Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KAPITA SELEKTA ANALITIK

KANDUNGAN TOTAL LOGAM Pb DALAM IKAN DENGAN DESTRUKSI KERING


MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM

OLEH :

I GUSTI NGURAH RAKA ARYAWAN


1208105012

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

KANDUNGAN TOTAL LOGAM Pb DALAM IKAN DENGAN DESTRUKSI KERING


MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM

DASAR TEORI
Indonesia terkenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, kurang lebih
3000 jenis ikan hidup diperairan laut maupun tawar (Haryani, 2008). Penyebaran ikan diperairan
laut sebanyak 51% , diperairan tawar 48%, dan sisanya 1% bergerak dari lingkungan air laut ke
lingkungan air tawar atau sebaliknya (Peristiwadi, 2006)
Ikan didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup di air dan
secara sistematik ditempatkan pada filum Chordata dengan karakteristik memiliki insang yang
berfungsi untuk mengambil oksigen terlarut dari air dan sirip digunakan untuk berenang. Ikan
hampir dapat ditemukan hampir disemua tipe perairan didunia dengan berbagai macam dan
bentuk yang berbeda-beda (Adrim, 2010)
Keberadaan logam-logam berat di lingkungan seperti tembaga, kadmium dan timbal
merupakan masalah lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius. Adanya ion-ion logam
berat dalam limbah industri telah lama menjadi objek dalam bidang kimia analitik dan kimia
lingkungan. Limbah yang mengandung logam berat perlu mendapat perhatian khusus, mengingat
dalam konsentrasi tertentu dapat memberikan efek toksik yang berbahaya bagi kehidupan
manusia dan lingkungan di sekitarnya (Lelifatri, 2010). Peningkatan kadar logam berat dalam air
laut akan diikuti peningkatan kadar logam berat dalam biota laut yang pada gilirannya melalui
rantai makanan akan menimbulkan keracunan akut dan khronik, bahkan bersifat karsinogenik
pada manusia konsumen hasil laut (Keman, 1998)
Timbal adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan
nomor atom 82. Lambangnya diambil dari bahasa Latin Plumbum. Timbal (Pb) adalah logam
berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi. Unsur Pb digunakan dalam bidang
industri modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan pembuat cat, baterai,
dan campuran bahan bakar bensin tetraetil. Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian
khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke
dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.
Keracunan akibat kontaminasi Pb bisa menimbulkan berbagai macam hal diantaranya:
1. Menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin (Hb)

2. Meningkatnya kadar asam -aminolevulinat dehidratase (ALAD) dan kadar protoporphin


dalam sel darah merah
3. Memperpendek umur sel darah merah
4. Menurunkan jumlah sel darah merah dan retikulosit, serta meningkatkan kandungan
logam Fe dalam plasma darah.
Timbal adalah logam yang mudah melarut dalam asam nitrat yang pekatnya (8 M) dan
terbentuk juga nitrogen oksida. Dengan asam nitrat pekat, terbentuk lapisan pelindung berupa
timbale nitrat pada permukaan logam, yang mencegah pelarutan lebih lanjut. (Svehla, 1985, hal:
207).
Destruksi merupakan suatu perlakuan pemecahan senyawa menjadi unsur-unsurnya
sehingga

dapat dianalisis. Istilah destruksi ini disebut juga perombakan, yaitu dari bentuk

organik logam menjadi bentuk logam-logam anorganik. Pada dasarnya ada dua jenis destruksi
yang dikenal dalam ilmu kimia yaitu destruksi basah (oksida basah) dan destruksi kering (oksida
kering). Kedua destruksi ini memiliki teknik pengerjaan dan lama pemanasan atau
pendestruksian yang berbeda
Destruksi basah adalah perombakan sampel dengan asam-asam kuat baik tunggal maupun
campuran, kemudian dioksidasi dengan menggunakan zat oksidator. Pelarut-pelarut yang dapat
digunakan untuk destruksi basah antara lain asam nitrat (HNO3), asam sulfat(H2SO4), asam
perklorat (HClO4) dan asam klorida (HCl). Kesempurnaan destruksi ditandai dengan
diperolehnya larutan jernih pada larutan destruksi, yang menunjukkan bahwa semua konstituen
yang ada telah larut sempurna atau perombakan senyawa-senyawa organik telah berjalan dengan
baik. Senyawa-senyawa garam yang terbentuk setelah destruksi merupakan senyawa garam yang
stabil dan disimpan selama beberapa hari. Pada umumnya pelaksanaan kerja destruksi basah
dilakukan secara metode Kjeldhal. Dalam usaha pengembangan metode telah dilakukan
modifikasi dari peralatan yang digunakan (Raimon, 1993).
Destruksi kering merupakan perombakan organik logam di dalam sampel menjadi logamlogam anorganik dengan jalan pengabuan sampel dalam muffle furnace dan memerlukan suhu
pemanasan tertentu. Pada umumnya dalam destruksi kering ini dibutuhkan suhu pemanasan
antara 400-800oC, tetapi suhu ini sangat tergantung pada jenis sampel yang akan dianalisis.
Untuk menentukan suhu pengabuan dengan sistem ini terlebih dahulu ditinjau jenis logam yang
akan dianalisis. Bila oksida-oksida logam yang terbentuk bersifat kurang stabil, maka perlakuan

ini tidak memberikan hasil yang baik. Untuk logam Fe, Cu, dan Zn oksidanya yang terbentuk
adalah Fe2O3, FeO, CuO, dan ZnO. Semua oksida logam ini cukup stabil pada suhu pengabuan
yang digunakan. Oksida-oksida ini kemudian dilarutkan ke dalam pelarut asam encer baik
tunggal maupun campuran, setelah itu dianalisis menurut metode yang digunakan. Sampel yang
telah didestruksi, baik destruksi basah maupun kering dianalisis kandungan logamnya. Metode
yang digunakan untuk penentuan logam-logam tersebut yaitu metode SSA (Raimon, 1993)
METODE KERJA
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan : Spektrofotometer Serapan Atom (Elmer Paragon 3300),
Timbangan analitik (adventure OHAUSS), Hot plate, Cawan petri, Cawan porselen bertutup, Pot
polypropilen, Pisau, Blender, Sendok plastik, Desikator, Oven, Lemari es, Furnace, dan alat-alat
gelas yang biasa ada di laboratorium.
Bahan yang digunakan adalah ikan, HNO3 65%, HNO3 0,1 M, HCl 37% , HCl 6N, H2O2,
larutan Titrisol (E Merck) Pb 1000 ppm, aquadest dan gas Asetilen
Preparasi standar
Kurva kalibrasi dibuat dari larutan baku pembanding Pb(NO3)2 (Titrisol 1000 mg dalam
50 ml aquabidest, konsentrasi larutan baku yang dibuat adalah 1,00 , 2,00, 3,00, 4,00 dan 5,00
ppm dalam HNO3 0,1 N. Serapan diukur dengan spektrofotometer serapan atom pada 283,3
nm. Hasil absorban dibuat persamaan garis regresi dan koefisien kolerasi.
Preparasi Sampel
Sampel dicuci bersih lalu dipisahkan daging dengan bagian tulang. Kemudian dilumatkan
hingga homogen dengan blender dan ditempatkan dalam wadah polystyrene yang bersih dan
tertutup. Disimpan dalam freezer sebelum dianalisa.
Proses Destruksi Kering
a. Tahap Pengeringan
Cawan petri diberi label, separuh dari permukaan cawan petri ditutup dengan kertas
alumunium untuk mengurangi kontaminasi dari debu selama pengeringan kemudian dimasukan
ke dalam oven pada suhu 103 1oC selama 2 jam, setelah kering cawan petri dipindahkan ke
dalam desikator selama 30 menit, kemudian dilakukan penimbangan dan dicatat (A). Sampel
basah dimasukkan ke dalam cawan petri dan diratakan dengan menggunakan sendok yang

terbuat dari plastik, kemudian ditimbang berat sampel dan cawan petri (B). Cawan petri ditutup
dengan aluminium foil dan dikeringkan dalam oven selama 18 jam pada suhu 103 1oC. Setelah
sampel kering, didinginkan dalam desikator selama 30 menit lalu ditimbang dan dicatat (C).
Sampel ditetapkan kadar airnya, lalu diblender sampai halus dan sampel disimpan dalam botol
polypropylene.
b. Tahap Destruksi Kering/digesti
Cawan porselen bertutup disiapkan dan dibuka separuh permukaannya untuk
meminimalkan kontaminasi dari debu selama destruksi, dikeringkan dalam oven pada suhu 103
1oC, kemudian didinginkan dalam deksikator selama 30 menit, lalu ditimbang dan dicatat
beratnya. Sebanyak 0,5 gram sampel dikeringkan dan dicatat (Wd). Control positif ditambahkan
0,25 ml larutan standar timbal 1 mg/l ke dalam contoh sebelum dimasukkan ke tungku
pengabuan. Sampel dimasukkan ke dalam tungku pengabuan dan tutup separuh permukaannya.
Naikkan suhu secara bertahap 100 oC tiap 30 menit sampai 450 oC dan pertahankan selama 18
jam. Sampel diinginkan pada suhu kamar, lalu tambahkan 1 ml HNO 3 65% dan digoyang dengan
hati-hati sampai seluruh abu larut. Sampel diuapkan pada suhu 100 oC sampai kering. Setelah
kering masukkan kembali dalam tungku pengabuan selama 3 jam, tambahkan 5 ml HCl 6 M
dalam masing-masing sempel sambel terus digoyang dengan hati-hati sampai semua abu larut.
Uapkan pada suhu 100oC sampai kering, lalu tambahkan 10 ml HCl. Sampel ditambahkan 10 ml
HNO3 0,1 M didiamkan pada suhu ruang selama 1 jam, kemudian dipindahkan ke dalam labu
ukur 50 ml, dan ditambahkan sampai garis batas dengan HNO3 0,1 M. Tambahkan H 2O2
sebanyak 20 ml. Sampel siap untuk dilakukan pengujian dengan menggunakan Spektrofotometer
Serapan Atom (AAS).

DAFTAR PUSTAKA
Adrim, M dan Fahmi, 2010, Panduan Penelitian Untuk Ikan Laut, Pusat Penelitian OseanografiLIPI: Jakarta.
Haryani, E. B. S., 2008, Konservasi Sumber Daya Ikan Di Indonesia, Departemen Kelautan Dan
Perikanan: Jakarta.
Keman. S., 1998. Kimia Analisa Kuantitatif. Erlangga: Jakarta.
Lelifajri, 2010. Adsorpsi Ion Logam Cu(II) Menggunakan Lignin dari Limbah Serbuk Kayu
Gergaji.Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan. Vol. 7, No. 3 ; 126-129.
Peristiwadi, T., 2006, Ikan-Ikan Laut Ekonomis Penting Di Indonesia (petunjuk identifikasi),
LIPI Press: Jakarta, Indonesia.
Raimon., 1993, Perbandingan Metode Destruksi Basah dan Kering secara Spektrofotometri
Serapan Atom, Santika, Yogyakarta.
Svehla,G., (1985), Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro, Edisi kelima, Bagian I
Hal. 207, Kalman Media Pusaka: Jakarta.
Yusuf, Yusnidar., Nisma, Fatimah., dan Taruli Tua, Indra Sayt., Analisa Kadar Logam Berat
Timbal (Pb) Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) Yang Dibudidayakan Pada Keramba
Jaring Apung Waduk Jatiluhur Jawa Barat, Jurusan Farmasi UHAMKA: Jakarta.