Anda di halaman 1dari 7

Tugas Endrokinologi Kontrol Umpan Balik Positif Dan Negatif

Kelompok 3
Aswar Anas

111810401036

Antin Siti Anisa

121810401006

Nenny Aulia Rochman

121810401036

Selvi Okta Yusidha

121810401037

Qurrotul Qomariyah

121810401046

1. Umpan balik positif (Positive Feedback)


Umpan balik positif terjadi ketika produk umpan kembali untuk meningkatkan produksi
sendiri. Hal ini menyebabkan kondisi menjadi semakin ekstrim. Contoh dari umpan balik
positif adalah produksi susu oleh seorang ibu untuk bayinya. Saat bayi menyusu, pesan saraf
dari puting menyebabkan kelenjar pituitari mensekresi prolaktin. Prolaktin, pada gilirannya,
merangsang kelenjar susu untuk menghasilkan susu, sehingga bayi menyusu lagi. Hal ini
menyebabkan lebih banyak prolaktin yang akan dikeluarkan dan lebih banyak susu yang
diproduksi. Contoh yang kedua adalah pada wanita selama siklus menstruasi estrogen
memberikan umpan balik positif pada kadar GnRH untuk mensekresi LH dan FSH dan
peningkatan kadar estrogen selama fase folikular merupakan stimulus dari LH dan FSH
setelah pertengahan siklus, sehingga ovum menjadi matang dan terjadi ovulasi. Ovulasi
terjadi hari ke 10-12 pada siklus ovulasi setelah puncak kadar LH dan 24-36 jam setelah
puncakestradiol. Setelah hari ke-14 korpus luteurn akan mengalami involusi karena
disebabkan oleh penurunan estradiol dan progesteron sehinggaterjadi proses menstruasi.
2. Umpan balik negatif (Negative Feedback)
Umpan balik negatif terjadi ketika produk umpan kembali untuk mengurangi produksi
sendiri. Jenis umpan balik membawa sesuatu kembali normal setiap kali mereka mulai
menjadi terlalu ekstrim. Kelenjar tiroid adalah contoh yang baik dari jenis regulasi ini. Hal ini
dikendalikan oleh loop umpan balik negatif yang ditunjuk. Sedangkan proses umpan balik ini
memberi dampak pada sekresi gonadotropin. Pada wanita terjadinya kegagalan pernbentukan
gonad primer dan proses menopause disebabkan karena peningkatan kadar LH dan FSH yang
dapat ditekan oleh terapi estrogen dalam jangka waktu yang lama. Berikut ini adalah salahs
atu contoh dari regulasi tiiroid yang melibatkan umpan balik negatif. Hipotalamus
thyrotropin-releasing hormone, atau TRH. TRH merangsang kelenjar pituitari untuk

menghasilkan thyroid-stimulating hormone, atau TSH. TSH, pada gilirannya, merangsang


kelenjar tiroid untuk mengeluarkan hormon tersebut. Ketika tingkat hormon tiroid sudah
cukup tinggi, umpan balik hormon untuk menghentikan hipotalamus mengeluarkan dari TRH
dan pituitari mensekresi TSH. Tanpa stimulasi TSH, kelenjar tiroid berhenti mensekresi
hormon tersebut. Segera, tingkat hormon tiroid mulai turun terlalu rendah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar hormon dikendalikan oleh umpan
balik negatif yang mana hormon umpan kembali untuk mengurangi produksi sendiri. Jenis
umpan balik membawa sesuatu kembali normal setiap kali mereka mulai menjadi terlalu
ekstrim.Sedangkan umpan balik positif jauh lebih umum karena menyebabkan kondisi
menjadi semakin ekstrim.
3. Mekanisme Umpan Balik Positif dan Negatif pada Hormon Estrogen
Pada wanita usia reproduksi terjadi siklus menstruasi oleh aktifnya aksis hipothalamushipofisis-ovarium. Hipothalamus menghasilkan hormon GnRH (gonadotropin releasing
hormone) yang menstimulasi hipofisis mensekresi hormon FSH (follicle stimulating
hormone) dan LH (lutinuezing hormone). FSH dan LH menyebabkan serangkaian proses di
ovarium sehingga terjadi sekresi hormon estrogen dan progesteron.

Mekanisme umpan balik positif dan negatif aksis hipothalamus hipofisis ovarium
Tingginya kadar FSH dan LH akan menghambat sekresi hormon GnRH oleh hipothalamus.
Sedangkan peningkatan kadar estrogen dan progesteron dapat menstimulasi (positif feedback,

pada fase folikuler) maupun menghambat (inhibitory/negatif feedback, pada saat fase luteal)
sekresi FSH dan LH di hipofisis atau GnRH di hipothalamuskadar hormon saat siklus
menstruasi Proses di dalam ovarium bertanggung jawab terhadap naik turunnya kadar
hormon yang memicu ovulasi dan perubahan endometrium. Proses siklik di ovarium disebut
siklus ovarium yang terdiri dari fase folikular dan fase luteal.
a.

Pada Awal Fase Folikuler Terjadi Umpan Balik Negatif Estrogen


Pada awal fase folikular, sekresi pulsatil GnRH semakin meningkat frekuensinya dan

ini memicu peningkatan LH dan FSH yang akan berperan dalam perkembangan folikel di
ovarium. Sementara itu, seiring perkembangan folikel karena pengaruh FSH, estrogen
semakin banyak diproduksi sedangkan progesteron masih rendah. Makin tinggi kadar
estrogen akan semakin menekan sekresi FSH dan LH (umpan balik negatif/negative
feedback). Akibatnya, walaupun frekuensi pulsatil GnRH meningkat namun umpan balik
negatif estrogen menyebabkan hasil akhir berupa stabilisasi atau sedikit penurunan kadar
FSH dan LH (yang sebelumnya di awal fase folikuler meningkat).

b.

Umpan Balik Positif Estrogen Memicu LH Surge Sehingga Terjadi Ovulasi


Umpan balik negatif peningkatan kadar estrogen pada fase luteal tidak berlangsung

terus menerus. Peningkatan yang tinggi dampai titik tertentu tidak berefek menghambat

namun malah akan menstimulasi peningkatan sekresi FSH dan LH yang tiba-tiba (LH surge).
Ternyata peningkatan LH tiba-tiba ini akan dan menyebabkan pecahnya folikel sehingga
terjadi ovulasi (keluarnya ovum dari ovarium).

c.

Pada Fase Luteal Terjadi Umpan Balik Negatif Progesteron Dan Estrogen
Folikel yang ditinggalkan ovum akan berkembang menjadi corpus luteum yang

mensekresi progesteron sehingga kadarnya meningkat. Hormon estrogen yang sempat


menurun setelah ovulasi, kadarnya akan meningkat lagi karena corpus luteum juga
menghasilkan estrogen. Berbeda dengan saat fase folikuler akhir, pada fase luteal ini
tingginya kadar estrogen menghambat hypothalamus dan hipofisis sehingga frekuensi pulsatil
GnRH dan kadar FSH/LH menjadi rendah (umpan balik negatif/negative feedback). Usia
corpus luteum adalah 12 hari kemudian masuk proses degenerasi, akibatnya pada hari ke 14
kadar progesteron dan estrogen menjadi rendah. Rendahnya kadar estrogen dan progesteron
akan menstimulasi peningkatan frekuensi pulsatil GnRH dan sekresi FSH/LH. Fase siklus
ovulasi kemudaian masuk ke fase folikuler lagi.
4. Mekanisme Umpan Balik Positif dan Negatif pada Hormon Testosteron
Testosteron yang disekresikan oleh testis sebagai respons terhadap LH mempunyai efek
timbal balik dalam menghentikan sekresi LH oleh hipofisis anterior. Efek timbal balik itu
terjadi dalam dua cara :
a. Bagian penghambatan yang lebih besar dihasilkan dari efek langsung testosteron
terhadap hipotalamus dalam menurunkan sekresi GnRH. Keadaan ini sebaliknya
secara bersamaan menyebabkan penurunan sekresi LH dan FSH oleh hipofisis

anterior, dan penurunan LH akan menurunkan sekresi testosteron oleh testis. Apabila
sekresi testosteron terlalu banyak, melalui hipotalamus dan kelenjar hipofisis, efek
umpan balik negatif otomatis akan mengurangi sekresi testosteron kembali ke kadar
normalnya. Sebaliknya, terlalu sedikit testosteron akan menyebabkan hipotalamus
menyekresikan sejumlah besar GnRH, disertai dengan peningkatan sekresi LH dan
FSH oleh hipofisis anterior dan meningkatkan sekresi testosteron testikular.

b. Testosteron mungkin juga mempunyai efek umpan negatif yang lemah, yang bekerja
secara langsung pada kelenjar hipofisis anterior sebagai tambahan terhadap efek
umpan balik hipofisis anterior terhadap hipotalamus. umpan balik hipofisis ini diduga
secara khusus menghentikan sekresi LH. Akibatnya, sejumlah kecil pengaturan
sekresi testosteron diyakini terjadi dalam cara yang sama.

5. Sistem Feedback
Endokrin dapat menjaga/memonitor konsentrasi subtansi tertentu dalam tubuh,
sehingga apabila terjadi penurunan akan melepaskan substansi (hormon) agar sel lain yang
menyimpan substansi yg dibutuhkan tsb melepaskannya atau mencegah kehilangan dari
tubuh. Respon dari rangsang hormon ini akan meningkatkan kadar tertentu kalium atau
glukosa dalam darah, pengaturan osmoseluler atau glukoseluler kemudian menghentikan
pelepasan messenger kimia. Peningkatan ini berfungsi sbg stimulus feedback negatif.
Pada Feedback positif saat terjadi kenaikan konsentrasi hormon yg menyebabkan kel
lain melepaskan hormon kedua yg kmd akan merangsang utk peningkatan pengeluaran
hormon pertama. Pada primata peningkatan estradiol (estrogen gonad) merangsang pelepasan
hormon pituitary utk merangsang produksi estrogen ovarium.
Pada beberapa system feedback peningkatan satu hormon pada plasma akan
merangsang pelepasan metabolit (glukosa) dari jaringan target. Penungkatan kadar metabolit
dalam plasma kemudian akan merangsang pelepasan hormon kedua yang menghambat
pelepasan metabolit dari jaringan target. Kadar metabolit yang rendah akan merangsang utk
pelepasan hormon pertama.
6. Umpan Balik Positif dan Negatif Pada Hormon Insulin
Insulin merupakan hormone yang memainkan sejumlah peran dalam metabolisme tubuh,
yakni untuk mengatur bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan glukosa serta lemak.
Banyak dari sel tubuh bergantung pada insulin untuk mengambil glukosa dari darah untuk
menjadikannya energy. Kurangnya insulin atau ketidakmampuan untuk pengaturan
insulinbisa menyebabkan timbulnya gejala diabetes.
Di Indonesia ada dua jenis utama diabetes mellitus yang paling sering ditemui, yaitu :
diabetes mellitus tergantung insulin (Tipe 1) dan diabetes mellitus tidak tergantung insulin
(Tipe 2). Kebanyakan penderita diabetes mellitus tipe 1 mendaatkan penyakit ini pada usia
muda. Biasanya penderita diabetes mellitus yang termasuk dalam kelompok ini: muda, kurus
dan mendapatkan penyakitnya secara tiba-tiba. Produksi insulin oleh pancreas sangat sedikit
dan tidak mencukupi sehingga tergantung pada pemberian insulin dari luar. Penyakit ini tidak
dapat dikendalikan tanpa menggunakan insulin sehingga setiap penderita harus disuntik
insulin.
Diabetes tidak tergantung insulin paling banyak menyerang orang dewasa, walaupun
diabetes mellitus tipe 2 juga dapat timbul pada usia berapa saja. Pada diabetes mellitus tipe 2

sel-sel penghasil insulin tidak rusak, tetapi tidak menghasilkan cukup insulin sehingga hati,
otot serta lemak tidak bereaksi secara normal terhadap insulin yang dihasilkan.
Diabetes mellitus tipe 2 ini berkaitan erat dengan keemukan. Selain itu pengaruh
genetic yang menentukan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini, cukup kuat. Dapat
pula bahwa individu yang menderita diabetes tipe 2 menghasilkan antibody insulin yang
berikatan dengan reseptor insulin, menghambat akses insulin ke reseptor, tetapi tidak
merangsang aktivitas pembawa. Individu yang mengidap diabetes tipe 2 tetap menghasilkan
insulin, namun sering terjadi kelambatan dalam ekskresi setelah makan dan berkurangnya
jumlah insulin yang dikeluarkan. Hal ini cenderung semakin parah dengan bertambahnya usia
penderita. Sel-sel tubuh terutama sel otot dan adipose, memperlihatkan resistensi terhadap
insulin yang terdapat dalam darah. Pembawa glukosa tidak secara kuat dirangsang dan kadar
glukosa darah meningkat. Peningkatan glukosa darah diatas titik pasang (sekitar 90mg/100ml
pada manusia) merangsang pancreas untuk mensekresi insulin, yang memicu sel-sel targetnya
untuk mengambil alih kelebihan glukosa dari darah. Ketika kelebihan tersebut telah
dikeluarkan atau ketika konsentrasi glukosa turun dibawah titik pasang, maka pancreas akan
merespons dengan cara mensekresikan glucagon, yang mempengaruhi hati untuk menaikkan
kadar glukosa darah.