Anda di halaman 1dari 14

KONSEP DASAR HEMODIALISA

A. PENGERTIAN HEMODIALISA
1. Hemodialisa berasal dari kata hemo yang berarti darah, dan dialisi yang berarti
pemisahan atau filtrasi. Hemodialisa adalah suatu metode terapi dialisis yang
digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika
secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu melaksanakan proses
tersebut. Terapi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi
membran penyaring semipermeabel (ginjal buatan). Hemodialisa dapat dilakukan
pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah
kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Tujuan dari hemodialisa adalah
untuk memindahkan produk-produk limbah yang terakumulasi dalam sirkulasi
klien dan dikeluarkan kedalam mesin dialisis. (Muttaqin & Sari, 2011).
2. Hemodialisa adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara
pasif melalui suatu membran berpori dari kompartemen cair menuju
kompartemen lainnya. Hemodialisa dan dialisa peritoneal merupakan dua tehnik
utama yang digunakan dalam dialisa. Prinsip dasar kedua teknik tersebut sama
yaitu difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisa sebagai respon terhadap
perbedaan konsentrasi atau tekanan tertentu. ( Price dan Wilson, 2005)
3. Hemodialisa memerlukan sebuah mesin dialisa dan sebuah filter khusus yang
dinamakan dializer (suatu membran semipermeabel) yang digunakan untuk
membersihkan darah, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam
sebuah mesin diluar tubuh. Hemodialisa memerlukan jalan masuk ke aliran darah,
maka dibuat suatu hubungan buatan antara arteri dan vena (fistula arteriovenosa)
melalui pembedahan (NKF, 2006)
4. Unit hemodialisa adalah merupakan ruangan khusus yang tidak terpisah dari satu
rumah sakit untuk melaksanakan tindakan hemodialisis baik akut maupun kronik /
terminal.
B. TUJUAN HEMODIALISA
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain :
a. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa
metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang
lain.

b. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya


dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
c. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
d. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.
C. INDIKASI PELAKSANAAN HEMODIALISA
Price dan Wilson (2005) menerangkan bahwa tidak ada petunjuk yang jelas
berdasarkan kadar kreatinin darah untuk menentukan kapan pengobatan harus
dimulai. Kebanyakan ahli ginjal mengambil keputusan berdasarkan kesehatan
penderita yang terus diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat jalan. Pengobatan
biasanya dimulai apabila penderita sudah tidak sanggup lagi bekerja purna waktu,
menderita neuropati perifer atau memperlihatkan gejala klinis lainnya. Pengobatan
biasanya juga dapat dimulai jika kadar kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria,
4 mg/100 ml pada wanita danglomeluro filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit.
Penderita tidak boleh dibiarkan terus menerus berbaring ditempat tidur atau sakit
berat sampai kegiatan sehari-hari tidak dilakukan lagi. Menurut konsensus
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003) secara ideal semua pasien
dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang dari 10
mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5 mL/menit
walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain indikasi tersebut juga
disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti
oedem paru, hiperkalemia, asidosis metabolik berulang, dan nefropatik diabetik.
Kemudian Thiser dan Wilcox (2003) menyebutkan bahwa hemodialisa biasanya
dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit, ini sebanding
dengan kadar kreatinin serum 810 mg/dL.Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia
dan secara mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan
hemodialisa. Selanjutnya Thiser dan Wilcox (2003) juga menyebutkan bahwa indikasi
relatif dari hemodialisa adalah azotemia simtomatis berupa ensefalopati, dan toksin
yang dapat didialisis. Sedangkan indikasi khusus adalah perikarditis uremia,
hiperkalemia, kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik (oedem
pulmonum), dan asidosis yang tidak dapat diatasi.
D. KONTRA INDIKASI PELAKSANAAN HEMODIALISA
Menurut Thiser dan Wilcox (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah
hipotensi yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan
sindrom otak organik. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari

hemodialisa adalah tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses
vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi. Kontra indikasi hemodialisa
yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer, demensia multi infark, sindrom
hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI,
2003).
E. PRINSIP HEMODIALISA
Ada tiga prinsip yang mendasari kerja dari hemodialisa yaitu difusi, osmosis dan
ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan melaui proses difusi
dengan cara bergerak dari darah, yang memiliki konsentrasi tinggi, kecairan dialisat
dengan konsentrasi yang lebih rendah. Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan
menciptakan gradient tekanan, Gradien ini dapat ditingkatkan melalui penambahan
tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mesin dialisis. Karena pasien
tidak dapat mengekskresikan air, kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan
hingga tercapai isovolemia (keseimbangan cairan). Sistem dapar (buffer sisite) tubuh
dipertahankan dengan penambahan asetat yang akan berdifusi dari cairan dialisat ke
dalam darah pasien dan mengalami metabolisme untuk membentuk bikarbonat. Darah
yang sudah dibersihkan kemudian dikembalikan ke dalam tubuh melalui pembuluh
darah vena (Smeltzer & Bare, 2002).
F. PROSES HEMODIALISA
Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi
mempersiapkan cairan dialisa (dialisat), mengalirkan dialisat dan aliran darah
melewati suatu membran semipermeabel, dan memantau fungsinya termasuk dialisat
dan sirkuit darah korporeal. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi sistemik.
Darah dan dialisat dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh efisiensi
maksimal dari pemindahan larutan. Komposisi dialisat, karakteristik dan ukuran
membran dalam alat dialisa, dan kecepatan aliran darah dan larutan mempengaruhi
pemindahan larutan (Tisher & Wilcox, 2003). Dalam proses hemodialisa diperlukan
suatu mesin hemodialisa dan suatu saringan sebagai ginjal tiruan yang disebut
dializer, yang digunakan untuk menyaring dan membersihkan darah dari ureum,
kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh. Untuk
melaksanakan hemodialisa diperlukan akses vaskuler sebagai tempat suplai dari darah

yang akan masuk ke dalam mesin hemodialisa (NKF, 2006). Suatu mesin ginjal
buatan atau hemodializer terdiri dari membran semipermeabel yang terdiri dari dua
bagian, bagian untuk darah dan bagian lain untuk dialisat. Darah mengalir dari arah
yang berlawanan dengan arah darah ataupun dalam arah yang sama dengan arah aliran
darah. Dializer merupakan sebuah hollow fiber atau capillarydializer yang terdiri dari
ribuan serabut kapiler halus yang tersusun pararel. Darah mengalir melalui bagian
tengah tabung-tabung kecil ini, dan cairan dialisat membasahi bagian luarnya.
Dializer ini sangat kecil dan kompak karena memiliki permukaan yang luas akibat
adanya banyak tabung kapiler (Price & Wilson, 2005).

Menurut Corwin (2004) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar tubuh.
Selama hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter masuk ke
dalam sebuah mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran semipermeabel
(dializer) yang terdiri dari dua ruangan. Satu ruangan dialirkan darah dan ruangan
yang lain dialirkan dialisat, sehingga keduanya terjadi difusi. Setelah darah selesai
dilakukan pembersihan oleh dializer darah dikembalikan ke dalam tubuh melalui
arterio venosa shunt (AV-shunt). Selanjutnya Price dan Wilson (2005) juga
menyebutkan bahwa suatu sistem dialisa terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan
satu lagi untuk cairan dialisa. Darah mengalir dari pasien melalui tabung plastik (jalur
arteri/blood line), melalui dializer hollow fiber dan kembali ke pasien melalui jalur
vena. Cairan dialisa membentuk saluran kedua. Air kran difiltrasi dan dihangatkan
sampai sesuai dengan suhu tubuh, kemudian dicampur dengan konsentrat dengan
perantaraan pompa pengatur, sehingga terbentuk dialisat atau bak cairan dialisa.

Dialisat kemudian dimasukan ke dalam dializer, dimana cairan akan mengalir di


luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase. Keseimbangan antara darah
dan dialisat terjadi sepanjang membransemipermeabel dari hemodializer melalui
proses difusi,osmosis, dan ultrafiltrasi. Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat
perbedaan tekanan hidrostatik antara darah dengan dialisat. Perbedaaan tekanan
hidrostatik dapat dicapai dengan meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen
darah dializer yaitu dengan meningkatkan resistensi terhadap aliran vena, atau dengan
menimbulkan efek vakum dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan
negatif. Perbedaaan tekanan hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan
kecepatan difusi solut. Sirkuit darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan
garam atau NaCl 0,9 %, sebelum dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Tekanan
darah pasien mungkin cukup untuk mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal
(di luar tubuh), atau mungkin juga memerlukan pompa darah untuk membantu aliran
denganquick blood (QB) (sekitar 200 sampai 400 ml/menit) merupakan aliran
kecepatan yang baik. Heparin secara terus-menerus dimasukkan pada jalur arteri
melalui infus lambat untuk mencegah pembekuan darah. Perangkap bekuan darah
atau gelembung udara dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah
kembali ke dalam aliran darah pasien. Untuk menjamin keamanan pasien,
maka hemodializer modern dilengkapi dengan monitor-monitor yang memiliki alarm
untuk berbagai parameter (Price & Wilson, 2005). Menurut PERNEFRI (2003) waktu
atau lamanyahemodialisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. Tiap hemodialisa
dilakukan 4 5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa idealnya
dilakukan 10 15 jam/minggu dengan QB 200300 mL/menit. Sedangkan menurut
Corwin (2004) hemodialisa memerlukan waktu 3 5 jam dan dilakukan 3 kali
seminggu. Pada akhir interval 2 3 hari diantara hemodialisa, keseimbangan garam,
air, dan pH sudah tidak normal lagi. Hemodialisa ikut berperan menyebabkan anemia
karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa.

G. KOMPLIKASI PELAKSANAAN HEMODIALISA


Menurut Tisher dan Wilcox (2003) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan
hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain :

1. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa
sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot seringkali terjadi
pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi.
2.

Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat, rendahnya
dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik, dan
kelebihan tambahan berat cairan.

3. Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa, penurunan
kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh
terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.
4. Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat diakibatkan
dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat
dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara
kompartemen-kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan
air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim dan
biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan
azotemia berat.
5. Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor
pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
6. Perdarahan

Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat dinilai


dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama hemodialisa
juga merupakan factor risiko terjadinya perdarahan.
7. Ganguan pencernaan
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang
disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan
sakit kepala. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
8. Pembekuan darah
Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak
sesuai ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.

H. PENATALAKSANAAN HD PADA PASIEN GGK


Pada klien GGK, tindakan hemodialisa dapat menurunkan risiko kerusakan organorgan vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi, tetapi tindakan
hemodialisa tidak menyembuhkan atau mengembalikan fungsi ginjal secara
permanen. Klien GGK biasanya harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya
atau sampai mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal (Muttaqin & Sari,
2011).
Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisa mengingat
adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengekskresikan produk
akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum
pasien dan bekerja sebagai racun dan toksin. Gejala yang terjadi akibat penumpukan
tersebut secara kolektif dikenal sebagai gejala uremia dan akan mempengaruhi setiap
sistem tubuh. Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan
dengan demikian meminimalkan gejala (Smeltzer & Bare, 2002).
Penumpukan cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung
kongestif serta edema paru. Dengan demikian pembatasan cairan juga merupakan
bagian dari resep diet untuk pasien. Dengan penggunaan hemodialisis yang efektif,
asupan makanan pasien dapat diperbaiki meskipun biasanya memerlukan beberapa
penyesuaian dan pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan.Banyak
obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Pasien yang

memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung, antibiotik, antiaritmia dan anti


hipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini
dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik
(Smeltzer & Bare, 2002).

I. FREKUENSI HEMODIALISA
Frekuensi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi
sebagian besar penderita menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu. Program dialisa
dikatakan berhasil jika :
1.
2.
3.
4.
5.

Penderita kembali menjalani hidup normal.


Penderita kembali menjalani diet yang normal.
Jumlah sel darah merah dapat ditoleransi.
Tekanan darah normal.
Tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif
Dialisa bisa digunakan sebagai pengobatan jangka panjang untuk gagal ginjal

kronis atau sebagai pengobatan sementara sebelum penderita menjalani pencangkokan


ginjal. Pada gagal ginjal akut, dialisa dilakukan hanya selama beberapa hari atau
beberapa minggu, sampai fungsi ginjal kembali normal.
J. PROSEDUR HEMODIALISA
Setelah pengkajian pradialisis, mengembangkan tujuan dan memeriksa
keamanan peralatan, perawat sudah siap untuk memulai hemodialisis. Akses ke
system sirkulasi dicapai melalui salah satu dari beberapa pilihan: fistula atau tandur
arteriovenosa (AV) atau kateter hemodialisis dua lumen. Dua jarum berlubang besar
(diameter 15 atau 16) dibutuhkan untuk mengkanulasi fistula atau tandur AV. Kateter
dua lumen yang dipasang baik pada vena subklavikula, jugularis interna, atau
femoralis, harus dibuka dalam kondisi aseptic sesuai dengan kebijakan institusi.

Jika akses vaskuler telah ditetapkan, darah mulai mengalir, dibantu oleh
pompa darah. Bagian dari sirkuit disposibel sebelum dialiser diperuntukkan sebagai
aliran arterial, keduanya untuk membedakan darah yang masuk ke dalamnya
sebagai darah yang belum mencapai dialiser dan dalam acuan untuk meletakkan
jarum: jarum arterial diletakkan paling dekat dengan anastomosis AV pada vistula
atau tandur untuk memaksimalkan aliran darah. Kantong cairan normal salin yang di
klep selalu disambungkan ke sirkuit tepat sebelum pompa darah. Pada kejadian
hipotensi, darah yang mengalir dari pasien dapat diklem sementara cairan normal
salin yang diklem dibuka dan memungkinkan dengan cepat menginfus untuk
memperbaiki tekanan darah. Tranfusi darah dan plasma ekspander juga dapat
disambungkan ke sirkuit pada keadaan ini dan dibiarkan untuk menetes, dibantu
dengan pompa darah. Infus heparin dapat diletakkan baik sebelum atau sesudah
pompa darah, tergantung peralatan yang digunakan.
Dialiser adalah komponen penting selanjutnya dari sirkuit. Darah mengalir ke
dalam kompartemen darah dari dialiser, tempat terjadinya pertukaran cairan dan zat
sisa. Darah yang meninggalkan dialiser melewati detector udara dan foam yang
mengklem dan menghentikan pompa darah bila terdeteksi adanya udara. Pada kondisi
seperti ini, setiap obat-obat yang akan diberikan pada dialysis diberikan melalui port
obat-obatan. Penting untuk diingat, bagaimanapun bahwa kebanyakan obat-obatan
ditunda pemberiannya sampai dialysis selesai kecuali memang diperintahkan.
Darah yang telah melewati dialysis kembali ke pasien melalui venosa atau
selang postdialiser. Setelah waktu tindakan yang diresepkan, dialysis diakhiri dengan
mengklem darah dari pasien, membuka selang aliran normal salin, dan membilas
sirkuit untuk mengembalikan darah pasien. Selang dan dialiser dibuang kedalam

perangkat akut, meskipun program dialisis kronik sering membeli peralatan untuk
membersihkan dan menggunakan ulang dialiser.
Tindakan kewaspadaan umum harus diikuti dengan teliti sepanjang tindakan
dialysis karena pemajanan terhadap darah. Masker pelindung wajah dan sarung
tangan wajib untuk digunakan oleh perawat yang melakukan hemodialisis.

ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. persepsi klien terhadap sakitnya
1) factor yang menyebabkan mencari bantuan kesehatan
2) pengetahuan tentang status kesehatan dan kebutuhan perawatan
3) harapan terhdap penanganan kesehatan
4) pengetahuan keluarga tentang status kesehatan pasien
b. penyakit sebelum atau yang sedang diderita
1) masalah kesehatan kronik yang lain
2) obat-obatan yang sedang digunakan
c. kebutuhan social
1) sumber bantuan bila diperlukan
2) pekerjaan sekarang dan kemampuan untuk melanjutkan
a. keseimbangan cairan dan elektrolik
b. nutrisi: anoreksia, nausea, vomiting, bantuan untuk toleransi terhadap
makanan, pengetahuan tentang diet dan pola kebiasan makan
c. eliminasi
d. kulit dan kebiasaan kebersihan: pola mandi, dll
e. kenyamanan dan istirahat
f. mobilisasi: keseimbangan, gaya jalan
g. seksualitas
1) pola menstruasi dan fungs seksual serta reproduksi
2) tingkah laku pada lawan jenis
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan ekspansi paru-paru sekunder akibat
penumpukan cairan
b. Gangguan kesimbangan cairan tubuh: berlebihan b.d penurunan urine out put, diet
berlebihan serta retensi sodium dan air
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, nausea, vomiting,
pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa oral
d. Intoleransi aktivitas b.d fatique, anemia, retensi produksi sampah, dan prosedur
dialisa
e. Resiko

tinggi

penurunan

curah

jantung

b.d

ketidakseimbangan

cairan

mempengaruhi volume sirkulasi, verja miokardial dan tahanan vaskular sistemik

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
f. DX 1
Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda oksigenisasi yang tidak adekuat
R/ mengawasi adanya perbaikan dan mencegah memburuknya hipoksia
2) Monitor perubahan penting hasil gas darah
R/ PaCO2 biasanya meningkat dan biasanya PaO 2 secara umum menurun,
sehingga hipoksia terjadi dengan derajat lebih kecil atau lebih besar
3) Beri tindakan untuk memperbaiki oksigenisasi jaringan, beri posisi fowler,
bantu pasien untuk mobilisasi dan beri oksigen sesuai program
R/ Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan
nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispnea, dan kerja nafas
4) Bantu intubasi, berikan atau pertahankan ventilasi mekanik.
R/ terjadinya kegagalan nafas yang akan datang memerlukan upaya tindakan
penyelamatan hidup.
g. DX II
Intervensi:
1) Kaji status cairan
R/ Pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk
memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi
2) batasi masukan cairan
R/ Pembatasan cairan akan menentukan BB ideal, haluaran urine, dan
respon terhadap terapi
3) Identifikasi sumber potensial cairan
R/ Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi
4) Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan
R/ Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam
pembatasan cairan
5) Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan
cairan
R/ kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan
diet
6) tingkatkan dan dorong higiene oral dengan sering
R/ higiene oral akan mengurangi kekeringan membran mucosa mulut
h. Dx III
Intervensi:
1) Kaji status nutrisi:
R/ menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan
mengevaluasi intervensi
2) Kaji pola diet nutrisi pasien:
R/ pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam
menyusun men
3) Kaji factor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi

R/ menyediakan informasi mengenai factor lain yang dapat diubah atau


dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet
4) Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet
R/ mendorong peningkatan masukan diet
5) Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi:
telor,produk susu dan daging
R/ protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen
yang diperlukan untuk prtumbuhan dan penyembuhan
6) Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan
R/ Faktor yang tidak menyenangkan yang berperan dalam menimbulkan
anoreksia di hilangkan
7) Timbang berat badan harian
R/ untuk memantau cairan dan nutrisi
8) Ubah jadwal medikasi sehingga medikasi ini tidak segera diberikan
sebelum makan
R/ ingesti medikasi sebelum makan menyebabkan rasa mual dan
kenyang
i. Dx IV
Intervensi :
1) Kaji factor yang menimbulkan keletihan
R/ menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan
2) Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat
ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi
R/ meningkatkan aktivitas ringan atau sedang dan perbaiki harga diri
3) Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
R/ mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat
ditoleransi dan istirahat yang adekuat
4) Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis
R/ istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis yang banyak bagi
pasien karena itu sangat melelahkan
j. DX V
Intervensi :
1) Auskultasi bunyi jantung. Evaluasi adanya edema perifer atau kongesti
vaskular dan keluhan dispnea
R/ S3/ S4 dengan tonus muffled, takikardi, frekuensi jantung tidak
teratur, dispnea, takipnea, gemerisik, mengi, dan edema atau distensi
jugular menentukan GGK
2) Kaji adanya derajat hipertensi
R/ hipertensi bermakna dapat terjadi karena gangguan pada disfungsi
ginjal yaitu pada sistem aldosteron renin angiotensin
3) Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan lokasi, radiasi, dan beratnya

R/ Hipertensi dan GJK dapat menyebabkan IM , kurang lebih pada


pasien GGK dengan dilisis mengalami perikarditis, potensial resiko
efusi perikardial atau tamponade
4) Evaluasi bunyi jantung, TD, Nadi perifer, pengisian kapiler, kongesti
vaskular, dan sensori
R/ hipotensi, nadiparadoksik, penyempitan tekanan nadi, penurunan atau
tidak adanya nadi perifer, distensi jugular, dan pucat. Gejala-gejala
tersebut menunjukkan tamponade yang merupakan kedaruratan medik
5) Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas.
R/ Kelelahan dapat menyertai GJK dan juga anemia