Anda di halaman 1dari 4

FRAKTUR CERVICAL

I.

DEFENISI
Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para
ahli dalam berbagai literature,
Menurut FKUI, fraktur adalah rusak dan terputusnya kontinuitastulang, sedangkan
menurut Boenges, ME., Moorhouse,MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah
pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa
fraktur adalahterpisahnya kontunuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada
tulang yang berlebihan.
Sehingga fraktur servikal adalah terpisahnya kontinuitas tulang pada vertebra
servikalis.

II.

ANATOMI
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk
skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang cranium,

costa dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut
syaraf, menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh.
Vertebra pada orang dewasa terdiri dari 33 vertebra dengan pembagian 5 regio,
yaitu 7 cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.
III.
IV.

ETIOLOGI

V.

PATOFISIOLOGI

VI.

JENIS FRAKTUR SERVIKAL


Jenis fraktur daerah servikal, sebagai berikut:
1. Fraktur atlas C1
Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi kepala
menopang badan dan daerah servical mendapat tekanan hebat. Condylus
occipitalis pada basis crani dapat menghancurlan cincin tulang atlas. Jika tidak
ada cedera angulasi dan rotasi maka pergeseran tidak berat dan medulla spinalis
tidak ikut cedera. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah posisi
anteroposterior dengan mulut pasien dalam keadaan terbuka.

VII.

Terapi untuk fraktur tipe stabil seperti fraktur atlas ini adalah immobilisasi servical
dengan collar plaster selama 3 bulan.

VIII.

2. Pergeseran C1 C2 (Sendi Atlantoaxial)

IX.

Atlas dan axis dihubungkan dengan ligamentum tranversalis dari atlas yang
menyilang di belakang prosesus odontoid pada axis. Dislokasi sendi atlantoaxial
dapat mengakibatkan arthritis rheumatoid karena adanya perlunakan kemudian aka
nada penekanan ligamentum tranversalis.

X.

Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umunya ligamentum


tranversalis masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan atlas dan dapat
menekan medulla spinalis. Terapi utnuk fraktur tidak bergeser yaitu imobilisasi
vertebra cervical. Terapi utnuk fraktur geser atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi
continues.

XI.

3. Fraktur kompresi corpus vertebral

XII.

Tipe kompresu lebih sering tanpa kerusakan ligamentum spinal namun dapt
mengakibatkan kompresi corpus vertebralis. Sifat rafktur ini adalah tipe tidak stabil.
Terapi untuk fraktur tipe ini adalah reduksi dengan plastic collar selama 3 minggu
(masa penyembuhan tulang).

XIII.

4. Flexi subluksasi vertebral cervical

XIV.

Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah depan yang tiba-tiba sehingga terjadi
deselerasi kepala karena tubrukan atau dorongan pada kepala bagian belakang, terjadi
vertebra yang miring ke depan diatas vertebra yang ada dibawahnya, ligament

posterior dapat rusak dan fraktur ini singkat disebut subluksasi, medulla spinalis
mengalami kontusio dalam waktu singkat.
XV.

Tindakan yang diberikan untuk fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical dilanjutkan
dengan imobilisasi leher terkekstensi dengan collar selama 2 bulan.

XVI. 5. Flexi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical


XVII. Cedera ini lebih berat disbanding fleksi subluksasi. Mekanisme terjadinya fraktur
hamper sama dengan fleksi subluksasi, posterior ligament robek dan posterior facet
pada satu atau kedua sisi kehilangan kestabilannya dengan bangunan sekitar. Jikla
dislokasi atau fraktur dislokasi pada C7 Th1 maka posisi ini sulit dilihat dari posisi
foto lateral maka posisi yang terbaik untuk radiografi adalah swimmer projection
XVIII. Tindakan yang dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi ataupun fraktur dislokasi dari
fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull continu dapat dipakai sementara.
XIX. 6. Ekstensi sprain (kesleo) cervical (Whiplash injury)
XX.

Mekanisme cedera pada jaringan lunak yang terjadu bila leher tiba-tiba tersentakl ke
dalam hiperekstensi. Biasanya cedera ini terjadi setelah tertabrak dari belakang;
badan terlempar ke depan dan kepala tersebtak ke belakang. Terdapat ketidaksesuaian
mengenai patologi yang tepat tetapi kemungkinan ligament longitudinal anterior
meregang atau robek dan diskus mungkin juga rusak.

XXI. Pasien mengeluh nyeri dan kekakuan pada leher, yang refrakter dan bertahan selam
asetahun atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan gejala lain yang lebih
tidak jelas, misalnya nyeri kepala, pusing, depresi, penglihatan kabur dan rasa baal
atau parestesia pada lengan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda fisik, dan
pemeriksaan dengan sinar-X hanya memperlihatkan perubahan kecil pada postur.
Tidak ada bentuk terapi yang telah terbukti bermanfaat, pasien diberikan analgetik
dan fisioterapi.
7. Fraktur pada cervical ke-7 (Processus Spinosus)
Prosesus spinosus C7 lebih panjang dan prosesus ini melekat pada otot. Adanya
kontraksi otot akibat kekerasan yang sifatnya tiba-tiba akan menyebabkan avulse
prosesus spinosus yang disebut clay shovelers fracture. Fraktur ini nyeri tapi tak
berbahaya.