Anda di halaman 1dari 8

1.

Populasi :

Sejumlah besar subyek yang memunyai karakteristik tertentu.

Keseluruhan obyek enelitian atau obyek yang diteliti.

2.

Sample : Salah satu bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili populasi tersebut

3.

Criteria inklusi :

4.

karakteristik umum subyek penelitian pada populasi target dan terjangkau.


Criteria ekslusi :

5.

Suatu hal yang menyebabkan sebagian subyek yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari study.
Instrumen :

6.

Proses pemilihan atau pengembangan metode dan alat ukur yang tepa dalam rangka pembuktian kebenaran hipotesis
Valid :

7.

Instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang akan di ukur
Reliabel

Instrumen sebagai alat ukur dapat memperoleh hasil ukur yang konsisten/tetap.

POPULASI dan SAMPLE


1.
Macam-macam populasi
a.

Populasi target

Populasi yang merupakan sasaran akhir penerapan hasil penelitian.


b.
Populasi terjangkau
Bagian dari populasi target yang dapat dijangkau oleh peneliti,atau dengan kata lain yang dibatasi oleh tempat dan waktu.
(Sudigdo Sastroasmoro,Dasar dasar metodologi penelitian klinis)
2.

Macam-macam sample

a.
Sample yang dikehendaki merupakan bagian populasi target yanga akn diteliti secara langsung. Criteria ini meliputi
subyek yang memenuhi criteria pemilihan baik inklusi maupun eksklusi.
b.
Subyek yang diteliti adalah subyek yang benar ikut serta dan diteliti; merupakan bagian dari sample yang
dikehendaki dikurangi dengan drop out, pasiien yang kemudian menolak berpartisipasi.
SUMBER : DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN KLINIS, SUDIGDO SASTROASMORO-SOFYAN ISMAEl
3.

Langkah-langkah dalam menentukan subyek penelitian

Dalam menetapkan subyek penelitian ada 3 pengertian :


Penetapan populasi penelitian

Ditetapkan populasi yang akan diteliti, dan harus relevan terhadap permasalahan penelitian, sehingga dapat menjawab permasalahan
penelitian dan membuktikan kebenaran hipotesis yang dirumuskan secara valid.
Penetapan cara pemilihan sampel

Dalam pemilihan sampel harus memperhatikan cara yang akan digunakan, dan cara yang digunakan tsb harus dapat memberikan sampel
yang representatif terhadap populasi penelitian, sehingga data yang diperoleh valid, dengan data yang valid, maka diharapkan akan
didapatkan jawaban permasalahan penelitian yang valid juga.
Penetapan besar sampel
Besar sampel berpengaruh terhadap hasil penelitian, maka dalam menentukan subyek penelitian juga harus ditetapkan besar sampel yang
akan digunakan dalam penelitian sesuai dengan jenis dan desain penelitian yang dilakukan.
(Pratiknya, AW., 2003. Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran Ed.1 Cet. 5. Jakarta; PT RajaGrafindo Persada)
4.

Pertimbangan dalam menetapkan populasi

Pertimbangan keterkaitan atau ketergayutan subyek dalam populasi dengan permasalahan penelitian.

Pertimbangan ini terutama menyangkut substansi atau ikhwal yang akan diteliti. Pertanyaan yang perlu dijawab dalam rangka pertimbangan
tersebut ialah : apakah dengan memilih populasi yang dimaksud inti permasalahan dapat terjawab?
Pertimbangan yang menyangkut prosedur atau jenis penelitian yang dilakukan.
Pertimbangan ini terutama menyangkut aspek teknik metodologik, maksudnya ialah apakah variabel-variabel penelitian yang akan
dimunculkan atau diukur dengan menggunakan teknik penelitian (eksperimental atau non-eksperimental) dapat diperoleh dari subyek dalam
populasi yang dimaksud?
(Pratiknya, AW., 2003. Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran Ed.1 Cet. 5. Jakarta; PT RajaGrafindo Persada)

Membatasi populasi

Apabila tidak dilakuakn pembatasan-pembatsan terhadap populasi, maka kesimpulan yang ditarik dan hasil penelitian tidak menggmabarkan
atau mewakili seluruh populasi. Taanpa pembatsana dengan jelas anggota populasi, kita tidak memperoleh sampel yang representatif
Mendaftar seluruh unit yang menjadi anggota populasi

Seluruh unit yang menjadi anggota populasi dicatat secara jelas sehingga dapat diketahui unit-unit yang termasuk pada populasi dan unit
mana yang tidak
Menentukan sampel yang akan dipilih

Dari anggota populasi diatas, kemudian dipilih anggota 2 populasi yang kan dipilh sebagai sampel. Besarnya atau banyaknya anggota yang
akan dijadikan sampel memrlukan perhitungan tersendiri
Menentukan teknik sampling
Teknik pengambilan sampling ini sangat penting, karean apabila salah dalam menggunakan teknik sampling maka hasilnya pun akan jauh
dari kebenaran.
Soekidjo
5.
a.

Keuntungan sample
Menghemat biaya

Dengan sampling, dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebagian populasi sehingga biaya tersebut dapat ditekan atau dikurangi.
b.
Mempercepat pelaksanaan penelitian
Penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel (sebagian populasi saja) akan lebih cepat selesai
c.
Menghemat tenaga
Penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel lebih menghemat biaya
d.
Memperluas ruang lingkup penelitian
Penelitian yang dilakukan terhadap sampel maka dengan waktu, tenaga, dan biaya yang sama dapat dilakukan penelitian yang lebih luas
ruang lingkupnya
e.
Memperoleh hasil yang lebih akurat
Penelitian yang dilakukan terhadap populasi akan menyita sumber-sumber daya yang lebih besar termsuk usaha-usaha analisis. Hal
tersebut berpengaruh terhadap keakuratan hasil penelitian. Dengan menggunakan sampel, maka dengan usaha yang sama akan diperoleh
hasil analisis yang lebih akurat
Soekidjo Notoatmodjo. Metodologi penelitian kesehatan.2002

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Lebih murah
Lebih mudah
Lebih cepat
Lebih akurat
Mewakili populasi
Lebih spesifik
(Sumber: Soedigdo Sastroasmoro)
Untuk mengatasi keterbatasan peneliti (baik yang menyangkut waktu, kemapuan, dana, keterbatasan metodologik, maupu keterbatasan
lain) dalam mencoba mengeksplorasi informasi dari semua subjek.
Pratiknya, Ahmad Watik.2003. Dasar Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Rajawali Pers

6.

Hubungan antara populasi dan sample

Sample penelitian merupakan representasi populasi yang dijadikan sumber informasi, penggunaan sample dimaksudkan untuk mengatasi
keterbatasan peneliti
7.

Cara pemilihan sample

Pada garis besarnya hanya ada duajenis sampel, yaitu sampel probabilitas (probability samples) atau sering disebut random sample
(sampel acak) dan sampel non-probabilitas (non probability samples).
A. Random Sampling
Pengambilan sampel secara random atau acak disebut random sampling, dan sampel yang diperoleh disebut sampel random. Teknik
random sampling ini hanya boleh digunakan apabila setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogen. Hal ini berarti setiap anggota
populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Teknik random sampel ini dapat dibedakan menjadi:
Pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple random sampling).

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hakikat dan pengambilan sampel secara acak sederhana adalah bahwa setiap anggota atau unit dan populasi mempunyai kesempatan
yang sama untuk diseleksi sebagai sampel.
Pengambilan sampel secara acak sistematis (Systematic sampling)
Teknik ini merupakan modifikasi dari sampel random sampling. Caranya adalah, membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan
jumlah sampel yang diinginkan. Hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi
secara acak antara 1 sampai dengan n. Kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan
Pengambilan sampel secara acak stratfikasi (stratified sampling atau stratified random sampling)
Langkah-langkah yang diternpuh pengambilan sampel secara stratified adalah:
Menentukan populasi penelitian.
Mengidentifikasi segala karakteristik dari unit-unit yang menjadi anggota populasi.
Mengelompokkan unit anggota populasi yang rnempunyai karakteristik umum yang sama dalarn suatu kelompok atau strata misalnya
berdasarkan tingkat pendidikan.
Mengambil dari setiap strata sebagian unit yang menjadi anggotanya untuk mewakili strata yang bersangkutan.
Teknik pengambilan sampel dari masing-masing strata dapat dilakukan dengan cara random atau non-random.
Pengambilan sampel dari masing-masing strata sebaiknya dilakukan berdasarkan perimbangan (proporsional).

Pengambilan sampel secara kelompok atau gugus (cluster sampling)


Pada teknik ini sampel bukan terdiri dan unit individu, tetapi terdiri dari kelompok atau gugusan. Gugusan atau kelompok yang diambil
sebagai sampel ini terdiri dari unit geografis (desa, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya), unit organisasi, misalnya klinik, PKK, LKMD,
dan sebagainya. Pengambilan sampel secara gugus, peneliti tidak mendaftar semua anggota atau unit yang ada di dalam populasi,
melainkan cukup mendaftar banyaknya kelompok atau gugus yang ada di dalam populasi itu. Kemudian mengambil sampel berdasarkan
gugus-gugus tersebut.
Pengambilan sampel secara gugus bertahap (multistage sampling)
Pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara bertahap. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan
bila populasi terdiri dari bermacam-macam tingkat wilayah. Pelaksanaannya dengan membagi wilayah populasi ke dalam sub-sub wilayah,
dan tiap sub wilayah dibagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan seterusnya. Kemudian menetapkan sebagian dari wilayah populasi
(sub wilayah) sebagai sampel. Dari sub wilayah yang menjadi sampel ditetapkan pula bagian-bagian dari sub wilayah sebagai sampel, dan
dari bagian-bagian yang lebih kecil tersebut ditetapkan unit-unit yang terkecil diambil sebagai sampel.
B. Non Random (Non Probability) Sampling
Pengambilan sampel bukan secara acak atau random adalah pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan yang dapat
diperhitungkan, tetapi semata-mata hanya berdasarkan kepada segi-segi kepraktisan belaka. Metode ini mencakup beberapa teknik antara
lain sebagai berikut :
1) Porposive Sampling
Pengambilan sampel secara porposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkah ciri atau
sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
2) Quota Sampling
Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quotum atau jatah.Teknik sampling
ini dilakukan dengan cara: Pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah).
Kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Anggota populasi mana pun yang
akan diambil tidak menjadi soal, yang penting jumlah quotum yang sudah ditetapkan dapat dipenuhi.
3) Accidental Sampling
Pengambilan sampel secara aksidental (accidental) ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau
tersedia. Bedanya dengan porposive sampling adalah, kalau sampel yang diambil secara poposive berarti dengan sengaja mengambil atau
memilih kasus atau responden. Sedangkan sampel yang diambil secara aksidental berarti sampel diambil dan responden atau kasus yang
kebetulan ada.
(Notoatmodjo, S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta:
Rineka Cipta)

8.

Bagaimana menetapkan sample penelitian agar valid


Tergantung akurasi dan ketelitian.
Akurasi adalah sejauh mana sampel tidak dipengaruhi bias. Dan sampel yang diambil adal seimbang dari keseluruhan elemen dalam

populasi.
Ketelitian adl ketelitian estimasi yang biasa diukur dengan standar kesalahan estimasi dengan standar pengukuran defiasi.

9.

Bagaimana cara pemilihn sample penelitian agar representatif

Homogenitas populasi

o Makin homogen distribusi atau keadaan karakter subyek dalam suatu populasi maka makin mudah dicapai representativitas sampel.
o Misal : distribusi eritrosit dalam darah sedemikian homogen, sehingga dari tiap tetes darah yang diambil dari bagian tubuh manapun akan

diperoleh angka-angka yang sama, sebaliknya kita ketahui bahwa tempat tinggal penduduk kaya dan miskindi suatu daerah tidak
terdistribusi secara merata, maka pemilihan sampel pada tiap bagian daerah tidak akan menggambarkan distribusi kaya dan miskin yang
sama.
Jumlah (besar) sampel yang dipilih
Makin banyak subyek yang dijadikan sampel (makin besar ukuran sampel) maka makin tinggi tingkat representativitasnya.
Banyaknya karakteristik subyek yang akan dipelajari
Makin banyak karakteristik subyek yang dipelajari, yang secara praktis berarti makin banyak variabel yang akan diteliti, mengakibatkan

keadaan populasi makin kurang homogen sebab masingmasing variabel mempunyai distribusinya sendiri dalam subyek populasi.

Adekuatitas teknik pemilihan sampel


o Teknik pemilihan sampel yang adekuat ialah : teknik pemilihan subyek-subyek penelitian yang sesuai dengan (mengacu pada) keadaan
populasi.
o Yang dimaksud keadaan populasi ialah : menyangkut kondisi dan batas-batas populasi sebagaimana telah dibahas didepan.
o Adekuatitas teknik pemilihan sampel dapat dicapai dengan memilih rancangan sampel (sampling designs) yang tepat.
(Pratiknya, AW., 2003. Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran Ed.1 Cet. 5. Jakarta; PT RajaGrafindo Persada)

10.

Bagaimana cara menentukan besar sample penelitian

3 faktor yang perlu dipertimbangkan dlam menentukan besar sample :


Berapa derajad kepersisan yang dibutuhkan antara sample dengan populasi?
Berapa besar variablitas populasi?
Rancangan sample apa yang digunakan?

Perkiraan besar sampel dapat dilakukan dengan berbagai cara, dasar yang digunakan untuk estimasi bergantung pada tujuan
penelitian serta desain yang dipilih.
Besar sampel untuk data numerik :
A. Sampel tunggal
1. Sampel tunggal untuk perkiraan rerata
a.
Dengan ketepatan absolut
Penetapan besar sampel untuk estimasi rerata (mean) suatu populasi (studi deskriptif / survei) dengan tingkat kepercayaan absolut
memerlukan 3 informasi, yakni :
Simpang baku nilai rerata dalam populasi S (dari pustaka)
Tingkat ketepatan absolut yang diinginkan d (ditetapkan oleh peneliti)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)

b.

Rumus yang digunakan :


n = [Z x S]2
atau n = [2 Z x S]2
w = 2d
d2
w2
Dengan menggunakan ketepatan relatif
Untuk ini diperlukan 4 informasi :
Simpang baku populasi standar S (dari pustaka)
Tingkat ketepatan relatif yang diperkenankan e (ditetapkan oleh peneliti)
(ditetapkan oleh peneliti)
nilai rerata populasi standar XO (dari pustaka)
Rumus yang digunakan :
d = eX x XO

2.

B.
1.

n = [Z x S]2
[eX x XO]2

Sampel tunggal dengan uji hipotesis


Untuk estimasi besar sampel tunggal variabel numerik dengan uji hipotesis (studi analitik) diperlukan 4 informasi :
Simpang baku populasi standar S (dari pustaka)
Perbedaan klinis yang diinginkan Xa XO (clinical judgment)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
Power penelitian Z (ditetapkan oleh peneliti)
Rumus yang digunakan :
n = [(Z + Z) S]2
(Xa XO)2
Dua kelompok independen (tidak berpasangan)
Perkiraan beda rerata 2 populasi
Untuk ini diperlukan 3 informasi penting, yaitu :

Simpang baku pada 2 kelompok S (dari pustaka)


Tingkat ketepatan absolut dari beda nilai rerata d (ditetapkan oleh peneliti)
Z (ditetapkan oleh peneliti)

Bila n1 = n2, rumus yang digunakan :


n = 2 [Z x S]2
d2
Uji hipotesis terhadap rerata dua populasi
Dua kelompok independen
Untuk memperkirakan besar sampel dari 2 kelompok independen dengan uji hipotesis diperlukan 4 informasi penting, yaitu :
Simpang baku kedua kelompok S (dari pustaka)
Perbedaan klinis yang diinginkan X1 X2 (clinical judgment)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
Power atau Z (ditetapkan oleh peneliti)

Rumus yang digunakan :


n1 = n2 = 2 [(Z + Z) S]2
(X1 X2)2
Dua kelompok berpasangan
Informasi yang diperlukan berbeda dengan untuk dua kelompok independen, yaitu :
Selisih rerata kedua kelompok yang bermakna d (clinical judgment)
Simpang baku dari selisih rerata Sd (dari pustaka atau clinical judgment)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
(ditetapkan oleh peneliti)

2.

Rumus yang digunakan :


n = [(Z + Z) x Sd]2
d2
Besar sampel untuk data nominal :
A. Sampel tunggal
1. Sampel tunggal untuk estimasi proporsi suatu populasi
a.
Dengan mengunakan ketepatan absolut
Seperti halnya dengan data numerik, estimasi besar sampel untuk proporsi suatu populasi memerlukan 3 informasi, yaitu :
Proporsi penyakit / keadaan yang akan dicari P (dari pustaka)
Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki d (ditetapkan oleh peneliti)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)

b.

2.

B.
1.

Untuk simple random sampling rumus yang digunakan :


n = Z 2 PQ
catatan : Q = (1 P)
d2
Rumus ini hanya berlaku bila proporsi (P) > 0,10 atau < 0,90 dan perkalian besar sampel (n) dengan proporsi : n x P dan n x Q, keduanya
harus menghasilkan angka > 5. bila menggunakan lebar kepercayaan (w), w = 2d, maka :
n = 4 Z 2 PQ
w2
Dengan menggunakan ketepatan relatif
Seperti halnya pada ketepatan absolut, untuk ketepatan relatif diperlukan 3 informasi, yaitu :
Proporsi penyakit atau keadaan yang akan dicari P (dari pustaka)
Tingkat ketepatan relatif yang dikehendaki e (dari pustaka)
Z (ditetapkan oleh peneliti)
Pada simple random sampling, rumus yang digunakan :
n = Z2 Q
d = Z PQ/n
d=exP
e2P
Sampel tunggal untuk uji hipotesis proporsi suatu populasi
Untuk menguji hipotesis terhadap proporsi suatu populasi diperlukan 3 informasi penting, yaitu :
Masing-masing proporsi PO (dari pustaka) dan Pa (clinical judgment)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
Power atau Z (ditetapkan oleh peneliti)
Rumus yang digunakan :
n = [Z PoQo + Z PaQa]2
(Pa Po)2
Dua sampel
Estimasi perbedaan 2 proporsi
Untuk mengestimasi perbedaan dua proporsi diperlukan 3 informasi, yaitu :

2.

1.

2.

1.
a.

Proporsi standar P1 (dari pustaka), dan proporsi yang diteliti P2(clinical judgment)
Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki d (ditetapkan oleh peneliti)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
Rumus yang digunakan :
n1 = n2 = Z2 (P1Q1 + P2Q2)
d2
Uji hipotesis terhadap 2 proporsi
n1 = n2 = [Z 2PQ + Z P1Q1+P2Q2]2
(P1 P2)2
Besar sampel untuk studi kohort :
Pada studi kohort peneliti bermaksud mencari perbandingan insidens efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan insidens efek pada
kelompok tanpa risiko. Besar sampel dihitung pada studi kohort dengan pembanding eksternal (studi kohort ganda). Untuk studi kohort
dengan pembanding internal perlu perkiraan pasien yang akan terpajan faktor risiko. Bila insidens efek pada kelompok dengan faktor risiko =
P1 dan insidens efek pada kelompok tanpa risiko = P2, maka RR = P1/P2. Dari 3 parameter tsb cukup ditentukan 2 parameter saja.
Estimasi interval kepercayaan risiko relatif
Untuk estimasi besar sampel suatu studi kohort dengan interval kepercayaan terhadap risiko relatif diperlukan 3 informasi, yaitu :
Perkiraan proporsi efek pada kelompok kontrol P2 (dari pustaka)
Risiko relatif yang bermakna secara klinis RR (clinical judgment); dengan P2 dan RR dapat dihitung proporsi efek pada kelompok studi, P 1
Tingkat ketepatan relatif yang dikehendaki e (ditetapkan oleh peneliti)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
Rumus yang digunakan :
n1 = n2 = Z2 (Q1/P1 + Q2/P2)
[ln(1 e)]2
Uji hipotesis terhadap risiko relatif
Dalam hal ini yang dihadapi sama dengan uji klinis dengan variabel bebas dan tergantung nominal dikotom, diperlukan informasi :
Proporsi efek pada kelompok tanpa faktor risiko P2 (dari pustaka)
Risiko relatif (RR) yang dianggap bermakna secara klinis (clinical judgment); dari P 2 dan RR dapat dihitung P1 dan P = (P1+P2)
Z (ditetapkan oleh peneliti)
Z (ditetapkan oleh peneliti)
Meskipun peneliti mempunyai dugaan kuat bahwa insidens efek lebih banyak terjadi pada kelompok dengan faktor risiko dibanding dengan
pada kelompok tanpa faktor risiko, seyogyanya tetap dipakai uji hipotesis 2 arah.
n1 = n2 = [Z 2PQ + Z P1Q1+P2Q2]2
(P1 P2)2
Besar sampel untuk studi kasus kontrol :
Pada studi kasus kontrol peneliti menggunakan rasio odds (RO) sebagai perkiraan hasil yang diinginkan; dengan demikian apabila P 1 =
proporsi kasus dan P2 = proporsi kontrol, maka :
OR = P1 x (1 - P2)
P1 =
P1
P1 = OR x P2
P2 x (1 P1)
OR(1 P1) + P1
(1 P2)+(OR x P2)
Studi case-control tidak berpasangan
Estimasi interval kepercayaan rasio odds
Untuk estimasi interval kepercayaan rasio odds diperlukan 4 informasi, yaitu :
Perkiraan proporsi kontrol P1 (dari pustaka)
Rasio odds yang dianggap bermakna (clinical judgment)
Tingkat ketepatan relatif yang dikehendaki e (ditetapkan oleh peneliti)
Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)

Rumus yang digunakan :


n = Z2 [1/(Q1P1 + 1/Q2P2)]
[ln(1 e)]2
Uji hipotesis terhadap rasio odds
Untuk uji hipotesis terhadap rasio odds pada dasarnya sama dengan uji klinis pada variabel bebas beskala nominal dikotom dan variabel
efek berskala nominal dikotom. Untuk ini diperlukan informasi :
Perkiraan proporsi efek pada kontrol, P2 (dari pustaka)
Rasio odds yang dianggap bermakna secara klinis (clinical judgment); dari 1 dan 2 dapat dihitung proporsi efek pada kelompok kasus (P 1),

dan nilai P = (P1+P2)


Tingkat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti)
Power atau Z (ditetapkan oleh peneliti)

b.

Untuk uji hipotesis hendaknya dipilih uji 2-arah. Rumus yang digunakan adalah rumus seperti pada uji perbedaan 2 proporsi :
n1 = n2 = [Z 2PQ + Z P1Q1+P2Q2]2
(P1 P2)2

2.

studi case-control berpasangan


pada studi case-control yang berpasangan digunakan rumus :
n = [Z/2 + Z PQ]2
P=R
(P )
(1+R)
(Sastroasmoro S., Ismael S., 2002. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta; Sagung Seto)

11.

Acuan dalam rancangan sample

INSTRUMEN
1.
Bagaimana instrumen yang baik dalam penelitian

Reliable : Suatu pengukuran disebut andal, apabila ia memberikan nilai yang sama ataupun hampir sama apabila pemeriksaan dilakukan

berulang-ulang.
Valid : Menunjukkan berapa dekat alat ukur menyatakan apa yang seharusnya diukur.
Objektivitas : pengukuran yang dilakukan benar2 terbebas dari bias peneliti, sehingga menghasilakn data menurut apa adanya
(Pratiknya, A. W., 2003, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Cetakan III, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta)
2.

Apa yang harus diperhatikan dalam penggunaan instumen

Dipilih alat yang sudah dibakukan


Dilakukan peneraan lebih dulu
Dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas
Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, Dr.Ahmad Watik,2003
3.

Hubungan antara validitas dan reliabilitas

4.

Uji validitas dan reliabilitas

5.

Macam-macam validitas

internal

suatu penelitian menunjukkan apakah hasil studi bebas dari kesalahan acak, bias, dan factor perancu.

eksternal
menunjukkan berapa baik hasil penelitian tersebut dapat diterapkan di kelompok yang lebih luas.
DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN KLINIS. DR. SUDIGDO.2002
Validitas interna adalah generalisasi dari sampel yang diperoleh terhadap sampel yang diinginkan. Validitas ini dapat diuji dengan uji statistic
tertentu atau dengan meminimalisir angka drop out.
Validitas eksterna I adalah generalisasi sampel yang diperoleh terhadap populasi terjangkau. Validitas ini baik bila besar sampel cukup dan
cara pengambilan sampel yang digunakan menggunakan metode probabilistik.
Validitas eksterna II adalah generalisasi dari populasi terjangkau terhadap populasi target.
Besar Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, dr Sopiyudin Dahlan, 2006

6.

Faktor yang mempengaruhi validitas pengukuran dan penelitian

Validitas pengukuran

Adekualitas rancangan penelitian

Analisis data

Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, Dr.Ahmad Watik,2003


7.

Ciri-ciri reliabilitas dan validitas

Ciri validitas :
Ketepatakuratan

Ketepatakuratan disini berarti, disamping secara tepat mengukur apa yang memang akan diukur (sensitifitas), juga dengan pengukuran
tersebut tidak terukur hal lain yang selain yang akan diukur (spesifitas).
Ketelitian, Kecermatan
Sedangkan ciri ketelitian adalah penggambaran bahwa pengukuran yang dilakukan memenuhi syarat reliabilitas.

Ciri reliabilitas :
Konsistensi atau stabilitas
Ketepatan
ketelitian
Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, Dr.Ahmad Watik,2003