Anda di halaman 1dari 96

PANDUAN

PENGEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI LAUT


DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA/MMA)
DI WILAYAH COREMAP II - INDONESIA BAGIAN BARAT

Penyusun:
Budy Wiryawan
Agus Dermawan
Editor :
Suraji

CORAL REEF REHABILITATION AND MANAGEMENT PROGRAM


COREMAP II
2006

DAFTAR ISI
1.

KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA)


1.1Pengantar

1
1

2.

3.

4.

1.2 Nomenklatur MMA


1.3 Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia
1.4 Jejaring Kawasan Konservasi (MMA)
1.5 Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA
1.6 Strategi Pencapain Tujuan MMA
1.7 Desain Pengelolaan MMA
1.8 Opsi-opsi Desain MMA Kabupaten/Kota
RENCANA KELEMBAGAAN MMA
2.1 Dasar Kelembagaan MMA
2.2 Status Kelembagaan COREMAP II Daerah
2.3 Perspektif Kelembagaan MMA ke depan
2.4 Mekanisme kerja Kelembagaan MMA
2.5 Lembaga Pengelola MMA
2.6 Sekretariat Pengelola MMA
2.7 Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA
2.8 Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan MMA
2.9 LPSTK dan Pihak Swasta
2.10 Pendanaan MMA

2
5
10
11
12
14
14
19
19
23
25
25
27
27
28
28
29
30

DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT


31. Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di Desa
3.2 Kelompok Masyarakat Pengelola DPL
3.3 Membangun DPL Berbasis Masyarakat
3.4 Metoda Pengelolaan DPL
3.5 Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan
3.6 Zonasi Kawasan
3.7 Lokasi dan Ukuran
3.8 Partisipasi Masyarakat
PERENCANAAN DAN PEMBENTUKAN DPL
4.1 Tahapan dan Pembentukan
4.2 Pemilihan Lokasi MMA
4.3 Sistem Biaya Masuk
4.4 Kelompok Pengelola
4.5 Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa
4.6 Pengelolaan DPL
4.7 Pembuatan Rencana Pengelolaan
4.8 Pemasangan Tanda Batas dan Pemeliharaan
4.9 Pendidikan Lingkungan Hidup
4.10 MCS dan Penegakan Hukum
4.11 Pemantauan dan Evaluasi
4.12 Penyebarluasan Konsep DPL ke Lokasi Lain (scaling-up)
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

33
33
36
37
39
39
41
42
44
47
47
50
53
53
54
57
58
71
72
73
73
75
77
79

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tahapan, Kegiatan, Hasil dan Indikator pengembangan DPL ............................... 48
Tabel 2. Matrik Rencana Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang ................................... 70

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Model Konseptual MMA secara umum ............................................................

12

Gambar 2. Jaringan DPL dalam satu Unit Pengelolaan KKLD Kabupaten/Kota ................

14

Gambar 3. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Kota Batam ...................

16

Gambar 4. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Daerah Kep. Mentawai ....

18

Gambar 5. Usulan Kelembagaan MMA ............................................................................ . 31


Gambar 6. Tahapan Pembentukan Daerah Perlindungan Laut ......................................... 49
Gamabr 7. Tahapan Proses Pembentukan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang
Perlindungan Laut .............................................................................................. 56
Gambar 8. Siklus Kebijakan pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir ............................. 57
Gambar 9. Pentahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang .................. 63

ADB

Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II

COREMAP II
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Jl. Tebet Raya No. 91, Tebet - Jakarta Selatan 12820
Telp : (62-21) 83783931
Fax
: (62-21) 8305007
e-mail : coremapii@dkp.go.id, coremap2@yahoogroups.com
Website : www.dkp.go.id

1. KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH


(MARINE MANAGEMENT AREA)
1.1 Pengantar
1.1. Pengantar
1.2. Nomenklatur MMA
1.3. Pengembangan Kawasan Konservasi
Laut di Indonesia
1.4. Jejaring Kawasan Konservasi (MMA)
1.5. Konsep MMA dan Desain Kelembagaan
Pengelolaan MMA
1.6. Strategi pencapaian tujuan MMA
1.7. Desain Pengelolaan MMA

Buku

panduan

ini

disusun

berdasar pengalaman COREMAP II ADB


dalam

mengimplementasikan

program

pengelolaan sumberdaya terumbu karang


di Indonesia bagian barat, serta dari
pengalaman program pengelolaan pesisir

di Indonesia, terutama CRMP/USAID untuk model Daerah Perlindungan


Laut. Pedoman ini ditujukan untuk para praktisi, perencana dan pengambil
kebijakan untuk wilayah pesisir.

Buku Panduan ini, yang menjelaskan langkah-langkah partisipatif


dalam mengembangkan Kawasan Konservasi Laut (Marine Protected Area),
yang dalam istilah proyek COREMAP

II ADB disebut MMA (Marine

Management Area), yaitu mulai dari mengidentifikasikan isu-isu, baik


potensi maupun masalah, secara singkat dijelaskan tahapan dalam
pengembangan MMA di lokasi proyek. Generalisasi konsep dan ide-ide, serta
lesson-learned

yang

dijelaskan

dalam

buku

ini

diharapkan

dapat

diterapkan para pembaca. Buku ini didesain sebagai pustaka dalam


pengembangan kawasan konservasi laut di wilayah pesisir di Indonesia,
namun demikian para pembaca yang menginginkan informasi yang lebih
spesifik disarankan melihat referensi yang digunakan buku ini.

Manfaat yang diharapkan dari buku ini adalah untuk memfasilitasi


perencana dan paktisi dalam mengembangkan MMA dengan memanfaatkan
pengetahuan lokal, serta kearifan lokal mereka, dalam pengembangan
rencana pengelolaan kawasan konservasi laut ke depan. Diharapkan, para
praktisi dan perencana dapat meningkatkan proses partisipasi stakeholders,

COREMAP II ADB

sebagai basis dalam terbentuknya kolaboratif manajemen MMA, yang akan


menjamin perikanan dan pariwisata berkelanjutan.

Untuk menyamakan persepsi, maka penggunaan istilah MMA di


dalam buku panduan ini digunakan istilah Kawasan Konservasi Laut (KKL)
di tingkat kabupaten, yang dipadankan dalam bahasa Inggris disebut
locally-managed Marine Management Area (MMA). Sedang kawasan
konservasi laut pada skala desa dalam panduan ini disebut dengan Daerah
Perlindungan Laut (DPL).

1.2 Nomenklatur MMA

Walaupun

istilah

Marine

Management

Area

atau

Marine

Conservation Area ataupun Marine Protected Area mempunyai persamaan


arti, namun demikian berikut akan dijelaskan tentang asal-usul istilah
tersebut. Kawasan dilindungi (protected area) adalah suatu kawasan, baik
darat maupun laut yang secara khusus diperuntukkan bagi perlindungan
dan pemeliharaan keanekaragaman hayati dan budaya yang terkait dengan
sumber daya alam tersebut, dan dikelola melalui upaya-upaya hukum atau
upaya-upaya efektif lainnya (IUCN, 1994).

Definisi dari IUCN dan UNDANG-UNDANG

Nomor 5 Tahun 1990

tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, konservasi


adalah manajemen biosfer secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat
bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

IUCN mengelompokkan Kawasan Lindung menjadi 6 kategori : (1)


Strict Nature Reserve/Wilderness Area, (b) National Park, (c) Nature
Monument,

(d)

Habitat/Species

Management

Area,

(e)

Landscape/Seascape, dan (f) Managed Resources Protected Area.

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Protected

Marine Protected Area (Kawasan Konservasi Laut) adalah daerah


intertidal (pasang-surut) atau subtidal (bawah pasang- surut) beserta flora
fauna, sejarah dan corak budaya dilindungi sebagai suaka dengan
melindungi sebagian atau seluruhnya melalui peraturan perUndangUndang an (IUCN, 1995).

Perbedaan bentuk, ukuran, karakteristik pengelolaan dan dibentuk


berdasarkan perbedaan tujuan. Secara umum terdapat empat jenis MPA,
yaitu : konservasi kawasan, konservasi jenis, konservasi jenis peruaya dan
locally-managed Marine Management Area (MMA). Di dunia Internasional
MMA dikenal sebagai suatu kawasan di suatu wilayah perairan pesisir yang
secara aktif dikelola oleh masyarakat lokal/keluarga setempat di sekitar
kawasan, atau oleh pengelolaan kolaboratif baik oleh masyarakat setempat
maupun oleh perwakilan pemerintah daerah. MMA merupakan pendekatan
baru terhadap Marine Protected Area (LMMAnetwork, 2003). Dengan
melihat perkembangan KKL di Indonesia, maka MMA dapat dipadankan
dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL) berbasis masyarakat pada skala
desa, yang terdapat di beberapa desa pesisir di Indonesia, seperti di desa
Blongko, Bentenan, Tumbak di Minahasa dan Pulau Sebesi di Lampung
Selatan, dsb.

Adapun maksud pembentukan KKL dimaksudkan untuk :


(1) Menjamin kelestarian ekosistem laut untuk menopang
kehidupan masyarakat yang tergantung pada sumberdaya
yang ada,
(2) Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut,
(3) Pemanfaatan sumberdaya laut yang berkelanjutan,
(4) Pengelolaan sumberdaya laut dalam skala lokal secara
efektif,
(5) Pengaturan

aktivitas

masyarakat

dalam

kawasan

pengelolaan.

COREMAP II ADB

Sedang tujuan pembentukan KKL adalah :

(1) Peningkatan kualitas habitat (terumbu karang, padang


lamun, dan hutan mangrove),
(2) Peningkatan populasi, reproduksi dan biomassa sumberdaya
ikan,
(3) Peningkatan kapasitas lokal untuk mengelola sumberdaya
ikan,
(4) Peningkatan kohesif antara lingkungan dan masyarakat,
(5) Peningkatan pendapatan masyarakat dari sumberdaya
alam.

Terminologi yang dipakai oleh COREMAP II ADB disebut MMA


(Marine Management Area) dan oleh COREMAP II WB disebut MCA
(Marine Conservation Area). Namun demikian, aplikasi di lapangan tidak
mesti menggunakan istilah yang sama dengan istilah di dalam COREMAP
II. Dengan alasan, bahwa (1) istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat
untuk MMA atau MCA, tetapi diterjemahkan menjadi Kawasan Konservasi
Laut (KKL), (2) istilah Kawasan Konservasi Perairan di dalam UndangUndang

Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 1 (dan penjelasan)

dikategorikan menjadi 4, yaitu : (a) Taman Nasional Perairan, (b), Suaka


Alam Perairan, (c) Taman Wisata Perairan, (d) Suaka Perikanan.

Saat

sekarang,

Pemerintah

Indonesia

sedang

memformalkan

Rancangan Peraruran Pemerintah (RPP) tentang Konservasi Sumberdaya


Ikan menjadi Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumberdaya Ikan
(PP KSDI), yang akan diterbitkan pada tahun 2006.

Pada Pasal 10 PP

tersebut, dijelaskan bahwa Kawasan Konservasi Perairan ditetapkan oleh


Menteri.

Berdasarkan

lingkup

kewenanganya,

pengelolaan

Kawasan

Konservasi Peraiaran terdiri dari : (a) Kawasan Konservasi Perairan


Nasional,

(b)

Kawasan

Konservasi

Konservasi Perairan Kabupaten/Kota.

Perairan

Propinsi,

(c)

Kawasan

Pada PP ini juga mengacu pada

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Undang-Undang

Nomor 31 tentang Perikanan, yang merekomendasikan

jenis kawasan konsrvasi berdasar tujuan pengelolaan, sesuai dengan


Undang-Undang

tersebut.

Peraturan perUndang-Undang

an sebagaimana diuraikan di atas

memberi mandat hukum atau kewenangan sesuai dengan kompetensi dan


proporsinya masing-masing kepada lembaga-lembaga pemerintah, swasta,
dan masyarakat dalam rangka mengembangkan MMA di Indonesia

1.3 Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia


Perkembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia sejalan dengan
perubahan pendekatan dunia terhadap konservasi laut. Pendekatan pertama
yang dimulai pada abad lalu, terdiri dari pengaturan dan pengelolaan
aktifitas kelautan secara individual sektor, seperti perikanan komersial
dengan berbagai tingkatan koordinasi dan peraturan dari berbagai sektor.
Biasanya kurang koordinasi dan perhatian pengelolaan kawasan pesisirnya.
Pendekatan kedua, adalah dengan pembentukan kawasan konservasi laut
pada skala kecil (desa) yang merupakan salah satu upaya pengelolaan
sumberdaya ikan. Biasanya pendekatan kedua tersebut dilengkapai dengan
pengaturan penggunaan alat-alat penangkapan ikan. Pendekatan ketiga
adalah pembentukan Kawasan Konservasi Laut dengan skala luas, dengan
tujuan yang serba guna dan sistem pengelolaan yang terintegrasi.
Pendekatan ketiga tersebut merupakan pendekatan yang relatif baru di
Indonesia dan akan dilakukan pada pengembangan Kawasan Konservasi
Laut atau MMA oleh COREMAP II.

Mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki luas


wilayah laut lebih besar dari pada luas daratan, dengan total panjang garis
pantainya terpanjang keempat di dunia, maka Indonesia memiliki jumlah
pulau sebanyak 17.508 pulau dengan garis pantai 85.000 km
2004). Wilayah

(WRI,

lautan Indonesia yang terletak pada garis khatulistiwa

COREMAP II ADB

terkenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alamnya,


terutama sumberdaya alam yang dapat pulih (seperti perikanan, hutan
mangrove, terumbu karang), sehingga dikenal sebagai coral triangle
sebagai pusat mega-biodiversitas. Wilayah pesisir juga memiliki arti
strategis karena merupakan wilayah peralihan (interface) antara ekosistem
darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa
lingkungan. Kekayaan sumberdaya tersebut menimbulkan daya tarik bagi
berbagai pihak untuk memanfaatkannya.

Sumberdaya kelautan dan perikanan merupakan salah satu kekayaan


alam yang dimiliki Indonesia dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.
Akan tetapi sampai dengan saat ini, pemanfaatan sumberdaya alam
tersebut kurang memperhatikan kelestariannya sehingga berakibat pada
menurunnya kualitas serta keanekaragaman hayati yang ada. Degradasi
ekosistem terumbu karang telah teridentifikasi sejak tahun 1990-an, sampai
saat ini kerusakan ekosistem pesisir dan penurunan kualitas lingkungan
laut sudah memprihatinkan. Dari hasil penelitian P2O-LIPI (1998), kondisi
terumbu karang di Indonesia hanya 6,41 % dalam kondisi sangat baik ; 24,3
% dalam kondisi baik; 29,22 % dalam kondisi sedang; dan 40,14 % dalam
kondisi rusak. Kerusakan tersebut pada umumnya disebabkan oleh kegiatan
perikanan destruktif, yaitu penggunaan bahan peledak, racun cyanida dan
juga penambangan karang, pembuangan jangkar perahu dan sedimentasi.
Pelaku kerusakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesisir
tetapi juga oleh nelayan-nelayan modern dan nelayan asing.

Kencenderungan di atas dikarenakan kurang optimalnya pengelolaan


kawasan konservasi laut yang berbentuk Taman Nasional atau yang
lainnya, disebabkan oleh ; (1) Orientasi pengelolaan kawasan konservasi
laut lebih fokus pada manajemen teresterial, (2) Pengelolaan bersifat
sentralistik dan belum melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat
setempat,(3)Tumpang tindih pemanfaatan ruang dan benturan kepentingan

Panduan Pengembangan Marine Management Area

para pihak, (4) Banyaknya pelanggaran yang terjadi di kawasan konservasi


laut.

Salah satu bentuk pengelolaan dan perlindungan sumberdaya laut


adalah menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki potensi keanekaragaman
jenis tumbuhan dan satwa, gejala alam dan keunikan, serta ekosistemnya
menjadi kawasan konservasi laut. Melalui cara tersebut diharapkan upaya
perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber
plasma nutfah dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumberdaya alam
secara lestari dapat terwujud.

Dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam laut yang lestari, maka


desain terpadu pengelolaan sumberdaya kelautan sangat diperlukan.
Desain

secara

komprehensif

pemanfaatan

laut

diharapkan

dapat

menyatukan beberapa kebijakan yang ada sehingga dapat mengakomodir


kebutuhan masyarakat seperti : Taman Nasional Perairan, Taman Wisata
Perairan, Suaka Alam Laut dan Cagar Alam Perairan,
Perairan,

Taman Wisata

Kawasan Konservasi Laut atau Daerah Perlindungan Laut,

sesuai dengan Nomenklatur yang terdapat pada Undang-Undang

Nomor

31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Rancangan Peraturan Pemerintah


tentang Konservasi Sumberdaya Ikan.

Kawasan Konservasi Laut merupakan paradigma baru, disamping


kawasan konservasi nasional lainnya sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
dan Ekosistemnya.

Landasan hukum lainnya adalah Undang-Undang

No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu pada pasal 18


dijelaskan bahwa salah satu kewenangan daerah di wilayah laut adalah
eksploitasi dan konservasi sumberdaya alam di wilayahnya.

Kegiatan penyusunan desain KKL ini dimaksudkan untuk mendesain


pokok-pokok pengelolaan konservasi laut yang berskala daerah dan atau

COREMAP II ADB

regional bahkan nasional karena lintas wilayah administrasi daerah


otonom.

Untuk menghindari berbagai permasalahan yang berkembang

dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dapat berdampak pada konflik


vertikal (tumpang-tindih perundangundangan) serta konflik horizontal
(masalah pemanfaatan dan pengelolaan SDI) maka dibutuhkan suatu kajian
yang mendalam terhadap berbagai peraturan perUndang-Undang
yang telah berjalan dan

an

pada akhirnya melahirkan suatu produk

perUndang-Undangan yang menguntungkan berbagai pihak.

Dalam pandangan pemerintah, sumber daya alam hayati laut dan


ekosistemnya sangatlah penting untuk dikelola, karena sebagai sumber
daya alam yang terkandung di dalam bumi dan air Indonesia menurut Pasal
33 ayat (3) UUD dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Arti dikuasai dalam kaitan ini bukan
dimiliki, melainkan negara memperoleh mandat dari rakyat sebagai pemilik
sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya untuk melakukan
pengelolaan dan upaya-upaya lainnya yang bermanfaat bagi rakyat banyak.
Dengan demikian, penggunaan sumber daya alam hayati laut dan
ekosistemnya melalui kegiatan konservasi laut akan bermanfaat bagi rakyat
banyak

bila

secara

ekonomis,

politis,

sosiologis

dan

kultural

menguntungkan.

Untuk melindungi sumberdaya alam ini, pemerintah melakukan


berbagai upaya perlindungan diantaranya dengan menetapkan kawasankawasan konservasi laut yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia.
Pemerintah telah merancang suatu model pengelolaan kawasan di wilayah
laut yang diberi nama Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Sampai
tahun 2006, sebanyak 9 Kabupaten yang telah menetapkan sebagian
wilayah pesisirnya sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah.

Perbedaan bentuk, ukuran, karakteristik pengelolaan dan dibentuk


berdasarkan perbedaan tujuan. Secara umum terdapat empat jenis MPA,
8

Panduan Pengembangan Marine Management Area

yaitu : konservasi kawasan, konservasi jenis, konservasi jenis peruaya dan


Locally Marine Managed Area (LMMA). LMMA ini sepandan dengan konsep
MMA di skala Kabupaten dan DPL di skala Desa, yang sedang
dikembangkan oleh COREMAP II di Indonesia bagian barat.

Di dunia Internasional

LMMA dikenal sebagai Locally Managed

Marine Area, yaitu suatu kawasan di suatu wilayah perairan pesisir yang
secara aktif dikelola oleh masyarakat lokal/keluarga setempat di sekitar
kawasan, atau oleh pengelolaan kolaboratif baik oleh masyarakat setempat
maupun

oleh

perwakilan

pemerintah

daerah.

LMMA

merupakan

pendekatan baru terhadap Marine Protected Area (LMMAnetwork, 2003).

Sekali lagi, terminologi yang dipakai oleh COREMAP II ADB disebut


MMA (Marine Management Area) dan oleh COREMAP II WB disebut MCA.
Untuk di Indonesia bagian barat, satu Kabupaten/Kota hanya terdiri dari
satu Unit MMA. Namun demikian, aplikasi di lapangan tidak mesti
menggunakan istilah yang sama dengan istilah di dalam COREMAP II.
Dengan alasan, bahwa (1) istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk
MMA atau MCA, tetapi diterjemahkan menjadi Kawasan Konservasi Laut
(KKL), (2) istilah Kawasan Konservasi Laut di dalam Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 1 (dan penjelasan) dikategorikan
menjadi 4, yaitu : Suaka Perikanan, Taman Nasional Perairan, Suaka Alam
Perairan, dan Taman Wisata Perairan. Seperti juga disebutkan dalam
Rancangan Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan (draft
Agustus 2006). Peraturan perUndang-Undangan sebagaimana diuraikan di
atas memberi mandat hukum atau kewenangan sesuai dengan kompetensi
dan proporsinya masing-masing kepada lembaga-lembaga pemerintah,
swasta, dan masyarakat dalam rangka mengembangkan MMA di Indonesia

1.4 Jejaring Kawasan Konservasi (MMA)

COREMAP II ADB

Dari beberapa MMA Kabupaten/Kota diupayakan membentuk jejaring


MMA. Seperti disebutkan dalam Pasal 28 Rencana Peraturan Pemerintah
Konservasi Sumberdaya Ikan, yaitu untuk meningkatkan daya tahan dan
keutuhan Kawasan Konservasi Perairan terhadap pengaruh iklim global,
iklim musiman, dan tekanan manusia, perlu dikembangkan Jejaring
kawasan konservasi perairan.
Jejaring kawasan konservasi perairan dikembangkan atas dasar:
a.

keterkaitan biofisik antar Kawasan Konservasi Perairan;

b.

kemitraan antar lembaga pengelola Kawasan Konservasi Perairan


dan/atau antara lembaga pengelola Kawasan Konservasi Perairan
dengan lembaga non-pemerintah nasional dan/atau asing;

Jejaring Kawasan Konservasi Laut, misalnya, dikembangkan dengan


mempertimbangkan bukti ilmiah meliputi aspek oseanografi, limnologi,
biologi perikanan, keterkaitan antar kawasan, daya tahan lingkungan,
kelembagaan pengelolaan, dan aspek ekonomi, sosial serta budaya. Sedang
rencana dan desain Jejaring Kawasan Konservasi Perairan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan dan strategi nasional
konservasi sumber daya ikan.
Kriteria yang dapat digunakan untuk pemilihan lokasi MMA diterakan
dalam Box di bawah ini.

10

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Contoh Kriteria Pemilihan KKL


Kriteria Sosial:
Penerimaan sosial, kesehatan masyarakat, rekreasi, budaya, estetika,
konflik kepentingan, keamanan, keterjangkauan kawasan, pendidikan,
kesadartahuan masyarakat dan kecocokan
Kriteria Ekonomi:
Nilai penting spesies, nilai penting perikanan, sifat-sifat ancaman,
keuntungan ekonomi dan pariwisata.
Kriteria Ekologi:
Keanekaragaman hayati, kealamiahan, ketergantungan, keterwakilan,
keunikan, integritas, produktivitas, ketersediaan dan kawasan pemijahan
ikan.
Kriteria Regional:
Urgensi Regional dan daerah
Kriteria Fragmatik:
Kepentingan, ukuran, tingakt ancaman, efektivitas, peluang,
ketersediaan, daya pulih dan penegakan hukum. (Salm et al, 2002)

1.5 Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA

Konsep MMA berikut merupakan kesepakatan yang diambil dari


kesepakatan para praktisi MMA di Asia-Pasifik yang terjalin dalam MMA
Network. Gambar 1 menjelaskan model konseptual MMA dengan 5
komponen didalamnya, yaitu :
(1) Target (ekosistem terumbu karang), adalah kondisi dimana lokasi
MMA difokuskan yang langsung berpengaruh terhadap aktivitas
MMA.
(2) Ancaman langsung, adalah faktor dimana ancaman secara tibatiba bisa mempengaruhi target.
(3) Ancaman tidak langsung, adalah faktor dimana ancaman yang
muncul dibalik ancaman langsung.

COREMAP II ADB

11

(4) Strategi, adalah aksi yang dilakukan terhadap ancaman suntuk


mencapai target. Untuk satu jaringangan MMA, hanya terdapat
satu strategi MMA
(5) Parktisi,

adalah

individu

atau

organisasi

yang

memiliki

keterampilan dan kapasitas untuk mengimplemntasika strategistrategi

Strategi
MMA

Praktisi

Ancaman
Tak
Langsung

Ancaman
Langsung

Target

Gambar 1. Model Konseptual MMA secara umum


(Sumber LMMA Network, 2003)

1.6

Strategi pencapaian tujuan MMA

COREMAP II melakukan antisipasi terhadap ancaman langsung


maupun tak langsung yang akan mempengaruhi target melalui beberapa
strategi. MMA merupakan kawasan habitat laut yang dikelola oleh
masyarakat setempat, pengelola kawasan, atau yang berhubungan dengan
organisasi dan atau pengaturan bersama dengan perwakilan lembaga
pemerintah. Tiga komponen spesifik dari strategi pengelolaan sebuah MMA
adalah :

(1) Full

Reserve

(Perlindungan

yang

Menyeluruh),

yaitu

perlindungan penuh terhadap sumberdaya alam suatu kawasan.


Kawasan tersebut sering disebut Sanctuary (Suaka) atau
Daerah Larang Ambil atau fully protected area.

12

Panduan Pengembangan Marine Management Area

(2) Species Specific Refugia (Pembatasan Penangkapan Spesies


tertentu, adalah pembatasan penangkapan terhadap spesies
tertentu atau beberapa spesies atau individu dengan ukuran atau
jenis kelamin tertentu.
(3) Effort

or

behavioral

Penangkapan),

adalah

Restrictions
pengaturan

(Pengurangan

Upaya

pembatasan

usaha

penangkapan ikan atau pemanfaatan tertentu di suatu kawasan.


Perijinan

oleh

Pemerintah/Pengusaha

Lokal

menyangkut

pembatasan tipe teknologi yang digunakan, pembatasan tingkat


usaha penangkapan ikan (seperti : jumlah ikan, jumlah perahu,
kuota terhadap jumlah penangkapan, pengaturan musim, pola
pemanfaatan lain yang diperbolehkan (seperti wisata selam) dan
pembatasan perijinan.

Seperti ditargetkan dalam COREMAP II ADB, bahwa sekitar 60.000


Hektar ekosistem terumbu karang dapat dilindungi sampai 2009, setelah
terbentuknya 40-45 Lembaga Pengelola Terumbu Karang berbasis Desa.
Karena COREMAP ADB mempunyai 8 lokasi kabupaten/kota, maka per
lokasi diharapkan terbentuk sebuah MMA yang mempunyai luas 1000
sampai dengan 1500 Hektar terumbu karang.

MMA berfungsi sebagai penghubung jaringan antara kawasan


konservasi laut berbasis desa (Daerah Perlindungan Laut/DPL) berbasis
desa. Banyaknya gugus DPL dalam suatu MMA dapat senantiasa
berkembang, mengingat proses pembentukan dari masing-masing DPL
berbasis desa bervariasi. Namun pada prinsipnya, MMA merupakan pusat
koordinasi pengelolaan kawasan konservasi, yang mempunyai skala dan
status dapat berbeda.
Melalui MMA, maka diharapkan berbagai pemanfaatan kawasan laut
seperti, penangkapan ikan, budidaya, pariwisata, pertambangan, indusrti
transportasi dan kegiatan lain yang selaras dengan tujuan konservasi
kawasan dapat diakomodasi. Dengan adanya DPL-DPL sebagai komponen

COREMAP II ADB

13

dari MMA, diharapkan suatu kawasan konservasi dapat lebih memberikan


manfaat ekologi yang pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi kepada
masyarakat. Karena perlindungan kepada spesies yang bermigrasi (seperti
ikan dan mamalia laut) dapat lebih optimal jika habitatnya secara utuh
dilindingi.

DPL
DPL
DPL

KKLD/MMA
DPL
DPL

Gambar 2. Jaringan Daeral Perlindungan Laut (DPL) dalam


satu Unit Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah
(KKLD) di Kabupaten/Kota.
Keterangan :

Jenis-jenis DPL pada skala desa, maka Jaringan KKLD dapat

berupa Kawasan-Kawasan Konservasi lain sesuai dengan Undang-Undang Nomor


31 Tahun 2004 dan Rancangan Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya
Ikan, yaitu : Taman Nasional Perairan, Taman Wisata Perairan, Suaka Alam
Perairan dan Suaka Perikanan.

1.7

Desain Pengelolaan MMA

Pengelolaan suatu MMA haruslah dirancang secara terpadu, yaitu dengan


memadukan
perikanan,

segenap
pariwisata,

kegiatan

ekonomi,

kehutanan

dan

seperti

perhubungan

pertambangan.

laut,

Keterpaduan

pengelolaan MMA juga meliputi aktivitas sosial dan administrasi dan

14

Panduan Pengembangan Marine Management Area

kepemerintahan). Sementara dampak penting dari lingkungan, seperti


pencemaran, erosi dan sedimentasi memerlukan pertimbangan khusus
dalam desain pengelolaan MMA.

Pengelolaan suatu MMA diharapkan menganut prinsip-prinsip dasar


sebagai berikut :
(1) Adaptif. Pengelolaan yang adaptif terhadap perubahan dan
informasi baru untuk memperbaiki kinerja pengelolaan
suatu MMA.
(2) Berkelanjutan. Upaya-upaya pemanfaatan dilaksanakan
berdasar pada azas keberlanjutan dan ekologis.
(3) Pendekatan

Ekosistem.

memfokuskan

pada

Pengelolaan

integritas

ekosistem

ekosistem

dengan

mempertimbangkan aspek pemanfaatan.


(4) Manfaat Ganda. Pengelolaan dengan mengikuti proses
untuk alokasi sumberdaya dan pengambilan keputusan,
terutama dalam perencanaan dan penetapan kawasan.
(5) Pengelolaan

Bersama.

mengimplementasikan

Pengelolaan

bersama

contoh-contoh

untuk

pengelolaan

sumberdaya yang baik.

1.8 Opsi-opsi Desain MMA Kabupaten/Kota

(1) MMA dibentuk dari Jaringan Daerah Perlindungan Laut (DPL) skala
desa.

Di dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Penetapan MMA


Kabupaten/Kota

menyebutkan

batas-batas

MMA

dengan

koordinat

geografis. Adapun Sebuah MMA Kabupaten dapat terdiri lebih dari satu
Sub-MMA (seperti MMA-1: Pantai Timur Natuna, MMA-2: Pulau TigaSedanau, dsb). Di dalam satu Sub-MMA

merupakan jaringan atau

kumpulan dari Daerah Perlindungan Laut (DPL) terdekat secara hamparan

COREMAP II ADB

15

di desa-desa yang bertetangga, yang ditetapkan dan diatur oleh Peraturan


Desa masing-masing. (Lihat Lampiran : Rancangan Surat Keputusan
Walikota Batam, Bupati Mentawai, dan Natuna tentang Kawasan
Konservasi Laut Daerah)

Karena luasan DPL desa biasanya kecil, dalam lingkup Hektar (misal 10-20
Hektar), maka dalam penetapannya batas-batas DPL tidak perlu untuk
menetapkan posisi geografis dengan Lintang dan Bujur, tetapi cukup dengan
ukuran jarak (meter). Dalam penetapan batas-batas DPL sebaiknya
digunakan tanda-tanda alam (land mark) dan nama-nama lokal batas-batas
zona inti. Zona-zona yang dibuat di dalam DPL diupayakan sesedehana
mungkin, seperti Zona Inti, yaitu kawasan larang-ambil ekstraktif, dan Zona
Penyangga,merupakan zona pemanfaatan terbatas di sekeliling Zona Inti.
(Lihat Lampiran:

Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan

Laut).

Gambar 3. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut


Kota Batam

16

Panduan Pengembangan Marine Management Area

(2) Daerah Perlindungan Laut (DPL) dapat terdiri dari Sub-DPL

Sebuah Daerah Perlindungan Laut yang ditetapkan oleh Desa dapat


terdiri dari satu atau lebih sub-DPL sebagai Zona Inti. Beberapa
pertimbangan, kenapa Desa menetapkan lebih dari satu Zona Inti
dalam lokasi DPL

adalah : a) Desa terdiri dari beberapa dusun

(Rukun Warga) yang tersebar di beberapa pulau, b) terdapat lokasilokasi potensial untuk dilindungi sebagai Zona Inti di sepanjang
pesisir desa, dengan jarak yang relatif jauh untuk keperluan
pengawasan, sehingga perlu membuat batas-batas, misalnya: DPL-1:
Pulau Nguan-Batam, DPL-2: Pulau Abang-Batam, DPL-3 dsb; untuk
satu desa.

Contoh lain adalah DPL di desa Botohilitanu di Nias

Selatan, yang terdisri dari 3 zona inti sebagai sub-DPL.

(3) MMA

dapat terdiri dari jaringan antara Kawasan Konservasi

yang telah ada, digabung dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL) di


desa-desa.

Satu MMA yang disyahkan oleh Surat Keputusan Bupati/Walikota dapat


merupakan jaringan antara Kawasan, yaitu : Kawasan Konservasi yang
telah ada, seperti Cagar Alam, Taman Wisata Laut, dsb. dengan DPL.
Kawasan Konservasi atau kawasan lindung seperti yang termaktub dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah, sedang DPL adalah Daerah Perlindungan
Laut yang ditetapkan oleh Peraturan Desa. Atau Surat Keputusan Desa.
(Lihat Lampiran : Peraturan Bupati Berau tentang Kawasan Konservasi
Laut Kabupaten Berau)

Dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota batas-batas MMA telah di


sebutkan dengan posisi geografis, sedang DPL hanya disebutkan desadesanya saja. Peraturan dan pengelolaan DPL dijelaskan dengan Perturan
Desa/SK Kepala Desa. Khusus untuk Kota Batam, Kelurahan tidak
menerbitkan Peraturan Desa, karena kelurahan tidak otonom, sehingga

COREMAP II ADB

17

untuk pembentukan MMA langsung dengan SK Walikota, termasuk


pengelolaan DPL-DPL nya..

Gambar 4. Usulan Geografis Kawasan Konservasi


Laut Daerah Kepulauan Mentawai.

18

Panduan Pengembangan Marine Management Area

RENCANA KELEMBAGAAN MMA

2.1 Dasar Kelembagaan MMA


2.1. Dasar Kelembagaan MMA
2.2. Status Kelembagaan COREMAP II Daerah
2.3. Perpektif Kelembagaan MMA ke depan
2.4. Mekanisme Kerja Kelembagaan MMA
2.5. Lembaga Pengelola MMA
2.6. Sekretariat Pengelola MMA
2.7. Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA
2.8. Gugus Tugas Pengelolaan MMA
2.9. LPSTK dan Pihak Swasta
2.10. Pendanaan MMA

Sesuai
otonomi

dengan

seluas-luasnya,

asas
otonomi

nyata dan otonomi yang bertanggung


jawab

yang

dianut

oleh

Undang-

Undang Nomor Nomor 32 Tahun


2004. Depdagri sebagai aparat pusat

tidak ingin menimbulkan kesan adanya campur tangan pusat dalam


urusan pembentukan Kawasan Konservasi (MMA). Semua permasalahan
yang terjadi dalam pelaksanaan urusan pemerintahan daerah hendaknya
dapat diselesaikan oleh daerah sendiri sebagai konsekuensi dari penerapan
otonomi. Dalam kaitan ini, provinsi sebagai kepanjangan tangan dari
pemerintah

pusat

dapat

melakukan

inisiatif

untuk

menyelesaikan

permasalahan yang timbul di kabupaten/kota. Apa bila permasalahan


tersebut menyangkut kepentingan nasional, maka barulah Depdagri turun
tangan.

Lembaga pemerintah di tingkat Provinsi yang terkait dengan


upaya pengembangan MMA terutama meliputi:
(1)

Dinas Perikanan dan Kelautan (Di Batam Dinas KP2, di Lingga


Dinas Pengelolaan SDA)

(2)

Dinas Kehutanan;

(3)

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda)


atau dinas yang bertanggungjawab dalam bidang lingkungan
hidup did aerah

(4)

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Dinas Perikanan dan Kelautan berdasarkan Undang-Undang Nomor


31 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 jo. Undang-Undang

COREMAP II ADB

19

Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk melakukan konservasi


laut di wilayah laut selebar 12 mil diukur dari garis pantai, dan melakukan
koordinasi terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan oleh DKP
Kabupaten dan Kota di wilayah laut selebar 4 mil diukur dari garis pantai.
Masalah batas wilayah laut yang tidak kasat mata tersebut sering
menimbulkan perbedaan paham tentang batas-batas kewenangan di
lapangan antara DKP Provinsi dan DKP Kabupaten/Kota.

Departemen Kehutanan berdasarkan Undang-Undang

Nomor 41

Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 jo. Undang-Undang


Nomor 32 Tahun 2004 mempunyai kewenangan konservasi, baik konservasi
di darat maupun di laut. Untuk Kota Batam, dan Lingga pertentangan
mengenai masalah kewenangan konservasi antara DKP

dan Dishut

memang kurang menonjol karena Dishut disibukan dengan masalah lain


yang lebih besar, serta masih bergabungnya bidang kehutanan dalam Dinas
KP2 dan Dinas Pengelolaan Sumberdaya Alam.

Bapedalda

berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 97 jo.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk


melakukan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah Provinsi . Dalam
kaitannya dengan upaya pengembangan MMA, Bapedalda

melakukan

pelestarian fungsi-fungsi lingkungan di wilayah laut yang menjadi


kewenangan provinsi

dan melakukan koordinasi terhadap kegiatan

pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup dalam upaya pengembangan


MMA.

Bappeda berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004


memiliki kewenangan untuk membuat perencanaan pembangunan dan
menetukan alokasi pendanaannya untuk seluruh kegiatan pembangunan
yang

ada

di

wilayah,

termasuk

pengembangan

MMA,

dengan

mempertimbangkan usulan dari daerah kabupaten/kota. Sebagai pengendali


alokasi dana, Bappeda dengan sangat baik dapat memposisikan diri sebagai

20

Panduan Pengembangan Marine Management Area

koordinator dari berbagai kegiatan proyek pembangunan di daerah. Namun


demikian, Bappeda

lebih terlibat langsung dalam pengembangan MMA.

Keterlibatan Bappeda

dilakukan melalui koordinasi perencanaan dan

alokasi pendanaan yang diajukan oleh Bappeda Kabupaten .

Secara umum lembaga pemerintah di tingkat Kabupaten yang terkait


secara langsung dengan pengembangan MMA meliputi:
a.

Dinas Perikanan dan Kelautan;

b.

Dinas Kehutanan;

c.

Dinas Pariwisata;

d.

Badan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

Daerah

(Bapedalda);
e.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda);

f.

Pengawas

Sumber

Daya

Kelautan

dan

Perikanan

(PSDKP).

DKP berdasarkan peraturan perUndang-Undang

an yang berlaku

memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengelolaan sumber


daya kelautan dan perikanan di wilayah perairan laut selebar 1/3 dari
wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi diukur dari garis pantai.
Kewenangan tersebut juga mencakup kewenangan untuk melakukan
konservasi laut. Dalam kaitan ini, Dishut

juga merasa mempunyai

kewenangan di bidang konservasi laut, dan bahkan pada kenyataannya


Dishut telah lebih dulu melaksanakannya sesuai dengan ketentuan hukum
yang berlaku. Misalnya untuk Kota Batam, perbedaan paham haruslah
diantisipasi terutama tentang kewenangan konservasi yang akan menjadi
semakin kompleks dengan bergabungnya Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Pusat yang diberi mandat langsung oleh DKP untuk menegakan kebijakan
penetapan Taman Nasional yang akan dikeluarkan oleh pemerintah pusat di
Pulau Abang, Batam.

COREMAP II ADB

21

Dinas Pariwisata (Dispar) berdasarkan ketentuan hukum yang


berlaku memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengembangkan pariwisata
di Kabupaten/Kota dengan tujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Sehubungan dengan itu, Dispar merasa berkepentingan
terhadap terwujudnya MMA . Oleh karena itu, Dispar diharapkan akan
selalu mendukung dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan pengembangan
MMA. Demikian juga halnya dengan Bappeda yang akan selalu membantu
mengalokasikan dana pembangunan MMA sesuai dengan skala prioritas
pembangunan. Bappeda sesuai kewenangannya di bidang perencanaan dan
alokasi

dana

dapat

melakukan

inisiatif

untuk

mengkoordinasikan

pengembangan MMA dari sudut perencanaan dan alokasi dana.

Bapedalda berdasarkan peraturan perUndang-Undang

an yang

berlaku mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengelolaan


lingkungan hidup, pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup, pengendalian
pencemaran

dan

perusakan

lingkungan,

penanggulangan

akibat

pencemaran dan perusakan lingkungan, rehabilitasi lingkungan, dan


penindakan para pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan, serta
melakukan koordinasi semua kegiatan di bidang lingkungan hidup di
Kabupaten/Kota.

Pelestarian dan Pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya terumbu


karang di lokasi-lokasi COREMAP II yang telah diidentifikasi, sangat
penting untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat pesisir dan pulaupulau kecil. Setelah fasilitasi pengelolaan terumbu karang oleh COREMAP
II selesai, diperlukan suatu kelembagaan dan rencana strategis pengelolaan
terumbu karang di lokasi proyek, yang akan menjadi lokasi-lokasi Marine
Management Area (MMA).

Kelembagaan dan Rencana Strategi (Renstra) pengelolaan terumbu


karang kedepan haruslah memadukan kepentingan para pemangku

22

Panduan Pengembangan Marine Management Area

kepentingan para pihak yang selaras dengan konteks pembangunan global,


nasional, regional dan lokal.

Renstra yang berisi arahan-arahan strategis pengelolaan terumbu


karang dalam kerangka MMA di 8 lokasi COREMAP II di Indonesia bagian
barat. Renstra diharapkan dapat memberikan keuntungan, dalam hal
penyediaan informasi, pembentukan komitmen dan alokasi sumberdaya
yang dibutuhkan untuk pengelolaan berkelanjutan.

2.2 Status Kelembagaan COREMAP II Daerah

Secara umum kelembagaan dapat diartikan sebagai aturan yang


dianut oleh organisasi, dalam hal ini pengelola COREMAP, yang akan
dijadikan pegangan oleh seluruh anggota organisasi dalam menjalankan
segenap aktivitas untuk mencapai tujuan bersama.
Pengertian kelembagaan dalam COREMAP adalah seluruh lembaga,
baik pemerintah sebagai pengelola maupun lembaga non-pemerintah yang
kemungkikan untuk melaksanakan program COREMAP. Baik pengelola
maupun pelaksana COREMAP dilapangan mempunyai wewenang hukum
untuk terlibat langsung ataupun tak langsung dengan program COREMAP.
Salah satu komponen utama dari COREMAP II adalah Pengelolaan
Sumberdaya dan Pembangunan Masyarakat Berbasis Masyarakat (PBM).
Ruang lingkup dari PBM mencakup empat sub-komponen, terdiri dari : (i)
pemberdayaan

masyarakat,

(ii)

pengelolaan

sumberdaya

berbasis

masyarakat, (iii) pengembangan infrastruktur dasar dan fasilitas sosial, dan


(iv) pengembangan mata pencaharian alternatif.

Berikut adalah Target Lembaga yang diusulkan untuk mendapatkan


Training dan Penyuluhan untuk memperkuat kinerja dalam pengelolaan
terumbu karang di daerah.

COREMAP II ADB

23

LSM. Fungsi fasilitasi di lapangan COREMAP dilakukan oleh LSM


yang telah terpilih. Adapun tugas dan fungsi dari LSM sebagai motivator
lapangan berlaku sampai proyek selesai, yaitu :
(1)

Menyiapkan

fasilitator

senior

yang

berkedudukan

di

kabupaten/kota dan berfungsi sebagai koordinator dari para


fasilitator lapangan yang bekerja di desa.
(2)

Menangani aspek administrasi kegiatan di tingkat desa hingga


kabupaten/kota, yang mencakup laporan hasil pemantauan
teknis dan keuangan agar sesuai dengan prosedur dan aturan
yang berlaku mengacu kepada.

(3)

Melakukan

koordinasi

dengan

UPP

kabupaten/kota

dan

instansi-instansi terkait di tingkat Kabupaten, RCU di Propinsi,


PIU - LIPI dan PMO.
(4)

Memfasilitasi pelatihan dan studi banding bagi fasilitator


lapangan,

motivator

desa,

dan

kelompok

kelompok

masyarakat;
(5)

Memfasilitasi penyusunan dokumen-dokumen PBM di tiap-tiap


desa;

(6)

Memfasilitasi

proses-proses

pengadaan

dan

pelaksanaan

kegiatan di tingkat desa melalui fasilitator lapangan;


(7)

Mendorong terbentuknya Peraturan Daerah dalam mendukung


pelaksanaan PBM;

(8)

Membantu penanganan / resolusi konflik di tingkat desa;

(9)

Memfasilitasi pembentukan kelompok-kelompok masyarakat,


pemilihan motivator desa, pengawas lapangan dan pembentukan
Lembaga Pengelola Sumberdaya (LPS) Terumbu Karang.

2.3 Perpektif Kelembagaan MMA ke depan

Untuk mencapai tujuan Program Pengelolaan MMA sehingga dapat


mendukung pengelolaan sumberdaya perikanan yang lebih baik, maka
24

Panduan Pengembangan Marine Management Area

diperlukan pembangunan Kelembagaan Program Pengelolaan MMA yang


didukung oleh lembaga terkait yang memiliki kepedulian terhadap
pengelolaan perikanan berkelanjutan. Keberadaan kelembagaan Program
Pengelolaan MMA diharapkan dapat diterima oleh masyarakat industri
perikanan dan secara jangka panjang akan tetap berjalan. Keberadaan
kelembagaan yang terpadu dan kuat akan menentukan keberhasilan
pelaksanaan program. Adapun prinsip-prinsip yang akan dikembangkan
dalam Program Pengelolaan MMA secara terpadu, adalah :

1. Transparan

bagi

semua

pihak

yang

berkepentingan

untuk

mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan


2. Struktur organisasi yang efisien dengan pengawasan yang efektif dan
dikelola secara profesional
3. Kejelasan tugas pokok fungsi dan tanggung jawab dari masing-masih
unit pengelola program
4. Hasil Program Pengelolaan MMA dapat dipertanggung jawabkan
kepada masyarakat pengguna
5. Adanya kelengkapan peraturan dan menerapkan prinsip dan norma
hukum dalam pengelolaan Program Pengelolaan MMA
6. Dinamis untuk mengakomodasi perubahan untuk perbaikan Program
Pengelolaan MMA.

2.4 Mekanisme Kerja Kelembagaan MMA

Untuk menjalankan sistem pengelolaan MMA diperlukan suatu


mekanisme kerja yang dapat menjamin proses koordinasi para pemangku
kepentingan. Mekanisme Kerja Pengelola MMAdapat dijabarkan secara
singkat sbb :

Bupati dan Gubernur merupakan anggota ex-officio karena jabatan


pada

Dewan/Badan

Pengelola

MMA.

Mereka

akan

memilih

COREMAP II ADB

25

perwakilan dari representasi para pemangku kepentingan utama


untuk duduk dalam Lembaga Pengelola

Lembaga Pengelola MMA akan mengadakan pertemuan rutin yang


terbuka untuk umum.

Sekretariat

Lembaga

Pengelola

memberi

dukungan

dan

mengkoordinasikan semua aspek pengelolaan MMA. Bupati dan


Gubernur akan mengangkat sekretaris

Penasehat ilmiah dan teknis berfungsi untuk memberikan masukanmasukan ilmiah dan teknis merupakan orang-orang ahli di bidang
keilmuan dan teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan MMA.

Bupati akan mengangkat anggota dan ketua Kelompok Kerja dan


Pelaksana Teknis untuk mengimplementasikan pengelolaan MMA.

Gugus Tugas dapat merupakan penjelmaan dari koordinatorkoordinator bidang pada PIU Kabupaten saat ini. Gugus tugas akan
ditentukan oleh Bupati dan memberikan dukungan kepada upayaupaya yang akan dilakukan untuk pengelolaan MMA sesuai dengan
bidangnya.

Tugas-tugas

dimaksudkan

untuk

mengembangkan

strategi MMA di Kabupaten.

Pelaksana teknis merupakan pengembangan dari LPS-TK yang


beranggotakan : pokmas-pokmas, swasta, lembaga teknis pemerintah
dan LSM.

Pelaksana teknis ini

merupakan unit pelaksana

operasional dalam menjalankan program dan kegiatan pengelolaan


terumbu karang daerah

(MMA) di lapangan. Pelaksanaan hal-hal

teknis dilakukan oleh anggota pelaksana teknis dan akan melaporkan


secara rutin kemajuan pelaksanaan kegiatan di lapangan kepada
sekretariat dan memberikan masukan-masukan untuk perbaikan dan
penyempurnaan pengelolaan MMA.

2.5

26

Lembaga Pengelola MMA

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Lembaga Pengelola MMA akan membuat kebijakan dan melakukan


koordinasi dalam penyelenggaraan program pengelolaan MMA secara
terpadu. Tanggung jawab Lembaga Pengelola adalah:
(1)

Mengadopsi dan mengamandemen Renstra Pengelolaan


Terumbu Karang Daerah

(2)

Menyetujui

usulan

program-program

dan

kegiatan

pengelolaan MMA untuk pendanaannya


(3)

Mendorong upaya-upaya mobilisasi sumberdaya, seperti


dana, teknologi, SDM dari luar untuk pengelolaan MMA

(4)

Memfasilitasi resolusi konflik antar pengguna MMA

(5)

Mendorong kerjasama antara Eksekutif dan Legislatif


(DPRD) untuk mengefektifkan pengelolaan MMA

(6)

Membuat

jaringan

pengelolaan

MMA

di

tingkat

Propinsi/Region dan ikut berpartisipasi aktif dalam jaringan


MMA Nasional
(7)

Mendelegasikan

wewenang

dan

menyediakan

dana

operasional dalam tugas-tugas kesekretariatan.

2.6

Sekretariat Pengelola MMA

Tugas Sekretariat Pengelolaan MMA adalah memberi dukungan dan


mengkoordinasikan semua aspek usaha pengelolaan MMA, termasuk
penggalangan partisipasi dari stakeholder. Seketariat mempunyai tanggung
jawab, sbb :

(1)

Memberikan dukungan, berupa memfasilitasi pertemuan,


kepada Lembaga Pengelola MMA, Komite Penasehat Teknis,
Gugus Tugas dan Pelaksana Teknis.

(2)

Mebuat dan mempublikasikan hasil-hasil pengelolaan MMA

(3)

Memfasilitasi persiapan proritas anggaran tahunan untuk


pengelolaan MMA

COREMAP II ADB

27

(4)

Memfasilitasi penyiapan proposal dan pencarian dana dari


pihak luar untuk mendukung pengelolaan MMA yang efektif

(5)

Memfasilitasi

program

pendidikan,

penelitian

dan

keterlibatan masyarakat dengan lembaga-lembaga partner


dan media massa, untuk pengelolaan MMA
(6)

Membuat laporan tahunan mengenai kemajuan pengelolaan


MMA.

2.7 Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA

Komite teknis akan memberikan pedoman dan arahan untuk


memastikan bahwa rencana dan program pengelolaan MMA dibuat dengan
pertimbangan ilmiah dan teknis. Adapun tanggung jawab Komite Penasehat
Teknis :
(1)

Memberikan saran mengenai perencanaan, pengelolaan dan


penyempurnaan pengawasan (MCS) jangka panjang.

(2)

Mempromosikan dan memfasilitasi pertukaran informasi


antara pengguna tentang manfaat MMA bagi masyarakat,
terutama tentang informasi ilmiah, sumberdaya perikanan
dan jasa lingkungan di lokasi MMA.

(3)

Memberikan saran penelitian terapan yang akan digunakan


untuk peningkatan pengelolaan MMA.

2.8

Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan MMA

Unit Pelaksana Teknis di Kabupaten/Kota (UPT) MMA bertugas


untuk mengawasi pelaksanaan program dan menjadi penghubung, serta
memberi dukungan pengelolaan MMA antara pemerintah kabupaten dan
desa-desa.

Berikut adalah tanggung jawab UPT :

28

Panduan Pengembangan Marine Management Area

(1)

Mengembangkan

dan

melaksanakan

program-program

pengawasan pemanfatan dan perlindungan sumberdaya di


lokasi MMA
(2)

Membantu dalam mengembangkan kemampuan kelembagan


pelaksana teknis dalam rangka pengelolaan MMA

(3)

Memberikan rekomendasi berdasar masukan dari keleompok


kerja di Pelaksana Teknis (LPS-TK) mengenai inisiatif
prioritas program, kegiatan dan anggaran tahun yang akan
datang.

(4)

Merekomendasikan usulan mobilisasi sumberdaya dalam


rangka memfasilitasi program dan pengelolaan

(5)

Mengkomunikasikan

pelaksanaan

program

dengan

pemerintah dan perwakilan desa


(6)

Mengkoordinasikan kerja antar Gugus Tugas, maupun dengan


berbagai lembaga di daerah dan nasional.

2.9 LPS-TK dan Pihak Swasta

Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) beserta


Kelompok-kelompok Masyarakat (pokmas), Kelompok Swadaya Masyarakat
dan Pihak Swasta (pengusaha Wisata, Pengusaha Perikanan, dsb.) akan
melaksanakan kegiatan konservasi di Tugas pelaksana teknis adalah untuk
menjalankan program/rencana aksi tahunan pengelolaan MMA yang telah
disetujui dan disyahkan oleh Lembaga Pengelola Adapun tanggung Jawab
Pelaksana Teknis MMA:
(1)

Membantu Gugus Tugas dalam pelaksanaan program dan


kegiatan yang terkait dengan pengelolaan MMA

(2)

Membantu pelaksanaan kegiatan yang telah diusulkan oleh


Kelompok Kerja (berdasarkan isu-isu pengelolaan MMA di
lapangan), melalui Gugus Tugas.

COREMAP II ADB

29

2.10 Pendanaan MMA

Untuk menjamin pendanaan yang berkelanjutan, maka secara


operasional perencanaan program dan pendanaan pengelolaan MMA dapat
disesuaikan dengan siklus perencanaan program dan pendanaan tahunan
pemerintah, baik ditingkat Kabupaten dan Provinsi. Sinkronisasi program
kerja sangat diperlukan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat
(DKP). Sinkronisasi dan harmonisasi program dan pendanaan antara
Kabupaten dan Provinsi dalam perencanaan dan pengelolaan MMA
disarankan untuk menuangkannya ke dalam Kesepakatan Bersama atau
Memorandum of Understanding (MoU) antara Kabupaten dan Provinsi,
setelah MMA terbentuk.

Proses pendanaan progran pemerintah akan mengikuti siklus


pendanaan, yang akan diawali pada bulan Januari sampai Desember setiap
tahunnya. Sebelum pendanaan disetujui menjadi Daftar Isian Proyek (DIP),
maka lembaga terkait sektoral akan menerahkan usulan anggaran
program/kegiatan

ke

DPRD,

setelah

diadakannya

Musrenbang

(Musyawarah Rencana Pembangunan).

Disarankan Lembaga Pengelolaan MMA meninjau kemajuan lembaga


dan program kerjanya dan akan memulai siklus Perencanaan Program
Tahunan.

30

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Lembaga Pengelola
KKLD

Komite Pengarah
Teknis

Sekretariat

Unit Pelaksana Teknis KKLD


Kelembagaan
/SDM

Pengelolaan
Berbasis
Masyarakat

Penyadaran
Masyarakat

Pemantauan dan
Pengawasan
/MCS

Sistem
Informasi,
Training

Kelompok
Kerja Provinsi
LPSTK:
Pokmas
: koordinatif

Swasta/
Asosiasi
: konsultatif

Gambar 5. Usulan Kelembagaan MMA di Tingkat Kabupaten/Kota

COREMAP II ADB

31

DAERAH

PERLINDUNGAN

LAUT

BERBASIS

MASYARAKAT

3.1 Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di desa


3.1.
3.2.
3.3.
3.4.
3.5.
3.6.
3.7.
3.8.

Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di desa


Kelompok Masyarakat Pengelola DPL
Membangun DPL Berbasis Masyarakat
Metode Pengelolaan DPL
Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan
Zonasi Kawasan
Lokasi dan Ukuran
Partisipasi Masyarakat

Dalam

melembagakan

pengelolaan

sumberdaya

terumbu karang di tingkat desa,


COREMAP

berupaya

mengoptimalkan

untuk
peran

pemerintah desa dan lembaga formal di desa meskipun lembaga-lembaga


formal di desa-desa belum berfungsi sebagaimana diharapkan masyarakat.
Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) di desa sebagai
lembaga formal yang ditetapkan oleh Pemerintah Desa.

COREMAP telah memfasilitasi terbentuknya Lembaga Pengelola


Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK). Lembaga ini adalah lembaga resmi
di tingkat desa yang memiliki peran dalam menjalankan Rencana
Pengelolaan Terumbu Karang di Kawasan Konservasi atau Daerah
Perlindungan Laut (DPL) yang akan disusun secara bersama-sama oleh
seluruh Pokmas dan Kelompok Pengawasan Terumbu Karang dan
difasilitasi oleh Fasilitator Lapangan. Tujuan LPS-TK adalah untuk
mengorganisir
melaksanakan

dan

mengkoordinir

program

pokmas-pokmas

PBM-COREMAP

II.

yang

Disamping

ada

dalam

itu

juga

mensinergikan kegiatan pada masing-masing pokmas, sehingga sesuai


dengan RPTK (Rencana Pengelolaan Terumbu Karang) terpadu di DPL.

LPS-TK bertanggung jawab kepada masyarakat desa melalui BPD


atas pelaksanaan rencana pengelolaan pesisir desa.

Bersama dengan BPD

menetapkan rencana pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa dan


peraturan-peraturan mengenai pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir di

32

Panduan Pengembangan Marine Management Area

desa.

Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan

sumberdaya terumbu karang.

Peran

Badan

Perwakilan

Desa

(Legislatif)

bersama

dengan

Pemerintah desa menyusun dan menetapkan rencana pembangunan dan


pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa serta peraturan-peraturan
mengenai pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa.

Melakukan

pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan pelaksanaan


rencana pengelolaan pembangunan di desa merupakan suatu lembaga yang
sudah ada di desa yang dapat melaksanakan Rencana Pengelolaan Terumbu
Karang di Tingkat Desa yang dilaksanakan oleh LPS-TK beserta dengan
Pokmas-Pokmas.

Oleh pemerintah desa

Lembaga Pengelola ini ditetapkan melalui

surat keputusan pemerintah desa untuk memberikan dukungan secara


hukum kepada lembaga dan personil yang akan melaksanakan tugas.
Dalam mengoptimalkan pelaksanaan Rencana

pengelolaan, pemerintah

desa, BPD, serta Badan Pengelola di desa terlibat secara aktif dan
melakukan fungsi dan perannya sebagaimana diamanatkan dalam Rencana
Pengelolaan sebagai panduan dalam pelaksanaan.

LPS-TK dibentuk dan diarahkan menjadi lembaga resmi yang


berbadan hukum. LPS-TK berperan dalam membantu Pemerintah Desa
dalam menjalankan fungsi pengelolaan sumberdaya terumbu karang di
tingkat desa. Dalam pengelolaan suatu kawasan lintas desa, LPS-TK
melakukan koordinasi dan kerjasama dengan LPS-TK dari desa tetangga.

LPS-TK memiliki pengurus yang terdiri dari Ketua, Sekretaris,


Bendahara, dan staf administrasi, dengan anggota terdiri dari seluruh
motivator desa, anggota Pokmas dan anggota pengawas terumbu karang.
LPS-TK beranggotakan wakil-wakil dari para motivator desa, pengurus
Pokmas dan Pengawas Terumbu Karang dan Perwakilan Desa.

COREMAP II ADB

33

LPS-TK dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat yang difasilitasi


oleh fasilitator lapangan dan disahkan oleh Kepala Desa, serta disetujui oleh
PIU kabupaten/kota.

Tugas LPS-TK adalah sebagai berikut:


1)

Menyiapkan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK)

2)

Mengimplementasikan RPTK

3)

Menyusun usulan-usulan kegiatan berdasarkan usulan dari


pokmas-pokmas dan kelompok pengawas terumbu karang;

4)

Menyalurkan dana bagi kelompok-kelompok masyarakat yang


diterima dari PIU;

5)

Melakukan koordinasi dengan Kepala Desa dan PIU dalam


keseluruhan program pengelolaan berbasis mayarakat;

6)

Melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur


sosial yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat secara
langsung;

7)

Mengembangkan

Lembaga

Keuangan

Mikro

yang

akan

melaksanakan Unit Simpan Pinjam (USP);


8)

Melakukan koordinasi dengan LSM dan Konsultan;

9)

Melaksanaan kegiatan administrasi keuangan sesuai dengan


SE-Ditjen Anggaran;

10) Melakukan pemantauan dan evaluasi RPTK;


Pada saat Proyek COREMAP masih berjalan, untuk membangun
sistem koordinasi yang akomodatif antara desa dan kabupaten rapat
koordinasi dilakukan secara berkala. Koordinator-koordinator Project
Implementation Unit (PIU) Kabupaten yang terdiri dari dinas-dinas teknis
di Kabupaten/Kota disepakati untuk memberikan rekomendasi serta kajian
teknis atas usulan kegiatan desa dalam RPTK sekaligus memasukkan
usulan kegiatan ke dalam usulan kegiatan dinas teknis yang akan dibiayai

34

Panduan Pengembangan Marine Management Area

melalui Proyek COREMAP. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan


oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) di desa-desa lokasi COREMAP.

3.2

Kelompok Masyarakat Pengelola DPL

Kelompok masyarakat atau Pokmas adalah kelompok kecil yang


dibentuk di tingkat desa. Proses pembentukan kelompok masyarakat
difasilitasi oleh fasilitator lapangan. Dalam satu desa dapat dibentuk
beberapa kelompok masyarakat menurut kesamaan minat.

Penguatan Pokmas adalah suatu proses meningkatkan kemampuan


dan peran suatu kelompok masyarakat ke arah bidang kegiatan tertentu
(konservasi, produksi, peningkatan peran dan kemampuan perempuan),
agar dapat berperan aktif dalam pelaksanaan pengelolaan terumbu karang.
Pembentukan Pokmas adalah suatu proses membentuk kelompok atau
organisasi masyarakat yang akan mempunyai peran dan fungsi bidang
tertentu (konservasi,

produksi, peningkatan

peran dan kemampuan

perempuan).
Pokmas mempunyai tugas dan tanggung jawab utama :
(1)

Menyebarluaskan informasi kepada masyarakat tentang arti


dan nilai penting ekosistem terumbu karang, adanya ancaman
terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang serta `upayaupaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan
menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang.

(2)

Berperan

aktif

dalam

penyusunan

Rencana

Pengelolaan

Terumbu Karang Terpadu (RPTK Terpadu) yang mencakup


Program Pengelolaan Terumbu Karang, Pengembangan Mata
Pencaharian Alternatif, Pengembangan Prasarana Dasar dan
Peningkatan Kapasitas dan Kesadaran Masyarakat.
(3)

Mengimplementasikan RPTK Terpadu sesuai dengan bidang


Pokmas yang bersangkutan, misalnya Pokmas Konservasi

COREMAP II ADB

35

melaksanakan program-program pengelolaan terumbu karang.


(4)

Membuat laporan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program


kegiatan masing-masing Pokmas.

Persyaratan pembentukan kelompok masyarakat:


(1)

Kelompok masyarakat dianjurkan dibentuk dengan anggota


antara 5 sampai 9 orang dengan anggota yang memiliki
kesamaan minat;

(2)

Kelompok masyarakat memilih 2 (dua) orang pengurus, yaitu


ketua dan bendahara, yang bertanggung jawab dalam aspek
administrasi teknis dan keuangan,

(3)

Pengurus kelompok harus memiliki kemampuan baca dan tulis;

(4)

Anggota kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan secara


proporsional;

(5)

Anggota kelompok yang dipilih adalah orang yang tergolong


dewasa;

(6)

Kelompok masyarakat disahkan oleh Kepala Desa;

3.3 Membangun DPL Berbasis Masyarakat

Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM) merupakan


kawasan pesisisir dan laut yang dapat meliputi terumbu karang, hutan
mangrove, lamun dan habitat lainnya secara sendiri atau bersama-sama yang
dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan
dan pengambilan biota laut, dan pengelolaannya yang dilakukan secara
bersama antara pemerintah, masyarakat dan pihak lain, dalam merencanakan,
memantau, dan mengevaluasi pengelolaannya (Tulungen et at, 2003). Dalam
hal ini, COREMAP II ADB memodifikasi definisi tersebut, dengan memberikan
penekanan bahwa DPL-DPL dalam skala desa, akan dikelola oleh satu Unit
Pengelolaan yaitu Marine Management Area (MMA) di tingkat Kabupaten/Kota
yang akan dikelola secara kolaboratif.

36

MMA ini berbeda dengan Taman

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Nasional Laut atau daerah konservasi dalam skala luas lainnya. Taman
Nasional Laut Bunaken di Sulawesi Utara, misalnya, mimiliki luas 89.065 Ha
dan ditetapkan serta dikelola oleh Pemerintah secara nasional, walaupun saat
sekarang dikelola secara kolaboratif oleh Dewan Pengelola Taman Nasional
Bunaken, yang beranggotakan stakeholders di daerah.

DPL dibentuk berdasarkan ekosistem yang ada, terutama terumbu


karang yang terkait dengan ekosistem pesisir lainnya. Keberadaannya dapat
ditetapkan melalui peraturan Desa untuk Kabupaten, yang sudah otonom.
Khusus untuk Kota (Batam), maka penetapan DPL dilakukan oleh walikota,
karena Kelurahan di Kota tidak otonom. DPL dibentuk untuk melindungi dan
memperbaiki sumberdaya terumbu karang dan perikanan di wilayah yang
mempunyai peranan penting secara ekologis. DPL ini diharapkan merupakan
alat pengelolaan perikanan yang efektif, karena adanya pengaturan perikanan,
perlindungan daerah pemijahan dan pembesaran larva, sebagai asuhan juvenil
(anak ikan), melindungi kawasan dari penangkapan berlebihan, dan menjamin
ketersediaan stok ikan secara berkelanjutan.

Tujuan Penetapan DPL:


Meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan di sekitar
Menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati terumbu karang,
ikan, dan biota lainnya
Dapat dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata
Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pengguna
Memperkuat masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang
Mendidik masyarakat dalam konservasi dan pemanfaatan
sumberdaya berkelanjutan
Sebagai lokasi penelitian dan pendidikan tentang keanekaragaman
hayati laut

COREMAP II ADB

37

3.4 Metode Pengelolaan DPL

Walaupun DPL yang akan dibentuk adalah DPL yang berbasiskan


masyarakat, tetapi pembentukan dan pengelolaannya harus dilakukan bersama
antara masyarakat, pemerintah setempat dan para pihak (stakeholder) yang
ada di desa. Pemerintah daerah, terutama pemerintah desa, haruslah
bekerjasama dalam proses penentuan lokasi dan aturan DPL, pendidikan
masyarakat, bantuan teknis dan pendanaan awal. Tanggung jawab dalam
menentukan lokasi dan tujuan pengelolaan DPL ditetapkan oleh masyarakat,
sedangkan bantuan teknis dan pendanaan, serta persetujuan terhadap
peraturan

ditetapkan

oleh

pemerintah

atas

kesepakatan

masyarakat.

Masyakarat dapat bekerja sama dengan pihak lain,seperti LSM dan Swasta
untuk pengelolaan DPL supaya lebih efektif.

3.5 Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan

Berfungsinya DPL secara pengelolaan adalah apabila terdapatnya suatu


zona inti di dalam DPL, yaitu suatu zona larang ambil permanen. Di dalam
zona inti atau dapat dikatakan zona tabungan perikanan, tidak diperkenankan
adanya kegiatan eksploitatif atau penangkapan ikan. Kegiatan eksploitasi
hewan laut seperti karang, teripang, kerang-kerangan atau organisme hidup
lainnya dilarang untuk diambil.

Zona inti dalam DPL tidak diperkenankan dieksploitasi secara musiman


atau waktu-waktu tertentu, sehingga DPL tidak sama dengan Sasi di Maluku
atau Manee di Sangir-Talaud. Pembukaan musiman dapat menyebabkan
fungsi DPL dan zona intinya tidak berfungsi efektif. Zona inti biasanya berisi
ekosistem terumbu karang yang sehat, karena tidak mengalami gangguan oleh
manusia,

sehingga

biota

karang

termasuk

ikan

karang,

mempunyai

kesempatan untuk kembali pada keadaan terumbu karang yang baik. Zona inti
38

Panduan Pengembangan Marine Management Area

cenderung dipilih yang mempunyai kondisi dan tututan karang yang baik, dan
dihuni oleh beberapa biota dari berbagai ukuran, termasuk pemangsa besar,
seperti kerapu dan hiu.

Diharapkan bahwa zona inti yang tidak diganngu oleh kegiatan


penangkapan ikan atau sangat jarang dikunjungi oleh nelayan, akan memiliki
ukuran ikan yang besar dan ikan-ikan yang hidup di zona inti akan menjadi
induk yang sehat. Ukuran rata-rata ikan yang ada di zona inti yang berfungsi
baik, cenderung memeiliki ukuran yang lebih besar dari pada ikan yang ada di
luar zona inti (zona pemanfaatan). Dari penelitian diketahui bahwa, semakin
panjang dan besar ukuran induk ikan akan memberikan telur yang jauh lebih
besar secara exponensial. Apabila rata-rata umur dan ukuran ikan semakin
muda dan kecil, maka telur dan larva yang akan dihasilkan juga semakin
sedikit. Sehingga, salah satu peran dari zona inti yang ditutup dari kegiatan
penangkapan ikan adalah, untuk menghindari kegagalan perikanan akibat
tidak

tersedianya

induk

ikan

yang

mampu

berkembang

biak

untuk

menghasilkan juvenil ikan, yang akan menjadi besar dan siap untuk
dimanfaatkan oleh kegiatan perikanan.

Yang perlu kita perhatikan adalah, DPL tidak dapat mengatasi masalahmasalah yang berhubungan dengan tangkap lebih (over fishing) di suatu
kawasan, tetapi DPL merupakan salah satu cara yang mudah untuk membantu
menjaga kelestarian habitat, mengurangi cara-cara penangkapan ikan yang
merusak, dan membantu nelayan memahami konsep pengelolaan perikanan.

Fungsi rehabilitasi habitat dapat diperankan oleh DPL, apabila DPL


ditetapkan pada kawasan terumbu karang yang mungkin sudah mulai rusak
oleh kegiatan manusia atau suatu kawasan yang aktivitas perikanannya
sudah berlangsung lama. Dengan adanya DPL maka habitat di kawasan
tersebut mempunyai kesempatan untuk pulih dan biota yang hidup di
dalamnya berkembang biak. Sehingga, DPL menjadi kawasan terumbu
karang penyedia (source reef) telur, larva dan juvenil, serta induk yang sehat,

COREMAP II ADB

39

yang akan mengekport ikan-ikan keluar kawasan. Dilain pihak, DPL dapat
juga menarik ikan-ikan yang ada di luar kawasan karena habitat di dalamnya
yang terpelihara untuk hidup, makan, tumbuh dan berkembang biak.
Mekanisme export larva-larva karang dan telur ikan pada zona inti DPL
dipengaruhi oleh arus perairan, yang dapat sampai jauh di luar kawasan
DPL, sampai beratus-ratus mil laut.

Dari

pengamatan

para

ahli,

menunjukkan

bahwa

DPL

akan

memberikan manfaat kepada perikanan yang ada di sekitar kawasan sekitar


3-5 tahun, sedang DPL akan menunjukkan perubahan kepadatan ikan dan
terumbu karang hidup dalam waktu setelah setahun DPL ditetapkan.

3.6 Zonasi Kawasan

DPL haruslah mempunyai perencanaan zonasi, yang ditetapkan secara


sederhana, artinya mudah dipahami dan dilaksanakan, serta dipatuhi oleh
masyarakat. Zona yang umum dipunyai oleh DPL adalah Zona Inti dan Zona
Penyangga, sedang di luarnya adalah Zona Pemanfaatan. Zona Inti adalah
suatu areal yang di dalamnya kegiatan penangkapan ikan dan aktivitas
pengambilan sumberdaya alam laut lainnya sama sekali didak diperbolehkan.
Begitu pula kegiatan yang merusak terumbu karang, seperti pengambilan
karang, pelepasan jangkar serta penggunaan galah untuk mendorong perahu
juga tidak diperbolehkan.

Sedang kegiatan yang tidak ekstraktif, sepeprti

berenang, snorkling dan menyelam untuk tujuan rekreasi masih diperbolehkan.


Namun demikian perlu kesepakatan dengan masyarakat kegiatan apa saja
yang boleh dilakukan di zona inti, sehingga fungsi zona tersebut dapat optimal.

Pada umumnya DPL, seperti : di desa Blonko, Bentenam dan Tumbak,


serta desa-desa lain di Sulawesi Utara, di desa Sebesi- Lampung, serta DPLDPL di Filipina, memiliki 2 zona utama yaitu zona inti (no-take zone) dan zona
penyangga (buffer zone). Di Zona penyangga, yang merupakan zona di
sekeliling zona inti, kegiatan penangkapan ikan diperbolehkan tetapi dengan
40

Panduan Pengembangan Marine Management Area

menggunakan alat-alat tradisional, seperti pancing dan memanah dengan


perahu tradisional. Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan lampu
(light fishing) dan beberapa alat tangkap yang potensial merusak terumbu
karang masih dilarang di zona penyangga.

3.7 Lokasi dan Ukuran

Lokasi dan Ukuran DPL sangat menentukan keberhasilan fungsi DPL


dalam mendukung pengelolaan perikanan. Pada umumnya DPL ditempatkan di
sekitar pulau-pulau kecil atau di sepanjang garis pantai pulau besar. Cakupan
DPL sebaiknya mulai dari garis pantai sampai ke kawasan lepas pantai yang
mencakup asosiasi ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang.

Sebenarnya tidak ada ukuran yang ideal untuk DPL, namun demikian
ilmuwan merekomendasikan semakin luas ukuran DPL akan semakin baik
fungsinya. Pendapat ahli menyebutkan bahwa ukuran yang optimal adalah 1030 % dari luasan terumbu karang di suatu desa. Para ahli dari PISCO 2002,
merekomendasikan bahwa 30% dari habitat ikan karang akan memberikan
hasil yang optimal untuk pengelolaan perikanan, kegiatan wisata dan
perlindungan keanekaragaman hayati. Namun demikian, dari pengalaman dan
persetujuan dengan masyarakat, maka saat sekarang DPL berbasis desa yang
ada di beberapa negara menunjukkan luasan sampai 50 hektar zona inti.
Apabila terlalu kecil ukuran DPL maka DPL tidak akan berfungsi secara
ekologis, sedang apabila ukuran DPL terlalu luas di suatu desa, maka fungsi
kontrol masyarakat terhadap DPL menjadi kurang, dan konflik dengan apa
pengguna (nelayan) akan memjadi besar.

Berikut adalah beberapa prinsip-prinsip ekologi yang dipertimbangkan


untuk penentuan lokasi dan ukuran DPL Berbasi Masyarakat, berdasar dari
lesson-learned dari CRMP/USAID di Sulawesi Utara dan Lampung (2003),
yaitu :

Kondisi tutupan karang cukup tinggi (lebih dari 50% dianjurkan)


COREMAP II ADB

41

Kepadatan ikan karang dan biota laut lannya tinggi


Mencakup 10-20% dari keseluruhan habitat terumbu karang
Habitat karang termasuk Rataan Terumbu dan Lereng, serta asosiasi
dengan habitat lain
Tempat pemijahan ikan karang
Terhindar dari sedimentasi, polusi dari sungai
Akses masyarakat untuk mengawasi DPL mudah
Bukan merupakan lokasi utama panangkapan ikan nelayan
Bukan merupakan kawasan penambatan perahu yang intensif.

Karena kecenderungan ukuran DPL di desa berukuran kecil, maka


sebaiknya DPL tidak dipandang sebagai pengganti Kawasan Konservasi yang
berskala besar seperti Taman Nasional Laut, namun hendaknya dipandang
sebagai pendukung, baik sebagai penerima (sink reef) ataupun dapat sebagai
sumber (source reef) untuk larva ikan dan karang. Untuk meningkatkan
efektifitas fungsi ekologis sebagai suatu kawasan konservasi, maka DPL
sebaiknya bergabung menjadi suatu Jaringan (network) DPL-DPL di desa yang
menjadi

satu

menjadi

Kabupaten/Kota.

Dengan

MMA

(Marine

begitu,

suatu

Management
sistem

Area)

jaringan

di

DPL

tingkat
berbasis

masyarakat, akan sangat ideal untuk saling menopang dan mendukung suatu
sistem Kawasan Konservasi yang lebih besar (MMA).

3.8

Partisipasi Masyarakat

Dalam pandangan masyarakat desa, partisipasi masyarakat sangat


penting dalam menunjang keberhasilan program pengelolaan sumberdaya
pesisir.

Dari hasil survei di masyarakat yang memiliki DPL Pulau Sebesi,

menunjukkan bahwa 98% masyarakat menilai partisipasi sangat penting


dengan bebagai alasan. Misalnya, dengan proses partisipasi, masyarakat akan
lebih merasakan manfaat dari program yang dilaksanakan.

Selain itu,

masyarakat juga akan membantu dalam implementasi program dan terlibat


aktif dalam pemeliharaan selama dan sesudah program dilaksanakan.
42

Panduan Pengembangan Marine Management Area

DPL berbasis masyarakat yang dimaksudkan adalah co-management


(pengelolaan kolaboratif), yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat
bersama-sama dengan pemerintah setempat. Pengelolaan berbasis masyarakat
bertujuan

untuk

melibatkan

partisipasi

masyarakat

perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan DPL.

dalam

kegiatan

Pengelolaan DPL

berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai


kemampuan sendiri untuk memperbiki kualitas kehidupannya, sehingga
dukungan

yang

diperlukan

adalah

menyadarkan

masyarakat

dalam

memanfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Namun demikian, pada kenyataannya pengelolaan yang murni berbasis
masyarakat kurang berhasil, oleh karena itu dukungan dan persetujuan dari
pemerintah dalam hal memberikan pengarahan, bantuan teknis dan bantuan
aspek hukum suatu kawasan konservasi sangat diperlukan. Dengan demikian,
partisipasi masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama sejak awal
kegiatan dari mulai perencanaan,pengelolaan sampai evaluasi suatu DPL
sangatlah penting. Selain dukungan dari pemerintah, maka dukungan dan
kerja sama dengan lembaga pendidikan, penelitian serta LSM juga dibutuhkan
untuk menentukan lokasi DPL dan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan
masyarakat di sekitar DPL.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh karena proses partisipatif dalam


merencanakan dan mengelola DPL adalah :

Pelibatan masyarakat dapat membantu bahkan bertanggung jawab


dalam penegakan aturan, sehingga biaya penegakkan hukum dan

pengawasan kawasan menjadi kecil.


Masyarakat merasa memiliki DPL, dan dapat membuat aturan sendiri
untuk ditetapkan di lingungannya
Masyarakat

akan

membuat

program

penggalangan

dana

untuk

operasional DPL melalui kegiatan ekonomi, seperti pariwisata dan tarif


masuk, dll.

COREMAP II ADB

43

Menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerjasama dalam


bentuk organisasi di tingkat desa.

44

Panduan Pengembangan Marine Management Area

PERENCANAAN DAN PEMBENTUKAN DPL

4.1 Tahapan dan Pembentukan


4.1. Tahapan dan Pembentukan
4.2. Pemilihan Lokasi MMA
4.3. Sistem Biaya Masuk
4.4. Kelompok Pengelola
4.5. Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa
4.6. Pengelolaan DPL
4.7. Pembuatan Rencana Pengelolaan
4.8. Pemasangan Tanda Batas dan Pemeliharaan
4.9. Pendidikan Lingkungan Hidup
4.10. MCS dan Penegakan Hukum
4.11. Pemantauan dan Evaluasi
4.12. Penyebarluasan Konsep DPL ke Lokasi Lain
(Scaling-up)

Proses
perencanaan

penetapan
DPL

dan

dilakukan

dengan mengikuti proses kebijakan


pengelolaan

sumberdaya

wilayah

pesisir. Penetapan suatu DPL tidak


dapat dipisahkan dengan agenda
besar pengelolaan wilayah pesisir,
atau dengan kata lain merupakan

bagian dari Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di suatu desa atau


kabupaten/kota. Isu-isu pengelolaan pesisir, seperti penangkapan ikan yang
merusak, degradasi habitat, kurangnya kesadaran masyarakat, tangkaplebih merupakan isu-isu yang juga berkaitan dengan pengembangan suatu
DPL.

Berikut adalah tahapan, kegiatan, hasil, dan indikator yang diharapkan


dalam pengembangan DPL (Tabel 1)

COREMAP II ADB

45

Tabel 1. Tahapan, Kegiatan, Hasil dan Indikator pengembangan DPL


Tahapan
Proses
Perencanaan
dan
Pengelolaan
1. Pengenalan
dan Sosialisasi
Program

2. Pelatihan,
Pendidikan,
Pengembangan
Kapasitas
Masyarakat

3. Konsultasi
Publik

4. Persetujuan
Peraturan Desa

46

Kegiatan yang
dilakukan

Hasil yang
diharapkan

Indikator Hasil

Lokasi desa
dipilih
Penempatan
Penyuluh
Survei data
dasar
Pembuatan
Profil Desa
Diskusi
program
pendampinga
n masyarakat
Studi banding
DPL
Penyuluhan
DPL dan
lingkungan
Pelatihan
Pemetaan
Kawasan
Pelatihan
Kelompok

Identifikasi
isu-isu
Sosioekono
mi dan
budaya
dipahami
Pendekatan
dapat
dipahami
bersama

Deskripsi data
dasar
Profil lingkungan
disebarkan kepada
masyarakat
Jumlah
pertemuan
masyarakat ttg
DPL

Pemahaman
Masyarakat
Peta Karang
Peningkatan
Pengawasan
Dukungan
masyarakat
Kapasitas
masyarakat
meningkat
Kapasitas
dalam
pengelolaan
sumberdaya
Partisipasi
dalam
pembuatan
Perdes
Konsensus
tentang
aturan DPL
Penerimaan
DPL secara
formal
Dasar
Hukum

Jumlah
pelatihan/penyuluh
an
Jumlah peserta
pelatihan
Jumlah kelompok
masyarakat
Jumlah proposal
kegiatan kelompok
Pelaporan
penggunaan dana

Pembuatan
draft Perdes
Diskusi
formal/inform
al
Perbaikan
draft Perdes
Musyawarah
Desa
Peresmian
Perdes
Peresmian
Formal oleh

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Jumlah pertemuan
Jumlah peserta
dalam penyiapan
Perdes
Jumlah peserta
setuju dengan
Perdes
Jumlah
musyawarah
Penandatanganan
Perdes
Peresmian DPL
oleh Pemerintah

Tahapan
Proses
Perencanaan
dan
Pengelolaan
5. Pelaksanaan

Kegiatan yang
dilakukan

Hasil yang
diharapkan

Indikator Hasil

Ketaatan
Pengelolaan
efektif
Tutupan
Karang
meningkat
Kepadatan
biota
meningkat
Hasil
tangkapan
meningkat

Jumlah
Pelanggaran
menurun
Jumlah pertemuan
kelompok
Survei monitoring
Data statistik
perikanan di DPL

Pemerintah
Pemasangan
Tanda Batas
Rencana
Pengelolaan
Papan
Informasi
Rencana
pengelolaan
terumbu
karang
(RPTK)
Pertemuan
Pengelola
Monitoring
Penegakan
Hukum
Penyuluhan
dan
pendididkan

Berikut adalah tahapan pembentukan DPL yang dapat diusulkan di


lokasi COREMAP II ADB, dari hasil pembelajaran dari DPL yang difasilitasi
oleh CRMP USAID di Lampung dan Sulawesi Utara. yang disesuaikan dengan
perencanaan oleh COREMAP II ADB.

COREMAP II ADB

47

Langkah

Langkah 1
Pengenalan dan
sosialisasi COREMAP
dan DPL

Langkah 2
Pelatihan dan
Pengembangan
Kapasitas Masyarakat

Langkah 3
Konsultasi Publik

Langkah 4
Persetujuan Peraturan
Desa tentang DPL

Langkah 5
Pelaksanaan dan
Pengelolaan DPL

Langkah 6
Monitoring dan
Evaluasi DPL

Checklist
Lokasi dipilih
Penempatan Penyuluh
Survei data dasar
Pembuatan Profil Desa
Pendampingan masyarakat

Studi Banding DPL


Pendidikan Lingkungan
Pelatihan Pemetaan DPL
Pelatihan LPSTK/Pokmas

Pembuatan Draf Perdes


Diskusi Formal/Informal
Perbaikan Draf Perdes
Ketentuan DPL

Musyawarah Desa
Peresmian Perdes
Formalisasi oleh
Pemerintah

Pemasangan Tanda
Batas
Papan Informasi
RPTK dan Pengelola

Monitoring DPL
Penegakaan Hukum
Penyuluhan dan
Pendidikan

Hasil

Identifikasi Isu sosioekonomi, budaya


dipahami; pendekatan
disetujui bersama

Pemahaman dan
dukungan masyarakat;
Peta Karang; Peningkatan
Pengawasan sumberdaya

Partisipasi Masyarakat,
konsensus DPL

Penerimaan secara Formal


dan Dasar Hukum

Pengelolaan Efektif;
Ketaatan

Tutupan Karang
Meningkat; Hasil
Tangkapan ikan
meningkat;
pendapatan
Masyarakat Meningkat

Gambar 6 . Tahapan dalam Pembentukan Daerah Perlindungan Laut

48

Panduan Pengembangan Marine Management Area

4.2 Pemilihan Lokasi Kawasan Konservasi Laut

Mendefinisikan calon lokasi KKL atau DPL yang akan menjadi bagian
dari jaringan KKL mencakup berbagai penekanan pada pertimbanganpertimbangan yang lebih detail dari pada penetapan kawasan lindung di
daratan, walaupun alasan utama dari pembentukan kawasan konservasi
keduanya sangat mirip, yaitu :

Untuk

menjaga

proses-proses

ekologi

penting

dan

penyangga

kehidupan,
Menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan,
Melindungi keanekaragaman hayati.

Di laut, habitat biasanya jarang dibatasi secara persis atau secara


kritis dibatasi. Daya tahan hidup dari spesises tidak dapat dihubungkan
secara spesifik dengan lokasi. Banyak spesies yang bergerak bebas secara
luas dan arus air membawa material genetik melalui jrak yang sangat jauh.
Oleh karenanya, di laut kasus ekologi untuk proteksi biasanya tidak selalu
tergantung pada habitat kritis biota langka beserta ancamannya, namun
perlindungan dapat diupayakan dengan pertimbangan perlindungan habitat
kritis untuk keperluan komersial, rekreasi dan perlindungan tipe habitat
dengan asosiasi genetik dalam komunitasnya. Contoh tentang Batas-batas
Kawasan Konservasi Laut yang dapat dipadankan dengan MMA tertera
pada Lampiran 2.

Berikut adalah

daftar

faktor-faktor

atau

kriteria

yang akan

digunakan dalam memutuskan bahwa suatu kawasan harus termasuk


dalam sebuah MMA atau untuk menentukan batas-batas MMA:

Kealamiahan kawasan
Kepentingan biogeografi
Kepentingan ekologi

COREMAP II ADB

49

Kepentingan ekonomi
Kepentingan sosial
Kepentingan ilmiah
Kepentingan nasional dan internasional
Kepraktisan dan kelayakan pengelolaan

Jika suatu pulau atau suatu desa sudah terpilih menjadi lokasi DPL,
maka penentuan lokasi yang sesuai dengan lokasi zona inti dan penyangga DPL
perlu disepakati oleh masyarakat. Pemilihan lokasi biasanya merupakan suatu
kompromi antara pertimbangan kebutuhan praktis (kemudahan pengelolaan)
dan prinsip-prinsip konservasi (kondisi terumbu karang yang baik dengan
keanekaragaman hayati yang tinggi).

Berbagai hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan sebuah


daerah perlindungan laut adalah kemampuan masyarakat desa dalam
mengawasi kawasan dimana kegiatan eksploitatif tidak diperkenankan. Hal
ini sangat mempengaruhi pemilihan lokasi dan besar ukuran daerah
perlindungan laut. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kualitas aspek
estetika

kawasan

ditinjau

dari

kualitas

terumbu

karang

dan

keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, kesepakatan masyarakat


tentang pengelolaan dan pemanfaatan daerah perlindungan laut, dan
tingkat ancaman terhadap kelestarian terumbu karang. Berdasarkan halhal tersebut, sejumlah kriteria diajukan untuk menentukan daerah
perlindungan laut yang dikelola oleh masyarakat desa

IUCN (Salm et al, 2002) telah membuatkan kriteria dalam penentuan Kawasan
Konservasi. Walaupun kriteria dari IUCN diperuntukkan kepada Kawasan
Konservasi yang luas, namun dapat digeneralisasikan untuk digunakan pada
DPL berbasis desa. Kawasan-kawasan terumbu karang yang merupakan bank
ikan karang dan mempunyai ketahanan terhadap coral bleaching (pemutihan
karang) akibat perubahan iklim, menjadi prioritas untuk dilindungi. Namun
demikian, haruslah mempertimbangkan juga faktor-faktor sosial ekonomi,
50

Panduan Pengembangan Marine Management Area

seperti kepentingan publik, peluang ekonomi dan politik. Faktor sosial-ekonomi


dan budaya pada masa lalu masih belum merupakan kriteria dalam penentuan
DPL ataupun jaringan DPL yang disebut KKL/MMA.
Dari segi praktisnya, maka berikut adalah kriteria yang telah
digunakan untuk pemilihan lokasi DPL pada skala desa di Lampung dan
Sulawesi Utara (CRMP, 2003) yang dapat diaplikasikan di lokasi COREMAP
II, yaitu :

Lokasi DPL sedapat mungkin bukan merupakan lokasi utama


penangkapan ikan masyarakat setempat, untuk menghindari konflik

yang besar dengan para pengguna sumberdaya


Tutupan karang cukup tinggi, idealnya 50%, namun dapat sampai
30% dan dapat dipertimbangkan dengan kepadatan biota lainnya
Lokasi DPL mencakup perwakilan habitat, yaitu rataan dan lereng
terumbu, mangrove, padang lamun dan habitat penting lainnya
Lokasi DPL masih dalam jangkauan pengawasan dan pantauan
masyarakat
Ukuran besar/kecilnya kawasan sebenarnya dapat mengacu pada
luasan terumbu karang yaitu: 20-30% dari luasan habitat terumbu

karang. Pada prakteknya luasan DPL di desa mencapai 50 hektar.


Lokasi DPL terhindar dari sedimentasi dan polusi dari sungai atau
tidak di dekat muara sungai
Lokasi DPL merupakan daerah potensi wisata penyelaman
DPL merupakan habitat dari satwa langka atau satwa endemik atau
tempat pemijahan ikan karang
Lokasi DPL sebaiknya mengikuti kontur perairan dan mudah untuk
digambarkan batas-batasnya, seperti segi empat, segi lima, dsb.

4.3 Sistem Biaya Masuk

Pelaksanaan sistem biaya masuk dalam DPL dapat diperlakukan ke


dalam kawasan yang mempunyai potensi untuk wisata perairan, atau lokasi

COREMAP II ADB

51

yang dijadikan sebagai percontohan dengan frekwensi kunjungan yang


tinggi. Salah satu penggunaan dana masuk dapat digunakan untuk
pemandu wisata lokal yang dapat dianggap sebagai kompensasi waktu
mereka selama bertugas.

Besarnya biaya masuk ke DPL yang telah ditetapkan sebagai suatu


obyek wisata, sebaiknya ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sebagian dana
akan diberikan kepada Kelompok Masyarakat Konservasi. Penggunaan
dana tersebut, misalnya untuk pemeliharaan dan pengelolaan DPL
(pelampung, tanda batas, papan informasi dsb). Sumbangan sukarela dari
pengunjung dapat juga diusulkan oleh pengelola DPL, apabila ada
keinginan dari wisatawan untuk memberikannya. Selain biaya masuk dari
para wisatawan, diterapkan juga uang denda masuk, yaitu uang yang
dibayarkan oleh masyarakat yang melanggar aturan DPL, misalnya
menangkap ikan di dalam zona inti, dsb. Uang denda tersebut harus
dikembalikan

lagi kepada

pengelola

untuk

tujuan konservasi

dan

pengelolaan DPL.

4.4

Kelompok Pengelola

Kelompok Pengelola DPL adalah Kelompok Masyarakat (Pokmas)


Konservasi, yang akan melaksanakan pengelolaan DPL. Pokmas Konservasi
sebagai pengelola DPL disarankan membuat suatu struktur organisasi yang
sederhana, misalnya terdapat ketua Pokmas, sekretaris, bendahara, dan
seksi-seksi. Pokmas Konservasi sebagai pengelola DPL di lokasi COREMAP
II, akan dikoordinasikan oleh Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu
Karang (LPS-TK) yang bersama pemerintah di desa, untuk mengusulkan
rencana kerja tahunan, melaksanakan kegiatan konservasi di lokasi DPL
dan di jaringan DPL (MMA Kabupaten/Kota).

Secara garis tugas dan

tanggung jawab dari Pokmas Konservasi dalam pengelolaan DPL adalah :

52

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Membuat rencana operasional pengelolaan DPL berdasar pada


Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) yang disiapkan oleh

LPS-TK
Bertanggung jawab dalam pemantauan dan pengawasan DPL, dengan
panduan pelaksanaan MCS dari LPS-TK
Melakukan pemantauan DPL secara berkala
Bertanggung jawab dalam pemeliharaan peralatan DPL, seperti tanda
batas, pelampung, alat-alat selam/snorkle, papan informasi dan pusat

informasi
Memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat
Pembentukan Pokmas Konservasi pengelola DPL melalui proses

pemilihan dan musyawarah desa yang dikoordinasikan oleh LPS-TK, dengan


partisipasi

aktif

dari

pemerintah

desa,

tokoh

masyarakat,

kepala

kampung/dusun dan nelayan. Disarankan bahwa pengurus Pokmas adalah


nelayan, karena nelayan adalah pengguna sumberdaya yang berkepentingan
dengan DPL. Kelompok Konservasi sebaiknya disyahkan dengan Surat
Keputusan Desa.

Bagaimana isi yang ideal dari suatu Rencana Pengelolaan Terumbu


Karang (RPTK)? Karena RPTK merupakan dokumen pengelolaan yang akan
digunakan

untuk

mengimplementasikan

kegiatan-kegiatan

pengelolaan

terumbu karang.

4.5 Proses Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa

Aturan-aturan yang dibuat berdasar kesepakatan masyarakat sangat


menentukan keberhasilan pengelolaan suatu DPL. Pada era otonomi daerah,
aturan perlu diformalkan menjadi Peraturan Desa atau Keputusan Desa
yang khusus mengatur pengelolaan DPL. Peraturan Desa atau Keputusan
Desa tersebut akan mengikat masyarakat, baik di dalam desa yang
mengelola DPL, maupun juga masyarakat di luar desa, sehingga pemerintah

COREMAP II ADB

53

desa dan Pokmas Konservasi mempunyai dasar hukum untuk melarang atau
menindak pelanggaran yang terjadi di lokasi DPL.

Yang perlu diperhatikan, selain aspek partisipasi masyarakat dalam


proses

pembuatan

Peraturan

Desa,

juga

harus

dipertimbangkan

kesepakatan adat setempat yang tidak tertulis, sehingga nantinya Perdes


tersebut tidak tumpang-tindih atau kontradiktif dengan aturan adat.

Berikut adalah proses dan tahapan pembuatan Peraturan Desa


Pengelolaan DPL :

Identifikasi kelompok pengguna. Identifikasi kelompok pengguna


diperlukan supaya semua pengguna (pengumpul biota laut, nelayan
pancing, nelayan jaring, penangkar ikan hias, pengambil kayu bakau,
dsb.) dapat berperan serta mengambil keputusan terhadap aturan-

aturan yang akan diterapkan untuk pengelolaan DPL.


Konsultasi Penyusunan Perdes. Tahap awal pertemuan masyarakat
adalah penentuan aturan-aturan tentang kebolehan dan larangan
dalam DPL. Konsultasi masyarakat dilakukan dengan berbagai cara,
mulai dari musyawarah nelayan, dusun sampai pada pertemuan

formal di tingkat desa.


Formulasi

aturan

dalam

Perdes.

Tahap

ini

adalah

untuk

memformulasikan ide masyarakat yang terkumpul kedalam bahasa


atau norma hukum, yaitu Peraturan Desa. Konsultan atau fasilitator
diperlukan pada tahap ini untuk menuangkan kedalam Rancangan
Perdes. Contoh Keputusan Desa Tentang Pengelolaan DPL tercantum

dalam Lampiran: Contoh Keputusan Kepala Desa tentang DPL.


Sosialisasi dan Persetujuan Formal. Setelah Rancangan Perdes
terbentuk,

maka

tahap

selanjutnya

adalah

sosialisasi

dengan

musyawarah dan konsultasi final kepada masyarakat, dan selanjutnya


disyahkan menjadi Perdes.

54

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Berikut adalah tahapan proses pembuatan Peraturan Desa/Surat Keputusan


Desa tentang Daerah Perlindungan Laut, dari hasil pembelajaran CRMP
USAID dan disesuaikan dengan pengembangan DPL COREMAP II ADB.

Langkah

Langkah 1
Identifikasi
Permasalahan dan
Pemangku
Kepentingan

Langkah 2
Identifikasi Landasan
Hukum dan
Perundang-Undangan

Langkah 3
Penulisan Rancangan
Peraturan Desa

Langkah 4
Penyelenggaran
Konsultasi Publik

Langkah 5
Pembahasan di
BPD

Langkah 6
Sosialisasi &
Pengesahan Perdes
DPL

Checklist

Hasil

Identifikasi masalah
Identifikasi akar masalah
Identifikasi stakeholders
Identifikasi dampak
potensial RanPerdes DPL

Daftar masalah dan akar


masalah, pemangku
kepentingan, dampak
potensial Perdes baru

Inventarisasi hukum
analisis SDM
Analisis Penegakan
Hukum

Daftar aturan hukum


terkait, analisis SDM,
analisis pelaksanan aturan
terkait

Susun dari umum ke detil


Gunakan format baku
Ketentuan apa yang
boleh dan dilarang
Ketentuan sanksi

Draft Ranperdes
dalam
bentuk awal

Undang seluruh
stakeholders
Gunakan komunikasi dua
arah
Catat semua masukan

Draft akhhir Ranperdes


dalam
bentuk final

Gunakan sebagai
konsultasi public
Undang semua
stakeholders

Ranperdes dalam bentuk


final yang siap untuk
ditanda-tangani

Lakukan sosialissi
sebelum dan sesudah
pengesahan
Undang semua
stakeholders

Peraturan Desa yang


sudah disahkan oleh
BPD dan Kepala Desa,
disosialisasikan kepada
masyarakat

Gambar 7. Tahapan Proses Pembuatan Peraturan Desa/Surat


Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Laut.

COREMAP II ADB

55

Contoh dari Sulawesi Utara dan Lampung tentang Materi Muatan


dalam Peraturan Desa/SK Desa Tentang Pengelolaan DPL :
Dasar pertimbangan pembentukan DPL
Dasar hukum yang terkait dengan DPL
Ketentuan Umum, berisi definisi komponen DPL
Cakupan Wilayah DPL, meliputi batas dan zonasi
Tugas dan tanggung jawab PokMas Pengelola
Kewajiban dan kegiatan yang diperbolehkan di DPL
Kegiatan yang dilarang di DPL
Sanksi pelanggaran
Pengelolaan Dana
Pengawasan
Penutup
Lampiran Peta DPL, dilengkapi dengan koordinat.

4.6

Pengelolaan DPL

Pengelolaan DPL dilakukan melalui tahapan yang sesuai dengan


siklus kebijakan pengelolaan wilayah pesisir terpadu (Integrated Coastal
Management/ICM), baik di tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat Desa.
Siklus kebijakan yang dimaksud adalah :
(1) Identifikasi dan pengkajian isu
(2) Persiapan program
(3) Adopsi program secara formal dan penyediaan dana
(4) Pelaksanaan Program
(5) Evaluasi

Gambar 8. Siklus Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir


(sumber CRMP/USAID, 2003)

56

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Jadi, rencana pengelolaan DPL dapat dirancang sebagai satu bagian


dari Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) di lokasi COREMAP
atau Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (RPWPT) di tempat
lain.
Pada bagian ini, akan dijelaskan langkah-langkah yang dapat menjadi
panduan pengelolaan suatu DPL, yaitu :

(1) Pembuatan Rencana Pengelolaan DPL


(2) Pemasangan serta pemeliharaan tanda batas dan papan informasi
(3) Pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup
(4) Pengawasan,Pemantauan, dan Penegakan Hukum
(5) Pemantauan dan Evaluasi DPL

4.7 Pembuatan Rencana Pengelolaan

Suatu DPL haruslah mempunyai Rencana Pengelolaan yang dibuat


bersama oleh pemerintah desa dan masyarakat, agar pengelolaan DPL
berfungsi dengan baik. Rencana Pengelolaan ini merupakan panduan bagi
pemerintah desa dan masyarakat untuk pengelolaan DPL, sehingga
masyarakat

dapat

memetik

manfaat

untuk

perikanan

dan

wisata

berkelanjutan.

Identifikasi Isu Pengelolaan, yang merupakan tahap awal dari siklus


pengelolaan sumberdaya pesisir, haruslah dapat mengidentifikasi isu yang
berhubungan

dengan

pengelolaan

DPL.

Hasil

rangkuman

isu-isu

pengelolaan suatu DPL dapat diterbitkan menjadi satu kesatuan dengan


Profil Desa, yang dapat dianggap menjadi data dasar. Selanjutnya data
dasar tersebut dapat dijadikan untuk menyusun visi, misi DPL, tujuan

COREMAP II ADB

57

pengelolaan DPL, strategi, kegiatan serta sumber pendanaan. (Lihat


Lampiran1).

Rencana Pengelolaan suatu DPL dapat merupakan bagian dari


rencana umum pengelolaan sumberdaya pesisir atau pun dapat disusun
secara terpisah. Pada Lokasi COREMAP pemerintah desa menyusun
Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK), maka Rencana Pengelolaan
sebaiknya menjadi bagian dari RPTK tersebut.

Penyusunan dan Penetapan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang


(RPTK)
Tahapan penyusunan kegiatan pengelolaan ekosistem terumbu karang
terpadu berbasis masyarakat yang disusun bersama-sama oleh LPSTK dan
masyarakat dengan dipandu oleh Motivator Desa, Fasilitator Desa dan LSM
Pendamping. Di tahap awal, berdasarkan visi dan sasaran, dilakukan
perumusan program kerja pengelolaan terumbu karang terpadu yang
terarah berdasarkan isu dan masalah yang ada. Program tersebut
dihasilkan dari kesepakatan bersama antara berbagai pihak yang terlibat
dalam pelaksanaan program Pengelolaan Berbasis Masyarakat (Coremap II,
2005).
Adapun bahan dan alat yang diperlukan untuk pembuatan rencana
pengelolaan terumbu karang dimaksud terdiri dari :

58

Hasil Pengkajian cepat (RRA) yang telah dilakukan


Hasil Pengkajian Partisifatif (PRA) yang telah dilakukan berupa
profil desa/kampung/pulau
Hasil Studi baseline dan monitoring CRITC,
Referensi yang relevan untuk pembuatan rencana pengelolaan
perikanan, baik dari aspek legal maupun teknis
Peta-peta tematik yang telah didigitasi seperti peta Rencana
Strategis Pengelolaan Terumbu Karang Berkelanjutan,
Draft Perencanaan Strategis Pengelolaan Perikanan secara
berkelanjutan
Brosur, buku-buku dan alat-alat tulis.

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Sistematika RPTK meliputi :

Gambaran Umum (Profil) Desa


Isu-isu pokok pengelolaan terumbu karang
terpadu
Visi pengelolaan terumbu karang
Sasaran/target yang ingin dicapai
Strategi dan jenis jenis kegiatan yang akan
dilakukan
Organisasi pelaksana
Waktu pelaksanaan dan biaya yang

Pihak-pihak yang akan terlibat dalam kegiatan pembuatan rencana


pengelolaan terumbu karang adalah :

Kepala Desa/Kampung
Badan Perwakilan Desa (BPD)
Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK)
Nelayan setempat
Pengumpul /penggarap hasil sda dari terumbu karang, bakau dan
padan lamun
Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang telah terbentuk - Motivator
Desa
Fasilitator Masyarakat dan LSM Pendamping
Anggota masyarakat desa secara umum (Tokoh Masyarakat,
Tokoh Agama, Organisasi Wanita, dsb).

Strategi Pelaksanaan Pembuatan RPTK :


1. LSM Pendamping atau Fasilitator memfasilitasi pembentukan tim
inti penyusunan tingkat desa yang terdiri dari anggota LPSTK dan
tim pendukung yang terdiri dari Kepala Desa dan BPD (Badan
Perwakilan Desa)
2. Tim inti dan pendukung menyusun jadwal dan agenda pembuatan
RPTK,
3. Tim inti melakukan penggalangan input dari berbagai pihak yang
berada di desa/kampung/pulau, termasuk pendatang yang
melakukan aktifitas penangkapan, perdagangan dan lain
sebagainya. Kegiatan ini dapat berbentuk diskusi dusun (kampung),
COREMAP II ADB

59

interview, observasi,
4. Tim pendukung melakukan konsultasi dengan berbagai pihak
utamanya yang terkait dengan biota laut, pengelolaan sumberdaya
berkelanjutan, aspek legal, teknis dan lain sebagainya pada tingkat
Kecamatan dan Kabupaten,
5. Tim inti melakukan validasi data dan informasi terkait dengan
aspirasi/kepentingan masyarakat dan pemangku kepentingan
lainnya terhadap sumberdaya ekosistem terumbu karang,
selanjutnya mengkonsultasikan dengan tim pendukung,
6. Tim inti dan pendukung melakukan verifikasi, kompilasi serta
penyelarasan data dan informasi yang akan dimasukkan sebagai
bahan-bahan dalam pembuatan draft RPTK,
7. Draft yang telah jadi, selanjutnya disosialisasi dan dikonsultasikan
kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk
mendapatkan feedback, melalui workshop tingkat desa
8. Tim inti dan pendukung melakukan revisi secara akomodatif
berdasarkan masukan (feedback) yang diperoleh,
9. Tim inti dan pendukung meminta bantuan kepada LSM
Pendamping, Fasilitator dan PIU untuk penyesuaian redaksi,
sistematika dan lain-lain yang diperlukan, dan
10. Kepala Desa akan menertibkan Surat Keputusan tentang Rencana
Pengelolaan Terumbu Karang berbasis masyarakat.
Proses pembuatan RPTK membutuhkan waktu dan proses yang relatif
panjang, kurang lebih 6 hingga 9 bulan, mengingat bervariasinya hal-hal
yang perlu diatur dalam RPTK, beragamnya pemangku kepentingan yang
memiliki aspirasi berbeda dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya
ekosistem terumbu karang. Dalam konteks demikian, RPTK merupakan
produk dokumen yang sifatnya strategis dan vital dalam pelaksanaan
pengelolaan sumberdaya.
Isi dari materi-materi yang termuat dalam RPTK yang perlu menjadi
pertimbangan dalam penyusunan dokumen RPTK dan tahapan-tahapan
teknis yang perlu dilakukan, antara lain :
(1) Penataan Wilayah atau Sistem Zonasi
Wilayah laut dan pantai dalam kawasan lokasi program COREMAP
mengandung sumberdaya laut yang kaya. Potensi-potensi ini dapat
digunakan dengan berbagai cara termasuk pengelolaan perikanan
jangka panjang yang berkelanjutan dan pariwisata. Namun dengan
tekanan pembangunan ekonomi dan bertambah harapan masyarakat
maka terdapat tingkat resiko yang tinggi dimana tidak ada
pengelolaan akan bertahan lama dalam waktu yang panjang tanpa
perencanaan pengelolaan yang disetujui dan dipahami oleh

60

Panduan Pengembangan Marine Management Area

masyarakat lokal yang memfasilitasi antara pemanfaatan dan


perlindungan sumberdaya alam. Dengan berbagai bentuk kepentingan
dan pemanfaatan sumberdaya umumnya membutuhkan perencanaan
Zonasi dan Tata Ruang yang dapat mengalokasikan pemanfaatan dan
tingkat dampaknya terhadap wilayah-wilayah spesifik.
Participatory Rural Appraisal (PRA) akan mengidentifikasi bahwa
ternyata pada wilayah-wilayah tertentu memiliki kekhasan sendirisendiri, sebagai contoh terdapat wilayah yang menjadi pusat
keanekaragaman karang dan ikan hias, ada wilayah yang menjadi
pusat masyarakat menangkap ikan untuk umpan, ada wilayah yang
menjadi pusat masyarakat memancing ikan kerapu dan lain
sebagainya. Keadaan inilah yang harus dikelola agar keberadaan
wilayah dan kekhasan tersebut dapat terpelihara. PRA telah dilakukan
untuk Kabupaten Lingga, karena COREMAP Phase I telah
melaksanakan pemilihan lokasi DPL-DPL.
Suatu penataan wilayah yang berbasis pada masukan dan diskusi
masyarakat serta dianalisa oleh tim formulator akan menghasilkan
dasar untuk kegiatan konservasi dan pemanfaatan yang
berkelanjutan. Beberapa kategori wilayah yang penting dibuat yaitu:

Wilayah pemanfaatan tradisional (wisata, lokasi pemacingan


umpan dan lain-lain),
Wilayah pengembangan budidaya laut (rumput laut, kerang,
pembesaran ikan dan lain-lain)
Wilayah perlindungan masyarakat atau konservasi sebagai Zona
Inti dan
Wilayah yang menjadi alur transportasi perairan pedalaman Desa
atau pulau.

Penataan wilayah atau sistem zonasi selain mengatur pola


pemanfaatan sumber daya laut yang tersedia agar dapat berkelanjutan
juga diharapkan dengan adanya penataan wilayah atau sistem zonasi
ini dapat meredam kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik
lokasi tangkapan antar pengguna dari dalam dan luar.
(2) Sistem dan Mekanisme Pengelolaan
Masyarakat diharapkan paham dan menerima kegiatan-kegiatan yang
akan dilakukan berdasarkan rencana yang dibuat dalam
RPTK,bagaimana mengawasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut
dan masih banyak lagi hal-hal yang harus diatur untuk mendukung
pelaksanaan sistem zonasi yang telah dibuat.
Dalam sistem dan mekanisme pengelolaan secara rinci dibahas tentang
:

COREMAP II ADB

61

Jenis kegiatan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan
dalam zona yang telah ditetapkan,
Jenis alat tangkap yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam
masing-masing zona,

Jenis biota laut yang boleh dan tidak boleh ditangkap atau
dimanfaatkan (jenis biota laut yang dapat dimanfaatkan secara
terbatas),
Definisi kawasan konservasi (minimum 10 % daerah terumbu
karang yang ada di desa),
Alur transportasi tradisional yang boleh dilewati, dan

Tata cara pengelolaan dan menjalankan sistem zonasi.


Untuk mengefektifkan sistem dan mekanisme pengelolaan dibutuhkan
seperangkat kelembagaan atau organisasi yang akan bertanggung
jawab menjadi pelaksana RPTK dan sebuah kerangka tata hubungan
kerja antar unsur di tingkat desa atau pulau yaitu Lembaga Pengelola
Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK).
Masing-masing unsur yang terlibat dalam struktur pelaksana RPTK
maupun dalam tata hubungan kerja memiliki gambaran tugas masingmasing (seperti yang tercantum dalam penjelasan kelembagaan
RPTK), disana tertera dengan jelas siapa yang melakukan apa.
Pembagian tugas seperti ini dimaksudkan agar tumbuh sikap dan rasa
tanggung jawab terhadap tugas.
(3) Perencanaan Program
Keberadaan program-program sangat dibutuhkan untuk menjalankan
RPTK. Dalam RPTK telah dirumuskan beberapa program yang
dinggap dapat mendukung visi dan misi desa atau pulau antara lain :
a.

Program konservasi dan penyadaran masyarakat,

b.

Program peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat,

c.

Program penentuan daerah perlindungan masyarakat (DPL)

d.

Program pengembangan Mata Pencaharian Alternatif (MPA),


yang direkomendasi oleh masyarakat,

e.

Program peningkatan mutu pendidikan, kesehatan dan


kesetaraan jender,

f.

Program Pembangunan Prasarana Pendukung RPTK.

Pelaksanaan dari
tidak hanya akan
pihak-pihak yang
Program-program

62

setiap rencana program yang disusun dalam RPTK


dilakukan oleh masyarakat, akan tetapi melibatkan
terkait berdasarkan kapasitas dan kompetensinya.
yang bersifat pengawasan dan penegakan hukum

Panduan Pengembangan Marine Management Area

misalnya akan didukung oleh aparat penegak hukum formal (Polisi,


Jagawana dan Tentara AD/AL). Program-program yang lain yang
membutuhkan biaya yang relatif besar akan didukung oleh pihakpihak ketiga atau Pemerintah Kabupaten melalui unit-unit kerjanya
dan mungkin juga dari pihak ketiga seperti dari COREMAP melalui
Dana Bantuan Desa (Village Grant).
(4) Sanksi-Sanksi
Hal yang paling mempengaruhi kesuksesan sebuah perencanaan
utamanya yang dibangun di atas konsensus berbagai pihak
(stakeholders) adalah konsekuensi dari konsensus tersebut yang
biasanya dituangkan dalam bentuk sanksi-sanksi. Kepatuhan
masyarakat atau pihak-pihak lain terhadap aturan bergantung
bagaimana sanksi ditegakkan. Semakin longgar penegakan sanksi,
maka akan semakin rapuh pula aturan yang telah dibuat, tetapi
sebaliknya semakin konsisten untuk menegakkan sanksi akan
semakin kuat aturan yang ada.
Untuk penerapan dan keberlanjutan materi-materi yang terkandung
dalam sanksi-sanksi sebaiknya bersumber dari kearifan lokal yang
sejak lama dianut oleh masyarakat. Sehingga aturan baru seyogyanya
berbasis pengetahuan, pengalaman dan proses berfikir masyarakat.
Penerapan sanksi dilakukan dengan pola bertingkat yang juga
bergantung seberapa besar bobot pelanggaran yang dilakukan. Dalam
RPTK diatur jenis-jenis pelanggaran yang dapat diselesaikan ditingkat
desa atau pulau oleh penanggung jawab pelaksana RPTK lokal, seperti
pelanggaran terhadap areal perlindungan atau kawasan konservasi
masyarakat (community sanctuary), masuk pada wilayah-wilayah yang
tidak dibolehkan dan lain-lain. Sementara pelanggaran yang bersifat
kriminal lingkungan dan bobotnya besar seperti membom, membius
dan lain-lain, maka penanggung jawab pelaksana RPTK akan
berkoordinasi dengan aparat penegak hukum formal.

COREMAP II ADB

63

Gambar 9. Pentahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan


Terumbu Karang (RPTK) (Sumber COREMAP II, 2005)
Adapun tahapan-tahapan, maksud pada tiap langkah tersebut serta
jenis detail kegiatan penyusunan sebuah RPTK seperti terlihat pada
Gambar 9 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
Tahapan Pembuatan RPTK
(1) Sosialisasi dan Diseminasi
Masyarakat

harus

mengetahui

dan

memahami

pentingnya

sumberdaya ekosistem terumbu karang dikelola secara baik, untuk


dimanfaatkan saat ini dan demi kepentingan generasi yang akan
datang. COREMAP hadir untuk mendukung dan memfasilitasi
masyarakat agar pemahamannya semakin meningkat, kapasitasnya
semakin baik, jaringan kemitraannya semakin luas, dengan demikian
masyarakat akan lebih mudah untuk mencapai tujuannya untuk
mengelola

sumberdaya

keberlanjutannya.

secara

Dengan

efektif,

membuat

dan

dapat

menjamin

perencanaan

strategis

sumberdaya dalam bentuk Rencana Pengelolaan Terumbu Karang


(RPTK), masyarakat dapat mengelola sumberdaya secara sistematis,
fokus dan berdaya guna.

64

Panduan Pengembangan Marine Management Area

(2) Pembuatan Profil Desa/Kampung


Data dan informasi (DAIS) tentang kondisi sosial dan sumberdaya
merupakan bahan-bahan dalam membuat RPTK pada lingkup
desa/kampung. Membuat profil desa/kampung salah satu cara untuk
mengumpulkan dais tentang kondisi obyektif di desa. Pembuatan profil
desa/kampung

dilakukan secara

partisipatif dengan melibatkan

masyarakat, dengan pertimbangan merekalah yang memiliki banyak


informasi dan paling mengenali desa/kampungnya. Pembuatan profil
desa/kampung dilakukan dalam bentuk PRA
(3) Pembentukan Tim Penyusun
Dais dan berbagai kepentingan harus diorganisir serta dikelola secara
baik, sehingga hal-hal yang penting untuk dimasukkan dalam RPTK
akan termuat. Untuk itu, akan dibentuk tim penyusun oleh LPSTK
yang terdiri sekitar 7 10 orang. Tim ini akan bertanggung jawab
untuk

mengumpulkan

aspirasi,

mengkompilasi,

merekap,

dan

mengolah bahan-bahan yang akan dijadikan materi-materi dalam


RPTK. Tim ini akan melakukan diskusi tingkat dusun, diskusi tingkat
lingkungan dan diskusi tingkat desa/kampung untuk mengumpulkan
sebanyak-banyaknya Dais.
(3) Membuat Draft RPTK
Hasil Dais dan aspirasi dari masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang
telah dikumpulkan akan diolah dan selanjutnya dikonstruksi menjadi
dokumen RPTK sesuai dengan sistematika yang ada. Penyusunan draf
RPTK dilakukan melalui pemahasan pleno oleh tim yang dibantu dan
difasilitasi oleh SETO, Fasilitator Masyarakat dan Motivator Desa.
Selanjutnya SETO dan Fasilitator Masyarakat akan memfasilitasi
pembuatan dokumen RPTK, dengan berkonsultasi dengan konsultankonsultan COREMAP utamanya konsultan manajemen perikanan dan

COREMAP II ADB

65

konsultan legal terkait dengan substansi dan teknik penulisan


dokumen.
(4) Konsultasi Publik dan Revisi Akomodatif
Dokumen RPTK

yang telah dibuat dalam bentuk draf akan

disosialisasikan kepada khalayak umum melalui musyawarah desa


yang

dihadiri

oleh

unsur

pemerintah

desa,

BPD,

kelompok

masyarakat, aparat hukum lokal, petugas teknis instansi, dan lainlain. Agenda utamanya adalah penyampaian/presentasi RPTK oleh tim
penyusun.

Acara

akan

fifasilitasi

oleh

SETO/Fasilitator

Masyarakat/Motivator Desa. Semua tanggapan, masukan dan kritikan


akan dicatat oleh tim penyusun, yang kemudian dilakukan analisis
untuk menentukan hal-hal apa saja yang perlu dimasukkan sebagai
revisi dokumen.
(5) Persetujuan dan Pengesahan
Hasil revisi dokumen akan dibahas kembali secara mendalam oleh tim
penyusun, Kepala Desa dan BPD melalui rapat konsultasi. Kepala
Desa dan BPD akan membahas substansi RPTK dan hal-hal yang lain
yang terkait dengan proses pengesahaannya. Apabila telah disepakati
materi-materi RPTK, maka Kepala Desa akan mengesahkan RPTK
atas persetujuan BPD menjadi lembar desa sebagai salah satu
pedoman pembangunan tingkat desa.
(6) Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Rencana pengelolaan merupakan dokumen yang memiliki tata aturan
yang sistematis dan jelas, dengan demikian akan memudahkan bagi
masyarakat

dan

pihak-pihak

lain

untuk

memahami

dan

melaksanakannya. Sebelum menyusun/membuat RPTK, masyarakat


dan pihak-pihak terkait dalam penyusunan RPTK perlu memahami
kerangka fikir, struktrur dan alur penyusunannya.

66

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Sebagai gambaran, berikut disajikan sebuah struktur dan alur


penyusunan

rencana

mengidentifikasi

isu

pengelolaan
hingga

terumbu

penyusunan

karang,
kegiatan

mulai

dari

pengelolaan

ekosistem terumbu karang.

Contoh VISI dalam RPTK:


Terjaminnya kelestarian sumberdaya terumbu karang dan kesejahteraan
masyarakat setempat melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan
berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan mata pencaharian
alternatif bagi masyarakat setempat.
Sasaran Jangka Panjang :
1. Seluruh areal terumbu karang yang ada telah ditata sesuai dengan
fungsinya ke dalam zona inti (10 % daerah terumbu karang),
2. Tidak terjadi perusakan terhadap ekosistem terumbu karang,
3. Tersedianya lembaga keuangan mikro di desa/kampung sebagai
penunjang pelaksanaan usaha produktif masyarakat.
4. Penghasilan masyarakat meningkat.
Sasaran Jangka Pendek :
1. Masyarakat dapat mengerti program pengelolaan terumbu karang,
2. Masyarakat dapat memahami arti penting ekosistem terumbu
karang bagi lingkungan dan kehidupan manusia, dan
3. Masyarakat berpartisipasi dalam pengelolaan terumbu karang.

Tabel 2. Matriks Rencana Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang.


Strategi
Sasaran
Program
1. Sasaran
Terjaminnya
Jangka
kelestarian
Panjang
sumberdaya
2. Sasaran
terumbu
Jangka
karang dan
Pendek
kesejahteraan
Penyusunan
masyarakat
Rencana
setempat
Pengelolaan
melalui
Terumbu
penerapan
Karang
prinsip-prinsip
Berkelanjutan
Visi

Kegiatan

1. Pembagian
areal terumbu
karang (zonasi)
ke dalam zona
lindung dan
zona
pemanfaatan
2. Pengintegrasian
COREMAP II ADB 67
hak-hak
pengelolaan
tradisional ke

pengelolaan
berkelanjutan
ramah
Iingkungan
dan
pengembangan
usaha ekonomi
bagi
masyarakat
setempat.

3.
4.

5.

1.
2.

Pengembangan
3.
Mata
Pencaharian
4.
Altematif
5.

1.

Pengembangan 2.
Kapasitas
pengelolaan
uang desa dan
Prasarana
3.
Dasar
pengelolaan.

Peningkatan
Kapasitas
Masyarakat

68

Panduan Pengembangan Marine Management Area

dalam rencana
pengelolaan
Konservasi dan
rehabilitasi
Penyusunan
dan penetapan
aturan
pemanfaatan
sumberdaya
alam laut
Penyusunan
mekanisme
pemecahan
konflik
Identifikasi
jenis-jenis usaha
Pemilihan jenisjenis usaha yang
akan
dikembangkan
Penyusunan
studi kelayakan
Pelatihan teknis
dan manajemen
usaha
Pembentukan
Lembaga
Keuangan mikro
dan Manajemen
Idenffikasi
kebutuhan
prasarana
Penetapan jenis
jenis prasarana
dasar
yang
akan dibangun
Penyusunan
Rancangan
Teknis dan
Usulan
Kegiatan.

1. Identifikasi
jenis-jenis
pelatihan yang
diperlukan
2. Pemilihan jenis-

jenis kegiatan
pelatihan
Penyusunan
rencana kegiatan
pelatihan.

4.8 Pemasangan tanda batas dan pemeliharaan

Lokasi DPL perlu dibuatkan tanda batas, setelah Peraturan Desa


ditetapkan. Batas-batas kawasan diupayakan di pasang baik di pantai
maupun di laut, yang memungkinkan untuk kemudahan upaya pengelolaan
dan khususnya pemantauan. Jika tanda batas tidak ada atau kurang jelas
terlihat, maka peneglolaan dan pemantauan sulit untuk dilakukan. Tanda
batas diusahakan dibuat dengan material sederhana namun kuat dan tahan
terhadap kondisi laut, seperti tahan terhadap gelombang, arus dan tidak
korosif.

Pemasangan tanda batas dilakukan setelah survei kedalaman


perairan melalui penyelaman yang dilakukan oleh anggota masyarakat dan
ahli. Dengan survei tersebut diharapkan panjang tali pelampung serta
pemberat/jangkar dapat dipasang sesuai dengan kedalaman perairan.
Pertimbangan dalam pemasangan adalah pasang-surut perairan laut,
sehingga diusahakan pemasangan tanda batas dilakukan pada saat pasang
tertinggi, supaya tanda pelampung tetap muncul di permukaan air.

Jika batas DPL mencakup daratan pantai, maka diperlukan


pemasangan patok batas dengan ditancapkan pada tanah. Material patok
dari beton atau baja anti karat biasanya merupakan bahan patok batas yang
ideal. Warna patok batas di laut atau di darat diupayakan yang mencolok,
seperti kuning dan merah.

COREMAP II ADB

69

Pemeliharaan Tanda Batas diperlukan secara rutin, misalnya dengan


mengganti bagian yang rusak atau hilang. Kelompok Pengelola akan
bertanggung jawab untuk pemeliharaan tanda-tanda batas DPL.

Papan Informasi sangat penting sebagai upaya sosialisasi kepada


masyarakat dan pengunjung/wisatawan atau juga kepada masyarakat di
luar desa. Papan Informasi biasanya berisi tentang pesan-pesan penting,
seperti larangan, yang terdapat dalam Peraturan Desa Tentang Pengelolaan
DPL. Selain perlu mempertimbangkan bahan Papan Informasi yang awet
atau tahan lama, biasanya Papan Informasi tersebut juga dapat dihiasi
dengan gambar/poster tentang Konservasi Terumbu Karang dan Perikanan,
misalnya : Terumbu Karang Sehat Ikan Berlimpah atau Kekayaan Alam
Laut adalah bukan warisan nenek moyang, tetapi pinjaman dari anak cucu
kita , dsb.

4.9 Pendidikan Lingkungan Hidup

Pendidikan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam


pengelolaan DPL. Pendidikan tentang lingkungan hidup dan pengelolaan
terumbu karang dan operasional DPL bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan mengenai lingkungan pesisir, ekosistem terumbu karang dan
pengelolaan DPL, sehingga mereka dapat mengelola dan memanfaatkan
sumberdaya pesisir di desa mereka secara berkelanjutan.

Pendidikan lingkumgan hidup adalah upaya penyadaran dan


peningkatan pengetahuan masyarakat, peningkatan keterampilan, melalui
kegiatan pendidikan, pengajaran, pelatihan, penyuluhan, diskusi-diskusi
formal dan informal (focus group discussion) tentang lingkungan hidup yang
ada di sekitar mereka termasuk pengelolaan sumberdaya alam. Pelatihan
dan

penyuluhan

semasa

proyek

masih

berjalan

dilaksanakan

oleh

COREMAP, sedang nantinya peran para Kader Desa dan Pengelola DPL

70

Panduan Pengembangan Marine Management Area

ataupun Penyuluh Perikanan dapat menggantikan peran sebagai penyuluh


tentang pengelolaan lingkungan hidup di desa.

Ada tiga hal yang dapat dipakai menjadi prinsip dasar pemahaman
masyarakat terhadap sumberdaya terumbu karang, yaitu :

Rasa memiliki masyarakat terhadap sumberdaya terumbu karang dan


lokasinya
Manfaat ekologis dan ekonomis sumberdaya alam, termasuk terumbu
karang
Kemungkinan ancaman dan degradasi sumberdaya alam di sekitar
mereka

4.10 MCS dan Penegakan Hukum

DPL yang telah ditetapkan melalaui Peraturan Desa perlu diawasi


dari

kegitan-kegiatan

masyarakat

yang

mungkin

belum

memahami

manfaatnya. Untuk menjamin adanya pengawasan dan penegakan aturan,


maka disarankan untuk membuat Kelompok Pengawasan Masyarakat
(Pokmaswas).

Apabila terjadi pelanggaran aturan DPL, maka aturan yang telah


disepakati bersama perlu ditegakkan dan sanksi diberikan kepada
pelanggar. Sanksi yang dikenakan haruslah sesuai dengan ketentuan dalam
Perdes, tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Jika seseorang melanggar
aturan beberapa kali, dapat dikatakan pelanggaran tersebut sudah layak
untuk diserahkan kepada aparat penegak hukum, beserta barang bukti.
Oleh karena itu, Pokmaswas perlu dilatih tentang penyidikan dan prosedur
penangkapan,

serta

Standar

Operation

Procedures

(SOP)

tentang

mekanisme pelaporan.

4.11 Pemantauan dan Evaluasi

COREMAP II ADB

71

Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi merupakan hal yang penting


dalam siklus kebijakan pengelolaan DPL. Dengan adanya pemantauan dan
evaluasi, maka kita dapat mengamati kemajuan setelah penetapan DPL dan
pengelolaan DPL diberlakukan. Dari hasil pemantauan dan evaluasi, kita
dapat mengetahui efektifitas dari DPL yang telah kita kembangkan, baik
dampak terhadap perbaikan lingkungan maupun dampak sosial-ekonomi
masyarakat.

Kegiatan pemantauan dan evaluasi memerlukan informasi yang


dikumpulkan secara periodik, seperti informasi jumlah pertemuan, jumlah
partisipasi masyarakat, perubahan pola pemanfaatan sumberdaya terumbu
karang, jumlah penurunan kegiatan penangkapan ikan yang merusak, dsb.

Informasi tentang dampak ekologis, seperti perubahan tutupan


karang dan jumlah kepadatan biota dalam DPL, merupakan hasil dari
kegiatan pemantauan dan evaluasi. Melalui pemantauan dan evaluasi,
maka program yang telah dibuat dapat terus disesuaikan dengan perubahan
permasalahan. Melalui kegiatan pemantauan dan evaluasi, maka proses
belajar secara mandiri dalam pengelolaan DPL (pengelolaan adaptif) dapat
berjalan sesuai dengan perubahan situasi yang berkembang di lokasi.

Agar supaya kegiatan pemantauan dan evaluasi dapat dilaksanakan


oleh masyarakat, maka diperlukan suatu pola pemantauan dan evaluasi
yang sederhana tetapi dapat dipertanggung jawabkan. Mengingat untuk
mendapatkan

informasi

dari

kegiatan

pemantauan

dan

evaluasi

memerlukan biaya yang cukup mahal, maka perlu diupayakan metode


pemantauan dan evaluasi yang mudah dan tidak memberatkan masyarakat.
Misalnya, metode pemantauan kondisi terumbu karang dapat menggunakan
metode Manta Tow dengan snorkle. Sedang pemantauan dan evaluasi
tentang pola pemanfaatan sumberdaya, misalnya tentang frekwensi
penggunaan alat-alat yang merusak, dsb.

72

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Kelompok Pengelola dan LPS-TK diharapkan menjadi motor untuk


kegiatan monitoring dan evaluasi, setelah mendapat pelatihan dari para
Fasilitator Lapangan dari COREMAP. Untuk pemantauan kondisi terumbu
karang, maka peran dari universitas diperlukan dalam penyiapan para
kader untuk pemantauan kondisi tutupan terumbu karang.

4.12 Penyebarluasan konsep DPL ke lokasi lain (scaling-up)

Masyarakat desa diharapkan semakin termotivasi setelah mengikuti


penyuluhan, mengingat sejarah yang mereka alami dan mendengar atau
menyaksikan keberhasilan upaya konservasi melalui pendirian daerah
perlindungan laut. Selain itu, kebanggaan masyarakat desa sebagai desa
yang berhasil
terkandung

mewujudkan keinginannya, sesuai dengan pesan yang

dalam

Undang-Undang

Nomor

32

Tahun

2004,

turut

meningkatkan motivasi tersebut.

Untuk lebih menjamin kesinambungan tanggungjawab masyarakat


dalam mengelola daerah perlindungan laut, maka prinsip nomor satu yang
menekankan pada perlunya masyarakat diberi kesempatan (waktu). Oleh
karena itu implementasi adopsi daerah perlindungan laut di tempat lain
harus melihat perkembangan kesiapan masyarakat. Implementasi dalam
bentuk

penetapan

daerah

perlindungan

laut

tanpa

proses

yang

mengakomodasi aspirasi masyarakat harus dihindarkan. Jika hal ini terjadi,


maka yang akan ada hanyalah papan-papan tanda adanya daerah
perlindungan laut tanpa tindakan pengelolaan sebagaimana mestinya. Dari
sudut pelaksanaan proyek, ciri community-based memberikan implikasi
bahwa waktu penyelesaian tahapan proyek ataupun pencapaian milestone
perkembangan proyek kemungkinan mengalami keterlambatan (delayed).
Hal ini disebabkan karena kemajuan proyek harus didasarkan pada
kesiapan masyarakat untuk maju ke tahap proyek selanjutnya. Oleh karena
itu, sebuah proyek yang berciri community-based sebaiknya melakukan
pemantauan terhadap kesiapan masyarakat tersebut.

COREMAP II ADB

73

Beberapa prinsip yang diterapkan proyek untuk memfasilitasi


pendirian DPL:

Perlu ada waktu yang cukup bagi masyarakat untuk memahami


persoalan dan isu;
Penyuluhan tentang DPL dan masyarakat mengkonsultasikan
idenya ke berbagai pihak;
Menempatkan

penyuluh

lapang

tetap

di

tengah

masyarakat;
Mengadakan asisten penyuluh lapang dari lingkungan desa
setempat;
Memfasilitasi pembentukan dan pembinaan kelompok pengelola;
Menyediakan informasi/data sekunder hasil survei-survei;
Mengakomodasi peran penting pemerintahan desa dan instansi
lainnya

74

secara

Panduan Pengembangan Marine Management Area

PUSTAKA

COREMAP II ADB. 2006. Manual Tata Kelembagaan COREMAP II ADB


(Governance Manual). Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan.
COREMAP II WB. 2005. Panduan Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis
Masyarakat. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan.
H.A.Susanto, Wiryawan, B., Pedersen,O. 2004. Sustainability of an
Integrated Coastal Management Model:Case Study in South
Lampung, Indonesia. Proceeding of Coastal Zone Asia Pacific
Conference. Brisbane, Australia.
Locally-Managed Marine Management Area. 2004. www.Lmmanetwork.org
M. V Erdmann, Merrill P.R, Mongdong, M, Wowiling,M, Pangalil,R. and
Arsyad,I.2003.
The Bunaken National Marine Park CoManagement Initiative. www.bunaken.info
Wiryawan, B., I.Yulianto, B.Haryanto. 2002. Rencana Pembangunan dan
Pengelolaan Pulau Sebesi, Lampung Selatan. CRMP/USAID.
49pp
PISCO. 2002. Science of Marine Protected Area. www.pisco.org
Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Departemen
Kelautan dan Perikanan. Rancangan Peraturan Pemerintah
Tentang Konservasi Sumberdaya Ikan (draft Agustus 2006).
Salm, R., J.R.Clark, E.Siirila. 2000. Marine Protected and Coastal
Protected Areas. Aguide for Planners and Managers. IUCN. 370
pp.
Tulungen,

JJ. T.Bayer, B.C.Crawford, M.Dimpudus, M.Kasmidi,


C.Rotinsulu, A.Sukmara, N.Tangkilisan. 2003. Panduan
Pembentukan&Pengelolaan Daerah Pelindungan Laut Berbasis
Masyarakat. CRMP/USAID. Jakarta. 77pp.

UNDANG-UNDANG
Daerah
UNDANG-UNDANG

No. 32

Tahun 2004

Tentang Pemerintahan

31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

COREMAP II ADB

75

76

Panduan Pengembangan Marine Management Area

LAMPIRAN 1.
Contoh Surat Keputusan Kepala Desa Tentang Aturan Pengelolaan
DPL.
SURAT KEPUTUSAN KEPALA DESA TEJANG PULAU SEBESI
NOMOR : 140/02/KD-TPS/16.01/I/2002
TENTANG
ATURAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT
Menimbang:
a.
Adanya Daerah Perlindungan Laut di Desa Tejang yang bertujuan
untuk melindungi kawasan terumbu karang.
b.
Hasil musyawarah pada hari Jumat, 25 Januari 2002 di Balai Desa
Tejang yang dihadiri oleh aparat Desa Tejang, Badan Perwakilan
Desa, dan beberapa tokoh masyarakat untuk menentukan aturan
Daerah Perlindungan Laut
Mengingat:
1) Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Hayati dan Ekosistemnya
2) Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia
3) Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup
4) Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
5) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
6) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan
Hutan.
7) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian
dan/atau Perusakan Laut.
8) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom
9) Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 32 tahun 2000
Tentang Peraturan Desa

Dengan Persetujuan Badan Perwakilan Desa


Memutuskan
Menetapkan: Aturan Daerah Perlindungan Laut

BAB I

COREMAP II ADB

77

KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan:
1. Masyarakat Desa adalah seluruh penduduk Desa Tejang Pulau Sebesi
dan Pulau Sebuku.
2. Nelayan adalah penduduk yang pekerjannya sebagai pencari ikan di laut
yang berasal dari desa dan atau luar Desa Tejang.
3. Badan Pengelola Daerah Perlindungan Laut adalah organisasi
masyarakat yang dibentuk melalui keputusan bersama masyarakat,
dengan surat keputusan Kepala Desa
4. Daerah Perlindungan Laut adalah bagian pesisir dan laut tertentu yang
ternasuk dalam daerah administratif Pemerintahan Desa Tejang.
BAB II
CAKUPAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT
Pasal 2
1. Daerah Perlindungan Laut terdiri dari 4 lokasi yang ada di pesisir Pulau
Sebesi yang bernama Kebon Lebar dan Sianas, Pulau Sawo, Pulau
Umang dan Kayu Duri.
2. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Kebon Lebar dan Sianas adalah:
a.
Titik batas I merupakan titik batas antara Regahan Lada dan
Kebon Lebar.
b.
Titik batas II merupakan titik yang berjarak 200 meter kearah
laut dari titik batas I
c.
Titik batas III merupakan daerah Sianas yang bernama Sianas.
d.
Titik batas IV merupakan titik yang berjarak 200 meter kearah
laut dari titik batas III
e.
Garis yang menghubungkan titik batas II dan IV merupakan garis
lengkung yang mengikuti garis pantai.
1. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Pulau Sawo adalah seluruh
kawasan terumbu karang yang ada di Pulau Sawo
2. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Pulau Umang adalah seluruh
kawasan terumbu karang di sekitar Pulau Umang.
3. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Kayu Duri adalah:
a.
Titik batas I merupakan titik yang bernama Pekonnampai
b.
Titik batas II merupakan titik yang berjarak 100 meter kearah
laut dari titik batas I
c.
Titik batas III merupakan daerah yang bernama Kayu Duri.
d.
Titik batas IV merupakan titik yang berjarak 100 meter kearah
laut dari titik batas III
e.
Garis yang menghubungkan titik batas II dan IV merupakan garis
lengkung yang mengikuti garis pantai.
Pasal 3
Zona penyangga merupakan daerah disekitar Daerah Perlindungan
Laut dengan radius sejauh 50 meter.
BAB III

78

Panduan Pengembangan Marine Management Area

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB BADAN PENGELOLA


Pasal 4
1. Badan Pengelola yang dibentuk bertugas membuat perencanaan
pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang disetujui oleh masyarakat.
2. Badan Pengelola bertanggung jawab dalam perencanaan lingkungan
hidup
untuk pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang
berkelanjutan.
3. Badan Pengelola yang dibentuk bertugas untuk mengatur, menjaga
pelestarian dan pemanfaatan Daerah yang dilindungi untuk kepentingan
masyarakat.
4. Badan Pengelola berhak melakukan penangkapan terhadap pelaku yang
terbukti melanggar ketentuan dalam keputusan ini.
5. Badan Pengelola berhak melaksanakan pengamanan atas barang dan
atau alat-alat yang dipergunakan sesuai ketentuam yang berlaku dalam
keputusan ini.
BAB IV
KEWAJIBAN DAN HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN
Pasal 5
1. Setiap penduduk desa wajib menjaga, mengawasi dan memelihara
kelestarian daerah pesisir dan laut yang dilindungi.
2. Setiap penduduk desa dan atau kelompok mempunyai hak dan
bertanggung jawab untuk berpartisipasi dalam perencanaan pengelolaan
lingkungan hidup di daerah yang dilindungi.
3. Setiap orang atau kelompok yang akan melakukan kegiatan dan atau
aktivitas dalam Daerah Perlindungan (Zona Inti), harus terlebih dahulu
melapor dan memperoleh ijin dari Badan pengelola.
4. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam Daerah yang dilindungi (Zona
Inti), adalah kegiatan orang-perorang dan atau kelompok, yaitu
penelitian, dan wisata, terlebih dahulu melapor dan memperoleh ijin dari
Badan pengelola, dengan membayar biaya pengawasan dan perawatan,
yang akan ditentukan kemudian oleh Badan pengelola.
5. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam Zona Penyanggah, adalah
pemanfaatan terbatas oleh nelayan.
BAB V
TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENERIMAAN DANA
Pasal 6
1. Dana yang diperoleh dari kegiatan dalam daerah perlindungan,
diperuntukkan sebagai dana pendapatan untuk pembiayaan petugas
atau kelompok pengawasan/patroli laut, pemeliharaan rumah/menara
pengawas, pembelian peralatan penunjang seperti pelampung, bendera
laut dan biaya lain-lain yang diperlukan dalam upaya perlindungan
daerah pesisir dan laut, dan tata cara pemungutannya oleh petugas yang
ditunjuk melalui keputusan bersama Badan pengelola Daerah

COREMAP II ADB

79

Perlindungan Laut.
2. Dana-dana lain yang diperoleh melalui bantuan dan partisipasi
pemerintah dan atau organisasi lain yang tidak mengikat yang
dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan pengelolaan Daerah
Perlindungan Pesisir dan Laut.
BAB VI
HAL-HAL YANG TIDAK DAPAT DILAKUKAN ATAU DILARANG
Pasal 7
Semua bentuk kegiatan yang dapat mengakibatkan perusakan
lingkungan dilarang dilakukan di daerah pesisir dan laut yang sudah
disepakati dan ditetapkan bersama untuk dilindungi (Zona Inti dan Zona
Penyanggah).
Pasal 8
Hal-hal yang tidak dapat dilakukan/dilarang dalam zona inti sebagai
berikut :
1. Melintasi/melewati/menyebrangi Daerah Perlindungan Laut kecuali
darurat
2. Memancing/menangkap ikan dengan segala jenis alat tangkap
3. Mengambil biota hewan dan tumbuhan yang hidup ataupun mati
4. Menarik ikan dengan sengaja menggunakan lampu di sekitar Daerah
Perlindungan Laut pada malam hari
5. Membuang jangkar di sekitar Daerah Perlindungan Laut
6. Memelihara rumput laut dan ikan karang disekitar Daerah Perlindungan
Laut
7. Menempatkan bagan di sekitar Daerah Perlindungan Laut
8. Membuang sampah disekitar Daerah Perlindungan Laut
9. Melakukan penambangan di Daerah Perlindungan Laut
Pasal 9
Hal-hal yang tidak dapat dilakukan/dilarang dalam zona penyangga
sebagai berikut :
1. Menangkap ikan dengan segala jenis alat tangkap kecuali pancing dan
panah
2. Mengambil biota hewan dan tumbuhan yang hidup ataupun mati kecuali
ikan
3. Menarik ikan dengan sengaja menggunakan lampu pada malam hari
4. Memelihara rumput laut dan ikan karang
5. Membuang sampah
6. Melakukan penambangan
BAB VII
SANKSI
Pasal 10
1. Barang siapa melakukan perbuatan melanggar ketentuan pasal 7, 8 dan
9 dikenakan sanksi tingkat pertama berupa permintaan maaf oleh
pelanggar, mengembalikan semua hasil yang diperoleh dari Daerah
Perlindungan Laut dan atau diamankan, dan menandatangani surat

80

Panduan Pengembangan Marine Management Area

pernyataan tidak akan mengulangi lagi pelanggaran yang dilakukan di


hadapan aparat desa, badan pengelola dan masyarakat.
2. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan kedua kalinya
seperti yang ditentukan dalam pasal 7, 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat
kedua yaitu sanksi berupa denda berupa sejumlah uang yang akan
ditentukan kemudian dalam aturan badan pengelola dan mengamankan
semua peralatan yang dipakai dalam pelanggaran aturan Daerah
Perlindungan Laut
3. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan ketiga kalinya
seperti yang ditentukan dalam pasal 7, 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat
ketiga yaitu sanksi berupa denda berupa sejumlah uang yang akan
ditentukan kemudian dalam aturan badan pengelola, mengamankan
semua peralatan yang dipakai dalam pelanggaran aturan Daerah
Perlindungan Laut dan diwajibkan melakukan pekerjaan sosial untuk
kepentingan masyarakat (kerja bakti, membetulkan mck dll) atau sanksi
lain yang ditentukan kemudian oleh aparat dan masyarakat desa
4. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan seperti yang
ditentukan dalam pasal 7, 8 dan 9 lebih dari tiga kali dikenakan sanksi
sanksi berupa sanksi seperti pasal 10 ayat (3) diatas, dan kemudian
diserahkan kepada pihak kepolisian sebagai penyidik, untuk diproses
sesuai dengan ketentuan peraturan dan perUndang-Undang
an yang
berlaku.
BAB VIII
PENGAWASAN
Pasal 11
1. Daerah yang dilindungi adalah merupakan daerah pesisir dan laut yang
telah dipilih dan disetujui bersama oleh seluruh masyarakat Desa
Tejang.
2. Daerah yang dilindungi dijaga kelestariannya untuk kepentingan
masyarakat Desa Tejang.
3. Setiap anggota masyarakat berkewajiban melaporkan kepada Badan
pengelola atau Pemerintah Desa, apabila mengetahui tindakan-tindakan
perusakan lingkungan dan lain-lain yang dilakukan oleh orang-perorang
dan atau kelompok, sehubungan dengan pelestarian Daerah
Perlindungan.

BAB IX
PENUTUP
Pasal 12
1. Hal hal yang perlu diatur dalam keputusan Desa ini sepanjang mengenai
pelaksanaan Perlindungan Daerah Pesisir dan Laut, akan diatur lebih
lanjut dengan keputusan Musyawarah Desa.
2. Keputusan Masyarakat Desa ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Demikian keputusan Masyarakat Desa Tejang, tentang Perlindungan
Daerah Pesisir dan Laut sudah dibuat dengan benar dan apabila dipandang

COREMAP II ADB

81

perlu dapat disempurnakan kembali sesuai musyawarah dengan suatu


keputusan bersama masyarakat dan Pemerintah Desa Tejang, dalam jangka
waktu yang tidak ditentukan.
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan segala sesuatunya akan di
perbaiki sebagai mana mestinya
Menyetujui,
Ketua BPD Tejang Pulau Sebesi

(Syaifullah HFF.)
Ditetapkan di
: Pulau Sebesi
Pada Tanggal
: 28 Januari 2002
Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi

82

Panduan Pengembangan Marine Management Area

Lampiran 2.
Contoh Peraturan Bupati Berau Tentang Kawasan Konservasi Laut
PERATURAN BUPATI BERAU
NOMOR: 31 TAHUN 2005
TENTANG
KAWASAN KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU
BUPATI BERAU

Menimbang:

Mengingat:

a.

bahwa
dengan
ditetapkannya
Undang-Undang
nomor 32 tahun 2004 sebagai pengganti UndangUndang
nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai
kewenangan mengelola sumberdaya pesisir dan laut
dengan tetap memperhatikan kewenangan propinsi
sebagai bagian integral Negara Kesatuan Republik
Indonesia;

b.

bahwa wilayah pesisir dan laut Kabupaten Berau


memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga
perlu dilindungi dan dikelola, maka perlu menetapkan
Peraturan Bupati tentang Kawasan Konservasi Laut
Kabupaten Berau.

1.

Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 1959 (Lembaran
Negara tahun 1959 Nomor 72) tentang Penetapan
Undang-Undang
Darurat Nomor 3 Tahun 1953
tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di
Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1953 Nomor 9)
sebagai Undang-Undang
(Memori Penjelasan dalam
tambahan Lembaran Negara Nomor 1820);

2.

Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran
Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2831);

3.

Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1973 tentang
Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 1; Tambahan
Lembaran Negara Nomor 2994) jo. Pengumuman

COREMAP II ADB

83

Pemerintah Republik Indonesia tentang


Kontinen Indonesia tanggal 17 Pebruari 1969;

84

Landas

4.

Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44; Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3260);

5.

Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 1985 tentang
Pengesahan United Nations Conventions on the Law of
the Sea (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1985 Nomor 76; Tambahan Lembaran Negara Nomor
3319);

6.

Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1985 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3419);

7.

Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 1992 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1992 Nomor 115; Tambahan
Lembaran Negara 3501);

8.

Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;

9.

Undang-Undang
Kehutanan;

Nomor 41 Tahun 1999 tentang

10
.

Undang-Undang
Perikanan;

Nomor 31 Tahun 2004 tentang

11
.

Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah

12
.

Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang


Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam
(mulai berlaku 19 Agustus 1998);

13
.

Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang


Pengesahan Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Flora and Fauna
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1978
Nomor 51);

Panduan Pengembangan Marine Management Area

14
.

Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang


Pengesahan Convention Concerning the Protection of
the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 73);

15
.

Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang


Pengesahan Convention on Wetlands of International
Importance Especially as Waterflow Habitat (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 73);

16
.

Keputusan
Menteri
Pertanian
Nomor
604/Kpts/Um/8/1982 tentang Penunjukan Areal Hutan
Pulau Semama Beserta Perairannya Seluas 220 Ha
Yang Terletak di Daerah Tingkat II Berau, Daerah
Tingkat I Kalimantan Timur Sebagai Suaka Marga
Satwa dan Penunjukan Areal Hutan Pulau Sangalaki
Beserta Perairannya Seluas 280 Ha yang Terletak di
Daerah Tingkat II Berau, Daerah Tingkat I Kalimantan
Timur Sebagai Taman Laut (mulai berlaku tanggal 19
Agustus 1982);

17
.

Peraturan Daerah Kabupaten Berau No. 24 Tahun


2002 tentang Kewenangan Pemerintah Kabupaten
Berau;

18
.

Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 2 Tahun


2003
tentang
Rencana
Strategis
Program
Pembangunan Daerah Kabupaten Berau Tahun 20012005;

19
.

Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 3 Tahun


2004 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Tahun
2001-2011.

Memperhatika
n:
Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Berau tanggal 14 Desember 2005
Nomor:170/358/DPRD.II/XII/2005
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN
BUPATI
TENTANG
KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU

KAWASAN

BAB I

COREMAP II ADB

85

KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
a. Bupati adalah Bupati Pemerintah Kabupaten Berau (definisi menurut
UNDANG-UNDANG 32/04)
b. Kawasan Konservasi Laut (disingkat KKL) adalah kawasan pesisir,
termasuk pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya, yang memiliki
sumberdaya hayati dan karakteristik sosial budaya spesifik yang
dilindungi secara hukum atau cara lain yang efektif.
c. Wilayah Pesisir adalah kawasan peralihan yang menghubungkan
ekosistem darat dan laut yang sangat rentan terhadap perubahan
aktivitas manusia di darat dan laut.
d. Kawasan Pesisir adalah bagian dari wilayah pesisir yang memiliki fungsi
tertentu berdasarkan karakteristik fisik, biologi, sosial dan ekonomi
untuk dipertahankan keberadaannya.
e. Perikanan Berkelanjutan adalah semua proses upaya (seperti
penangkapan dan pembudidayaan ikan) pengambilan, penggunaan,
pengembangan, dan pengusahaan sumber daya ikan secara terencana
dan hati-hati dengan menjamin keberadaan, ketersediaan, dan
kesinambungan (keberlanjutan) sumber daya tersebut agar tetap
tersedia bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
f. Pengamanan dan Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan disekitar
kawasan konservasi, baik secara tetap maupun sementara, dengan
tujuan memelihara keamanan serta mencegah terjadinya pelanggaranpelanggaran peraturan, hukum dan perUndang-Undang
an serta
bentuk-bentuk tindak pidana lainnya.
g. Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Konservasi Laut adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian sumberdaya pesisir dan
laut secara berkelanjutan yang mengintegrasikan antara kegiatan
pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, perencanaan antar sektor,
ekosistem darat dan laut, ilmu pengetahuan, dan manajemen untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
h. Masyarakat adalah masyarakat pesisir yang bermukim di sekitar
kawasan konservasi dan mata pencahariannya tergantung pada
pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, terdiri dari masyarakat adat
dan masyarakat lokal yang merupakan komunitas nelayan, pembudidaya
ikan dan bukan nelayan.
Pasal 2
Menunjuk Kawasan Pesisir dan Laut Kabupaten Berau sebagai Kawasan
Konservasi Laut Kabupaten Berau sebagaimana peta terlampir.
Pasal 3
Kawasan Konservasi Laut dapat dimanfaatkan untuk keperluan:
a. kegiatan perikanan berkelanjutan,
b. wisata bahari,
86

Panduan Pengembangan Marine Management Area

c. penelitian dan pengembangan,


d. pengembangan sosial ekonomi masyarakat,
e. pemanfaatan sumberdaya laut lainnya secara lestari.
BAB II
RUANG LINGKUP DAN ASAS KONSERVASI LAUT
Pasal 4
Kawasan Konservasi Laut mencakup fungsi perlindungan, pelestarian dan
pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut.
Pasal 5
Konservasi Laut dilakukan berdasarkan asas manfaat, keterpaduan,
keseimbangan, berkelanjutan, berkeadilan dan berbasis masyarakat.
BAB III
PRINSIP KONSERVASI LAUT
Pasal 6
Konservasi laut dilakukan dengan prinsip:
(1) pencegahan tangkap lebih,
(2) penggunaan pertimbangan bukti ilmiah,
(3) pertimbangan kearifan lokal,
(4) pendekatan kehati-hatian,
(5) keterpaduan pengembangan wilayah pesisir,
(6) pengembangan alat dan cara
penangkapan ikan yang ramah
lingkungan,
(7) pertimbangan kondisi sosial ekonomi masyarakat,
(8) pemanfaatan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati,
(9) perlindungan struktur dan fungsi alami ekosistem perairan yang
dinamis,
(10) perlindungan jenis dan kualitas genetik ikan,
(11) pengelolaan adaptif.
BAB IV
CAKUPAN BATAS KAWASAN KONSERVASI LAUT
Pasal 7
(1)

(2)

Batas KKL di wilayah laut ditetapkan mengikuti pengukuran laut


territorial Indonesia sejauh 4 mil yang diukur dari garis pangkal pulaupulau terluar dalam wilayah Kabupaten Berau, sesuai dengan
kewenangan Pemerintah Kabupaten Berau, berdasarkan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Berau, yang ditetapkan melalui Peraturan
Daerah No. 3 tahun 2004.
Batas KKL di wilayah pesisir ditetapkan sesuai dengan batas kawasan
lindung hutan mangrove berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah

COREMAP II ADB

87

(3)

Kabupaten Berau, yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah No. 3


tahun 2004.
Apabila terjadi perubahan batas KKL diluar 4 mil laut sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), akan ditetapkan kemudian berdasar
kesepakatan dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur.
BAB V
PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT
Pasal 8

1)
2)

3)

4)

Penunjukan Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau direalisasikan


dalam bentuk penataan batas.
Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dilakukan melalui kegiatan:
a. Identifikasi, inventarisasi, dan monitoring potensi sumber hayati
dan lingkungan sumber daya hayati,
b. upaya pengelolaan meliputi pengawasan dan pengendalian,
pengelolaan habitat dan populasi, penelitian dan pendidikan,
pemanfaatan sumber daya ikan dan jasa lingkungan, serta
pengembangan sosial ekonomi masyarakat,
c. keterpaduan antara pemanfataan ruang daratan dan lautan,
d. monitoring dan evaluasi.
Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Laut akan
dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Berau dengan melibatkan
para pihak terkait.
Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi Laut akan dibentuk oleh
Pemerintah Kabupaten Berau
Pasal 9

(1) Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 8 dilakukan oleh Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi
Laut secara kolaboratif dengan melibatkan peran serta aktif
masyarakat
(2) Pengelolaan KKL dikonsultasikan dengan pemerintah Propinsi dan
Pemerintah Pusat

Pasal 10
Pengamanan dan pengawasan KKL Kabupaten
dinas/instansi terkait dan masyarakat setempat.

Berau

dilakukan

BAB VI
PEMBIAYAAN
Pasal 11
Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya peraturan ini dibebankan
kepada APBN, APBD Propinsi dan APBD Kabupaten Berau serta sumber-

88

Panduan Pengembangan Marine Management Area

sumber pendanaan lain yang tidak bertentangan dengan peraturan


perundangan yang berlaku.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 12
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Berita Daerah
Kabupaten Berau.

Ditetapkan di Tanjung
Redeb
pada tanggal, 27 Desember
2005
BUPATI BERAU

Diundangkan di Tanjung Redeb


HAPK
pada tanggal, 27 Desember 2005..

DRS.MAKMUR

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN BERAU

H. IBNU SINA ASYARI

LEMBARAN BERITA DAERAH KABUPATEN BERAU TAHUN 2005

COREMAP II ADB

89

LAMPIRAN: PERATURAN BUPATI BERAU


NOMOR: 31TAHUN 2005
TENTANG: KAWASAN KONSERVASI LAUT
KABUPATEN BERAU

Keterangan : Koordinat Batas KKL ke rah darat dan laut terlampir dalam
Peraturan Bupati No.31 Tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten
Berau

90

Panduan Pengembangan Marine Management Area

COREMAP II ADB

91