Anda di halaman 1dari 16

Close X

INDOSKRIPSI
Kumpulan Skripsi Online Full Content

• Home
• Profil
• Terms and Conditions
• Contact
• Donate
• Tanya Jawab
• Report Abuse

Home

kista periapikal pada gigi premolar


rahang atas
• View
• clicks

Posted November 29th, 2009 by auli1409

• Kedokteran

abstraks:

Kista radikuler disebut juga kista periapikal. Kista ini merupakan jenis kista yang paling
sering ditemukan. Kista radikuler terbentuk oleh karena iritasi kronis gigi yang sudah
tidak vital. Kista ini tumbuh dari epitel rest of Malassez yang mengalami proliferasi oleh
karena respon terhadap proses radang yang terpicu oleh karena infeksi bakteri pada pulpa
yang nekrosis (Danudiningrat. 2006; Valois, Costa-junior. 2005; Romero, dkk. 2002).

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Gigi-geligi pada rongga mulut dibagi menjadi dua bagian, yaitu gigi-geligi pada rahang
atas dan rahang bawah. Gigi-geligi ini dikelilingi oleh bibir, mukosa pipi, dan lidah.
Setiap gigi terdiri dari mahkota dan akar gigi, yang disatukan oleh leher gigi. Tiap gigi
memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda, sesuai dengan fungsi gigi tersebut
(www.Dhin.nl).
Mahkota gigi dilindungi oleh enamel, yang merupakan jaringan terkeras dari tubuh.
Dibawah lapisan enamel terdapat dentin, yang merupakan bagian terpenting gigi. Pada
dentin terdapat tubuli dentin dan jaringan saraf. Sehingga dapat menimbulkan reaksi
sensitif dan rasa sakit pada beberapa situasi. Pada bagian tengah gigi terdapat pulpa.
Yang terdiri dari jaringan saraf dan pembuluh darah, dan membentuk saluran hingga
ujung akar gigi. Pulpa menghubungkan gigi dengan bagian gigi lainnya, merupakan
sumber utama suplai nutrisi gigi, dan juga reaksi terhadap rasa sakit (www.Dhin.nl).
Perkembangan geligi manusia dibagi menjadi dua tahap perkembangan, yaitu geligi
sulung dan geligi permanen. Geligi sulung terdiridari dua insisivus, satu kaninus, dan dua
molar. Sedangkan geligi permanen terdiri dari dua insisvus, satu kaninus, dua premolar,
dan tiga molar.
Gigi premolar disebut juga gigi bicuspid. Dalam rongga mulut terdapat delapan buah gigi
premolar, pada masing-masing rahang terdiri dari empat buah yang terletak secara
bilateral, diantara kaninus dan molar. Mereka memiliki setidaknya dua buah cusp yang
berbentuk piramid, pada bagian bukal dan palatal/lingual, yang dipisahkan sebuah
cekungan. Oleh karena itu, gigi premolar disebut juga bicuspid (Gray.2005). Cusp pada
bagian bukal lebih besar dan lebih tinggi. Namun pada premolar dua rahang bawah sering
ditemukan memiliki tiga cusp, karena memiliki dua cusp pada bagian lingual
(dentistry.com). Bentuk leher oval. Akargigi premolar pada umumnya berakar tunggal,
namun pada premolar pertama rahang atas pada umumnya berakar ganda (dentsitry.com).
Sedangkan pada bagian apikal, umumnya adalah bifid (Gray.2005).
Pada rongga mulut manusia, selain terdapat gigi-geligi, dan organ lainnya, terdapat
berbagai macam mikroorganisme. Rongga mulut merupakan tempat hidup bakteri aerob
dan anaerobyang berjumlah lebih dari 400 ribu spesies. Mikroorganisme tersebut
merupakan flora normal dalam rongga mulut (Cilmiaty. 2003). Maka infeksi odontogen
yang terjadi dapat melalui berbagai cara, yaitu (Surjanto. 2000):
• Menyebar melalui jaringan sekitar yang bersebelahan langsung dan kontinyu
• Melalui aliran limfe
• Melalui aliran darah
Macam-macam infeksi gigi antara lain, karies gigi, infeksi dentoalveolar (infeksi pulpa
dan abses periapikal), gingivitis (ANUG), periodontitis (termasuk perikoronitis dan peri-
implantitis), Deep facial space infection, dan osteomielitis. Apabila infeksi ini tidak
dirawat dapat menyebar dan memperbesar infeksi polimikrobial pada organ tubuh lainnya
(Cilmiaty. 2003).
Infeksi gigi ini umumnya dimulai dari permukaan gigi yaitu, karies gigi. Karies gigi pada
tahap awal tidak menimbulkan rasa sakit namun pada tahap lanjut dapat menimbulkan
rasa sakit, baik pada gigi yang terkena maupun daerah sekitar gigi tersebut. Rasa sakit ini
pada permulaannya didahului oleh rasa sakit yang ringan pada saat gigi kontak
makanan/minuman dingin atau panas. Apabila lubang dan invasi bakteri semakin dalam
hingga menembus dentin, maka rasa sakit muncul sesekali dan semakin tajam. Apabila
invasi bakteri sudah mencapai pulpa gigi yang terdiri dari pembuluh darah dan saraf,
maka dapat menimbulkan infeksi pada pulpa yang dapat menyebabkan rasa sakit yang
sangat dan berdenyut. Serangan bakteri yang terus-menerus pada pulpa akan
menyebabkan pulpa mati. Dengan kematian saraf gigi ini, maka rasa sakit juga
menghilang. Namun keadaan ini dapat berlanjut lebih buruk lagi dengan terjadinya abses
sekitar gigi yang sangat sakit. Pada akhirnya gigi mengalami pembusukan, apabila tidak
dilakukan perawatan terhadap gigi yang telah busuk tersebut (Adell. 2009;
sjuhada.cjb.net).
Jenis terapi untuk gigi karies adalah tumpatan/konservatif, RCT/endodontik, dan
exodonsia. Tumpatan (konservatif) digunakan sebagai tindakan preventif atau
pencegahandari perluasan penyebaran karies. Sedangkan terapi endodontik di indikasikan
untuk pulpa gigi yang telah mati. Tindakan ekstraksi dilakukan bila gigi telah hancur oleh
karena proses karies atau sudah tidak dapat dipertahankan lagi (wikipedia.com).
Gigi yang mengalami periapikal abses, namun masih dapat dipertahankan. Maka dapat
dirawat dengan perawatan saluran akar (Root Canal Treatment/RCT). Namun apabilagigi
tersebut sudah tidak dapt dipertahankan lagi, maka gigi harus diangkat, kemudian
dilakukan kuretase pada seluruh bagian jaringan lunak dari apikal gigi. Akan tetapi, bila
abses yang telah dirawat dengan teknik RCT tidak berhasil, maka hal ini dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu (wikipedia.com) :
• pembentukan kista
• perawatan yang in-adekuat
• fraktur vertikal pada akar
• adanya material asing pada lesi
• penetrasi dengan sinus maksilaris
Jenis kista yang paling sering ditemukan berhubungan dengan karies gigi adalah kista
radikuler (Bhat, Vidhya, Sargod. 2004). Kista ini timbul sebagai reaksi terhadap
keradangan yang terjadi oleh kematian pulpa gigi dan kemudian kista tumbuh pada apikal
gigi tersebut. Kebanyakan dari kista radikuler asimptomatis dan baru diketahui setelah
dilakukan pemeriksaan rontgenologis periapikal gigi yang pulpanya non-vital (Yeluri.
2006).
Pilihan perawatan untuk kista radikuler, sampai saat ini masihlah menimbulkan
kesangsian, yaitu menentukan antara perawatan endoontik konvensional atau endodontik
bedah. Hal ini tercermin pada pendapat Seltzer (1988)yang menyatakan bahwa, suatu
pertanyaan selalu timbul ketika apakah kista radikuler dapat dirawat secara konservatif,
tindakan endodontik non-surgical, namun masih belum ditemukan buktiyang nyata untuk
menjawab pertanyaan ini. Begitu pula menurut Fischer (1977), ia menyatakan bahwa
perawatan endodontik konvensional tidak akan berhasil, indikasi perawatannya adalah
endodontik bedah (Rukmo. 2000).
Apeks reseksi merupakan bentuk prosedur endodontik bedah yang paling umum
dilakukan. Pada perawatan konservatif, tujuan apeks reseksi adalah untuk menempatkan
suatu bahan penutup atau tumpatan diantara periodonsium dan foramen saluran akar.
Yaitu dengan melakukan pengisian akar secara retrogade (pengisian saluran akardari
apeks ke mahkota).
Sedangkan dalam bedah mulut, apeks reseksi merupakan tindakan perawatan pada
kelainan periapikal yang cukup efektif, teknik pelaksanaan tidak sulit, serta memberikan
hasil yang memuaskan. Tujuan tindakan ini adalah mempertahankan gigi yang
mengalami kelainan periapikal, namun masih dapat dipertahankan secara fungsional dan
estetik. Apeks reseksi dapat dilakukan dalam dua kunjungan atau satu kali kunjungan.
Hal ini tergantung pada kerja sama pasien. Dengan demikian, tindakan apeks reseksi ini
merupakan tindakan perawatanyang cukup efektif untuk kista radikuler.
1.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tata cara penatalaksanaan apeks reseksi pada kista radikuler gigi
premolar rahang atas.
2. Untuk menambah pengetahuan bagi penulis pada khususnya, dan bagi seluruh
mahasiswa kedokteran gigi pada umumnya, tentang tata cara penatalaksanaan apeks
reseksi pada kista radikuler gigi premolar rahang atas.
3. Sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana di bidang Kedokteran Gigi di
Universitas Hang Tuah Suarabaya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Rahang Atas dan Gigi-geligi


2.1.1 Maksila
Karakteristik manusia dapat dibedakan dari rangka kraniofasialnya apabila dibandingkan
dengan rangka hewan mamalia lainnya. Perbedaan yang paling terlihat, yaitu pada
manusia processus alveolaris tidak melebihi dasar kerangka pendukungnya. Sehingga
gigi geligi manusia umumnya lebih kecil dan tidak bersifat khusus, karenanya sistem
bantalan wajah manusia biasanya tidak terlalu berkembang. Selain itu, usia tengkorak
juga dapat ditentukan dengan melihat kondisi gigi geligi dan penutupan sutura kranial.
Tulang wajah manusia dibentuk oleh maksila, mandibula, os palatinum, os zygomatikum,
os nasalis, vemor, os etmoidalis fasial, os lacrimalis, os hyoideum, dan concha nasalis
inferior.
Maksila mempunyai empat processus, yaitu processus zygomaticus, frontalis, laveolaris,
dan palatinus. Processus yang menjadi tempat perlekatan gigi geligi pada rahang atas
adalah processus alveolaris.
Pada processus alveolaris terdapat gigi-gi untuk rahang atas dan berakhir di belakang
bulbus alveolaris pada tengkorak individu usia muda atau tuber maksila pada usia
dewasa.
Pada maksila individu usia muda terlihat sebuah sutura yang berjalan keluar pada
palatum dari foramen insisivus ke daerah antara gigi insisif lateral dan kaninus. Dalam
cavum nasi, sutura ini akan berjalan pendek pada processus fontalis. Walaupun demikian,
sutura ini tidak terlihat pada facies anterior tulang. Sutura ini memisahkan elemen
premaksiler dari bagian utama maksila.

Gambar 2.1. 1 Kerangka facial manusia dewasa

2.1.2 Anatomi fasial


Bagian rangka wajah yang berhubungan langsung dengan jaringan subkutan dan dapat
dengan mudah di palpasi di balik cutis adalah :
• Tepi posterior ramus dan tepi bawah mandibula dari angulus ke dagu
• Os zygomatimus membentuk tonjolan pipi. Dari daerah ini, arcus sygomatikus dapat
diraba terus ke belakang ke meatus akustikus eksterna
• Margo orbitalis yang terbentuk dari maksila dibagian bawah dan media, os zigomatikus
di lateral dan os frontalis di superior
• Os nasalis yang membentuk apeks dan dorsum nasi
Selain bagian-bagian rangka tersebut diatas, juga dapat teraba fasia anterior maksila,
garis besar apertura nasalis, processus alveolaris yang membawa gigi-geligi yang terletak
lebih ke dalam dan terbungkus oleh otot-otot wajah. Caput mandibula juga dapat diraba
tepat di depan meatus akustikus eksterna, terutama bila cavum oris dibuka perlahan-lahan
dan ditutup.
Ramus mandibula terletak jauh ke dalam terbungkus oleh m.masseter yang tebal dan di
bagian belakang oleh glandula parotis. Tepi anterior ramus pada individu dewasa terletak
pada sisi luar bagian distal gigi-gigi molar ketiga atas dan bawah. Jauh didalam ramus
terdapat m.pterigoideus, pembuluh, n.alveolaris inferior, n.lingualis, a.maksilaris, dan
fossa pterygopalatina.
Cavum oris sendiri dapat dibagi menjadi beberapa regio yang penting pada pemeriksaan
sistematik rongga mulut seperti misalnya untuk prosedur diagnosa penyakit dan
penentuan disain geligi tiruan. Terutama regio geligi dan gingiva.
2.1.3 Anatomi Gigi-geligi
Gigi-geligi atas dan bawah didukung oleh processus alveolaris tempat terlekatnya soket
gigi, umumnya membentuk lengkungan atau arcus yang sesuai dengan bentuk lengkung.
Tiap gigi terbentuk dari jaringan kalsifikasi, enamel, dentin, cementum, dan pulpa yang
terdiri dari jaringan ikat, pembuluh darah, dan saraf. Mahkota gigi-geligi biasanya
tertutup enamel sedangkan akar gigi tertanam dalam soket di processus alveolaris.
Gigi geligi manusia dalam masa tumbuh-kembangnya dibagi menjadi geligi sulung dan
geligi permanen. Geligi sulung berjumlah 20 gigi, sedangkan gelgi permanen berjumlah
32 gigi.Pada geligi permanen terdiri dari gigi insisivus, kaninus, premolar, dan molar.
Geligi Sulung
mol. can. in. in. can. mol.
Upper jaw 2 1 2 2 1 2
Total 20
Lower jaw 2 1 2 2 1 2

Geligi Permanen
mol. pr.mol. can. in. in. can. pr.mol. mol.

Upper jaw 3 2 1 2 2 1 2 3
Total 32
Lower jaw 3 2 1 2 2 1 2 3

Gigi premolar sendiri ada dua buah pasang di setiap rahang, dan masing-masing memiliki
karakteristik sendiri. Seperti contohnya akar gigi, akar gigi premolar dua rahang atas dan
kedua premolar rahang bawah, pada umumnya memiliki satu akar. Sedangkan pada
premolar satu rahang atas memiliki dua akar, yaitu pada pada bagian bukal dan palatal.
Memiliki setidaknya dua buah cusp. Cusp terbesar pada bagian bukal, terutama pada gigi
premolar satu rahang bawah. Sedangkan gigi premolar dua rahang bawah, terkadang
memiliki dua cups pada bagian lingual.
Premolar pertama rahang atas :
• Bukal : permukaan membulat, bentuk cusp memanjang. Hal ini dapat dilihat dari
puncak cusp, ridge bukal, hingga garis servikal gigi
• Palatal : cusp lebih kecil, ujung cusp meruncing mengarah ke mesial. Permukaannya
membulat
• Proksimal : pada bagian mesial terdapat bentukan yang disebut mesial developmental
groove
• Oklusal : Cusp bukal lebih besar daripada cusp palatal. Bentuk oklusal adalah
heksagonal. Dan pada sisi mesial, terdapat bentukan developmental groove
• Kontak area : kontak area distal lebih ke arah bukal daripada kontak area mesial
• Akar : sekitar 80% memiliki dua akar, selain itu juga ada yang memiliki hanya dua akar
Premolar dua rahang atas
• Bukal : cusp lebih pendek dan lebih membulat daripada premolar satu
• Palatal : cusp palatal hampir sama besar dengan cusp bukal
• Oklusal : mahkota membulat dan ovoid
• Proksimal : sisi mesial dan distal membulat. Tidak memiliki developmental groove
• Kontak area : sisi distal lebbih rendah daripada sisi mesial
• Akar : berakar tuggal

Gambar 2.1.2 Jaringan gigi premolar dari potongan vertikal (Gray. 2005)

Persarafan gigi-geligi rahang atas berasal dari n. alveolaris superior yang merupakan
cabang divisi maksilaris n. trigeminus.
Saraf yang berfungsi mempersarafi gigi premolar dan membantu mempersarafi jaringan
pendukung gigi kaninus dan molar pertama permanen adalah n. alveolaris superior
media.
Suplai darah gigi-geligi rahang atas di suplai oleh a. alveolaris superior. A. alveolaris
superior ini merupakan percabangan dari a. maksilaris. A. alveolaris superior bercabang
menjadi a. alveolaris superior anterior, a. alveolaris superior media, dan a. alveolaris
superior posterior. Arteri yang berfungsi menyuplai darah ke gigi-gigi posterior adalah a.
alveolaris superior posterior. Selain itu, pada gigi kaninus dan premolar juga disuplai oleh
a. alveolaris superior media (Dixon. 1993).

2.2 Pertumbuhan Gigi-geligi


Pada manusia pertumbuhan gigi sulung dan permanen terjadi melalui proses interaksi
epitel rongga mulut dan sel-sel mesnkimal di bawahnya. Setiap gigi akan tumbuh sesuai
dengan bentuk anatominya yang khas dan semua jenis gigi mempunyai pola tumbuh yang
khas dan sama. Pertumbuhan gigi berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu bud stage,
cap stage, dan bell stage. Proses diferensiasi mulai terjadi pada tahap bud stage, yaitu fase
pembentukan dentin dan enamel. Setelah mahkota terbentuk, maka tahapan selanjutnya
adalah proses pembentukan akar gigi. Setelah akar mengalami kalsifikasi, maka segera
terjadi pembentukan jaringan penyangga gigi, yaitu sementum, ligamen periodontal, dan
tulang alveolar. Selanjutnya mahkota gigi akan mengalami erupsi menuju rongga mulut.
Proses pembentukan akar gigi dan proses sementogenesis berlanjut hingga tahapan gigi
fungsional dan jaringan penyangga gigi tumbuh sempurna (Danudiningrat. 2006).
12

Gambar 2.2.1 Tahap pertumbuhan gigi : 1. Cap stage ; 2. Bell stage (A. Enamel, B.Dental
papil, C. Dental folikel) (wikipedia.id)

Dari gambar 2.2.1 dapat dilihat bahwa struktur enamel berasal dari jaringan ektodermal,
dan terlihat jaringan mesenkimal dental papila mengelilingi enamel organ. Pada gambar
2.1.3 (2) terlihat terjadi proses diferensiasi penuh sel-sel odontoblas dan ameloblas di
regio mahkota gigi. Pembuluh darah mulai tumbuh di regio dental papilla yang
merupakan satu-satunya struktur yang mempunyai vaskularisasi di rgio enamel organ,
sedangkan di bagian luar enamel epitelium mengandung pleksus-pleksus kapiler.
Dari proses odontogenis ini, dapat diketahui pula asal pertumbuhan kista odontogen yang
berasal dari sisa-sisa epitel pembentuk gigi. Secara umum pertumbuhan kista odontogen
berasal dari sisa-sisa epitel pembentuk gigi yang mengalami proliferasi kistik. Yaitu
epitel rests of Malassez. Yang merupakan sisa-sisa epitel pembentuk akar gigi yang
disebut dengan sel epitel Hertmig’s dan sisa-sisa sel pembentuk akar gigi yang masih
dapat ditemukan dalam jaringan periodonsium walaupun akar telah terbentuk sempurna.

Gambar 2.2.2 Tahap pertumbuhan gigi sulung

Gambar 2.2.3 Tahap pertumbuhan geligi permanen

2.3 Kista Radikuler


2.3.1 Definisi Kista Radikuler
Kista merupakan rongga patologis yang berisi cairan, bahan setengah cair atau gas dan
sering kali dibatasi oleh lapisan epitel dan dibagian luar dilapisi oleh jaringan ikat dan
pembuluh darah (Danudiningrat. 2006).
Kista radikuler disebut juga kista periapikal. Kista ini merupakan jenis kista yang paling
sering ditemukan. Kista radikuler terbentuk oleh karena iritasi kronis gigi yang sudah
tidak vital. Kista ini tumbuh dari epitel rest of Malassez yang mengalami proliferasi oleh
karena respon terhadap proses radang yang terpicu oleh karena infeksi bakteri pada pulpa
yang nekrosis (Danudiningrat. 2006; Valois, Costa-junior. 2005; Romero, dkk. 2002).
2.3.2 Etiologi Kista Radikuler
Kista radikuler dapat terjadi akibat dari rangsangan fisik, kimia, atau bakteri sehingga
dapat menyebabkan kematian jaringan pulpa. Selain itu juga diikuti rangsangan pada
sisa-sisa epitel malassez yang secara normal terdapat pada jaringan periodontal
(Grossman, dkk. 1988). Kista radikuler juga merupakan lanjutan dari dental granuloma
yang dibiarkan tanpa perawatan sehingga terjadi degenerasi kistik, selain itu penderita
juga mempunyai kondisi pertahanan tubuh yang bagus.
Proses penjalaran infeksi yang terjadi karena bakteri umumnya berupa karies gigi. Karies
disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena
reaksi fermentasi karbohidrat termasuk sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Asam yang
diproduksi tersebut mempengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH
rendah. Sebuah gigi akan mengalami demineralisasi dan remineralisasi. Hal ini
menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi.
Adanya karies gigi yang sudah mendekati ruang pulpa, kemudian akan berlanjut menjadi
pulpitis dan akhirnya akan terjadi kematian pulpa gigi (nekrosis pulpa). Dengan adanya
nekrosis menyebabkan bakteri bisa menembus ruang pulpa sampai dengan apeks gigi.
Foramen apikalis pada pulpa tidak bisa mendrainase pulpa yang terinfeksi. Kemudian
proses infeksi tersebut menyebar progresif ke ruangan atau jaringan lain yang dekat
dengan struktur gigi yang nekrosis/mati (http://id.wikipedia.org).
Penyebaran infeksi yang menyebar ke struktur gigi yang nekrosis/mati dapat menyebar
ke daerah periodontal di sekitar apeks gigi tersebut. Keradangan pada jaringan
periodontal ini disebut periodontitis. Periodontitis yang terjadi karena keradangan pada
daerah periodontal apeks gigi yang pulpanya mati dibagi menjadi dua, yaitu (Cilmiaty.
2003):
• Periodontitis apikalis akut. Yaitu perluasan pertama keradangan pulpa ke jaringan
periapikal. Hal ini dapat disebabkan oleh masuknya toksin bakteri dari pulpa yang
nekrotik, bahan-bahan kimia, restorasi yang hiperoklusi, dan bahan pengisi yang
berlebihan ke arah apikal. Apabila gigi tersebut di druk (tekan) atau di perkusi (ketuk)
dengan ujung tumpul kaca mulut, dapat menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan
saat mengunyah, serta saat kontak oklusi.
• Periodontitis apikalis kronis. Yaitu proses keradangan yang merupakan kelanjutan dari
periodontitis apikalis akut. Periodontitis ini bersifat asimptomatik. Selain itu, gigi juga
tidak mengadakan respon terhadap stimulus termis dan elektris. Perkusi mengakibatkan
nyeri sedikit atau tidak sama sekali, dan sedikit sensitif terhadap palapasi.
Penyebaran infeksi yang akut dapat menyebabkan abses pada daerah periapikal gigi yang
pulpanya mati. Sedangkan infeksi kronis pada gigi yang pulpanya mati dapat terjadi
pembentukan dental granuloma (Cilmiaty. 2003).
Dental granuloma atau granuloma periapikal merupakan jaringan granulasi sekitar apikal
gigi yang terinfeksi sebagai reaksi pertahanan tubuh terhadap infeksi pada saluran akar
gigi. Pasien merasa giginya terasa memanjang, bila digunakan untuk menguyah ataupun
menggigit makanan yang keras akan terasa sakit. Apabila daya tahan tubuh menurun,
sedangkan kekuatan jejas bertambah, maka proses keradangan berlanjut. Sehingga dapat
memicu terjadinya pembentukan kista radikuler.
2.3.3 Gambaran Klinis
Pada umunya kista tumbuh di bagian apikal gigi yang nonvital. Umumnya ditemukan
karies atau tumpatan yang hiperoklusi, saat dilakukan tes vitalitas pada pulpa, tidak
memberikan reaksi. Kadang-kadang terdapat benjolan pada gusi dan gigi yang terlibat
pernah sakit, kemudian sembuh, juga didapatkan adanya fistel (Danudiningrat. 2006).
Umumnya dialami pada kisaran usia 40 dan 50 tahunan. Lebih banyak ditemukan pada
laki-laki (58%), sedangkan pada wanita hanya 42%. Kebanyakan terjadi pada rahang atas
(60%). Namun tidak menutup kemungkinan pula terjadi pula pada semua gigi di setiap
rahang. Namun, umunya terjadi pada regio anterior rahang atas, terutama pada insisif
lateralis dan dense in dente. Biasanya terbentuk pada apikal gigi yang terlibat. Terkadang
ditemukan pula terbentuk pada bagian lateral saluran akar (Shear. 1995;
radikularcyst.tripod.com).
Pada kista yang berukuran kecil, umumnya bersifat asimptomatik dan diketahui ketika
dilakukan pemeriksaan pada gigi nonvital. Pasien sering kali mengeluh adanya
pembegkakan yang membesar perlahan. Awalnya pembesaran ini keras seperti tulang,
tetapi dengan membesarnya kista maka tulang penutupnya menjadi sangat tipis,
meskipun ada pengendapan tulang subperiosteum dan kemudian pembengkakan
memperlihatkan ‘daya melenting’. Namun apabila kista telah mencapai ukuran yang
diinginkan atau telah mengerosi tulang secara sempurna maka akan terjadi fluktuasi pada
jaringan tulang. Pada rahang atas, pembesaran terjadi pada bagian bukal dan palatal.
Sedangkan pada mandibula, pembesaran terjadi pada bagian bukal/labial dan jarang
terjadi pada bagian lingual (Shear.1995;Cawson.1994; radicularcyst.tripod.com).
Gambaran klinis lainnya dari beberapa kista radikuler adalah rasa nyeri dan infeksi.
Seringkali kista radikuler tanpa rasa sakit, kecuali bila kista terinfeksi. Sine qua non
untuk diagnosa kista radikuler dalam hubungannya dengan adanya gigi dengan pulpa
non-vital. Kadang-kadang, sinus bisa berjalan dari rongga kista ke mukosa mulut (Shear.
1995).
2.3.4 Gambaran Rontenologis
Kista radikuler mempunyai gambaran radiologis berupa radiolusensi bulat atau ovoid
yang dikelilingi oleh tepi radiopak sempit yang meluas dari lamina dura gigi yang
terlibat. Gambaran radiolusen melekat pada bagian apikal gigi. Pada kista yang terinfeksi
atau cepat membesar, mungkin tidak ada tepi radiopak (Shear. 1995; Danudiningrat.
2006)

Gambar 2.3.1 Gambaran kista radikuler pada gigi insisivus

2.3.5 Histopatologis
Secara histopatologis kista radikuler atau periapikal ditandai dengan adanya suatu rongga
yang berlapiskan epitel yang tidak mengalami keratinisasi skuamosa dan mempunyai
ketebalan yang bervariasi. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan
ditemukannya banyak sel neutrofil pda dinding kista tersebut. Pada dinding kista sering
didapatkan kerusakan oleh karena proses keradangan (Dnudiningrat. 2006).
Dinding epitelium tersebut dapat sangat proliferatif dan memperlihatkan susunan
pleksiform. Sel-sel mukus juga dapat ditemukan, meskipun jarang. Sebagai jenis kista
yang terjadi karena proses radang, maka dinding epitelium dapat mengandung banyak sel
radang, yaitu sel plasma dan limfosit. Roushton’s bodes atau round eusinophilic globule
banyak ditemukan di dalam atau luar sel plasma sehingga terjadi peningkatan sintesis
imunoglobulin. Keberadaan imunoglobulin ini dapat diyakinkan dengan pemeriksaan
pewarnaan menggunakan immunofluoresense (Danudiningrat. 2006).

Gambar 2.3.2 Gambaran histopatologis kista radikuler

2.3.6 Perawatan
Pada kista radikuler dapat dilakukan perawatan endodontik intrakanal apabila preparasi
akar dapat mencapai apikal akar gigi. Jika preparasi saluran akar tidak dapat mencapai
apikal, maka dilakukan tindakan endodontik bedah, yaitu apeks reseksi. Tindakan
terakhir yang bisa dilakukan adalah tindakan pencabutan/ekstraksi gigi yang terlibat,
apabila gigi tersebut sudah tidak dapat dipertahankan lagi, kerusakannya lebih dari
sepertiga akar gigi.

2.4 Apeks Reseksi


Apeks reseksi merupakan suatu tindakan membuka daerah apikal dari gigi secara bedah,
kuretase, pemotongan apikal gigi sekaligus melakukan perwatan endodontik. Dalam
litertaur yang lain menyebutkan bahwa reseksi apeks merupakan suatu tindakan yang
terdiri dari membuat insisi pada jaringan lunak, mengambil sebagian tulang alveol, dan
memotong apikal gigi (Archer. 1975; Taylor dan Bump. 1984; Ushin. 1979).

2.4.1 Macam Tindakan Apeks Reseksi


2.4.1.1 Berdasarkan Jumlah Kunjungan
A. Tindakan Apeks Reseksi Satu Kunjungan.
Apeks reseksi satu kunjungan atau disebut juga dengan immediate root resection.
Tindakan dari Apeks reseksi satu kunjungan terdiri dari preparasi, sterilisasi, pengisian
saluran akar, dan apeks reseksi. Dimana tindakan tersebut dilakukan dalam satu kali
kunjungan saja.
B. Tindakan Apeks Reseksi Dua Kunjungan
Pada apeks reseksi dua kunjungan dibagi menjadi dua tahap kunjungan. Pada kunjungan
pertama dilakukan preparasi saluran akar dan sterilisasi. Pada kunjungan kedua dilakukan
pengisian saluran akar. Apeks reseksi pada saluran akar yang telah di isi, dan kuretase
jaringan lunak dan sekitarnya.
2.4.1.2. Berdasarkan Metode Kerja
Tindakan apeks reseksi yang dilakukan berdasarkan metode kerja ada tiga, yaitu
(Soenardhi. 1990) :
- Apeks reseksi dilakukan setelah perawatan saluran akar
- Apeks reseksi dilakukan terlebih dahulu, kemudian dilakukan perawatan saluran akar
- Apeks reseksi dan perawatan saluran akar dilakukan dalam waktu yang bersamaan

2.4.2 Indikasi dan Kontraindikasi Tindakan Apeks reseksi


2.4.2.1 Indikasi Tindakan Apeks Reseksi (Archer, 1975; Gutmann JL, Hovland EJ, 1978;
Grossman, 1988; Lin at al, 1983; Walton & Torabinejad, 1997)
1. Kondisi umum penderita baik
2. Gigi yang terlibat kista tidak lebih dari sepertiga akar gigi
3. Gigi tidak goyang.
4. Hasil perbenihan negative tidak pernah tercapai selama perawatan akar non- bedah
5. Perawatan saluran akar konvensional tidak berhasil
6. Kelainan dan kesulitan anatomis dari gigi yang mengalami kelainan periapikal.
7. Gigi penting
8. Ada indikasi untuk biopsi

2.4.2.2. Kontraindikasi Tindakan Apeks Reseksi (Archer, 1975; Bellizi R, Loushine R,


1991; Walton & Torabinejad,1997)
1. Kondisi umum penderita yang jelek dan kurang menguntungkan.
2. Gigi dengan poket periodontal yang dalam dan gigi mengalami kegoyangan lebih dari
normal derajat kegoyangan lebih dari 2
3. Gigi tidak penting dan mahkota gigi lebih panjang dari akar gigi.
4. Gigi telah dirawat beberapa kali dengan tindakan apeks reseksi dan menghasilkan
penyembuhan yang gagal karena penyembuhan apeks reseksi yang tidak sempurna.
5. Letak gigi yang akan dioperasi sangat sulit.
6. Kelainan periapikal yang hanya memerlukan perawatan saluran akar konvensional.
7. Ketrampilan dan pengalaman yang terbatas dari operator.
8. Keradangan local yang akut.

2.4.3 Pokok Perawatan Apeks Reseksi


2.4.3.1. Perawatan Pra-operasi
Perawatan pra-operasi pada apeks reseksi sama dengan perawatan pra-operasi pada
tindakan bedah lain. Perawatan pra-operasi ini dilakukan dengan pemberian premedikasi.
Pemberian premedikasi diperlukan pada tindakan tertentu. Pemberian premedikasi ini
sangat penting bagi penderita yang mengalami kecemasan. Walaupun sebelum dilakukan
operasi telah berkonsultasi dengan dokter yang bersangkutan (Grossman dkk, 1998).
2.4.3.2. Teknik Apeks Reseksi
A. Anastesi
Teknik anastesi yang digunakan pada apeks reseksi adalah dengan teknik anastesi blok
dan anastesi infiltrasi. Anastesi lokal yang biasa digunakan adalah laritan lidocain 2%,
pada larutan ini bisa ditambahkan adrenalin 1: 80.000 atau tanpa di tambahkan adrenalin.

B. Desain Flap
Pembuatan dan perluasan dari flap harus menghasilkan daerah dengan lapang pandang
yang jelas dan jalan masuk yang mudah pada akar (Serota dan Krakow, 1983).
Dalam pembuatan desain flap ada beberapa prinsip- prinsip dan petunjuk umum yang
digunakan, yaitu (Luebke,dkk. 1964;Gudmann.1984; Wine.1976) :
1. Mempertahankan suplai darah yang cukup pada jaringan lunakl yang diangkat dengan
membuat dasar flap yang lebar
2. Menghindari insisi diatas tulang yang rusak atau diatas lesi periapikal
3. Membuat desain flap untuk akses maksimum dengan menghindari refleksi jaringan
yang terbatas
4. Menghindari sudut yang tajam pada flap
5. Melakukan insisi dan refleksi yang mencakup periosteum sebagai bagian dari flap
6. Tidak memotong papilla interdental
7. Memperluas insisi vertical untuk memunghkinkan retractor berhenti diatas tulang dan
tidak merusak bagian flap
8. Menggunakan flap minimal yang meliputi paling tidak satu gigi pada daerah operasi

C. Macam-macam Flap
1. Flap Semilunar
Flap Semilunar atau flap sub marginal melengkung berbentuk bulan sabit atau sedikit
melengkung. Insisi horizontal dibuat di gingiva cekat dengan bagian yang konveks paling
dekat dengan tepi gingival bebas. Sederhana dan mudah dibuka. Akses ke apeks tanpa
mengenai jaringan lunak sekitar mahkota.
2. Flap Ochsenbein- Luebke
Flap Ochsenbein- Luebke atau flap sub marginal rectangular merupakan modifikasi dari
flap semilunar. Insisi horizontal yang melengkung di buat pada gingiva cekat dengan satu
atau dua tambahan insisi vertical. Flap ini menghasilkan akses dan pandangan yang
cukup baik. Serta memiliki resiko yang lebih sedikit waktu melakukan insisi jaringan
diatas tulang yang rusak.
3. Flap Sulkular
Flap sulkular atau flap mukoperiosteal penuh merupakan insisi pada puncak gingiva
dengan pengangkatan seluruh papila interdental, tepi gingiva bebas, gingiva cekat, dan
mukosa alveolar. Insisi vertical untuk flap ini dapat tunggal (segitiga) atau ganda (segi
empat). Flap ini menghasilkan akses dan jarak pandang maksimal, serta mempunyai
sedikit kecenderungan perdarahan.
D. Pembuatan Akses ke Apeks
Banyak cara dalam pembuatan akses ke apikal, apabila suatu kelainan periapikal belum
meresopsi tulang bagian labial maka tulang disekitar lokasi kelainan periapikal diambil
dengan bur atau chisel, tulang tersebut diambil sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan cacat yang terlalu besar. Dalam pembuatannya, dilakukan pengeboran
tulang diatas apeks. Identifikasi dari akar harus dilakukan sedekat mungkin dengan
apeks, dan ini mudah dilakukan karena akar berwarna lebih tua dari jaringan tulang
didekatnya, konsistensi jelas dan halus jika diraba. Untuk hasil yang lebih baik digunakan
fissure bur sebaiknya membentuk sudut 45º dengan sumbu vertikal gigi yang mengalami
kelainan periapikal. Melalui posisi ini dapat memberikan batas keselamatan jalan masuk
permulaan pada apeks gigi serta mendapatkan lapang pandang yang baik dari apikal gigi.
Apabila terjadi kesalahan dalam menghitung panjang gigi dan membuka tulang terlalu ke
servikal dengan posisi bur tegak lurus, hal ini dapat menimbulkan kerusakan atau cacat
pada permukaan akar. Kesalahan ini dapat mengakibatkan gigi yang mengalami kelainan
periapikal dilakukan tindakan pencabutan.
Adapun cara untuk mencapai akses ke apeks adalah:
a. Pengeboran awal tulang dilakukan dengan menggunakan bur bulat ukuran besar
dengan tekanan ringan hingga sebagian kecil permukaan akar tercapai.
b. Bila daerah akar dapat diidentifikasi, maka tulang dapat di bur lebih dalam sampai
permukaan luar ujung terbuka.
c. Bur bulat ukuran kecil digunakan untuk membuat akses ke mesial, distal, dan apikal
sehingga nantinya setengah bagian dari luar ujung akar terlihat konturnya.
2.4.3.3 Kuretase Apeks
Pengambilan kelainan periapikal dengan menggunakan alat kuret. Kuretase pada kelainan
periapikal harus benar-benar meninggalkan rongga tulang yang bersih, sehingga tidak
mengganggu dalam proses kesembuhan. Apabila kuretase ini tidak bersih maka
kemungkinan untuk mengalami kekambuhan dari kelainan periapikal tersebut ada.
Kuretase dari apeks ini sangat penting untuk (Walton & torabinejad, 1997), yaitu:
a. Memperoleh akses dan pandangan yang baik ke daerah apeks
b. Membuang jaringan yang terinflamasi
c. Memperoleh spisemen untuk pemeriksaan histologis.
d. Dapat memperkecil perdarahan.
2.4.3.4 Reseksi Ujung Akar
Reseksi ujung akar meliputi tindakan pemotongan pada sebagian ujung akar gigi. Reseksi
ujung akar gigi ini menggunakan surgical cross fissure bor high speed dan irigasinya
menggunakan larutan pz steril (Guttman, 1984; Bence & Meyeres, 1990). Bevel harus
dibuat lebih kurang 45º arah fasial-lingual.
Pada reseksi ujung akar gigi memiliki dua indikasi ( Walton & Torabinejad, 1997), yaitu:
a. Memperoleh akses ke saluran akar bagi kepentingan pemeriksaan dan pelatakan
restorasi ujung akar, biasanya ujung akar dibevel agar pandangan dan akses ke ujung akar
baik.
b. Untuk mengangkat bagian akar yang tidak dapat dirawat
Pada umumnya, banyaknya apeks akar gigi yang diambil sangat relatif dan tergantung
juga pada alasan mengapa dilakukan apeks reseksi. Pengambilan apeks akar juga harus
cukup untuk:
a. Meletakkan saluran akar ditengah-tengah akar yang terpotong
b. Membuka saluran akar tambahan atau fraktur
2.4.3.5 Preparasi Ujung Akar dan Teknik Pengisian
1. Preparasi Ujung Akar
Jenis preparasi pada ujung akar ini dengan preparasi klas I dengan kedalaman minimal 2
sampai 3 mm kedalam saluran akar. Anatomi apeks akar yang lebih sulit kemungkinan
menggunakan jenis preparasi yang lain ( Walton & torabinejad, 1997). Bentuk preparasi
harus sesuai dengan outline saluran akar dan pada gigi dengan dua saluran akar
menggunakan bentuk preparasi seperti huruf delapan (Frank, 1983; Bence & Meyers,
1990).
Adapun syarat-syarat preparasi ujung akar (Harty, 1990) adalah:
a. Meliputi seluruh foramen apikal
b. Preparasi dilakukan sekecil mungkin
c. Dentin yang lunak dan terkontaminasi harus dibersihkan dengan diikutkan dengan
sedikit jaringan yang sehat
d. Kedalaman preparasi tidak kurang dari 3 mm
e. Cukup besar untuk jalan masuknya plugger yang digunakan untuk kondensasi
f. Memiliki undercut yang cukup sebagai retensi untuk bahan pengisi.
2. Teknik Pengisian
a. Teknik Ortograde
Dilakukan preparasi saluran akar, kemudian dilanjutkan dengan pengisian dari arah
mahkota setelah ujung akar dilakukan reseksi. Pengisian saluran akar dilakukan dengan
menggunakan gutta perca dan pasta saluran akar.
Penggunaan teknik ini pada kasus bagian apikal dari akar tidak dapat dilakukan operasi,
seperti pada apeks akar yang bengkok, ujung alat yang patah dan terjebak ujung saluluran
akar.
b. Teknik Retrograde
Teknik ini dilakukan pengisian dari apikal setelah ujung akar dilakukan reseksi.
Penggunaan teknik ini dilakukan untuk merawat gigi-gigi dengan saluran akar yang
tersumbat, pasak yang tidak dapat dilepas dari saluran akar, dan saluran akar yang tidak
dapat dirawat melalui mahkota dengan cara perawatan endodontik konvensional.
c. Teknik Ortograde dan Retrograde
Teknik ini merupakan teknik penggubungan antara teknik Ortograde dan teknik
Retrograde. Pada teknik ini preparasi dan pengisian saluran akar dilakukan dari arah
mahkota, dan pada bagian apikal ditutup dengan menggunakan teknik retrograde.
Kemudian bahan pengisi dimasukkan kedalam preparasi kavitas. Bahan-bahan pengisi ini
harus memiliki syarat-syarat (Walton dan Torabinejad,1997) sebagai berikut:
- Dapat diterima oleh jaringan periapikal
- Tidak teresorbsi dan menutup rapat
- Mudah dimasukkan
- Tidak dipengaruhi oleh cairan
- Dapat dilihat secara radiografik
Adapun bahan-bahan yang biasa digunakan untuk pengisian apikal adalah silver
amalgam, gutta percha, gold foil, super EBA, semen polikarboksilat, semen glass
ionomer, dan komposit (Escobar, 1986). Amalgam memiliki sifat korosi yang dapat
menghambat penyembuhan. Sehingga para ahli menutupi kekurangan amalgam tersebut
menggunakan silver amalgam.
2.4.3.6 Pengembalian Flap dan Penjahitan
1. Pengembalian Flap
Flap dikembalikan ke posisi semula dan ditahan selama lebih kurang 5 menit dengan
menggunakan kain yang basah dan ditekan dengan kekuatan sedang. Penekanan ini
memungkinkan untuk keluarnya darah dari bawah flap, permulaan adaptasi,
memudahkan penjahitan, serta mengurangi perdarahan dan pembengkakan setelah
operasi.
2. Penjahitan
Ada banyak teknik penjahitan seperti jahitan terputus (interrupted), matras kontinyu, dan
sling (Arens DE dkk, 1981). Jahitan yang sering digunakan adalah jahitan terputus
(interrupted). Pada teknik penjahitan ini, jarum pertama kali melalui jaringan yang
diangkat, lalu pada jaringan yang yang cekat. Kemudian benang diikat dengan simpul
bedah. Simpul bedah tidak boleh diletakkan diatas garis insisi, karena dapat
mengakibatkan iritasi, inflamasi, dan menghambat penyembuhan.
Selain itu yang juga harus diperhatikan pada penjahitan (Bence& Meyers, 1990) adalah:
a. Jumlah penjahitan harus cukup untuk menjamin adaptasi jaringan yang baik.
b. Harus dihindari jahitan yang terlalu dekat dengan garis insisi, karena dapat terlepas
bila terjadi pembengkakan.
2.4.3.7 Perawatan Pasca Operasi
Setelah dilakukan tindakan operasi, reaksi umum yang ditunjukkan adalah adanya rasa
nyeri. Ini terjadi karena respon keradangan dari jaringan pulpa, respon keradangan dari
daerah apikal yang dihasilkan oleh alat-alat operasi, serta merupakan reaksi awal dari
adanya benda asing yang terdapat dalam jaringan pulpa (Krasner & Jackson, 1986).
Selain itu akibat apeks reseksi juga dapat terjadi pembengkakan, perdarahan, dan
perforasi dari sinus maxilaris, parastesi akibat dari keluarnya bahan pengisi melalui apeks
(Guttman, 1984).
Oleh sebab itu, perlu dilakukan penanganan yang cermat setelah dilakukan apeks reseksi,
yaitu (Guttman, 1984; Krasner & Jackson, 1987; Walton & Torabinejad, 1997) :
a. Terjadinya pembengkakan dan perubahan warna, serta merembesnya darah adalah hal
yang normal
b. Jangan mengangkat bibir untuk melihat daerah operasi
c. Makan makanan yang halus, hindari makanan yang terlalu panas, lengket, dan kering,
serta mengunyah dengan sisi yang lain
d. Memberi instruksi kepada pasien untuk kumur dengan obat kumur 2 kali sehari selama
beberapa minggu
e. Menggosok gigi seperti biasanya, tetapi hati-hati pada daerah operasi
f. Apabila terjadi pembengkakan yang besar, nyeri yang teramat sangat, mengalami
demam, mengalami perdarahan yang terus-menerus segera hubungi dokter yang merawat

2.4.4 Prognosa
Suatu kelainan periapikal biasanya tidak akan kambuh lagi bila operasi pengambilannya
dilakukan dengan cermat dan hati-hati, contohnya kista. Apabila kista tersebut tidak
dapat terambil sempurna atau dalam pengambilannya masih meninggalkan sel-sel epitel
dari kista tersebut, maka suatu kista dapat kambuh lagi dalam beberapa bulan atau
beberapa tahun kemudian. Suatu kista yang tidak dilakukan perawatan, lambat laun dapat
membesar dan mendesak tulang-tulang sekitarnya.
Selain keberhasilan klinis yang dicapai, juga harus diikuti dengan regenerasi tulang yang
sempurna pada daerah apikal dan rekonstruksi pericemental junction dekat apikal,
sehingga didapat pada keadaan kondisi fisiologis. Waktu yang diperlukan untuk masa
penyembuhan untuk setiap orang berbeda-beda, ini tergantung pada kondisi setiap
individu masing-masing.

2.4.5 Penyembuhan Jaringan Lunak dan Jaringan Keras


2.4.5.1 Penyembuhan Jaringan Lunak
Tahap pertama dari penyembuhan jaringan lunak melibatkan pembekuan dan inflamasi,
serta terdiri dari fase kimiawi dan fase seluler. Mekanisme pembekuan sangat penting
sebab berdasar atas perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin. Kegagalan dalam
pembentukan bekuan ini dapat menyebabkan kebocoran darah kedaerah luka.
Penyembuhan awal dari epitel terdiri dari pembentukan barier epitel, yang terbentuk dari
lapisan-lapisan sel epitel dimana nutrisinya bergantung pada lapisan jaringan ikat
dibawahnya. Selanjutnya lapisan epitel bermigrasi sepanjang permukaan fibrin sampai
berkontak dengan sel epitel dari sisi lain dari luka dan membentuk jembatan epitel.
Komponen jaringan ikat berasal dari fibroblas, yang berdiferensiasi dari sel
ektomesenkim dan tertarik kearah luka oleh mediator seluler dan humoral (Robbins SL,
1987). Makrofag adalah bagian yang penting dalam proses ini. Saat penyembuhan terjadi,
jumlah fibroblast mengalami penurunan, serta diikuti perpecahan dan penggumpalan
kembali serabut kolagen ke arah pola yang lebih terorganisir (Robbins SL, 1987; Hunt
TK,1984; Melcher AH, 1981).
2.4.5.2 Penyembuhan Jaringan Keras
Penyembuhan pada jaringan keras juga melibatkan fibroblas, yang menghasilkan sintesis
substansi dasar, sementum, dan pembentukan matriks tulang (Rose SR, 1968). Deposisi
sementum baru dari sementoblas mulai lebih kurang 12 hari setelah operasi, selapis tipis
sementum dapat menutup dentin yang dipotong atau juga bahan pengisi tertentu. Dentin
yang terbuka sebagai kekuatan induksi dengan pembentukan sementum baru dari daerah
perifer kearah tengah.
Penyembuhan tulang nterjadi dengan proliferasi sel endosteal ke dalam koagulum dari
daerah luka. Pada hari ke 12 asmpai hari ke 14, terlihat anyaman trabekula dan osteosit,
dimana anyaman tersebut penting untuk maturasi permulaan dari matriks kolagen dalam
waktu kira- kira 30 hari. Proses ini terjadi dari dalam keluar, berakhir pada pembentukan
tulang lamela yang matang, yang akan terlihat pada radiografik (Harrison JW, 1992;
Ighautt J, 1988; Davis WL, 1986; Irving JT, 1962).

2.4.6 Kontrol
Kontrol pada tindakan apeks reseksi dilakukan satu minggu setelah operasi, selanjutnya
diterusksn secara berkala dalam 6 bulan, 1 tahun, dan 4 tahun pasca operasi. Pada
perawatan apeks reseksi dikatakan berhasil apabila memenuhi syarat sebagai berikut
(Farrel & Burke, 1989; Ahrty, 1991) :
a. Tidak adanya keluhan rasa nyeri dan pembengkakan
b. Tidak adanya keluhan periapikal yang muncul lagi
c. Dari hasil foto rontgent dapat dilihat terjadi proses regenerasi tulang dan membran
periodontal

BAB 3
PEMBAHASAN

Kista radikuler yang disebut juga kista periapikal, merupakan kista yang paling sering
ditemukan. Kista ini terbentuk oleh karena iritasi kronis gigi yang sudah tidak vital. Kista
ini tumbuh dari sisa-sisa epitel malassez yang mengalami proliferasi oleh karena
responterhadap proses radang yang terpicu oleh karena infeksi bakteri pada pulpa yang
nekrosis (Danudiningrat. 2006; Valois, Costa-junior. 2005; Romero, dkk. 2002).
Kista radikuler dapat terjadi akibat rangsangan fisik, kimia, atau bakteri sehingga dapat
menyebabkan kematian jaringan pulpa. Kista ini juga merupakan lanjutan dari dental
granuloma yang dibiarkan tanpa perawatan sehingga terjadi degeneraasi kistik
(Grossman,dkk. 1988). Dental granuloma sendiri merupakan jaringan granulasi sekitar
apikal gigi yang terinfeksi sebagai reaksi pertahanan tubuh terhadap infeksi pada saluran
akar gigi. Bila daya tahan tubuh menurun, sedangkan kekuatan jejas bertambah, maka
proses keradangan berlanjut dan memicu terjadinya pembentukan kista radikuler
(Cilmiaty.2003).
Kista radikuler umumnya dialami pada kisaran usia 40 dan 50 tahunan. Lebih banyak
ditemukan pada laki-laki (58%) dibandingkan wanita, dan lebih sering terjadi pada
rahang atas (60%). Terutama pada regio anterior rahang atas. Umumnya terbentuk pada
apikal gigi yang terlibat, namun dapat pula terbentuk pada lateral saluran akar (Shear.
1995; radikularcyst.tripod.com).
Pada kista radikuler perawatan endodontik dilakukan apabila preparasi akar dapat
mencapai apikal akar gigi. Jika tidak dapat mencapai apikal, maka dilakukan tindakan
endodontik bedah, yaitu apeks reseksi. Atau pilihan terakhir adalah dilakukan tindakan
pencabutan gigi yang terlibat, bila kerusakannya lebih dari sepertiga akar gigi.
Jenis perawatan endoontik yang digunakan adlaah apeks reseksi. Apeks reseksi
merupakan suatu tindakan membuka daerah apikal dari gigi secara bedah, kuretase,
pemotongan apikal gigi sekaligus melakukan perwatan endodontik. Dalam litertaur yang
lain menyebutkan bahwa reseksi apeks merupakan suatu tindakan yang terdiri dari
membuat insisi pada jaringan lunak, mengambil sebagian tulang alveol, dan memotong
apikal gigi (Archer. 1975; Taylor dan Bump. 1984; Ushin. 1979). Macam tindakan apeks
reseksi ada dua macam, yaitu berdasarkan jumlah kunjungan dan metode kerja.

• click link
• 682 clicks

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus