Anda di halaman 1dari 4

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu jenis sensor yang banyak dikembangkan adalah sensor kimia.
Definisi umum sensor kimia adalah alat yang mampu menangkap fenomena berupa
zat kimia (baik gas maupun cairan) untuk kemudian diubah menjadi sinyal elektrik.
Meskipun cakupan dari sensor kimia ini sangat luas meliputi seluruh zat-zat kimia,
namun dalam perkembangannya yang sangat menonjol adalah sensor yang berkenaan
dengan gas-gas kimia seperti NO2, CO2, dan O2.
Teknologi sensor lainnya yang juga banyak digeluti oleh para peneliti di
bidang sensor adalah sensor yang berdasarkan oksida logam atau semikonduktor.
Teknologi yang memanfaatkan keunggulan sifat semikonduktor suatu bahan
merupakan teknologi yang cukup menjanjikan bagi masa depan mengingat harganya
yang murah, bentuknya yang lebih kecil, lebih tahan lama dan kemampuan
konduktifitas dari semikonduktor yang dapat berubah-ubah. Kunci dari teknologi
semikonduktor bagi aplikasi dalam dunia sensor adalah jumlah dan mobilitas dari
pembawa muatan yang terdapat dalam bahan semikonduktor sangat sensitif, tidak
hanya terhadap paramater fisik seperti temperatur, cahaya ataupun tekanan, tetapi
juga sangat sensitif terhadap parameter kimia. Dengan sifat seperti ini maka sebuah
bahan semikonduktor yang dilalui oleh zat kimia tertentu akan mengalami perubahan
besaran konduktivitasnya yang jika diubah dalam proses berikutnya mampu
mengeluarkan besaran kuantitatif. Sensor jenis semikonduktor ini pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1953 setelah seorang peneliti Amerika yaitu John Bardeen
dan Walter H. Brattain yang menemukan perubahan konduktivitas suatu bahan
semikonduktor setelah terjadi penyerapan gas kimia pada bahan semikonduktor

1
2

tersebut. Atas temuan yang spektakuler ini kedua peneliti tersebut bersama dengan
William Shokley mendapat hadiah nobel bidang Fisika pada tahun 1956 (Brian,
2004).
Tungsten (VI) oksida, yang dikenal juga sebagai tungsten trioksida, WO3
merupakan material oksida yang mengandung unsur oksigen dan unsur logam transisi
yaitu tungsten. Bentuk kristal dari WO3 dapat digunakan sebagai sensor gas karena
mempunyai sifat yang peka terhadap gas. Adanya gas akan menyebabkan perubahan
konduktivitas yang berasal dari pergeseran ion-ion atau elektron-elektron dari suatu
material. Oleh karena itu, besarnya konduktivitas bergantung pada besar kecilnya
konsentrasi gas.
Kemampuan oksida logam sebagai sensor gas memerlukan perhatian khusus
pada karakteristik struktur. Biasanya struktur material oksida yang dibutuhkan ialah
yang kristalin. Kristal dapat dilihat sebagai kumpulan butiran (grains), strukturnya
berulang dalam periode terntentu dan dalam tiga dimensi. Apabila butir kristal
tumbuh kemudian bertemu dengan butiran kristal lain yang berbeda orientasi
kristalnya maka terjadilah batas butir. Pada gas sensor material, batas butir inilah
yang mengambil peranan. Adsorbsi oksigen terjadi pada batas butir ini dikarenakan
surface energy (energi permukaan) pada batas butir yang lebih tinggi dari
butir/kristal. Oksigen lebih mudah terdifusi dan teradsorb ke daerah batas butir. Jadi
semakin banyak batas butirnya, maka semakin besar probabilitas oksigen terdifusi
dan terikat di dalam material oksida. Artinya, di dalam gas sensor, kita membutuhkan
butiran kristal yang kecil-kecil (Brian, 2004).
Ukuran partikel yang terbentuk dari proses pengkristalan dipengaruhi oleh
jenis pelarut. Untuk itu digunakan pelarut polyethylen glikol karena polyethylen
glikol mempunyai gugus OH yang mirip dengan gugus OH pada air sehingga pada
proses pengkristalan, posisi H2O yang terikat pada WO3 dapat dengan mudah diganti
dengan gugus OH yang terdapat pada pelarut polyethylen glikol sehingga diharapkan
dapat memperoleh kristal WO3 yang memiliki permukaan atau penampang yang luas.
3

Salah satu proses kimia yang bisa digunakan untuk mendapatkan struktur
kristal WO3 yang berukuran nanopartikel adalah dengan metode sol-gel. Metode sol-
gel merupakan teknik kimia yang digunakan untuk membuat suatu material dari suatu
larutan kimia atau partikel suspensi koloid untuk menghasilkan suatu bentuk gelatin
dari sol yang mengandung fasa cair yaitu gel. Metode ini diharapkan akan
menghasilkan bahan sensor yang relatif sangat sensitif untuk mendeteksi adanya gas
khususnya alkohol.
Selama ini, alat untuk mengukur keberadaan alkohol di lingkungan
kebanyakan masih menggunakan elat-alat yang ukurannya besar dan tidak praktis
serta hanya pada laboratorium besar yang memilikinya. Alat-alat yang biasa
digunakan untuk mendeteksi alkohol adalah Densitometry, Distillation/Hydrometry,
Distillation/Pycnometry, Ebulliometry, Gas Chromatography (GC), Near Infra-red
Reflectance (NIR), dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Sensor
alkohol diharapkan muncul karena banyak sekali permintaan dari bidang industri
khususnya dalam industri peragian/fermentasi sebagai pengendali mutu serta bidang
forensik untuk mengendalikan tingkat pemabuk dalam mengendarai kendaraan.
Sebuah sensor alkohol menggunakan senyawa metal oksida semikonduktor
yang telah berhasil diproduksi oleh salah satu perusahaan di jepang (Figaro) adalah
sensor alkohol jenis TGS 2620 yang menggunakan senyawa alumina sebagai bahan
sensing. Respon yang diberikan sensor ini adalah sebuah hambatan pada 1ohm-5ohm
(pada 300ppm) dan range deteksinya pada 50ppm-5000ppm (Anonim, 2005).
Sifat kepekaan senyawa WO3 terhadap gas digunakan untuk mengetahui kadar
keberadaan alkohol di lingkungan. Adanya gas alkohol akan meyebabkan perubahan
konduktivitas yang dapat diketahui dari pengukuran nilai hambatan atau arus yang
mengalir pada material oksida. Dari bahan sensor WO3 yang diperoleh, dilakukan
optimasi panjang plat WO3 yang paling sensitif terhadap keberadaan alkohol.
4

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian diatas dapat dirumuskan masalah antara lain :
a. Bagaimana respon dari bahan sensor WO3 terhadap keberadaan gas alkohol ?
b. Bagaimana pengaruh panjang plat WO3 sebagai bahan sensor alkohol terhadap
besarnya resistansi yang dihasilkan ?
c. Bagaimana pengaruh temperatur terhadap nilai resistansi ?

1.3 Batasan Masalah


Pada penelitian ini dilakukan dengan batasan masalah sebagai berikut agar tidak
terjadi perluasan materi:
a. Senyawa yang digunakan untuk pembuatan sensor alkohol adalah WO 3 yang
dimurnikan dari senyawa Na2WO4.2H2O
b. Metode yang digunakan adalah metode Sol-gel

1.4 Tujuan Penelitian


Pada penelitian ini memiliki tujuan antara lain :
a. Membuat bahan sensor WO3 yang sensitif terhadap gas alkohol
b. Menentukan panjang plat WO3 yang paling sensitif terhadap gas alkohol
c. Menentukan temperatur optimum yang digunakan pada proses pengujian
bahan sensor WO3

1.5 Manfaat Penelitian


Pada penelitian ini memiliki manfaat antara lain :
a. Mendapatkan bahan sensor alkohol yang sensitif terhadap gas alkohol
b. Mengetahui pengaruh panjang plat WO3 sebagai bahan sensor gas alkohol
c. Mengetahui pengaruh temperatur terhadap nilai resistansi