Anda di halaman 1dari 21

SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR

A. PERSYARATAN UMUM
1. URAIAN

1.1. Keterangan Umum :


a. Kegiatan yang dilaksanakan adalah
Pembangunan
Jalan
Dan
Jembatan
Perdesaan
b. Pekerjaan ini terletak di :
1. Wilayah Kab. Kulon Progo
1.2. Pekerjaan yang akan dilaksanakan :
1. Pembangunan jalan corblok
2. Pembangunan talud jalan
3. Pembangunan jalan Aspal
4. Pekerjaan perkerasan jalan (LPA kelas
B dan LPB telford)
(sesuai dengan lokasi masing-masing)
1.3. Pada
akhir
kerja,
Penyedia
Jasa
Pemborongan diharuskan membersihkan
bangunan dari sisa bahan dan segala
kotoran akibat kegiatan pembangunan,
termasuk sisa-sisa material bangunan
serta gundukan tanah dan lain sebagainya.
1.4. Menyediakan ruang kerja Penyedia Jasa
Konsultan Pengawas dan Los Kerja untuk
menyimpan bahan-bahan bangunan yang
akan digunakan.
1.5. Dalam melaksanakan pekerjaan tersebut
di atas termasuk juga mendatangkan
bahan-bahan bangunan dan peralatan
dalam
jumlah
yang
cukup
untuk
pelaksanaan pekerjaan.

2. PEKERJAA
N
TERSEBUT
HARUS
DILAKSAN
AKAN

2.1. Menurut Dokumen Pengadaan Barang


Jasa antara lain:
a. Dokumen pengadaan
b. Gambar Kerja (Bestek)
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
(Aanvoelling)
d. Perubahan-perubahan
dalam

pelaksanaan (bila ada)


Yang telah disyahkan oleh Penanggung
Jawab
Kegiatan
dan
instansi
yang
berwenang/unsur terkait.
2.2. Menurut syarat dan ketentuan sebagai
berikut :
a. Pedoman
Sederhana
Pembangunan
Prasarana
Jalan
dan
Jembatan
di
Perdesaan Tahun 2011.
b. Standar Konstruksi dan Bangunan :
(1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja.
(2) SNI Nomor : 03-2834-1992 tentang :
Tata
cara
pembuatan
rencana
Campuran Beton Normal.
c. Menurut peraturan setempat yang
berhubungan dengan penyelenggaraan
pembangunan
dari
instansi
yang
berwenang.
2.3. Pekerjaan
tersebut
harus
diserahkan
kepada Penanggung Jawab Program dalam
keadaan selesai 100 % (seratus Persen),
sesuai
dengan
Dokumen
Pengadaan
Barang/Jasa, Surat Perjanjian Pemborongan
(Kontrak) dan Berita Acara Perubahan
Pekerjaan (bila ada) yang telah disahkan
oleh Penanggung Jawab Program.

3. KUASA
a. Di
lokasi
pekerjaan,.
Penyedia
Jasa
PENYEDIA
Pemborongan wajib menunjuk seorang
JASA
kuasa Penyedia Jasa Pemborongan atau
PEMBORO
biasa disebut Site Manager yang cakap
NGAN DAN
untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan di
KEAMANA
lapangan dan mendapat kuasa penuh dari
N
Penyedia Jasa Pemborongan, berpendidikan
DILAPANG
minimum:
AN
1. Site Manager Pendidikan S1/D3 Teknik
Sipil Pengalaman 5/8 tahun 1 (satu)
orang.
2. Pelaksanaan
Lapangan
S1/D3/STM
pengalaman 3/5/8 tahun berjumlah 1
(satu) orang untuk maksimal 4 (empat)
lokasi.
b. Apabila pelaksana yang ada kurang mampu
atau tidak cukup cakap dalam memimpin
jalannya pelaksanaan pekerjaan, maka
Penyedia Jasa Konsultan Pengawas dan
Panitia Penerima Hasil Pekerjan berhak
mengusulkan
untuk
disediakan
penggantinya.
c. Penyedia jasa Pemborongan bertanggung
jawab penuh atas keamanan di lokasi
pekerjaan yang antara lain kehilangan,
kebakaran,
kecelakaan
(baik
barang
maupun jiwa).
4.

JAMINAN
4.1. Penyedia
Jasa
Pemborongan
wajib
KESELAMA
menyediakan obat-obatan sesuai dengan
TAN KERJA
ketentuan
dan
syarat
Pertolongan
DAN KERJA
Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang
LEMBUR
selalu dalam keadaan siap digunakan di
lapangan, untuk musibah yang terjadi.
4.2. Pemborongan wajib menyediakan air
minum yang bersih dan memenuhi syarat
kesehatan bagi semua petugas dan
pekerja yang ada dibawah tanggung
jawabnya.
4.3. Penyedia
Jasa
Pomborongan
wajib
mengasuransikan sernua petugas yang

4.4.

4.5.

4.6.

4.7.

4.8.

4.9.

terkait dan pekerja pada Asuransi Tenaga


Kerja.
Jika terpaksa pekerjaan harus dilaksanakan
diluar jam kerja (lembur), maka pelaksana/
pemborong
harus
mengajukan
permohonan tertulis kepada pemberi
tugas dan Konsultan Pengawas, dengan
disebutkan :
a. Alasan
penambahan
jam
kerja
(lembur).
b. Jenis
pekerjaan
yang
akan
dilaksanakan (lembur).
c. Jumlah Pekerjaannya.
d. Waktu/ jam lembur.
Segala konsekuensi yang timbul akibat
pekerjaan lembur menjadi tanggung jawab
pelaksana/ pemborong.
Penyedia
Barang/Jasa
Pemborongan
diwajibkan menjaga keamanan lapangan
terhadap barang-barang milik kegiatan,
Konsultan Pengawas dan milik Pihak Ketiga
yang ada di lapangan.
Bila
terjadi
kehilangan
bahan-bahan
bangunan yang telah disetujui Konsultan
Pengawas baik yang telah dipasang
maupun yang belum, menjadi tanggung
jawab Penyedia Barang/Jasa Pemborongan
dan tidak akan diperhitungkan dalam
biaya pekerjaan tambah.
Apabila
terjadi
kebakaran,
Penyedia
Barang/Jasa Pemborongan bertanggung
jawab atas akibatnya, baik yang berupa
barang-barang maupun keselamatan jiwa.
Agar disediakan alat pemadam kebakaran
yang siap pakai yang ditempatkan di
tempat-tempat yang akan ditetapkan
kemudian oleh Konsultan Pengawas.
Penyedia Barang/ Jasa Pemborongan
diwajibkan
menyediakan
obat-obatan
menurut syarat pertolongan pertama pada
kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam

keadaan siap digunakan di lapangan untuk


mengatasi segala kemungkinan musibah
bagi petugas pekerjaan lapangan.
4.10. Penyedia Barang/ Jasa Pemborongan
wajib menyediakan air minum yang cukup
bersih
dan
memenuhi
syarat-syarat
kesehatan bagi semua petugas dan
pekerja yang ada di bawah kekuasaan
Penyedia Barang/ Jasa Pemborongan.
4.11. Segala hal yang menyangkut jaminan
sosial dan keselamatan para pekerja wajib
diberikan oleh Penyedia Barang/ Jasa
Pemborongan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku (dalam hal ini
JAMSOSTEK).
5. CUACA

Pekerjaan harus dihentikan sementara apabila


cuaca
tidak
mengijinkan
atau
sangat
mengganggu yang akan dapat mengakibatkan
penurunan mutu suatu pekerjaan, kecuali
pelaksana/ pemborong sudah mempersiapkan
sarana dan mendapatkan izin dari konsultan
pengawas.

6. RAPAT
6.1. Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan
PERSIAPAN
dilaksanakan selambat-lambatnya 3 (tiga)
PELAKSAN
hari setelah diterbitkannya SPMK, Rapat
AAN
tersebut membahas segala hal yang
PEKERJAA
terkait dengan pelaksanaan pekerjaan,
N
antara lain jadwal pelaksanaan pekerjaan,
metode pelaksanaan teknis pekerjaan,
metode
evaluasi
dan
monitoring
pekerjaan.
6.2. Penyedia Barang/Jasa Pemborongan wajib
membuat Rencana Kerja Pelaksanaan
(Time Schedule) yang dibahas dan
mendapatkan persetujuan terlebih dahulu
dari Konsultan Pengawas, dan PPHP pada
saat
Rapat
Persiapan
Pelaksanaan
Pekerjaan.

6.3. Hasil kesepakatan dalam Rapat Persiapan


Pelaksanaan Pekerjaan dituangkan dalam
Berita Acara Rapat Persiapan Pelaksanaan
Pekerjaan
yang
menjadi
acuan
pelaksanaan pekerjaan.

7.

PENENTUA
N ELEVASI
PEKERJAA
N

8. UKURAN
POKOK
DAN
BATAS
DAERAH
KERJA

7.1. Elevasi Permukaan ditentukan bersama


oleh pemborong, perencana, pengawas
serta PPHP, mengacu pada gambar rencana
dan selanjutnya dituangkan dalam berita
acara uitzet pekerjaan dan dilampiri
gambar shop drawing.
7.2. Penyedia
Jasa
Pemborongan
harus
membuat patok duga yang digunakan
untuk menentukan elevasi permukaan.
8.1. Ukuran
pokok
dicantumkan
dalam
gambar bestek, ukuran yang belum
tercantum dalam gambar bestek dapat
ditanyakan pada Penyedia Jasa Konsultan
Perencana
dan
atau
Penyedia
Jasa
Konsultan Pengawas.
8.2. Penyedia
Jasa
Pemborongan
harus
memeriksa kecocokan semua ukuran di
dalam
gambar,
apabila
terjadi
ketidakcocokan
wajib
segera
memberitahukan kepada Penyedia Jasa
Konsultan Pengawas atau Penyedia Jasa
Konsultan
Perencana
untuk
minta
pertimbangan. Apabila terjadi kesalahan
pelaksanaan di luar ijin atau pertimbangan
Penyedia Jasa Konsultan Pengawas atau
Penyedia Jasa Konsultan Perencana, maka
menjadi tanggungjawab Penyedia Jasa
Pemborongan.
8.3. Apabila dalam gambar Bestek terlukis,
sedang pada Rencana Kerja dan Syaratsyarat (RKS) tidak tertulis, maka gambar
yang mengikat.
8.4. Apabila dalam Rencana Kerja dan

Syarat-syarat (RKS) tertulis sedangkan


didalam gambar tidak tertulis, maka
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
yang mengikat.
8.5. Jika ada perbedaan pada gambar Bestek
maka gambar detail (gambar besar) yang
mengikat.
8.6. Batas daerah, kerja adalah batas lahan
yang telah disepakati bersama didalam
pelaksanaan uitzet pekerjaan.
9. MOBILISA
SI BAHAN
MATERIAL

9.1. Dalam penyetoran bahan harus diatur


sedemikian rupa
sehingga
tidak
mengganggu arus lalu lintas.
9.2. Bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat
dan dinyatakan tidak layak oleh Konsultan
Pengawas harus segera dikeluarkan dari
lokasi pekerjaan dalam batas waktu 2 x 24
jam.
9.3. Material yang didatangkan harus telah
memperhatikan
semaksimal
mungkin
hasil produksi dalam negeri dan juga
kandungan lokal.

10. PEKERJ
AAN
PERSIAPA
N

10.1. Sebelum
dilaksanakan
pekerjaan
Penyedia
Jasa
terlebih
dahulu
memberitahukan secara tertulis yang
ditujukan kepada Pihak Kelurahan yang
ditembuskan kepada Instansi terkait
10.2. Dalam waktu selambat-lambatnya 7
(tujuh) hari setelah diterbitkan SPMK,
pemborong
diharuskan
memulai
pekerjaan sesuai gambar dan RKS, dan
perubahan-perubahan dalam penjelasan.
Apabila terdapat permasalahan berupa
kejanggalan, perbedaan antara gambar
dan
kondisi
lapangan,
pemborong
diwajibkan
konsultasi/
lapor
dan
koordinasi dengan Konsultan Pengawas.
10.3. Pembersihan Lokasi
Pelaksana/Pemborong
harus

membersihkan sekitar lokasi pekerjaan


dan segala sesuatu yang mungkin akan
mengganggu pelaksanaan pekerjaan dan
membuang
bongkaran
yang
tidak
terpakai
sesuai
petunjuk
Konsultan
Pengawas.
10.4. Uitzet / Bouplank.
Sebelum memulai pekerjaan, Penyedia
Jasa Pemborongan harus mengadakan
pengukuran-pengukuran lapangan untuk
dapat menentukan patok utama bagi
pelaksanaan
pekerjaan.
Biaya
pengukuran
sepenuhnya
menjadi
tanggung
jawab
Penyedia
Jasa
Pemborongan.
10.5. Kantor Kerja Direksi Pelaksana di Lokasi
Proyek.
Penyedia
Jasa
Pemborongan
harus
menyediakan sebuah kantor untuk
Direksi dengan ukuran sesuai dengan
kebutuhan dan peralatan yang cukup
seperti meja, kursi, white board, file
direksi dan air minum untuk digunakan
sebagai tempat kerja konsultan.
Dalam
kantor
lapangan
harus
disediakan:
a. Buku direksi
b. Buku Ijin pasang
c. Buku Tamu
d. Buku catatan penerimaan bahan.
e. Buku catatan peralatan dan jumlah
tenaga kerja setiap hari.
f. Buku catatan keadaan cuaca.
g. Lembar back up volume pekerjaan.
10.6. Dokumentasi.
Dokumentasi dilakukan terhadap kondisi
lokasi sebelum dilaksanakan (0%), masa
pelaksanaan
(50%)
dan
selesai
pelaksanaan (100%). Pendokumentasian
ini merupakan perekaman bangunan
tersebut secara piktoral (gambar dan

foto) dan verbal (uraian tertulis).


Tujuannya untuk mengetahui kondisi
lokasi
sebelum
dibangun,
masa
pelaksanaan
dan
hasil
akhir
pembangunan
10.7. Membuat / Mendirikan Papan Nama
Proyek.
10.8. Pelaksana harus membuat rambu-rambu
pengaman
yang
memadai
selama
pelaksanaan pekerjaan.
II. PERSYARATAN TEKNIS
1. PEKERJAAN
JALAN
LATASIR
(2cm padat)

1.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini
meliputi kelengkapan peralatan konstruksi,
tenaga kerja, alat-alat, bahan material,
perlengkapan dan penyelenggaraan yang
berkaitan dengan pekerjaan lapis pondasi
bawah (sub base) sesuai dengan gambar
rencana.
1.2. Pekerjaan Latasir :
1) Latasir dibuat di AMP (Asphalt Mixing
Plant) secara mekanis.
2) Latasir diangkut ke lokasi pekerjaan
dengan menggunakan dumptruck dengan
jarak maksimum antara Basecamp (AMP)
dengan lokasi pekerjaan adalah 30km,
hal ini untuk menjaga suhu agregat tetap
berada pada suhu yang cukup.
3) Penghamparan latasir menggunakan alat
mekanis berupa Tandem roller dan
pneumatic tire roller, lalu dirapikan
dengan asphalt finisher.
4) Pekerja merapikan tepi hamparan dengan
alat bantu.
5) Ketebalan jadi dari Latasir adalah 2 cm
padat dengan toleransi kurang lebih 3
mm.
1.3.

Pekerjaan/Profilering :

1) Pekerjaan lapis atas jalan ini terdiri dari


batu pecah ukuran 3/4, 1/2, krokos 2-4,
batu jagung 0,5-1, diperkuat dengan batu
kerikil 1/2 cm sebagai pengunci, batu
pecah dan kerikil kualitas baik;
2) Penjereng batu perkerasan harus tenaga
harian (tidak boleh dikerjakan dengan
tenaga
borongan),
dengan
maksud
terlaksananya yang baik, kuat dan
memenuhi syarat teknis;
3) Batu tepi perkerasan di tepi jalan
kanan/kiri harus lurus, rapi dengan diberi
batu pinggiran yang cukup kuat;
4) Jerengan batu perkerasan, harus disiram
dengan air secukupnya kemudian digilas
dengan motor wals, sampai padat betul;
5) Motor
wals
yang
digunakan
untuk
menggilas
perkerasan
jalan
harus
mempunyai berat 6-8 ton;
6) Setelah penggilasan jalan selesai (padat)
kemudian ditabur dengan pasir walet
sehingga penuh dengan semua sela-sela
terisi (sebagai bahan pelekat atau
pengikat) kemudian diratakan dengan
sapu lidi tua, kemudian digilas lagi sampai
padat;
7) Pola
untuk
memenuhi
konstruksi
kemiringan jalan harus menggunakan mal
dengan kemiringan 1 : 50;
8) Permukaan berem dan permukaan bidang
aspalan tidak boleh terjadi ngeplin.
2. PEKERJAAN
BETON

2.1. Umum
Semua pekerjaan beton harus memenuhi
persyaratan
SNI.03-6880-2002,
sebagai
persyaratan minimum kecuali dinyatakan
dalam spesifikasi:
1) Mutu beton untuk struktur harus
mempunyai kuat desak 20 Mpa (silinder)
umur 28 hari

2) Baja
tulangan
detorn
(ulir)
BJTD
tegangan leleh 400 Mpa untuk tulangan
diameter 13 mm ( tidak digunakan )
3) Baja tulangan polos (BJTP) tegangan
leleh 250 Mpa untuk tulangan diameter
12 mm ( tidak digunakan )
2.2. Bahan Konstruksi
1) Semen
a) Semen Portland yang dipakai harus
mendapatkan persetujuan Konsultan
Pengawas/
TBPKdan
memenuhi
ketentuan dan syarat-syarat Peraturan
Semen Portland Indonesia (SNI-72 & SII
0132).
b) Semua semen yang dipakai harus
kelas 1 dari satu merk yang sama.
Kantung semen harus baru dan asli
tidak rusak (masih utuh).
1) Agregat
Semua pemakaian split (batu pecah) dan
pasir cor harus memenuhi syarat
a)

Peraturan Umum Pemeriksaan


Bahan Bangunan (NI.3-1056)
b) Tata
cara
perancangan
dan
pelaksanaan Konstruksi beton SKSNI T15-1991-03.
c)
Tidak mudah hancur (keropos)
dan tidak porous.
d) Bebas dari kotoran atau tanah, ukuran
lebih besar 38 mm dan mempunyai
bentuk yang hampir sejajar/ merata.
2) Pasir Pasang
Pasir pasang dari butiran mineral keras,
bersih, kadar lumpur maksimum 5%
pasir halus tidak mengandung zat
organik dan angka kehalusan yang lolos
ayakan 0,3 mm minimal 15%, untuk
pasir beton seusai dengan ketentuan
SNI.03-6880-2002.

3) Air
Air yang digunakan harus bersih tidak
mengandung lumpur, minyak, benda
terapung yang bisa dilihat secara visual,
zat organik dan sebagainya.
4) Pemakaian
bahan-bahan
campuran
tambahan (admixture) harus mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas
dan tim PPHP.
2.3. Pekerjaan Beton
1) Besi Beton
Semua besi beton yang dipergunakan harus
memenuhi persyaratan :
a) Tata cara perancangan dan pelaksanaan
Konstruksi Beton SK SNI T-15-1991-03.
b) Besi beton bebas dari kotoran, karat dan
tidak cacat.
c) Hubungan
antara
besi
beton
harus
menggunakan kawat beton/ bendrat, diikat
dengan kuat tidak bergeser pada waktu
dilakukan pengecoran beton.
d) Beton Konstruksi untuk:
Jalan Cor blok ( tanpa tulangan )
Plat Gorong-gorong
e) Semua
perhitungan
beton
menjadi
tanggung jawab Perencana.
2) Adukan Beton
a) Dipakai jenis beton dengan dengan
campuran 1pc : 2 pasir : 3 split untuk
pekerjaan
konstruksi
beton
serta
komponen-komponen struktural lainnya.
b)
Semua beton harus diaduk dengan
mesin pengaduk beton (beton molen/
concrete mixer) dengan kapasitas tidak
kurang dari 250 liter.

2.4. Pembengkokan dan Penyetelan Besi Beton


Pembengkokan besi beton dilakukan secara

hati-hati, tepat pada posisi pembengkokan


sesuai aturan yang berlaku. Pembengkokan
harus dilakukan oleh tenaga ahli, untuk itu
menggunakan
alat
sedemikian
rupa
sehingga tidak menimbulkan cacat, retakretak
dan
cacat
lainnya.
Sebelum
penyetelan
dan
pemasangan
dimulai,
Penyedia Barang/ Jasa Pemborongan harus
membuat rencana kerja pemotongan dan
pembengkokan tulangan, yang sebelumnya
diserahkan kepada Konsultan Pengawas
untuk mendapatkan persetujuan. Penyetelan
dan pemasangan berdasarkan peil-peil
sesuai gambar dan sudah diperhitungkan
mengenai toleransi penurunannya.
2.5. Acuan
Acuan dibuat dari kayu ( Jalan cor blok ) 6/12
x 3.00 m harus memenuhi persyaratan
kekuatan, daya tahan dan mempunyai
permukaan yang baik untuk finishing. Kayu
bekisting 6/12 digunakan minimal 4 kali
pemakaian. Penyedia Jasa Pemborongan
harus mengajukan contoh bahan yang akan
dipakai sebagai acuan yang disetujui oleh
Konsultan.
2.6. Pembongkaran Acuan (bekisting).
Pembongkaran acuan dilakukan dimana
bagian konstruksi yang dibongkar telah
dapat memikul berat sendiri dari beban
pelaksanaannya.
1) Sisi balok, dinding dan kolom yang tidak
dibebani 2 hari.
1) Tiang-tiang penyangga plat 28 hari.
2) Tiang-tiang penyangga balok yang tidak
dibebani 26 hari.
3) Sisi jalan cor blok, yang tidak dibebani 2
hari
Pembongkaran acuan harus dilaporkan
kepada dan disetujui sebelumnya oleh

Konsultan Pengawas. Apabila setelah acuan


dibongkar ternyata ada bagian-bagian beton
yang keropos atau cacat tidak sempurna
yang
akan
mempengaruhi
kekuatan
konstruksi, maka Penyedia Barang/ Jasa
Pemborongan harus segera memberitahu
Pengawas untuk minta persetujuan cara
pengisian atau menutupnya.
2.7. Pengecoran
1) Pengecoran beton harus menggunakan kayu
bekisting ukuran 6/12 panjang minimal 3m
keadaan
lurus
dan
baik,
sedangkan
pemisah/delitasi menggunakan papan 2/10
kualitas baik.
2) Pengecoran dilakukan setelah semua cetakan/
begesting benar-benar siap dan kokoh
sehingga tidak akan rusak/ bocor sebelum
pekerjaan pengecoran selesai/ mengeras.
3) Untuk mencegah hilangnya faktor air semen
maka pada permukaan yang akan dicor diberi
lapisan plastik terlebih dahulu.
4) Sebelum pengecoran agar dimintakan ijin
terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas
dan tim PPHP terhadap cetakan/ lahan yang
akan dicor.
5) Pengecoran tidak diijinkan dimulai sebelum
cetakan dan pembersihan dari bagian-bagian
konstruksi
yang
bersangkutan
selesai
dilaksanakan.
6) Sebelum dilaksanakan pengecoran harus
mendapatkan ijin dari Konsultan Pengawas
dan Tim PPHP.
7) Pengecoran harus betul-betul sempurna
dipadatkan dengan cara manual atau lebih
baik dengan alat mekanik yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas/ Tim PPHP.
8) Selimut beton agar dibuat 2 cm dan
diusahakan dalam pengecoran tidak keropos.
2.8. Curing dan perlindungan atas beton
Selama berlangsung proses pengerasan beton
harus dilindungi terhadap:
1) Matahari secara langsung

1) Pengeringan oleh angin


2) Hujan/ aliran air
3) Perusakan secara mekanis
4) Pengeringan sebelum waktunya
Semua permukaan beton yang terbuka harus
dijaga
agar
tetap
basah
dengan
cara
menyemprotkan air atau menggenangi pada
permukaan beton tersebut selama 7 (tujuh) hari.
Perlindungan
ini
dilakukan
dan
harus
diperhatikan terutama pada pengecoran beton di
waktu
panas.
Penyedia
Barang/
Jasa
Pemborongan bertanggung jawab atas keretakan
beton karena kelalaian ini.

2.9. Pemasangan alat-alat di dalam beton


Penyedia Barang/ Jasa Pemborongan tidak
dibenarkan untuk membobok (membuat
lubang) atau memotong konstruksi beton
yang sudah jadi tanpa

sepengetahuan dan seijin dari Pengawas.


Ukuran pembuatan lubang, pemasangan
alat-alat di dalam beton harus menurut
pengarahan Pengawas.

3. PEKERJAAN
PERKERASA
N LAPIS
PONDASI
BAWAH
(SUB BASE )
TELFORD
TEBAL 20
CM

3.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi
kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alatalat,
bahan
material,
perlengkapan
dan
penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan
lapis pondasi bawah (sub base)
sesuai dengan
gambar rencana
3.2. Pemasangan Batu Belah 15/20
a. Di atas lapisan bawah / pasir yang telah diratakan
dan telah diterima Direksi, dipasang lapisan batu
belah 15/20 setebal 20 cm, sela-sela antar batu

b.

c.
d.
e.

4. PEKERJAAN
PERKERASA
N LAPIS
PONDASI
ATAS (kelas
A)

tersebut diisi batu belah 5/7,


kemudian
dipadatkan, setelah padat dihampar pasir urug
(sirtu) lalu dipadatkan lagi
Pemadatan dilakukan dengan mesin gilas dengan
berat 6-8 ton, pada pemadatan pasir urug (sirtu),
dengan
menggunakan
air
dan
sapu
lidi
diusahakan sirtu tersebut masuk ke dalam selasela batu sambil terus digilas sampai terjadi
lapisan yang penuh, padat dan rata
Penggilasan dilakukan dari tepi dan setelah cukup
padat baru dipindahkan ketengah
Sebelum digilas kedua tepi dari konstruksi badan
jalan tersebut harus diberi batu penahan
Pola untuk memenuhi konstruksi kemiringan jalan
menggunakan mal dengan kemiringan 1 :50.

4.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi
kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alatalat,
bahan
material,
perlengkapan
dan
penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan
lapis pondasi atas sesuai dengan gambar rencana
4.2. Umum
1.

Lapis
podasi
atas
jalan
merupakan lapisan struktur utama di atas lapis
pondasi bawah ( atau diatas lapis tanah dasar dimana
tidak dipasang lapis pondasi bawah). Pembangunan
lapis podasi atas terdiri dari pengadaan, pemrosesan,
pengangkutan, penghamparan, penyiraman dengan
air dan pemadatan agregat batu atau kerikil alami
pilihan dalam lapis pondasi atas, diatas satu lapis
dasar yang telah disiapkan.
2.
Lapis
pondasi
atas
yang
digunakan adalah kelas B (terdiri dari batu koral
ukuran 5/7, batu pecah 3/5, batu pecah 2/3 serta
pasir).
3.
Toleransi Ukuran
a. Bahan lapis pondasi atas harus dipasang sampai
ketebalan padat maksimum 10 cm, sebagaimana

diperlukan untuk memenuhi persyaratan desain


seperti ditunjukan pada Gambar atau diperintahkan
oleh tim teknis
b. Permukaaan lapis pondasi atas harus diselesaikan
mencapai lebar, kelandaian, punggung dan
kemiringan melintang jalan seperti yang ditunjukan
pada gambar rencana, tidak boleh ada ketidak
teraturan dalam bentuk, dan permukaan harus rata
dan seragam.
c. Kelandaian
dan
ketinggian
akhir
sesudah
pemadatan tidak boleh lebih dari 1 cm kurang dari
yang ditunjukan pada gambar rencana atau seperti
yang diatur di lapangan dan disetujui oleh Tim
Teknis.
d. Penyimpangan
maksimum
dalam
kehaluan
permukaan jika diuji dengan satu mistar panjang
3,0 m yang diletakan sejajar atau melintang
terhadap garis sumbu jalan tidak boleh melebihi 1,5
cm.
e. Tebal minimum Lapis Pondasi Atas tidak boleh
kurang
satu
sentimeter
dari
tebal
yang
diisyaratkan.
4.
Perbaikan Pekerjaan Yang Tidak
Memuaskan
a. Setiap bahan lapis pondasi atas yang tidak
memenuhi spesifikasi ini, apakah dipasang atau
belum, harus ditolak dan diletekan disamping
(pinggir)
untuk
digunakan
sebagai
bahan
penimbuan, atau dengan cara lain dibuang seperti
yang diperintahkan Tim Teknis.
b. Setiap bagian pekerjaan lapis pondasi atas yang
menunjukan ketidak teraturan atau kerusakan
dikarenakan
penanganan
yang
jelek
atau
kegagalan Penyedia Jasa untuk memeatuhi
persyaratan spesifikasi atau gambar rencana harus
dibetulkan dengan perbaikan atau penggantian
atas beban biaya Penyedia Jasa sehingga
memuaskan Tim Teknis.
5.
Bahan-bahan
1.
Persyaratan Umum

a. Bahan-bahan yang dipilih dan digunakan untuk


pembangunan lapis pondasi atas agregat terdiri
dari satu atau dua kelas bahan sebagaimana yang
diperlukan dalam kontrak tertentu dan seperti yang
dinyatakan dalam Daftar Penawaran.
b. Semua lapis pondasi atas terdiri dari potongan batu
bersudut tajam yang keras, awet dan bersih tanpa
potongan-potongan
yang
terlalu
tipis
atau
memanjang, dan bebas dari batu-batu yang lunak,
tidak merupakan satuan batu bata pecah atau
bercerai berai, kotor, mengandung zat organic atau
zat-zat lain yang harus dibuang. Bahan bercerai
berai bila secara alternative dibasahi dan
dikeringkan, tidak boleh digunakan.

2.

Lapis Pondasi Atas kelas B


Bahan lapis pondasi atas kelas B meliputi :
a. Batu koral 5/7 yang memiliki paling sedikit satu
bidang pecah.
b. Batu pecah 3/5 dan 2/3 merupakan partikel
partikel yang memiliki paling sedikit satu bidang
pecah
c. Pasir pengisi yang berfungsi sebagai dan
penguci antar rongga batu pecah tersebut.
4.3. Pelaksanaan Pekerjaan
1. Penyiapan Lapis Pondasi Bawah
a. Jika lapis pondasi atas harus diletakan diatas
pondasi bawah, permukaan lapis pondasi bawah
harus diselesaikan sesuai dengan pekerjaan
yang ditentukan dan harus diatur swerta
dibersihkan dari kotoran-kotoran dan setiap
bahan
lain
yang
merugikan
untuk
penghamparan lapis pondasi atas.
b. Agregat lapis pondasi atas harus ditempatkan
dan ditimbun bebas dari lalu lintas serta
drainase dan lintasan air disekelilingnya.
2. Penghamparan dan Pemadatan
a. Sesudah penghamparan batu pokok, basahi
agregat-agregat untuk melumasi permukaan

dari butir-butir untuk mendapatkansifat saling


mengunci yang lebih mudah dan lebih baik
waktu penggilasan.
b. Padatkanlah lapisan batu pokok dengan cara
berikut :
Pada jalan lurus penggilasan harus dimulai
dari bagian-bagian pinggir, diteruskankearah
tengah menurut suatu arah sejajar dengan
garis tengah jalan.
Pada bagian superelevasi, tikungan dan
tanjakan yang tajam, pemadatan dimulai
pada bagian yang rendah sejajar dengan as
jalan menuju bagian tinggi. Mesin harus
kembali menggilas pada bagian yang sama
sebelumnya.
Setiap gilasan harus menutupi sebagian dari
pada yang sebelumnya kira-kira 20 cm.
Kecepatan mesin gilas harus sekitar 1,5
Km/Jam pada masa permulaan pemadatan
dan dapat ditingkatkan sampai 3 Km/Jam
pada masa akhir pemadatan.
Lapisan macadam memperoleh kekuatan
terutama dari sifat saling mengunci antara
butir yang satu dengan butir yang lainnya.
Oleh karena itu pemadatan harus dilanjutkan
sampai agregat tidak bergerak lagi dibawah
roda-roda mesin gilas.
c. Bahan pengisi/halus dihamparkan tipis diatas
permukaan batu pokok langsung sdari truk-truk
atau
dari
tempat
penimbunan.
Untuk
membantu bahan halus mengisi rongga-rongga
diantara agregat-agregat batu pokok, maka air
disiramkan ke atas bahan pengisi dan bahan
halus didorong terus menerus dengan sapu ke
dalam rongga di antara agregat-agregat.
Tanggul tanggul kecil atau gundukan-gundukan
dari bahan pengisi dapat ditimbun pada pinggir
lapisan agar air diatas tidak hilang melalui aluralur atau selokan. Pengilasan dengan mesin

gilas roda besi dilakukan selama penghamparan


bahan pengisi dan air. Kecepatan mesin gilas
dapat dinaikan sampai 3 Km/jam. Bahan pengisi
harus ditambahkan yaitu setiap timbul rongga
diantara agregat-agregat. Penempatan bahan
pengisi/halus dan penggilasan harus diteruskan
sampai isian berikut tidak dapat dimasukan lagi.
Pada akhir pekerjaan, permukaan lapisan
macadam harus menyerupai batu mozaik yang
padat dan bebas dari rongga-rongga.
3. Pengendalian Lalu Lintas
a. Penyedia jasa harus bertanggung jawab atas
semua akibat lalu lintas yang diijinkan lewat
atas permukaan kerikil selama pelaksanaan
pekerjaan dan akan melarang lalu lintas
tersebut bila mungkin dengan menyediakan
sebuah jalan pengalihan (alternative) atau
dengan pelaksanaan pekerjaan pekerjaan
separuh lebar jalan.
b. Bangunan-bangunan, pohon-pohon atau hak
milik perseorangan lainnya disekitar jalan
tersebut harus dilindungi terhadap kerusakan
karena pengaruh pekerjaan, seperti lemparan
batu lalu lintas.
c. Bahan-bahan harus ditumpuk dalam satu tempat
yang baik yang menjamin bahwa tumpukan
tersebut tidak menimbulkan kemacetan lalu
lintas atau mengandung air.
5. LAPISAN
ATAS
PENETRASI
TEBAL 5 CM

5.1. Sebelum lapisan penetrasi dikerjakan permukaan lapis atas


dibersihkan dahulu kotoran dan diberi aspal lem sebanyak
0,8 kg/m2;

5.2. Lapisan penetrasi dari lapisan batu kerikil setebal 5 cm


yang sudah digilas, tidak boleh ada air di atas pengerasan,
untuk ketebalan toleransi kurang lebih 3 mm;

5.3. Lapisan batu 3/5 digilas dengan mesin gilas 6-8 ton hingga
padat;

5.4. Lalu dihampar batu 2/3 dan digilas lagi sampai padat;
5.5. Setelah dipadatkan, lapisan batu ini disiram aspal panas
sebanyak 22kg/m2, kemudian langsung digilas hingga rata

betul;

5.6. Lalu dihampar batu 1/1 dan digilas lagi hingga padat;
5.7. Lalu
kasar.

disiram aspal 1,5kg/m2 lalu ditutup dengan pasir