Anda di halaman 1dari 28

Om swastyastu

KIMIA FISIKA I
HUKUM TERMODINAMIKA III

Ni Ayu Sukerti
Made Enny Budi Astuti
Ahmad Abdullah
Made Sri Astuti

(1313031004)
(1313031027)
(1313031070)
(1313031071)

Latar Belakang Perumusan


Hukum Termodinamika III
Pada tahun 1900 William Richards mengukur
G sebagai fungsi suhu dalam beberapa reaksi
elektrokimia.

Tahun 1907 Nernt mempostulatkan bahwa


untuk beberapa reaksi berlaku
jika
T mendekati 0 secara matematis dituliskan

Walther Nernst menjelaskan bahwa


slope atau tagen kurve G vs T
untuk suatu reaksi mendekati nilai
0 jika T mendekati 0 absolut.

Karena

sehingga

Simon dalam eksperimennya mendapatkan bahwa postulat yang


dikemukan Nernst hanya cocok untuk proses yang melibatkan zat murni
yang dalam keadaan stabil atau yang dinyatakan dalam kesetimbangan
internal dan tidak cocok untuk proses atau perubahan yang melibatkan
keadaan menstabil seperti cairan lewat dingin atau belerang monoklin
dan sebagainya.

Pernyataan yang dikemukan oleh Nernst


dan Simon diambil sebagai rumus Hukum
Termodinamika III

Untuk perubahan atau reaksi yang melibatkan zat murni


dan masing-masing dalam keadaan stabil maka perubahan
entropinya adalah 0 pada suhu mendekati 0 absolut.

Pada 0 absolut perubahan entropi reaksi (S) adalah 0 dan


mengingat
maka dapat
dinyatakan bahwa pada suhu 0 absolut jumlah entropi
produk jumlah entropi reaktan = 0. Dengan demikian
berlaku untuk semua zat baik unsur maupun senyawa
yang dalam keadaan kesetimbangan internal bahwa
entropinya = 0 pada suhu 0 absolut.

Hukum Termodinamika III telah memberikan keadaan standar


untuk besaran entropi yaitu nilai entropi zat pada 0 absolut
adalah 0. Dengan demikian setiap zat memiliki nilai entropi
positif tertentu pada suhu di atas 0 absolut. Hukum
Termodinamika III memungkinkan untuk menyusun tabel nilai
entropi mutlak dari berbagai zat baik unsur maupun senyawa
pada keadaan tertentu yang diinginkan (yang sebenarnya bukan
entrpi mutlak tetapi entropi relatif terhadap entropinya dalam
keadaan standar yaitu pada suhu 0 absolut dan tekanan 1 atm
sehingga lebih cocok di sebut entropi konvensional)

4.2 Menentukan Nilai Entropi zat pada


temperatur tertentu

Perubahan entropi pada tekanan tetap

Pada rentangan 0-298 K tidak terjadi perubahan fasa, maka perbedaan


entropi zat pada 0 K dengan entropi pada 298 K pada tekanan 1 atm adalah:

Karena So = 0 maka dapat dituliskan:

S298 biasanya ditentukan secara grafik dengan membuat kurva Cp/T vs T


atau Cp vs ln T. Contoh sebagai berikut:

Nilai entropinya dengan luas permukaan di


bawah kurva antara rentangan suhu 0-298 K. Cp
pada rentangan suhu 0-15 K sulit didapat sehingga
integrasinya dilakukan dengan cara ekstrapolasi. Jika
antara rentangan suhu 0-298 K terjadi perubahan
fase maka perubahan entropinya pada perubahan
fase sebesar S = H/T harus diperhitungkan.
Misalkan antara 0-298 K terdapat perubahan fase
padat-cair dan pada suhu 298 K zat dalam keadaan
cair maka entropinya menjadi:

H(m) = entalpi peleburan, T(m) = titik lebur


normal Jika zat pada T ada dalam keadaan gas
maka yang menjadi standar adalah gas ideal,
sehingga harus diperhitungkan perubahaan
entropi dari gas nyata ke gas ideal.

Pada tabel 4. diberikan hasil perhitungan entropi untuk SO2


sebagai berikut:
Rentangan Suhu (K) Cara Penentuan

S (kal -1Kmol -1)

O-15
15-197,64
197,64
197,64-263,08
263,08
263,08-298

0,3
20,12
8,95
25,96
22,66
1,25

S298

Ekstrapolasi
Grafik
Peleburan
Grafik
Penguapan
Cp(gas)

89,24

Dengan cara yang sama dapat ditentukan nilai S298


untuk zat-zat yang lain. Pada lampiran diberikan tabel nilai
entropi standar dan Cp pada 25o C untuk berbagai zat.
Dengan nilai entropi ini kita dapat menetukan nilai
perubahan entropi dari berbagai reaksi pada keadaan
standar dan dapat digunakan untuk menghitung tetapan
kesetimbangan. Perubahan entropi reaksi dapat ditentukan
dengan cara
dimana Vi adalah koefisien reaksi.

Contoh:
Hitung perubahan entropi untuk pembentukan 1
mol uap air dari oksigen dan hidrogen pada 25o
C!
O2(g) + H2(g) H2O(g)
Dari nilai So pada tabel didapat
So = S(H2O) S(O2) S(H2)
So = 45,106 (49,003) 31,229
So = 10,606 kalK-1mol-1

konsep tetapan
kesetimbangan

Pada
tahun
1862
Berthelot dan Gills
melaporkan
adanya
pengaruh konsentrasi
alcohol dan asam asetat
terhadap
jumlah
etilasetat yang terbentuk.

pengendapan kalsium karbonat dalam


danau garam dan terjadinya endapan
itu disebabkan oleh konsentrasi
natrium klorida yang tinggi yang dapat
melarutkan kalsium karbonat

Kesimpulan ini ternyata berbeda dengan


yang terjadi di laboratorium dimana
natrium karbonat bereaksi dengan kalsium
klorida menghasilkan endapan kalsium
karbonat.

Hukum aksi masa yang


menyatakan bahwa
kecepatan reaksi
berbanding lurus dengan
konsentrasi pereaksi.

Jika reaksi umum dituliskan aA + bB k1

gG + hH

k2

k1 [A]a [B]b = k2 [G]g [H]h

k1
k2

[G]g [H]h

= Kc = [A]a [B]b

Kc adalah tetapan kesetimbangan yang


dinyatakan dengan konsentrasi (mol/L),
[ ] adalah konsentrasi zat setelah
keadaan setimbang.

a, b, g, dan h berturut-turut adalah


koefesien reaksi dari zat A, B, G,
dandan
H k2 berturut-turut adalah
k1

tetapan kecepatan reaksi ke kanan


dan ke kiri.
Setelah keadaan setimbang
tercapai, kecepatan reaksi ke kanan
= kecepatan reaksi ke kiri.

Dengan demikian, ada hubungan yang tetap antara konsentrasi zat-zat


dalam suatu reaksi yang dalam keadaan setimbang.Harga Kc berbeda
pada suhu yang berbeda.

Jika zat-zat yang terlibat ada dalam fasa gas maka konsentrasi
dapat diganti dengan tekanan parsial sehingga persamaan di
atas menjadi

Kp =

(PG)g (PH)h

(PA)a (PH)h

Hubungan antara Kc dengan Kp dapat diturunkan dengan


menggunakan persamaan gas ideal. Jika gas bersifat ideal berlaku
PV = nRT. P = nRT/V = CRT dimana C = konsentrasi dalam mol L-1

Substitusikan P = CRT ke dalam persamaan


di atas maka akan didapat

Kp = Kc (RT)n
Dimana n = jumlah koefesien reaksi
untuk produk-jumlah koefesien reaksi
untuk reaktan

Hubungan ini dapat diturunkan


dari rumus dG = VdP SdT pada
suhu tetap akan berlaku

Hubungan ini dapat diturunkan dari rumus dG = VdP SdT


pada suhu tetap akan berlaku
G

V
P T

Untuk gas ideal V = RT/P sehingga


G

RT / P
P T

2
P2
RT dP
G = G2 G1 = P RT d ln P RT ln P
1
1
1

Jika P1 = 1 atmosfer, G1 = Go dan jika ditulis G, P2 ditulis P maka


G-Go = RT ln = RT ln P
G-Go = RT ln P
G = Go + RT ln P

Reaksi Umum

aA + bB

hH + gG

Untuk masing masing zat berlaku

aGA = aG oA + aRT ln PA

bGb = bG ob + bRT ln
Pb

cGc = cG oc + cRT
ln Pc

hGh = hG oh + hRT
ln Ph