Anda di halaman 1dari 42

Sejarah PT Pos Indonesia (Persero)

Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress
Sejarah mencatat keberadaan Pos Indonesia begitu panjang, Kantorpos pertama didirikan di
Batavia (sekarang Jakarta) oleh Gubernur Jendral G.W Baron van Imhoff pada tanggal 26
Agustus 1746 dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama
bagi mereka yang berdagang dari kantor-kantor di luar Jawa dan bagi mereka yang datang
dari dan pergi ke Negeri Belanda. Sejak itulah pelayanan pos telah lahir mengemban peran
dan
fungsi
pelayanan
kepada
publik.
Setelah Kantorpos Batavia didirikan, maka empat tahun kemudian didirikan Kantorpos
Semarang untuk mengadakan perhubungan pos yang teratur antara kedua tempat itu dan
untuk mempercepat pengirimannya. Rute perjalanan pos kala itu ialah melalui Karawang,
Cirebon dan Pekalongan.
Perubahan
Status
Pos
Indonesia
Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post,
Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini
operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan
pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara
Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos
dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi
Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi
Perum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam
menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri.
Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas
dengan
nama
PT
Pos
Indonesia
(Persero).
Dengan berjalannya waktu, Pos Indonesia kini telah mampu menunjukkan kreatifitasnya
dalam pengembangan bidang perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur
jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100
persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan 940
lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Seiring dengan perkembangan informasi,
komunikasi dan teknologi, jejaring Pos Indonesia sudah memiliki 3.700 Kantorpos online,
serta dilengkapi elektronic mobile pos di beberapa kota besar. Semua titik merupakan rantai
yang terhubung satu sama lain secara solid & terintegrasi. Sistem Kode Pos diciptakan untuk
mempermudah processing kiriman pos dimana tiap jengkal daerah di Indonesia mampu
diidentifikasi dengan akurat.

Good Corporate Governance


Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress
A. PENDAHULUAN

Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja suatu perusahaan/organisasi adalah dengan cara
menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan Good Corporate Governance
(GCG) merupakan pedoman bagi Komisaris dan Direksi dalam membuat keputusan dan
menjalankan tindakan dengan dilandasi moral yang tinggi, kepatuhan kepada peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial
perseroan terhadap pihak yang berkepentingan (stakeholders) secara konsisten.
Maksud dan tujuan penerapan Good
Perusahaan adalah sebagai berikut:

Corporate

Governance

di

1. Memaksimalkan nilai Perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip


keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil
agar Perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional
maupun internasional.
2. Mendorong pengelolaan Perusahaan secara profesional, transparan dan
efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian.
3. Mendorong agar manajemen Perusahaan dalam membuat keputusan dan
menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran
akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap stakeholders
maupun kelestarian lingkungan di sekitar Perusahaa.
4. Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian nasional.
5. Meningkatkan nilai investasi dan kekayaan Perusahaan.
Implementasi
Good
Corporate
Governance
menghasilkan hal-hal penting sebagai berikut :

perusahaan

telah

Keputusan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Tanggal 9 September 2009


Nomor : KD. 52/DIRUT/0909 tentang Tata cara Laporan Harta Kekayaan
Penyelenggara Negara (LHKPN) di Lingkungan PT Pos Indonesia (Persero).

Keputusan Bersama Komisaris dan Direksi Tanggal 30 Desember 2009


Nomor KD 74 /DIRUT/1209 dan 649/Dekom/1209 tentang Panduan
Penerapan Good Corporate Governance di PT Pos Indonesia (Persero).

Keputusan Bersama Komisaris dan Direksi Tanggal 30 Desember 2009


Nomor KD 75 /DIRUT/1209 dan 650/Dekom/1209 tentang Board Manual PT

Pos Indonesia (Persero).

Keputusan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Tanggal 17 Juni 2010 Nomor :


KD. 37/DIRUT/0610 tentang Pedoman Etika Bisnis dan Tata Perilaku (Code
of Conduct) Insan PT Pos Indonesia.

B. STRUKTUR ORGANISASI
C. KOMISARIS

Komisaris berfungsi mengawasi tindakan Direksi serta berwenang dalam memberikan


nasehat kepada Direksi sesuai dengan Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Selain itu Komisaris harus pula memantau efektifitas praktek good corporate
governance yang diterapkan Perusahaan. Dalam menunjang pelaksanakan tugasnya
Komisaris dapat mempertimbangkan untuk membentuk Komite-komite. Adapun anggota
Komisaris terdiri dari 6 orang, yaitu :

Basuki Yusuf Iskandar, Komisaris Utama

Karyono Supomo, Anggota Komisaris

Noor Ida Khomsiyati, Anggota Komisaris

Bobby Hamzar Rafinus, Anggota Komisaris

Deddy Syarif Usman, Anggota Komisaris

Bambang Widianto, Anggota Komisaris

KOMITE DI BAWAH KOMISARIS

Komite Audit dan Komite Pemantau Manajemen Risiko Usaha dan Investasi
(KPMRUI)
Komisaris dalam memastikan efektifitas sistem pengendalian intern dan efektifitas
pelaksanaan tugas eksternal auditor dan internal auditor menugaskan Komite Audit untuk
melakukan pemantauan berkala dengan memanfaatkan laporan hasil pengujian oleh Satuan
Pengawasan Intern. Komite Audit dan Komite Pemantau Manajemen Risiko Usaha dan
Investasi (KPMRUI), anggotanya terdiri dari :
Komite Audit :

Karyono Supomo, Anggota Dewan Komisaris / Ketua Komite Audit

Prihartono, Anggota Komite Audit

M Farkhan Supriyadi, Anggota Komite Audit

Komite Audit dan Komite Pemantau Manajemen Risiko Usaha dan Investasi (KPMRUI) :

Bambang Widianto, Anggota Dewan Komisari / KEtua KPMRUI

Riko Hendrawan, Anggota KPMRUI

Rofikoh Rokhim, Anggota KPNRUI

D. DIREKSI

Direksi dalam melaksanakan tugasnya harus mematuhi Anggaran Dasar Perusahaan dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan
tugasnya kepada pemegang saham. Direksi terdiri atas enam Direktur, termasuk Direktur
Utama dan dua anggota Direksi berasal dari kalangan di luar perusahaan. Adapun anggota
dewan direksi tersebut terdiri dari :

Budi Setiawan, Direktur Utama

Tavip Parawansa, Direktur Keuangan

Setyo Riyanto, Direktur Ritel dan Properti

Ismanto, Direktur Operasi Suratpos dan Logistik

Entis Sutisna, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum

Budhi Setyawan, Direktur Teknologi dan Jasa Keuangan

E. SEKRETARIS PERUSAHAAN

Sekretaris Perusahaan bertanggung jawab kepada direksi yang bertugas sebagai pejabat
penghubung (liaison officer) dan menatausahakan serta menyimpan dokumen
Perusahaan, termasuk risalah Rapat Direksi maupun Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Sekretaris Perusahaan juga harus memastikan bahwa Perusahaan mematuhi peraturan tentang
persyaratan keterbukaan yang berlaku.
Bagian Good Corporate Governance dan Manajemen Resiko merupakan salah satu bagian di
bawah Sekretaris Perusahaan yang berfungsi mengendalikan implementasi Good Corporate
Governance, termasuk Internal Control System dan Risk Management, dan sebagai Liaison
Officer dalam penerapan Good Corporate Governance untuk menjamin praktek-praktek
pengelolaan perusahaan secara baik, benar, transparan dan profesional.

F. SATUAN PENGAWASAN INTERN (SPI)

Satuan Pengawasan Intern membantu direksi untuk melakukan pengujian secara periodik atas
penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dan efektifitas kegiatan melalui
penilaian yang independen.
G. PEDOMAN PELAKSANAAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

Ada lima prinsip utama Good Corporate Governance, yaitu :

Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan


keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan
relevan mengenai Perusahaan.

Kemandirian, yaitu suatu keadaan di mana Perusahaan dikelola secara


profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak
manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan


pertanggungjawaban Manajemen Perusahaan sehingga pengelolaan
Perusahaan terlaksana secara efektif.

Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan Perusahaan


terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kewajaran, yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak


stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Anggota Komisaris dilarang melakukan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan dan
mengambil keuntungan pribadi dari kegiatan Perusahaan selain gaji dan fasilitas yang
diterimanya sebagai anggota Komisaris yang telah ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS). Paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari anggota komisaris harus berasal
dari kalangan di luar Perusahaan yang bebas dengan ketentuan sebagai berikut :

Tidak menjabat direksi di Perusahaan terafiliasi.

Tidak bekerja pada Pemerintah termasuk di departemen, lembaga dan


kemiliteran dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Tidak bekerja di Perusahaan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Tidak mempunyai keterkaitan finansial, baik langsung maupun tidak


langsung dengan Perusahaan atau perusahaan yang menyediakan jasa
dan produk kepada Perusahaan.

Bebas dari kepentingan dan aktivitas bisnis atau hubungan lain yang dapat
menghalangi atau mengganggu kemampuan Komisaris yang berasal dari
kalangan di luar Perusahaan untuk bertindak atau berpikir secara bebas di
Perusahaan.

Para anggota Direksi dan Karyawan dilarang melakukan transaksi yang mempunyai benturan
kepentingan dan mengambil keuntungan pribadi dari kegiatan Perusahaan yang dikelolanya
selain gaji dan fasilitas lainnya yang telah ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) atau peraturan dinas yang ada. Paling sedikit 20 % (Dua puluh persen) dari jumlah
anggota Direksi harus berasal dari kalangan di luar Perusahaan yang bebas dari pengaruh
anggota Komisaris dan anggota Direksi lainnya serta Pemegang Saham.
Sistem Pengendalian Internal yang efektif harus ditetapkan oleh Direksi untuk mengamankan
investasi dan aset Perusahaan. Tujuan pengendalian internal adalah sebagai berikut :

Operasi : berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya yang
dimiliki Perusahaan, termasuk tujuan kinerja dan profitabilitas serta penjagaan sumber
daya dari kerugian.

Pelaporan Keuangan : berkaitan dengan pembuatan laporan keuangan yang andal


termasuk pencegahan kecurangan dalam pelaporan keuangan kepada masyarakat dan
laporan keuangan intern.

Ketaatan : berkaitan dengan kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan perundangan


yang berlaku bagi Perusahaan.

External auditor ditunjuk melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dari calon yang
diajukan oleh Komisaris berdasarkan usulan Komite Audit dengan disertai alasan pencalonan
dan besarnya honor/imbal jasa yang diusulkan. External Auditor tersebut harus bebas dari
pengaruh Komisaris, Direksi dan pihak yang berkepentingan di Perusahaan.
H. HASIL PENILAIAN IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Pemerintah sebagai pemilik BUMN sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi


penerapan Good Corporate Governance pada BUMN selama ini. PT. Pos Indonesia (Persero)
bekerjasama dengan BPKP melakukan evaluasi penerapan Good Corporate Governance
untuk tahun 2012 dengan hasil sebesar 78,07 %.

I. PEDOMAN ETIKA BISNIS DAN TATA PERILAKU (CODE OF CONDUCT)

PENDAHULUAN
I.1.LATAR BELAKANG DAN SISTEMATIKA ETIKA BISNIS DAN TATA
PERILAKU (CODE OF CONDUCT)
I.1.1. Pedoman Etika Bisnis dan tata perilaku ini merupakan penjabaran dari
praktik-praktik Good Corporate Governance sebagaimana tertuang dalam
Keputusan bersama Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia nomor:
KD.74/Dirut/1209 dan nomor: 649/Dekom/1209 tanggal 22 Desember 2009
tentang Panduan Penerapan Good Corporate Governance di PT Pos
Indonesia (Persero), khususnya yang tercantum dalam Bab VII, yaitu
Kebijakan perusahaan tentang perilaku Etis/Etika Bisnis.
I.1.2. PT POS INDONESIA (Persero) berkomitmen untuk melaksanakan praktikpraktik Good Corporate Governance atau Tata Kelola perusahaan yang baik
sebagai bagian dari Bisnis untuk pencapaian Visi dan Misi perusahaan. Code
of Conduct ini merupakan salah satu wujud komitmen tersebut dalam
menjabarkan Tata Nilai Dasar PT POS INDONESIA (Persero) ke dalam
interpretasi perilaku yang terkait dengan etika Bisnis dan tata perilaku.
I.1.3. Etika Bisnis dan Tata Perilaku (Code of Conduct) ini disusun untuk menjadi
acuan perilaku bagi Direksi dan pekerja sebagai Insan POS INDONESIA
dalam mengelola perusahaan guna mencapai Visi, Misi dan tujuan
perusahaan.
I.2.TUJUAN ETIKA BISNIS DAN TATA PERILAKU (CODE OF CONDUCT)

Penerapan Etika Bisnis dan Tata Perilaku (Code of Conduct) ini dimaksudkan untuk :
1. Mengidentifikasikan nilai-nilai dan standar etika selaras dengan Visi dan
Misi perusahaan.
2. Menjabarkan Tata Nilai sebagai landasan etika yang harus diikuti oleh
insan POS INDONESIA dalam melaksanakan tugas.
3. Menjadi acuan perilaku insan POS INDONESIA dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawab masing-masing dan berinteraksi dengan stakeholders
perusahaan.
4. Menjelaskan secara rinci standar etika agar insan POS INDONESIA dapat
menilai bentuk kegiatan yang diinginkan dan membantu memberikan
pertimbangan jika menemui keragu-raguan dalam bertindak.
I.3. HASIL PENILAIAN IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE
J. VISI DAN MISI PERUSAHAAN

VISI
Menjadi pemimpin pasar di Indonesia dengan menyediakan layanan suratpos,
paket, dan logistik yang handal serta jasa keuangan yang terpercaya.
MISI
Berkomitmen kepada pelanggan
untuk menyediakan layanan yang selalu tepat waktu dan nilai terbaik
Berkomitmen kepada karyawan
untuk memberikan iklim kerja yang aman, nyaman dan menghargai kontribusi
Berkomitmen kepada pemegang saham
untuk memberikan hasil usaha yang menguntungkan dan terus bertumbuh
Berkomitmen untuk berkontribusi positif kepada masyarakat
Berkomitmen untuk berperilaku transparan
dan terpercaya kepada seluruh pemangku kepentingan

MOTTO
Tepat Waktu Setiap Waktu
( On Time Every Time )
K. TATA NILAI DASAR PERUSAHAAN

Dalam melaksanakan misi perusahaan menjunjung nilai-nilai yang menjadi koridor dalam
menjalankan bisnis. Nilai-nilai tersebut terdiri dari input values, process values dan output
values ( I-P-O Values) sebagai berikut :
1. Input values : merupakan nilai-nilai yang dicari dari orang-orang yang bekerja di Pos
Indonesia, yang terdiri dari :
- Integrity

: menjunjung tinggi dan melaksanakan nilai etika yang


berlaku di masyarakat dan perusahaan

- Commitment : menjunjung tinggi dan melaksanakan tujuan perusahaan


dan/atau sasaran tugas
- Resilience

: mampu beradaptasi dan bekerja secara efektif dalam


setiap perubahan lingkungan

- Spiritual

: menjunjung tinggi dan melaksanakan nilai-nilai spiritual

- Respect

: bertindak dengan menghargai harkat dan martabat orang


lain

2. Process Values : merupakan nilai-nilai yang diperhatikan dalam mencapai dan memelihara
condition of enterprise excellence, yang terdiri dari :
- Teamwork

: mampu bekerjasama dalam mencapai tujuan.

- Discipline

: melakukan tugas sesuai dengan tanggung jawab


dan kewenangan.

- Proactive

: mengantisipasi dan merespon secara tepat


masalah-masalah yang timbul dalam pekerjaan.

- Achievement
oriented

: mengupayakan tercapainya sasaran dengan hasil


terbaik.

- Systemic thingking : menyikapi isyu dan berpikir secara sistematis


untuk melihat hubungan sebab akibat.
- Accountable

: mengambil keputusan dan bertindak sesuai


dengan norma yang berlaku dan dapat
dipertanggungjawabkan.

- Merit

: memberikan apresiasi terhadap pencapaian


kinerja.

3. Output Values : merupakan nilai-nilai yang diperhatikan oleh pemangku kepentingan


ketika menilai kinerja perusahaan, yang terdiri dari :
- Customer values

: memberikan benefit yang lebih besar


dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan
oleh pelanggan.

- Communicative

: mampu menyampaikan dan menerima ide,


pendapat dan informasi secara jelas dengan
menggunakan media komunikasi yang tersedia.

- Trustworthy

: memegang teguh amanah yang diberikan.

L. STANDAR ETIKA BISNIS


A. ETIKA PERUSAHAAN TENTANG INTEGRITAS DALAM AKTIVITAS BISNIS
DAN PEKERJAAN
1. Perusahaan menerapkan standar etika dalam melakukan seluruh aktivitas bisnis
berdasarkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang termaktub dalam
Kebijakan perusahaan. Perusahaan menjalankan operasional bisnis dengan lingkup
kegiatan Bisnis utama di bidang pelayanan jasa pos dan giro dan optimalisasi
pemanfaatan sumber daya yang dimiliki antara lain meliputi : (1) Bidang
Pelayanan jasa Suratpos dan Paketpos; (2) Bidang Bisnis Jasa Keuangan; (3)
Bidang Bisnis Jasa Pos Logistik; dan Bidang Bisnis Jasa Admail serta optimalisasi
pemanfaatan sumber daya yang dimiliki.
2.

Seluruh unit kerja di Kantor Pusat, Kantor Divisi Regional (Divre) dan Kantor Unit

Pelaksana Teknis (UPT) diwajibkan untuk melakukan sosialisasi Panduan Standar


Etika Bisnis dan standar tata perilaku ini untuk mempertahankan kejujuran,
integritas dan keadilan dalam seluruh aktivitas bisnis di lingkungan kerja
masing-masing.
3.

Perusahaan melarang seluruh jajaran Perusahaan yang terdiri atas Direksi, seluruh
unit kerja dari Kantor Pusat, Kantor Divisi Regional (Divre) dan Kantor Unit
Pelaksana Teknis (UPT), dan pihak yang terkait melakukan transaksi yang
bertentangan dengan hukum dan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.

4.

Perusahaan menerapkan fungsi pengawasan menggunakan audit berdasarkan


norma dan peraturan yang benar dan berlaku umum serta senantiasa
mengupayakan agar pelanggaran atas norma-norma dan peraturan yang
berlaku dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan, baik administrasi maupun hukum.
Setiap unit kerja berkewajiban untuk senantiasa menindaklanjuti setiap temuan
hasil audit yang disampaikan oleh fungsi pengawasan internal/eksternal.

5.

Kebijakan Perusahaan dalam menjaga integritas dalam aktivitas bisnis dan


pekerjaan antara lain :

Seluruh individu dan atau organ Perusahaan senantiasa wajib patuh


terhadap hukum dan peraturan yang berlaku di mana pun
operasional Perusahaan dijalankan.

Perusahaan senantiasa mengupayakan perolehan informasi melalui


cara-cara yang sah dan menyimpan serta menggunakannya sesuai
dengan prinsip-prinsip etika Bisnis yang berlaku.

Perusahaan menghindari tindakan illegal, penggunaan praktik yang


tidak fair dan perilaku curang dalam meraih laba.

Segenap jajaran Perusahaan harus mengutamakan kepentingan


Perusahaan dan menghindari benturan kepentingan.

B.
C. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN PEMEGANG SAHAM
1. Perusahaan menolak Pemegang Saham campur tangan dalam kegiatan
operasional Perusahaan yang menjadi tanggung jawab Direksi sesuai dengan
ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Termasuk pengertian dalam campur tangan adalah tindakan atau arahan
yang secara langsung maupun tidak langsung memberi pengaruh terhadap
tindakan pengurusan Perusahaan atau terhadap pengambilan keputusan yang
menjadi wewenang Direksi. Ketentuan ini dimaksudkan untuk dapat mempertegas
kemandirian Perusahaan sebagai badan hukum yang profesional sehingga dapat
berkembang baik sesuai dengan tujuan usahanya.
2.

Perusahaan akan berusaha keras agar mengalami pertumbuhan yang

berkesinambungan sehingga memberikan kontribusi yang optimal bagi Pemegang


Sahamnya.
D. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN PEKERJA (HUBUNGAN INDUSTRIAL)
1. Status pekerja di Perusahaan terdiri atas Karyawan dan calon Karyawan. Di
samping kategori tersebut, Perusahaan juga memperkerjakan Karyawan kontrak
dalam jangka waktu atau proyek tertentu. Terhadap kedua klasifikasi pekerja
tersebut, Perusahaan mempunyai komitmen untuk memperlakukan seluruh
pekerja sesuai dengan hak dan kewajibannya yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2.

Perusahaan menerapkan sistem manajemen human assets berdasarkan


prinsip-prinsip keterbukaan, adil, motivatif dan bebas dari bias karena
perbedaan suku, asal-usul, jenis kelamin, agama, dan asal kelahiran serta halhal yang tidak terkait dengan kinerja. Perusahaan juga mengakui hak pekerja
untuk berserikat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

3.

Perusahaan selalu mengembangkan dan meningkatkan kualitas aset Pekerja yang


merupakan aset utama pada Perusahaan. Oleh karena itu pengembangan dan
peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam Perusahaan merupakan hal
yang penting.

4.

Perusahaan selalu melakukan pembinaan dan pengembangan pekerja yang


berpedoman pada Budaya Perusahaan, Kebijakan Perusahaan di bidang
kepegawaian, Peraturan Pokok Kepegawaian dan Peraturan Pokok-pokok
Organisasi. Perusahaan juga menjamin bahwa peraturan-peraturan tersebut di
atas sesuai dengan standar Good Corporate Governance.

5.

Perusahaan mempunyai Kantor Pusat, Kantor Divisi Regional (Divre) dan Kantor
Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang beroperasi di berbagai daerah dengan agama,
budaya, tradisi, adat istiadat, kondisi pekerja serta peraturan setempat yang
berbeda-beda. Meskipun peka terhadap perbedaan-perbedaan tersebut,
Perusahaan tetap menerapkan praktik-praktik yang didasarkan pada prinsipprinsip Good Corporate Governance.

6.

Perusahaan menetapkan beberapa kebijakan mengenai pekerja dan hubungan


industrial antara lain:

Melakukan penataan pekerjaan dengan baik sehingga memotivasi dan


memberdayakan pekerja;

Mengusahakan agar skema remunerasi yang diterima pekerja, secara


umum mengikuti peraturan serta sebanding dan kompetitif dengan
industri sejenis;

Memberikan kesempatan kepada pekerja untuk mengikuti pendidikan


dan pelatihan yang sejalan dengan kompetensi dan kebutuhan
Perusahaan;

Meningkatkan disiplin pekerja agar mematuhi aturan dan kebijakan


yang telah ditetapkan;

Menerapkan reward dan punishment secara adil sesuai prestasi atau


tingkat kesalahan pekerja;

Memberikan hak kepada pekerja untuk berserikat sesuai peraturan


perundangan yang berlaku, serta melindungi hak pekerja untuk
memilih atau tidak memilih menjadi anggota Serikat Pekerja;

Menempatkan PKB sebagai komitmen Perusahaan;

Memberikan kondisi kerja yang baik dan aman bagi pekerja;

Memberikan hak-hak purna bakti sesuai ketentuan yang berlaku.

Mengacu kepada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dalam hal


kesejahteraan pekerja, kompetisi yang sehat, penyediaan sarana dan
prasarana kerja.

Melaksanakan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) secara konsisten.

Menyediakan penasehat hukum kepada pekerja dalam setiap tahapan


proses hukum yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya di
Perusahaan yang bukan merupakan pengaduan Perusahaan.

Menempatkan Serikat Pekerja sebagai mitra Perusahaan dengan


mengikutsertakan Serikat Pekerja untuk menghadiri dan memberikan
masukan dalam pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP) menurut tingkatan organisasi masing-masing.

7.

Perusahaan menyadari sepenuhnya adanya perubahan lingkungan bisnis yang


dinamis. Untuk itu segenap jajaran Perusahaan baik Direksi, manajemen dan
pekerja akan selalu berusaha untuk menjalin kemitraan agar saling mendukung
dalam mencapai tujuan dan kemajuan bersama. Perusahaan akan selalu berusaha
meningkatkan mutu manajemen dan kualitas pekerja sehingga dapat bekerja
secara efisien dan efektif.

8.

Pekerja juga memiliki berbagai kewajiban yang harus dipenuhi terhadap


Perusahaan. Kewajiban pekerja terhadap Perusahaan antara lain :

Setiap pekerja wajib menaati PKB, Nilai-nilai Perusahaan dan semua


peraturan yang dikeluarkan Perusahaan.

Setiap pekerja wajib mendahulukan kepentingan Perusahaan yang


berhubungan langsung atau tidak langsung dengan tanggung
jawabnya.

Setiap pekerja wajib mengerahkan segala daya dan upaya dalam

melaksanakan tugas pekerjaan yang diserahkan kepadanya.

Setiap pekerja wajib menjaga harta milik dan nama baik Perusahaan.

Setiap pekerja yang menjadi atasan wajib membina dan memberikan


teladan pada pekerja di lingkungannya.

E.
F. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN KONSUMEN
1. Perusahaan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik
kepada pelanggan/komsumen. Perusahaan akan selalu berusaha meningkatkan
kualitas pelayanannya, dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu dan juga
akan selalu berusaha melakukan pemeliharaan, perbaikan dan penataan berbagai
fasilitas secara bertahap sesuai skala prioritas, agar ketersediaan fasilitas maupun
peralatan tetap terjamin dengan kualitas memadai.
2.

Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, POS INDONESIA mengutamakan


kepuasan dan kepercayaan konsumen dengan:

Menjual produk sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan.

Membuka layanan konsumen dan menindaklanjuti keluhan konsumen


tanpa melakukan diskriminasi terhadap konsumen.

Melakukan promosi yang berkesinambungan secara sehat, fair, jujur,


tidak menyesatkan serta diterima oleh norma-norma masyarakat

Melakukan sertifikasi mutu melalui sistem manajemen mutu;

Melakukan perbaikan dibidang Operasi, sarana dan prasarana produk


sesuai dengan kemampuan Perusahaan;

Memberikan layanan purna jual yang sesuai

Insan POS INDONESIA bertindak sebagai konsumen dan marketer dengan memakai dan
memasarkan produk Perusahaan.
G. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN PESAING

POS INDONESIA menempatkan pesaing sebagai pemacu peningkatan diri dan introspeksi
dengan cara :
1.

Melakukan market research dan market intelligent untuk mengetahui posisi


pesaing.

2.

Melakukan persaingan yang sehat dengan mengedepankan keunggulan produk

dan layanan yang bermutu.


H.
I. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN PENYEDIA BARANG DAN JASA/REKANAN
1. Perusahaan bertindak adil dengan memberikan kesempatan yang sama pada
seluruh rekanan yang memiliki kualifikasi yang sama tanpa diskriminasi.
Pertimbangan pemberian pekerjaan didasarkan atas kriteria yang antara lain
meliputi:

2.

Memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial


dalam bidang usaha yang dapat dibuktikan dengan kualifikasi yang
dikeluarkan asosiasi yang bersangkutan.

Memiliki sumber daya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Memiliki track record yang memadai, tidak pernah membuat


pernyataan yang tidak benar tentang kualifikasi yang dimilikinya.

Kerja sama yang saling menguntungkan.

Perusahaan menciptakan iklim kompetisi yang adil (fair) dan transparan dalam
pengadaan barang dan jasa dengan cara :

Menetapkan penyedia barang dan jasa berdasarkan kepada


kemampuan dan prestasi.

Melaksanakan pembayaran kepada penyedia barang dan jasa dengan


tepat waktu dan tepat jumlah.

Menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap penyedia barang dan jasa


yang melakukan pelanggaran.

Memelihara komunikasi yang baik dengan penyedia barang dan jasa


termasuk menindaklanjuti keluhan dan keberatan.

Memanfaatkan hubungan baik dengan penyedia barang dan jasa


sebagai market intelligent dan competitor intelligent.

Menerapkan teknologi pengadaan barang dan jasa terkini (misalnya eprocurement).

J.ETIKA PERUSAHAAN DALAM SISTEM PENGADAAN DAN KONTRAK


PEKERJAAN
1. Perusahaan menerapkan proses pengadaan sesuai standar Good Corporate
Governance dengan menjunjung prinsip-prinsip keterbukaan, efisiensi biaya,
kompetitif, fairness sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.
2.

3.

Perusahaan mematuhi etika proses pengadaan dalam pengadaan barang dan jasa
antara lain :

Melaksanakan tugas pengadaan barang dan jasa dengan tertib dan


disertai tanggung jawab.

Bekerja secara profesional, mandiri atas dasar kejujuran, serta menjaga


kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya
dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam
pengadaan barang dan jasa.

Tidak mencampuri tugas dan kewenangan yang diberikan kepada


petugas pengadaan baik langsung maupun tidak langsung.

Kontrak Pekerjaan antara Perusahaan dengan rekanan memuat kesanggupan


rekanan untuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang telah
disepakati, dan hak rekanan mendapatkan seluruh haknya berdasar kewajiban
yang telah dilaksanakan sesuai yang disepakati dalam kontrak serta sanksi atas
tidak dipenuhinya kewajiban masing-masing.

K. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN MITRA KERJA

POS INDONESIA meningkatkan iklim saling percaya, menghargai dan memupuk


kebersamaan dengan mitra kerja sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis yang berlaku dengan
cara :
1.

Membuat perjanjian kerja yang berimbang dan saling menguntungkan dengan


mitra kerja dan tidak melanggar aturan dan prosedur.

2.

Mengutamakan pencapaian hasil optimal sesuai standar yang berlaku dan terbaik.

3.

Membangun komunikasi secara intensif dengan mitra kerja untuk mencari solusi
yang terbaik dalam rangka peningkatan kinerja.

L. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN KREDITUR/INVESTOR

POS INDONESIA menerima pinjaman/penanaman modal hanya ditujukan untuk kepentingan


bisnis dan peningkatan nilai tambah Perusahaan dengan cara :
1.

Menyediakan informasi yang aktual dan prospektif bagi calon kreditur/investor.

2.

Memilih kreditur/investor berdasarkan aspek kredibilitas dan bonafiditas yang


dapat dipertanggungjawabkan.

3.

Menerima pinjaman/penanaman modal yang diikat melalui perjanjian yang sah


dengan klausul perjanjian yang mengedepankan prinsip kewajaran (fairness).

4.

Memberikan informasi secara terbuka tentang penggunaan dana untuk

meningkatkan kepercayaan kreditur/investor.


5.

Menjajaki peluang bisnis dengan kreditur untuk meningkatkan pertumbuhan


Perusahaan.

M. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN PEMERINTAH

POS INDONESIA berkomitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang


berlaku dengan cara :
1.

Membina hubungan dan komunikasi yang baik dengan Pemerintah Pusat dan
Daerah.

2.

Menerapkan standar terbaik (best practices) dengan memperhatikan peraturan


yang berlaku mengenai kualitas produk, kesehatan, keselamatan, lingkungan dan
pelayanan.

N.
O. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN MASYARAKAT
1. Perusahaan sangat menyadari bahwa di mana pun Perusahaan beroperasi selalu
berhubungan dengan masyarakat sekitar yang memiliki karakteristik yang
berbeda. Oleh karena itu Perusahaan mempunyai komitmen bahwa hubungan baik
serta pengembangan masyarakat sekitar merupakan landasan pokok bagi
keberhasilan jangka panjang Perusahaan.
2.

3.

Dalam hubungan dan kemitraan dengan masyarakat sekitar, Perusahaan akan


senantiasa menerapkan berbagai prinsip antara lain :

Beradaptasi dengan perkembangan nilai-nilai budaya luhur


masyarakat sekitar.

Berpartisipasi aktif dalam membantu pengembangan masyarakat


sebagai rasa tanggung jawab sosial Perusahaan.

Perusahaan melaksanakan program sosial dan kemasyarakatan untuk


memberdayakan potensi masyarakat sekitar dan meningkatkan kualitas hidup
serta dapat bersinergi dengan program-program Pemerintah terkait, dengan cara :

Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang program sosial dan


kemasyarakatan serta kebijakan-kebijakan yang relevan.

Memberi kesempatan kepada masyarakat yang ingin mengetahui


kegiatan-kegiatan Perusahaan dalam batas tertentu dan untuk
mempromosikan produk setempat dalam acara-acara Perusahaan.

Mengoptimalkan penyaluran program-program bantuan Perusahaan

kepada masyarakat.

Melarang pekerja memberikan janji-janji kepada masyarakat di luar


kewenangannya.

Tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada


diskriminasi masyarakat berdasar suku, agama, ras dan antar
golongan.

P. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN MEDIA MASSA

POS INDONESIA menjadikan media massa sebagai mitra dan alat promosi untuk
membangun citra yang baik dengan :
1.

Memberikan informasi yang relevan dan berimbang kepada media massa.

2.

Menerima dan menindaklanjuti kritik-kritik membangun yang disampaikan melalui


media massa, namun tetap memperhatikan aspek risiko dan biaya.

3.

Mengundang media massa untuk mengekspose berita tentang Perusahaan.

M. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN


1. Perusahaan menjalankan operasional dengan mematuhi hukum maupun praktek
standar industri yang berlaku serta kebijakan dan standar sistem manajemen
lingkungan dalam rangka perhatiannya terhadap perlindungan kelestarian
lingkungan.
2.

Perusahaan selalu mengevaluasi kebijakan tentang lingkungan. Dalam


menjalankan pekerjaan setiap Karyawan melakukan identifikasi, kontrol dan
menghindari atau meminimalkan penggunaan bahan-bahan yang memberikan
dampak negatif pada lingkungan serta mengurangi limbah. Sistem manajemen
lingkungan akan dilakukan peningkatan secara berkelanjutan.

N. ETIKA PERUSAHAAN DENGAN ORGANISASI PROFESI

POS INDONESIA menjalin kerjasama yang baik dan berkelanjutan dengan organisasi profesi
untuk memperoleh informasi perkembangan bisnis, mendapatkan peluang bisnis dan
menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan :
1.

Menerapkan standar-standar yang ditetapkan organisasi profesi.

2.

Memberikan perlakuan yang setara terhadap organisasi profesi.

M. STANDAR TATA PERILAKU


A. ETIKA KERJA SESAMA INSAN POS INDONESIA

Etika kerja antar sesama insan POS INDONESIA dilandasi dengan :

Bekerja profesional dan sadar biaya untuk menghasilkan kinerja yang


optimal.

Jujur, sopan dan tertib.

Saling menghargai, terbuka menerima kritik dan


menyelesaikan masalah dengan musyawarah mufakat.

Saling membantu, memotivasi dan bekerja sama dalam menyelesaikan


tugas.

Mengkomunikasikan setiap ide baru dan saling mentransfer pengetahuan


dan kemampuan.

Mengambil
inisiatif
melaksanakan tugas.

Berani mendiskusikan kebijakan yang kurang tepat untuk melakukan


koreksi yang konstruktif secara santun.

Menghargai perbedaan gender, suku, agama, ras dan antar golongan.

dan

mengembangkan

saran

kompetensi

serta

dalam

B. ETIKA KERJA ANTARA ATASAN DENGAN BAWAHAN

Setiap atasan maupun bawahan wajib untuk melaksanakan standar tata perilaku dalam
menjaga hubungan baik antara atasan dan bawahan yang diatur sebagai berikut :

Setiap atasan harus bisa menjadi panutan, pengarah, motivator,


pembimbing dan pengawas bagi bawahannya serta bertanggung jawab
atas perilaku dan kinerja bawahannya.

Setiap atasan harus memperhatikan bawahannya untuk selalu


meningkatkan keteramplan, ahlak, intelektualitas/pengetahuan, etika dan
perbaikan secara terus menerus (continuous improvement)

Setiap bawahan secara aktif harus senantiasa mengembangkan diri dan


melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan mengindahkan
petunjuk, arahan, serta bimbingan atasannya.

Setiap atasan dan bawahan harus senantiasa saling menerima,


menghormati, menghargai,mengingatkan dan membina kerjasama yang
efektif, didasari dengan ketulusan hati dan itikad baik.

Setiap atasan dan bawahan harus senantiasa membangun hubungan


komunikasi yang terbuka, efektif dan lancar.

Setiap atasan dan bawahan harus senantiasa menciptakan suasana kerja


yang sehat dan kondusif dalam lingkungan yang selalu bersih, indah dan
rapih.

C.
D. MENJAGA KERAHASIAAN DATA DAN INFORMASI PERUSAHAAN
1. Data Perusahaan dan Kerahasiaan Informas.
a. Setiap pejabat yang mempunyai kewenangan harus menyampaikan
informasi yang relevan kepada auditor dan bekerjasama sepenuhnya
dengan auditor internal dan auditor eksternal dalam proses audit
kepatuhan atau penyidikan lainnya.
b. Perusahaan memiliki kebijakan untuk melarang setiap anggota Dewan
Komisaris, anggota Direksi, Auditor Internal, Auditor Eksternal, Komite di
bawah Dewan Komisaris dan pekerja untuk mengungkapkan informasi
yang bersifat rahasia mengenai Perusahaan atau pelanggan ke luar
Perusahaan baik selama masa kerja atau sesudahnya. Mengingat
bahwa pengungkapan informasi rahasia tersebut akan merugikan
Perusahaan atau pelanggan dan memberikan keuntungan kepada pihak
lain, maka pengungkapan pemberian informasi rahasia menurut
keperluannya harus melalui persetujuan dari Direksi.

c. Perusahaan juga bekerja dengan data khusus milik pemberi pekerjaan,

rekanan dan mitra usaha patungan. Hal ini merupakan kepercayaan


yang sangat penting dan harus dijaga oleh Perusahaan. Oleh karena itu
tidak seorang pun boleh mengungkapkan informasi rahasia tersebut
kepada pihak luar tanpa persetujuan Direksi, atau tidak seorang pun
boleh mengungkapkan informasi rahasia tersebut kepada yang lain
kecuali diwajibkan oleh hukum.

2.

Keterbukaan Informasi.
a. Perusahaan akan mengungkapkan informasi penting yang relevan
dalam Laporan kepada pihak-pihak yang berwenang (Laporan
Tahunan, Laporan Berkala dan lain-lain) sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dengan tepat waktu, akurat,
jelas dan objektif.
b. Perusahaan akan selalu berusaha untuk mempelopori dan mengambil
inisiatif dalam pengungkapan informasi keuangan dan non keuangan
penting bagi pengambilan keputusan baik pengungkapan yang bersifat
wajib maupun yang bersifat sukarela. Pengungkapan informasi
tersebut, dilakukan melalui Laporan Tahunan maupun media lain yang
dianggap perlu.

c. Di samping informasi sebagaimana disyaratkan oleh peraturan


perundang-undangan yang berlaku (neraca, laba rugi, arus kas,
perubahan modal dll), Perusahaan juga mengungkapkan berbagai
informasi penting dalam Laporan Tahunan meliputi :

1. Tujuan, sasaran usaha dan strategi Perusahaan selama tidak

merugikan kepentingan Perusahaan.


2. Penilaian oleh Komite Audit, Auditor Eksternal, dan lembaga
pemeringkat lainnya.
3. Riwayat hidup, gaji dan tunjangan anggota Komisaris, Direksi;
4. Riwayat hidup Eksekutif Kunci Perusahaan.
5. Jumlah rapat Komisaris dan Direksi beserta tingkat
kehadirannya.
6. Sistem pemberian honorarium bagi Auditor Eksternal.
7. Sistem penggajian dan pemberian tunjangan bagi anggota
Komisaris, Direksi.
8. Faktor risiko yang material yang dapat diantisipasi, termasuk
penilaian manajemen atas iklim berusaha dan faktor risiko.
9. Informasi material mengenai pekerja dan pihak yang
berkepentingan.
10.Klaim menyangkut nilai yang material yang diajukan oleh
Perusahaan atau terhadap Perusahaan, serta perkara yang
substansial yang ada di badan peradilan atau badan arbitrase
yang melibatkan Perusahaan.
11.Benturan kepentingan yang mungkin akan terjadi dan/atau
yang sedang berlangsung.

12.

Pelaksanaan Good Corporate Governance.

E. MENJAGA HARTA PERUSAHAAN

Insan POS INDONESIA mengoptimalkan penggunaan harta Perusahaan dengan cara :


1.

Bertanggung jawab atas pengelolaan harta Perusahaan dan menghindarkan


penggunaannya di luar kepentingan Perusahaan.

2.

Mengamankan harta Perusahaan dari kerusakan dan kehilangan.

3.

Melakukan penghematan pemakaian energi.

F. MENJAGA KEAMANAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA PEKERJA


1. Perusahaan senantiasa mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja.
Perusahaan menyadari bahwa pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja
secara optimal sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang.
2.

Perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Oleh karena itu

Perusahaan akan selalu memastikan bahwa lokasi usaha serta fasilitas, sarana dan
prasarana Perusahaan lainnya, memenuhi peraturan perundang-undangan
yang berlaku berkenaan dengan kesehatan dan keselamatan kerja.
3.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pekerja diusahakan Perusahaan dengan cara


antara lain :

Melaksanakan berbagai implementasi Sistem Manajemen Keselamatan


dan Kesehatan Kerja (SMK3) sesuai dengan peraturan yang berlaku
secara konsisten dalam upaya memberikan perlindungan optimal pada
pekerja dari hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan
kesehatan pekerja.

Mengupayakan perbaikan berkelanjutan atas berbagai infrastruktur


yang berkaitan dengan K3.

Memperoleh beberapa sertifikasi yang berhubungan dengan K3.

Menyertakan partisipasi pekerja sebagai bagian dari upaya peningkatan


pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja.

G. MENCATAT DATA DAN PELAPORAN

Insan POS INDONESIA mengelola data secara rapi, tertib, teliti, akurat dan tepat waktu
dengan cara :
1.

Mencatat data dan menyusun laporan berdasarkan sumber yang benar dan dapat
dipertanggungjawabkan.

2.

Menyajikan laporan secara singkat, jelas, tepat, komunikatif untuk dipergunakan


dalam pengambilan keputusan dan sebagai umpan balik guna perbaikan kinerja.

3.

Menyampaikan data dan laporan yang seharusnya disampaikan.

H. MENGHINDARI BENTURAN KEPENTINGAN DAN PENYALAHGUNAAN


JABATAN
1. Perusahaan mendefinisikan benturan kepentingan sebagai situasi di mana
seseorang (anggota Direksi atau pekerja) karena kedudukan atau wewenang yang
dimiliki di Perusahaan mempunyai kepentingan pribadi yang dapat mempengaruhi
pelaksanaan tugas yang diamanatkan oleh Perusahaan secara objektif. Benturan
kepentingan tersebut menimbulkan adanya pertentangan antara kepentingan
ekonomis pribadi, kelompok atau keluarga dengan kepentingan ekonomis
Perusahaan. Dalam banyak kasus, seseorang tidak mungkin memenuhi kedua
kepentingan yang bertentangan tersebut tanpa melakukan kompromi pada satu
atau yang lain, dan oleh karena itu maka setiap benturan kepentingan harus
diungkapkan kapan pun terjadi.
2.

Prinsip utama yang dianut oleh Perusahaan yang harus diikuti untuk mencegah
terjadinya benturan kepentingan dan implikasi lanjutan yang sering

ditimbulkannya antara lain adalah:

3.

Dewan Direksi harus mengungkapkan kepemilikan saham di


perusahaan lain dalam Daftar Khusus sebagaimana dipersyaratkan
dalam perundang-undangan.

Dewan Direksi dan pekerja tidak memanfaatkan jabatan untuk


kepentingan pribadi atau untuk kepentingan orang lain atau pihak lain
yang terkait.

Dewan Direksi dan pekerja harus menghindari setiap aktivitas luar


dinas yang dapat berpengaruh secara negatif terhadap independensi
dan objektivitas pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Anggota Direksi tidak berwenang mewakili Perusahaan apabila :

Terjadi perkara di Pengadilan antara Perusahaan dengan anggota


Direksi yang bersangkutan.

Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan


dengan Perusahaan.

Dalam hal terjadi sebagaimana dimaksud dalam point 3 diatas, yang berhak mewakkili
Perusahaan adalah :

Anggota Direksi lainnya yang tidak memiliki benturan kepentingan


dengan Perusahaan.

Dewan Komisaris dalam hal semua Direksi mempunyai benturan


kepentingan dengan Perusahaan.

Pihak-pihak yang ditunjuk oleh RUPS dalam hal seluruh anggota Direksi
atau Dewan Komisaris mempunyai benturan kepentingan dengan
Perusahaan.

4.

Direksi, dan pekerja dilarang berpartisipasi dalam setiap kegiatan pengadaan yang
melibatkan suatu Perusahaan di mana yang bersangkutan atau keluarga yang
bersangkutan mempunyai kepemilikan saham yang signifikan atau mempunyai
kepentingan finansial atas transaksi tersebut.

5.

Perusahaan mendefinisikan berpartisipasi dalam proses pengadaan sebagai


berikut:

Mengundang, memberikan persetujuan, atau membahas pekerjaan di


masa mendatang dengan kontraktor yang berkompetisi yaitu setiap
entitas usaha yang kemungkinan di masa mendatang dapat menjadi
pemenang kontrak dari Perusahaan.

Meminta atau menerima uang, pemberian atau hal-hal lain yang


bernilai, baik secara langsung maupun tidak langsung dari kontraktor
yang berkompetisi.

Berusaha untuk memperoleh atau mengungkapkan informasi yang


terkait dengan proses pengadaan tanpa hak dan bertentangan dengan
kebijakan Perusahaan.

6.

Direksi dan pekerja dapat melakukan aktivitas lain di luar jam kerja, dengan syarat
bahwa aktivitas tersebut tidak mempunyai benturan kepentingan dengan
kepentingan Perusahaan dan/atau aktivitas tersebut tidak menurunkan
kemampuan yang bersangkutan untuk memenuhi tugas yang telah diamanatkan.

7.

Setiap Jajaran Perusahaan harus menjunjung tinggi standar kinerja tanpa


terkecuali dan sedapat mungkin bertindak objektif dan independen dalam segenap
kegiatan sehari-hari.

I. KETERLIBATAN DALAM POLITIK


1. Perusahaan memiliki kebijakan yang mengharuskan Dewan Direksi, Manajemen
dan pekerja yang mewakili Perusahaan dalam setiap urusan Pemerintah dan
politik, untuk patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang mengatur
keterlibatan Perusahaan dalam urusan publik.
2.

Perusahaan mengakui hak setiap orang untuk menyalurkan aspirasi politik sesuai
dengan keyakinannya. Oleh karena itu Perusahaan tidak memperbolehkan
seorang pun melakukan pemaksaan kepada orang lain sehingga membatasi hak
individu yang bersangkutan untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Perusahaan
memiliki kebijakan untuk meminta agar pekerja yang aktif dalam partai politik
dan/atau menjadi calon partai politik dalam pemilu untuk mengundurkan diri dari
Perusahaan sebagai mana ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

3.

Perusahaan melarang pemberian sumbangan untuk partai politik mana pun


sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang.

4.

Perusahaan melarang Dewan Direksi, Manajemen dan pekerja membawa,


memperlihatkan, memasang, serta mengedarkan simbol, gambar dan ornamen
partai politik di lingkungan Perusahaan.

5.

Perusahaan melarang Dewan Direksi, Manajemen dan pekerja merangkap jabatan


sebagai pengurus partai politik dan/ atau anggota legislative.

6.

Praktik yang diterapkan Perusahaan dalam kaitannya dengan keterlibatan dengan


politik di antaranya menyatakan Perusahaan tidak akan memberikan dana, aset,
atau fasilitas Perusahaan untuk kepentingan partai politik, seorang atau lebih
calon anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif kecuali dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

J. MENGHINDARI PERNYATAAN PALSU, KLAIM PALSU DAN KONSPIRASI


1. Setiap pihak di dalam Perusahaan, yang berkaitan dengan pekerjaan mulai
penyiapan proposal, negosiasi dan administrasi termasuk akuntansi untuk biaya
dan kewajiban, kajian serta penulisan laporan, harus menyadari pentingnya
membuat pernyataan (lisan maupun tertulis) yang akurat dan klaim yang benar
kepada Direksi, Komisaris, Pemegang Saham, Pemerintah maupun pihak lain.
2.

Adanya kesengajaan dalam menyampaikan pernyataan atau klaim yang tidak


benar atau yang menyesatkan atau yang melibatkan adanya konspirasi dengan
orang lain untuk merugikan Perusahaan atau pihak lain dapat mengakibatkan
dikenakannya hukuman administratif atau bahkan tuntutan pidana bagi yang
terlibat, baik Direksi dan Karyawan maupun pihak lain sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.

3.

Praktik yang dikategorikan dalam Pernyataan Palsu antara lain:

Tindakan yang secara sadar dilakukan untuk melakukan rekayasa


kejadian, perbuatan yang direncanakan dengan sadar untuk
mengelabui pihak-pihak tertentu dengan maksud-maksud
mengambil keuntungan pribadi atau kelompok.

Tindakan yang secara sadar dilakukan untuk membuat pernyataan


yang menyesatkan dan tidak benar dalam proses kajian, negosiasi,
atau audit.

Tindakan yang secara sadar dilakukan untuk membuat laporan palsu


dengan maksud untuk melakukan penggelapan, misalnya
menyembunyikan masalah teknis yang serius atau tidak melaporkan
adanya penundaan pada jadual kerja yang telah ditetapkan.

Tindakan yang secara sadar dilakukan untuk memalsukan dokumen.

4.

Praktik yang dikategorikan dalam Klaim Palsu adalah tindakan yang secara sadar
dilakukan dalam upaya memasukkan tagihan atau permintaan pembayaran
berdasarkan data yang diketahui palsu. Penerapan atas kriteria ini termasuk data
yang berkaitan dengan dokumen pengiriman, tagihan rekanan atau subkontraktor, dan lain-lain yang merupakan dasar untuk melakukan klaim.

5.

Praktik yang dikategorikan dalam Konspirasi adalah tindakan yang secara sadar
dilakukan dalam upaya merencanakan dan melakukan kerjasama atau
persekongkolan dengan pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindak
kecurangan, penyelewengan dan pelanggaran hukum dan/atau peraturan
Perusahaan dengan maksud mengambil keuntungan pribadi atau kelompok.

K.
L. MENERIMA HADIAH/CINDERAMATA/GRATIFIKASI DAN ENTERTAINMENT

Insan POS INDONESIA tidak menerima hadiah/cinderamata/gratifikasi dalam bentuk apapun


yang berhubungan dengan jabatan dan pekerjaannya, kecuali menerima benda-benda promosi
yang mencantumkan logo/nama Perusahaan pemberi.
M. MEMBERI HADIAH/CINDERA MATA DAN ENTERTAINMENT

Insan POS INDONESIA dapat memberikan hadiah/cindera mata dan entertainment kepada
pihak lain dengan syarat:

Menunjang kepentingan Perusahaan.

Tidak dimaksudkan untuk menyuap.

Telah dianggarkan oleh Perusahaan.

Apabila hadiahcindera mata berupa benda maka harus mencantumkan


logo/nama POS INDONESIA.

N. PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DAN OBAT TERLARANG (NARKOBA)


DAN MINUMAN KERAS (MIRAS)

Insan POS INDONESIA bebas dari penyalahgunaan narkoba dan miras.


N. PENYUSUNAN PEDOMAN RISK MANAJEMEN

Proses penyusunan pedoman Risk Manajemen dimulai Bulan Juni 2006 dengan melakukan
assessment terbatas untuk bagian-bagian tertentu di Perusahaan.
Manajemen wajib menetapkan suatu sistem pengendalian yang efektif untuk mengamankan
asset dan investasi perusahaan. Dalam hal ini faktor penaksiran risiko yang meliputi proses
identifikasi, pengukuran dan penyusunan prioritas risiko sangat menentukan dalam rancangan
pengendalian yang diperlukan sehingga sesuai dengan respon yang diharapkan. Untuk
maksud tersebut, dokumentasi proses risk assessment menjadi penting bagi perusahaan
sehingga dapat dilakukan proses revieu secara periodik dan selanjutnya dapat diketahui
tingkat efektifitas sistem pengendalian yang dijalankan serta pengelolaan yang tepat atas
risiko yang dihadapi perusahaan.
Selanjutnya penentuan strategi yang tepat dalam rangka pencapaian visi dan misi perusahaan
menjadi hal yang sangat menentukan dalam merumuskan tujuan dan target-target yang
hendak dicapai. Dalam hal rencana kerja dan target-target operasi yang terlalu optimistis
tanpa suatu pengelolaan risiko dan rancangan pengendalian internal yang cukup, tentu akan
berdampak dalam pelaksanaannya yang pada gilirannya akan mempengaruhi kinerja
perusahaan secara keseluruhan.
Oleh karena itu upaya yang perlu dilakukan dalam hal kebijakan dan pengendalian serta
pengelolaan risiko yang dijalankan, sehingga dapat diyakini apakah penetapan strategi dan

tujuan dalam rangka mencapai visi dan misi perusahaan telah dirumuskan secara benar dan
telah mempertimbangkan hasil penaksiran dan analisa risiko yang cukup serta telah dirancang
pengendalian dan pengawasan yang memadai.

ORGANISASI
Struktur Organisasi
Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress

Dewan Komisaris
Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress

DEWAN KOMISARIS PT POS INDONESIA (PERSERO)

Keterangan foto dari kiri ke kanan : Karyono Supomo, Noor Ida Khomsiyati, Basuki
Yusuf Iskandar, Bobby Hamzar Rafinus, Deddy Syarif Usman, Bambang Widianto

Direksi
Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress
Direksi PT Pos Indonesia (Persero)

Direktur Utama - Budi Setiawan

Direktur Teknologi dan Jasa Keuangan - Budhi Setyawan


Direktur Ritel dan Properti - GNP Sugiarta Yasa
Direktur Keuangan - Poernomo
Direktur SDM dan Umum - Febriyanto
Direktur Surat dan Paket - Agus Fatkhurohman Handoyo

Satuan Pengawasan Intern (SPI)


Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress
Visi

Menjadi penilai profesional bagi kepentingan manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan
Misi

Membantu manajemen melalui kegiatan penilaian aktivitas perusahaan yang obyektif dan
tidak memihak, memberikan pelaporan secara lengkap, akurat dan tepat waktu sebagai
informasi kepada manajemen serta mengoptimalkan peran Compliance, Catalyst, Consultant,
Competence dan Colleague.]
Strategi

Merencanakan pemeriksaan yang meliputi tujuan dan lingkup


pemerikasaan, mencari informasi pendahuluan (background information)
tentang kegiatan atau obyek yang akan diperiksa, jumlah dan kompetensi
personil yang diperlukan.

Mengembangkan Sistem Pengembangan Pengawasan yang efektif dengan


biaya yang wajar.

Mengorganisasikan pelaksanaan kegiatan pemeriksaan.

Mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan dan membuktikan


kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan dan
mengajukan saran-saran perbaikan.

Menidiskusikan berbagai kesimpulan dan rekomendasi dengan tingkat


manajemen yang tepat.

Melaporkan hasil pemeriksaan secara obyektif, jelas, singkat, konstruktif


dan tepat waktu.

Memonitor dan melakukan tindak lanjut (follow-up) untuk memastikan


bahwa terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakaukan
tindakan yang tepat.

Menyelenggarakan adminsitrasi dan dukungan umum internal auditor


group.

Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan SDM di internal auditor group.

Menyusun rencana kerja dan anggaran di unit kerjanya.

Mengendalikan sumber daya di internal auditor group.

Program Kerja

Pemerikasaan Rutin (RIKTIN), dilaksanakan secara rutin (tahunan) berdasarkan Program


Kerja Pengawasan Tahunan (PLPT). Pemeriksaan Khusus, untuk mendalami/mengklarifikasi
sesuatu permasalahan atas perintah Direktur Utama.

Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPI)

Written by Super User on 12 April 2011. Posted in Profil Perusahaan


Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress
GERBANG

21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden
Republik Indonesia yang disampaikan di hadapan Mahkamah AgungRI dan disaksikan oleh
seluruh rakyat Indonesia. Pada saat itu pula jabatan diserahkan kepada B.J Habibie sebagai
Wakil Presiden menjabat sebagai PresidenRI. Hari-hari berikutnya Indonesia memasuki era
reformasi di bawah kepemimpinan B.J Habibie yang membuka kran kebebasan di segala
bidang termasuk didalamnya bidang ketenaga kerjaan.
Ratifikasi konvensi ILO No.87/1984 dengan KEPRES RI No. 83/1998 sebagai bukti aspirasi
serikat pekerja/buruh yang sekian lama dibungkam ditanggapi oleh pemerintah. Selanjutnya
dibuat Undang-undang no. 21 tahun 2000 tentang serikat pekerja/buruh yang selanjutnya
menjadi pedoman serikat pekerja/buruh.
DASAR PENDIRIAN SERIKAT PEKERJA POS INDONESIA

Gagasan pendirian Serikat Pekerja khususnya di lingkungan BUMN sudah ada sejak tahun
1998. Ketika itu pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 12/1998 tentang
Peraturan Pelaksanaan Perseroan Terbatas yang merupakan petunjuk pelaksanaan dari
Undang undang no. 1/1995. PP tersebut menyatakan bahwa perlu adanya Serikat Pekerja di
suatu BUMN (State Owned Enterprise) sebagai pengganti KORPRI. Pasal 38 menyebutkan :
Pegawai PERSERO merupakan pekerja PERSERO yang pengangkatan dan
pemberhentian, kedudukan, hak serta kewajiban ditetapkan berdasarkan
perjanjian kerja sesuai dengan perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan.

Selain itu produk hukum yang dijadikan landasan pendirian Serikat Pekerja Pos Indonesia
adalah :

KONVENSI ILO No. 87 / 1984 tentang Kebebasan berserikat dan


perlindungan Hak berorganisasi

KEPRES No. 83/1998 tentang Ratifikasi Konvensi ILONo. 87 / 1984.

Keputusan MUNAS V KORPRI tanggal 15 s/d 17 Februari 1999 yang


menetapkan bahwa keanggotaan BUMN dalam KORPRI bersifat stelsel aktif
sehingga karyawan BUMN dapat menentukan pilihan organisasi sesuai
aspirasinya. Pada saat itu PT. Pos Indonesia yang menghadiri Munas
KORPRI tersebut secara tegas keluar dari keanggotaan KORPRI.

Instruksi Menteri Negara Pemberdayaan BUMN No. S-19/mSA-5/PBUMN


tanggal 15 Maret 1999 tentang BUMN harus memfasilitasi pendirian
Serikat Pekerja.

Keputusan Direksi No. 59/DIRUTPOS/1999 tanggal 12 Maret 1999 tentang


Tim Asistensi Pendirian Serikat Pekerja di lingkungan PT. Pos Indonesia.

Surat Sekper No. 32/Rhs/Prib/Sekper/99 anggal 30 Maret 1999 perihal


Pendirian Serikat di lingkungan PT. Pos Indonesia.

Pencatatan pada Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung No. 75/DPP.SPPI/


CTT/1/X/8/2001 tanggal 3 Agustus 2001.

Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 664/M/BW/2000 tanggal 19


Oktober 2000

Dengan dasar tersebut maka kemudian PT. Pos Indonesia merasakan adanya kebutuhan akan
organisasi pekerja di lingkungannya. Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar,
Makasar telah terbentuk namun belum terorganisir secara baik. Terbukti dengan penamaan
organisasi yang belum seragam ada yang menggunakan nama PEKAPOS, SEKARPOS,
SEGA POS dan lain sebagainya.
Fenomena yang menarik dalam dunia Serikat Pekerja adalah Solidaritas, terbukti Serikat
Pekerja Pos Jepang (ZENTEI) begitu mengetahui keberadaan Serikat Pekerja Pos Indonesia
(SPPI) telah berdiri tanpa diminta mereka memberikan bantuan berupa bantuan teknis

(Technical Assistance) tentang organisasi serikat pekerja berupa pelatihan dasar-dasar Serikat
Pekerja (Basic Training). Pelaksanaan tersebut bekerja sama dengan Federasi Internasional
Union Network Internasional (UNI) yang berpusat di Nyon Switzerland dan Federasi Lokal
Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia). Setelah itu pula tanggal 6 Juni 2000
dilaksanakan pula Joint Seminar antara Serikat Pekerja Pos Indonesia dengan Serikat Pekerja
Pos Jepang (ZENTEI).
VISI DAN MISI

Sebagai suatu organisasi, apalagi dengan skala dan jaringan yang sangat luas dan dengan
anggota yang mencapai 20.000 orang lebih sudah pasti masalah koordinasi menjadi sangat
penting dan strategis. Untuk memberikan arah dan tujuan organisasi ini maka pada Rakernas
yang diselenggarakan di Malang tanggal 16 s/d 19 Juli 2001 disusun VISI dan MISI
organisasi, yaitu :
VISI SPPI
menjadi organisasi pekerja yang efektif dan professional dalam
memperjuangkan hak dan kepentingan anggota di dalam tatanan
kehidupan masyarakat pekerja nasional dan internasional dengan
semangat solidaritas, independent, demokratis, kesatuan, tanggungjawab
dan persamaan.
MISI, SPPI selalu
1. Memperjuangkan hak dan kepentingan anggota.
2. Mensukseskan program-program organisasi dan perusahaan.
3. Mewakili anggota dalam hubungan bipartite dan tripartite.
4. Memberika layanan yang prima kepada masyarakat pengguna jasa
pos.
5. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan masyarakat nasional dan
internsional.
TUJUAN SPPI
1. Berhimpun pada bersatunya pekerja PT. Pos Indonesia demi terwujudnya
rasa kesetiakawanan serta solidaritas di antara sesama pekerja.
2. Tercapainya kehidupan dan penghidupan pekerja PT. Pos Indonesia yang
layak sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab dengan cara
melindungi, membela dan mempertahankan hak-hak dan kepentingan
pekerja pada umumnya, khususnya Anggota SPPI.
3. Tercapainya dan terjaminnya kesejahteraan karyawan dan keluarga serta
memperjuangkan perbaikan nasib, syarat-syarat kerja dan kondisi kerja.

4. Mantapnya Hubungan Industrial yang harmonis guna terwujudnya


ketenangan kerja dan ketenangan usaha demi meningkatkan produktifitas
menuju terwujudnya taraf hidup dan kesejahteraan karyawan serta
keluarganya.
PENGORGANISASIAN

Bila ditilik dari segi usianya sejak berdiri 6 Juli tahun 2000, SPPI masih tergolong muda.
Pada awalnya SPPI bergerak hanya berbekal AD/ART dan Pokok-pokok Program Jangka
Panjang Organisasi yang telah diputuskan dalam MUNAS I. Penjabaran lebih lanjut dari
AD/ART dan Pokok-pokok Program Jangka Panjang sangatlah dibutuhkan. Meski memiliki
keterbatasan dalam perangkat peng-organisasian gerak organisasi masih bisa berjalan dengan
baik. Para pengurus disetiap tingkatan organisasi (DPC, DPW dan DPP) bahu-membahu
menggerakan organisasi agar berfungsi melalui sosialisasi, edukasi, konsolidasi, advokasi dan
komunikasi.
Sosialisasi eksistensi (keberadaan) SPPI dilakukan baik ke dalam maupun ke luar. Ke dalam
SPPI terus mengajak karyawan untuk bergabung menjadi anggota SPPI. Rekrutasi
keanggotaan sebanyak mungkin diperlukan untuk meningkatkan posisi tawar SPPI dengan
Perusahaan. Selain merekrut anggota juga dilakukan pula perjuangan aspirasi karyawan
dalam bentuk tuntutan kepada Perusahaan untuk memperbaiki penghasilan karyawan yang
masih di bawah UMR dan kewajiban Perusahaan memberikan THR. Sejalan dengan itu juga
sudah muncul keinginan dari SPPI untuk membuat KKB (Kesepakatan Kerja Bersama)
sebagai pengganti Peraturan Perusahaan. Namun yang sangat menonjol adalah permintaan
perbaikan penghasilan. Ke luar SPPI menentukan pilihan untuk berafiliasi ke ASPEK
Indonesia dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan komunitas SP di dalam dan luar
negeri.
Edukasi terhadap para pengurus dan anggota SPPI juga terus dilakukan. Karena faktor
historis dimana karyawan masih merasa takut untuk menjadi anggota dan pengurus SPPI
maka edukasi diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kebebasan berserikat dan
perlindungan hak berorganisasi dijamin dengan Undang-undang. Oleh karena itu Basic
Training menjadi aktifitas pertama yang dilakukan SPPI sedangkan jenis edukasi lainnya
seperti advokasi, TOT, negosiasi dan lain-lain porsinya semakin ditingkatkan. Edukasi yang
dilakukan ini ternyata cukup signifikan mendorong tubuhnya organisasi SPPI baik dari segi
jumlah anggotanya maupun dari segi aktivitas organisasinya.
Kekuatan, Keterbatasan, Peluang dan Resiko
Dimensi
Uraian
Kekuatan

Implikasi organisasi

Keanggotaan dan kepengurusan


Riil sampai ke bawah

Pemberdyaan dan efektivitas &


efisiensi pengorganisasian (local
union atau UPT)

Jumlah anggota besar

Pendayagunaan angota

Perangkat organisasi memadai

Sosialisasi

Dimensi

Uraian

Implikasi organisasi

Heterogen

Manajemen konflik dan


komunikasi

Memiliki jejaring kerja Internasional

Keselarasan program dan


keterampilan bahasa

Kompetensi pengurus belum


merata

Pelatihan

Pendanaan internal organisasi


kurang proposional

Proposional pendanaan internal

Kecukupan dana organisasi kurang


Kemandirian keuangan organisasi
Keterbatas memadai
an

Peluang

Komunikasi organisasi kurang real


time

Isi dan cara komunikasi

Cakupan organisasi luas

Prioritas dalam penguatan


organisasi (nasional)

Aturan operasional dari UU


ketenagakerjaan belum memadai

Kematangan dalam pola pikir dan


tindakan pengurus

Kontribusi SPPI dalam pembuatan


kebijakan Perusahaan

Soliditas organisasi dan kualitas


pengurus

Akselerasi proses pembelajaran


dari SP Internasional

Pemanfaatan program kerjasama


dan penguatan budaya lokal

Tumbuhnya kesadaran pemerintah


dan manajemen Perusahaan akan Program yang konstruktif
arti pentingnya SP

Resiko

Kemandirian keuangan organisasi


yang tidak memadai

Loyalitas individu dan konsolidasi


organisasi

Jumlah anggota besar dan tersebar

Metoda respon organisasi yang


real time

Pola kaderisasi

Kontinyuitas organisasi

Sampai disini jelaslah bagi kita, bagaimana organisasi SPPI dilahirkan dengan persiapan yang
tergolong cukup matang. Begitu pula pasca terbentuknya organisasi ini, ternyata seluruh
komponen khususnya para pengurus SPPI dengan segera mengembangkan dan mengelola
organisasi dengan baik dan dalam koridor yang tepat. Selain visi, tentu saja ada hal yang bisa
mendorong berlangsungnya organisasi sebagaimana mestinya, yakni militansi. Dengan

militansi, semua hambatan dan tantangan dihadapi dengan seksama. Walhasil organisasi ini
bisa eksis dan diperhitungkan banyak orang keberadaannya.
SASARAN DAN POKOK-POKOK PROGRAM SPPI
1. Sasaran

Bahan pencapaian tujuan SPPI dilakukan melalui pelaksanaan Kebijakan Pokok Program
secara bersungguh-sungguh dengan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai sasaran-sasaran
sebagai berikut:

Mantapnya SPPI sebagai wadah organisasi karyawan PT. Pos Indonesia


(Persero) sebagai organisasi karyawan yang semakin dewasa, mandiri,
mengakar, berkualitas sehingga mampu memperjuangkan aspirasi dan
hak-hak karyawan.

Mantapnya perkembangan organisasi SPPI di semua tingkatan.

Mantapnya Hubungan Industrial sebagai sarana untuk mewujudkan hak


pekerja, peningkatan kesejahteraan karyawan dan keluarganya.

Tingginya, semangat kerja anggota SPPI.

Sasaran sebagaimana dimaksud di atas diusahakan untuk dicapai keberhasilannya melalui


kegiatan-kegiatan yang terencana, terarah, terkoordinasi terus menerus.
2. Pokok-pokok Program

Program pembinaan wawasan ketenagakerjaan.

Program pembinaan dan Pengembangan Organisasi.

Program pendidikan dan Pelatihan.

Program peningkatan isi-isi Perjanjian Kerja Bersama.

Program pembinaan Hubungan Industrial dan Perlindungan Kerja.

Program pendanaan Organisasi.

Program pembinaan dan Pengembangan Wawasan Bisnis Perposan.

Program pembinaan Wawasan Kebangsaan dan Nasionalisme.

Program Pembinaan Jasmani dan Rohani.

Program pembinaan dan perlindungan hukum.

Program pengembangan ekonomi dan usaha.

3. Sasaran Pelaksanaan Program


A. Program Pembinaan wawasan ketenagakerjaan

Usaha-usaha dan kegiatan dari Program Pembinaan wawasan ketenagakerjaan, diutamakan


pada upaya meningkatkan wawasan masalah-masalah ketenagakerjaan, antara lain:

Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan dari program pembinaan wawasan


antara lain mantapnya pemahaman ketenagakerjaan anggota SPPI,
dengan menggalakkan pendidikan dan pelatihan.

Mendorong agar seluruh perangkat organisasi SPPI di semua tingkatan,


memiliki kerangka yang sama tentang pentingnya wadah Serikat Pekerja.

B. Program Pembinaan dan Pengembangan Organisasi

Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan dari program pembinaan dan pengembangan organisasi,


antara lain:

Menggerakkan dan mengembangkan organisasi SPPI sampai ke tingkat


DPC dengan pengelolaan secara kreatif, dinamis dan efektif.

Penataan dan pendayagunaan struktur, personalia serta mekanisme kerja.

Fungsionalisasi kepengurusan organisasi dari tingkat Pengurus Pusat,


Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang.

Penataan administrasi yang mampu mengembangkan program kerja.

Penataan administrasi yang mampu mengembangkan program kerja.

Penataan administrasi keanggotaan.

Penyediaan/penyempurnaan sarana organisasi.

Perlengkapan peralatan kesekretariatan Sistem Manajemen Organisasi.

Pemantapan dan Peningkatan Kaderisasi.

Pemantapan dan peningkatan kaderisasi menyentuh aspek-aspek


pemahaman kualitas ideologi wawasan kebangsaan, pembinaan watak
kepemimpinan dan keterampilan.

Pemantapan dan pengembangan kerjasama organisasi pekerja sejenis


yang bersifat internasional.

C. Program Pendidikan dan Pelatihan

Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan dari program pendidikan dan pelatihan, antara lain
ditujukan untuk:

Menata sistem penyelenggaraan program-program pendidikan/pelatihan,


workshop, seminar-seminar di bidang ketenagakerjaan.

Mengelola bahan-bahan materi atau buku diklat ketenagakerjaan,


khususnya untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia di sektor Postal.

Menggalakkan
organisasi.

Pendidikan dan pelatihan yang diadakan oleh SPPI harus tegas dan jelas
penjenjangannya.

Menyelenggarakan pelatihan dasar (Basic Training) tentang Serikat


Pekerja.

Menggalakan pelatihan bidang advokasi (Advocacy Training).

Kepesertaan seseorang dalam Diklat tersebut merupakan salah satu


pertimbangan untuk menduduki jabatan di organisasi SPPI.

dibentuknya

Perpustakaan

dan

menerbitkan

media

D. Program Pemasyarakatan Pembentukan Kesepakatan Kerja Bersama

Usaha-usaha dan kegiatan dari program pemasyarakatan pembentukan Kesepakatan Kerja


Bersama, antara lain:

Memperjuangkan semua hasil rekomendasi yang dihasilkan oleh sidang


pleno Munas II tahun 2003.

Memperjuangkan isi-isi PKB yang sampai saat ini belum terealisasi melalui
perundingan dengan manajemen.

E. Program Pendanaan Organisasi

Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan dari program pendanaan organisasi, antara lain ditujukan
untuk:

Untuk mendukung dana organisasi, perlu dibentuk Badan Usaha Produktif.

Membuka nomor rekening tersendiri untuk segala


pengeluaran uang organisasi lewat jasa perbankan.

Guna menjamin kepastian iuran anggota diterima tepat waktu, sistem


penyetoran iuran akan dilakukan secara langsung melalui Giropos.

Penggunaan Dana Organisasi yang masuk, diatur sebagai berikut:


o

30% untuk konsolidasi

30% untuk Kaderisasi/Pendidikan

25% untuk Apresiasi

15% untuk kesekretariatan

penerimaan/

Melakukan "Penggalangan Dana Satu Periode" SPPI (PDSP SPPI) untuk


keperluan biaya musyawarah cabang, musyawarah wilayah dan
musyawarah nasional.

F. Program lainnya

Usaha-usaha dan kegiatan dari Program Pembinaan wawasan ketenagakerjaan, diutamakan


pada upaya meningkatkan wawasan masalah-masalah ketenagakerjaan, antara lain:

Pengajuan
karyawan.

usulan

pemberian

tunjangan

Pengajuan usulan aturan kenaikan pangkat reguler kepada karyawan yang


sudah tujuh tahun dalam pangkatnya dan mengkaji aturan
kepegawaiannya.

Pengajuan usulan penjualan sepeda motor eks dinas diprioritaskan kepada


pengguna yang bertalian, yang belum mendapatkan.

Membuat kajian pemberian klaim sumbangan kematian atas Iuran Dana


Kematian.

Membuat studi kelayakan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) untuk


dibandingkan dengan Asuransi Multiguna Sejahtera.

Merencanakan membentuk
program Rightsizing.

Berperan serta memberikan masukan kepada manajemen untuk peluang


peningkatan pendapatan, antara lain penggarapan peluang pasar surat
industri.

Tim

Konseling

keluarga

dalam

kepada

rangka

seluruh

antisipasi

KONTRIBUSI SPPI TERHADAP PERUSAHAAN


MUNAS SEBAGAI AJANG EVALUASI

Waktu terus berlalu hingga akhirnya sampailah SPPI pada penyelenggaraan Musyawarah
Nasional II. Munas ini berlangsung pada 21-23 Juli 2003 di Yogyakarta. Sebagaimana
ditetapkan dalam AD/ART SPPI, Munas adalah pemegang kedaulatan dan kekuasaan
tertinggi di tingkat nasional. Munas diselenggarakan antara lain untuk (a) menetapkan dan
mengubah AD/ ART, (b) menilai laporan pertanggung jawaban DPP SPPI, (c) menetapkan
Visi, Misi dan Kebijakan Pokok Program SPPI, (d) menyusun dan menetapkan rekomendasirekomendasi, dan (e) memilih dan menetapkan Ketua Umum DPP SPPI.
Berdasarkan evaluasi terhadap kinerja DPP SPPI sebelumnya, maka Munas menetapkan
pokok-pokok program untuk periode kepengurusan berikutnya. Dalam kaitan itu dari Munas
II di Yogyakarta tersebut, disajikan pula berikut ini pokok-pokok program yang harus
dilaksanakan para pengurus periode berikutnya dibawah kepemimpinan Ketua Umum
terpilih.

Dari Yogyakarta antara lain dihasilkan Kebijakan Pokok Program Serikat Pekerja Pos
Indonesia Periode 2003-2007. Pokok Program SPPI tersebut dikutip secara lengkap disini
semata-mata untuk memperlihatkan sistematika pola pikir yang berkembang di lingkungan
SPPI. Menggali Militansi Merancang Eksistensi
PENUTUP
1. Pelaksanaan program ini menjadi tanggung jawab Pengurus Pusat Serikat
Pekerja Pos Indonesia yang dalam pelaksanaannya melibatkan seluruh
jajaran organisasi anggota dan segenap keluarga besar SPPI baik di Pusat
maupun di Daerah.
2. Pengurus Pusat Serikat Pekerja Pos Indonesia menetapkan penjabaran
Program Umum ini ke dalam bentuk Program Kerja Organisasi dan
Petunjuk Pelaksanaannya yang bersifat mengikat.

3.

Serikat Pekerja Pos Indonesia


Reformasi (SPPI-R)

4. Written by Super User on 20 March 2011. Posted in Profil Perusahaan

5. Joomla
Joomla
6. Wordpress
Wordpress
7. DEKLARASI
Atas
Berkat
Rahmat
Tuhan
Yang
Maha
Esa,
Pada hari ini Jumat, tanggal dua puluh empat bulan lima tahun dua ribu dua,
bertempat di Bandung, kami wakil pekerja yang hadir di Musyawarah Serikat pekerja
Pos Indonesia Reformasi , mendeklarasikan dan menyatakan hal-hal sebagai berikut :
PERTAMA
Pekerja PT.Pos Indonesia (Persero) menyatakan sikap untuk membentuk wadah
kebersamaan yang didasari dengan semangat persatuan dan kerukunan.
KEDUA
Mendirikan Serikat Pekerja Pos Indonesia Reformasi di PT.Pos Indonesia (Persero)
yang akan memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan anggota melalui kerja
keras dan cerdas guna meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan.
KETIGA
Serikat Pekerja Pos Indonesia Reformasi merupakan organisasi yang terbuka,
mandiri, bertanggung jawab, demokratis, bebas dan tidak berafiliasi dengan partai
politik dan organisasi kemasyarakatan.
KEEMPAT
Serikat Pekerja Pos Indonesia Reformasi merupakan mitra Perusahaan yang akan
menjalin hubungan industrial yang harmonis dan saling menghormati kewenangan
masing-masing pihak.
KELIMA

Serikat Pekerja Pos Indonesia Reformasi dalam menegakkan keadilan dan kebenaran
selalu mempertimbangkan peraturan perundangan yang berlaku dan peraturan
organisasi serta akan menggunakan cara-cara yang santun dan terhormat.
KEENAM
Kepengurusan SPPI Reformasi dipilih dari dan oleh anggota berdasarkan asas
musyawarah mufakat dan terbuka untuk semua anggota sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

Badan Afiliasi

Written by Super User on 15 March 2011. Posted in Profil Perusahaan


Joomla
Joomla
Wordpress
Wordpress
YAYASAN
Dana Pensiun Pos (Dapenpos)

Keputusan Direksi PT. Pos Indonesia (Persero), Pendiri Dana Pensiun Pos Indonesia Nomor :
KD 53/Dirut/1204 tanggal 6 Desember 2004 tentang Peraturan Dana Pensiun Pos Indonesia
pada pasal 12 ayat (7) menyatakan bahwa salah satu tugas dan kewajiban Pengurus adalah
Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dapenpos yang didalamnya juga memuat
Rencana Investasi Tahunan.
Rencana Kerja dan Anggaran Dapenpos tahun 2007 disusun dengan tetap berpedoman pada
Sasaran Pokok Dapenpos yaitu mempercepat pencapaian Rasio Kecukupan Dana lebih dari
100% serta memperhatikan visi dan misi Dapenpos maupun Arahan Investasi Dana Pensiun
Pos Indonesia yang dituangkan dalam Keputusan Direksi PT. Pos Indonesia (Persero) selaku
Pendiri Dapenpos No. KD.40/Dirut/0606.
VISI dan MISI
Visi
Menjadikan Dapenpos sebagai pengelola Program Pensiun Manfaat Pasti
yang profesional yang mampu memberikan kepuasan dan nilai tambah
bagi Peserta, Pendiri, Karyawan dan Mitra Kerja.
Misi

Mengelola pembayaran manfaat pensiun berkala tepat waktu, tepat


jumlah dan tepat penerima.

Mengelola dana yang berasal dari Peserta dan Pendiri dengan


pertumbuhan yang dinamis dalam upaya memperbaiki penghasilan
Peserta dan meringankan kewajiban Pendiri.

Turut serta membangun semangat kerja dan ikatan yang lestari


diantara para Peserta.

Sasaran Pokok

Pengelolaan Dana Pensiun Pos Indonesia berorientasi pada sasaran pokok, yaitu:
1. Mempercepat pencapaian dana terpenuhi (fully funded) dengan Rasio
Kecukupan Dana 100% atau lebih.
2. Penyempurnaan pengelolaan Dana Pensiun Pos Indonesia.
Sasaran Rencana Kerja dan Anggaran Tahun 2007

Dalam upaya mencapai Sasaran Pokok tersebut di atas, dengan melihat kondisi makro dan
mikro ekonomi pada umumnya serta hasil evaluasi kinerja tahun 2006, maka ditetapkan
sasaran Rencana Kerja dan Anggaran tahun 2007 adalah:

Implementasi strategi investasi berupa pencapaian hasil investasi sebesar


12,93%.

Optimalisasi hasil usaha dan pemberdayaan unit usaha.

Strategi Operasional

Untuk mencapai sasaran Rencana Kerja dan Anggaran Tahun 2007 tersebut, maka ditetapkan
strategi operasional sebagai berikut:

Optimalisasi struktur portofolio investasi.

Peningkatan kualitas tata kelola dan kompetensi SDM.

Pembangunan dan pengembangan kesisteman Dapenpos.

POLITEKNIK POS INDONESIA (POLTEKPOS)


http://www.poltekpos.ac.id/
Globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat menuntut tersedianya tenaga ahli yang
terampil dan profesional dalam mengelola industri. Kebutuhan akan tenaga terampil dan

profesional tersebut merupakan tugas bagi semua pihak khususnya bagi dunia pendidikan
untuk memenuhinya. Meskipun secara kuantitatif cukup banyak lembaga yang bergerak di
dunia pendidikan, namun lembaga yang menyelenggarakan pendidikan di jalur profesional
relatif masih sangat kurang jika di bandingkan dengan kebutuhan dunia industri. Terlebih jika
dikaitkan dengan kualitas lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan di jalur
pendidikan profesional tersebut, masih sangat terbatas jumlah lembaga pendidikan mampu
menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan kalangan industri.
Menyadari akan kebutuhan kalangan industri terhadap kebutuhan akan tenaga-tenaga
profesional yang begitu besar, minat masyarakat khususnya calon mahasiswa untuk
mengikuti jenjang pendidikan profesional juga cenderung meningkat. Peningkatan tersebut
dikarenakan masyarakat, meskipun pelan, mengalami perubahan pandangan terhadap
pendidikan yang berorientasi gelar ke pendidikan profesional. Indikasi dari tingginya minat
ini adalah jumlah calon mahasiswa yang melamar untuk menjadi mahasiswa ke jenjang
pendidikan profesional seperti Politeknik begitu besar sehingga banyak yang tidak
tertampung karena terbatasnya fasilitas yang ada. Oleh karenanya, tenaga terampil dan
profesional tersebut, khususnya di Indonesia, dirasakan masih sangat kurang.
Dengan memperhatikan perkembangan tersebut serta ketersediaan sarana maupun prasarana
yang dimiliki, PT Pos Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dalam industri
perposan ikut tergerak untuk memberikan kontribusi pada dunia pendidikan. Untuk
mewujudkan sumbangsihnya bagi dunia pendidikan, maka didirikanlah Yayasan Pendidikan
Bhakti Pos Indonesia yang kegiatannya antara lain: menyelenggarakan pendidikan, pelatihan
dsb. Politeknik Pos Indonesia merupakan institusi yang pertama yang didirikan oleh Yayasan
Pendidikan Bhakti Pos Indonesia pada tanggal 5 Juli 2001 berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 56/D/O/2001 Pemberian Ijin pendirian Politeknik Pos
Indonesia adalah pada jalur pendidikan Diploma III untuk jurusan Teknik Informatika,
Manajemen Informatika, Akuntansi, Pemasaran dan Logistik Bisnis.
Visi
Politeknik Pos Indonesia bertujuan menjadi sebuah penyelenggara
pendidikan terkemuka yang menghasilkan sumber daya manusia
profesional yang berketerampilan tinggi untuk solusi bisnis total. Politeknik
Pos Indonesia membangun kredibilitas dibidang Teknologi Postal dan Total
Logistiknya melalui proses pembelajaran yang berkualitas, pnenelitian
terapan, dan pengabdian masyarakat.
Misi
1. Berkomitmen pada kualitas pendidikan untk menghasilkan para
lulusan terbaik guna mendukung industri postal dan logistik
khususnya, dan industri pada umumnya.
2. Melaksanakan penelitian terapan dan pengembangan Teknologi
Postal dan Total Logistik untuk meningkatkan perkembangan
ekonomi.

3. Berperan serta dalam pengembangan sosial dan ekonomi untuk


mendukung perusahaan perusahaan kecil dan menengah agar
dapat bertahan dalam kompetisi nasional.
Tujuan
1. Menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan atau profesional dalam
pengembangan/penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau
seni.
2. Mengembangkan dan menyebarluaskan penerapan ilmu
pengetahuan, teknologi dan atau seni, serta mengupayakan
penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat
dan kesejahteraan umat manusia.
3. Menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan jangka pendek untuk
kepentingan masyarakat maupun kalangan industri/usaha.

http://www.posindonesia.co.id/index.php/profil-perusahaan/organisasi/anakperusahaan