Anda di halaman 1dari 5

Pluralisme bangsa adalah pandangan yang mengakui adanya keragaman di dalam

suatu bangsa, seperti yang ada di Indonesia. Dimana bangsa Indonesia mengakuai adanya
pemersatuan struktur-struktur golongan masyarakat yang tertuang dalam semboyan bangsa
yaitu 'Bhineka tunggal ika' yang mempunyai makna 'Berbeda-beda akan tetapi tetap satu'.
Disini mengandung arti bahwa bangsa Indonesia mengakui adanya perbedaan pada semua
aspek penduduk bangsa namun tidak mengindahkan perbedaan tersebut.

Dalam

perkembangan perjalanan sejarah bangsa pernah terjadi bahwa keragaman etnik dan
pluralisme budaya dianggap tabu untuk masuk kedalam domain publik. Negara menjadi
represip untuk mengakui dan menghargai keragaman budaya, dimana isu SARA menjadi
momok dan harus dipendam, dan hal itu menyebabkan menjadi laten dan sensitive.
Kehawatiran tersebut akhirnya terbukti dengan munculnya berbagai konflik diberbagai
belahan nusantara.
SARA adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen
identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan.
Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan
pada identitas diri dan golongan dapat dikatakan sebagai tidakan SARA. Tindakan ini
mengebiri dan melecehkan kemerdekaan dan segala hak-hak dasar yang melekat pada
manusia. SARA dapat digolongkan dalam tiga kategori :
1.

Individual : merupakan tindakan SARA yang dilakukan oleh individu maupun

kelompok. Termasuk di dalam katagori ini adalah tindakan maupun pernyataan yang bersifat
menyerang, mengintimidasi, melecehkan dan menghina identitas diri maupun golongan.
2.

Institusional : merupakan tindakan SARA yang dilakukan oleh suatu institusi, termasuk

negara, baik secara langsung maupun tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja telah
membuat peraturan diskriminatif dalam struktur organisasi maupun kebijakannya.
3.

Kultural : merupakan penyebaran mitos, tradisi dan ide-ide diskriminatif melalui

struktur budaya masyarakat. (www.insearching.tripod.com/sara.html)


Dalam masyarakat, yang benar adalah yang baik bagi masyarakat itu, biasanya
dibudayakan pada anggota masyarakatnya melalui belajar (Tilaar, 2004: 83). Dimana
masyarakat ini mampu menyesuaikan konflik yang dihadapinya, mencermati apa yang
terjadi, dan mampu melahirkan masyarakat selektif. Namun kelemahan dari hal ini masih
bersifat individual yang belum menyeluruh pada semua masyarakat baik dalam pola pikir,

tingkah laku, serta penerapan dalam kehidupan. Masalah ini yang membuat banyak kasus
SARA dalam kehidupan sosial masih lebih dominan, perlu adanya keterpaduan dalam
mewujudkan masyarakat multikultural modern yang cerdas serta selektif dalam mengatasi
konflik. Kemajuan zaman yang membuat masyarakat lebih mudah dalam mengakses
teknologi ini pun dapat membuat konflik, terutama pada masalah sosial yang sering muncul
yaitu masalah SARA.Seperti halnya kasus Farhat Abbas yang menulis di jejaring sosial
twitter tentang kasus rasisme yang diduga menghina wakil gubernur DKI Jakarta yang
bernuansa SARA serta menghina golongan komunitas tertentu terlebih pada masyarakat
Islam Tionghoa di Indonesia (lihat KAPANLAGI.COM,edisi : Sen, 27 Mei 2013 04:41 WIB).

Hal hal yang perlu kita lakukan sebagai upaya mengatasi konflik SARA di Indonesia:
1. Berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Doa pada Tuhan sangat penting dalam kehidupan orang beriman. Melihat dari sila pertama
Pancasila saja sudah menyiratkan akan betapa berharganya campur tangan Tuhan dalam
hidup manusia. Untuk dapat mengatasi konflik SARA yang semakin pelik ini, kita harus
mengandalkan Tuhan dengan memohon kekuatan dari Nya untuk dapat mengatasi konflik
SARA dan mengendalikan diri.
2. Mengendalikan emosi
Ketika kita mendengar orang menghina kita atau sesuatu yang berhubungan erat dengan kita,
seringkali kita merasa tersinggung. Oleh sebab itu, kita harus berusaha mengendalikan emosi.
Jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, namun dengan kebaikan.
3. Jangan memanggil orang lain dengan julukan berdasarkan SARA
Hal ini mungkin tidak bermasalah bagi beberapa orang karena kedekatan atau canda gurau
saja. Namun, julukan dapat pula menyinggung perasaan orang lain. Misalnya, orang tertawa
sambil memanggil seseorang yang belum terlalu dekat dengannya dan berkata orang kaya
baru atau orang China bermata sipit. Orang yang dipanggil sembarangan itu dapat
tersinggung perasaannya jika orang tersebut memiliki perasaan yang sensitif.
4. Jangan menghakimi dan berpikiran negatif tentang suku, agama, ras, dan golongan yang
berbeda
Saat menjumpai beberapa orang dari golongan tertentu yang memiliki sifat buruk sama,
jangan pernah menghakimi atau menghina golongan tersebut. Sebagai contoh, orang kaya di
sekitar rumah Anda semuanya suka membuang sampah sembarangan. Lalu Anda langsung
menyimpulkan bahwa orang kaya itu tidak bertanggung jawab. Kesimpulan yang didapat
tidak menyeluruh, tapi hanya dari sudut pandang Anda saja. Itu adalah pandangan subjektif
yang tidak adil dan sangat picik dengan menyamaratakan orang lain berdasarkan suku,
agama, ras, dan golongan tertentu.
5. Jangan memaksakan kehendak pada orang lain

Pemaksaan yang saya maksud di sini, khususnya berkaitan dengan agama. Jika ingin bersaksi
tentang iman di agama tertentu boleh-boleh saja. Namun yang salah adalah jika seseorang
memaksakan kehendak pada orang lain untuk memeluk agamanya dengan menjelek-jelekkan
agama lain.
6. Menghormati dan mengasihi orang lain
Jangan menghina dan menjauhi orang lain bila Anda tidak mau dihina dan dijauhi. Jangan
menyuruh-nyuruh orang lain jika Anda tidak ingin disuruh-suruh. Jangan memukul orang
kalau tidak mau dipukul. Hormati dan kasihi orang lain seperti menghormati dan mengasihi
diri sendiri dan juga Sang Pencipta kita.
6. Melakukan dan memikirkan hal-hal positif secara bersama-sama
Satu hal penting yang wajib diingat oleh setiap warga Indonesia adalah: keanekaragaman
suku, agama, ras, dan golongan itu memperlengkapi kesatuan Indonesia. Jika tubuh hanya
terdiri dari mata saja, tubuh tidak dapat melakukan aktivitas lain selain melihat. Demikian
pula dengan bangsa ini. Jika hanya terdiri dari satu suku saja, maka terasa kurang lengkap
dan miskin budaya. SARA seharusnya semakin memperkaya budaya negeri kita tercinta dan
jangan sampai memecahkan persatuan yang telah terbina selama ini. Berpikirlah positif
terhadap suku, agama, ras ,dan golongan lain.

http://jurnalilmiahtp.blogspot.com/2013/11/pluralisme-bangsa-dalampendidikan.htmlhttp://pasca.undiksha.ac.id/e-learning/staff/images/img_info/6/20-494.pdf
http://eprints.undip.ac.id/19642/1/MEMAHAMI_KEMAJEMUKAN_MASYARAKAT_IND
ONESIA.pdf
http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/20/upaya-mengatasi-konflik-sara-di-indonesia502463.html
http://aldoranuary26.blog.fisip.uns.ac.id/2010/12/22/konflik-sara-di-indonesia/