Anda di halaman 1dari 4

NILAI TUKAR RUPIAH BERGERAK LIAR

Pendahuluan
Bagi investor Indonesia merupakan surga untuk berinvestasi portolio. Tetapi tidak
demikian bagi investasi di sektor rill, Investasi di sektor ini dianggap merupakan neraka,
karena berbagai persoalan” urgent” yang belum terselesaikan.
Dampak dari krisis ekonomi global yang terjadi saat ini tidak hanya menyebabkan
sektor moneter tegoncang, tetapi hal yang sama juga mulai dirasakan oleh sektor rill.
Naiknya harga berbagai komoditi menjadi cermin stabilitas makro yang sudah stabil
sesungguhnya sedang terancam.
Indeks harga saham gabungan turun tajam kelevel yang terendah sepanjang
sejarahnya. Hal yang sangat jauh dari dugaan, mengingat Indonesia merupakan tempat
yang strategis untuk berinvestasi portofolio. rupiah pun terus berfluktuasi seakan-akan
tidak dapat dikendalikan. Estimasi pertumbuhan ekonomi pemerintah meleset dari
perkiraan.
Belajar dari krisis financial yang terjadi tahun 1997, dimana krisis yang terjadi di
Indonesia akibat dipicu oleh terdepresiasinya rupiah terhadap dolar. Saat itu terjadi
ekspansi modal secara besar-besaran (capital out flow).
Pertanyaannya, apakah paket kebijakan yang digulirkan pemerintah khususnya
dalam mengantisifasi krisis finansial global benar-benar dapat memperbaiki iklim
perekonomian dalam negeri dan dapat terimplementasi secara terukur sesuai target
waktu.
Beralihnya sisitem nilai tukar rupiah dari sisitem mengambang terkendali menjadi
sisten nilai tukar mengambang penuh membawa dampak terhadap pengendalian moneter
di Indonesia. Kebijakan moneter dalam sistem nilai tukar yang fleksibel secara teori
memerlukan sensitivitas yang tinggi antara suku bunga domestik terhadap aliran modal
internasional dan keeratan hubungan negatife antara nilai tukar. Oleh karena itu suku
bunga merupakan leading sector dalam sitem nilai tukar fleksibel pengendalikan moneter
di Indonesia.
Menimbang fakta tersebut, walaupun sistem nilai tukar rupiah fleksibel terjadi
sesuai mekanisme pasar, namun sungguh sangat penting di jaga kesetabilannya. Agar
tidak memberikan tekanan pada harga-harga domestic seperti yang terjadi saat ini.
Ketidakpastian iklim ekonomi
Sejumlah pengamat mengatakan, belum pulihnya indeks saham dan terkoreksinya
rupiah pekan lalu membuat investor portofolio berpaling dari Indonesia. Hal tersebut
menjadi pertanyaan, apakah ini akan menjadi tren berkesinambungan mengingat krisis
yang terjadi saat ini belum dapat diselesaikan dan tidak tau kapan berakhir.
Penurunan harga BBM yang dilakukan pemerintan secara bertahap ternyata
belum banyak menolong masyarakat, hal ini dikarenakan respon penurunan BBM tidak
secepat ketika pemerintah menaikkan harga BBM. Akibatanya harga-harga komoditas
tidak jauh berbeda dengan sebelum harga BBM turun. Dapat dibayangkan ,ekonomi kita
tahun depan masih akan mendapat tekanan berat setidaknya di semester pertama.
Sementara itu, melemahnya nilai tukar rupiah juga ada pengaruhnya karena bank
Indonesia harus menaikkan tingkat suku bunga dan ini akan berdampak kepada investasi.
Pertumbuhan ekonomi harus di atas 10 persen setahun, tetapi kenyataannya yang dicapai
masih dibawah ambang itu.
Mengembalikan kepercayaan
Kebijakan ekonomi saat ini cenderung mendukung perekonomian terbuka, hal
tersebut terlihat dengan mudahnya krisis financial menjalar dari satu Negara ke Negara
lain. Oleh karena itu Bank Indonesia tidak dapat membiarkan secara terus menerus rupiah
terkoreksi, maka perlu adnya intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah karena
mekanisme pasar saat ini tidak bekerja secara optimal.
Salah satu kebijakan yang merupakan instrument dalam mengendalikan ekonomi
yaitu menaikkan tingkat bunga. Akan tetapi Tingkat bunga yang dttetapkan pemerintah
tergolong tinggi, Sehingga banyak investor portofolio yang tergiur menanam modal
jangka pendek di Indonesia. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa naiknya tingkat
bunga bukan semata-mata untuk menekan inflasi namun menjaga kekuatan rupiah.
Dalam hal ini Bank Indonesia seolah menembak dua target dengan satu peluru. Ini gawat.
Mengapa hal tersebut mengkhawatirkan? Karena selama ini yang menopang
rupiah adalah “hot-money”. Menurut Standard Chartered Bank, Fauzi Ikhsan, menyebut
angka hot money di Indonesia Rupiah mencapai 20 milliar dollar AS, Suatu jumlah yang
besar untuk bisa menggoyang system keuangan kita mengingat kapitalisasi pasar
financial kita yang masih terbatas.
Seharusnya dengan krisis Finansial yang terjadi Bank Indonesia dapat belajar.
Bahwa krisis financial telah membuat “hot-money” tersebut lari dari Indonesia. Kondisi
ini merupakan hal yang ironis , sebab semua negara saat ini berlomba-lomba untuk
menarik investor. Namun modal yang selama ini berada di Indonesia banyak yang keluar.
Ternyata tingginya suku bunga saat ini bukan lagi jadi acuan satu-satunya bagi investor
untuk menanamkan modalnya. Karena yang dibutuhkan oleh investor adalah membuat
dana yang dimilikinya tetap aman. Akhirnya Nilai tukar rupiah yang selama ini dijaga
agar tidak menembus angka 10.000 per dollar AS harus kebobolan seiring bnyaknya
modal yang keluar negeri.
Harus Lebih Serius
Sejarah membuktikan bahwa krisis moneter tidak terlepas dari kesenjanga tingkat
suku bunga ( interest-rate gap) yang memancing utang-utang jangka pendek mengalir ke
negeri ini. Permainan hot-money lewat selisish suku bunga sangat mengerikan. Namun
apabila rupiah harus dilepas dari pangkuan suku bunga, maka bukan tidak mungkin
rupiah akan semakin liar.
Keseriusan Bank Indonesia melihat fenomena hot-money, sebaiknya ditanggapi
dengan serius karena datangnya krisis tidak mudah untuk diprediksi. Hal lain yang
ditunggu-tunggu oleh investor keseriusan pemerintah dalam menginflementasikan
rangkaian kebijakan yang sudah dan akan dikucurkan.
Bagaimanapun juga tidaklah baik demi menjaga agar nilai tukar rupiah tetap
stabil Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga, yang mendorong masuknya modal
namun modal tersebut hanya sekedar parkir dan mendapat spread keuntungan. Langkah
bijak Bank Indonesia untuk dapat mengkonversikan modal jangka pendek tersebut
menjadi modal jangka panjang tetap dinantikan oleh sector rill.
Akan tetapi sikap BI yang selalu dingin dan tidak terkesan cemas memberikan
rasa percaya diri bagi masyarakat sehingga tidak terjadi rush. Dalam hal ini spantasnya
kita angkat topi, Namun kesan dingin tersebut sebaiknya tidak di ikuti dengan respen
yang dingin pula melihat kondisi perekonomian saat ini.
Beberapa Kesimpulan dan Rekomendasi
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai tukar rupiah di Indonesia
ditopang oleh hot-money dan ini ibarat gunung es yang suatu waktu dapat menjadi
boomerang apabila dana jangka pendek tersebut tidak dikonversi kedalam dana jangka
panjang. Adapun strategi yang dapat direkomendasikan sebagai upaya mengendalikan
nilai tukar adalah sebagai berikut:
Pertama, sebaiknya kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan tingkat bunga
harus fokus terhadap satu sasaran, seandainya sasaran tersebut adalah untuk menekan
inflasi maka setiap modal yang masuk sebaiknya di arahkan pada modal jangka panjang.
Kedua, Kredibilitas BI dalam menjaga target agregat moneter tampaknya dapat
di-upgrade sehingga tidak terlalu menjadi masalah.
Ketiga, karena krisis yang terjadi saat ini di karenakan fektor eksternal, maka
Bank Indonesia sebaiknya melakukan intervensi secara tidak langsung. Lewat menjaga
iklim perekonomian terus stabil. Maka dengan pasti nilai tukar perlahan akan semakin
stabil.