Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Skizofrenia merupakan suatu sindroma klinis yang ditandai oleh psikopatologi
yang disruptif dan melibatkan aspek kognisi, persepsi dan aspek lain perilaku.
Ekspresi dari manifestasi penyakit ini bervariasi diantara pasien tetapi efeknya selalu
berat dan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Skizofrenia mengenai segala
lapisan kelas dan umumnya muncul pada usia kurang dari 25 tahun, lalu selanjutnya
menetap sepanjang hidup. Meskipun didiagnosis sebagai penyakit tunggal, skizofrenia
mungkin terdiri atas suatu kumpulan gangguan dengan etiologi beragam, dan
bervariasi dalam manifestasi klinis, respons pengobatan dan perjalanan penyakitnya.
Data epidemiologis menunjukkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi
skizofrenia adalah 1%, pada studi lain didapatkan rentang yang tidak jauh berbeda
yaitu 0,6-1,9 %. Skizofrenia ditemukan pada semua lapisan masyarakat dan area
geografis, prevalensi maupun insidensinya secara kasar sama di seluruh dunia. Dirjen
Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan mengatakan bahwa jumlah
penderita gangguan kesehatan jiwa di masyarakat sangat tinggi, yakni satu dari empat
penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa rasa cemas, depresi, stress,
penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia. Di era globalisasi
gangguan kejiwaan meningkat sebagai contoh penderita tidak hanya dari kalangan
kelasa bawah, sekarang kalangan pejabat dan masyarakat lapisan menengah ke atas
juga terkena gangguan jiwa (Sutatminingsih, Raras. 2002). Berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar (RisKesDa) 2007 disebutkan, rata-rata nasional gangguan mental
emosional ringan, seperti cemas dan depresi pada penduduk berusia 15 tahun ke atas
mencapai 11,6%, dengan angka tertinggi terjadi di Jawa Barat, sebesar 20%.
Sedangkan yang mengalami gangguan mental berat, seperti psikotis, skizofrenia, dan
gangguan depresi berat, sebesar 0,46%. (Anonim, Depkes RI).
Berdasarkan manifestasi klinisnya skizofrenia dibagi menjadi beberapa subtipe
bergantung pada acuan, berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders IV, Text Revision (DSM-IV-TR) skizofrenia dibagi menjadi skizofrenia
paranoid, disorganized, katatonik, undifferentiated dan residual,

sementara

berdasarkan International Statistical Classification of Disease and Related Helath


Problem ke-10 (ICD-10), membagi skizofrenia menjadi sembilan subtipe yaitu
skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik, undiiferentiated, depresi postskizofrenik,

residual, simpleks, skizofrenia lainnya, dan unspecified. Di Indonesia sendiri


pembagian subtipe skizofrenia berdasarkan pada PPDGJ III juga dibagi menjadi
sembilan subtipe yaitu skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik, tak terinci
(undifferentiated), residual, simpleks, lainnya, depresi pasca-skizofrenia dan
skizofrenia YTT.
Pembahasan mengenai subtipe skizofrenia sangatlah diperlukan karena
beberapa subtipe erat kaitannya dengan perjalanan penyakit serta prognosis pasien.
Pembagian subtipe ini memungkinkan pendekatan psikiatrik yang berbeda pada
masing-masing jenisnya, sehingga memberikan terapi yang lebih efektif dan efisien
bagi pasien itu sendiri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah, dan
frenia yang artinya jiwa, dengan demikian, seseorang yang menderita skizofrenia
adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakkan kepribadian
(Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area
fungsi

individu,

termasuk

berfikir

dan

berkomunikasi,

menerima

dan

menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukan emosi serta berperilaku


dengan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial (Isaacs, 2005).
2.2 Etiologi Skizofrenia
Merupakan

integrasi

faktor

biologis,

faktor

psikososial,

faktor

lingkungan.Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu


kerentanan spesifik (diatessis) yang jika dikenai oleh suatupengaruh lingkungan yang
menimbulkanstress,memungkinkan

perkembangan

skizofrenia. Komponen

lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau psikologis (missal kematian


orang terdekat).Sedangkan dasar biologikal dari diatesis selanjutnya dapat terbentuk
oleh pengaruh epigenetik seperti penyalahgunaan obat, stress psikososial,dan trauma.
Kerentanan yang dimaksud disini haruslah jelas, sehingga dapat menerangkan
mengapa orang tersebut dapat menjadi skizofren.Semakin besar kerentanan seseorang
maka stressor kecilpun dapat menyebabkan menjadi skizofren.Semakin kecil
kerentanan maka butuh stressor yang besar untuk membuatnya menjadi penderita
skizofren. Sehingga secara teoritis seseorang tanpa diathese tidak akan berkembang
menjadi skizofren, walau sebesar apapun stressornya.
(A) Faktor Neurobiologi
Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien skizofrenia ditemukan
adanya kerusakan pada bagian otak tertentu. Namun sampai kini belum
diketahui bagaimana hubungan antara kerusakan pada bagian otak tertentu
dengan munculnya simptom skizofrenia.

Terdapat beberapa area tertentu dalam otak yang berperan dalam


membuat seseorang menjadi patologis, yaitu sitem limbik, korteks frontal,
cerebellum dan ganglia basalis. Keempat area tersebut saling berhubungan,
sehingga disfungsi pada satu area mungkin melibatkan proses patologis primer
pada area yang lain. Dua hal yang menjadi sasaran penelitian adalah waktu
dimana kerusakan neuropatologis muncul pada otak, dan interaksi antara
kerusakan tersebut dengan stressor lingkungan dan sosial.
(B) Hipotesa Dopamin
Menurut hipotesa ini, skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan
aktivitas neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin merupakan
akibat dari meningkatnya pelepasan dopamine, terlalu banyaknya reseptor
dopamine, turunnya nilai ambang, atau hipersentivitas reseptor dopamine, atau
kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Munculnya hipotesa ini berdasarkan
observasi bahwa : Ada korelasi antara efektivitas dan potensi suatu obat
antipsikotik dengan kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor
dopamine D2.Obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik- seperti
amphetamine-dapat menimbulkan gejala psikotik pada siapapun.
(C) Faktor Genetika
Penelitian tentang genetik telah membuktikan faktor genetik/keturunan
merupakan salah satu penyumbang bagi jatuhnya seseorang menjadi skizofren.
Resiko seseorang menderita skizofren akan menjadi lebih tinggi jika terdapat
anggota keluarga lainnya yang juga menderita skizofren, apalagi jika
hubungan keluarga dekat. Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan
keberadaan pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan pada munculnya
skizofrenia, dan kembar satu telur memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mengalami skizofrenia.

(D) Faktor Psikososial


1. Teori Tentang Individu Pasien
Teori Psikoanalitik Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari
fiksasi perkembangan, yang muncul lebih awal daripada gangguan
neurosis. Jika neurosis merupakan konflik antara id dan ego, maka psikosis

merupakan konflik antara ego dan dunia luar. Menurut Freud, kerusakan
ego (ego defect) memberikan kontribusi terhadap munculnya simptom
skizofrenia. Disintegrasi ego yang terjadi pada pasien skizofrenia
merepresentasikan waktu dimana ego belum atau masih baru terbentuk.
Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal serta
kerusakan ego-yang mungkin merupakan hasil dari relasi obyek yang
buruk-turut memperparah symptom skizofrenia. Hal utama dari teori Freud
tentang skizofrenia adalah dekateksis obyek dan regresi sebagai respon
terhadap

frustasi

dan

konflik

dengan

orang

lain.

Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan skizofrenia disebabkan


oleh kesulitan interpersonal yang terjadi sebelumnya, terutama yang
berhubungan dengan apa yang disebutnya pengasuhan ibu yang salah,
yaitu cemas berlebihan. Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik
tentang skizofrenia, kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap
realitas dan kontrol terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi.
Gangguan tersebut terjadi akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu
dan anak. Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis
bagi masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin
mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur.
Halusinasi mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien
untuk

menghadapi

realitas

yang

obyektif

dan

mungkin

juga

merepresentasikan ketakutan atau harapan terdalam yang dimilikinya.


2. Teori Psikodinamik
Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud, pandangan
psikodinamik setelahnya lebih mementingkan hipersensitivitas terhadap
berbagai stimulus. Hambatan dalam membatasi stimulus menyebabkan
kesulitan dalam setiap fase perkembangan selama masa kanak-kanak dan
mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal.
Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positif diasosiasikan
dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan
erat kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif berkaitan erat
dengan

faktor

perilaku/fungsi

biologis,
tertentu.

dan

karakteristiknya

Sedangkan

gangguan

adalah

absennya

dalam

hubungan

interpersonal mungkin timbul akibat konflik intrapsikis, namun mungkin


juga berhubungan dengan kerusakan ego yang mendasar.
Tanpa memandang model teoritisnya, semua pendekatan psikodinamik
dibangun berdasarkan pemikiran bahwa symptom-simptom psikotik
memiliki makna dalam skizofrenia. Misalnya waham kebesaran pada
pasien mungkin timbul setelah harga dirinya terluka. Selain itu, menurut
pendekatan ini, hubungan dengan manusia dianggap merupakan hal yang
menakutkan bagi pengidap skizofrenia.
3. Teori Belajar
Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada masa kanakkanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari reaksi dan cara
pikir yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya, yang
sebenarnya juga memiliki masalah emosional.
4. Teori Tentang Keluarga
Beberapa pasien skizofrenia-sebagaimana orang yang mengalami
nonpsikiatrik-berasal dari keluarga dengan disfungsi, yaitu perilaku
keluarga yang patologis, yang secara signifikan meningkatkan stress
emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia. Antara lain:
Double Bind
Konsep yang dikembangkan oleh Gregory Bateson untuk menjelaskan
keadaan keluarga dimana anak menerima pesan yang bertolak belakang
dari orangtua berkaitn dengan perilaku, sikap maupun perasaannya.
Akibatnya anak menjadi bingung menentukan mana pesan yang benar,
sehingga kemudian ia menarik diri kedalam keadaan psikotik untuk
melarikan diri dari rasa konfliknya itu.
Schims and Skewed Families
Menurut Theodore Lidz, pada pola pertama, dimana terdapat
perpecahan yang jelas antara orangtua, salah satu orang tua akan menjadi
sangat dekat dengan anak yang berbeda jenis kelaminnya. Sedangkan pada
pola keluarga skewed, terjadi hubungan yang tidak seimbang antara anak
dengan salah satu orangtua yang melibatkan perebutan kekuasaan antara
kedua orangtua, dan menghasilkan dominasi dari salah satu orang tua.
Pseudomutual and Pseudohostile Families

Dijelaskan oleh Lyman Wynne, beberapa keluarga men-suppress


ekspresi

emosi

dengan

menggunakan

komunikasi

verbal

yang

pseudomutual atau pseudohostile secara konsisten. Pada keluarga tersebut


terdapat pola komunikasi yang unik, yang mungkin tidak sesuai dan
menimbulkan masalah jika anak berhubungan dengan orang lain di luar
rumah.
Ekspresi Emosi
Orang tua atau pengasuh mungkin memperlihatkan sikap kritis, kejam
dan sangat ingin ikut campur urusan pasien skizofrenia. Banyak penelitian
menunjukkan keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi (dalam hal apa
yang dikatakan maupun maksud perkataan) meningkatkan tingkat relapse
pada pasien skizofrenia.
Teori Sosial
Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi dan urbanisasi
banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia. Meskipun ada data
pendukung, namun penekanan saat ini adalah dalam mengetahui
pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit.
2.3 GEJALA KLINIS
Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu gejala
positif dan negatif.

Gejala positif ( Positive Symptom ): Berupa peningkatan atau distorsi dari


fungsi yang normal
waham
Halusinasi
Inkoherensi, sosialisasi longgar, peningkatan pembiacaraan
Perilaku yang sangat kacau

Gejala Negatif ( Negative Symptom ) : Berupa pengurangan atau kehilangan


dari fungsi normal
Ekspresi afektif yang datar
Alogia ( kemiskinan pembicaraan )
Avolition ( ketidakmampuan memulai dan mempertahankan

aktivitas yang bertujuan )


Anhedonia
Bloking
Penarikan sosial
Defisit kognitif
Defisit perhatian

Ketidak mampuan merawat diri

2.4 Penegakkan diagnosis


Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut
(Maslim, 2003).:
-

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan,
walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda atau thought
insertion or withdrawal yang merupakan isi yang asing dan luar
masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan thought
broadcasting, yaitu isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b. delusion of control, adalah waham tentang dirinya dikendalikan
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau delusion of passivitiy
merupaka waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya diartikan secara jelas
merujuk kepergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran,
tindakan,

atau

penginderaan

khusus),

atau

delusional

perceptionyang merupakan pengalaman indrawi yang tidak wajar,


yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik
atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi dibawah
ini:

Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus

terhadap perilaku pasien, atau


Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka

sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau


Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu

bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di

atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau


berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).
e. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas :
Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila
disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun
disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu

minggu atau berbulan-bulan terus menerus;


Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan

yang tidak relevan, atau neologisme;


Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement),
posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea,

negativisme, mutisme, dan stupor;


Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang
jarang, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar,
biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi

neuroleptika;
e. Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal)
f. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi
(personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup
tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (selfabsorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah (Tomb, 2003):

Berlangsung minimal dalam enam bulan

Penurunan

fungsi

yang

cukup

bermakna

di bidang

pekerjaan,

hubungan interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri

Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama


berlangsungnya sebagian dari periode tersebut

Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif,


gangguan mood mayor, autisme, atau gangguan organik.

2.5 Jenis-jenis skizofrenia


Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke
dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi
batas-batas golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau
mungkin seorang penderita tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis.
Pembagiannya sebagai berikut :(Maramis, 2009). Gejala klinis skizofrenia secara
umum dan menyeluruh telah diuraikan di muka, dalam PPDGJ III skizofrenia dibagi
lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai spesifikasi masing-masing, yang
kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut :
Skizofrenia paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya
penyakit. Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan
gejala-gejala skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan katatonik
bercampuran. Skizofrenia paranoid memiliki perkembangan gejala yang konstan.
Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai dengan waham-waham
sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara lebih teliti juga didapatkan gangguan
proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin
subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat
digolongkan skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada
orang lain.Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia paranoid dapat didiganosis
apabila terdapat butir-butir berikut :

Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia


Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling berkomentar
tentang diri pasien, yang mengancam pasien atau memberi

perintah, atau

tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit,

mendengung, atau bunyi tawa.


Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual

mungkin ada tetapi jarang menonjol.


Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau Passivity (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang

paling khas.
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejalakatatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.

Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu atau


lebih delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul pada usia
lebih tua daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik. Kekuatan ego pada
pasien skizofrenia paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan
hebefrenik. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang lambat dari
kemampuan mentalnya, respon emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe
skizofrenik lain.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhati-hati,
dan tak ramah.Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif.Pasien skizofrenik
paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam
situasi sosial.Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh gangguan psikosis mereka
dan cenderung tetap intak.
Skizofrenia Hebefrenik
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja
atau antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir,
gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan
psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering
terdapat pada skizofrenia heberfenik. Waham dan halusinasi banyak sekali.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia hebefrenik dapat didiganosis apabila
terdapat butir-butir berikut Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Diagnosis hebefrenikbiasanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda

(onset biasanya mulai 15-25 tahun)..


Untuk diagnosis hebefrenik yang menyakinkan umumnya diperlukan
pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa
gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
o Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary),
dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;
o Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering
disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (selfsatisfied), senyum sendirir (self-absorbed smiling), atau oleh sikap,
tinggi

hati

(lofty

manner),

tertawa

menyeringai

(grimaces),

mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan


hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated
phrases);
o Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu
(rambling) serta inkoheren.
o Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir
umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi
biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and
hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan
(determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku
penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan
(aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu
preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama,
filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien.
Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.
Skizofrenia Katatonik
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta sering
didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor
katatonik. Stupor katatonik yaitu penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali
terhadap lingkungannya. Gejala paling penting adalah gejala psikomotor seperti:
1. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup

2. Muka tanpa mimik, seperti topeng


3. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa hari,
bahkan kadang sampai beberapa bulan.
4. Bila diganti posisinya penderita menentang : negativisme
5. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga berkumpul dalam mulut dan
meleleh keluar, air seni dan feses ditahan
6. Terdapat grimas dan katalepsi
Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan
mulai berbicara dan bergerak. Gaduh gelisah katatonik adalah terdapat hiperaktivitas
motorik, tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi
rangsangan dari luar.
Penderita terus berbicara atau bergerak saja, menunjukan stereotipi, manerisme,
grimas dan neologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum sehingga mungkin
terjadi dehidrasi atau kolaps dan kadang-kadang kematian (karena kehabisan tenaga
dan terlebih bila terdapat juga penyakit lain seperti jantung, paru, dan sebagainya)
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila
terdapat butir-butir berikut :
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya :
o Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan
dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
o Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang
tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
o Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
o Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap
semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan
kearah yang berlawanan);
o Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan
upaya menggerakkan dirinya);
o Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak
dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
o Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara
otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimatkalimat.
o Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda

sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala


lain.
o Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan
petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat
dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan
obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.
Pasien dengan skizofrenia katatonik biasanya bermanifestasi salah satu dari
dua bentuk skizofrenia katatonik, yaitu stupor katatonik dan excited katatatonik. Pada
katatonik stupor, pasien akan terlihat diam dalam postur tertentu (postur berdoa,
membentuk bola), tidak melakukan gerakan spontan, hampir tidak bereaksi sama
sekali dengan lingkungan sekitar bahkan pada saat defekasi maupun buang air kecil,
air liur biasanya mengalir dari ujung mulut pasien karena tidak ada gerakan mulut,
bila diberi makan melalui mulut akan tetap berada di rongga mulut karena tidak
adanya gerakan mengunyah, pasien tidak berbicara berhari-hari, bila anggota badan
pasien dicoba digerakkan pasien seperti lilin mengikuti posisi yang dibentuk,
kemudian secara perlahan kembali lagi ke posisi awal. Bisa juga didapati pasien
menyendiri di sudut ruangan dalam posisi berdoa dan berguman sangat halus
berulang-ulang.
Pasien dengan excited katatonik, melakukan gerakan yang tanpa tujuan,
stereotipik

dengan

impulsivitas

yang

ekstrim.

Pasien

berteriak,

meraung,

membenturkan sisi badannya berulang ulang, melompat, mondar mandir maju


mundur.Pasien dapat menyerang orang disekitarnya secara tiba-tiba tanpa alasan lalu
kembali ke sudut ruangan, pasien biasanya meneriakka kata atau frase yang aneh
berulang-ulang dengan suara yang keras, meraung, atau berceramah seperti pemuka
agama atau pejabat.Pasien hampir tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan
sekitar, biasanya asik sendiri dengan kegiatannya di sudut ruangan, atau di kolong
tempat tidurnya.
Walaupun pasien skizofrenia katatonik hanya memunculkan salah satu dari
kedua diatas, pada kebanyakan kasus gejala tersebut bisa bergantian pada pasien yang
dalam waktu dan frekuensi yang tidak dapat diprediksi.Seorang pasien dengan stupor
katatonik dapat secara tiba-tiba berteriak, meloncat dari tempat tidurnya, lalu
membantingkan badannya ke dinding, dan akhirnya dalam waktu kurang dari satu jam
kemudian kembali lagi ke posisi stupornya.

Selama stupor atau excited katatonik, pasien skizofrenik memerlukan


pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang
lain. Perawatan medis mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan,
hiperpireksia, atau cedera yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
Skizofrenia Simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex
adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir
biasanya sulit ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini
timbulnya perlahan-lahan sekali. Permulaan gejala mungkin penderita mulai kurang
memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila
terdapat butir-butir berikut :
Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena
tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan
progresif dari :
o Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului
riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode
psikotik, dandisertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi
yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang
mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan
penarikan diri secara sosial.
o Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan
subtipe skizofrenia lainnya.
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas.Gejala
utama pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang
sekali terdapat.Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali.Pada permulaan mungkin
penderita mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari
pergaulan. Makin lama ia makin mundur dalam pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya
menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia mungkin akan
menjadi pengemis, pelacur, atau penjahat.
Skizofrenia residual

Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu
episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala negatif yang
lebuh menonjol. Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan
aktivitas, penumpula afek, pasif dan tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan,
ekspresi nonverbal yang menurun, serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi
semua :

Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan


psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan
ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,
komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak
mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial

yang buruk;
Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau

yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia;


Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas
dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat
berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negative dari
skizofrenia;
Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain,

depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas


negative tersebut.
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus menerus
adanya gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala
yang cukup untuk memenuhi tipe lain skizofrenia.Penumpulan emosional, penarikan
social, perilaku eksentrik, pikiran yang tidak logis, dan pengenduran asosiasi ringan
adalah sering ditemukan pada tipe residual.Jika waham atau halusinasi ditemukan
maka hal tersebut tidak menonjol dan tidak disertai afek yang kuat.
Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated).
Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan
kedalam salah satu tipe.PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak
terinci. Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid,

hebefrenik, atau katatonik.


Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca
skizofrenia.

Depresi Pasca-Skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :

Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum

skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;


Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi

gambaran klinisnya); dan


Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit
kriteria untuk episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit
2 minggu. Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis
menjadi episode depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan
menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai.

Skizofrenia lainnya

Bouffe Delirante (acute delusional psychosis)


Konsep diagnosis skizofrenia dengan gejala akut yang kurang dari 3 bulan,
kriteria diagnosisnya sama dengan DSM-IV-TR. 40% dari pasien yang
didiagnosa

dengan

bouffe

delirante

akan

progresif

dan

akhirnya

diklasifikasikan sebagai pasien skizofren


Oneiroid
Pasien dengan keadaan terperangkap dalam dunia mimpi, biasanya mengalami
disorientasi waktu dan tempat.Istilah oneiroid digunakan pada pasien yang
terperangkap dalam pengalaman halusinasinya dan mengesampingkan

keterlibatan dunia nyata.


Early onset schizophrenia
Skizofrenia yang gejalanya muncul pada usia anak-anak. Perlu dibedakan

dengan retardasi mental dan autisme


Late onset schizophrenia
Skizofrenia yang terjadi pada usia lanjut (>45 tahun). Lebih sering terjadi pada
wanita dan pasien-pasien dengan gejala paranoid.

Gangguan skizoafektif

Gangguan skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun


gangguan afektif (saat ini disebut gangguan mood).
Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup gangguan skizoafektif kurang dari 1 %, sekitar 0,5
0,8 %. Pada praktek klinis, diagnosis permulaan gangguan skizoafektif sering
digunakan bila seorang klinisi tidak yakin akan diagnosis. Gangguan skizoafektif tipe
depresif mungkin lebih sering terjadi pada orang tua daripada orang muda dan tipe
bipolar lebih sering pada dewasa muda daripada dewasa tua. Laki laki dengan
gangguan skizoafektif mungkin memperlihatkan perilaku antisosial dan mempunyai
afek tumpul yang nyata atau tidak sesuai.
Etiologi
Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui, gangguan skizoafektif
mungkin merupakan ekspresi simultan skizofrenia dan gangguan mood. Pasien
dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis lebih baik daripada pasien
skizofrenia dan prognosis paling buruk dari pada pasien dengan gangguan mood.
Kriteria diagnostik
DSM-IV-TR gangguan skizoafektif
a. Periode penyakit tidak terputus pada sewaktu waktu berupa episode depresif
mayor, episode manik atau episode campuran yang terjadi bersamaan dengan
gejala yang memenuhi kriteria A. Skizofrenia.
b. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama
sekurang kurangnya 2 minggu tanpa gejala mood yang menonjol.
c. Gejala yang memenuhi kriteria episode mood timbul dalam jumlah yang
bermakna pada durasi total periode aktif dan residual penyakit.
d. Gangguan tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat atau keadaan
kesehatan umum.
Tentukan tipe:
1. Tipe bipolar

: jika gangguan mencakup episode manik atau

campuran.
2. Tipe depresif
: jika gangguan hanya mencakup episode depresif
mayor.
Diagnosis banding
Diagnosis banding psikiatri biasanya mencakup semua bentuk gangguan mood
dan skizoprenia. Pada setiap diagnosis banding gangguan psikotik, pemeriksaan

medis lengkap harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik gejala riwayat
penyalahgunaan obat dapat mengindikasikan gangguan induksi zat. Keadaan medis
sebelumnya, pengobatan, atau keduanya dapat menyebabkan gangguanpsikotik dan
mood. Gangguan psikotik akibat gangguan kejang lebih sering terjadi daripada yang
terlihat pada populasi umum. Gangguan tersebut cenderung ditandai dengan paranoia,
halusinasi dan ide rujukan. Pasien epileptik dengan psikosis diyakini mempunyai
tingkat fungsi yang lebih baik daripada pasien dengan gangguan spektrum
skizofrenik. Kontrol bangkitan yang lebih baik dapat mengurangi psikosis
.
Perjalanan dan prognosis
Telah diduga bahwa peningkatan adanya gejala skizofrenik memprediksi
prognosis lebih buruk. Setelah satu tahun, pasien dengan gangguan skizoafektif
mempunyai hasil yang berbeda yang bergantung apakah gejala dominannya afektif
(prognosis lebih baik) / skizofrenik (prognosis lebih buruk). Satu studiyang
mempelajari pasien yang didiagnosis gangguan skizoafektif selama 8 tahun
mendapatkan hasil pasien tersebut lebih menyerupai skizofrenia dari pada gangguan
mood dengan gambaran psikotik.
Pengobatan
Mood stabilizer adalah cara utama pengobatan gangguan bipolar dan
diharapkan dapat bermanfaat pada pengobatan pasien dengan gangguan skizoafektif.
Pada episode manik, pasien skizoafektif sebaiknya diobati secara agresif dengan dosis
mood stabilizer dalam kisaran konsentrasi terapetik sedang sampai tinggi dalam
darah. Pada fase rumatan, pemberian dosis dapat dikurangi sampai rentang rendah
sampai sedang untuk menghindari efek samping terhadap sistem organ dan
memudahkan konsumsi dan kepatuhan pengobatan. Pemantauan laboratorium
terhadap konsentrasi obat dalam plasma dan penapisan periodik tiroid, ginjal dan
fungsi hematologi harus dilakukan. Berdasarkan definisi, banyak pasien skizoafektif
menderita akibat episode depresif mayor. Pengobatan dengan antidepresan
menyerupai pengobatan depresi bipolar. Pilihan antidepresan: SSRI : fluoxetine dan
sertralin sering dilakukan sebagai agen lini pertama. Pengobatan psikososial pasien
dapat terbantu dengan kombinasi terapi keluarga, latihan keterampilan sosial, dan
rehabilitasi kognitif. Kisaran gejala mungkin sangat luas, karena pasien mengalami
keadaan psikosis dan variasi kondisi mood yang terus berlangsung. Anggota keluarga
dapat mengalami kesulitan untuk menghadapi perubahan sifat pasien tersebut. Perlu

diberikan regimen obat yang mungkin banyak, semua itu harus dijelaskan kepada
pasien dan keluarga pasien.
Kriteria Diagnosis menurut PPDGJ-III
F25. Gangguan Skizoafektif
Pedoman Diagnostik

Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala


definitive adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama sama menonjol
pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang
satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan
bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi

kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.


Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia

dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.


Bila seseorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia).
Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik jenis
manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran dari keduanya
(F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua episode skizoafektif terselip
diantara episode manik atau depresif (F30-F33).

F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik


Pedoman Diagnostik

Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang
tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode

skizoafektif tipe manik.


Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak
begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang

memuncak.
Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik
lagi dua, gejala skizofrenia yang khas. (sebagaimana ditetapkan untuk
skizofrenia, F20, pedoman diagnostic (a) sampai dengan (d)).

F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif

Pedoman Diagnostik

Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang
tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar episode

didominasi oleh skioafektif tipe depresif.


Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik
depresif maupun kelainan perilaku terkait seprti tercantum dalam uraian

untuk episode depresif (F32).


Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu, dan sebaliknya
ada dua, gejala khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia,
F20, pedoman diagnostic (a) sampai dengan (d)).

F25.2 Gangguan Skizoafektif Tipe Campuran


Pedoman Diagnostik
Gangguan dengan gejala gejala skizofrenia (F.20) berada bersama-sama
dengan gejala-gejala afektif bipolar campuran (F31.6).

DAFTAR PUSTAKA

1. Andreasen, N,C., Carpenter, M.T., Kane, J.M.,Lasser, R.A.,Marder, S.R.,


Weinberger, D.R. 2005. Remission in Schizophrenia: Proposed Criteria and
Rationale for Consensus. Am J Psychiatry. 162:441449.
2. Durand, V. Mark, & Barlow, David H. (2006). Psikologi Abnormal. Edisi
Keempat. Jilid Pertama. Jogjakarta : Pustaka Pelajar

3. Jenkins, J.H.,Garcia, J.I.R., Chang, C.L., Young, J.S., Lopez, S.R. 2006.
FamilySupport Predicts Psychiatric Medication Usage Among Mexican
AmericanIndividuals with Schizophrenia. Social Psyciatry and Psychiatric
Epidemology,41. 624-631.
4. Kaplan H.I, Sadok B.J. Sinopsis Psikiatri, Edisi ketujuh, Jilid I, Binarupa
Aksara, Jakarta, 1997 : 777-83
5. Kaplan H.I, Sadok B.J. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Cetakan I, Widya
Medika, Jakarta, 1998 : 227-229
6. Kaplan H.I, Sadok B.J. Comprensive Textbook Of Psychiatry, William &
Walkins. 5th Edition, USA, 1998 : 128
7. Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2. Surabaya: Pusat
penerbitan dan percetakan.
8. Maslim R, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari
PPGDJ-III, Jakarta, 2001 : 65
9. Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2005). Psikologi
Abnormal. Edisi Kelima. Jilid Pertama. Jakarta : Penerbit Erlangga
10. Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III), Direktorat
Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993.