Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Otitis media supuratif kronis (OMSK) ialah infeksi kronik di telinga
tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga
tengah terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental,
bening atau berupa nanah. OMSK didalam masyarakat Indonesia dikenal dengan
istilah congek, teleran atau telinga berair. Kebanyakan penderita OMSK
menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang biasa yang nantinya akan
sembuh sendiri. Penyakit ini umumnya tidak memberikan rasa sakit kecuali
apabila sudah terjadi komplikasi.1
Otitis media supuratif kronik merupakan penyakit infeksi telinga yang
memiliki prevalensi tinggi dan menjadi masalah kesehatan di masyarakat.
Dinegara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1 46%
, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12 46%) dan
prevalensi terendah pada populasi di Amerika dan Inggris (kurang dari 1%). Di
Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran Depkes
1993 1996 prevalensi OMSK sekitar 3,1% populasi. OMSK hingga saat ini
masih sering dijumpai di Indonesia.2
Penyakit ini sangat menggangu dan sering menyulitkan dokter maupun
pasiennya sendiri. Perjalanan penyakit yang panjang, terputusnya terapi,
terlambatnya pengobatan ke spesialis THT dan sosioekonomi yang rendah
membuat penatalaksanaan penyakit ini tetap menjadi problem di bidang THT.3
1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah :
1. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan tinjauan kepustakaan mengenai

hubungan perjalanan penyakit OMSK terhadap terjadinya kolesteatoma


1

2. Untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik senior di Laboratorium Ilmu


Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah terdiri dari:
1. Membran timpani
2. Kavum timpani
3. Prosesus mastoideus
4. Tuba eustachius.

2.1.1. Membran Timpani4,5


Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran ini panjang vertikal
rata-rata 9-10 mm dan diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm, ketebalannya
rata-rata 0,1 mm. letak membran timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga
akan tetapi miring yang arahnya dari belakang luar ke muka dalam dan membuat
sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Membran timpani merupakan
kerucut, dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke arah kavum timpani,
3

puncak ini dinamakan umbo. Dari umbo ke muka bawah tampak refleks cahaya
(cone of light).
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu:
1. Stratum kutanem (lapisan epitel) berasal dari liang telinga
2. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani
3. Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratumkutaneum dan
mukosum.
Lamina propria yang terdiri dari dua lapisan anyaman penyambung elastic
yaitu:
1. Bagian dalam sirkuler
2. Bagian luar radier.
Secara anatomi membran timpani dibagi dalam dua bagian:
1. Pars Tensa
Merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang
tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada
sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.
2. Pars Flasida atau membran Sharpnell, letaknya dibagian atas muka dan lebih
tipis dari pars tensa dan pars flasida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu:
1. Plika maleolaris anterior (lipatan muka)
2. Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang).
Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang
dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus
ini dan bagian ini disebut insisura timpanika (Rivini). Permukaan luar dari
membran timpani disarafi oleh cabang n. aurikulo temporalis dari nervus
mandibula dan nervus vagus. Permukaan dalam disarafi oleh n. timpani cabang
dari nervus glosofaringeal.
4

Aliran darah membran timpani berasal dari permukaan luar dan dalam.
Pembuluh-pembuluh epidermal berasal dari aurikula yang dalam cabang dari
arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa telinga tengah didarahi oleh timpani
anterior cabang dari arteri maksilaris interna dan oleh stylomastoid cabang dari
arteri aurikula posterior.
2.1.2. Kavum Timpani6
Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal,
bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau
vertikal 15mm, sedangkan diameter tranversal 2 6 mm. kavum timpani
mempunyai 6 dinding yaitu:

Atap kavum timpani


Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani.
Tegmen timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus temporalis
dari otak.
Lantai kavum timpani
Dibentuk oleh tulang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari bulbus
jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari kavum timpani
mudah merembet ke bulbus vena jugularis.
Dinding medial
Berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis
fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan
promontorium.

Dinding posterior

Dinding posterior dekat keatap mempunyai satu saluran disebut aditus ad


antrum, yang menghubungkan kavum timpani dengan antrum mastoid melalui
epitimpanum. Di bawah aditus terdapat lekukan kecil yang disebut fosa inkudis
yang merupakan suatu tempat prosesusbrevis dari inkus dan melekat pada seratserat ligamen. Dibawah fosainkudia dan di medial dari korda timpani adalah
piramid, tempat terdapatnya tendon muskulus stapedius, tendon yang berjalan
keatas dan masuk kedalam stapes. Diantara piramid dan anulus timpanikus adalah
resesus fasialis.
Dinding anterior
Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius.
Tuba ini berhubungan dengan nasofaring dan mempunyai dua fungsi. Pertama,
menyeimbangkan tekanan membrane timpani pada sisi sebelah dalam, kedua
sebagai drainase sekresi dari telinga tengah, termasuk sel-sel udara mastoid.
Diatas tuba terdapat sebuah saluran yang berisi otot tensor timpani. Di bawah
tuba, dinding anterior biasanya tipis dimana ini merupakan dinding posterior dari
saluran karotis.
Dinding lateral
Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran. Bagian
tulang berada diatas dan bawah membran timpani.
2.1.3 Prosesus Mastoideus6
Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa
tulang temporal. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan
mempunyai sel-sel udara mastoid yang berasal dari dinding-dindingnya.
Proses mastoid sangat penting untuk sistem pneumatisasi telinga.
Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan atau perkembangan
rongga-rongga udara di dalam tulang temporal, dan sel-sel udara yang terdapat di
dalam mastoid adalah sebagian dari sistem pneumatisasi yang meliputi banyak
bagian dari tulang temporal. Sel-sel prosesus mastoid yang mengandung udara
berhubungan dengan udara didalam telinga tengah.
6

Sellulae mastoideus seluruhnya berhubungan dengan kavum timpani.


Dekat antrum sel-selnya kecil semakin ke perifer sel-selnya bertambah besar. Oleh
karena itu bila ada radang pada sel-sel mastoid, drainase tidak begitu baik
sehingga mudah terjadi radang pada mastoid (mastoiditis).
2.1.4 Tuba Eustachius4
Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani
bentuknya seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan
kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36
mm berjalan kebawah, depan dan medial dari telinga tengah 13 mm dan pada
anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu:
1. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian)
2. bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian)
Bagian tulang sebelah lateral dari dinding depan kavum timpani dan
bagian tulang rawan medial masuk ke nasofaring. Bagian tulang rawan ini
berjalan ke arah posterior, superior dan medial sepanjang 2/3 bagian
keseluruhanpanjang tuba (4 cm), kemudian bersatu dengan bagian tulang atau
timpani. Tempat pertemuan itu merupakan bagian yang sempit yang disebut
ismus. Bagian tulang tetap terbuka, sedangkan bagian tulang rawan selalu tertutup
dan berakhir pada dinding lateral nasofaring. Pada orang dewasa muara tuba pada
bagian timpani terletak kira-kira 2 2,5 cm, lebih tinggi dibanding dengan
ujungnya nasofaring. Pada anak-anak, tuba pendek, lebar dan letaknya mendatar
maka infeksi mudah menjalar dari nasofaring ke telinga tengah. Tuba dilapisi oleh
mukosa saluran nafas yang berisi sel-sel goblet dan kelenjar mucus dan memiliki
lapisan epitel bersilia didasarnya. Epitel tuba terdiri dari epitel silinder berlapis
dengan sel selinder. Disini terdapat silia dengan pergerakannya ke arah faring.
Sekitar ostium tuba terdapat jaringan limfosit yang dinamakan tonsil tuba. Otot
yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu:
1. M. Tensor veli palatini
7

2. M Levator veli Paltini


3. M. salphingo faringeus
4. M. tensor timpani
Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan udara di dalam kavum timpani dengan tekanan udara luar,
drainase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan menghalangi masuknya
sekret dari nasofaring ke kavum timpani.
2.2 OTITIS MEDIA SUPURATIF FRONIK
2.2.1 Definisi
Gambaran dasar yang sering pada semua kasus OMSK adalah
dijumpainya membran timpani yang tidak intak. OMSK adalah peradangan kronis
dari telinga tengah dimana ditemukan membran timpani tidak intak (perforasi)
dan adanya sekret (otorea) purulen yang hilang timbul dan berlangsung lebih dari
2 bulan.6

2.2.2 Etiologi
Terjadinya OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis berulang pada anak,
jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring
(adenoiditis, tonsilitis, rinitis dan sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba
Eustachius.6
Penyebab OMSK antara lain:6
1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi
mempunyai hubungan erat antara penderita OMSK dan sosioekonomi, dimana
kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi. Tetapi sudah
hampir dipastiakn hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet,
tempat tinggal yang padat.
2. Genetik

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah


insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai
faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis
media, tetapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.
3. Otitis Media sebelumnya
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari
otitis media akut atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa
yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi
keadaan kronis

4. Infeksi
Organisme yang terutama dijumpai adalah Gram- negatif, flora tipe- usus,
dan beberapa organisme lainnya. Bakteri aerob yang sering ditemukan yaitu
Pseudomonas aeruginosa, Stafilokokus aureus dan proteus.
5. Infeksi saluran nafas atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran
nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah
menyebabkanmenurunya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara
normal berada dalam telinga tengah sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar
terhadap otitis media kronis.
7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
dibanding yang bukan

alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian

penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksintoksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya.

8. Gangguan fungsi tuba eustachius


9

Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk


mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak
mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.
Beberapa faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap
pada OMSK:6

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan


produksi sekret telingan purulen berlanjut.

Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan


spontan pada perforasi

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui


mekanisme migrasi epitel.

Pada pinggir perforasi dari epitel skuamosa dapat mengalami pertumbuhan


yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga
mencegah penutupan spontan dari perforasi.
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah purulenta

menjadi kronik majemuk, antara lain:6


1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronik atau berulang.
a. infeksi hidung dan tenggorokan yang kronis atau berulang
b. obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total
2. Perforasi membran timpani yang menetap
3. Terjadinya metaplasia skuamosa atau perubahan patologik menetap lainnya
pada telinga tengah
4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. Hal ini
dapat disebabkan oleh jaringan parut, penebalan mukosa, polip, jaringan
granulasi atau timpanisklerosis
5. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomilitis persisten di
mastoid.
6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau
perubahan mekanisme pertahanan tubuh.

Faktor predisposisi pada OMSK:6


10

Infeksi saluran nafas atas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis


kronis.

Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronik

Mandi dan berenang di kolam renang atau sungai

Mengkorek telinga dengan alat yang terkontaminasi

Malnutrisi, diabetes melitus dan Koch pulmonal

Otitis media purulenta akut yang berulang

2.2.3 Klasifikasi
Letak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe atau
jenis OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sentral,
marginal atau atik. Oleh karena itu disebut perforasi sentral, marginal atau atik.1

Pada perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di


seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani. Pada perforasi marginal
sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus
timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak di pars flaksida.1

11

OMSK dapat dibagi atas dua jenis, yaitu :

OMSK tipe aman (tipe mukosa atau tipe benign)


Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan

biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK


tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe
aman tidak terdapat kolesteatoma.1

OMSK tipe bahaya (tipe tulang atau tipe maligna).


Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai

dengan kolesteatoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau tipe
tulang. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau atik, kadangkadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal.
Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe
maligna.1
Berdasarkan sekret yang keluar dari kavum timpani dikenal juga OMSK
aktif dan OMSK tenang.1
1. OMSK aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh
perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eustachius atau setelah berenang
dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid
sampai purulen. Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas.
Perluasan infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan
penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif gagal
untuk mengontrol infeksi atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan atau
tanpa migrasi sekunder kulit, dimana kadang-kadang adanya sekret yang
berpulsasi diatas kuadran posterosuperior.1,6
2. OMSK tenang
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan
mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala ini dijumpai berupa tuli konduktif
12

ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus atau suatu rasa penuh
dalam telinga.1,6

Kolesteatoma1
Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel

(keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma


bertambah besar.
Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun
1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor, yang ternyata bukan.
Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah
keratoma (Schucknecht), squamous epiteliosis (Birrel, 1958), kolesteatosis
(Birrel, 1958), epidermoid kolesteatoma (Friedman, 1959), kista epidermoid
(Ferlito, 1970), epidermosis (Sumarkin, 1988).

Kolesteatoma

Patogenesis kolesteatom1
Banyak

teori

dikemukakan

oleh

para

ahli

tentang

patogenesis

kolesteatoma, antara lain adalah teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasi dan
teori implantasi.
Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi
kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan; kolesteatoma adalah epitel
kulit yang berada pada tempat yang salah, atau menurut pemahaman penulis,
kolesteatoma dapat terjadi oleh karena adanya epitel kulit terperangkap.
Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified
squamosa epitelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka / terpapar
13

ke dunia luar. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac
sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama
maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan
terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma.

Klasifikasi Kolesteatom1
Kolesteatoma dapat dibagi atas dua jenis:

1. Kolesteatoma kongenital yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan


pada telinga dengan membran timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Lokasi
kolesteatoma biasanya dikavum timpani, daerah petrosus mastoid atau di
cerebellopontin angle. Kolesteatoma di cerebellopontin angel sering ditemukan
secara tidak sengaja oleh ahli bedah saraf.
2. Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir, jenis ini terbagi atas
dua:
a. Kolesteatoma akuisital primer
Kolesteatoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran
timpani. Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membran
timpani pars flaksida karena adanya tekanan negatif ditelinga tengah akibat
gangguan tuba. (Teori invaginasi)
b. Kolesteatoma akuisital sekunder
Kolesteatoma terbentuk setelah adanya perforasi membran timpani.
Kolesteatoma terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang
telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori
migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi
yang berlangsung lama (teori metaplasi).

14

Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatoma terjadi akibat


implantasi epitel kulit secara iatrogenik kedalam telinga tengah sewaktu operasi,
setelah blust injury, pemasangan pipa ventilasi atau setelah miringotomi.
2.2.4 Patologi
Otitis media supuratif kronis lebih sering merupakan penyakit kambuhan
daripada menetap. Keadaan kronis ini lebih berdasarkan keseragaman waktu dan
stadium dari pada keseragaman gambaran patologis. Ketidakseragaman ini
disebabkan karena proses peradangan yang menetap atau kekambuhan ini
ditambah dengan efek kerusakan jaringan, penyembuhan dan pembentukan
jaringan parut.6
Secara umum gambaran yang ditemukan adalah:6

Terdapat perforasi membran timpani di bagian sentral. Ukurannya dapat


bervariasi mulai kurang dari 20% luas membran timpani sampai seluruh

membrana dan terkenanya bagian-bagian anulus.


Mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit. Selama infeksi aktif, mukosa
menjadi tebal dan hiperemis serta menghasilkan sekret mukoid atau
mukopurulen. Setelah pengobatan, penebalan mukosa dan sekret mukoid
menetap akibat disfungsi kronik tuba Eustachius. Faktor alergi dapat juga

merupakan penyebab terjadinya perubahan mukosa menetap.


Tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak, tergantung pada

beratnya infeksi sebelumnya.


Bila infeksi kronik terus berlanjut, mastoid mengalami proses sklerotik,
sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang. Antrum menjadi lebih kecil
dan pneumatisasi terbatas, hanya ada sedikit sel udara saja sekitar antrum.

2.2.5 Gejala Klinis3,6


1. Telinga Berair (otorrohoe)
Sekret bersifat purulen ( kental, putih ) atau mukoid ( seperti air dan encer )
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas
kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan
yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi
15

iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membram tipani dan infeksi.
Keluarnya secret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah secret dapat
disebabkan infeksi saluran nafas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah
mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inakatif dijumpai adanya secret
telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan
kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keeping-keping kecil,
berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan secret
telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas.
secret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan
polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu
secret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkolosis.
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena
daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif
ke fenestra ovalis. Bila

kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang

pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian
tergantung dari besar dan letak perforasi membrane timpani serta keutuhan dan
mobilitas system pengantaran suara ke telinga tengah pada OMSK tipe maligna
biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran,
tetapi seringkali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga
ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati.
Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya
infeksi karena penetrasi toksin melaui jendela bulat (foramen rotundum) atau
fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis akan
terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea.

3. Otolagia (nyeri telinga)


16

Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan
suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya
drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan
pengaliran secret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau
ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh
adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi
OMSK seperti petrositis, subperiosteal abses atau thrombosis sinus lateralis.

4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi
dinding labiarin oleh kolestotum. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan
tekanan udara yang mendadak atau pada penderita yang sensitif keluhan vertigo
dapat terjadi hanya karena perforasi besar membrane timpani yang akan
menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran
infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga
bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius,
karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga
dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi
meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo.
Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membrane
timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah.
Tanda Klinis

1.
2.
3.
4.

Tanda-tanda klisis OMSK tipe maligna :8,9


Adanya Abses atau fistel retroaurikular
Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.
Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)
Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

2.2.6 Pemeriksaan Klinis


17

Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinis


sebagai berikut:

Pemeriksaan Audiometri6
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli

konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya ketulian
tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan
mobilitas sistem penghantaran suara di telinga tengah.
Evaluasi audiometri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan
fungsi koklea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara
dan tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran
dapat diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga
tengah untuk perbaikan pendengaran.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Radiologi daerah mastoid pada penyakit telinga tengah

kronis nilai diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan


audiometri. Pemeriksaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang
tampak sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan
mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik
memberi kesan kolesteatoma.6,7

2.2.7 Penatalaksanaan
Prinsip

terapi

OMSK

tipe

maligna

ialah

pembedahan,

yaitu

mastoidektomi. Terapi konservatif dengan medika mentosa hanyalah terapi


sementara sebelum dilakukan pembedahan.8
Ada beberapa jenis teknik operasi pada OMSK dengan mastoiditis kronis
yaitu : mastoidektomi sederhana, mastoidektomi radikal, mastoidektomi radikal
dengan modifikasi, miringoplasti, timpanoplasti dan timpanoplasti dengan
pendekatan ganda.9
18

Untuk OMSK

tipe

maligna

pembedahan

yang

dilakukan

yaitu

mastoidektomi radikal atua mastoidektomi radikal dengan modifikasi.

Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau

kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum
timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Maleus, inkus dan krus
anterior posterior stapes diangkat kecuali basis stapes. Dinding batas antara liang
telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga
ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini ialah
untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke
intrakranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki.3

Mastoidektomi radikal dengan modifikasi


Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan kolesteatoma di daerah

atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh ronggamastoid dibersihkan


dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Dinding posterior MAE diangkat
sebagian, dipertahankan dinding MAE tempat anulus timpanikus. Tujuan operasi
ini ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan mempertahankan
pendengaran yang masih ada.3
2.2.8 Komplikasi
Adam dkk (1989) mengemukakan kalsifikasi sebagai berikut:1
A. Komplikasi di telinga tengah:
1. Perforasi persisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasialis
B. Komplikasi telinga dalam
1. Fistel labirin
2. Labirinitis purulenta
3. Tuli saraf (Sensorineural)

19

C. Komplikasi Ekstradural
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hidrosefalus otits
Shambough (2003) membagi atas komplikasi sebagai berikut:1
A. Komplikasi intratemporal

Perforasi membran timpani


Mastoiditis akut
Paresis N. Fasialis
Labirinitis
Petrositis

B. Komplikasi ekstratemporal

Abses subperiosteal

C. Komplikasi intrakranial

Abses otak
Tromboflebitis
Hidrosefalus otikus
Empiema subdura
Abses subdura / ekstradura

2.2.8 Prognosis
Frekuensi komplikasi yang mengancam jiwa pada OMSK telah menurun
drastis dengan ditemukannya antibiotik. Komplikasi ke kranial merupakan
penyebab utama kematian pada OMSK di negara sedang berkembang, yang
sebagian besar kasus terjadi karena penderita mengabaikan keluhan telinga berair.

20

Meningitis adalah komplikasi intrakranial yang sering ditemukan di seluruh dunia.


Kematian terjadi pada 18,6% kasus OMSK dengan komplikasi intrakranial.3

BAB III
LAPORAN KASUS
I. Identitas Pasien
MRS tanggal 26 Oktober 2010
Nama

: Tn. P

21

Umur

: 33 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Buruh Tambang

Alamat

: Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan

Pendidikan terakhir

: SMA

II. Anamnese
Keluhan Utama

: Keluar Cairan dari telinga sebelah kanan

Riwayat Penyakit Sekarang :


Keluhan tersebut dialami pasien sejak kecil sejak usia sekolah dasar.
Telinga sering terasa nyut-nyut dan diikuti oleh keluarnya cairan bening namun
pasien tidak berobat ke dokter dan hanya berobat ke orang pintar dikampungnya.
Sejak saat itu dibelakang daun telinga pasien juga timbul benjolan seperti bisul
(bernanah) dan sekitar 4 tahun yang lalu benjolan tersebut sempat dioperasi
namun timbul kembali. Selanjutnya sakit telinga tersebut bersifat hilang timbul
hingga pasien dewasa. Namun sejak setahun terakhir sakit telinga kanan dirasakan
hampir terus-menerus disertai keluarnya cairan seperti nanah dan berbau busuk,
pasien juga merasakan nyeri kepala sebelah kanan dan juga bisul dibelakang
telinga yang bernanah.
Riwayat penyakit dahulu

Tidak ada riwayat sakit gigi berulang, pilek dan batuk berulang

Tidak ada riwayat penyakit kencing manis

Tidak ada riwayat penyakit TB.

Riwayat penyakit keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
pasien
22

Tidak ada keluarga yang menderita penyakit kencing manis

Tidak ada keluarga yang menderita penyakit TB

Riwayat kebiasaan:

Sewaktu kecil pasien sering mandi di sungai / kali

Pasien sering mengkorek-korek telinga

III. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan dilakukan tanggal 26 Oktober 2010 jam 13.00 wita
Kesadaran

: Composmentis

Vital Sign

: Nadi : 72x/menit, Pernafasan : 20x/menit,


Tekanan Darah : 110/70mmHg, Suhu : 36,80C

Status Generalis:
Kepala

: Conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), sianosis (-), pupil isokor
3mm/3mm, refleks cahaya (-), pembesaran KGB (-)

Thorax

: pergerakan simetris, Rhonki (-), Wheezing (-), sonor, vesikuler,


S1S2 tunggal reguler

Abdomen

: flat, soefel, hepar lien tidak teraba, bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat, edema (-)/(-)

Status Lokalis (THT)


Struktur

Kanan

Kiri

TELINGA

23

Aurikula

Radang (-),

Radang (-),

sikatrik (-), nyeri

sikatrik (-), nyeri

tarik (-), nyeri

tarik (-), nyeri

tekan tragus (-)

tekan tragus (-)

Radang (+),
Retroaurikula

Radang (-),

sikatrik (-), nyeri

sikatrik (-), nyeri

tekan (+)
Fistel (+)

tekan (-)

Hiperemis (+), ,
MAE

Hiperemis (-),

sekret (+), sempit

sekret (-)

(+)

Jernih, tipis,
Membran timpani

retraksi (-), edema

Sulit dievaluasi

(-), refleks cahaya


(+)

HIDUNG
Fetor
Septum nasi
Vestibulum nasi
Mukosa cavum
nasi

Konka nasi

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada deviasi


Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-),

Hiperemis (-),

discharge (-),

discharge (-),

tumor (-)

tumor (-)

Permukaan halus,

Permukaan halus,

hiperemis (-),

hiperemis (-),

edema (-)

edema (-)

TENGGOROKAN
Fetor
Tonsil

(+)
Membesar (-),

Membesar (-),

hiperemis (-),

hiperemis (-),
24

debris (-)

debris (-)

Uvula

Simetris, hiperemis (-), edema (-)

Palatum mole

Simetris, hiperemis (-), edema (-)


Permukaan halus, hiperemis (-),

Dinding faring

granula (-), refleks muntah (+)

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Garputala

Kanan

Kiri

Rinne

Negatif

Positif

Weber

Lateralisasi ke telinga
kanan

Schwabach

Memanjang

Sama dengan pemeriksa

Pemeriksaan Penunjang (26 Oktober 2010)


Laboratorium
Lekosit

13.500
/mm3

Hemoglobin

17,1 gr/dL

Hematokrit

50.6 %

Trombosit

317.000 /
mm3

BT

CT

25

Radiologi foto Schullers dextra et sinistra

Diagnosa : OMSK Maligna dekstra+ Fistel Retroaurikuler deksta + Paralise


Saraf Fasialis
Penatalaksanaan:
Perbaiki Keadaan Umum
Berikan Antibiotik
Operasi Mastoidektomi Radikal
Saran higiene yang baik dan tidak boleh berenang
Terapi

IVFD RL : D5% = 1: 2 (14 tpm)


Inj. Cefotaxim 2 x 1 gr

Laporan Operasi
Laporan Operasi Mastoidektomi Radikal tanggal 29 Oktober 2010 :
1. Pasien dilakukan general anastesi, ETT terpasang
2. Desinfeksi lapangan operasi, pasang duk steril
3. Insisi retroaurikuler dekstra, tampak fistel + jaringan granulasi di retroaurikula
4. Insisi diperdalam sampai tulang tampak jaringan granulasi + jaringan fibrosa,
tulang tereskpose, tampak hole di daerah antrum mastoid
5.Tampak massa kolesteatoma memenuhi rongga mastoid dengan dinding
posterior MAE sudah runtuh, tegmen dura masih intak, sinus dura sudah
menipis.
6. Kuret kolesteatoma
7. Buat meatoplasty, pasang tampon pada daerah mastoid.
8. Tutup luka operasi dan jahit luka operasi. Operasi selesai.
26

27

Proses Operasi Mastoidektomi Radikal

28

LEMBAR FOLLOW UP
Tanggal/Jam
27 Oktober 2010

Hasil Observasi

Penatalaksanan

S : Keluar cairan dari telinga, warna

IVFD RL : D5% = 1: 2

kuning, bau (+),

(14 tpm)
Inj. Cefotaxim 2 x 1 gr

O : KU baik
Vital Sign : T:36.6, N : 98x/menit, R : 26
x/menit, TD : 130/80
Sekret mukopurulent (+), otore fetor (+),

Hasil laboratorium
Hb : 14.7
Hct : 45%
Leukosit : 9.400
Plt : 246.000
Sgot/Sgpt : 18/16

otalgia (-),
A : OMSK Maligna (D) + Fistel
Retroaurikula (D) + paralise saraf fasialis
28 Oktober 2010

S : keluhan tidak bisa tidur malam,

Cefotaxim 2x1 gr iv

O : KU baik

Antrain 3x1 amp iv

Vital Sign : T:36, N : 98x/menit, R :

Dexamethason 3x1 amp iv

25x/menit, TD : 130/80
Luka operasi sedikit basah,
A : Post Op hari 1 Mastoidektomi
Radikal (D) a/i OMSK Maligna (D) +

Cimetidin 3x1 amp iv


Metronidazol 3x500 mg tab
Longgarkan head verban

Fistel Retroaurikula (D) + paralise saraf


fasialis
29 Oktober 2010

S : keluhan tidak bisa tidur malam, nyeri


kepala (+)

Terapi lanjut
Diazepam 5 mg malam hari

O : KU baik
Vital Sign : T:36, N : 80x/menit, R :
20x/menit, TD : 120/80
Luka operasi ,
A : Post Op hari 2 Mastoidektomi
Radikal (D) a/i OMSK Maligna (D) +
Fistel Retroaurikula (D) + paralise saraf

29

fasialis
30 Oktober 2010

S : keluhan tidak bisa tidur malam, nyeri

Terapi lanjut

kepala (-)
O : KU baik
Vital Sign : T:36, N : 80x/menit, R :
20x/menit, TD : 140/80
Luka operasi ,
A : Post Op hari 3 Mastoidektomi
Radikal (D) a/i OMSK Maligna (D) +
paralise saraf fasialis + Fistel
Retroaurikula (D)
Tanggal/Jam
1 November 2010

Hasil Observasi
S : Nyeri Kepala (-)

Penatalaksanan
Aff Infus (vemplon)
Terapi lain lanjut

O : KU baik
Vital Sign : T:36.6, N : 98x/menit, R : 26
x/menit, TD : 130/80
Luka operasi sedikit basah
A : Post op hari 5 OMSK Maligna (D) +
Fistel Retroaurikula (D) + paralise saraf
fasialis
2 November 2010

S : keluhan tidak bisa tidur malam,

Terapi lanjut

O : KU baik
Vital Sign : T:36, N : 98x/menit, R :
25x/menit, TD : 130/80
Luka operasi kering,
A : Post Op hari 6 Mastoidektomi
Radikal (D) a/i OMSK Maligna (D) +
Fistel Retroaurikula (D) + paralise saraf
fasialis
3 November 2010

S : keluhan tidak bisa tidur malam, nyeri

Aff Hecting

30

kepala (+)

Pulang

O : KU baik
Vital Sign : T:36, N : 80x/menit, R :
20x/menit, TD : 120/80
Luka operasi kering
A : Post Op hari 7 Mastoidektomi
Radikal (D) a/i OMSK Maligna (D) +
Fistel Retroaurikula (D) + paralise saraf
fasialis

31

Foto foto Post op hari ke 7 (tanggal 3 November 2010)


Dilakukan Aff hecting dan pasien dibolehkan pulang

BAB IV
DISKUSI
Otitis media purulenta kronik (OMSK) dengan kolesteatoma merupakan
keradangan atau infeksi kronik yang mengenai mukosa dan struktur tulang di
dalam kavum timpani dan dengan terbentuknya kolesteatoma (deskuamasi epitel
liang telinga) ditandai dengan perforasi membran timpani, sekret yang keluar terus
menerus atau hilang timbul.
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
penunjang, pasien didiagnosa menderita OMSK Maligna + Fistel Retroaurikuler.
Berdasarkan anamnesa, pasien mengeluhkan keluarnya cairan dari telinga kanan
dalam satu tahun terakhir, dimana sekret seperti nanah, berbau busuk dan pasien
juga mengeluhkan pendengaran menurun dan sering mengalami nyeri kepala
sebelah kanan.
Pada pemeriksaan otoskopi sulit untuk mengevaluasi keadaan membrane
timpani dikarenakan MAE menyempit dikarenakan adanya pendesakan dari
bagian posterior.. Sedangkan pada pemeriksaan tes pendengaran dengan garpu tala
didapatkan tes Rinne negatif pada telinga kanan, Weber lateralisasi ke sebelah
kanan, dan Schwabah mmemanjang pada telinga sebelah kanan dengan
kesimpulan adanya tuli konduksi pada telinga kanan. Penurunan pendengaran
pada pasien OMSK tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran
32

yang terjadi. Biasanya dijumpai tuli konduktif, namun dapat pula terjadi tuli
persepsi yaitu bila telah terjadi invasi ke labirin atau tuli campuran. Beratnya
ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan
dan mobilitas sistem penghantaran suara ke telinga tengah. Tuli konduktif
merupakan tuli yang disebabkan oleh kelainan di telinga luar dan tengah. Pada
kasus otitis media supuratif kronik dengan kolesteatoma pada pasien, tuli
konduktif yang terjadi dimungkinkan disebabkan oleh perforasi membran timpani
yang hampir total dan kerusakan tulang pendengaran yang terdestruksi akibat
kolesteatoma oleh rena berbagai enzim kolagenase, asam fospatase dan enzim
proteolitik yang dilepaskan oleh osteoklast dan sel inflamasi mononuclear terkait
kolesteatoma.
Dari pemeriksaan penunjang X-ray yaitu foto mastoid posisi Schuller
didapatkan gambaran kolesteatoma. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kolesteatoma
yang terdapat pada penderita telah menyebabkan kerusakan di sekitar
kolesteatoma tersebut yang menyebabkan kerusakan tulang disekitarnya sehingga
pada operasi mastoidektomi radikal didapatkan dinding posterior MAE yang
sudah runtuh, tegmen dura intak, dan sinus dura yang sudah menipis.
Mekanisme pengrusakan tulang oleh kolesteatoma dikatakan mungkin
oleh reaksi imunologik yang timbul, juga karena penekanan debris yang
menumpuk bersama dengan reaksi asam yang timbul karena dekomposisi bakteri.
Proses tersebut menyebabkan erosi yang perlahan-lahan pada tulang disekitarnya.
Erosi tulang ini akhirnya akan merusak sel-sel mastoid, bahkan dapat terus
merusak ke arah mastoid menyebabkan abses retroaurikuler.
Pasien diketahui menderita Paralisis Saraf Fasialis, ini ditandai dengan
kelumpuhan pada otot-otot wajah, dimana pasien tidak atau kurang dapat
menggerakkan otot-otot wajah seperti ketika menggembungkan pipi dan
mengerutkan dahi tampak sekali wajah pasien tidak simetris.
Salah satu komplikasi OMPK yang dijumpai pada telinga tengah adalah
paralisis saraf fasialis perifer yang menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot
wajah, komplikasi paralisis saraf fasialis perifer setelah pasien mengalami otitis
media terjadi sekitar 1 2,3% pada era preantibiotik. Dilaporkan oleh beberapa
penelitian insiden terjadinya paralisis saraf fasialis bervariasi dari 0,16 5,1%

33

pada era antibiotik, namun telah banyak diterima bahwa insiden tersebut
cenderung menurun pada era antibiotik.
Mekanisme efek dari OMPK terhadap fungsi saraf fasialis dapat disebabkan
oleh :
Proses inflamasi secara langsung yang meluas di sepanjang saraf fasialis.
Penekanan saraf fasialis oleh kolesteatoma ataupun jaringan granulasi.
Proses neuropatologi saraf fasialis itu sendiri.
Patogenesis terjadinya paralisis fasialis pada OMPK belum diketahui pasti
karena keterbatasan biopsi pada saraf yang rusak dan belum banyak
diteliti.Sebuah penelitian menyatakan terjadinya gangguan pada saraf fasialis
disebabkan oleh adanya infiltrasi sel-sel inflamasi yang berasal dari kolesteatoma
pada selubung saraf epineural (epineural nerve sheath) yang menyebabkan
neuritis dan degenerasi akson. Paralisis fasialis tidak hanya tergantung dari
besarnya destruksi tulang di kanalis fasialis akan tetapi juga oleh perluasan proses
inflamasi disepanjang saraf fasialis. Pada banyak kasus, seperti yang telah
disebutkan sebelumnya, segmen timpani merupakan tempat tersering dari kanalis
fasialis yang mengalami destruksi dan sebagian kasus terdapat pada segmen atas
mastoid, sedangkan destruksi tulang pada segmen labirin sangat jarang
Prinsip pengobatan pasien OMSK maligna adalah operasi. Pada pasien ini
dilakukan mastoidektomi radikal pada tanggal 29 Oktober 2010 dengan maksud
menghentikan infeksi secara permanen dan mencegah terjadinya komplikasi. Saat
operasi dilakukan didapatkan kumpulan kolesteatoma yang memenuhi rongga
mastoid. Pada pasien ini fungsi pendengaran tidak dapat dipertahankan oleh
karena telah terjadi destruksi tulang pendengaran oleh kolesteatoma. Selain itu
didapatkan rongga pembatas antara telinga luar dan tengah telah hancur yang
dimungkinkan disebabkan destruksi oleh kolesteatoma. Setelah operasi dilakukan
pasien diberikan antibiotik Cefotaxime sebagai antibiotik sefalosforin generasi III
yang memiliki kelebihan lebih mudah menembus blood brain barier sehingga
dapat menekan aktivitas bakteri apabila menginfeksi otak dan sekitarnya,
Metronidazol untuk mematikan mikroba anaerob, Antrain yang mengandung
Metamizole

diberikan

karena

kemampuannya

sebagai

analgetik,

dan

deksamethason sebagai antiinflamasi untuk menekan peradangan yang terjadi.


34

Setelah beberapa hari perawatan pasca operasi dan luka operasi telah
kering, pasien diijinkan pulang pada tanggal 3 November 2010 atau tepatnya 7
hari pasca operasi Mastoidektomi Radikal (D). Edukasi yang diberikan kepada
pasien agar penyakit tidak berulang kembali yaitu pasien diingatkan untuk tidak
mengorek telinga, menjaga agar air tidak masuk ke telinga sewaktu mandi,
menghindari berenang.

35