
untuk memproduksi lebih banyak materi virus, yang kemudian diisolasi, dimurnikan dan
distabilkan.
3. Vaksin Rekombinan
Antigen vaksin dapat pula dihasilkan dengan cara rekayasa genetik. Produk ini
sering disebut vaksin rekombinan. Terdapat 3 jenis vaksin yang dihasilkan dengan
rekayasa genetik yang saat ini telah tersedia.
Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus
hepatitis B ke dalam gen sel ragi. Sel ragi yang telah berubah (modified) ini
menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni.
Vaksin tifoid (Ty 21a) berisi Salmonella typhi yang secara genetik diubah (modified)
sehingga tidak menyebabkan sakit.

Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup adalah rotavirus
kera rhesus yang diubah (modified) secara genetik menghasilkan antigen rotavirus
manusia apabila mereka mengalami replikasi (Ranuh.et al,2005).