Anda di halaman 1dari 14

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
RESUME BAB 10: FUNDAMENTALS OF PHYSICAL VOLCANOLOGY
TIPE ERUPSI, SKALA DAN FREKUENSI

DISUSUN OLEH:
CENDRA JANUARI
DIAN RIZQA
FARDY SEPTIAWAN
HESTI VERA
KESAWA SAPUTRA
SARASWATI WAHYUNINGTYAS
WAHYU KUSDYANTONO

YOGYAKARTA
SEPTEMBER
2014

TIPE ERUPSI, SKALA, DAN FREKUENSI


PENDAHULUAN
Erupsi gunung api memperlihatkan variasi dari tipe letusan, produk erupsi, skala erupsi, dan
frekuensi dari erupsi. Setiap erupsi memiliki keunikan tersendiri dan setiap dari erupsi memiliki
pengaruh yang berbeda santara satu dengan yang lainnya. Buku ini meninjau erupsi dari segi fisika
bukan hanya dari fenomena khusus dari setiap gunung apinya, walaupun secara mekanisme dasar
gunung-gunung tersebut memiliki mekanisme yang sama. Dalam chapter ini akan membahas
mengenai proses secara fisika yang mengontrol erupsi dan produk dari erupsi. Yang merupakan salah
satu komponen terpenting yaitu komposisi magma. Komposisi kimia mendominasi dan
mempengaruhi erupsi seperti kekentalan dan kandungan gas yang terdapat di dalam erupsi. Separuh
dari chapter ini fokus mengenai bagaimana komposisi kimia mempengaruhi karakter erupsi dan
produk erupsi.

Erupsi gunung api bervariasi tidak hanya pada karakternya, tetapi pada skala dan frekuensi dari
aktivitasnya. Observasi dari aktivitas Stromboli, gunung api di Aeolian Island utara dari Sicily, sering
memiliki keuntungan dari erupsi. Berbeda dengan rarusan ribu tahun lampau dengan gunung api lain,
seperti Kaldera Yellowstone. Tipe Stromboli menghasilkan jumlah material yang sedikit, sedangkan
yang memiliki rentan erupsi yang cukup jauh seperti Yellowstone menghasilkan material yang
jumlahnya lebih besar. Sekitar 600.000 tahun yang lalu Yellowstone memproduksi 1000km kibik dari
material piroklastik setara dengan 100 juta kali lebih banyak dari tipe Stromboli.

KOMPOSISI KIMIA DAN JENIS AKTIVITAS VULKANIK


Secara umum jenis aktivitas vulkanik dibedakan menurut jenis letusan dari gunung api itu sendiri.
Jenis letusan gunung api itu sendiri terbagi menjadi dua yakni efusif atau eksplosif, dan selama meletus
itu stabil atau tidak. Dalam prakteknya, vulkanologis telah mengembangakan sistem penamaan dari
letusan tersebut yang mengacu khusus untuk karakter dari setiap letusan dari masing-masing gunung.
Sebagai contoh letusan gunung api yang berada di Hawaii, dimana letusan gunungnya berupa lava
yang mengalir dan banyak mengandung basa sehingga viskositasnya tinggi (kental). Sehingga pada
kasus letussan gunung ini dikenal dengan istilah Letusan Hawaii dan istilah ini digunakan untuk
letusan gunung-gunung lainnya yang hampir mirip dengan letusan yang ada di Hawaii. Istilah The
Plinian digunakan untuk salah satu letusan Hawaii yang eksplosif dan berkelanjutan, dimana pada
letusan itu menghasilkan letusan yang membumbung cukup tinggi dan menghasilkan material jatuhan
piroklastik. Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan jenis letusan gunung berapi antara lain,
Strombolian, Vulcanian, SubPlinian, Ultra-Plinian dan Hydromagmatic.
Dari masing-masing jenis letusan itu sendiri, secara umum terdapat hubungan antara jenis letusan
yang terjadi dengan kandungan magma pada gunung tersebut. Misalnya, pada letusan Hawaii dan
Strombolian kandungan magma yang terkandung pada gunung yang mempunyai jenis letusan
tersebut adalah magma basaltik. Untuk jenis letusan Vulcanian magma yang terkandung berupa
basaltik andesit hingga basaltik dasit. Pada letusan jenis Plinian, magma yang terkandung berupa
andesit yang bersilika tinggi hingga riolit. Sebaliknya, aktivitas dari phreautomagmatic dan efusiv yang
tinggi magma dapat berasosiasi dengan setiap komposisi. Hubungan antara kandungan magma masih
mungkin, misalnya pada letusan Plinian basaltik, jika meletus umumnya akan bersifat volatil.
Selama letusan terjadi, pada jenis letusan tertentu dapat merubah jenis magma yang terkandung.
Misalnya, pada letusan gunung yang mengandung magma basaltik, kemungkinan terdapat perubahan
karakter letusan yakni dari letusan jenis Hawaii menjadi Strombolian, dan pada letusan gunung yang
berjenis riolitik kemungkinan tradapat perubahan karakter letusan yakni dari letusan Plinian menjadi
Ignimbrit dan berubah menjadi efusiv. Hal ini perlu diketahui juga meskipun jenis letusan yang
berbeda dan juga pada komposisi magma yang berbeda, masih terdapat kesamaan antara jenis dan
perilaku dari komposisi magma tersebut. Perubahan letusan dari jenis Hawaii ke Strombolian,
mencerminkan perubahan dari aktivitas jenis Plinian menjadi Vulcanian yang dapat dilihat pada
umumnya pada letusan menengah karena keduanya merupakan cerminan dari aktivitas letusan yang
stabil menjadi tidak stabil. Hal lain yang memperngaruhi perubahan antara lain karena adanya
pengurangan volume magma.
Asosisasi jenis letusan tertentu dengan kandungan magma tertentudapat menunjukkan bahwa
komposisi kimia yang terkandung mempunyai pengaruh yang kuat pada sifat letusan. Tingkat

viskositas magma dan kandungan gas magma sangat berperan untuk mengendalikan sifat fisik letusan
yang terjadi. Kadungan gas juga menentukan apakah jenis letusan itu eksplosif atau efusiv, selain itu
juga dapat menentukan tingkat viskositas dari magma itu sendiri. Dari tingkat viskositas ini juga
menentukan seberapa cepat magma naik ke atas permukaan.
Tingkat viskositas magma secara umum dikendalikan oleh berbagai faktor yang saling
berhubungan, antara lain kandungan silika, temperatur, kristal/butiran yang mengisi serta kandungan
gelembung gas. Kandungan silika yang tinggi dan suhu rendah membuat magma menjadi lebih kental
dan mengandung basa.kehadiran kristal pada magma juga dapat mempengaruhi tingkat kekentalan
magma. Secara umum kristal terbentuk pada saat magma mulai mendingin. Dua kandungan penting
yang terdapat pada magama yakni H2O (air) dan CO2 (karbon dioksida), kelarutan karbon dioksida tidak
terlalu dipengaruhi oleh kandungan komposisi magma. Namun H2O cukup berpengaruh dalam
magma. Jumlah H2O bisa dikatakan yang paling banyak dilarutkan dalam magma. Kehadiran
gelembung gas juga memiliki pengaruh pada tingkat viskositas. Tingkat pergerakan fluida diukur
dengan perubahan dari kecepatan alir fluida dari jarak tertentu. Misalnya pada fluida yang bergerak
rendah, kehadiran gelembung gas akan memiliki pengaruh dalam meningkatkan viskositas magma.
Sebaliknya pada fluida yang bergerak cepat, maka akan mengurangi tingkat viskositas magma.

KOMPOSISI KIMIA DAN ERUPSI EFUSIF


Conditions of effusive eruption
Ada 4 keadaan yang bisa menyebabkan erupsi tipe efusif lterjadi:
1. Jika kandungan gas saat magma naik ke permukaan sangat kecil. Erupsi ini akan
mengeluarkan material larutan padat. Pemodelan komputer menganjurkan kandungan gas
kurang dari 0,02 wt% agar keadaan ini terjadi.
2. Jika magma ketika mencapai permukaan kehilangan kandungan gasnya, kandungan gas
terebut mungkin jatuh di bawah level ketika terjadi fragmentasi. Pelepasan gas mungkin
terjadi ketika penyimpanan di magma chamber atau melewati dinding saluran yang
permeabel selama magma naik ke permukaan. Pada proses kehilangan gas tersebut bisa jadi
terjadi kontrol secara kimia secara tidak langsung. Misalnya kandungan gas pada magma
yang mengontrol kedalaman dimana kejenuhan dan dan larutan padat dapat terjadi.
3. Letusan bawah laut biasanya memiliki tipe efusif. Tipe ini terjadi bukan karena kandungan
gas pada magma yang rendah, tetapi karena larutan padat gas dari magma ditekan oleh air.
Tabel 10.2 memperlihatkan tekanan dari berbagai kedalaman di lautan dan total jumlah
karbon dioksida atau air agar terjadi ledakan eksplosif.

Tabel 10.2. kalkulasi kandungan air dan karbondiokasida minimal agar terjadi ledakan
eksplosif pada rentang kedalaman tertentu

4. Ledakan efusif juga dapat terjadi jika viskositas lebih besar sehingga menghambat terjadinya
fragmentasi. Hal tersebut bisa terjadi pada erupsi magma yang sangat kental dengan
komposisi dasit dan riolit. Efusi seperti magma mengahasilkan kubah lava step-sided yang
mengandung gelembung gas dengan tekanan yang lebih besar dari tekanan atmosfer.
Permukaan luar dari kubah akan menyebabkan viskositas magma meningkat dan mencegah
gelembung meledak di permukaan. Namun jika kubah tersebut runtuh maka akan terjadi
pelepasan tekanan dan akan memicu terjadinya fragmentasi, sehingga menimbulkan aliran
piroklastik.
Erupsi dengan tipe efusif bisa terjadi pada beberapa kondisi. Komposisi magma sangat berperan
dalam menentukan tipe erupsi, tetapi faktor lain seperti sejarah penyimpanan magma dan kondisi
lingkungan dimana erupsi terjadi juga merupakan hal yang penting.

Chemical composition and lava flows


Hasil utama dari ledakan efusif adalah aliran lava. Lava sangat dipengaruhi oleh komposisi
ledakan lava karena viskositas adalah kontrol utama dari pergerakan aliran.

KOMPOSISI KIMIA DAN LETUSAN EKSPLOSIF


Aktivitas eksplosif sementara dan berkelanjutan
Letusan eksplosif sementara atau berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh kecepatan munculnya
magma. Hal ini terjadi akibat adanya pengaruh komposisi viskositas yang mengontrol kecepatan
munculnya gelembung gas di dalam magma dan kemampuan fluida yang bergerak untuk bercampur.
Ada 3 hal penting yang harus diketahui, yaitu:

1. Viskositas magma mempengaruhi kemampuan gelembung untuk bergerak ke atas. Semakin


besar viskositas magma, semakin lambat munculnya gelembung relatif terhadap magma.
2. Viskositas magma mempengaruhi kecepatan munculnya magma, viskositas yang lebih besar
cenderung mengurangi kecepatan munculnya magma.
3. Kandungan gas dari magma juga mempengaruhi kemungkinan gelembung tercampur.
Kandungan gas yang lebih besar akan meningkatkan peluang untuk gelembung tercampur.

Komposisi kimia dan aktivitas eksplosif sementara


Letusan sementara terjadi ketika kecepatan munculnya magma lambat. Ada 2 tipe letusan
sementara, yaitu :
1. Strombolian

Gambar . Letusan Strombolian. Contohnya pada Gunung Vesuvius dan Gunung Raung

Letusan strombolian biasanya melibatkan magma basaltik. Pada letusan Strombolian, pemisah
(gap) antar letusan terlalu singkat untuk memungkinkan banyak magma yag mendingin di bagian atas
kolom magma dan kulit yang dingin tersebut mengembang keluar dengan mudah sebagai
gelembung gas yang terakumulasi dibawahnya yang menyebabkan letusan lemah.
2. Vulcanian

Gambar . Letusan Vulcanian. Contohnya pada Gunung Semeru

Letusan vulcanian biasanya terkait dengan magma intermediet. Pada letusan Vulcanian,
magma yang berada di bagian atas kolom magma mendingin jauh lebih banyak diantara
letusan-letusan membentuk cap yang padat (solid) sehingga tekanan dibawahnya harus

dibuat jauh lebih besar levelnya sebelum terjadi letusan. Hal ini terjadi akibat adanya
perbedaan viskositas magma yang keluar.
Hal di atas menunjukkan hubungan yang kuat antara komposisi dan aktivitas vulkanik, meskipun
viskositas magma dan pengaruhnya terhadap kecepatan kenaikan gelembung memainkan peran
penting bahkan ketika air tanah terlibat dalam letusan.

Komposisi kimia dan letusan eksplosif berkelanjutan (sustained)


Letusan eksplosif yang berkelanjutan terjadi ketika kecepatan munculnya magma cukup besar
untuk mencegah pemisahan yang signifikan dari gelembung gas magmatik dari magma dimana
mereka berasal. Ada 2 tipe letusan berkelanjutan, yaitu :
1. Hawaiian
Letusan Hawaiian menghasilkan clast yang relatif kasar pada kecepatan keluar yang relatif
rendah, menghasilkan debu letusan rendah dan dominannya menghasilkan aliran lava.
Letusan ini berhubungan dengan magma basaltik.
2. Plinian
Letusan Plinian berhubungan dengan magma intermediet. Memiliki rentang dari subPlinian
Plinian ultraPlinian. Menghasilkan debu letusan yang lebih tinggi, menghasilkan clast yang
lebih halus, dan didominasi oleh jatuhnya endapan yang tersebar luas.

Peran viskositas
Viskositas magma sangat berhubungan dengan kandungan silikanya. Semakin tinggi kandungan
silikanya, maka magma semakin viskos dan aliran magma akan semakin lambat. Hal ini disebabkan
karena molekul-molekul silika terangkai dalam bentuk rantai yang panjang, walaupun belum
mengalami kristalisasi. Akibatnya, karena lava basaltik mengandung silika yang rendah, maka lava
basaltik cenderung bersifat encer dan mudah mengalir, sedangkan lava granitik relatif sangat kental
dan sulit mengalir walaupun pada temperatur tinggi.
Peningkatan viskositas magma disebabkan oleh exsolution pada air yang menyebabkan tingkat
regangan (strain) cukup tinggi untuk menyebabkan rekahan dari magma yang menghasilkan formasi
dari clast yang kecil. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar . Variasi viskositas dari berbagai macam magma dengan kandungan air didalamnya pada suhu
konstan. Penurunan kandungan air meningkatkan viskositas, khususnya pada magma yang kaya akan
kandungan silika.

Peran kandungan gas


Magma mengandung bermacam gas yang jumlahnya kira-kira 1%- 5% dari berat total, dan
sebagian besar merupakan uap air.meskipun persentasenya kecil, tetapi jumlah gas yang dikeluarkan
bisa mencapai ribuan ton per hari. Komposisi gas yang dikeluarkan dalam aktivitas gunung api
mengandung 70% uap air, 15% karbon dioksida, 5% nitrogen, 5% sulfur dan sisanya terdiri dari klorida,
hidrogen dan argon.
Jumlah gas dalam magma

mempengaruhi energi yang dilepaskan selama kenaikan yang

kemungkinan berpengaruh pada semakin meningkatnya percepatan yang terjadi pada fragmentasi
sebelumnya dan untuk mempengaruhi tingkat regangan yang dialami oleh magma, dengan kandungan
gas yang lebih tinggi menyebabkan tingkat regangan lebih tinggi dan fragmentasi lebih besar.
Kandungan gas dari magma juga mempengaruhi kecepatan keluar dari materi pada letusan yang
berkelanjutan yang dipengaruhi oleh kedalaman dimana fragmentasi terjadi dan total pelepasan
energi dengan kandungan gas rendah yang mengarah pada kecepatan keluar yang rendah.
Magma basaltik yang kandungan gasnya cukup besar, memungkinkan gas tersebut untuk keluar
melalui lubang kepundan gunung api dengan relatif mudah. Keluarnya gas tersebut dapat membawa
lava yang disemburkan sampai bermeter-meter tingginya. Sedangkan pada magma yang kental,
keluarnya gas tidak mudah, tetapi gas tersebut akan berkumpul pada kantong-kantong dalam magma
yang menyebabkan tekanan meningkat besar sekali. Tekanan yang besar ini akan dikeluarkan dengan

letusan yang hebat dengan membawa material yang setengah padat dan padat melalui lobang kawah
gunung api. Jadi besarnya gas yang keluar dari magma akan sangat mempengaruhi sifat erupsi gunung
api.

RINGKASAN MENGENAI KOMPOSISI YANG MENONTROL KARAKTER ERUPSI


Komposisi kimia merupakan sesuatu yang penting sebagai penentuan karakter dari erupsi gunung
api. Magma sederhana memiliki viskositas dan gas yang rendah, sementara magma saat ini memiliki
viskositas dan gas yang tinggi. Komposisi kimia akan mempengaruhi erupsi gunung api, akan effusive
atau explosive, hal tersebut lebih berpengaruh daripada sejarah magma dan kondisi celah erupsi.
Explosive eruption berkaitan dengan kenaikan magma dengan cepat, dan kemampuan gas untuk
mencapai permukaan. Explosions terjadi ketika gas mampu berpisah dan naik serta melepaskan
magma. Magma viskositas tinggi dan silica seperti rhyolite mencegah pemisahan gas.
Dua tipe utama explosion yaitu Strombolia dan Vulcanian dan mereka berkaitan dengan tipe
magma yang berbeda. Strombolia erupsi dengan magma basalt sedangkan Vulcanian erupsi dengan
magma intermediet. Pada Strombolia explosion dengan viskositas yang rendah membuat magma
dapat naik ke permukaan dengan cepat dan waktu pendinginan lavanya pun cepat. Untuk magma yang
lebih viscous kecepatan kenaikan dari gas lebih lambat dan di bawah plung dan pembekuan lava
dipermukaannya juga lambat. Ini berarti plung lebih memprioritaskan untuk membuang gas yang
terpisah dari tekanan gas yang tercipta dari rekahan. Kenaikan lebih keras dan explosions lebih besar
pada Vulcanian event.

MAGNITUDO DAN FREKUENSI ERUPSI VUKANIK


Magnitudo sejarah erupsi vulkanik
Volcanologists terus melakukan perekaman terhadap aktivitas vulkanik yang ada di bumi.
Perekaman dan pengawasan dilakukan dengan mengumpulkan data geofisika, pemetaan geologi dan
studi remote sensing. Salah satu institusi yang terus melakukan perekaman dan pembelajaran
mengenai aktivitas vulkanik adalah Smithsonian Institution di Washington, DC dengan langkah Global
Volcanism Program (http://www.volcano.si.edu/gv/index.htm).
Skala dari letusan ataupun erupsi gunungapi diklasifikasikan menggunakan indeks yang
dinamakan Volcanic Explsivity Index atau yang biasa dikenal sebagai VEI. VEI sendiri adalah metode
yang digunakan untuk mengklasifikasikan magnitudo dan intensitas dari erupsi vulkanik. Magnitudo
dari sebuah erupsi didefinisikan sebagai total dari volume atau massa dari material yang ter-erupsi.
Intensitas sendiri adalah sebuah pengukuran terhadap volume atau massa dari rasio erupsi. VEI
menampilkan angka tunggal antara 0 sampai dari 8 yang mana angka tersebut memberikan kombinasi

pengukuran dari magnitudo dan intensitas. Oleh karena itu keduanya diasumsikan sebagai sebuah
hubungan antara kedua sifat dari sebuah erupsi.

Frekuensi erupsi vulkanik


Tiap individu gunungapi cenderung memiliki pola aktivitasnya sendiri, dengan beberapa
gunungapi mengalami frekuensi erupsi yang lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Interval antara
letusan umumnya puluhan menit di Stromboli tetapi ribuan hingga ratusan ribu tahun untuk erupsi
gunungapi besar rhyolite yang cenderung memiliki magma bersifat asam seperti halnya Mt. St. Helens
dan Gunung Tambora. Namun, ada kecenderungan, untuk satu gunungapi dan untuk gunungapi
secara keseluruhan, untuk erupsi bermagnitudo kecil seringkali terjadi dibandingkan erupsi dengan
magnitudo besar yang sangat langka terjadi. Inilah sebabnya mengapa besarnya letusan alami selama
sejarah manusia jauh lebih kecil dari skala letusan yang ditemukan dalam catatan geologi.

Dapur magma dan besarnya erupsi gunungapi


Kantung magma atau dapur magma adalah ruang bawah tanah besar berisi batuan mencair yang
berada di bawah permukaan kerak bumi. Batuan mencair di kamar magma berada pada tekanan yang
besar, dan mendapat waktu yang cukup dan tekanan dapat mematahkan bebatuan di sekitarnya
membuat jalan keluar untuk magma. Jika dapat menemukan jalan keluar ke permukaan, hasilnya
adalah letusan gunung berapi. Kamar magma sulit untuk
dideteksi.

Sumber:
numbers.svg

https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Vulcanian_Eruption-

Besar kecilnya volume dalam dapur magma dapat menentukan seberapa besarnya letusan.
Material pada magma juga dapat mempengaruhi besarnya letusan karena berpengaruh pada ruang
penyimpanan di dalam magma.

ERUPSI ELASTIK DAN INELASTIK

Gambar di atas menunjukan, misalnya, bagian dari tilt record pada gunungapi Kilauea untuk
bagian pada 1983 dan 1984. Tiltmeter pada puncak dari gunungapi secara terus menerus mengukur
kemiringan dari permukaan tanah. Ketika kantung magma berada di bawah, punck mengalami
pengembangan, tanah yang berada di atasnya mengalami kenaikan dan pemekaran sebagai respon.
Ketika erupsi ataupun intrusi memindahkan magma dari kantung magma, deflasi atau penurunan
terjadi dan arah kemiringan berkebalikan. Gambar 10.9 menunjukan rentetan kejadian dari inflasi dan
deflasi yang mana terdapat pada puncak gunungapi selama 1983 dan 1984. Tilt record menunjukan
pola siklus dari inflasi dan deflasi kantung magma yang diprediksi oleh simple elastic model kantung
magma yang baru saja dijelaskan.
Tipe gunungapi yang elastis adalah tipe gunungapi yang memiliki siklus inflasi dan deflasi.
Deformasinya dipengaruhi oleh dinding kantung magma yang mempengaruhi tekanan ke atas
gunungapi. Pasokan magma dari dalam bumi mempengaruhi kemiringan gunungapi dan juga kejadian
inflasi kantung magma. Kandungan magma dari dalam bumi menghasilkan tipe erupsi gunungapi yang
berbeda pula.
Tidak semua sistem gunungapi, bagaimanapun, tidak memiliki kelakuan yang sama seperti halnya
penjelasan di atas (inflasi-deflasi). Di banyak kejadian erupsi, pola sederhana tersebut secara signifikan
mengalami perubahan dikarenakan sifat ketidakelastisan. Sifat ketidakelastisan ini menyebabkan
tidak terjadinya siklus inflasi dan deflasi (irreversible). Deformasi biasanya menghasilkan suatu
runtuhan tubuh vulkanik yang membentuk suatu kaldera. Seperti pada letusan St. Helens. Pola
ketidakelastisan ini bermula dari kantung magma yang terisi oleh magma dari dalam bumi. Kantung

magma terus mengalami pengembangan hingga batas elastisnya yang nantinya akan menyebabkan
letusan yang besar. Letusan yang besar ini menyebabkan bagian puncak gunungapi terlontar dan
mengalami pengamblasan yang hanya menyisakan lubang besar yang menganga yang disebut kaldera.

ERUPSI LAINNYA DENGAN MAGNITUDO LUAR BIASA


Large ignimbrite-forming eruptions
Ignimbrit adalah batuan yang merupakan endapan dari aliran piroklastik, ataupun dari partikel
suspensi yang sangat panas, dan gas, yang mengalir cepat dari puncak gunuung api karena
dikendalikan oleh massa jenisnya yang lebih besar daripada atmosfer di sekitarnya.
Tipe letusan ini merupakan letusan terbesar yang berhubungan dengan proses pembentukan
kaldera. Letusan terbesar memiliki skala minimal sekitar 10 km 3. Skala letusan ini dikontrol oleh ukuran
dapur magmanya, dimana dapur magma yang lebih besar memiliki lebih banyak volume magma pada
saat meletus.

Mengapa letusan ini dapat membentuk Ignimbrite?


Umumnya, letusan ini diawali dengan aktivitas Plinian yang berlanjut dengan proses Inelastic yang
seiring dengan Erupsi pembentukan Ignimbrite, sebagian besar volume material letusan terbentuk
dalam fase ini. Pada tipe letusan Plinian, dapat terjadi proses pembentukan Ignimbrite jika kandungan
gas pada magma turun, atau jika flux massa meningkat secara signifikan selama letusan. Pada kasus
ini, magma tidak selalu memiliki kandungan gas yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa proses
exsolution gas dari magma terus berlanjut melampaui critical point dimana tekanan tinggi dalam dapur
magma dilepaskan.
Kandungan gas yang menurun secara signifikan akan menyebabkan turunnya tekanan sehingga
kubah akan runtuh dan membentuk kaldera. Rekahan yang terjadi akan berkembang sesuai dengan
orientasi dan lokasinya sehingga bila rekahan melebar, maka material yang keluar dari gunung api
akan semakin banyak. Semakin banyak material yang dikeluarkan dari magma chamber maka semakin
turun tekanannya dan erupsi mulai reda, serta akan mulai terjadi pembentukan ignimbrit dari
material-material yang dikeluarkan saat terjadi erupsi tersebut. Pembentukan ignimbrit sendiri terjadi
pada very high mass flux.
Istilah "super-volcano" menggambarkan gunungapi dengan reservoir magma bervolume besar
dan meletus dengan tipe ini, tapi pada dasarnya tidak ada yang membedakan antara mekanisme
letusannya.

Flood basalt eruptions


Merupakan letusan yang terjadi ketika magma secara langsung muncul dari dasar litosfer tanpa
adanya penyimpanan magma di kerak terlebuh dahulu. Volume magma yang besar yang dihasilkan di
dalam kepala plume diakumulasi di dasar litosfer yang kemudian terjadi letusan secara langsung
menuju permukaan melalui sistem dike.
Terdapat opini berbeda tentang mekanisme letusan:
a. Letusan terjadi pada tingkat letusan yang sangat tinggi tetapi berlangsung tidak lebih dari
hitungan hari.
b. Letusan mungkin terjadi pada tingkat yang jauh lebih lambat selama periode tahun untuk
beberapa dekade.
Letusan dipengaruhi oleh ukuran dari area penyimpanan magma di dasar litosfer. Letusan akan
dipengaruhi oleh berapa lama magma bisa terus dipasok melalui sistem dike dari zona sumber mantel,
ketika pasokan berhenti maka terjadi pembekuan pada dike yang menyebabkan berhentinya letusan.
Opini yang paling kuat menyebutkan Erupsi yang menggambarkan erupsi flood basalt adalah
erupsi tipe hawaian. Erupsi yang terjadi ini mengeluarkan magma dalam jangka waktu yang cukup
lama tanpa berhenti, namun keluar secara lambat dalam kurun waktu tahunan bahkan sampai sepuluh
tahunan. Erupsi ini berlangsung lama karena sistem dike menyalurkan magma dari mantel ke
permukaan sehingga magma keluar dengan konstan /tetap tanpa berhenti (inactive).

KESIMPULAN
Sifat dari volcanic system :

a. Terdapat hubungan antara Magnitude dan frekuensi dari aktivitas gunung api. Erupsi yang
kecil dapat diprediksikan (secara teratur), sedangkan erupsi yang besar tidak dapat
diprediksi dan terjadi lebih jarang.

b. Volume magma yang keluar saat erupsi berhubungan dengan ukuran magma chamber.
Semakin besar ukuran magma chamber makan semakin besar erupsinya.

c. Erupsi terbesar dalam catatan geologi terdiri dari dua jenis yang berbeda: Large
ignimbrite-forming eruptions dan Flood basalt eruptions.
Magma chamber yang akan mengalami erupsi akan menggembung dengan isinya berupa magma.
Apabila tekanannya melebihi critical point (menunjukkan kekuatan dinding chamber), maka akan
terjadi erupsi atau intrusi. Semakin besar chamber maka semakin banyak magma yang diperlukan
untuk melampaui batas critical point tersebut sehingga terjadi erupsi. Hubungan antara ukuran

magma chamber dengan frekuensi kejadian erupsi adalah berbanding terbalik, semakin besar ukuran
magma chamber maka frekuensi kejadian erupsi semakin kecil. Volume magma yang masuk mengisi
magma chamber akan kurang lebih sama dengan volume magma yang keluar saat terjadinya erupsi,
sehingga chamber yang besar akan menghasilkan erupsi yang besar pula.
Erupsi yang paling besar hanya ada 2 tipe, karena erupsi menggambarkan kondisi tertentu, seperti
contohnya banyaknya material magnetik yang keluar saat erupsi terjadi.
Erupsi pembentukan ignimbrit terjadi secara inelastik bersamaan dengan pembentukan kaldera.
Kadang kala erupsi yang terjadi dapat menghasilkan lebih banyak material magma yang dikeluarkan
daripada ada proses elastik. Erupsi ini dapat terjadi jika ada kandungan gas pada magma chamber,
sehingga banyaknya gas dan magma yang bercampur akan menyebabkan tekanan yang lebih besar
dan terjadilah erupsi. Jika campuran magma dan gas telah banyak keluar, tekanan akan menurun dan
erupsi semakin lama akan mulai berhenti. Saat terjadi erupsi terjadi runtuhan dan terbentuklah
kaldera sehingga erupsi menyebabkan magma yang keluar semakin banyak dan terjadi pembentukan
ignimbrit dalam volume yang besar.
Erupsi flood basalt berhubungan dengan penyimpangan dengan mantle plume pada litosfer.
Magma yang keluar saat erupsi flood basalt berasal langsung dari mantel dan tidak melalui sistem
penyimpanan di kerak bumi. Erupsi yang terjadi dapat terjadi dalam jangka waktu yang pendek dengan
material yang dikeluarkan langsung dalam jumlah yang besar, atau dapat terjadi dalam kurun waktu
yang lama (bisa setahun atau sebulan) dengan volume yang dikeluarkan sedikit demi sedikit. Magma
yang keluar dibatasi oleh seberapa lama magma dapat keluar melalui sistem dike yang menjadi jalan
bagi magma untuk keluar dari litosfer. Jika magma dari litosfer tidak mampu lagi naik ke permukaan
maka sistem dike tersebut akan tertutup akibat pendinginan magma dan erupsi flood basalt baru akan
terjadi lagi jika sistem dike terbentuk kembali.

Referensi:
http://geografi-geografi.blogspot.co.id/2012/02/aktivitas-magma-gunung-api.html
Parfitt, Elisabeth and Wilson, Lionel. 2008. Fundamentals of Physical Volcanology.